Beranda blog Halaman 116

[KHUTBAH JUM’AT] Menyiapkan Diri Sejak Dini untuk Sukses Ibadah Ramadhan

0

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ، سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ لَا أُحْصِيْ ثَنَاءَكَ عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Jum’at yang dirahmati Allah Ta’ala

Rasa syukur hanya tercurah kepada Allah, Sang Penguasa jagat raya. Rasa syukur atas segala karunia-Nya yang tetap tercurah meski Allah Maha Mampu untuk menghentikannya tanpa ada yang bisa mencegahnya.

Rasa Syukur atas semua kebaikan-Nya meski Allah Maha Perkasa untuk menurunkan hukuman-Nya tanpa ada yang bisa menghindarinya.

Shalawat serta salam terkirimkan secara tulus dan penuh cinta kepada Nabi Muhammad Saw, yang telah memberikan peragaan terbaik bagaimana cara menjalani hidup ini dengan tepat sehingga beliau -dengan izin Allah- bisa menunjukkan cara menggapai surga dengan tetap bahagia menjalani kehidupan dunia.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Jum’at yang dirahmati Allah Ta’ala

Ada sebuah ungkapan berbunyi, “Hasil tidak akan mengkhianati proses”. Kalimat yang sudah akrab ditelinga masyarakat ini mengandung makna sebab akibat yang saling terkait dan mempengaruhi.

Proses atau usaha yang baik akan mempersembahkan hasil yang juga baik dan hasil yang baik hanya akan diraih dengan proses atau usaha yang sungguh-sungguh.

Meski kita meyakini bahwa hasil dari segala usaha berada ditangan Allah Ta’ala secara mutlak, namun berusaha sekuat tenaga juga merupakan tanda bahwa kita adalah makhluk berakal.

Usaha yang baik dapat menjadi alat ukur keimanan seseorang sebab iman yang benar pasti akan melahirkan usaha yang terbaik.

Berdasarkan logika sederhananya, berusaha dengan sungguh sungguh saja belum bisa memastikan bahwa hasilnya akan sesuai dengan harapan atau ekspektasi kita, apatah lagi jika usaha tersebut tidak dengan kesungguhan atau setengah hati.

Dalam al Qur’an, beberapa ayat menunjukkan bahwa Allah memerintahkan atau mengapresiasi usaha yang baik atau sungguh-sungguh;

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al Ankabut:69)

وَجَٰهِدُوا۟ فِى ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya” (QS. Al Hajj:78).

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Jum’at yang dirahmati Allah Ta’ala

Menindak lanjuti perintah Allah Ta’ala, Rasulullah Saw juga sangat menjunjung tinggi komitmen bekerja dengan sungguh-sungguh.

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

“Bersemangatlah melakukan hal yang bermanfaat dan minta tolonglah pada Allah, serta janganlah mudah untuk menyerah” (HR. Muslim).

Ma’asyiral Muslimin Jemaah Shalat Jum’at yang dirahmati Allah Ta’ala

Jika dalam perkara keduniaan saja, Allah dan Rasul-Nya memuji dan menjanjikan balasan yang besar, apatah lagi jika komitmen dan usaha yang sungguh-sungguh ini turut kita wujudkan dalam perkara ibadah atau akhirat. Sementara perkara akhirat jauh lebih diapresiasi oleh Allah dan Rasul-Nya dibanding perkara keduniaan.

Maka wajar jika Ramadhannya Rasulullah Saw dinobatkan sebagai cara berpuasa yang terbaik, sebab kesungguhan beliau tercermin secara utuh dalam menjalankannya, baik dalam persiapan maupun saat beliau telah bersua dengan bulan Ramadhan.

Dalam riwayat oleh Imam Bukhari dan Muslim, secara lugas Aisyah binti Abu Bakar menuturkan bagaimana Nabi Muhammad menjadikan bulan Sya’ban sebagai puncak persiapan beliau dalam menyambut Ramadhan.

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa -sunnah- kecuali pada bulan Syaban.”

Olehnya itu, di sisa waktu yang ada dari bulan Sya’ban ini, tidak ada pilihan bagi kita kecuali memaksimalkannya dengan persiapan-persiapan yang mampu meyakinkan Allah Ta’ala bahwa kita memang bergembira, bersemangat dan begitu menantikan perjumpaan tahunan kita dengan bulan suci Ramadhan.

Rangkaian ibadah yang akan kita massifkan di bulan Ramadhan telah menemukan chemistry-nya sejak bulan Sya’ban. Jangan menunggu 1 Ramadhan untuk kita memulainya.

Sebab, bagi siapa yang menantikan masuknya bulan Ramadhan untuk dia mulai membangun struktur ibadahnya maka sama saja dia merencanakan kegagalan Ramadhan. Na’udzu billahi min dzalik.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Rumah Layak Huni untuk Muallaf Baduy Makin Dekat Terwujud

0

LEBAK (Hidayatullah.or.id) — Pembangunan rumah layak huni untuk Mualaf Baduy, hasil sinergi Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) dan Badan Amil Zakat Nasional Republik Indonesia (Baznas RI), terus menunjukkan progres positif.

Dari tujuh rumah yang direncanakan, kini hanya satu rumah yang masih dalam tahap penyelesaian, dengan progres mencapai 75 persen.

Di Kampung Mualaf Baduy, Ciater, Desa Cibungur, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, dai tangguh BMH terus mendampingi para mualaf dalam proses adaptasi kehidupan baru mereka.

Ustaz Supriyanto, dai BMH, optimis pembangunan akan selesai dalam waktu delapan hari ke depan.

“Rumah ini bukan sekadar tempat berteduh, tetapi juga bentuk dukungan agar para mualaf semakin teguh dalam keimanan. Mereka yang menunjukkan semangat ibadah dan komitmen akan menjadi prioritas untuk menempati rumah ini,” ujarnya seperti dalam keterangannya diterima media ini, Rabu, 13 Syaban 1446 (12/2/2025).

Melihat perkembangan yang pesat, BAZNAS RI memutuskan untuk menambah tiga rumah baru bagi mualaf binaan BMH. Keputusan ini membawa harapan baru bagi semakin banyak saudara mualaf yang tengah merintis kehidupan baru dalam Islam.

Pembangunan rumah bagi mualaf bukan sekadar proyek fisik, tetapi juga bentuk nyata kepedulian terhadap keberlanjutan dakwah.

BMH bersama para donatur terus berupaya menghadirkan solusi yang bukan hanya memberi tempat tinggal, tetapi juga membangun keyakinan, keteguhan, dan masa depan yang lebih baik bagi para mualaf.

Di tanah Baduy, rumah-rumah ini akan menjadi saksi. Bahwa keislaman bukan sekadar kata, tetapi perjalanan yang selalu ada tangan-tangan kebaikan yang menguatkannya.*/Herim

Wakil Walikota Terpilih Agus Haris Sambangi Ponpes Hidayatullah Bontang

BONTANG – Wakil Walikota terpilih Bontang yang juga menjabat sebagai Ketua DPC Partai Gerindra Bontang, Agus Haris, menyambangi kampus Pondok Pesantren Hidayatulllah, Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Apiapi, Kecamatan Bontang Utara, Kota Bontang, Senin, 11 Syaban 1446 (10/2/2025).

Kunjungan Agus Haris sekaligus dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-17 Partai Gerindra Kota Bontang dimana pada kesempatan ini pihaknya menggelar aksi sosial dengan membagikan 700 paket makan siang bergizi dan susu gratis kepada para pelajar TK dan SD di Pesantren Hidayatullah.

Agus Haris mengatakan kegiatan ini diinisiasi untuk membantu masyarakat, khususnya anak-anak sekolah, dalam mendapatkan asupan makanan sehat dan bergizi.

Kehadiran Agus Haris dalam kegiatan tersebut memberikan dorongan moral bagi anak-anak yang menerima bantuan, sekaligus menegaskan komitmennya terhadap kesejahteraan masyarakat.

“Ini merupakan wujud nyata kepedulian terhadap kesejahteraan rakyat, terutama dalam bidang kesehatan dan pendidikan. Aksi ini sejalan dengan visi Presiden RI, Prabowo Subianto, untuk menjadikan anak-anak Indonesia lebih cerdas dan sehat,” ujar Agus Haris dalam sambutannya.

Lebih lanjut, Agus Haris menegaskan bahwa program ini merupakan langkah konkret dalam mendukung penuh inisiatif Makanan Bergizi Gratis (MBG) serta menjalankan revolusi putih Partai Gerindra.

Dia menjelaskan revolusi putih merupakan gerakan yang bertujuan meningkatkan gizi anak-anak Indonesia dengan konsumsi susu secara rutin, sebagai bentuk investasi jangka panjang bagi generasi penerus bangsa.

“Kami ingin memastikan bahwa anak-anak Bontang, khususnya mereka yang masih dalam masa pertumbuhan, mendapatkan asupan makanan sehat dan bergizi. Ini bukan hanya sekadar program, tapi bagian dari upaya besar untuk membangun generasi unggul,” tambahnya.

Selain berfokus pada kesehatan dan pendidikan, pihaknya juga menegaskan komitmennya dalam mendukung 100 hari program prioritas kepemimpinan Neni Moerniaeni yang didampinginya. Salah satu program utama yang akan segera dijalankan adalah menuntaskan masalah kemiskinan ekstrem di Kota Bontang.

Menurut Agus Haris, perhatian terhadap gizi anak-anak sekolah merupakan langkah awal dalam menciptakan ekosistem yang mendukung kesejahteraan sosial yang lebih luas.

Setelah pembagian makanan sehat bagi para siswa, rangkaian acara berlanjut dengan aksi sosial lainnya, yakni pembagian paket makanan pagi kepada para pengendara.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh sejumlah anggota DPRD Bontang seperti Heri Keswanto, Sem Nalpa, dan Riski Rusdiansyah.*/Abdullah Jumadi

Pemuda Memiliki Tanggung Jawab Moral Perkuat Solidaritas Global Merdekakan Palestina

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka Isra’ Mi’raj 1446 H, Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menggelar Seminar Keumatan dengan tema “Peran Indonesia dalam Mendukung Kemerdekaan Negara Palestina” di Hotel Aston, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu dan ditulis Selasa (11/2/2025).

Acara ini dihadiri oleh berbagai tokoh, salah satunya Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah, Rasfiuddin Sabaruddin, yang dalam keterangannya menegaskan peran penting pemuda yang memiliki tanggung jawab moral dalam memperkuat solidaritas global dan menekankan urgensi posisi Indonesia dalam mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina.

Sejarah mencatat bahwa Indonesia dan Palestina memiliki ikatan solidaritas yang kuat. Sejak awal kemerdekaan, Indonesia mendapatkan dukungan dari berbagai negara, termasuk Palestina melalui Mufti Besar Palestina, Amin al-Husseini. Dukungan ini menjadi modal historis yang meneguhkan posisi Indonesia dalam diplomasi internasional.

Rasfiuddin Sabaruddin mengingatkan bahwa sikap Indonesia dalam mendukung Palestina bukan hanya sebatas kewajiban moral, tetapi juga amanat konstitusi yang menegaskan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.

“Posisi Indonesia terhadap Palestina tidak boleh sekadar menjadi jargon politis, melainkan harus diwujudkan dalam langkah nyata. UUD 1945 secara eksplisit menyatakan bahwa bangsa Indonesia menolak segala bentuk penjajahan. Maka, membela Palestina adalah bentuk pengejawantahan dari amanah konstitusi tersebut,” tegasnya kepada media ini.

Selain itu, secara universal, terang dia, perjuangan kemerdekaan Palestina merupakan bagian dari perlawanan terhadap ketidakadilan global yang didukung oleh nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam kajian geopolitik internasional, situasi di Palestina menurutnya bukan sekadar konflik bilateral, melainkan bagian dari hegemoni global yang memposisikan kelompok tertentu dalam superioritas struktural.

Oleh karena itu, lanjut Rasfiuddin, Indonesia harus lebih proaktif dalam diplomasi global dengan memperkuat narasi kemanusiaan. Hal ini dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, baik diplomasi formal di tingkat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) maupun diplomasi masyarakat sipil yang melibatkan organisasi keislaman dan kepemudaan.

Rasfiuddin menggarisbawahi pentingnya edukasi dan kampanye publik guna membangun kesadaran yang lebih luas mengenai isu Palestina. Di era digital saat ini, perang narasi menjadi elemen penting dalam membentuk opini global.

“Oleh karena itu, pemuda memiliki tanggung jawab moral untuk menyebarluaskan informasi yang objektif dan berbasis fakta tentang penderitaan rakyat Palestina,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia mendorong organisasi kepemudaan Islam, khususnya Pemuda Hidayatullah, untuk lebih aktif dalam aksi nyata seperti penggalangan dana, advokasi, serta penguatan jaringan internasional guna memberikan tekanan politik kepada lembaga-lembaga dunia agar lebih serius dalam menyelesaikan permasalahan Palestina.

Disamping itu, dia menilai solidaritas ini tidak hanya dalam bentuk seruan verbal, tetapi juga gerakan ekonomi, seperti boikot produk yang terbukti mendukung penjajahan terhadap Palestina.

Kompleksitas Global

Lebih jauh, Rasfiuddin menyadari bahwa perjuangan ini tidak mudah. Tantangan utama dalam mendukung Palestina adalah kompleksitas politik global yang melibatkan aktor-aktor besar dengan kepentingan strategis. Selain itu, dinamika politik dalam negeri juga berpengaruh terhadap konsistensi sikap Indonesia.

Dia mengatakan diperlukan strategi yang lebih terarah dan berkelanjutan agar dukungan terhadap Palestina tidak hanya menjadi wacana sesaat.

Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, dia menyebutkan Indonesia memiliki potensi besar dalam memainkan peran yang lebih signifikan. Tidak hanya dalam lingkup diplomasi negara, tetapi juga melalui gerakan masyarakat sipil.

Rasfiuddin berharap agar semua elemen bangsa, baik pemerintah, organisasi keagamaan, akademisi, hingga generasi muda, terus berkolaborasi dalam mewujudkan dukungan yang konkret terhadap kemerdekaan Palestina.

“Perjuangan membela Palestina adalah perjuangan yang melampaui batas negara, agama, dan ideologi, menjadikannya sebuah kewajiban moral bagi setiap manusia yang mencintai keadilan,” tandasnya.

Acara Isra’ Mi’raj 1446 DPP PKS ini dihadiri jajaran tinggi partai seperti Presiden H. Ahmad Syaikhu, Sekretaris Jenderal Habib Abubakar Al-Habsyi, Ketua Majelis Syura Habib Salim Segaf Al-Jufri, serta narasumber seminar Duta Besar RI untuk PBB periode 2004 – 2007 Prof. Dr. Makarim Wibisono, MA, Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri Dr. Abdul Kadir Jailani, dan Wakil Ketua MPR RI Dr. H.M. Hidayat Nur Wahid, MA. (ybh/hidayatullah.or.id)

Mushida Jateng Kuatkan Pendidikan Pranikah Meniti Jalan Menuju Pernikahan

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Pernikahan merupakan salah satu fase kehidupan yang menentukan arah masa depan individu dan masyarakat. Sebagai institusi sosial dan spiritual, pernikahan tidak hanya melibatkan hubungan antara dua individu, tetapi juga menciptakan fondasi bagi generasi mendatang.

Demikian benang merah yang menjadi salah satu konklusi dari helatan Training Pranikah bertema “Menyiapkan Muslimah Shalehah untuk Generasi yang Berkualitas” digelar Departemen Keputrian Muslimat Hidayatullah (Mushida) Jawa Tengah berlangsung di Gedung Dakwah Hidayatullah, Jalan Wonodri No. 41, Semarang, Jawa Tengah, belum lama ini dan ditulis Senin, 11 Syaban 1446 (10/2/2025).

Pendidikan pranikah intensif sehari ini diikuti oleh puluhan remaja putri dari berbagai daerah di Jawa Tengah, seperti Solo, Semarang, Salatiga, Kudus, Grobogan, dan Jepara.

Dalam konteks Islam, kesiapan dalam membangun rumah tangga tidak hanya bersandar pada aspek materiil, tetapi juga pada pemahaman mendalam tentang nilai-nilai agama, moralitas, dan etika dalam berkeluarga.

Kegiatan ini dalam rangka membekali generasi muda dengan pemahaman yang komprehensif tentang kehidupan pernikahan. Pendidikan pranikah dinilai menjadi semakin relevan dalam menghadapi berbagai tantangan zaman, termasuk pergeseran nilai-nilai sosial yang dipengaruhi oleh globalisasi dan modernitas.

Dalam sambutannya Ketua DPW Hidayatullah Jawa Tengah, Ahmad Ali Subur, menekankan bahwa kegiatan semacam ini memiliki nilai yang sangat tinggi.

“Kegiatan ini mahal, bukan dari segi biaya, tetapi dari segi ilmu dan kesempatan. Oleh karena itu, saya harap semua peserta bisa fokus dan mengambil pesan berharga dari para instruktur,” ungkapnya dalam sambutannya.

Training Pranikah ini kata Ahmad dirancang untuk memberikan bekal ilmu yang cukup bagi para remaja putri sebelum memasuki jenjang pernikahan. Materi yang disampaikan mencakup berbagai aspek fundamental, mulai dari orientasi berkeluarga, persiapan pernikahan, hingga solusi menghadapi problematika rumah tangga.

Selain itu, peserta juga dibekali dengan pemahaman mengenai pentingnya komunikasi yang harmonis dalam keluarga sebagai kunci utama dalam membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah.

Paradigma Pernikahan

Disamping itu, kondisi saat ini menunjukkan semakin meningkatnya tren individualisme dan pergeseran paradigma tentang pernikahan. Ketua PW Mushida Jawa Tengah, Tri Wahyu Prihatin, menyampaikan keprihatinannya terhadap fenomena ini.

Tri ungkapkan bahwa paham liberalisme telah memengaruhi pola pikir generasi muda, termasuk dalam cara mereka memandang institusi pernikahan.

“Banyak generasi muda yang memilih untuk tidak menikah dan lebih memilih hidup membujang. Padahal, hal ini bertentangan dengan kodrat manusia dan sunnah Rasulullah SAW,” tegasnya.

Tri Wahyu memberi pesan penting kepada peserta untuk membuat perencanaan matang dalam berumah tangga. “Buatlah rencana-rencana penting sebagai prioritas dalam mengarungi bahtera rumah tangga nanti. Simpan dan doakan agar harapan tersebut terkabul saat kalian berumah tangga,” tuturnya.

Selain aspek spiritual dan mental, pelatihan ini juga menekankan pentingnya memahami etika pergaulan antara lawan jenis. Dalam kerangka ini, Islam telah memberikan panduan yang jelas mengenai bagaimana seseorang seharusnya bersikap dan berinteraksi dalam menjaga kesucian diri sebelum menikah.

“Ilmu dan hikmah yang didapatkan hari ini harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam pergaulan,” Tri Wahyu Prihatin.

Memasuki kehidupan pernikahan bukanlah perkara yang mudah. Tri menjelaskan, setiap pasangan akan menghadapi berbagai tantangan, baik dalam hal ekonomi, komunikasi, maupun perbedaan karakter. Oleh karena itu, diperlukan kesiapan yang matang sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.

Pembekalan pengetahuan, keterampilan, dan sikap bagi calon istri dan ibu menjadi salah satu fokus utama dalam pelatihan ini. Kesiapan ini tidak hanya mencakup aspek spiritual, tetapi juga mental, emosional, dan fisik. Dengan bekal yang memadai, para remaja putri diharapkan dapat menghadapi segala risiko dan konsekuensi dalam pernikahan dengan lebih bijaksana.

“Mempersiapkan diri sejak dini adalah kunci untuk meraih kehidupan berkeluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Hal ini mutlak dimiliki oleh setiap calon pasangan yang akan menikah yang ingin membangun keluarga harmonis bagagia dunia akhirat,” ungkap Tri memungkasi.*/Lilis Budiarsih

Gerak Langkah Pemuda Hidayatullah Mendenyuti Kehidupan Papua Barat

KEBERSIHAN memiliki tempat yang sangat istimewa dalam ajaran Islam. Salah satu hadis yang menggambarkan betapa tingginya nilai kebersihan dalam Islam adalah kisah seorang wanita yang rutin membersihkan masjid pada masa Rasulullah SAW.

Ketika wanita tersebut meninggal dunia dan penguburannya tidak diberitahukan kepada Nabi, beliau bersabda, “Jika seseorang dari kalian meninggal maka beritahu saya”.

Rasulullah kemudian melaksanakan shalat jenazahnya dan berkata, “Saya melihatnya berada di dalam surga karena kotoran yang dia bersihkan dari masjid” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Kabir, no. 11442 dengan sanad Hasan).

Hadis tersebut menjadi landasan moral bagi umat Islam bahwa menjaga kebersihan masjid adalah tindakan yang memiliki nilai spiritual tinggi.

Mengambil inspirasi dari hadis tersebut, Pemuda Hidayatullah Papua Barat menggulirkan program Bersih-Bersih Masjid (BBM) atau yang mereka sebut dengan istilah Mosque Clean & Clear.

Kegiatan BBM ini menjadi semakin relevan seperti menjelang bulan Ramadhan saat ini, di mana masjid akan menjadi pusat kegiatan keagamaan, mulai dari buka puasa bersama hingga shalat tarawih.

Program ini menyasar beberapa masjid di sekitar Pesantren Hidayatullah dengan partisipasi aktif para pemuda yang telah dibagi dalam beberapa tim. Para peserta membersihkan area masjid secara menyeluruh, termasuk lantai, dinding, tempat wudhu, dan fasilitas MCK.

Selain itu, mereka juga membersihkan serta menjemur karpet, menyediakan tempat sampah, merapikan tempat sandal, dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar masjid.

Tujuan Program BBM

Dalam kehidupan sosial keagamaan, masjid bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat aktivitas keislaman yang mencerminkan nilai kebersihan dan ketertiban.

Program BBM hadir sebagai inisiatif strategis yang bertujuan untuk menjaga kebersihan masjid, meningkatkan kenyamanan jamaah, serta menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya lingkungan ibadah yang sehat.

Lebih dari sekadar kegiatan fisik, program ini juga sebagai alamat semangat gotong royong dan tanggung jawab sosial dalam merawat simbol spiritual umat Islam. Berikut ini beberapa tujuan utama dari program BBM.

1. Menjaga Kenyamanan Ibadah di Bulan Ramadhan

Ibadah Ramadhan memerlukan suasana yang kondusif, salah satunya dengan lingkungan masjid yang bersih dan nyaman. Jamaah akan lebih tenang dan khusyuk dalam beribadah jika masjid dalam keadaan bersih dan suci. Lingkungan yang bersih juga mendorong jamaah untuk lebih betah berlama-lama dalam masjid, meningkatkan semangat ibadah.

2. Kebersihan adalah Bagian dari Iman

Islam menekankan pentingnya kebersihan sebagai bagian dari keimanan. Banyak ibadah yang mengharuskan tempatnya suci, seperti shalat. Jika tempat shalat tidak bersih dari najis, maka ibadah tersebut menjadi tidak sah. Oleh karena itu, menjaga kebersihan masjid tidak hanya berdampak pada estetika, tetapi juga pada keabsahan ibadah para jamaah. Selain itu, mereka yang berkontribusi dalam menjaga kebersihan masjid akan memperoleh pahala amal jariyah.

3. Hidupkan Kesadaran Pemuda

Hadis menyebutkan bahwa salah satu orang yang mendapatkan perlindungan Allah pada hari kiamat adalah pemuda yang hatinya bergantung pada masjid. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya membina pemuda agar memiliki rasa cinta terhadap masjid. Dengan berpartisipasi dalam program ini, para pemuda tidak hanya menjaga kebersihan, tetapi juga membangun keterikatan emosional dengan masjid.

4. Membangun Semangat Gotong Royong

Program ini juga bertujuan untuk menumbuhkan semangat gotong royong dan mempererat hubungan sosial antara pemuda dan masyarakat sekitar masjid. Kegiatan ini menjadi wadah bagi pemuda untuk saling bekerja sama dalam kebaikan dan membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan masjid.

Selain program BBM, Pemuda Hidayatullah Papua Barat juga menjalankan Leadership Training Centre (LTC). Program ini dirancang untuk mencetak pemimpin muda yang memiliki wawasan keislaman dan keterampilan kepemimpinan.

Instruktur utama dalam program LTC perdana di Papua Barat langsung oleh Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah, Imam Nawawi, yang dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Papua Barat, Mohamad Lakotani, Ahad, 23 Rabiul Akhir 1443 (28/11/2021).

Materi yang diajarkan dalam LTC terdiri dari lima pokok bahasan utama: (1) Literasi dan Kekuatan Syahadat, (2) Filsafat Dasar dan Hakikat Hidup, (3) Ideologi Gerakan Hidayatullah dan GNH, (4) Nilai Dasar dan Sejarah Gerakan Organisasi Kepemudaan, serta (5) Manajemen Diri, Aksi, dan Konflik.

Pada kesempatan lain, tepatnya selama 2 hari pada tanggal 27-28 Januari 2022, mereka juga menggelar pelatihan baca Al Quran bersanad yang merupakan bagian dari derivasi program nasional Lembaga Pendidikan Qur’an (LPQ) Pemuda Hidayatullah dengan menghadirkan narasumber utama ulama Ust. H. Muzhirul Haq, Lc, dari Akademi Beena Ulama Internasional Turki yang juga Ketua Departemen Dakwah Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah kala itu.

Pada momen LTC berikutnya, Pemuda Hidayatullah juga pernah menghadirkan Ketua Umum Rasfiuddin sebagai instruktur bersama Nasirudin Albani dan Burhanuddin Ibnu.

Tujuan utama dari program LTC ini adalah membekali generasi muda dengan nilai-nilai Islam serta keterampilan kepemimpinan yang kelak akan berguna dalam membangun peradaban.

Dengan pemahaman yang kuat terhadap agama dan kepemimpinan, diharapkan para pemuda dapat berkontribusi secara positif bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Program ketiga yang dijalankan oleh Pemuda Hidayatullah Papua Barat adalah dakwah ke daerah pedalaman. Papua Barat memiliki tantangan dakwah tersendiri, mengingat wilayahnya yang terdiri dari pulau-pulau serta akses transportasi yang terbatas.

Diharap Terus Melejit

Kini, di bawah kepemimpinan inti Ketua Wahyudin, S.E., S.Pd, dibantu Sekretaris Nasirudin Albani, S.Pd, dan dan Bendahara Taufiq Kamil, Pemuda Hidayatullah Papua Barat periode 2023-2026 diharapkan terus melejit dan tak henti melangitkan harapan besar untuk kebaikan umat ini dengan munajat yang tak henti.

Perbedaan kultur dan tradisi menjadi tantangan tersendiri dalam menyampaikan pesan Islam kepada masyarakat. Namun, semua kendala ini tidak menyurutkan langkah para pemuda untuk terus berdakwah dan mengenalkan Islam kepada masyarakat pedalaman.

Dakwah di daerah terpencil tidak hanya bertujuan untuk mengajarkan shalat, tauhid, dan membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadi bagian dari napak tilas perjalanan dakwah para pendahulu Hidayatullah yang telah berbuat dalam menyebarkan Islam di tanah Papua.

Mereka menghadapi tantangan yang lebih besar dengan keterbatasan alat transportasi dan perbekalan, namun tetap berjuang demi syiar Islam. Hal ini menjadi motivasi bagi para pemuda untuk meneruskan jejak perjuangan tersebut.

Dengan beragam program yang dicanangkan dan telah dijalankan itu, menunjukkan bahwa Pemuda Hidayatullah Papua Barat terus bergerak mendenyuti kehidupan dalam menjaga dan memajukan kehidupan keagamaan di tengah masyarakat.

Dengan menanamkan kesadaran akan kebersihan, kepemimpinan, dan tanggung jawab dakwah, generasi muda tidak hanya menjadi pewaris, tetapi juga penggerak dalam membangun masa depan yang lebih baik.

Sebagaimana pesan tersirat dalam hadis Nabi di awal, bahwa menjaga kebersihan masjid bukan hanya sekadar tugas fisik, tetapi juga merupakan investasi moral dan spiritual yang akan membawa manfaat jangka panjang bagi umat.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, M.Pd.I, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah. Ditulis sebagai tajuk “Laporan Perjalanan” di sela sela kunjungannya ke Papua beberapa waktu lalu.

Halaqah sebagai Sarana Membangun Kekuatan Spritual

0

DALAM realitas sosial keagamaan di Indonesia, identitas keislaman suatu kelompok sering kali ditandai oleh praktik ibadah yang khas dan konsisten. Hidayatullah, sebagai salah satu organisasi Islam yang aktif dalam pembinaan kader dan dakwah, memiliki ciri khas tersendiri yang membedakan santrinya dari komunitas lain.

Beberapa penilaian masyarakat terkait kader Hidayatullah mencerminkan adanya pembentukan karakter spiritual yang kuat. Santri Hidayatullah dikenal dengan kebiasaan ibadah yang intens, seperti shalat sunnah yang lama, dahi yang hitam karena sujud, serta konsistensi dalam berjamaah dan shalat lail.

Karakteristik ini bukan sekadar fenomena sosial, tetapi merupakan hasil dari sistem tarbiyah yang ketat dan sistematis. Sejak era perintisan,1980-an hingga 1990-an, kaderisasi Hidayatullah difokuskan pada pembentukan spiritualitas yang tinggi melalui berbagai metode.

Adanya “keanehan” atau perbedaan mereka dalam praktik ibadah bukanlah suatu kekurangan, tetapi justru menjadi daya tarik tersendiri karena mereka mampu menampilkan ketaatan syariat yang mengundang kekaguman.

Namun, mempertahankan serta menerapkan sistem tarbiyah ruhiyah dalam menghadapi tantangan zaman bukanlah hal yang mudah. Perubahan sosial, budaya, dan teknologi telah memberikan dinamika tersendiri dalam pola pembinaan kader.

Oleh karena itu, pendekatan yang lebih adaptif dan strategis diperlukan untuk memastikan generasi mendatang tetap memiliki militansi dalam mengemban amanah dakwah.

Lima Pilar Tarbiyah Ruhiyah

Dalam tulisan sebelumnya, penulis paparkan minimal lima hal yang menempa kader Hidayatullah dalam menumbuhkan kekuatan spritual agar lahir generasi yang militan dalam perjuangan Islam dapat terbentuk. Yaitu dengan injeksi tarbiyah ruhiyah, keteladanan, pembentukan kultur ibadah, fungsionalisasi kepemimpinan dalam ibadah, dan pemberian tantangan berat.

Kini, tantangan kita adalah bagaimana menerapkan metode ini lebih baik dalam menyiapkan generasi mendatang. Yaitu generasi yang berpegang teguh pada nilai-nilai tauhid dan memiliki militansi dalam mengemban amanah dakwah.

Penamaan generasi Z (Gen-Z) atau nama-nama yang lain dengan beberapa karakter yang menyertainya, seolah menjadi pembenaran kalau mereka sulit untuk dibina apalagi masalah agama. Padahal karakter dasar manusia dari dulu hingga sekarang tetap sama sebagai ciptaan Allah yang visi diciptakannya untuk menyembah kepada Allah.

Penulis dalam tulisan ini menggabungkan lima tahapan tadi untuk memompa kekuatan spritual dalam tarbiyah ruhiyah.

Sebenarnya, tantangan dakwah dan tarbiyah sejak dulu hingga kapanpun selalu menghadang dengan berbagai bentuknya. Bukan berarti, dulu belum ada teknologi secanggih sekarang sehingga mudah mempengaruhi dan mengajak orang untuk beribadah.

Sejarah membuktikan bahwa, dakwah dulu juga berat dan terjadi banyak penolakan juga saat itu, bahkan dimusuhi orang mereka yang menolak dakwah.

Demikian juga sekarang, bisa jadi dengan kecanggihan teknologi menjadi mudah atau berat. Mudah saat teknologi dijadikan sarana untuk mempengaruhi orang tertarik, terinspirasi dan termotivasi beribadah. Lewat video pendek, flyer dan quote kreatif, penyampaian pesan yang menyentuh dengan artificial intelligence (AI).

Teknologi bisa menjadi tantangan berat, jika larut dan kecanduan sehingga menjadi penghalang orang mendapatkan nasehat kebaikan. Ketika teknologi dijauhkan dari nilai-nilai agama maka ibadah semakin berat dilaksanakan.

Teknologi adalah alat dan alat selalu bermata dua. Bisa untuk kebaikan juga bisa kejelekan, tergantung siapa yang menguasai dan tujuan penguasaan alat tersebut. Seperti pisau yang berbahaya jika dipegang anak kecil, namun sangat penting bagi penjual daging.

Pendidikan formal di sekolah harus menjadikan ibadah sebagai kurikulum, seperti ada sekolah yang keunggulannya ‘Sekolah Berbasis Sholat.” Artinya pembelajaran shalat menjadi prioritas dari A hingga Z, anak-anak bukan hanya paham dan bisa shalat tapi shalat tumbuh menjadi kebiasaan atau habit.

Visi sekolah seharusnya selaras dengan visi diciptakannya manusia untuk untuk menyembah atau beribadah kepada Allah. Sekolah harus mengantar peserta didik dengan berbagai materi pembelajarannya untuk mengenal Allah dan mentaati-Nya. Ilmu bukan menjauhkan dengan agama tapi mendekatkan kepada pemberi ilmu.

Injeksi tarbiyah ruhiyah di keluarga juga harus menjadi perhatian orang tua. Tidak bisa menyerahkan kepada ‘lembaga’ atau sekolah dengan guru-gurunya. Anak adalah darah daging dari orang tuanya dan pertanggung jawabannya di pundak orang tuanya.

Tarbiyah ruhiyah ini memerlukan role model yang riil yaitu orang tua yang 80 % menyertai anak-anaknya. Kehidupan di rumah tangga sangat berpengaruh terhadap tumbuh berkembangnya ruhiyah anggota keluarga.

Tarbiyah ruhiyah juga memerlukan pilot proyek sebuah komunitas atau jamaah. Hidayatullah membuat kampus-kampus adalah sebagai peraga untuk melaksanakan ibadah dengan mudah dan terpimpin.

Inilah praktik dakwah bil haal yang langsung bisa dilihat, diikuti oleh semua anak-anak, jamaah dan siapa saja yang hadir di komunitas kampus Hidayatullah.

Pembentukan kultur ibadah tidak bisa dilakukan sendirian tapi harus melalui komunitas atau jamaah. Hal itu juga harus dilakukan dengan kesepakatan dan sebuah kepemimpinan yang ditaati. Pemimpin berkewajiban dan berhak untuk menegur bahkan menghukum kepada anggota yang tidak mentaati dalam pelaksanaan ibadah yang lalai.

Peran murabbi yang diharapkan mengambil alih untuk kontrol terhadap pelaksanaan ibadah mutarabbinya. Sebab jumlah anggota semakin banyak dan tersebar di mana-mana yang tidak dimungkin oleh satu orang pemimpin. Murabbi adalah wakil dari pemimpin dalam aspek spritual, mental dan moral.

Hadirnya murabbi dalam halaqah adalah bentuk inovasi kreatifitas untuk melakukan kontrol spritual anggota dan kader Hidayatullah.

Fungsi halaqah adalah untuk meng-update dan upgrade spritual anggotanya dengan senantiasa memantau pelaksanaan nawafilnya. Tanggung jawab seluruh murabbi kepada mutorabbi-nya adalah transformasi jatidiri melalui kegiatan halaqah.

Halaqah juga membangun kekuatan spiritual melalui kontrol kegiatan ibadah nawafil dan mewariskan kultur berjamaah melalui kehidupan sosial bermasyarakat.

Halaqah Adalah Kebutuhan

Halaqah adalah alamat kepemimpinan terkecil. Jika belum punya halaqah berarti belum punya alamat untuk berjamaah, dipimpin, dan dikontrol perkembangan spritualnya. Artinya, halaqah adalah kebutuhan bagi orang-orang yang rindu untuk upgrade dan mengaktualisasikan spritualitasnya bersama murabbi.

Namun terkadang murabbi masih ada yang bermasalah dengan dirinya karena tidak percaya diri atau belum menjalankan tupoksinya dengan konsisten. Sebagian segan menegur mutarabbinya karena khawatir mengganggu keikhlasan ibadahnya. Atau terlalu percaya dengan anggotanya sehingga tidak pernah memantau atau sekedar bertanya ibadah yang telah dilakukan.

PR lain yang harus diselesaikan adalah untuk menjadikan kegiatan halaqah itu keren, menarik, dan penting agar tidak anggapan bahwa materi dan metode halaqah hanya untuk konsumsi orang-orang tua.

Halaqah harus dikemas dengan inovatif agar tidak dianggap monoton atau hanya konsumsi kalangan tertentu. Jika halaqah mampu menghadirkan diskusi yang menarik, inspiratif, dan relevan, maka akan muncul rasa menyesal bagi mereka yang tidak hadir.

Pemberian tantangan berat sebagai salah satu metode penumbuhan spritual, sebagaimana sering disampaikan bahwa penugasan adalah perkaderan terbaik. Sebab saat tugas dengan tantangan yang berat, maka segala potensi seorang kader akan dikerahkan. Termasuk potensi spritual untuk menyedot kekuatan ruhiyah, mendapatkan pertolongan Allah.

Titik lemah sebagian generasi muda yang kuat, semangat, cerdas dan energik adalah abai, lalai, atau kurang memperhatikan pelaksanaan ibadah. Mungkin bukan karena kurang paham atau tidak cinta ibadah tapi merasa belum membutuhkan pertolongan dan kedekatan kepada Allah.

Mereka masih di zona aman dengan kesehatan, kecerdasan, keilmuan dan minim tantangan yang dihadapinya. Perlu diperhadapkan dengan tugas yang menantang, sehingga potensinya bisa tersalurkan dengan baik.

Terkadang ada yang nyaman di zona yang tidak aman. Padahal berada dalam kondisi tidak nyaman tapi merasa aman. Mereka ‘malas’ untuk berubah dan menganggap bahwa berjuang memang harus menderita dan kekurangan. Mereka menikmati tidak berdayaannya, kurang inspirasi dan motivasi untuk bisa berkarya lebih baik karena merasa tidak mampu.

Ketika berada di zona aman maka beribadah bukanlah sesuatu yang menarik. Karena tidak ada yang harus dimintakan pertolongan kepada Allah, tidak ada yang harus dimunajatkan di waktu-waktu mustajab. Tidak ada keadaan yang memaksanya untuk menengadahkan tangan dan terisak menangis dalam sujud shalatnya.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Upaya Bersama Tanamkan Nilai Islam Sejak Dini di Darul Qur’an Wal Huffadz

0

NUNUKAN (Hidayatullah.or.id) — Di sebuah sudut perbatasan negeri, harapan tumbuh dari lembaran-lembaran Al-Qur’an. Sejumlah mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Ibnu Khaldun Nunukan, bersama dengan Baitul Maal Hidayatullah (BMH), mengulurkan tangan bagi generasi muda.

Puluhan santri kecil di TPQ Darul Qur’an Wal Huffadz kini dapat belajar dengan lebih semangat, menyusul bantuan mushaf Al-Qur’an dan Iqra yang mereka terima pada, Ahad, 10 Syaban 1446 (9/2/2025).

Di tengah keterbatasan fasilitas pendidikan, kehadiran kitab suci tersebut bukan sekadar bantuan material, tetapi juga energi baru yang menyalakan semangat belajar santri-santri kecil. Tidak ada yang lebih menyentuh hati daripada melihat kilauan kebahagiaan di wajah mereka saat menerima Al-Qur’an baru.

TPQ Darul Qur’an Wal Huffadz, yang berlokasi di Jalan Iskandar Muda RT 30 Nunukan Barat, selama ini menghadapi berbagai tantangan. Minimnya fasilitas kerap menjadi penghalang bagi proses belajar-mengajar. Namun, di balik segala keterbatasan, semangat para santri dan dedikasi para pengajar tetap membara.

“Alhamdulillah, anak-anak tampak sangat bersemangat dalam belajar Al-Qur’an selama ini. Apalagi ketika mereka tahu dibawakan Al-Qur’an dan Iqra baru,” ujar Bambang Susilo, salah satu mahasiswa STIT Ibnu Khaldun Nunukan yang turut serta dalam kegiatan ini. Dengan nada penuh syukur, ia mengungkapkan bahwa bantuan ini adalah anugerah besar bagi TPQ tersebut.

Namun, bagi para pengajar—yang juga mahasiswa STIT Ibnu Khaldun—aktivitas ini bukan hanya sekadar rutinitas akademik. Ini adalah bentuk kepedulian dan panggilan hati untuk menanamkan nilai-nilai keislaman sejak dini kepada generasi muda.

Mereka meyakini bahwa masa depan umat sangat bergantung pada bagaimana nilai-nilai Islam ditanamkan sejak dini. Meskipun tantangan selalu ada, semangat untuk mencerdaskan generasi penerus tidak boleh surut.

“Terima kasih banyak kepada BMH dan para donatur. Semoga pahala kebaikan ini terus mengalir melalui manfaat yang diberikan,” tambah Bambang.

Sementara itu, Kadiv Prodaya BMH Kaltara, M. Noer Komara, menegaskan bahwa program penyaluran Al-Qur’an ini adalah bagian dari komitmen BMH dalam mendukung lembaga-lembaga keislaman di daerah pedalaman.

“Masih banyak pesantren, TPQ, masjid, musholla, dan majelis ta’lim yang membutuhkan Al-Qur’an dan Iqra. Kami akan terus berupaya memenuhi kebutuhan ini,” ungkapnya dengan nada penuh tekad.

Lebih dari sekadar buku, Al-Qur’an dan Iqra yang disalurkan menjadi simbol cahaya ilmu yang akan menerangi hati dan pikiran anak-anak pelosok. Di setiap ayat yang mereka baca, tertanam harapan untuk menciptakan generasi yang kuat dalam keimanan dan kecintaan terhadap ilmu agama.

“Semoga langkah kecil ini menginspirasi lebih banyak pihak—mahasiswa, profesional, maupun pecinta dunia filantropi—untuk turut berkontribusi,” lanjut Komara.

Pada hakikatnya, menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini adalah investasi paling berharga bagi masa depan. Pendidikan agama bukan hanya tanggung jawab institusi formal, tetapi juga tugas bersama sebagai umat Islam.

Dari sudut perbatasan negeri, kata Komara, harapan terus menyala. Lembaran-lembaran Al-Qur’an yang kini berada di tangan para santri bukan hanya teks suci, melainkan pijakan bagi lahirnya generasi muslim yang berkarakter, cerdas, dan berakhlak mulia.

Karena itu, sudah saatnya semua elemen masyarakat bersatu dalam gerakan menebar cahaya Al-Qur’an. “Mari bersama-sama menebar cahaya Al-Qur’an ke seluruh penjuru negeri,” pungkas Komara.*/Herim

FOZ Jateng dan BMH Perkuat Kolaborasi untuk Kemandirian Ekonomi Mustahik

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Baru-baru ini Forum Zakat (FOZ) Jawa Tengah melaporkan kinerja tahun 2024 dalam sebuah pertemuan yang berlangsung di kantor Baznas Provinsi Jawa Tengah, Jalan Taman Menteri Supeno, Mugassari, Semarang Selatan, ditulis Senin, 11 Syaban 1446 (10/2/2025).

Acara ini dihadiri oleh 37 anggota FOZ Jateng, yang tidak hanya memperkuat silaturahmi, tetapi juga menunjukkan komitmen transparansi dalam pelaporan program dan capaian selama setahun terakhir.

Ketua Baznas Provinsi Jawa Tengah, Dr. KH. Ahmad Darodji, M.Si., memberikan apresiasi tinggi atas peran FOZ Jateng dalam menjembatani kolaborasi antara BAZNAS dan Lembaga Amil Zakat (LAZ).

“Sinergi yang dibangun FOZ Jateng sangat berkontribusi dalam optimalisasi penyaluran dana zakat. Hal ini terlihat nyata dalam program pelatihan kerja dan pemberian bantuan modal bagi mustahik, yang bertujuan meningkatkan kemandirian ekonomi mereka,” ujarnya dengan nada penuh haru.

Dalam kesempatan yang sama, Baitul Maal Hidayatullah (BMH) juga melaporkan kinerja tahun 2024 sebagai salah satu Laznas aktif di Jawa Tengah.

Sekretaris Lembaga BMH Perwakilan Jawa Tengah, Aminullah, menegaskan komitmennya untuk menjaga transparansi dan amanah umat dalam pengelolaan dana zakat, infak, serta sedekah.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap rupiah yang terkumpul benar-benar sampai kepada mustahik dengan cara yang tepat dan bermanfaat,” ungkap Amin, sapaan akrabnya.

Ia juga menambahkan bahwa BMH akan terus berinovasi dalam menciptakan program-program pemberdayaan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Acara ini kata dia menjadi momentum penting bagi semua pihak dalam merancang langkah strategis ke depan dengan terus menguatkan sinergi antarlembaga dalam rangka meningkatkan dampak positif bagi mustahik di Jawa Tengah.*/Herim

Peletakan Batu Pertama Asrama Santri Pondok Pesantren Hidayatullah Olor Agung

0

LOMBOK TENGAH (Hidayatullah.or.id) — Pagi itu, langit cerah menaungi Pondok Pesantren Hidayatullah Olor Agung, yang terletak di Desa Labulia, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah.

Hari itu menjadi momentum istimewa bagi seluruh santri dan pengurus pesantren. Tanggal 9 Syaban 1446 H atau bertepatan dengan 8 Februari 2025 menjadi saksi sebuah langkah besar dalam pengembangan pendidikan Islam di daerah tersebut: peletakan batu pertama pembangunan asrama santri.

Suasana di sekitar lokasi dipenuhi kebahagiaan dan harapan. Para santri dan asatiz berkumpul, menyaksikan peristiwa yang telah lama dinanti. Dengan penuh khidmat, Ustadz Muslihudin Mustaqim, Ketua DPW Hidayatullah NTB, meletakkan batu pertama. Tindakannya itu menjadi simbol pembangunan fisik dan cerminan dari komitmen kuat dalam menyiapkan generasi Islam yang lebih baik.

Sejumlah dai dan pengurus Hidayatullah dari berbagai penjuru Pulau Lombok turut hadir, memberikan dukungan moral dan spiritual atas pembangunan ini.

Dalam sambutannya, Mudhir Pondok Pesantren Hidayatullah Olor Agung, Ustadz Zulkipli, menegaskan pentingnya keberadaan asrama ini. “Asrama ini adalah jawaban atas doa kami semua. Tempat yang akan menumbuhkan semangat belajar dan pengabdian para santri,” ungkapnya penuh harap.

Dengan fasilitas yang lebih memadai, mereka dapat lebih fokus dalam menuntut ilmu tanpa harus menghadapi kendala ruang dan kenyamanan. Ini menjadi langkah strategis dalam mendukung proses pendidikan yang lebih kondusif di pondok pesantren.

Ustadz Zulkipli juga berharap agar pembangunan ini dapat berjalan lancar dan selesai sesuai target. “Semoga tempat ini menjadi rumah kedua bagi para santri, tempat mereka belajar, berbagi, dan merajut impian besar untuk agama dan bangsa,” tuturnya.

Asrama ini diharapkan mampu mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia serta jiwa kepemimpinan yang kuat.

Pembangunan asrama santri ini merupakan bagian dari program yang dijalankan oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH), lembaga yang berkomitmen untuk mendukung pendidikan Islam dengan menyediakan fasilitas yang layak bagi para santri.

Program ini bertujuan memberikan kenyamanan bagi santri dalam belajar dan beraktivitas sehingga mereka bisa mengoptimalkan potensi diri tanpa hambatan sarana dan prasarana.

Dengan dimulainya pembangunan ini, harapan besar terpancang. Selain menjadi tempat beristirahat, asrama ini nantinya sebagai ruang tumbuhnya para calon pemimpin masa depan.

“Para santri dididik untuk menjadi pribadi yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki wawasan luas untuk membawa perubahan positif bagi umat dan bangsa. Sebuah langkah nyata untuk membangun generasi berkarakter, berilmu, dan siap mengemban amanah besar di masa mendatang,” tandas Zulkipli.*/Herim