Beranda blog Halaman 116

Peran IMS sebagai Pilar Pelayanan Umat dalam Visi Strategis Hidayatullah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Islamic Medical Service (IMS) menempati posisi penting dalam struktur kebijakan strategis Hidayatullah periode 2020–2025. Hal ini ditegaskan oleh Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat DPP Hidayatullah, Drs. Nursyamsa Hadis, dalam pertemuan monitoring dan evaluasi IMS yang digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, beberapa waktu lalu dan ditulis Kamis, 17 Dzulqaidah 1446 (15/5/2025).

Diketahui IMS adalah merupakan salah satu amal usaha Hidayatullah dalam bidang pelayanan kesehatan yang berorientasi pada pengabdian kepada umat.

“Ini menunjukkan IMS menjadi salah satu bagian penting dalam pencapaian kebijakan strategis organisasi,” ujar Nursyamsa menegaskan relevansi IMS dalam peta jalan besar organisasi.

Lebih lengkapnya, kebijakan strategis yang disebutkan Nursyamsa tertuang dalam Tap Munas Hidayatullah Nomor 12/TAP/MUNASV/2020 tentang Kebijakan-Kebijakan Strategis Hidayatullah Tahun 2020-2025. Salah satu butir pentingnya secara eksplisit menyebutkan:

“Mengamanahkan kepada IMS agar meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanannya yang dapat memberi pelayanan kesehatan berbiaya terjangkau kepada masyarakat, bahkan pembebasan biaya bagi kalangan tertentu.”

Tantangan utama dari amanah ini, menurut Nursyamsa, terletak pada bagaimana IMS mampu menerjemahkannya ke dalam praktik yang konkret dan terukur.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya kerja optimal seluruh pengurus IMS agar mampu membumikan amanah tersebut secara utuh hingga menjelang pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) Hidayatullah pada akhir Oktober 2025.

Nursyamsa menyebut dua elemen kunci dalam proses ini, yaitu manajemen dan leadhership.

“Perencanaan program yang matang, pengorganisasiannya, pelaksanaannya dan terevaluasi dengan sistemik, hendaknya menjadi acuan bagi pengurus dalam menjabarkan rencana tahunannya,” ujarnya.

Dalam konteks Hidayatullah, terang dia, kepemimpinan (leadhership) bukan sekadar kemampuan manajerial, tetapi merupakan bagian dari jati diri kader sebagaimana termuat dalam jatidiri Hidayatullah.

“Ingin timnya disiplin, harus dimulai dari pemimpinnya. Pemimpin harus menjadi contoh panutan. Ibda’ binafsik, mulai dari diri. Kalau ini dilakukan akan memudahkan terjadinya integrasi, sinergi, dan kolaborasi semua unit-unit organisasi,” katanya.

Melalui konsistensi pelaksanaan program strategis, serta kekuatan manajemen dan kepemimpinan, IMS diharapkan mampu menjawab amanah besar ini dengan konkret dan terukur, menguatkan peranannya sebagai garda depan pelayanan kesehatan dalam tubuh Hidayatullah.

Dengan demikian, IMS tidak hanya dituntut unggul secara teknis dalam pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi contoh dalam menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan yang kuat dan visioner.

Disamping itu, IMS juga menjadi instrumen penting dalam implementasi visi Hidayatullah membangun peradaban Islam melalui pelayanan konkret di tengah masyarakat terhadap pemenuhan hak dasar khususnya dalam aspek kesehatan, melalui pendekatan holistik yang mengintegrasikan aspek spiritual, sosial, dan medis.

Pertemuan tersebut turut dihadiri oleh seluruh pengurus harian IMS serta Ketua Pembina, drg Fathul Adhim, dan anggota pembina, Mahladi Murni.*/

[KHUTBAH JUM’AT] Tiga Pembelajaran Tauhid dalam Kisah Nabi Ibrahim

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن

أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً، فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, Tuhan semesta alam, yang dengan kasih sayang-Nya kita diberi kehidupan, petunjuk, serta kesempatan untuk senantiasa memperbaiki diri.

Dialah Allah yang menciptakan langit dan bumi tanpa cela, yang mengatur segala sesuatu dengan hikmah dan ketetapan yang sempurna. Kepada-Nya lah kita menyembah, dan hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan.

Shalawat serta salam kita haturkan kepada nabi terakhir, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yang telah menyampaikan risalah tauhid dengan penuh kesabaran dan perjuangan. Melalui beliau, umat manusia diajak untuk meninggalkan segala bentuk kesyirikan dan kembali kepada fitrah keesaan Allah yang suci.

Tauhid adalah inti dari seluruh ajaran Islam, fondasi dari iman, dan pembeda antara keimanan dan kekafiran. Namun, betapa seringnya lidah mengucap Laa ilaaha illallah, tetapi hati dan amal kita belum benar-benar mencerminkan keikhlasan dalam mengesakan Allah.

Mari kita membuka hati untuk menyelami kembali makna tauhid dalam kehidupan kita.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Nabi Ibrahim adalah satu dari sekian nabi yang namanya tertera dalam Al-Qur’an. Terdapat sebanyak 69 kali nama Ibrahim disebutkan. Bahkan Ibrahim menjadi nama surat Al-qur’an yang ke 14.

Beliau bahkan diceritakan dalam beberapa surat seperti al-Baqarah, Al-An’am, Maryam, Al-Anbiya dan surat lainnya. Ini menandakan bahwa Ibrahim merupakan sosok penting untuk dijadikan teladan dalam kehidupan.

Oleh karena itu, dalam kesempatan ini kita akan menelaah pelajaran tauhid dari nabi Ibrahim untuk dijadikan teladan dalam hidup.

Pertama, Pengenalan tauhid sejak dini.

Ibrahim sejak muda selalu bertanya dalam diri tentang siapa yang menciptakannya, siapa Tuhannya. Ibrahim kecil menyadari bahwa ada kekuatan yang maha kuasa yang mengatur segala yang terjadi di dunia ini.

Ibrahim tidak diam menerima begitu saja Tuhan yang akan dia sembah, apalagi Tuhan yang disembah oleh masyarakat adalah buatan ayahnya. Maka Ibrahim mengobservasi alam seperti bintang, bulan, dan matahari. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al Qur’an surah Al-An’am ayat 76:

… فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا قَالَ هَٰذَا رَبِّي

“Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) berkata: ‘Inikah Tuhanku?’…”

Pembelajaran dari surat Al An’am tersebut bahwa proses bertauhid atau untuk sampai pada keyakinan kepada Allah Ta’ala harus diawali dengan proses berfikir.

Maka pelajaran bagi kita untuk diajarkan kepada anak atau anak didik yaitu sejak dini mengenalkan mereka tentang Alah Ta’ala.

Imam Ibnu Qayyim dalam kitab Tuhfatul Maudud, berkata: “Ibrahim kecil menggunakan akalnya untuk mengenal Rabb-nya”.

Inilah yang diajarkan Allah Ta’ala dalam ayat yang pertama turun yaitu “iqra’ bismirabbikalladzi khalaq”, bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.

Kedua, keteguhan dalam mentauhidkan Allah.

Nabi Ibrahim yang mengenal Tuhannya dengan proses membaca dan penalaran yang panjang telah membentuk sikap yang kuat dan istiqamah akan keyakinannya.

Bagaimana Nabi Ibrahim menentang penyembahan berhala yang dilakukan oleh kaumnya, termasuk ayahnya sendiri. Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an surah Az-Zukhruf ayat 26-27:

إِنَّنِي بَرَاءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ . إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي

“Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu sembah, kecuali (Allah) yang menciptakanku”

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitab Tauhid menegaskan bahwa kisah Ibrahim menghancurkan berhala adalah pelajaran abadi tentang wajibnya mengingkari syirik, meski harus bertentangan dengan orang tua dan masyarakat.

Ibrahim menyadari bahwa apa yang mereka sembah bukanlah Tuhan yang maha kuasa atas segala sesuatu, tapi justru ciptaan manusia itu sendiri.

Keberanian menyampaikan kebenaran meski bertentangan dengan tradisi masyarakt. Ibrahim sedang mengajarkan kepada kita untuk hanya takut kepada Allah Ta’ala, bukan manusia ciptaan-Nya.

Itulah yang hilang hari ini, keberanian untuk menyampaikan kebenaran karena takut pada manusia, takut kehilangan jabatan dan pekerjaan.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Yang Ketiga, adalah pelajaran tentang ujian keimanan dan konsekuensi Tauhid.

Mengenal Allah dan meyakini akan kebenarannya dan berani berdiri tegak di jalan kebenaran akan mendapatkan ujian dan tantangan.

Nabi Ibrahim mendapati dirinya dibakar hidup-hidup karena keberaniannya menghancurkan berhala.

Keberanian untuk berkata dan bertindak benar akan diuji apakah dipenjara, dihukum kehilangan pekerjaan dan lain sebagainya. Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 155:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

“Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar”

Allah Ta’ala tidak akan membiarkan orang yang beriman, orang yang telah berani tegak dalam kebenaran dan ketauhidannya kepada Allah.

Allah Ta’ala mengirimkan kabar gembira kepada mereka akan kesabarannya dalam jalan kebenaran.

Kesabarannya tidak takut kepada manusia dengan segala jabatan dan kekuasaan yang mereka miliki. Sebagaimana Ibrahim diberi kabar gembira dan pertolongan oleh Allah Ta’ala, sebagaimana dinukil Al Qur’anul Karim dalam surah Al-Anbiya ayat 69:

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

“Kami berfirman: ‘Wahai api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim!'”

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Nabiullah Ibrahim telah mengajarkan kepada kita bahwa ketauhidan kepada Allah Ta’ala harus dibangun dengan satu kesadaran melalui optimalisasi potensi fikir yang kita miliki.

Bahwa, keimanan yang telah tumbuh subur dalam diri harus melahirkan sikap memproteksi diri dari nilai dan keyakinan keyakinan yang tidak sejalan dengan perintah Allah Ta’ala.

Lebih dari itu, dibutuhkan keberanian untuk menegakkan kebenaran dan ketauhidan meski konsekuensinya akan mendapat perlakuan yang tidak pantas; tapi Allah menggaransi akan memberikan kemuliaan pada mereka yang tegak di jalan kebenaran.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ الغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ الْبَلَاءَ عَنْ غَزَّةَ وَأَهْلِهَا، وَأَنْ تَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ، وَأَنْ تَرْحَمَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ، وَأَنْ تَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ عَافِنَا وَالْطُفْ بِنَا وَاحْفَظْنَا وَانْصُرْنَا وَفَرِِّجْ عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا وَإِيَّاهُمْ جَمِيْعًا شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

LSH Hidayatullah Dukung Pengembangan Kapasitas Juru Sembelih Halal di Kota Depok

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Masjid Jami’ Asy-Syahid Kota Depok menyelenggarakan Daurah Manajemen Qurban bertema “Menuju Pengelolaan Qurban yang Lebih Syar’i, Bersih, dan Sehat”, pada Senin, 14 Dzulqa’dah 1446 (12/5/2025).

Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00 hingga 16.00 WIB ini dihadiri perwakilan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dari berbagai masjid dan mushalla di wilayah Jatijajar, Cilangkap, hingga Sukamaju. Pelatihan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas pengelola qurban dalam menjalankan ibadah sesuai syariat Islam, sekaligus memenuhi standar kebersihan dan kesehatan.

Acara ini menghadirkan narasumber utama, Ust. H. Nanang Hanani, S.Pd.I, MA, pakar sembelih halal sekaligus Ketua Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah Pusat.

Dalam paparannya, Nanang menegaskan pentingnya penerapan prosedur penyembelihan yang sesuai syariat Islam.

“Proses sembelih bukan sekadar teknis, tetapi juga mencerminkan nilai ketaatan kepada Allah, kesejahteraan hewan, dan tanggung jawab sosial,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa daurah ini diharapkan menjadi momentum penanaman jiwa sosial berbagi yang tinggi, sekaligus memastikan kesejahteraan hewan yang lebih manusiawi.

Nanang juga menyampaikan komitmennya untuk mendampingi peserta hingga tercipta juru sembelih profesional. “Kami tidak ingin menciptakan sekadar ‘jagal’, tetapi penyembelih yang memahami ilmu secara utuh dan syar’i,” tegasnya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, ia memperkenalkan konsep tiga tahapan (marhalah) dalam manajemen qurban: marhalah ula (dasar), marhalah wustha (menengah), dan marhalah ‘ulya (lanjutan).

Setiap tahap dirancang untuk membentuk tim manajemen qurban yang solid, tertata, dan mampu menjalankan tugas secara optimal. Pendekatan ini mencakup aspek teknis penyembelihan, pengelolaan daging, hingga distribusi yang adil dan efisien.

Bekali Para Pengelola Qurban

Sementara itu, Ketua DKM Masjid Jami’ Asy-Syahid, Dr. KH. Endang Madali, S.H.I., M.A., dalam sambutannya menjelaskan bahwa daurah ini bertujuan membekali para pengelola qurban dengan pengetahuan yang benar dan aplikatif.

“Kami ingin menciptakan sistem manajemen qurban yang profesional, sesuai syariat Islam, serta memenuhi standar kebersihan dan kesehatan,” ungkapnya.

Endang menekankan bahwa pengelolaan qurban yang baik tidak hanya berfokus pada aspek ritual, tetapi juga pada dampak sosial dan lingkungan, seperti pengelolaan limbah dan distribusi yang merata.

Lebih lanjut, Endang menyatakan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun manajemen qurban yang berkelanjutan. “Harapan kami, daurah ini menjadi pondasi kuat bagi pengelolaan qurban yang lebih tertib dan profesional di masa depan,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya sinergi antar pengurus masjid. Dengan melibatkan berbagai DKM, kegiatan ini menjadi ajang untuk mempererat kolaborasi, sekaligus memastikan implementasi ilmu yang diperoleh dapat diterapkan secara luas di lingkungan masing-masing.

Daurah ini tidak hanya berfokus pada pelatihan teknis, tetapi juga pada pembentukan kesadaran kolektif akan pentingnya ibadah qurban yang sesuai nilai-nilai Islam.

Peserta diajak untuk memahami bahwa qurban bukan sekadar ritual tahunan, melainkan wujud keimanan, kepedulian sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Dengan demikian, ibadah qurban tahun ini diharapkan dapat berlangsung lebih baik, memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat, dan mencerminkan nilai-nilai syariat yang luhur.

STAI Albayan Makassar Wisuda Perdana, Orasi Ilmiah AQM Pesan Makna Sejati Keilmuan

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Senat Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Albayan dan Ketua Badan Pembina Yayasan Albayan Hidayatullah Makassar Dr Ir H Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar MSi memyampaikan orasi ilmiah dalam acara wisuda perdana STAI Albayan yang digelar di Ballroom Swiss-belhotel Panakukkang, Makassar, Sabtu, 12 Dzulqa’dah 1446 (10/5/2025).

Dalam pidatonya, Aziz mengaitkan makna gelar akademik dengan nilai keilmuan dalam Islam, merujuk pada Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko, yang didirikan pada 859 M oleh Fatimah Al-Fihri.

Universitas tertua di dunia ini menjadi pelopor pemberian gelar akademik, menegaskan bahwa pendidikan tinggi adalah warisan peradaban Islam.

Gelar akademik, seperti sarjana atau magister, adalah pengakuan atas penguasaan ilmu dalam bidang tertentu. Di Indonesia, gelar akademik mulai dikenal pada era kolonial Belanda melalui pendirian STOVIA (1898) dan ITB (1920).

Namun, Aziz menyoroti bahwa gelar akademik kini sering menjadi formalitas dalam rekrutmen, khususnya di instansi pemerintahan dan pendidikan.

“Kondisi demikian tidak bisa dielakkan, walaupun adanya gelar akademik tidak mutlak menjadi jaminan kompetensi secara ril,” ujarnya, menggambarkan dilema antara kompetensi dan formalitas.

Lebih jauh, Dr. Aziz mengarahkan perhatian pada konsep keilmuan dalam Al-Qur’an, khususnya istilah Ulul Albab, yang disebutkan 16 kali.

Ulul Albab, menurut Ibnu Katsir, merujuk pada “orang yang memiliki akal sempurna dan kecerdasan,” sementara Sayyid Qutub mengartikannya sebagai mereka yang memiliki pemikiran dan pemahaman benar.

Al-Qur’an, dalam QS Ali Imran: 190-191, menggambarkan Ulul Albab sebagai mereka yang “mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.”

Ayat ini menegaskan bahwa ciptaan Allah adalah objek ilmu pengetahuan, sementara dzikir dan tafakur menjadi metodologi keilmuan.

Aziz menjelaskan ciri-ciri Ulul Albab: mereka berdzikir dan tafakur, bersungguh-sungguh mencari ilmu, mampu membedakan baik dan buruk, kritis terhadap informasi, berbagi ilmu, dan hanya takut kepada Allah.

“Berdzikir bukan hanya merupakan aktifitas ibadah ritual, tapi juga merupakan paradigma dan metodologi keilmuan,” katanya, membedakan epistemologi Islam dengan rasionalisme dan empirisme Barat. Dalam Islam, ilmu tidak terbatas pada yang empiris, melainkan mencakup realitas metafisik seperti malaikat atau jin.

Keilmuan dalam Islam, lanjut Aziz, tidak terpisah dari iman dan amal. QS Al-Alaq: 1-5, wahyu pertama, memerintahkan “iqra’” (baca), menegaskan bahwa membaca adalah pintu ilmu dan iman. QS Muhammad: 19 mengaitkan tauhid dengan pemahaman, sementara QS As-Saff: 3 mencela mereka yang tidak mengamalkan ilmu.

“Al-Qur’an sangat menekankan kesatuan antara iman, ilmu, dan amal. Pemisahan diantara ketiganya menyebabkan Islam akan hilang pada diri seseorang. Tidak ada iman tanpa ilmu, dan tidak ada Islam tanpa pengamalan,” tegasnya seperti dikutip dari laman hidayatullahmakassar.id.

Bagi Aziz, gelar akademik adalah pengakuan formal, tetapi predikat seperti Ulul Albab, Muttaqin, atau Shalihin adalah tujuan utama seorang Muslim. Para wisudawan diingatkan bahwa ilmu harus diamalkan sebagai amal shalih untuk meraih ridha Allah.

“Tuntutan mutlak bagi orang beriman dan memiliki ilmu adalah mengamalkan ilmunya sebagai wujud ibadah dan amal shalih untuk meraih Ridha Allah SWT,” katanya menandaskan.*/

Kolaborasi Kebaikan Menghidupkan Aksara Ilahi untuk Tunanetra Nusantara

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam dunia yang serba visual, kehadiran huruf menjadi jembatan utama antara manusia dan pengetahuan. Namun bagaimana jika akses terhadap huruf—terutama huruf wahyu—terhalang oleh keterbatasan penglihatan?

Di sinilah misi literasi dan dakwah menjadi panggilan nurani, sebagaimana yang diwujudkan oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) bersama tokoh literasi nasional Kang Maman Suherman dan PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE).

Belum lama ini, Jumat, 11 Dzulqaidah 1446 (9/5/2025), mereka mengirimkan 13 set Alquran Braille ke Sumedang, Jawa Barat. Ini bukan sekadar distribusi kitab, melainkan sebuah gerakan membuka kembali pintu “iqra’” bagi saudara-saudara kita yang tunanetra.

Dalam waktu bersamaan, sebanyak 200 mushaf Alquran juga dikirim ke Sulawesi Selatan, menyasar berbagai pelosok dalam rangka memperkuat gerakan literasi Alquran secara nasional.

Syamsuddin, Direktur Prodaya BMH Pusat, menjelaskan makna mendalam dari kegiatan ini yang menyiratkan komitmen untuk menjadikan Alquran sebagai milik semua orang, tak terkecuali mereka yang melihat dunia lewat ujung jemari.

“Kebaikan ini akan sangat membantu untuk gerakan literasi Alquran bagi sahabat kita yang tunanetra. Jadi, jangan ada kata berhenti dalam kebaikan,” ujarnya.

Alquran Braille yang dikirim adalah kitab suci dalam format tulisan timbul, dirancang secara khusus agar dapat dibaca oleh penyandang tunanetra.

Upaya ini terang Syamsuddin bukan sekadar produk teknologi, melainkan jendela ruhani yang mengizinkan para pembacanya meresapi kemuliaan ayat-ayat Allah dengan cara yang sesuai kebutuhan mereka. Sebagaimana fungsi wahyu itu sendiri: menyapa setiap manusia dengan bahasa yang mampu dijangkau oleh hatinya.

Kang Maman, budayawan dan pegiat literasi, turut menegaskan pentingnya semangat bersama ini. Ia menekankan bahwa membaca adalah merupakan aksi spiritual yang melahirkan peradaban.

“Saya bersama BMH dan tentu saja dukungan JNE akan terus menebar semangat iqra’, yakni mencerahkan, memperkaya wawasan, dan memberdayakan,” tegasnya.

Lebih dari itu, inisiatif ini merupakan simbol dari keberlanjutan dakwah dan pendidikan yang tidak boleh padam oleh keterbatasan fisik maupun geografis. Setiap huruf dalam Alquran Braille adalah pancaran harapan, bahwa cahaya iman dan ilmu mampu menyentuh siapa saja, di mana saja.

Bagi para penerima, kiriman ini menandai awal dari sebuah perjalanan panjang menuju pemahaman agama yang lebih dalam. Dan bagi mereka yang turut membantu, sebagaimana dikatakan Syamsuddin, “ini adalah amal yang terus mengalir, menerangi dunia dengan kebaikan.”

Dengan gerakan semacam ini, iqra’ tidak lagi terbatas oleh mata, tapi menjelma menjadi panggilan hati dan kepedulian bersama: untuk mencerdaskan, memanusiakan, dan menyatukan dalam cahaya wahyu.*/

Membangun Peradaban dari Pelosok, Dakwah Intelektual Dua Ustadzah Muda

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Di sebuah ruang kelas sederhana di STAI Al Bayan Makassar, dua sosok ustadzah muda, Habina dan Habira, menapaki garis akhir dari sebuah perjalanan panjang akademik.

Setelah bertahun-tahun menyeimbangkan tugas sebagai pengajar, pembimbing santri, sekaligus mahasiswa, keduanya kini menyandang gelar sarjana Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI).

Namun capaian ini bukan hanya hasil usaha pribadi. Di balik keberhasilan tersebut, berdiri Baitulmaal Hidayatullah (BMH), lembaga lembaga amil zakat nasional yang selama ini memberi dukungan melalui program beasiswa pendidikan.

“Alhamdulillah kami sangat bersyukur dengan program beasiswa BMH. Dengan bantuan ini, kami bisa menyelesaikan pendidikan dengan fokus dan tanpa hambatan berarti,” ungkap Ustadzah Habina penuh syukur, seperti dalam keterangan diterima media ini, Selasa, 15 Dzulqa’dah 1446 (13/5/2025).

Bagi Habina dan Habira, kelulusan ini adalah awal dari amanah besar. Gelar sarjana bukan semata status akademik, melainkan bekal spiritual dan intelektual untuk mengemban tugas dakwah di wilayah-wilayah yang sering kali terpinggirkan dari arus pendidikan formal.

“Tentu ini adalah amanah bagi kami. Bekal yang sangat berharga untuk mengemban tugas dakwah mencerahkan masyarakat di pelosok,” tambahnya.

BMH dan Komitmen Membangun Daiyah Tangguh

Kadir, Kepala Perwakilan BMH Sulawesi Selatan, menegaskan bahwa kelulusan kedua ustadzah ini merupakan perwujudan nyata dari komitmen lembaga dalam mencetak kader-kader dakwah yang berkualitas dan siap terjun ke medan dakwah yang menantang.

“Momen wisuda dan penugasan ini merupakan awal. Kami bersama mitra, STAI Al Bayan, berkomitmen untuk terus mencetak dai-daiyah tangguh yang akan berdakwah hingga pelosok negeri,” ujar Kadir.

Menurutnya, bantuan BMH tidak hanya dimaknai sebagai pemberian beasiswa, tetapi sebagai strategi jangka panjang membangun peradaban umat.

“Lebih dari sekadar bantuan finansial, ini adalah investasi untuk mendukung perjuangan para dai-daiyah dalam mencerdaskan dan memajukan umat,” lanjutnya.

Realitas pendidikan agama di daerah-daerah terpencil menunjukkan adanya kebutuhan mendesak akan kehadiran para pendidik dan pembimbing yang mampu menanamkan nilai-nilai Islam secara substansial.

Karena itu, kehadiran daiyah seperti Habina dan Habira menjadi vital. Mereka bukan hanya guru, tetapi juga agen perubahan yang akan merajut harapan dan menyulam nilai-nilai kebaikan di tengah keterbatasan infrastruktur dan akses informasi.

Dengan modal ilmu, kesalehan pribadi, dan semangat pengabdian, keduanya adalah wujud dari sinergi ideal antara pendidikan tinggi Islam dan lembaga zakat.*/

Menghadapi Krisis Umat dengan Sinergi Dakwah sebagai Jalan Perubahan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam acara Silaturrahim Daring Kabid Dakwah dan Pelayanan Ummat yang bertajuk “Menguatkan Tugas Murabbi dalam Gerakan Dakwah dan Pembinaan Umat”, Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat (Dakwah Yanmat) DPP Hidayatullah, Nursyamsa Hadis, menyampaikan pokok-pokok penting yang menegaskan bahwa dakwah saat ini tidak cukup hanya bermodalkan semangat individual, melainkan menuntut sinergi, kolaborasi, dan agenda perubahan yang sistemik.

Nursyamsa membuka paparannya dengan mengingatkan perintah langsung Allah dalam Al-Qur’an surah Ali Imron ayat 104:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”

Ayat ini, jelasnya, menjadi fondasi kokoh bahwa dakwah adalah tugas kolektif yang menuntut adanya komunitas yang bergerak aktif. Seruan moral ini sebagai dorongan untuk membangun struktur sosial baru yang berorientasi pada kebaikan.

Lebih lanjut, Nursyamsa mengutip sabda Rasulullah SAW yanhg diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa barangsiapa menunjukkan kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang mengerjakannya.

Ia memaknai hadis ini sebagai spirit memperkuat konsep bahwa nilai dakwah bukan hanya pada outputnya, tetapi juga pada proses kolaboratif yang menginspirasi orang lain untuk turut serta dalam amal saleh.

Namun, di balik urgensi dakwah tersebut, Nursyamsa menyoroti tantangan besar yang kini dihadapi umat mulai dari krisis kepercayaan (amanah), krisis moral, krisis ekonomi, krisis sosial politik, maupun krisis budaya.

Tantangan ini, menurut dia, bukan hanya fenomena sosial biasa, tapi sudah memasuki tahap krisis multidimensional yang jika tidak segera direspons akan berujung pada kehancuran nilai dan institusi umat.

“Sebagai konsekuensinya, gerakan dakwah para da’i Hidayatullah harus memikul agenda perubahan yang komprehensif,” katanya, seraya menyebutkan ada lima ranah pemberdayaan menjadi syarat mutlak agar dakwah tetap relevan dan tangguh.

Pertama, adalah pemberdayaan ruhani (mental spiritual) untuk membangun ketahanan batin para aktivis dakwah. Kedua, pemberdayaan jasmani (fisik material) supaya da’i tidak rapuh menghadapi tantangan fisik dan kebutuhan hidup.

Ketiga, pemberdayaan sosial untuk menciptakan komunitas yang solid, saling menopang di tengah derasnya arus disintegrasi sosial, dan Keempat, pemberdayaan ekonomi, karena kemandirian finansial adalah penopang utama gerakan dakwah yang berkelanjutan.

Terakhir dan menurutnya ini tidak kalah penting dengan empat ranah sebelumnya, yaitu pemberdayaan politik, untuk memastikan bahwa umat memiliki kecerdasan dan daya tawar dalam sistem kekuasaan yang ada.

“Ini perlu dilakukan demi menghindari berjatuhannya para aktivis dakwah ketika menghadapi tantangan yang sangat berat,” tegas Nursyamsa, dari Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jum’at, 11 Dzulqa’dah 1446 (9/5/2025).

Ia pun menegaskan kesadaran strategis bahwa krisis multidimensi hanya bisa dihadapi dengan dakwah yang memiliki basis kekuatan spiritual, ekonomi, dan politik yang seimbang.

Dalam hal strategi sukses, Nursyamsa menegaskan bahwa sinergi dan kolaborasi antarelemen organisasi menjadi kunci. Dalam pada itu, gerakan dakwah Hidayatullah harus mengintegrasikan kekuatan DMP (Dewan Murabbi Pusat) dan DPP (Dewan Pengurus Pusat) secara harmonis.

“Aktivasi halaqah—baik di internal maupun yang tandang ke gelanggang sosial—adalah sarana utama untuk membangun jaringan dakwah yang dinamis dan berdampak,” katanya.

Beliau juga menyebutkan pentingnya aksi teknis melalui organ-organ seperti Departemen Komunikasi dan Penyiaran (DKP), Departemen Rekrutmen & Pembinaan Anggota, dan Departemen Perkaderan sebagai motor penggerak agar dakwah berjalan atraktif.

“Bahkan, landasan hukumnya jelas dalam PDO pasal 18 ayat 2 f yang menugaskan DMP mendorong rekrutmen anggota lewat tarbiyah dan dakwah,” terangnya.

Nursyamsa Hadis lantas menggarisbawahi bahwa dakwah kontemporer tidak cukup dengan pendekatan normatif, tetapi harus dipadukan dengan strategi pemberdayaan dan kolaborasi lintas bidang.

Ditambahkan dia, sinergi antara ruhaniyah dan struktur kelembagaan adalah fondasi untuk menegakkan peradaban umat yang kuat dalam menghadapi tantangan global yang kian kompleks.*/

Membangun Ruhiyah, Pemahaman dan Amal dalam Tarbiyah Hidayatullah

0

KONSEP tarbiyah ruhiyah Hidayatullah menekankan dua pilar utama untuk memperkuat spiritualitas, yaitu: mafahim ruhiyah (pemahaman ruhiyah) dan a’mal ta’abbudiyah (amalan ibadah).

Keseimbangan antara keduanya membentuk kekuatan ruhani seorang mukmin, menjaga hubungan erat dengan Allah melalui kesadaran akan karunia-Nya dan pengakuan atas kekurangan diri.

Mafahim Ruhiyah untuk Kesadaran dan Keseimbangan

Menurut Ibnu Taimiyah, pemahaman ruhiyah terwujud dalam dua aspek: mushahadat al-minnah (mempersaksikan karunia Allah) dan i’tiraf bil qushur (mengakui kelalaian diri).

Seorang mukmin menyadari bahwa amal yang dipersembahkan tidak sebanding dengan limpahan nikmat Allah.

Kesadaran ini menempatkan seorang mukmin dalam posisi al-khauf war-raja‘ (takut dan berharap), yang mendorong keteguhan spiritual.

Pemahaman ini menjadi panduan untuk menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran akan kebesaran Allah.

Amal Ta’abbudiyah dengan Tiga Pilar Utama

Amalan ibadah menjadi sarana praktis untuk memperkuat ruhiyah, dengan tiga fokus utama: tilawah Al-Qur’an, shalat, dan dzikir.

Tilawah Al-Qur’an

Tilawah terbagi menjadi ta’abbudiyah (ritual ibadah) dan ta-ammuliyah (perenungan). Tilawah ta-ammuliyah mengajak mukmin untuk merenungi ayat-ayat Al-Qur’an secara tematik dan menemukan inspirasi seperti yang dilakukan pemikir besar muslim serta orang orang shaleh.

Al-Qur’an memberikan kaidah umum yang relevan lintas zaman, memungkinkan mukmin mengambil ibrah dari ayat-ayatnya, seperti tema jihad dalam surat Al-Anfal atau konsep makr (makar) yang selalu dikaitkan dengan kekuasaan Allah. Perenungan ini memperkaya penghayatan spiritual dan memberikan keteguhan saat menghadapi syubhat atau situasi kritis.

Shalat

Shalat adalah tiang agama, mencakup 42 rakaat harian (17 rakaat wajib, 10 rakaat sunnah rawatib, 4 rakaat dhuha, dan 11 rakaat tahajud). Kunci keberhasilannya adalah muwazhabah (konsistensi).

Melaksanakan shalat berjamaah, terutama shalat wajib, meningkatkan pahala dan mempererat ikatan sosial-spiritual. Konsistensi dalam shalat, meski dengan bacaan sederhana, secara bertahap membangun kekuatan ruhiyah.

Dzikir Muthlaq

Dzikir seperti istighfar atau lafaz la ilaha illallah yang diulang ratusan kali membantu menjaga kesadaran akan tujuan akhir hidup.

Wirid seperti At Tawajjuhat yang dikeluarkan DPP Hidayatullah menjadi panduan praktis untuk dzikir pagi dan petang, memperkuat hubungan dengan Allah dan memberikan energi spiritual untuk menghadapi tantangan.

Gerakan Nawafil Hidayatullah

Gerakan Nawafil Hidayatullah atau GNH adalah metodologi Hidayatullah untuk membiasakan amalan ruhiyah secara konsisten, meliputi: mengkhatamkan Al-Qur’an sebulan sekali, shalat fardhu berjamaah dan sunnah rawatib, tahajud, dzikir pagi-sore, infak harian, dan dakwah fardiyah.

GNH telah berkembang pesat, bahkan hingga ke mancanegara, menciptakan lingkungan (bi’ah) yang mendukung semangat spiritual tanpa kepentingan duniawi.

Aktivis GNH menjalani ritme spiritual yang khas, menikmati daabus shalihin (kultur orang-orang shalih), dan membumikan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Menampakkan Amal Shalih

Kritik terhadap GNH, seperti tuduhan riya’ karena melaporkan amal, perlu diluruskan. Al-Qur’an, seperti dalam QS. Al-Baqarah: 274, memuji amal shalih baik yang tersembunyi maupun terang-terangan.

Menampakkan amal, seperti laporan bacaan Al-Qur’an dalam GNH, bukanlah pelanggaran syariat, melainkan dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi orang lain.

Rasulullah SAW dan para sahabat, seperti Abu Bakar, sering berbagi amal shalih mereka tanpa niat riya’, sebagaimana hadits riwayat Muslim tentang Abu Bakar yang melaporkan puasa, mengantar jenazah, dan memberi makan orang miskin.

Tuduhan riya’ justru dapat melemahkan semangat amal shalih, sebagaimana sifat munafik yang mencela amal orang lain (QS. At-Taubah: 79).

Seorang muslim wajib husnuzhzhan (berprasangka baik) dan menyerahkan urusan hati kepada Allah, bukan membedah niat orang lain. Kritik seharusnya diarahkan pada kemaksiatan yang nyata, bukan pada pelaku kebaikan.

Seperti nasihat Fudhail bin ‘Iyadh, ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkan seseorang dari riya dan syirik. GNH selain sebagai program juga sebagai sebuah kultur spiritual yang menjadi ‘password’ keberhasilan Hidayatullah.

Mari terus hidupkan GNH sebagai sunnah hasanah, menghidupkan ajaran Islam di tengah keredupan nilai-nilai agama. Biarkan amal shalih menjadi cahaya yang menginspirasi, dengan hati yang selalu terpaut pada Allah.

*) Ust. H. Sholih Hasyim, penulis adalah pemetik hikmah kehidupan dan anggota Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah

Wakil Gubernur Kalteng Edy Pratowo Anjangsana ke Pesantren Hidayatullah Palangkaraya

PALANGKARAYA (Hidayatullah.or.id) — Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Tengah (Kalteng) H. Edy Pratowo beserta jajaran melaksanakan kegiatan anjangsana ke Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Darul Tazkiyah Pondok Pesantren Hidayatullah, pada Kamis, 10 Dzulqa’dah 1446 (8/5/2025).

Kegiatan Anjangsana yang dilakukan ini merupakan salah satu agenda dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-68 Provinsi Kalteng.

Wagub H. Edy Pratowo mengungkapkan tema besar yang diusung dalam Peringatan Hari Jadi tahun ini adalah “Kalimantan Tengah, Masa Depan Indonesia”.

Ia berharap anjangsana kali ini dapat menjadi momentum untuk meningkatkan semangat kebersamaan, rasa kepedulian, dan saling membantu satu sama lain.

“Melalui peringatan Hari Jadi ke-68 Prov. Kalteng ini, kami berharap dapat memberikan dukungan kepada LKSA Darul Tazkiyah agar dapat terus berperan dalam mencetak generasi penerus bangsa, sejalan dengan visi dan misi Gubernur dan Wakil Gubernur dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa salah satu upaya untuk mendukung peningkatan sumber daya manusia adalah melalui program “Satu Keluarga, Minimal Satu Sarjana”.

Untuk itu, kata Wagub, kini disediakan fasilitas kuliah gratis bagi 10 ribu calon mahasiswa di 32 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, yang ada di Kalimantan Tengah.

“Informasi mengenai program kuliah gratis ini telah disampaikan ke seluruh kabupaten dan kota, dengan pembagian kuota yang telah ditentukan. Contohnya, Kabupaten Barito Utara mendapatkan alokasi beasiswa untuk 340 calon mahasiswa,” katanya.

Mengakhiri sambutannya, Wagub mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada semua pihak, baik Perangkat Daerah, Instansi Vertikal, BUMN, BUMD, Perbankan, maupun Swasta, yang telah berpartisipasi dan memberikan bantuan dalam kegiatan anjangsana kali ini.

Dalam kegiatan tersebut, Wagub H. Edy Pratowo memberikan hadiah berupa tiga buah sepeda kepada anak-anak LKSA Darul Tazkiyah.

Bersama sejumlah instansi, seperti Bank Indonesia Prov. Kalteng dan Bank Kalteng, H. Edy Pratowo juga menyerahkan bantuan anjangsana berupa beras, paket sembako, makanan ringan, alat tulis, serta uang tunai.

Kegiatan Anjangsana ini turut dihadiri oleh Kepala Kantor Perwakilan Prov Kalteng Yuliansyah Andrias, Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko PT Bank Kalteng Tuk Yulianto, Kepala Diskominfosantik Kalteng Agus Siswadi, Kepala Biro Umum Setda Prov. Kalteng Sitti Maabdah Makiah, Plt. Kepala Biro Organisasi Setda Prov. Kalteng Betri Susilawati, Kepala LPP TVRI Kalteng Holil Azmi, dan segenap jajaran pengurus, pembina, serta pengawas LKSA Darul Tazkiyah Pondok Pesantren Hidayatullah.

Komitmen Kuatkan Sinergi dengan Pemerintah

Dalam suasana penuh kehangatan tersebut, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, Ust Usamah Sudiono, menyambut kunjungan Wakil Gubernur dengan penuh rasa hormat dan menyebutnya sebagai kehormatan besar.

“Jika ada kekurangan dalam sambutan dan penyambutan, semoga bapak Wagub dan rombongan berkenan memaafkan segala khilaf,” ungkapnya.

Usamah juga menceritakan sejarah singkat perkembangan lembaga yang dipimpinnya yang menjadi potret nyata perjuangan lembaga sosial-keagamaan dalam membina generasi muda, yang kini telah berkembang menjadi rumah bagi sekitar 500 santriwan dan santriwati.

“Sedikit kami bercerita tentang perkembangan Panti Asuhan Darul Tazkiyah. Awalnya Pondok Pesantren. Pondok Pesantren ini hanya memiliki satu kegiatan, yaitu sosial dan pendidikan keagamaan. Dahulu kami hanya memiliki Darul Tazkiyah ini, LKSA ini,” katanya.

Saat ini, para santri tersebut berasal dari berbagai daerah seperti Desa Kruing, dan disekolahkan di lembaga pendidikan yang tersedia, mulai dari tingkat SD, MTS, hingga SMA, bahkan ada yang telah menempuh pendidikan tinggi.

Usamah menegaskan bahwa pendidikan di lingkungan pesantren ini terbuka, inklusif, dan terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman.

Melalui momen anjangsana ini, Usamah berharap pemerintah dan Hidayatullah serta berbagai lembaga pendidikan keagamaan di Kalteng terus membangun kolaborasi sebagai bagian dari upaya strategis merawat generasi muda sebagai aset masa depan provinsi.*/

Ustadz Sudirman dan Semangat Membangun Cahaya Ilmu di Tengah Masyarakat

WAJO (Hidayatullah.or.id) — Di tengah hiruk-pikuk aktivitas dakwahnya di Desa Mario, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Ustadz Sudirman mencatat sebuah capaian penting dalam perjalanan intelektualnya.

Meski usia hampir menyentuh angka 50 tahun, ia berhasil menuntaskan studinya dan sukses mempertahankan skripsinya yang berjudul “Peran Pasar Rakyat dalam Peningkatan Perekonomian Masyarakat Menurut Perspektif Ekonomi Islam.”

Keberhasilan ini bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan simbol ketangguhan semangat belajar yang tak mengenal usia. Ustadz Sudirman mengakui bahwa tantangan dakwah di era digital menuntut para dai untuk terus memperkaya diri dengan ilmu.

“Dakwah di era digital ini lebih menantang. Justru karena itu, kami harus terus belajar,”* ujarnya dengan penuh tekad, seperti dalam keterangannya, Jum’at, 11 Dzulqa’dah 1446 (9/5/2025).

Pencapaian ini pun menjadi buah dari program strategis Beasiswa Super Prestasi Baitul Maal Hidayatullah (BMH) yang berkolaborasi dengan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Bayan.

Program ini secara khusus dirancang untuk membuka akses pendidikan tinggi bagi para dai yang mengabdi di pedalaman, agar dakwah yang mereka sampaikan berakar kuat pada pondasi keilmuan yang kokoh.

Basori Shobirin, Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan Laznas BMH Sulawesi Selatan, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan para dai penerima beasiswa tersebut.

“Ini adalah wujud komitmen BMH untuk menguatkan dakwah di pelosok negeri. Kami haru sekaligus bangga mereka bisa menyelesaikan studi dengan baik,” ujarnya.

Tak berhenti di situ, pada bulan Mei ini, BMH akan menggelar Wisuda Akbar bagi para dai dan daiyah yang telah meraih gelar sarjana. Mereka akan kembali ke medan dakwah masing-masing, namun kali ini dengan bekal yang lebih mumpuni.

BMH meyakini bahwa peningkatan kapasitas para dai bukan sekadar soal gelar akademik, melainkan tentang membangun daya jangkau dakwah yang lebih efektif dan bermakna.

“BMH terus menguatkan perannya mendukung peningkatan kapasitas dai di pedalaman. Ilmu mereka, cahaya untuk kita semua,” tutup Basori, menegaskan filosofi di balik program pemberdayaan ini.*/