Beranda blog Halaman 118

Indonesia di Persimpangan Pangan, Bukan Sekadar Soal Perut Kenyang

0
Gambar ilustrasi petani menanam padi (Foto: Olah Ai/ hidayatullah.or.id)

PERNAHKAH kita membayangkan hidup di negeri yang dikenal sebagai “zamrud khatulistiwa” namun justru bergantung pada pangan impor untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari?

Paradoks ini menjadi semakin mencolok ketika supermarket di Indonesia dipenuhi produk impor, sementara hasil bumi lokal terpinggirkan. Fenomena ini menggarisbawahi urgensi kemandirian dan ketahanan pangan, sebuah konsep yang esensial bagi keberlanjutan bangsa.

Negara dengan sumber daya alam melimpah dan iklim tropis yang ideal, seharusnya menjadi salah satu lumbung pangan dunia. Namun, realitas menunjukkan bahwa negeri ini masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Ironisnya, dalam situasi ini, pemerintah berencana menaikkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen pada Januari 2025, yang berpotensi memengaruhi harga kebutuhan harian termasuk pangan domestik. Hal ini menambah kompleksitas permasalahan ketahanan pangan di Indonesia.

Ketahanan pangan, sebagaimana didefinisikan oleh Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi setiap individu yang dicerminkan dari ketersediaan pangan yang cukup, berkualitas, aman, bergizi, merata, dan terjangkau. Namun, mewujudkan ketahanan pangan bukanlah perkara sederhana.

Produksi pangan di Indonesia kerap kali dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti perubahan iklim, bencana alam, dan keterbatasan infrastruktur distribusi. Pada saat yang sama, kebijakan impor sering kali menjadi pilihan instan untuk menutupi kekurangan produksi domestik.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, Indonesia mengimpor komoditas pangan strategis dalam jumlah yang signifikan, seperti beras, gula, dan kedelai. Pada tahun ini, impor beras tercatat mencapai 1,6 juta ton, meningkat dari tahun sebelumnya.

Lonjakan impor ini menjadi penanda tantangan besar dalam mewujudkan swasembada pangan, terutama di tengah proyeksi pertumbuhan penduduk yang terus meningkat. Ketergantungan pada impor bukan hanya menekan daya saing petani lokal, tetapi juga berisiko terhadap stabilitas pangan nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Sinergi dan Potensi Swasembada

Indonesia memiliki potensi besar untuk swasembada pangan. Dengan luas lahan pertanian yang mencapai 7,4 juta hektar dan kekayaan sumber daya alam, negeri ini seharusnya mampu memenuhi kebutuhan pangan sendiri.

Namun, tantangan seperti alih fungsi lahan, rendahnya adopsi teknologi modern, dan minimnya dukungan infrastruktur menjadi hambatan utama. Oleh karena itu, pendekatan kolaboratif yang melibatkan berbagai elemen masyarakat menjadi kunci untuk mengatasi masalah ini.

Di tengah tantangan tersebut, Lembaga Amil Zakat (LAZ) memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Melalui pendekatan berbasis komunitas, LAZ dapat memberdayakan petani dan nelayan dengan memberikan bantuan modal, pelatihan, dan pendampingan untuk meningkatkan produktivitas mereka.

Program pemberdayaan ini tidak hanya menciptakan lapangan kerja tetapi juga meningkatkan kapasitas produksi pangan lokal. LAZ juga dapat menjadi mitra dalam riset dan pengembangan teknologi pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim. Teknologi seperti irigasi pintar, benih unggul, dan alat pertanian modern dapat meningkatkan efisiensi produksi.

Selain itu, LAZ dapat menjadi instrumen dalam mendukung pembangunan gudang penyimpanan, pasar tradisional, dan sarana transportasi untuk memperlancar distribusi pangan. Infrastruktur yang memadai akan mengurangi kehilangan hasil panen dan meningkatkan akses pangan di daerah terpencil.

Tentu saja, dalam hal ini pemerintah tetap memiliki tanggung jawab utama memainkan perannya untuk membangun ketahanan pangan melalui kebijakan yang pro-petani dan investasi infrastruktur.

Namun, keberhasilan upaya ini bergantung pada sinergi antara pemerintah, sektor swasta, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat itu sendiri. Melibatkan LAZ dalam ekosistem pangan nasional adalah langkah strategis untuk membangun ketahanan pangan yang inklusif dan berkelanjutan.

Misalnya, program sinergi antara pemerintah dan LAZ dapat diarahkan pada pengelolaan lahan tidur menjadi lahan produktif. Lahan-lahan ini dapat dimanfaatkan untuk menanam komoditas strategis seperti padi, jagung, dan kedelai dengan melibatkan petani lokal. Selain itu, pelibatan teknologi berbasis digital dalam pemasaran hasil pertanian dapat meningkatkan akses pasar bagi petani.

Kita menyadari ketahanan pangan adalah salah satu pilar utama dalam menjaga kedaulatan bangsa. Dalam menghadapi tantangan global dan domestik, Indonesia perlu mengoptimalkan potensi sumber daya alamnya melalui pendekatan yang inklusif dan berkelanjutan.

Penguatan peran aktif LAZ yang selama ini sudah berjalan dalam pemberdayaan petani, pengembangan teknologi, dan pembangunan infrastruktur dapat menjadi katalisator penting dalam mewujudkan swasembada pangan.

Dengan sinergi antara pemerintah, LAZ, dan masyarakat, Indonesia dapat mewujudkan visi kemandirian pangan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga memperkuat posisi negara di panggung internasional.

Ketahanan pangan bukan sekadar tentang perut kenyang, tetapi juga tentang kemandirian, kesehatan, dan kesejahteraan bangsa. Lebih jauh dari itu, ini tentang kemampuan Indonesia bertahan, survive, dan berpengaruh ke depan.

*) Imam Nawawi, penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah 2020-2023, Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect)

Dedikasi untuk Umat, BMH Raih Dua Penghargaan di Indonesia Fundraising Award 2024

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) kembali mencatatkan prestasi sebagai bukti dedikasi untuk umat dengan meraih dua penghargaan dalam ajang bergengsi Indonesia Fundraising Award (IFA) 2024.

Acara penganugerahan ini diadakan oleh Institut Fundraising Indonesia (IFI) di Hotel Pullman, Jakarta, Jumat, 11 Jumadil Akhir 1446 (13/12/2024).

Pengakuan ini tidak hanya menegaskan peran strategis BMH dalam pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) tetapi juga memperlihatkan konsistensi mereka dalam memberikan manfaat kepada umat.

BMH berhasil mendapatkan dua kategori penghargaan, yaitu “Fundraising ZIS Berbasis Ormas Terbaik IFA 2024” dan “Kampanye Fundraising Terbaik IFA 2024.”

Ketua Pengurus BMH, Firman ZA, hadir secara langsung untuk menerima penghargaan tersebut, mewakili seluruh tim dan donatur yang telah berkontribusi dalam pencapaian ini.

Dalam sambutannya, Firman menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada IFI dan semua pihak yang telah mendukung visi misi BMH.

“Penghargaan ini adalah hasil sinergi antara kerja keras tim dan kepercayaan masyarakat,” ujar Firman, seraya menekankan bahwa kepercayaan masyarakat adalah kunci keberhasilan BMH selama ini.

Dukungan dari elemen umat memungkinkan BMH untuk meluncurkan berbagai program inovatif yang memberikan dampak positif secara luas.

Sebagai lembaga yang memiliki akar kuat dalam nilai-nilai keislaman, BMH telah menunjukkan dedikasi yang tinggi dalam mengelola dana ZIS. Prestasi ini tidak hanya menjadi pengakuan atas kinerja BMH tetapi juga motivasi untuk terus memberikan kontribusi terbaik di masa depan.

“Semoga penghargaan ini menjadi penyemangat bagi Laznas BMH untuk terus berkontribusi secara maksimal. Melalui inovasi dan dedikasi, BMH berkomitmen menebar manfaat yang lebih besar untuk umat di masa depan,” katanya.

Ajang ini menjadi ruang apresiasi sekaligus evaluasi bagi lembaga pengelola ZIS untuk terus berinovasi. Dengan penghargaan yang diraih, Firman menambahkan, BMH diharapkan dapat terus menjadi teladan dalam mengelola dana sosial secara efektif dan berdampak luas.*/Herim

Rakernas BTH di Semarang Angkat Tema Menumbuhkan Potensi Meraih Prestasi

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Lembaga keuangan syariah Baituttamwil Hidayatullah (BTH) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Tahun 2025 dengan mengangkat tema “Menumbuhkan Potensi, Meraih Prestasi” yang digelar di Kota Semarang, Jawa Tengah, 16-18 Jumadil Akhir 1446 (18-20/12/2024).

Selama tiga hari, diskusi strategis berlangsung dengan harapan memperkuat peran BTH sebagai institusi keuangan syariah yang relevan dalam ekosistem ekonomi Indonesia.

Kepala Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Ust. Drs. Wahyu Rahman, MM, membuka Rakernas ini menyampaikan ekonomi syariah memiliki potensi besar sebagai alternatif sistem keuangan global yang lebih inklusif dan berkeadilan.

Dalam konteks Indonesia, kata Wahyu, keberadaan lembaga seperti BTH menjadi ujung tombak dalam mewujudkan visi tersebut. Karena itu, dia menegaskan pentingnya membangun profesionalisme, akuntabilitas, dan transparansi untuk masa depan BTH yang unggul.

Wahyu memandang tantangan utama yang dihadapi lembaga ekonomi syariah adalah kebutuhan untuk mengadopsi standar profesionalisme yang tinggi, menjaga integritas operasional dan transparansi.

“Profesionalisme tidak hanya mencakup kemampuan teknis, tetapi juga penerapan nilai-nilai syariah dalam setiap aspek pengelolaan keuangan,” tegasnya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Rabu, 16 Jumadil Akhir 1446 (18/12/2024).

Akuntabilitas dan transparansi, di sisi lain, berfungsi sebagai pilar kepercayaan masyarakat. Lembaga keuangan syariah, terangnya, harus mampu mengadministrasi sistem pelaporan kinerja yang jelas dan akuntabel, sehingga ada rasa aman untuk berinvestasi. Hal ini sejalan dengan prinsip maqashid syariah yang mengedepankan keadilan dan kemaslahatan.

Pilar Utama

Sementara itu, Direktur BTH, Saiful Anwar, mengatakan tema yang diangkat pada Rakernas kali ini merefleksikan upaya BTH untuk memanfaatkan sumber daya internal yang besar sekaligus merespons tantangan regulasi yang semakin kompleks.

Saiful menekankan bahwa salah satu pilar utama BTH adalah kualitas sumber daya manusia. Dengan mengandalkan kader dan santri Hidayatullah yang memiliki kualifikasi unggul, BTH berpotensi menjadi pemain utama di sektor keuangan syariah nasional.

“Namun, potensi ini hanya dapat direalisasikan jika ada pengelolaan yang sistematis dan terarah,” kata Saiful.

Menurut Saiful, seluruh potensi sumber daya yang ada harus ditumbuhkembangkan agar dapat memberi daya dukung terhadap pertumbuhan BTH.

Dia menggarisbawahi pentingnya program pelatihan berkelanjutan, digitalisasi operasional, dan pembangunan kapasitas SDM.

Saiful menyebutkan Rakernas BTH 2025 juga berfungsi sebagai platform untuk merumuskan strategi menghadapi tantangan regulasi baru. Disahkannya Rancangan Undang-Undang tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (RUU P2SK) menjadi undang-undang pada akhir 2022 menandai perubahan signifikan dalam pengelolaan koperasi di Indonesia.

Regulasi ini mengalihkan pengawasan koperasi keuangan dari Kementerian Koperasi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dengan standar yang lebih menyerupai perbankan. Langkah ini bertujuan memperkuat transparansi dan akuntabilitas sektor keuangan.

Namun, bagi institusi seperti BTH, perubahan ini menghadirkan tantangan besar. Saiful mengakui, sistem dan manajemen BTH belum betul-betul memiliki standarisasi yang memadai. Oleh karena itu, Rakernas tahun ini juga difokuskan pada evaluasi sistem operasional dan penyusunan kebijakan strategis.

Disamping itu, Saiful menguraikan, bahwa untuk bertahan dalam iklim regulasi yang ketat, BTH perlu mengadopsi standar operasional yang sesuai dengan regulasi OJK. Salah satu aspek penting adalah implementasi teknologi keuangan (fintech) yang dapat meningkatkan efisiensi layanan sekaligus memperluas jangkauan anggota.

Dalam lanskap ekonomi syariah global, digitalisasi terbukti menjadi penggerak utama pertumbuhan. Sebagai contoh, kata dia, negara-negara seperti Malaysia dan Uni Emirat Arab telah berhasil mengintegrasikan teknologi dalam sistem keuangan syariah mereka, menghasilkan peningkatan inklusi keuangan.

Selain itu, Saiful melihat pelatihan SDM yang difokuskan pada pemahaman regulasi baru dan pengelolaan risiko sangat diperlukan. “Upaya ini tidak hanya membantu BTH memenuhi kepatuhan tetapi juga meningkatkan daya saing institusi,” terangnya.

Dalam pada itu, salah satu agenda utama Rakernas adalah evaluasi kinerja tahun 2024 dan penyusunan strategi bisnis untuk 2025. Dia menegaskan perlunya program kerja yang lebih tertata secara sistematis, mulai dari program jangka panjang hingga program turunan di cabang.

“BTH juga perlu mengintegrasikan manajemen secara terpusat untuk memastikan keselarasan antara visi nasional dan implementasi di tingkat lokal. Integrasi ini akan mengurangi redundansi, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat koordinasi antar cabang,” tukasnya.

Selain itu, sebagai bagian dari gerakan ekonomi Islam, BTH juga berkomirmen meningkatkan peran dalam menumbuhkan ekosistem keuangan syariah di Tanah Air.

Namun, untuk mencapai tujuan ini, tegas dia, kolaborasi dengan lembaga keuangan syariah lainnya, termasuk perbankan syariah dan fintech, sangat penting.

“BTH harus terus menata sistem operasional dan internal bisnis proses yang memadai untuk menjadi lembaga keuangan syariah yang utama. Melalui sinergi, BTH dapat memperluas cakupan layanan, meningkatkan likuiditas, dan menghadirkan inovasi produk,” katanya.

Anwar menambahkan, dengan Rakernas 2025 kali ini, BTH terus menumbuhkan potensinya dan mencapai raihan prestasi sebagai institusi keuangan yang unggul melalui kolaborasi yang erat, inovasi yang berkelanjutan, dan komitmen pada nilai-nilai syariah. (ybh/hidayatullah.or.id)

Hidayatullah Hadiri Mukernas IV Tahun 2024 Majelis Ulama Indonesia

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah sebagai salah satu ormas Islam turut hadir dalam Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) IV 2024 Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang diwakili Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta, yang digelar selama 3 hari, 6-8 Jumadil Akhir 1446 (17-19/12//2024).

Kehadiran Abdul Ghofar yang merupakan jebolan pondok pesantren tertua di Indonesia, Pondok Pesantren Hidayatut Thullab atau Pondok Tengah, Durenan, Trenggalek, ini sekaligus menjalin relasi dan komunikasi dengan pimpinan-pimpinan MUI dan ormas.

Peserta Mukernas IV MUI terdiri dari Dewan Pimpinan (DP) MUI berjumlah 39 orang, Pimpinan Dewan Pertimbangan (Wantim) MUI berjumlah 19 orang, utusan Pimpinan Komisi, Badan dan Lembaga (KBL) MUI, Dewan Pimpinan MUI dari 34 Provinsi dan perwakilan 50 Ormas-ormas Islam tingkat pusat.

Abdul Ghofar mengatakan, Hidayatullah sejak awal berdirinya telah menjadikan peran sebagai khodimul ummah (pelayan umat) dan shodiqul hukumah (mitra pemerintah) sebagai inti dari gerakannya.

Dalam semangat harmoni, terang dia, prinsip ini diwujudkan melalui berbagai program yang berorientasi pada penguatan ukhuwah Islamiyah dan penjagaan kerukunan antar umat.

Kehadiran Hidayatullah di daerah-daerah yang memiliki tantangan sosial dan budaya tinggi, seperti Papua, menjadi bukti nyata kontribusinya sebagai perekat persaudaraan dan penjaga stabilitas sosial.

“Program-program yang diinisiasi di wilayah ini dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat lokal tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam yang universal. Hal ini menegaskan posisi strategis Hidayatullah sebagai motor penggerak harmoni, yang tak hanya dirasakan oleh umat Islam tetapi juga oleh komunitas lintas agama dan budaya,” kata Ghofar kepada media ini, Rabu, 16 Jumadil Akhir 1446 (18/12/2024).

Oleh sebab itu, kata Ghofar, momentum Mukernas IV Tahun 2024 MUI ini menjadi penting dalam menguatkan landasan gerakan Hidayatullah ke depan.

Dengan tema yang menekankan penguatan peran ulama sebagai penjaga moral bangsa, forum ini menurutnya akan menjadi ruang refleksi sekaligus konsolidasi untuk mempertegas visi bersama umat Islam.

“Sebagai bagian dari elemen strategis umat, Hidayatullah dapat memanfaatkan forum ini untuk memperluas sinergi dengan pemerintah, ormas Islam, dan institusi lain dalam menghadapi tantangan globalisasi, disintegrasi, dan ketimpangan sosial,” katanya.

Dia menambahkan, keterlibatan Hidayatullah dalam menjaga harmoni dan memperkuat ukhuwah, terlebih di daerah-daerah pelosok yang rawan dan rentan, mencerminkan implementasi nyata dari peran khodimul ummah dan shodiqul hukumah.

“Diharapkan, semangat ini terus diperkuat melalui arahan dan kebijakan strategis yang disepakati dalam Mukernas MUI 2024. Dengan demikian, Hidayatullah tetap berada di garda depan dalam memberikan kontribusi nyata bagi umat dan bangsa,” tandasnya.

Seperti diketahui kegiatan Mukernas IV MUI 2024 mengusung tema “Memperkokoh Peran MUI Sebagai Pelayan Umat dan Mitra Pemerintah.

Ketua Panitia Mukernas IV Majelis Ulama Indonesia (MUI) 2024, KH. Masduki Baidlowi, mengatakan tujuan umum Mukernas adalah meningkatan peran MUI dalam memperkuat penyamaan pola pikir keagamaan (taswiyatul manhaj) bersama seluruh elemen umat dan bangsa dalam rangka sinergi dan kolaborasi membangun bangsa dan memperkokoh negara.

Selain itu, Mukernas juga bertujuan tingkatkan peran MUI dalam memperkuat ukhwah Islamiyah dan ukhwah wathaniyah di kalangan warga bangsa dan perteguh peran MUI dalam ikut mewujudkan kesejahteraan umat serta memperkuat peran MUI dalam ikhtiar mengatasi problem kemanusiaan baik skala nasional maupun global dalam rangka mewujudkan perdamaian dunia.

Hadir pada kesempatan pembukaan acara ini Wapres ke-13 sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Prof Dr KH Ma’ruf Amin, Menteri Agama Prof. Nasarudin Umar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Fauzi, Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) bidang Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan Indonesia, Otto Hasibuan, yang duduk berdampingan dengan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Ketua Baznas dan sejumlah pejabat, tokoh dan tamu undangan hadir dalam acara pembukaan Mukernas.

Dalam Mukernas juga dirangkai dengan penyerahan Sertifikat Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015 dari badan sertifikasi Worldwide Quality Assurance (WQA), kantor pusat London Inggris kepada Dewan Pimpinan MUI. Kemudian penandatanganan MoU MUI dengan Lemhanas, UIN Sunan Syarif Hidayatullah dan Bank Syariah Indonesia (BSI).

Pembahasan materi di Mukernas IV ini juga mengundang Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Luar Negeri Sugiono, Menko Perekonomian H. Airlangga Hartarto, Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana. (ybh/hidayatullah.or.id)

Rakerwil Pemuda Hidayatullah Jakarta Telaah Tantangan Dakwah Masa Kini

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangkaian kegiatan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Pemuda Hidayatullah Jakarta yang digelar pada Sabtu, 13 Jumadil Akhir 1446 (14/12/2024), Pelatihan Dai Milenial menghadirkan Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect), Imam Nawawi, sebagai pembicara utama.

Dalam acara yang digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta ini, Imam Nawawi menyajikan telaah berkenaan dengan tantangan dan peluang pemuda masa kini serta menekankan pentingnya memadukan kecerdasan intelektual dan spiritual untuk menjawab tantangan dakwah di era digital.

Imam Nawawi mengawali paparannya dengan mengingatkan bahwa tanggung jawab seorang mukmin dimulai sejak ia dilahirkan ke dunia. “Kewajiban pertama yang diperintahkan Allah SWT kepada kita adalah iqra’, membacalah!,” tegasnya.

Tanggung jawab itu, terang Imam, dipikulkan bagu setiap muslim sebagaimana termaktub dalam surah Al-‘Alaq ayat 1. Membaca di sini bukan sekadar aktivitas membaca secara fisik, tetapi juga membaca tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.

Imam menekankan bahwa memahami perintah iqra’ secara mendalam akan membentuk dasar yang kokoh dalam mengarungi kehidupan, terutama dalam menghadapi tantangan dakwah.

“Seorang dai, apalagi anak muda milenilal seperti Anda, harus terus belajar dan memperkaya dirinya dengan ilmu. Dakwah tidak bisa dilakukan tanpa bekal ilmu dan ia didapatkan melalui proses ‘membaca’,” tambahnya.

Imam Nawawi juga menyoroti peran media sosial sebagai pusat kegiatan manusia modern. “Hari ini, interaksi manusia lebih banyak terjadi di media sosial. Mereka membaca, menulis, bahkan berdiskusi di platform ini hampir sepanjang waktu,” katanya.

Dia pun mengajak para dai milenial untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah yang efektif. Menurutnya, media sosial bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga medan dakwah. “Gunakanlah platform ini untuk menyampaikan pesan-pesan yang mendidik, mencerahkan, dan menggerakkan,” jelasnya.

Namun, Imam Nawawi juga mengingatkan risiko yang ada. Jika tidak bijak, media sosial bisa menjadi ladang fitnah. Oleh karena itu, setiap postingan harus berdasarkan ilmu yang benar.

Inspirasi dari Ilmuwan Islam

Dalam upayanya memberikan perspektif yang luas, Imam Nawawi menyebutkan sejarah penemuan kamera yang berasal dari ilmuwan Islam, Alhazen (Ibn al-Haytham). Kata Imam, penemuan kamera yang kita gunakan hari ini tidak lepas dari kontribusi umat Islam di masa lalu.

“Alhazen, seorang ilmuwan Muslim, adalah orang pertama yang mengembangkan teori optik dan camera obscura,” jelasnya.

Menurut Imam, mengenang sejarah ini penting untuk membangun rasa percaya diri generasi muda Muslim. “Ilmu pengetahuan adalah bagian dari tradisi Islam. Generasi milenial harus memahami bahwa menjadi Muslim berarti menjadi ilmuwan, pembelajar, dan inovator,” imbuhnya.

Imam Nawawi juga menekankan pentingnya mengaktifkan pikiran sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an. Allah SWT sering kali mengajak manusia untuk berpikir, merenung, dan mengambil pelajaran. Dalam surah Al-Baqarah, misalnya, manusia diajak untuk memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Nya di langit dan bumi.

Imam menekankan bahwa dai milenial harus menjadi pribadi yang reflektif dan kritis. “Pikiran yang aktif dan terarah adalah kunci untuk menghasilkan dakwah yang relevan dan solutif,” ujar Imam.

Selanjutnya, Imam Nawawi menekankan bahwa dakwah harus selalu mengikuti perkembangan zaman. “Dakwah di era akhir zaman membutuhkan pendekatan yang adaptif. Kita tidak bisa mengandalkan metode lama untuk menjawab tantangan baru,” katanya.

Dia mencontohkan bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan dakwah. “Hari ini, kita bisa berdakwah melalui video pendek, podcast, atau bahkan live streaming. Namun, substansinya tetap harus selaras dengan nilai-nilai Islam,” tambahnya.

Sebagai penutup, Imam Nawawi mengingatkan pentingnya pengelolaan waktu. Waktu adalah nikmat yang sering kita abaikan. “Seorang dai harus mampu menyusun waktunya secara produktif agar dapat memberi manfaat maksimal,” tegasnya.

Ia lantas mengutip wejangan Rasulullah SAW agar kita memanfaatkan lima perkara sebelum lima perkara, yaitu masa muda sebelum datang masa tua, masa sehat sebelum datang sakit, kaya sebelum datang miskin, waktu luang sebelum datang sibuk, dan memanfaatkan hidup sebaik mungkin sebelum datang ajal menjemput.

Imam Nawawi menegaskan bahwa manajemen waktu bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga tentang keberkahan. “Ketika kita mengelola waktu dengan baik, kita tidak hanya produktif, tetapi juga mendapatkan keberkahan dalam setiap aktivitas,” pungkasnya.*/Hasman Dwipangga

Ustadz Asih Subagyo, Sosok Peduli dan Penuh Asih itu Berpulang

0

INNAA lillahi wa inna ilaihi raji’un. Pada Selasa, 16 Jumadil Akhir 1446 atau 17 Desember 2024, keluarga besar Hidayatullah, kehilangan salah seorang kader terbaiknya. Ustadz Asih Subagyo bin Harjanto, seorang pejuang, guru, dan inspirator, dipanggil ke hadirat Allah SWT pada pukul 04.03 pagi di Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta.

Kepergian beliau membawa duka mendalam bagi semua yang pernah mengenalnya. Menurut sang istri, Dede Agustina, beliau wafat setelah menunaikan shalat tahajjud. Dalam suasana tenang sambil berbaring, Allah memanggilnya dengan cara yang begitu indah.

“Ustadz Asih baru selesai shalat lail, Allah panggil,” tutur sang istri, mengenang momen terakhir suaminya dengan haru.

Sosok Ustadz Asih bukanlah nama asing bagi mereka yang pernah berinteraksi dengannya. Kehangatan pribadinya menyentuh hati siapa pun. Seperti namanya, beliau adalah pribadi yang tulus, ramah, peduli, dan rendah hati, tanpa memandang usia atau status.

Baik anak-anak, pemuda, maupun orang tua merasa nyaman dalam pelukan kasih sayang dan perhatian beliau. Sosok beliau memancarkan keteladanan—membuat setiap percakapan menjadi bermakna, setiap pertemuan menjadi penuh inspirasi.

Pemikir dan Praktisi

Sebagai seorang pemikir dan praktisi, wawasan Ustadz Asih tak pernah berhenti mengalir. Diskusi dengannya adalah pengalaman yang selalu membuka pandangan baru. Gagasannya yang luas dan mendalam mampu menghidupkan setiap topik, bahkan dalam perbedaan pendapat sekalipun.

“Kalau sudah ngobrol, tidak bisa sebentar,” ujar seorang sahabatnya, Arfan, menggambarkan bagaimana setiap percakapan dengan beliau begitu menyenangkan dan berkesan.

Kiprah almarhum dalam organisasi Hidayatullah juga menjadi bukti dedikasi yang tiada henti. Sebagai Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi (PPO) DPP Hidayatullah, ia membawa visi besar untuk membangun masa depan organisasi.

Tak hanya ahli di bidang IT—dengan inovasinya, seperti menginisasi Sistahid (Sistem Pendataan Hidayatullah)—beliau juga piawai dalam bidang ekonomi dan organisasi. Bahkan, di tengah ujian sakitnya yang panjang, semangatnya tetap membara, menghasilkan karya tulis yang menginspirasi banyak kader.

Sebagai seorang sahabat, Ustadz Asih memiliki jaringan pertemanan yang begitu luas, lintas profesi dan usia. Kepribadian beliau yang humoris dan humanis selalu mencairkan suasana. Bahkan dalam masa sakit, beliau tetap menjadi sumber kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya.

Di tengah keluarganya, Ustadz Asih adalah seorang suami yang penyayang dan ayah yang penuh kasih. Beliau meninggalkan seorang istri dan lima putra-putri yang saat ini sedang menuntut ilmu di berbagai tempat, termasuk Mesir, Yogyakarta, dan Malang.

Kehilangan ini tak hanya dirasakan oleh keluarga, tapi juga oleh teman, sahabat, dan semua yang pernah bersentuhan dengan ketulusan dan keteladanan beliau.

Warisan yang Abadi

Warisan Ustadz Asih bukan hanya dalam bentuk gagasan dan karya tulis, tetapi juga dalam jejak-jejak pengabdian yang tak tergantikan. Buku-bukunya menjadi cermin dari pemikiran yang selalu optimis dan progresif.

Sementara kontribusinya dalam tim penulisan Grand Desain Hidayatullah untuk 50 tahun ke depan menunjukkan visinya yang jauh melampaui zamannya. Kehadiran beliau telah menghidupkan banyak program dan kegiatan, serta menginspirasi banyak kader untuk terus berjuang di jalan dakwah.

Namun, di balik dedikasi yang luar biasa, beliau juga manusia biasa yang menanggung ujian berat. Selama delapan tahun terakhir, Ustadz Asih menghadapi penyakitnya dengan sabar, tetap menjalankan tugas-tugas organisasi meski harus keluar masuk rumah sakit. Keteguhan hatinya menjadi pelajaran berharga bagi semua.

Kini, Ustadz Asih telah kembali ke hadirat Allah SWT. Kami memohon kepada Allah agar mengampuni dosa-dosanya, menerima amal ibadahnya, dan menempatkannya di surga-Nya yang tertinggi.

Sosoknya mungkin telah tiada, tetapi keteladanan dan inspirasi yang ditinggalkannya akan terus hidup dalam hati dan pikiran kita semua.

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan ketabahan. Dan semoga kita semua dapat melanjutkan perjuangan dan semangat yang telah beliau tanamkan. Selamat jalan, Ustadz Asih Subagyo. Kehadiranmu adalah berkah, dan kepergianmu adalah pelajaran berharga bagi kami semua.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

SAR Hidayatullah Peserta Latihan Gabungan Heli Rescue Basarnas Timika

0

TIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Ketua SAR Hidayatullah Wilayah Papua, Abdul Syakir, S.Pd.I mengutus anggotanya, Sapriadi, SE, menjadi peserta kegiatan Latihan SAR Gabungan Heli Rescue yang digelar oleh Kantor Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas) Timika yang dibuka pada Senin, 14 Jumadil Akhir 1446 (16/12/2024).

Kantor Basarnas Timika kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kesiapsiagaan tim penyelamat melalui kegiatan latihan gabungan Heli Rescue dengan melibatkan potensi dari komunitas termasuk SAR Hidayatullah.

Program ini dirancang untuk membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan guna menghadapi berbagai situasi darurat yang melibatkan helikopter sebagai sarana evakuasi utama.

Sesi pelatihan diawali dengan materi kelas yang memberikan landasan teori terkait aspek keselamatan dalam bekerja di lingkungan helikopter. Peserta diberikan pemahaman mendalam mengenai prosedur keselamatan, teknik komunikasi efektif dalam operasi berbasis heli, serta kemampuan marsheling, yaitu panduan pergerakan helikopter di darat.

Pengetahuan ini menjadi krusial untuk memastikan koordinasi yang optimal dan mengurangi risiko kecelakaan selama operasi berlangsung.

Selanjutnya, latihan gabungan ini praktik di lapangan, yang melibatkan penggunaan fasilitas tower Kantor SAR Timika. Peserta mempraktikkan teknik heli rapeling, yaitu metode turun dari helikopter menggunakan tali untuk mencapai medan yang sulit dijangkau.

Selain itu, sesi familiarisasi heli memberikan kesempatan bagi peserta untuk memahami karakteristik helikopter secara langsung, mulai dari fitur teknis hingga prosedur kerja saat melakukan evakuasi.

Latihan ini juga mencakup praktik double line rapeling dan sistem evakuasi udara berbasis hoisting. Kedua metode ini dirancang untuk memastikan penyelamatan dapat dilakukan secara aman, efisien, dan adaptif terhadap kondisi lapangan yang menantang, seperti medan pegunungan atau wilayah terpencil.

Dengan mengintegrasikan teori dan praktik, kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kompetensi teknis para peserta, tetapi juga memperkuat sinergi antara tim penyelamat dalam operasi gabungan.

Pelatihan ini menegaskan pentingnya kesiapan menghadapi situasi darurat melalui kolaborasi, keterampilan, dan teknologi terkini, demi memberikan layanan penyelamatan yang cepat dan andal kepada masyarakat. (ybh/hidayatullah.or.id)

BKPTQ Hidayatullah Gelar Sosialisasi Barnamaj Isnad dan Sertifikasi Guru Al Qur’an

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Badan Koordinasi Pembinaan Tilawatil Qur’an (BKPTQ) Hidayatullah menyelenggarakan acara sosialisasi bertema “Menjaring Kader Musnid Melestarikan Sanad Al-Qur’an” di Kampus Utama Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur, Ahad, 13 Jumadil Akhir 1446 (15/12/2024).

Acara ini, yang menjadi bagian dari program sosialisasi Barnamaj Isnad dan sertifikasi guru Al-Qur’an, dihadiri oleh puluhan peserta termasuk 17 mahasiswa utusan Markazul Qur’an Wal Lughah (MQL) Semester V Program Takhasus Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman (STAIL) Luqman Al Hakim, Kampus Utama Hidayatullah Surabaya.

Acara ini menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Ust. H. Zainun Nasich, Ketua Departemen Pengembangan Metode Pengajaran Tilawatil Qur’an BKPTQ Hidayatullah, dan Ust. Muhdi Muhammad, Koordinator Musyrif GranD MBA.

Keduanya memberikan pengantar sekaligus arahan tentang pentingnya menjaga sanad keilmuan Al-Qur’an serta standar kompetensi yang harus dimiliki oleh para muallim (guru) Al-Qur’an.

Zainun Nasich mengawali pemaparannya dengan menjelaskan bahwa BKPTQ mendapat amanah langsung dari Pemimpin Umum Hidayatullah untuk menjaga kualitas kemampuan Al-Qur’an para kadernya.

“Pemimpin Umum Hidayatullah mengamanahi BKPTQ untuk menggawangi kualitas kemampuan al-Qur’an setiap kader,” ungkap Nasich.

BKPTQ bertanggung jawab membina dan menstandarisasi muallim, musyrif muallim, muhafidz, serta musnid Al-Qur’an di lingkungan Hidayatullah. Nasich menegaskan bahwa melalui program-program seperti Barnamaj Isnad dan sertifikasi muallim Al-Qur’an, sanad keilmuan Al-Qur’an dapat terjaga dengan baik.

Ia menjelaskan, program Barnamaj Isnad dirancang dengan target spesifik, yaitu mencetak setidaknya satu orang musnid di setiap wilayah. Musnid ini nantinya diharapkan dapat melahirkan kader-kader musnid baru di daerah masing-masing. Dengan demikian, pelestarian sanad Al-Qur’an dapat terus berlanjut dari generasi ke generasi.

Lima Kompetensi Utama

Lebih jauh menurut Nasich, untuk menjadi muallim Al-Qur’an yang terstandardisasi di lingkungan Hidayatullah, seseorang harus memenuhi empat kompetensi utama, yaitu kompetensi bacaan (maharotul qiroah), kompetensi menyimak bacaan (maharotul istima’), kompetensi hafalan (maharotul hifdzi), dan kompetensi mengajar (maharotut tadris).

“Jika muallim sudah tersertifikasi empat maharah tersebut, maka ia dianggap sudah memenuhi kualifikasi sebagai muallim Al-Qur’an yang terstandardisasi,” ujar Nasich.

Selain itu, Nasich menambahkan, bagi pengelola rumah Al-Qur’an (RQH), MQH, TPQ, atau koordinator Al-Qur’an unit pendidikan, ditambahkan satu kompetensi tambahan, yaitu kompetensi administrasi dan tata kelola pembelajaran Al-Qur’an (al-maharotul al-idariyyah).

“Kompetensi administrasi dan tata kelola pembelajaran ini bertujuan agar pengelolaan pembelajaran Al-Qur’an di setiap unit pendidikan lebih terstruktur dan efektif,” kata Nasich menandaskan.

Sementara itu, Muhdi Muhammad menguraikan, bahwa program ini juga bertujuan untuk memberikan standarisasi kepada muallim Al-Qur’an, baik yang menggunakan metode Al-Hidayah maupun GranD MBA, sehingga memiliki metodologi pembelajaran, sistem penilaian, dan pengelolaan yang terstandar.

“Agenda ini merupakan salah satu kegiatan ta’aruf program Barnamaj Isnad yang dirancang oleh tim BKPTQ dalam menjaring calon musnid,” jelas Muhdi Muhammad.

Menurut Muhdi, dengan Grand MBA dan BKPTQ Hidayatullah dengan tegas memikul tanggung jawab besar dalam menjaga tradisi keilmuan Al-Qur’an.

Dengan adanya standarisasi dan sertifikasi bagi para muallim, musyrif, dan musnid, diharapkan akan lahir lebih banyak kader yang memiliki kompetensi tinggi serta kemampuan untuk mengajarkan dan melestarikan Al-Qur’an.

Melalui langkah ini, ia berharap BKPTQ tidak hanya memastikan kualitas pendidikan Al-Qur’an di lingkungan Hidayatullah, tetapi juga memperkuat tradisi sanad sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan keilmuan Islam.

“Program seperti Barnamaj Isnad menjadi upaya sunggug sungguh dari upaya Hidayatullah untuk terus menjaga dan mengembangkan kualitas pendidikan Al-Qur’an,” katanya.

Dengan target yang jelas dan metode yang terstruktur, program ini diharapkan menjadi jalan untuk mencetak generasi Ahlul Qur’an yang berkualitas, berkompeten, dan siap melanjutkan estafet keilmuan di masa depan.

Para peserta yang hadir menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap program ini. Ahmad Abror, mahasiswa semester V Program Takhassus STAIL, menyatakan bahwa program ini sangat penting dan menarik.

“Kami tertantang untuk menjadi bagian dari para musnid kelak,” ujar Abrar penuh semangat.

Abror berharap melalui program ini, mendukung semakin banyak lahirnya generasi baru yang tidak hanya memahami Al-Qur’an secara mendalam, tetapi juga mampu meneruskan tradisi sanad keilmuan yang telah diwariskan oleh para ulama terdahulu. (ybh/hidayatullah.or.id)

Dzikir Pagi sebagai Azimat Perisai Orang Beriman

0

DI TENGAH keramaian masjid, Abu Darda’, sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari kalangan Anshar, duduk dengan ketenangan yang memancar.

Tiba-tiba, seorang laki-laki datang tergesa-gesa, wajahnya cemas dan suaranya gemetar, menyampaikan kabar bahwa rumah Abu Darda’ terbakar.

Tidak sekali, dalam kitab Fi At-Tarbiyah Al-Jihadiyah wal Bina’, disebutkan bahkan orang itu berulang kali datang, membawa berita yang sama. Namun, setiap kali mendengar berita tersebut, Abu Darda’ hanya menjawab dengan tenang dan penuh keyakinan:

“Tidak mungkin rumahku kebakaran.”

Orang tersebut akhirnya meninggalkan Abu Darda’. Tapi, api semakin membesar di daerah tersebut sehingga orang itu kembali ke masjid. “Wahai Abu Darda’, pulanglah! Rumahmu akan kebakaran”.

“Tidak mungkin rumahku kebakaran,” jawab Abu Darda’ dengan tegas dan yakin.

Ketiga kalinya orang itu memberitahukan Abu Darda’, “Api sudah lebih tinggi daripada rumahmu, kamu percaya atau tidak percaya, rumahmu akan kebakaran”.

“Rumahku tidak akan kebakaran,” jawaban yang sama dari Abu Darda’.

Orang itu semakin bingung, apalagi ketika api di daerah sekitar rumah Abu Darda’ semakin membesar. Ia kembali mendesak Abu Darda’ untuk pulang. Namun, jawaban Abu Darda’ tetap sama. Hingga akhirnya orang itu memberanikan diri bertanya:

“Mengapa engkau begitu yakin rumahmu tidak akan kebakaran?”

Abu Darda’ pun menjelaskan, “karena sebelum berangkat meninggalkan rumah, aku membaca: “أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ“, artinya “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya”.

Riwayat yang lain menceritakan bahwa Abu Darda’ tidak percaya pada informasi seorang laki-laki yang menemuinya kalau rumahnya akan terbakar.

Keyakinan Abu Darda’ bukan tanpa dasar. Beliau berpegang teguh pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi:

من قالها أول نهاره لم تصبه مصيبة حتى يمسي ومن قالها اٰخر النهار لم تصبه مصيبة حتى يصبح: اَللّٰهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَاإِلهَ إِلَّا أَنْتَ عَلَيْكَ تَوَكّلْتُ وَأَنْتَ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ مَا شَاءَ اللهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ أَعْلَمُ أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ وَأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا. اللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ دَابَّةٍ أَنْتَ اٰخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّيْ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ

“Barang siapa membaca (beberapa kalimat doa dan dzikir) di permulaan siang (pagi) maka ia tidak akan tertimpa musibah hingga sore hari. Dan barang siapa membacanya di akhir hari (sore) maka ia tidak akan tertimpa musibah hingga pagi hari. ‘Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, tiada Tuhan melainkan Engkau. Kepada-Mu saya bertawakal. Engkau Tuhan Arsy yang sangat agung. Kalau Engkau berkehendak maka akan terjadi, jikalau tidak, maka tidak akan terjadi. Tiada daya dan kekuatan melainkan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Saya mengetahui bahwa Allah terhadap segala sesuatu itu mampu. Dan Ilmu Allah mencakup segala hal. Ya Allah saya berlindung kepada-Mu dari kejelekan diriku, dan kejelekan seluruh binatang. Engkau yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di jalan yang lurus’,” (HR. Al-Baihaqi dalam ‘Dalail Nubuwwah (7/121) dari jalan Aglab bin Tamim, Ibnu Suni di ‘Amal Yaum Wa Lailah‘, no. 57, dan Ath-Thabrani di ‘Doa’, no. 343))

Ketika Abu Darda’ mengajak orang-orang untuk memeriksa langsung keadaan rumahnya, apa yang mereka saksikan sungguh luar biasa.

Di tengah hamparan puing-puing dan arang bekas kebakaran yang melalap habis seluruh area, rumah Abu Darda’ berdiri tegak. Tidak ada satu pun api yang menjilat dindingnya.

Kendati sanad hadis ini dianggap lemah, peristiwa ini tetap mengandung hikmah yang menjadi pelajaran besar bagi kaum muslimin sebagai bukti bahwa perlindungan Allah sangat nyata bagi hamba-Nya yang berserah diri dan mengamalkan sunnah Rasul-Nya dengan penuh keyakinan.

Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرً

“Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”(QS. Ath-Thalaq: 3)

Istimewanya Zikir Pagi dan Petang

Allah Ta’ala menyatakan dalam beberapa ayat al-Qur’an tentang perintah dzikir dan berdoa di waktu pagi dan petang. Dua waktu yang istimewa sebagai awal pagi sebelum matahari terbit dan menjelang matahari terbenam. Di antaranya beberapa ayat di bawah ini:

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

“Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu sore dan pagi” (QS. Ghafir: 55)

فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ

“Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya)” (QS. Qaf: 39)

فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ

“Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di sore hari dan waktu kamu berada di waktu pagi hari” (QS. Ar-Rum:17)

Sebenarnya masih banyak ayat lagi, sebagai penegas tentang pentingnya berdzikir, bertasbih, berdoa di waktu pagi dan petang.

Doa-doa yang ada dalam dzikir pagi itu luar biasa dan dahsyat isinya. Sayang sekali, kita sering khilaf dan meremehkannya sehingga jarang atau tidak merutinkan amal ini.

Kita seringkali tidak sadar ada bahaya atau musibah yang mengancam. Padahal Allah telah menyiapkan penangkalnya dengan senantiasa wirid pagi.

Berzikir pagi tidak memerlukan waktu yang lama, sekitar sepuluh hingga lima belas menit. Namun, amalan ini berat bagi yang baru memulai dan belum biasa, tapi ringan bagi yang sudah terbiasa bahkan akan merasa berat untuk meninggalkannya. Karena wirid pagi dan petang sudah menjadi kebutuhannya, sepertinya ada yang kurang jika meninggalkannya.

Nikmatnya sebuah amalan adalah ketika sudah istiqomah menjalankannya dalam waktu yang lama. Di dalam wirid pagi dan petang terdapat rahmat, hidayah, dan perlindungan dari Allah.

Tips dan Penutup

Dalam perjuangan melawan kelemahan diri dan tantangan hidup, istiqamah menjalankan wirid pagi dan sore merupakan kunci kemenangan yang menghadirkan kebahagiaan dan ketenangan.

Sebagai perisai iman dan sumber kekuatan, wirid pagi dan sore adalah azimat yang membutuhkan komitmen dan disiplin. Berikut beberapa tips yang bisa kita terapkan agar kita kian mencintainya.

Pertama, membaca faedah dan keutamaan zikir pagi dan sore dengan membaca buku, mendengarkan tausyiah para ustadz, dan menyerap kisah-kisah orang shaleh yang telah mengamalkan.

Dengan langkah ini bisa muncul pemahaman, kesadaran, dan keyakinan terhadap amalan ini. Selanjutnya termotivasi untuk mengamalkan dengan istiqomah.

Kedua, memahami arti dari dzikir dan doa yang dibaca. Hal ini juga sangat membantu untuk menghayati makna-makna dan maksud dari doa yang dipanjatkan di waktu pagi dan petang. Terasa manfaat dan nyambung dengan kebutuhannya.

Ketiga, menumbuhkan perasaan perlu atau sangat berkepentingan kepada Allah untuk meminta perlindungan. Jika tidak merasa butuh memang tidak tertarik untuk wirid pagi dan petang. Seolah semua berjalan biasa saja dengan menjalani hidup tanpa bergantung kepada Allah.

Padahal, banyak nian ancaman dan berbagai bahaya yang mengancam kehidupan ini, baik secara fisik maupun non fisik yang datangnya bisa saja tidak terduga, tanpa permisi, tak ada kode ataupun sinyal sebelumnya. Wirid pagi dan petang adalah jimat bagi orang-orang beriman.

Keempat, jika belum hafal maka harus menyiapkan buku wirid ataupun aplikasi wirid yang ada di handphone (HP). Perkembangan HP dengan berbagai aplikasi wirid sangat memudahkan untuk wirid.

Kelima, atau terakhir, zikir atau wirid secara bersama-sama seperti dilakukan para santri di pondok pondok pesantren. Hal ini sebagai bentuk tarbiyah atau pembiasaan dari wirid pagi dan petang, tentu dengan pemahaman, pengawasan, dan evaluasi agar menjadi kebiasaan yang konsisten meskipun sedang sendiri.

Istiqamah menjalankan rutinitas zikir pagi dan sore membutuhkan komitmen, disiplin, dan kesadaran akan eksistensi diri kita yang lemah. Mari berusaha menjadikan rutinitas ini sebagai fondasi kekuatan spiritual kita dalam memperkuat iman dan mencapai kebahagiaan sejati.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

PosDai Gulirkan Program Literasi untuk Dukung Pendidikan Anak Muallaf Pedalaman

0
Suasana belajar anak anaka muallaf pedalaman binaan PosDai di Desa Baturube, Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah (Foto: istimewa/ Hidorid)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya meningkatkan akses pendidikan bagi komunitas muallaf di daerah pedalaman, Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) meluncurkan program donasi buku untuk Sekolah Muallaf Pedalaman Suku Wana di Desa Baturube, Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah.

Program ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bacaan bertema pendidikan dasar Islam dan pengetahuan wawasan nusantara, seperti ensiklopedi anak shaleh, pengenalan tauhid, dan ilmu pengetahuan sosial dasar. Gerakan ini juga membantu anak-anak pedalaman mendapatkan materi pendidikan yang selama ini sulit diakses.

Ketua PosDai Pusat, Abdul Muin, menjelaskan, buku-buku ini nantinya tidak hanya menjadi sarana pembelajaran, tetapi juga membuka wawasan dan menguatkan identitas keislaman anak-anak muallaf di pedalaman.

“Insya Allah, pertengahan Desember ini kami akan bertolak ke sana (Bungku Utara) dalam rangka pembinaan dan pembangunan ruang kelas untuk Sekolah Anak Pedalaman,” kata Abdul Muin, seperti dikutip dari laman resmi PosDai, Jum’at, 11 Jumadil Akhir 1446 (13/12/2024).

Program ini, jelas dia, juga akan dikembangkan PosDai ke berbagai titik komunitas muallaf pedalaman lainnya di nusantara seperti di Riau dan Maluku.

Langkah ini, menurut Abdul, adalah bagian dari komitmen PosDai untuk mendukung ata dai mengabdi di pedalaman dalam memajukan pendidikan di wilayah-wilayah terpencil yang seringkali terabaikan.

Diketahui akses pendidikan di pedalaman Indonesia masih menghadapi banyak kendala. Demikian pula angka partisipasi sekolah di daerah terpencil, termasuk di Sulawesi Tengah, lebih rendah dibandingkan wilayah perkotaan.

Kurangnya infrastruktur, seperti ruang kelas yang layak dan akses terhadap materi pembelajaran, juga menjadi salah satu penghambat utama pendidikan di wilayah ini.

Abdul menjelaskan, Suku Wana, salah satu komunitas yang masih hidup secara semi-nomaden, menjadi contoh nyata dari tantangan ini. Banyak anak dari komunitas ini yang harus berjalan jauh untuk mendapatkan pendidikan formal.

Ditambah lagi, minimnya tenaga pengajar dan bahan ajar, terutama buku bertema pendidikan Islam, membuat proses pembelajaran menjadi kurang optimal.

Karena itu, melalui program ini, PosDai berharap dapat membantu meringankan hambatan tersebut.

Abdul mengatakan, buku yang didonasikan tidak hanya berfungsi sebagai sumber belajar, tetapi juga sarana untuk menanamkan nilai-nilai agama dan memperkuat identitas keislaman anak-anak muallaf di pedalaman.

Selain itu, pembangunan ruang kelas baru di Desa Baturube diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif.

“Pendidikan adalah hak setiap anak, tidak peduli seberapa jauh mereka tinggal dari pusat kota. Buku-buku ini adalah jendela menuju dunia yang lebih luas,” tambah Abdul.

Program donasi buku ini diharapkan menjadi langkah awal dari perubahan berarti dalam sistem pendidikan di komunitas muallaf pedalaman.

Dengan akses terhadap bahan bacaan yang memadai dan ruang kelas yang layak, anak-anak Suku Wana di Desa Baturube dapat memiliki kesempatan yang lebih baik untuk meraih masa depan yang cerah.

“Ini adalah bagian dari dakwah kita, membawa cahaya Islam ke setiap sudut negeri,” tutup Abdul. (ybh/hidayatullah.or.id)