Beranda blog Halaman 118

Kolaborasi Hijau dari Konawe Selatan untuk Melawan Krisis Iklim dan Bumi yang Lebih Lestari

KONSEL (Hidayatullah.or.id) — Sebuah inisiatif bermakna tumbuh di tepian pesisir Sulawesi Tenggara dalam rangka semarak Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-22 Kabupaten Konawe Selatan, Ahad, 6 Dzulqaidah 1446 (4/5/2025).

Pada hari itu Hidayatullah Mangrove Center (HMC) bersama Yayasan Batundu Lestari Indonesia, Komunitas Baca Bincang Buku (Babibu), Pondok Tahfidz Ardian Husein, Sahabat Aktivis Lingkungan Konawe Selatan, serta para guru dari SMAN 03 Konawe Selatan bergandengan tangan melaksanakan kegiatan penanaman ratusan pohon mangrove dan aksi bersih pantai di Gelora Beach, Desa Torobulu.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Konawe Selatan, Drs. Annas Mas’ud, M.Si., mewakili pemerintah daerah turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Direktur Hidayatullah Mangrove Center, Ahmad Saputra, menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki tujuan yang lebih dari sekadar menanam pohon.

Inisiatif ini, terang Ahmad, adalah upaya strategis untuk menjaga kelestarian hutan mangrove yang memiliki fungsi vital dalam menjaga pesisir dan mencegah abrasi.

Ahmad menekankan urgensi pelibatan lebih banyak pihak di masa depan. “Olehnya itu, harapan kami semoga ke depannya bisa semakin banyak pihak yang terlibat dalam upaya pelestarian lingkungan pesisir ini,” ujarnya, seperti dalam keterangan diterima Hidayatullah.or.id, Senin.

Dia menjelaskan, mangrove bukan sekadar pohon yang tumbuh di antara pasang surut air laut. Ia adalah benteng alam yang melindungi garis pantai dari kikisan abrasi yang semakin parah akibat perubahan iklim.

Akar-akar mangrove yang kuat menjerat sedimen, menyaring polusi, dan menyediakan habitat bagi beragam spesies laut.

Dalam konteks perubahan iklim global, Ahmad menjelaskan, ekosistem ini juga berperan sebagai penyerap karbon yang efektif, menyimpan karbon empat kali lebih banyak dibandingkan hutan tropis daratan.

Apresiasi atas kolaborasi ini datang dari Rasfiuddin Sabaruddin, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah yang juga putra asli Sulawesi Tenggara.

Menurut Rasfiuddin, kegiatan di Konawe Selatan ini menjadi penting, bukan hanya karena skalanya, tapi karena sifat kolaboratifnya.

Di sinilah, terang dia, letak esensi gerakan lingkungan modern yaitu kolaborasi lintas komunitas, institusi pendidikan, organisasi sosial, dan pemerintah.

Menurutnya ini bukan lagi soal siapa yang paling peduli, tapi bagaimana semua pihak menyatukan kepedulian mereka dalam aksi nyata.

“Saya sangat mengapresiasi kolaborasi luar biasa ini. Hal ini adalah bentuk kepedulian nyata terhadap lingkungan, khususnya di tanah kelahiran saya sendiri,” ungkap pria kelahiran Konawe ini.

Rasfiuddin menegaskan bahwa pelestarian mangrove tidak boleh dilihat sebagai kegiatan seremonial semata. Ia menempatkan aksi ini dalam konteks yang lebih besar, yakni sebagai langkah strategis dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.

“Kegiatan seperti ini harus menjadi gerakan bersama. Saya berharap makin banyak pemuda, masyarakat, dan pemerintah yang bersinergi dalam menjaga alam kita,” ujarnya.

Dia menambahkan, gerakan lingkungan yang berkelanjutan memang menuntut partisipasi kolektif. Tak cukup hanya dengan seratus pohon yang ditanam hari ini, tapi perlu ribuan pohon lagi dan perubahan pola pikir masyarakat tentang pentingnya ekosistem pesisir.

Dia pun mendorong inisiaif serupa juga dilakukan oleh komunitas terutama Pemuda Hidayatullah di berbagai wilayah yang dinahkodainya. Apalagi bagi Rasfiuddin isu besar seperti krisis iklim bisa diterjemahkan menjadi gerakan lokal yang impactfull.

“Pelestarian lingkungan yang kita lakukan hari ini adalah untuk menyemai harapan baru bagi generasi kita dan berikutnya. Ada pelibatan siswa, santri, komunitas baca, yang secara tidak langsung sedang membangun ekologi kesadaran baru bahwa mencintai bumi adalah tugas bersama,” tandasnya, seraya menegaskan gerakan hijau telah menjadi denyut nadi masa depan kita.*/

Asesmen Hidayatullah Banten Perkuat Struktur Manajemen dan Strategi Dakwah

SERANG (Hidayatullah.or.id) — Sabtu pagi itu, 3 Mei 2025, di Banten, ada pemandangan yang agak lain. Bukan soal cuaca yang cerah atau soal jalan tol yang makin mulus. Tapi di sebuah Rumah Qur’an bernama Al Amin, ada kegiatan yang diharapkan akan punya pengaruh besar ke masa depan dakwah di wilayah itu.

Namanya asesmen. Kegiatan yang di telinga sebagian orang terdengar kaku. Formal. Tapi hari itu, asesmen ini terasa agak hangat. Sebab yang dinilai bukan sekadar angka-angka atau lembar isian. Yang disentuh adalah fungsi utama manajemen. Tepatnya, sumber daya insani.

Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah sedang bergerak serius. Melalui Departemen Sumber Daya Insani (SDI), mereka melakukan asesmen menyeluruh kepada seluruh pengurus tingkat wilayah — di Banten kali ini yang jadi tuan rumah.

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh sang Ketua Departemen, Dr. Muhammad Arfan AU, yang datang tak hanya membawa instrumen asesmen, tapi juga membawa semangat, bahwa dakwah ke depan tak bisa lagi mengandalkan semangat saja. Struktur harus kuat. SDM harus siap.

Yang menarik, dalam asesmen ini DPP Hidayatullah menggandeng pihak luar. Seorang profesional di bidang pengembangan SDM, Teungku Sahindra, hadir langsung memberikan pendampingan. Ini sinyal bahwa organisasi ini mulai membuka jendela lebih lebar, menyerap praktik terbaik dari luar, tanpa kehilangan akarnya.

Para personel DPW Banten pagi itu mengikuti serangkaian tahapan: pengisian instrumen kompetensi, wawancara personal, hingga observasi peran.

Ini bukan sekadar formalitas. Targetnya jelas: standarisasi. Bahasa yang bagi sebagian aktivis dakwah dulu terasa asing — kini justru jadi kebutuhan. Karena tantangan dakwah hari ini menuntut kapasitas yang terukur, kompetensi yang nyata, bukan sekadar niat baik.

Dr. Arfan dalam sambutannya menyebut kegiatan ini bukan semata evaluasi, tapi juga pembinaan. “Ini penguatan karakter dan kompetensi kepemimpinan,” ujarnya.

Kata ‘karakter’ dan ‘kompetensi’ itu menarik. Keduanya kerap dipisahkan dalam banyak pelatihan. Di sini justru digandengkan. “Dakwah itu soal hati yang lurus dan akal yang terasah,” katan Arfan.

Ketua DPW Hidayatullah Banten, Ust. Ahmad Maghfur, pun menyambut antusias. Ia berharap asesmen ini jadi tonggak untuk memperkuat struktur manajemen dan strategi dakwah.

Kata ‘struktur’ yang dulu dianggap beku, kini justru jadi kunci. Karena tanpa struktur yang kuat, semangat bisa bocor ke mana-mana.

Langkah asesmen ini memang bagian dari strategi besar DPP Hidayatullah. Disadari bahwa organisasi yang ingin bermain di panggung utama dakwah dan tarbiyah tak bisa lagi bersandar pada pola lama. Harus ada standarisasi.

Arfan memandang, setiap pengurus wilayah harus punya kapasitas yang sejalan. Kompetensi harus setara. Dan yang tak kalah penting, integritas harus terjaga.

Dengan langkah ini, DPP Hidayatullah sedang mengasah mesinnya. Mesin dakwah yang diharapkan bisa berjalan lebih profesional, lebih terarah, lebih sinergis. Tidak lagi semata digerakkan oleh heroisme perorangan, tapi oleh struktur yang bergerak bersama.

Begitu juga dakwah. Ia bukan lagi sekadar soal retorika mimbar. Tapi soal bagaimana struktur, SDM, dan manajemen berjalan serempak.

Maka, dari Rumah Qur’an Al Amin Banten itu, sedang terjadi resolusi untuk sebuah arah baru yang lebih segar dan menyegarkan. Yang dinilai bukan semata siapa yang paling fasih, tapi siapa yang paling siap membawa dakwah ini masuk ke babak baru: lebih modern, lebih profesional, tanpa kehilangan ruhnya.

Karena, seperti kata bijak: tradisi yang bertahan bukan yang paling kuat, tapi yang paling mampu beradaptasi dengan zaman.*/

Sinergi Pembinaan Umat Ajarkan Tata Cara Shalat Sesuai Tuntunan Nabi

0

NUNUKAN (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak 60 peserta dari binaan Majelis Qur’an Hidayatullah (MQH), jamaah sekitar pesantren, dan anggota halaqah mengikuti Daurah Fiqih Shalat yang digelar oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) bersama Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah (Mushida) Kabupaten Nunukan, Kamis, 3 Zulkaidah 1446 (1/5/2025).

Program ini menjadi bukti nyata bahwa zakat, infak, dan sedekah (ZIS) bukan hanya soal angka, tetapi soal perubahan. Perubahan pemahaman, perubahan kebiasaan, hingga perubahan generasi.

“Alhamdulillah kegiatan hari ini sangat bermanfaat, dan sangat penting bagi kami karena shalat adalah ibadah yang paling utama dalam Islam,” ujar Ibu Jumiati, salah satu peserta.

Ia mengaku selama ini masih banyak hal teknis dalam shalat yang belum sepenuhnya dipahami.

“Setelah ikut dauroh ini, saya jadi tahu mana gerakan dan bacaan yang benar,” tambahnya.

Pelatihan yang digelar intensif sehari ini digelar sebagai bagian dari gerakan dakwah sinergis yang terus mendorong masyarakat Muslim, khususnya di wilayah perbatasan seperti Nunukan, agar memahami ibadah dari akar ilmu yang benar.

“Shalat adalah tiang agama. Jika tiangnya goyah, seluruh bangunan bisa roboh. Itulah mengapa program seperti ini penting untuk terus digulirkan,” ujar M. Nor Komara, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Kaltara.

BMH memahami bahwa gerakan zakat tidak berhenti di distribusi bantuan, tapi juga mendidik. Menyentuh sisi spiritual umat agar ibadah yang menjadi fondasi hidup dilakukan dengan lurus dan sahih.

Dengan semangat berbagi dan membangun umat dari aspek ilmu, BMH mengajak seluruh masyarakat untuk terus mendukung dakwah di daerah pelosok dan perbatasan. Dukungan Anda, sekecil apapun, bisa menjadi sebab seseorang belajar shalat dengan benar.*/

Wakil Walikota Apresiasi TK Ya Bunayya Edukasi Kehidupan Bernegara Sejak Dini

0
Wakil Wali Kota (Wawali) Baubau Ir. Wa Ode Hamsinah Bolu, M.Sc., menyambu anak anak TK Ya Bunayya Hidayatullah di lobby kantornya (Foto: PPID Baubau)

BAUBAU (Hidayatullah.or.id) — Pendidikan usia dini memiliki peran krusial dalam membentuk karakter dan wawasan anak sebagai generasi penerus bangsa. Salah satu pendekatan inovatif dalam pendidikan anak usia dini adalah mengintegrasikan proses pembelajaran dengan aktivitas rekreasi yang kontekstual.

Pada hari Rabu, 2 Zulkaidah 1446 (30/4/2025), puluhan guru dan murid Taman Kanak-Kanak (TK) Ya Bunayya Hidayatullah melaksanakan studi tour ke kantor Wali Kota Baubau, Palagimata.

Kegiatan ini mendapatkan apresiasi dari Wakil Wali Kota (Wawali) Baubau Ir. Wa Ode Hamsinah Bolu, M.Sc., yang melihatnya sebagai langkah unik dan menarik dalam mendekatkan anak-anak pada kehidupan pemerintahan kota sejak usia dini.

Menurut Wawali, kegiatan ini sebuah bentuk edukasi yang dirancang untuk memperkenalkan anak-anak pada konsep dasar kehidupan bernegara dalam lingkup lokal.

Dalam pandangannya, pendekatan ini memadukan unsur edukasi dan rekreasi secara harmonis, sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak usia dini.

“Pengenalan itu suatu bentuk edukasi sekaligus juga rekreasi bagi anak-anak. Dan pada usia dini seperti itu bentuk edukasi harus sedekat mungkin dengan dunia mereka bermain,” ujar Wa Ode Hamsinah Bolu.

Wawali Wa Ode Hamsinah menekankan pentingnya metode pembelajaran yang menyenangkan dan relevan bagi anak-anak, sebagaimana yang juga ditegaskan oleh pakar pendidikan anak usia dini.

Aktivitas bermain, dalam hal ini, menjadi medium efektif untuk menyampaikan nilai-nilai pendidikan yang kompleks, seperti pengenalan terhadap sistem pemerintahan.

Lebih lanjut, Wawali menyoroti keunikan pilihan lokasi studi tour, yaitu kantor Wali Kota Baubau, yang tidak hanya menjadi tempat bermain, tetapi juga ruang pembelajaran tentang kehidupan bernegara dalam skala kecil.

“Adapun lokasi bermain mereka di kantor Wali Kota Baubau dan itu juga suatu hal yang menarik yang memberi edukasi ekstra artinya bermain di tempat yang mereka harus mengenal kehidupan bernegara dalam skop kecil sebenarnya,” ungkapnya.

Kantor Wali Kota, sebagai simbol kepemimpinan dan pengelolaan pemerintahan kota, menjadi sarana nyata bagi anak-anak untuk memahami peran serta tanggung jawab seorang pemimpin dalam konteks yang sederhana dan mudah dipahami.

Kunjungan edukasi ini, katanya, sejalan dengan teori pembelajaran kontekstual, yang menekankan pentingnya menghubungkan materi pembelajaran dengan lingkungan nyata anak.

Dalam interaksinya dengan anak-anak, Wawali juga berupaya menyampaikan konsep kepemimpinan pemerintahan secara langsung dan sederhana.

“Makanya tadi waktu saya bertemu dengan anak-anak itu, juga saya sampaikan tahu tidak Bapak Walikota? Walikota itu apa? Walikota itu di Baubau adalah yang memimpin pemerintahan kita di Kota Baubau. Itu sebenarnya bentuk edukasi kepada anak-anak di usia dini terhadap sistem ketatanegaraan kita,” imbuhnya.

Pada kesempatan itu Wawali Wa Ode Hamsinah menunjukkan pendekatan komunisi interaktif, di mana anak-anak diajak untuk memahami peran wali kota melalui bahasa yang sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif mereka.

Pengajaran ini baginya senafas dengan prinsip pendidikan kewarganegaraan dini (civic education), yang bertujuan menanamkan kesadaran tentang struktur dan fungsi pemerintahan sejak usia muda.

Wakil Wali Kota (Wawali) Baubau Ir. Wa Ode Hamsinah Bolu, M.Sc., berfoto bersama anak anak TK Ya Bunayya Hidayatullah di lobby kantornya (Foto: PPID Baubau)
Wahana Pembelajaran Kebangsaan

Sementara itu, Kepala TK Yaa Bunayya di Baubau Ustazah Misnawati, S.Pd.I., menyampaikan tujuan dari kegiatan ini.

Menurut Misnawati, kegiatan studi tour ini memiliki makna yang lebih luas, tidak hanya sebagai sarana pembelajaran, tetapi juga sebagai upaya untuk membangun rasa kebangsaan dan kepekaan sosial pada anak-anak.

“Dengan mengenal lingkungan pemerintahan kota, anak-anak diajak untuk memahami bahwa mereka adalah bagian dari komunitas yang lebih besar, yang diatur oleh sistem dan nilai-nilai bersama,” kata Misnawati.

Inisiatif ini menurutnya juga menjadi contoh bagaimana institusi pendidikan dan pemerintah daerah dapat berkolaborasi untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.

Dalam pada itu, Misnawati menyebut studi tour ke kantor Wali Kota Baubau ini menjadi bagian dari kehidupan nyata anak-anak, yang mengajarkan mereka untuk menghargai peran pemerintahan dalam kehidupan sehari-hari.

“Dengan demikian, studi tour ini diharapkan menjadi salah satu langkah strategis dalam membangun fondasi pendidikan yang kokoh bagi anak-anak Kota Baubau,” tandas Misnawati.*/

Hidayatullah Terus Kuatkan Upaya Bentengi Akhlak Umat dari Pengaruh Negatif Globalisasi

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sumatera Utara menggelar acara Halal Bi Halal sekaligus Silaturrahim Syawal di Kampus Utama Pondok Pesostersantren Hidayatullah Medan, Desa Bandar Labuhan Bawah, Sabtu, 3 Zulkaidah 1446 H (1/5/2025).

Bertemakan “Komitmen Perjuangan & Transformasi Jati Diri Hidayatullah dalam Keluarga,” kegiatan ini menjadi momentum penting bagi kader Hidayatullah untuk merefleksikan perjuangan dakwah dan memperkuat ikatan kebersamaan.

Acara ini dihadiri oleh segenap unsuer mulai dari lembaga internal hingga pengelola amal usaha Hidayatullah di wilayah Sumatera Utara.

Dalam sambutan pembukaan, Ketua DPW Hidayatullah Sumut, Ust. Subur Pramudya, menyampaikan refleksi tentang perjalanan organisasi di tengah dinamika zaman.

Subur menyoroti kompleksitas tantangan dakwah di era modern, khususnya dalam upaya membentengi akhlak umat dari pengaruh negatif globalisasi dan sekularisme.

Ia menegaskan sikap introspektif yang menjadi ciri kepemimpinan Islami seraya terus menguatkan kesadaran kolektif bahwa kepemimpinan bukan hanya soal otoritas, tetapi juga tanggung jawab moral untuk terus memperbaiki diri demi kebaikan umat.

“Kami meminta maaf atas segala khilaf dalam kepemimpinan,” ujarnya dengan rendah hati.

Acara ini semakin bermakna dengan kehadiran Ust. Lukman Hakim, M.HI, Ketua DPW Hidayatullah Sumatera Selatan, sebagai pemateri utama. Dalam paparannya, ia mengajak peserta untuk menjadikan kesabaran sebagai fondasi utama perjuangan dakwah.

Lukman mengutip prinsip sabar dalam tiga dimensi yakni sabar dalam ketaatan, menghindari maksiat, dan menerima takdir Allah adalah jati diri orang beriman.

Dia menekankan, kesabaran adalah pilar spiritual yang membedakan seorang dai sejati. Dalam realitas dakwah modern, di mana godaan materialisme dan tantangan sosial semakin berat, kesabaran menjadi senjata utama untuk menjaga integritas dan komitmen.

Ust. Lukman, yang juga alumnus Hidayatullah Sumut, menegaskan bahwa transformasi jati diri individu dan keluarga harus berpijak pada nilai-nilai ketabahan ini.

Sebagai penutup acara, diselenggarakan seminar pranikah yang dipandu oleh Ketua Posdai Riau Ust. M. Ikhsan Taufik dan Ust. Lukman Hakim. Seminar ini mengupas pentingnya persiapan menuju keluarga sakinah sebagai basis moral umat.

Dalam Islam, keluarga bukan hanya unit sosial, tetapi juga benteng utama dalam menjaga nilai-nilai keimanan. Diskusi ini menekankan bahwa pernikahan selain bentuk ikatan emosional, juga amanah untuk membangun generasi yang berakhlak mulia.

Narasumber menggarisbawahi bahwa upaya transformasi jati diri Hidayatullah tidak hanya terjadi pada level individu, tetapi juga dalam lingkup keluarga sebagai pilar masyarakat.

Dukungan Laznas BMH

Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), yang menegaskan komitmennya dalam mendampingi para dai dan da’iyah di seluruh Indonesia.

Muhammad Nuh, Kepala Perwakilan BMH Sumut, menegaskan bahwa Silaturrahim Syawal ini bukan sekadar ajang seremonial, melainkan sarana penguatan semangat bagi para dai, khususnya mereka yang bertugas di daerah pelosok.

“BMH akan terus berada di garda depan, memastikan para dai fokus pada tugas mulia tanpa hambatan logistik atau dukungan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Muhammad Nuh menegaskan bahwa dukungan BMH memiliki dimensi spiritual yang mendalam. “Ini adalah investasi akhirat,” tutupnya, menggarisbawahi bahwa setiap kontribusi untuk dakwah adalah bagian dari upaya menjaga moral umat dan meraih keberkahan di sisi Allah.*/

[KHUTBAH JUM’AT] Mengais Rezeki Halal, Jalan Menuju Hidup Tenang dan Penuh Berkah

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن

أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً، فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Segala puji hanya bagi Allah, Sang Pemberi rezeki tanpa henti, yang dengan kasih sayang-Nya menghidupkan hati yang gersang dan menyuburkan jiwa yang letih.

Dialah yang membuka pintu-pintu karunia bagi hamba-Nya, siang dan malam, tanpa pernah berkurang walau setitik.

Kita memohon pertolongan kepada-Nya, berlindung dari godaan yang menyesatkan, dan bersyukur atas segala nikmat yang tak terhitung.

Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, sosok agung yang mengajarkan kita arti kebahagiaan dan menunjukkan jalan menuju kehidupan yang mulia.

Beliaulah teladan sempurna dalam kesabaran, kesederhanaan, dan keberkahan rezeki. Maka marilah, kita perkuat tekad untuk meneladani beliau, dengan menapaki jalan yang diridhai Allah, — karena di sanalah letak ketenangan sejati dan berkah yang melimpah dalam hidup ini.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa. Takwa yang tercermin dalam setiap laku, ucapan, dan niat kita, baik dalam ibadah ritual maupun dalam aktivitas sehari-hari, termasuk dalam urusan mencari nafkah.

Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Qashash ayat 77:

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ

“Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi”

Ayat ini mengingatkan kita dengan lembut namun tegas. Bahwa, dunia ini bukanlah tempat untuk berpangku tangan, apalagi bermalas-malasan.

Dunia ini adalah ladang amal, tempat berbuat baik, tempat kita berusaha, bekerja, dan menjemput rezeki yang telah Allah janjikan. Dan rezeki itu, jamaah sekalian, hendaklah yang halal lagi thayyib (baik).

Dalam hadis yang mulia, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً

“Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik saja”

Betapa mulianya bekerja untuk mencari nafkah yang halal, hingga Nabi kita menyandingkannya dengan jihad di jalan Allah.

Dalam sebuah hadist riwayat Imam Ath-Thabrani dari Ka’ab bin Ujroh, bahwa beliau melihat seorang sahabat yang kuat bekerja, lalu bersabda:

إن كان خرجَ يسعى على وَلَدِه صِغارًا، فهو في سبيل الله، وإن كان خرج يسعى على أبوين شيخين كبيرين، فهو في سبيل الله

“Jika dia keluar rumah untuk menafkahi anaknya yang kecil dia (jihad) di jalan Allah, jika dia keluar untuk menafkah dua orang tuanya yang sudah renta, dia di jalan Allah”

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Betapa luas karunia Allah kepada kita. Udara segar yang kita hirup, kesehatan yang kita rasakan, tanah yang subur, lautan yang luas, semuanya adalah tanda-tanda kasih sayang Allah.

Maka, adakah alasan bagi kita untuk berpangku tangan? Adakah alasan bagi seorang mukmin untuk mengeluh tanpa berusaha?

Bekerja bukan sekadar mencari uang, tetapi bagian dari ibadah. Ketika kita bangun pagi, memulai aktivitas dengan niat karena Allah, maka setiap langkah kita menuju tempat kerja, setiap keringat yang menetes, setiap tenaga yang dicurahkan — semuanya bernilai pahala di sisi-Nya.

Namun, jamaah sekalian, dalam mencari rezeki itu, kita diingatkan untuk tidak sekadar mengejar hasil, tetapi harus memperhatikan cara dan hak orang lain.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengingatkan dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad yang shahih:

أَعْطُوا الأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

“Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering”

Betapa dalam makna hadis ini. Ia menegaskan bahwa hak seorang pekerja adalah hal yang suci, yang harus ditunaikan tanpa penundaan.

Di balik setiap tetes keringat mereka, ada keluarga yang menunggu, ada anak-anak yang harus makan, ada kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.

Bayangkan seorang pekerja yang telah mencurahkan tenaga demi keluarganya. Haknya atas upah bukan sekadar uang, tetapi juga martabat dan penghargaan atas jerih payahnya.

Menunda atau mengurangi hak pekerja adalah kezaliman yang menodai keberkahan rezeki kita.

Mari kita teladani Rasulullah, yang selalu menjaga amanah dan keadilan, bahkan dalam urusan terkecil.

Saudaraku sekalian, betapa banyak saat ini kita saksikan hak-hak pekerja diabaikan. Gaji yang terlambat, upah yang dipotong tanpa alasan yang sah, hingga pekerjaan yang membebani tanpa penghargaan yang layak.

Ini semua adalah bentuk kedzaliman yang harus kita jauhi. Sebab Allah Ta’ala telah memperingatkan kita sebagaimana ditekankan dalam Al Qur’an surah Hud ayat 18:

اَلَا لَعْنَةُ اللّٰهِ عَلَى الظّٰلِمِيْنَۙ

“Ketahuilah, laknat Allah (ditimpakan) kepada orang-orang zalim”

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah,

Mari kita renungi, apakah kita telah sungguh-sungguh menjaga rezeki kita tetap halal? Apakah kita sudah menunaikan hak-hak orang lain dalam usaha kita? Ataukah masih ada hutang yang belum kita selesaikan kepada para pekerja kita?

Ketenangan hidup bukanlah semata-mata karena banyaknya harta. Ketenangan itu datang dari rezeki yang halal, usaha yang jujur, dan hati yang bersih dari kedzaliman.

Rumah tangga menjadi tenteram, anak-anak tumbuh dalam keberkahan, dan doa kita dikabulkan oleh Allah karena kita menjaga apa yang masuk ke dalam perut kita.

Rasulullah mengingatkan dalam hadis yang panjang, bagaimana seseorang yang berdoa dengan penuh harap, tapi doanya tertolak karena makanannya haram, pakaiannya haram, dan dia diberi makan dari yang haram.

Maka, jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, mari kita bersihkan usaha kita. Mari kita muliakan pekerja kita. Bayarkan hak mereka tepat waktu, bahkan sebelum keringat mereka mengering.

Dan bagi kita yang bekerja, niatkan setiap langkah sebagai ibadah dengan penuh dedikasi. Dengan itu, insya Allah, hidup kita akan penuh ketenangan, rumah kita diberkahi, dan doa kita dikabulkan.

Semoga Allah memudahkan rezeki kita, memberkahi usaha kita, dan menjauhkan kita dari rezeki yang haram. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

Buka DMU Kaltim, Kabid Tarbiyah Dorong Generasi Muda Bangun Tradisi Intelektualisme Qur’ani

BONTANG (Hidayatullah.or.id) — Di tengah gempuran infiltrasi budaya dan tantangan zaman, generasi muda Islam dituntut untuk membangun tradisi intelektualisme yang kokoh, berpijak pada wahyu Qur’ani.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Bidang Tarbiyah Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ir. Abu A’la Abdullah, M.HI., dalam sambutannya sekaligus pembukaan Daurah Marhala Ula & Aktivasi Halaqah Ula SMA Hidayatullah Se-Kaltim Tahun 2025 M/1446 H di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah, Bontang, Kalimantan Timur, pada Kamis, 3 Zulkaidah 1446 (1/5/2025).

Menurut Abu A’la, tantangan yang dihadapi umat Islam merupakan bagian dari sunnatullah. Ia merujuk pada Al-Qur’an, tepatnya Surah Al-Baqarah ayat 120, yang menyebutkan bahwa umat Islam akan selalu digoda untuk mengikuti jalan mereka yang dimurkai dan tersesat.

“Kita sebagai umat Muslim tidak akan dibiarkan untuk berkembang dan maju, dengan berbagai cara dan program, sampai kita mengikuti jalan yang mereka inginkan,” tegasnya.

Realitas ini, lanjutnya, mencerminkan pertarungan abadi antara kebenaran dan kebatilan, sebagaimana disinyalir dalam Surah Al-Isra ayat 81: “Kebenaran pasti akan berbenturan dengan kebatilan, namun kebenaran pasti menang.”

Oleh karena itu, terang dia, generasi muda harus dipersenjatai dengan ilmu dan pengetahuan yang berlandaskan nilai-nilai Qur’ani.

Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk sejati yang menjamin seseorang tidak akan tersesat jika menjadikannya pedoman, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Ali ‘Imran ayat 73: “Qul innal-hudaa hudallaahi” (Sesungguhnya petunjuk yang sempurna dan paripurna itu hanyalah petunjuk Allah).

Lebih lanjut, Abu A’la menjelaskan bahwa ketika Al-Qur’an telah menjadi pegangan hidup, seorang Muslim akan menjalani agamanya dengan sepenuh hati, penuh kegembiraan, dan berupaya mentransformasikan keindahan Islam kepada orang lain.

Hal ini selaras dengan jaminan Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 208, yang menyerukan umat Islam untuk melaksanakan agama secara total, tidak setengah-setengah, dan menjauhi langkah-langkah setan yang menyesatkan.

“Sehingga kita harus bertaqwa dengan ḥaqqa tuqaatihii, takwa yang otentik. Sebab, setan selalu berusaha menggeser kita ke jalan kefasikan yang mencelakakan,” ujarnya.

Pertarungan ini, menurut Abu A’la, tidak hanya berlangsung di ranah fisik, tetapi juga di tataran cara pandang, filosofi hidup, dan paradigma.

Ia menyebutkan bahwa berbagai elemen duniawi, seperti film, hiburan, mode, dan makanan, menjadi alat untuk mengganti paradigma keislaman dengan nilai-nilai sekuler.

“Titik krusialnya adalah masa muda, di mana mereka memiliki potensi menjadi baik, sholeh, sholehah, dan bermanfaat—atau sebaliknya, terjerumus ke dalam kesesatan dan kebingungan. Jadi, sejak dini, generasi muda kita harus memiliki kerangka pandang yang benar,” paparnya.

Abu A’la menegaskan bahwa seorang Muslim yang tercerahkan dengan nilai-nilai Qur’ani tidak akan tersesat di tengah berbagai paradigma hidup.

Ia merujuk pada Al-Qur’an, “Al-ḥaqqu mir rabbika fa laa takuunanna minal-mumtariin” (Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah engkau termasuk orang-orang yang ragu). Islam, katanya, memiliki worldview yang jelas, bebas dari keraguan, yang mampu menjadi benteng kokoh di tengah arus globalisasi.

“Generasi muda adalah aset, kekayaan yang sangat penting dalam kehidupan. Kalau dalam ekonomi, mesin yang menjadi aset. Tapi dalam kehidupan yang berdimensi ukhrawi, generasi muda adalah aset yang mahal sehingga kita harus peduli pada mereka,” ungkapnya dengan penuh penekanan.

Ia membandingkan kepedulian masyarakat terhadap kerusakan alam dengan kurangnya perhatian terhadap kerusakan mentalitas manusia, yang kini bergulat dengan hedonisme dan tantangan menemukan kebenaran.

Menurutnya, meskipun umat Islam memiliki Al-Qur’an sebagai wahyu ilahi, masalah utama adalah kurangnya internalisasi nilai-nilai tersebut dalam pikiran.

“Kita punya wahyu Al-Qur’an, tapi masalahnya, itu tidak diinstal dalam pikiran kita. Akhirnya, kita tidak punya kekuatan untuk memproses dan mengolah informasi yang masuk ke pikiran. Dengan filter wahyu Qur’ani, yang buruk ditolak, yang baik dikumpulkan dan ditransformasikan sehingga kebaikan itu berlipat ganda,” jelasnya.

Untuk itu, Abu A’la menekankan pentingnya menanamkan paradigma Islam sejak dini, salah satunya melalui kegiatan seperti Daurah Marhalah Ula (DMU).

Ia menegaskan bahwa pendidikan berbasis Qur’ani bukan hanya sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter dan cara pandang yang mampu menjawab tantangan zaman.

Dengan demikian, jelasnya menambahkan, generasi muda dapat menjadi agen transformasi yang tidak hanya kokoh dalam keimanan, tetapi juga mampu menyebarkan kebaikan secara luas.

Turut hadir dalam acara ini Ketua Murabbi Wilayah Kaltim Ust. Drs. Muhammad Nurdin AR, Ketua DPW Hidayatullah Kaltim Uswandi, S.HI, Ketua PW Pemuda Hidayatullah Kaltim Ust. Zulfahmi, Lc, Ketua PW Muslimat Hidayatullah Erniwati, SE, dan juga Ketua Yayasan Hidayatullah Bontang, Ust. Ahmad Firdaus Darwin dan jajaran, selaku tuan rumah.

Nursyamsa Paparkan Peran Strategis Hidayatullah dalam Pembangunan Nasional

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat (Dakwah Yanmat) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Drs. Nursyamsa Hadis, membuka Seminar Peradaban bertajuk “Membangun Kader Mujahid dan Pemimpin yang Berkarakter dan Berintegritas” di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Rabu, 3 Zulkaidah 1446 (30/4/2025).

Dalam sambutannya, Nursyamsa memaparkan tantangan besar yang dihadapi umat dan bangsa Indonesia dalam periode 2025–2045, sebagaimana dirumuskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN). Ia kemudian menguraikan posisi Hidayatullah dalam menjawab tantangan-tantangan tersebut.

Nursyamsa Hadis mengidentifikasi sejumlah persoalan krusial yang akan dihadapi bangsa Indonesia dalam dua dekade mendatang. Pertama, kemiskinan dan ketimpangan tetap menjadi fokus utama.

Berdasarkan RPJPN 2025–2045, pemerintah menargetkan tingkat kemiskinan berada pada kisaran 0,5–0,8 persen dan Rasio Gini pada 0,29–0,32.

Jika sebuah wilayah memiliki tingkat kemiskinan 0,5–0,8% dan Rasio Gini 0,29–0,32, maka kemiskinan sangat minim, hampir tidak ada orang yang benar-benar kekurangan, pendapatan tersebar cukup adil, meski masih ada sedikit perbedaan antara kelompok kaya dan miskin.

Kedua, pembangunan berkelanjutan menjadi prioritas, khususnya melalui penurunan intensitas emisi Gas Rumah Kaca (GRK) menuju Net Zero Emission dengan target penurunan 93,5 persen.

Nursyamsa menjelaskan bahwa upaya menuju Net Zero Emission adalah proses bertahap yang membutuhkan inovasi teknologi dan perubahan perilaku masyarakat untuk memitigasi perubahan iklim. Net Zero Emission tidak selalu berarti emisi GRK benar-benar dihilangkan sepenuhnya.

Dalam praktiknya, ini dicapai dengan dua langkah utama: pertama, mengurangi sebanyak mungkin emisi GRK melalui perubahan teknologi, penggunaan energi terbarukan, efisiensi energi, dan perubahan pola produksi serta konsumsi; kedua, menyerap atau mengimbangi sisa emisi yang tidak bisa dihilangkan melalui metode seperti penanaman pohon atau teknologi penangkapan karbon.

Ketiga, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi agenda penting. Hal ini mencakup peningkatan pendidikan, pelatihan, sikap dan etos kerja, penguasaan teknologi, inovasi, dan kreativitas.

Keempat, transformasi ekonomi diarahkan pada peningkatan produktivitas melalui ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi hijau, transformasi digital, serta integrasi ekonomi domestik dan global.

Kelima, ketangguhan sosial dan lingkungan harus dipantapkan untuk mengoptimalkan modal sosial budaya, menjaga keberlanjutan sumber daya alam, dan meningkatkan ketahanan terhadap bencana.

Terakhir, pembangunan kewilayahan yang merata dan berkeadilan menjadi kunci untuk memastikan pemerataan kualitas pembangunan di seluruh wilayah Indonesia.

Dalam konteks Indonesia, Nursyamsa menyoroti tiga agenda pembangunan utama. Pertama, transformasi sosial untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia sepanjang siklus kehidupan, menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera, adil, dan kohesif.

Kedua, transformasi tata kelola melalui regulasi dan sistem yang berintegritas serta adaptif.

Ketiga, penegakan supremasi hukum dan kepemimpinan, yang mencakup stabilitas ekonomi, politik, hukum, dan keamanan nasional, serta penguatan diplomasi global Indonesia.

Peran Strategis Hidayatullah

Nursyamsa kemudian menguraikan posisi Hidayatullah dalam menjawab tantangan-tantangan tersebut.

Ia menegaskan bahwa mainstream Hidayatullah adalah tarbiyah dan dakwah, yang berperan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan umat Islam tentang nilai-nilai Islam serta kontribusinya dalam pembangunan masyarakat dan bangsa.

“Hidayatullah memiliki program kaderisasi yang dapat membantu meningkatkan kemampuan dan kesadaran kader-kadernya dalam berperan mengatasi masalah kebangsaan,” ujarnya.

Kaderisasi ini menjadi fondasi untuk mencetak pemimpin yang berkarakter dan berintegritas, sebagaimana tema seminar.

Selain itu, Hidayatullah memiliki peran signifikan dalam pengembangan masyarakat melalui berbagai program, seperti Korps Muballigh Hidayatullah (KMH), Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai), Lembaga Sembelih Halal (LSH), Lembaga Zakat Nasional (Laznas), Lembaga Sertifikasi Halal (LSH), Lembaga Bantuan Hukum (LBH), Search & Rescue (SAR), dan Layanan Kesehatan Islam (IMS).

Inisiatif-inisiatif ini, terang dia, tidak hanya meningkatkan kualitas hidup umat Islam, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Hidayatullah, dengan mainstream gerakan tarbiyah dan dakwah serta aktif dalam pengembangan masyarakat, menawarkan model kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai Islam.

Karena itu, Nursyamsa menerangkan, dengan menggabungkan visi keislaman dan kebangsaan, Hidayatullah menempatkan diri sebagai aktor strategis dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Dalam pada itu berbagai masalah yang dikemukakan menuntut solusi yang tidak hanya teknokratis, tetapi juga berbasis nilai moral dan spiritual.

Hidayatullah pun, tambah Nursyamsa, mengajak semua pihak untuk berkolaborasi dalam membentuk generasi mujahid yang mampu memimpin dengan integritas dan kepekaan sosial.

Acara ini menghadirkan narasumber Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah KH. Hamim Thohari, M.Si dan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, MA, yang dipandu oleh Muhammad Arfan AU, S.Si*/

Langkah Bersama Pimpinan Ormas Islam Kuatkan Solidaritas untuk Palestina

Ketum PBNU Gus Yahya berfoto bersama dengan 12 pimpinan Ormas Islam yang datang ke Gedung PBNU, Jakarta, pada Rabu (30/4/2025). (Foto: NU Online/Suwitno)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak dua belas pimpinan organisasi masyarakat Islam dari berbagai latar belakang berkumpul dalam suasana penuh kehangatan dan semangat kebersamaan di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, pada pada Rabu, 3 Zulkaidah 1446 (30/4/2025).

Kedatangan mereka disambut langsung oleh Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf—akrab disapa Gus Yahya—yang didampingi Wakil Ketua Umum PBNU, KH Amin Said Husni dan KH Zulfa Mustofa, bersama jajaran pengurus lainnya.

Pertemuan strategis ini menjadi momen berharga dalam sejarah kebersamaan umat Islam di Indonesia. Isu-isu besar dibahas secara mendalam, mulai dari persoalan keumatan, kebangsaan, hingga tantangan internasional.

Namun, di antara semua topik itu, isu Palestina muncul sebagai fokus utama. Kesepahaman pun terjalin kuat, bahwa solidaritas terhadap Palestina bukan sekadar kewajiban moral, melainkan panggilan kemanusiaan yang harus dijawab secara kolektif.

Selain Ketua Umum DPP Hidayatullah Ust. H. Dr. Nashirul Haq, MA, turut pula hadir para tokoh pimpinan ormas Islam lain diantaranya Ketua Umum Dewan Dakwah KH Adian Husaini, Ketua Umum IKADI KH Ahmad Kusyairi, Ketua Umum AQL KH Bachtiar Nasir, dan Ketua Umum Wahdah Islamiyah KH Muhammad Zaitun Rasmin.

Hadir pula Ketua Majlis Syuro PUI KH Dede Nurhasanah, Ketum Mathalul Anwar KH Embay Mulya Syarief, Ketum Al-Irsyad Prof Faisol Nasar Madi, Wakil Presiden Syarikat Islam Ustadz Ibong Syahroesyah, Ketum Al-Wasliyah KH Masyhuril Khamis, Wasekjen Persis Ir Muhammad Faisal, dan Ketum Perti KH Syarfi Hutauruk.

Dalam pertemuan ini, mereka menyatakan komitmen yang bulat untuk memperkuat sinergi dan langkah bersama dalam merespons dinamika global, khususnya dalam membela Palestina.

Inisiatif ini menandai langkah awal menuju gerakan yang lebih terorganisir, menyatukan suara ormas Islam Indonesia dalam panggung global demi kemanusiaan dan keadilan.*/

Forum Sinergi DPW Hidayatullah Papua Komitmen Perkuat Peran Dakwan dan Pelayanan Umat

0

JAYAPURA (Hidayatullah.or.id) — Rapat Forum Sinergi Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua yang berlangsung pada 27–28 April 2025 di Kampus Madya Hidayatullah Holtecamp Jayapura menghadirkan semangat baru dalam penguatan peran organisasi Islam ini di kawasan timur Indonesia.

Dihadiri oleh Ketua dan Pengurus Hidayatullah tingkat wilayah, daerah, amal dan badan usaha, serta organisasi pendukung seperti Pemuda dan Muslimat Hidayatullah, forum ini juga melibatkan pengurus Kampus Madya Pondok Pesantren Hidayatullah Jayapura sebagai tuan rumah.

Agenda utama yang diusung dalam forum tersebut menegaskan pentingnya sinergi dan kolaborasi untuk pelayanan umat, akselerasi pelaksanaan program dan penyelesaian amanah organisasi.

Dalam suasana kekeluargaan yang hangat, para peserta forum mendapatkan pengarahandari Drs. Nursyamsa Hadis, selaku pendamping wilayah sekaligus Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah.

Dalam pengarahan tersebut, Nursyamsa mengingatkan seluruh peserta akan pentingnya meresapi dan mengamalkan amanah Pemimpin Umum Hidayatullah yang disampaikan dalam penutupan Rakornas KIKU.

Inti pesan tersebut mengajak seluruh kader dan pengelola kampus untuk meningkatkan kualitas ruhiyah (spiritualitas) secara personal sebagai energi batin yang menghidupkan kepemimpinan Islami dan menggerakkan amal dakwah di tengah masyarakat.

Ruhiyah ini, sebagaimana ditekankan, menjadi dasar bagi para pemimpin kampus untuk mendorong seluruh warga dan santri meningkatkan ibadahnya. Termasuk di dalamnya adalah pelaksanaan Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) yang meliputi qiyamullail, shalat berjamaah, zikir pagi petang, infaq, dan dakwah fardiyah.

“Menghidupkan GNH selain menguatkan hubungan vertikal dengan Allah, juga membentuk karakter pemimpin yang tangguh, sabar, dan berorientasi pada pelayanan,” katanya.

Selain dimensi spiritual, Nursyamsa menegaskan perlunya meningkatkan kualitas pikir atau rasionalitas dengan cara mentadabburi Al-Qur’an.

Menurutnya, pendekatan tadabbur tidak hanya memperkaya pemahaman keagamaan, tetapi juga melahirkan kecerdasan dalam merespons dinamika zaman secara efektif dan efisien.

Ditengah tantangan dakwah yang serba kompleks, upaya upgrade diri ini dipandang menjadi modal penting untuk tetap relevan dan solutif.

Penguatan ruhiyah dan rasionalitas tersebut kemudian bermuara pada ikhtiar bersama dalam meningkatkan pelayanan publik, khususnya di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial.

Menurut Nursyamsa, pelayanan yang baik dan berkelanjutan hanya dapat terwujud apabila dilandasi oleh kampus yang sehat secara spiritual dan sistemik. Dalam kerangka ini, ia menyerukan pembangunan kampus yang ilmiah, alamiah, dan imaniah.

“Kampus yang terkelola dengan spirit ini akan menampilkan wajah kampus yang indah,” ungkapnya.

Nursyamsa menggambarkan kampus ideal sebagai ruang yang rindang, taman-tamannya tertata rapi dan sedap dipandang mata.

Warganya pun ramah, menyebarkan salam, memperkuat silaturrahim, dan memberikan pelayanan terbaik kepada tamu-tamunya. Sebuah gambaran kampus Islami yang hidup, bukan hanya dalam bentuk fisik, tapi juga dalam atmosfer sosial dan spiritualnya.

Untuk menopang idealisme tersebut, Nursyamsa menggarisbawahi pentingnya manajemen dan kepemimpinan (leadership) dalam sistem pengelolaan kampus.

Ia menyebutkan empat fungsi utama manajemen yang harus menjadi perhatian, yakni perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi. Keempat fungsi ini menurutnya bukan hanya teori administrasi, tetapi harus menjadi bagian integral dari kultur kerja kampus.

“Manajemen yang bagus ditopang oleh leadership ketua dan para pengurusnya memungkinkan terbangunnya kampus yang terkelola secara profetik dan profesional,” terangnya.

Di sinilah, jelas dia, letak keseimbangan antara nilai-nilai kenabian (profetik) yang sarat dengan integritas dan keteladanan, dengan profesionalisme kerja yang menuntut sistematika, target, dan keberhasilan objektif.

Mengakhiri pengarahannya, Nursyamsa menekankan kembali pentingnya sinergi dan kolaborasi dalam pelaksanaan program.

Ia menilai bahwa keberhasilan dakwah dan pelayanan umat tidak bisa dicapai secara individualistik. Hanya dengan semangat kerja sama yang kokoh, seluruh elemen Hidayatullah mampu menghadirkan dampak nyata dalam kehidupan masyarakat.*/