Beranda blog Halaman 366

Jangan Sampai Hanyut dalam Peradaban Pesta

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan diantara kamu, serta berbangga-banggaan akan banyaknya harta dan anak-anak. Seperti hujan (yang menumbuhkan) tanaman-tanaman yang menakjubkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya menguning, kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta ridha-Nya. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”(QS al-Hadid [57] : 20).

BEBERAPA tahun ini, dunia selalu dihebohkan oleh dirilisnya film-film kolosal dan spektakuler. Terakhir, film Star Wars yang fenomenanya mengglobal itu. Banyak orang yang bahkan rela berkemah beberapa hari di depan gedung bioskop hanya untuk mendapat tiket pemutaran hari pertama, yang harganya mencapai jutaan rupiah. Seluruh dunia kemudian ikut-ikutan demam Star Wars, termasuk di Indonesia.

Belum lenyap dari ingatan kita, dan sampai kini masih terus bergulir, masyarakat Indonesia juga terhipnotis dengan tayangan-tayangan reality show semacam Indonesian Idol, AFI atau KDI.

Tahap audisi salah satu kontes ini yang digelar di beberapa kota bahkan mencatat peserta hingga tembus angka diatas 25 ribuan. Banyak diantaranya yang sudah ikut pada audisi periode sebelumnya, atau tidak lolos audisi di kota lain dan berpindah ke kota berikutnya.

Konser-konser musik atau pergelaran lain yang bernuansa pesta memang sedang marak. Hampir tidak pernah sepi peminat, bahkan dihadiri pengunjung dalam jumlah yang fantastis. Walau, untuk semua ini diperlukan pengorbanan yang tidak kecil, baik secara materi maupun immateri. Belum lagi, potensi gangguan keamanannya yang besar. Sejak pagelaran musik sampai pertandingan sepak bola, semuanya dibanjiri penonton.

Di lain pihak, kita menyaksikan rumah-rumah Allah yang merana, ditinggalkan umatnya. Kehidupan yang shalih tidak begitu menarik lagi. Panggilan Allah menggema lantang, namun sepi penyambut. Shaf-shaf shalat fardhu tidak pernah penuh, kecuali di hari Jum’at. Lebih banyak hati yang tergerak memenuhi mall dibanding masjid pada waktu shalat. Seruan Allah diabaikan, “hayya ‘alal falaah”, marilah menuju kemenangan serta keberuntungan, seolah tidak pernah didengungkan.

Sadar atau tidak, fenomena ini adalah cermin semakin tumbuh suburnya kemunafikan di tengah-tengah umat. Padahal, al-Qur’an sering mengaitkan kemunafikan dengan keterpesonaan pada godaan dunia, atau kemalasan memenuhi panggilan Allah.

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (hendak) menipu Allah, dan Allah membalas tipuan mereka. Bila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (pamer) di hadapan orang lain. Dan tidaklah mereka mengingat Allah (mengerjakan shalat) kecuali sedikit sekali.” (QS an-Nisa’ [04] : 142).

Sebab, diantara bibit utama kemunafikan adalah tidak adanya keyakinan akan janji Allah dan lebih mengutamakan penampakan dunia yang menipu. Orang munafik sering merasa bahwa keyakinan relijius itu bohong. Hati yang mengabaikan seruan Allah “menuju kemenangan” lewat shalat adalah hati yang sakit. Seakan-akan mereka adalah orang yang diseru dari tempat yang jauh, padahal saat itu di telinga mereka telah ada penyumbat (QS Hamim as-Sajdah [41] : 44).

Peradaban pesta

Bila kita perhatikan fenomena kontemporer di sekeliling kita, jelaslah bahwa peradaban yang tengah mendominasi adalah peradaban yang berakar pada pesta-pora, permainan, lalai dari Allah dan kehidupan akhirat. Musik, mode, media, teknologi canggih, tren gaya hidup, seluruhnya diarahkan untuk menghias dunia ini sebagai lantai dansa global.

Di setiap penjuru orang dibuat untuk mudah dan semakin dipermudah dalam menikmati hiburan yang diorganisir orang lain, atau setidaknya menghibur diri sendiri dengan berbagai bentuk. Misalnya, menikmati penampilan wanita-wanita yang mengumbar aurat, baik dalam bentuk gambar iklan atau manusia asli yang hidup.

Teknologi tercanggih dan tercepat perkembangannya dewasa ini, yakni di bidang informasi, selalu mengedepankan sisi hiburan. Belilah hand-phone seri terbaru, dan disana pasti akan disertakan fitur-fitur yang mempermudah penggunanya untuk mengakses hiburan, berpesta dan menyenangkan diri setiap saat.

Adakah Anda mendapati kampanye sarat teknologi terbaru secara besar-besaran yang ditujukan untuk mempermudah manusia mendekatkan diri kepada Allah, mengingat akhirat dan mewaspadai godaan dunia? Yang terjadi justru sebaliknya, manusia diingatkan dan didorong terus menerus untuk berpesta, menghibur diri dan bersenang-senang.

Jangan hanyut!

Jelasnya, dunia ini dikuasai orang-orang yang tengah tertipu, dan mereka berusaha keras menyebarkan keyakinannya yang melenceng itu. Sementara, Allah dan Rasul-Nya mengingatkan kita akan bahaya dunia. Maka, kita harus memandang dunia ini sebagai wasilah, piranti, sarana atau alat.

Dunia bukan ghayah, tujuan, atau terminal akhir dimana segalanya selesai disini. Segala pencapaian sains dan teknologi bukanlah tujuan akhir, namun sarana mengabdi kepada-Nya. Maka, kita harus mewaspadai bujukan dunia pada titik-titik tertentu dimana pesona kemolekannya demikian menggiurkan.

Allah mengingatkan bahwa dunia ini dipenuhi ujian, yakni agar Dia mengetahui siapa diantara kita yang terbaik amalnya (QS al-Mulk [67] : 2). Segala perhiasan yang ditampakkannya adalah tipuan untuk menguji, siapa yang tergoda dan siapa yang tetap teguh memegang janjinya kepada Allah.

Yang menjadi masalah bukanlah hidup di dunia ini, namun apa yang kita lakukan selama berada di dalamnya. Sebab, tidaklah mungkin ada yang selamat di akhirat kecuali melewati kehidupan di dunia ini terlebih dahulu dengan selamat pula, atas pertolongan Allah.

Kehidupan dunia menjadi hitam dan tercela manakala kecenderungan-kecenderungannya yang rendah diperturutkan. Pada saat itulah hidup di dunia benar-benar hanya menjadi kumpulan main-main, senda-gurau, persaingan kekayaan dan kemegahan, pamer perhiasan dan segala atribut pesta-pora lainnya. Tidak ada makna dan tujuan. Semakin diburu semakin jauh, semakin diteguk semakin terasa haus.

Solusi terbaik adalah memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya, sebaik mungkin. Rasulullah mengingatkan, dalam sebuah hadits hasan-shahih yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Ibnu ‘Abbas, bahwa kita harus senantiasa menjaga hukum dan perintah Allah, agar Dia juga senantiasa menjaga kita. Jika kita menjaga aturan-aturan Allah, maka kita akan mendapati-Nya berada “di depan kita”, membimbing dan merintis jalan.

Bila kita selalu “memperkenalkan diri” kepada Allah saat kita senang dan lapang, maka Dia pun akan mengenali kita pada saat terjepit dan kesusahan. Bagaimanapun juga, tidak ada perilaku yang menyalahi perintah Allah dan Rasul-Nya melainkan ancaman Allah segera datang.

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah (cobaan, bencana) atau siksa yang pedih.” (QS an-Nuur [24] : 63).

Di titik ini, tidakkah kita bertanya-tanya, mengapa bencana dan kemalangan seolah tidak berhenti menimpa kita sebagai umat dan bangsa ? Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Hidayatullah Sulsel Dorong Pertemuan Berkala Ormas Islam

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulsel melakukan kunjungan ke Sekretariat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel di Masjid Raya Makassar, Sabtu, 26 Rajab 1443 (27/2/2022).

Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Drs Narsi Bukhari MPd pada kesempatan kunjungan tersebut mengusulkan kepada MUI Sulsel untuk memediasi hadirnya forum silaturahmi dan pertemuan rutin lintas ormas Islam di Sulsel.

“Perlu untuk diadakan silaturahmi lintas organisasi untuk bisa saling memahami,” ujar Ust Nasri dalam keterangan tertulis Albayan Media Center (AMC) diterima media ini beberapa saat lalu.

Usulan tersebut Nasri Bukhari tersebut direspon positif oleh pengurus MUI Sulsel untuk segera ditindaklanjuti.

Hadir juga pada kunjungan itu pengurus DPW Hidayatullah Sulsel, Bendahara Ust Kadir MM, Kadep Ekonomi dan Aset Ust Imran Djufri SPdI, Kadep Pengkaderan Ust Nasrullah Alwi Lc, dan Ketua DPD Hidayatullah Makassar Ust Dr Nasrullah Sapa Lc MA.

Menerima langsung kunjungan tersebut Ketua Umum MUI Sulsel Prof Dr AGH Najamuddin Lc MA didampingi Sekretaris Umum Dr KH Muammar Bakry Lc MA, Kabid Pendidikan Dr KH Kamaluddin Abu Nawas MAg, Sekretaris Bidang Infokom Prof Dr H Sukardi Weda SS MHum.

KH Muammar berharap ide pertemuan rutin ormas Islam segera direalisasikan di tengah hubungan antar ormas yang berkesan semakin jauh dari persatuan. Selain itu pertemuan antar Ormas juga bisa mempertemukan titik persamaan dakwah.

“Perlunya penyatuan visi dan misi antar semua ormas untuk membangun Islam yang rahmatanlilalamin. Kita juga tidak usah lagi pertentangkan masalah hilafiyah dan mari kita kedepankan persamaan,” tuturnya.

Hal yang sama juga diutarakan KH Kamaluddin. Menurutnya, rencana silaturahmi antar ormas sangat bagus di tengah keberagamaan pemahaman. “Perlu adanya komunikasi dan persatuan untuk membangun umat yang damai,” tambahnya.

Sebelumnya, Ust Nasri dalam pengantarnya menjelaskan kunjungan pihaknya sebagai langkah awal membangun komunikasi, kolaborasi dan saling mendukung dalam kegiatan dakwah dan tarbiyah yang merupakan mainstream gerakan Hidayatullah.

“Visi dan Misi Hidayatullah adalah Membangun Masyarakat Islam melalui pendidikan dan dakwah,” tuturnya. Juga memperkenalkan kepengurusan DPW Hidayatullah Sulsel 2020-2025 dan progres kehadiran Hidayatullah di 24 kab/kota se-Sulsel.

AGH Najamuddin mengapresiasi pengurus  DPW Hidayatullah Sulsel yang telah berkunjung untuk bersilaturahmi saling menguatkan.

“Harapan saya agar Hidayatullah kedepannya semakin terbuka dan terus mendakwahkan nilai Islam yang rahmatanlilalamin dan washatiyah tanpa memaksakan pemahaman dan pendapat fiqih,” imbuhnya.

MUI Sulsel juga mendorong agar Hidayatullah di Sulsel bersama-sama untuk mengcounter isu terorisme, dan berharap melibatkan MUI pada program dakwahnya, misalnya saat Ramadhan, untuk bisa memberikan persamaan pandangan dalam berdakwah.

Menanggapi hal tersebut, Ust Nasri memastikan semua harapan pihak MUI Sulsel telah dijelaskan dalam buku panduan Hidayatullah yang akan disusulkan untuk menjadi referensi bagi MUI Sulsel agar lebih kenal mendalam tentang Hidayatullah.(fir/ybh)

Luncurkan Pondok Pesantren Tahfidz Al Qur’an di Natuna

NATUNA (Hidayatullah.or.id) — Keberadaan BMH Kepri sebagai lembaga amil zakat nasional yang amanat operasionalnya meliputi seluruh kabupaten/kota se Kepulauan Riau semakin dirasakan oleh masyarakat, termasuk di pulau terluar Indonesia, kabupaten Natuna.

Pada Sabtu, 26 Februari 2022, BMH Kepri melakukan peluncuran Pondok Tahfidz Al Qur’an sebagai bagian dari proyek pendirian pesantren di atas lahan seluas 6 hektar yang merupakan wakaf dari seorang dermawan.

Bupati Natuna Wan Siswandi , S. Sos., M. Si, yang dijadwalkan meresmikan tidak dapat hadir sehingga diwakili oleh Asisten I bidang Kesra, H. Khaidir, SE. Acara di gelar di Jalan Hang Tuah, Air Lakon, Kelurahan Batu Hitam, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna.

Kehadiran Pondok Tahfidz Al Qur’an ini merupakan bagian dari program unggulan dan prioritas BMH Kepri mengingat letak strategis kabupaten Natuna yang juga merupakan ujung tombak maritim Indonesia karena secara geografis berhadapan langsung dengan Laut Cina Selatan.

Menurut General Manager BMH Kepri, Abdul Aziz, pihaknya terpanggil memberikan dukungan dan perhatian secara khusus untuk gerakan tarbiyah dan dakwah serta kemanusiaan di Natuna karena secara tidak langsung ada peran patriotik yaitu sebagai upaya menjaga keutuhan NKRI melalui pembinaan terhadap generasi muda. Untuk tahap awal, BMH Kepri telah menyalurkan dana sekira Rp 200.000,000 (dua ratus juta rupiah).

“Pendirian Pondok Tahfidz Al Qur’an di Natuna sangat penting untuk diwujudkan karena masih minimnya wadah pendidikan yang berbasis agama seperti pondok tahfidz Al Qur’an, salah satu penyebabnya karena letak geografis yang berada di garis terluar NKRI,” tutur Abdul Aziz.

Untuk mewujudkan harapan itu, BMH Kepri bersinergi dengan DPW dan DPD Hidayatullah Natuna sebagai pengelola. Tah Huwandilah menuturkan dirinya bersama para pengurus dengan dukungan BMH Kepri bertekad mencetak hafidz-hafidz Al Qur’an dari Kabupaten Natuna.

Saat ini, imbuhnya, selain Pondok Tahfidz Qur’an yang ada di Ibu kota Kabupaten, di Kecamatan Batubi juga sudah kita bentuk Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH), ke depannya insya Allah tiap kecamatan akan kita hadirkan Rumah Quran Hidayatullah.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada BMH Kepri dan para donatur serta semua pihak yang telah memberikan dukungan atas pendirian Pondok Tahfidz Al Quran ini,” tutur putra asli Natuna ini sumringah.

Ketua DPW Hidayatullah Kepri, Darmansyah, yang turut hadir dalam peresmian menyampaikan bahwa kehadiran pondok tahfidz al Qur’an merupakan wujud keseriusan BMH Kepri yang bersinergi dengan DPW dan DPD Hidayatullah Kepri dalam memberikan pelayanan kepada ummat melalui gerakan tarbiyah dan dakwah.

Sementara itu pemerintah Kabupaten Natuna, melalui H. Khaidir menyampaikan dukungan atas launching Pondok Rumah Tahfidz Al Qur’an Hidayatullah di Natuna.

”Saat ini di Natuna masih minim sekolah-sekolah atau wadah pembelajaran Qur’an seperti Ponpes Tahfidz Qur’an ini, untuk itu kami selaku pemerintah daerah akan mendukung penuh berdirinya Ponpes ini. ” ujar Khaidir.

Pemkab Natuna menurut H. Khaidir tahun ini akan meresmikan empat Ponpes yang ada di Natuna. Hal ini sejalan dengan visi dan misi bupati Natuna yang di antaranya meningkatkan kualitas pendidikan agama Islam di Natuna.*/Mujahid M. Salbu

Rejuvinasi Jembatan Kaum Tua dan Muda

ISTILAH kaum tua dan kaum muda adalah terminologi yang tidak terpisahkan dengan perkembangan Islam dari awal. Muhammad yang diangkat menjadi Nabi pada usia 40 dengan membawa risalah Islam untuk perubahan tatanan masyarakat jahiliyah menuju Tauhid dianggap sebagai golongan muda yang mengancam eksistensi dari kaum tua. Yaitu para pembesar Makkah Quraisy yang tidak lain paman-paman Nabi Muhammad sendiri.

Kalau di awal Islam bukan hanya pertentangan usia tapi ada perbedaan yang fundamental adalah perbedaan keyakinan dan statuq quo dari kaum tua yang tidak mau menerima risalah Islam. Mereka merasa terancam kedudukan dan pengaruhnya jika menerima risalah Islam yang dibawa Nabi Muhammad. Ada gengsi dari kaum tua yang selalu mengandalkan ajaran peninggalan nenek moyang yang tidak jelas landasan dan dalilnya.

Dalam kancah perpolitikan dunia dan bangsa ini juga senantiasa ada dinamika kaum tua dan muda. Jika suatu bangsa atau partai politik tidak mempersiapkan rejuvinasi sebagai jembatan kaum tua dan kaum muda maka bisa menjadi bumerang yang meruntuhkan bangsa atau partai politik itu sendiri.

Paradigma menjadi hal yang harus disamakan agar kaum tua dan kaum muda tidak dalam garis dikotomi yang tajam bertentangan. Ini adalah dua kelompok yang harus sinergi dalam membangun kekuatan untuk kemajuan bangsa dan masyarakat secara umum dan organisasi secara khusus.

Kaum tua pada waktunya akan berakhir atau mengakhiri hidupnya sehingga perjalanan tugas harus ada regenerasi kepada kaum muda. Namun terkadang kaum tua masih kurang percaya dengan kemampuan kaum muda terkait pengalaman, skill, wawasan dan konsistensinya. Sehingga ada kekhawatiran jika mempercayakan tugas kepada kaum muda.

Sementara kaum muda dengan segala gagasan, ide, kemampuan dan semangatnya terkadang kurang sabar untuk mengambil alih tugas kaum tua yang dianggap lambat, stagnan dan statuq quo. Kaum muda ini punya semangat yang menyala-nyala dan kekuatan yang masih power full.

Inilah dua titik yang harus dipertemukan antara kaum tua dan kaum muda. Sebab jika dibiarkan berlarut-larut maka perjalanan bangsa atau organisasi tidak produktif dan tidak bisa berkembang secara ekspansif karena disibukan dengan masalah internal sendiri dan perpecahan antara kaum tua dan muda yang seharusnya tidak perlu terjadi.

Paradigma pertama yang harus disamakan bahwa perjalanan bangsa atau organisasi adalah bergenerasi. Artinya untuk kepentingan jangka panjang bukan untuk satu generasi saja, juga bukan untuk generasi oligarki bagi keluarga dan kroninya saja.

Jika paradigma ini bisa dipahami bersama maka kaum tua tugas utamanya adalah mempersiapkan generasi kaum muda untuk dibekali dengan prinsip-prinsip dan jati diri bangsa atau organisasi. Agar tidak ada kesenjangan pemahaman dan idealisme.

Selain tugas di atas, kaum tua juga harus tetap menjaga sikap mengayomi dan memberikan keteladanan yang baik sebagai bentuk transformasi kepada generasi muda. Dengan bekal kenyang pengalaman dan pengetahuan yang banyak, maka akan menjadi inspirasi dan motivasi bagi generasi muda pelanjut.

Selanjutnya harus ada kesadaran bahwa perjalanan kaum tua cepat atau lambat akan berakhir sebagaimana generasi-generasi sebelumnya. Sehingga kewajiban alih konsepsi sangat penting bagi orang tua kepada generasi muda.

Kemudian kaum muda juga harus mempersiapkan diri untuk menyerap sebaik mungkin dan sebanyak-banyaknya terhadap nilai-nilai dasar bangsa dan organisasi sehingga ada kepercayaan dari kaum tua bahwa kaum muda sudah dianggap siap.

Rasa hormat dan menjunjung kepatuhan kepada kaum tua juga harus senantiasa dijaga sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasanya. Tanpa peran dan pengorbanan mereka, maka kaum muda tidak menikmati perkembangan bangsa atau organisasi ini.

Kaum muda harus lebih sabar dan memahami perjalanan bangsa atau organisasi ini tidak mudah. Cepat atau lambat estafeta kepemimpinan akan diberikan kepada kaum muda, sehingga mempersiapkan diri dengan kompetensi dan komitmen yang minimal sama dengan kaum tua yang telah memberikan pondasi kuat dan banyak karya diberikan.

Rejuvinasi atau regenerasi adalah sesuatu yang pasti harus dilakukan tapi tidak bisa dilakukan secara frontal atau hitam putih. Rejuvinasi itu dengan bertahap dan perlu waktu panjang.

Menjembatani kesenjangan pengalaman, pengetahuan, skill dan idealisme antara kaum tua dan muda harus senantiasa dilakukan sejak dini dengan berbagai kegiatan transformasi dan pendampingan dalam berbagai event.

Ust. Abdul Ghaffar Hadi

BMH Kepri Sambangi Kampung Muallaf di Pelosok Kampung Setengar

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Dinamika kebaikan tanpa batas BMH Kepri kali ini menyasar salah satu kampung muallaf di wilayah pelosok Batam. Sebuah daerah bernama Kampung Setengar yang nyaris luput dari perhatian karena secara geografis sulit dijangkau.

Kampung Setengar yang berpenduduk sekira 15 KK atau 80 jiwa ini, masih nihil fasilitas seperti listrik, air bersih, sarana pendidikan dan fasilitas ibadah seperti mushollah.

Kunjungan BMH Kepri yang dipimpin langsung General Manager BMH Kepri, Abdul Aziz, pada Jumat, 25/02 2022, selain melakukan survey untuk pengadaan berbagai fasilitas secara bertahap, juga membawa bantuan sembako berupa beras, telur, dan kebutuhan pokok lainnya.

Kebahagiaan terpancar di wajah warga yang menyeruak dari rumah-rumah sederhana menyambut kedatangan rombongan BMH. Kegembiraan ada saudara sesama muslim yang menjenguk mereka.

Perjamuan yang berlangsung di tepi laut di bawah pohon yang rindang ditingkahi angin yang berembus lembut dimanfaatkan oleh warga untuk menyampaikan harapan-harapannya.

“Kami sangat bahagia ada yang datang dan mau membangun sumur bor, karena sudah puluhan tahun kami kesulitan air bersih,” tutur Mak Emin bersemangat.

Untuk mendapatkan air bersih, warga harus ke pulau kosong yang terletak tidak jauh dari kampung Setengar, kerap kali ibu-ibu yang harus mendayung sampan, menurut cerita mereka, kadang tengah malam mereka harus mencari air, jika ada kebutuhan mendesak.

Selain sulitnya sumur bor, ketua RT setempat, Awang Ahad juga menyampaikan kebutuhan sarana ibadah berupa mushollah, karena empat tahun silam pernah dibangun, namun, kondisinya sekarang sudah hampir runtuh.

“Kami sangat membutuhkan mushollah dan sarana belajar membaca al Qur’an untuk anak-anak, karena selama ini mereka belum pernah mendapat bimbingan membaca al Qur’an, padahal anak-anak kami inilah yang akan meneruskan keberadaan kami di kampung ini,” harap Awang Ahad.

Abdul Aziz merespon harpaan itu dengan langsung melaunching pembangunan sumur bor dan mushollah yang ditargetkan selesai sebelum ramadhan, tentu dengan dukungan para donatur dan muhsini serta kaum muslimin pada umumnya.*/Mujahid M. Salbu

Dikdasmen DPP Hidayatullah Tekankan Standardisasi dan Ekspansi Sekolah

PASER (Hidayatullah.or.id) — Departemen Pendidikan Dasar Menengah (Dikdasmen) Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah kembali menguatkan dua program utama Pendidikan Hidayatullah, yakni standardisasi dan ekspansi sekolah Hidayatullah.

Penguatan itu disampaikan kepada peserta Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Pendidikan Hidayatullah Kalimantan Timur, Sabtu, 14 Rajab 1443H (26/02/2022).

Khusus program utama ekspansi, Nanang Noer Patria, Ketua Departemen Dikdasmen DPP Hidayatullah yang hadir secara daring, menegaskan bahwa ekspansi pendidikan adalah panggilan sekaligus bukti keimanan seorang Muslim untuk menyebarkan nilai-nilai pendidikan tauhid ke seluruh masyarakat.

Menurut Nanang, sekurangnya ada tiga alasan mengapa ekspansi sekolah Hidayatullah mutlak dilaksanakan.

“Pertama, ini terkait jumlah sekolah yang dianggap belum masif secara peta pendidikan. Kedua, merupakan hasil kesepakatan Rakornas Pendidikan Hidayatullah. Ketiga, paling utama sebagai program mainstream gerakan Hidayatullah, yakni tarbiyah dan dakwah,” ucap Nanang seperti dilansir laman Ummulqurahidayatullah.

Menurut penulis buku “Rekonstruksi Sekolah” ini, para guru dan manajemen sekolah tidak boleh merasa nyaman dengan kondisi sekolah atau pendidikan yang dikelola sekarang.

Sebaliknya, kata dia, penyelenggara harus memiliki rasa tanggung jawab besar, bahwa Pendidikan Integral Berbasis Tauhid (PIBT) sebagai model sekolah Hidayatullah ini harus dinikmati seluas-luasnya oleh masyarakat dengan visi rahmatan lil alamin.

“Harus ada rasa terdesak atau a sense of urgency dalam diri setiap guru. Tapi itu saja tidak cukup kalau tak disertai dengan visi dan strategi yang jitu. Termasuk menentukan tim penggerak yang mengkomunikasikan visi ekspansi sekolah,” terangnya.

Untuk diketahui, Rakorwil Pendidikan Hidayatullah mengangkat tema besar “Konsolidasi Jati Diri, Organisasi, dan Wawasan Menuju Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik”.

Khusus di Kalimantan Timur, acara tahunan ini diadakan di Kampus Pratama Batu Sopang, Kabupaten Paser. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 50 peserta, terdiri dari para kepala sekolah dan penanggung jawab pendidikan di seluruh daerah Kalimantan Timur.

Selain agenda sosialisasi sejumlah program kerja pendidikan DPW Kalimantan Timur, juga diadakan pengukuhan Pengurus Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Hidayatullah Kalimantan Timur serta penetapan Pimpinan Satuan Komunitas Pramuka Hidayatullah Tingkat Daerah Kalimantan Timur Masa Bakti 2021-2025.

“Alhamdulillah, ini momentum memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik kepada masyarakat Kalimantan Timur. Apalagi sekolah di Bontang juga ditetapkan secara resmi sebagai sekolah model oleh Dikdasmen DPP,” ucap Ustadz Muhammad Ya’rif, Ketua Departemen Pendidikan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kaltim.

“Mohon doanya selalu,” pungkas lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan tersebut.* (Masykur/MCU)

Rakorwil Pendidikan Jatim Siap Turut Kuatkan Kualitas Pendidikan Nasional

0

SITUBONDO (Hidayatullah.or.id) — Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) Pendidikan yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan (Depdik) Wilayah Hidayatullah Jawa Timur berkomitmen untuk terus menguatkan kualitas dan mutu pendidikan di Jatim dan secara nasional.

“Kepala sekolah yang ada harus siap mengawal menjaga kualitas dan mutu pendidikan di Jatim dan secara nasional,” kata Ketua Departemen Pendidikan Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur, Adi Purwanto, dalam pembukaan acara Rakorwil di Situbondo, Jum’at, 13 Rajab 1443H(25/2/2022).

“Kepala sekolah harus siap mengawal,” tegas Adi Purwanto.

Senada dengan itu, acara yang dibuka oleh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Timur yang diwakili H. Muhammad Ali, menyampaikan apreasiasi kepada lembaga pendidikan Hidayatullah yang ada di seluruh daerah Jawa Timur.

“Kami mengapresiasi atas support pendidikan bagi organisasi,” tutur Ali dalam sambutannya pada acara yang dilgelar di Utama Raya Beach Hotel ini.

Rakowril Pendidikan Hidayatullah Jatim kali ini mengangkat tema “Standarisasi Pendidikan Integral Berbasis Tauhid Menuju Pedidikan Bermartabat”.

Sedikitnya 60 kepala sekolah Hidayatullah dari berbagai daerah di Jawa Timur yang terdiri dari kepala sekolah dan kepala madrasah Hidayatullah yang hadir pada kesempatan tersebut.

Dalam acara pra Rakorwil tersebut, seluruh peserta dan penyelenggara mengikuti pelatihan outbond yang dipimpin oleh instruktur SAKO Pandu Hidayatullah yang ada serta beragam kegiatan outdoor lainnya.*/Refra Elthanimbary

Isra Miraj, Tanggal Merah yang Sepi Peringatan

HARI INI semua kalender di Indonesia terutama milik umat Islam berwarna merah. Tertulis kecil di samping atau dibawahnya keterangan 27 Rajab sebagai Peringatan Isra Miraj. Merah artinya libur sebagaimana hari Ahad juga merah.

Mengapa tanggal merah? Sebagai tanda libur dan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memperingati momentum yang berharga itu. Sehingga muncul istilah PHBI atau Peringatan Hari Besar Islam di kalangan umat Islam untuk membuat kegiatan, acara atau agenda untuk menyemarakan peringatan hari besar Islam tersebut.

Peringatan Hari Islam adalah suatu peringatan yang tidak asing lagi, baik dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa di Indonesia. Pemerintah memfasilitasi pelaksanaan kegiatan tersebut, salah satunya pemerintah menetapkan PBHI menjadi hari libur nasional. Sebagaimana hari besar nasional dan juga hari besar agama non Islam.

Bagi umat Islam PHBI mempunyai peran yang strategis untuk meng-up grade kebiasaan pengamalan ajaran Islam yang kadang sudah mengalami kelesuan. PHBI adalah momentum untuk mengingatkan kembali peristiwa besar yang telah terjadi dan berusaha mengambil hikmah dan pelajaran dari peristiwa tersebut.

Meski hari ini, ada banyak masyarakat yang mengabaikan libur nasional ini untuk memperingati momentum yang terkait dengan hari itu. Sebagian bergembira dengan hari libur sehingga tidak sekolah atau bekerja, kemudian bisa berlbur ke tempat wisata, rekreasi, jalan-jalan dan makan-makan.

Ada juga yang memperingati tapi ala kadarnya, ada yang memperinggati tapi nyaris tidak ada hubungan dengan yang diperingati. Contohnya memperingati kemerdekaan 17 Agustus dengan sepakbola pakai sarung, sepkabola joget, sepekbola memakai daster istrinya dan lain sebagainya.

Sehingga tanggal merah nyaris tidak ada gunanya hari libur, PHBI gersang tidak ada peringatan, semua berjalan apa adanya. Padahal peristiwa penting, sejarah dan luar biasa dampaknya bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Ada kemungkinan bosan, jenuh karena setiap tahun berulang memperingati peristiwa yang sama. Kemudian mungkin juga kurang kreatif panitia untuk mendesain peringatan yang bisa menarik dan bermakna.

Bagi generasi tua memang sudah paham, tapi untuk anak-anak dan remaja PHBI adalah media untuk transformasi histori dan hikmah dari isra miraj. Sehingga PHBI itu tetap penting dan terus melakukan kreasi dan inovasi terhadap kegiatan PHBI.

Peringatan Isra miraj yang banyak dilakukan dengan melakukan pengajian, mengundang ustadz kondang (dari luar daerah) atau kandang (dari kalangan sendiri) untuk menyampaikan tausyiah terkait dengan peristiwa isra miraj.

Minimal ada dua pelajaran yang bisa dikuatkan dalam PBHI isra miraj.

Pertama, menguatakan keimanan dan keyakinan terhadap kuasa Allah dengan menjalankan Rasulullah pada malam hari dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha. Kemudian Mi’raj berarti dinaikkannya Nabi SAW dari al-Aqsha ke atas. Beliau melintasi lapis demi lapis langit hingga tiba di Sidrat al-Muntaha, sebuah dimensi yang tak terjangkau kalkulasi manusia.

Ini jika memakai logika manusia maka tidak masuk akal dan mustahil, namun dengan kaca mata iman maka lebih dari itu bagi Allah itu mudah dan sangat mudah.

Allah yang menciptakan dan menguasai alam semesta ini, tentu terlalu mudah untuk mengatur semua makhluk yang ada didalamnya. Hal ini menjadi keyakinan bagi orang-orang beriman.

Bagi orang kafir, sangat tidak percaya dan mengatakan tahayul dan mustahil untuk memahami peristiwa isra dan miraj. Karena mereka sudah tidak percaya, tidak punya iman dan hanya mengandalkan logika otaknya yang terbatas juga kecerdasannya

Kedua, perintah shalat. Isra miraj menjadi peristiwa luar biasa karena menjadi sebab turunnya perintah shalat 5 waktu yang sebelumnya 50 waktu.

Shalat bukan sekedar ibadah tapi media komunikasi seorang hamba kepada Allah. Shalat ini juga menjadi standar perbedaan orang beriman dan orang kafir dan shalat juga menjadi amal pertama yang dipertanyakan malaikat nanti hari hari hisab.

Shalat ada harga mati bagi orang beriman sehingga tidak ada alasan untuk meninggalkan kecuali pingsan atau sudah wafat. Kemudian menjaga shalat berjamaah di masjid, sunaah nawafil, shalat dhuha adalah untuk menyempurnakan nilai shalat kita.

Shalat yang hanya beberapa menit itu sangat berat jika bukan dorongan iman. Lebih ringan main gadget berjam-jam, main bola, ngobrol hingga begadang larut malam. Kuncinya memang pada keimanan.

Semoga dengan kita memperingati peristiwa isra miraj maka meingkatkan keimanan kita dan ibadah shalat kita serta ibadah yang lain.

Ust. Abdul Ghaffar Hadi

Bupati Konkep Resmikan Pesantren Pertama di Konawe Kepulauan

0

WAWONII (Hidayatullah.or.id) — Bupati Konawe Kepulauan (Konkep) Provinsi Sulawesi Tenggara Ir. H. Amrullah, MT. meresmikan Pesantren Hidayatullah Konkep yang ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan Masjid Al-Rizki Hidayatullah.

Pesantren yang diresmikan ini adalah pesantren pertama yang didirikan di kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Konawe yang berlokasi di Desa Langkoala, Kecamatan Wawonii Timur, Kabupaten Konawe Kepulauan, Jum’at, 24 Rajab 1443 (25/2/2022).

Dalam sambutannya, Bupati Konkep memberikan apresiasi dan penghargaan yang sangat tinggi kepada seluruh Pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Konkep dan pewakaf yang telah berkontribusi riil dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) di wilayah pemerintahannya tersebut.

“Semoga Pesantren Hidayatullah ke depannya bisa melahirkan santri unggul,” harap Amrullah.

Ketua DPW Hidayatullah Sultra Ust Ahmad Syahroni mengatakan dalam sambutannya, dengan hadirnya Pesantren Hidayatullah sebagai pesantren pertama yang didirikan di Kabupaten Konawe Kepulauan ini akan menjawab persoalan keumatan khususnya di Konkep.

Olehnya itu, Ahmad Syahroni berharap agar Pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Konkep bisa bersinergi dan berkolaborasi yang baik dengan program-program Pemda Konkep yang beririsan dalam meretas permasalahan yang terjadi di tengah-tengah ummat.

“Kuatkan sinergi, jadilah solusi,” pesan Syahroni.

Mengamini hal tersebut, Ketua DPD Hidayatullah Konkep sebagai Pengurus Pondok Pesantren Hidayatullah Konkep Ust. Sayye Abidin Al Hasbi siap bermitra dengan Pemda Konkep dan seluruh elemen masyarakat yang ada di Konkep dalam bidang keagamaan dan pembinaan ummat.

“Kami juga berterima kasih kepada pewakaf lahan berdirinya pesantren ini, semoga menjadi amal jariah dan terus bermanfaat bagi ummat,” ungkap ustadz muda ini.

Lahan berdirinya pesantren ini merupakan hibah dari dua orang muhsinin, yakni Bapak H. Ishak Ismail (Anak Lorong) dan Bapak Rinto yang diperantarai oleh Ketua Departemen Sosial dan Kesehatan DPWH Sultra Ust. Alimuddin.

Pewakaf yang merupakan pengusaha sukses yang masing-masing asal Kendari dan Konkep ini mewakafkan sedikitnya 1.2 Ha tanah untuk lahan pembangunan pesantren. Selain itu, keduanya juga berkomitmen untuk membantu pembangunan masjid hingga dapat difungsikan untuk pembinaan ummat.

Melalui sambutan pewakaf yang diwakili oleh Jasmin, M.Si. selaku keluarga pewakaf, keduanya berpesan agar amanah ini dijaga dan dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.

“Kami menitipkan tiga pesan,” ujarnya, “Pertama, untuk pewakaf, semoga Allah SWT senantiasa menjaga keikhlasan, kemudian menjadikan amal jariyah yang mendatangkan keberkahan dan kebahagiaan di akhirat nanti”.

Kedua, pesan Jasmin, kepada Yayasan (Pondok Pesantren) Hidayatullah, kiranya dapat menerima dan menjadikan pesantren yang bisa melahirkan anak shaleh-shalehah, penghafal Quran dan pemimpin masa depan.

“Dan ketiga, kepada masyarakat Wawonii, mari kita dukung dan bantu pengembangan pesantren yang sudah lama dirindukan kehadirannya oleh masyarakat Wawonii,” tandasnya.

Turut hadir menyaksikan acara peresmian tersebut, Ketua DPW Hidayatullah Sultra beserta staff, unsur Forkopimda Kabupaten Konkep, Danramil Konkep, Kapolsek Wawonii, Kapolsek Waworete, Kepala Desa Langkoala, tokoh agama, tokoh pendidikan, dan tokoh masyarakat setempat. */Noer Akbar

Kampus Ponpes Hidayatullah Bengkulu Tuan Rumah Video Conference Forkopimda

0

BENGKULU (Hidayatullah.or.id) — Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Bengkulu dipercaya jadi tuan rumah oleh Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Bengkulu dalam acara gelaran video conference Walikota, Kapolda, Dandim Kota Bengkulu, dan Kapolres dengan Kapolri, Kamis, 23 Rajab 1443 (24/2/2022).

Helatan acara yang digelar secara online tersebut juga merupakan kegiatan koordinasi vaksinasi serentak khususnya di Bengkulu.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam sambutannya mengimbau meminta target untuk pencapaian vaksinasi dipercepat khususnya di Kota Bengkulu.

Sementara Kapolres Bengkulu, AKBP Andi Dady, S.I.K. mengatakan diberbagai wilayah persentase lansia yang masih rendah.

“Persentase lansia ini masih rendah, untuk itu kita terus gencar mengajak lansia agar segera vaksin,” terangnya kepada wartawan di Jl. Halmahera, Surabaya, Kec. Sungai Serut, Kota Bengkulu, Bengkulu.

Senada dengan itu, Wakil Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi, S.E. M.M, mengatakan masyarakat Bengkulu hampir mencapai target.

“Kota Bengkulu sudah mencapai total 91 persen untuk dosis pertama, dosis kedua 86 persen. Kita harus tingkatkan kembali,” ungkap Wali Kota Bengkulu, Dedy Wahyudi.

Namun, lanjutnya, diharapkan untuk terus ingatkan keluarga bagi yang belum vaksin untuk segera vaksin terkhusus lansia.

Pemerintah Kota Bengkulu sangat berterima kasih kepada Kapolri, Kapolda, dan Kapolres yang senantiasa berjuang agar Indonesia kembali pulih dan terbebas dari covid.

“Diimbau kepada lansia yg masih menjadi target vaksin agar segera mengajak Keluarga terutama lansia untuk digerakkan melakukan Vaksin. Pemerintah kota sangat berterima kasih kepada Kapolri, Kapolda, Kapolres yang Sudah konsen mewujudkan Indonesia bebas dari covid,” tegasnya.

Menanggapi maraknya masyarakat yang sedang mengalami sakit seperti batuk, pilek, dan demam. Dedy menyampaikan imbauan dari presiden yaitu percepatkan vaksinasi & tetap melakukan prokes.

“Kita harus percepatkan vaksinasi, dan rencana akan melakukan razia mengimbau untuk masyarakat melakukan Prokes dan selalu memakai masker,” tutupnya.

Ketua DPW Hidayatullah Bengkulu Ust Ahmad Suhail yang turut membersamai dalam acara tersebut menyampaikan terima kasih atas kepercayaannya dan berharap sinergi dapat terus berlanjut lebih baik lagi. (ybh/hio)