MAMUJU (Hidayatullah.or.id) – Dalam kesempatan konsolidasi dan silaturahim syawal Hidayatullah Sulbar pada Selasa, 2 Syawal 1443 (3/5/2022) ditegaskan kepada seluruh peserta tentang pentingnya mengedepankan jati diri dalam kehidupan kader.
Drs. Mardhatillah ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat mengulang ulang arahannya tentang jatidiri tersebut dalam acara yang diadakan di aula Al Walidain Kampus Madya Hidayatullah Mamuju itu.
“Dalam pribadi kader harus tertanam mental taat yang mengedepankan kepentigan jamaah atau organisasi sebelum urusan pribadi dan keluarga” tegasnya.
Tekanan pesannya dipertegas pada sikap, jangan membalikkan logika dengan mendahulukan kepentingan pribadi dan keluarga baru menomor duakan urusan organisasi, hal tersebut tidak bisa ditoleransi.
Ditambahkan, menurutnya, pelaksanaan acara kultural tahunan tersebut sengaja diadakan pada hari ke dua lebaran Idul Fitri mengingat banyak pengurus akan izin silaturahim ke keluarga.
Hal itu dimaksudkan agar kedua kepentingan dasar itu dapat berjalan secara seimbang, kewajiban sebagai pengurus organisasi dapat ditunaikan dengan tidak menafikan diri sebagai anggota keluarga yang harus jadi teladan.
Terlebih di kesempatan konsolidasi dan silaturahim itu mengundang senior lembaga secara virtual yakni, ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Dr. Tasyrif Amin, M.Pd. untuk membawakan materi tentang Konsolidasi Jatidiri adalah Keniscayaan.
Sedangkan Anggota Majelis Penasehat ustadz Amin Mahmud membawakan Refleksi Ramadhan; Mengenang Perjalanan Lembaga dan ketua bidang Tarbiyah Ir. Abu A’la Abdullah, M.HI diamanahkan untuk materi Tri Konsolidasi Menuju Sukses Program Mainstream.
Seluruh peserta yang hadir selain melakukan konsolidasi juga silaturahim Syawal dan mendapatkan wejangan dari para senior lembaga.
Hadir dalam acara tersebut pengurus DPD Hidayatullah se Sulawesi Barat, Dewan Murabbiyah Wilayah, organisasi pendukung tingkat wilayah PW Mushida dan PW Pemuda Hidayatullah, pengurus BMH Perwakilan Sulawesi Barat, PW SAR Hidayatullah.
Juga dalam momen lebaran Idul Fitri 1443 Hijriyah tersebut baik pemateri dan peserta saling memohon maaf dengan harapan seluruh amal ibadahnya diterima Allah Subhanahu Wa Taala.*/Bashori
QADHI Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim – salah seorang murid Imam Abu Hanifah – bercerita: “Saya biasa duduk bersama khalifah Harun ar-Rasyid dan makan dari hidangannya. Suatu hari, disajikan kepadanya faludzaj (sejenis makanan mewah), maka khalifah berkata, “Hai Ya’qub, makanlah ini, sebab makanan seperti ini tidak dibuat setiap hari untuk kami.”
Saya bertanya, “Apa ini, wahai Amirul Mu’minin?” Dijawab, “Ini adalah faludzaj yang disiram dengan minyak fustuq.” Saya pun tertawa. Khalifah bertanya, “Mengapa engkau tertawa?” Saya jawab, “Tidak apa-apa. Semoga Allah mengekalkan Amirul Mu’minin.”
Khalifah berkata, dan benar-benar mendesak saya, “Sungguh, ceritakan kepadaku!”
Saya (Abu Yusuf Ya’qub) pun menceritakan sebabnya: ayah saya – Ibrahim bin Habib – meninggal dunia, sedang saya masih kecil dan diasuh ibu. Saya pun diserahkan kepada tukang binatu untuk magang bekerja padanya.
Suatu hari, saya meninggalkan tukang binatu dan melewati halaqah Abu Hanifah. Saya pun duduk mendengarkan. Ibu menyusul saya ke halaqah itu, menarik tangan saya dan membawa saya kembali kepada tukang binatu.
Abu Hanifah sangat memperhatikan saya, sebab beliau melihat keinginan kuat saya untuk belajar. Karena peristiwa itu terus berulang dan ibu merasa bosan dengan “pelarian” saya ke majelis Abu Hanifah, ibu pun berkata kepada beliau, “Anak ini tidak memiliki kekurangan selain kamu! Ia anak yatim yang tidak punya apa-apa. Aku memberinya makan dari alat pemintal benangku. Aku berharap ia bisa bekerja mendapatkan uang satu daniq untuk menghidupi dirinya sendiri.”
Beliau pun (Abu Hanifah) menjawab, “Pulanglah, Bu. Anak ini sebenarnya sedang belajar makan faludzaj yang disiram dengan minyak fustuq”. Ibu pun pergi sambil berkata, “Engkau ini orang tua yang sinting dan tidak waras!”.
Khalifah Harun ar-Rasyid sangat takjub mendengar kisah itu, lalu berkata, “Sungguh, aku bersumpah, ilmu itu benar-benar mengangkat derajat seseorang dan bermanfaat baginya, baik bagi agamanya maupun kehidupan dunianya”. Khalifah kemudian mendoakan Abu Hanifah, dan berkata, “Beliau melihat dengan mata hatinya, sesuatu yang sebenarnya tidak bisa dilihat dengan mata kepalanya.”
Inilah yang – dalam Islam – disebut firasat, yakni lintasan pikiran yang terbit dari kekuatan iman dan kedekatan dengan Allah. Dengannya seseorang bisa menyaksikan apa yang tersembunyi dari mata kepala. Sejenis dengannya adalah karamah, yaitu tampilnya hal-hal ajaib dari seseorang yang bukan Nabi.
Akan tetapi, perlu diingat, bahwa firasat dan karamah adalah karunia Allah; bukan hasil latihan, belajar maupun warisan. Ia muncul begitu saja sesuai kehendak-Nya, bukan karena permintaan yang bisa terjadi setiap saat. Maka, kekuatan firasat maupun karamah tidak bisa dipertontonkan di panggung-panggung hiburan, apalagi menjadi profesi.
Di zaman ini, ternyata “kemampuan” seperti itu tetap menggoda manusia. Sulap, magic, hipnotis, kekuatan supranatural, atau entah apapun itu namanya, selalu menarik perhatian. Terselip kekaguman, rasa ingin tahu, sekaligus kengerian dan misteri.
Kita sering mendapati orang-orang yang dengan “kemampuannya” bisa memberitahukan apa yang tertutup dan tersembunyi, mengetahui penyakit tanpa memeriksa pasien, atau “mengobati” dari jarak jauh.
Akan tetapi, apakah semua itu benar dan identik dengan firasat serta karamah? Untuk memastikan, sebenarnya kita – terlebih dahulu – harus memeriksa siapa orang itu; agar diketahui darimana “kemampuannya” bersumber.
Rasulullah bersabda, “Berhati-hatilah kamu terhadap firasat seorang mukmin, sebab ia melihat dengan (diterangi) cahaya Allah.” (Riwayat Tirmidzi, dari Abu Sa’id al-Khudry).
Hadits tersebut, memang diperselisihkan ulama’. Sebagian mereka bahkan mengkategorikannya sebagai hadits maudhu’ (palsu), seperti Ibnul Jauzi dan ash-Shaghani. Namun, Ibnu Hajar, al-Haitsami, as-Suyuthi dan asy-Syaukani menyatakannya sebagai hadits hasan (baik), karena maknanya memiliki penguat dari sumber lain. Jadi, ia bisa dijadikan pegangan.
Yunus bin Abdul A’la pernah berkata kepada Imam Syafi’i, “Tahukan Anda, wahai Abu ‘Abdillah, apa yang dikatakan oleh teman kami?” Maksudnya, al-Laits bin Sa’ad atau lainnya. Bahwa ia berkata, “Andaikan engkau melihat dia (penganut bid’ah) bisa berjalan di atas air, maka jangan percaya, jangan perdulikan, dan jangan pula berbicara dengannya.” Beliau pun menanggapi, “Sungguh, demi Allah, dia telah berkata dengan ringkas dan padat.” (lihat: Syarh I’tiqadi Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya al-Lalika’iy).
Artinya, “kemampuan” semacam itu takkan Allah berikan kepada pelaku bid’ah, apalagi ahli maksiat dan orang kafir. Menurut Syarif Ali al-Jurjani dalam at-Ta’rifat, jika saja hal itu muncul dari mereka, maka namanya istidraj, yakni kemuliaan semu yang akan menyeret mereka ke dalam kehinaan dan siksa-Nya perlahan-lahan.
Benar bahwa tebakan-tebakan mereka adakalanya tepat, namun bangsa jin suka mencuri dengar berita dari langit, lalu dibisikkannya ke telinga orang-orang fasik atau kafir yang bekerjasama dengannya, setelah dicampur dengan sejuta kebohongan.
Dalam kitab Bariqah Mahmudiyah dikatakan bahwa firasat hanya bisa dicapai dengan komitmen yang kuat kepada Allah, seperti menundukkan pandangan (ghaddhul bashar), menahan diri dari syahwat, memakmurkan jiwa dengan muraqabah (senantiasa merasa diawasi oleh Allah), dan membiasakan diri memakan yang halal.
Artinya, hal-hal ajaib yang keluar dari sosok yang jauh dari jalan Allah, pasti merupakan bagian dari tipuan syetan untuk menyesatkan manusia. Biasanya, setelah itu syetan akan menggiring kepada kemaksiatan yang sesungguhnya. Syetan punya maksud-maksud lain di balik itu, yang tidak selalu kita tahu. Oleh karenanya, waspadalah!
The Fed Menaikkan Suku Bunga : Rupiah Terancam Melemah, Utang Semakin Bertambah. Bagaimana Solusinya?
Bagi yang awam seringkali bingung dan bertanya dengan berita yang menyebutkan jika The Fed menaikkan suku bunga acuan, maka akan berdampak kepada ekonomi dunia.
Seperti kemarin dimana diumumkan bahwa The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin. Dimana keputusan tersebut merupakan yang tertinggi dalam 22 tahun terakhir. The Fed juga menargetkan suku bunga dana federal berada di kisaran 0,75% hingga 1%. Lalu siapakah The Fed itu, apak wewenangnya, dan bagaimana dia begitu perkasa mengatur perekonomian dunia?
Federal Reserve System (juga disebut Federal Reserve, atau secara informal The Fed) dikenal sebagai bank sentral Amerika Serikat. Lembaga ini didirikan pada tahun 1913 dengan diberlakukannya Undang-Undang Federal Reserve, terutama sebagai respon kepanikan finansial pada tahun 1907. Dimana bank sentral ini merupakan gabungan dari bank sentral yang ada di negara-negara bagian AS.
The Fed terdiri dari tiga entitas utama, yaitu dewan gubernur, gabungan 12 bank sentral regional yang disebut Federal Reserve Banks, dan Komite Pasar Terbuka Federal / Federal Open Meeting Committee alias FOMC.
Sebagai bank sentral negara dengan ekonomi terbesar dunia, apapun keputusan The Fed bisa mengubah kondisi pasar. Apalagi dolar AS sebagai mata uang resmi Amerika Serikat digunakan sebagai mata uang global dan diterima di seluruh dunia. Hampir semua negara juga menjadi dolar AS sebagai cadangan devisa. Posisi kuat The Fed ini menjadikannya sebagai acuan bagi bank-bank sentral di seluruh dunia.
Keputusan The Fed kerap kali dijadikan dasar bagi bank sentral negara lain dalam mengambil kebijakan moneter. Sementara itu, FOMC merupakan media utama yang digunakan The Fed untuk berkomunikasi dengan investor mengenai kebijakan moneter. FOMC melakukan rapat berkala dan pemungutan suara untuk penetapan suku bunga hingga pembahasan proyeksi ekonomi.
Meski The Fed berjuluk Bank Sentral AS, tapi menariknya, 12 bank Federal Reserve yang menyusun The Fed sesungguhnya adalah swasta. Sementara dewan gubernur merupakan struktur puncak The Fed sebagai bentuk lembaga pemerintah pusat yang sifatnya independen.
Dari 12 Bank Federal Reserve tersebut, masing-masing bertanggung jawab atas bank anggota yang berlokasi di distriknya. Mereka berlokasi di Boston, New York, Philadelphia, Cleveland, Richmond, Atlanta, Chicago, St. Louis, Minneapolis, Kansas City, Dallas, dan San Francisco. Ukuran setiap distrik ditetapkan berdasarkan distribusi populasi Amerika Serikat ketika Undang-Undang Federal Reserve disahkan.
Sebegitu perkasanya The Fed tersebut, berdasarkan penelusuran dari wikipedia, tugas utama Federal Reserve adalah:
1. Menyelenggarakan kebijakan moneter negara dengan mempengaruhi kondisi moneter dan kredit dalam ekonomi dengan tujuan penyerapan tenaga kerja yang maksimal, harga yang stabil, serta tingkat suku bunga jangka panjang yang moderat.
2. Melakukan pengawasan dan regulasi atas institusi perbankan untuk menjamin keamanan perbankan nasional dan sistem finansial nasional, serta melakukan perlindungan terhadap hak-hak kredit konsumen.
3. Menjaga stabilitas sistem finansial dan risiko sistemik di dalamnya yang dapat muncul pada pasar finansial
4. Menyediakan layanan finansial kepada lembaga penyimpanan, pemerintah Amerika Serikat, serta institusi resmi asing, termasuk memainkan peran penting dalam menjalankan sistem pembayaran nasional.
Dari Kartel Ke Konspirasi.
Menurut the global-review, The Fed dalam sejarahnya dilahirkan di Jekyll Island, Amerika Serikat yang diprakarsai oleh tujuh pengusaha yang kekayaannya merupakan 25% kekayaan dunia saat itu. Adapun 7 pendiri terdiri dari:
1. Nelson Aldrich Rockefeller, Senator Partai Republik (1910), Ketua Komisi Moneter Nasional AS, sejawat bisnis JP Morgan dan ayah mertua dari John D. Rockefeller
2. Jr. Abram Piatt Andrew, asisten Menteri Keuangan AS
3. Frank Arthur Vanderlip, Presiden The National City Bank of New York, bank paling kuat saat itu, mewakili William Rockefeller dan the International Investment Banking House of Kuhn, Loeb & Co.
4. Henry P. Davidson, mitra senior JP Morgan Company
5. Charles D. Norton, Presiden JP Morgan’s First National Bank of New York
6. Benjamin Strong, Kepala JP Morgan Bankers Trust Company dan menjadi Kepala Federal Reserve System pertama (1910)
7. Paul M. Warburg, partner Kuhn, Loeb & Company dan wakil dari Dinasti Rothschild Inggris,Perancis, dan Jerman.
Di AS dikuasai dua kelompok bisnis utama, yakni JP. Morgan dan Rockefeller sebagai jaringan dalam sistem keuangan AS. Di Eropa proses yang sama dikuasai oleh Keluarga Rothschild dan Warburg.
Mereka setelah mendirikan The Fed dikenal dengan kelompok Jekyll Island, sebagai persekutuan bisnis Yahudi yang menguasai sistem keuangan global. Sebagaimana disebut di atas, maka pada tahun 1913 The Fed dikukuhkan dalam Undang-undang menjadi ‘The Federal Reserve Act’, undang-undang sub-komite dari the House Committee on Currency Banking di bawah pimpinan Arsene P. Pujo.
Namun jika melihat kepada pendirinya sebagaimana tersebut di atas, maka sesungguhnya The Fed ini awalnya merupakan Kartel Murni. Bahkan, The Fed bagi pengamat kala itu adalah kartel bank yang dilegalisir, namun begitulah kehebatan dari para maestro keuangan global ini, sebagian menyebutnya Emporium Jewish Conspiracy (Konspirasi Yahudi Emporium).
Kenapa disebut konspirasi? Karena pertemuan di Jekyll Island merumuskan 5 kesepakatan rahasia: (1) Monopoli perbankan; (2) Monopoli penciptaan uang untuk dipinjamkan; (3) Menguasai cadangan seluruh bank; (4) Memindahkan kerugian pada pembayaran pajak/nasabah sebagai bail-out; (5) Meyakinkan kongres bahwa skema itu melindungi publik karena The Fed sebagai soko guru stabilitas moneter AS.
Ancaman Bagi Indonesia
Peningkatan suku bunga the Fed seperti saat ini, biasanya akan diikuti dengan meningkatkan nilai tukar Dolar terhadap semua mata uang. Sehingga secara relatif Rupiah juga akan dapat terdepresiasi dalam jangka pendek.
Akan tetapi, kekuatan nilai tukar mata yang, tidak hanya dapat ditentukan oleh faktor global namun juga fundamental ekonomi suatu negara. Dengan demikian maka, di sisi APBN, jika terjadi pelemahan rupiah akan dapat membebani pembayaran hutang dan obligasi dalam Dolar.
Hal lain yang perlu diantisipasi adalah berdampak kepada berkurangnya cadangan devisa Indonesia, karena terjadinya capital outflow dari pasar keuangan. Dimana capital outflow merupakan keluarnya dana atau modal dari dalam negeri keluar negeri baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam hal ini, AS akan menarik semua cadangan dollarnya yang akan di luar negeri. Sehingga selain menerpa pemerintah juga akan menggilas swasta yang bertransaksi dengan dolar.
Secara makro, Indonesia tertolong dengan berbagai sentimen positif di sisi fundamental, seperti neraca perdagangan yang positif dan pasokan valuta asing (valas), cukup mampu menjaga pergerakan nilai tukar rupiah. Namun, yang tidak bisa dihindari, jika rupiah melemah, maka dampak lainnya adalah terkait dengan nilai hutang baik pemerintah maupun swasta yang bentuk dollar juga akan membengkak jika dikonversi dalam rupiah.
Solusi Paradigmatik
Mengutip al-Wa’ie, maka setidaknya mesti mengubah sistem keuangan dunia dari aspek moneter dan diskalnya dalam perspektif Islam. Sebagaimana kita ketahui bahwa kebijakan moneter bertujuan menjaga jumlah uang beredar di masyarakat. Sementara itu, tujuan kebijakan fiskal adalah mengelola dan menjaga kesejahteraan sektor-sektor pelaku perputaran uang, mulai dari konsumen, pekerja, sampai pelaku usaha.
Dalam aspek moneter, hal yang paling mendasar adalah dengan mengubah dominasi mata uang dolar dengan sistem moneter berbasis dinar dan dirham. Setidaknya beberapa keunggulan sistem dinar-dirham di antaranya:
1. Dinar-dirham merupakan alat tukar yang adil bagi semua pihak, terukur dan stabil. Dalam perjalanan sejarah penerapannya, dinar-dirham sudah terbukti sebagai mata uang yang nilainya stabil karena didukung oleh nilai intrinsiknya.
2. Tiap mata uang emas yang dipergunakan di dunia ditentukan dengan standar emas. Ini akan memudahkan arus barang, uang dan orang sehingga hilanglah problem kelangkaan mata uang kuat (hard currency) serta dominasinya.
Selama ini mata uang dolar sering dijadikan alat oleh Amerika Serikat untuk mempermainkan ekonomi dan moneter suatu negara. Bahkan Amerika sebagai pencetak dolar bisa dengan mudahnya bisa membeli barang-barang dari negara-negara berkembang dengan mata uang dolar yang mereka miliki.
Inilah yang dikritik oleh Rakadz, Ekonom Amerika, yang juga salah seorang intelijen ekonomi Amerika. Ia menyatakan dalam artikelnya, “Apa yang terjadi pada dunia di ambang tahun 2015? Ambang fase baru dari depresi besar ekonomi.” Dia menyatakan, Bank Federal telah mencetak uang dengan sembarangan, bahkan triliunan dolar AS.
Sedangkan dalam aspek fiskal adalah dengan melakukan perubahan pelaku perputaran yang ada secata adil. Dimana, dalam sistem ekonomi Islam dikenal tiga jenis kepemilikan: kepemilkan pribadi; kepemilikan umum dan kepemilikan negara. Seluruh barang yang dibutuhkan oleh masyarakat banyak dan masing-masing saling membutuhkan, dalam sistem ekonomi Islam, terkategori sebagai barang milik umum.
Benda-benda tersebut tampak dalam tiga hal: (1) yang merupakan fasilitas umum; (2) barang tambang yang tidak terbatas; (3) sumberdaya alam yang sifat pembentukannya menghalangi untuk dimiliki oleh individu. Kepemilikan umum ini dalam sistem ekonomi Islam wajib dikelola oleh negara dan haram diserahkan ke swasta atau privatisasi. Dengan demikian maka, solusi Islam merupakan solusi paradigmatik, dimana akan menciptakan kesejahteraan rakyat secara adil. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang hanya membutuhkan waktu sekitar dua tahun dalam mensejahterakan rakyatnya.
WalLahu a’lam bi ash-shawab
Asih Subagyo│Peneliti Senior Hidayatullah Institute
HARI ini, In Syaa Allah merupakan penghujung Ramadhan 1443H. Memang kepastiannya masih menunggu hasil isbat kementrian agama. Namun dari hasil metode hisab, maka sangat mungkin untuk dilakukan rukyah. Sehingga tanggal 2 Mei 2022, hampir dipastikan 1 Syawal 1443H.
Setelah satu bulan berpuasa, beserta seluruh amalan didalamnya, maka Ramadhan pasti akan meninggalkan Kita. Padahal masih terasa niktatnya beribadah di bulan Ramadhan. Demikian juga jika direnungkan masih banyaknya amalan yang belum kita optimalkan di bulan Ramadhan ini. Namun kepergiannya tidak mungkin ditunda lagi.
Mungkin diantara kita ada yang tetap ingin mendapati suasana ramadhan. Akan tetapi tidak sedikit yang menyambut dengan kegembiraan, bersuka cita karena meninggalkan ramadhan dan segera mendapati Idul Fitri. Setidaknya hal ini dibuktikan dengan semua jalur transportasi sudah mulai ramai sejak beberapa hari lalu.
Toko-toko pakaian dan pasar sesak dikunjungi pembeli. Ramainya paket dari marketplace atau toko online. Bahkan, orang bersedia bermacet-macet ria, berjam-jam, untuk kemudian akan merayakan hari raya di kampung halamanya. Dengan dalih merayakan kemenangan itu.
Kebanyakan dari kita memang bersuka cita, tapi sungguh semesta alam sebenarnya sedang berduka cita karena kepergiannya. Pertanyaannya adalah, apakah tahun depan kita masih bisa menjumpai Ramadhan lagi?
Sikap kebanyakan kita seperti ini, sesungguhnya sangat menyelisihi dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para salafush shaleh. Sebab bagi mereka, kepergian bulan agung ini, seolah-olah menjadi musibah besar, sehingga tak jarang di antara mereka yang merasa sedih, pilu, dan merasa kehilangan.
Bagaimana tidak, momentum tahunan yang penuh berkah, ampunan, dan pembebasan dari api neraka ini terasa begitu singkat, sedangkan mereka belum tahu pasti apakah amalan-amalan yang dilakukan sudah diterima dan apakah dosa-dosa yang menggunung tinggi sudah diangkat? Sebagaimana dalam sebuah hadits,”Celakalah seorang yang memasuki bulan Ramadhan namun dia tidak diampuni (HR. Hakim dan Thabrani).
Dalam salah satu riwayat hadits, dari sahabat Jabir radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wassalam bersabda, “Jika malam Ramadhan berakhir, seluruh makhluk-makhluk besar, di segenap langit dan bumi, beserta malaikat ikut menangis. Mereka bersedih karena bencana yang menimpa umat Muhammad saw.”
Para sahabat bertanya, “bencana apakah ya Rasul?” Nabi menjawab “Kepergian bulan Ramadhan. Sebab di dalam bulan Ramadhan segala doa terkabulkan, Semua sedekah diterima dan amalan-amalan baik dilipatgandakan pahalanya, penyiksaan sementara di hapuskan.”
Sementara itu dalam kitab Lathaif al-Ma’arif, Ibnu Rajab al Hambali berkata;
“Bagaimana bisa seorang mukmin tidak menetes air mata ketika berpisah dengan Ramadhan, Sedangkan ia tidak tahu apakah masih ada sisa umurnya untuk berjumpa lagi. Hati orang-orang yang bertakwa mencintai bulan ini, dan bersedih karena pedihnya berpisah dengannya Wahai bulan Ramadhan, Mendekatlah, berderai air mata para pecintamu, terpecah hati mereka karena perihnya berpisah denganmu.
Semoga perpisahan ini mampu memadamkan api kerinduan yang membakar, Semoga masa bertaubat dan berhenti berbuat dosa mampu memperbaiki puasa yang ada bocornya, Semoga yang terputus dari rombongan orang yang diterima amalannya dapat menyusul. Semoga tawanan dosa-dosa bisa terlepaskan, Semoga orang yang seharusnya masuk neraka bisa terbebaskan. Dan semoga rahmat Allah bagi pelaku maksiat akan menjadi hidayah taufik.”
Diriwayatkan suatu saat Khalifah Umar bin Abdul Aziz radhiallahu’anhu, keluar rumah di hari Idul Fitri. Dalam khutbahnya beliau menandaskan:
“Wahai rakyatku sekalian! Kalian telah berpuasa karena Allah Subhanahu Wata’ala selama tiga puluh hari. Demikian juga telah menunaikan shalat malam tiga puluh hari. Hari ini kalian keluar untuk memohon kepada Allah agar semua amalan diterima.”
Pada momen demikian, ada seorang salaf yang menampakkan kesedihan. Kemudian ia ditanya, “Bukankah ini hari kegembiraan dan kesenangan?” Ia menjawab, “Benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba yang Allah perintahkan melakukan amalan. Sedangkan aku tidak tahu apakah amalan itu diterima atau tidi? Itulah yang membuatku sedih.”
Jauh sebelum era khalifah Umar bin Abdul Azis ra di atas, kekhawatiran yang sama juga pernah dirasakan oleh para sahabat Rasulullah SAW. Di antaranya adalah Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a. Diriwayatkan, di penghujung Ramadhan, Sayyidina Ali r.a bergumam, “Aduhai, andai aku tahu siapakah gerangan yang diterima amalannya agar aku dapat memberi ucapan selamat kepadanya, dan siapakah gerangan yang ditolak amalannya agar aku dapat ’melayatnya’.”
Sehingga wajar jika para salafush shalih sangat bersedih saat meninggalkan Ramadhan. Sebab dalam hadist yang diriwayatkan Ibnu Abbas ra, Rasulullah bersabda,“Sekiranya umatku ini mengetahui apa-apa (kebaikan) di dalam bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar tahun semuanya itu menjadi Ramadhan.”
Sementara itu, betapa susasana Ramadhan seperti itu sangat dirindukan oleh generasi terdahulu, sebagaimana di sampaikan oleh Ibnu Rajab al-Hambali berikut, “Sebagian salaf berkata, “Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar mereka disampaikan pada Bulan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa berdoa selama 6 bulan agar Allah menerima (amalan mereka di bulan Ramadhan).”
Dari uraian di atas, sesungguhnya memandu kita untuk semakin realistis dan proporsional dalam bersikap ketika berpisah dengan ramadhan dan menuju idul fitri serta bulan syawal. Meski mungkin kita masih jauh dan belum sampai pada derajat sahabat, tabi’in, tabiut tabi’n dan generasi salaf sebagaimana tersebut di atas, tetapi setidaknya jangan berlebihan, boros, berfoya-foya dlsb dalam menyambut hari kemenangan tersebut.
Sikap seperti ini akan menciderai ramadhan yang susah payah kita jalankan. Justru, kita harus tetap menjaga bahkan jika mampu terus meningkatkan ibadah dan amal sholeh yang sudah menjadi habits dalam bulan Ramadhan itu.
Dengan demikian maka, tugas kita pada bulan-bulan berikutnya adalah menjadikannya sebagaimana bulan Ramadhan. Hal ini tentu tidak mudah. Akan tetapi ini bagian dn indikator dari sukses atau tidaknya selama ramadhan yang akan kita tinggalkan ini.
Benarkah predikat takwa sudah kita dapat. Atau lebih jauh dari itu, apakah lailatul qodr juga kita perolah? Mari kita buktikan dengan ibadah dan amal sholeh di sebelas bulan berikutnya. Wallahu a’lam.
Asih Subagyo,peneliti senior Hidayatullah Institute
LUWU TIMUR (Hidayatullah.or.id) -– Mengawali kunjungan kerjanya di Kecamatan Towuti, Bupati Luwu Timur, H. Budiman didampingi Ketua TP PKK, Sufriaty dan Asisten II, Masdin, meletakkan batu pertama pembangunan Masjid Umar Bin Abdul Aziz Pondok Pesantren Hidayatullah Towuti, Selasa, 25 Ramadan 1443 (26/04/2022).
Selain Bupati, turut pula meletakkan batu, Ketua DPRD Luwu Timur, Aripin, Wakapolres Lutim, Kompol Muh. Rifai, Camat Towuti, Saenal, Kanto dari PT. Vale, Kepala Desa Asuli, Martha Soba’ Palengka, dan pengurus pembangunan masjid tersebut.
Dalam sambutannya, Bupati Budiman mengaku sangat bersyukur bisa datang di tempat ini untuk membuat satu kebaikan, karena tidak semua orang punya kesempatan bisa melakukan peletakan batu pertama seperti ini.
Adapun harapan-harapan Ustadz Haerul yang ia sampaikan tadi, Bupati mengaku bahwa itu juga merupakan harapan pemerintah daerah.
“Doakan, kita titip uang di desa untuk 1 miliar 1 desa yang didalamnya ada 1 hafidz 1 desa, dengan harapan bahwa setahun itu bisa lahir paling tidak 127 hafidz yang lahir dari program 1 miliar 1 desa tersebut,” harap Budiman.
Dirinya juga memohon doa karena pemerintah daerah saat ini tengah membangun Islamic Center yang mempunyai anggaran di tahun 2022 sebesar 15 miliar, begitu juga di tahun 2023 sebesar 15 miliar.
“Namun, itu tidak akan mengganggu bantuan-bantuan ke rumah ibadah. Mungkin karena kita banyak hal seperti itu maka Allah melapangkan kita dalam menyusun APBD. Dan kita juga titip dalam anggaran 1 miliar 1 desa itu, maksimal 100 juta kepala desa bisa membantu rumah ibadah, karena kita memang sudah siapkan menu-menunya. Jadi ada hal yang kepala desa, ada juga pemerintah daerah,” bebernya.
Bupati juga mengungkapkan bahwa Luwu Timur tidak akan lama lagi memperingati hari jadinya yang ke-19 yang jatuh pada tanggal 3 Mei.
Namun karena 3 Mei cuti bersama jadi puncak acaranya diperingati pada tanggal 12 Mei 2022 yang rencananya akan dihadiri langsung oleh Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman.
Di usia Luwu Timur yang ke-19, tentu banyak yang sudah dilakukan tapi masih banyak harapan masyarakat yang belum ditunaikan.
“Untuk itu mari kita bersabar, saya memohon doa para alim ulam, tokoh-tokoh masyarakat, kita saling mendoakan, mudah-mudahan kita bisa jalankan seluruh program yang telah kita rencanakan secara bersama-sama,” ucap Bupati Luwu Timur.
Diakhir acara, Ketua TP PKK Kabupaten Luwu Timur, Hj. Sufriaty Budiman menyerahkan Al-Qur’an untuk digunakan anak-anak ponpes Hidayatullah nantinya. (lsc/hio)
HALMAHERA (Hidayatullah.or.id) — Laznas BMH terus memberikan kebaikan hingga ke pulau terluar Indonesia, yakni Pulau Morotai.
“Alhamdulillah pada hari Selasa (26/4) BMH menggelar Buka Puasa Berkah bersama santri di pulau terluar Indonesia, yakni di Pesantren Hidayatullah Pulau Morotai,” terang Kepala BMH Perwakilan Maluku Utara, Asfir, Selasa (26/4) seperti dikutip dalam rilisnya.
Selain di Pulau Morotai, kegiatan serupa juga berlangsung di Bacan dan Halmahera Selatan. Total penerima manfaat mencapai ratusan santri, dai dan guru ngaji.
Gelaran ini pun dapat sambutan bahagia dari santri dan dai serta guru ngaji di pulau terluar itu.
“Terima kasih kepada BMH dan para donatur. Kami yang di pulau terluar pun dapat kebahagiaan dari BMH dan para donatur. Semoga Allah lancarkan rezekinya,” ucap Ustadz Rikhman Alwi (25), dai tangguh BMH di Pulau Morotai.
Pulau Morotai merupakan pulau terluar Indonesia dan langsung berbatasan dengan Filipina.
“BMH dengan kesadaran umat berzakat, infak dan sedekah mampu menjangkau pulau terluar itu, tepatnya di Desa Cucu Mare, lokasi berdirinya Pesantren Hidayatullah Morotai,” kata Asfir.*/Herim
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sebagaimana tahun tahun sebelumnya, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia Dr. (H.C.) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla yang juga dikenal sebagai pengusaha kembali membagikan paket bingkisan lebaran kepada masyarakat termasuk sebanyak 1500 pack yang diamanahkan kepada Hidayatullah.
Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Abdul Ghofar Hadi, menyampaikan atas nama keluarga besar ormas Islam Hidayatullah mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya atas kepercayaan keluarga besar Bapak Jusuf Kalla yang mendistribusikan Paket Lebaran Idul Fitri 1443 H kepada jamaah Hidayatullah dan kaum dhuafa yang membutuhkan.
“Secara kelembagaan, Hidayatullah mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pak JK dan leluarga, yang memberikan kepercayaan kepada kami untuk menerima dan juga mendistribusikan paket sembako,” kata Ghofar kepada Hidayatullah.or.id, Rabu, 26 Ramadan 1443 (27/4/2022).
Atas nama keluarga besar Hidayatullah, Ghofar juga mendoakan untuk kesehatan, kebaikan, kemuliaan, dan keberkahan bagi Pak JK dan keluarga besar.
Wasekjen DPP Hidayatullah ini pun memuji teladan kedermawanan keluarga besar Jusuf Kalla yang telah berlangsung rutin sejak puluhan tahun lalu, bukan saja pada bulan Ramadhan dan Idul Fitri, terutama yang diberikan kepada ormas dan lembaga lembaga Islam termasuk Hidayatullah.
“Semoga Allah senantiasa menjaga Pak JK dan keluarganya, memberikan keberkahan harta dan umurnya, pahalanya dilipatgandakan atas amal ibadah dan amal sholehnya, mendapatkan kemuliaan dan surga di akherat, Aamiiin,” kata Ghofar.
Setelah dikemas dalam dus yang telah disiapkan, paket sembako bingkisan lebaran tersebut distribusikan secara merata di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.
Pendistribusian dilakukan melalui jaringan Hidayatullah se Jabodetabek seperti DPW Hidayatullah DKI Jakarta, DPD Hidayatullah se-Jabodetabek, Pemuda Hidayatullah, SAR Hidayatullah, Muslimat Hidayatullah, serta
lembaga lain dibawah naungan ormas Hidayatullah.
“Adapun pembagian kepada fakir miskin dan dhuafa di sekitar kantor DPP Hidayatullah, kami melakukan kerjasama dengan tokoh masyarakat dan kepengurusan RT setempat, untuk memastikan bahwa paket lebaran ini tersalurkan pada orang yang benar-benar membutuhkan,” kata Ghofar.
Dalam setiap kemasan kardus bingkisan lebaran sumbangan dari bos perusahaan konglomerasi Kalla Group tersebut berisi 4 kg beras, 1 kaleng susu, 1 kecap botol, 1 teh kotak, 2 bungkus biskuit, 1 bungkus abon, dan 1 lembar sarung.
Ghofar menjelaskan, distribusi paket yang diberikan keluarga besar Pak Jusuf Kalla kepada Hidayatullah ini dilakukan bekerja sama dengan pengurus RT dan jejaring Hidayatullah se-Jabodetabek sehingga pendistribusian paket diharapkan dapat sampai kepada masyarakat yang paling membutuhkan seperti keluarga miskin, janda, dan orang lanjut usia.
“Alhamdulillah bantuan paket yang dibagikan, selain kepada lembaga atau yayasan dan panti asuhan jaringan Hidayatullah, juga tersalurkan kepada masyarakat yang paling membutuhkan,” katanya.
Ghofar menambahkan, dengan tim pekerja dari staf kantor DPP Hidayatullah, pengemasan dan sebaran paket bingkisan lebaran ini didistribusikan lebih cepat sejak sebelum memasuki 10 hari terakhir Ramadhan.
“Paling tidak telah tersebar seluruhnya H-3 Idul Fitri 1443 sehingga penerima dapat menyajikan dan menikmatinya lebih awal. Semoga ke depan jumlahnya ditambah sehingga semakin banyak jaringan Hidayatullah dan masyarakat yang merasakannya. Berkah selalu untuk Pak JK sekeluarga dan kita semua,” harapnya.*/Ainuddin
BERIKUT naskah khutbah Idul Fitri 1443/2022 Hijriyah rilis DPP Hidayatullah. Semoga bermanfaat dan dapat dimanfaatkan seluas-luasnya kaum muslimin. Selamat Idul Fitri, Taqobbalallahu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum.
Akun twiter Blackburs Rovers @rovers, mengunggah foto pemain dan official yang sedang berbuka dan dilanjutkan shalat berjamaah (Foto: Twittwe @rovers)
BULAN Ramadhan memang bulan yang istimewa, penuh dengan keberkahan. Beberapa hari lalu, klub sepak bola Inggris, Blackburn Rovers, melalui akun resminya, mengunggah pengumuman bahwa mengundang kepada semua muslim dan keluarganya untuk melaksanakan shalat Idul Fitri di Ewood Park Stadium. Ini merupakan stadion kebanggan penduduk Blackburn.
Stadionnya sendiri memiliki kapasitas tempat duduk 31.267 penonton. Sedangkan pelaksanaan sholat Ied nanti dilaksanakan di lapangan rumput stadion. Dalam undangan itu juga dijelaskan bahwa, stadion akan di buka jam 8.30 pagi, khutbah dimulai pada jam 9.00, sedangkan shalat Ied jam 9.30.
Ini merupakan hal yang pertama kali terjadi di liga Inggris, bahwa stadion sepak bola dijadikan sarana keagaamaan yaitu untuk shalat Idul Fitri. Sehingga menjadi perhatian dan sorotan seantero jagad.
Blackburn Rovers Football Club adalah sebuah tim sepak bola Inggris yang saat ini bermain di Liga Championship (kasta ke-2) liga Inggris. Bermarkas di Blackburn, Inggris. Didirikan tahun 1875. Pernah menjuarai liga utama (premier league) Inggris sebanyak 3 kali yaitu tahun 1912, 1914, 1995.
Kota Blackburn sendiri berdasarkan sensus penduduk setempat tahun 2019, memiliki penduduk sejumlah 120,500. Sedangkan komposisi penduduknya adalah 62.7% kulit putih (60.0% keturunan Inggris), 34.3% oarang Asia dan0.7% kulit hitam. Dalam hal agama, 57,53 persen penduduknya adalah Kristen (rata-rata untuk Inggris 71,74 persen), 25,74 persen Muslim (rata-rata untuk Inggris 5,6 persen) dan 15,98% tidak beragama atau tidak disebutkan.
Sebagaimana diketahui di Inggris, bahwa komunitas muslim terbesar dapat ditemukan di London. Kemudian menyebar di kota-kota lain mulai dari Bradford, Luton, Blackburn, Birmingham hingga Dewsbury yang memiliki populasi muslim yang signifikan.
Dengan populasi 25,74 persen atau sekitar 31.016 jiwa tersebut, menjadi hal yang wajar jika kemudian klub berlogo mawar itu memfasilitasi warga muslimnya untuk shalat idul fitri. Karena klub ini menjadi kebanggaan warga Blackburn. Sehingga klub juga perlu merangkul semua komunitas untuk mendapatkan dukungan yang memadai.
Perlu diketahui bahwa tentu saja kebijakan ini sangat membantu komunitas muslim di Blackburn ataupun kota-kota di sekitarnya dalam menjalankan shalat Idul Fitri tahun ini.
Di Blackburn sendiri saat ini terdapat sekitar 45 masjid yang tersebar di seluruh kota Blakcburn. Dan akan ada tambahan satu masjid lagi yang masih dalam tahap pembangunan oleh kelompok usaha Issa Brothers (muslim keturunan India dengan berbagai jenis usaha) yang sedang membangun masjid besar di Blackburn.
Alokasi biaya yang dianggarkan sebesar 5 juta pound sterling atau sekitar 90 miliar rupiah. Dalam keterangannya terkait dengan pembangunan masjid ini disebutkan bahwa, “Dengan arsitektur Islamnya, jelas mencerminkan perubahan wajah Blackburn modern… dan ini akan menunjukkan Blackburn dalam cahaya baru tempat di mana ada keragaman, tetapi juga di mana komunitas bercampur”.
Di dalam skuad dan official klub Blackburs Rovers sendiri ada beberapa yang muslim, sebagaimana di klub-klub liga Inggris lainnya. Melalui akun resmi twiter @rovers, mengunggah foto pemain dan official yang sedang berbuka dan shalat berjamaah dengan caption.
“Malam ini, staf dari Ewood Park, akademi, pusat pelatihan yang menjalani ibadah Puasa bergabung dengan Reda Jousef Khadra (pemain Blackburn) dan Tezilyas untuk berbuka puasa. Makanan, doa dan pendidikan.”
Di bulan Ramadhan ini, pihak klub juga membagi-bagikan paket Ramadhan yang berisi makanan dan sembako yang akan diberikan kepada yang membutuhkan di seluruh wilayah Blackburn.
Hal ini nampaknya sangat relevan dengan tulisan terdahulu, terkait dengan perkembangan muslim di Eropa. Dimana khusus untuk Inggris, masih dilaporan yang sama diperkirakan pada tahun 2180, mayoritas penduduk Inggris adalah muslim. Selanjunya terkonfirmasi dalam laporan Statisca, dimana disebutkan bahwa seperti kebanyakan negara Eropa lainnya, Inggris memiliki populasi Muslim yang signifikan.
Dengan jumlah Muslim di Eropa yang diprediksi akan meningkat secara signifikan dalam waktu dekat, porsi Muslim Inggris secara populasi diprediksi meningkat dari 6,3 persen pada 2016 menjadi 17,2 persen pada 2050. Hal ini sebagian dapat dikaitkan dengan fakta bahwa populasi Muslim Inggris secara demografi adalah penduduk berusia muda, dan ini juga berlaku untuk populasi Muslim Eropa yang lebih luas.
Apa yang terjadi di Ewood Park tahun ini bukan sebuah kebetulan. Ada rekayasa Ilahiyah disitu, di luar kemampuan dan kapasitas manusia. Meskipun sangat erat kaitannya dengan aktifitas dan geliat dakwah kaum muslimin di Inggris secara umum.
Sangat memungkinkan hal ini akan menginisiasi stadion-stadion lainnya untuk melaksanakan kegiatan serupa di tahun-tahun mendatang. Sebab klub-klub liga Inggris saat ini juga bertabur pemain muslim. Ini sebuah fakta bahwa Islam semakin tumbuh dan berkembang di Inggris.
Salah satunya dengan dakwah melalui sepakbola. Dan diterima oleh rakyat dan pemerintah Inggris. Hal ini seolah menyambut pernyataan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang tahun 2022 ini resmi menetapkan tanggal 15 Maret sebagai Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia atau International Day to Combat Islamophobia.
Inilah ajaran Islam yang sesungguhnya. Sehingga dapat diterima oleh semua kalangan seantero jagad raya. Sebab begitulah karakteristik dasar sejak ajaran Islam diturunkan di muka bumi. Dan pada akhirnya akan memberikan rahmat bagi semesta alam, yang tidak tersekat oleh tempat, jarak dan waktu.
Sejalan dengan firman Allah QS Al Anbiya : 107 وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ. Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Dan bukti dari firman Allah ta’ala itu akan terus nampak dari dulu, kini dan masa mendatang. Wallahu A’lam
Asih Subagyo│Senior Researcher Hidayatullah Institute
SETIAP kali kita berhari raya, seharusnya kita sudah memetik kemenangan. Kemenangan memimpin diri sendiri, sebelum memimpin orang lain. Barangsiapa yang kalah dalam mengelola diri sendiri akan gagal memimpin orang lain. Kemenangan mengendalikan panca indra, syahwat perut (syahwatul bathn) dan syahwat kemaluan (syahwatul farj) agar tunduk kepada keinginan Allah SWT.
Sebagaimana al-Quran mengatakan;
ان للمتقين مفازا
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapatkan kemenangan.” (QS.An Naba (78) : 31).
Kemenangan menemukan jalan keluar dari kesulitan hidup, memperoleh rezeki dari arah yang tidak terduga, mendapatkan berbagai kemudahan dalam menapaki fluktuasi kehidupan termasuk terhapusnya dosa dan jaminan memperoleh pahala yang agung. Tentu ini, sebuah kemenangan yang bersifat spektakuler.
Sebagaimana janji Allah SWT;
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah SWT niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah SWT niscaya Dia akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya.” (QS. Ath Thalaq (65) : 2-4).
Sebagai pemenang sejati, kita gemakan alunan takbir, tahmid dan tahlil. Kita gemakan ucapan Allahu Akbar, Allah Maha Besar, termasuk dalam keyakinan kita. Betapa kecilnya ilmu, harta dan jabatan kita. Subhanallah. Maha Suci Allah. Betapa kotor diri kita. Bukankah kita seringkali tidak kuasa mengendalikan mulut, telinga, tangan, pikiran, perut dan farji (kemaluan) kita dari dosa dan masiat.
“Laa ilaaha illallah, Tiada Ilah selain Allah.” Kita diperintahkan untuk memperbanyak ucapan tahlil artinya kita dianjurkan untuk mengukir sebanyak mungkin prestasi karena dorongan iman.
Kalimat tahlil yang kita hayati dalam hati, diucapkan dengan lisan dan digerakkan oleh anggota tubuh, mudah-mudahan iman (tauhid) terpatri dalam jiwa kita. Setiap saat, jika perlu kita harus bertahlil, tanpa menunggu malam Jumat.
Dengan berpuasa secara benar kita bisa merasakan nikmatnya hari lebaran/ hari raya. Laksana perasaan seorang pengembara (as Saihun) yang menemukan oase di tengah padang sahara. Bagaikan seorang musafir kehausan yang menemukan telaga yang jernih dan tempat berteduh di tengah-tengah teriknya perjalanan. Seperti perasaan seorang petani yang menemui tibanya masa panen. Seperti seorang pebisnis yang memperoleh keuntungan usaha yang berlimpah. Seperti seorang atletik yang mengalahkan para kompetitornya.
Ketika menang, kekalutan dan kegelisahan hati menjadi terobati. Seakan-akan hilang keletihan, pengorbanan yang kita rasakan sebelumnya. Sehingga pasca kemenangan ada tambahan kekuatan, motivasi, harapan dan energi baru.
Dengan stamina, spirit baru itu merupakan modal untuk melawan tekanan eksternal dan internal diri kita, mengusir rintangan, menyingkirkan duri, menolak rayuan dan godaan, memikul beban, dan menikmati kelelahan dan penderitaan.
“Bukanlah orang yang berlebaran itu orang yang berpakaian baru, hanyalah orang yang berhari raya itu jika ketaatannya (kepada Allah) meningkat dan terhadap perbuatan masiat menjauh.”
Memasuki bulan Syawal adalah momen untuk mengadakan evaluasi mutu/ standar kelulusan kita pada madrasah Ramadhan. Semoga, pada sebelas bulan mendatang terjadi peningkatan kualitas pribadi, organisasi, sosial dan amal shalih, sesuai dengan arti dari bulan Syawwal itu (bulan peningkatan).
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui.” (QS. Ali Imran (3) : 133-135).
Mewaspadai Kebangkrutan
Alangkah ruginya jika kita tidak bisa mempertahankan bobot kepribadian yang kita serap dari Ramadhan. Seharusnya, terjadi peralihan bentuk setelah berpuasa. Sebelum berpuasa karakter kita bagaikan ulat yang menjijikkan. Bodinya tidak menarik. Kulitnya membuat gatal yang tak terperikan. Setelah berpuasa di dalam kepompong selama empat puluh hari berubah menjadi kupu-kupu yang sedap sejauh mata memandang.
Kita juga tidak ingin seperti perempuan tua jahiliyah dahulu – Siti Ra’ithah – yang pagi harinya rajin menenun, tetapi pada sore harinya hasil tenunannya itu diurai selembar demi selembar.
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali. (QS. An Nahl (16) : 92)
Atau orang yang fisiknya puasa, namun panca indera lain tetap melakukan maksiat. Sehingga puasa yang dilakukan tidak berefek pada perubahan pola pikir dan perilaku kehidupan sehari-hari.
Nabi bersabda; “Tahukah kalian, siapakah orang-orang yang bangkrut itu? Mereka menjawab, Menurut kami orang yang bangkrut itu ialah yang tidak memiliki harta dan benda. Beliau bersabda : orang bangkrut dari ummatku tampil pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat. Dia pun datang dengan membawa dosa karena memaki orang, menuduh seseorang berzina, memakan harta si anu, menumpahkan darah si anu, dan memukul si anu. Kemudian diberikanlah sebagian kebaikannya kepada si anu dan si anu (yang dahulu dizaliminya). Jika kebaikannya telah habis sebelum dosa kezalimannya berakhir, maka kesalahan orang diambil lalu ditimpakan kepadanya.Akhirnya dilemparkanlah dia ke neraka.” (HR. Muslim dan Turmudzi).
Karena itu, kemenangan ruhani adalah modal utama agar kita memiliki kemampuan untuk menunda kepuasan sesaat yang menggoda, menggiurkan atau menyilaukan dan menukarnya dengan kesabaran dan keteguhan menunggu kepuasan akhir, dan permanen. Karena kita yakin, sesungguhnya hasil yang kita nikmati sekarang tidak sebanding dengan kenikmatan di akhirat kelak.
“Seorangpun tidak mengetahui apa yang disimpan untuk mereka, yaitu (berbagai kenikmatan) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.“ (QS. Al Sajdah (32) : 17).
Apabila energi spiritual itu mapan dan dahsyat, maka kita mampu melawan sikap tergesa-gesa, kesenangan sementara (mata’), keletihan dan kelelahan, perjalanan panjang nan berliku, godaan duniawi yang kerdil, trampil mengantisipasi berbagai tekanan internal dan eksternal serta intimidasi musuh. Dan pada saat yang bersamaan kita merasakan kehidupan yang bermartabat (izzah).
Kehidupan individu, keluarga, masyarakat dan utamanya kehidupan bernegara kita sekarang ini membutuhkan energi spiritual untuk membangun kembali puing-puing kerusakan moral akibat terpaan badai materialisme, penjajahan syubhat, syahwat dan ghoflah (kelalaian).
Kini, kita memerlukan kekuatan ruhiyah itu untuk menyembuhkan bangsa dari patologi (penyakit) sosial. Sekarang ini kita membutuhkan energi spiritual untuk memperbaiki nasib bangsa yang telah terpuruk, miskin, bodoh, terbelakang, dan terjerat belenggu krisis. Dan sekarang ini kita memerlukan kekuatan moral itu untuk melawan tirani yang terjangkiti penyakit KKN secara kronis dan akut.
Sekarang ini kita membutuhkan reformis baru, pahlawan (banyak amal dan pahalanya), yang bisa membawa ke pinggir pantai para penumpang kapal Indonesia yang tenggelam di dasar laut. Kita membutuhkan imam (pemimpin spiritual) pada saat dimana para koruptor dihormati, orang yang baik dikucilkan, diisolir dan dituduh sebagai biang kerusakan negeri.
Setiap kali bangsa manapun menghadapi tantangan besar, muncul pahlawan yang memberikan arah dan memimpin perjalanan. Ketika bangsa Israil ditindas dan difakirkan Firaun, datanglah Musa dan Harun.
“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat dan takut. Berkatalah mereka berdua : Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas. Allah berfirman : Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat. Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dan katakanlah : Sesungguhnya kami adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk” (QS. Thaha (20) : 43-47).
Ketika mereka menghadapi paceklik, muncul Nabi Yusuf yang memegang kendali perekonomian dan mewujudkan kemakmuran. (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru):
“Yusuf, Hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.” Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.” (QS. Yusuf (12) : 46-47).
Ketika Jalut (Goliat) mengancam mereka dari luar, Nabi Dawud hadir memimpin perlawanan dan membunuh Jalut.
“Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai, maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata : “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS. Al Baqarah (2) : 149-150)
Ketika ummat manusia berada di tepi kehancuran peradaban Parsi dan Romawi, diutuslah Nabi Muhammad Saw.
“Sebagaimana Kami telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah (2) : 151).
Ketika kerajaan Bani Umaiyah mengalami pembusukan dari dalam, datanglah sosok Umar bin Abdul Aziz. Seorang pemimpin yang zuhud. Pengaruh kepemimpinannya demikian mendalam. Pesan-pesan ketaqwaan mendominasi tempat-tempat umum. Bahkan para amil zakat keliling Afrika, tetapi tidak ada yang menerimanya. Indikator kemakmuran yang tidak ada duanya. Maka, sejarah menamakan pasca kepemimpinan cicit Umar bin Khathab tersebut sebagai khalifah rasyidah kelima.
Merindukan Sosok Leader, Bukan Dealer
Bukan tantangan yang kita keluhkan sekarang ini, tetapi benarkah rahim pertiwi ini tak sanggup lagi melahirkan para pahlawan, leader seperti zaman revolusi kemerdekaan pada tahun 1945 dahulu. Benarkah negeri yang dilukiskan oleh Syekh Ali Thanthawi laksana “sepenggal firdaus di bumi “ dan penyair Yaman “– namudzajiyyah fil jannah – maket surga” ini akan hancur di tangan bangsanya sendiri yang terlalu kerdil menghadapi persoalan dan tantangan besar. Benarkah bahwa tantangan kehidupan dari Allah sekarang ini lebih besar dari kapasitas internal yang kita miliki. Mengapa semua ujian yang kita hadapi bersamaan dengan musibah kelangkaan pahlawan.
Sudah saatnya kekuatan spiritual yang kita peroleh selama bulan Ramadhan kita aktualisasikan untuk membangkitkan semangat pengorbanan dan kepahlawanan. Sebab kejahatan yang menggurita pada era globalisasi saat ini terlalu keras untuk dilawan oleh orang-orang yang lemah imannya. Badai materialisme terlalu menggoda untuk dihadapi oleh orang yang berjiwa kerdil.
Dengan nilai-nilai perjuangan, kepahlawanan, pengorbanan yang diserap dari sekolah Ramadhan itu kita menggalang tangan-tangan shalih yang terisolir di negeri ini untuk bersinergi. Memenangkan kebenaran diatas kebatilan. Mengedepankan aspek spiritual diatas material. Mengunggulkan aspek ruhaniah di atas sektor badaniyah.
Mengedepankan iman dan takwa diatas ilmu pengetahuan dan teknologi. Mengedepankan iman diatas akal dan naluri. Dan kita alirkan kembali darah segar ke dalam tubuh ummat yang tampak pucat dan lesu. Dan bermental bagaikan buih di lautan. Serta kita angkat kembali harga diri kita yang sudah jatuh.
Terakhir, mari kita sadari bahwa siapapun orangnya pasti pernah dan selalu pernah melakukan kesalahan. Dalam diri kita bukan cuma ada nalar dan nurani, tetapi ada naluri. Dalam diri kita tidak hanya ada akal dan iman, tetapi ada pula syahwat. Kita bukan hanya memiliki kekuatan, namun juga memiliki kelemahan sekaligus kekurangan.
Kesalahan yang fatal adalah kita tidak menyediakan pada ruang kepribadian kita untuk memperbaiki diri. Janganlah kita persepsikan bahwa kekurangan, kelemahan itu mematikan peluang untuk maju.
Semoga kesalahan itu tidak terulang, dan kita berharap kesalahan itu sebagai tangga, jembatan untuk meningkatakan kualitas kita. Marilah kita berbuat sebanyak mungkin untuk menutupi segala kekurangan dan kelemahan bawaan kita.
Sehingga sampai pada kondisi bahwa kekurangan kita bisa dikalkulasi. Sekalipun banyak kekurangan, tetapi yang menonjol dalam diri kita adalah kelebihan-kelebihannya.
Hari raya sejatinya membuka ruang kepribadian kita secara lebar untuk berkembang. Tidak terpuruk pada sisi gelap dan bahu tidak sedap diri. Ketika kita terbuka dalam merespons setiap perubahan menuju ke arah kebaikan dan kesempurnaan, indikator bahwa kita menempatkan diri termasuk agen perubah (‘unshur taghyir). Kesadaran untuk berubah adalah unsur yang termahal dalam kehidupan ini.
“(siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan meubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. Al Anfal (8) : 53).
Tentu saja, Allah tidak mencabut nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap taat dan bersyukur kepada Allah.