Beranda blog Halaman 317

BMH Hadirkan Asrama Santri di Ponpes Hidayatullah Kabupaten Lingga

0

LINGGA (Hidayatullah.or.id) — Laznash BMH Kepri melakukan peletakan batu pertama pembangunan asrama tahfidz di Kampus Ponpes Hidayatullah yang berlokasi di Kecamatan Daik, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, baru baru ini, 17 Jumadal Akhirah 1444 H (10//1/2023). Sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat serta orang tua santri hadir dalam seremonial peletakan batu pertama tersebut.

Dalam sambutannya, Kepala Perwakilan BMH Kepri, Abdul Aziz Elhaqqy, menyampaikan bahwa pembangunan asrama enam lokal untuk para tahfidz ini merupakan komitmen BMH Kepri untuk menghadirkan fasilitas yang memadai agar aktivitas pembinaan di pondok pesantren dapat berjalan dengan baik.

Dengan adanya fasilitas ini, jelas Abdul Aziz, kaum muslimin yang menitipkan anaknya di pondok dapat terlayani dengan baik.

” Kami juga berharap tidak ada lagi anak-anak khususnya dari kalangan tidak mampu yang putus sekolah, karena selain fasilitas kami juga menyiapkan beasiswa untuk para dhuafa,” imbuh Abdul Aziz.

Selain di Kabupaten Lingga, BMH Kepri juga telah memberikan bantuan gedung asrama di ponpes Hidayatullah kabupaten Bintan dan Tanjung Balai Karimun termasuk beberapa sumur bor dan instalasi air bersih di berapa ponpes di Kepulauan Riau.

Pengurus Ponpes Hidayatullah Lingga, Ust. Awwalin, menyatakan rasa syukur Alhamdulillah dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada BMH Kepri dan para donatur atas bantuan gedung asrama ini.

“Insya Allah ke depannya santri-santri kami tidak akan tidur di masjid lagi sehingga dapat lebih maksimal menjalani aktivitas pendidikan dan ibadah,” ucap Ust. Awwalin semringah.*/Mujahid M. Salbu

PMI Latih Jiwa Empati Murid SD Integral Hidayatullah Baubau

0

BAUBAU (Hidayatullah.or.id) — Guna menggugah jiwa kemanusiaan dan sikap empati kepada sesama sejak dini sebagai salah satu wujud pengamalan sila kedua Pancasila: Kemanusiaan yang adil dan beradab dan juga terkandung dalam Kurikulum Merdeka, Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Baubau berkolaborasi dengan SD Integral Hidayatullah Baubau melakukan edukasi Palang Merah kepada murid, Jum’at, 20 Jumadil Akhir 1444 H (13/1/2023) pagi.

Kegiatan yang dilaksanakan di sekolah tercinta SD Integral Hidayatullah Baubau menghadirkan narasumber dari Staff Markas dan Korps Sukarela (KSR) PMI Kota Baubau dan diikuti oleh sejumlah siswa kelas 2.

Wali Kelas 2 Rizkiani, S.Pd.I mengatakan dalam pembelajaran inipun siswa sangat antusias mengikuti dan menyukai kegiatan tersebut.

“Jazakumullah khairan katsiran kami ucapkan kepada PMI Kota Baubau yang telah berbagi ilmu kepada siswa kami sehingga para siswa dapat mengetahui dasar-dasar pertolongan pertama ketika terjadi kecelakaan baik yang terjadi di sekolah ataupun di rumah. Subhanallah,” kata Rizkiani.

Rizkiani berharap para siswa yang telah mendapatkan pembelajaran ini dapat terus meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikapnya terkait dasar pertolongan pertama serta tindakannya.

Senada dengan itu, Kepala Sekolah SD Integral Hidayatullah Baubau, Asmaun, S.Pd. berharap edukasi seperti ini dapat dilaksanakan tidak hanya saat ini saja.

“Kegiatan seperti ini dapat dilakukan secara berkelanjutan mengingat banyaknya kegiatan PMI yang dapat disinergikan dan dikolaborasikan dalam hal ilmu dan pengalaman ke-PMI-an kepada seluruh siswa,” katanya.*/Noer Akbar

Kuatkan Ukhuwah Sinergis dengan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah Toraja Utara

TORUT (Hidayatullah.or.id) — Jalinan persaudaraan (ukhuwah) antar sesama adalah tradisi kita yang perlu terus dirawat, sebab ia tidak saja akan menumbuhkan harmoni dan kesalingpengertian. Ikatan persaudaraan dan silaturrahim yang terjaga kian menguatkan kolaborasi.

Demikianlah yang diantaranya ditunjukkan Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Toraja Utara (Torut) Ust. Ikhsan yang melakukan kunjungan silaturahmi kepada pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Torut di Rantepao, Kamis, 19 Jumadal Akhirah 1444 H (12/1/2023).

“Alhamdulillah terbangun pemahaman untuk saling sinergi dan mendukung dalam dakwah yang dilakukan di Toraja Utara,” jelas Ust Ikhsan seperti dilansir laman Hidayatullah Sulsel.

Dari silaturrahim yang terus terjalin ini, akan menguatkan kerja kerja dakwah dan pelayanan umat di kawasan. Dakwah DPD Hidayatullah Torut saat ini dipusatkan di rumah pinjaman dan dari tokoh setempat Husain Murad dari hasil lobi Ust. Burhanuddin pengurus Hidayatullah Palopo.

“Rumah tersebut kami jadikan pusat pembinaan Muallaf di Kabupaten Toraja Utara,” jelasnya.

Sebelumnya, pengurus DPD Hidayatullah Torut pada Rabu (11/1/2023) juga melakukan silaturahmi dengan pengurus Muhammadiyah Torut.

Ust. Ikhsan selama ini memang telah bersinergi dengan pengurus Muhammadiyah Toraja. Ia turut mengisi khutbah di masjid Muhammadiyah yang juga membina muallaf di Toraja Utara.*/ Abu Fauzan

[Khutbah Jumat] Muhasabah Untuk Masa Depan

DIANTARA urgensi muhasabah adalah mempersiapkan hari esok yang lebih baik, karenanya, muhasabah adalah momentum untuk melakukan perubahan dari hal yang sangat mendasar, yaitu mereorientasi akan hakikat kehidupan manusia dan meneguhkan kembali tujuan hidup yaitu sebagai Abdullah dan khalifatullah.

Islam mengajarkan keyakinan terhadap hari akhir dan hari pembalasan. Islam menanamkan prinsip bahwa hidup di dunia ini hanya sementara. Kematian bukanlah akhir segalanya. Bahkan, kematian adalah awal hidup abadi yang sebenarnya, di negeri akhirat. Surga atau neraka, itulah tempat tinggal terakhir bagi setiap manusia.

Dapatkan teks Khutbah Jum’at Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) ini selengkapnya ditulis oleh Ust. Iwan Abdullah,M.Si, unduh sekarang:

Wakil Gubernur Edy Terima Audiensi DPW Hidayatullah Provinsi Riau

PEKANBARU (Hidayatullah.or.id) – Wakil Gubernur Riau (Wagubri) Edy Natar Nasution didampingi Kepala Biro Administrasi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekretariat Daerah Provinsi (Sekdaprov) Riau, Zulkifli Syukur menerima Audiensi Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Hidayatullah Riau di Kediaman, Senin, 16 Jumadal Akhirah 1444 H (9/1/2023).

Audiensi tersebut bertujuan mengundang sekaligus menyampaikan bahwa nantinya DPW Hidayatullah Riau akan menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) dan seminar nasional yang akan melibatkan para dai-dai yang ada di Provinsi Riau.

“Tentu kita berharap dengan apa yang dilaksanakan nantinya bisa membuahkan hasil yang bagus dalam memberikan pemahaman-pemahaman terhadap dai-dai yang memberikan pendidikan atau pemahaman kepada masyarakat tentang ilmu agama”, ujar Wagubri.

Wagubri Edy Nasution juga menyampaikan bahwa keberadaan organisasi keagamaan harus dirasakan oleh masyarakat sehingga memberikan manfaat, karena meningkatkan kesadaran masyarakat seperti berzakat dan lain sebagainya merupakan tanggung jawab bersama, baik Pemerintah maupun ormas-ormas yang ada.

“Dampak dari meningkatkan kesadaran masyarakat tersebut tentunya kita akan saling memberi manfaat,” ungkapnya seperti dinukil dari laman Pemprov Riau.

Ketua DPW Hidayatullah Riau, Suheri Abdullah, mengucapkan terima kasih kepada Wakil Gubernur Riau yang telah menyempatkan waktu dalam kesibukannya untuk menerima audiensi tersebut.

Suheri mengatakan bahwa secara umum organisasi Hidayatullah sudah termasuk ormas terbesar ketiga setelah NU dan Muhammadiyah.

Ia menceritakan, organisasi ini masuk ke Provinsi Riau tahun 1989, tepatnya di Dumai dengan merintis melalui arahan dari pusat pada masa itu hingga saat ini sudah ada di 8 Kabupaten/Kota se Provinsi Riau.

“Saat ini juga sudah memiliki 3 pondok pesantren di antaranya Dumai, Pekanbaru, dan Kampar”, tambahnya lagi.

Disampaikan Suheri Abdullah, secara umum program utama DPW Hidayatullah Riau ialah tentang dakwah dengan mengusung sebuah program kegiatan pendidikan sebagai upaya untuk melanjutkan estafet sesuai arahan pimpinan pusat. Selain itu juga mengembangkan ekonomi keuangan.

“Dalam menjalankan perannya, DPW Hidayatullah Riau ingin memberi kontribusi sesuai kapasitas yang dimiliki untuk kemajuan umat agar lebih baik, terutama dibidang keagamaan, terutama tarbiyah, dakwah dan ekonomi keuangan”, tutupnya.*/Yacong B. Halike

Terus Teguhkan Kiprah untuk Lahirkan Generasi Umat yang Berkualitas

KENDAL (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, Lc, MA mengingatkan bahwa pekerjaan mengajak kepada kebaikan, petunjuk hidayah, dan perbaikan kualitas umat merupakan hal prioritas yang tak boleh berhenti dilakukan. Hal inilah menurutnya yang sejatinya menjadi muatan utama gerakan dakwah Hidayatullah, yakni melahirkan generasi yang berkualitas.

“Hidayatullah bekerja untuk melahirkan generasi yang berkualitas, yakni yang berilmu, beriman, dan beramal,” katanya saat menyampaikan taujih dalam rangkaian Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Jawa Tengah yang digelar di Kampus Hidayatullah Kendal, Jalan Raya Soekarno-Hatta, Mannggisan, Langenharjo, Kecamatan Kendal, beberapa waktu lalu.

Menurut Nashirul, lahirnya generasi berkualitas yang berilmu, beriman, dan gemar beramal shaleh untuk kemaslahatan, lahir dari halaqah halaqah yang terus terbina.

Ia menyebutkan, setidaknya ada 4 fungsi halaqah yang hendaknya harus terus dikuatkan dan disegar segarkan. Pertama, halaqah adalah Wadah Jamaah, yakni menjadi tempat berkumpulnya pribadi-pribadi dalam satu kesatuan visi.

Kedua, halaqah adalah Wadah Tarbiyah untuk membentuk pribadi muslim yang paripurna dalam segala aspek baik dari sisi aqidah, akhlak, ibadah, intelektual, fisikal, managerial, dan sosial kemasyarakatan.

Fungsi halaqah ketiga, terang Nashirul, adalah sebagai Wadah Dakwah. Yakni, medium untuk menggerakkan dakwah di masyarakat.

“Semakin kuat gerakan tarbiyah semakin kuat pula gerakan dakwah, dan kekuatan dakwah yang paling kuat adalah dakwah fardhiyah,” kata Nashirul.

Kemudian, fungsi halaqah yang keempat adalah sebagai Wadah Wasilah untuk menguatkan pelayanan dan pemberdayaan umat. Melalui fungsi ini, jelasnya, halaqah mensinergikan beragam kekuatan ekonomi dari para anggota halaqah sehingga menjadi pergerakan ekonomi keummatan yang kuat untuk terbangunnya peradaban mulia.

Lebih jauh ia menjelaskan, Rasulullah hadir dengan misi kenabian yakni membangun peradaban mulia yang penuh berkah. Lantas sepeninggal beliau, tugas mulia ini diwariskan kepada para sahabat, tabiin, dan seterusnya hingga para ulama yang hadir di tengah-tengah kita.

“Melalui para ulama-lah para kader ditempa sehingga menjadi pemimpin-pemimpin yang istimewa,” imbuhnya.

Dalam pada itu, ia menekankan, dengan fungsinya yang integratif tersebut, maka halaqah diharapkan menjadi wadah latihan kepemimpinan. Dari sini ia kemudian mewujud secara kolosal dari level yang paling rendah hingga level paling tinggi untuk melanjutkan visi kenabian. “Hidayatullah hadir sebagai wasilah untuk mewujudkan misi tersebut,” katanya.

Ia berpesan, kader harus selalu melakukan konsolidasi jatidiri, organisasi, dan wawasan untuk mewujudkan visi dan misi organisasi. Sebagai kader Hidayatullah, tegasnya, jatidiri adalah prinsip dasar yang harus dianut. “Jatidiri harus diinternalisasi dan ditanamkan agar bisa menjadi guidance,” ungkapnya.

Alumni ISTAC Malaysia ini menjelaskan, dalam perjalanan organisasi, Sistematika Wahyu menjadi pola gerakan tarbiyah dan dakwah Hidayatullah. Gerakan ini diawali dengan meluruskan syahadat, karena syahadat merepresentasikan ketauhidan yang menjadi modal utama dalam berorganisasi.

“Kader juga harus sabar dalam menghadapi fitnah, tuduhan-tuduhan, karena itu menjadi bagian dari ujian Allah,” pesannya.

Ia menambahkan, berbagai proses tersebut harus senantiasa diperkuat dengan azimat Al Muzzammil, karena praktek-praktek ibadah yang tersurat maupun tersirat dalam surat Al Muzzammil mampu membangun akhlak sebagai tarbiyah ruhiyah.

Al Muzzammil adalah bekal untuk tandang ke gelanggang, menjalankan risalah-risalah kenabian melalui gerakan dakwah, yang pada akhirnya menghadirkan masyarakat yang berjamaah,” tandasnya.*/Eviq Erwiandy

Keluarga Samawa, Modal untuk Reuni Di Surga

Oleh Sholih Hasyim, S.Sos.I

MAHA SUCI Allah Subhanahu Wata’ala yang telah menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan. Berjenis laki-laki dan perempuan. Ada kutub positif dan kutub negatif. Ada siang dan malam. Suka dan duka. Sedih dan gembira. Jika bisa dikelola dengan baik, perputaran dan pergiliran dua keadaan yang saling kontradiktif, kehidupan manusia menjadi dinamis dan romantis.

Allah Subhanahu Wata’ala juga telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS. Yasin (36) : 36)

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. Di antara tanda-tanda keagungan Allah ialah, Dia menciptakan bagimu, dari jenismu sendiri, pasangan-pasangannya, supaya kamu hidup tenteram bersamanya, dan dijadikan Allah bagimu cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya dalam hal itu ada tanda-tanda bagi orang-orang yang mau berfikir.” (QS. Ar Rum (30) : 20-21).

Mitsaqan Ghalizha

Ayat ini ditempatkan Allah Subhanahu Wata’ala pada rangkaian ayat tentang tanda-tanda kebesaranNYA di alam semesta – tegaknya langit, terhamparnya bumi, turunnya air hujan, gemuruhnya suara halilintar, dan keajaiban penciptaan manusia. Dengan ayat di atas Allah Subhanahu Wata’ala ingin menegaskan dan mengajarkan kepada kita betapa Ia dengan sengaja menciptakan kekasih yang menjadi pasangan/pendamping setia hidup manusia.

Diciptakan Allah Subhanahu Wata’ala bumi dengan segala yang ada di atasnya – samudera luas, bukit tinggi, rimba belantara – untuk kebahagiaan manusia. Diedarkan Allah Subhanahu Wata’ala mentari, rembulan, gugusan bintang-gemintang, dijatuhkan-Nya hujan, ditumbuhkan-Nya pepohonan, dan disirami-Nya tetanaman, semua karunia itu untuk kebahagiaan manusia.

Tetapi, Allah Subhanahu Wata’ala Yang Maha Mengetahui memberikan lebih daripada itu. Diketahui-Nya getar dada kerinduan hati. Yaitu bersanding sehidup semati dengan si jantung hati. Betapa sering kita memerlukan seseorang yang mau mendengar bukan saja kata yang diucapkan, melainkan juga jeritan hati yang tidak terungkapkan, yang bersedia menerima segala perasaan – tanpa pura-pura, prasangka, dan pamrih. Karena itu diciptkan-Nya seorang kekasih.

Allah Subhanahu Wata’ala tahu, pada saat kita diharu biru, diempas ombak, diguncang badai, dan dilanda duka, kita memerlukan seseorang yang mampu meniupkan kedamaian, mengobati luka, menopang tubuh yang lemah, dan memperkuat hati – tanpa pura-pura, prasamgka, dan pamrih. Karena itu diciptakan-Nya seorang kekasih. Allah Subhanahu Wata’ala tahu, kadang-kadang kita berdiri sendirian lantaran keyakinan atau mengejar impian. Kita memerlukan seseorang yang bersedia berdiri di samping kita tanpa pura-pura, prasangka dan pamrih. Karena itu diciptakan-Nya seorang kekasih.

Supaya hubungan antara pencinta dan kekasihnya itu menyuburkan ketentraman, cinta, dan kasih sayang, Allah Subhanahu Wata’ala menetapkan suatu ikatan suci, yaitu aqad nikah. Dengan ijab (penyerahan) dan qobul (penerimaan) terjadilah perubahan besar: yang haram menjadi halal, yang masiat menjadi ibadat, kekejian menjadi kesucian, dan kebebasan menjadi tanggung jawab. Nafsu pun berubah menjadi cinta (mawaddah) dan kasih (rahmah) dan ulfah (hubungan yang jinak).

Begitu besarnya perubahan itu sehingga Al Quran menyebut aqad nikah sebagai mitsaqan ghalizha (perjanjian yang berat). Hanya tiga kali kata ini disebut di dalam Al Quran.

Pertama, ketika Allah Subhanahu Wata’ala membuat perjanjian dengan para Nabi – Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad saw.

وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنكَ وَمِن نُّوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَأَخَذْنَا مِنْهُم مِّيثَاقاً غَلِيظاً

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, musa, dan Isa putera Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang berat.” (QS: Al Ahzab (33): 7).

Kedua, ketika Allah Subhanahu Wata’ala mengangkat Bukit Thur di atas kepala bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala

وَرَفَعْنَا فَوْقَهُمُ الطُّورَ بِمِيثَاقِهِمْ وَقُلْنَا لَهُمُ ادْخُلُواْ الْبَابَ سُجَّداً وَقُلْنَا لَهُمْ لاَ تَعْدُواْ فِي السَّبْتِ وَأَخَذْنَا مِنْهُم مِّيثَاقاً غَلِيظاً

“Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina karena (mengingkari) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan Kami perintahkan kepada mereka : Masukilah pintu gerbang itu sambil bersujud, dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka : Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang berat.” (QS: An Nisa (4) : 154).

Ketiga, ketika Allah Subhanahu Wata’ala menyatakan hubungan pernikahan (QS. An Nisa (4) : 21).

وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنكُم مِّيثَاقاً غَلِيظاً

“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.”

Mitsaqan ghalizha berarti kita sepakat untuk menegakkan dinul islam dalam rumah, sepakat untuk membina rumah tangga sakinah, mawaddah dan rahmah serta ulfah. Sepakat meninggalkan masiat. Sepakat saling mencintai karena Allah Subhanahu Wata’ala. Menghormati dan menghargai. Saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saling menguatkan keimanan. Saling menasihati dalam menetapi kebenaran dan saling memberi nasihat dengan kasih sayang. Saling setia dalam suka dan duka, kefakiran dan kekayaan, sakit dan sehat.

Pernikahan juga bermakna sepakat meniti hari demi hari dengan kebersamaan. Sepakat untuk saling melindungi dan menjaga. Saling memberikan rasa aman. Saling mempercayai dan menutup aib. Saling mencurahkan dan menerima keluhan dan perasaan. Saling berlomba dalam beramal. Saling memaafkan kesalahan. Saling menyimpan dendam dan amarah.

Pernikahan berarti pula sepakat untuk tidak melakukan penyimpangan. Tidak saling menyakiti perasaan dan pisik. Juga sepakat untuk mengedepankan sikap lemah lembut dalam ucapan, santun dalam pergaulan, indah dalam penampilan, mesra dalam mengungkapkan keinginan.

Ijab Qabul, Bukan Peristiwa Kecil

Karena itu peristiwa aqad nikah bukanlah kejadian kecil di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala. Akad nikah sama tingginya dengan perjanjian para rasul, sama dahsyatnya dengan perjanjian bani Israil di bawah bukit Thursina yang bergantung diatas kepala mereka.

Peristiwa aqad nikah tidak saja disaksikan oleh kedua orangtua, sudara-saudara, dan sahabat-sahabat, sanak famili, handai taulan, tetangga, tetapi juga disaksikan oleh para malaikat di langit yang tinggi, dan terutama sekali disaksikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala Penguasa alam semesta.

Bila perjanjian ini disia-siakan, diceraikan ikatan tali hubungan yang sudah terbuhul, diputuskan janji setia yang telah terpatri, kita tidak saja harus bertanggung jawab kepada semua yang hadir menyaksikan peristiwa yang berkesan itu, tetapi juga bertanggung jawab di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala Swt.

وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلىَ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُوْلَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا (رواه البخاري ومسلم)

“Laki-laki adalah pemimpin di tengah keluarganya, dan ia harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya. Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, dan ia harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya.” (HR. Bukhari Muslim).

Kata Rasulullah, “Yang paling baik di antara kamu adalah yang paling baik dan paling lembut terhadap keluarganya.” (Al Hadits).

Mengapa Kita Memelihara Ikatan Itu ?

Mengapa Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya mewasiatkan agar kita memelihara aqad nikah yang sakral ini? Mengapa kebaikan manusia diukur dari cara dia memperlakukan keluarganya? Mengapa suami dan isteri harus mempertanggungjawabkan peran yang dilaksanakan di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala?

Jawabannya sederhana : Karena Allah Subhanahu Wata’ala Maha Mengetahui bahwa kebahagiaan dan penderitaan manusia sangat tergantung pada hubungan mereka dengan orang-orang yang dicintai mereka, yakni dengan keluarganya. Bila di dunia ini ada surga, kata Marie von Ebner Eschenbach, surga itu adalah pernikahan yang bahagia. Tetapi, bila di dunia ini ada neraka, neraka itu adalah pernikahan yang gagal. Para psikolog menyebutkan persoalan rumah tangga sebagai penyebab stress yang paling besar dalam kehidupan manusia.

Dan ketika ikatan suci tersebut dikhianati, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan berlepas tangan. Dia berada dipihak pada saat terjadi syirkah dalam kebaikan.

Hadits riwayat Abu Daud dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW berkata :

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُولُ : أَنَا ثَالِثٌ الشَرِيكَينِ مَالَم يَخُن أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ، فَإِذَاخَانَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ خَرَجتُ مِن بَينِهِمَا

“Allah swt. berfirman : ‘Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bersyarikat selama salah satu pihak tidak mengkhianati pihak yang lain. Jika salah satu pihak telah berkhianat, Aku keluar dari mereka.” (HR. Abu Daud, yang dishahihkan oleh al-Hakim, dari Abu Hurairah)..

Karena itulah, Islam dengan penuh perhatian mengatur urusan rumah tangga. Sebuah ayat pernah diturunkan dari langit hanya untuk mengatur urusan pernikahan antara Zainab dan Zaid bin Haritsah. Sebuah surat turun untuk mengatur urusan rumah tangga seluruh kaum muslimin. Ribuan tahun yang silam, di Padang Arafah, di hadapan ratusan ribu ummat islam yang pertama, Rasulullah saw. menyampaikan khotbah perpisahan.

اَيُّهَا النَّاسُ فَا تَّقُوا اللهَ فِي النِّسَاءِ فَاِنَّكُمْ اَخَذْتُمُوْهُنَّ بِأَمَانَةِ اللهِ وَاسْتَحْلَلْكُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ , اِنَّ لَكُمْ عَلىَ نِسَائِكُمْ حَقًّا , وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقًّا أَلاَ وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَاِنَّهُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُمْ , لاَ يَمْلِكُنَّ ِلاَنْفُسِهِنَّ شَيْئًا وَلَيْسَ تَمْلِكُوْنَ مِنْهُنَّ شَيْئًا غَيْرَ ذَلِكَ فَاِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلاً

“Wahai manusia, takutlah kepada Allah Subhanahu Wata’ala akan urusan wanita. Sesungguhnya kamu telah mengambil mereka sebagai istri dengan amanat Allah Subhanahu Wata’ala. Kami halalkan kehormatan mereka dengan kalimah Allah Subhanahu Wata’ala. Sesungguhnya kamu mempunyai hak atas istrimu, dan istrimu pun mempunyai hak atasmu. Ketahuilah, aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik terhadap istri kalian. Mereka adalah penolong kalian. Mereka tidak memilih apa-apa untuk dirinya, dan kamu pun tidak memilih apa-apa dari diri mereka selain itu. Jika mereka patuh kepadamu, janganlah kamu berbuat aniaya terhadap mereka.” (HR. Muslim dan Turmudzi).

Menjadi Imam Yang Adil

Saudaraku, dengan izin Allah Subhanahu Wata’ala jualah Anda sampai pada saat yang paling indah, paling bahagia, tetapi juga paling mendebarkan dalam kehidupan Anda. Saat paling indah, sebab mulai sejak sekarang cinta tidak lagi berbentuk khayalan dan impian. Saat yang paling bahagia, sebab akhirnya Anda berhasil mendampingi wanita yang Anda cintai. Saat yang paling mendebarkan, sebab mulai saat ini Anda memikul amanat untuk menjadi pemimpin (qowwam) keluarga.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّهُ وَاللاَّتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُواْ عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلِيّاً كَبِيراً

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah Subhanahu Wata’ala telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu maka wanita yang salehah, ialah yang taat kepada Allah Subhanahu Wata’ala lagi memelihara diri [tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya] ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah Subhanahu Wata’ala telah memelihara (mereka) [mempergauli istrinya dengan baik]. wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya [meninggalkan rumah tanpa izin suami], maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. An Nisa (4) : 34)

Menyusahkannya, maksudnya untuk memberi peljaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. bila cara pertama telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.

Kalau pada saat ini dada Anda berguncang, darah Anda berdebur, dan suara Anda bergetar, itu adalah pertanda Anda tengah memasuki babak baru dalam kehidupan Anda.

Dahulu Anda adalah manusia bebas yang boleh pergi sesuka Anda. Tetapi sejak hari ini Anda belum juga pulang setelah larut malam, di rumah Anda ada seorang wanita yang tidak bisa tidur karena mencemaskan Anda.

Kini, bila berhari-hari Anda tidak pulang tanpa berita, di kamar Anda ada seorang perempuan lembut yang akan membasahi bantalnya dengan linangan air mata. Dahulu bila Anda mendapat musibah, Anda hanya mendapat ucapan ‘turut berduka cita’ dari sahabat-sahabat Anda.

Tetapi kini, seorang istri akan bersedia mengorbankan apa saja agar Anda meraih kembali kebahagiaan Anda. Anda sekarang mempunyai kekasih yang diciptakan Allah Subhanahu Wata’ala untuk berbagi suka dan duka, berbagi rasa dan empati dengan Anda.

Saudaraku, wanita yang duduk di samping Anda bukanlah segumpal daging yang dapat Anda kerat dengan tidak semena-mena, dan bukan pula budakm belian yang dapat Anda perlakukan sewenang-wenang. Ia adalah wanita yang dianugerahkan Allah Subhanahu Wata’ala untuk membuat hidup Anda lebih indah dan lebih bermakna. Ia adalah amanat Allah Subhanahu Wata’ala yang akan Anda pertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

اِثْنَانِ يُعَجِّلُهُمَا اللهُ فِي الدُّنْيَا اَلْبَغْيُ وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ

“Ada dua dosa yang akan didahulukan Allah Subhanahu Wata’ala siksanya di dunia ini juga, yaitu al baghyu dan durhaka kepada orangtua.” (HR. Turmudzi, Bukhari dan Thabrani).

Al baghyu adalah berbuat sewenang-sewenang, berbuat zalim dan menganiaya orang lain. Dan al-baghyu yang paling dimurkai Allah Subhanahu Wata’ala ialah berbuat zalim terhadap istri sendiri. Termasuk al-baghyu ialah menterlantarkan istri, menyakiti hatinya, merampas kehangatan cintanya, merendahkan kehormatannya, mengabaikannya dalam mengambil keputusan, dan mencabut haknya untuk memperoleh kebahagiaan hidup bersama Anda. Karena itulah Rasulullah Saw. mengukur tinggi rendahnya martabat seorang laki-laki dilihat dari cara ia bergaul dengan istrinya.

مَا أَكْرَمَ النِّسَاءَ اِلاَّ كَرِيْمٌ وَمَاأَهَانَهُنَّ اِلاَّ لَئِيْمٌ

“Tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia. Tidak merendahkan wanita kecuali laki-laki yang rendah juga.”

“Laki-laki yang tidak sukses dalam mengendalikan keluarganya, membiarkannya berbuat maksiat, ia termasuk dayyus (bencong). Tidak akan masuk surga orang yang bencong (la yadkhulul jannata dayyusan).” (al-Hadits).

Rasulullah Muhammad adalah manusia yang paling mulia. Ia melayani keperluan istrinya, memasak, menyapu lantai, memerah susu, dan membersihkan pakaian, cerita Aisyah. Dia memanggil istrinya dengan gelaran yang baik. Ya humaira (wahai yang memiliki pipi kemerah-merahan).

Sepeninggal Rasulullah ada beberapa orang menemui Aisyah, memintanya agar menceritakan perilaku Rasulullah saw. Aisyah sesaat tidak menjawab pertanyaan itu. Air matanya berderai, kemudian dengan nafas panjang, Ia berkata :

كَانَ كُلُّ أَمْرِهِ عَجَبًا

(semua perilakunya mengagumkan).

Ketika didesak untuk menceritakan perilaku Rasul yang paling mempesona, Aisyah kemudian mengisahkan bagaimana Rasulullah yang mulia bangun di tengah malam dan meminta izin kepada Aisyah untuk shalat malam. Izinkan aku menyembah Tuhanku, ujar Rasulullah kepada Aisyah. Bayangkan, sampai shalat malam saja diperlukan izin istrinya. Disitu terhimpun kemesraan, kesucian, kesetiaan dan penghormatan.

Muliakan istri saudara sedemikian rupa sehingga kelak, bila Allah Subhanahu Wata’ala menakdirkan Anda meninggal dahulu, lalu kami tanyai istri Anda tentang perilaku Anda, ia akan menjawab seperti Aisyah : Ah ………… semua perilakunya indah, mengagumkan.

Menjadi Makmum Yang Taat

Saudariku, Rasulullah saw pernah bersabda :

وَلَوْ كُنْتُ اَ مِرًا اَحَدًا اَنْ يَسْجُدَ ِلاَحَدٍ لَاَمَرْتُ النِّسَاءَ اَنْ يَسْجُدْنَ لِاَزْوَاجِهِنَّ لِمَا جَعَلَ اللهُ لَهُمْ عَلَيْهِنَّ مِنَ الْحَقِّ

“Seandainya aku boleh memerintahkan manusia bersujud kepada manusia lain, akan aku perintahkan istri untu bersujud kepada suaminya karena besarnya hak suami yang dianugerahkan Allah Subhanahu Wata’ala atas mereka.” (HR. Abu Daud, Al Hakim, dan At Turmudzi)..

Tingginya kedudukan suami, juga digambarkan dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, beliau meengatakan,

أَنَّ رَجُلًا أَتَى بِابْنَةٍ لَهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ:
إِنَّ ابْنَتِي هَذِهِ أَبَتْ أَنْ تَتَزَوَّجَ، قَالَ : فَقَالَ لَهَا : أَطِيعِي أَبَاكِ قَالَ : فَقَالَتْ : لَا، حَتَّى تُخْبِرَنِي مَا حَقُّ الزَّوْجِ عَلَى زَوْجَتِهِ ؟ فَرَدَّدَتْ عَلَيْهِ مَقَالَتَهَا قَالَ : فَقَالَ : حَقُّ الزَّوْجِ عَلَى زَوْجَتِهِ أَنْ لَوْ كَانَ بِهِ قُرْحَةٌ فَلَحَسَتْهَا، أَوِ ابْتَدَرَ مَنْخِرَاهُ صَدِيدًا أَوْ دَمًا، ثُمَّ لَحَسَتْهُ مَا أَدَّتْ حَقَّهُ قَالَ : فَقَالَتْ : وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَا أَتَزَوَّجُ أَبَدًا قَالَ : فَقَالَ : لَا تُنْكِحُوهُنَّ إِلَّا بِإِذْنِهِنَّ

“Seseorang datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disertai anak perempuannya. Kemudian dia berkata, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya anakku ini, dia enggan untuk menikah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada perempuan tersebut, “Patuhilah bapakmu.”
Perempuan itu berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebanaran, aku tidak mau menikah sampai Engkau mengabarkan kepadaku apa hak suami yang wajib ditunaikan istri.” Dia terus mengulang-ulang permintaan tersebut.
Rasulullah bersabda, “Hak suami yang wajib ditunaikan istri itu bagaikan jika suami memiliki luka, lalu sang istri menjilati luka tersebut, atau jika dari kedua lubang hidung suami keluar nanah atau darah, kemudian sang istri menjilatinya, belumlah dinilai memenuhi hak suami.”
Perempuan itu berkata, “Demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebanaran, aku tidak akan menikah selamanya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada sang ayah, “Janganlah Engkau menikahkannya, kecuali dengan seijinnya.”
(HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf, 4: 303; Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra, 7: 291; An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra, 3: 383)..

Para istri yang taat kepada suami inilah yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai wanita terbaik (khairun nisa).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan,

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ ؟ قَالَ: الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِيمَا يَكْرَهُ فِي نَفْسِهَا، وَلَا فِي مَالِهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang siapakah wanita yang paling baik?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Yaitu para wanita yang membuat senang ketika dipandang, taat jika diperintah sang suami, tidak menyelisihi suami dalam perkara-perkara yang dibenci suami, baik berkaitan dengan dirinya (istri) atau hartanya (suami).” (HR. Ahmad 2: 251, dengan sanad yang shahih).

Banyak istri yang menuntut agar suaminya membahagiakan mereka. Jarang terpikirkan bagaimana ia berupaya membahagiakan suami. Mawaddah dan rahmah tumbuh berkembang dalam suasana memberi bukan mengambil. Cinta adalah sharing – saling berbagi.

Saudariku, Anda boleh memberi apa saja yang Anda miliki kepada pasangan Anda. Tetapi, bagi suami, tiada suatu pemberian istri yang paling membahagiakan selain hati yang selalu siap berbagi rasa, berbagi kesenangan dan penderitaan.

Di luar rumah ia menemukan wajah-wajah tegar, mata-mata tajam, ucapan kasar, pergumulan hidup yang berat, digoncangkan dengan berbagai kesulitan. Ia ingin kembali ke rumah, disitu ditemukan wajah yang ceria, penerimaan yang tulus, ucapan yang lembut, pandangan mata yang sejuk, yang bersumber dari keteduhan kasih sayang Anda. Suami saudari ingin mencairkan seluruh beban jiwanya dengan kehangatan air mata yang keluar dari telaga kasih sayang Anda.

خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِيْ اِذَا نَظَرْتَ اِلَيْهَا سَرَّتْكَ وَاِذَا اَمَرْتَهَا اَطَاعَتْكَ وَاِذَا غِبْتَ عَنْهَا حَفِظَتْكَ فِي نَفْسِهَا وَمَالِكَ

“Istri yang paling baik ialah yang membahagiakanmu bila kamu memandangnya, yang mematuhimu bila kamu menyuruhnya, dan memelihara kehormatan dirinya dan hartamu bila kamu tidak ada.” (HR. Thabrani).

Allah Subhanahu Wata’ala membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah Subhanahu Wata’ala; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam).” (QS. At-Tahrim (66) : 10).

Artinya, nabi-nabi sekalipun tidak dapat membela isteri-isterinya atas azab Allah Subhanahu Wata’ala apabila mereka menentang agama.

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِندَكَ بَيْتاً فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ

“Dan Allah Subhanahu Wata’ala membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah Aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah Aku dari kaum yang zhalim. Dan (Ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, Maka kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.” (QS. At-Tahrim (66) : 11-12).

Surga itu terletak di bawah telapak kaki kaum ibu, kata Rasulullah. Apakah rumah tangga yang Anda bangun hari ini akan menjadi surga dan neraka tergantung Anda sebagai ratu rumah tangga (rabbatul bait). Rumah tangga akan menjadi surga (baitii jannatii) bila di dalamnya ada hiasan kesabaran, kesetiaan dan kesucian.

“(Wahai kaum wanita), ingatlah ayat-ayat Allah Subhanahu Wata’ala dan al-hikmah yang dibacakan di rumah-rumah kamu. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala Maha Penyayang dan Maha Mengetahui.” (QS. Al Ahzab (33) : 34).

Saudariku, kelak bila perahu rumah tangga Anda bertubrukan dengan kerikil tajam, bila impian ketika remaja menjelma menjadi kenyataan yang pahit, bila bukit-bukit pulau idaman di guncang badai, kami ingin melihat Anda tetap teguh, tegar di samping suami Anda. Anda tetap tersenyum walaupun langit berawan tebal.

Seraplah haul dan kekuatan Allah Subhanahu Wata’ala, dengan bangun malam. Jika pada saat yang bersamaan suami Anda mengaminkan doa yang Anda panjatkan, insya Allah Subhanahu Wata’ala harapan Anda akan segera dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Tiada pemandangan yang terindah bagi suami Anda kecuali Anda berdoa dengan suara lirih untuk kebahagiaannya.

Aisyah pernah cemburu kepada kepada Khadijah, dan berkata :

مَا غِرْتُ مِنِ امْرَاَةٍ مَا غِرْتُ مِنْ خَدِ يْجَةَ

“Aku tidak pernah menaruh cemburu terhadap seorang perempuan sebagaimana aku cemburu terhadap Khadijah.” Rasulullah senantiasa terkenang dengan istri pertamanya itu, sekalipun secara fisik telah berpisah. Beliau bersabda :

اَمَنَتْ بِيْ اِذْ كَذِبَنِي النَّاسُ , وَوَاسَتْنِيْ بِمَا لِهَا اِذَ حَرَمَنِي النَّاسُ

“Khadijah beriman kepadaku pada saat orang mendustakan daku. Dan Khadijah membantuku dengan harta kekayaannya pada saat orang menghentikan pertolongan kepadaku.”

Saudariku, seandainya ditakdirkan Allah Subhanahu Wata’ala Anda meninggal dunia lebih dahulu, lalu kami menemui suami Anda dan kami tawarkan pengganti Anda, pada saat itu suami Anda akan marah seperti Rasulullah yang mulia berkata, ketika Aisyah merasa cemburu dengan Khadijah. Ia berkata: “Demi Allah Subhanahu Wata’ala, tidak ada yang dapat menggantikan dia. Dia yang memperkuat hatiku ketika aku hampir berputus asa. Dia mempercayaiku ketiak semua orang menjauhiku. Dia memberikan ketulusan hati ketika semua orang mengkhianatiku.”

اَيُّمَا امْرَاَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتْ اَلْجَنَّةَ

“Bila seorang wanita meninggal dunia, sedangkan suaminya ridha sekali dengan tingkah lakunya ketika ia masih hidup, maka wanita itu masuk surga.”

Jika suami dalam keluarga berhasil menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana, disupport dengan sami’na wa ‘atha’na istri (sendiko dhawuh), dan diteladani oleh anak keturunannya, mereka akan reuni di surga, kelak.

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

“dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath Thur (52) : 21)

Alhasil, anak cucu mereka yang beriman itu ditinggikan Allah Subhanahu Wata’ala derajatnya sebagai derajat bapak- bapak mereka, dan dikumpulkan dengan bapak-bapak mereka dalam surga. Itulah sebaik-baiknya reuni di surga.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

جَنَّٰتُ عَدۡنٍ يَدۡخُلُونَهَا وَمَن صَلَحَ مِنۡ ءَابَآئِهِمۡ وَأَزۡوَٰجِهِمۡ وَذُرِّيَّٰتِهِمۡ ۖ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَدۡخُلُونَ عَلَيۡهِم مِّن كُلِّ بَابٍ

“(yaitu) surga-surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;”(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 23)

Marilah arahkan pasangan kita atau kita antarkan pernikahan kita untuk mengayuh kapal rumah tangga dengan bekal taqwa. Semoga dengan tiket dari Allah Subhanahu Wata’ala ini akan menyelamatkan keduanya dari gelombang yang akan menerpa dinding-dinding kapal (QS. Al Baqoroh : 197).

Selamat berlabuh untuk menempuh batera kehidupan baru, semoga selamat dan bahagia sampai pulau idaman.*

*) penulis adalah pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Kudus

Dakwah Hidayatullah Dijiwai Semangat Saling Memahami dan Mengasihi

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. H. Nashirul Haq, Lc, MA mengatakan dakwah Hidayatullah merupakan gerakan universal yang dijiwai oleh semangat untuk saling memahami (tafahum) dan saling mengasihi (taawun).

“Oleh sebab itu, dakwah Hidayatullah juga menyasar kepada non muslim sebagai penerapan perintah untuk ber-amar ma’ruf,” kata Nashirul.

Hal itu disampaikan Nashirul saat membuka acara forum Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Departemen Rekrutmen Anggota DPP Hidayatullah di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Rabu, 18 Jumadal Akhirah 1444 H (11/1/2023).

Dakwah sebagai gerakan universal yang dijiwai oleh semangat tafahum dan taawun akan menegasikan persepsi keliru terhadap Islam yang acapkali mendapat stigma buruk terutama karena pengaruh pemberitaan sepihak di media.

Demikian pula, terang Nashirul, dakwah yang dijiwai semangat mencerahkan, memahami, dan mengasihi ini juga akan meluruskan keawaman sebagian masyarakat terhadap Hidayatullah yang menganut nilai nilai gerakan yang inklusif dan kohesif seraya teguh pada landasan fundamen Islam (wasathiyah).

“Dakwah yang universal akan menghilangkan kesalahpahaman,” katanya.

Dia menambahkan, Allah SWT dalam firman-Nya dalam Al Quran surah Ali Imran ayat 104 dengan tegas menyerukan kaum muslimin untuk melakukan amar ma’ruf hahi munkar.

Ia menjelaskan, amar ma’ruf adalah seruan dakwah universal termasuk kepada non muslim. Sementara, seruan untuk nahi munkar adalah dakwah yang menyasar kaum muslimin termasuk yang telah tecerahkan agar tidak terjerumus pada kesesatan, makin kokoh imannya dan kian mantap kekaderanya.

Forum Focus Group Discussion mengangkat tema “Pendekatan Efektif Kepada Pelajar, Pemuda, Mahasiswa untuk Menjadi Anggota Aktif Hidayatullah” ini menghadirkan narasumber Ketua Wantim Hidayatullah Ust. H. Hamim Thohari, Kabid Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi DPP Hidayatullah Asih Subagyo, dan dipandu oleh Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah Ust. Abdul Ghofar Hadi.*/Yacong B. Halike

Keberadaan Hidayatullah Beri Banyak Sumbangsih Pengembangan Umat

0

POHUWATO (Hidayatullah.or.id) — Keberadaan dan kiprah Hidayatullah sudah cukup lama dan telah memberikan banyak sumbangsih dalam pengembangan umat Islam. Demikian disampaikan Bupati Pohuwato, Saipul A. Mbuinga, saat membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) dan Silaturahmi Dai Hidayatullah se-Provinsi Gorontalo yang berlangsung di aula Pondok Pesantren Hidayatullah, Marisa, Gorontalo, Jum’at, 13 Jumadal Akhirah 1444 H (06/01/2023).

Acara itu dihadiri Kepala Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah DPP Hidayatullah Dr. Nanang Nur Patria, M.Pd, Ketua DMW Hidayatullah Gorontalo Ust. H. Drs. Abu Bakar Muis, S.Sos.I, Ketua DPW Ust. Syafruddin, S.Sos.I, Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Marisa Ust. Abdul Wahid Patangari,M.Si, Ketua Perwakilan BMH Gorontalo, Hamdillah, SE.

“Keberadaan dan kiprah Hidayatullah sudah cukup lama di daerah ini dan telah memberikan banyak sumbangsih dalam pengembangan umat Islam di Pohuwato,” kata bupati Saipul.

Dia mengatakan, pihaknya merasa bersyukur sekaligus berbangga atas kontribusi Hidayatullah bagi pengembangan dakwah, pendidikan, dan amal-amal sosial di tengah-tengah umat islam khususnya di Kabupaten Pohuwato.

Bupati Saipul menyampaikan ucapan selamat datang di Bumi Panua kabupaten Pohuwato kepada peserta rapat kerja, dan peserta Silaturahmi Dai Hidayatullah se-Provinsi Gorontalo.

“Kami berharap melalui rapat kerja dan silaturahmi ini kita dapat wujudkan umat muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Diharapkan pula dapat memberikan pencerahan rohaniah sekaligus memberikan dampak positif terhadap kualitas keimanan dan mempererat ukhuwah islamiah bagi umat Islam”, kata Saipul yang dilansir laman Pemkab Pohuwato.

Disisi lain kata bupati, kegiatan ini menjadi momentum membawa angin segar dan pencerahan bagi perkembangan pembangunan daerah dan masyarakat untuk selalu bergandengan tangan menyatukan visi dan misi memperkuat sinergitas dan harmonisasi yang lebih baik lagi baik antar sesama umat islam maupun umat Islam dengan pemerintah dalam bingkai negara kesatuan republik indonesia yang kita cintai.

Selanjutnya dengan rapat kerja ini kiranya, dia berharap, bisa menghasilkan program kerja Hidayatullah Provinsi Gorontalo yang mampu menguatkan mainstream dakwah dan tarbiyah serta mampu memberikan ide-ide untuk kepentingan umat.

“Sehingga dapat membangun peradaban Islam khususnya di provinsi Gorontalo sebagai daerah Serambi Madinah, dimana masyarakatnya memegang teguh prinsip adat bersendikan syara’ dan syara’ bersendikan Al Quran,” imbuhnya.

Menurut Bupati Saipul Mbuinga, Hidayatullah terterima dengan baik dan telah menyatu dengan warga. Ini berarti umat Islam sangat membutuhkan kontribusi Hidayatullah dalam pembinaan umat islam di Kabupaten Pohuwato tercinta.

Demikian pula hubungan baik para ustadz, guru-guru, dan jajaran Hidayatullah Kabupaten Pohuwato dengan pemerintah daerah selama ini berjalan baik dan harmonis.

“Sehingga kami menganggap bahwa Hidayatullah adalah bagian yang tak terpisahkan yang selalu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah daerah,” pungkas Bupati Saipul.*/Iwan Karim

Inilah Tanda Menipisnya Iman kepada Hari Akhir

IMAN adalah hakikat ruhiyah yang ghaib, tidak memiliki wujud fisik yang dapat diraba. Namun, karena ia sebenarnya merupakan “sesuatu”, maka ia memiliki tanda-tanda yang bisa menunjukkan kehadiran maupun absennya.

Menurut Al-Qur’an, kesediaan seseorang untuk mengekor pada bisikan-bisikan setan, baik dari golongan jin maupun manusia, serta keridhaan kepadanya sebenarnya merupakan pertanda lemahnya keimanan kepada Hari Akhir. Demikian pula sebaliknya.

Renungkanlah, firman Allah ini: “Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan jin. Sebagian mereka membisikkan perkataan-perkataan yang indah-indah kepada sebagian yang lain untuk menipu. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya. Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan itu. Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu; mereka merasa senang kepadanya; dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (setan) kerjakan.” (Qs. al-An’am: 112-113)

Demikianlah kenyataannya. Jika bukan karena iman yang lemah, tidaklah mungkin manusia rela dan senang mengekor bisikan setan, bahkan “berjuang” untuk menegakkannya. Sebab, sudah bukan rahasia lagi bahwa seluruh bisikannya hanyalah bayangan fatamorgana, yang terlihat indah dan menggiurkan, namun sebenarnya kosong tak bermakna.

Allah berfirman, “Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain tipuan belaka.” (Qs. An-Nisa’: 120)

Terkait ayat di atas, Imam Ibnu Katsir berkata, “Ini adalah cerita (dari Allah) tentang fakta sebenarnya. Sebab, setan suka menjanjikan dan membangkitkan angan-angan kosong dalam benak para pengikutnya. Dikesankannya bahwa merekalah para pemenang yang berjaya di dunia dan akhirat, padahal sebenarnya ia telah membohongi dan menipu mereka. Oleh karenanya, Allah berfirman: “…padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain tipuan belaka.”

Keimanan kepada Hari Akhir bukanlah perkara sepele. Ia adalah pondasi akidah Islam yang paling pokok, setelah keimanan kepada Allah. Dalam Al-Qur’an, tidak kurang 20 kali keimanan kepada Hari Akhir dirangkai bersama keimanan kepada Allah, dimana pada sebagian besarnya tanpa menyebut rukun-rukun yang lain.

Misalnya, dalam surah an-Nisa’: 59, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” Contoh-contoh serupa dapat kita temukan di banyak tempat, seperti al-Baqarah: 62, 126, 177, 228, 232, 264, dsb.

Mengapa demikian?

Sebab, dalam kehidupan dunia ini, manusia membutuhkan ‘penyemangat’ yang membuatnya konsisten menembus beragam tantangan, sekaligus ‘ancaman’ yang mengekangnya dari aneka keburukan.

Pikiran tentang upah dan penghargaan duniawi terkadang memang dapat membuat seseorang berjuang keras, namun selalu ada saja orang yang tidak tertarik kepada jenis upah dan penghargaan yang dijanjikan itu.

Ketakutan terhadap denda dan hukuman duniawi terkadang juga mampu membuat seseorang berhenti dari kejahatan, namun sepanjang ia merasa aman dari akibatnya dengan jalan rekayasa, trik, atau pemberian suap kepada para penegak hukum, maka hatinya tidak akan ciut lagi.

Oleh karenanya, keimanan kepada Allah selalu dirangkai dengan keimanan kepada Hari Akhir; agar motivasi amal shalih manusia tidak mudah luntur, sekaligus rasa takutnya kepada hukuman tidak gampang melempem. Hanya di akhiratlah hukum tidak bisa dipermainkan, hakimnya mustahil disuap, dan semua pasti dibalas dengan seadil-adilnya.

Di akhirat sana, setiap orang akan mendapatkan haknya dengan tepat, dan menerima konsekuensi perbuatannya secara pas. Disana pula setiap orang yang merasa dizhalimi tidak akan kehilangan harapan terhadap proses pengadilan, dan para penjahat tidak akan pernah bisa merasa aman dari sanksi. Dengan demikian, manusia akan selalu hati-hati dan waspada dalam meniti kehidupannya di dunia. (Lihat: Qs. al-A’raf:8-9, an-Nisa’: 40, az-Zalzalah: 7-8, al-Kahfi: 49, dsb).

Dalam konteks ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Seandainya seorang mukmin mengetahui hukuman yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun yang mengharapkan surga-Nya. Dan seandainya seorang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak seorang pun yang berputus asa dari surga-Nya.” (Riwayat Bukhari-Muslim, dari Abu Hurairah).

Hadits ini menggambarkan betapa dahsyatnya akhirat, sehingga – kalau saja – seorang mukmin melihat langsung hukuman-hukuman Allah disana, ia takkan berani mengharapkan surga. Bukankah Allah Maha Tahu atas segala sesuatu, dan setiap perbuatan manusia pasti dimintai pertanggungjawaban? Padahal, siapakah manusia bersih dari kesalahan dan dosa? Namun sebaliknya, rahmat Allah sangatlah lapang, sehingga – kalau saja – seorang kafir mengetahuinya, ia tidak ragu untuk bertaubat dan mengharap surga-Nya.

Maka, ketika seseorang gemar mengekor hasrat nafsu dan memperturutkan bisikan setan, atau sebaliknya sangat malas menekuni jalan Allah dan enggan menunaikan kewajiban agamanya, dapat disimpulkan bahwa keimanannya kepada Hari Akhir sangat lemah.

Tidak ada cara lain untuk mengembalikannya ke posisi fitrah kecuali sekuat tenaga membenahi keimanannya kepada Hari Akhir itu. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar