Beranda blog Halaman 315

Murabbi tidak Terpengaruh pada Target Material “Wani Piro”

JIKA seseorang mendapatkan tawaran kerja dengan gaji yang bombastis hingga miliaran rupiah perbulan bahkan perpekan, apakah dia akan bekerja santai dan semaunya saja atau akan bekerja bersungguh sungguh?

Demikian pertanyaan tersebut diajukan Anggota Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah, KH. Abdul Rahman Surabaya, saat memulai wejangannya.

“Tentu saja, dia akan bekerja bersungguh sungguh karena besarnya gaji yang akan dia dapatkan,” sambungnya kemudian.

Abdul Rahman menyampaikan prolognya itu di hadapan ratusan peserta Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Dewan Murabbi (DM) Hidayatullah yang berlangsung di Menara Al Qur’an Hidayatullah Surakarta, Kamis, 09 Rajab 1444 (2/2/2023).

“Maka seorang Murabbi tidak akan terpengaruh pada target-target material, wani piro, sebab ada target yang lebih nikmat dan menggiurkan dimatanya yaitu target iman dan hidayah,” katanya menguraikan.

Ia mengatakan, kalau dengan gaji miliaran rupiah saja kita sudah mau bekerja habis habisan, apatah lagi kalau gaji bulanannya tidak terhitung (unmlimited) tidak terbatas yang hanya bisa diberikan oleh Allah.

“Maka seorang dai, seorang Murabbi, tidak boleh minder dengan pekerjaannya karena gajinya tidak terbatas. Seorang manajer dengan gaji miliaran rupiah perbulan bisa bangga, seorang Murabbi harus lebih percaya diri karena insentifnya dalam bentuk ajrun gairu mamnuun,” lanjutnya

Olehnya itu, terang dia, niat dalam mengurus agama Allah harus benar. Abdul Rahman menukil hadits Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam:

“Sungguh nilai suatu amalan tergantung dari niatnya, jika niat hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya maka nilai hijrahnya juga dinilai untuk Allah dan Rasul-Nya….” (HR. Bukhari Muslim).

Mengapa niat kita harus karena Allah? Abdur Rahman menjelaskan, karena Allah adalah Dzat Yang Maha Kaya (Al Ghaniy), Dia bisa memberi apa dan berapa saja yang Dia inginkan tanpa bisa dibatasi oleh siapapun juga

“Seseorang yang bekerja dan berdakwah karena Allah, dia tidak akan mengharap balasan dari selain Allah sebab dia yakin bahwa berharap balasan pada selain Allah berarti berharap pada makhluk yang kemampuannya lebih rendah dari kemampuan Allah. Secara logika, itu adalah hal yang naif,” jelas alumnus Institut Teknologi Surabaya (ITS) ini.

Lebih jauh, pria 63 tahun ini mengungkapkan, seorang Murabbi meyakini bahwa menjadi sebab hingga orang lain mendapatkan hidayah dan imannya bertambah serta bisa menikmati ibadahnya kepada Allah, terasa jauh lebih nikmat.

“Seorang Murabbi tidak akan merasa sesak, menderita, dan menyesal karena telah memilih jalan agama walau tidak populer dimata kebanyakan orang, walau hidupnya pas-pasan, tidak bergelimang harta, karena visi hidupnya lebih besar dari itu semua,” imbuhnya.

Memungkasi penyampaiannya, perintis Pesantren Hidayatullah Surabaya ini berkata bahwa orang beriman atau seorang Murabbi Selalu yakin dengan janji Allah. Seorang Murabbi, terang dia, akan menjaga ‘izzah (kemuliaan) dirinya dengan janji janji Allah tersebut dan tidak merendahkan dirinya dengan janji janji duniawi. “Dan, inilah karakter utama para Murabbi Hidayatullah,” tandasnya.*/Naspi Arsyad

[Download Khutbah Jumat] Menjadi Manusia yang Ahsanu ‘amalaa

ALLAH SWT yang menciptakan kematian dan dengan kuasaNya. Dia abadi. Dia juga Dzat yang menciptakan kehidupan dan berkuasa di atasnya supaya kalian dapat bermuamalah, untuk menguji siapa di antara kalian yang amalnya paling baik, ibadahnya paling ikhlas di sisi Allah dan paling taat kepadaNya. Dialah Dzat yang Maha Kuat dan Maha Perkasa sehingga tidak ada satupun yang lebih perkasa dariNya. Dzat yang Maha Besar ampunanNya bagi orang-orang yang bertaubat.

Menjadi menjadi manusia terbaik, adalah dambaan setiap insan, dan setiap menusia berlomba lomba menjadi manusia terbaik, ingin juara kelas, ingin menang dalam olimpiade, ingin juara nasional bahkan juara international. Semua ini menunjukkan bahwa manusia ingin tampil menjadi terbaik dalam setiap aktivitasnya.

Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya ditulis oleh Ust. H. Iwan Abdullah. unduh sekarang:

Buka Rakornas Dewan Murabbi, Inilah Pesan Pemimpin Umum Hidayatullah

0

SURAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Dewan Murabbi (DM) Hidayatullah telah dibuka secara resmi oleh Pemimpin Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad, yang digelar di Kampus Menara Al Qur’an, Hidayatullah Surakarta, Jawa Tengah, Kamis, 09 Rajab 1444 (2/2/2023).

Pembukaan Rakornas yang akan berlangsung selama 4 hari ini dihadiri juga oleh ratusan Murabbi Hidayatullah se-indonesia yang duduk dalam struktur Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah.

Dalam sambutannya membuka acara, KH. Abdurrahman Muhammad menyampaikan ihwal keutamaan niat yang luhur dan lurus bekerja untuk Islam.

“Berniatlah selalu untuk berbuat bagi Islam karena itulah komitmen dasar bagi setiap Muslim. Niat berbuat baik bagi Islam akan menjelma menjadi kebaikan kebaikan besar lainnya, baik terhadap manusia lainnya terutama bagi negeri yang tercinta ini,” katanya.

Ia mengemukakan, iman yang dibalut keyakinan yang utuh akan selalu memberi nilai lebih, surplus, dan membuat pemiliknya tidak akan merasa kekurangan apalagi merasa rugi. “Itulah yang membuat orang yang beriman tidak ragu dan takut untuk selalu berbuat baik dan berkorban bagi agamanya,” imbuhnya dalam.

Belau menjelaskan, Al Qur’an adalah mukjizat terbesar sepanjang zaman dengan kandungan yang selalu memberi Ibrah dan inspirasi, termasuk melalui kisah kisah yang termaktub di dalamnya. Ibrah tersebut baik kisah para Nabi dan orang orang shaleh juga kisah para pendurhaka, raja raja zhalim, termasuk kisah Fir’aun yang membuat seorang Ilmuwan Perancis masuk Islam saat meneliti jasad Fir’aun.

“Kisah Thalut memberi inspirasi bahwa lahirnya seorang pemimpin harus melalui proses ketat (screening) sebab kehidupan sehari-hari seorang pemimpin juga keras,” katanya.

Berkenaan dengan peran peran pembinaan, dia menjeskan, bahwa sosok Murabbi harus mampu memperagakan pola hidup yang menjadi teladan. Murabbi kata dia juga mesti kuat berinfaq, menjaga muru’ah dan tidak tergiur dengan kenikmatan dunia, hidup zuhud, yang pola hidupnya menjadi magnet dakwah bagi orang lain hingga tertarik kepada Islam ini.

“Kehidupan duniawi seorang Murabbi kadang tidak berlapang harta. Tidak berlimpah materi namun dia tetap harus rajin berinfaq, siang dan malam, termasuk saat kondisi keuangannya sedang susah. Seorang Murabbi tetap harus berinfaq karena dia adalah figur dalam agama, pelopor kebaikan yang kebaikan kebaikannya memberi maslahat bagi negerinya dan alam semesta,” katanya lagi dengan dalam dan perlahan.

Lebih jauh, ia menerangkan, agama tanpa kepemimpinan akan terasa lemah namun kepemimpinan tanpa agama akan membuat para pemimpin menjadi sesat dan menyesatkan. Disinilah, tegas dia, urgensi seorang Murabbi bagi para pemimpin pemimpin umat.

“Pribadi pribadi yang berkarakter kuat itu tidak banyak, sebagaimana pasukan Thalut yang lulus dari ujian air sungai juga berjumlah sedikit,” katanya.

Di penghujung arahannya, Pemimpin Umum Hidayatullah ini menyampaikan bahwasanya seorang pemimpin harus memiliki kemampuan komunikasi dan diplomasi yang handal. Sebab, lanjutnya, dakwah Nabi Muhammad juga Nabi nabi sebelumnya tidak lepas dari strategi diplomasi.

“Suatu negara mendapatkan pengakuan dari negara lain tidak terlepas dari strategi diplomasi bilateral dan bila suatu negara bersikap kaku, tidak lihai bernegosiasi, maka eksistensi negara tersebut akan lemah,” tandasnya.*/Naspi Arsyad

Kota Surakarta Tuan Rumah Rakornas Dewan Murabbi Hidayatullah

0

SURAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Dewan Murabbi (DM) Hidayatullah Tahun 2023 telah dibuka secara resmi yang digelar di Kampus Menara Al Qur’an, Hidayatullah Surakarta, Jawa Tengah, Kamis, 09 Rajab 1444 (2/2/2023).

Pembukaan Rakornas yang akan berlangsung selama 4 hari ini dihadiri dan dibuka oleh Pemimpin Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad.

Rakornas juga dihadiri oleh ratusan Murabbi Hidayatullah se-indonesia yang duduk dalam struktur Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah.

Ketua Panitia Rakornas DM Hidayatullah 2023, Dr. Nur Islam, M.Pd, dalam pidatonya menyambut peserta Rakornas mengatakan Menara al Qur’an adalah simbol keyakinan kepada Allah sebab saat ditunjuk sebagai tuan rumah Rakornas Dewan Murabbi, sarana dan prasarana belum memadai ditambah pendanaan yang juga tidak dapat dikatakan cukup.

Tetapi, dengan keyakinan yang mantap akan keberkahan dan dan maunah Allah, Doktor Pendidikan dari Universitas Muhammadiyah Solo, ini mengatakan acarapun dihelat dengan suasana pembukaan yang penuh khidmat.

Nur Islam juga menyampaikan perihal keistimewaan tempat penyelenggaraan kegiatan ini. Kata dia, hakikat sejarah Menara Al Qur’an sangat identik dengan agama lain karena dahulu merupakan pusat pembaptisan.

“Lalu, Hidayatullah membelinya dan menyulapnya menjadi pusat kaderisasi penghapal Al Qur’an,” katanya.

Lebih jauh, dia menukaskan, Kota Surakarta adalah salah satu simbol dakwah Islam di Indonesia sejak dulu sampai hari ini.

Sehingga, lanjut dia, pelaksanaan Rakornas Dewan Murabbi memiliki benang hijau dengan sejarah dan fakta tersebut. “Seiring itu, para Murabbi juga adalah figur-figur penggerak dakwah Islam di daerah masing-masing,” katanya.

Sepenarian dengan itu, Ketua Dewan Murabbi Hidayatullah Pusat, Dr. Tasyrif Amin, M.Pd, dalam sambutannya menyampaikan bahwa tugas Murabbi adalah tanggung jawab yang sakral karena meneruskan tugas yang Allah berikan kepada para Nabi dan Rasul, terutama tugas kerasulan Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam.

“Tantangan berat para Murabbi adalah posisi dirinya sebagai role model, figur tauladan dalam aspek spiritualitas, komitmen tarbiyah dan dakwah, sementara seorang Murabbi tetaplah manusia biasa yang juga mendapatkan ujian serta berbuat khilaf,” kata pria kelahiran Majene ini.

Ayah dari 10 anak ini menambahkan, para Murabbi harus terus menjaga idealisme membangun peradaban Islam, terutama dalam diri sendiri sebagai pijakan pertama dan mendasar dalam membangun peradaban Islam dalam skala global.*/Naspi Arsyad

Menyimak Seksama Nasihat Para Ulama

0

DALAM bahasa Arab, hati disebut “al-qalbu”, artinya berbolak-balik, tidak menetap pada satu keadaan. Demikianlah kenyataan hati manusia. Ia bisa menjadi sangat lembut dan mudah diarahkan, tetapi bisa juga menjadi lebih keras dari batu. Sejenak trenyuh dan berduka, kemudian melonjak kegirangan.

Pada dua keadaan ini, sebenarnya hati punya kebutuhan yang sama, yaitu nasihat. Dengannya maka berbolak-baliknya hati senantiasa terarah kepada kebaikan, tidak liar dan menyeretnya ke jurang kebinasaan.

Oleh karenanya, di dalam khazanah literatur Islam berkembang satu jenis kitab yang disebut Raqa’iq atau Riqaq. Istilah ini dapat dimaknai sebagai cerita ringan, atau kisah pelembut hati. Karya seperti ini umumnya pendek, dan di dalamnya banyak disitir kisah-kisah singkat yang menarik, juga nasihat-nasihat ringkas yang penuh makna.

Wejangan dan wasiat para ulama’ besar dapat kita jumpai dengan mudah dalam karya-karya seperti ini, apalagi dalam karya-karya yang lebih detil dan panjang.

Mengapa nasihat ulama’ itu penting? Sebab – menurut Syaikh ‘Abdul Qadir al-Jilani – ia merupakan saripati pengalaman dan interaksi mereka dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Selain itu, sepanjang hidupnya mereka hanya mengabdikan diri kepada Allah, bukan kepada materi dan kenikmatan duniawi. Tentu saja, mata air hikmah akan mengalir deras dari hati dan lisan mereka.

Adapun kata-kata orang yang tidak beriman kepada Allah, apalagi yang memusuhi-Nya, jelas tidak akan steril dari polusi keyakinan mereka. Bukankah keyakinan yang mewarnai setiap hati pasti terefleksikan melalui kata-kata dan tindakan pemiliknya? Maka, kita harus hati-hati memilih nasihat, sebelum teracuni tanpa sadar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya para ulama’ adalah pewaris Nabi-nabi. Sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka, barangsiapa yang mengambilnya, dia telah mengambil bagian yang banyak.” (Riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari Abu Darda’).

Pertanyaannya adalah: jika kita ingin mendengar nasihat ulama’, maka siapakah mereka? Sebab, di zaman ini, kita sering dibuat kecewa oleh perilaku tokoh-tokoh yang dikenal sebagai ulama’.

Di media massa sebagian dari mereka tampil sangat menawan dan sempurna. Namun, tiba-tiba hati kita menjadi miris manakala mengetahui fakta sebagian dari mereka yang sesungguhnya.

Maka, ada baiknya kita mendahulukan untuk merujuk pada ulama’ generasi awal kaum muslimin, yakni Salafus Shalih, sebelum ulama’ dari generasi lebih akhir. Mereka adalah generasi yang telah menyelesaikan misi serta perannya di dunia ini, dan kita pun telah melihat prestasi mereka.

Sampainya dakwah dan ajaran Islam ke negeri dan zaman kita secara utuh merupakan salah satu bukti amal mereka. Selain itu, Rasulullah sendiri telah menyatakan mereka sebagai generasi terbaik (khairun qurun).

‘Imran bin Hushain bercerita: bahwa Nabi bersabda, “Yang terbaik diantara kalian adalah generasiku, kemudian yang datang setelah mereka, kemudian yang datang setelah mereka.” – ‘Imran berkata, “Aku tidak tahu, apakah Nabi menyebut setelah generasi beliau dua generasi lagi ataukah tiga.” – Nabi bersabda, “Sesungguhnya setelah kalian akan ada kaum yang suka berkhianat dan tidak bisa dipercaya, suka memberikan persaksian padahal tidak diminta bersaksi, suka bernadzar namun tidak dipenuhi, dan kegemukan merajalela di tengah-tengah mereka.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menyatakan tiga lapisan generasi terbaik tersebut, yaitu Sahabat, Tabi’in, dan Atba’ Tabi’in. Kepada merekalah semestinya kita merujuk dan mencari nasihat, supaya hati kita senantiasa terbimbing. Masalah pilihan sumber ini penting. Sebab, di zaman sekarang, ketika media massa dan buku-buku beredar sangat bebas di masyarakat, tentu tidak sulit untuk mengakses nasihat dari sumber mana pun.

Apalagi, bagi pengguna piranti-piranti telekomunikasi yang telah dimuati fitur-fitur untuk sharing (berbagi), semisal SMS, MMS, chatting, email, BBM, twitter, facebook, skype, youtube, wikipedia, dsb. Di saat bersamaan, buku-buku digital juga semakin lazim dipergunakan, termasuk audiobook (buku bersuara). Maka, yang sangat dibutuhkan adalah filter diri yang mantap, juga kecerdasan untuk memilih.

Sayangnya, kita menyaksikan banyak orang rela merogoh koceknya dalam dalam hanya untuk membeli novel dan komik, bahkan mengoleksi serial lengkapnya dari awal sampai akhir. Padahal isinya belum tentu penting dan hanya khayalan.

Tidak sedikit pula orang yang berulangkali menonton film tertentu, padahal seluruhnya hanya ilusi. Sebagian orang juga sangat sibuk menghibur diri dari waktu ke waktu, bersenang-senang, dan berusaha melupakan masalah-masalah. Padahal, di depan kita semua ada masalah sangat besar yang pasti datang, tanpa seorang pun bisa menghindar, yakni kehidupan akhirat.

Sebenarnya, kita lebih perlu memikirkan masalah akhirat ini, dan justru jangan sampai melupakannya; bukannya menghabiskan waktu untuk mengikuti imajinasi orang lain yang tidak jelas keterkaitannya dengan akhirat, bahkan justru memalingkan kita darinya.

Mengapa kita tidak mengalokasikan sebagian dana untuk mengakses nasihat dan kisah para ulama’ yang nyata, pasti bermanfaat, dan dijiwai nilai-nilai Islam?

Maka, memasuki Rajab dan menjelang memasuki bulan Ramadhan ini, mari bertekad dan menata amal, dengan mendengarkan kisah dan nasihat para ulama’. Semoga dengan meneladani mereka, kita terpacu untuk beramal seperti amal mereka, dan akhirnya dikumpulkan oleh Allah bersama mereka di akhirat kelak. Amin.

Ust. M. Alimin Mukhtar

BMH Kepri Sambangi Baznas dan Kemenag Provinsi Sampaikan Laporan Rutin

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) – Prinsip transparansi, amanah, dan profesional senantiasa dikedepankan oleh perwakilan BMH Kepulauan Riau, hal ini ditunjukkan dengan kedisiplinan dalam memberikan laporan tahunan kepada BAZNAS dan Kemenag Provinsi Kepulauan Riau.

Rabu, 10 Rajab 1444 (1/2/2023), General Manager BMH Kepulauan Riau, ustadz Abdul Aziz didampingi Marketing Komunikasi BMH Kepri, ustadz Mujahid M. Salbu dan kepala Gerai BMH Tanjung Pinang, ustadz Muhammad Fajar menyambangi Baznas dan Kemenag Provinsi untuk menyerahkan laporan tahunan.

Kepala sekretariat Baznas Provinsi, ibu Yuli, yang menerima tim BMH Kepri mengungkapkan, BMH Kepri adalah Lembaga Amil Zakat (laznas) yang terbaik dari sisi kedisiplinan dan kewajiban memberikan laporan setiap tahun.

“Dalam pengamatan kami, kiprah BMH di masyarakat juga sangat dirasakan, setiap ada kegiatan kemanusiaan di daerah-daerah yang selalu muncul nama BMH, harapan kami ke depannya sinergi antara  Baznas dan BMH dapat terus ditingkatkan,” pesan ibu Yuli.

Selain mengunjungi Baznas Provinsi Kepri, tim BMH Kepri juga menyerahkan Annual Report ke Kemenag Provinsi Kepulauan Riau, Kepala Seksi Pemberdayaan Zakat Wakaf Kanwil Kemenag Kepri, Hj. Halimah menyambut hangat kehadiran BMH, menurutnya BMH adalah Laznas yang selalu merespon dengan cepat kewajiban berupa laporan tahunan ke Kemenag.

“Kami juga memberikan apresiasi atas keaktifan BMH dalam hal pemberdayaan masyarakat tidak mampu dengan mengunjungi pulau-pulau terpencil dan pelosok kampung,” imbuh Ibu Halimah semringah.*/Mujahid M. Salbu

Tutup Rakerwil DPW Maluku, Wasekjen Tekankan 4 hal ini sebagai Kunci Kebangkitan

BURU (Hidayatullah.or.id) — Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Abdul Ghofar Hadi, MH.I, menutup acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) DPW Provinsi Maluku yang digelar di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Kecamatan Namlea, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku, Ahad, 7 Rajab 1444 (29/1/2023).

Sebelumnya Rakerwil dibuka oleh Asisten 1 Kabupaten Buru pada hari sebelumnya. Penutupan setelah tuntaskan semua pemaparan program departemen, sekretaris, bendahara, dan pembahasan APBO.

Selanjutnya, ada komitmen setiap DPD dan kampus Madya dan Pratama serta lelang kontribusi Silatnas dan pembangunan masjid ar Riyadh di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, dan komitmen kesiapan waktu rencana tanggal dan tempat Rakerda usai Rakerwil ini.

Peserta Rakerwil semangat dan antusias memberi masukan program dari setiap departemen. Satu persatu peserta bergantian memberikan pertanyaan untuk kejelasan dari program yang dianggap kurang bisa dipahami.

Wasekjen Abdul Ghofar Hadi menyampaikan pesan-pesannya dalam penutupan Rakerwil DPW Maluku. Dia mengatakan, Hidayatullah Maluku terus menunjukkan progresfitasnya meski masih berstatus perintisan.

Ghofar menyebutkan, semua kawasan dakwah, DPW, DPD, Kampus, sekolah Hidayatullah yang hari ini berkembang dan maju, semua dimulai dari titik yang sama yaitu merintis. Ia mencontohkan diantaranya Jawa Timur, Yogyakarta, Malang, dan daerah lainnya di luar Jawa.

“Tidak ada yang langsung berkembang dan maju, tapi merintis dengan berbagai dinamikanya sebagaimana yang dialami oleh DPW Hidayatullah Maluku hari ini yang masih berstatus perintisan,” kata Ghofar.

Kandidat doktor pendidikan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau ini mengatakan setiap perintisan hal yang awalnya nihil bisa mewujud karena ada proses perjuangan yang dilingkupi kesabaran dan ketabahan.

“Mereka semua pernah mengalami namanya kurang uang, kurang orang, belum dikenal, belum ada lokasi, sedikit murid, kesulitan gaji, dan pemenuhan kebutuhan makan setiap harinya. Itu semua pernah di alami pada masa-masa perintisan,” katanya.

Ia lantas berseloroh dengan memotivasi bahwa masa masa perintisan ini akan semakin penuh gairah dengan adanya inisiatif kebangkitan untuk terus berkembang meluaskan dakwah dan khidmat keumatan.

“Kebangkitan ini semua kembali kepada teman-teman sendiri sebagai pelaku, kader, anggota, dan pengurus di Hidayatullah Maluku,” katanya.

Beliau menyebutkan, jika mau bangkit maka ada 4 hal kunci yang harus diberikan penguatan, sebagaimana pesan dari Ketua Umum DPP Hidayatullah KH. Dr. Nashirul Haq, MA, dan harus benar-benar serius dilaksanakan secara konsisten dan kompak.

Kunci pertama adalah quwwah ruhiyah. Artinya, terang dia, senantiasa melakukan penguatan ruhiyah atau spritual dengan menegakkan Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) seperti shalat lail, shalat berjamaah, shalat sunnah rawatib, infak, membaca al Qur’an, dakwah fardiyah, dan puasa sunnah.

“Jika gerakan spritual ini bisa dilakukan dengan baik, maka akan ada kekuatan luar biasa berupa inspirasi, motivasi dan percaya diri untuk mengembangkan dakwah, tarbiyah dan ekonomi di Maluku,” katanya.

Kemudian, kunci kedua, adalah quwwah aqliyah. Yakni kekuatan akal atau berpikir dengan banyak membaca, belajar, berlatih tentang amanah yang diberikan. Dia mengatakan, manhaj Hidayatullah yang dimulai dari Al Qur’an surah Al ‘Alaq memberikan pesan bahwa membaca adalah perintah yang spektakuler.

“Semua kemajuan bangsa dan peradaban di dunia ini dimulai dari budaya membaca. Terutama mengkaji kitab al Qur’an, hadist, dan ilmu-ilmu pengetahuan untuk kemajuan,” kata penulis buku bertema islamic relationship untuk keluarga ini.

Kunci ketiga, adalah quwwah maddiyah. Artinya, terang dia, adalah kekuatan ekonomi atau materi dengan kerja keras banting tulang untuk bisa berusaha membangun ekonomi umat, organisasi, dan pribadi. Orang beriman dituntun oleh agama ini agar mampu berdikari dan kaya karena banyak perintah Allah yang terkait dengan harta.

“Contoh perintah untuk bisa infak, shadaqah, zakat, hadiah dan wakaf, itu semua menuntut orang beriman agar kaya. Kemudian untuk kaya harus kerja keras,” terangnya.

Ghofar menjelaskan jika orang beriman miskin maka selamanya hanya menjadi mustahiq atau orang yang menerima zakat dan tidak pernah bisa menjadi muzaki atau orang yang berzakat. Oleh sebab itu, dalam hal ini, lanjut AGH, tidak perlu takut dan malu atau segan untuk bisnis jika memiliki kemampuan dan modal yang memadai.

Lalu kunci kebangkitan keempat adalah quwwah idariyah. Yaitu, kemampuan manajemen dan kepemimpinan. Orang beriman harus menjadi khalifah dan mengasahnya dengan banyak belajar tentang manajemen dan leadership.

Dalam pada itu, untuk menjalankan organisasi Islam ini harus profesional yang tidak apa adanya, hanya sekedarnya, atau tidak serius. “Menjalankan dakwah dan tarbiyah juga harus profesional untuk bisa menampilkan Islam itu indah dan berhasil,” katanya.

Dengan empat kekuatan tersebut, jika dijalankan secara konsiten dan terukur, kata Ghofar, maka kebangkitan Hidayatullah Maluku tinggal menunggu waktu.

“Namun, jika kekuatan itu hanya sehari dua hari saja, sepekan dua pekan saja, maka masih jauh kebangkitan. Apalagi jika masih belum bisa merajut ukhwah dengan baik dan membangun kesepemahaman antar kader,” kata lulusan Pondok Pesantren Hidayatut Thullab (Pondok Tengah), Durenan, Kamulan, Trenggalek, yang merupakan salah satu pesantren tertua di Indonesia.

Ghofar berharap semoga momentum Rakerwil Hidayatullah Maluku tahun 2023 ini menjadi era kebangkitan dengan membangun kesadaran bersama tentang pentingnya bangkit dari perintisan, apalagi Maluku memiliki potensi yang luar biasa untuk bisa berkembang dan maju.

Setelah acara penutupan, dilanjut kegiatan peletakan batu pertama pembangunan Asrama Putri Al Hijrah Hidayatullah Savana. Letaknya kurang lebih 17 kilometer dari Namlea, dengan lahas luas areal 1 hektar yang dibeli tahun 2006.

Dalam satu terakhir ini sudah ada santri yang belajar dan berasama di Kampus Hidayatullah Savana. Pada kesempatan tersebut, Ust. Abdul Ghofar Hadi menyarankan agar kampus ini difokuskan pendidikan putri untuk melahirkan sumber daya muslimat yang cerdas dan berintegritas.*/Yacong B. Halike

Puluhan Guru di Timika Ikuti Pelatihan Hukum Gelaran LBH Hidayatullah Papua

TIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Sedikitnya 50 guru mengikuti pelatihan hukum yang digelar oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah Provinsi Papua di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Timika, Jalan Poros Mapurujaya, KM 09, Mwapi, Kecamatan Mimika, Kota Mimika, Timika, Papua, Senin, 8 Rajab 1444 (30/1/2023).

Puluhan peserta training hukum yang digelar di lingkungan pendidikan Sekolah Al Amin Timika Papua ini merupakan tenaga guru Hidayatullah di Timika. Adapun materi yang diberikan tentang Undang undang Perlindungan Anak dan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Kegiatan ini menghadirkan narasumber Dr Dudung A Abdullah selaku Direktur LBH Hidayatullah Pusat dan dipandu oleh Wakil Direktur Bidang Edukasi LBH Hidayatullah Papua, Abdul Sakir, S.Pd.

Syakir dalam keterangannya mengatakan, diharapkan dengan mengikuti kegiatan training cerdas hukum di era digital ini para guru memiliki wawasan dan pengetahuan khususnya tentang perlindungan anak dan Undang-undang ITE dalam menjalani profesi sebagai guru.

“Para guru juga perlu memahami kiat apa yang harus dipakai dalam hal khususnya dalam mendidik anak agar lebih baik dan tidak terjerat dalam hukum,” kata Syakir.

Syakir mengatakan pemahaman yang benar dalam penggunaan media digital menjadi hal penting untuk dipahami, sebab hal ini menurutnya sudah menjadi arus utama interaksi masyarakat termasuk dalam mengkonsumsi dan menyebarkan informasi.

“Pelatihan ini juga memberikan edukasi tentang cerdas bermedia sosial dan cermat hukum khususnya di dunia pendidikan baik itu di kalangan pendidik maupun di kalangan para dai,” kata Syakir usai acara.

Pihaknya di LBH Hidayatullah Papua berkomitmen bisa terus melaksanakan training serupa di tempat lainnya di Papua secara terus menerus sehingga para guru dan dai bisa paham tentang hukum dan tentang juga permasalahan undang-undang.

Salah seorang peserta, Hamzah, SPdI, menyatakan mendapatkan manfaat usai mengikuti kegiatan ini seperti materi dan ilmu hukum dasar tentang UU Perlindangan Anak dan UU ITE yang selama ini belum terlalu dipahaminya.

“Kegiatan ini menambah pengetahuan kami tentang hukum dan kiat-kiat apa saja yang dapat kita lakukan dalam mengatasi problema jika kita menemukan masalah tentang hukum,” kata Hamzah.

Disamping itu, materi yang disampaikan narasumber Dr Dudung A Abdullah yang banyak memberikan simulasi dan pemahaman yang lebih mendalam berkenaan penggunaan media sosial yang aman dan efektif serta topik soal perlindungan anak, kian menambah wawasan kependidikan Hamzah dan peserta lainnya.

“Kegiatan ini menambah wawasan kami sebagai peserta bagaimana menjadi guru yang lebih baik lagi dalam memberikan pendidikan kepada para peserta didik,” tandasnya.*/Yacong B. Halike

Engkau Bersama dengan Orang yang Kau Cintai

ANAS bin Malik berkisah, bahwa seseorang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, kapan kiamat terjadi?” Beliau balik bertanya, “Apa yang telah kaupersiapkan untuknya?”

Dia menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tidak menyiapkan puasa yang banyak, tidak juga sedekah. Hanya saja, aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Beliau bersabda, “Engkau bersama yang kaucintai.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Cinta memang ajaib. Karenanya seseorang rela berkorban dan menempuh marabahaya. Energi cinta akan mendorongnya melakukan hal hal menakjubkan. Hanya saja, seberapa berharga perjuangannya itu ditentukan oleh apa dan siapa yang dicintainya.

Ketika yang dicintainya hanya bagian dari dunia yang fana, maka keajaibannya pun fana dan mudah berubah. Lihatlah orang-orang yang jatuh cinta kepada kekasihnya, dan betapa menakjubkan apa yang bisa mereka perbuat. Namun, belum lagi kekaguman kita pudar, mereka telah mencaci-maki kekasihnya itu dan meninggalkannya. Bagaimana bisa? Ya, karena seluruh unsur dalam cintanya adalah fana.

Akan tetapi, cinta seorang muslim kepada Allah dan Rasul-Nya memiliki sifat yang khusus. Cintanya bersemi dari benih iman, dipupuk dengan amal shalih, dan akhirnya berbuah ridha. Allah berfirman:

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka, masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Qs. al-Fajr: 27-30)

Dikisahkan bahwa Rabi’ah Al-‘Adawiyah (w. 180 H) sering mengulang-ulang bait syair ini: “Engkau mendurhakai Tuhanmu, namun menampakkan kecintaan kepada-Nya. Ini adalah perbuatan yang mustahil dan sangat mengherankan. Jika saja cintamu memang tulus, pasti engkau menaati-Nya, karena sesungguhnya pecinta itu pasti patuh kepada yang dicintainya.” (Dari: Mukhtashar Syu’abul Iman).

Benar, setiap pecinta pasti tunduk kepada yang dicintainya. Hatinya bergemuruh oleh keinginan membahagiakan kekasihnya. Ia khawatir kekasihnya marah dan bersedih. Maka, diturutinya permintaan-permintaannya, walau berat dan butuh pengorbanan besar.

Jika seseorang tulus mencintai Tuhannya, pasti ia akan “menjinakkan diri” kepada segala perintah dan larangan-Nya. Ada dikatakan, “Siapa mencintai sesuatu, dia menjadi budaknya.” Maka, kecintaan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya akan mendorongnya mengamalkan syariat. Demikianlah, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti, ia selalu bersama yang dicintainya.

Lebih jauh, hadits di atas ternyata menyiratkan rahasia lain. Dalam riwayat Bukhari-Muslim, di belakang hadits ini Anas bin Malik berkomentar, “Kami tidak pernah bergembira – setelah mengenal Islam – melebihi kegembiraan kami terhadap sabda Nabi: ‘engkau bersama yang kaucintai’. Saya mencintai Allah, Rasul-Nya, Abu Bakar, dan ‘Umar. Maka, saya berharap bisa bersama mereka walau pun saya tidak bisa beramal seperti mereka.” Subhanallah!

Betapa ruginya orang-orang yang hidupnya dibangun diatas kebencian kepada Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, dan para Sahabat yang telah dipersaksikan surga oleh Rasulullah. Bersama siapakah kelak mereka di akhirat? Dimana pulakah tempatnya? Na’udzu billah.

Mereka pasti bersama orang-orang yang juga membenci dan memusuhi para Sahabat agung itu. Bukankah Allah telah menetapkan keridhaan-Nya kepada mereka di dalam Al-Qur’an? Allah berfirman,

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah; dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, untuk selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

Lalu, atas dasar apa mereka melaknatnya? Apakah mereka hendak mengatakan ayat ini palsu dan ditambahkan belakangan untuk melegitimasi keutamaan para Sahabat? Sekali lagi, na’udzu billah!

Ironisnya, ada sebagian orang yang merasa kurang afdal sebelum fasih melaknat Abu Bakar Ash-Shiddiq dan ‘Umar bin Al-Khattab, dua mertua dan khalifah Rasulullah; atau menodai kehormatan ‘Utsman bin ‘Affan, Sahabat yang dua kali menjadi menantu Rasulullah. Mereka menyebut dirinya pecinta Ahlul Bait, namun sebenarnya justru pelaknat Ahlul Bait.

Tidakkah mereka membaca sejarah, bahwa generasi awal Ahlul Bait sendiri menamai anak-anaknya dengan nama-nama yang sekarang dilaknat oleh para Ahlul Bait gadungan itu? Diantara putra ‘Ali bin Abi Thalib (dari istri selain Fathimah) terdapat nama Abu Bakar dan ‘Umar. Nama-nama ini juga terdapat diantara putra Al-Hasan dan Al-Husain. Bahkan, ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Al-Husain menamai putrinya dengan ‘Aisyah!

Apakah Rasulullah salah memilih sahabat dekat dan menantu? Jika benar mereka adalah orang-orang yang hina, bagaimana mungkin Allah tidak memberitahu beliau, padahal seluruh tanda-tanda kiamat yang jauh maupun dekat pun telah diberitahukan-Nya?

Apa pula rahasia di balik pemberian nama-nama Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Aisyah, oleh Ahlul Bait sendiri kepada putra-putri mereka di masa itu? Apakah mereka ber-taqiyyah (pura-pura) karena takut? Bagaimana mungkin hal itu terjadi, sedangkan ‘Ali adalah orang yang paling pemberani, demikian pula putra-putranya?

Tidak ada jawaban lain, kecuali karena mereka cinta dan kagum kepada Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Aisyah. Karena setiap orang akan dikumpulkan bersama yang dicintainya, maka bila kelak Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Aisyah dimasukkan ke surga, kita sudah tahu kemana perginya orang-orang yang di dunia ini membenci dan mencaci-maki mereka. Jelasnya, dua pihak yang bermusuhan ini tidak akan Allah kumpulkan menjadi satu. Na’udzu billah.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Besyukurlah karena Berada di Lingkungan Pendidikan Pesantren

MEDAN (Hidayatullah.or.id) – Bersyukurlah bagi kita yang berada di lingkungan pesantren karena bisa belajar Islam dan menjaga agama. Sungguh senang rasanya masih bisa melihat ratusan generasi muda seusia SMP dan SMA memiliki semangat berIslam menempa diri di pondok pesantren. 

Demikian disampaikan oleh Ketua Departemen Organisasi DPP Hidayatullah Ust. Ir. H. Syamsuddin MM, saat memberikan taushiyah subuh di hadapan para santri Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, beberapa waktu lalu. 

“Meskipun kalian dalam keadaan ngantuk berat selepas shalat tahajjud, kalian masih tetap bersemangat untuk mujahadah melawan rasa kantuk demi melaksanakan kewajiban shalat shubuh berjamaah di masjid yang sangat indah dan sejuk ini,” sambung Syamsuddin, Senin, 8 Rajab 1444 (31/1/2023).

“Sungguh ini adalah suatu hal sangat patut untuk disyukuri karena tidak semua anak muda bisa seperti kalian ini. Karena disaat yang sama banyak anak anak muda dikampung kampung maupun di kota kota  tidak ada yang bangun untuk sholat Subuh berjamaah seperti kalian. Bahkan lebih memilih untuk tidur mendengkur di rumah,” puji Syamsuddin.

Itupun masih mending, kata dia, karena ada sangat banyak anak muda saat akhir pekan atau malam Minggu,  yang berkeliaran atau nongkrong di pinggir jalan ,di kafe-kafe , nongkrong di warung kopi, campur aduk antara laki laki dan perempuan. Mereka melek hingga dini hari bahkan sampai pagi dengan menghisap rokok, atau bisa jadi menenggak minuman keras. .

“Mereka menghabiskan uang, menghabiskan waktu yang sangat tidak ada gunanya bahkan merugikan kesehatan dan tak jarang ada yang berujung pada pergaulan bebas yang merusak kehormatan dan tentu menghancurkan nama baik keluarga apatah lagi menghancurkan masa depan mereka sendiri,” katanya.

Maka, terang Syamsuddin, disaat kalian menjadi santri di Pondok Pesantren Hidayatullah Medan ini, mestinya kalian  bersyukur, karena  itu artinya Allah SWT telah menjadikan kalian sebagai hamba pilihan-Nya. Demikian nasehat Syamsuddin kepada para santri itu.

“Para santri juga harus berterimakasih kepaya Abi dan Umminya yang telah memilihkan untuk kalian lembaga pendidikan yang tepat  yaitu di pesantren,” imbuhnya 

Syamsuddin menjabarkan, bentuk terimakasih itu harus diwujudkan pada saat santri menjalani masa masa liburan di rumah, baik liburan semester serta liburan hari besar lainnya, di mana mereka menunjukkan perubahan sebagai hasil daripada proses  pendidikan di pondok pesantren ini.  

“Tetaplah rajin shalat berjamaah ke masjid ketika liburan di rumah. Apalagi kalian para santri, harus merasa bangga menjadi anak muda yang shaleh dengan menunjukkan akhlak yang mulia, membantu orangtua, mengajak orang orang yang ada di dalam lingkungan keluarga besar kalian dengan cara membangunkan ummi dan Abi kalian untuk diajak shalat berjamaah di masjid,” demikian pesan Syamsuddin.

Menurut Syamsuddin, usia remaja adalah usia mencari jati diri. Salah dalam memilih teman pergaulan atau salah dalam memilih lingkungan serta salah dalam memilih lembaga pendidikan, akan berakibat fatal dan merugikan anak itu sendiri serta keluarga mereka.

“Para orangtua juga semestinya bersyukur dan bangga dengan anak anak mereka yang mengenyam pendidikan di pesantren, karena anak anak mereka bisa diselamatkan dari pergaulan bebas,” demikian kata Syamsuddin lagi.

Beliau bercerita bahwa baru-baru ini Indonesia dihebohkan oleh pemberitaan tentang kerusakan moral remaja dan pelajar Indonesia yang kian kritis dimana ribuan pelajar SMP/ SMA di Jawa Timur yang meminta dispensasi KUA untuk melakukan pernikahan dini karena akibat para pelajar itu sudah hamil duluan diluar nikah akibat pergaulan yang terlalu bebas.

“Telah banyak terjadi  kehamilan diluar nikah dengan jumlah ribuan dikalangan remaja pelajar yang  terjadi di banyak kota,” katanya menjelaskan seraya menyebut Yogjakarta, Madiun dan Tangerang Selatan adalah termasuk kota yang angka kehamilan remaja / pelajarnya paling tinggi sebagaimana dinukil media. 

Tidak hanya berdampak pada peningkatan permohonan dispensasi nikah usia dini, hamil diluar nikah juga berdampak pada meningkatnya angka aborsi dikalangan remaja /pelajar.

Bahkan tidak hanya seks bebas, hamil diluar nikah, serta aborsi. Banyak para pelajar dan remaja Indonesia yang juga terjerat narkoba. 

Maka, kata beliau, langkah para orangtua untuk menyekolahkan anak mereka di pondok pesantren adalah pilihan yang sangat tepat demi menyelamatkan putra-putri mereka dari bencana dekadensi moral serta untuk menyiapkan generasi unggul di masa depan.*/Khoirul Anam