Beranda blog Halaman 128

Membangun Tradisi Menulis dan Meneliti sebagai Pilar Peradaban

0

KEMAJUAN peradaban manusia tidak terlepas dari keberanian untuk menggali hal-hal baru yang sebelumnya tersembunyi atau menjadi misteri.

Dalam ilmu pengetahuan, mencari tahu rahasia alam semesta tidak hanya memperkaya khazanah keilmuan tetapi juga mempertegas kehadiran Sang Pencipta melalui keajaiban penciptaan-Nya.

Perjalanan ilmu pengetahuan modern semacam ini memberikan apresiasi besar terhadap inovasi melalui penghargaan prestisius seperti Nobel Prize.

Nobel Prize, yang diinisiasi oleh Alfred Nobel, seorang ilmuwan dan pengusaha asal Swedia, pertama kali diberikan pada tahun 1901.

Alfred Nobel, yang dikenal sebagai penemu dinamit, menyatakan dalam surat wasiatnya bahwa kekayaannya akan digunakan untuk mendirikan penghargaan bagi mereka yang memberikan kontribusi luar biasa di bidang Fisika, Kimia, Fisiologi atau Kedokteran, Sastra, dan Perdamaian. Hingga 2023, penghargaan ini telah diberikan kepada 993 individu dari berbagai disiplin ilmu dan latar belakang budaya.

Statistik menunjukkan bahwa sebagian besar penerima Nobel berasal dari agama Kristen (68%), disusul Yahudi (20,8%), dan Islam (1,3%).

Meskipun umat Islam merupakan populasi kedua terbesar di dunia dengan sekitar 1,8 miliar jiwa, pemenang Nobel dari kategori sains hanya tiga orang: Abdus Salam (Fisika, 1979), Ahmed Zewail (Kimia, 1999), dan Aziz Sancar (Kimia, 2015). Bandingkan dengan orang Yahudi yang hanya berjumlah 20 juta tetapi mencatatkan lebih dari 23% pemenang Nobel.

Kontribusi Ilmuwan Muslim

Kesuksesan ilmuwan Muslim dalam sejarah membuktikan bahwa Islam memiliki tradisi kuat dalam bidang keilmuan. Pada masa keemasan Islam (750–1258 M) di bawah kekuasaan Abbasiyah, berbagai disiplin ilmu berkembang pesat. Tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Sina, Al-Biruni, dan Al-Khawarizmi memberikan kontribusi signifikan pada dunia.

Ibnu Sina (Avicenna) dikenal sebagai “Bapak Kedokteran Modern” melalui karyanya, Qanun Fi At-Tib, yang menjadi referensi utama di dunia Islam dan Eropa hingga abad ke-19.

Kemudian ada Al-Biruni, yang melakukan penghitungan keliling bumi dengan presisi tinggi (6.340 km), hanya meleset 1% dari penghitungan modern (6.371 km). Lalu, Al-Khawarizmi, yang memperkenalkan algoritma, fondasi penting dalam matematika dan teknologi.

Keberhasilan para ilmuwan Muslim ini tidak terlepas dari tradisi menulis, meneliti, dan mendokumentasikan penemuan mereka.

Karya-karya mereka menjadi jembatan penting bagi kebangkitan ilmu pengetahuan di Eropa pada era Renaisans, seperti diakui oleh Thomas Carlyle, seorang sejarawan Barat, yang mengatakan bahwa dunia Eropa memiliki utang besar terhadap ilmuwan Muslim yang tidak dapat dibayar sampai kapan pun.

Pilar Peradaban

Menulis adalah salah satu cara untuk mengabadikan ilmu pengetahuan. Menurut data UNESCO, tingkat literasi global mencapai 86,3% pada 2020, namun Indonesia menghadapi tantangan dalam budaya menulis dan literasi.

Sementara itu, survei Central Connecticut State University (CCSU) pada 2016 menempatkan Indonesia di peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal minat membaca.

Namun, potensi untuk meningkatkan budaya literasi tetap besar. Program literasi nasional dan inisiatif digital seperti perpustakaan daring dapat mendorong minat membaca dan menulis, terutama di kalangan generasi muda.

Dengan meningkatkan budaya literasi, masyarakat dapat lebih aktif dalam menggali pengetahuan baru dan berkontribusi pada dunia ilmu pengetahuan.

Singkat kata, kemajuan sains di masa depan membutuhkan komitmen meneliti untuk terus menggali rasa ingin tahu dan semangat menulis. Seperti yang ditunjukkan oleh ilmuwan Muslim masa lalu, menulis adalah senjata peradaban.

Dengan meneladani semangat para pendahulu dalam membaca dan meneliti yang berlandaskan pada semangat iqra’ bismirabbik, umat Islam dapat memperkuat kontribusinya dalam ilmu pengetahuan global untuk menghadirkan maslahat bagi alam semesta.[]

*) Maulana Lukman, penulis mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim (STAIL) Surabaya

Jangan Berputus Asa Menjemput Rahmat Allah Meski Bergelimang Dosa

0
Ilustrasi berdoa memohon ampun kepada Allah Ta’ala (Foto: Ai Dream Lab/ Hidayatullah.or.id)

DITENGAH tengah hiruk-pikuk kehidupan, sering kali kita lupa bahwa setiap helaan napas, setiap nikmat kecil hingga besar yang kita rasakan, adalah manifestasi janji Allah yang begitu manis.

Allah Ta’ala telah menetapkan dalam firman-Nya, bahwa bagi mereka yang bersyukur, nikmat-Nya akan terus bertambah. Sebuah janji yang indah dan pastilah tertunaikan:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَ زِيْدَنَّـكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَا بِيْ لَشَدِيْدٌ

“Sungguh, jika kamu sekalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kamu sekalian. Namun jika kamu kufur (tidak bersyukur), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Seperti seorang petani yang merawat ladangnya, syukur adalah air yang menyuburkan ladang hati kita. Ia adalah kunci yang membuka pintu-pintu keberkahan dan karunia.

Bukankah kita telah menyaksikan dalam hidup ini, betapa rasa syukur mampu mengubah segalanya? Bukan hanya menambah nikmat secara lahiriah, tetapi juga melimpahkan ketenangan batin yang tak ternilai.

Allah memastikan janji-Nya dalam ayat-ayat lain dengan kehangatan yang sama. Dia berkata:

فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ

“Maka ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku pun akan ingat kepada kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian kufur kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)

Seruan Ilahi ini begitu menyentuh. Bayangkan seorang sahabat sejati yang selalu mengingat kita di setiap keadaan. Allah, dengan kasih-Nya yang tiada tandingan, menjadikan ingatan kita kepada-Nya sebagai jalan agar Dia senantiasa mencurahkan perhatian-Nya kepada kita. Adakah kasih yang lebih besar dari ini?

Namun, syukur bukanlah satu-satunya jalan. Doa dan istighfar adalah langkah-langkah lain menuju keajaiban. Dalam Al Qur’an suah Al-Baqarah ayat 185, Allah dengan lembut berjanji:

أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

“Aku pasti mengabulkan permohonan orang yang berdoa, apabila ia memohon kepada-Ku.”

Dan, dalam Al Qur’an suci surah Al-Mukmin ayat 60, Allah Ta’ala menegaskan,

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ

“Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan doa-doa kalian.”

Janji ini memberikan rasa aman kepada hamba-Nya. Di setiap kesempitan, di setiap liku hidup yang penuh ujian, kita tak pernah sendiri. Allah, Rabb yang Maha Mendengar, selalu menunggu doa-doa kita.

Bahkan, Allah Ta’ala tidak pernah menetapkan syarat yang sulit. Yang perlu kita lakukan hanyalah beribadah, memanggil-Nya, menyeru dengan hati yang penuh keyakinan.

Lalu, bagaimana dengan dosa-dosa yang sering membuat kita merasa tak layak mendekat kepada-Nya? Allah menjawab dengan rahmat-Nya yang tak bertepi:

وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan Allah tidaklah menghukum (mengazab) mereka sedangkan mereka memohon ampun (kepada-Nya).” (QS. Al-Anfal: 33)

Seakan-akan Allah berkata kepada kita yang bergelimang dosa, “Datanglah kepada-Ku, bawa segala kekuranganmu, dan Aku akan menyambutmu dengan ampunan.”

Ayat ini adalah pelipur lara bagi setiap jiwa yang merasa kotor. Betapa besar kasih sayang Allah, yang membuka pintu ampunan-Nya lebar-lebar bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh bertaubat dan memohon ampun.

Manisnya janji Allah ini dapat dirasakan oleh siapa pun yang ingin mendekat kepada-Nya. Kita hanya perlu memulainya dengan selalu bersyukur, berdoa, dan istighfar. Inilah taubat yang hakiki, taubat esensial, bukan “taubat taubat sambal”.

Dengan bersyukur, kita membuka pintu keberkahan. Dengan berdoa, kita menguatkan ikatan dengan-Nya. Dan dengan istighfar, kita membersihkan noda yang mungkin menghalangi rahmat-Nya.

Bahkan, kisah-kisah para nabi menunjukkan betapa Allah selalu setia pada janji-Nya. Nabi Yunus ‘alaihis-salam, ketika berada dalam perut ikan, tidak berhenti mengingat Allah. Dengan doa penuh keikhlasan, ia akhirnya diselamatkan.

Nabi Ayub ‘alaihis-salam, dalam kesabaran yang luar biasa menghadapi penyakit, mendapatkan kesembuhan dan nikmat berlipat ganda. Semua itu karena mereka meyakini janji Allah.

Bagi kita, janji ini adalah peta hidup. Syukur menjadi penunjuk arah di jalan nikmat, doa menjadi kompas di tengah badai ujian, dan istighfar menjadi mercusuar yang membimbing kita kembali kepada-Nya. Hidup tidak pernah benar-benar gelap selama kita percaya pada janji-janji ini.

Sebagai penutup, mari kita renungkan, bahwa dalam setiap nikmat yang kita syukuri, dalam setiap doa yang kita lantunkan, dan dalam setiap istighfar yang kita ucapkan, ada cinta Allah yang sedang kita jemput.

Bukankah itu cukup untuk membuat kita optimis? Karena pada akhirnya, Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya.

Maka pada dini hari ini saya berdo’a untuk kita semua:

اللهم اجعلنا ممن شكرك فزدت لنا وذكرك فذكرتنا ودعاك فاستجبت لنا واستغفرك فغفرت لنا. امين

“Allahummaj’alnaa mimman syakaroka fa syakarta lanaa, wa dzakaroka fa dzakartanaa, wa da’aaka fastajabta lanaa, wastaghfaroka faghofarta lanaa. Aamiin.. “

“Ya Allah, jadikanlah kami semua ini termasuk golongan orang-orang yang senantiasa bersyukur kepada-Mu, sehingga Engkau berkenan menambah nikmat-Mu untuk kami.

Jadikanlah kami semua orang-orang yang senantiasa mengingat-Mu ( senantiasa berdzikir kepada-Mu ), sehingga Engkau pun berkenan untuk mengingat kami.

Jadikanlah kami orang -orang yang senantiasa berdo’a kepada-Mu, dan Engkau pun berkenan mengabulkan do’a-do’a kami.

Jadikan kami orang – orang yang senantiasa beristighfar kepada-Mu atas dosa – dosa kami , sehingga Engkau pun berkenan mengampuni segala dosa kami. Aamiiin.

*) Ust. Drs. Khoirul Anam, penulis Anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sumut, guru ngaji di Rumah Qur’an Yahfin Siregar Tamora dan pengasuh Hidayatullah Al-Qur’an Learning Centre Medan

Semarak Petualangan Literasi Santri Qur’an Hidayatullah Pekanbaru

0

PEKANBARU (Hidayatullah.or.id) — Dengan dukungan Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai), Rumah Qur’an Hidayatullah Al-Madani sebagai Rumah Qur’an Hidayatullah rujukan se-Provinsi Riau menyelenggarakan acara penuh semangat bertajuk “Petualangan Literasi Santri Qur’an”, pada hari Ahad, 6 Jumadil Akhir 1446 (8/12/2024).

Kegiatan ini mengundang antusiasme besar dari seluruh peserta Rumah Qur’an Hidayatullah se-Kota Pekanbaru, berlangsung meriah di Perpustakaan Wilayah Soeman HS Provinsi Riau.

Acara dimulai dengan pembukaan resmi yang diiringi penampilan dai cilik. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan berbagai lomba edukatif seperti Story Telling, resume buku Islami, dan Rangking 1, yang semuanya bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap membaca di kalangan santri Qur’an.

Dengan suasana edukasi yang penuh semangat, acara ini memperkenalkan dunia literasi kepada para santri. Kegiatan ini juga memadukan nilai-nilai Islam dalam setiap kegiatan.

Para santri tidak hanya belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an tetapi juga dilatih untuk berpikir kritis dan kreatif melalui literasi.

Acara ini semakin istimewa dengan kehadiran Dra. Mimi Yuliani Nazir, Apt, MM, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau.

Dalam pidatonya, beliau menyampaikan pesan agar santri selalu semangat dan optimis dalam menjemput masa depan. Dengan bekal Qur’an dalam hati dan gemar belajar dan berlatih, santri akan menjadi orang hebat di masa depan.

“Para Santri Qur’an harus menumbuhkan rasa cinta dalam membaca, ditambah lagi fasilitas di Perpustakaan Soeman HS sudah sangat memadai. Kami siap menjadi wadah para santri Qur’an untuk pengembangan bakat dan minat dalam hal literasi,” kata Bunda Mimi Yuliani.

Bunda Mimi juga mengapresiasi acara Petualangan Literasi Santri Qur’an sebagai salah satu tonggak penting dalam membentuk generasi muda Qur’ani yang tidak hanya fasih dalam agama, tetapi juga siap bersaing di era modern dengan keterampilan literasi yang mumpuni.

Sementara itu, sebagai kepala Rumah Qur’an Hidayatullah Al-Madani, Ustadz Rizki Hidayat, S.Sos., memberikan arahan tentang pentingnya keseimbangan antara pendidikan Qur’ani dan pengembangan minat bakat.

“Selain keseharian santri belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an, kita juga membuat program yang profesional untuk mengembangkan bakat dan minat anak sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini. Sehingga para santri Qur’an Hidayatullah bisa menjadi pemimpin yang sholeh di masa depan nanti,” kata Rizki.

Peserta kegiatan ini meliputi Rumah Qur’an Hidayatullah Jannah Fiuser, Rumah Qur’an Hidayatullah Dasrun Foil Jannah, dan Rumah Qur’an Hidayatullah Al-Lila. Para wali santri turut hadir memberikan dukungan penuh, menciptakan suasana kekeluargaan yang kental di tengah acara.

Rizki menambahkan, Rumah Qur’an Hidayatullah Al-Madani dan seluruh pihak yang terlibat patut berbangga atas keberhasilan acara ini, yang mencerminkan komitmen kuat terhadap pendidikan Islam yang holistik.

“Semoga semangat literasi ini terus tumbuh dan melahirkan generasi Qur’ani yang cinta ilmu dan berakhlak mulia,” harap Rizki menandaskan. (ybh/hidayatullah.or.id)

Rakor Bersama Kanwil Kemenag Canangkan Sinergi Tingkatkan Kesejahteraan Santri

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah Sulawesi Selatan (Laznas BMH Sulsel) menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia Kanwil Sulawesi Selatan, Rabu, 9 Jumadil Akhir 1446 (11/12/2024).

Bertempat di Jalan Nuri No. 53, Mariso, Kota Makassar, acara ini menjadi momentum strategis untuk membahas tata kelola zakat berbasis kolaborasi program keumatan.

Kepala Bidang Penerangan Agama Islam dan Pemberdayaan Zakat dan Wakaf (Penaiszawa) Kanwil Kemenag Sulsel, Dr. H. Mulyadi Iskandar, menegaskan pentingnya prinsip tata kelola zakat yang meliputi Aman Syar’i, Aman Regulasi, dan Aman NKRI.

Menurut Mulyadi, lembaga zakat perlu memperkuat sinergi dalam menjalankan program prioritas, salah satunya penyediaan makanan bergizi untuk santri. “Agenda ini bagian dari Hari Amal Bhakti. Kami berharap manfaatnya dirasakan lebih banyak umat,” ujar Mulyadi.

Dalam kerangka itu, Kadir, Kepala Laznas BMH Sulsel, menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi yang dijalin dengan Kemenag Sulsel.

“Kolaborasi ini bermanfaat langsung bagi umat. Dana masyarakat kembali membantu mereka yang membutuhkan,” ungkapnya.

Sebagai bentuk konkret dari sinergi tersebut, Laznas BMH dan Kemenag Sulsel berencana melaksanakan program gizi santri pada 18 Desember 2024. Program ini bertujuan mendukung kesehatan dan pendidikan santri melalui penyediaan makanan bergizi gratis.

Penyediaan makanan bergizi bagi santri bukan sekadar isu kesehatan, tetapi juga investasi strategis dalam pembangunan sumber daya manusia. Berdasarkan laporan UNICEF 2023, sekitar 25% anak-anak Indonesia masih menghadapi tantangan gizi buruk atau stunting.

Dalam konteks pesantren, menurut Kadir, kebutuhan akan makanan bergizi semakin penting mengingat peran santri sebagai calon pemimpin bangsa. Program seperti ini menjadi langkah signifikan untuk mengatasi masalah tersebut.

Zakat, infak, dan sedekah (ZIS) memiliki potensi besar untuk memberdayakan umat. Melalui pengelolaan yang transparan dan akuntabel, dana yang dihimpun dari masyarakat dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung program-program keumatan.

“Program gizi santri adalah wujud nyata dari kembalinya dana masyarakat untuk masyarakat,” kata Kadir.

Hari Amal Bhakti yang diperingati setiap tahun menjadi momen refleksi untuk memperkuat program-program berbasis pemberdayaan.

Melalui pendekatan yang holistik, penyediaan makanan bergizi gratis bagi santri tidak hanya meningkatkan kesehatan, tetapi juga menunjang kemampuan mereka dalam belajar dan mengembangkan diri. Langkah ini sejalan dengan tujuan zakat untuk menciptakan keadilan sosial dan meningkatkan kesejahteraan umat.

Dengan keterlibatan berbagai pihak, lanjut Kadir, diharapkan upaya ini dapat menjadi model yang dapat direplikasi di wilayah lain.

“Pada akhirnya, investasi dalam gizi santri adalah investasi dalam masa depan bangsa, memastikan generasi penerus memiliki kesehatan fisik dan mental yang optimal untuk menghadapi tantangan global di masa mendatang,” tandas Kadir.*/Herim

Gerakan Tanam Sejuta Pohon Hidayatullah Pamekasan untuk Perbanyak Tutupan Hijau

0

PAMEKASAN (Hidayatullah.or.id) — Dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan, Alumni Universitas Brawijaya (UB) 1987 bekerja sama dengan Hidayatullah Pamekasan serta didukung oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitulmaal Hidayatullah (Laznas BMH), meluncurkan Gerakan Menanam Sejuta Pohon.

Kegiatan penanaman pohon ini dilaksanakan di lahan Pondok Pesantren Hidayatullah 2 Pamekasan, Jawa Timur, dengan melibatkan 30 peserta, termasuk santri Darul Hijrah 6 Pamekasan, beberapa waktu lalu.

Totok, salah satu Alumni UB 1987, mengungkapkan rasa bangganya dapat terlibat dalam gerakan ini. “Ini adalah langkah kecil untuk perubahan besar,” katanya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Rabu, 9 Jumadil Akhir 1446 (11/12/2024).

Menurutnya, kolaborasi ini menunjukkan bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab bersama, dan ia merasa sangat senang bisa berpartisipasi dalam program ini.

Suasana kegiatan berlangsung meriah, dengan antusiasme tinggi dari para peserta, khususnya para santri, dalam menanam pohon.

Imam Muslim, perwakilan dari BMH Jawa Timur, memberikan apresiasi dan dukungan terhadap gerakan pelestarian alam ini. Ia juga menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam upaya penghijauan.

“Gerakan ini adalah ikhtiar bersama untuk mewujudkan lingkungan yang lebih hijau dan sehat. Kami berharap kegiatan ini bisa menginspirasi masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan,” kata Muslim.

Ia menambahkan, program ini perlu dukung bersama. “Bayangkan wajah ceria anak cucu kita kelak, menghirup udara segar di bawah naungan pepohonan rindang, menikmati keindahan alam yang lestari,” imbuhnya.

Saat ini, menurutnya, perubahan iklim menjadi tantangan global yang mendesak. Dia menyebutkan, mengutip laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), bahwa suhu bumi telah meningkat rata-rata 1,1°C sejak era pra-industri.

Laju deforestasi dan emisi karbon yang tinggi terus memberikan tekanan pada ekosistem global. Karena itu, tegas dia, tanpa tindakan nyata, risiko bencana lingkungan seperti banjir, kekeringan, dan penurunan keanekaragaman hayati semakin besar.

“Gerakan seperti ini menjadi salah satu solusi konkret untuk mengurangi dampak negatif perubahan iklim. Menanam pohon ini akan menambah tutupan hijau dan juga membantu menyerap karbon dioksida, meningkatkan kualitas udara, dan menjaga keseimbangan ekosistem,” katanya.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi wujud nyata kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga bentuk edukasi bagi generasi muda akan pentingnya menjaga bumi.

Dia berharap gerakan menanam sejuta pohon di Pondok Pesantren Hidayatullah Pamekasan ini menjadi inspirasi demi masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Bumi yang hijau, lanjutnya, adalah warisan terbaik yang bisa diberikan bagi kehidupan yang sehat di bumi untuk generasi berikutnya.

“Mari kita jaga dan rawat bumi ini, agar generasi mendatang dapat merasakan nikmatnya hidup berdampingan dengan alam yang sehat dan seimbang,” tutup Muslim dengan penuh harap.*/Herim

Langkah Strategis Hidayatullah Bangka Belitung Menjawab Tantangan Dakwah

0

BANGKA BELITUNG (Hidayatullah.or.id) — Dalam menghadapi tantangan dakwah yang semakin kompleks, Hidayatullah Bangka Belitung mengambil langkah strategis dengan menyelenggarakan Daurah Marhalah Ula (DMU).

Kegiatan ini berlangsung di Pesantren Hidayatullah, Simpang Katis, dan bertujuan membekali para kader dakwah dengan ilmu, semangat, serta kesiapan untuk berkhidmat di medan dakwah.

Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Bangka Belitung, Furadi Mansur, menegaskan pentingnya kegiatan ini.

“Kebutuhan akan kader dakwah di Bangka Belitung masih sangat tinggi. Daurah ini menjadi langkah penting untuk menjawab tantangan dakwah ke depan,” ujarnya, dalam keterangan diterima media ini, Selasa, 9 Jumadil Akhir 1446 (11/12/2024).

Dia mengatakan, program derivasi dari pusat ini merupakan dasar dari visi besar Hidayatullah dalam mempersiapkan kader yang mampu menghadapi tantangan era modern.

Puluhan peserta yang berasal dari kader, guru, dan pengurus Hidayatullah se-Pulau Bangka turut berpartisipasi dalam program ini. Selama kegiatan, mereka mendapatkan materi-materi tentang ke-Hidayatullahan, pengenalan dakwah Hidayatullah, hingga kajian umum lainnya yang relevan dengan kebutuhan para kader.

Salah satu materi utama yang disampaikan dalam Daurah Marhalah Ula adalah “Tantangan Al-Alaq Makna dari Syahadat,” yang dibawakan oleh Ust Djoko Mustafa. Materi ini mendapat sambutan hangat dari peserta, yang merasa diingatkan kembali akan esensi syahadat sebagai pondasi utama perjuangan Islam.

“Ustadz Djoko mengingatkan kembali tentang makna syahadat yang sebenarnya,” ungkap Imam Buntara, salah satu peserta.

Tidak hanya itu, antusiasme para peserta semakin terlihat dari refleksi yang mereka bagikan. Abdi Putra Zalukhu, salah seorang peserta, mengungkapkan manfaat besar yang dirasakannya selama mengikuti daurah ini.

“Saya bisa memahami Hidayatullah lebih dalam dan arah perjuangannya. Insya Allah, saya lebih semangat berjuang di Hidayatullah,” katanya penuh semangat.

Pebra Rudi, peserta lainnya dari Hidayatullah Teru, juga berbagi pengalamannya. “Saya mendapat banyak ilmu dan penguatan hati untuk terus berada di lembaga perjuangan Hidayatullah,” ungkapnya.

Kegiatan ini sekaligus menjadi ajang untuk mempererat ukhuwah antar anggota Hidayatullah dan warga masyarakat, menciptakan sinergi yang lebih baik dalam menyongsong masa depan dakwah. Dengan semangat kebersamaan, para peserta siap melanjutkan perjuangan dakwah di daerah masing-masing.

Furadi Mansur menutup kegiatan ini dengan optimisme tinggi. “Insya Allah, tahun depan kami akan mengadakan Dauroh Marhalah Wustho sebagai kelanjutan dari program ini,” katanya, seraya menegaskan komitmen Hidayatullah untuk terus membina dan memberdayakan kader dakwah sebagai ujung tombak perjuangan di Bangka Belitung.

Dia menambahkan, Daurah Marhalah Ula menjadi bagian dari langkah dalam membangun peradaban Islam melalui kader-kader yang tangguh, berilmu, dan berakhlak mulia. “Dengan semangat ini, Hidayatullah Bangka Belitung terus berikhtiar menjawab kebutuhan dakwah di masa depan,” tandasnya.*/Herim

Pesan dari Tabligh Akbar Hidayatullah Karo, Jaga Kerukunan dan Bentengi Akidah Umat

0

BRASTAGI (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Karo selenggarakan Tabligh Akbar yang bertempat di Masjid Muhammad Cheng Hoo, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara,

Dengan mengangkat tema Membentengi Akidah Umat, acara yang dihadiri sekitar 200 jamaah ini menjadi momentum penting dalam menguatkan persatuan di tengah keberagaman masyarakat.

Pemateri utama, Koh Dondy Tan, seorang mualaf yang kini aktif berdakwah, menyampaikan pesan pentingnya mendalami Al Qur’an sebagai mukjizat agung.

“Kondisikan diri agar dekat dengan Al-Qur’an,” ujarnya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Senin, 7 Jumadil Akhir 1446 (9/12/2024).

Seraya itu, ia mengingatkan jamaah untuk menjalankan ajaran Islam secara kaffah.

Pesan Koh Dondy Tan ini menjadi inti acara, mengajak umat untuk menjadikan Islam sebagai pedoman hidup yang menyeluruh.

Ustaz Habibullah Lubis, salah satu dai Hidayatullah Karo, menambahkan pentingnya meningkatkan kapasitas diri, terutama bagi para santri.

“Tingkatkan kapasitas diri untuk kebaikan di masa depan,” kata Habibullah, menggarisbawahi peran generasi muda dalam menjaga akidah dan menjalankan dakwah di wilayah minoritas seperti Karo.

Acara ini juga dihadiri tokoh penting, seperti dr. H. Syahrial Purba dan unsur Kemenag Karo.

Selain dakwah, Pondok Pesantren Hidayatullah aktif bermitra dengan Laznas BMH dalam program Santri Berdaya dan kegiatan lain yang bertujuan memberdayakan umat.

Kepala BMH Sumut, Lukman, menekankan pentingnya zakat, infak, dan sedekah sebagai amalan yang memperkuat akidah umat.

Melalui program-program ini, Hidayatullah Karo tidak hanya berdakwah, tetapi juga berkontribusi dalam pemberdayaan umat.

Dengan semangat berbagi, tambah Lukman, kemitraan ini merawat nilai-nilai ikhlas dan tawakal, menciptakan harmoni dan turut merawat kerukunan dalam keberagaman masyarakat.*/Herim

Mengenang Ustadz Mu’tashim Billah, Sosok Pekerja Keras yang Teguh di Jalan Dakwah

0

INNAA lillahi wa inna ilaihi roji’un. Warga dan keluarga besar Hidayatullah, khususnya di Sumatera Utara dan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, diliputi duka mendalam atas wafatnya salah satu kader terbaiknya, Ustadz Mu’tashim Billah.

Beliau berpulang pada hari Ahad, 6 Jumadil Akhir 1446/ 9 Desember 2024, setelah mengalami kecelakaan kerja saat kerja bakti massal di Pondok Pesantren Hidayatullah Medan.

Pak Tasim, demikian ia akrab disapa, meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Drs. H. Amri Tambunan, Lubuk Pakam, Deli Serdang, sekitar pukul 15.35 WIB. Beliau tertimpa dinding bangunan berukuran 3×3 meter yang roboh saat sedang dirancang ulang.

Dinding tersebut menghantam hampir seluruh tubuhnya, sementara kepala beliau terbentur tembok lain yang masih berdiri kokoh. Perawatan di ruang gawat darurat pun tak mampu menyelamatkan nyawa beliau.

Mu’tasim Billah muda memegang cangkul berdiri paling depan saat kerja bakti perintisan lahan kampus (Foto: Istimewa/ Hidayatullah.or.id)

Membersamai Perintisan

Lelaki pekerja keras bernama asli Nashib ini lahir di Bengkulu pada 2 September 1969, bergabung dengan Hidayatullah pada tahun 1993. Ia adalah santri gelombang kedua yang dikirim oleh Ustadz Abdul Kadir, seorang guru di STM Negeri Bengkulu sekaligus simpatisan kuat Hidayatullah.

Atas bimbingan dan motivasi Ustadz Abdul Kadir, Nashib, yang awalnya berencana menjadi santri di Cilodong (Depok), memilih bergabung dengan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan yang kala itu masih dalam tahap perintisan.

Ketika itu, yang menjadi pimpinan pondok Hidayatullah Medan adalah Ustadz Suratman, selanjutnya kemudian digantikan oleh Ustadz Drs. Khusnul Khuluq, MM.

Nama Nashib kemudian diubah menjadi Mu’tashim Billah oleh Ustadz Drs. Khusnul Khuluq, MM., yang berarti “orang yang berpegang teguh kepada Allah.” Sejak saat itu, nama tersebut menjadi cerminan dari karakter kuat dan dedikasi almarhum sebagai seorang santri, pekerja keras, dan pendakwah.

Dari Bengkulu, Mu’tashim muda pun tiba di Medan bersama 13 orang temannya dengan menaiki bus mini Putra Simas, singkatan dari Putra Simalungun.

Di antara rekan seperjalanannya kala itu adalah Heri Kusmiran, SE (sekarang Sekretaris DPW Hidayatullah Riau) dan Sugiono, S.Pd (guru tetap di Kampus Utama Hidayatullah Medan. Lalu ada Abdul Qohhar, Supari, Syuhada’, Adha, Ahmadi, dan Hadimin yang kesemuanya dari 6 orang yang disebutkan terakhir sudah tidak ada lagi kabarnya.

Mu’tashim datang ke Medan sebagai santri, belum bisa naik sepeda sama sekali. Karena diberi tugas oleh pengurus untuk mengedar majalah Suara Hidayatullah, serta mencari donatur untuk penyelenggaraan panti asuhan ketika itu, akhirnya dia harus belajar naik sepeda.

Dan, setelah bisa naik sepeda, ia mencari pelanggan majalah dan donatur sampai ke Belawan, dekat dengan pelabuhan Kapal. Padahal jarak yang harus ditempuh adalah 42 km.

Saban hari Mu’tashim mengedar majalah dan mencari donatur dengan naik sepeda, rute perjalanan rutinnya dari Tanjung Morawa ke Kecamatan Perbaungan dimana jarak yang harus ditempuh adalah 22 kilo meter.

Pada masa awalnya, Pondok Pesantren Hidayatullah belum memiliki kampus tetap. Mu’tashim dan kawan kawan menempati rumah kontrakan di Jalan Karya III/08 Helvetia, Medan, sebelum akhirnya berpindah ke Jalan Bilal.

Perjuangan para santri muda, termasuk Mu’tashim, membuahkan hasil ketika pondok mendapatkan tanah wakaf seluas 3,5 hektar di Desa Bandar Labuhan, Kecamatan Tanjung Morawa, dari Badan Kenadziran Wakaf Kabupaten Deli Serdang.

Mu’tasim Billah muda bersama santri di masa perintisan dakwah di Medan (Foto: Istimewa/ Hidayatullah.or.id)

Perjalanan Pengabdian

Pada tahun 1996, Mu’tashim menikah dengan Rum’ati, seorang santriwati asal Bengkulu yang sebelumnya belajar di Pondok Pesantren Hidayatullah Palembang.

Pernikahan mereka berlangsung bersamaan dengan dua pasangan lainnya, yaitu Muslihuddin Akbar dengan Linda Khoirunnisa’, serta Sulaiman dengan Nur. Pernikahan ini menjadi babak baru dalam hidupnya, membawa tanggung jawab lebih besar dalam mendidik dan berdakwah.

Tahun 2003, Mu’tashim diberi amanah untuk berdakwah ke Pulau Nias. Selama dua tahun di sana, ia menghadapi tantangan besar, termasuk gempa bumi dahsyat yang melanda Nias pada 2005.

Setelah itu, beliau kembali dipanggil bertugas ke Tanjung Morawa untuk mengemban tugas sebagai Kepala Kampus sekaligus Kepala Dapur Umum Pondok Pesantren Hidayatullah Medan yang bertanggung jawab memastikan ketersediaan sajian makanan para santri. Posisi ini dijalani dengan penuh dedikasi tinggi hingga akhirnya beliau fokus pada tugas sebagai Kepala Kampus.

Almarhum Ustadz Mu’tashim Billah semasa hidup berfoto bersama istri, anak dan ponakanya (Foto: Istimewa/ Hidayatullah.or.id)

Keteguhan Hingga Akhir

Mu’tashim meninggalkan jejak yang luar biasa dalam pengabdian. Ia dikenal sebagai pribadi yang selalu ramah, sederhana, pekerja keras, dan penuh keikhlasan. Bangun malam menyerap energi Ilahi melalu tahajjud menjadi kebiasaan rutinnya, sementara doa dan usaha menyertai setiap langkah perjuangannya.

Di akhir hayatnya, beliau meninggalkan istri tercinta, tiga putri: Nur Hasanah, S.Ag, Faridah, S.Ag, Fauziyah, dan seorang putra, Muhammad Zuhri Fadhlullah, SE. Kebanggaan keluarga, Zuhri baru saja menyelesaikan pendidikannya dengan predikat lulusan terbaik di STIE Hidayatullah Depok pada awal Oktober 2024 lalu.

Jenazah Mu’tashim dimakamkan di pemakaman khusus Pondok Pesantren Hidayatullah, Raudhatut Tadzkiroh (Taman Mengingat Kematian). Pada Senin, 9 Desember 2024, pukul 9.00 WIB, shalat jenazah dilaksanakan di Masjid Baitul Akbar, sebuah masjid yang diresmikan oleh tokoh politik nasional, Akbar Tanjung. Kehadiran jamaah, para santri, keluarga, rekan sejawat, dan warga menegaskan cinta dan hormat mereka kepada almarhum.

Selama lebih dari tiga dekade, Mu’tashim Billah menjadi teladan dalam pengabdian dan perjuangan di Hidayatullah. Ia turut membangun pondasi pondok dari masa perintisan hingga menjadi institusi pendidikan yang berdampak besar. Sosoknya yang bersahaja akan terus dikenang oleh setiap jiwa yang mengenalnya.

Semoga seluruh amal ibadah, pengorbanan, dan dedikasi beliau diterima Allah Ta’ala. Semoga Ustadz Mu’tashim Billah ditempatkan di surga-Nya, bersama para hamba yang teguh berpegang pada agama-Nya. Allahumma firlahu warhamhu wa afihi wa’fuanhu.

*) Ust. Drs. Khoirul Anam, penulis Anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sumut, guru ngaji di Rumah Qur’an Yahfin Siregar Tamora dan pengasuh Hidayatullah Al-Qur’an Learning Centre Medan

SD Integral Hidayatullah Tegal Resmi Dapatkan SK Izin Operasional dari Kemendikbud

0

TEGAL (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Dasar (SD) Integral Hidayatullah Tegal, Jawa Tengah, resmi memperoleh Surat Keputusan (SK) Izin Operasional Sekolah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Penyerahan SK ini dilakukan langsung oleh Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal, Satiyo, S.Pd., M.Pd., di komplek SD Integral Hidayatullah, Jalan Surabayan, Dampyak, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Senin, 7 Jumadil Akhir 1446 (9/12/2024).

Acara penyerahan tersebut dihadiri oleh berbagai tokoh masyarakat, di antaranya perwakilan KWK Kecamatan Kramat, Pengawas SD setempat, Kepala Kelurahan Dampyak, pengurus Yayasan Al Ishlah Hidayatullah Kabupaten Tegal, serta orang tua murid dan siswa-siswi SDI Hidayatullah Tegal.

Dalam sambutannya, Satiyo menyampaikan apresiasinya kepada SD Integral Hidayatullah Tegal sebagai salah satu sekolah yang diharapkan mampu menjadi pusat pembinaan dan pendidikan bagi anak-anak di wilayah tersebut.

“SD Integral Hidayatullah Tegal adalah harapan masyarakat untuk memberikan pendidikan yang bermutu bagi generasi muda,” ujarnya.

Ia juga berpesan kepada para guru agar terus bersemangat dalam mendampingi siswa selama proses belajar mengajar.

“Tetap semangat dalam memberikan pendampingan kepada anak-anak. Pastikan mereka belajar dengan pengawasan dan pendampingan yang maksimal dari pengawas SD setempat,” imbuhnya.

Selain itu, Satiyo mengingatkan pentingnya penyelesaian administrasi, khususnya terkait data siswa.

“Kami berharap para guru segera melengkapi persyaratan administrasi anak-anak ke Dinas Pendidikan,” tuturnya.

Penyerahan SK Izin Operasional ini menjadi tonggak penting bagi SDI Hidayatullah Tegal dalam memberikan layanan pendidikan berkualitas bagi masyarakat Kabupaten Tegal.*/Bagas Kurniawan

Pemimpin Umum Hidayatullah Ingatkan Jaga Isti’anah dalam Berkhidmat untuk Umat

0

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Pemimpin Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad, mengingatkan bahwa semangat perjuangan dalam rangka berkhidmat untuk kemaslahatan umat dan bangsa harus dilandasi dengan isti’anah, yaitu selalu memohon pertolongan kepada Allah, sebagaimana diajarkan dalam surah Al-Fatihah.

Ia menjelaskan, isti’anah ini menjadi landasan pembentukan worldview Islam, yang Hidayatullah wujudkan melalui pendekatan Sistematika Wahyu.

Pendekatan ini juga membangun metodologi gerakan yang kokoh dalam mengarahkan visi organisasi. Melalui landasan ini, tegasnya, Hidayatullah berusaha mencapai “kemenangan iman” dengan mengintegrasikan spirit berjamaah dalam setiap langkah perjuangan.

“Harus selalu isti’anah, selalu memohon pertolongan kepada Allah,” katanya, saat menghadiri Rapat Kerja Yayasan (Rakeryas) 2024 yang berlangsung di Hotel Harris, Samarinda, pada 6–7 Jumadil Akhir 1446 H (7–8/12/2024).

Kehadiran Pemimpin Umum memberi dorongan semangat bagi peserta rapat, mempertegas urgensi perjuangan tanpa lelah dalam menegakkan ilmu yang melahirkan adab.

Inspirasi ini ia ditanamkan melalui tafsir surah Almuzzammil, yang menggarisbawahi peran para nabi sebagai teladan ketabahan dalam menghadapi ujian terberat umat manusia.

Miniatur Peradaban

Rakeryas 2024 ini membahas peran strategis Kampus Utama Hidayatullah di Samarinda sebagai titik sentral pembangunan miniatur peradaban Islam. Pembina dan Pengawas Kampus Utama menekankan pentingnya langkah yang tepat dan cepat dalam mewujudkan cita-cita besar ini.

Strategi tersebut tidak hanya bertumpu pada upaya fisik, tetapi juga pada pengembangan sistematis yang mencakup aspek intelektual, spiritual, dan sosial. Rakeryas kali ini menegaskan bahwa membangun miniatur peradaban Islam adalah tugas monumental yang harus digarap dengan serius.

Seperti pesan yang diilhami oleh surah Almuzzammil, perjuangan besar menuntut persiapan yang matang, dedikasi, dan keimanan yang kokoh.

Dengan mengambil teladan dari para nabi, peserta Rakeryas dipacu untuk terus bergerak maju meskipun menghadapi dinamika dan tantangan yang tidak ringan.

“Ini wahana penyatuan visi dan aksi seluruh elemen yang ada untuk penguatan yang menyeluruh, mencakup pendidikan, dakwah, dan pembangunan sosial berbasis nilai-nilai Qur’ani,” terang Ketua Yayasan Kampus Utama Hidayatullah Samarinda, KH Hizbullah Abdullah Said.

Dia menambahkan, pesan dari Pemimpin Umum Hidayatullah dan penguatan dari para pengawas dan pembina menjadi pijakan bagi peserta Rakeryas untuk melangkah lebih terarah.

“Ini adalah panggilan untuk mewujudkan cita-cita besar. Semoga semangat ini terus menyala dalam langkah-langkah berikutnya,” imbuhnya memungkasi.*/Farid Ma’ruf