Beranda blog Halaman 35

Masjid sebagai Jantung Peradaban Islam dan Pusat Transformasi Umat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Muzakkir Usman, menegaskan bahwa masjid sebagai jantung peradaban islam dan pusat transformasi umat. Masjid sejak awal kehadiran Islam bukan sekadar bangunan fisik, melainkan penanda identitas umat dan pusat kehidupan masyarakat Muslim.

Di mana ada komunitas Muslim, di situ selalu ada masjid. Ia menjadi simbol keberadaan, ruang perjumpaan, dan tempat umat meneguhkan hubungan dengan Allah sekaligus dengan sesama manusia. Karena itu, pembangunan masjid tidak dapat dilepaskan dari misi peradaban Islam itu sendiri.

“Dan itu telah menjadi salah satu fitur paling mendasar, revolusioner, dan indah dari agama kita,” kata Muzakkir dalam notes yang diterima media ini, Selasa, 10 Rajab 1447 (30/12/2025).

Dalam sejarah Islam, generasi awal tidak berlomba membangun masjid megah dengan struktur besar. Masjid dibangun sebagai bagian alami dari kehidupan, menyatu dengan ritme sosial umat. Fungsi utamanya memang sebagai tempat ibadah berjamaah, terutama shalat Jumat, namun sejatinya masjid memiliki tujuan yang jauh lebih dalam.

Tujuan tersebut baru ditegaskan secara eksplisit di akhir masa turunnya wahyu, ketika Allah menurunkan Surah At-Taubah ayat 18. Ayat ini menegaskan bahwa yang berhak memakmurkan masjid adalah mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut selain kepada Allah.

Kata kunci dalam ayat ini adalah “ya‘muru” atau memakmurkan. Makna kata ini, jelas Muzakkir, melampaui sekadar membangun atau merawat bangunan fisik. Dalam bahasa Arab, akar kata imarah bermakna menjaga agar sesuatu tetap hidup, tidak rusak, dan terus berfungsi sesuai tujuannya.

Karena itu, memakmurkan masjid bukan hanya soal karpet, pintu, atau kubah, tetapi menjaga ruh, fungsi, dan orientasi masjid agar tetap menjadi pusat pembinaan iman dan kehidupan umat.

“Masjid harus dipelihara tujuannya. Allah tidak hanya bicara tentang memelihara jendela, pintu, karpet, atau tempat wudu. Dia bicara tentang menjaga tujuan masjid itu sendiri,” katanya.

Masjid disebut sebagai “masajidallah”, rumah Allah. Konsep ini menegaskan bahwa masjid bukan milik individu, kelompok, atau kepentingan tertentu. Segala aktivitas di dalamnya harus tunduk pada nilai yang diridhai Allah. Di masjid, seluruh simbol status dunia ditanggalkan. Tidak ada perbedaan kelas, jabatan, atau kekayaan.

Semua berdiri sejajar dalam shaf yang sama, dengan dahi yang sama-sama menempel ke tanah. Inilah pendidikan kesetaraan yang paling mendasar, yang mengajarkan kerendahan hati dan membentuk karakter manusia yang tidak merasa lebih tinggi dari sesamanya.

Apa yang dipelajari di dalam masjid seharusnya memengaruhi cara hidup di luar masjid. Kesadaran bahwa manusia hanyalah hamba Allah akan melahirkan sikap sosial yang adil, rendah hati, dan penuh empati. Dengan demikian, masjid menjadi sekolah nilai yang membentuk perilaku individu dan masyarakat.

“Ketika datang ke sini (masjid), satu-satunya kerendahan hati yang tersisa adalah kepada Allah. Ini adalah cara Allah mengajar kita bahwa di sini bukan tentang kepribadian seseorang, kualifikasi, atau pangkat. Tidak ada yang lebih baik dari yang lain. Kita semua sama-sama rendah di hadapan Allah,” terangnya.

Fungsi pendidikan masjid mencapai puncaknya melalui transformasi Al-Qur’an. Sejarah mencatat bahwa Al-Qur’an diturunkan selama 23 tahun kepada masyarakat Arab yang telah memiliki sistem nilai, budaya, dan tradisi yang mengakar selama berabad-abad. Namun, dalam rentang waktu tersebut, Al-Qur’an berhasil mengubah hampir seluruh aspek kehidupan mereka. Bukan hanya struktur sosial atau politik yang berubah, tetapi cara berpikir, merasa, mencintai, membenci, dan memandang dunia.

Revolusi Hati

Muzakkir lebih jauh menjelaskan bahwa revolusi Al-Qur’an berbeda dari revolusi mana pun dalam sejarah. Ia bukan revolusi kekuasaan, melainkan revolusi hati. Al-Qur’an tidak pertama-tama mengubah sistem, tetapi mengubah apa yang diinginkan manusia. Ketika hati tunduk kepada Allah, seluruh orientasi hidup ikut berubah. Standar kesuksesan tidak lagi diukur dari kekuasaan, harta, atau popularitas, tetapi dari keridhaan Allah dan perjumpaan dengan-Nya.

Di sinilah masjid menjadi episentrum transformasi Qur’ani. Dari masjid, semangat belajar Al-Qur’an, mentadabburi makna, dan menghidupkan nilai-nilainya harus terus ditumbuhkan. Iman lahir dan berkembang ketika jiwa manusia senantiasa berinteraksi dengan wahyu. Tanpa fungsi ini, masjid akan kehilangan perannya sebagai pusat perubahan.

“Kampanye pertama dari revolusi ini adalah mentransformasi jiwa. Jiwa adalah pusat percakapan dalam Al-Qur’an, terutama pada periode awal. Semuanya dimulai ketika hati berpaling kepada Allah,” katanya.

Selain sebagai pusat pendidikan, masjid juga berfungsi sebagai pusat rekonstruksi sosial dan ekonomi. Hal ini ditegaskan melalui penyebutan zakat dalam Surah At-Taubah ayat 18. Zakat menunjukkan adanya relasi sosial antara mereka yang mampu dan mereka yang membutuhkan. Masjid menjadi tempat bertemunya potensi ekonomi, solidaritas sosial, dan kepedulian antarsesama. Di sana, hubungan personal terbangun, kerja sama lahir, dan kebutuhan umat dapat dikenali secara langsung.

Masjid juga berperan melahirkan kepemimpinan umat. Rasulullah menyebut masjid sebagai tempat yang paling dicintai Allah, menunjukkan kedudukannya yang sentral dalam kehidupan Islam. Dari masjid lahir pemimpin yang takut kepada Allah, berjiwa melayani, dan berkomitmen pada keadilan. Kepemimpinan seperti ini tidak dibangun dari ambisi, tetapi dari kedekatan dengan wahyu dan tanggung jawab moral.

Dalam pada itu, refleksi Muzakkir mengingatkan bahwa membangun masjid, sebesar apa pun, tidak otomatis menjamin hidayah. Allah menggunakan kata “mudah-mudahan” dalam ayat tersebut, sebagai peringatan agar manusia tidak terjebak pada kebanggaan atas amal masa lalu. Memakmurkan masjid adalah proses yang tidak pernah selesai. Tujuan, fungsi, dan ruhnya harus terus direkonstruksi agar tetap hidup dan relevan.

“Kita tidak mendapatkan sertifikat hidayah hanya karena melakukan satu amal besar. Anda harus terus mengejar hidayah karena “pembangunan” masjid tidak pernah selesai. Secara makna imarah, tujuannya harus terus direkonstruksi setiap saat,” jelasnya.

Dia menegaskan, masjid yang hidup adalah masjid yang terus meniupkan kehidupan ke dalam iman, ilmu, ekonomi, dan kepemimpinan umat. Dari sanalah peradaban Islam bertumbuh dan memberi cahaya bagi dunia, tandasnya.

Layanan Makanan Siap Saji Menjangkau 250 Penyintas Bencana di Aceh Tamiang

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak 250 warga dan anak-anak penyintas bencana tercatat sebagai penerima manfaat dalam kegiatan layanan pangan yang berlangsung tertib di Semadam, Kabupaten Aceh Tamiang. Mereka berkumpul secara teratur di posko pelayanan untuk menerima makanan siap santap, sebuah kegiatan yang menjadi bagian dari respons kemanusiaan bagi masyarakat terdampak bencana di wilayah tersebut.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di posko Stasiun Pelayanan Penyintas Bencana (SPPB) yang diinisiasi oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dan didukung Tim Siaga Bencana Hidayatullah Aceh. Program ini dirancang sebagai dukungan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya pangan, di tengah situasi darurat yang masih membatasi aktivitas warga sehari-hari.

Pelaksanaan layanan pangan ini mendapat dukungan dari Bunda Aisah. Melalui kerja sama dengan BMH, amanah sedekah yang dititipkan disalurkan kepada warga terdampak bencana, dengan sasaran utama keluarga dan anak-anak yang berada di sekitar posko pengungsian. Penyaluran dilakukan secara terkoordinasi untuk memastikan ketertiban dan pemerataan manfaat.

Sejak pagi hari, warga telah berdatangan ke lokasi kegiatan. Anak-anak, orang tua, hingga lansia terlihat mengikuti arahan relawan dengan disiplin. Tidak terdapat antrean yang tidak teratur, karena pendataan penerima manfaat telah dilakukan sebelumnya. Situasi ini memungkinkan proses pembagian makanan berlangsung dengan lancar dan kondusif.

Bagi sebagian penyintas, makanan siap santap yang diterima memiliki makna lebih dari sekadar konsumsi harian. Dalam kondisi keterbatasan akses pangan dan kesehatan, bantuan tersebut menjadi penopang penting agar keluarga tetap dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka. Anak-anak menjadi kelompok yang paling terlihat merasakan dampaknya, karena sebagian besar dari mereka datang langsung untuk menerima makanan.

Salah satu penerima manfaat adalah Selfi, siswi kelas enam sekolah dasar. Ia menerima porsi makanan dengan raut wajah cerah. Dalam keterbatasan yang dihadapinya hari itu, bantuan pangan tersebut memastikan bahwa ia dan keluarganya tetap dapat makan. Kondisi kesehatan orang tua yang sedang terganggu membuat bantuan tersebut memiliki arti tersendiri bagi keluarganya.

Selain Selfi, terdapat pula Aldi, anak lain yang ikut dalam barisan penerima manfaat. Ia menerima makanan sambil menyampaikan ucapan terima kasih kepada donatur. Ekspresi polos anak-anak tersebut mencerminkan bagaimana bantuan sederhana dapat memberikan rasa aman dan ketenangan di tengah situasi pascabencana..

Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan BMH pusat. Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, turun langsung ke lokasi untuk memantau jalannya program. Menurut Imam, respons warga terhadap program ini sangat positif, terutama dari kalangan anak-anak.

Ia menyaksikan secara langsung bagaimana paket makanan yang sederhana mampu menghadirkan suasana berbeda di lingkungan pengungsian. Kegiatan ini tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga membantu menciptakan suasana yang lebih tenang dan bersahabat di tengah kondisi darurat.

Program layanan pangan melalui SPPB merupakan bagian dari rangkaian respons BMH dalam penanganan dampak bencana. Pendekatan yang digunakan menekankan pada ketepatan sasaran, ketertiban distribusi, serta penghormatan terhadap martabat penerima manfaat.

“Seluruh proses dilakukan dengan melibatkan relawan yang telah mendapatkan pembekalan dasar terkait pelayanan kebencanaan,” katanya.

Di tengah kondisi pascabencana yang masih menyisakan berbagai keterbatasan, layanan pangan tersebut menjadi salah satu upaya untuk menjaga stabilitas kehidupan warga terdampak.

HCR Planting Day Tumbuhkan Kesadaran Ekologis Santri demi Keberlanjutan Alam dan Bangsa

0

BANDUNG TIMUR (Hidayatullah.or.id) — Melalui sebuah kegiatan edukatif dan ekologis, diharapkan tumbuh kesadaran bersama bahwa kepedulian terhadap lingkungan hidup merupakan tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat termasuk para santri.

Santri adalah sebagai generasi penerus yang tidak hanya diharapkan unggul dalam penguasaan ilmu agama, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap keberlangsungan alam sebagai bagian dari amanah kebangsaan dan keagamaan.

Kesadaran tersebut menjadi landasan pelaksanaan kegiatan peduli lingkungan bertajuk HCR Planting Day yang digelar oleh para santri penghafal Al-Qur’an dari Pondok Pesantren Hidayatullah Cilengkrang, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 7 Rajab 1447 (27/12/2025), di kawasan Agroforestri Indonesia yang berada di lereng bawah Gunung Manglayang, sebuah wilayah yang dikenal memiliki fungsi ekologis penting bagi kawasan sekitarnya.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, para santri bersama unsur masyarakat dan mitra kegiatan melakukan penanaman 200 pohon. Aksi penanaman ini diproyeksikan sebagai langkah konkret dalam mendukung pelestarian lingkungan serta menjaga keseimbangan ekosistem. Penanaman pohon dipilih sebagai simbol sekaligus praktik nyata perawatan bumi yang berkelanjutan, sejalan dengan prinsip Islam yang memandang manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Koordinator kegiatan HCR Planting Day, Harry Firmansyah, mengatakan kawasan Agroforestri Indonesia dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki peran strategis dalam konservasi alam dan pendidikan lingkungan. Sistem agroforestri mengintegrasikan fungsi kehutanan dan pertanian, sehingga mampu menjaga produktivitas lahan sekaligus melestarikan sumber daya alam.

“Melalui keterlibatan santri dalam ruang ekologis seperti ini, pesantren mendorong pembelajaran kontekstual yang menghubungkan nilai keagamaan dengan realitas lingkungan hidup,” katanya dalam keterangannya.

Harry menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari proses pembinaan karakter santri. Menurutnya, pendidikan pesantren tidak hanya berorientasi pada penguatan spiritual dan intelektual, tetapi juga pembentukan kepedulian sosial dan ekologis. Lingkungan hidup dipandang sebagai bagian dari kehidupan umat yang harus dijaga secara kolektif.

Ia menekankan bahwa nilai-nilai Islam mengajarkan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Oleh karena itu, penanaman pohon tidak sekadar dimaknai sebagai aktivitas fisik, melainkan sebagai internalisasi nilai tanggung jawab dan amanah. Santri diajak memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan wujud pengamalan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari asatidz dan santri Hidayatullah Cilengkrang, alumni HCR, perwakilan dari Salman ITB, Karang Taruna Desa Cilengkrang, hingga tokoh masyarakat setempat.

Harry mengatakan, dengan keterlibatan beragam elemen semakin menguatkan terbangunnya sinergi lintas komunitas dalam isu lingkungan hidup. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi modal sosial penting dalam menjaga kelestarian alam secara berkelanjutan.

Santri Adaptif Terhadap Tantangan Zaman

Lebih jauh, Harry menjelaskan, partisipasi santri dalam kegiatan ini juga menegaskan peran pesantren sebagai institusi pendidikan yang adaptif terhadap tantangan zaman. Di tengah isu krisis iklim dan degradasi lingkungan, pesantren berupaya menempatkan santri sebagai subjek perubahan yang memiliki kesadaran ekologis.

“Nilai keindonesiaan yang menekankan gotong royong dan kepedulian terhadap ruang hidup bersama menjadi spirit yang menyertai pelaksanaan kegiatan ini,” katanya.

Selain aspek lingkungan, kegiatan ini memperkuat relasi sosial antara pesantren dan masyarakat sekitar. Interaksi langsung di lapangan membuka ruang dialog dan kerja sama yang saling menguatkan. Dengan demikian, pesantren tidak berdiri terpisah dari masyarakat, melainkan hadir sebagai bagian integral dari upaya pembangunan berkelanjutan berbasis nilai-nilai lokal dan religius.

Melalui HCR Planting Day, diharapkan terbentuk pemahaman kolektif bahwa merawat alam adalah tugas bersama. Santri sebagai generasi muda, jelas Harry, dipersiapkan untuk memiliki kesadaran ganda, yaitu kecakapan dalam ilmu keislaman dan tanggung jawab terhadap lingkungan hidup.

“Kesadaran ini menjadi bekal penting dalam membangun masa depan bangsa yang berlandaskan iman, ilmu, dan kepedulian terhadap keberlangsungan bumi sebagai rumah bersama,” katanya menandaskan.

Tiga Hari Tanpa Makan dan Minum, Imam Masjid Selamat dari Banjir Bandang Aceh Tamiang

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Ustadz Maimun, imam masjid di Desa Banai, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, harus bertahan selama tiga hari tiga malam tanpa makan dan minum di atas plafon rumahnya.

Ia menjebol plafon demi menyelamatkan diri setelah banjir bandang tiba-tiba merendam kawasan permukiman. Kisah tersebut menjadi gambaran nyata kerasnya dampak bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah timur Provinsi Aceh dan meninggalkan trauma mendalam bagi para penyintas.

Peristiwa itu terungkap dalam rangkaian kegiatan pemulihan pascabanjir bandang yang dilakukan secara kolaboratif oleh Tim Siaga Bencana Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Aceh bersama Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Aksi kemanusiaan tersebut dilaksanakan secara bertahap sebagai bagian dari upaya recovery sosial dan lingkungan di wilayah terdampak.

Pada Ahad, 8 Rajab 1447 (28/12/2025), tim gabungan melanjutkan kegiatan bersih-bersih lingkungan di Desa Banai setelah sebelumnya melakukan pembersihan fasilitas pendidikan.

Sejumlah rumah warga menjadi sasaran kerja bakti, termasuk rumah Maimun yang masih berdiri di tengah kerusakan parah rumah-rumah di sekitarnya. Lumpur tebal yang mengendap di lantai dan perabot menjadi penanda kuat terjangan banjir bandang yang melampaui kapasitas sungai.

Tanggung Jawab Kemanusiaan

Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Aceh, Harun Rasyid, memimpin langsung kegiatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa gerakan gotong royong ini merupakan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan untuk memulihkan kondisi masyarakat pascabencana banjir dan longsor yang terjadi di berbagai wilayah Sumatera, termasuk Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.

Berdasarkan data terkini geoportal data bencana di laman Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kabupaten Aceh Tamiang tercatat sebagai salah satu daerah dengan tingkat dampak paling berat, selain Aceh Utara yang berada pada kategori tertinggi. Kondisi geografis Aceh Tamiang yang dilalui sungai-sungai besar, seperti Sungai Tamiang, turut memengaruhi besarnya risiko banjir ketika curah hujan ekstrem terjadi secara beruntun.

Aceh Tamiang sendiri dikenal sebagai wilayah paling timur Provinsi Aceh yang berbatasan langsung dengan Sumatera Utara. Daerah ini memiliki potensi sumber daya alam berupa minyak, gas, dan perkebunan kelapa sawit, sekaligus menjadi jalur strategis yang sering disebut sebagai gerbang timur Aceh. Namun, potensi tersebut beriringan dengan kerentanan bencana hidrometeorologi akibat kondisi alamnya.

Dalam kegiatan pemulihan, tim relawan tidak hanya membersihkan rumah warga, tetapi juga memusatkan perhatian pada rumah ibadah. Lantai masjid dibersihkan dari endapan lumpur, sementara sajadah yang terendam banjir dicuci meski sebagian sudah tidak layak pakai. Langkah ini dilakukan agar masjid tetap dapat difungsikan sebagai pusat ibadah dan penguatan spiritual warga.

Rumah Warga Hanyut

Harun Rasyid menuturkan bahwa rumah Maimun masih berdiri utuh, namun rumah-rumah warga di sisi kiri dan kanan telah hancur rata dengan tanah dan hanyut terbawa arus, menyisakan pondasi bangunan.

Dalam situasi itulah Maimun bertahan di atas plafon selama berhari-hari, menunggu air surut dan pertolongan datang. Kisah tersebut menjadi simbol ketabahan dan ikhtiar bertahan hidup di tengah keterbatasan ekstrem.

Menurut Harun, kehadiran relawan di masa pemulihan tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan fisik masyarakat terdampak, tetapi juga memberikan penguatan moral. Spirit keislaman diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama, sementara nilai keindonesiaan tercermin dalam gotong royong lintas elemen masyarakat yang bahu-membahu membantu penyintas.

Ia menegaskan bahwa program recovery diupayakan dapat berjalan secara berkelanjutan, dengan menyesuaikan ketersediaan logistik dan dukungan dari masyarakat luas. Keberlanjutan tersebut sangat bergantung pada sinergi antara lembaga kemanusiaan, komunitas lokal, dan para donatur yang mempercayakan amanahnya.

Dukungan Laznas BMH

Dalam kesempatan itu, Harun juga menyampaikan apresiasi kepada Laznas BMH yang telah memberikan dukungan nyata dalam pelaksanaan program pemulihan. Dukungan tersebut dinilai memperkuat daya jangkau bantuan sekaligus memastikan proses recovery berjalan lebih terstruktur.

Di tengah situasi darurat yang masih menyisakan ketidakpastian, kehadiran relawan menjadi ruang empati bagi warga terdampak. Interaksi sederhana, kerja bersama membersihkan lumpur, dan perhatian terhadap rumah ibadah menghadirkan kembali rasa kebersamaan.

“Dari situ, harapan untuk bangkit perlahan tumbuh, seiring keyakinan bahwa ujian bencana dapat dihadapi dengan kesabaran, doa, dan solidaritas,” kata Harun dalam keterangannya.

Harun mengajak masyarakat untuk terus mendoakan agar ikhtiar kebaikan ini dapat berjalan konsisten selama masa pemulihan. Ia berharap, setiap langkah kecil yang dilakukan bersama dapat menjadi jalan keberkahan dan memperkuat ketahanan sosial masyarakat pascabencana.

Teladan Nabi sebagai Agen Peradaban yang Bangunkan Manusia dari Kelalaian

0

DALAM perjalanan panjang sejarah manusia, kisah para nabi dan rasul bukan sekadar rangkaian cerita masa lampau. Ia adalah cermin yang memantulkan satu pola besar bahwa setiap utusan Allah hadir membawa misi perubahan yang mendalam dan menyeluruh.

Bukan perubahan kecil yang bersifat tambal sulam, melainkan transformasi peradaban secara utuh. Inilah yang dalam tradisi keilmuan Islam dikenal sebagai tahawwul hadhori, perubahan mendasar dari tatanan kehidupan yang rusak menuju kehidupan yang berpijak pada tauhid, keadilan, dan akhlak mulia.

Jika ditelusuri lebih jauh, kerusakan masyarakat yang dihadapi para nabi tidak pernah bersifat tunggal. Ia selalu kompleks, merambah keyakinan, moral, struktur sosial, hukum, hingga budaya. Karena itu, solusi yang dibawa para nabi pun tidak parsial. Mereka tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga membenahi cara manusia berpikir, bersikap, dan mengatur kehidupan bersama.

Transformasi Aqidah

Transformasi pertama dan paling mendasar adalah transformasi aqidah. Para nabi diutus kepada masyarakat yang terjebak dalam kemusyrikan, penghambaan kepada makhluk, benda, kekuasaan, atau hawa nafsu.

Tauhid datang sebagai pembebasan. Ia membebaskan manusia dari ketergantungan palsu dan mengembalikan orientasi hidup hanya kepada Allah. Ketika tauhid tegak, manusia tidak lagi tunduk pada sesama manusia secara zalim, karena ia sadar bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan ditaati secara mutlak.

Namun aqidah yang lurus tidak berhenti di keyakinan batin. Ia menuntut pengejawantahan dalam sikap hidup. Di sinilah transformasi moral dan akhlak mengambil peran penting. Masyarakat yang dibenahi para nabi umumnya berada dalam situasi kebodohan moral dimana kejujuran dianggap lemah, amanah dipandang beban, dan kekerasan menjadi hal biasa.

Para nabi hadir untuk menumbuhkan nilai-nilai baru yang membawa nilai kejujuran yang menenteramkan, amanah yang menguatkan kepercayaan, serta kasih sayang yang memuliakan sesama. Akhlak bukan hiasan, melainkan fondasi kehidupan bersama.

Transformasi Sosial

Perubahan akhlak ini kemudian meluas ke ranah sosial. Banyak masyarakat yang dihadapi para nabi hidup dalam sistem penindasan. Yang kuat menekan yang lemah, yang kaya menghisap yang miskin, dan yang berkuasa merasa berhak menentukan nasib orang lain.

Transformasi sosial yang dibawa para nabi memutus mata rantai ketidakadilan tersebut. Mereka menegaskan persamaan derajat manusia, bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh status, harta, atau garis keturunan, melainkan oleh ketakwaan dan integritas moral.

Namun keadilan sosial tidak akan kokoh tanpa perubahan sistem hukum dan tata kehidupan. Inilah transformasi berikutnya. Hukum buatan manusia sering kali lahir dari kepentingan, sehingga tajam kepada yang lemah dan tumpul kepada yang kuat.

Para nabi membawa hukum Allah sebagai penyeimbang, hukum yang menempatkan keadilan sebagai tujuan utama. Hukum ilahi hadir untuk melindungi semua pihak, bukan untuk menguntungkan segelintir orang. Ia menegakkan prinsip bahwa tidak ada seorang pun yang kebal dari tanggung jawab moral dan hukum.

Transformasi Peradaban

Selain itu, para nabi juga melakukan transformasi budaya dan peradaban. Tradisi yang menyimpang tidak serta-merta dimusnahkan, tetapi diarahkan dan dimurnikan.

Budaya yang semula sarat dengan kesia-siaan, kekerasan, dan penghinaan terhadap martabat manusia, diubah menjadi budaya yang bernilai ibadah, bermakna, dan menjunjung tinggi kemanusiaan. Seni, tradisi, dan kebiasaan hidup diarahkan agar selaras dengan nilai tauhid dan etika.

Contoh paling nyata dari keseluruhan proses ini dapat dilihat pada perjalanan Rasulullah ﷺ. Beliau tidak hanya menyampaikan wahyu, tetapi membangun sebuah masyarakat baru.

Masyarakat yang sebelumnya terjerumus dalam kejahiliahan perlahan berubah menjadi komunitas yang bertauhid, berilmu, berakhlak mulia, dan berkeadilan. Perubahan itu tidak terjadi seketika, tetapi melalui proses panjang yang penuh kesabaran, keteladanan, dan pengorbanan.

Dari sini kita belajar bahwa para nabi dan rasul bukan sekadar penyampai ajaran di mimbar-mimbar spiritual. Mereka adalah agen perubahan peradaban. Mereka hadir untuk membangunkan manusia dari kelalaian, mengajak berpikir ulang tentang arah hidup, dan menuntun menuju tatanan yang lebih bermartabat.

Refleksi ini menjadi sangat relevan bagi kehidupan kita hari hari ini. Ketika kita menyaksikan krisis moral, ketimpangan sosial, dan ketidakadilan hukum, pesan para nabi seakan kembali mengetuk nurani.

Perubahan sejati tidak dimulai dari sistem semata, tetapi dari manusia yang bersedia membenahi akidah, akhlak, dan tanggung jawab sosialnya. Dari sanalah lahir peradaban yang tidak hanya maju secara materi, tetapi juga luhur secara nilai.[]

*) Ust. Drs. Khoirul Anam, penulis alumni Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, Jatim, Anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sumut, pengasuh kajian rutin Tafsir Al Qur’an di Rumah Qur’an Yahfin Siregar Tamora dan pengasuh Hidayatullah Al-Qur’an Learning Centre Medan

Bantuan Kemanusiaan Jangkau Penyintas Erupsi Semeru yang Kehilangan Hunian

0

LUMAJANG (Hidayatullah.or.id) — Hasil asesmen lapangan menunjukkan kebutuhan mendesak para penyintas erupsi Gunung Semeru yang kehilangan tempat tinggal setelah sedikitnya 16 rumah warga tertimbun material vulkanik. Kondisi tersebut memaksa sebagian besar penduduk meninggalkan hunian mereka dan bertahan di tenda-tenda darurat di kawasan perbukitan. Temuan inilah yang menjadi dasar utama penyaluran bantuan kemanusiaan oleh Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Jawa Timur kepada warga terdampak di Kabupaten Lumajang.

Bencana erupsi Gunung Semeru kembali menyisakan persoalan kemanusiaan yang kompleks, khususnya bagi warga di Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro. Sejak rumah-rumah mereka tertutup material vulkanik, warga terpaksa mengungsi demi keselamatan keluarga. Dalam situasi tersebut, kebutuhan pangan, layanan kesehatan, dan rasa aman menjadi aspek paling krusial bagi keberlangsungan hidup para penyintas.

Merespons kondisi itu, BMH Jawa Timur menyalurkan bantuan kemanusiaan belum lama ini pada Rabu, 4 Rajab 1447 (24/12/ 2025) dengan fokus pada pemenuhan hak dasar pengungsi. Sebanyak 170 paket sembako didistribusikan kepada keluarga terdampak, disertai layanan kesehatan gratis yang ditujukan untuk memastikan kondisi fisik para penyintas tetap terpantau di tengah keterbatasan sarana dan prasarana pengungsian.

Bantuan tersebut tidak dilepaskan dari kajian lapangan yang dilakukan relawan BMH. Asesmen mendalam mencatat bahwa tertimbunnya 16 rumah telah memutus akses warga terhadap sumber pangan dan fasilitas dasar. Lingkungan pengungsian yang sederhana, dengan sanitasi terbatas dan cuaca yang tidak menentu, meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu.

Dalam pada itu, penyaluran sembako menjadi instrumen penting untuk menjaga ketahanan pangan pengungsi. Paket bantuan dirancang agar dapat menopang kebutuhan harian keluarga dalam masa darurat. Sementara itu, layanan kesehatan dihadirkan sebagai langkah preventif dan responsif terhadap potensi penyakit yang sering muncul pascabencana, seperti infeksi saluran pernapasan, gangguan kulit, dan kelelahan fisik.

Program kemanusiaan tersebut menyasar 170 penerima manfaat yang telah terdata. Kehadiran tim relawan di lokasi tidak hanya membawa bantuan logistik, tetapi juga menghadirkan pendampingan sosial. Bagi warga yang kehilangan rumah dan harus memulai kembali dari titik nol, dukungan moral menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pemulihan.

Kepala Divisi Program dan Pendayagunaan BMH Jawa Timur, Imam Muslim, menyampaikan bahwa terlaksananya program ini merupakan hasil kepercayaan masyarakat yang menyalurkan kepeduliannya melalui BMH. Menurutnya, dukungan para donatur menjadi energi utama dalam memastikan bantuan dapat menjangkau warga yang benar-benar membutuhkan.

Ia menegaskan bahwa amanah yang dititipkan oleh masyarakat luas dijalankan dengan prinsip kehati-hatian dan ketepatan sasaran. Penyaluran bantuan didesain berdasarkan kebutuhan riil di lapangan agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh para penyintas. Dalam pandangannya, kolaborasi antara lembaga kemanusiaan dan masyarakat merupakan kekuatan penting dalam menghadapi situasi darurat.

Lebih jauh, kegiatan ini juga mencerminkan komitmen BMH untuk hadir secara konsisten dalam setiap fase kebencanaan. Tidak berhenti pada penyaluran awal, BMH menyiapkan langkah pendampingan lanjutan guna mengawal proses pemulihan pascabencana. Pendekatan berkelanjutan ini diharapkan dapat membantu warga bangkit secara bertahap, baik dari sisi fisik, sosial, maupun spiritual.

Di tengah keterbatasan yang dihadapi para penyintas, kehadiran bantuan kemanusiaan menjadi simbol bahwa nilai-nilai solidaritas tetap hidup. Bantuan kepada mereka yang tertimpa musibah bukan sekadar aktivitas karitatif, melainkan manifestasi tanggung jawab bersama untuk menjaga martabat kemanusiaan.

“Upaya kemanusiaan yang berlandaskan asesmen lapangan, amanah keislaman, dan semangat kebangsaan menjadi elemen penting dalam menjaga harapan warga terdampak menuju masa pemulihan yang lebih baik,” tandas Imam Muslim menambahkan.

Sinergi Hidayatullah dan Pemerintah Menguatkan Arah Pembinaan Umat di Kepulauan

0

BINTAN (Hidayatullah.or.id) — Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bintan, H. Abu Sufyan, menegaskan bahwa keberadaan organisasi kemasyarakatan Islam seperti Hidayatullah memiliki kontribusi nyata dalam mendukung program pemerintah, khususnya dalam pembinaan umat dan pembentukan karakter generasi muda.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam pembukaan Musyawarah Daerah Gabungan VI Hidayatullah se-Kepulauan Riau yang digelar di Aula Kantor Camat Toapaya, Kabupaten Bintan, Jum’at, 6 Rajab 1447 (26/12/2025).

Hadir dalam kegiatan ini jajaran Dewan Murobbi Wilayah Hidayatullah Kepulauan Riau, pengurus Dewan Pengurus Wilayah, para Ketua Dewan Pengurus Daerah se-Kepulauan Riau, pengurus Pemuda dan Muslimat Hidayatullah, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Menurut Abu Sufyan, peran ormas Islam menjadi elemen penting dalam memperkuat ekosistem pembangunan keagamaan yang selaras dengan visi kebangsaan.

Ia menyampaikan bahwa kerja-kerja pembinaan yang dilakukan secara konsisten oleh organisasi keislaman berkontribusi langsung pada penguatan moral, spiritual, dan sosial masyarakat. Dalam konteks tersebut, Hidayatullah dinilai memiliki rekam jejak yang kuat dalam mendampingi umat hingga ke lapisan akar rumput yang ada di kepulauan.

Abu Sufyan menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan ormas Islam. Ia menyampaikan harapan agar Hidayatullah turut mendukung program ekoteologi yang digagas Kementerian Agama Republik Indonesia, sebagai upaya menanamkan kesadaran keagamaan yang ramah lingkungan.

Pada kesempatan itu, Abu Sufyan juga mengungkapkan rencana penyaluran lima ribu bibit pohon yang akan dikelola dan ditanam bersama Hidayatullah demi kemaslahatan umat dan keberlanjutan lingkungan.

Semangat Kolaborasi Lintas Elemen

Musyawarah Daerah Gabungan VI ini berlangsung selama tiga hari dan diikuti ratusan peserta yang berasal dari berbagai unsur kepengurusan Hidayatullah di tingkat wilayah dan daerah.

Forum tersebut menjadi ajang konsolidasi organisasi sekaligus peneguhan arah gerakan di wilayah kepulauan, dengan mengusung tema nasional Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kepulauan Riau, Lukman Hakim, mengatakan tema ini merefleksikan semangat kolaborasi lintas elemen dalam menyiapkan generasi unggul yang beriman, berilmu, dan berakhlak.

Lukman Hakim menyampaikan bahwa musyawarah ini tidak sekadar menjadi agenda rutin organisasi, melainkan bagian dari ikhtiar menyiapkan kepemimpinan yang kokoh dan amanah di seluruh kabupaten dan kota di wilayah Kepulauan Riau. Ia menekankan pentingnya soliditas organisasi dalam menghadapi tantangan sosial dan keumatan yang semakin kompleks.

Sementara itu, Ketua Dewan Murobbi Wilayah Hidayatullah Kepulauan Riau, Khoirul Amri, mengingatkan seluruh peserta agar senantiasa menjaga ruh perjuangan organisasi.

Khoirul menegaskan bahwa kekuatan Hidayatullah terletak pada kesinambungan nilai spiritual, intelektual, dan kultural yang menjadi fondasi gerakan. Ketiga aspek tersebut, menurutnya, harus terus dipertajam agar organisasi tetap relevan dan mampu menjawab kebutuhan umat.

Dukungan terhadap peran Hidayatullah juga disampaikan oleh unsur legislatif daerah. Anggota DPRD Kabupaten Bintan, Suprapto, menyatakan apresiasinya terhadap militansi kader Hidayatullah dalam melakukan pembinaan masyarakat.

Ia menilai konsistensi tersebut sebagai modal sosial yang berharga dalam membangun masyarakat yang religius dan berkarakter, sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan.

Dialog Kebangsaan dan Kepemimpinan Baru

Selain sidang-sidang organisasi, Musyawarah Daerah Gabungan VI juga diisi dengan dialog kebangsaan bersama Anggota DPD RI perwakilan Kepulauan Riau H. Dharma Setiawan. Dialog tersebut membahas penguatan sinergi program, terutama di bidang pendidikan dan pembinaan keagamaan di wilayah kepulauan dan daerah terluar.

Dalam dialog tersebut H. Dharma Setiawan sampaikan apresiasi terhadap dedikasi para kader Hidayatullah yang selama ini konsisten hadir di tengah masyarakat, termasuk di wilayah dengan keterbatasan akses. Peran tersebut dinilai strategis dalam memperkuat ketahanan sosial dan spiritual masyarakat kepulauan.

Musyawarah Daerah Gabungan VI ini juga menetapkan kepemimpinan baru Dewan Pengurus Daerah untuk masa bakti 2025–2030 di tujuh kabupaten dan kota se-Kepulauan Riau.

Untuk Kota Batam, amanah kepemimpinan dipercayakan kepada Abdul Azis. Di Kabupaten Lingga, tongkat kepemimpinan diemban oleh Muh. Hamka Syaifudin, sementara Kabupaten Bintan dipimpin oleh Edi Rusdianto. Adapun Kota Tanjungpinang menetapkan Syamsul Alam sebagai ketua Dewan Pengurus Daerah.

Di wilayah kepulauan terluar, Kabupaten Kepulauan Anambas menetapkan Aminuddin Busro sebagai ketua, Kabupaten Natuna dipimpin oleh Tah Huwandila, dan Kabupaten Karimun mempercayakan kepemimpinan kepada Urip Al Islam.

Dengan berakhirnya Musyawarah Daerah Gabungan VI pada Ahad (28/12/2025) ini, Lukman mengatakan, Hidayatullah Kepulauan Riau meneguhkan komitmen untuk terus bersinergi dengan pemerintah dan seluruh elemen bangsa.

“Forum ini menjadi pijakan awal dalam menata langkah kolektif menuju terwujudnya masyarakat beriman, berilmu, dan berakhlak mulia, sebagai bagian dari ikhtiar bersama menyongsong Indonesia Emas 2045,” tandas Lukman.

Jamuan Ikan Baupiapi Warga Tinigi dan Ruang Kebersamaan yang Mengikat Hati

0

TOLITOLI (Hidayatullah.or.id) — Kunjungan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., ke Desa Tinigi di Kecamatan Galang, Kabupaten Tolitoli, Provinsi Sulawesi Tengah, menghadirkan sebuah narasi sederhana namun sarat makna tentang akar perjuangan, keteladanan sosial, dan kesinambungan dakwah.

Desa Tinigi bukan sekadar titik geografis dalam peta organisasi, melainkan ruang kultural yang menyimpan memori panjang tentang lahirnya kader-kader Hidayatullah yang berkiprah di berbagai medan pengabdian.

Tinigi dikenal sebagai salah satu kampung yang banyak melahirkan generasi pejuang dakwah Hidayatullah. Karakter masyarakatnya yang egaliter, religius, dan kuat dalam ikatan kekeluargaan menjadi lahan subur bagi tumbuhnya nilai-nilai dakwah dan pengabdian.

Dalam konteks inilah, kehadiran Ketua Umum Naspi Arsyad tidak dimaknai sebagai agenda seremonial belaka, melainkan sebagai ikhtiar menyambung kembali tali batin antara pusat gerakan dan basis sosial yang melahirkannya.

Di desa tersebut, Ketua Umum meluangkan waktu untuk menyapa masyarakat, berdialog secara terbuka, serta mendengarkan cerita dan harapan warga. Interaksi berlangsung hangat dan tanpa sekat, memperlihatkan bahwa kepemimpinan dalam tradisi dakwah bukanlah soal jarak struktural, melainkan kedekatan moral.

Jamuan Makan Malam

Kunjungan itu juga diwarnai jamuan makan malam di rumah salah satu warga, Sudirman, yang menjadi ruang perjumpaan personal dengan masyarakat akar rumput.

Jamuan tersebut berlangsung di rumah orang tua Suaib, Ketua PW Pemuda Hidayatullah Sulawesi Tengah. Dalam suasana sederhana, dialog mengalir sembari menikmati hidangan khas Mandar berupa jepa dan baupiapi, dua sajian tradisional yang mencerminkan identitas kultural mayoritas warga Tinigi.

Makanan, dalam konteks ini, bukan sekadar suguhan cita rasa makanan laut yang aduhai nikmatnya, tetapi simbol penerimaan, penghormatan, dan persaudaraan. Kehangatan meja makan menjadi medium dakwah yang senyap namun kuat, mengikat rasa dan nilai dalam satu pengalaman bersama.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum juga bersua dengan Haji Sukiman Langgo Husain, tokoh kampung Tinigi yang dikenal luas oleh masyarakat setempat. Sukiman merupakan figur yang dihormati, tidak hanya karena peran sosialnya di kampung, tetapi juga karena jejak sejarah pemikirannya. Ia disebut sebagai salah seorang tokoh yang memiliki keterkaitan dengan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), sebuah irama simfoni yang menempatkan Tinigi dalam lintasan sejarah panjang perjuangan politik dan dakwah umat Islam di Indonesia.

Pertemuan dengan tokoh tokoh senior ini menjadi pengingat bahwa dakwah dan perjuangan tidak lahir dari ruang hampa. Ada mata rantai sejarah, ada nilai yang diwariskan lintas generasi, dan ada keteladanan yang terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Tinigi, dengan tokoh-tokohnya dan generasi mudanya, menjadi contoh bagaimana desa dapat memainkan peran strategis dalam menjaga kesinambungan nilai perjuangan.

Kunjungan ini juga memperlihatkan wajah lain dari kepemimpinan organisasi: kepemimpinan yang hadir, mendengar, dan merendah hati di hadapan masyarakat. Dalam pendekatan seperti ini, dakwah tidak tampil sebagai instruksi dari atas, tetapi sebagai dialog yang tumbuh dari bawah.

Kehadiran Ketua Umum di tengah masyarakat Tinigi menegaskan bahwa kekuatan gerakan terletak pada hubungan emosional yang terawat, bukan semata pada struktur dan program.

Pada akhirnya, beranjangsana ke Tinigi menjadi refleksi bahwa perjalanan dakwah adalah perjalanan pulang, kembali ke sumber-sumber nilai yang membentuk karakter gerakan.

Dari desa sederhana, lahir gagasan besar, pengorbanan panjang, dan komitmen yang terus diperbarui. Tinigi mengajarkan bahwa kesetiaan pada akar adalah syarat utama untuk melangkah jauh ke masa depan.

Tim Siaga Bencana Hidayatullah Aceh Gotong Royong Pulihkan Pendidikan Pascabanjir

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Upaya pemulihan pascabanjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang terus dilakukan melalui kerja kolaboratif antara Tim Siaga Bencana DPW Hidayatullah Aceh dan Baitul Maal Hidayatullah (BMH).

Pada Sabtu, 7 Rajab 1447 (27/12/2025), kedua unsur ini melaksanakan kegiatan pembersihan fasilitas umum dan rumah warga yang terdampak, sebagai bagian dari ikhtiar kemanusiaan untuk mempercepat pemulihan kehidupan sosial dan pendidikan masyarakat.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Aceh, Ustaz Harun Rasyid, menjelaskan bahwa salah satu fokus utama kegiatan diarahkan ke ruang kelas di SMP Negeri 1 Karang Baru. Hingga pelaksanaan aksi tersebut, ruang belajar itu belum tersentuh pembersihan menyeluruh pascabanjir. Menurutnya, kondisi tersebut berdampak langsung pada terhambatnya proses pendidikan.

“Kondisi ruang kelas sangat memprihatinkan, dengan endapan lumpur setinggi kurang lebih 50 sentimeter yang menggenangi ruang belajar. Akibatnya, proses pembelajaran belum dapat kembali berjalan normal hingga saat ini,” ungkap Harun.

Harun menegaskan bahwa pemulihan sektor pendidikan tidak dapat dilepaskan dari penanganan fisik sarana belajar yang rusak akibat bencana.

Tim relawan memulai kegiatan sejak pukul 07.30 WIB dari Posko Hidayatullah Aceh di Desa Payameta dan menyelesaikan pembersihan sekitar pukul 15.20 WIB. Aktivitas dilakukan secara bertahap, mulai dari pengangkatan lumpur, pembersihan lantai dan dinding, hingga penataan awal ruang kelas agar dapat segera difungsikan kembali.

Dalam keterangannya, Harun menyoroti kondisi para tenaga pendidik yang turut menjadi korban bencana. Ia menyampaikan bahwa sebagian besar guru di sekolah tersebut terdampak langsung, bahkan ada yang kehilangan tempat tinggal. Situasi ini, menurutnya, membuat pemulihan sekolah berjalan lambat apabila tidak ada dukungan dari pihak luar.

“Guru-guru pun sedang berjuang memulihkan keluarga mereka,” kata Harun, menekankan dimensi kemanusiaan di balik tantangan pemulihan pendidikan.

Kegiatan pembersihan melibatkan relawan personel Tim Siaga Bencana DPW Hidayatullah Aceh yang didampingi wali kelas 2C SMP Negeri 1 Karang Baru, Inawati, S.Pd. Kehadiran pihak sekolah dinilai penting untuk memastikan penanganan ruang kelas sesuai kebutuhan pembelajaran.

Inawati menjelaskan bahwa para siswa dijadwalkan kembali masuk sekolah pada 5 Januari 2026, bersamaan dengan dimulainya semester genap setelah libur semester dan bencana banjir. Namun, ia mengakui masih terdapat kendala signifikan.

Kondisi ruang kelas yang belum sepenuhnya layak, kerusakan seluruh mobiler, serta akses jalan menuju sekolah yang masih tertimbun lumpur dan genangan air menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan kegiatan belajar mengajar.

Berangkat dari realitas tersebut, Inawati berinisiatif menyiapkan ruang kelasnya agar dapat kembali digunakan. Upaya ini dilakukan dengan menggandeng bantuan dari Tim DPW Hidayatullah Aceh dan Baitul Maal Hidayatullah sebagai bentuk sinergi kemanusiaan yang berlandaskan nilai keislaman dan semangat gotong royong khas Indonesia.

Dampak banjir juga dirasakan berat oleh para guru. Dari sekitar 70 tenaga pendidik di SMP Negeri 1 Karang Baru, hanya tujuh orang yang rumahnya tidak terdampak langsung banjir bandang. Bahkan, beberapa di antaranya dilaporkan kehilangan tempat tinggal, sehingga membutuhkan dukungan berkelanjutan untuk pemulihan kehidupan sehari-hari.

Untuk agenda lanjutan pada Minggu, 28 Desember 2025, Tim DPW Hidayatullah Aceh dan Baitul Maal Hidayatullah dijadwalkan melaksanakan pembersihan rumah warga terdampak. Beberapa lokasi yang direncanakan antara lain rumah alumni Hidayatullah Tanjung Morawa serta rumah Ustadz Aswir, simpatisan Hidayatullah, yang turut mengalami dampak banjir bandang.

Naspi Arsyad Soroti Tanggung Jawab Orang Tua dalam Membangun Masyarakat

0

TOLITOLI (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Naspi Arsyad, Lc., menekankan peran sentral orang tua dalam membangun tatanan masyarakat. Hal itu disampaikan dalam acara Tabligh Akbar yang digelar Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Tengah sebagai bagian dari rangkaian Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Gabungan yang berlangsung di Masjid Agung Al Mubarok, Tolitoli, pada Jum’at, 6 Rajab 1447 (26/12/2025).

Naspi menyatakan bahwa tantangan terbesar di era digital adalah memastikan keterlibatan kedua orang tua secara utuh dan maksimal dalam proses pendidikan keluarga.

Naspi pun mengapresiasi kegiatan ini yang mengusung tema Urgensi Takwa Menjaga Keluarga di Era Digital. Menurutnya, upaya ini sebagai respons atas dinamika sosial yang dihadapi keluarga muslim Indonesia di tengah percepatan teknologi informasi.

“Kunci dari suatu tatanan masyarakat adalah peran orang tua yang dijalankan secara sempurna dan maksimal dalam menjalankan perannya masing-masing di dalam tatanan kehidupan, sehingga menjadi panutan bagi anak-anak di dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Naspi menegaskan bahwa peran tersebut akan membentuk anak-anak yang tangguh dan adaptif menghadapi perubahan zaman. Ia juga menyatakan dukungan terhadap berbagai program yang berorientasi pada pembinaan moral, perbaikan akhlak, serta pembangunan sumber daya manusia sebagai bagian dari ikhtiar kolektif membangun bangsa.

“Penguatan institusi keluarga sebagai fondasi utama pembentukan masyarakat yang berakhlak, berdaya, dan berketahanan moral. Upaya ini ini sekaligus memperkuat spirit keislaman dan keindonesiaan dalam menghadapi tantangan era digital yang kian kompleks,” katanya.

Ia menyampaikan bahwa Tolitoli merupakan wilayah yang relatif aman dan harmonis. Ia menilai tidak terdapat sekat sosial yang tajam antar kelompok masyarakat, sehingga nilai wasatiyah atau moderasi yang dianut Hidayatullah menemukan relevansinya. Menurutnya, kondisi sosial tersebut membuka peluang besar bagi Tolitoli untuk berkembang sebagai kota religius yang mampu menjaga harmoni di tengah tantangan digital.

Naspi juga menyinggung dampak negatif perkembangan digital terhadap anak-anak, antara lain menurunnya minat belajar dan melemahnya kedekatan dengan Al-Qur’an. Fenomena ini berimplikasi pada masih ditemukannya anak-anak yang belum mampu membaca Al-Qur’an.

Merespons kondisi tersebut, Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tengah, Sarmadani Karani, menargetkan program 500 Rumah Qur’an dalam lima tahun ke depan. Program ini, jelas dia, diarahkan sebagai pusat pengurangan buta aksara Al-Qur’an sekaligus wahana pembinaan masyarakat, baik pada ranah pendidikan formal maupun nonformal.

Apresiasi Pemerintah Tolitoli

Dukungan pemerintah daerah turut disampaikan melalui sambutan tertulis Bupati H. Amran H. Yahya yang dibacakan oleh Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Tolitoli, Mukti, S.T., yang sekaligus membuka kegiatan secara resmi.

Pemerintah daerah menyampaikan apresiasi atas inisiatif DPW Hidayatullah Sulawesi Tengah dalam menyelenggarakan kegiatan yang dinilai memberikan manfaat strategis bagi penguatan keluarga dan masyarakat.

“Melalui kegiatan ini semoga kita semua memperoleh ilmu dan hikmah dalam membimbing keluarga agar tetap berada pada jalan yang diridhai Allah SWT dan sekaligus mampu menyikapi perkembangan digital secara bijak, cerdas, dan bertanggung jawab,” demikian harapannya.

Kegiatan Tabligh Akbar ini dihadiri unsur Forkopimda Kabupaten Toli-Toli, anggota DPRD, perwakilan Kementerian Agama, para kepala perangkat daerah, pimpinan ormas serta pondok pesantren, serta panitia pelaksana.

Rakerda gabungan yang digelar di Tolitoli ini dihadiri oleh unsur pengurus Hidayatullah Kabupaten Donggala, Kabupaten Poso, Kabupaten Luwuk Banggai, Kabupaten Tolitoli, Kota Palu, Kabupaten Buol, Kabupaten Morowali, Kabupaten Banggai, Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Tojo Una-Una, Kabupaten Sigi, Kabupaten Banggai Laut, dan Kabupaten Morowali Utara.