Beranda blog Halaman 19

Nanang Noerpatria Tegaskan Fondasi Peradaban di Tengah Disrupsi Digital dan Kemajuan Teknologi

0

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Nanang Noerpatria, M.Pd, mengajak umat Islam untuk meninjau ulang standar kemajuan sebuah peradaban yang selama ini kerap disalahpahami, khususnya di tengah pesatnya perkembangan teknologi modern seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan robotika.

Ajakan tersebut disampaikan Nanang dalam kegiatan Tausiyah Subuh di Masjid Ar-Riyadh, Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari, Papua Barat, Selasa, 22 Syaban 1447 (10/2/2026).

Nanang Noerpatria mengemukakan bahwa wacana tentang kemajuan peradaban sering kali direduksi menjadi ukuran-ukuran material dan teknologis. Ia menilai bahwa kemajuan teknologi yang hari ini berkembang sangat cepat mulai dari AI yang mampu mengambil keputusan kompleks hingga robotika yang menggantikan banyak peran manusia, perlu disikapi dengan kerangka nilai yang lebih mendasar agar tidak menimbulkan kekeliruan dalam memahami makna peradaban.

Ia mengulas pandangan akademis yang selama ini menempatkan puncak kejayaan Islam pada masa Dinasti Abbasiyah, terutama karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa tersebut. Menurutnya, narasi tersebut memang memiliki dasar historis, namun perlu dikaji secara lebih kritis agar tidak melahirkan pemahaman sempit tentang peradaban.

Dr. Nanang menyampaikan bahwa apabila kemajuan peradaban hanya diukur dari penguasaan teknologi, maka ukuran tersebut akan mengalami pergeseran makna di era modern. Saat ini, kata dia, penguasaan teknologi tertinggi justru berada di tangan negara-negara yang tidak berlandaskan nilai-nilai Islam bahkan cenderung tidak berperikemanusiaan.

“Saat ini teknologi tertinggi dipegang oleh negara-negara seperti Israel. Begitu juga dengan China yang mampu menciptakan ‘matahari buatan’. Jika iptek adalah satu-satunya tolok ukur, apakah lantas mereka disebut pemilik peradaban tertinggi,” kata Nanang.

Pertanyaan itu diutarakan Nanang untuk menunjukkan bahwa kemajuan teknologi termasuk kecerdasan buatan, otomasi, dan sistem robotik, tidak serta-merta mencerminkan tingginya kualitas peradaban. Nanang menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat, sementara peradaban ditentukan oleh nilai yang membimbing penggunaan alat tersebut.

“Tanpa fondasi nilai, teknologi justru berpotensi melahirkan krisis kemanusiaan, ketimpangan sosial, dan kerusakan moral,” tegas Nanang.

Dalam konteks itu, ia menegaskan bahwa peradaban terbesar dalam sejarah manusia justru lahir pada masa Rasulullah SAW. Menurutnya, meskipun pada masa tersebut tidak terdapat kemajuan teknologi sebagaimana hari ini, peradaban yang dibangun mampu melahirkan manusia-manusia unggul dengan kualitas kepemimpinan dan akhlak yang tinggi.

Ia menjelaskan bahwa peradaban pada masa Rasulullah SAW memiliki beberapa karakter utama. Pertama, lahirnya pemimpin-pemimpin dengan visi yang jelas dan semangat perjuangan yang kuat untuk memakmurkan bumi. Kedua, seluruh capaian berpijak pada landasan iman dan tauhid yang kokoh, bukan pada kecanggihan alat atau sistem.

Karakter utama Ketiga, lanjut Nanang, adalah kualitas manusia menjadi pusat peradaban, di mana iman membentuk individu yang mampu mengelola kehidupan secara adil, bermakna, dan sesuai dengan syariat.

Nanang juga menekankan kembali tujuan penciptaan manusia sebagaimana diajarkan dalam Islam, yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT. Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif ini, seluruh aktivitas kehidupan—baik yang bersifat spiritual maupun sosial—dapat bernilai ibadah apabila diniatkan karena Allah dan dijalankan sesuai tuntunan-Nya.

Ia kemudian menguraikan dua kategori ibadah. Pertama adalah ibadah mahdhah, yaitu ibadah ritual yang ketentuannya telah ditetapkan secara baku, seperti shalat dan puasa. Kedua adalah ibadah ghairu mahdhah, yaitu aktivitas duniawi dan sosial yang bernilai ibadah apabila diniatkan karena Allah dan dilakukan sesuai syariat.

“Jadi, di waktu yang sama, Islam tidak menegasikan realitas kebutuhan zaman. Dalam konteks kemajuan teknologi, penguasaan AI, sains, dan teknologi pun dapat bernilai ibadah apabila diarahkan untuk kemaslahatan umat,” terangnya menegaskan.

Menyapa para santri pada kesempatan tersebut, Nanang Noerpatria berharap para santri di Papua Barat dan generasi muda Islam pada umumnya tidak terjebak pada glorifikasi teknologi semata.

Ia menekankan bahwa kecerdasan intelektual harus berjalan seiring dengan penguatan iman dan akhlak, karena hanya dengan fondasi tersebut teknologi dapat diarahkan untuk membangun peradaban Islam yang bermartabat di tengah arus disrupsi digital global.

Gaung dari Papua Selatan, Kolaborasi Membangun Peradaban Berlandaskan Nilai Keislaman dan Keindonesiaan

0

PAPUA SELATAN (HIdayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Muzakkir Usman, M.Ed., menegaskan bahwa visi Hidayatullah adalah mewujudkan Indonesia yang berperadaban melalui kerja-kerja kolaboratif yang berlandaskan nilai keislaman dan keindonesiaan.

Penegasan tersebut disampaikan beliau saat mendampingi pelaksanaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) ke-2 Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Papua Selatan pasca-pemekaran Daerah Otonom Baru.

Rakerwil tersebut berlangsung selama dua hari, Selasa–Rabu, 10–11 Februari 2026, bertempat di Aula Masjid Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Merauke, Provinsi Papua Selatan. Forum ini menjadi agenda strategis pertama bagi DPW Hidayatullah Papua Selatan setelah terbentuk sebagai wilayah baru, sekaligus menjadi ruang konsolidasi organisasi dalam merumuskan arah kerja satu tahun ke depan.

Muzakkir Usman menyampaikan pandangan terkait posisi Hidayatullah di tengah realitas kebangsaan yang majemuk. Ia menegaskan bahwa kehadiran Hidayatullah bukanlah fenomena yang berdiri sendiri, melainkan kelanjutan dari perjuangan para pendiri. Menurutnya, organisasi keumatan memiliki tanggung jawab moral untuk melanjutkan cita-cita kebangsaan dalam bingkai yang konstruktif dan inklusif.

Ia menyampaikan bahwa Hidayatullah harus hadir dengan semangat wasathiyah dan membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan berbagai elemen umat. “Hidayatullah tidak hadir di ruang kosong. Kita melanjutkan estafet perjuangan para founding fathers bangsa,” ujar Muzakkir Usman dalam arahannya kepada peserta Rakerwil.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sinergi lintas elemen dalam menghadapi tantangan masa depan bangsa. Menurutnya, fokus kerja organisasi ke depan adalah membangun kolaborasi strategis untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. “Fokus kita adalah kolaborasi dalam rangka menyongsong Indonesia Emas 2045, atau dalam visi Hidayatullah yaitu mewujudkan Indonesia yang berperadaban,” katanya.

Dr. Muzakkir Usman juga menyampaikan bahwa Rakerwil ke-2 DPW Hidayatullah Papua Selatan diharapkan menjadi forum konsolidasi yang solid dan produktif. Ia menilai forum ini penting untuk merumuskan program-program kerja yang inovatif, kontekstual, dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat Papua Selatan, baik di bidang pendidikan, dakwah, maupun sosial kemasyarakatan.

Berperan dalam Pembangunan Daerah

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Papua Selatan, Zainal Abidin, S.Pd., dalam laporannya menegaskan komitmen organisasi untuk berperan aktif dalam pembangunan daerah. Ia menyampaikan bahwa kehadiran Hidayatullah di Papua Selatan tidak semata-mata bersifat kelembagaan, tetapi diarahkan untuk memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan daerah dan masyarakat.

“Kehadiran Hidayatullah di Papua Selatan adalah untuk mengambil peran aktif dalam membangun negeri dan memajukan agama,” ujar Zainal Abidin. Ia juga mengingatkan seluruh kader agar mampu menjadi teladan dan penyejuk di tengah masyarakat yang majemuk.

“Saya berpesan kepada seluruh kader, jadilah pelita di tengah masyarakat. Tidak peduli muslim atau non-muslim, kita harus menjadi penyejuk bagi semua,” katanya.

Dalam arahannya, Ustadz Zainal juga menekankan pentingnya membangun sinergi dengan berbagai pihak. “Bangun sinergi dengan aparat, tokoh agama, dan masyarakat melalui akhlakul karimah. Semua harus dirangkul untuk kemaslahatan bersama,” tegasnya di hadapan peserta Rakerwil.

Rakerwil ke-2 DPW Hidayatullah Papua Selatan ini turut dihadiri oleh berbagai unsur lintas organisasi dan instansi, mencerminkan semangat ukhuwah dan kebersamaan. Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan tokoh agama dari Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, LDII, dan Wahdah Islamiyah.

Selain itu, turut hadir Ibu Minarni, S.Ag., M.H., selaku Kepala Seksi Bimas Islam Kementerian Agama Merauke, Ustadz Sirajudin, M.Pd., Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Papua Selatan yang mewakili Ketua MUI, serta perwakilan dari Polres Merauke dan Kodim setempat.

Kegiatan ini juga dihadiri perwakilan Forum Kerukunan Umat Beragama, ibu-ibu Majelis Taklim se-Merauke, serta mitra perbankan dari Bank Syariah Indonesia. Kehadiran berbagai elemen tersebut dinilai memperkuat posisi Rakerwil sebagai forum konsolidasi yang terbuka dan berorientasi pada kemaslahatan bersama dalam membangun Papua Selatan dan Indonesia secara berkelanjutan.

LSH Hidayatullah Gelar Pelatihan Juru Sembelih Halal 14–15 Februari 2026, Daftar di Sini!

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah akan menyelenggarakan Pelatihan Juru Sembelih Halal (Juleha) selama dua hari, yakni pada Sabtu dan Ahad, 26-27 Sya’ban 1447 (14–15/2/2026). Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid, dengan sesi luring pada Sabtu, 14 Februari 2026, bertempat di Aula DPP Hidayatullah Jakarta, Jalan Cipinang Cempedak I Nomor 14, Polonia, Jakarta Timur, mulai pukul 08.00 WIB. Sementara itu, sesi Ahad, 15 Februari 2026, dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti peserta dari berbagai daerah.

Pelatihan ini diselenggarakan sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Nomor 147 Tahun 2022 tentang Penyembelihan Hewan Halal. Program ini dihadirkan sebagai upaya untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang penyembelihan halal, sekaligus menjawab tantangan jaminan halal yang semakin kompleks di tengah perkembangan industri pangan dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kehalalan produk.

Hari pertama pelatihan difokuskan pada sesi tatap muka yang mencakup pemaparan materi dasar dan praktik penyembelihan hewan halal. Peserta mendapatkan pembekalan mengenai prinsip syariat Islam dalam penyembelihan, tata cara penggunaan alat secara benar, serta pemahaman tentang kebersihan, keamanan pangan, dan kesejahteraan hewan. Seluruh materi disampaikan dengan mengacu pada ketentuan SKKNI dan regulasi halal yang berlaku di Indonesia.

Pada hari kedua, Ahad, 15 Februari 2026, pelatihan dilanjutkan secara daring melalui Zoom Meeting mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Sesi ini menitikberatkan pada penguatan pemahaman konseptual, diskusi interaktif, serta pendalaman regulasi dan standar penyembelihan halal.

Peserta juga memperoleh fasilitas e-modul pelatihan, dan e-sertifikat resmi sesuai SKKNI. Selain itu, disediakan opsi untuk mengikuti uji kompetensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) bagi peserta yang ingin memperoleh pengakuan kompetensi secara nasional.

Panitia pelaksana menyampaikan bahwa pelatihan ini terbuka bagi masyarakat luas, khususnya mereka yang memiliki kepedulian terhadap isu halal dan kesiapan untuk menjalani proses pembelajaran secara berkelanjutan. Melalui skema hybrid, kegiatan ini memungkinkan partisipasi yang lebih luas tanpa mengurangi kualitas materi dan interaksi pembelajaran.

Muhammad Syarif, selaku panitia kegiatan, menjelaskan bahwa pelatihan Juleha ini merupakan bagian dari gerakan percerdasan masyarakat tentang pentingnya jaminan halal sejak dari hulu.

“Jaminan halal tidak hanya ditentukan di tahap akhir produk. Proses penyembelihan adalah fondasi utama. Melalui pelatihan ini, kami ingin memastikan para juru sembelih memahami tanggung jawabnya secara syariat dan sesuai standar nasional, sehingga kehalalan benar-benar terjaga sejak awal,” katanya.

Menurutnya, tantangan jaminan halal masa kini menuntut adanya sumber daya manusia yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki kesadaran nilai dan tanggung jawab etik. Oleh karena itu, pendekatan edukatif melalui pelatihan terstandar menjadi kunci dalam membangun sistem halal yang kuat dan terpercaya.

Syarif menambahkan, pelatihan ini juga merupakan bagian dari komitmen LSH Hidayatullah dalam memperkuat ekosistem halal nasional melalui jalur pendidikan dan pelatihan. Dengan mengombinasikan metode luring dan daring, kegiatan ini diharapkan dia mampu menjangkau peserta lintas wilayah sekaligus menyesuaikan dengan kebutuhan zaman.

Dengan mengikuti pelatihan ini, terangnya, peserta diharapkan mampu berperan aktif dalam menjaga kehalalan pangan, meningkatkan kepercayaan publik terhadap proses penyembelihan, serta turut membangun sistem jaminan halal yang kuat dan berkelanjutan di Indonesia.

“Diharapkan, pelatihan ini melahirkan juru sembelih halal yang kompeten, berintegritas, dan siap berperan aktif dalam menjaga kehalalan pangan serta meningkatkan kepercayaan publik terhadap sistem jaminan halal di Indonesia,” pungkasnya.

Pelatihan Juleha ini terbuka untuk masyarakat umum yang memiliki kepedulian terhadap isu halal, siap belajar, dan bersedia berkomitmen mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Untuk sesi luring di Jakarta, biaya pelatihan ditetapkan sebesar Rp 1.500.000 per peserta.

Bagi peserta yang ingin mengikuti uji kompetensi BNSP, disediakan opsi tambahan dengan biaya Rp 1.500.000. Sementara itu, untuk sesi daring melalui Zoom Meeting, biaya pelatihan sebesar Rp 1.000.000.

Panitia mengajak masyarakat yang berminat untuk segera mendaftarkan diri dan memperoleh informasi lebih lanjut dengan menghubungi nomor 0813-1001-1598. Pendaftaran juga dapat dilakukan secara daring melalui laman resmi LSH Hidayatullah.

Di Balik Fenomena Kemiskinan Ekstrem, Hidayatullah Desak Kehadiran Negara bagi Warga Rentan

0

JAKARTA (HIdayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas tragedi kemanusiaan yang menimpa Najwa, seorang anak berusia 8 tahun di Kendari, Sulawesi Tenggara. Korban dilaporkan meninggal dunia akibat tertabrak alat berat jenis loader saat sedang berjualan tisu demi membantu ekonomi keluarganya.

Peristiwa memilukan yang terjadi pada Jum’at pekan lalu (6/2/2026) ini bukan sekadar kecelakaan lalu lintas semata, melainkan sebuah alarm keras bagi kondisi sosial-ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput.

Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Muhammad Isnaeni, menegaskan bahwa kejadian ini harus dilihat melalui kacamata sosiologis yang lebih luas, bukan sekadar kasuistik. Berdasarkan data faktual yang terhimpun di lapangan, diketahui bahwa motivasi utama korban turun ke jalan adalah ketiadaan bahan pangan pokok di rumahnya.

“Tragedi ini adalah tamparan keras bagi kita semua. Kami menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga Ibu Nurhana. Namun, air mata saja tidak cukup. Kematian Najwa yang sedang berjuang demi sesuap nasi adalah indikator nyata bahwa jaring pengaman sosial kita masih memiliki celah yang sangat besar,” ujar Isnaeni.

Fakta empiris dari kronologi kejadian menunjukkan adanya korelasi langsung antara kemiskinan ekstrem dengan risiko keselamatan anak. Sebagaimana dikonfirmasi oleh pihak keluarga, korban terpaksa keluar rumah di malam hari meski sempat dilarang ibunya karena hujan karena desakan kebutuhan dasar. Korban berjanji akan pulang membawa beras karena di rumah sudah tidak ada nasi untuk dimakan. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat kerentanan ekonomi keluarga berada pada titik nadir, di mana pemenuhan kebutuhan kalori harian pun menjadi tantangan yang mempertaruhkan nyawa.

Isnaeni menilai bahwa kasus ini berpotensi besar merupakan fenomena gunung es. Apa yang tampak di permukaan adalah satu kasus kematian tragis, namun di bawahnya tersimpan realitas ribuan keluarga lain yang mungkin sedang bertarung melawan kelaparan dalam sunyi.

“Ketidakmampuan warga negara untuk mengakses kebutuhan pangan dasar merupakan bentuk kegagalan kehadiran negara dalam menjamin hak konstitusional warganya, khususnya fakir miskin dan anak-anak telantar,” kata Isnaeni dalam keterangannya kepada media ini, Senin, 21 Syaban 1447 (9/2/2026).

Dia memandang, negara harus hadir secara nyata dalam mengentaskan masalah kemiskinan ekstrem yang masih terjadi di daerah seperti Kendari ini. Tidak boleh ada lagi anak-anak yang harus meregang nyawa di jalanan hanya karena ingin memastikan ada beras di dapur rumahnya.

Lebih lanjut, Isnaeni menyoroti aspek perlindungan anak yang terabaikan akibat himpitan ekonomi. Narasi bahwa korban sempat bertanya mengenai penampilannya dan berjanji membawa uang banyak sebelum kejadian, menunjukkan beban psikologis orang dewasa yang harus ditanggung oleh anak di bawah umur.

Dia menegaskan, kasus ini, yang kini telah ditangani oleh Satlantas Polresta Kendari dengan mengamankan operator alat berat, harus menjadi momentum evaluasi kebijakan pengentasan kemiskinan yang lebih substansial dan tepat sasaran.

Pihaknya pun mendesak pemerintah untuk tidak sekadar memberikan santunan pasca-kejadian, melainkan melakukan pemetaan ulang terhadap kantong-kantong kemiskinan ekstrem. Dia menyarankan, intervensi negara harus bersifat preventif dan sistemik, memastikan bahwa tidak ada lagi warga negara yang terpaksa menempatkan anak-anak mereka dalam situasi berbahaya demi keberlangsungan hidup biologis.

Isnaeni menambahkan, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka statistik pertumbuhan ekonomi, masih terdapat realitas pahit di mana nyawa seorang anak menjadi taruhan untuk sekilogram beras.

“Kami mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersinergi mengentaskan masalah ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk menegakkan keadilan dan menghadirkan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia sebagai amanat utama Undang-Undang Dasar 1945,” tandasnya.

Sekjen DPP Hidayatullah Tinjau Pengembangan Peternakan Ayam di Manokwari Selatan

0

MANSEL (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Nanang Noerpatria, M.Pd, meninjau secara langsung program peternakan ayam yang tengah dikembangkan oleh Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Kabupaten Manokwari Selatan.

Peninjauan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya memastikan pelaksanaan program ekonomi organisasi berjalan sesuai dengan arah kebijakan dan tujuan pemberdayaan yang telah ditetapkan.

Kunjungan kerja tersebut dilaksanakan pada Senin, 21 Syaban 1447 (9/2/2026), di sela agenda Sekretaris Jenderal mendampingi Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Papua Barat.

Dalam kesempatan tersebut, Nanang Nurpatria menyempatkan diri berkunjung ke lokasi pengembangan peternakan ayam yang dikelola oleh pengurus DPD Hidayatullah Manokwari Selatan sebagai salah satu unit usaha berbasis ekonomi produktif.

Fokus utama kunjungan ini adalah melihat secara langsung progres dan kondisi lapangan program peternakan ayam yang menjadi bagian dari pilar ekonomi Hidayatullah. Program tersebut dalam rangka mendukung kemandirian operasional dakwah sekaligus mendorong pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah pengembangan. Peternakan ayam dipilih sebagai unit usaha yang dinilai relevan dengan potensi lahan dan kebutuhan pangan lokal di Papua Barat.

Dalam suasana dialog yang berlangsung, Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah berdiskusi langsung dengan pengelola peternakan, Ustadz Maghfuri, S.Pd. Dialog tersebut dilakukan di area kandang kayu yang berisi bibit-bibit ayam unggul yang sedang dikembangkan. Diskusi mencakup kondisi teknis peternakan, pola pengelolaan, serta rencana pengembangan ke depan.

Pada kesempatan tersebut, Nanang Nurpatria menekankan beberapa hal penting terkait keberlanjutan program. Menurutnya, unit usaha peternakan harus dirancang dengan perencanaan jangka panjang agar mampu bertahan dan berkembang secara konsisten. Ia juga menekankan bahwa kemandirian menjadi aspek utama yang harus diwujudkan melalui program ekonomi organisasi.

Selain itu, Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah menyoroti pentingnya menjadikan peternakan ayam sebagai model percontohan bagi masyarakat sekitar dalam mengelola ketahanan pangan secara mandiri. Ia menyampaikan bahwa keberadaan unit usaha ini diharapkan tidak hanya memberi manfaat internal organisasi, tetapi juga menjadi referensi praktis bagi warga dalam mengembangkan usaha produktif berbasis potensi lokal.

Dalam konteks penguatan sumber daya manusia, Dr. Nanang Nurpatria juga menekankan perlunya melibatkan kader-kader muda dalam pengelolaan teknis peternakan. Menurutnya, keterlibatan kader muda akan menjadi sarana pembelajaran langsung untuk mengasah jiwa kewirausahaan dan tanggung jawab dalam mengelola usaha ekonomi produktif.

“Program peternakan ini juga bagian dari dakwah bil hal, dakwah dengan perbuatan, untuk menunjukkan bahwa kemandirian adalah kunci tegaknya kemuliaan umat,” ujar Nanang Nurpatria di sela-sela peninjauan lokasi peternakan.

Ia juga menambahkan bahwa program ekonomi yang dijalankan oleh Hidayatullah harus mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung. Menurutnya, keberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari aspek lisan dan tulisan, tetapi juga dari kontribusi nyata dalam memperkuat kemandirian umat.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Hidayatullah Papua Barat, Muhammad Rusdan, M.Pd, yang turut membersamai kunjungan ini, mengatakan kehadiran pimpinan pusat di lokasi peternakan tersebut diharapkan dapat menjadi dorongan semangat bagi jajaran pengurus DPD Hidayatullah Manokwari Selatan untuk terus berinovasi.

“Dengan potensi lahan yang tersedia serta budaya gotong royong yang masih kuat di tengah masyarakat, program peternakan ayam ini diproyeksikan mampu memenuhi sebagian kebutuhan pasar lokal di wilayah Papua Barat,” kata Rusdan.

Rangkaian kunjungan kerja tersebut ditutup dengan sesi diskusi mengenai berbagai kendala teknis yang dihadapi di lapangan. Dalam diskusi tersebut, dibahas pula langkah-langkah strategis untuk pengembangan infrastruktur peternakan agar lebih modern, efisien, dan produktif, sehingga program dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi organisasi dan masyarakat sekitar.

Ketua Umum DPP Hidayatullah Tekankan Kesabaran sebagai Fondasi Karakter Da’i

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc, menegaskan bahwa kesabaran dan keteguhan dalam menjalani proses merupakan bagian penting dari pembentukan karakter seorang da’i. Menurutnya, tidak semua orang mampu bertahan dalam proses panjang pendidikan dan pembinaan, namun mereka yang istiqamah akan tumbuh menjadi pribadi yang kokoh dan siap menghadapi medan dakwah yang sesungguhnya.

KH Naspi Arsyad menyampaikan apresiasi kepada seluruh santri yang tetap bertahan dan bersabar menghadapi berbagai dinamika kehidupan di pondok. Ia menyebut bahwa proses pendidikan dan pembinaan tidak selalu mudah, namun justru di situlah karakter ditempa.

“Kesabaran dan keteguhan dalam menjalani proses adalah bagian dari pembentukan karakter,” katanya, seraya menekankan bahwa ketahanan dalam proses merupakan bekal utama dalam perjuangan dakwah.

Pesan pesan itu tersebut disampaikan KH Naspi Arsyad saat menjadi pembicara dalam kegiatan Kuliah Umum yang dirangkai dengan Tarhib Ramadhan Sekolah Da’i Hidayatullah di Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Ahad, 20 Sya’ban 1447 (8/2/2026). Kegiatan ini diikuti oleh para santri Sekolah Da’i sebagai bagian dari persiapan menyambut bulan suci Ramadhan.

Pada kesempatan tersebut, KH Naspi Arsyad juga mengingatkan bahwa Ramadhan bukan sekadar momentum ibadah rutin tahunan, melainkan bulan tarbiyah dan dakwah. Ramadhan, menurutnya, adalah masa pembinaan diri yang menyeluruh sekaligus penguatan orientasi perjuangan seorang da’i. Ia menekankan bahwa setiap muslim termasuk para santri kuliah dai perlu memaknai Ramadhan sebagai ruang pembentukan mental, ruhiyah, dan kedisiplinan.

Dalam arahannya, ia mengingatkan agar para santri tidak terpesona oleh gemerlap dunia yang kerap melalaikan manusia dari tujuan hidup. Ia menegaskan pentingnya keyakinan kepada ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, disertai dengan ikhtiar yang maksimal. Usaha terbaik harus dilakukan, sementara hasilnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah.

KH Naspi Arsyad menekankan bahwa Ramadhan perlu dijalani dengan kesungguhan dan totalitas. Setiap momen di dalamnya adalah kesempatan berharga yang tidak selalu dapat terulang. Ia mengingatkan bahwa Ramadhan merupakan bulan penggemblengan diri menuju ketakwaan, sehingga harus diisi dengan ibadah, amal saleh, dan peningkatan kualitas pribadi.

Kedekatan dengan Al-Qur’an menjadi salah satu penekanan utama dalam kuliah umum tersebut. Menurutnya, seorang da’i harus menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, bukan hanya dibaca dan dilantunkan, tetapi juga dipahami dan ditadabburi. Dakwah yang kuat, katanya, lahir dari hati yang dekat dengan wahyu.

Ia juga mengingatkan agar Ramadhan tidak dijadikan alasan untuk menurunkan produktivitas, terutama karena aktivitas ibadah malam. Justru, menurutnya, Ramadhan seharusnya melahirkan pribadi yang lebih disiplin dan mampu mengatur waktu serta menjaga stamina agar tetap optimal dalam menjalankan aktivitas keseharian.

Dalam salah satu penekanan pesannya, KH Naspi Arsyad menyampaikan peringatan kepada para santri tentang tanggung jawab yang menanti mereka. “Umat sudah menunggu kalian,” ujarnya.

Ia juga mendorong agar Ramadhan dijalani dengan target yang jelas, baik dalam tilawah Al-Qur’an, hafalan, perenungan, sedekah, qiyamul lail, maupun perbaikan akhlak. Menurutnya, tanpa target yang terukur, Ramadhan akan berlalu tanpa memberikan dampak yang signifikan.

Di akhir arahannya, KH Naspi Arsyad mengingatkan pentingnya adab dalam menyambut Ramadhan dengan rasa gembira dan penuh syukur.

“Semoga Ramadhan benar-benar menjadi momentum tarbiyah yang mengantarkan kita menuju ketakwaan dan menguatkan langkah kita dalam perjuangan dakwah,” pungkasnya.

Hidayatullah Harus Berperan sebagai Lokomotif Intelektual bagi Kemajuan Bangsa

0

LAMPUNG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Muzakkir Usman, M.Ed., menegaskan bahwa sebagai organisasi yang berbasis kader, Hidayatullah dituntut mampu berperan sebagai lokomotif intelektual bagi kemajuan bangsa. Menurutnya, posisi tersebut menempatkan Hidayatullah tidak hanya sebagai pelaku dakwah dan pendidikan, tetapi juga sebagai pusat gagasan yang berkontribusi dalam pembangunan nasional.

Penegasan tersebut disampaikan Dr. Muzakkir Usman saat membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Lampung yang berlangsung pada Sabtu dan Ahad, 19-20 Sya’ban 1447 (7–8/2/2026). Kegiatan ini dilaksanakan di Kampus 1 Pesantren Hidayatullah Menggala, Kabupaten Tulang Bawang, dan menjadi forum tahunan tingkat wilayah untuk melakukan konsolidasi organisasi secara menyeluruh.

Rakerwil Hidayatullah Lampung dihadiri secara langsung oleh jajaran pengurus DPW, Dewan Murobbi Wilayah, pimpinan Dewan Pengurus Daerah, serta pengelola unit amal usaha Hidayatullah dari seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Lampung. Selain kehadiran luring tersebut, Muzakkir Usman juga mengikuti rangkaian kegiatan secara daring untuk menyampaikan arahan strategis dari tingkat pusat.

Dalam pemaparannya, Dr. Muzakkir Usman menyampaikan pandangan mengenai peran strategis Hidayatullah dalam konteks kebangsaan. Ia menyatakan bahwa organisasi kader seperti Hidayatullah harus mengambil posisi aktif dalam membangun Indonesia dengan pendekatan intelektual yang selaras dengan nilai agama dan konstitusi negara.

“Hidayatullah harus menjadi pusat pemikiran dalam membangun Indonesia dalam bingkai agama dan konstitusi,” katan Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah bidang Pendidikan ini.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kontribusi tersebut harus diwujudkan melalui solusi yang relevan dan berdampak luas. Menurutnya, upaya pembangunan tidak cukup dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan pendekatan yang terencana dan adaptif.

“Kita harus turut menghadirkan solusi pencapaian yang efektif, efisien, adaptif, kolaboratif, dan berdampak luas untuk Indonesia yang berperadaban,” tegasnya.

Arahan tersebut mendapat tanggapan dari Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Lampung, KH Nur Yahya Asa. Dalam laporan dan sambutannya, ia menekankan bahwa kekuatan organisasi tidak semata-mata terletak pada struktur kelembagaan, melainkan pada kualitas hubungan spiritual dan kebersamaan antaranggota. Ia menyampaikan bahwa arah pengelolaan organisasi ke depan bertumpu pada dua pilar utama, yakni harmonisasi dan dinamisasi.

KH Nur Yahya Asa menegaskan pentingnya membangun soliditas tim melalui penguatan spiritualitas dan kebiasaan saling mendoakan.

“Maka, Dewan Pengurus Wilayah, Daerah, dan Amal Usaha Hidayatullah harus berusaha membangun soliditas tim dengan cara meningkatkan kualitas spiritual kita dan saling mendoakan ikhwah kita,” kata Nur Yahya.

Dalam suasana yang reflektif, pria kelahiran Cilacap ini juga menekankan peran doa dalam kehidupan berjamaah. Menurutnya, kebersamaan spiritual harus mencakup seluruh anggota, termasuk mereka yang jarang berinteraksi secara langsung.

Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Muzakkir Usman, M.Ed (Foto: Made from digital artificial intelligence/ Hidayatullah.or.id)

“Kita sebut nama saudara kita dalam doa-doa kita, bahkan saudara kita yang tidak dekat dengan kita harus lebih sering lagi kita sebut dalam doa kita,” katanya. Ia menambahkan bahwa dengan harmonisasi dan dinamisasi dalam berjamaah, pelaksanaan amanah organisasi dapat berjalan dengan lebih nyaman dan terarah.

“Dengan harmonisasi dan dinamisasi dalam kehidupan berjamaah, maka kita akan nyaman dalam bekerja dan menjalankan amanah ini menuju Hidayatullah yang mandiri dan berpengaruh,” ungkapnya.

Rakerwil Hidayatullah Lampung 2026 mengusung tema “Konsolidasi Jati Diri dan Transformasi Organisasi menuju Hidayatullah Mandiri dan Berpengaruh.”

Melalui forum ini, dirumuskan sejumlah keputusan strategis, antara lain penguatan sistem pendidikan terintegrasi, digitalisasi pengelolaan amal usaha, serta peningkatan peran kader dalam pemberdayaan ekonomi umat di seluruh wilayah Lampung.

Menutup rangkaian kegiatan, seluruh peserta Rakerwil menyatakan komitmen untuk membawa hasil musyawarah dan semangat harmonisasi ke wilayah masing-masing. Komitmen tersebut diarahkan agar setiap amanah organisasi dijalankan secara profesional dengan landasan ukhuwah Islamiyah yang kuat dan berkesinambungan.

Ketua Umum DPP Hidayatullah Ajak Doakan Pemimpin Bangsa di Rakerwil Jawa Barat

KARAWANG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc, mengajak seluruh kader dan peserta Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Jawa Barat untuk senantiasa mendoakan para pemimpin bangsa agar mampu menjalankan amanah dengan baik serta memiliki keberpihakan kepada rakyat.

Ajakan tersebut disampaikan Naspi dalam sambutannya pada Rakerwil Hidayatullah Jawa Barat yang digelar di Aula Husni Hamid, Kompleks Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Jumat, 18 Syaban 1447 (6/2/2026).

“Mari kita doakan para pemimpin di negara kita ini, agar mampu menjalankan amanahnya dan mencintai rakyatnya,” ujar Naspi di hadapan peserta kegiatan.

Dalam sambutan yang sama, Naspi menyampaikan bahwa Hidayatullah saat ini telah memasuki fase lima puluh tahun kedua sejak berdirinya organisasi.

Ia menjelaskan bahwa fase tersebut dipandang sebagai periode penting dalam memperkuat peran dan kontribusi Hidayatullah bagi umat dan bangsa.

Menurutnya, perjalanan organisasi pada fase ini diarahkan pada penguatan kemandirian serta peningkatan pengaruh sosial yang konstruktif.

“Hidayatullah sekarang berada pada fase lima puluh tahun kedua. Ini adalah masa menuju Hidayatullah yang mandiri dan berpengaruh, sehingga kebermanfaatannya semakin dirasakan oleh umat dan bangsa,” kata Naspi.

Rakerwil ini tidak hanya memuat agenda rapat kerja internal, tetapi juga dirangkai dengan kegiatan pendukung yang bersifat tematik. Salah satu rangkaian kegiatan tersebut adalah Seminar Halal dengan tema “Peran LPH Hidayatullah dalam Meningkatkan Ekosistem Halal di Jawa Barat.”

Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai institusi yang memiliki keterkaitan dengan pengembangan ekosistem halal di daerah.

Para narasumber yang hadir dalam seminar tersebut antara lain Cecep Ridwan selaku Deputi Direktur Bank Indonesia Kantor Perwakilan Wilayah Jawa Barat, Alnopri Hadi sebagai Asisten Direktur Bank Indonesia Kantor Perwakilan Wilayah Jawa Barat, serta Ketua Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah, Muhammad Faisal, S.H., M.H. Kehadiran para pemateri tersebut memberikan paparan mengenai peran lembaga pemeriksa halal serta dukungan sektor keuangan dalam penguatan ekosistem halal.

Dalam rangkaian acara yang sama, dilakukan pula peluncuran tiga Halal Center di wilayah Jawa Barat. Ketiga pusat layanan tersebut adalah Halal Center Priangan Bandung, Halal Center Ummul Quro Karawang, dan Halal Center Manarussalam Cirebon. Peluncuran ini menjadi bagian dari upaya memperluas layanan pemeriksaan dan pendampingan halal yang terintegrasi di tingkat regional.

Kegiatan Rakerwil Hidayatullah Jawa Barat turut dihadiri oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Karawang, Dr. KH. Tajuddin Nur, Drs., M.Pd.I, serta perwakilan dari BPJS dan Kejaksaan Negeri Karawang. Selain itu, hadir pula pimpinan berbagai organisasi kemasyarakatan Islam, di antaranya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Badan Wakaf Indonesia (BWI), Persatuan Islam (Persis), Dewan Dakwah, Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), Islamic Center, dan Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI).

Peserta kegiatan juga berasal dari pengurus Dewan Pengurus Wilayah dan Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah se-Jawa Barat. Unsur badan otonom dan amal usaha Hidayatullah seperti Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Mushida, Pemuda Hidayatullah, SAR Hidayatullah, dan Pos Dai turut mengikuti rangkaian kegiatan. Seluruh agenda berlangsung lancar dan tertib dengan dipandu oleh Banyu Nugraha sebagai pembawa acara.

Hidayatullah Jawa Barat Didorong Kuatkan Peran dalam Pembinaan Generasi Muda

0

KARAWANG (Hidayatullah.or.id) — Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Karawang, Drs. H. Mahpudin, M.Si, yang mewakili Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh, S.E., menegaskan harapan agar Hidayatullah semakin mengambil peran aktif dalam pembinaan umat, terutama generasi muda.

Pernyataan tersebut disampaikan Mahpudin saat membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Jawa Barat yang berlangsung di Aula Husni Hamid, Kompleks Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Jumat, 18 Syaban 1447 (6/2/2026).

“Kami berharap umat Islam memiliki karakter dan akhlak yang baik. Karena itu, diperlukan sinergi semua pihak dalam membina, terutama generasi muda,” ujar Mahpudin.

Mahpudin menyampaikan bahwa pembinaan generasi muda membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat secara berkelanjutan. Menurutnya, organisasi kemasyarakatan Islam memiliki posisi strategis dalam mendukung upaya tersebut melalui program-program yang terstruktur dan berkesinambungan.

Dalam kesempatan yang sama, ia juga menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Kabupaten Karawang sebagai tuan rumah pelaksanaan Rakerwil Hidayatullah Jawa Barat.

“Kami bangga menjadi tempat pelaksanaan Rakerwil Hidayatullah. Selamat melaksanakan Rakerwil, semoga Allah meridhainya,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Barat, Ahmad Maghfur, melaporkan bahwa Rakerwil menjadi forum konsolidasi organisasi yang dihadiri pengurus dan kader dari berbagai daerah di provinsi tersebut.

Kegiatan ini, kata Maghfur, sebagai wadah evaluasi program kerja sekaligus perumusan langkah strategis organisasi ke depan dalam berkhidmat untuk Jawa Barat.

Selain agenda rapat kerja, kegiatan Rakerwil ini juga dirangkai dengan Seminar Halal yang mengangkat tema “Peran LPH Hidayatullah dalam Meningkatkan Ekosistem Halal di Jawa Barat.” Seminar tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai institusi.

Hadir sebagai pemateri antara lain Cecep Ridwan selaku Deputi Direktur Bank Indonesia Kantor Perwakilan Wilayah Jawa Barat, Alnopri Hadi sebagai Asisten Direktur Bank Indonesia Kantor Perwakilan Wilayah Jawa Barat, serta Ketua Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah, Muhammad Faisal, S.H., M.H.

Dalam rangkaian kegiatan yang sama, dilakukan pula peluncuran tiga Halal Center di wilayah Jawa Barat. Ketiga pusat layanan tersebut masing-masing adalah Halal Center Priangan Bandung, Halal Center Ummul Quro Karawang, dan Halal Center Manarussalam Cirebon. Peluncuran ini menjadi bagian dari upaya penguatan layanan pemeriksaan halal yang terintegrasi dengan kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha di daerah.

Rakerwil Hidayatullah Jawa Barat turut dihadiri oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Karawang Dr. KH. Tajuddin Nur, Drs., M.Pd.I, perwakilan BPJS, serta perwakilan Kejaksaan Negeri Karawang.

Selain itu, hadir pula pimpinan berbagai organisasi kemasyarakatan Islam, di antaranya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Badan Wakaf Indonesia (BWI), Persatuan Islam (Persis), Dewan Dakwah, Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), Islamic Center, dan Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI).

Kegiatan ini juga diikuti oleh pengurus DPW dan DPD Hidayatullah se-Jawa Barat, unsur badan otonom, serta amal usaha Hidayatullah seperti BMH, Mushida, Pemuda Hidayatullah, SAR Hidayatullah, dan Pos Dai. Seluruh rangkaian acara berlangsung lancar dengan dipandu oleh Banyu Nugraha sebagai pembawa acara.

Seruan Sambut Bulan Suci Ramadhan dari Papua Barat dengan Kesiapan Hati dan Kebersamaan

0

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Nanang Noerpatria, M.Pd., mengajak umat Islam di menyambut Ramadhan secara utuh, dengan kesiapan hati, kedewasaan spiritual, kepedulian sosial, serta komitmen kebersamaan dalam bingkai ukhuwah dan kemanusiaan. Dia pun mengajak untuk semakin menghidupkan hari hari bulan suci ini dengan Al Qur’an.

“Al-Qur’an adalah pedoman utama kehidupan kita sebagai manusia. Mari menjadikan Ramadhan sebagai momentum untuk membangun interaksi yang lebih mendalam dengan Al-Qur’an,” katanya, dalam acara Tarhib Ramadhan di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari, Papua Barat, Ahad, 20 Sya’ban 1447 (8/2/2025).

Nanang melanjutkan, interaksi terhadap Al Qur’an tersebut tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi dilanjutkan dengan tadabbur dan upaya memahami makna serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Ia menyampaikan bahwa Ramadhan adalah waktu strategis untuk memperkuat relasi intelektual dan spiritual dengan Al-Qur’an sebagai sumber petunjuk hidup.

Tarhib Ramadhan, jelasnya, adalah sebagai proses persiapan komprehensif yang mencakup dimensi spiritual, sosial, dan intelektual, sekaligus relevan dengan konteks masyarakat Papua Barat.

Nanang menjelaskan hakikat Tarhib Ramadhan. Ia menegaskan bahwa istilah Tarhib memiliki akar makna yang berkaitan dengan kelapangan dan keluasan. Menurutnya, menyambut Ramadhan tidak cukup dipahami sebagai persiapan fisik semata, melainkan menuntut kesiapan batin yang ditandai dengan kelapangan hati dan rasa gembira. Ia menyampaikan bahwa

“Tarhib Ramadhan pada dasarnya adalah upaya melapangkan dada, membersihkan hati, dan menyiapkan jiwa agar ibadah dapat dijalani dengan ringan dan penuh kesadaran,” katanya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya membersihkan diri sebelum memasuki bulan Ramadhan, terutama dengan cara saling memaafkan. Menurutnya, beban batin akibat konflik atau dendam yang belum terselesaikan dapat menghambat kekhusyukan ibadah.

Nanang memaknai Ramadhan sebagai momentum rekonsiliasi personal dan sosial, agar setiap muslim memasuki bulan suci dengan kondisi psikologis yang lebih tenang dan utuh.

Ia juga menguraikan konsep Ramadhan sebagai madrasah transformasi. Ia menjelaskan bahwa Ramadhan merupakan sarana tarbiyah yang dirancang untuk membentuk dan mengubah karakter manusia. Perubahan tersebut diharapkan mencakup pergeseran perilaku dari kebiasaan yang kurang baik menuju sikap yang lebih bertakwa.

“Ramadhan adalah madrasah ruhani yang seharusnya melahirkan perubahan nyata dalam akhlak dan perilaku, alih alih sekadar rutinitas ibadah tahunan,” katanya.

Dalam kerangka pendidikan spiritual tersebut, Ramadhan mengajarkan disiplin melalui rangkaian ibadah yang terstruktur, seperti puasa, shalat tarawih, dan tilawah Al-Qur’an. Disiplin ini, menurutnya, berfungsi membentuk kontrol diri, konsistensi, serta kesadaran akan tanggung jawab moral sebagai seorang muslim, baik dalam ranah personal maupun sosial.

Nanang pula menyoroti pentingnya penguatan ukhuwah Islamiyah di tanah Papua, khususnya di Manokwari. Dr. Nanang menilai bahwa konteks sosial Papua Barat yang plural menuntut kehadiran umat Islam yang mampu menampilkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Ia menekankan perlunya menjaga harmoni dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.

“Dalam konteks sosial seperti di Manokwari yang majemuk, dakwah bil-hal harus menjadi jembatan interaksi yang membangun, yakni menyampaikan nilai-nilai Islam melalui keteladanan akhlak, sikap santun, dan kontribusi positif di tengah masyarakat, terutama selama bulan Ramadhan,” imbuhnya.

Aspek lain yang mendapat perhatian dalam ceramah tersebut adalah optimalisasi zakat, infaq, dan sedekah. Nanang mendorong jamaah untuk meningkatkan kepedulian sosial dan kedermawanan, terutama melalui lembaga amil zakat resmi seperti Baitul Maal Hidayatullah.

Ia menjelaskan bahwa pengelolaan ZIS yang terorganisasi dengan baik dapat memastikan dana umat benar-benar berdampak pada pemberdayaan masyarakat, termasuk penguatan kemandirian ekonomi dan dukungan pendidikan bagi santri di wilayah pelosok.[]