Beranda blog Halaman 127

Ustadz Asih Subagyo, Sosok Peduli dan Penuh Asih itu Berpulang

0

INNAA lillahi wa inna ilaihi raji’un. Pada Selasa, 16 Jumadil Akhir 1446 atau 17 Desember 2024, keluarga besar Hidayatullah, kehilangan salah seorang kader terbaiknya. Ustadz Asih Subagyo bin Harjanto, seorang pejuang, guru, dan inspirator, dipanggil ke hadirat Allah SWT pada pukul 04.03 pagi di Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta.

Kepergian beliau membawa duka mendalam bagi semua yang pernah mengenalnya. Menurut sang istri, Dede Agustina, beliau wafat setelah menunaikan shalat tahajjud. Dalam suasana tenang sambil berbaring, Allah memanggilnya dengan cara yang begitu indah.

“Ustadz Asih baru selesai shalat lail, Allah panggil,” tutur sang istri, mengenang momen terakhir suaminya dengan haru.

Sosok Ustadz Asih bukanlah nama asing bagi mereka yang pernah berinteraksi dengannya. Kehangatan pribadinya menyentuh hati siapa pun. Seperti namanya, beliau adalah pribadi yang tulus, ramah, peduli, dan rendah hati, tanpa memandang usia atau status.

Baik anak-anak, pemuda, maupun orang tua merasa nyaman dalam pelukan kasih sayang dan perhatian beliau. Sosok beliau memancarkan keteladanan—membuat setiap percakapan menjadi bermakna, setiap pertemuan menjadi penuh inspirasi.

Pemikir dan Praktisi

Sebagai seorang pemikir dan praktisi, wawasan Ustadz Asih tak pernah berhenti mengalir. Diskusi dengannya adalah pengalaman yang selalu membuka pandangan baru. Gagasannya yang luas dan mendalam mampu menghidupkan setiap topik, bahkan dalam perbedaan pendapat sekalipun.

“Kalau sudah ngobrol, tidak bisa sebentar,” ujar seorang sahabatnya, Arfan, menggambarkan bagaimana setiap percakapan dengan beliau begitu menyenangkan dan berkesan.

Kiprah almarhum dalam organisasi Hidayatullah juga menjadi bukti dedikasi yang tiada henti. Sebagai Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi (PPO) DPP Hidayatullah, ia membawa visi besar untuk membangun masa depan organisasi.

Tak hanya ahli di bidang IT—dengan inovasinya, seperti menginisasi Sistahid (Sistem Pendataan Hidayatullah)—beliau juga piawai dalam bidang ekonomi dan organisasi. Bahkan, di tengah ujian sakitnya yang panjang, semangatnya tetap membara, menghasilkan karya tulis yang menginspirasi banyak kader.

Sebagai seorang sahabat, Ustadz Asih memiliki jaringan pertemanan yang begitu luas, lintas profesi dan usia. Kepribadian beliau yang humoris dan humanis selalu mencairkan suasana. Bahkan dalam masa sakit, beliau tetap menjadi sumber kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya.

Di tengah keluarganya, Ustadz Asih adalah seorang suami yang penyayang dan ayah yang penuh kasih. Beliau meninggalkan seorang istri dan lima putra-putri yang saat ini sedang menuntut ilmu di berbagai tempat, termasuk Mesir, Yogyakarta, dan Malang.

Kehilangan ini tak hanya dirasakan oleh keluarga, tapi juga oleh teman, sahabat, dan semua yang pernah bersentuhan dengan ketulusan dan keteladanan beliau.

Warisan yang Abadi

Warisan Ustadz Asih bukan hanya dalam bentuk gagasan dan karya tulis, tetapi juga dalam jejak-jejak pengabdian yang tak tergantikan. Buku-bukunya menjadi cermin dari pemikiran yang selalu optimis dan progresif.

Sementara kontribusinya dalam tim penulisan Grand Desain Hidayatullah untuk 50 tahun ke depan menunjukkan visinya yang jauh melampaui zamannya. Kehadiran beliau telah menghidupkan banyak program dan kegiatan, serta menginspirasi banyak kader untuk terus berjuang di jalan dakwah.

Namun, di balik dedikasi yang luar biasa, beliau juga manusia biasa yang menanggung ujian berat. Selama delapan tahun terakhir, Ustadz Asih menghadapi penyakitnya dengan sabar, tetap menjalankan tugas-tugas organisasi meski harus keluar masuk rumah sakit. Keteguhan hatinya menjadi pelajaran berharga bagi semua.

Kini, Ustadz Asih telah kembali ke hadirat Allah SWT. Kami memohon kepada Allah agar mengampuni dosa-dosanya, menerima amal ibadahnya, dan menempatkannya di surga-Nya yang tertinggi.

Sosoknya mungkin telah tiada, tetapi keteladanan dan inspirasi yang ditinggalkannya akan terus hidup dalam hati dan pikiran kita semua.

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan ketabahan. Dan semoga kita semua dapat melanjutkan perjuangan dan semangat yang telah beliau tanamkan. Selamat jalan, Ustadz Asih Subagyo. Kehadiranmu adalah berkah, dan kepergianmu adalah pelajaran berharga bagi kami semua.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

SAR Hidayatullah Peserta Latihan Gabungan Heli Rescue Basarnas Timika

0

TIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Ketua SAR Hidayatullah Wilayah Papua, Abdul Syakir, S.Pd.I mengutus anggotanya, Sapriadi, SE, menjadi peserta kegiatan Latihan SAR Gabungan Heli Rescue yang digelar oleh Kantor Badan Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas) Timika yang dibuka pada Senin, 14 Jumadil Akhir 1446 (16/12/2024).

Kantor Basarnas Timika kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat kesiapsiagaan tim penyelamat melalui kegiatan latihan gabungan Heli Rescue dengan melibatkan potensi dari komunitas termasuk SAR Hidayatullah.

Program ini dirancang untuk membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan guna menghadapi berbagai situasi darurat yang melibatkan helikopter sebagai sarana evakuasi utama.

Sesi pelatihan diawali dengan materi kelas yang memberikan landasan teori terkait aspek keselamatan dalam bekerja di lingkungan helikopter. Peserta diberikan pemahaman mendalam mengenai prosedur keselamatan, teknik komunikasi efektif dalam operasi berbasis heli, serta kemampuan marsheling, yaitu panduan pergerakan helikopter di darat.

Pengetahuan ini menjadi krusial untuk memastikan koordinasi yang optimal dan mengurangi risiko kecelakaan selama operasi berlangsung.

Selanjutnya, latihan gabungan ini praktik di lapangan, yang melibatkan penggunaan fasilitas tower Kantor SAR Timika. Peserta mempraktikkan teknik heli rapeling, yaitu metode turun dari helikopter menggunakan tali untuk mencapai medan yang sulit dijangkau.

Selain itu, sesi familiarisasi heli memberikan kesempatan bagi peserta untuk memahami karakteristik helikopter secara langsung, mulai dari fitur teknis hingga prosedur kerja saat melakukan evakuasi.

Latihan ini juga mencakup praktik double line rapeling dan sistem evakuasi udara berbasis hoisting. Kedua metode ini dirancang untuk memastikan penyelamatan dapat dilakukan secara aman, efisien, dan adaptif terhadap kondisi lapangan yang menantang, seperti medan pegunungan atau wilayah terpencil.

Dengan mengintegrasikan teori dan praktik, kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kompetensi teknis para peserta, tetapi juga memperkuat sinergi antara tim penyelamat dalam operasi gabungan.

Pelatihan ini menegaskan pentingnya kesiapan menghadapi situasi darurat melalui kolaborasi, keterampilan, dan teknologi terkini, demi memberikan layanan penyelamatan yang cepat dan andal kepada masyarakat. (ybh/hidayatullah.or.id)

BKPTQ Hidayatullah Gelar Sosialisasi Barnamaj Isnad dan Sertifikasi Guru Al Qur’an

0

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Badan Koordinasi Pembinaan Tilawatil Qur’an (BKPTQ) Hidayatullah menyelenggarakan acara sosialisasi bertema “Menjaring Kader Musnid Melestarikan Sanad Al-Qur’an” di Kampus Utama Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur, Ahad, 13 Jumadil Akhir 1446 (15/12/2024).

Acara ini, yang menjadi bagian dari program sosialisasi Barnamaj Isnad dan sertifikasi guru Al-Qur’an, dihadiri oleh puluhan peserta termasuk 17 mahasiswa utusan Markazul Qur’an Wal Lughah (MQL) Semester V Program Takhasus Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman (STAIL) Luqman Al Hakim, Kampus Utama Hidayatullah Surabaya.

Acara ini menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Ust. H. Zainun Nasich, Ketua Departemen Pengembangan Metode Pengajaran Tilawatil Qur’an BKPTQ Hidayatullah, dan Ust. Muhdi Muhammad, Koordinator Musyrif GranD MBA.

Keduanya memberikan pengantar sekaligus arahan tentang pentingnya menjaga sanad keilmuan Al-Qur’an serta standar kompetensi yang harus dimiliki oleh para muallim (guru) Al-Qur’an.

Zainun Nasich mengawali pemaparannya dengan menjelaskan bahwa BKPTQ mendapat amanah langsung dari Pemimpin Umum Hidayatullah untuk menjaga kualitas kemampuan Al-Qur’an para kadernya.

“Pemimpin Umum Hidayatullah mengamanahi BKPTQ untuk menggawangi kualitas kemampuan al-Qur’an setiap kader,” ungkap Nasich.

BKPTQ bertanggung jawab membina dan menstandarisasi muallim, musyrif muallim, muhafidz, serta musnid Al-Qur’an di lingkungan Hidayatullah. Nasich menegaskan bahwa melalui program-program seperti Barnamaj Isnad dan sertifikasi muallim Al-Qur’an, sanad keilmuan Al-Qur’an dapat terjaga dengan baik.

Ia menjelaskan, program Barnamaj Isnad dirancang dengan target spesifik, yaitu mencetak setidaknya satu orang musnid di setiap wilayah. Musnid ini nantinya diharapkan dapat melahirkan kader-kader musnid baru di daerah masing-masing. Dengan demikian, pelestarian sanad Al-Qur’an dapat terus berlanjut dari generasi ke generasi.

Lima Kompetensi Utama

Lebih jauh menurut Nasich, untuk menjadi muallim Al-Qur’an yang terstandardisasi di lingkungan Hidayatullah, seseorang harus memenuhi empat kompetensi utama, yaitu kompetensi bacaan (maharotul qiroah), kompetensi menyimak bacaan (maharotul istima’), kompetensi hafalan (maharotul hifdzi), dan kompetensi mengajar (maharotut tadris).

“Jika muallim sudah tersertifikasi empat maharah tersebut, maka ia dianggap sudah memenuhi kualifikasi sebagai muallim Al-Qur’an yang terstandardisasi,” ujar Nasich.

Selain itu, Nasich menambahkan, bagi pengelola rumah Al-Qur’an (RQH), MQH, TPQ, atau koordinator Al-Qur’an unit pendidikan, ditambahkan satu kompetensi tambahan, yaitu kompetensi administrasi dan tata kelola pembelajaran Al-Qur’an (al-maharotul al-idariyyah).

“Kompetensi administrasi dan tata kelola pembelajaran ini bertujuan agar pengelolaan pembelajaran Al-Qur’an di setiap unit pendidikan lebih terstruktur dan efektif,” kata Nasich menandaskan.

Sementara itu, Muhdi Muhammad menguraikan, bahwa program ini juga bertujuan untuk memberikan standarisasi kepada muallim Al-Qur’an, baik yang menggunakan metode Al-Hidayah maupun GranD MBA, sehingga memiliki metodologi pembelajaran, sistem penilaian, dan pengelolaan yang terstandar.

“Agenda ini merupakan salah satu kegiatan ta’aruf program Barnamaj Isnad yang dirancang oleh tim BKPTQ dalam menjaring calon musnid,” jelas Muhdi Muhammad.

Menurut Muhdi, dengan Grand MBA dan BKPTQ Hidayatullah dengan tegas memikul tanggung jawab besar dalam menjaga tradisi keilmuan Al-Qur’an.

Dengan adanya standarisasi dan sertifikasi bagi para muallim, musyrif, dan musnid, diharapkan akan lahir lebih banyak kader yang memiliki kompetensi tinggi serta kemampuan untuk mengajarkan dan melestarikan Al-Qur’an.

Melalui langkah ini, ia berharap BKPTQ tidak hanya memastikan kualitas pendidikan Al-Qur’an di lingkungan Hidayatullah, tetapi juga memperkuat tradisi sanad sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan keilmuan Islam.

“Program seperti Barnamaj Isnad menjadi upaya sunggug sungguh dari upaya Hidayatullah untuk terus menjaga dan mengembangkan kualitas pendidikan Al-Qur’an,” katanya.

Dengan target yang jelas dan metode yang terstruktur, program ini diharapkan menjadi jalan untuk mencetak generasi Ahlul Qur’an yang berkualitas, berkompeten, dan siap melanjutkan estafet keilmuan di masa depan.

Para peserta yang hadir menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap program ini. Ahmad Abror, mahasiswa semester V Program Takhassus STAIL, menyatakan bahwa program ini sangat penting dan menarik.

“Kami tertantang untuk menjadi bagian dari para musnid kelak,” ujar Abrar penuh semangat.

Abror berharap melalui program ini, mendukung semakin banyak lahirnya generasi baru yang tidak hanya memahami Al-Qur’an secara mendalam, tetapi juga mampu meneruskan tradisi sanad keilmuan yang telah diwariskan oleh para ulama terdahulu. (ybh/hidayatullah.or.id)

Dzikir Pagi sebagai Azimat Perisai Orang Beriman

0

DI TENGAH keramaian masjid, Abu Darda’, sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari kalangan Anshar, duduk dengan ketenangan yang memancar.

Tiba-tiba, seorang laki-laki datang tergesa-gesa, wajahnya cemas dan suaranya gemetar, menyampaikan kabar bahwa rumah Abu Darda’ terbakar.

Tidak sekali, dalam kitab Fi At-Tarbiyah Al-Jihadiyah wal Bina’, disebutkan bahkan orang itu berulang kali datang, membawa berita yang sama. Namun, setiap kali mendengar berita tersebut, Abu Darda’ hanya menjawab dengan tenang dan penuh keyakinan:

“Tidak mungkin rumahku kebakaran.”

Orang tersebut akhirnya meninggalkan Abu Darda’. Tapi, api semakin membesar di daerah tersebut sehingga orang itu kembali ke masjid. “Wahai Abu Darda’, pulanglah! Rumahmu akan kebakaran”.

“Tidak mungkin rumahku kebakaran,” jawab Abu Darda’ dengan tegas dan yakin.

Ketiga kalinya orang itu memberitahukan Abu Darda’, “Api sudah lebih tinggi daripada rumahmu, kamu percaya atau tidak percaya, rumahmu akan kebakaran”.

“Rumahku tidak akan kebakaran,” jawaban yang sama dari Abu Darda’.

Orang itu semakin bingung, apalagi ketika api di daerah sekitar rumah Abu Darda’ semakin membesar. Ia kembali mendesak Abu Darda’ untuk pulang. Namun, jawaban Abu Darda’ tetap sama. Hingga akhirnya orang itu memberanikan diri bertanya:

“Mengapa engkau begitu yakin rumahmu tidak akan kebakaran?”

Abu Darda’ pun menjelaskan, “karena sebelum berangkat meninggalkan rumah, aku membaca: “أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ“, artinya “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang diciptakan-Nya”.

Riwayat yang lain menceritakan bahwa Abu Darda’ tidak percaya pada informasi seorang laki-laki yang menemuinya kalau rumahnya akan terbakar.

Keyakinan Abu Darda’ bukan tanpa dasar. Beliau berpegang teguh pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi:

من قالها أول نهاره لم تصبه مصيبة حتى يمسي ومن قالها اٰخر النهار لم تصبه مصيبة حتى يصبح: اَللّٰهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَاإِلهَ إِلَّا أَنْتَ عَلَيْكَ تَوَكّلْتُ وَأَنْتَ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ مَا شَاءَ اللهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ أَعْلَمُ أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ وَأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا. اللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ وَمِنْ شَرِّ كُلِّ دَابَّةٍ أَنْتَ اٰخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّيْ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ

“Barang siapa membaca (beberapa kalimat doa dan dzikir) di permulaan siang (pagi) maka ia tidak akan tertimpa musibah hingga sore hari. Dan barang siapa membacanya di akhir hari (sore) maka ia tidak akan tertimpa musibah hingga pagi hari. ‘Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, tiada Tuhan melainkan Engkau. Kepada-Mu saya bertawakal. Engkau Tuhan Arsy yang sangat agung. Kalau Engkau berkehendak maka akan terjadi, jikalau tidak, maka tidak akan terjadi. Tiada daya dan kekuatan melainkan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Saya mengetahui bahwa Allah terhadap segala sesuatu itu mampu. Dan Ilmu Allah mencakup segala hal. Ya Allah saya berlindung kepada-Mu dari kejelekan diriku, dan kejelekan seluruh binatang. Engkau yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di jalan yang lurus’,” (HR. Al-Baihaqi dalam ‘Dalail Nubuwwah (7/121) dari jalan Aglab bin Tamim, Ibnu Suni di ‘Amal Yaum Wa Lailah‘, no. 57, dan Ath-Thabrani di ‘Doa’, no. 343))

Ketika Abu Darda’ mengajak orang-orang untuk memeriksa langsung keadaan rumahnya, apa yang mereka saksikan sungguh luar biasa.

Di tengah hamparan puing-puing dan arang bekas kebakaran yang melalap habis seluruh area, rumah Abu Darda’ berdiri tegak. Tidak ada satu pun api yang menjilat dindingnya.

Kendati sanad hadis ini dianggap lemah, peristiwa ini tetap mengandung hikmah yang menjadi pelajaran besar bagi kaum muslimin sebagai bukti bahwa perlindungan Allah sangat nyata bagi hamba-Nya yang berserah diri dan mengamalkan sunnah Rasul-Nya dengan penuh keyakinan.

Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:

وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرً

“Dan barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”(QS. Ath-Thalaq: 3)

Istimewanya Zikir Pagi dan Petang

Allah Ta’ala menyatakan dalam beberapa ayat al-Qur’an tentang perintah dzikir dan berdoa di waktu pagi dan petang. Dua waktu yang istimewa sebagai awal pagi sebelum matahari terbit dan menjelang matahari terbenam. Di antaranya beberapa ayat di bawah ini:

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

“Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu sore dan pagi” (QS. Ghafir: 55)

فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ

“Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya)” (QS. Qaf: 39)

فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ

“Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di sore hari dan waktu kamu berada di waktu pagi hari” (QS. Ar-Rum:17)

Sebenarnya masih banyak ayat lagi, sebagai penegas tentang pentingnya berdzikir, bertasbih, berdoa di waktu pagi dan petang.

Doa-doa yang ada dalam dzikir pagi itu luar biasa dan dahsyat isinya. Sayang sekali, kita sering khilaf dan meremehkannya sehingga jarang atau tidak merutinkan amal ini.

Kita seringkali tidak sadar ada bahaya atau musibah yang mengancam. Padahal Allah telah menyiapkan penangkalnya dengan senantiasa wirid pagi.

Berzikir pagi tidak memerlukan waktu yang lama, sekitar sepuluh hingga lima belas menit. Namun, amalan ini berat bagi yang baru memulai dan belum biasa, tapi ringan bagi yang sudah terbiasa bahkan akan merasa berat untuk meninggalkannya. Karena wirid pagi dan petang sudah menjadi kebutuhannya, sepertinya ada yang kurang jika meninggalkannya.

Nikmatnya sebuah amalan adalah ketika sudah istiqomah menjalankannya dalam waktu yang lama. Di dalam wirid pagi dan petang terdapat rahmat, hidayah, dan perlindungan dari Allah.

Tips dan Penutup

Dalam perjuangan melawan kelemahan diri dan tantangan hidup, istiqamah menjalankan wirid pagi dan sore merupakan kunci kemenangan yang menghadirkan kebahagiaan dan ketenangan.

Sebagai perisai iman dan sumber kekuatan, wirid pagi dan sore adalah azimat yang membutuhkan komitmen dan disiplin. Berikut beberapa tips yang bisa kita terapkan agar kita kian mencintainya.

Pertama, membaca faedah dan keutamaan zikir pagi dan sore dengan membaca buku, mendengarkan tausyiah para ustadz, dan menyerap kisah-kisah orang shaleh yang telah mengamalkan.

Dengan langkah ini bisa muncul pemahaman, kesadaran, dan keyakinan terhadap amalan ini. Selanjutnya termotivasi untuk mengamalkan dengan istiqomah.

Kedua, memahami arti dari dzikir dan doa yang dibaca. Hal ini juga sangat membantu untuk menghayati makna-makna dan maksud dari doa yang dipanjatkan di waktu pagi dan petang. Terasa manfaat dan nyambung dengan kebutuhannya.

Ketiga, menumbuhkan perasaan perlu atau sangat berkepentingan kepada Allah untuk meminta perlindungan. Jika tidak merasa butuh memang tidak tertarik untuk wirid pagi dan petang. Seolah semua berjalan biasa saja dengan menjalani hidup tanpa bergantung kepada Allah.

Padahal, banyak nian ancaman dan berbagai bahaya yang mengancam kehidupan ini, baik secara fisik maupun non fisik yang datangnya bisa saja tidak terduga, tanpa permisi, tak ada kode ataupun sinyal sebelumnya. Wirid pagi dan petang adalah jimat bagi orang-orang beriman.

Keempat, jika belum hafal maka harus menyiapkan buku wirid ataupun aplikasi wirid yang ada di handphone (HP). Perkembangan HP dengan berbagai aplikasi wirid sangat memudahkan untuk wirid.

Kelima, atau terakhir, zikir atau wirid secara bersama-sama seperti dilakukan para santri di pondok pondok pesantren. Hal ini sebagai bentuk tarbiyah atau pembiasaan dari wirid pagi dan petang, tentu dengan pemahaman, pengawasan, dan evaluasi agar menjadi kebiasaan yang konsisten meskipun sedang sendiri.

Istiqamah menjalankan rutinitas zikir pagi dan sore membutuhkan komitmen, disiplin, dan kesadaran akan eksistensi diri kita yang lemah. Mari berusaha menjadikan rutinitas ini sebagai fondasi kekuatan spiritual kita dalam memperkuat iman dan mencapai kebahagiaan sejati.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

PosDai Gulirkan Program Literasi untuk Dukung Pendidikan Anak Muallaf Pedalaman

0
Suasana belajar anak anaka muallaf pedalaman binaan PosDai di Desa Baturube, Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah (Foto: istimewa/ Hidorid)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya meningkatkan akses pendidikan bagi komunitas muallaf di daerah pedalaman, Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) meluncurkan program donasi buku untuk Sekolah Muallaf Pedalaman Suku Wana di Desa Baturube, Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah.

Program ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bacaan bertema pendidikan dasar Islam dan pengetahuan wawasan nusantara, seperti ensiklopedi anak shaleh, pengenalan tauhid, dan ilmu pengetahuan sosial dasar. Gerakan ini juga membantu anak-anak pedalaman mendapatkan materi pendidikan yang selama ini sulit diakses.

Ketua PosDai Pusat, Abdul Muin, menjelaskan, buku-buku ini nantinya tidak hanya menjadi sarana pembelajaran, tetapi juga membuka wawasan dan menguatkan identitas keislaman anak-anak muallaf di pedalaman.

“Insya Allah, pertengahan Desember ini kami akan bertolak ke sana (Bungku Utara) dalam rangka pembinaan dan pembangunan ruang kelas untuk Sekolah Anak Pedalaman,” kata Abdul Muin, seperti dikutip dari laman resmi PosDai, Jum’at, 11 Jumadil Akhir 1446 (13/12/2024).

Program ini, jelas dia, juga akan dikembangkan PosDai ke berbagai titik komunitas muallaf pedalaman lainnya di nusantara seperti di Riau dan Maluku.

Langkah ini, menurut Abdul, adalah bagian dari komitmen PosDai untuk mendukung ata dai mengabdi di pedalaman dalam memajukan pendidikan di wilayah-wilayah terpencil yang seringkali terabaikan.

Diketahui akses pendidikan di pedalaman Indonesia masih menghadapi banyak kendala. Demikian pula angka partisipasi sekolah di daerah terpencil, termasuk di Sulawesi Tengah, lebih rendah dibandingkan wilayah perkotaan.

Kurangnya infrastruktur, seperti ruang kelas yang layak dan akses terhadap materi pembelajaran, juga menjadi salah satu penghambat utama pendidikan di wilayah ini.

Abdul menjelaskan, Suku Wana, salah satu komunitas yang masih hidup secara semi-nomaden, menjadi contoh nyata dari tantangan ini. Banyak anak dari komunitas ini yang harus berjalan jauh untuk mendapatkan pendidikan formal.

Ditambah lagi, minimnya tenaga pengajar dan bahan ajar, terutama buku bertema pendidikan Islam, membuat proses pembelajaran menjadi kurang optimal.

Karena itu, melalui program ini, PosDai berharap dapat membantu meringankan hambatan tersebut.

Abdul mengatakan, buku yang didonasikan tidak hanya berfungsi sebagai sumber belajar, tetapi juga sarana untuk menanamkan nilai-nilai agama dan memperkuat identitas keislaman anak-anak muallaf di pedalaman.

Selain itu, pembangunan ruang kelas baru di Desa Baturube diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif.

“Pendidikan adalah hak setiap anak, tidak peduli seberapa jauh mereka tinggal dari pusat kota. Buku-buku ini adalah jendela menuju dunia yang lebih luas,” tambah Abdul.

Program donasi buku ini diharapkan menjadi langkah awal dari perubahan berarti dalam sistem pendidikan di komunitas muallaf pedalaman.

Dengan akses terhadap bahan bacaan yang memadai dan ruang kelas yang layak, anak-anak Suku Wana di Desa Baturube dapat memiliki kesempatan yang lebih baik untuk meraih masa depan yang cerah.

“Ini adalah bagian dari dakwah kita, membawa cahaya Islam ke setiap sudut negeri,” tutup Abdul. (ybh/hidayatullah.or.id)

Ikhtiar Sinergis Hidayatullah Jakarta Kuatkan Khidmat Majukan Dakwah dan Pendidikan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Daerah Khusus Jakarta (DKJ), Muhammad Isnaeni, menyatakan bahwa pihaknya terus berupaya selalu menguatkan sinergi dengan berbagai elemen umat dalam memajukan dakwah dan pendidikan di kawasan.

Di bidang pendidikan, dia menyebutkan, Pondok Pesantren Tahfidz Global (PPTG) Jayakarta yang berlokasi di Ciracas, Cipayung, Jakarta Timur, kini dalam proses pembangunan dan sudah menerima santri baru untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada tahun ini.

“Santri yang akan diterima berasal dari kalangan yatim dan dhuafa, sehingga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk Baitulmaal Hidayatullah (BMH),” ujar Isnaeni dalam keterangan tertulisnya diterima media ini, Jum’at, 11 Jumadil Akhir 1446 (13/12/2024).

Sementara khidmat di bidang dakwah, terang Isnaeni, Hidayatullah Jakarta memiliki berbagai program strategis seperti Rumah Qur’an (RQ) dan Majelis Al-Qur’an Hidayatullah (MQH) di ratusan titik di Jakarta.

Program ini jelas dia bertujuan memberikan layanan belajar Al-Qur’an kepada masyarakat, terutama mereka yang belum bisa membaca atau memahami kitab suci tersebut.

“Angka buta huruf Al-Qur’an masih sangat tinggi, sehingga kolaborasi dengan berbagai pihak sangat penting untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” jelas Isnaeni.

Dalam rangka memperkuat program ini, DPW Hidayatullah DKJ menjalin sinergi dengan institusi internal seperti Laznas BMH dan pihak eksternal seperti pemerintah serta swasta.

Hal ini, lanjutnya, sejalan dengan visi besar organisasi untuk menciptakan umat yang lebih paham agama sekaligus memajukan pendidikan berbasis keummatan di Indonesia.

Lebih jauh ia memaparkan pendidikan agama memiliki peran besar dalam membentuk karakter generasi muda. Dengan demikian, program seperti PPTG Jayakarta dapat memberikan solusi konkret bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera yang membutuhkan bimbingan baik secara akademik maupun spiritual.

Karena itu, ia berharap dapat menjalin sinergi dengan berbagai pihak dalam menguatkan khidmat untuk umat tersebut baik dengan institusi internal seperti Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) maupun dengan eksternal seperti swasta dan pemerintah.

DPW Hidayatullah DKJ telah menggelar pertemuan dengan Direktur Utama Laznas BMH, Supendi, di Kalibata, Jakarta Selatan, sehari sebelum helatan Rapat Kerja Pusat (Rakerpus) BMH. Dalam diskusi tersebut, Supendi menekankan pentingnya sinergi antar-lembaga untuk memaksimalkan manfaat dana umat.

“Diskusi ini akan menjadi bahan dalam Rapat Kerja Pusat (Rakerpus) BMH, sehingga dana umat yang dititipkan dapat lebih banyak memberi manfaat bagi masyarakat,” kata Supendi.

Sinergi ini tidak hanya terbatas pada institusi keagamaan, tetapi juga melibatkan berbagai lembaga pemerintah dan swasta. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat pembangunan PPTG Jayakarta sekaligus memperluas jangkauan program pembinaan Al-Qur’an di tengah masyarakat.

“Kerja sama seperti ini sangat penting agar pendidikan agama mampu menjangkau semua lapisan masyarakat,” tambah Isnaeni.

Dengan kolaborasi lintas lembaga, Isnaeni menambahkan, diharapkan program ini dapat memberikan dampak positif yang luas bagi masyarakat, terutama anak-anak dari kalangan yatim dan dhuafa.

Selain Ketua DPW Hidayatullah DKJ dan Direktur Utama BMH, hadir juga dalam silaturahim ini Sekretaris dan Bendahara DPW Hidayatullah Jakarta, Suhardi dan Ade Syariful Allam, juga beserta anggota DPW Hidayatullah DKJ lainnya.*/Afieq Abdul Jalil

SAR Hidayatullah Hadiri Rakor Basarnas Perkuat Kolaborasi dan Efektivitas Operasi

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum SAR Hidayatullah, Irwan Harun, didampingi Sekretaris Jenderal, Tafdhilul Umam, menghadiri undangan sebagai peserta Rapat Koordinasi (Rakor) Nasional yang digelar Direktorat Operasi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas).

Rakor bertajuk “Penguatan Kolaborasi dan Efektivitas Operasi SAR untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045” ini digelar selama 2 hari di Hotel Novotel Mangga Dua, Gunung Sahari, Ancol, Pademangan, Jakarta, yang dibuka pada Rabu, 9 Jumadil Akhir 1446 (11/12/2024).

Selain dihadiri SAR Hidayatullah sebagai potensi Basarnas, rakor ini juga dihadiri seluruh Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) dan juga stakeholder terkait lainnya.

Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Kabasarnas) Marsekal Madya (Marsdya) Kusworo hadir langsung dalam acara sekaligus membuka rakor secara resmi.

Dalam sambutannya, Kabasarnas menyampaikan Basarnas memiliki tanggung jawab strategis dalam mendukung keberlanjutan pembangunan melalui penyelenggaraan operasi pencarian dan pertolongan (SAR) yang cepat, terukur, efektif, efisien, dan adaptif terhadap dinamika yang ada di masyarakat.

“Kinerja Basarnas tidak hanya diukur dari keberhasilan menyelamatkan nyawa, tetapi juga dari kecepatan dan respon, kesiapan sumber daya, dan kemampuan beradaptasi terhadap situasi darurat yang kompleks, termasuk bencana alam, kecelakaan trasnportasi, dan kondisi membahayakan manusia lainnya,” ujar Kabasarnas.

“Untuk itu, Basarnas mengundang Bapak/Ibu semua untuk saling berkontribusi dalam memperkuat integrasi lintas sektor untuk memastikan operasi SAR dapat berjalan cepat, tepat, terukur, dan dapat menyelamatkan banyak jiwa,” jelasnya, sepert dilansir laman IG @sar_nasional.

Turut hadir dalam pembukaan Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama serta pejabat instansi terkait lainnya.

Adapun materi hari pertama berlangsung diskusi dan rapat pleno yang menghadirkan narasumber dari Sekretariat Dukungan Kabinet, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), praktisi drone, dan praktisi Remotely Operate Vehicle (ROV). Sementara hari kedua dilakukan Forum Diskusi Group (FGD). (ybh/hidayatullah.or.id)

Menyibukkan Diri dengan Al-Qur’an, Kunci Bahagia di Tengah Hiruk Pikuk Modern

0

ERA modern hari ini, kebanyakan manusia sibuk dengan segala aktifitasnya. Sebagian bekerja dari pagi hingga petang bahkan malam hari. Terkadang ada yang harus lembur hingga pagi lagi.

Pemandangan kesibukan manusia bisa dilihat saat dari jam berangkat kerja pagi hari dan jam kepulangan sore yang padat merayap di jalan raya.

Terminal yang hilur mudik bus dengan penuh penumpang, stasiun dengan gerbong kereta penuh dan bandara juga terlihat penuh saat weekend dan hari Senin.

Kesibukan menjadi gaya hidup masyarakat modern, sepertinya semakin sibuk maka semakin keren dan status sosialnya naik. Ada pula yang berusaha membuat kesibukan diri.

Padahal kesibukan yang tidak mencerminkan realitas aktivitas sering kali berdampak kepada kesehatan dan kehidupan keluarganya. Ketika kesibukan tersebut tidak diatur waktunya secara disiplin dan adil. Banyak orang yang stres, mengidap penyakit dalam yang berat karena kurang istirahat, kurang tidur dengan beban pekerjaan yang banyak.

Kehidupan keluarga orang-orang yang sibuk juga sebagian berantakan karena anak dan istri kurang mendapatkan perhatian. Angka perceraian meningkat kadang beriringan dengan meningkatnya kesibukan suami dan istri.

Demikian juga tumbunya anak-anak nakal karena kesibukan orang tua yang kurang memberikan waktu perhatian kepada putra-putrinya.

Kesibukan yang Membahagiakan

Rasulullah menyampaikan informasi penting tentang kesibukan yang memberikan banyak keutamaan dan kebahagiaan. Kesibukan yang menghindarkan dari segala yang mencelakakan dan menjauhkan dari kebinasaan. Yaitu kesibukan berinteraksi dengan al-Qur’an.

Artinya bagi orang-orang yang memprioritaskan waktunya untuk membaca, mentadabburi, menghafal dan mengkaji al-Qur’an maka hidupnya akan senantiasa diberikan keberkahan berupa sesuatu terbaik yang dimintanya.

Memulai di pagi hari dengan membaca Al-Qur’an, di setiap waktu shalat shalat antara sebelum atau sesudahnya juga menyempatkan untuk membaca a-Qur’an. Sore dan malam hari, ada bacaan al-Qur’an yang konsisten dikerjakan.

Minimal orang yang sibuk dengan al-Qur’an adalah memiliki jadwal khusus untuk berinteraksi dengan kitab suci tersebut. Jadwal yang secara konsisten dilaksanakan untuk senantiasa bersama dengan al-Qur’an.

Kesibukan membaca al-Qur’an tidak bisa dilakukan bagi orang-orang yang tidak percaya dengan hari akherat, tidak yakin dengan janji Allah dan Rasulullah. Tidak tertarik dengan namanya pahala dan surga.

Membaca al-Qur’an itu berat banget bagi pemilik mata yang lebih senang dengan kesenangan dunia. Rasulullah bersabda:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “يَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْآنُ عَنْ ذِكْرِي وَمَسْأَلَتِي، أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِينَ، وَفَضْلُ كَلَامِ اللَّهِ عَلَى سَائِرِ الْكَلَامِ كَفَضْلِ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ“

“Dari Abu Sa’īd raḍiyallāhu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Rabb ‘azza wa jalla berfirman, ‘Barangsiapa disibukkan oleh Al-Qur’an dan berzikir kepada-Ku dari memohon kepada-Ku, maka Aku akan memberikan kepadanya sesuatu yang terbaik dari yang Aku berikan kepada orang-orang yang memohon, dan kelebihan kalāmullāh (Al-Qur’an) dari seluruh kalam adalah seperti kelebihan Allah dari seluruh makhluk-Nya’.” (HR. Tirmidzi dan Baihaqi)

Hadis ini mengajarkan bahwa perhatian penuh kepada Al-Qur’an—baik dalam membaca, memahami, maupun mengamalkannya—merupakan bentuk ibadah yang sangat tinggi.

Hadis ini juga mengandung penegasan tentang kedudukan Al-Qur’an sebagai kalamullah (firman Allah) yang memiliki keunggulan dibandingkan dengan seluruh perkataan manusia. Setidaknya, terdapat 7 pelajaran penting yang bisa diambil dari hadis tersebut:

Pertama, menyibukkan diri dengan Al-Qur’an merupakan sebaik-baik dan seagung-agung amalan. Aktivitasnya dengan membaca, mempelajari maknanya, mentadaburi, menghafal, murojaah dan memahami tafsirnya.

Kedua, barang siapa yang ingin dipenuhi dan ditunaikan hajat-hajatnya maka hendaknya dia memperbanyak bacaan Al-Qur’an. Ini janji Rasulullah yang sifatnya aksiomatik, sebab semua hal yang Rasulullah sampaikan pasti sebuah kebenaran dan kepastian.

Ketiga, ketika pembaca Al-Qur’an menghadirkan hatinya dalam merasakan keagungan ayat-ayat Allah, menikmati berdialog dengan Allah dengan memahami kisah dan nasehat yang tertuang dalam kalam Allah maka hal tersebut akan melahirkan kelezatan penghambaan dan kefakirannya kepada Allah.

Keempat, sibukkan waktu dengan Al-Qur’an karena dia adalah sebaik-baik perkataan. Kisah yang terbaik adalah kisah-kisah dalam al-Qur’an, janji yang paling pasti adalah janji Allah dalam al-Qur’an, nasehat yang terbaik juga terdapat dalam al-Qur’an.

Kelima, memprioritaskan al-Qur’an dengan memberikan porsi waktu yang memadai untuk membaca al-Qur’an. Jika ada prioritas maka dengan sendirinya akan ada waktu yang diluangkan, sesibuk apapun.

Keenam, jika kondisi betul-betul malas, maka berusahalah untuk tetap menengok dengan membuka al-Qur’an sebagai bukti cinta. Istilah tidak ada hari tanpa bertemu dengan huruf-huruf suci al-Qur’an.

Ketujuh, mengikuti komunitas pecinta al-Qur’an. Ada grup one day one juz, halaqah-halaqah al-Qur’an. Sebab komunitas menjaga, mengingatkan dan memberikan spirit tersendiri untuk senantiasa interaksi dengan al-Qur’an.

Menyibukkan diri dengan Al-Qur’an adalah wujud nyata dari keyakinan akan janji-janji Allah. Allah menjanjikan ketenangan, kebahagiaan, dan keberkahan bagi mereka yang mendekat kepada-Nya melalui kitab suci-Nya.

Ketika kita memilih Al-Qur’an sebagai pusat kesibukan, Allah akan memenuhi kebutuhan kita, bahkan lebih baik daripada apa yang kita pinta.

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkan keperluannya.” (QS. At-Thalaq: 3).

Semoga kita dimampukan menjadikan Al-Qur’an sahabat sejati di tengah kesibukan dunia. Ia adalah petunjuk yang sempurna, penenang hati, dan penolong dalam kesulitan. Dengan Al-Qur’an, hidup menjadi lebih terarah, damai, dan penuh berkah.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

[KHUTBAH JUM’AT] Tiga Fungsi Al Qur’an dalam Membentuk Pribadi Muslim Kaffah

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Segala puji bagi Allah SWT, Pemilik segala hikmah, yang dengan Kalam-Nya menghadirkan cahaya di kegelapan, ibarat mentari yang menerangi hamparan alam. Dialah yang menurunkan Al-Qur’an sebagai peta jalan menuju kebahagiaan sejati.

Kita bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan kita bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah utusan-Nya, pembawa lentera yang tak pernah redup hingga akhir zaman.

Shalawat dan salam senantiasa kita haturkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang dengan perjuangannya menjadikan Al-Qur’an sebagai penjaga akidah, pembimbing akhlak, dan pengatur seluruh sendi kehidupan.

Mari kita teguhkan hati dan langkah, menjadikan Al-Qur’an sebagai tali penghubung dengan Allah, pedoman yang tak pernah salah, demi terbentuknya pribadi Muslim yang kaffah, utuh dalam iman, ilmu, dan amal.

Dalam Surat Al Jumuah ayat 2, Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ

“Dialah yang mengutus seorang Rasul (Nabi Muhammad) kepada kaum yang buta huruf dari (kalangan) mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Quran) dan Hikmah (Sunah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata”

Allah dalam ayat ini menjelaskan bahwa Rasulullah SAW diutus kepada bangsa Arab untuk menyampaikan risalah Allah SWT berupa wahyu Al Qur’an. Dengan wahyu Al Quran ini, manusia akan bertransformasi dari وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ menjadi manusia yang tercerahkan jiwanya.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Terdapat tiga proses yang harus dilalui oleh seorang hamba untuk mendapatkan pencerahan melalui Al Quran.

Proses yang Pertama adalah tilawah (يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ), yaitu membaca ayat – ayat Allah yang terdapat di dalam Al Quran. Inilah proses pertama yang dilakukan oleh Rasulullah SAW kepada bangsa Arab, yaitu membacakan ayat ayat yang turun kepada beliau.

Rasulullah membaca ayat ayat pertama dari surah Al ‘Alaq kepada Khadijah, Sahabat Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, dan para assabiqunal awwalun kaum muslimin. Begitu seterusnya, hingga ayat yang terakhir pada surat Al Maidah, ayat yang ke 3.

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”

Tahapan tilawah ini, dilakukan oleh Rasulullah SAW sepanjang hidupnya, baik setiap kali sebuah ayat atau surah turun, atau mengulang ngulang bacaan ayat ayat yang telah diturunkan kepada beliau.

Inilah tugas pertama yang diemban oleh Rasulullah terhadap Al Quran, yaitu membacakan ayat ayat tersebut kepada kaumnya, agar kaumnya mendengarkan bacaan tersebut.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Lalu, tahapan yang Kedua, dan ini adalah tujuan daripada dibacakannya ayat ayat Al Quran, yaitu tazkiyah. Pada tahapan ini, ayat ayat yang dibacakan oleh Rasulullah SAW menjadi instrumen untuk membersihkan dan mensucikan jiwa seorang hamba, agar jiwa tersebut tercerahkan dengan ayat ayat yang dibacakan.

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ

“Dialah yang mengutus seorang Rasul (Nabi Muhammad) kepada kaum yang buta huruf dari (kalangan) mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka……”

Inilah siklus penting dari turunnya Al Quran sebagai sebuah mukjizat yang masih bisa dirasakan kehebatannya oleh seorang hamba.

Dari ayat ayat yang dibaca, ia menjadi instrumen penting untuk membersihkan jiwa seorang hamba, lalu mentransformasikan jiwa tersebut dari yang belum tercerahkan menjadi jiwa yang tercerahkan.

Ketika Al Quran ini sering dibaca, dengan يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ (mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya), maka ia akan menjadi sebuah kekuatan untuk mentransformasi seorang hamba baik secara intelektual, spiritual, emosional, sosial bahkan finansial. Akan terjadi proses pemberdayaan sosok manusia (human empowerment), dari inferior menjadi manusia superior.

Bukankah seorang hamba ketika ia membaca ayat ayat tentang kekuasaan Allah, maka ia akan menjadi manusia cerdas, yang tadinya tidak mengetahui bahwa alam semesta dan isinya ini adalah ciptaan Allah, bertransformasi menjadi sosok yang mengerti bahwa Sesungguhnya hanya Dialah Allah yang mempergilirkan siang dan malam ini dengan kekuasaan-Nya.

قُلْ أَرَءَيْتُمْ إِن جَعَلَ ٱللَّهُ عَلَيْكُمُ ٱلَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَىٰ يَوْمِ ٱلْقِيَٰمَةِ مَنْ إِلَٰهٌ غَيْرُ ٱللَّهِ يَأْتِيكُم بِضِيَآءٍ ۖ أَفَلَا تَسْمَعُونَ

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?”

Ketika ayat ini sampai kepada seorang hamba, maka akal pikirannya akan melakukan pengembaraan intelektual untuk merenungkan pergiliran siang dan malam, dan mengungkap sebuah fakta yang disampaikan melalui Al Quran bahwa peristiwa pergiliran siang dan malam hanya bisa terjadi karena kekuasaan Allah.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Pada aspek spiritual, Ayat ayat Al Quran memberdayakan spiritual manusia, dari sosok seorang hamba yang tidak mengenal Tuhan (jahil), bahkan anti Tuhan (dhalalah), menjadi manusia yang tunduk dan taat beribadah hanya kepada Allah.

وَلِلّٰهِ غَيْبُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاِلَيْهِ يُرْجَعُ الْاَمْرُ كُلُّهٗ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِۗ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَࣖ

“Milik Allahlah (pengetahuan tentang) yang gaib (di) langit dan (di) bumi. Kepada-Nyalah segala urusan dikembalikan. Maka, sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya. Tuhanmu tidak akan lengah terhadap apa yang kamu kerjakan”

Aspek spiritual seorang hamba akan tercerahkan, ketika membaca ayat ayat ini dengan “haqqo tilaawatih”, bahwa Allah yang mengetahui segala yang gaib baik di langit maupun di bumi, dan hanya kepadalah segala urusan dikembalikan.

Karena alasan kekuasaan Allah inilah, maka tidak ada penolakan pada diri hamba kecuali untuk فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِۗ. Akan lahir kesadaran, bahwa kalau Allah saja yang Maha Mengetahui hal hal yang gaib baik di langit dan di bumi, maka kepada siapa lagi seorang hamba harus menyembah kecuali hanya kepada Allah, dan kepada siapa lagi seorang hamba menggantungkan segala urusan selain hanya kepada Allah Ta’ala.

Seperti itu jugalah ayat ayat al Quran mentazkiyah seorang manusia secara emosional, sosial, dan finansial. Tadinya ia orang yang gampang marah, suka menyakiti hati orang lain, bahkan bakhil.

Dengan membaca ayat ayat Al Quran, terjadi proses tazkiyah, yang mentransformasi jiwa yang pemarah, suka menganiaya, dan kikir, menjadi jiwa yang penyayang, lembut, dan dermawan.

Lihatlah sosok sahabat amirul mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anh yang terkenal dengan amarah yang meledak ledak dan emosi yang tidak stabil. Kemana mana ia acungkan pedangnya, seakan akan hidupnya hanyalah untuk menebas leher setiap wajah yang bertemu dengannya.

Begitu Umar mendengarkan ayat ayat Al Quran, hatinya tercerahkan. Sosok Amirul mukminin pun berubah dari pribadi yang suka mencari lawan, menjadi sosok yang memanggul beras untuk keluarga miskin.

Pun juga lihatlah umat Islam yang berbondong bondong mendonasikan hartanya ketika ayat ayat infak turun dan dibacakan kepada mereka. Satu diantaranya adalah sahabat Abu Thalhah radhiyallahu ‘anh. Ketika turun surah Ali ‘Imran ayat 92:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui”

Maka, Abu Thalhah bergegas mendatangi Rasulullah SAW dan menginfakkan kebun kurma yang paling dicintainya yang berada dekat dengan Masjid Nabawi.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Jum’ah Rahimakumullah

Lalu, siklus yang Ketiga adalah وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ, yaitu mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah).

Proses tazkiyah terhadap jiwa manusia, bukan merupakan proses yang bersifat short term (jangka pendek), melainkan long term (jangka panjang). Ibarat seorang marbot, ia membersihkan masjid bukan hanya sekali, tetapi berulang ulang, agar kebersihan masjid sebagai tempat ibadah selalu terjaga.

Pun juga dengan jiwa manusia, ia harus selalu dibersihkan agar senantiasa tercerahkan. Maka proses tilawah, harus senantiasa dilakukan ditambah dengan mempelajari kandungan Al Quran tersebut, juga mempelajari sunnah Rasulullah SAW baik perkataan maupun perbuatan, agar tazkiyatun nafs terus berlangsung.

Maka, seorang hamba harus terus mengisi hari harinya dengan membaca Al Qur’an, mempelajari kandungannya, dan memperkaya maknanya melalui sunnah sunnah Rasulullah SAW, untuk mentazkiyah jiwanya menjadi seorang pribadi muslim yang kaffah.

Sungguh tidak bisa dibayangkan, ketika Al Quran dijauhkan dari kehidupan seorang hamba. Ia tidak pernah dibaca, apalagi dipelajari. Maka lahirlah manusia manusia yang terbelakang secara intelektual.

Kepintarannya ibarat kacang hanya sampai kulitnya, tidak pernah menyentuh hal hal yang substantif. Betapa banyak ilmuwan barat hari ini, yang berhasil mengungkap keajaiban sains sampai menemukan partikel yang mereka namakan partikel Tuhan, tapi tidak pernah menemukan Tuhan yang sebenarnya yaitu Allah Ta’ala.

Kita tidak bisa membayangkan, kalau Al Quran tidak pernah dibaca dan dipelajari, maka akan muncul manusia manusia serakah, bakhil, kikir, tamak, dan rakus yang secara sistemik menggerogoti kekayaan suatu negeri karena ayat ayat tentang zakat, infak, dan sedekah tidak pernah mereka dengar.

Maka, kalau ingin menjadi sosok pribadi muslim yang kaffah, cerdas intelektual, sehat spiritual, sehat sosial dan emosional, serta melek literasi finansial yang sebenarnya, baca dan pelajarilah Al Quran, agar Quran mentransformasi jiwa yang gersang menjadi jiwa yang tenang.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Kuatkan Kolabarsi ‘Menebang’ Tantangan dan Luaskan Kebaikan untuk Umat

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Rapat ibarat menebang pohon besar di tengah hutan. “Selama proses, hasil belum tampak. Namun, waktu berlalu, pohon akhirnya tumbang,” ujar Supendi, Direktur Utama Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), membuka Rapat Kerja Pusat (Rakerpus) 2025 di Sentul, Bogor, Jawa Barat, 10 Jumadil Akhir 1446 (12/12/2024).

Seperti kapak yang harus terus diasah agar tajam, ide dan strategi yang dibahas dalam rapat ini menjadi alat utama untuk menumbangkan tantangan dan membuka jalan bagi keberhasilan. “Rapat sering terasa stagnan, tetapi setelahnya, kita bergerak serempak, menjalankan strategi yang telah terukur,” tambah Supendi.

Menurutnya, Rakerpus 2025 momen penting di mana setiap individu memberikan sumbangsih terbaiknya untuk kemajuan tim. Dengan visi tajam dan langkah pasti, BMH menargetkan untuk terus hadir secara konsisten dan signifikan dalam melayani umat.

“Bukan masanya lagi untuk bekerja tanpa pijakan, mengawang-awang,” tegas Supendi. Acara yang berlangsung pada 12–14 Desember 2024 ini tegas dia menjadi tonggak kolaborasi strategis untuk memastikan langkah BMH semakin berdampak.

Sebagai Laznas yang diandalkan umat, BMH berkomitmen untuk menciptakan perubahan nyata melalui kerja sama tim yang solid. Setiap ide, setiap rencana, adalah batu loncatan menuju misi yang lebih besar yakni menyemai kebaikan dan mewujudkan harapan umat.

Dengan semangat ini, terang Supendi, BMH berharap dapat terus menjadi motor penggerak kebaikan yang tak pernah padam. Dia kembali menekankan, layaknya pohon yang akhirnya tumbang, perjalanan menuju kesuksesan membutuhkan waktu, usaha, dan tekad bersama.*/Herim