Beranda blog Halaman 118

Menghidupkan Harapan di Ciampea untuk Melahirkan Dai Masa Depan

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Matahari siang menyinari langit Ciampea, Bogor, belum lama ini. Di Masjid Hidayatullah Ciampea hari itu berlangsung Rapat Kerja Yayasan (Rakeryas) Hidayatullah Ciampea yang diurus oleh sekelompok anak muda berkumpul, ditulis Rabu, 6 Syaban 1446 (5/2/2025).

Bukan sekadar untuk berbincang, tetapi untuk menyalakan obor semangat perjuangan. Mereka datang dengan mimpi besar—mendirikan Pesantren Mahasiswa Dai (Pesmadai) Bogor, sebuah tempat yang kelak menjadi kawah candradimuka bagi para dai muda, berdekatan dengan kampus Institut Pertanian Bogor (IPB).

Acara siang itu berlangsung hangat. Di tengah suasana kekeluargaan, Imam Nawawi, sosok yang akrab dikenal sebagai motor penggerak Pesmadai Pusat, mengingatkan bahwa perjuangan dakwah bukanlah tugas biasa. Ini adalah panggilan, sebuah misi untuk melahirkan generasi dai berkualitas yang siap berkontribusi kepada umat.

“Peran dai saat ini sangat krusial,” ucapnya. “Namun, jumlah mereka terbatas. Kita perlu mencetak generasi baru yang tidak hanya berilmu, tetapi juga mampu mengemban amanah besar ini.”

Imam mengutip pemikiran Syed Naquib Al-Attas yang menegaskan bahwa pendidikan paling efektif untuk melahirkan gerakan islamisasi ilmu adalah melalui pendidikan kaum dewasa.

Di Indonesia, kata Imam, kaum dewasa ini mayoritas adalah para sarjana. Maka, tidak heran jika Pesmadai Bogor memusatkan pandangannya pada mahasiswa—mereka yang kelak akan menjadi intelektual muda dan pemimpin masa depan.

“Ciampea harus menjadi wadah yang kuat. Di sini, kita tidak hanya mencetak dai, tetapi juga pemikir yang peduli pada masyarakat terpinggirkan,” lanjutnya.

Baginya, cita-cita besar Pesantren Hidayatullah, sejak awal berdiri, adalah melahirkan kelompok-kelompok potensial yang mampu melayani umat dan membangun bangsa.

Dalam semangat menuju Indonesia Emas 2045, terang Imam, Hidayatullah Ciampea mesti hadir bukan semata tempat belajar agama, tetapi juga lahan subur bagi tumbuhnya gagasan-gagasan baru.

“Gagasan yang berakar pada iqra’ bismirrabik—membaca dengan hati, memahami dengan jiwa, dan menghidupkan semangat kebermanfaatan untuk sesama,” katanya.

Tentu saja, tegas dia, perjalanan ini tidak mudah. Menghasilkan dai yang tidak hanya fasih berbicara, tetapi juga mampu mencerdaskan kehidupan bangsa, adalah tantangan besar.

Dia menegaskan bahwa semangat perjuangan tidak pernah lahir dari kemudahan. “Kita harus berupaya, melangkah bersama, dan terus berkontribusi,” katanya.*/Anggun Damayanti

Senyum Bahagia Warga Desa Tenangan: Sumur Bor BMH Wujudkan Impian Air Bersih

0

BENGKULU (Hidayatullah.or.id) — Hari itu, Senin, 4 Syaban 1446 (3/2/2025), menjadi momen yang tak terlupakan bagi warga Desa Tenangan, Seluma, Bengkulu.

Senyum bahagia terpancar di wajah mereka saat air bersih mengalir dari sumur bor baru yang dihadirkan oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Sumur ini bukan sekadar sumber air, melainkan jawaban atas harapan yang telah lama mereka gantungkan.

Desa Tenangan adalah wilayah yang sulit mendapatkan air bersih karena lokasinya yang jauh dan berbukit.

Perjalanan dari Bengkulu menuju desa ini memakan waktu hampir tiga jam. Setiap musim kemarau, warga harus berjuang ekstra keras untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

“Saya sering tidak kebagian air. Bahkan sore itu, saya terpaksa tidak mandi karena airnya habis,” kata Bapak Turiman, seorang warga yang merasakan langsung dampak kesulitan air bersih selama bertahun-tahun.

“Kini, kami bisa bernapas lega. Terima kasih kepada BMH yang sudah mewujudkan impian kami,” tambahnya dengan penuh rasa syukur.

Bapak Mastur, staf prodaya BMH, menyampaikan bahwa sumur bor ini adalah apa yang selama ini warga Desa Tenangan nantikan.

“Air bersih dari sumur ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan warga, sehingga mereka tidak perlu lagi berjalan jauh mengambil air,” jelasnya.

Kisah perjuangan warga Desa Tenangan juga diungkapkan oleh Ibu Husna Hartini.

“Setiap hari, saya harus mengambil air sampai 4 atau 5 kali untuk memenuhi bak mandi di rumah. Alhamdulillah, sumur bor ini akhirnya ada di depan mata kami,” katanya dengan penuh haru.

Ketua BMH Perwakilan Bengkulu, Hendrianto, menegaskan bahwa penyediaan sumur bor ini merupakan bagian dari komitmen BMH untuk terus membantu masyarakat yang membutuhkan.

“Air bersih adalah kebutuhan dasar. Kami berharap sumur ini dapat meningkatkan kualitas hidup warga dan memberikan kebahagiaan yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Bantuan sumur bor ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian dari orang-orang baik dapat mengubah kehidupan masyarakat.

Sekarang, warga Desa Tenangan tidak perlu lagi khawatir akan kekeringan atau antrian panjang untuk mendapatkan air. Mereka bisa fokus menjalani kehidupan yang lebih baik, lebih sehat, dan lebih sejahtera.*/Herim

Ponpes Hidayatullah Mahulu Jadi Wadah Pemersatu Umat Beragama

0

MAHULU (Hidayatullah.or.id) — Toleransi antarumat beragama di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) menemukan wujud nyatanya di Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah. Sejak tahun 2024, pesantren yang berlokasi di wilayah perbatasan Kalimantan Timur ini telah menerima penitipan anak, dengan jumlah mencapai 15 orang.

Menariknya, enam di antaranya merupakan anak-anak dari keluarga beragama Katolik, sebuah fenomena yang mencerminkan keberagaman dan inklusivitas dalam dunia pendidikan pesantren.

Ketua Yayasan Ponpes Hidayatullah Mahulu, M. Taufiq Pasannai, menegaskan bahwa keberagaman dalam lingkungan pesantren bukan sekadar realitas sosial, melainkan prinsip yang dipegang teguh oleh pihaknya.

“Kami membuka pintu bagi siapa saja yang ingin mendapatkan pendidikan dan pembinaan, tanpa melihat latar belakang agama. Ini adalah bagian dari upaya kami untuk menciptakan keharmonisan dan saling pengertian antarumat beragama,” ujar Ustadz Taufiq sepertu dilansir laman RRI, Kamis, 30 Rajab 1446 (30/1/2025).

Menurutnya, keputusan untuk menerima anak-anak dari berbagai latar belakang agama bukanlah sesuatu yang baru, melainkan bagian dari visi pesantren dalam mengajarkan nilai-nilai moral, kedisiplinan, serta kebersamaan.

“Penitipan anak bukan berarti santri yang akan dijadikan umat Muslim, melainkan wadah bermain sesuai minat dan bakat,” jelasnya.

Langkah progresif ini menjadi bukti bahwa pendidikan pesantren tidak hanya terbatas pada pengajaran agama Islam, tetapi juga mencakup pembentukan karakter dan nilai-nilai sosial yang lebih luas.

Bagi Ustadz Taufiq dan tim pengelola Ponpes Hidayatullah, menanamkan semangat toleransi sejak dini menjadi kunci dalam menciptakan masyarakat yang harmonis dan penuh penghormatan terhadap perbedaan.

Di tengah berbagai tantangan yang kerap muncul terkait hubungan antaragama, pesantren ini justru hadir sebagai simbol persatuan dan toleransi.

Dengan membuka pintu bagi siapa saja yang ingin belajar dan mendapatkan pembinaan, Ponpes Hidayatullah menegaskan bahwa pendidikan adalah hak universal yang tidak boleh dibatasi oleh sekat-sekat kepercayaan.

Lebih lanjut, Ustadz Taufiq menggarisbawahi pentingnya menghormati budaya dan hak beragama setiap individu.

“Kita sangat menghargai toleransi yang telah terjalin baik selama ini. Untuk itu, nilai budaya dan hak beragama sangat kami hormati,” tegasnya.

Langkah ini mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak, termasuk tokoh masyarakat dan orang tua santri. Mereka melihat bahwa kehadiran pesantren bukan hanya sebagai lembaga pendidikan Islam, tetapi juga sebagai ruang interaksi sosial yang membentuk karakter dan memperkuat ikatan persaudaraan di antara masyarakat yang beragam.

Inisiatif Ponpes Hidayatullah Mahulu juga menjadi model bagaimana pendidikan berbasis agama dapat memainkan peran strategis dalam membangun hubungan harmonis antarumat beragama.

Di tengah gejolak perbedaan yang kerap menjadi sumber konflik di berbagai tempat, pesantren ini justru menjadi contoh nyata bahwa keberagaman bukanlah penghalang, melainkan modal utama dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif.

Menurut Taufiq, sebagai daerah perbatasan yang dihuni oleh berbagai kelompok etnis dan agama, Mahakam Ulu memiliki tantangan tersendiri dalam menjaga harmoni sosial.

“Keberadaan Ponpes Hidayatullah dengan pendekatan inklusifnya memberikan harapan bahwa pendidikan dapat menjadi jembatan yang menghubungkan perbedaan, bukan sebagai pemisah,” katanya dalam keterangannya.

Dengan komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai kebersamaan dan toleransi, terang Taufiq, Ponpes Hidayatullah Mahulu berupaya menjadi ruang bagi dialog, pengertian, dan persaudaraan sejati di tengah keberagaman.

“Sikap inklusif semacam ini menjadi cerminan bagaimana masyarakat di Mahakam Ulu dapat hidup berdampingan dengan penuh penghormatan, menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan pemisah,” tandasnya.*/

SAR Hidayatullah Gelar Diklatsar di Jatim, Perkuat Kapasitas Relawan Kemanusiaan

MOJOKERTO (Hidayatullah.or.id) — Di tengah derasnya aksi pencarian dan pertolongan yang mereka lakukan pasca bencana yang terjadi di berbagai daerah, Search and Rescue (SAR) Hidayatullah tak mengendurkan semangatnya untuk terus meningkatkan kapasitas para relawan.

Pada Jumat, 24 Rajab 1446 (24/1/2025), organisasi badan pendukung ini secara resmi menggelar Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) di Kampus Thursina STAI Lukman Al Hakim, Soleliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Pelatihan yang digelar SAR Hidayatullah Jawa Timur ini berlangsung selama tujuh hari dan diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah di Jawa Timur.

Acara pembukaan dihadiri oleh Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur Amun Rowi, Ketua Yayasan Kampus Madyan Faisol Haq, Kepala Dusun Seloliman, serta Ketua Umum SAR Hidayatullah Irwan Harun beserta jajaran serta tim instruktur nasional SAR Hidayatullah dari Jakarta.

Dalam sambutannya, Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur, Amun Rowi, menekankan urgensi pelatihan ini dalam membentuk relawan yang kompeten dan berkarakter. Ia menegaskan bahwa kesempatan mengikuti Diklatsar harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kapasitas diri, memperkuat semangat pengabdian, serta menanamkan nilai-nilai keikhlasan dalam membantu masyarakat.

“Diklatsar ini adalah momentum untuk menyiapkan relawan yang tangguh, solid, dan bertanggung jawab dalam menghadapi situasi darurat. Lebih dari sekadar keterampilan teknis, relawan juga perlu memiliki keteguhan hati dan semangat pengabdian yang tulus,” ujar Amun Rowi.

Lebih lanjut, Amun menjelaskan bahwa Diklat ini juga bertujuan untuk memperkuat jati diri kader Hidayatullah, mengokohkan sistematika Wahyu, serta menanamkan prinsip kepemimpinan dalam jamaah. Ia berharap bahwa para peserta akan keluar dari pelatihan ini sebagai individu yang siap mengemban tugas kemanusiaan dengan penuh dedikasi.

Kesiapan Mental dan Spiritual Jadi Prioritas

Ketua Umum SAR Hidayatullah, Irwan Harun, dalam kesempatan yang sama menegaskan bahwa Diklatsar ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan sebuah langkah strategis untuk memperkuat peran SAR Hidayatullah dalam kontribusi nyata di bidang kemanusiaan.

“Kami berharap peserta tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki mental dan spiritual yang kokoh untuk menghadapi berbagai tantangan. Sebab, tugas kemanusiaan tidak hanya membutuhkan keahlian fisik, tetapi juga kesiapan mental dalam menghadapi berbagai situasi yang tidak terduga,” tegasnya.

Relawan diharapkan tidak hanya memahami aspek teknis pertolongan pertama, penanganan bencana, dan manajemen krisis, tetapi juga memiliki ketahanan jiwa yang tinggi untuk menghadapi situasi darurat dengan kepala dingin dan hati yang ikhlas.

Dengan diadakannya pelatihan ini, jelas Irwan, SAR Hidayatullah berharap semakin banyak relawan yang siap turun ke lapangan dengan keahlian yang mumpuni, jiwa yang kuat, serta keikhlasan dalam mengabdi kepada masyarakat.

“Diklatsar ini merupakan ikhtiar dan sebuah langkah nyata dalam memperkokoh peran SAR Hidayatullah di bidang kemanusiaan dalam membantu siapapun dan dimanapun yang dapat kami jangkau,” katanya.

Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari masyarakat sekitar, termasuk Kepala Dusun Seloliman yang mengapresiasi inisiatif SAR Hidayatullah dalam membangun kesiapsiagaan bencana.

Selama tujuh hari agenda ini, para peserta mendapatkan pelatihan yang mencakup keterampilan dasar pertolongan pertama, penanganan bencana, hingga strategi mitigasi dan manajemen krisis.

Usai acara kegiatan di Kampus Tursina STAI Lukman Al Hakim, tim instruktur Diklatsar Nasional SAR Hidayatullah langsung bertolak ke Bengkulu untuk melanjutkan agenda pelatihan serupa yang digelar di wilayah tersebut.

“SAR Hidayatullah terus berkomitmen untuk memperkuat kapasitas relawan di berbagai daerah demi kesiapsiagaan dan respons cepat dalam situasi darurat,” tandas Irwan.*/Muhammad Hidayat

Rakerwil Hidayatullah Jambi Teguhkan Spirit Amal Shaleh Kolektif

0

MUARO JAMBI (Hidayatullah.or.id) — Untuk membangun sebuah gerakan dakwah Islam yang kokoh dan produktif dalam berkhidmat untuk kemajuan umat dan bangsa, setiap elemen harus berorientasi pada peningkatan kualitas dan kuantitas amal shaleh secara kolektif.

Demikian hal ini disampaikan oleh Ketua Bidang Tarbiyah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Ir. Abu A’la Abdullah, MH.I, dalam pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Provinsi Jambi di Kota Muaro Jambi, Sabtu, 2 Syaban 1446 (1/2/2025).

“Semua ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas amal shaleh secara kolektif dengan sistem kinerja yang dapat diukur,” katanya.

Dalam konteks organisasi Islam seperti Hidayatullah, jelas Abdullah, pengelolaan amal shaleh secara kolektif memerlukan sistem kerja yang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga dapat dipantau dan dievaluasi secara sistematis.

Konsep ini lanjutnya menjadi semakin relevan dalam sebuah organisasi berbasis dakwah seperti Hidayatullah, di mana kerja kolektif yang terstruktur sangat menentukan efektivitas dan keberlanjutan program kerja.

“Oleh karena itu, Rakerwil sebagaimana kita jalani hari ini merupakan momentum strategis dalam merancang langkah-langkah konkret yang akan diimplementasikan oleh seluruh elemen organisasi,” terangnya.

Sebagimana wilayah lainnya, Rakerwil Hidayatullah Provinsi Jambi ini tidak hanya dihadiri oleh Dewan Pengurus Wilayah (DPW), tetapi juga melibatkan unsur Dewan Pengurus Daerah (DPD), organisasi pendukung, amal usaha, dan badan usaha. Kehadiran berbagai elemen ini bukan tanpa alasan.

“Kehadiran unsur DPD, organisasi pendukung, amal usaha dan badan usaha dalam Rakerwil ini dalam rangka terbangunnya kerjasama secara kolektif, sinkronisasi dan koordinasi demi terlaksananya program kerja DPW yang disepakati,” ujarnya.

Rakerwil ini juga juga dihadiri perwakilan dari Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Kabupaten Tebo, Kabupaten Bungo, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Batang Hari, dan Kabupaten Muaro Jambi.

Kerjasama kolektif ini, jelas Abdullah, merupakan prinsip fundamental dalam manajemen organisasi modern, termasuk organisasi berbasis dakwah. Dalam berbagai penelitian tentang manajemen strategis, koordinasi dan sinkronisasi antar-unit kerja menjadi salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan implementasi kebijakan.

“Oleh karena itu, sinergi antara DPW, DPD, serta berbagai unit usaha dan amal menjadi krusial dalam memastikan bahwa seluruh kebijakan yang disepakati dalam Rakerwil dapat dijalankan dengan efektif,” tukasnya.

Dalam hal ini, peran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah sebagai pendamping sangatlah penting. Dia menegaskan bahwa Dewan Pengurus Pusat sebagai pendamping bertugas untuk memastikan bahwa seluruh keputusan dan kebijakan yang diambil dalam Rakerwil sejalan dengan hasil keputusan Musyawarah Majelis Syura serta kesepakatan Rapat Kerja Nasional V yang lalu.

“Dengan adanya pendampingan ini, kesinambungan antara visi nasional dan implementasi di tingkat wilayah dapat tetap terjaga, sehingga program kerja tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan agenda nasional yang lebih besar,” jelasnya.

Implementasi Program

Lebih jauh Abdullah menguraikan bahwa Rakerwil bukanlah akhir dari sebuah perencanaan, melainkan awal dari implementasi kebijakan yang lebih sistematis. Oleh karena itu, ia mengingatkan bahwa setelah pelaksanaan Rakerwil ini, diharapkan agar seluruh DPD, amal usaha dan badan usaha di Jambi dapat menuangkan lebih lanjut dalam program kerja terperinci, terukur dan dapat dinilai secara kuantitatif.

Dia memaparkan, dalam manajemen modern, pengukuran kinerja menjadi aspek yang sangat esensial. Tanpa adanya parameter yang jelas, suatu organisasi akan kesulitan dalam mengevaluasi efektivitas kerja dan menyesuaikan strategi berdasarkan data empiris.

Oleh sebab itu, lanjutnya, penerapan sistem evaluasi berbasis kuantitatif di berbagai lini organisasi menjadi langkah yang perlu dioptimalkan. “Hal ini juga selaras dengan prinsip Islam yang mendorong setiap individu dan kelompok untuk selalu melakukan muhasabah agar terus berada di jalur yang benar,” katanya menekankan.

Selain aspek manajerial, Abdullah juga mengingatkan bahwa dimensi spiritual tetap menjadi pondasi utama dalam setiap aktivitas organisasi berbasis dakwah.

“Kita juga harus meyakini bahwa segala bentuk karya yang dihasilkan, kinerja yang dicapai, serta prestasi yang diraih semuanya akan dinilai dan diberi ganjaran oleh Allah SWT, bahkan disaksikan oleh Rasulullah saw dan orang-orang beriman kelak di Akhirat,” katanya.

Di kesempatan yang sama, Ketua DPW Hidayatullah Provinsi Jambi, Ust. Aidil Abror Rams S.Sos.I, mengapresiasi pelaksanaan Rakerwil ini sebagai upaya strategis dalam meningkatkan kualitas kerja organisasi. Dia menegaskan bahwa forum ini menjadi ajang penting dalam menyelaraskan visi dan strategi kerja guna menghadapi tantangan dakwah ke depan.

“Dengan adanya Rakerwil ini, Hidayatullah Jambi diharapkan semakin mampu menjalankan peran arus utamanya sebagai institusi dakwah dan tarbiyah yang profesional, terukur, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai kultur Hidayatullah,” kata Aidil.

Dia menambahkan, melalui sinergi antara perencanaan strategis yang sistematis dan orientasi spiritual yang kuat serta pengukuhan program yang dihasilkan Rakerwil, diharapkan Hidayatullah khususnya di kawasan Bumi Melayu ini dapat terus memberikan kontribusi yang nyata bagi masyarakat dan umat Islam secara keseluruhan. (ybh/hidayatullah.or.id)

Kekuatan BMH Menuju Peningkatan Mutu SDM dan Inovasi Program

0
IST: Kegiatan program pemberdayaan dan pembinaan BMH di pedalaman (istimewa/ bmh)

PADA hari Senin (3/2/2025), dalam acara Amil Talk BMH Pusat, saya menyampaikan beberapa poin penting sebagai bentuk komitmen dan semangat bersama.

Acara ini diisi dengan gagasan penting untuk memperkuat peran BMH dalam berbagai program, serta mendorong peningkatan mutu sumber daya manusia (SDM) melalui inovasi dan penguatan program-program unggulan. Saya memulai pemaparan dengan pantun berikut:

Pagi hari berlari-lari
Agak siang makan keju
Semua amil siap memberi
Kekuatan terbaik BMH maju

Pantun ini merupakan ungkapan semangat agar setiap amil BMH selalu siap memberikan yang terbaik untuk memajukan organisasi.

Selanjutnya, saya mendorong BMH untuk mendukung program peningkatan mutu SDM melalui pembangunan kualitas perguruan tinggi yang dikelola oleh Hidayatullah di berbagai provinsi.

Perguruan tinggi tersebut akan mendapatkan pengakuan internasional apabila mampu memenuhi lima indikator utama, yaitu riset dan penemuan, pengalaman pembelajaran, kemampuan kerja lulusan, keterlibatan global, dan sustainabilitas.

Pencapaian indikator-indikator tersebut tidak hanya akan meningkatkan reputasi perguruan tinggi, tetapi juga membuka peluang bagi pengembangan SDM yang unggul dan siap bersaing di kancah global.

Langkah itu penting agar pemberdayaan yang idealnya mengubah mustahik menjadi muzakki dapat BMH jalankan secara sinergis dan berkelanjutan.

Inovasi Harga Mati

Selain itu, saya menekankan bahwa inovasi adalah harga mati dalam setiap program yang dijalankan oleh BMH.

Melalui inovasi, lembaga amil zakat akan mampu menciptakan program-program yang berdampak nyata, mengubah setiap titipan kebaikan menjadi solusi yang dirasakan dan dihayati oleh masyarakat.

Oleh karena itu, BMH harus mampu menghadirkan program-program inovatif, dalam arti menjawab kebutuhan masyarakat, langsung, sekarang dan berkelanjutan.

Misalnya, ketika ada anak tidak mampu membayar SPP sekolah karena ayahnya meninggal dunia sejak Covid-19 melanda negeri ini. BMH punya mekanisme merespon itu secepat mungkin. Anak itu akhirnya bisa belajar tanpa terganggu soal bayaran.

Apalagi sekarang, banyak cerita bahwa sekolah kadang tidak mengizinkan siswa ikut ujian jika belum melunasi SPP. Anak terganggu mentalnya, orang tua terlukai perasaannya. Ujungnya, bisa putus sekolah anak bangsa itu.

Penguatan Program

Lebih jauh lagi, BMH harus menguatkan beberapa program berdasarkan isu-isu strategis, antara lain adalah isu pangan, isu pedalaman, isu pemberdayaan, isu keberlanjutan, dan isu kemanusiaan.

Penguatan program ini merupakan respons atas tantangan dan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.

Dengan fokus pada isu-isu tersebut, BMH dapat memberikan kontribusi nyata dalam upaya menyelesaikan masalah-masalah krusial yang dihadapi oleh bangsa.

Di era digital saat ini, prinsip kinerja juga harus menjadi prioritas. BMH dituntut untuk bersikap lincah dan efektif melalui kecepatan respon, kelengkapan data, pengembangan konsep dari isu ke aksi, kemudian jaringan, dan pergaulan.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip tersebut, BMH akan semakin adaptif terhadap perubahan zaman, meningkatkan efektivitas kerja, serta memperkuat jaringan dan sinergi dalam menghadapi tantangan di masa depan.

Refleksi

Demikianlah beberapa poin penting yang saya sampaikan dalam Amil Talk BMH Pusat. Ini penting menjadi refleksi kita untuk lebih kontributif di 2025 dan seterusnya.

Berpikir reflektif sangat penting bagi kemajuan tim karena memberikan kesempatan untuk menilai dan memahami setiap langkah yang telah diambil, mengidentifikasi kekuatan serta kelemahan, dan belajar dari pengalaman masa lalu guna merancang strategi perbaikan ke depan.

Proses berpikir reflektif tidak hanya mendorong peningkatan kinerja individu, tetapi juga memperkuat sinergi tim melalui komunikasi yang terbuka dan evaluasi kritis, sehingga setiap tantangan dapat dijadikan pelajaran berharga untuk mencapai hasil yang lebih optimal dan inovatif.

Semoga dengan semangat bersama, kita semua dapat mengimplementasikan agenda-agenda strategis ini dan membawa BMH menuju masa depan yang lebih gemilang, di mana inovasi, kualitas SDM, dan kepedulian sosial menjadi landasan utama kemajuan yang dapat masyarakat rasakan dampak dan manfaatnya.[]

*) Imam Nawawi, penulis Kepala Humas BMH Pusat

Rakerda Hidayatullah Bontang Ajang Konsolidasi dan Kolaborasi Ormas Islam

0

BONTANG (Hidayatullah.or.id) — Suasana di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Bontang tampak ramai sejak pagi, Sabtu, 29 Rajab 1446 (25/01/2025). Sekitar pukul 07.30 WITA, halaman gedung di Jalan R. Suprapto dipenuhi itu kendaraan roda empat dan roda dua yang bahkan membentang hingga sepanjang Gang Panahan 2.

Tak kurang dari 300 peserta berkumpul di aula lantai dua untuk mengikuti pembukaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Bontang yang akan berlangsung selama dua hari itu.

\Acara ini menjadi ajang konsolidasi bagi berbagai unsur di bawah naungan DPD Hidayatullah Bontang, mulai dari senior lembaga, unsur pembina, pengawas, hingga organisasi pendukung lainnya.

Namun, yang paling menarik perhatian adalah kehadiran tokoh-tokoh dari berbagai ormas Islam di Kota Bontang. Di antara mereka tampak Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Bontang, KH. Hartono, S.Ag., yang juga memimpin doa pembukaan, Ketua DPD Muhammadiyah Bontang, KH. Mustamar, serta Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bontang sekaligus Ketua Badan Koordinasi Dakwah Islam Bontang (BKDIB )​​ Bontang, KH. Muhammad Rais, M.Pd.

Turut hadir pula Kapolres Bontang AKBP Alex Frestian Lumban Tobing, Ketua Muslimat NU Hj. Kamiyati, Ketua Aisyiyah Bontang Lifia Indah Pratiwi, Ketua Pemuda Hidayatullah Syarif Al Qodri dan Ketua Muslimat Hiayatullah Nur Afifah, S.Ag, serta para guru dan wali murid.

Ketua DPD Hidayatullah Bontang, Ust. Qosim Lakaseng, M.Pd., dalam sambutannya, menyampaikan rasa syukur atas kehadiran para undangan yang menunjukkan semangat kebersamaan dan sinergi antar-ormas Islam di Bontang. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dalam menggerakkan kebaikan di kota ini.

“Sangat disayangkan kalau kebaikan ini hanya diperjuangkan oleh salah satu ormas saja. Akan lebih maksimal jika kita semua bersama-sama untuk mewujudkan kebaikan di Kota Bontang ini,” ujar Ust. Qosim Lakaseng dalam sambutannya yang disambut dengan tepuk tangan hadirin.

Rakerda ini dibuka secara resmi oleh perwakilan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kalimantan Timur, Ust. Ari Wahyudi, yang menjabat sebagai Kepala Bidang Sosial dan Kesehatan.

Dalam sambutannya, Ari menegaskan komitmen Hidayatullah dalam mendukung program nasional, khususnya yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

“Bapak Presiden beberapa kali menunjukkan sikap patriot dalam forum internasional, termasuk dalam mendukung kemerdekaan Palestina. Sehingga kita juga harus mendukung dan bekerja sama dengan Kabinet Merah Putih untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045,” tegasnya.

Menurut Ari, acara Rakerda ini bukan sekadar forum diskusi strategis, tetapi juga menjadi momentum bagi para pemimpin ormas Islam di Bontang untuk bersatu dalam visi besar kebaikan bersama.

“Dengan semangat sinergi yang ditunjukkan dalam forum ini, diharapkan Kota Bontang akan menjadi pusat peradaban Islam yang lebih harmonis, maju, dan penuh keberkahan,” tandas Ari.

Seminar Parenting

Selain membahas agenda organisasi, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan seminar parenting bagi para orang tua wali murid.

Seminar yang mengusung tema “Konsolidasi Jati Diri, Organisasi, dan Wawasan Menuju Standarisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik” ini menghadirkan Ustadz Aqib Junaid Kahar, anggota Dewan Mudzakarah DPP Hidayatullah, sebagai narasumber utama.

Dalam pemaparannya, Ustadz Aqib menyoroti maraknya kasus perundungan yang terjadi di berbagai daerah. Ia menekankan bahwa harkat dan martabat manusia adalah sesuatu yang mulia dan tidak boleh dilecehkan oleh siapa pun.

“Adanya kasus-kasus perendahan harkat dan martabat anak manusia dipicu karena sangat jarang, bahkan mungkin tidak pernah, seorang individu itu berinteraksi dengan Al-Qur’an,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan optimisme bahwa akan lahir generasi Qur’ani yang membanggakan di Kota Bontang, dengan catatan bahwa pendidikan berbasis nilai-nilai Islam terus dikuatkan.*/Abdullah Jumadi

Rakerwil Nusa Tenggara Barat Bahas Grand Design 50 Tahun Kedua Hidayatullah

0

MATARAM (Hidayatullah.or.id) — Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali digelar pada 28–29 Januari 2025, bertepatan dengan 28–29 Rajab 1446 H. Forum strategis ini menjadi ajang konsolidasi bagi para dai dari sepuluh kabupaten/kota di NTB, menegaskan peran sentral Hidayatullah dalam pembangunan spiritual dan sosial di wilayah ini.

Turut hadir dalam pembukaan acara, Gubernur NTB terpilih, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, SIP, M.Si. Dalam pidatonya, ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan Hidayatullah dalam upaya membangun kesejahteraan masyarakat.

“Kerja sama pemerintah dan Hidayatullah menjadi bekal kuat untuk mewujudkan program-program yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya di hadapan para peserta.

Menurutnya, peran dai tidak hanya sebatas dalam ranah keagamaan, tetapi juga berkontribusi dalam membangun karakter dan moral masyarakat NTB agar lebih baik dan berdaya saing.

Selain agenda Rakerwil, kegiatan ini juga dirangkai dengan dengan kegiatan Lailatul Ijtima’, atau Temu Kader Dai Hidayatullah se-NTB.

Acara ini menghadirkan Ketua Dewan Pertimbangan Pusat Hidayatullah, Drs. KH. Hamim Thohari, serta Ketua Departemen Hubungan Antarbangsa DPP Hidayatullah, Dzikrullah Wisnu Pramudya. Pertemuan ini menjadi wadah bagi para dai untuk memperkuat komitmen dakwah, serta mengkaji arah perjuangan ke depan.

Grand Design 50 Tahun Kedua

Dalam forum ini, KH. Hamim Thohari menyampaikan pemikiran strategis tentang arah gerak Hidayatullah memasuki usia 50 tahun kedua. Ia menegaskan bahwa untuk tetap eksis dan kokoh dalam menebar risalah dakwah kepada umat, Hidayatullah harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitasnya.

“Semangat perjuangan harus didukung oleh sistem kuat, sehingga visi membangun peradaban Islam benar-benar dapat tercapai,” ungkap KH. Hamim Thohari.

Ia menekankan bahwa dakwah harus bersifat dinamis dan inovatif, dengan tetap berpijak pada nilai-nilai Islam yang kokoh.

Di era digital ini, tambah Hamim, pendekatan dakwah harus semakin inklusif dan memanfaatkan berbagai sarana teknologi untuk menjangkau lebih banyak masyarakat, terutama generasi muda.

Sementara itu Ketua DPW Hidayatullah NTB, Ust. Muslihuddin Mustaqim, dalam keterangannya menegaskan bahwa kiprah mereka di NTB bukan sekadar menyampaikan ajaran Islam, tetapi juga berkontribusi dalam membangun tatanan sosial yang lebih baik. Hal ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah.

Kesuksesan penyelenggaraan Rakerwil dan Lailatul Ijtima’ ini juga tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Lembaga ini telah menjadi salah satu pilar utama dalam mendukung program dakwah di berbagai pelosok.

“Semoga jerih payah di pelosok negeri menjadi ladang pahala bagi para donatur BMH,” ujarnya.

Harapan besar mengiringi pertemuan ini, bahwa sinergi antara para dai, pemerintah, dan masyarakat dapat semakin diperkuat. Dengan demikian, NTB dapat terus berkembang menjadi daerah yang religius, sejahtera, dan harmonis.

Muslihuddin menambahkan Rakerwil Hidayatullah NTB 2025 ini merupakan momentum penguatan tekad untuk terus menebar risalah Islam dengan penuh dedikasi.

“Semangat dakwah yang digelorakan di forum ini diharapkan mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat luas, serta memperkokoh peran Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam yang maju dan berkeadaban,” tandasnya.*/Zulkipli

Rakerwil Papua, Wahyu Rahman Soroti Pentingnya Profesionalisme, Produktivitas dan Nilai Profetik

0

SERUI (Hidayatullah.or.id) — Dalam era modern yang penuh dengan dinamika dan tantangan, pengelolaan gerakan dakwah dan pembinaan umat dalam bingkai organisasi Islam harus berorientasi pada profesionalisme, produktivitas, dan nilai-nilai profetik.

Demikian ditekankan oleh Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Wahyu Rahman, MM, dalam arahan pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Provinsi Papua di Kota Serui, Rabu, 29 Rajab 1446 (29/1/2025).

Wahyu menggarisbawahi pentingnya keyakinan bahwa setiap karya, kinerja, dan prestasi yang dicapai akan mendapatkan ganjaran dari Allah SWT dan disaksikan oleh Rasulullah saw serta orang-orang beriman kelak di akhirat.

Dalam konteks ini, ia membacakan firman Allah dalam Al-Qur’an surah At-Taubah ayat 105 yang mengandung pesan penting tentang amanah kepemimpinan sebagai seorang muslim yang akan dipertanggungjawabkan kepada Allah.

Artinya, terang dia, setiap individu dalam organisasi harus memahami bahwa setiap tanggung jawab yang diemban bukan hanya berkaitan dengan tugas duniawi, tetapi juga memiliki konsekuensi ukhrawi.

“Dengan kesadaran ini, kerja-kerja dakwah dan pengelolaan organisasi harus didasarkan pada keikhlasan, kejujuran, dan profesionalisme,” katanya.

Lebih jauh dia menerangkan bahwa dakwah dan pembinaan umat merupakan inti dari gerakan Islam yang berkelanjutan.

Oleh sebab itu, sebagai sebuah organisasi yang mengemban misi dakwah, jelas Wahyu, Hidayatullah akan terus menggalakkan dakwah dan pembinaan umat sebagai arus utama (mainstream) gerakannya.

Dia menegaskan bahwa agar mainstream gerakan ini efektif, diperlukan manajemen yang baik untuk memenuhi kebutuhan Sumber Daya Insani di tingkat Wilayah dan Daerah.

Disamping itu, sambungnya, penguatan manajemen dakwah menjadi krusial dalam membangun sistem kaderisasi yang lebih baik, termasuk dalam pengelolaan amal usaha dan sumber daya manusia.

Dia memandang, dengan penerapan sistem yang efektif, dakwah tidak hanya menjadi kegiatan yang sporadis, tetapi juga sebuah gerakan berkesinambungan yang memiliki dampak luas bagi masyarakat.

“Dakwah yang terkelola dengan baik akan menciptakan kader-kader unggul yang mampu menjawab tantangan zaman serta membawa Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam,” terangnya.

Selain itu, penguatan kapasitas sumber daya insani dalam organisasi harus menjadi prioritas. Sebab, kata dia, Keberhasilan dakwah dan pembinaan umat sangat ditentukan oleh kualitas individu yang menjalankannya.

“Oleh karena itu, sistem pembinaan, pelatihan, serta pengembangan kapasitas harus diperhatikan secara serius demi mencetak kader yang memiliki kompetensi, integritas, dan dedikasi tinggi,” imbuhnya.

Mewujudkan Kemandirian Ekonomi

Lebih jauh Wahyu menyampaikan bahwa dalam era yang serba kompetitif ini, organisasi Islam harus memiliki kemandirian ekonomi agar mampu menjalankan program-programnya secara berkelanjutan.

Salah satu langkah konkret yang diusung oleh Hidayatullah berkenaan dengan upaya tersebut adalah mengoptimalkan potensi aset dan memanfaatkan tanah milik organisasi serta amal usaha sebagai lahan produktif dalam berbagai sektor sesuai potensinya masing-masing.

“Pemanfaatan aset yang tepat akan mendukung kemandirian organisasi dan memastikan keberlanjutan gerakan dakwah,” katanya, seraya menekankan bahwa dengan konsep ini Hidayatullah tidak hanya bergantung pada donasi, tetapi juga mampu menciptakan sumber pendanaan mandiri yang berbasis pada produktivitas dan kebermanfaatan sosial.

Selain itu, Ust. Wahyu Rahman juga menekankan pentingnya mengimplementasikan nilai-nilai profetik dan profesionalisme dalam sistem keuangan organisasi, amal usaha, dan badan usaha.

Transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan menurutnya menjadi faktor utama dalam menjaga kepercayaan masyarakat serta memastikan setiap dana yang dikelola digunakan secara tepat sasaran.

Di samping aspek ekonomi dan profesionalisme organisasi, Wahyu Rahman mengingatkan bahwa ada satu hal yang tidak boleh diabaikan, yaitu silaturrahim dan pembinaan umat.

“Di tahun terakhir periode kepemimpinan ini, Hidayatullah menegaskan komitmennya untuk semakin mempererat jalinan ukhuwah dan memperkuat pembinaan umat,” imbuhnya.

Dia menambahkan, komitmen penguatan jalinan ukhuwah tersebut sejalan dengan visi besar organisasi dalam membangun peradaban Islam yang berlandaskan nilai-nilai keimanan, keilmuan, dan kemanfaatan. (ybh/hidayatullah.or.id)

Flag Off Runmadhan BMH di Stadion Pakansari Sambut Ramadhan dengan Berlari dan Berbagi

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya menyambut bulan suci Ramadhan dengan semangat kesehatan dan kepedulian sosial, Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) menggelar acara flag off Runmadhan di Stadion Pakansari, Bogor, pada Sabtu, 2 Syaban 1446 (1/2/2025). Acara ini menandai komitmen peserta untuk menjaga kesehatan fisik melalui olahraga lari dan berkontribusi pada program sosial di bulan Ramadhan.

Runmadhan BMH menghadirkan berbagai pilihan jarak lari, mulai dari 3 km, 10 km, hingga 99 km, yang akan dilaksanakan hingga 20 Februari 2025.

Hingga pukul 14.00 WIB pada 1 Februari, sebanyak 5.757 peserta telah mendaftar melalui aplikasi Gerak.

Aplikasi ini dipilih sebagai platform pendukung karena keakuratannya dalam mengukur kinerja peserta dan sistem kontrol yang terintegrasi.

Selain itu, Gerak juga menyediakan fitur “program kebaikan paket buka puasa” yang memungkinkan pengguna untuk berbagi donasi, yang nantinya akan disalurkan selama bulan Ramadhan.

Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, menyatakan bahwa kolaborasi dengan aplikasi Gerak menjadi kunci dalam memudahkan masyarakat mengikuti kompetisi Runmadhan secara terukur dan akurat.

“Melalui aplikasi Gerak, peserta tidak hanya dapat mengikuti lomba lari, tetapi juga berpartisipasi dalam program sosial yang mendukung paket buka puasa di bulan Ramadhan,” ujar Imam.

Selain manfaat kesehatan yang diperoleh dari aktivitas lari, peserta juga berkesempatan mendapatkan merchandise gratis. BMH menyediakan medali bagi 50 peserta pertama yang menyelesaikan lomba lari sebagai bentuk apresiasi.

Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Ketua Umum Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kabupaten Bogor, Rieke Iskandar. Rieke menegaskan dukungannya terhadap program Runmadhan dengan memberikan donasi langsung di acara tersebut untuk program paket donasi buka puasa yang akan disalurkan selama Ramadhan.

“Semangat sehat dan berbagi adalah kunci menyambut Ramadhan. Dengan berlari, kita tidak hanya menjaga kesehatan tetapi juga membuka ruang untuk kepedulian sosial,” pungkas Rieke.

Acara flag off Runmadhan BMH di Stadion Pakansari ini diharapkan dapat menginspirasi masyarakat untuk aktif berolahraga dan berbagi kebaikan, menjadikan Ramadhan bukan hanya momen peningkatan spiritual, tetapi juga momentum untuk meningkatkan kualitas hidup melalui kegiatan yang menyehatkan dan bermanfaat bagi sesama.

Dalam kesempatan itu hadir juga publik figur, pegiat literasi Indonesia, Kang Maman. Ia mengatakan bahwa langkah BMH menginisiasi Runmadhan adalah langkah cerdas. “Apalagi melalui Runmadhan ini kita bisa berlari dan berbagi,” tuturnya disambut tepuk tangan seluruh peserta.*/Herim