TANGSEL (Hidayatullah.or.id) — Yayasan Al Firdaus Hidayatullah Tangerang Selatan (Tangsel) menyelenggarakan Rapat Kerja Yayasan (Rakeryas) sebagai forum perencanaan dan konsolidasi kelembagaan untuk tahun 2026. Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu, 27 Sya’ban 1447 (15/2/2026), dengan dihadiri unsur pembina, pengawas, pengurus yayasan, kepala unit kerja, serta jajaran yang terlibat dalam kegiatan pendidikan dan dakwah di lingkungan yayasan.
Ketua Yayasan Al Firdaus Hidayatullah Banten, Muhammad Irwan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Rakeryas merupakan forum strategis untuk merumuskan arah kebijakan dan langkah kerja lembaga dalam satu tahun ke depan.
Muhammad Irwan mengawali sambutannya dengan menyampaikan penghormatan kepada Ketua Pembina KH Achmad Mujahid, Ketua Pengawas Dr. KH Muhammad Naim, serta seluruh pengurus yayasan dan kepala unit kerja yang hadir. Ia juga menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya forum tersebut sebagai bagian dari proses perencanaan kelembagaan.
Dalam arahannya, Irwan menegaskan bahwa rapat kerja yayasan tidak hanya dipahami sebagai agenda rutin, melainkan sebagai momentum evaluasi dan penguatan organisasi. Ia menyampaikan bahwa forum tersebut merupakan kesempatan untuk melakukan refleksi sekaligus merumuskan langkah strategis ke depan.
Raker kali ini bukan sekadar rutinitas administratif. Ini adalah momentum bagi kita untuk berhenti sejenak, melihat ke dalam, dan melompat lebih jauh,” kata Irwan.
Ia kemudian menjelaskan tiga pilar utama yang menjadi fokus kebijakan yayasan ke depan, yaitu konsolidasi jati diri, penguatan tata kelola, dan transformasi kemandirian. Pada aspek konsolidasi jati diri, Irwan mengajak seluruh unsur yayasan untuk kembali meneguhkan visi, misi, dan nilai-nilai dasar Hidayatullah sebagai landasan dalam menjalankan amanah kelembagaan.
“Saya mengajak seluruh unsur yayasan untuk meneguhkan kembali visi, misi, dan nilai-nilai dasar Hidayatullah. Nilai ini bukan sekadar pajangan di dinding, melainkan kompas dalam setiap keputusan kita,” ujarnya.
Pada aspek penguatan tata kelola, Irwan menekankan pentingnya sistem manajemen yang profesional, transparan, dan akuntabel. Ia menyampaikan bahwa yayasan sedang bergerak menuju penyempurnaan sistem administrasi dan manajemen sebagai bagian dari penguatan kelembagaan.
“Niat baik saja tidak cukup; ia harus dikelola dengan cara yang baik. Saya ingin yayasan ini berjalan secara profesional, transparan, dan akuntabel,” kata Irwan.
Selain itu, Irwan juga menyoroti pentingnya transformasi menuju kemandirian yayasan. Ia menyampaikan bahwa kemandirian dimaksud mencakup aspek kelembagaan, program, dan keuangan. “Inilah saatnya kita bergerak menuju kemandirian yayasan. Mandiri secara kelembagaan, mandiri dalam program, dan mandiri secara finansial,” ujarnya.
Dalam penutup sambutannya, Irwan menyampaikan harapan agar forum Rakeryas menghasilkan gagasan yang konstruktif dan solutif bagi pengembangan yayasan. Ia juga mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan forum tersebut sebagai ruang evaluasi dan perencanaan bersama. “Saya berharap dalam Raker ini, setiap ide yang muncul adalah ide yang solutif. Jangan takut untuk mengevaluasi diri demi kebaikan institusi,” kata Irwan.
Muhammad Irwan kemudian secara resmi membuka kegiatan Rakeryas Yayasan Al Firdaus Hidayatullah Banten dengan pernyataan pembukaan sebagai tanda dimulainya rangkaian agenda kerja yayasan untuk periode selanjutnya.
GORONTALO (Hidayatullah.or.id) — Kepala Kepolisian Resor Pohuwato AKBP Busroni, S.I.K., M.H., mengajak para santri untuk menyongsong bulan suci Ramadhan dengan kesiapan batin, memperkuat kualitas ibadah, serta menjadikan puasa sebagai sarana pembinaan diri yang berkelanjutan.
Ajakan tersebut disampaikan Kapolres saat memberikan ceramah dalam kegiatan Tarhib Ramadhan 1447 Hijriyah yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Hidayatullah Pohuwato pada Kamis, 24 Syaban 1447 (12/2/2026). Dalam kesempatan tersebut, Kapolres menekankan pentingnya membersihkan hati, meningkatkan ketakwaan, dan menjadikan momentum Ramadhan sebagai ruang pembentukan karakter spiritual yang lebih baik.
Kegiatan Tarhib Ramadhan tersebut dihadiri oleh berbagai unsur pimpinan pesantren dan lembaga pendidikan. Turut hadir Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah KH. Abdul Wahid Patangari, S.Pd.I., M.Si., Ketua Yayasan Hidayatullah Kamil Patingki, S.HI., M.Pd., Ketua Yayasan Darul Hijrah Ustadz Abror, serta sekitar 250 santri yang mengikuti kegiatan secara langsung. Kehadiran Kapolres Pohuwato dalam kegiatan tersebut tidak hanya sebagai tamu undangan, tetapi juga sebagai penceramah yang menyampaikan pesan-pesan keagamaan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan.
Dalam ceramahnya, AKBP Busroni menjelaskan bahwa ibadah puasa merupakan kewajiban bagi umat Islam sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Baqarah ayat 183. Ia menyampaikan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa serta memperkuat dimensi pengendalian diri dalam kehidupan sehari-hari.
“Puasa adalah kewajiban umat Islam yang bertujuan membentuk pribadi bertakwa serta melatih kesabaran, keikhlasan, dan pengendalian diri,” katanya, yang memberikan penguatan pemahaman kepada para santri tentang makna ibadah puasa dalam kehidupan seorang Muslim.
Kapolres juga menguraikan bahwa ibadah puasa tidak hanya berkaitan dengan menahan lapar dan haus, tetapi memiliki dimensi yang lebih luas, yaitu pembinaan karakter dan penguatan spiritual. Ia menekankan bahwa puasa menjadi sarana untuk melatih kesabaran dan meningkatkan kesadaran moral, serta membangun kedekatan yang lebih kuat dengan Allah SWT.
“Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih hati agar lebih sabar, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah SWT,” ujarnya.
Untuk memperjelas makna proses pembinaan melalui puasa, Kapolres menggunakan ilustrasi yang bersumber dari fenomena alam. Ia mencontohkan ayam yang tidak makan saat mengerami telur hingga menghasilkan kehidupan baru, serta ulat yang mengalami fase diam dalam kepompong sebelum berubah menjadi kupu-kupu.
Di hadapan jamaah dan ratusan santri, Kapoles memberi gambaran bahwa proses menahan diri memiliki peran penting dalam menghasilkan perubahan dan perkembangan.
Kapolres Pohuwato menegaskan bahwa Ramadhan merupakan momentum penting untuk memperbaiki diri, memperkuat hubungan dengan Allah SWT, serta membangun karakter yang lebih baik melalui latihan kesabaran dan pengendalian diri.
JAYAPURA (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Nanang Noerpatria, M.Pd, menekankan bahwa transformasi pendidikan di era revolusi industri 4.0 harus tetap berlandaskan tauhid sebagai fondasi pembentukan peradaban Islam. Menurutnya, kemajuan teknologi dan sistem pendidikan modern perlu diarahkan untuk melahirkan manusia yang memiliki integritas spiritual dan tanggung jawab peradaban.
“Tujuan pendidikan Hidayatulllah adalah melahirkan insan kamil rabbani. Pondasi ini harus semakin dikuatkan ditengah dunia sedang berada dalam masa transisi dari era Revolusi Industri 4.0 menuju era Revolusi Industri 5.0.,” ujar Nanang dalam acara Upgrading Guru Hidayatullah se-Provinsi Papua bertajuk “Education 4.0 but Make It Tauhid” di Kota Jayapura, Jumat, 25 Syaban 1447 (13/2/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Papua tersebut merupakan bagian dari rangkaian Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) di provinsi tersebut. Forum ini menghadirkan para pendidik dari berbagai lembaga pendidikan Hidayatullah di Papua dengan tujuan memperkuat kapasitas pedagogik, ideologis, dan kepemimpinan pendidikan di tengah perubahan global yang ditandai oleh digitalisasi, otomatisasi, dan integrasi teknologi dalam sistem pembelajaran.
Nanang menjelaskan, insan kamil rabbani adalah konsep manusia ideal dalam perspektif Islam yang mencapai kesempurnaan fungsi sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi. Istilah ini terdiri dari dua unsur utama. Insan kamil berarti manusia paripurna, yakni individu yang berkembang secara utuh dalam dimensi iman, ilmu, akhlak, dan amal. Rabbani merujuk pada sifat yang terhubung erat dengan Allah, menjadikan wahyu sebagai sumber orientasi hidup dan keputusan.
“Insan kamil rabbani ditandai oleh integrasi antara kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, dan tanggung jawab sosial. Ia tidak hanya memahami ilmu secara teoritis, tetapi mengamalkannya untuk kemaslahatan. Al-Qur’an menyebut karakter rabbani sebagai mereka yang mendidik dan membimbing manusia berdasarkan Kitab Allah serta terus mempelajarinya,” kata Nanang yang menukil surah Ali Imran ayat 79.
Nanang menjelaskan, tujuan membentuk insan kamil rabbani berarti melahirkan pribadi yang beriman kokoh, berakhlak mulia, kompeten secara profesional, dan mampu berkontribusi membangun peradaban yang adil, bermartabat, dan berlandaskan tauhid.
Kesadaran Berketuhanan
Masih dalam dalam pemaparannya, Nanang menegaskan bahwa visi pendidikan Hidayatullah tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi pada pembentukan manusia seutuhnya yang memiliki kesadaran ketuhanan.
Ia menyampaikan harapan agar lembaga pendidikan Hidayatullah di Papua mampu menerjemahkan visi tersebut secara konkret dalam praktik pendidikan.
“Diharapkan sekolah-sekolah Hidayatullah di Papua dapat mewujudkan sekolah dengan visi tersebut,” katanya.
Nanang juga menjelaskan bahwa tema “Education 4.0 but Make It Tauhid” mengandung makna integrasi antara kemajuan teknologi pendidikan dengan fondasi spiritual Islam. Education 4.0 merujuk pada sistem pendidikan yang memanfaatkan teknologi digital, kecerdasan buatan, pembelajaran berbasis data, dan konektivitas global. Namun, ia menegaskan bahwa seluruh perkembangan tersebut harus tetap berada dalam kerangka tauhid sebagai landasan epistemologis.
“Akar masalah problematika manusia karena putus hubungan dengan Allah,” ujarnya, menjelaskan bahwa pendidikan harus mengembalikan manusia pada kesadaran spiritual sebagai dasar peradaban.
Ia juga menekankan bahwa pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan peradaban modern, termasuk disrupsi teknologi dan perubahan sosial yang cepat. Menurutnya, pendidikan yang berlandaskan tauhid mampu memberikan arah bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi secara bertanggung jawab.
“Kehadiran pendidikan Hidayatullah diharapkan menjadi solusi dalam menyelesaikan problematika peradaban ini,” ungkapnya.
Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Dunia
Dalam pemaparannya, Nanang menjelaskan bahwa sistem pendidikan yang dikembangkan Hidayatullah tidak memisahkan antara ilmu agama dan ilmu dunia. Ia menegaskan bahwa seluruh disiplin ilmu harus diarahkan untuk membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai ketuhanan.
“Dibutuhkan pemimpin yang bisa mengusung visi pendidikan yang integral berbasis manhaj Hidayatullah, tidak mendikotomikan antara ilmu dunia dan ilmu agama yang diarahkan semuanya untuk memakmurkan bumi,” jelasnya.
Dalam konteks global, transformasi pendidikan berbasis teknologi menjadi bagian penting dari sistem pendidikan modern. Organisasi internasional seperti UNESCO menyebutkan bahwa Education 4.0 merupakan pendekatan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik menghadapi perubahan ekonomi digital, termasuk kecerdasan buatan, robotika, dan analisis data.
Namun, Nanang menegaskan bahwa integrasi teknologi harus tetap berada dalam kerangka nilai dan tujuan pendidikan yang jelas. “Teknologi adalah alat, bukan tujuan. Tauhid adalah fondasi yang menentukan arah penggunaan ilmu dan teknologi,” katanya dalam forum tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa peran guru menjadi semakin strategis dalam era transformasi digital. Guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi sebagai pembimbing yang mengarahkan peserta didik memahami makna ilmu dalam perspektif tauhid. Dalam kerangka ini, pendidikan dipandang dia sebagai proses pembentukan manusia yang mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan umat dan pembangunan peradaban.
Melalui kegiatan upgrading ini, Nanang berharap, hal ini akan semakin memperkuat kapasitas para guru dalam mengintegrasikan nilai-nilai tauhid dengan pendekatan pendidikan modern serta menjadi ruang konsolidasi untuk memperkuat visi pendidikan Hidayatullah di Papua sekaligus menyiapkan generasi pendidik yang mampu menjawab tantangan zaman dengan pendekatan yang berbasis nilai spiritual dan kemajuan ilmu pengetahuan.
“BARANGSIAPA membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa membawa amal yang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya” (terjemah Q.S. Al-An’am: 160)
Ayat ini, sebagaimana ditafsirkan Syeikh As-Sa’di, menggambarkan keadilan paripurna Allah ta’ala dan juga kemurahan-Nya. Siapapun yang berbuat baik di dunia, perkataan atau tindakan, maka akan mendapat balasan minimal sepuluh kali lipat kelak di akhirat. Sementara keburukan dibalas setimpal saja.
Menambahkan keterangan Syeikh As-Sa’di, Syeikh Ash-Shabuny menyampaikan bahwa satu kebaikan berpotensi dibalas hingga 700 kali lipat atau bahkan lebih. Sementara keburukan dibalas dengan setimpal atau bahkan diampuni. Sehingga dosa terhapus.
Penafsiran yang sama dapat ditemukan di At-Tafsir Al-Muyassar, juga Tafsir Al-Jalalain. Bahkan di Tafsir Al-Jalalain tertulis bahwa kebaikan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah lafazh ‘laa ilaaha illallaah’. Siapapun yang memilikinya dianggap sudah berbuat baik, seringan apapun timbangan amal kebaikannya.
Satu inspirasi yang kemudian dapat dipetik dari ayat ini adalah pentingnya pendekatan lingkungan sosial yang suportif dalam menumbuhkan perbuatan baik. Siapapun yang berbuat baik akan mendapat balasan berlipat-lipat. Sementara keburukan dibalas setimpal saja, bahkan mungkin akan dimaafkan.
Dalam pemikiran dan redaksi yang lebih sederhana, kebaikan akan senantiasa diingat sementara keburukan diselesaikan secukupnya. Pelaku kebaikan didoakan kebaikannya sedemikian luar biasa. Sementara pelaku keburukan ditangani sesuai kadar proporsionalnya. Kata-kata cacian bahkan menjatuhkan mental benar-benar dijauhkan. Yang ada adalah kata-kata nasehat reflektif sebagai harapan agar kesalahan tidak diulangi kembali.
Mari lihat lingkungan sebaliknya. Saat orang berbuat baik, apresiasi dan doa tak terucap. Kebaikan dianggap wajar dan natural saja. Akan tetapi saat ia berbuat buruk, banyak hal buruk bakal menimpanya. Hukuman tidak cukup, cacian sedemikian banyak juga menghujani telinganya. Seketika mentalnya ambruk.
Harus diakui ada tipe manusia yang perlu pengulangan peringatan. Karena kesalahan yang sama diulang, lagi dan lagi. Dalam hal ini dibolehkan untuk adanya peningkatan peringatan, dari intonasi suara lembut ke lebih keras dan seterusnya. Akan tetapi tetap cacian yang menjatuhkan mentalnya hendaklah dihindarkan.
Menjaga kewarasan mental sangat penting dan masuk dalam penjagaan syariah. Karena kewarasan mental itu awal dari terjaganya akal. Sementara terjaganya akal merupakan salah satu tujuan syariat.
Dalam konteks kaderisasi dan organisasi, lingkungan sosial yang suportif sangat dibutuhkan. Ada tiga perspektif yang dihadirkan untuk menjelaskannya: Kader, organisasi, dan masyarakat.
Dari perspektif kader, organisasi yang suportif memiliki daya dukung untuk menstimulus kesehatan kader, lahir dan batinnya. Sehingga kader relatif betah dan kontributif. Dalam jangka panjang kader juga terstimulus untuk meningkatkan kapasitasnya, sesuai minat dan bakatnya.
Sebaliknya lingkungan yang tidak suportif berpeluang besar untuk membuat kader tidak betah di organisasi. Jika pun betah, kader cenderung tertekan jiwanya. Pada satu atau dua kasus, tekanan jiwa tidak disadari. Setelah ada asesmen psikologis, barulah diketahui betapa tekanan jiwa telah bercokol kuat.
Dari perspektif organisasi, akumulasi kader-kader sehat melahirkan kaderisasi kuat dan organisasi penuh manfaat. Orang di dalam dan luar organisasi merasakan kebaikan yang tumbuh dari organisasi. Bertambah waktu, kebaikannya semakin kokoh. Pengaruh organisasi terus mengakar di masyarakat.
Sebaliknya akumulasi kader-kader sakit melahirkan organisasi acak-acakan dan kaderisasi yang lemah. Akibatnya organisasi bisa dimanfaatkan untuk menyebarkan kezhaliman di masyarakat. Kebencian terhadap organisasi sangat mudah merebak di masyarakat.
Dari perspektif masyarakat, tentu masyarakat ingin organisasi yang penuh kebaikan terutama nilai-nilai yang diusungnya. Oleh karena itu organisasi diharapkan bisa melahirkan inspirasi demi inspirasi. Adapun prasyaratnya adalah kader-kader sehat ada dan berkontribusi di organisasi.
Sangat tepat jika secara periodik organisasi melakukan asesmen sistemiknya, mencakup formal dan kultural. Agar seluruh aktivitasnya mengantarkan kebaikan. Bahkan organisasi menjadi refleksi dari cara Allah ta’ala menyikapi tindakan insan, dengan keadilan paripurna dan kemurahan yang melimpah.
Wallah a’lam.
*) Fu’ad Fahrudin, penulis Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah
Jama’ah hadirin sidang Shalat Jum’ah yang dimuliakan oleh Allah ﷻ,
Rasa syukur hanya tercurah kepada Allah, Sang Penguasa jagat raya. Rasa syukur atas segala karunia-Nya yang tetap tercurah meski Allah Maha Mampu untuk menghentikannya tanpa ada yang bisa mencegahnya.
Rasa Syukur atas semua kebaikan-Nya meski Allah Maha Perkasa untuk menurunkan hukuman-Nya tanpa ada yang bisa menghindarinya.
Shalawat serta salam terkirimkan secara tulus dan penuh cinta kepada Nabi Muhammad Saw, yang telah memberikan peragaan terbaik bagaimana cara menjalani hidup ini dengan tepat sehingga beliau –dengan izin Allah– bisa menunjukkan cara menggapai surga dengan tetap bahagia menjalani kehidupan dunia.
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Sholat Jum’at yang dirahmati Allah Ta’ala,
Sebuah ungkapan berbunyi “Hasil tidak akan mengkhianati proses”. Kalimat yang sudah akrab ditelinga masyarakat ini mengandung makna sebab akibat yang saling terkait dan mempengaruhi. Proses atau usaha yang baik akan mempersembahkan hasil yang juga baik dan hasil yang baik hanya akan diraih dengan proses atau usaha yang sungguh-sungguh.
Meski kita meyakini bahwa hasil dari segala usaha berada ditangan Allah Ta’ala secara mutlak, namun berusaha sekuat tenaga juga merupakan tanda bahwa kita adalah makhluk berakal.
Usaha yang baik dapat menjadi alat ukur keimanan seseorang sebab iman yang benar pasti akan melahirkan usaha yang terbaik.
Logika sederhananya, berusaha dengan sungguh sungguh saja belum bisa memastikan bahwa hasilnya akan sesuai dengan harapan atau ekspektasi kita, apatah lagi jika usaha tersebut tidak dengan kesungguhan atau setengah hati.
Dalam al Qur’an, beberapa ayat menunjukkan bahwa Allah memerintahkan atau mengapresiasi usaha yang baik atau sungguh-sungguh;
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al Ankabut:69)
وَجَٰهِدُوا۟ فِى ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ
“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya” (QS. Al Hajj:78).
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Sholat Jum’at yang dirahmati Allah Ta’ala
Menindak lanjuti perintah Allah Ta’ala, Rasulullah Saw juga sangat menjunjung tinggi komitmen bekerja dengan sungguh-sunggu.
“Bersemangatlah melakukan hal yang bermanfaat dan minta tolonglah pada Allah, serta janganlah mudah untuk menyerah” (HR. Muslim).
Ma’asyiral Muslimin Jamaah Sholat Jum’at yang dirahmati Allah Ta’ala
Jika dalam perkara keduniaan saja, Allah dan Rasul-Nya memuji dan menjanjikan balasan yang besar, apatah lagi jika komitmen dan usaha yang sungguh-sungguh ini turut kita wujudkan dalam perkara ibadah atau akhirat. Sementara perkara akhirat jauh lebih diapresiasi oleh Allah dan Rasul-Nya dibanding perkara keduniaan.
Maka wajar jika Ramadhannya Rasulullah Saw dinobatkan sebagai cara berpuasa yang terbaik, sebab kesungguhan beliau tercermin secara utuh dalam menjalankannya, baik dalam persiapan maupun saat beliau telah bersua dengan bulan Ramadhan.
Dalam riwayat oleh Imam Bukhari dan Muslim, secara lugas Aisyah binti Abu Bakar menuturkan bagaimana Nabi Muhammad menjadikan bulan Sya’ban sebagai puncak persiapan beliau dalam menyambut Ramadhan:
“Aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa -sunnah- kecuali pada bulan Syaban.”
Olehnya itu, disisa waktu yang ada dari bulan Sya’ban ini, tidak ada pilihan bagi kita kecuali memaksimalkannya dengan persiapan-persiapan yang mampu meyakinkan Allah Ta’ala bahwa kita memang bergembira, bersemangat dan begitu menantikan perjumpaan tahunan kita dengan bulan suci Ramadhan.
Rangkaian ibadah yang akan kita massifkan di bulan Ramadhan, telah menemukan chemistry-nya sejak bulan Sya’ban.
Jangan menunggu 1 Ramadhan untuk kita memulainya sebab bagi siapa yang menantikan masuknya bulan Ramadhan untuk dia mulai membangun struktur ibadahnya maka sama saja dia merencanakan kegagalan Ramadhan. Na’udzu billahi min dzalik.
MALUKU TENGAH (Hidayatullah.or.id) — Bendahara Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Suwito Abdul Fatah, menegaskan bahwa keberhasilan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) diukur dari sejauh mana program Hidayatullah mampu menjawab kebutuhan umat secara berkelanjutan. Hal itu disampaikan Suwito saat membuka Rakerwil Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Maluku tahun 2026 yang berlangsung di di Kampus Madya Hidayatullah Liang, Maluku Tengah, pada Selasa-Rabu, 22-23 Syaban 1447 (10–11/2/2026).
Rakerwil tersebut dihadiri jajaran pengurus DPW dan perwakilan dari berbagai daerah di Maluku. Forum ini digelar untuk menyelaraskan visi organisasi selama satu tahun ke depan dengan mengusung tema “Konsolidasi Jati Diri dan Transformasi Organisasi Menuju Hidayatullah Mandiri dan Berpengaruh.”
Suwito Abdul Fatah menekankan pentingnya penguatan jati diri organisasi sebelum melakukan transformasi kelembagaan yang lebih luas. “Transformasi organisasi bukan sekadar perubahan struktur, melainkan perubahan pola pikir untuk menjadi lembaga yang mandiri secara ekonomi dan memiliki pengaruh nyata dalam mencerdaskan serta mensejahterakan umat, khususnya di wilayah Kepulauan Maluku,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Rakerwil tidak boleh berhenti pada tataran perumusan dokumen kerja, melainkan harus menjadi forum penyatuan arah dan penguatan orientasi pengabdian. “Keberhasilan rakerwil adalah sejauh mana program Hidayatullah mampu menjawab kebutuhan umat secara berkelanjutan,” tegasnya.
Dalam konteks tantangan organisasi di era saat ini, Suwito menyampaikan bahwa perubahan sosial, perkembangan teknologi informasi, serta dinamika ekonomi menuntut organisasi untuk adaptif tanpa meninggalkan nilai dasar perjuangan.
Salah satu tantangan yang perlu direspon positif saat ini adalah kemajuan teknologi informasi. Bahkan, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada 2023 lalu saja ingkat penetrasi internet di Indonesia telah melampaui 78 persen populasi. Kondisi tersebut mengubah pola komunikasi, manajemen, dan layanan sosial masyarakat, termasuk dalam aktivitas dakwah dan pendidikan. Oleh karena itu, ia mendorong agar transformasi organisasi juga mencakup penguatan tata kelola yang responsif terhadap perkembangan tersebut.
Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Maluku, Naharuddin, dalam sambutannya melaporkan bahwa selama dua hari pelaksanaan, Rakerwil memfokuskan pembahasan pada empat agenda utama. Pertama, konsolidasi ideologi untuk memperkuat nilai dasar perjuangan organisasi di kalangan kader.
Kedua, penguatan kemandirian ekonomi melalui optimalisasi unit usaha pesantren agar dapat menopang operasional dakwah secara swadaya. Ketiga, transformasi digital guna memodernisasi administrasi dan komunikasi organisasi agar lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Keempat, penguatan sektor pendidikan dan dakwah dengan memaksimalkan peran Kampus Madya Hidayatullah Liang sebagai pusat kaderisasi di Maluku.
“Rakerwil merupakan simbol semangat pertumbuhan. Dengan semangat ‘mandiri dan merpengaruh’, Hidayatullah berkomitmen untuk terus bersinergi dengan pemerintah daerah dan masyarakat dalam membangun Maluku yang lebih maju dan religius,” katanya.
Ia menambahkan bahwa forum ini diharapkan menghasilkan program kerja yang aplikatif, terukur, serta berdampak langsung pada solusi atas berbagai persoalan umat di wilayah Maluku. Penekanan pada kemandirian ekonomi sejalan dengan kebutuhan penguatan sumber daya internal organisasi agar mampu menopang program dakwah dan pendidikan secara berkelanjutan.
Hidayatullah sebagai organisasi kemasyarakatan Islam bergerak di bidang dakwah, pendidikan, sosial, dan ekonomi, dengan jaringan pesantren yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia, termasuk di Maluku. Rakerwil DPW Hidayatullah Maluku 2026 menjadi bagian dari mekanisme tahunan organisasi dalam mengevaluasi capaian, merumuskan strategi, dan memastikan kesinambungan program kerja sesuai kebutuhan masyarakat di daerah.
Ust. Abdul Ghofar Hadi (Foto: Olah digital/ hidayatullah.or.id)
KETIKA Nabi Muhammad ﷺ mendapatkan wahyu maka secara keimanan mendorongnya untuk mengajak (dakwah) orang-orang di sekitarnya yaitu keluarga, kerabat dan teman-teman dekatnya untuk bisa beriman. Kemudian mereka yang berhasil diajak untuk beriman maka perlu dilakukan pembinaan (tarbiyah) agar semakin teguh keimanannya. Mereka bukan hanya ditarbiyah tapi juga disiapkan untuk menjadi penerus risalah kenabian sehingga dibina secara intens (perkaderan).
Keimanan senantiasa mendorong untuk berdakwah agar risalah Islam dakwah tersebar, memerlukan pembinaan (tarbiyah) agar keimanan semakin kuat dan tidak mudah tergoda. Keimanan juga harus menyiapkan penerus (kaderisasi) karena risalah Islam ini bukan untuk satu generasi.
Di saat yang sama, kaum kafir Quraisy tidak hanya menentang dakwah Nabi Muhammad ﷺ namun mereka mencoba melakukan penyerangan untuk menghentikan dakwah Nabi ﷺ dengan berbagai cara. Secara umum ada dua metode besar yaitu metode menyerang secara psikologi/mental dan metode menyerang secara fisik. Keduanya dilakukan secara ekstrem sebagai pembunuhan karakter dan pembunuhan fisik.
Menghadapi penyerangan brutal kaum Quraisy, Nabi ﷺ mengambil langkah cerdas dan strategis yaitu berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah ﷺ memilih rumah Arqam sebagai tempat berhalaqah untuk berkumpul, mengajar, dan membina para sahabat. Beliau memilih rumah al Arqam karena tiga alasan. Pertama, Arqam masih muda yang belum dikenal keislamannya sehingga Quraisy tidak menyangka rumah seorang pemuda menjadi pusat gerakan besar. Orang-orang kafir Quraisy menyangka markaz pertemuan di rumah salah satu pembesar shahābat.
Kedua, Arqam berasal dari Bani Makhzum, kabilah yang bersaing keras dengan Bani Hasyim sehingga Quraisy tidak pernah mengira Nabi Muhammad ﷺ menjadikan rumah anggota Makhzum sebagai markas dakwah. Padahal resikonya apabila ketahuan oleh kabilahnya (Bani Makhzum), maka dia bisa dibunuh oleh Abu Jahl, karena saat itu Abu Jahl adalah pembesarnya Bani Makzhum.
Ketiga, posisi rumah Arqam bin Arqam di dekat Jabal Shafa artinya dekat dengan Ka’bah sehingga tidak mencurigakan dijadikan tempat pertemuan Nabi ﷺ dan para sahabat beliau. Pintu masuknya dari belakang sehingga banyak orang tidak memperhatikan. Inilah yang membuat rumah tersebut tidak diketahui oleh orang-orang Quraisy.
Apa Kegiatan di Rumah Arqam bin Arqam?
Ibnu Hisyam meriwayatkan dalam Sirah -nya:
“Rasulullah mengajak para sahabat untuk berkumpul di rumah Al-Arqam bin Abi al-Arqam di bukit Shafa. Beliau membacakan Al-Qur’an kepada mereka dan mengajarkan agama kepada mereka.” (Sirah Ibnu Hisyam , jilid 1, hlm. 265).
Di rumah itulah Rasulullah ﷺ melaksanakan tasqif (pembinaan). Para sahabat yang baru masuk Islam belajar langsung tentang tauhid, ibadah, dan akhlak. Dalam pertemuan tersebut Rasulullah membacakan ayat-ayat Allah, mengajarkan kandungan Al-Qur’an, menguatkan iman mereka yang masih baru, memperkuat mental mereka menghadapi tekanan dari kaum musyrikin Qurasy dan memberikan motivasi gambaran masa depan kehidupan yang lebih baik, baik di dunia dan akherat.
Di rumah Arqam itulah Rasulullah dan para sahabat bisa leluasa beribadah, menerima penjelasan wahyu-wahyu yang turun meski belum banyak ayat al-Quran yang turun. Di antara mereka mengajak keluarga dan teman dekatnya untuk masuk Islam lalu dibawa ke rumah Arqam bin Arqam untuk masuk Islam tanpa harus diketahui oleh orang-orang kafir Qurasy yang mengintai dan mengancam dengan siksaan kejam.
Pelajaran yang bisa dipetik dari strategi Rasulullah dalam mengumpulkan para sahabat di rumah sederhana Arqam
Pertama, Rasulullah berfokus pada perkaderan dengan pembinaan intens. Orang-orang seperti Abu Bakar, Khadijah, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah dan lainnya sebagai assabiqunal awwalun. Mereka tumbuh dengan karakter menjadi pemimpin, panglima, dan teladan umat sepanjang zaman yang terbukti luar biasa jasanya untuk perjalanan Islam selanjutnya.
Kedua, pembinaan secara intens agar terjaga dan tumbuh iman dengan baik. Dalam kondisi apapun, apalagi di kondisi tenang tanpa ancaman maka seharusnya lebih leluasa dan intens dalam pembinaan. Melalui halaqah-halaqah, majelis-majelis taklim rutin, komunitas-komunitas. Tidak terburu-buru mengejar kuantitas dan popularitas tapi kualitas dari kader
Ketiga, pentingnya seorang murabbi, muallim, instruktur yang memiliki kompetensi dan komitmen untuk lahirnya kader-kader militan. Rasulullah adalah seorang murabbi, muallim dan sekaligus instruktur. Maka menghadirkan sosok murabbi itu penting agar menjadi magnet, episentrum yang bisa menarik dan menggerakkan orang-orang beriman agar terantar menjadi kader yang militan dan tangguh.
Keempat, pentingnya sebuah ikatan dan hubungan terus menerus antar sesama muslim untuk saling menguatkan dan nasehat menasehati dalam kebaikan. Pertemanan dan persahabatan dalam bingkai keimanan itu sangat urgen sebagaimana dikatakan Rasulullah, “Sesungguhnya seseorang itu tergantung pada agama temannya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Halaqah adalah circle paling efektif dan ideal untuk menjaga pertemanan dalam bingkai iman, mengontrol spritual, moral dan ukhwah.
Kelima, orientasi keselamatan jiwa. Dakwah dan tarbiyah harus mengutamakan keselamatan jiwa, tidak ceroboh dengan mengandalkan semangat tapi kurang strategi yang terkadang mengancam jiwa. Rasulullah dan orang-orang beriman bukan penakut tapi melihat kondisi sosial, sensitifitas masyarakat dan ada tujuan lebih strategis untuk kesinambungan dakwah ke depan dengan menghindari konfrotasi fisik di awal dakwah.[]
*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis Ketua Bidang Perkaderan DPP Hidayatullah
Lahan pertanian Pesantren Agro Hidayatullah Manokwari berlokasi di Desa Sumber Boga SP. 7, Distrik Masni, Kabupaten Manokwari (Foto: Miftahuddin/ Hidayatullah.or.id)
MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Nanang Noerpatria, M.Pd, meninjau langsung perkembangan program pertanian untuk pemberdayaan ekonomi berbasis agribisnis yang dikelola oleh Pesantren Agro Hidayatullah Manokwari, Papua Barat, Selasa, 22 Syaban 1447 (10/2/2026). Kunjungan tersebut difokuskan pada evaluasi dan penguatan program Petani Milenial yang tengah dikembangkan di lingkungan pesantren.
Pesantren Agro Hidayatullah Manokwari berlokasi di Desa Sumber Boga SP. 7, Distrik Masni, Kabupaten Manokwari. Saat ini, kawasan tersebut menjadi pusat pengembangan program Petani Milenial yang dirancang melalui kolaborasi antara Pesantren Hidayatullah Manokwari dan Bank Indonesia (BI). Program ini diarahkan untuk mendorong kemandirian pangan sekaligus menyiapkan generasi muda yang memiliki kompetensi di sektor agribisnis.
Nanang Noerpatria mengamati langsung aktivitas pengelolaan lahan produktif serta berdialog dengan pengelola dan peserta program. Ia menyampaikan apresiasi terhadap langkah pesantren dalam mengintegrasikan pendidikan keagamaan dengan penguatan sektor ekonomi berbasis potensi lokal.
“Kolaborasi dengan Bank Indonesia dalam program Petani Milenial ini adalah langkah konkret untuk membuktikan bahwa santri bisa menjadi pelopor kedaulatan pangan, khususnya di tanah Papua Barat,” ujar Nanang di sela-sela peninjauan lahan pertanian.
Program Petani Milenial yang dijalankan di pesantren ini mencakup beberapa komponen utama. Pertama, pemanfaatan teknologi pertanian modern untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Para santri dan pemuda sekitar diberikan edukasi mengenai teknik budidaya yang terukur dan sistematis.
Komponen Kedua, penguatan kemandirian ekonomi pesantren melalui optimalisasi hasil produksi yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan internal sekaligus menyuplai pasar lokal di wilayah Manokwari. Dan, Ketiga, dukungan teknis dan peralatan yang diperoleh melalui kemitraan dengan Bank Indonesia sebagai bagian dari penguatan kapasitas petani muda.
Nanang menyebutkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa bahwa sektor pertanian masih menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia. Dalam publikasi BPS 2023, sekitar 28–29 persen tenaga kerja nasional bekerja di sektor pertanian. Namun, struktur usia petani didominasi kelompok usia di atas 45 tahun, sementara minat generasi muda terhadap sektor ini relatif lebih rendah.
“Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional. Sehingga, kita berharap, program Petani Milenial di Pesantren Agro Hidayatullah Manokwari menghadirkan alternatif konkret bagi generasi muda agar melihat sektor pertanian sebagai bidang yang memiliki prospek dan nilai strategis,” katanya.
Dr. Nanang menegaskan bahwa penguatan ekonomi berbasis pertanian di pesantren merupakan bagian dari upaya membangun kemandirian umat secara terstruktur.
“Kita ingin santri tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga memiliki keterampilan yang aplikatif. Pertanian adalah sektor riil yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat,” katanya dalam sesi diskusi bersama pengelola program.
Ia juga menekankan bahwa kemandirian pesantren perlu diukur dari kemampuannya mengelola potensi ekonomi lokal secara produktif.
Menurutnya, pemberdayaan ekonomi berbasis lahan yang tersedia di Papua Barat merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal.
Kunjungan tersebut diakhiri dengan ramah tamah dan dialog terbuka bersama pengelola dan peserta program Petani Milenial di area perkebunan. Dalam forum tersebut dibahas sejumlah aspek teknis, termasuk penguatan kapasitas produksi dan strategi distribusi hasil panen ke pasar lokal.
Kehadiran Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah di lokasi program menjadi bagian dari pendampingan organisasi terhadap inisiatif ekonomi yang dikembangkan di daerah. Program ini diharapkan terus berjalan secara berkelanjutan dengan dukungan berbagai pihak yang telah terlibat dalam kolaborasi.
ADAKALANYA dunia tidak membutuhkan pidato panjang. la hanya butuh satu sikap yang jujur. Ketika seseorang berkata bahwa keamanan harus dijamin, kita patut bertanya, keamanan siapa, dan dengan harga apa. Sebab dalam iman, keamanan tidak pernah berdiri sendiri. la selalu berjalan beriringan dengan keadilan.
Jika satu dijaga sementara yang lain dibiarkan mati perlahan, maka itu bukan ketertiban, melainkan ketimpangan yang dilegalkan.
Palestina jarang disebut dalam kalimat-kalimat resmi. Bukan karena tidak penting, tetapi karena luka selalu merepotkan. la membuat suasana rapat tidak nyaman. la mengganggu keharmonisan diplomasi. Maka luka itu disimpan jauh-jauh, sementara kata damai dipajang rapi di meja.
Padahal agama mengajarkan hal yang sederhana: Tuhan tidak berpihak pada yang kuat, melainkan pada yang benar. Dan, kebenaran tidak pernah butuh banyak alasan. la hanya butuh keberanian untuk tidak bersembunyi di balik kepentingan.
Indonesia pernah berdiri dengan dada terbuka menolak penjajahan. Doa-doa kemerdekaannya lahir dari keteguhan, bukan dari hitung-hitungan aman.
Maka, ketika hari ini kita terdengar terlalu hati-hati menyebut kezaliman, seolah takut kehilangan undangan dan posisi, yang sesungguhnya terancam bukanlah hubungan internasional, melainkan harga diri sejarah.
Bergabung dengan forum-forum keamanan global bukanlah dosa. Duduk bersama para pemegang kuasa juga bukan kesalahan. Namun iman selalu memberi satu garis tegas: jangan pernah menukar nurani dengan rasa aman. Jangan pernah menyebut kebijaksanaan sesuatu yang lahir dari ketakutan.
Dalam kisah-kisah lama, banyak orang tidak jatuh karena berbuat jahat, tetapi karena memilih diam. Mereka tahu mana yang salah, namun memilih tidak mengganggu keadaan. Mereka menyebutnya realistis. Tuhan menyebutnya lalai.
Sejarah akan membaca sikap, bukan niat. la tidak mencatat seberapa pintar kita merangkai kalimat, tetapi seberapa berani kita tetap jujur ketika kejujuran berisiko. Dan, di hadapan Tuhan, tidak ada diplomasi yang cukup rapi untuk menutupi satu ketidakadilan yang disengaja.
Kita berdiri tegak untuk kemerdekaan Palestina!
*) Naser Muhammad, penulis dai Hidayatullah di Kalimantan Utara
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) –– Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., menegaskan pentingnya pembinaan tilawatil Al-Qur’an sebagai fondasi penguatan kualitas sumber daya manusia dalam tubuh organisasi. Hal tersebut disampaikan saat memberikan sambutan dalam kegiatan Sosialisasi Program Pembinaan Tilawatil Qur’an yang diselenggarakan oleh Badan Koordinasi Pembinaan Tilawatil Qur’an (BKPTQ) Hidayatullah di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Selasa, 22 Sya’ban 1447 (10/2/2026).
Naspi mengatakan BKPTQ sebagai lembaga strategis yang masih berada pada fase awal pengembangan. Ia menjelaskan bahwa usia lembaga yang relatif baru menuntut kesungguhan kerja, kejelasan arah, serta kemampuan membaca peluang agar waktu yang berjalan tidak terbuang tanpa capaian berarti. Menurutnya, keberadaan BKPTQ langsung di bawah koordinasi Ketua Umum DPP merupakan peluang struktural yang harus dimanfaatkan secara optimal.
“BKPTQ adalah lembaga baru. Jadi butuh effort agar waktu yang bergulir dapat menjadi media kemajuan, sehingga pada periode kedua 2026–2031 BKPTQ bisa lebih baik. Peluang ini semakin besar karena langsung di bawah Ketua Umum DPP,” katanya.
Naspi menekankan bahwa kerja kelembagaan pada fase awal harus ditopang dengan manajemen yang efektif dan responsif. Ia mengingatkan agar pola kerja yang dibangun harus mampu bergerak cepat dan adaptif terhadap kebutuhan pembinaan Al-Qur’an di masyarakat termasuk dalam lingkungan internal Hidayatullah.
“Harus bisa lebih efektif dan lebih agile,” tegasnya.
Dalam implementasi program, Naspi menyampaikan bahwa langkah awal yang akan segera dijalankan adalah program tahsin Al-Qur’an bagi pengurus Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah. Ia menjelaskan bahwa pembinaan internal menjadi pintu masuk penting sebelum program diperluas ke tingkat wilayah dan daerah.
“Pekan depan diharapkan program tahsin pengurus DPP Hidayatullah akan running,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keberhasilan program tidak dapat bergantung pada satu unit kerja semata. Oleh karena itu, Naspi mendorong seluruh unsur organisasi untuk bersikap proaktif, mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing, serta menyiapkan diri sejak dini sebelum program pembinaan Al-Qur’an digulirkan secara lebih luas.
“Semua pihak harus proaktif, sebelum program ini berlangsung lebih massif ke wilayah dan daerah,” katanya.
Lebih jauh, Naspi mengajak seluruh peserta untuk menempatkan Al-Qur’an sebagai pusat orientasi kehidupan dan gerakan. Menurutnya, Al-Qur’an bukan sekadar teks bacaan, melainkan petunjuk hidup yang menuntut keterlibatan emosional, intelektual, dan spiritual dari setiap Muslim. Oleh karena itu, semangat mempelajari dan membaca Al-Qur’an harus terus dipelihara.
“Al-Qur’an itu petunjuk, jadi harus antusias dan semangat,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa proses belajar membaca Al-Qur’an adalah perjalanan sepanjang hayat. Dalam proses tersebut, Naspi menekankan pentingnya menjaga fokus dan ketulusan niat, tanpa terganggu oleh pandangan atau sikap yang justru melemahkan semangat belajar.
“Kita harus terus belajar. Jangan terganggu oleh perspektif yang tidak relevan dalam belajar membaca Al-Qur’an,” katanya.
Naspi kemudian menguraikan harapannya agar program pembinaan tilawatil Al-Qur’an yang digagas BKPTQ tidak berhenti pada aspek teknis pembelajaran, tetapi mampu melahirkan dampak sosial yang lebih luas. Ia menilai bahwa ketika pembelajaran Al-Qur’an disajikan secara sistematis, ramah, dan berkelanjutan, maka akan tumbuh budaya membaca Al-Qur’an yang lebih kuat di tengah umat.
“Kita harap ini bisa menjadi gelombang kebaikan yang membuat umat semakin senang membaca Al-Qur’an, karena kita bisa memberikan bukti bahwa belajar Al-Qur’an itu kebutuhan mendasar kita semua,” ujar Naspi.
Pada kesempatan tersebut, rangkaian acara juga diisi dengan pembacaan Surat Keputusan pergantian pengurus BKPTQ Hidayatullah untuk periode 2026–2031 yang menandai dimulainya fase baru pengelolaan dan penguatan program pembinaan tilawatil Al-Qur’an di lingkungan Hidayatullah sebagai titik awal konsolidasi program, penguatan komitmen pengurus, serta perluasan gerakan pembelajaran Al-Qur’an yang terstruktur dan berkelanjutan.