JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah, Ustadz Dr. H. Tasyrif Amin, M.Pd., mendorong para pembina umat (murabbi) untuk menjadikan i’tikaf sebagai bagian dari proses pembinaan kader, terutama pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Menurutnya, pembinaan spiritual akan berjalan lebih efektif apabila para pembina turut memberikan teladan dalam menghidupkan ibadah di penghujung bulan suci.
Ia menyampaikan bahwa praktik ibadah yang dijalankan bersama dapat memperkuat kualitas ruhiyah serta menumbuhkan kesadaran kolektif dalam membangun kehidupan keagamaan yang lebih mendalam.
Pernyataan tersebut disampaikan Tasyrif Amin dalam kegiatan Forum Riyadhah Murabbi yang diselenggarakan secara daring melalui platform Zoom pada Selasa, 20 Ramadhan 1447 (10/3/2026). Forum ini diikuti oleh para kader dan pembina dari berbagai wilayah di Indonesia.
Kegiatan tersebut sebagai ruang pembinaan spiritual untuk membantu peserta memaksimalkan momentum sepuluh hari terakhir Ramadhan melalui peningkatan kualitas ibadah, terutama dengan menghidupkan tradisi i’tikaf di masjid.
Tasyrif Amin menjelaskan bahwa sejak masa awal berdirinya gerakan dakwah Hidayatullah, Ramadhan selalu ditempatkan sebagai momentum penting untuk memperkuat spiritualitas para kader. Ia menyebutkan bahwa tradisi tersebut telah berkembang sejak periode perintisan yang berlangsung di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.
“Hidayatullah sejak masa rintisan selalu menjadikan Ramadhan sebagai momentum istimewa. Salah satu yang ditekankan adalah i’tikaf sebagai sarana menghidupkan spiritualitas kader,” ujarnya.
Ia juga mengingat kembali pengalaman masa awal pembinaan ketika pemahaman tentang fikih i’tikaf belum sepenuhnya dipahami secara mendalam oleh para kader. Meskipun demikian, semangat untuk menghidupkan ibadah tersebut tetap dijaga dan dilaksanakan secara bersama-sama sebagai bagian dari penguatan spiritual.
“Waktu itu kami belum terlalu memahami fiqih i’tikaf secara mendalam, termasuk fiqih prioritasnya. Yang kami pahami adalah bahwa i’tikaf itu penting. Karena itu para kader yang beraktivitas di lapangan akan kembali ke kampus dan menghidupkan masjid saat Ramadhan agar spiritualitas tetap terjaga,” jelasnya.
Dalam forum yang sama, Ustadz Tasyrif kembali menegaskan pentingnya peran para murabbi atau pembina dalam membimbing kader melalui keteladanan langsung. Ia menyampaikan bahwa pembinaan spiritual tidak hanya disampaikan melalui arahan atau ceramah, tetapi juga melalui praktik ibadah yang dicontohkan secara nyata oleh para pembina.
Menurutnya, ketika pembina turut melaksanakan i’tikaf dan menghidupkan ibadah di masjid pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, para kader akan lebih mudah memahami nilai spiritual yang ingin ditanamkan dalam proses pembinaan.
Selain itu, ia juga mengingatkan agar aktivitas yang bersifat teknis dapat diatur secara lebih proporsional selama periode akhir Ramadhan. Pengaturan tersebut dimaksudkan agar para pembina memiliki ruang yang lebih luas untuk memfokuskan diri pada penguatan ibadah dan pembinaan spiritual.
SORE itu saya berbincang dengan seorang pemuda di halaman masjid. Wajahnya ramah, namun tampak sedikit pemalu.
“Saya Tino,” katanya memperkenalkan diri.
Saya tersenyum lalu menebak, “Martino ya?”
Ia langsung terkejut. Matanya membesar.
“Lho… kok tahu nama saya?” tanyanya heran.
Saya tertawa kecil. “Biasanya Tino itu singkatan dari Martino.”
Ia mengangguk sambil tersenyum, masih tampak kagum.
Saya lalu bertanya dengan penasaran, “Kalau boleh tahu, sejak kapan kamu masuk Islam?”
Tino menjawab pelan namun mantap, “Tahun 1444 Hijriah.”
Saya semakin tertarik dengan kisahnya.
“Bagaimana Allah memberikan hidayah kepadamu?”
Ia terdiam sejenak, lalu mulai bercerita.
“Sejujurnya… saya di sini hampir tidak pernah bertemu orang Islam. Keluarga saya semuanya Katolik. Tapi suatu hari saya menonton YouTube… ceramah-ceramah tentang akhir zaman.”
“Saya jadi takut,” lanjutnya. “Lalu saya mulai berpikir… apakah agama yang saya jalani ini benar? Saya terus menonton ceramah-ceramah itu sampai akhirnya muncul keinginan untuk mencari orang Islam.”
“Padahal sebelumnya kamu belum kenal Muslim?” tanya saya.
“Belum,” jawabnya. “Karena itu saya mulai berjalan-jalan di kota, bertanya kepada banyak orang: di mana saya bisa bertemu orang Islam di Dili?”
Beberapa orang akhirnya memberi jawaban yang sama.
“Mereka berkata, di Dili hanya ada satu masjid besar… yaitu Masjid An-Nur.”
Maka dengan tekad kuat, ia pun datang ke masjid itu.
“Saya datang ke masjid,” kata Tino. “Saya katakan kepada orang-orang di sana bahwa saya ingin masuk Islam.”
Saya menatapnya dengan haru.
“Jadi kamu datang sendiri?” tanya saya.
“Iya,” jawabnya tenang. “Saya datang sendiri… lalu saya menyerahkan diri kepada Allah dan memeluk Islam.”
Kami pun terdiam sejenak.
Di tengah kota yang mayoritas non-Muslim, Allah menghadirkan hidayah kepada seorang pemuda hanya melalui video ceramah di internet—lalu menuntunnya langkah demi langkah sampai ke pintu masjid.
Benarlah firman Allah:
“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah kepada siapa yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56)
Kisah Tino mengingatkan kita: Hidayah bisa datang dari arah yang tidak pernah kita sangka.
Bahkan dari sebuah video di YouTube… lalu berakhir di pintu masjid.
*) Ust. Jumardi,penulis dai Hidayatullah bertugas di Timor Leste
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Program Mentoring Alumni Pelatihan Kepemimpinan sebagai upaya mengawal implementasi kepemimpinan berbasis manhaj sekaligus memperkuat tata kelola organisasi yang unggul di lingkungan Hidayatullah.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Hidayatullah Institute ini berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada 25–26 Februari serta 4–5 Maret 2026. Peserta berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, meliputi pimpinan wilayah, pengelola lembaga pendidikan, serta pengurus organisasi di lingkungan Hidayatullah.
Program tersebut merupakan tindak lanjut dari rangkaian pelatihan kepemimpinan yang dilaksanakan Hidayatullah Institute sejak 2021 hingga 2025. Dalam kurun waktu tersebut, tercatat sebanyak 629 alumni dari 18 batch pelatihan telah mengikuti program pengembangan sumber daya insani. Para alumni tersebut saat ini berperan di berbagai unit amal usaha Hidayatullah, termasuk dalam struktur organisasi, lembaga pendidikan, serta institusi sosial dan dakwah.
Melalui program mentoring ini, Hidayatullah Institute berupaya memastikan bahwa materi kepemimpinan dan manajemen yang telah dipelajari peserta dapat diterapkan dalam praktik pengelolaan organisasi. Pendampingan dilakukan dengan pendekatan diskusi dan evaluasi terhadap implementasi program kepemimpinan di masing-masing wilayah.
Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Organisasi, Dr Dudung Amadung Abdullah, dalam sambutannya menekankan pentingnya kepemimpinan yang berpijak pada manhaj perjuangan Hidayatullah dan didukung sistem pengelolaan organisasi yang profesional.
“Organisasi yang kuat tidak hanya dibangun oleh semangat perjuangan, tetapi juga oleh sistem pengelolaan yang baik, kepemimpinan yang visioner, serta kemampuan mengelola sumber daya secara efektif,” ujarnya.
Ia menyampaikan bahwa melalui program mentoring ini para alumni diharapkan mampu menghadirkan kepemimpinan yang transformatif sekaligus mendorong perbaikan tata kelola organisasi di berbagai tingkatan.
Direktur Utama Hidayatullah Institute sekaligus Ketua Departemen Sumber Daya Insani DPP Hidayatullah, Sumariadi, M.Pd., menjelaskan bahwa mentoring merupakan bagian dari upaya memastikan proses kaderisasi kepemimpinan berlangsung secara berkelanjutan.
“Mentoring ini menjadi ruang pembelajaran bersama sekaligus ruang evaluasi agar implementasi program kepemimpinan dan manajemen yang telah dipelajari dapat berjalan secara efektif di masing-masing wilayah dan lembaga,” ungkapnya.
Dalam pelaksanaannya, program ini menghadirkan sejumlah pimpinan Hidayatullah sebagai mentor, di antaranya Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Naspi Arsyad, Lc., Bendahara Umum DPP Hidayatullah Suwito Fatah, S.Pd., S.E., M.M., Ketua Umum PP Muslimat Hidayatullah Hani Akbar, S.Sos.I., M.Pd., serta Ketua DPP Hidayatullah Bidang Pendidikan Muzakkir Usman, Ph.D.
Mentoring dilaksanakan dalam beberapa sesi berdasarkan kelompok peserta. Sesi pertama pada 25 Februari diikuti oleh Ketua DPD serta Ketua, Sekretaris, dan Bendahara DPW. Sesi berikutnya pada 26 Februari diikuti oleh pengelola Kampus Induk, Kampus Utama, serta pengelola BMH. Pada 4 Maret kegiatan diikuti oleh para kepala sekolah, sedangkan sesi terakhir pada 5 Maret diikuti oleh pengurus Muslimat Hidayatullah.
Dalam setiap sesi, peserta mempresentasikan perkembangan implementasi program kepemimpinan dan manajemen yang telah dijalankan di wilayah masing-masing. Para mentor kemudian memberikan arahan dan masukan untuk memperkuat pelaksanaan program tersebut.
Selain diskusi dan evaluasi, kegiatan juga menghadirkan sesi Success Story yang disampaikan Direktur Program Hidayatullah Institute, Samsul Bahri.
Samsul memaparkan sejumlah pengalaman implementasi program kepemimpinan dan manajemen organisasi di beberapa wilayah sebagai referensi pembelajaran bagi peserta.
Melalui program mentoring ini, Hidayatullah Institute menargetkan terbangunnya kapasitas kepemimpinan yang lebih kuat di kalangan alumni pelatihan. Program tersebut juga diarahkan untuk memperkuat pengelolaan organisasi yang profesional dan berorientasi pada pelayanan umat.
Alhamdulillah, kita masih dipertemukan dengan bulan puasa sehingga kita bisa memanfaatkan momentum yang luar biasa ini agar semakin bertaqwa sebagai tujuan berpuasa yaitu ‘la’alakum tattaqun.
Pelajaran yang sangat berharga akibat kesombongan yang bercokol dalam hati adalah sifat Iblis yang merasa lebih mulia karena diciptakan dari api dari nabi Adam yang diciptakan dari tanah.
Dia (Allah) berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud ketika Aku menyuruhmu?” Ia (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’raf: 12)
Allah berfirman: Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya; maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina. (QS Al-A’raf: 13). Jama’ah shalat Jum’ah rahimakumullah.
Sifat sombong merupakan watak dan sifat manusia yang merasa lebih hebat dan menganggap rendah orang lain.
Sombong adalah masalah yang sangat serius, kesombongan inilah yang menyebabkan setan terusir dari surga dan kemudian dikutuk oleh Allah SWT selamanya.
Hadirnya rasa sombong ini sangat halus sekali. Banyak orang merasa tawadhu (rendah hati) padahal sejatinya dirinya di mata orang lain sedang menunjukkan sikap sombong.
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS Luqman: 18).
Lengkap sudah, bahwa Allah swt sangat membenci orang yang merasa paling mulia, paling tinggi derajatnya, membangga-bangga harta dan angkuh.
Sesungguhnya semua manusia adalah sama-sama ciptaan Allah swt, sebagai hamba dan sama statusnya dimata Allah swt. Yang paling mulia disisi Allah swt adalah orang yang paling taqwa.
Kedua, menjadi makhluk yang hina.
Allah swt berfirman dalam surah al-A’raf ayat 146:
“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku). Jika mereka melihat semua tanda-tanda itu, mereka tetap tidak mau beriman padanya. Jika mereka melihat jalan kebenaran, mereka tetap tidak mau menempuhnya. (Sebaliknya,) jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lengah terhadapnya“
Naudzubillah, orang sombong sering kali tidak akan pernah mau kalah dan mengalah. Andaikata ada yang mengungguli, ia akan bersikap sinis dan berlomba-lomba untuk melebihi yang lain lagi. Atau, bahkan, bisa berbohong, mereka-reka cerita dan peristiwa yang tujuannya mengangkat dirinya.
“… demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang” (QS al-Mukmin: 35).
Astaghfirullaah! Allah SWT akan menutup rapat pintu hati manusia yang bersikap sombong. Ia tidak akan lagi mampu menerima kebenaran apapun
Orang sombong sangat sulit untuk menerima kebenaran jika hatinya telah mati dan dikunci oleh Allah SWT. Jalan satu-satunya, ia harus benar-benar bertobat kepada-Nya.
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka sujudlah mereka kecuali Iblis, ia enggan dan takabur maka ia termasuk golongan orang-orang yang kafir” (QS al-Baqarah: 34).
Peristiwa ini menjadi penanda bahwa makhluk yang mulia bisa menjadi hina karena kesombongannya.
Sombong tidak hanya memandang manusia yang rendah, manusia yang mulia pun bisa menjadi lebih rendah dan hina jika memiliki sifat sombong.
Jama’ah shalat Jum’ah rahimakullah…
Puasa dapat membebaskan diri dari segala sangkar besi kedigdayaan kesombongan. Maka, mari kita menjadikan puasa sebagai ruang refleksi tertinggi yang menembus jantung mata hati terdalam khususnya dalam hal menahan hawa nafsu dari sifat kesombongan agar terbentuk karakter insan bertaqwa dan rendah hati.
Semoga dengan berpuasa menjadikan diri setiap insan Muslim siapapun dia, makin rendah hati dan tidak terjangkiti virus angkuh diri yaitu sifat sombong.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah melalui Departemen Hubungan Antarbangsa secara resmi melepas para dai yang akan menjalankan misi dakwah internasional dalam program “SEA Loves Al-Qur’an” 1447 Hijriah, Selasa, 20 Ramadhan 1447 (10/3/2026). Para dai tersebut akan menjalankan tugas dakwah di sejumlah negara kawasan Asia Tenggara, yakni Malaysia, Filipina, dan Timor Leste.
Program ini merupakan bagian dari agenda dakwah internasional Hidayatullah yang telah berjalan pada periode sebelumnya dan terus dikembangkan sebagai upaya memperluas syiar Islam di kawasan ASEAN.
Program SEA (South East Asia) Loves Al-Qur’an sendiri merupakan kegiatan pengiriman dai dan pengajar Al-Qur’an untuk bertugas di berbagai negara, khususnya selama momentum dakwah seperti bulan Ramadhan, dengan peran antara lain menjadi imam shalat, mengajar Al-Qur’an, serta membina masyarakat Muslim setempat.
Dalam laporannya, Ketua Departemen Hubungan Antarbangsa DPP Hidayatullah Rasfiuddin Sabaruddin menyampaikan bahwa pada tahun ini pengiriman dai difokuskan pada tiga negara ASEAN. Beberapa kader yang diutus antara lain Ust Jumardi dan Ust Asif Muhammad ke Timor Leste, Ust Aray Ramlie dan Ust Hamzah ke Malaysia, Ust Kasyful Anwar ke Filphina Chebu, serta Ust Sahid Tandion, Ust Muhidin, dan Ust Maher di Filphina Cotabato.
“Program ini merupakan kelanjutan dari periode sebelumnya. Tahun ini kita prioritaskan di tiga negara, yaitu Malaysia, Filipina, dan Timor Leste. InsyaAllah ke depan akan terus dikembangkan ke negara-negara lain di kawasan ASEAN,” ungkapnya dalam laporan kegiatan pelepasan.
Acara pelepasan diawali dengan pengantar dan arahan dari Ketua DPP Hidayatullah Bidang Organisasi, Dudung Amadung Abdullah. Dalam sambutannya ia menegaskan bahwa dakwah merupakan tugas mulia yang menjadi identitas umat Islam.
Menurutnya, umat terbaik adalah mereka yang beriman dan menyampaikan risalah kebenaran Allah SWT kepada manusia. Oleh karena itu, Hidayatullah berkomitmen untuk terus mengembangkan dakwah tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga hingga ke mancanegara.
“Kesempatan ini adalah peluang kebaikan bagi pribadi maupun lembaga. Tidak semua orang mendapatkan amanah ini. Karena itu setiap kegiatan harus dijalankan sesuai program dan disertai evaluasi yang berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, pelepasan resmi dilakukan oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah, Naspi Arsyad. Dalam pesannya kepada para dai yang akan bertugas, ia menekankan pentingnya meluruskan niat dalam berdakwah.
“Jika niat kita lurus, maka urusan akan dimudahkan oleh Allah SWT. Dakwah yang dijalani dengan niat yang benar akan menjadi kenikmatan. Para asatidz yang terpilih mengikuti program ini adalah orang-orang pilihan untuk melanjutkan jejak dakwah Rasulullah SAW,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan agar para dai senantiasa memperbanyak doa dan menjaga keikhlasan selama menjalankan amanah dakwah di negeri orang.
“Selamat bertugas dan menjalankan amanah. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan kenikmatan dalam menapaki jalan dakwah ini,” pesannya.
Melalui program SEA Loves Al-Qur’an, Hidayatullah berharap dapat memperkuat hubungan persaudaraan umat Islam lintas negara serta menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur’an melalui pengajaran, pembinaan, dan kegiatan dakwah di berbagai komunitas Muslim di kawasan Asia Tenggara.[]
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pendiri Rumah Sejarah Indonesia, Hadi Nur Ramadan, menyampaikan bahwa gerakan Islam harus mampu menjaga keaslian prinsip perjuangan sekaligus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Pernyataan tersebut disampaikannya Hadi dalam rangkaian webinar Ramadhan 5.0 bertema Kalangan Muda sebagai Game Changer yang diselenggarakan Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Jakarta Selatan pada Selasa malam, 20 Ramadhan 1447 (10/3/2026).
Hadi menjelaskan pentingnya generasi muda Islam memahami sejarah sebagai dasar dalam membangun masa depan gerakan. Menurutnya, proses membaca sejarah memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran intelektual, namun hal tersebut tidak cukup apabila tidak disertai kemampuan untuk terlibat langsung dalam membangun perubahan.
“Kader Abdullah Said membaca sejarah itu penting, tetapi menjadi aktor sejarah jauh lebih penting,” ujarnya.
Ia menyampaikan bahwa pesan tersebut merupakan bagian dari warisan pemikiran Abdullah Said sebagai pendiri Hidayatullah. Dalam pandangannya, generasi penerus tidak hanya dituntut memahami perjalanan sejarah gerakan, tetapi juga diharapkan mampu berperan aktif dalam melanjutkan dinamika perjuangan.
Hadi, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam Majelis Ulama Indonesia (LSBPI MUI), menegaskan bahwa gerakan Islam memerlukan keseimbangan antara menjaga prinsip dasar perjuangan dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan sosial yang terus berubah.
“Kita harus menjaga asolah, keaslian perjuangan, tetapi pada saat yang sama juga harus mu’ashirah, mampu mengikuti perkembangan zaman,” katanya.
Dalam pemaparannya, ia juga menyoroti tradisi literasi yang kuat pada diri Abdullah Said. Menurutnya, kebiasaan membaca berbagai karya keislaman menjadi faktor penting yang membentuk gagasan besar dalam perjalanan dakwah Hidayatullah.
Ia menyebut sejumlah karya yang menjadi rujukan intelektual Abdullah Said, di antaranya Tafsir Sinar karya Abdul Malik Ahmad, Rangkaian Mutu Manikam karya Mas Mansur, serta Tafsir Al-Azhar karya Hamka. Selain itu, buku Mujahid Dakwah karya Isa Anshary disebut turut mempengaruhi semangat militansi dakwah yang dibangun oleh Abdullah Said.
“Kalau Abdullah Said tidak memiliki budaya literasi yang kuat, saya kira beliau tidak akan melahirkan gagasan besar seperti Hidayatullah,” ujarnya.
Hadi juga menjelaskan bahwa perkembangan gerakan dakwah tidak terlepas dari strategi yang berakar pada masyarakat. Ia mencontohkan sejumlah tokoh Islam Indonesia yang membangun basis sosial sebelum mendirikan organisasi keagamaan.
Ia menyebut Ahmad Dahlan yang terlebih dahulu melakukan pembinaan masyarakat di Kauman sebelum mendirikan Muhammadiyah, serta Hasyim Asy’ari yang mengembangkan jaringan pesantren sebelum berdirinya Nahdlatul Ulama.
“Para tokoh itu punya basis dakwah yang jelas di masyarakat. Ketika basis itu kuat, organisasi yang mereka dirikan pun meledak dan berkembang,” jelasnya.
Menurutnya, pendekatan yang sama juga dilakukan oleh Abdullah Said ketika membangun komunitas dakwah di kawasan Gunung Tembak, Balikpapan. Kawasan tersebut kemudian berkembang menjadi pusat aktivitas Hidayatullah yang dikenal sebagai kampus Hidayatullah.
Hadi menjelaskan bahwa konsep tersebut dipahami sebagai miniatur peradaban Islam yang menghadirkan praktik kehidupan keagamaan secara nyata dalam kehidupan sosial.
“Hidayatullah dibangun sebagai miniatur peradaban Islam. Ketika masyarakat melihat contoh nyata itu, mereka tertarik datang dan belajar,” katanya.
Pada bagian akhir pemaparannya, Hadi mengingatkan pentingnya generasi muda mempelajari gagasan dan pemikiran para pendiri gerakan agar arah perjuangan tetap terjaga.
“Kita bukan hanya menjadi pelanjut organisasi, tetapi juga harus menjadi pembaca Abdullah Said, memahami gagasan dan perjuangannya, lalu melanjutkannya sesuai dengan tantangan zaman,” pungkasnya.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., menegaskan pentingnya integritas sebagai fondasi utama dalam membangun peradaban Islam. Hal tersebut ia sampaikan saat memberikan tausiyah dalam kegiatan buka puasa bersama karyawan PT Lentera Jaya Abadi dan kru Majalah Suara Hidayatullah, Rabu, 21 Ramadhan 1447 (11/3/2026).
Kegiatan tersebut berlangsung secara hybrid , dengan peserta di Jakarta hadir secara langsung, sementara peserta di Surabaya mengikuti melalui Zoom.
Dalam tausiyahnya, Naspi menekankan bahwa integritas bukanlah sesuatu yang muncul secara otomatis, melainkan nilai yang harus dilatih dan didisiplinkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Integritas itu bukan bawaan sejak lahir, bukan karena jabatan, bukan karena kekayaan. Ia adalah nilai yang harus dilatih dan didisiplinkan,” ujarnya.
Integritas dalam Dunia Media
Naspi secara khusus menyoroti pentingnya integritas bagi pekerja media, terutama dalam memastikan validitas informasi yang disampaikan kepada publik.
Menurutnya, tulisan yang dipublikasikan tidak hanya berhenti sebagai informasi, tetapi dapat menjadi warisan yang mempengaruhi cara berpikir dan praktik keagamaan masyarakat.
“Bagi pekerja media, integritas ini terkait dengan dosa jariyah dan sedekah jariyah. Apa yang kita tulis itu akan dibaca orang dan bisa menjadi warisan,” katanya.
Ia mencontohkan bahaya jika seorang penulis tidak melakukan verifikasi sumber, misalnya dalam penggunaan hadis.
“Kalau hadisnya lemah, bahkan palsu, tetapi ditulis tanpa verifikasi lalu dibaca masyarakat yang tidak punya kapasitas untuk mengecek, kemudian mereka beramal berdasarkan hadis itu. Dari mana asalnya? Dari tulisan kita,” jelasnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya verifikasi dan kejujuran ilmiah dalam setiap tulisan. “Kalau dilakukan verifikasi dan disajikan dengan sumber yang terpercaya, itu menjadi sedekah jariyah. Peradaban Islam akan indah jika dibangun di atas dalil-dalil yang terverifikasi,” ujarnya.
Tidak Berbicara di Luar Keahlian
Dalam kesempatan tersebut, Naspi juga mengingatkan agar para dai dan intelektual Muslim tidak berbicara atau memberikan komentar di luar bidang keilmuannya.
Ia menilai fenomena saat ini menunjukkan banyak orang mudah berkomentar tentang isu global tanpa memiliki basis ilmu yang memadai.
“Saya sering ditanya, kenapa tidak membuat pernyataan soal Timur Tengah. Saya jawab, ilmu saya di mana? Saya memang pernah kuliah di Timur Tengah, tapi bukan berarti saya paham semua soal Timur Tengah,” katanya. Menurutnya, lebih baik menahan diri daripada memberikan pernyataan yang dangkal atau sekadar menyalin pendapat orang lain.
“Daripada nanti pernyataannya cetek, dangkal, atau hanya kopas dari orang lain, itu malah memalukan,” tegasnya. Ia mengingatkan prinsip Al-Qur’an agar tidak mengikuti sesuatu yang tidak memiliki dasar ilmu.
“Al-Qur’an sudah mengingatkan: jangan mengikuti sesuatu yang kamu tidak punya ilmu tentangnya. Itu juga bagian dari integritas,” katanya.
Media sebagai Instrumen Peradaban
Naspi juga menekankan bahwa media seperti Suara Hidayatullah memiliki peran strategis dalam mendukung visi besar organisasi dalam membangun peradaban Islam.
“Majalah Suara Hidayatullah bukan sekadar menerbitkan majalah. Ia harus menjadi instrumen penopang visi besar Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong para pengurus dan kader untuk membangun tradisi menulis dan memperkuat wawasan intelektual.
Menurutnya, tradisi menulis tidak hanya penting bagi media, tetapi juga bagi para pemimpin dan kader organisasi agar mampu mengeksternalisasi gagasan dan nilai-nilai peradaban Islam.
Di akhir tausiyahnya, Naspi menyampaikan rasa syukur atas tradisi integritas yang telah dibangun di lingkungan Hidayatullah. Ia menyebut organisasi tersebut memiliki standar spiritual dan etika yang tinggi dalam pembinaan kader.
“Salah satu integritas yang disajikan oleh Hidayatullah adalah penentuan pemimpin berdasarkan kualitas ibadahnya. Itu bukan sesuatu yang mudah ditemukan di banyak organisasi,” katanya.
Ia juga menilai bulan Ramadan menjadi momentum penting untuk memperkuat integritas pribadi melalui disiplin ibadah dan kejujuran spiritual.
“Ramadan melatih kita untuk mengkristalkan dan menajamkan integritas. Dari bangun malam, menjaga ibadah, hingga kejujuran dalam amal kita,” ujarnya.
Naspi berharap nilai-nilai integritas yang dibangun selama Ramadan dapat terus terjaga dan menjadi bagian dari upaya membangun peradaban Islam yang lebih kuat.
“Mudah-mudahan integritas yang kita bangun melalui ibadah Ramadan ini semakin mendekatkan kita pada cita-cita besar Hidayatullah, yaitu membangun peradaban Islam,” pungkasnya.
AKHIR Ramadhan adalah momentum terbaik untuk melihat kualitas iman. Argumentasinya jelas, menjadi orang beriman itu sudah jelas keuntungannya. Nabi Muhammad SAW malah menegaskan menakjubkan sekali jiwa orang beriman itu. Kalau mendapat kesenangan mereka bersyukur dan itu baik. Kalau datang musibah mereka bersabar dan itu pun baik.
Jadi orang beriman itu akan senantiasa bahagia. Karena iman membuat seseorang tidak larut dalam kesedihan, kegalauan dan keputusasaan. Hal itu terjadi karena imannya bekerja, reasoningnya kokoh dalam menjadikan Allah sebagai central dalam kehidupannya. Bahasa sederhananya, Iqra’ Bismirabbik-nya jalan dengan baik. Dalam arti aktivitas membacanya semakin intens, tajam dan dalam.
Lalu apa sikap dan pilihan orang beriman dalam 10 hari terakhir Ramadhan, tenang ada panduannya dari idola umat Islam sedunia dari generasi ke generasi, yaitu Nabi Muhammad SAW.
‘Aisyah ra. menyampaikan, “Ketika memasuki sepuluh akhir Ramadhan, Nabi fokus beribadah, mengisi malamnya dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk ikut ibadah.” (HR Al-Bukhari).
Dengan begitu amalan pertama yang harus kita siapkan adalah fokus dalam ibadah. Malam kita bangun untuk ibadah, dengan penekanan pada qiyamul lail.
Sedikit catatan, ibadah bagi sebagian besar umat Islam memang identik dengan shalat, zikir, dan lain sebagainya.
Tapi ibadah spektrumnya sangat luas, yakni meliputi apa saja yang mengundang ridha Allah SWT. Misalnya memasak untuk sahur orang-orang yang i’tikaf, sedekah untuk anak yatim dan orang miskin, Itu juga kebaikan. Hal ini tidak berarti seluruh umat Islam masuk ke masjid, lantas bagaimana dengan keamanan, rumah sakit, transportasi dan lain sebagainya. Semua itu juga ibadah, sejauh kita niatkan untuk Allah SWT.
Membaca Al-Qur’an
Membaca Al-Qur’an dalam pengertian yang luas perlu kita lakukan dengan lebih kuat. Hal ini karena Ramadhan identik dengan Al-Qur’an.
Para ulama, salah satunya Imam An-Nawawi, mendorong agar kita lebih giat membaca Al-Qur’an pada akhir malam. Itu karena situasi dan kondisi sangat mendukung untuk kita lebih fokus.
Mentadabburi Ayat Al-Qur’an
Meskipun membaca Al-Qur’an berpahala namun kita penting untuk bisa menangkap pesan esensial dari ayat yang kita baca. Oleh karena itu tadabbur ayat-ayat Al-Qur’an bisa jadi pilihan amalan akhir Ramadhan. Terutama bagi kaum Muslimin yang memang terhalang untuk bisa i’tikaf karena tanggung jawab pekerjaan atau lainnya.
“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (Q.S. Shâd [38]: 29).
Ketika kita mau dan sadar dalam mentadabburi Al-Qur’an maka akan banyak keuntungan yang kita peroleh. Pertama, bisa memahami pedoman hidup yang benar dan menjadikannya sebagai kebahagiaan bagi hati.
Kemudian, kita akan selamat dalam menjalani kehidupan dunia yang fana dan penuh fitnah ini. Terakhir, kita bisa menjadi orang yang dapat membawa cahaya bagi sesama.
Dengan demikian, tiga amalan itu penting bagi kita untuk mengisi akhir Ramadhan dengan baik. Langkah itu juga akan memberi kesan yang sangat mendalam bagi jiwa kita sendiri untuk memastikan target takwa dari puasa bisa kita capai.
Takwa itu bukan konsep abstrak dalam Islam, mampu memaafkan kesalahan orang lain, itu pun bagian dari takwa. Mau bersedekah, peduli kepada sesama, juga takwa.
Semoga Ramadhan ini mengantarkan kita semua menjadi pribadi yang takwa dan penuh syukur, Aamiin.[]
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Forum Riyadhah Murabbi digelar sebagai ruang penguatan spiritual bagi para kader dan murabbi agar memaksimalkan momentum akhir Ramadhan dengan ibadah yang lebih berkualitas. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah bersama Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah secara daring melalui Zoom pada Selasa, 20 Ramadhan 1447 (10/3/2026), dan diikuti oleh kader serta pembina dari berbagai wilayah.
Agenda tersebut menghadirkan sejumlah narasumber. Materi yang dibahas mencakup pemaknaan Lailatul Qadar, praktik i’tikaf, serta penguatan tadabbur Al-Qur’an sebagai bagian dari pembinaan spiritual di akhir bulan Ramadhan.
Imam Besar Masjid Ar-Riyadh Pesantren Hidayatullah Balikpapan, Ust. H. Muhammad Baharun Musaddad, Lc., dalam pemaparannya menjelaskan bahwa Lailatul Qadar memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam ajaran Islam. Ia menerangkan bahwa istilah Lailatul Qadar juga dipahami sebagai malam yang “sempit” karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi.
“Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemuliaan. Pada malam itu para malaikat turun dalam jumlah yang sangat banyak untuk membersamai turunnya Al-Qur’an,” jelasnya dalam forum tersebut.
Dalam sesi berikutnya, anggota Dewan Murabbi Pusat, Ust. H. Abdul Kholiq, Lc., MHI., menyampaikan bahwa i’tikaf merupakan bagian dari latihan spiritual yang menguji kesungguhan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah.
“I’tikaf adalah ujian kecintaan seorang hamba kepada Allah. Apakah ia siap memfokuskan diri hanya untuk beribadah dan mendekat kepada-Nya,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya memahami prinsip fikih prioritas dalam pelaksanaan ibadah. Menurutnya, i’tikaf memiliki status sunnah sehingga pelaksanaannya tidak boleh mengabaikan kewajiban yang harus dipenuhi oleh seorang muslim.
Pandangan tersebut turut diperkuat oleh Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, Ust. Dr. Ir. H. Abdul Aziz, M.Si. Ia menyampaikan bahwa penguatan budaya i’tikaf di kalangan kader perlu disertai pengelolaan waktu dan ibadah yang baik.
“Kita perlu menerapkan fikih prioritas agar i’tikaf berjalan dengan baik. Kebersamaan dan saling membantu antarkader akan memperkuat pelaksanaan ibadah di akhir Ramadhan,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Bidang Perkaderan DPP Hidayatullah, Ust. Dr. Abdul Ghofar Hadi, mengajak para kader untuk menjaga konsistensi ibadah hingga penghujung Ramadhan.
Ghofar Hadi juga menyebut bahwa tradisi i’tikaf yang telah berkembang di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak Balikpapan dapat menjadi referensi bagi daerah lain dalam menghidupkan suasana ibadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Melalui kegiatan Riyadhah Murabbi ini, para peserta diharapkan memperoleh penguatan pemahaman serta motivasi spiritual untuk meningkatkan kualitas ibadah pada fase akhir Ramadhan. Forum tersebut juga diarahkan sebagai sarana memperkuat pembinaan kader agar mampu membimbing masyarakat dalam menghidupkan nilai-nilai keagamaan selama bulan suci.
SUASANA sore itu terasa hangat di sebuah kegiatan berbuka puasa bersama yang diselenggarakan oleh Pesantren Mahasiswa Dai (Pesmadai) di kawasan Rempoa, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, pada Senin, 19 Ramadhan 1447 (9/3/2026).
Di senja hari itu, anak-anak usia sekolah dasar hingga menengah atas (SMA) yang menjadi binaan taman Al Qur’an Pesmadai berkumpul dengan penuh antusias.
Mereka duduk berjejer rapi sambil menunggu waktu berbuka, namun kegiatan sore itu tidak hanya diisi dengan menunggu azan magrib. Ada sesi percakapan ringan yang justru membuat suasana menjadi hidup.
Pada kesempatan tersebut, Pembina Pesmadai, Imam Nawawi, hadir menyapa para peserta. Berbeda dengan suasana ketika ia berbicara di hadapan mahasiswa, kali ini Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect) ini memilih pendekatan yang lebih santai.
Imam tidak menyampaikan ceramah panjang dengan istilah yang rumit. Sebaliknya, ia mengajak anak-anak berdialog dengan pertanyaan sederhana.
Imam memulai percakapan dengan satu pertanyaan singkat. Ia memegang mikrofon dan bertanya, “Apa itu berani?” Mikrofon kemudian ia arahkan kepada seorang anak bernama Alfaro yang duduk di barisan kedua.
Alfaro tersenyum dan hanya mengangguk tanpa memberikan jawaban. Imam kemudian memindahkan mikrofon kepada anak lain di sampingnya.
Ia kembali bertanya dengan nada bersahabat, “Ayo, ada yang mau jawab?” Namun anak-anak tampak saling menoleh dan tersenyum malu. Tidak ada yang mengangkat tangan.
Melihat situasi itu, Imam meminta disiapkan papan tulis dan spidol. Ia lalu berkata kepada anak-anak bahwa mereka akan diajak berpikir bersama. Dia meminta anak anak untuk memusatkan pendengaran. “Karena tadi tidak ada yang mau bicara, sekarang saya minta kalian fokuskan telinga untuk mendengar,” katanya.
Di papan tulis tersebut ia menggambar dua bagan sederhana. Bagan pertama berjudul manfaat belajar, sementara bagan kedua berjudul manfaat bermain telepon genggam. Satu per satu anak diminta maju untuk mengisi kedua bagan tersebut.
Ketika mengisi bagian manfaat belajar, anak-anak tampak cukup mudah menuliskan berbagai jawaban. Mereka menyebutkan bahwa belajar dapat menambah pengetahuan, membantu memahami pelajaran di sekolah, dan membuat mereka menjadi lebih pintar.
Namun ketika giliran mengisi bagan manfaat bermain telepon genggam, sebagian anak terlihat ragu. Beberapa dari mereka tampak berpikir cukup lama sebelum menuliskan jawaban. Ada yang terdiam sejenak sebelum akhirnya menuliskan satu atau dua poin.
Setelah semua anak kembali ke tempat duduknya, Imam menjelaskan apa yang baru saja terjadi. Ia menyampaikan bahwa sebelumnya anak-anak sempat kesulitan menjawab pertanyaan karena belum mencoba berpikir secara mendalam. Melalui kegiatan sederhana di papan tulis, mereka mulai mencoba menyusun alasan dan menemukan jawaban sendiri.
Bangun Tradisi Berpikir Sejak Dini
Dalam kesempatan itu, Imam menjelaskan bahwa keberanian yang paling penting dalam kehidupan adalah keberanian untuk berpikir. Menurutnya, seseorang yang terbiasa berpikir akan lebih mudah memahami alasan dari setiap tindakan yang dilakukan.
“Sebaliknya, orang yang tidak membiasakan diri berpikir dapat mengalami kebingungan ketika harus menentukan pilihan dalam hidupnya,” katanya.
Penjelasan tersebut kemudian mengarah pada pesan yang lebih luas tentang pentingnya kesadaran dalam menjalani kehidupan. Setiap aktivitas manusia pada dasarnya memerlukan pemahaman tentang tujuan yang ingin dicapai.
“Kesadaran mengenai tujuan inilah yang membantu seseorang menentukan arah hidup, menyusun cita-cita, serta memahami alasan dari setiap keputusan yang diambil,” terang Imam di hadapan anak anak yang kini semakin antusias menyimak.
Imam lalu menjelaskan pelan pelan bahwa proses memahami tujuan hidup dimulai dari aktivitas membaca dan berpikir. Al-Qur’an dalam Surah Al-‘Alaq ayat pertama memerintahkan manusia untuk membaca dengan menyebut nama Allah: “Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq.”
“Ayat ini menunjukkan bahwa proses belajar dan memahami kehidupan harus dimulai dengan kesadaran tentang hubungan manusia dengan Penciptanya,” terangnya.
Dia menjelaskan bahwa membaca dalam ayat tersebut tidak hanya berarti membaca tulisan, tetapi juga memahami realitas kehidupan. Dengan demikian, berpikir menjadi bagian penting dalam proses belajar. Melalui berpikir, seseorang dapat memahami tujuan dari perbuatannya dan menentukan arah kehidupannya secara lebih jelas.
Oleh karena itu, Imam berpesan, membiasakan anak-anak untuk berpikir sejak dini merupakan bagian penting dari pendidikan. Lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat dapat berperan membantu anak memahami alasan dari setiap aktivitas yang mereka lakukan.
“Dengan kesadaran tersebut, anak-anak dapat belajar menjalani kehidupan dengan tujuan yang lebih terarah,” tandasnya.