Beranda blog Halaman 126

Warisan Keteladanan Pendiri Hidayatullah dan Transformasi Nilai Sistematika Wahyu

0

BULUNGAN (Hidayatullah.or.id) — Tabligh Akbar yang berlangsung di Pesantren Hidayatullah, Tanjung Selor, Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara), Ahad, 20 Jumadil Akhir 1446 (23/12/2024) menjadi momentum istimewa untuk menegaskan kembali nilai-nilai perjuangan yang diwariskan oleh Ustadz Abdullah Said (UAS), pendiri Hidayatullah.

Acara ini menghadirkan Anggota Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah Ust. Dr. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, MSi, sebagai narasumber utama, yang membahas bagaimana warisan tersebut tetap relevan dan menjadi panduan dalam membangun generasi pejuang yang siap berkhidmat untuk agama dan bangsa.

Aziz menguraikan bahwa perjalanan Hidayatullah adalah perjalanan panjang yang berakar pada nilai-nilai transformatif yang diwariskan oleh pendirinya.

Dengan berpegang teguh pada Sistematika Wahyu, model kepemimpinan imamah jama’ah, dan lembaga perjuangan sebagai wadah dakwah, Hidayatullah mampu melahirkan kader-kader yang siap menghadapi tantangan zaman.

Melalui transformasi dan transmisi nilai-nilai ini, semangat perjuangan UAS tetap hidup, tidak hanya dalam narasi sejarah, tetapi dalam setiap langkah perjuangan para kadernya.

Dalam tausiyahnya, Aziz menggarisbawahi bahwa warisan perjuangan UAS lebih dari sekadar konsep tertulis. “Beliau meninggalkan kader-kader yang telah digembleng langsung selama bertahun-tahun,” ujar Aziz. Warisan tersebut bukan berupa dokumen yang kaku, melainkan hidup dan bernapas dalam pribadi setiap kader yang siap mengabdi di berbagai penjuru Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, Aziz memaparkan tiga pilar utama yang menjadi inti dari perjuangan UAS. Pertama, sistematika wahyu sebagai manhaj hidup. Menurut Aziz, UAS mendirikan Hidayatullah dengan landasan kokoh, yakni Sistematika Wahyu.

“Kalau bukan karena Sistematika Wahyu, maka Hidayatullah ini tidak perlu ada, hanya akan memperpanjang barisan organisasi Islam,” tegas Aziz. Landasan ini menegaskan bahwa keberadaan Hidayatullah bukan sekadar tambahan dalam deretan organisasi Islam, melainkan memiliki visi dan misi yang unik.

Kedua, kepemimpinan dalam Hidayatullah yang berpusat pada model imamah jama’ah, yakni kepemimpinan yang terstruktur dan jelas. Dalam hal ini, Rasulullah SAW menjadi teladan utama.

Aziz mengutip Surat Ali Imran ayat 159, yang menekankan pentingnya kelembutan hati seorang pemimpin. Namun, kelembutan ini harus diimbangi dengan ketegasan, sebagaimana dicontohkan oleh UAS dalam mendisiplinkan kader tanpa kehilangan rasa kasih.

Pilar ketiga, Hidayatullah sebagai lembaga perjuangan sebagai wadah dakwah yang bertujuan membangun masyarakat yang cerdas, adil, dan makmur.

Menurut Aziz, UAS tidak hanya mendirikan pesantren atau sekolah, melainkan menciptakan individu yang siap berjuang di lapangan. Prinsip ini melandasi penyebaran kader-kader Hidayatullah ke berbagai wilayah Indonesia.

Ustadz Aziz menekankan bahwa kelembutan hati adalah anugerah besar dalam kepemimpinan, namun hal ini tidak menghilangkan kebutuhan akan ketegasan.

Sebagai contoh, ia menceritakan bagaimana UAS menugaskan Ustadz Abdurrahman Muhammad ke Papua sebagai bentuk disiplin karena terlambat kembali dari kampung halaman.

“Ini bukan soal menghukum, tapi tentang menegakkan disiplin dan tanggung jawab,” jelasnya. Keteladanan semacam ini, terang Aziz, menjadi panduan bagi para pemimpin untuk menyeimbangkan empati dan otoritas.

Kunci Keberlanjutan

Salah satu poin penting yang disampaikan Aziz adalah pentingnya transformasi (alih konsepsi) dan transmisi (pewarisan) nilai-nilai perjuangan Hidayatullah.

“Kekuatan Hidayatullah bukan pada gedung-gedung megah, tapi pada jati diri yang tertransformasikan dan tertransmisikan kepada kader-kadernya,” tegasnya. Gedung dan fasilitas fisik, tegas dia, hanyalah alat. Sementara esensi perjuangan terletak pada karakter dan nilai yang tertanam dalam diri setiap kader.

Halaqah, sebagai bentuk kelompok pembinaan, menjadi elemen vital dalam proses ini. Aziz mengingatkan bahwa halaqah harus menjadi kewajiban yang tidak boleh diabaikan.

“Jangan mudah meminta izin untuk tidak berhalaqah,” pesannya. Menurutnya, halaqah bukan hanya sekadar rutinitas, melainkan wahana pembentukan karakter dan pemantapan jati diri.

Masih dalam tausiyahnya, Aziz juga menyoroti kegagalan sistem pendidikan karakter di Indonesia. Menurutnya, karakter tidak dapat dibentuk melalui pelajaran tekstual semata, melainkan melalui keteladanan dan pembiasaan.

Di sinilah, terang dia, peran penting seorang murobbi (pembina) dalam mendampingi kader. “Karakter itu lahir dari proses pembentukan yang konsisten, bukan dari teori belaka,” ujarnya.

Ustadz Aziz mengakhiri tausiyahnya dengan mengingatkan bahwa warisan sejati bukanlah institusi atau fasilitas, melainkan semangat dan nilai-nilai yang ditanamkan pada generasi penerus. “Kader-kader Hidayatullah adalah bukti nyata bahwa perjuangan ini tidak akan pernah berhenti,” pungkasnya.*/Herim

Keutamaan Wirid Pagi untuk Dunia dan Akhirat

0

DALAM salah satu kitabnya yang berjudul, Al-Mufhim Lima Asykala min Talkhis Syarh Shahih Muslim (Dar Ibnu Hazm, Beirut), Imam al-Qurthubi bercerita.

Suatu ketika ia sedang berada di Mahdia, sebuah kota di pesisir Tunisia. Lalu tiba-tiba kakinya disengat oleh kalajengking. Padahal beliau sudah merasa berhati-hati dan memakai pengaman alas kaki.

Setelah mengobati sengatan kalajengking, ulama besar bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakr Al-Anshari al-Qurthubi ini merenung sejenak dan teringat bahwa tadi pagi belum sempat wirid atau doa pagi.  

Bacaan wirid memiliki banyak keutamaan yang bisa dirasakan bagi yang konsisten melaksanakan, baik faedah secara fisik maupun mental. Faedahnya bukan hanya pahala untuk kehidupan di akherat, tapi juga bisa dirasakan selama di dunia.

Pagi-pagi setelah shalat shubuh berjamaah di masjid, dianjurkan tidak langsung pulang ke rumah tapi menyempurnakan dengan melakukan dzikir atau wirid pagi.

Bagi orang yang ingin meraih cinta Allah, wirid pagi adalah kebutuhan dan pasti ada rasa yang kurang (gelisah, risau) jika tidak dzikir pagi.

Berikut ini beberapa faedah dari wirid pagi yang menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman.

Pertama, mendapat rahmat, ampunan dan cahaya dari Allah

Allah berfirman dalam surat al-Ahzab ayat 42-43 yang memberikan informasi dan motivasi yang menarik bagi orang-orang gemar melaksanakan wirid pagi dengan doa-doa di dalamnya.

وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. هُوَ ٱلَّذِى يُصَلِّى عَلَيْكُمْ وَمَلَٰٓئِكَتُهُۥ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ۚ وَكَانَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan sore, Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman” (QS. Al-Ahzab: 42-43).

Berdzikir hanya bisa dilakukan dengan nikmat oleh orang-orang yang berusaha mencintai Allah. Sebab orang yang berusaha untuk meraih cinta Allah maka bisa dipastikan akan selalu mengingat yang dicintainya (Allah) dalam keadaan dan aktivitas apapun.

Dalam surat al-Ahzab ayat 42 dan 43, sangat jelas sekali dari manfaat dzikir pagi dan petang. Minimal tiga keutamaan yaitu mendapatkan kasih sayang, ampunan dan diberikan cahaya dengan dikeluarkan dari kegelapan.

Mendapatkan kasih sayang atau perhatian dari orang tua saja luar biasa bahagianya. Mendapatkan cinta dari kekasih atau pasangan juga terasa terbang saking bahagianya. Apalagi mendapatkan kasih sayang dari Allah, tentu sangat luar biasa bahagia dan ketenangannya.

Saat berbuat salah kepada seorang guru atau orang lain lalu dimaafkan maka rasanya plong karena sudah tidak ada beban lagi. Para narapidana saja, saat mendapatkan remisi atau bebas dari hukuman, merasa senang sekali.

Lantas, bagaimana rasanya, dosa yang berjibun dari remaja hingga tua bertumpuk-tumpuk, baik yang diingat ataupun tidak, lalu Allah memberikan ampunan di akherat nanti?. Tentu inilah kebahagiaan sejati dan abadi.

Ketika mendapatkan musibah masalah yang rumit, dunia terasa sempit dengan hutang yang melilit-lilit, tiba-tiba ada seseorang dermawan membawakan sejumlah uang untuk melunasi hutang-hutangnya. Tentu ada rasa bahagia yang luar biasa.

Allah dari itu semua dalam menjamin orang-orang yang senantiasa wirid pagi dan petang. Akan mengeluarkan dari kegelapan kepada cahaya, kerumitan menjadi kelapangan dan kesengsaraan menjadi kebahagiaan yang abadi.

Kedua, Mendapat Anugerah Rasa Sabar

Allah berfirman dalam surat Qaf ayat 39 tentang perintah bertasbih setiap pagi dan petang.

فَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ ٱلشَّمْسِ وَقَبْلَ ٱلْغُرُوبِ

Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya)” (QS. Qaf: 39)

Dalam kehidupan ini, selalu ada fase yang tidak cocok atau tidak sesuai dengan harapan. Bahkan tidak jarang diberikan musibah yang tidak ringan dan ada rasa berat untuk melaksanakan perintah Allah. Maka fase-fase berat seperti itu diperlukan karakter sabar sebagai benteng untuk bertahan.

Berdzikir pagi petang dengan mengingat Allah, tentu hati dan jiwa akan menjadi lebih sabar, sebab selalu mengingat terantar untuk memahami bahwa itu semua ketentuan datangnya dari Allah. Tidak mudah bagi orang yang mendapatkan musibah untuk cepat bisa bersandar kepada Allah.

Kondisinya beda dengan orang yang lalai mengingat Allah, di hatinya akan terasa tidak tenang dan jauh dari damai. Sebagian orang stress, gangguan jiwa atau bunuh diri karena tidak kuat menghadapi beratnya ujian hidup.

Bacaan wirid dapat membantu menghilangkan stress dan kegelisahan yang seringkali banyak orang mengalami dalam kehidupan sehari-hari. Bacaan wirid menjadikan perasaan dan pikiran akan teralihkan dari masalah-masalah sehari-hari yang membuat gelisah.

Bacaan wirid dapat membantu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Dengan terus mengingat nama-Nya melalui wirid, akan semakin dekat dengan-Nya dan merasakan kehadiran-Nya dalam setiap aspek kehidupan. Hal ini akan membantu menjalani hidup dengan penuh keyakinan dan kepercayaan kepada Allah SWT.

Ketiga, Menghindarkan dari Musibah

Salah satu bacaan wirid pagi adalah doa di bawah ini. Isi doa hanya dua hal yaitu permohonan kebaikan dan dihindarkan dari musibah. Berikut ini doa yang mencakup keduanya dan dahsyat jika dibacakan secara rutin setiap pagi dan sore.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِيْنِيْ وَدُنْيَايَ وَأَهْلِيْ وَمَالِيْ اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِى وَآمِنْ رَوْعَاتِى. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ، وَمِنْ خَلْفِيْ، وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِمَالِيْ، وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِيْ

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku (aib dan sesuatu yang tidak layak dilihat orang) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah, peliharalah aku dari muka, belakang, kanan, kiri dan atasku. Aku berlindung dengan kebesaran-Mu, agar aku tidak disambar dari bawahku (oleh ular atau tenggelam dalam bumi dan lain-lain yang membuat aku jatuh).” (HR. Abu Dawud, An-Nasai dan Ibnu Majjah)

Mampu bersabar menghadapi ujian, menumbuhkan ketenangan menjalani kehidupan dan bisa menolak bala’ atau musibah, ditutup aib-aib dan kekurangan.

Bagi para pecinta wirid pagi petang, saat merenungi makna-makna doa dan dzikir-dzikir yang dianjurkan Rasulullah maka terasa luar biasa faedahnya.

Bagi orang-orang yang menyadari betapa rentan dan banyak bahaya yang mengancam diri, maka wirid menjadi benteng kuat untuk menjadikan lebih yakin dan percaya diri dalam perlindungan Allah.

Sangat sayang sekali untuk melewatkan pagi hari tanpa wirid, bahkan mengurangi bilangannya saja rasanya sayang. Contoh, membaca tiga surat Qul tidak diringkas hanya sekali tapi masing-masing harus tiga kali. Termasuk doa-doa yang lain juga menuntut pengulangan lebih dari sekali.[]

*) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

Raih Anugerah Eco Office Pesantren, Hidayatullah Balikpapan Ajak Bersama Wujudkan Lingkungan Sehat

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kelurahan Teritip, Kalimantan Timur, meraih Juara 1 Penghargaan Eco Office Pesantren se-Kota Balikpapan.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Gunung Tembak Balikpapan Ust. H. Hamzah Akbar menyampaikan ucapan terima kasih kepada jajaran Pemerintah Kota Balikpapan atas prestasi tersebut.

“Terima kasih atas penghargaan ini, semoga memicu kami lebih semangat dalam pengelolaan lingkungan bersih, hijau, dan sehat,” Ustadz Hamzah Akbar dalam keterangannya kepada media di Gunung Tembak, Balikpapan, Kamis, 18 Jumadil Akhir 1446 (19/12/2024) pagi.

Hamzah juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah kota atas perhatian dan dukungannya selama ini terutama dalam pelestarian lingkungan.

“Terima kasih Bapak Wali Kota Balikpapan H Rahmad Mas’ud, yang selalu mengedukasi kami, agar selalu bersahabat dengan alam,” kata Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Kota Balikpapan masa khidmat 2021-2026 ini.

Dia menyebutkan, apresiasi dan penghargaan Wali Kota Balikpapan melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan ini kepada Pesantren Hidayatullah ini dalam kegiatan Clean, Green, and Healthy (CGH) dan Eco Office di lingkungan Pondok Pesantren. Pesantren Hidayatullah berhasil meraih kategori peraih peringkat satu, Eco Office Swasta dan Pondok Pesantren.

Ustadz Hamzah menyatakan, menjaga lingkungan yang nyaman, bersahabat, dan sehat merupakan kewajiban bersama segenap warga Balikpapan pada khususnya dan warga negara Indonesia pada umumnya.

Penghargaan tersebut tegas dia merupakan pemantik bagi Ponpes Hidayatullah untuk terus menciptakan lingkungan pesantren yang “Islamiah, Ilmiah, dan Alamiah” sesuai motto Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak.

Hamzah pun menyampaikan terima kasih kepada segenap warga Ponpes Hidayatullah, para pengurus pesantren, serta para santri dan wali santri, atas kerja samanya selama ini dalam menjaga lingkungan pesantren.

HIdayatullah selama ini selalu mendukung dan turut menyukseskan program Clean, Green, and Healthy dan Eco Office, yang secara khusus merupakan program dari DLH Pemkot Balikpapan.

“Sebagai bagian dari Kota Balikpapan, punya kewajiban yang sama dengan masyarakat lainnya, mewujudkan lingkungan nyaman dihuni, bersahabat, dan yang pasti sehat,” ujarnya.

“Teruslah berkiprah, untuk lingkungan yang bersih, hijau dan sehat,” pungkas ustadz yang juga pegiat berkebun di samping rumahnya ini.

Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak meraih Peringkat 1 Penghargaan Eco Office Pesantren Kota Balikpapan Tahun 2024.

Penghargaan Awarding RT. CGH & ECO OFFICE 2024 digelar di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Balikpapan, Rabu, 16 Jumadal Akhir 1446 H (18/12/2024) pagi.

Turut hadir pada acara itu Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan Ustadz Hamzah Akbar dan Ketua Bidang 3 (membawahi lingkungan) YPPH Ustadz Muhammad Kaspan.

Dengan lahan seluas 138 hektare dan berbagai jenis pepohonan yang tumbuh di situ, sejak awal Ponpes Hidayatullah Balikpapan menyelenggarakan pelayanan pendidikan yang ramah lingkungan.

Sehingga, para santri dan para penghuni pesantren lainnya dapat tumbuh dan belajar dengan asupan oksigen terbaik.* (Masykur/SKR/Media Center @Ummulqurahidayatullah)

Menteri Agama Ajak Ormas Keagamaan Solid Membangun Umat dan Bangsa

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak tokoh agama dan organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan agar selalu solid dalam membina dan membangun kehidupan keagamaan yang lebih baik untuk kemaslahatan bangsa.

“Saya mengajak para tokoh agama dan seluruh ormas agar selalu solid, abaikan perbedaan yang mengarah perpecahan. Saya senang dan bahagia bertemu dengan para tokoh agama malam ini. Para tokoh agama memikirkan bangsa ini siang malam tanpa kenal lelah,” kata Menag Nasaruddin Umar, dilansir laman Kemenag, Kamis, 18 Jumadil Akhir 1446 (19/12/2024).

“Semoga para tokoh agama tidak bosan melihat Saya. Karena, Saya akan sering mengundang para bapak/ibu. Semakin banyak kepala yang memikirkan persoalan bangsa, maka akan semakin baik dari pada satu kepala yang memikirkannya. Kita solid dan bersama-sama memecahkan persoalan keumatan,” sambung Menag.

Menag Nasaruddin menyampaikan saat ini banyak tempat yang bisa dijadikan ruang pertemuan. Gedung dan ruangan di Istiqlal, gedung MH Thamrin, dan gedung Kementerian Agama Lapangan Banteng.

“Saya sengaja memilih tempat pertama untuk pertemuan malam ini di Masjid Istiqlal untuk keberkahan perjumpaan ini,” kata Menag Nasaruddin Umar.

Ke depannya, lanjut Menag Nasaruddin Umar, pertemuan dengan para tokoh-tokoh agama akan semakin sering dilakukan seperti malam ini. Di Masjid Istiqlal, setiap malam jumat banyak kegiatan, seperti membaca Yasin, tafsir, mengaji, salat sunnat, dan muhasabah.

“Alhamdulillah sampai saat ini berjalan lancar dan semakin banyak yang mengikutinya dari berbagai daerah. Di Masjid ini juga sebagai tempat untuk curhat kepada Tuhan. Ini rutin kita lakukan. Dan banyak orang-orang hebat dan terpandang yang hadir,” kata Menag Nasaruddin Umar.

Menag Nasaruddin Umar juga berpesan kepada seluruh tokoh agama yang hadir, agar jangan sungkan ketika ada hal-hal yang perlu dilakukan.

“Saya dan Dirjen Bimas Islam siap membantu. Kita sama. Apa yang kita miliki di Kemenag, akan kita share. Apa yang bisa kami bantu, mohon disampaikan,” pesan Menag Nasaruddin Umar.

Semisal, ada persoalan perkawinan, pelecehan seksual, asusila dan lain-lain. Kementerian Agama concern untuk menyelesaikan persoalan-persoalan keumatan.

“Saya mohon kita bersama-sama dan solid menyelesaikan persoalan keumatan. Ini menjadi concern bersama. Banyak persoalan global, kalau kita tidak solid, maka akan semakin parah. Jangan sesama kita saling fitnah,” tegas Menag Nasaruddin Umar.

Menag Nasaruddin Umar juga mengajak seluruh tokoh agama untuk menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan bersama untuk mencari solusi persoalan yang ada.

“Masjid juga bisa kita jadikan sebagai tempat pemberdayaan ekonomi masyarakat. Spirit kebersamaan harus terus dibangun. Insya Allah, kita bisa menyelesaikan persoalan-persoalan besar lewat masjid ini,” kata Menag Nasaruddin Umar.

Bahkan, lanjut Menag Nasaruddin Umar, Masjid Istiqlal juga sudah memiliki program kader ulama yang sepenuhnya dibiayai oleh negara.

“Semakin sering ke Istiqlal, maka semakin banyak diplomasi yang kita dapatkan. Istiqlal akan menjadi tempat perubahan dan perkembangan umat yang lebih baik,” harap Menag Nasaruddin Umar.

Dirjen Bimas Islam, Kamaruddin Amin menyampaikan terima kasih atas waktu dan kesempatan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang meluangkan waktu untuk pertemuan dengan para tokoh agama.

“Terima kasih Pak Menteri. Peserta yang hadir di sini adalah para pimpinan ormas, dan tokoh agama yang terdiri dari 38 Ormas. Semoga kehadiran kita di sini membawa berkah,” kata Kamaruddin Amin. (adm/hidayatullah.or.id)

Rakerwil Jateng, Arfan Tekankan Iman Hendaknya Beriring Amal Shaleh dan Lahirkan Karya

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Sumber Daya Insani (SDI) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Dr Arfan AU menyampaikan arahan strategis sekaligus memperkuat konsolidasi kader dan pengurus di wilayah Jawa Tengah. Dia menekankan bahwa iman harus beriring dengan amal shaleh dan karya.

“Keimananlah yang menuntut kita terus berjuang, melakukan amal shaleh dan melahirkan karya di berbagai bidang demi meraih kebahagiaan di dunia ini dan keselamatan di akhirat kelak,” tegasnya.

Hal itu disampaikan Arfan saat membacakan sambutan dalam acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullaj Jawa Tengah (Jateng) Tahun 2025 di Hotel Candi Indah Convention, Kota Semarang.

Kegiatan yang berlangsung 3 hari ini mengusung tema “Konsolidasi Jatidiri, Organisasi, dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik” yang dibuka pada Sabtu, 12 Jumadil Akhir 1446 (14/12/2024).

“Kita juga harus meyakini bahwa segala bentuk karya yang dihasilkan, kinerja yang dicapai, serta prestasi yang diraih semuanya akan dinilai dan diberi ganjaran oleh Allah SWT, bahkan disaksikan oleh Rasulullah saw dan orang-orang beriman kelak di Akhirat,” katanya, seraya menukil Al Qur’an surah At Taubah ayat 105.

“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.

Dia menjelaskan, ayat ini mengandung pesan bahwa segala bentuk amal dan pekerjaan yang dilakukan, akan dinilai dipertanggung jawabkan kepada Allah, pemimpin, serta orang-orang mukmin.

Pada kesempatan itu dia juga menegaskan kembali beberapa hal penting yang perlu mendapatkan perhatian secara serius pada tahun 2025 nanti.

Diantaranya, terang dia, menggalakkan dakwah tarbiyah sebagai mainstream gerakan dengan manajemen yang baik untuk memenuhi kebutuhan sumber daya insani di tingkat wilayah dan daerah.

Selain itu, ia juga menyampaikan pentingnya menindak lanjuti pembinaan lulusan SLTA di Lembaga Pendidkan Hidayatullah yang sedang melanjutkan pendidikan di berbagai perguruan tinggi Non-Hidayatullah di berbagai kota dan daerah.

Ia juga menyoroti upaya penyempurnaan sistem database anggota dan kader melalui SISTAHID untuk perencanaan SDI di struktural dan non-struktural yang kompeten, profetik, dan profesional di berbagai bidang.

Disamping itu, ia juga mendorong dioptimalkannya potensi asset dan memanfaatkan tanah milik organisasi dan amal usaha sebagai lahan produktif dalam berkhidmat untuk umat dalam berbagai sektor sesuai potensinya masing-masing.

Selain itu, ia juga menekankan implementasi nilai-nilai profetik dan profesionalisme dalam sistem keuangan organisasi, amal usaha dan badan usaha.

Selain itu menekankan beberapa hal yang harus diupayakan secara sungguh-sungguh pada tahun terakhir periode ini sebagaimana dalam rekomendasi Rakernas Hidayatullah beberapa waktu lalu, yaitu menggalakkan silaturrahim dan pembinaan umat.

Upaya penting lainnya melakukan standardisasi halaqah sebagai wadah peningkatan kualitas iman, ilmu dan amal serta mendorong dan menfasilitasi generasi muda, kalangan professional, dan cendekiawan untuk terlibat dalam gerakan tarbiyah dan dakwah melalui Hidayatullah.

“Untuk mewujudkan visi organisasi, yakni terbangunnya peradaban Islam yang agung, Hidayatullah hadir sebagai wadah berjamaah untuk beramal saleh, wadah pendidikan untuk melahirkan generasi unggul, wadah dakwah untuk menyebarkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, serta wadah pelayanan dan pemberdayaan umat,” imbuhnya menandaskan.

Rapat kerja wilayah merupakan agenda tahunan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) yang dihadiri oleh seluruh anggota Dewan Pengurus Wilayah, unsur Dewan Murobbi Wilayah (DMW), unsur Dewan Pengurus Daerah (DPD), unsur Organisasi Pendukung (Pengurus Wilayah Pemuda dan Pengurus Wilayah Muslimat), unsur amal usaha tingkat wilayah, juga badan usaha, serta unsur Dewan Pengurus Pusat sebagai pendamping.

Dalam Rapat Kerja Wilayah dilakukan konsolidasi, koordinasi, sosialisasi, dan evaluasi serta merumuskan program-program yang akan dikerjakan dalam tahun 2025 nanti. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas amal shaleh secara kolektif dengan sistem kinerja yang dapat diukur.*/Muhammad Dwi Eviq Erwiandy

Indonesia di Persimpangan Pangan, Bukan Sekadar Soal Perut Kenyang

0
Gambar ilustrasi petani menanam padi (Foto: Olah Ai/ hidayatullah.or.id)

PERNAHKAH kita membayangkan hidup di negeri yang dikenal sebagai “zamrud khatulistiwa” namun justru bergantung pada pangan impor untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari?

Paradoks ini menjadi semakin mencolok ketika supermarket di Indonesia dipenuhi produk impor, sementara hasil bumi lokal terpinggirkan. Fenomena ini menggarisbawahi urgensi kemandirian dan ketahanan pangan, sebuah konsep yang esensial bagi keberlanjutan bangsa.

Negara dengan sumber daya alam melimpah dan iklim tropis yang ideal, seharusnya menjadi salah satu lumbung pangan dunia. Namun, realitas menunjukkan bahwa negeri ini masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Ironisnya, dalam situasi ini, pemerintah berencana menaikkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen pada Januari 2025, yang berpotensi memengaruhi harga kebutuhan harian termasuk pangan domestik. Hal ini menambah kompleksitas permasalahan ketahanan pangan di Indonesia.

Ketahanan pangan, sebagaimana didefinisikan oleh Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi setiap individu yang dicerminkan dari ketersediaan pangan yang cukup, berkualitas, aman, bergizi, merata, dan terjangkau. Namun, mewujudkan ketahanan pangan bukanlah perkara sederhana.

Produksi pangan di Indonesia kerap kali dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti perubahan iklim, bencana alam, dan keterbatasan infrastruktur distribusi. Pada saat yang sama, kebijakan impor sering kali menjadi pilihan instan untuk menutupi kekurangan produksi domestik.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, Indonesia mengimpor komoditas pangan strategis dalam jumlah yang signifikan, seperti beras, gula, dan kedelai. Pada tahun ini, impor beras tercatat mencapai 1,6 juta ton, meningkat dari tahun sebelumnya.

Lonjakan impor ini menjadi penanda tantangan besar dalam mewujudkan swasembada pangan, terutama di tengah proyeksi pertumbuhan penduduk yang terus meningkat. Ketergantungan pada impor bukan hanya menekan daya saing petani lokal, tetapi juga berisiko terhadap stabilitas pangan nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Sinergi dan Potensi Swasembada

Indonesia memiliki potensi besar untuk swasembada pangan. Dengan luas lahan pertanian yang mencapai 7,4 juta hektar dan kekayaan sumber daya alam, negeri ini seharusnya mampu memenuhi kebutuhan pangan sendiri.

Namun, tantangan seperti alih fungsi lahan, rendahnya adopsi teknologi modern, dan minimnya dukungan infrastruktur menjadi hambatan utama. Oleh karena itu, pendekatan kolaboratif yang melibatkan berbagai elemen masyarakat menjadi kunci untuk mengatasi masalah ini.

Di tengah tantangan tersebut, Lembaga Amil Zakat (LAZ) memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Melalui pendekatan berbasis komunitas, LAZ dapat memberdayakan petani dan nelayan dengan memberikan bantuan modal, pelatihan, dan pendampingan untuk meningkatkan produktivitas mereka.

Program pemberdayaan ini tidak hanya menciptakan lapangan kerja tetapi juga meningkatkan kapasitas produksi pangan lokal. LAZ juga dapat menjadi mitra dalam riset dan pengembangan teknologi pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim. Teknologi seperti irigasi pintar, benih unggul, dan alat pertanian modern dapat meningkatkan efisiensi produksi.

Selain itu, LAZ dapat menjadi instrumen dalam mendukung pembangunan gudang penyimpanan, pasar tradisional, dan sarana transportasi untuk memperlancar distribusi pangan. Infrastruktur yang memadai akan mengurangi kehilangan hasil panen dan meningkatkan akses pangan di daerah terpencil.

Tentu saja, dalam hal ini pemerintah tetap memiliki tanggung jawab utama memainkan perannya untuk membangun ketahanan pangan melalui kebijakan yang pro-petani dan investasi infrastruktur.

Namun, keberhasilan upaya ini bergantung pada sinergi antara pemerintah, sektor swasta, lembaga swadaya masyarakat, dan masyarakat itu sendiri. Melibatkan LAZ dalam ekosistem pangan nasional adalah langkah strategis untuk membangun ketahanan pangan yang inklusif dan berkelanjutan.

Misalnya, program sinergi antara pemerintah dan LAZ dapat diarahkan pada pengelolaan lahan tidur menjadi lahan produktif. Lahan-lahan ini dapat dimanfaatkan untuk menanam komoditas strategis seperti padi, jagung, dan kedelai dengan melibatkan petani lokal. Selain itu, pelibatan teknologi berbasis digital dalam pemasaran hasil pertanian dapat meningkatkan akses pasar bagi petani.

Kita menyadari ketahanan pangan adalah salah satu pilar utama dalam menjaga kedaulatan bangsa. Dalam menghadapi tantangan global dan domestik, Indonesia perlu mengoptimalkan potensi sumber daya alamnya melalui pendekatan yang inklusif dan berkelanjutan.

Penguatan peran aktif LAZ yang selama ini sudah berjalan dalam pemberdayaan petani, pengembangan teknologi, dan pembangunan infrastruktur dapat menjadi katalisator penting dalam mewujudkan swasembada pangan.

Dengan sinergi antara pemerintah, LAZ, dan masyarakat, Indonesia dapat mewujudkan visi kemandirian pangan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga memperkuat posisi negara di panggung internasional.

Ketahanan pangan bukan sekadar tentang perut kenyang, tetapi juga tentang kemandirian, kesehatan, dan kesejahteraan bangsa. Lebih jauh dari itu, ini tentang kemampuan Indonesia bertahan, survive, dan berpengaruh ke depan.

*) Imam Nawawi, penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah 2020-2023, Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect)

Dedikasi untuk Umat, BMH Raih Dua Penghargaan di Indonesia Fundraising Award 2024

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH) kembali mencatatkan prestasi sebagai bukti dedikasi untuk umat dengan meraih dua penghargaan dalam ajang bergengsi Indonesia Fundraising Award (IFA) 2024.

Acara penganugerahan ini diadakan oleh Institut Fundraising Indonesia (IFI) di Hotel Pullman, Jakarta, Jumat, 11 Jumadil Akhir 1446 (13/12/2024).

Pengakuan ini tidak hanya menegaskan peran strategis BMH dalam pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) tetapi juga memperlihatkan konsistensi mereka dalam memberikan manfaat kepada umat.

BMH berhasil mendapatkan dua kategori penghargaan, yaitu “Fundraising ZIS Berbasis Ormas Terbaik IFA 2024” dan “Kampanye Fundraising Terbaik IFA 2024.”

Ketua Pengurus BMH, Firman ZA, hadir secara langsung untuk menerima penghargaan tersebut, mewakili seluruh tim dan donatur yang telah berkontribusi dalam pencapaian ini.

Dalam sambutannya, Firman menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada IFI dan semua pihak yang telah mendukung visi misi BMH.

“Penghargaan ini adalah hasil sinergi antara kerja keras tim dan kepercayaan masyarakat,” ujar Firman, seraya menekankan bahwa kepercayaan masyarakat adalah kunci keberhasilan BMH selama ini.

Dukungan dari elemen umat memungkinkan BMH untuk meluncurkan berbagai program inovatif yang memberikan dampak positif secara luas.

Sebagai lembaga yang memiliki akar kuat dalam nilai-nilai keislaman, BMH telah menunjukkan dedikasi yang tinggi dalam mengelola dana ZIS. Prestasi ini tidak hanya menjadi pengakuan atas kinerja BMH tetapi juga motivasi untuk terus memberikan kontribusi terbaik di masa depan.

“Semoga penghargaan ini menjadi penyemangat bagi Laznas BMH untuk terus berkontribusi secara maksimal. Melalui inovasi dan dedikasi, BMH berkomitmen menebar manfaat yang lebih besar untuk umat di masa depan,” katanya.

Ajang ini menjadi ruang apresiasi sekaligus evaluasi bagi lembaga pengelola ZIS untuk terus berinovasi. Dengan penghargaan yang diraih, Firman menambahkan, BMH diharapkan dapat terus menjadi teladan dalam mengelola dana sosial secara efektif dan berdampak luas.*/Herim

Rakernas BTH di Semarang Angkat Tema Menumbuhkan Potensi Meraih Prestasi

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Lembaga keuangan syariah Baituttamwil Hidayatullah (BTH) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Tahun 2025 dengan mengangkat tema “Menumbuhkan Potensi, Meraih Prestasi” yang digelar di Kota Semarang, Jawa Tengah, 16-18 Jumadil Akhir 1446 (18-20/12/2024).

Selama tiga hari, diskusi strategis berlangsung dengan harapan memperkuat peran BTH sebagai institusi keuangan syariah yang relevan dalam ekosistem ekonomi Indonesia.

Kepala Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Ust. Drs. Wahyu Rahman, MM, membuka Rakernas ini menyampaikan ekonomi syariah memiliki potensi besar sebagai alternatif sistem keuangan global yang lebih inklusif dan berkeadilan.

Dalam konteks Indonesia, kata Wahyu, keberadaan lembaga seperti BTH menjadi ujung tombak dalam mewujudkan visi tersebut. Karena itu, dia menegaskan pentingnya membangun profesionalisme, akuntabilitas, dan transparansi untuk masa depan BTH yang unggul.

Wahyu memandang tantangan utama yang dihadapi lembaga ekonomi syariah adalah kebutuhan untuk mengadopsi standar profesionalisme yang tinggi, menjaga integritas operasional dan transparansi.

“Profesionalisme tidak hanya mencakup kemampuan teknis, tetapi juga penerapan nilai-nilai syariah dalam setiap aspek pengelolaan keuangan,” tegasnya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Rabu, 16 Jumadil Akhir 1446 (18/12/2024).

Akuntabilitas dan transparansi, di sisi lain, berfungsi sebagai pilar kepercayaan masyarakat. Lembaga keuangan syariah, terangnya, harus mampu mengadministrasi sistem pelaporan kinerja yang jelas dan akuntabel, sehingga ada rasa aman untuk berinvestasi. Hal ini sejalan dengan prinsip maqashid syariah yang mengedepankan keadilan dan kemaslahatan.

Pilar Utama

Sementara itu, Direktur BTH, Saiful Anwar, mengatakan tema yang diangkat pada Rakernas kali ini merefleksikan upaya BTH untuk memanfaatkan sumber daya internal yang besar sekaligus merespons tantangan regulasi yang semakin kompleks.

Saiful menekankan bahwa salah satu pilar utama BTH adalah kualitas sumber daya manusia. Dengan mengandalkan kader dan santri Hidayatullah yang memiliki kualifikasi unggul, BTH berpotensi menjadi pemain utama di sektor keuangan syariah nasional.

“Namun, potensi ini hanya dapat direalisasikan jika ada pengelolaan yang sistematis dan terarah,” kata Saiful.

Menurut Saiful, seluruh potensi sumber daya yang ada harus ditumbuhkembangkan agar dapat memberi daya dukung terhadap pertumbuhan BTH.

Dia menggarisbawahi pentingnya program pelatihan berkelanjutan, digitalisasi operasional, dan pembangunan kapasitas SDM.

Saiful menyebutkan Rakernas BTH 2025 juga berfungsi sebagai platform untuk merumuskan strategi menghadapi tantangan regulasi baru. Disahkannya Rancangan Undang-Undang tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (RUU P2SK) menjadi undang-undang pada akhir 2022 menandai perubahan signifikan dalam pengelolaan koperasi di Indonesia.

Regulasi ini mengalihkan pengawasan koperasi keuangan dari Kementerian Koperasi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dengan standar yang lebih menyerupai perbankan. Langkah ini bertujuan memperkuat transparansi dan akuntabilitas sektor keuangan.

Namun, bagi institusi seperti BTH, perubahan ini menghadirkan tantangan besar. Saiful mengakui, sistem dan manajemen BTH belum betul-betul memiliki standarisasi yang memadai. Oleh karena itu, Rakernas tahun ini juga difokuskan pada evaluasi sistem operasional dan penyusunan kebijakan strategis.

Disamping itu, Saiful menguraikan, bahwa untuk bertahan dalam iklim regulasi yang ketat, BTH perlu mengadopsi standar operasional yang sesuai dengan regulasi OJK. Salah satu aspek penting adalah implementasi teknologi keuangan (fintech) yang dapat meningkatkan efisiensi layanan sekaligus memperluas jangkauan anggota.

Dalam lanskap ekonomi syariah global, digitalisasi terbukti menjadi penggerak utama pertumbuhan. Sebagai contoh, kata dia, negara-negara seperti Malaysia dan Uni Emirat Arab telah berhasil mengintegrasikan teknologi dalam sistem keuangan syariah mereka, menghasilkan peningkatan inklusi keuangan.

Selain itu, Saiful melihat pelatihan SDM yang difokuskan pada pemahaman regulasi baru dan pengelolaan risiko sangat diperlukan. “Upaya ini tidak hanya membantu BTH memenuhi kepatuhan tetapi juga meningkatkan daya saing institusi,” terangnya.

Dalam pada itu, salah satu agenda utama Rakernas adalah evaluasi kinerja tahun 2024 dan penyusunan strategi bisnis untuk 2025. Dia menegaskan perlunya program kerja yang lebih tertata secara sistematis, mulai dari program jangka panjang hingga program turunan di cabang.

“BTH juga perlu mengintegrasikan manajemen secara terpusat untuk memastikan keselarasan antara visi nasional dan implementasi di tingkat lokal. Integrasi ini akan mengurangi redundansi, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat koordinasi antar cabang,” tukasnya.

Selain itu, sebagai bagian dari gerakan ekonomi Islam, BTH juga berkomirmen meningkatkan peran dalam menumbuhkan ekosistem keuangan syariah di Tanah Air.

Namun, untuk mencapai tujuan ini, tegas dia, kolaborasi dengan lembaga keuangan syariah lainnya, termasuk perbankan syariah dan fintech, sangat penting.

“BTH harus terus menata sistem operasional dan internal bisnis proses yang memadai untuk menjadi lembaga keuangan syariah yang utama. Melalui sinergi, BTH dapat memperluas cakupan layanan, meningkatkan likuiditas, dan menghadirkan inovasi produk,” katanya.

Anwar menambahkan, dengan Rakernas 2025 kali ini, BTH terus menumbuhkan potensinya dan mencapai raihan prestasi sebagai institusi keuangan yang unggul melalui kolaborasi yang erat, inovasi yang berkelanjutan, dan komitmen pada nilai-nilai syariah. (ybh/hidayatullah.or.id)

Hidayatullah Hadiri Mukernas IV Tahun 2024 Majelis Ulama Indonesia

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah sebagai salah satu ormas Islam turut hadir dalam Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) IV 2024 Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang diwakili Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta, yang digelar selama 3 hari, 6-8 Jumadil Akhir 1446 (17-19/12//2024).

Kehadiran Abdul Ghofar yang merupakan jebolan pondok pesantren tertua di Indonesia, Pondok Pesantren Hidayatut Thullab atau Pondok Tengah, Durenan, Trenggalek, ini sekaligus menjalin relasi dan komunikasi dengan pimpinan-pimpinan MUI dan ormas.

Peserta Mukernas IV MUI terdiri dari Dewan Pimpinan (DP) MUI berjumlah 39 orang, Pimpinan Dewan Pertimbangan (Wantim) MUI berjumlah 19 orang, utusan Pimpinan Komisi, Badan dan Lembaga (KBL) MUI, Dewan Pimpinan MUI dari 34 Provinsi dan perwakilan 50 Ormas-ormas Islam tingkat pusat.

Abdul Ghofar mengatakan, Hidayatullah sejak awal berdirinya telah menjadikan peran sebagai khodimul ummah (pelayan umat) dan shodiqul hukumah (mitra pemerintah) sebagai inti dari gerakannya.

Dalam semangat harmoni, terang dia, prinsip ini diwujudkan melalui berbagai program yang berorientasi pada penguatan ukhuwah Islamiyah dan penjagaan kerukunan antar umat.

Kehadiran Hidayatullah di daerah-daerah yang memiliki tantangan sosial dan budaya tinggi, seperti Papua, menjadi bukti nyata kontribusinya sebagai perekat persaudaraan dan penjaga stabilitas sosial.

“Program-program yang diinisiasi di wilayah ini dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat lokal tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam yang universal. Hal ini menegaskan posisi strategis Hidayatullah sebagai motor penggerak harmoni, yang tak hanya dirasakan oleh umat Islam tetapi juga oleh komunitas lintas agama dan budaya,” kata Ghofar kepada media ini, Rabu, 16 Jumadil Akhir 1446 (18/12/2024).

Oleh sebab itu, kata Ghofar, momentum Mukernas IV Tahun 2024 MUI ini menjadi penting dalam menguatkan landasan gerakan Hidayatullah ke depan.

Dengan tema yang menekankan penguatan peran ulama sebagai penjaga moral bangsa, forum ini menurutnya akan menjadi ruang refleksi sekaligus konsolidasi untuk mempertegas visi bersama umat Islam.

“Sebagai bagian dari elemen strategis umat, Hidayatullah dapat memanfaatkan forum ini untuk memperluas sinergi dengan pemerintah, ormas Islam, dan institusi lain dalam menghadapi tantangan globalisasi, disintegrasi, dan ketimpangan sosial,” katanya.

Dia menambahkan, keterlibatan Hidayatullah dalam menjaga harmoni dan memperkuat ukhuwah, terlebih di daerah-daerah pelosok yang rawan dan rentan, mencerminkan implementasi nyata dari peran khodimul ummah dan shodiqul hukumah.

“Diharapkan, semangat ini terus diperkuat melalui arahan dan kebijakan strategis yang disepakati dalam Mukernas MUI 2024. Dengan demikian, Hidayatullah tetap berada di garda depan dalam memberikan kontribusi nyata bagi umat dan bangsa,” tandasnya.

Seperti diketahui kegiatan Mukernas IV MUI 2024 mengusung tema “Memperkokoh Peran MUI Sebagai Pelayan Umat dan Mitra Pemerintah.

Ketua Panitia Mukernas IV Majelis Ulama Indonesia (MUI) 2024, KH. Masduki Baidlowi, mengatakan tujuan umum Mukernas adalah meningkatan peran MUI dalam memperkuat penyamaan pola pikir keagamaan (taswiyatul manhaj) bersama seluruh elemen umat dan bangsa dalam rangka sinergi dan kolaborasi membangun bangsa dan memperkokoh negara.

Selain itu, Mukernas juga bertujuan tingkatkan peran MUI dalam memperkuat ukhwah Islamiyah dan ukhwah wathaniyah di kalangan warga bangsa dan perteguh peran MUI dalam ikut mewujudkan kesejahteraan umat serta memperkuat peran MUI dalam ikhtiar mengatasi problem kemanusiaan baik skala nasional maupun global dalam rangka mewujudkan perdamaian dunia.

Hadir pada kesempatan pembukaan acara ini Wapres ke-13 sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Prof Dr KH Ma’ruf Amin, Menteri Agama Prof. Nasarudin Umar, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Fauzi, Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) bidang Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan Indonesia, Otto Hasibuan, yang duduk berdampingan dengan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Ketua Baznas dan sejumlah pejabat, tokoh dan tamu undangan hadir dalam acara pembukaan Mukernas.

Dalam Mukernas juga dirangkai dengan penyerahan Sertifikat Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015 dari badan sertifikasi Worldwide Quality Assurance (WQA), kantor pusat London Inggris kepada Dewan Pimpinan MUI. Kemudian penandatanganan MoU MUI dengan Lemhanas, UIN Sunan Syarif Hidayatullah dan Bank Syariah Indonesia (BSI).

Pembahasan materi di Mukernas IV ini juga mengundang Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Luar Negeri Sugiono, Menko Perekonomian H. Airlangga Hartarto, Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana. (ybh/hidayatullah.or.id)

Rakerwil Pemuda Hidayatullah Jakarta Telaah Tantangan Dakwah Masa Kini

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangkaian kegiatan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Pemuda Hidayatullah Jakarta yang digelar pada Sabtu, 13 Jumadil Akhir 1446 (14/12/2024), Pelatihan Dai Milenial menghadirkan Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect), Imam Nawawi, sebagai pembicara utama.

Dalam acara yang digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta ini, Imam Nawawi menyajikan telaah berkenaan dengan tantangan dan peluang pemuda masa kini serta menekankan pentingnya memadukan kecerdasan intelektual dan spiritual untuk menjawab tantangan dakwah di era digital.

Imam Nawawi mengawali paparannya dengan mengingatkan bahwa tanggung jawab seorang mukmin dimulai sejak ia dilahirkan ke dunia. “Kewajiban pertama yang diperintahkan Allah SWT kepada kita adalah iqra’, membacalah!,” tegasnya.

Tanggung jawab itu, terang Imam, dipikulkan bagu setiap muslim sebagaimana termaktub dalam surah Al-‘Alaq ayat 1. Membaca di sini bukan sekadar aktivitas membaca secara fisik, tetapi juga membaca tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.

Imam menekankan bahwa memahami perintah iqra’ secara mendalam akan membentuk dasar yang kokoh dalam mengarungi kehidupan, terutama dalam menghadapi tantangan dakwah.

“Seorang dai, apalagi anak muda milenilal seperti Anda, harus terus belajar dan memperkaya dirinya dengan ilmu. Dakwah tidak bisa dilakukan tanpa bekal ilmu dan ia didapatkan melalui proses ‘membaca’,” tambahnya.

Imam Nawawi juga menyoroti peran media sosial sebagai pusat kegiatan manusia modern. “Hari ini, interaksi manusia lebih banyak terjadi di media sosial. Mereka membaca, menulis, bahkan berdiskusi di platform ini hampir sepanjang waktu,” katanya.

Dia pun mengajak para dai milenial untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah yang efektif. Menurutnya, media sosial bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga medan dakwah. “Gunakanlah platform ini untuk menyampaikan pesan-pesan yang mendidik, mencerahkan, dan menggerakkan,” jelasnya.

Namun, Imam Nawawi juga mengingatkan risiko yang ada. Jika tidak bijak, media sosial bisa menjadi ladang fitnah. Oleh karena itu, setiap postingan harus berdasarkan ilmu yang benar.

Inspirasi dari Ilmuwan Islam

Dalam upayanya memberikan perspektif yang luas, Imam Nawawi menyebutkan sejarah penemuan kamera yang berasal dari ilmuwan Islam, Alhazen (Ibn al-Haytham). Kata Imam, penemuan kamera yang kita gunakan hari ini tidak lepas dari kontribusi umat Islam di masa lalu.

“Alhazen, seorang ilmuwan Muslim, adalah orang pertama yang mengembangkan teori optik dan camera obscura,” jelasnya.

Menurut Imam, mengenang sejarah ini penting untuk membangun rasa percaya diri generasi muda Muslim. “Ilmu pengetahuan adalah bagian dari tradisi Islam. Generasi milenial harus memahami bahwa menjadi Muslim berarti menjadi ilmuwan, pembelajar, dan inovator,” imbuhnya.

Imam Nawawi juga menekankan pentingnya mengaktifkan pikiran sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an. Allah SWT sering kali mengajak manusia untuk berpikir, merenung, dan mengambil pelajaran. Dalam surah Al-Baqarah, misalnya, manusia diajak untuk memperhatikan tanda-tanda kebesaran-Nya di langit dan bumi.

Imam menekankan bahwa dai milenial harus menjadi pribadi yang reflektif dan kritis. “Pikiran yang aktif dan terarah adalah kunci untuk menghasilkan dakwah yang relevan dan solutif,” ujar Imam.

Selanjutnya, Imam Nawawi menekankan bahwa dakwah harus selalu mengikuti perkembangan zaman. “Dakwah di era akhir zaman membutuhkan pendekatan yang adaptif. Kita tidak bisa mengandalkan metode lama untuk menjawab tantangan baru,” katanya.

Dia mencontohkan bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan dakwah. “Hari ini, kita bisa berdakwah melalui video pendek, podcast, atau bahkan live streaming. Namun, substansinya tetap harus selaras dengan nilai-nilai Islam,” tambahnya.

Sebagai penutup, Imam Nawawi mengingatkan pentingnya pengelolaan waktu. Waktu adalah nikmat yang sering kita abaikan. “Seorang dai harus mampu menyusun waktunya secara produktif agar dapat memberi manfaat maksimal,” tegasnya.

Ia lantas mengutip wejangan Rasulullah SAW agar kita memanfaatkan lima perkara sebelum lima perkara, yaitu masa muda sebelum datang masa tua, masa sehat sebelum datang sakit, kaya sebelum datang miskin, waktu luang sebelum datang sibuk, dan memanfaatkan hidup sebaik mungkin sebelum datang ajal menjemput.

Imam Nawawi menegaskan bahwa manajemen waktu bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga tentang keberkahan. “Ketika kita mengelola waktu dengan baik, kita tidak hanya produktif, tetapi juga mendapatkan keberkahan dalam setiap aktivitas,” pungkasnya.*/Hasman Dwipangga