Beranda blog Halaman 316

Berkah Cinta dan Ukhuwah di Jalan Dakwah

0

Oleh Dwi Fii Amanillah*

CINTA dan persaudaraan adalah kebutuhan hakiki bagi semua manusia. Sebagai makhluk sosia, seorang manusia tak akan sanggup hidup sendirian. Ia harus bergabung dan bekerjasama dengan manusia lainnya bahkan harus mampu berkompromi dengan makhluk-makhluk lainnya.

Cinta dan persaudaraan dalam Islam mendapat kedudukan yang tinggi dan mulia, sebagaimana dinukil dari hadits Rasulullah:

“Siapa yang mencintai seseorang karena Allah, kemudian seseorang yang dicintainya itu berkata, “Aku juga mencintaimu karena Allah.” Maka keduanya akan masuk surga. Orang yang lebih besar cintanya akan lebih tinggi derajatnya daripada yang lainnya. Ia akan digabungkan dengan orang-orang yang mencintai karena Allah.” (H.R.Al Bazaar)

Cinta dalam pengertian dan makna yang luas, bukan sekedar rasa sayang ala ABG zaman “now”. Bukan pula rasa sayang yang kebablasan kepada lawan jenis tanpa ikatan yang syar’i dengan bumbu-bumbu rayuan palsu bernuansa keindahan fatamorgana. Hal ini yang telah banyak menjerumuskan manusia pada perbudakan dan penghambaan kepada sesama mahluk berlainan jenis, yang lebih dikenal dengan istilah “Bucin” (Budak Cinta).

Semasa kuliah dulu sekitar tahun 1997, sebagai seorang yang aktif di lembaga dakwah Majelis Pencinta Musholla (MPM) Unhas, saya pernah terlibat diskusi yang cukup alot dan panjang dengan salah seorang pengikut Syiah terkait periwayatan hadits.

Teman diskusi saya itu mempersoalkan kenapa Abu Hurairah lebih banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dibandingan kerabat dekat Nabi sepupu beliau Ali Bin Abi Thalib.

Saya pun memberi jawaban singkat, “Saya punya banyak saudara kandung dan punya juga teman dekat. Kedekatan dengan saudara kandung secara biologis dan psikologis tidak otomatis untuk kemudian bisa saling terbuka dan curhat satu dengan lainnya tanpa beban.

Apatah lagi kita ketahui bersama dari sirah Nabawiyah bagaimana persaudaraan Nabi dan para sahabatnya yang sangat lekat dan sedemikian akrabnya, sehingga sangat wajar jika ada sahabat Nabi yang selalu membersamainya dan banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW.”

Hubungan cinta dan persaudaran dalam ikatan iman jauh lebih kuat dari sekadar hubungan karena adanya pertalian darah yang dalam Islam disebut “walijah” yang artinya terpercaya dan sangat dekat atau istilah populernya “bestie”.

Kita masih ingat peristiwa heroik yang terjadi pada saat hijrahnya Nabi dari Makkah ke Madinah. Kisah bagaimana sahabat Ali Bin Abi Thalib karena rasa cintanya kepada Nabi yang dilandasi keimanan yang kuat beliau berani dan rela menggantikakan posisi nabi yang saat itu sudah dikepung dan akan dibunuh oleh gerombolan kafir Qurais.

Juga kisah Abu Bakar As Shiddiq yang rela menahan sakitnya gigitan ular saat memangku Nabi di saat mereka berdua bersembunyii di gua Tsur untuk melepaskan diri dari kejaran musuh-musuh Allah yang akan membunuh Nabi,

Begitu juga dengan kisah Abdurrahman bin Auf yang dengan halus menolak budi baik sahabat dari kaum Anshar yang menawarkan dan menghadiahkan rumah, harta dan istri secara cuma- cuma. Itulah gambaran cinta yang sebenarnya, persaudaraan yang hakiki dan sulit ada bandingannys.

Mencari teman di kala senang semudah membalik telapak tangan tapi mencari teman dan saudara seperjuangan di saat susah sama sulitnya mendulang emas di gurun sahara.

Dalam perjalanan dakwah mencari kawan seiring sejalan melewati suka dan dukanya perjuangan bukanlah perkara yang mudah.

Hidayatullah sebagai wadah perjuangan yang komitmen mencetak dai dan ulama yang mujahid secara konsisten terus menyebarkan dakwah hingga ke pelosok desa yang terpencil, menembus medan yang sulit berdakwah tanpa kenal lelah tak terlalu peduli memikirkan upah.

Merekrut orang yang mau hidup prihatin sebagai mujahid dakwah pengawal tegaknya peradaban tidaklah sama dengan merekrut pegawai di unit usaha sekolah maupun perusahaan yang menjanjikan gaji dan bonus yang cukup besar maka menjadi hal yang wajar jiga jika hanya sedikit orang saja siap bergabumg dalam barisan perjuangan menegakkan Agana Allah di atas permukaan bumi ini.

Jalan dakwah yang berliku,mendaki serta terjal, kalau bukan karena adaya cinta yang dalam dan persaudaraan yang erat antar sesama pejuang dakwah maka akan banyak yang gugur di tengah jalan, menjadi “futur” alias mundur teratur meninggalkan barisan perjuangan.

Di sinilah pentingnya saling memberi nasehat, saling memotivasi, saling berlomba untuk membantu dan memberi sebagai manifestasi dari kecintaan dan ukhuwah sesama muslim.

Ibaratnya seperti satu tubuh, tak terpisah satu dengan lainnya
Di Kampus pesantren Hidayatullah Kendari Sulawesi Tenggara pernah terjadi kasus pencurian kendaraan roda dua pada saat warga dan para santri menunaikan sholat subuh hingga yang diamanahi kendaraan tersebut pucat dan panik ditambah lagi ada di antara warga ada yang menimpakan kesalahan penuh kepadanya.

Hingga datanglah pembina pesantren menenangkan situasi , beliau berujar “Motor yang hilang inshaa Allah bisa diganti, tapi kalau kader yang hilang sangat sulit mencarikan penggantinya,” akhirnya suasana kembali tenang dan tidak saling menyalahkan satu dengan yang lainnya.

Nasihat adalah simbol cinta maka sudah selayaknya orang yang mencintai memberi nasehat yang menyejukan dan penuh hikmah dan orang yang dinasihati selayaknya menerima dengan cinta.

“Dien (Agama) adalah nasehat sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut: “Dari Tamim ad-Dari, Rasulullah SAW bersabda, “Agama adalah nasihat.” Para sahabat bertanya “Untuk siapa wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan untuk para pemimpin kaum muslimin dan kalangan umum.” (H.R Muslim).

Menasehati karena dorongan cinta kepada saudara seiman, memberi kelapangan hati ketika ada saudara yang khilaf atau sementara dirundung masalah serta bersabar ketika ada perbedaan pendapat dan pandangan sesama saudara seiman adalah akhlak mulia sekaligus ujian seberapa besar kadar kecintaan kita pada saudara-saudara kita.

Bukti cinta dan ukhuwah juga diwujudkan dengan sikap “itsar ” mendahulukan kepentingan saudara kita daripada kepentingan pribadi. Salah satu ciri khas pondok pesantren Hidayatullah adalah memuliakan (ikram) kepada para tamu baik yang sekedar singgah maupun yang menginap.

Di beberapa pondok pesantren Hidayatullah bahkan menyiapkan hidangan makanan khusus, kopi, snack serta buah yang sudah tertata rapi di kamar atau ruang tamu, bahkan perlengkapan mandi pun sudah tersedia lengkap.

Hingga suatu ketika berkunjung ke pesantren Hidayatulllah di Kolaka Sulawesi Tenggara saya berseloroh “Kayaknya sisa celana dalam saja yang belum dibelikan oleh tuan rumah”.

Dalam safar itsar pun diwujudkan dengan cara berlomba-lomba membayar harga hidangan yang telah disantap bersama ketika singgah di warung atau rumah makan tidak sebagaimana umum terjadi, masing-masing memegang dompetnya menunggu siapa yang duluan beranjak dari tempat duduknya untuk membayar.

Ustadz Hasyim H.S salah satu pendiri Hidayatullah mengungkapkan “Kesederhanaan dan keterbatasan ilmu para kader-kader Hidayatullah membuat mereka rendah hati, santun dan tidak arogan atau merasa paling hebat sehingga dakwahnya bisa diterima di semua lapisan masyarakat. ”

Cinta yang benar dan ukhuwah yang senantiasa dijaga dan dipupuk selalu membawa keberkahan.

Justu kejadian nyata dialami oleh sepasang suami istri perintis kampus pesantren di Bulukumba menjelang larut malam di kampus terpencil yang jauh dari keramaian dengan akses jalan tanah yang lumayan jauh dari jalan raya, istri salah seorang pembina pesantren yang hamil anak pertamanya tengah ngidam berat ingin makan daging.

Mungkin efek karena selama bertugas merintis sangat jarang menikmati lezatnya daging. Sang suami pun kebingungan dan menanggapi keinginan istrinya yang menurutnya tak masuk akal dengan nada suara agak keras, “Mana ada orang yang menjual daging malam-malam begini ?” Si istri pun bertambah sedih dan mencucurkan air matanya.

Sang suami pun merasa bersalah dan menatap istrinya dengan mata berkaca-kaca. Tak berapa lama kemudian datang kawan seperjuanganya mengetuk pintu dan mengajaknya keluar malam karena ada undangan makan di kampung sebelah.

Tiba di tempat undangan Sang suami kaget karena di depannya telah terhidang begitu banyak masakan daging dengan aroma yang begitu lezat. Dalam hati ia berujar, “Alhamdulillah terpenuhi hajat istriku”, terlihat rona kebahagiaan di wajahnya.

Ia begitu menikmati berkahnya cinta dan ukuwah dari saudara saudara seperjuangannya yang selalu menguatkan hatinya. Saling mencintai karena Allah dan persaudaraan yang begitu mesra yang terperaga di kampus-kampus pesantren.

Ponpes yang didikasikan menjadi miniatur peradaban akan menjadi magnet power yang menarik masyarakat untuk bergabung menikmati indahnya simphonni kehidupan dari sebuah tatanan masyarakat yang terjaga oleh syari’ah dan telah tercerahkan oleh wahyu Allah SWT.

Istilah Allahuyarham ustadz Abdullah Said, ” Kalau ada orang kafir yang masuk ke dalam kawasan pesantren Insha Allah keluar menjadi muslim.

Salah satu do’a yang mustajab adalah doa yang dipanjatkan oleh saudara seiman tanpa diketahui oleh orang yang didoakan. Sudah menjadi tradisi di pesantren Hidayatullah untuk mendoakan para petugas yang dikirimkan ke daerah khususnya ba’da sholat lail sehingga bisa dikatakan bekal para dai Hidayatullah ketika terjun ke medan dakwah adalah tawakal dan doa-doa dari para guru dan saudara -saudara seperjuangan.(*)

*) Penulis adalah Kadep Tarbiyah dan Kepesantrenan DPW Hidayatullah Sulsel. Artikel ini dinukil dari laman Hidayatullah Sulsel

Kehadiran Hidayatullah Kuatkan Harmoni di Kabupaten Klungkung

KLUNGKUNG (Hidayatullah.or.id) — Semarak merekat ukhuwah selaras langkah di jalan dakwah. Demikianlah prinsip yang diyakini oleh Ust. Muhammad Yusuf dalam berdakwah. Itulah pula nilai yang ia bawa ketika ditugaskan ke Kabupaten Klungkung.

“Dakwah Al Quran itu tidak melahirkan tentangan, tugas kita adalah menjaga semangat persaudaraan dan mengesampingkan masalah khilafiyah sehingga dakwah berjalan selaras,” kata Ust. Yusuf dalam obrolan dengan Hidayatullah.or.id, Selasa, 24 Jumadal Akhirah 1444 H (17/1/2023).

Kehadiran Hidayatullah di Klungkung, kata dia, menguatkan harmoni yang terbangun selama ini. Hidayatullah pun mendapat sambutan antusias dari masyarakat.

Hal itu ditandai diantaranya saat dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Rumah Quran Hidayatullah (RQH) yang terletak di Kampung Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung.

Klungkung sendiri merupakan kabupaten kecil di Bali. Pusat pemerintahan kabupaten ini berada di kota Semarapura. Menurut catatan, kabupaten ini memiliki luas wilayah 315 km² dengan mayoritas penduduknya menganut agama Hindu yaitu sebesar 95,16 persen.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 2021, penduduk beragama Islam di Klungkung sebesar 4,17 persen, Kristen 0,37 persen, Protestan 0,27 persen, dan Katolik 0,10 persen. Adapun Buddha 0,02 persen, Konghucu 0,005 persen dan Kepercayaan 0,001 persen.

Kampung Kusamba di Kabupaten Klungkung merupakan kawasan yang dihuni oleh mayoritas muslim. Kehadiran dan pembangunan RQH di desa ini disambut baik oleh masyarakat. Rumah Quran ini sebelumnya adalah kandang ayam yang diwakafkan oleh Ibu Hj. Amaniah.

Ada 100 santri belajar di Rumah Quran ini di bawah bimbingan Ust. Yusuf. Sebelum ditugaskan mengabdi di Kampung Kusamba, Yusuf mengemban amanah dakwah di Denpasar. Selain berdakwah, ada sekira 8 tahun ia menjadi pengasuh santri di Pondok Pesantren Hidayatullah di ibu kota provinsi Bali ini.

Kini ia mengabdi di Kampung Kusamba. Ia pun merasa terharu dengan penerimaan dan dukungan luar biasa yang diberikan oleh masyarakat. “Alhamdulillah luar biasa diterima dengan baik,” katanya.

Pada Februari 2022 lalu, dilakukan peresmian pembangunan Rumah Tahfidz Qur’an Hidayatullah Klungkung yang dihadiri oleh masyarakat dan tokoh seperti Kepala Seksi (Kasi) Pemerintahan Bimas Islam Kemenag Kabupaten Klungkung Drs. H. Samsul Hakim, Perbekel (Kepala Desa) Kampung Kusamba Syahrul Ramadan S.Pd.I, dan tokoh agama Kampung Kusamba KH Murtadha BZ serta tokoh lainnya.

Kasi Pemerintahan Bimas Islam Kemenag Kabupaten Klungkung Drs. H. Samsul Hakim menyampaikan rasa bangga selaku umat Islam khususnya Kementerian Agama Kabupaten Klungkung atas rencana pendirian Rumah Tahfidz Qur’an Hidayatullah ini.

Dia berharap seluruh komponen masyarakat Kampung Kusamba dan masyarakat muslim yang ada khususnya di Klungkung turut mendukung dan mendoakan pembangunan Rumah Tahfidz Qur’an Hidayatullah ini.

“Semoga diberikan kemudahan oleh Allah dan semoga cepat selesai dan segera dilaksanakan pembangunannya,” katanya.

Perbekel Kampung Kusamba Syahrul Ramadan berharap Rumah Quran ini menjadi wadah bagi pembangunan generasi muda agar kelak anak anak kita menjadi generasi Rabbani yang mencintai Al Quran, mencintai Allah, mencintai Rasul-Nya, dan menjadikan Al Quran sebagai pegangan hidup dan pedoman hidup.

“Dengan kehadiran Rumah Quran ini, kami berharap senantiasa menjadikan Kampung Kusamba ini menjadi berkah dengan segala kemajuannya termasuk juga bagaimana masyarakat beriman dan bertakwa,” kata Syahrul Ramadan.

Tokoh Kampung Kusamba KH Murtadha BZ pun menyampaikan hal serupa dan mengaku sangat antusias menyambut pembangunan Rumah Tahfidz Qur’an Hidayatullah ini.

KH Murtadha pun sempat mengenang perlangkahan awal Ust. Yusuf di Klungkung yang pada awalnya datang hanya dari rumah ke rumah dan sekarang Allah takdirkan untuk lebih baik dengan mendirikan Rumah Quran.

“Saya melihat dukungan masyarakat dengan banyaknya harapannya. Kita berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semoga apa yang menjadi hajat yang baik ini mendapatkan ridho Allah dan diberikan kemudahan apa yang dicita-citakan dan diharapkan,” katanya.

Ust. Muhammad Yusuf mengucapkan terima kasih atas perhatian dan dukungan yang diberikan. Dia berharap semoga pembangunan Rumah Tahfidz Qur’an Hidayatullah Klungkung ini berjalan dengan lancar sukses.

“Semoga melahirkan generasi Qurani,” kata Ust. Yusuf yang juga ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Klungkung ini.

Sebagai santri, Ust. Yusuf mengaku harus siap ditugaskan kapan dan dimana saja. Termasuk ketika ia dikirim dengan bekal ala kadarnya oleh Ust. Abdullah Ihsan ke Klungkung sejak tahun 2017.

“Ketika itu, Ustadz Abdullah Ihsan berpesan, dimanapun ditugaskan, Tuhannya tetap sama, Nabinya sama, maka mintalah pertolongan pada Allah dan berdakwalah dengan baik seperti Nabi berdakwah,” ingatnya.

Kali pertama datang ke Klungkung, Yusuf tak punya modal memadai. Kenalan seorang pun ia tak punya, sehingga ia hanya mengandalkan doa dan mengencangkan silaturrahim berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya.

“Tugas kita berat, kalau kita tidak melibatkan Allah di dalamnya maka tidak mungkin menang,” katanya kemudian yang mengutip pesan yang sering dikemukakan oleh pendiri Hidayatullah, Allaahuyarham Ust. Abdullah Said.

Ust. Yusuf mengatakan dengan kehadiran Hidayatullah ia berkomitmen terus menjadi katalisator agar senantiasa merawat harmoni dan meneguhkan sinergi antar sesama.*/Yacong B. Halike

Rakerwil Bengkulu, Kabid PPO Sampaikan Lima Alat Kontrol Organisasi

0

REJANG LEBONG (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Bengkulu baru saja menyelesaikan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) yang dilaksanakan di Kampus Madya Curup, Kabupaten Rejang Lebong, 20-21 Jumadil Akhir 1444 H (13-14/1/2023).

Pelaksanaan Rakerwil kali ini diikuti oleh Pengurus DPW, Pengurus DPD, Pengurus Organisasi Pendukung; Pemuda Hidayatullah dan Muslimat Hidayatullah, serta amal usaha tingkat wilayah yaitu kampus madya, BMH, dan Posdai.

Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi (Kabid PPO) DPP Hidayatullah Ust. Asih Subagyo, M.Kom, dalam sambutan pembukaan membacakan pidato Ketua Umum, menekankan pentingnya membangun 4 kekuatan dalam merealisasikan setiap program kerja yang akan disusun dan dirumuskan.

“Tentu saja berawal dan berdasarkan hasil asesmen DPW yang dilakukan oleh DPP, di mana DPW Hidayatullah, mendapatkan katagori sebagai DPW berkembang, dan secara nasional mendapatkan peringkat ke-11,” katanya.

Adapun keempat kekuatan dimaksud adalah quwwah ruhiyah (kekuatan ruhiyah), quwwah aqliyah (kekuatan akal), quwwah maddiyah (kekuatan material) dan quwwah idariah (kekuatan manajerial).

Selanjutnya, ia menyampaikan 5 alat ukur untuk memonitor bagaimana organisasi ini berjalan dengan maksimal.

Kelima indikator dan alat ukur tersebut adalah, Pertama, kebijakan dari pusat harus sampai dan dipahami hingga ke paling bawah. Kedua, struktur disemua tingkatan berjalan dengan efektif, dimana rapat koordinasi dan koordinasi berjalan secara rutin.

Kemudian, indikator Ketiga, pembinaan secara kultural sebagai transformasi nilai (manhaj), berjalan dengan tertib dan baik berupa halaqah, kajian, dan lainnya.

Keempat, struktur demografis penggerak organisasi (pengurus dan anggota), komposisinya diisi oleh kaum muda. Dan, Kelima, kemandirian pembiayaan organisasi, berasal dari iuran anggota, amal usaha dan badan usaha internal.

Pada kesempatan Rakerwil ini, ia juga menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan Rakerwil Hidayatullah Bengkulu yang berhasil dengan baik.

Rakerwil DPW Hidayatullah Bengkulu juga dihadiri oleh Ketua Dewan Pertimbangan Ust. H. Hamim Thohari, M.Si, yang memberikan kajian penguatan kelembagaan di Kampus Madya Hidayatullah Bengkulu dan di arena Rakerwil.

Di kedua tempat tersebut, beliau menyampaikan pentingnya ikhlas dalam berjuang dan beramal. Sebab tanpa dibarengi keikhlasan, maka seluruh amal perbuatan kita akan lenyap tak berbekas. “Apalagi jika merasa dirinya yang paling penting dan berjasa disetiap amal dan aktifitas yang dilakukan,” katanya berpesan.

Berlangsung dinamis

Acara Rakerwil sendiri berlangsung sangat hangat, khidmat, dan dinamis, meski cuaca di luar tempat acara cukup sejuk cenderung dingin. Kegiatan selalu diawali jam 03.00, dengan Qiyamul Lail secara berjamaah, shalat shubuh, serta wirid serta dzikir. Seluruh program kerja dibahas secara ditail dan terperinci.

Ketua DPW Hidayatullah Bengkulu, Ust. Ahmad Suhail, S.Pd, berhasil dalam membangun team work yang baik, sehingga seluruh elemen di DPW Bengkulu dapat bersinergi dalam mensukseskan program kerja yang telah dirumuskan pada tahun 2022, dan menjadikan basis bagi program kerja tahun 2023.

Demikian juga ketua DMW (Dewan Murabi Wilayah), Ust. Sutrisno Eko Santoso, sebagai sosok yang membawa Hidayatullah ke Bengkulu, juga memberikan penguatan kelembagaan secara manhaji di hadapan peserta Rakerwil.

Sebelum penutupan, dilakukan komitmen dan lelang terhadap struktural, amal usaha dan juga kader untuk pelaksanaan Silaturrahim Nasional (Silatnas) tahun 2023 dan penyelesaian masjid Ar-Riyadh. Pada acara tersebut terkumpul komitmen tersebut sejumlah 216 juta lebih.

Dalam penutupan acara, Asih menyampaikan acara selama 2 hari tersebut memberi harapan dan semangat baru bagi seluruh elemen Hidayatullah di Bumi Raflesia itu. “Dan ini sebagai wujud tagline Bidang PPO, bahwa berorganisasi itu mesti membahagiakan dan menggembirakan,” kata Asih menutup acara tersebut.*/Yacong B. Halike

Bukan Sekedar Peras Pikiran, Rapat Kerja sebagai Momen Muhasabah

0

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah, Ust. H. Hamim Thohari, MA, mengatakan rapat kerja (raker) yang digelar hendaknya menjadi momentum melakukan muhasabah secara serius dan mendalam seraya berupaya memeras pikiran untuk menghasilkan program kerja yang baik.

“Rapat kerja bukan saja menyusun program kerja. Namun, lebih daripada itu, Rapat Kerja adalah sebuah muhasabah. Introspeksi diri,” kata Ust. H. Hamim Thohari.

Demikian itu disampaikan Ust. H. Hamim Thohari dalam arahannya pada acara pembukaan Rapat Kerja di Aula Kampus Utama Hidayatullah Medan, Sumatera Utara, Senin, 23 Jumadal Akhirah 1444 H (16/1/2023).

Hamim menjelaskan seraya menukil Ibnul Qayyim Al Jauziyah, bahwa muhasabah itu tidak hanya dilakukan pada saat sudah selesai sebuah pekerjaan, namun muhasabah harus juga dilakukan sebelum sebuah pekerjaan itu dimulai.

“Dipikirkan baik-baik apakah sebuah rencana program atau rencana kerja itu mengandung kebaikan atau tidak. Apa manfaat dari program tersebut untuk umat, untuk dakwah, dan untuk perjuangan,” jelasnya sambil mengutip firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surah Al-Hasyr 59 ayat 18.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan”

“Jangan sampai program yang kita buat itu justru akan menimbulkan dampak yang buruk bagi ummat sehingga menimbulkan dosa dan penyesalan bagi kita dunia akhirat,” pesan Hamim yang juga Ketua Pembina Kampus Utama Hidayatullah Medan ini.

Oleh karena itu, dia mengingatkan, perlu dilakukan muhasabah sebelum dibuat sebuah program. “Dan itulah yang dinamakan perencanaan,” katanya.

Disamping muhasabah, dalam Rapat Kerja harus dibangun sikap mental kita bagi para peserta rapat. Bahwa, tegasnya, Rapat Kerja ini adalah Ibadah karena rapat itu adalah perintah Allah juga sebagaimana dalam Al Qur’an surah Ali ‘Imran 3 ayat 159.

“Oleh karena rapat kerja nilainya sama dengan ibadah-ibadah yang lain seperti shalat dan lainnya, maka kita hadir dalam rapat dan musyawah ini adalah dalam rangka melaksanakan perintah Allah subhanahu wata’ala,” imbuhnya.

Ibarat shalat, rapat kerja ini adalah sajadah kita untuk sujud kepada Allah SWT. Jikalau tadi dalam rangakaian kegiatan Rapat Kerja diawali dengan pembacaan ayat ayat suci Al Qur’an, maka itu menandakan bahwa rapat kerja yang dilakukan ini betul-betul dalam rangka ibadah kepada Allah SWT.

“Karena rapat itu adalah bagian daripada ibadah, maka yang perlu dijaga adalah keikhlasan kita semua para peserta rapat dalam mengikuti kegiatan ini. Penting sekali untuk menjaga niat kita, menjaga kemurnian tujuan kita dalam rapat. Jangan ada niat untuk saling menjatuhkan, saling menegasikan, saling mendiskreditkan,” pesannya.

“Jangan riya’ dengan prestasi yang sudah dicapai, jangan ‘ujub, jangan sum’ah, bahkan tega melakukan pembunuhan karakter teman saudara sendiri seperjuangan dengan menjelek- jelekkannya dihadapan musyawwirin demi menunjukkan kelebihan diri,” tambahnya.

Oleh karenananya, Ust. Hamim mengingatkan, menjaga keikhlasan niat itu sangat penting bagi kita agar semua yang kita kerjakan bernilai ibadah disisi Allah SWT.

Oleh karena itu, hindarkan diri dari sikap takabbur yakni merasa diri besar, sombong, seolah olah dirinyalah yang paling bisa, paling berprestasi, paling unggul, dan paling yang yang lainnya yang menghapus seluruh amal sholeh kita.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji debu” (HR. Muslim)

Alangkah ruginya kita berlelah lelah dan capek-capek mengumpulkan amal , namun ternyata kemudian hapus sama sekali pahalanya dikarena niat yang rusak.*/Choirul Anam

Bupati dan Komunitas Jelajah Alam Karimun Sambangi Ponpes Hidayatullah

KARIMUN (Hidayatullah.or.id) – Ratusan anggota komunitas motor mengikuti Jelajah Alam Karimun (JAK) 5, Ahad 15 Januari 2023. Kegiatan tersebut dibuka Bupati Karimun Aunur Rafiq dan diikuti puluhan klub motor yang ada di Kabupaten Karimun.

Jelajah Alam Karimun dimulai dari Coastal Area – Jalan Nusantara – Sei Lakam – Baran – Meral – Simpang Mutiara – Jelutung dan berakhir di Pondok Pesantren Hidayatullah, Pasir Panjang.

JAK kali ini merupakan yang ke-5 kalinya digelar oleh Trail and Adventure Cakra Karimun (Triack).

Bupati Rafiq mengapresiasi kegiatan JAK kelima ini. Menurutnya kegiatan tersebut bukan hanya sekedar hobi, namun juga terdapat kepedulian sosial di dalamnya.

Sebab, di sela-sela konvoi motor, peserta menyalurkan puluhan paket sembako kepada masyarakat di sekitar Pondok Pesantren Hidayatullah Karimun yang turut dihadiri langsung Bupati Rafiq.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Karimun saya mengapresiasi dan menyambut baik para pecinta otomotif dari klub-klub motor pada kegiatan hari ini, kegiatan ini bukan hanya sekedar bakat dan hobi tapi juga terdapat kepedulian sosial yang sangat baik,” ujar Rafiq.

Dikatakan, para pecinta otomotif di Karimun harus selalu mematuhi dan menjadi contoh kepada masyarakat bagaimana berkendara yang baik dan patuh terhadap aturan-aturan berlalu lintas.

“Mereka orang-orang pecinta otomotif yang taat berlalu lintas dan juga dapat memberikan contoh yang baik bagi masyarakat,” ungkapnya.

Selanjutnya, Bupati mengaku kagum dengan antusias dan semangat klub motor yang memiliki tujuan untuk menggelar kegiatan-kegiatan positif.

Dengan semangat ini, ia mengajak para pecinta motor di Karimun untuk terus bersama dan bergandengan tangan dengan pemerintah untuk membangun Kabupaten Karimun.

“Semoga klub motor di Kabupaten Karimun terus kompak dan melalui kegiatan seperti ini dapat memperkuat tali silaturahim kita semua,” harapnya.

Terakhir, Bupati juga memuji peran aktif pecinta otomotif di Karimun yang terus mempromosikan Kabupaten Karimun melalui media sosial mereka.

“Saya melihat aktivitas-aktivitas klub motor yang sering membuat konten di jalan raya dan kegiatan positif lainnya, cara ini secara tidak langsung telah mempromosikan Kabupaten Karimun melalui peran media sosialnya masing-masing,” pungkas Rafiq.*/Ilfitra

Plt Walikota Hadiri Wisuda Penghafal Al Qur’an Alburhan Hidayatullah Semarang

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) – Plt Walikota Semarang, Ir. Hj. Hevearita Gunaryanti Rahayu, M.Sos, merasa bangga dengan orang tua yang menitipkan anaknya di pondok pesantren. Sebab anak di pesantren akan dibina akhlaq dan karakternya sehingga kelak menjadi orang yang baik di masyarakat.

Hal itu disampaikan Bu Ita, panggilan akrabnya saat menghadiri Wisuda Tahfizh 30 Juz santri Pondok Pesantren Alburhan Hidayatullah di Kampung Gedawang, Kelurahan Gedawang Banyumanik, Kota Semarang, Ahad, 22 Jumadal Akhirah 1444 H (15/1/23).

“Saya merasa berbahagia dapat hadir dalam acara wisuda tahfidz ini. Bagi walimurid yang menitipkan anaknya di pondok pesantren merupakan keputusan yang tepat karena dipesantren ditekankan pendidikan akhlaq dan karakter. Karakter yang kuat inilah yang akan membekali mereka kedepan menjadi pribadi yang sukses,” kata Bu Ita.

Atas nama kepala daerah, dia juga mengingatkan sekitar Gedawang merupakan tanah merah yang subur. Cocok untuk penanaman karakter santri dengan mengajarkan gerakan menanam.

“Pada menanam inilah dibutuhkan jiwa sabar, harus merawat, memupuk, menyiangi hingga dapat dipanen,”imbuhnya.

Menurutnya bonus demografi saat ini hingga tahun 2045 harus disikapi dengan bijak. Sehingga benar- benar lahir generasi emas. Dia berharap dari pesantren Hidayatullah akan lahir generasi hebat yang menentukan arah bangsa kedepan.

“Bukan hanya seperti generasi yang gila konten, yang sampai mempertaruhkan nyawanya demi konten,”tambahnya.

Ust Ahmad Ali Subur, S.E, Ketua DPW Hidayatullah Jawa Tengah sekaligus Pembina Yayasan Al Burhan Hidayatullah Semarang mengatakan, wisuda tahfiz 30 Juz ini diikuti 15 santriwati.

Tujuan wisuda membangkitkan semangat menghafal dan menumbuhkan keyakinan bahwa semua hamba Allah mampu menghafal. Bukan hanya sekedar menghafal untuk dirinya, tetapi juga bermanfaat untuk orang lain.

“Ini juga mensyi’arkan al-Quran bahwa al-Quran mudah dihafal,”katanya.

Menurutnya, Pesantren Al Burhan merupakan 1 dari 400an pesantren Hidayatullah di seluruh Nusantara. Peantren Hidayatullah berdiri 5 Februari tahun 1972 sehingga 5 Februari nanti merupakan HUT ke 50.

Ustad Zainudin Musaddad menyampaikan, wajah penghafal Alquran saat ini kelihatan biasa saja. Namun sesungguhnya ada yang luar biasa pada diri meraka.

“Apakah itu? Allah titipkan Ayat -ayat Alquran dalam diri mereka, dan hal itu sudah cukup dijadikan alasan untuk berbahagia melebihi harta yang dikumpulkan ber
tahun- tahun,”katanya.

Hadir dalam acara tersebut adalah Muhammad Afif Wakil Ketua DPRD kota Semarang, Drs. H. Zeinudin Musaddad. MA, Anggota MMP (Majelis Murobbi Pusat),Donator dan simpatisan dari Yayasan Al Burhan, BMH, Pos Dai, Pengasuh, Guru, wali santri, dan karyawan Mts MA Al Burhan.*/Arif Budiman

Abah Zain Ajak Praktikkan Nilai nilai Al-Quran dalam Kehidupan

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah, Ust. Drs. Zainuddin Musaddad, MA, mengajak untuk mempraktikkan nilai nilai Al Qur’an dalam kehidupan sehari hari sebab ia merupakan obat kegersangan hati, pelipur lara, dan memuat nilai nilai agung di dalamnya sebagai mukjizat akhir zaman.

“Lewat amal jariyah orang-orang yang selalu mengirimkan do’a-do’a, bacaan Al-Qur’an itu bisa menjadi pelipur lara di akhirat kelak,” katanya.

Hal itu disampaikan Ust. Drs. Zainuddin Musaddad, MA, saa gelaran wisuda tahfizh santriwati MTS-MA Al Burhan, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Semarang, Ahad, 22 Jumadal Akhirah 1444 H (15/1/23).

“Jadi, banyak-banyaklah menanam amal Sholeh, yang jika kita sudah kembali maka akan banyak kiriman amal jariah yang bisa meringankan keadaan kita dialam kubur nantinya,” imbuhnya.

Dalam taujihnya, Ust. Zainuddin berpesan kepada para orangtua, guru, pengasuh, dan seluruh undangan untuk terus praktikkan nilai-nilai Al-Qur’an seraya menekankan bahwa peran dan usaha para orang tua anak, hari ini Allah takdirkan untuk titipkan huruf-huruf mulia dalam hati-hati mereka.

“Sebuah kehormatan yang Allah titipkan kepada mereka. Hari ini mereka menjadi luar biasa dihadapan-Nya. Karena kalau Allah tidak berkenan menitipkan kalam-Nya, hari ini sudah hafal, besok lepas. Itulah yang mukjizat Allah lewat kalam-Nya,” kata dai yang karib disapa Abah Zain ini.

“Antara tangis, senyum dan haru pada hari ini harus direkat kembali, tunjukan kita memuliakan mereka bukan karena tubuh mereka, tapi karena titipan Allah lewat kalam-Nya,” katanya.

Dalam lanjutan motivasinya, Abah Zain berpesan perlunya banyak-banyak bersyukur kepada Allah, karena banyak diantara kita, secara penilaian dunia, mereka bisa kaya, sehat bahkan gagah, kuat, cantik dan Perkasa, bahkan seluruh manusia mengatakan dialah orang yang beruntung di dunia ini.

“Namun, jika Allah tidak izinkan untuk menitipkan Al-Qur’an ini, jangankan 30 Juz, satu surah atau ayat, bahkan satu huruf pun jika Allah berkenan kita tidak mau menitipkan itu tidak akan mampu kita miliki,” kata ayah 6 anak yang semunya hafidz/ hafidzah ini.

Padahal, terangnya melanjutkan, dalam berbagai pesan Allah begitu jelas bahwa betapa dahsyatnya alam kubur itu, begitu mengerikan dan panasnya dalam masa-masa penantian itu, hanya akan bisa didinginkan oleh bacaan Al-Qur’an.

“Mari terus praktikkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan,” tandasnya.

Event wisuda tahfidz yang diselenggarakan Mts-MA Al Burhan Hidayatullah Kota Semarang awal tahun 2023 ini juga dihadiri Wakil Walikota Semarang, Hevearita G. Rahayu, yang sekarang juga sebagai Pelaksana tugas (Plt) Walikota Semarang, Ketua Yayasan Al Burhan Hidayatullah Kota Semarang, Ust. Muhlis, dan Kepala Prodaya BMH Perwakilan Jawa Tengah, Yusran Yauma.*/

Wakaf untuk Kesejahteraan Umat

0

Oleh Asih Subagyo*

BARU baru ini saya menghadiri acara makan malam dan diskusi tentang wakaf yang digelar oleh Bank Waqf International di Ikhwan Delights Restoran Sungai Pencala Kuala Lumpur (5/1/2023). Sesi itu berlangsung secara konsisten yang saat saya menjadi salah satu pembicara malam itu, forum tersebut adalah edisi yang ke-25.

Bagi saya sawala yang dihadiri 4 pembicara dari berbagai negara itu, seperti Prof. Dr. Ramzan Aliti (STEM Labs – Nort Macedonia), Sultan Salahudeen (Pengusaha India) dan Bambang Kuswijayanto (Deputi Director Bank Waqf International) sangatlah penting bagi kita semua memajukan dunia atau gerakan wakaf di Tanah Air.

Ulasan dari Prof Ramzan Aliti misalnya benar-benar membuat kita harus berpikir bagaimana wakaf benar-benar berjalan di Indonesia. Jadi beliau berkisah bahwa di Nort Macedonia penduduk Muslim hanya 50% dan pernah dikuasai oleh komunisme yang berakhir pada 1990-an.

Namun dunia wakaf di sana sangat luar biasa. Berkat kesadaran tinggi penduduk Muslim di sana kembali mengelola aset-aset wakaf yang tersebar termasuk di lokasi strategis dengan tujuan meningkatkan ekonomi umat. Kini wakaf telah berjalan dengan baik.

Prof Ramzan pun kini menyampaikan bahwa umat Islam saat ini harus menguasai yang namanya STEM (science technology), engineering and mathematic untuk bisa bangkit dan kembali mewarnai dunia.

Wakaf dalam Bisnis

Tidak kalah menarik adalah uraian dari Sultan Salahudeen. Sebagai pengusaha ia menekankan pentingnya setiap pengusaha muslim melakukan yang namanya menanamkan (embedded) wakaf dalam aktivitas bisnis.

Pengusaha muslim harus berupaya agar dalam setiap profit atau benefit yang diterima, sebagian dialokasikan untuk kepentingan wakaf. Mengingat secara faktual tantangan umat sekarang sangat tidak ringan.

Oleh karena itu owner dari usaha di bidang gas dan kimia yang beroperasi di Malaysia, India dan Kanada itu mengajak kaum pengusaha muslim untuk memprioritaskan wakaf pada empat hal strategis, yaitu ketahanan pangan, pendidikan, kesehatan dan perumahan.

Pengalaman Hidayatullah

Saya sendiri menjabarkan perihal pengalaman Hidayatullah dalam gerakan wakaf di Indonesia. Hidayatullah merupakan salah satu ormas Islam di Indonesia yang telah memiliki jaringan di seluruh Indonesia.

Kiprah dalam hal pengelolaan wakaf Hidayatullah telah memiliki beberapa pengalaman dalam beragam model penerapan. Sebab sebagaimana visi Hidayatullah membangun peradaban Islam, wakaf merupakan elemen penting dalam peradaban Islam itu sendiri.

Hidayatullah telah mengelola wakaf kaum Muslimin dalam dua bidang utama gerakan, yaitu dakwah dan pendidikan, sehingga publik mengenal bahwa kata Hidayatullah identik dengan dai, pesantren dan sekolah. Pengembangan pengelolaan wakaf ke depan akan diarahkan juga pada sektor pangan, kesehatan dan ekonomi.

Ternyata gagasan ini relevan dengan apa yang jadi gagasan dari Presiden Bank Waqf International Dr Dato’ Abu Ubaidah. Beliau menerangkan bahwa wakaf dapat menguatkan ekonomi umat, terlebih saat ini ekonomi yang berbasis kapitalisme dan sosialisme telah sempoyongan dan akan menuju kehancuran.

Sebab utamanya mengapa kapitalisme dan sosialisme mengalami itu adalah karena faktor riba (bunga) dan pajak. Berbeda dengan Islam, kata Dato’ yang memiliki solusi bernama wakaf yang sebenarnya merupakan bagian dari instrumen keuangan umat Islam.

Menariknya Dr Dato’ Abu Ubaidah telah lama menerapkan konsep bahwa dalam setiap keuntungan bisnis yang ia lakukan, 10% keuntungan dialokasikan sebagai wakaf yang kemudian dikelola secara profesional. Jadi, salah satu yang menurut Dato’ penting dalam gerakan wakaf saat ini adalah pentingnya profesionalisme nadzir.

Meski demikian sejatinya tantangan terbesar umat Islam dalam hal wakaf adalah minimnya literasi terhadap wakaf itu sendiri. Oleh karena itu Hidayatullah dalam hal ini seperti yang telah diupayakan terus menerus oleh Baitul Wakaf terus mengedukasi umat akan pentingnya wakaf dalam beragam media komunikasi dan penyiaran.

*) Penulis adalah Pembina Baitul Wakaf Hidayatullah

Beasiswa BMH Hadirkan 6 Hafidzah Al-Qur’an 30 Juz

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) —Event wisuda tahfizh yang diselenggarakan Mts-MA Al Burhan Hidayatullah Kota Semarang awal tahun 2023 ini menjadi bukti bahwa dana ziswaf yang diamanahkan para donatur menghasilkan sedekah jariah yang tidak akan ada putus-putusnya.

“Bersyukur pada Allah, amanah ziswaf yang diamanahkan kepada BMH dari para donatur, hari ini kembali diwisuda 15 orang tahfizh dari santriwati MTS-MA Al Burhan, 6 orang diantaranya beasiswa dari BMH,” kata Kepala Prodaya BMH Perwakilan Jawa Tengah, Yusran Yauma.

Hal itu dusampaikan Yusran saat menghadiri Wisuda Tahfidz 30 Juz santri Pondok Pesantren Alburhan Hidayatullah di Kampung Gedawang, Kelurahan Gedawang Banyumanik, Kota Semarang, Ahad, 22 Jumadal Akhirah 1444 H (15/1/23).

Sebuah kolaborasi apik dari lintas organisasi pendukung dan amal usaha dilingkup ormas Hidayatullah Kota Semarang yang pada wisuda kedua ini langsung dihadiri oleh Plt. Walikota Semarang, Ibu Hj. Hevearita Gunaryanti Rahayu, M. Sos dan Anggota Dewan Murabbi Hidayatullah Pusat, Ust. Zainuddin Musaddad, MA.

Dalam sambutannya, Ibu Ita, sapaan akrab ibu Walikota ini memberikan dukungan dan penghargaan kepada Hidayatullah Kota Semarang, dalam membimbing santriwatinya menjadi para penghafal Al-Qur’an.

“Wisuda ini menjadi salah satu kebanggaan para santri dan orang tua, pasti perjuangan anak-anak ini sangat luar biasa. Saya sangat mengapresiasi terselenggaranya kegiatan wisuda Tahfizh kedua di Yayasan ini,” jelasnya.

Bahkan Ibu Ita, sempat memuji kado Wisuda dari BMH yang dibuat ibu-ibu Amil BMH salam bentuk buket bunga berisi uang,

“Bagus kreasi ini, bentuknya mirip bunga tapi bernilai karena berisi lembaran uang yang bernilai, ini bisa ditiru,” canda Walikota dihadapan 500 undangan yang hadir dalam kesempatan itu.

Sementara itu, Ketua Yayasan Al Burhan Hidayatullah Kota Semarang, Ust. Muhlis, mengatakan terlaksananya wisuda putri kedua ini, juga kedepannya, semoga santri-santri dipondok ini benar-benar mutqin 30 Juz.

“Dan semoga kita bisa syiarkan kepada umat bahwa di Kota Semarang ini masih ada sekolah formal namun tetap bisa menjadikan para santri-santrinya menjadi hafidza-hafidzah setiap tahun, Insyaallah,” harap Muhlis.

Salah satu penerima manfaat beasiswa BMH yang ikut penamatan tahfidzul Quran ini, Aulan Nuril Adha, mengaku bersyukur dan bangga. Dia mengaku memang butuh perjuangan harus meninggalkan orang tua dan tanah kelahiran untuk memutuskan melanjutkan jenjang pendidikan dan di sekolah ini.

“Saya bisa selesaikan hafalan Al-Qur’an lewat beasiswa BMH. Terimakasih BMH dan para donatur,” tutur Nuril dengan penuh haru.*/Yusran Yauma

Semarak Kegiatan Game Outbond PAUD Yaa Bunayya Hidayatullah Sumenep

0

SUMENEP (Hidayatullah.or.id) — Rona bahagia tampak terlihat di raut wajah anak-anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Yaa Bunayya Kampus Hidayatullah Sumenep, Madura, Jawa Timur, Sabtu, 21 Jumadal Akhirah 1444 H (14/1/2023).

Hari itu, suasana semarak penuh keceriaan di Komplek Kampus Ponpes Hidayatullah Sumenep dengan diadakannya acara yang bertajuk Smart Game Outbound yang diikuti oleh anak anak PAUD Yaa Bunayya Sumenep.

Kegiatan ini dibimbing langsung oleh Team Combat Surabaya didatangkan oleh sekolah yang memiliki akreditasi A tersebut. Berbagai permainan dan lomba dalam kegiatan edukatif itu membuat suasana pembelajaran berbasis game out door itu sangat antraktif, berkesan, dan penuh kenangan manis bagi para anak anak didik yang mengikutinya.

Seperti penuturan Azam Faiq Al Arkam yang mengaku senang ikutan acara ini dengan kakak-kakak instruktur baik dan ramah. “Mermainannya juga keren, tapi aku masih takut pas naik tangga dari tali,” ujarnya dengan nada polosnya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh ananda Fahrudin Mumtaz, peserta didik cilik yang sedang duduk di bangku TK B Yaa Bunayya. Dia merasa sangat puas dan bahagia sekali bisa ikutan belajar dan bermain game di luar sekolah.

“Itu flaying foxnya tinggi sekali, aku awalnya merasa takut, namun saat saya dilepas, seolah saya seperti terbang kayak pesawat, saya sangat senang sekali,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah PAUD Yaa Bunayya Sumenep, Nur Qayati, S.Pd menjelaskan, bahwa dipilihnya acara ini dimaksudkan agar anak-anak tidak merasa bosan berada di ruangan kelas.

“Selain itu ini juga menjadi ajang silaturrahim antara wali murid dengan pihak sekolah. Pilihan awal tahun 2023 ini juga, agar anak-anak kami semakin semangat belajar,” terang wanita berkecamata ini.

PAUD Yaa Bunayya Sumenep Madura adalah salah satu lembaga pendidikan Islam dibawah naungan Yaysan Salsabila Ponpes Hidayatullah Sumenep.

Yayasan ini telah memiliki beberapa lembaga pendidikan setingkat PAUD, SD hingga SMP, bahkan sekarang akan dikembangkan di tempat baru, yaitu kecamatan Batuan yang merupakan penyanggah kota Sumenep di sebelah baratnya.*/Jules Sofyan Amarta