Beranda blog Halaman 368

SAR Hidayatullah Terima Piagam Penghargaan sebagai Potensi Basarnas

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga relawan kemanusiaan pencarian dan pertolongan/ Search and Rescue (SAR) Hidayatullah menerima penghargaan sebagai bagian dari potensi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas) yang diserahkan langsung oleh Kepala Basarnas Marsekal Muda (Marsda) TNI Henri Alfiandi di arena Rakernas Basarnas di Ruang Serbaguna Basarnas, Jakarta, Senin, 21 Februari 2022.

Penghargaan tersebut sebagaimaan terlampir dalam surat Basarnas dengan Nomor: B/868/BNP.02.01/II/BSN-2022 tertanggal 21 Februari 2022 tentang Daftar Potensi Pencarian dan Pertolongan Penerima Piagam Penghargaan Tahun 2022.

Selain SAR Hidayatullah, ada 3 potensi penerima piagam penghargaan lainnya yakni SAR Astra Internasional, Sentra Komunikasi (Senkom) Mitra Polri, dan Badan Penanggulangan Bencana (Baguna).

Piagam penghargaan diberikan bertepatan dengan dengan gelaran Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Basarnas Tahun 2022 di Ruang Serbaguna Basarnas, Senin, 20 Rajab 1443 (21/2/2022).

Ketua Umum Pengurus Pusat SAR Hidayatullah, Irwan Harun, menyampaikan rasa syukur Alhamdulillah ke kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas penganugerahan piagam dari Basarnas ini.

“Piagam penghargaan untuk SAR Hidayatullah dari Basarnas, sebelumnya akan diserahkan langsung oleh Bapak Presiden, (namun) karena alasan PPKM, penyerahan dilakukan secara terbatas,” kata Irwan dalam keterangannya.

Irwan menambahkan, apresiasi Basarnas ini semakin mendorong SAR Hidayatullah untuk terus meluaskan bakti kerelewanan dalam pencarian dan pertolongan di setiap bencana yang dapat dijangkau.

Selain itu, Irwan menekankan, kolaborasi dan sinergi dengan berbagai pihak akan semakin dikuatkan. Karena, terangnya, dengan kebersamaan dan kepemimpinan kolaboratif dibawah Basarnas akan semakin memantapkan operasi pencarian dan pertolongan/ search and rescue (SAR) dalam musibah bencana.

Sebagaimana diwarta, Rakernas Basarnas Tahun 2022 yang digelar secara terbatas dan hibryd ini mengangkat tema “Cepat Tanggap untuk Indonesia Maju” yang dibuka oleh Presiden Joko Widodo secara virtual dari Istana Negara, Jakarta, Senin (21/02/2022) pagi.

Dalam sambutannya, Presiden menyampaikan bahwa dalam situasi apapun, pelayanan pencarian dan pertolongan (SAR) harus sigap dan cepat untuk menyelamatkan setiap jiwa manusia.

“Di manapun, dalam situasi apapun, setiap jiwa harus diselamatkan dari risiko bencana dan kedaruratan lainnya. Basarnas harus segera hadir secara cepat untuk memberikan pertolongan. Setiap detik sangatlah berarti bagi keselamatan jiwa,” kata Presiden.

Pada kesempatan tersebut, Presiden pun menekankan empat hal terkait perkuatan SAR nasional. Pertama, Basarnas harus memperbanyak inovasi dengan memanfaatkan teknologi.

Kedua, Basarnas harus terus meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM). Ketiga, Basarnas harus memperkuat sinergi dan kolaborasi.

Dan, Keempat, Basarnas harus memperkuat pencegahan, mitigasi, dan antisipasi. Presiden menekankan pentingnya melakukan edukasi serta pelatihan-pelatihan teknis SAR secara masif kepada masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Henri Alfiandi dalam sambutannya mengatakan kepada para pejabat tinggi madya dan pratama Basarnas serta para Kepala UPT Basarnas di seluruh Indonesia bahwa kinerjanya dinilai langsung, maka dari itu, tunjukkan prestasi.

Menurut Kabasarnas, penyelamatan bukanlah prestasi, tetapi itu adalah tugas Basarnas secara profesional. Prestasi hendaknya ditunjukkan diantaranya dengan manajemen yang bagus, penilaiain kinerja yang bagus, dan sebagainya.

Ia mengingatkan bahwa moto yang diangkatnya yakni Quick Response Search And Rescue. Dibalik moto tersebut, jelasnya, terkandung makna bahwa Basarnas selain harus cepat tanggap menangkap respon kondisi darurat, juga cepat tanggap terhadap kondisi yang ada, terutama di lingkungan kerja.

“Integritas sebagai Kepala Kantor SAR diuji, bagaimana memimpin dan mengarahkan anak buah di lingkungan anda memimpin,” ujar orang nomor satu di Basarnas tersebut seperti dinukil laman resmi Basarnas.

Kabasarnas juga menegaskan bahwa pimpinan harus mengetahui dan terjun langsung untuk menangani permasalahan. Kabasarnas berpesan walaupun saat ini terjadi efisiensi anggaran, Basarnas harus tetap meningkatkan kinerja.

Menurut Kabasarnas, Basarnas telah, sedang, dan akan melaksanakan perubahan menuju kinerja yang lebih baik.*/Ain

Gelar Workshop, LPPM STIS Hidayatullah Terus Giatkan Penelitian

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Setelah sukses melaksanakan workshop untuk Dosen STIS Hidayatullah Putri akhir tahun 2021 lalu, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIS Hidayatullah kini menggelar workshop penelitian bagi dosen STIS Hidayatullah putra.

Hadir sebagai pemateri dalam workshop ini adalah Ketua LPPM Herianto Muslim, M.HI dan Wakil Ketua II Muhammad Kuat, S.HI.

Dalam sambutannya pada pembukaan workshop itu, Ketua STIS Hidayatullah Zaim Azhar Hasyim, Lc, MA, menyampaikan terima kasih kepada para dosen yang telah melakukan menunaikan setiap amanah yang diberikan dengan sungguh-sungguh dan maksimal.

“Kita harus menyadari betapa pentingnya amanah yang kita geluti sebagai upaya mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Ini semua tentu yang tidak lepas dari Tri Dharma Pendidikan,” katanya.

“Alhamdulillah untuk pendidikan dan pembelajaran, dan pengabdian masyarakat, kita sudah laksanakan secara maksimal, Alhamdulillah,” terangnya di hadapan seluruh dosen yang mengikuti acara workshop di Aula Meeting Room STIS, Gunung Tembak, Balikpapan, Sabtu, 3 Rajab 1443 H (05/02/2022).

Meski sudah maksimal dalam pendidikan, namun ia mengakui bahwa kinerja para dosen dalam dunia penelitian perlu ditingkatkan lebih baik lagi.

“Untuk penelitian ini, itu juga termasuk amanah kita sebagai dosen dan tenaga pendidik ya. Kegiatan ini juga sebagai bentuk kebersamaan kita ya, bersama-sama untuk kita mengaktualisasikan dalam bentuk jurnal nantinya,” ucapnya sembari memotivasi.

Ia juga menambahkan bahwa dosen putri semenjak beberapa hari, setelah mengikuti workshop penelitian dan pengabdian masyarakat, menguatkan semangat untuk melakukan penelitian dan membuat jurnal.

“Di dosen putri kita sudah laksanakan pada 31 Desember tahun lalu, dan di pekan lalu kita sudah evaluasi. Tentunya ini memotivasi juga untuk kita ya, mengadakan penelitian untuk tulisan jurnal-jurnal yang telah dibuatkan oleh LPPM,” tuturnya memancing semangat para dosen.

Hal ini juga diungkapkan oleh Herianto Muslim. Ia mengatakan bahwa penelitian harus menjadi fokus seluruh dosen, mengingat tahun 2022 merupakan tahun akreditasi khususnya di lingkup institusi STIS Hidayatullah.

Herianto mengatakan, kegiatan penelitian ini adalah program yang serius sehingga dia mengajak semua bersama maksimalkan amanah ini dengan semaksimalnya.

“Mengingat tahun ini adalah tahun akreditasi bagi STIS Hidayatullah, makanya perlu kerja sama dari kita semua untuk mensukseskan ini semua,” tutup Herianto.* (Asrijal/STIS/MCU)

Mendahulukan Iman dalam Menyikapi Al-Qur’an

0

“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari Malaikat: dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): “Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia.” (QS al-Muddatsir [74] : 31)

Asbabun Nuzul

Ayat 31 surah al-Muddatsir turun sebagai jawaban atas tanggapan miring, sinis dan mengolok-olok yang dikemukakan sebagian kafir Quraisy. Imam Ibnu Katsir, ath-Thabary, al-Qurthubi maupun as-Suyuthi menyebutkan banyak riwayat yang sama dan senada tentang situasi yang muncul di sekitar turunnya ayat-ayat ini. Semuanya merekam pelecehan yang dilandasi kejahilan akan hakikat akhirat.

Setelah turun ayat 30, “Di atasnya (neraka Saqar) ada 19 (penjaga),” maka Abu Jahal berkata kepada orang-orang Quraisy, “Sungguh sialan ibu-ibu kalian! Aku dengar Ibnu Abi Kabsyah memberitahu kalian bahwa penjaga Jahannam ada 19, padahal kalian lebih banyak dan lebih pemberani, maka apakah tidak mampu setiap sepuluh orang dari kalian meringkus salah satu dari mereka itu?” Disini, yang dimaksud Ibnu Abi Kabsyah – atau anak Abu Kabsyah – adalah Muhammad Rasulullah SAW, sebab gelar ayah susuan beliau adalah Abu Kabsyah.

Abul Aswad al-Harits bin Kaldah al-Jumahi juga berkata penuh nada mengejek, “Janganlah (angka) 19 itu membuat kalian ketakutan. (Sebab), aku akan menahan sepuluh dari mereka dengan pundakku yang sebelah kanan, dan sembilan yang lain dengan pundakku yang sebelah kiri, lantas kalian bebas untuk masuk ke surga.”

Dalam riwayat lain ia berkata, “Aku akan tangani untuk kalian 17 dari mereka, lalu dua sisanya menjadi bagian kalian.” Orang yang berkata penuh kepongahan ini memang dikenal jago gulat yang gagah perkasa.

Maka, turunlah ayat 31, “Dan tidaklah Kami jadikan para penjaga neraka itu kecuali malaikat, dst”, maksudnya tidak mungkin orang-orang kafir itu mampu mengalahkannya.

Membantah Logika Lemah

Ayat ini membantah logika remeh dan lemah yang dikembangkan oleh orang-orang kafir, bahwa mereka akan mengalahkan penjaga neraka yang berjumlah 19 itu. Sebab, para penjaga itu adalah malaikat, makhluk Allah yang terkuat dan perkasa, mustahil dikalahkan oleh manusia yang lemah dan kecil.

Ketiadaan iman telah mendorong mereka untuk menciptakan khayalan bahwa keperkasaan manusiawi mereka akan mampu menandingi kekuatan malaikat.

Kondisi semacam ini berlaku hampir di setiap bagian dari hal ghaib yang wajib diimani. Bahwa, ketiadaan iman akan memicu seseorang untuk mengandalkan logika dan imajinasinya belaka, yang pada gilirannya tidak akan mampu memperoleh manfaat apapun dari cara berimannya. Tak lama kemudian syetan dengan mudah menggelincirkan lidah dan hatinya untuk menampakkan kekufuran, secara sadar ataupun tidak.

Mengedepankan Iman dan Ketaatan

Sebagaimana disinggung di muka, ayat ini turun sebagai tanggapan atas komentar miring Abu Jahal dan orang-orang kafir yang semisalnya. Asbab nuzul ayat ini memperlihatkan perbedaan pola pikir antara mukmin dan kafir.

Mereka yang ingkar akan mendahulukan akalnya sebelum mempercayai wahyu. Jika akalnya tidak mampu memahami, maka pintu iman pun tertutup baginya. Demikianlah yang terjadi dewasa ini di kalangan sebagian umat.

Mereka ada yang lebih mendahulukan akalnya sebelum imannya dalam menyikapi al-Qur’an. Jika ada ayat yang tidak sejalan dengan logika mereka, maka serta-merta ditolak dengan beragam alasan, atau di-takwil (dicarikan interpretasi lain) agar selaras dengan yang diinginkan.

Jika rasionalisme dan empirisme menjadi satu-satunya ukuran kebenaran, dimana manusia hanya bersedia menerima sesuatu yang fisika (wujud), menolak metafisika (makna di balik wujud), berarti keimanan kepada yang ghaib telah “dibunuh”.

Sayangnya, pola pikir yang menafikan otoritas wahyu ini justru diimpor ke Dunia Islam, dijejalkan kepada generasi muda dengan beragam embel-embel rancu. Padahal, jika sudah berkaitan khabar ghaib atau perintah qath’ie, yang berjalan adalah iman dan ketaatan, bukan logika maupun bukti empiris. Disini, berlaku kaidah tawaqquf, berhenti sebatas apa yang datang dari wahyu, tidak ada pintu bagi keberatan dan gugatan.

Islam sendiri tidak memusuhi akal atau mencampakkanya ke keranjang sampah. Sebagai bagian dari karunia Allah, maka ia memiliki fungsi tersendiri, dan dengan demikian tidaklah mungkin baginya untuk terlepas dari pagar-pagar syariat. Jika tangan, kaki, mata, telinga, lidah, kemaluan harus taat kepada syariat dalam penggunaannya, maka akal pun demikian.

Ayat ini melukiskan dengan gamblang efek khabar ghaib tentang penjaga neraka tersebut bagi kedua kelompok. Keimanan seorang mukmin membimbingnya untuk semakin yakin. Sebab, neraka adalah ghaib, jauh di luar jangkauan nalar, sehingga pemberitaan tentangnya hanya mungkin datang dari Allah yang Maha Tahu segala yang ghaib.

Berita tentang ini semakin mempertebal iman, karena Allah telah berkenan menyingkap sebagian rahasia dari alam ghaib bagi mereka. Dengan kata lain, semakin kuat keyakinan mereka bahwa neraka itu haqq adanya, karena para penjaganya pun telah disiapkan. Dari sini, mereka termotivasi untuk beramal shalih, menjaga dirinya dari neraka.

Namun, bagi orang kafir, berita semacam itu hanya menambah fitnah. Ada yang menafsirkan kata fitnah disini dengan adzab, kesesatan, atau kecelakaan dan bencana. Kesemuanya bermuara pada satu kondisi nyata yang akan diterima mereka yang mendustakannya, yakni murka Allah.

Ayat ini secara eksplisit juga menyebut kelompok lain yang suka mempermasalahkan khabar al-Qur’an, yakni mereka yang di dalam hatinya ada penyakit (maradh), berupa keraguan (syakk) dan iman yang cacat atau palsu (nifaq).

Dengan kata lain, ayat ini menunjukkan gejala lahiriah yang mudah dideteksi tentang adanya kemunafikan dan kekufuran di hati seseorang. Jauh-jauh hari al-Qur’an telah meramalkan ciri khas ucapan maupun cara berpikir kalangan yang mendustakannya, dengan mengekspose pemikiran mereka yang tersembunyi.

Sebagaimana dimaklumi, surah al-Muddatsir turun ketika Rasulullah masih di Makkah, sementara fenomena kemunafikan baru muncul setelah beliau hijrah ke Madinah. Demikian menurut penjelasan Imam al-Qurthubi.

Ayat-ayat semacam inilah yang paling ditakutkan oleh kaum munafik, yang membuka secara terang-terangan kedok mereka.

“Orang-orang munafik itu takut jika diturunkan terhadap mereka suatu surah yang menerangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka. Katakan kepada mereka, ‘Teruskan ejekan kalian (kepada Allah dan Rasul-Nya)’. Sesungguhnya Allah akan mengeluarkan apa yang kalian takutkan itu.” (QS at-Taubah [09] : 64).

Sudah jamak dikenal, bahwa orang-orang semacam ini – dulu dan sekarang sama saja – paling tidak mau dihakimi pemikirannya. Mereka sesungguhnya tidak mempunyai landasan yang teguh. Yang ada hanyalah selera nafsu, kesombongan akademis, diatas dalih kebebasan berpendapat dan berekspresi, atau ‘membuka kembali pintu ijtihad’. Na’udzu billah.

Sebagian Sahabat berkisah, bahwa yang membedakan mereka dengan generasi berikutnya dalam menyikapi al-Qur’an adalah, “Kami diberi iman sebelum diberi al-Qur’an.” Maksudnya, dengan iman yang telah terpatri kokoh di hati itulah segala yang datang dari Allah tidak lagi dipermasalahkan.

Bagaimana mungkin membuat seseorang mempercayai al-Qur’an jika ia tidak mengimani Allah, malaikat, dan Rasulullah? Maka, kesempurnaan penghayatan, penerimaan, dan pengamalan kita terhadap isi al-Qur’an sangat tergantung kepada kesempurnaan iman kita kepada Allah, malaikat dan Rasulullah SAW.

Cacatnya iman dalam aspek ini akan mengakibatkan penerimaan, penghayatan dan pengamalan yang cacat atau bahkan keliru terhadap al-Qur’an. Singkatnya, Rukun Iman yang enam tidak mungkin dilepas sendiri-sendiri, sebab satu sama lain saling mempengaruhi.

Ketika Rasulullah sudah di Madinah, pembeberan sejenis ini diulang kembali dengan lebih jelas. Dalam surah Ali ‘Imran [03] : 7, Allah mengingatkan, “Dia lah (Allah) yang telah menurunkan kepadamu al-Kitab, diantaranya ada yang muhkamat, itu adalah Ummul Kitab (induk al-Kitab), dan yang lainnya mutasyabihat. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada (kecenderungan) menyimpang maka mereka akan mencari-cari yang samar-samar (mutasyabih) dari al-Kitab itu untuk menimbulkan fitnah dan hendak mencari-cari takwilnya. Padahal, tidak ada yang memahami takwilnya selain Allah. Dan, orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepadanya, semua berasal dari Tuhan kami’, dan tidaklah mengingat hal ini kecuali orang-orang yang berakal (ulul albab).”

Apa yang diungkapkan ayat ini cukup jelas, mengenai sikap seorang mukmin, yang teguh iman dan mendalam ilmunya; berseberangan dengan mereka yang hatinya dipenuhi kecenderungan untuk menyimpang. Dengan kata lain, seorang mukmin memilih mengikuti al-Qur’an, bukan penilaian dirinya sendiri.

Sedang orang-orang yang menyimpang itu pada dasarnya tidak mengimani al-Qur’an, sebab ketika mengkajinya pun sudah dimulai dengan keinginan untuk mencari-cari “makna lain”, demi melegitimasi pendapat dan keinginan hawa nafsunya.

Dalam ayat 8, kelanjutan ayat di atas, diajarkan doa yang selayaknya diucapkan oleh seorang mukmin, “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau memalingkan hati kami setelah Engkau beri kami petunjuk, dan berilah kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi.”

Ini adalah etika seorang ulama’, dan juga bagi semua mukmin, bahwa di atas segenap ilmu pengetahuan yang dimilikinya, tidak pernah melepaskan diri dari upaya meraih hidayah, bukan sekedar mencari-cari kepuasan intelektual atau popularitas. Wallahu ‘alam bish-shawab.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Groundbreaking Tandai Dimulainya Pembangunan Masjid Kampus Putri Kendari

KENDARI (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah Ust. H. Hairil Baits melakukan peletakan batu pertama (ground breaking) yang menandai dimulainya pembangunan Masjid Hidayatullah di kawasan Kampus Putri Pesantren Hidayatullah Kendari di Kelurahan Padaleu, Kecamatan Kambu, Kota Kendari, Senin, 20 Rajab 1443 (21/2/2022).

Dalam sambutannya di lokasi acara, Hairil Baits mengapresiasi pencapaian kualitas dan kuantitas sumber daya insani demikian pula dengan pembangunan sarana dan prasarana Pesantren Hidayatullah Kendari dalam beberapa tahun belakangan hingga kini yang terus berbenah.

“Kita patut bersyukur, berbangga, dan mengapresiasi semua pencapaian yang dilakukan oleh semua pihak di Pesantren Hidayatullah Kendari ini,” katanya.

Dia mengatakan, masjid sebagai pusat peradaban, pembinaan, dan pengkaderan anak-anak santri putri menjadi generasi pejuang kebaikan yang shalehah ke depannya. Maka, terangnya, perlu dihadirkan fasilitas yang nyaman dalam menjalankan aktifitas pendidikan tersebut.

“Salah satunya melalui pembangunan masjid ini,” ujar Hairil.

Di lain sisi, Ketua DPW Hidayatullah Sultra juga selaku Pembina Yayasan Pesantren Hidayatullah Kendari Ust Ahmad Syahroni, terus mendorong dan memotivasi kepada pengurus harian untuk selalu melahirkan inovasi dan sinergi yang dapat mempercepat pencapaian yang telah dicanangkan dalam program kerja yayasan.

“Sehingga target ke depan menuju visi 2025 dapat mewujudkan Pesantren Hidayatullah Kendari menjadi Kampus Unggul dan Berdaya Saing,” ungkapnya optimis.

Sementara itu Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah Kendari Ust. Ahmad Masykur, berterimakasih dan memohon doa serta dukungan semua pihak.

“Kami segenap asatidz dan santri Hidayatullah Kendari mengucapkan jazaakumullah khairan katsiran atas dukungan dan bantuan semua pihak yang tentunya kami berharap agar masjid yang menjadi sarana santri beribadah dan belajar tersebut bisa segera terealisasi mengingat masjid yang lama sudah over kapasitas untuk menampung ratusan santri yang mondok saat ini,” harapnya.

Sebagai informasi, masjid yang akan dibangun tersebut berukuran 20×24 m2 dengan estimasi kebutuhan dasar sekira 500 juta rupiah dari target 3 milyar rupiah.

Masjid konstruksi 3 lantai ini diperkirakan dapat menampung hingga seribu jama’ah dan selesai dibangun di periode akhir 2025.

Agenda selanjutnya, Hairil Baits bersama Ketua DPW Hidayatullah Sultra Ahmad Syahroni, dan jajaran serta Ketua DPW Hidayatullah Sulsel yang juga Anggota Badan Pembina Pesantren Hidayatullah Kendari Nasri Bohari, melakukan kunjungan ke Asrama Pesmadai (Pesantren Mahasiswa Dai) Kendari di bilangan Jalan H. Lamuse, Lepo-lepo, Baruga, Kota Kendari.

Dalam kesempatan tersebut Hairil Baits memberikan motivasi dan penguatan dalam pengelolaan Pesmadai yang lebih profesional kepada pengurus Pesmadai./*Noer Akbar

Rakernas Asosiasi Pengusaha Hidayatulah Teguhkan Jatidiri di Kancah Nasional

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Asosiasi Pengusaha Hidayatullah (Aphida) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2022 yang mengangkat tema “Bersama Memperkuat Jatidiri Aphida di Kancah Nasional” yang pembukannya digelar pada Sabtu, 18 Rajab 1443 (19/2/2022).

Rakernas dibuka oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Dr H Nashirul Haq.

Pada pembukaan acara juga mengundang keynote speaker 2 tokoh nasional yang juga pengusaha kondang yaitu Rudi Mas’ud dan pambicara publik Mardigu “Bossman” Wowiek,

Rakernas yang digelar secara hibryd ini juga menggelar sejumlah kegiatan pra Rakernas yaitu webinar, talkshow, dan sejumlah kegiatan offline dengan menghadirkan sejumlah tokoh.

Pra Rakernas Aphida, digelar seminar nasional yang menghadirkan narasumber diantaranya Pakar Digital Marketing Nasional Didik Arwinsyah yang membahas topik pemasaran digital di masa pandemi.

Lalu ada ICT Expert and Enthusiast Asih Subagyo yang mengulas Information and Communication Technology dan masa depan bisnis ini di masa depan.

Ketua Umum Aphida Muhammad Faisal dalam keterangannya mengatakan Rakernas 2022 mengangkat tema “Bersama Memperkuat Jatidiri Aphida di Kancah Nasional”. Tema ini jelas dia selaras dengan komitmen Aphida untuk meneguhkan kiprah dan memperkuat jatidiri di kancah nasional.

Dia menjelaskan, dalam rangka menguatkan perannya, Aphida telah menggulirkan beragam program seperti Aphida Peduli, Koperasi Aphida, Aphida Academy, HBM, dan Aphida Visa.

“Halaqah Bisnis Milenial kita singkat HBM, kita adakan dua pekan sekali dengan menghadirkan pembicara hebat untuk membedah bisnis era digital saat ini,” katanya.

Faisal berharap Aphida kedepan semakin maju, melahirkan lebih banyak lagi wirausahawan, dan terus berkontribusi lebih baik lagi untuk kemajuan lembaga, umat, agama, bangsa, dan negara.*/Teddy Tjahjadi

Memulai Semua dengan Ilmu

0

“Maka, ketahuilah, sesungguhanya tidak ada ilah (yang haqq) selain Allah, dan mintalah pengampunan atas dosa-dosamu dan kaum mukminin serta mukminat. Allah Maha Mengetahui tempatmu berusaha dan tempatmu tinggal.” (QS Muhammad [47] : 19)

Pentingnya Ilmu

Sejak awal Islam telah menimbulkan suatu revolusi terhadap konsep “agama” dan maknanya bagi manusia. Berbeda dengan agama lain, Islam menghubungkan agama dengan sains, agama dengan politik, ibadah dengan muamalah, dunia dengan akhirat, “bumi” dengan “langit”; semua hal-hal yang biasanya dilihat secara terpisah.

Oleh karenanya, memahami konsep agama dalam perspektif Islam adalah sebuah kepentingan yang tidak bisa dilepaskan dari proses pembangunan kepribadian Islami (syakhshiyyah islamiyah).

Islam adalah konsep komprehensif atas segenap aspek kehidupan, bukan semata-mata berisi ritual dan doa-doa. Islam adalah ad-dien, bukan sekedar religion atau agama. Dengan selesainya masa pewahyuan, maka Islam telah memiliki konsep yang khas, komprehensif (syamil) dan lengkap (kamil) tentang dirinya, manusia, kehidupan, dan bagaimana menghubungkan semua itu dalam satu kesatuan (tawhid), demi mewujudkan pengabdian tunggal kepada Allah.

Kita tidak bisa memakai frame-work Barat atau tradisi-tradisi agama pagan dalam memaknai Islam, terutama dalam kaitannya dengan kehidupan. Diantara sekian banyak isu mendasar dalam peradaban umat manusia yang direvolusi oleh Islam adalah konsep ilmu.

Dalam Islam, ilmu dilepaskan dari segala unsur mitos, magis, ateisme, prasangka tak berdasar, dan hal-hal yang bersifat pseudo-science (sains semu) lainnya. Contoh sains-semu adalah astrologi.

Selain mengakui pencapaian ilmu melalui upaya-upaya eksperimental dan empiris, Islam juga meneguhkan bahwa ada sumber otoritas mutlak dalam ilmu, yakni wahyu dan kenabian. Sejak wahyu pertama turun, perintah pertama adalah iqra’, yang memiliki makna dasar darasa (mengkaji), faqiha (memahami), jama’a (mengumpulkan), dan hafizha (menghafal).

Para ulama’ generasi terdahulu pun telah mengisyaratkan pentingnya ilmu dalam karya-karya mereka. Imam al-Bukhari memulai kitab al-Jami’ ash-Shahih dengan Kitab Bad’il Wahyi (awal mula turunnya wahyu), yang mengisyaratkan pengakuan terhadap otoritas tertinggi wahyu sebagai sumber ilmu.

Maklum, wahyu pertama adalah surah al-‘Alaq ayat 1-5, dimana di dalamnya Allah berfirman “alladzi ‘allama bil qalam, ‘allamal insana ma lam ya’lam” (Dialah Allah yang mengajar dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya).

Hampir seluruh tafsir akan mencantumkan riwayat detail dan panjang tentang al-qalam (pena) dan peran sentralnya dalam peradaban. Bahwa, al-qalam adalah ramz al-‘ilmi wa at-ta’lim (simbol ilmu dan pengajaran). Ilmu adalah ruh Islam. Tanpanya, Islam akan mati.

Demikian pulalah, ayat yang kita kutip di awal kajian ini memproklamirkan bahwa kewajiban pertama seorang muslim adalah mengenal Allah dengan ilmu, bukan dogma dan mitologi.

Kitab al-‘Ilmi ditempatkan oleh Imam al-Bukhari sebagai bab ke-3, setelah Kitab Bad’il Wahyi dan Kitab al-Iman. Jadi, dalam konsep beliau, ada semacam keterkaitan antara wahyu, iman, dan ilmu. Bahkan, di dalamnya ada bab yang berjudul Bab al-‘Ilmi qablal Qaul wal ‘Amal (pasal tentang ilmu sebelum berbicara dan berbuat), yang merupakan pasal ke-10 dalam Kitab al-‘Ilmi.

Imam al-Ghazali memulai kitab Ihya’ ‘Ulumiddin-nya dengan Bab al-‘Ilm. Dalam kitab at-Targhib wa at-Tarhib, Imam al-Mundziry menempatkan Kitabul ‘Ilmi : at-Targhib fil ‘Ilmi wa Thalabihi wa Ta’allumihi wa Ta’limihi wa ma Jaa’a fi Fadhlil ‘Ulama’ wal Muta’allimin (Bab tentang Ilmu : Motivasi tentang Ilmu, Mencari Ilmu, Mempelajari dan Mengajarkannya, serta Riwayat lain tentang Keutamaan Ulama’ dan Pelajar), sebelum bab-bab ibadah seperti bersuci, shalat, zakat, puasa, haji, dan bahkan jihad fi sabilillah.

Para Sahabat Menuntut Ilmu

Tak mudah menggambarkan semangat para Sahabat menuntut ilmu. Bukan karena sedikitnya data, namun karena melimpah-ruahnya riwayat tentang hal itu sehingga mustahil dirangkum dalam artikel seringkas ini.

Sebagai bukti adalah terawatnya al-Qur’an serta ribuan hadits Rasulullah dalam berbagai kitab yang shahih dan mu’tabar (kredibel). Jika tidak ada tradisi ilmu yang sangat kuat di tengah-tengah mereka, tentu kita di zaman ini akan bernasib sama dengan kaum Nasrani dan Yahudi, dimana agama mereka telah kehilangan otentisitas karena sumber-sumber aslinya tidak terawat dan tidak mungkin ditelusuri kembali.

Banyak diantara Sahabat yang kemudian dikenal sebagai para “Raja Perawi Hadits”, yang menghafal dan mentransmisikan kembali ribuan hadits Nabi secara lisan dari ingatan mereka.

Pada generasi berikutnya, rekor ini dipecahkan dengan lebih spektakuler lagi. Menurut sebuah catatan, Imam al-Bukhari menghafal sekitar 100.000 hadits shahih, dan kurang lebih 200.000 hadits lainnya dari berbagai tingkatan.

Adalah mengherankan, bahwa para Sahabat sangat teliti memperhatikan “peragaan” Rasulullah dalam segala hal. Bahkan, banyak diantaranya yang sangat sepele. Riwayat tentang rambut, jumlah uban, bentuk wajah, postur tubuh, gigi, cara berjalan, dan lain-lain diingat dengan baik.

Ada riwayat yang melimpah tentang cara menyisir rambut, memakai alas kaki, masuk kamar kecil, cara berpakaian, dsb. Sebagian kecil mereka ada yang mencatat, dan mayoritas menghafalnya di luar kepala. Seluruh “peragaan” itu kemudian dikenal sebagai as-Sunnah, yang mencakup ucapan, tindakan, keputusan, dan gambaran sifat Rasulullah SAW.

Mengapa ilmu sedemikian penting bagi para Sahabat dan generasi terdahulu dari umat ini?

Ilmu adalah Landasan Taqwa

Dalam kitab Ta’limul Muta’allim, Syekh az-Zarnuji menulis, “Kemuliaan ilmu semata-mata karena ia merupakan perantara menuju taqwa, dimana dengannya manusia memperoleh kemuliaan di sisi Allah dan kebahagiaan abadi.”

Ibnu Rajab al-Hanbali berkata, “Dasar takwa adalah hendaknya hamba mengetahui yang harus dijaga kemudian dia menjaga diri.” Beliau juga berkata, “Barangsiapa menempuh suatu jalan yang dikiranya jalan ke Surga tanpa dasar ilmu, maka benar-benar telah menempuh jalan yang paling sukar dan paling berat, dan tidak menyampaikan kepada tujuan dengan kesukaran dan beratnya itu.”

Seorang ulama’ salaf yang lain berkata, “Bagaimana akan menjadi muttaqin, orang yang tidak mengerti apa yang harus dijaga?” Imam asy-Syafii dalam kitab ar-Risalah berkata, “Adalah haqq bagi bagi seorang pencari ilmu untuk mencapai puncak kesungguhannya dalam memperbanyak ilmu, bersabar menghadapi rintangan yang menjauhkannya dari mencari ilmu, mengikhlaskan niat kepada Allah dalam mendapatkan ilmu baik secara tekstual (hafalan) maupun dengan menyimpulkan (analisa), serta berharap kepada pertolongan Allah di dalamnya karena tidak ada yang memperoleh kebaikan kecuali dengan pertolongan-Nya.”

Beliau juga berkata, “Sesungguhnya seseorang yang memperoleh ilmu tentang hukum-hukum Allah dalam Kitab-Nya, baik secara tekstual (hafalan) atau dengan cara mencari dalil (istidlal), maka Allah akan memberinya taufiq untuk berbicara dan berbuat sesuai apa yang diketahuinya tersebut, beruntung dengan karunia dalam agama dan dunianya, terhindar dari keraguan, bersinar terang hikmah dalam hatinya, dan berhak untuk mendapat kedudukan sebagai imam (pemimpin) dalam agamanya.”

Hidayah adalah Buah Ilmu

Dalam muqaddimah kitab Bidayatul Hidayah, al-Ghazali menyatakan bahwa hidayah adalah tsamratul ‘ilmi (buah dari ilmu). Dengan kata lain, hidayah tidak akan tercapai tanpa landasan ilmu, dan niat mencari ilmu haruslah demi meraih hidayah Allah.

Menurut beliau, dalam menuntut ilmu, manusia terbagi menjadi 3 golongan : satu selamat, satu berada dalam bahaya, dan satu lagi pasti binasa.

Pertama, kelompok yang akan selamat, yakni orang yang mencari ilmu sebagai bekal menghadap Allah, tidak menghendaki selain ridha-Nya dan kebahagiaan ukhrawi.

Kedua, kelompok yang berada dalam bahaya besar, yakni orang yang mencari ilmu demi tujuan pragmatis, seperti status sosial, pangkat, dan harta. Jika ia meninggal sebelum bertaubat, boleh jadi ia mati su’ul khatimah. Urusan dirinya pun berada di tepi jurang, tergantung kehendak Allah; entah diampuni atau disiksa. Jika ia mendapat taufiq untuk bertaubat, lalu menyatukan ilmunya dengan amal, sekaligus berusaha menggenapi segala yang pernah terlewatkan, maka ia akan menyusul kelompok beruntung diatas.

Ketiga, orang yang dikendalikan oleh syetan, yakni terus mencari ilmu namun hanya sebagai sarana menumpuk harta, mengejar pangkat dan berbangga diri dengan banyaknya pengikut. Ia memanfaatkan ilmunya untuk memasuki segala celah demi meraih dunia dan semua keinginan hawa nafsunya.

Dia merasa mulia di sisi Allah, karena ia mengenakan simbol-simbol para ulama’, baik dalam berpakaian maupun berbicara. Ironisnya, semua itu disertai kegesitan untuk meraup keuntungan duniawi. Inilah orang dungu yang tertipu dan terputus harapan darinya untuk bertaubat, sebab ia menyangka dirinya termasuk orang-orang yang berbuat baik (muhsinin). Mereka inilah para ulama’ as-suu’ (orang pintar yang jahat), yakni orang-orang yang keberadaannya lebih dikhawatirkan oleh Rasulullah SAW dibanding Dajjal sekalipun.

Mereka hanya ingin menyesatkan manusia, memalingkan mereka pada harta dan kenikmatan duniawi, baik dengan kata-kata maupun perbuatan. Merekalah penyebab semakin beraninya orang-orang awam untuk berpaling kepada dunia. Sebab, orang awam takkan berani mengharapkan dunia kecuali para ulama’-nya telah berbuat demikian terlebih dahulu. Na’udzu billah.

Wallahu ‘alam bish-shawab.

Ust. M. Alimin Mukhtar

TNI Beri Wasbang ke Kampus Ponpes Hidayatullah Desa Lawe Loning Aceh Tenggara

BANDA ACEH (Hidayatullah.or.id) — Berikan cara pandang pada anak bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya, mengutamakan kesatuan dan persatuan wilayah dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Danramil 01/Lawe Sigala-gala Kapten Inf Risman Batubara jajaran Kodim 0108/Agara, sosialisasikan wawasan kebangsaan di Kampus Pondok Pesantren (Ponpes) atau Dayah Hidayatullah Desa Lawe Loning, Kecamatan Lawe Sigala-gala, Kabupaten Aceh Tenggara, Kamis, 16 Rajab 1443 (17/02/22).

Kegiatan itu, diikuti lebih dari 70 orang yang digelar di ruang aula pondok Pesantren Hidayatullah diantaranya Pimpinan Pondok Pesantren, Ust. Baharuddin beserta guru pendamping, Danramil 01/Lawe Sigala-gala, Kapten Inf Risman Batubara Selaku pemateri, Babinsa jajaran Koramil 01/Lawe Sigala-gala, dan para santri-santriwawati.

Dalam paparan Danramil 01/Lawe Sigala-gala menjelaskan pemahaman arti dari kebangsaan dengan menumbuhkan pikiran rasional tentang hakekat dan cita-cita kehidupan serta perjuangan yang menjadi ciri khas bangsa.

Menurutnya, rasa kebangsaan dalam wawasan kebangsaan harus dimiliki setiap individu dengan kesadaran bangsa yang tumbuh secara ilmiah dalam diri seseorang karena kebersamaan sosial. “Ini berkembang dari kebudayaan, sejarah, dan perjuangan,” katanya.

Maka dari itu, terang dia, rasa dan paham kebangsaan pada akhirnya akan mengobarkan semangat kebangsaan. “Ini merupakan tekad dari seluruh masyarakat untuk melawan semua ancaman dan rela berkorban bagi kepentingan bangsa dan negara,” jelasnya dilansir RRI Banda Aceh.

Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah, Ust. Baharuddin sangat berterimakasih dan apresiasi pada jajaran TNI khususnya Kodim 0108/Agara yang telah menyampaikan suatu ilmu tentang wasbang.

“Kami berharap nantinya para anak didik santri serta santriwati kami, dapat mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk mewujudkan tekad mutlak, dihayati dan diwujudkan oleh seluruh elemen masyarakat demi keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia,” tutupnya.*/

Cerita Almarhum Pendiri Hidayatullah Kepingin Jumpa Ramadhan Tahun Ini

Ustadz Ahmad Hasan Ibrahim (salah seorang Pendiri Hidayatullah) saat memberikan taushiyah pada acara Tarhib Ramadhan 1439 H di Kampus Utama Hidayatullah Depok, Jawa Barat, 13 Mei 2018 (Foto: MUH. ABDUS SYAKUR/HIDAYATULLAH.COM)

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ramadhan selalu menjadi bulan yang dirindukan oleh setiap umat Islam. Tua muda besar kecil laki-laki perempuan, siapa saja senantiasa berdoa dipertemukan dengan bulan diturunkannya al-Qur’an tersebut.

Tak terkecuali H. Ahmad Hasan Ibrahim, Ketua Majelis Penasihat Hidayatullah. Ustadz yang juga salah seorang Pendiri Hidayatullah ini kala itu (71 tahun usianya) sangat berharap dapat bertemu kembali dengan bulan Ramadhan.

“Selama sakit ini banyak kehilangan memori sehingga saya sendiri heran mengingat-ingat itu (jadi) susah. Mudah-mudahan kehadiran Ramadhan ini mengembalikan potensi tersebut,” ungkap Ustadz Hasan dalam kegiatan Tarhib Nasional Ramadhan 1442 H yang digelar secara online, Selasa (06/04/2021) silam.

Terkait al-Qur’an, lulusan Pesantren Krapyak Yogyakarta itu bercerita, istrinya sangat bersemangat hingga bertubi-tubi mengingatkan untuk selalu mengaji atau membaca al-Qur’an.

“Pak, ngaji! Ngaji, ngaji, ngaji saja selalu,” ucap Ustadz Hasan sambil menirukan suara istrinya berulang-ulang.

Ustadz Hasan menilai keterlaluan jika sampai ada umat Islam yang terlalaikan dari rutinitas membaca al-Qur’an setiap hari. Secara khusus, menurutnya, yang masih dikaruniai usia muda dan kesehatan.

“Alhamdulillah, lewat bacaan al-Qur’an kita dapat meningkatkan konsolidasi. Sebab apa sih yang kita banggakan kalau bukan memperbanyak bacaan al-Qur’an?” lanjutnya berbagi nasihat.

Masih tentang al-Qur’an, Ustadz Hasan juga mengingatkan sahabat-sahabatnya yang dianggap sudah sepuh, “Para orang tua atau sesepuh Hidayatullah, tidak ada lain pekerjaan kita ini kecuali mengaji yang diperbanyak,” tutupnya dengan penuh semangat.

Tak terasa, nasihat emas Ustadz Hasan di atas telah berlalu setahun yang lalu. Kini, motivasi dan harapan itu tinggal menjadi doa dan kenangan.

Bulan Ramadhan kembali menjelang. Namun Ustadz Hasan Ibrahim lebih dahulu telah berpulang. Ahad sore (13/02/2022) lalu di Jakarta. Ia sudah berpisah dan meninggalkan sahabat, keluarga, al-Qur’an, dan dakwah yang dicintainya sepenuh hati.*/Masykur Abu Jaulah

Melatih Jiwa Menaati Allah

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS al-Balad: 04)

SEORANG pelari jarak jauh, yang sanggup menempuh puluhan kilometer dalam sekali berlomba, tentu tidak secara tiba-tiba memperoleh kemampuannya itu. Seorang atlet angkat berat yang kuat mengangkat barbel puluhan kilogram, tidak hanya satu dua tahun melatih ototnya. Demikian pula kita saksikan para master di bidangnya masing-masing, mereka tidak secara instan mendapatkan keahliannya.

Apa pun yang hari ini tampak mengagumkan bagi orang lain, sebenarnya merupakan puncak dari ketekunan, keuletan, ketabahan, visi yang konsisten, bahkan tidak jarang merupakan rangkaian derita dan air mata. Apa yang mereka lalui dengan penuh kesabaran bertahun-tahun silam, kini membuahkan hasil gemilang.

Begitulah kita, manusia. Allah menciptakan kita untuk berjuang dan bekerja keras mewujudkan kebaikan-kebaikan yang diharapkan. Allah tidak menurunkan rizki dalam bentuk instan yang siap saji, tetapi dalam bentuk alam dan seisinya yang telah Dia tundukkan bagi kita.

Tanah mesti diolah dan diairi agar layak ditanami dan membuahkan hasil. Ternak mesti dirawat dan diperhatikan agar sehat dan memberikan manfaatnya. Tentu saja, masih banyak contoh lain yang bisa dideretkan di sini.

Sejauh ini, semua itu adalah gambaran dari alam fisik di luar diri kita. Lalu, bagaimana dengan alam batin di dalam diri ini? Apakah semua hukum dan kebiasaan di alam materi itu juga berlaku atas jiwa?

Ayat yang kita kutip di awal artikel ini menjawabnya. Seperti dikatakan oleh para ahli tafsir, manusia memang diciptakan untuk berjuang dan bekerja keras menghadapi beragam kesulitan dunia dan akhirat.

Dalam urusan dunia, kita harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak. Beragam kesulitan juga telah ditempuh seseorang sejak masih dalam kandungan ibunya. Ketika telah lahir, ia tidak serta merta diberikan kemampuan layaknya manusia dewasa.

Tahap demi tahap harus ia lalui, dengan penuh kesukaran dan rintangan, sebelum akhirnya mencapai kematangan. Maka, dalam urusan akhirat pun sebenarnya manusia harus berjuang dan bekerja keras untuk meraih kebaikan-kebaikan yang diharapkannya.

Bagaimana pun juga, jiwa harus dilatih untuk mampu menanggung beban-beban yang sudah menjadi bagiannya, demi meraih kebahagiaan akhirat.

Perhatikan, dewasa ini banyak orang yang dibuat cemas bila kelak tulang-tulangnya menjadi rapuh, sehingga sedari sekarang disarankan meminum susu berkalsium tinggi.

Banyak wanita didorong untuk panik jika kulitnya pelan-pelan menjadi keriput dan menua, sehingga sejak dini didorong membeli produk perawatan kulit tertentu. Beragam produk lain juga “membimbing” kita untuk mempersiapkan sesuatu bagi otot, otak, atau jantung, agar kelak tetap mampu berfungsi maksimal saat usia semakin lanjut.

Lalu, bila untuk tulang, otot, otak, atau jantung kita sibuk melatih dan mempersiapkan segala upaya sejak dini, bagaimana dengan jiwa kita? Tidakkah kita mempersiapkan segala sesuatu bagi jiwa ini, sejak kita masih muda belia, agar kelak ia tetap berfungsi secara prima di usia renta?

Bila memang tidak ada pelari lintas alam yang berlatih hanya sehari sebelum meraih medali; bila memang tidak ada atlet angkat berat yang langsung mengangkat barbel puluhan kilogram setelah sehari melatih otot dan tulangnya; bila memang tidak ada pemikir cerdas yang menelurkan ide-ide brilian setelah sehari berproses; maka apakah kita masih percaya akan ada orang yang sanggup menjadi taat kepada Allah dengan ringan hati dan penuh ketulusan hanya setelah sehari menjalaninya?

Dalam sebuah hadits, Allah memuji 7 golongan manusia, salah satunya para pemuda yang sejak belia tumbuh dalam tradisi ketaatan kepada Allah. Hari-harinya dipenuhi amal kebajikan. Di dunia ini mereka berusaha mencari keteduhan dengan bernaung di bawah payung syari’at-Nya, sehingga kelak di akhirat Allah akan menanungi mereka di saat tiada naungan lagi selain dari-Nya.

Amal para pemuda itu menjadi sangat bernilai, sebab di saat segala sesuatu masih cukup leluasa untuk dilakukan, mereka hanya memilih Allah. Mereka tidak menunggu renta dan rapuh, saat banyak hal menjadi terbatas bagi mereka.

Memenuhi hari-hari dengan amal kebajikan tidak identik dengan duduk di mihrab dan tidak pernah keluar, lalu bergaul dengan sesamanya. Duduk di mihrab untuk mengingat Allah adalah kebajikan, tetapi bukan satu-satunya dan bukan segalanya.

Pergi ke pasar dan berdagang dengan jujur adalah kebajikan. Berangkat ke kampus atau sekolah dan belajar dengan tekun adalah kebajikan. Menjalani profesi dengan amanah dan penuh tanggung jawab adalah kebajikan. Demikian pula menutup aurat dengan sempurna, menjaga pandangan dan pergaulan, menjalin silaturrahim, menebar salam, dan lain-lain.

Tetapi, satu hal yang tetap harus kita garis bawahi dalam artikel ringkas ini, bahwa jiwa adalah bagian dari kemanusiaan kita. Jika kita harus melatih otot maupun otak agar memiliki kemampuan yang lebih di suatu hari nanti, demikian pula dengan jiwa. Kita harus melatihnya untuk menanggung beban-beban sejak dini, agar kelak menjadi kokoh dan bertenaga, dengan izin Allah.

Bila kita berharap tetap menaati Allah sampai kapan pun, dan mencapai puncaknya ketika Allah memanggil kita kembali kepada-Nya, maka berlatihlah dalam ketaatan sedari mula. Semoga Allah memberikan berkah-Nya dengan husnul khatimah. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Kisah Perjalanan Almarhum Ustadz Ahmad Hasan Ibrahim Bergabung ke Hidayatullah

0

USIANYA saat itu telah memasuki angka 71 tahun, membuat fisiknya tak lagi sekuat dahulu. Tongkat menemani langkahnya semenjak sakit yang mendera tubuhnya. Tak hanya berjalan, ia pun agak kesulitan untuk merangkai kata dan perlu waktu untuk menata ingatan akan masa lalu.

Meski demikian, semangat Ustadz Ahmad Hasan Ibrahim tak pernah kendor dalam membersamai perjalanan dakwah Hidayatullah. Tak terasa sudah 50 tahun ayah delapan anak ini berada dalam wadah gerakan dakwah yang dirintis oleh Allahuyarham KH. Abdullah Said ini. Persis dengan usia Hidayatullah yang kini telah memasuki setengah abad.

Ustadz Hasan –panggilan akrabnya– adalah salah seorang pendiri Hidayatullah. Awal tahun 1970-an lalu, ia hijrah dari Yogyakarta, ikut bersama KH Abdullah Said mengembangkan dakwah di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Saat itu Ustadz Hasan tak sendiri. Ia berangkat bersama 4 pemuda lainnya yang mempunyai semangat yang sama, yakni Usman Palese, Muhammad Hasyim HS, Nazir Hasan, dan Kisman Amin.

Masih terbayang dalam ingatan Ustadz Hasan saat pertama kali berjumpa dengan KH Abdullah Said pada tahun 1971. “Ustadz Abdullah Said sosok pribadi yang menarik. Saat pertama kali mendengar ceramahnya, saya menganggap pemuda ini luar biasa,” tutur Ustadz dalam wawancara beberapa waktu lalu.

Ketika itu KH Abdullah Said tengah berkunjung ke Yogyakarta menjumpai sahabatnya, Usman Palese. Saat kunjungannya itu, beberapa masjid meminta ia untuk ceramah.

“Tidak saja di masjid, ia juga diminta ceramah di kampus di Yogyakarta,” ujar Ustadz Hasan yang juga berteman dengan Ustadz Usman Palese.

Kemana pun KH Abdullah Said ceramah, Ustadz Hasan mengaku selalu hadir. “Akhirnya, sering saya tidak masuk kuliah hanya untuk mendengarkan ceramah Ustadz Abdullah Said,” kenang alumnus Pesantren al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta ini.

Ustadz Hasan mengaku terpikat dengan teknik ceramah KH Abdullah Said. Tapi tidak hanya dirinya, banyak juga kalangan mahasiswa dan masyarakat umum yang terpesona mendengar ceramahnya.

“Saat itu belum pernah ada penceramah di Yogyakarta yang sehebat itu,” aku Ustadz Hasan yang ketika itu tengah menempuh pendidikan di Akademi Tarjih Muhammadiyah.

Ketika ceramah di Masjid Taqwa milik Muhammadiyah, KH Abdullah Said menceritakan tentang pemimpin muda usia 25 tahun bernama Muammar Khadafi, yang telah mengambil alih kekuasaan di Libya. “Banyak anak-anak muda yang tergugah dengan ceramah itu,” tutur Ustadz Hasan.

Sejak itu, pria kelahiran Pekalongan, 20 Januari 1950, ini intens bertemu dan berdiskusi dengan KH Abdullah Said. Banyak sekali motivasi yang didengarnya tentang pentingnya mengembangkan dakwah Islam di daerah pedalaman.

Ustadz Hasan Ibrahim kini telah tiada. Ketua Majelis Penasihat Hidayatullah ini berpulang ke Rahmatullah pada Ahad (13/02/2022) sekitar pukul 16.41 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta.

Ustadz Hasan kemudian dimakamkan di kompleks Kampus Utama Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Jl Raya Kalimulya, Kelurahan Kalimulya, Kecamatan Cilodong, pada Senin (14/02/2022) dinihari. “Jam 00.15,” ujar Saifullah, salah seorang putra Ustadz Hasan, kepada hidayatullah.com.

Sejumlah pengurus DPP Hidayatullah termasuk Ketua Umum Dr Nashirul Haq turut menghadiri pemakaman yang digelar dengan protokol kesehatan itu.

Mengungkap perjalanan almarhum Ustadz Hasan hingga akhirnya memutuskan ikut KH Abdullah Said berdakwah ke Balikpapan puluhan tahun lalu, berikut kisahnya kepada wartawan Ahmad Damanik yang dituturkan Majalah Suara Hidayatullah dalam suatu wawancara di Jakarta.*

=======

Bisa ceritakan bagaimana pertama kali Ustadz berjumpa dengan sosok KH Abdullah Said?

Ketika mendengar ceramah Ustadz Abdullah Said pertama kali di Masjid Taqwa Yogyakarta, saya langsung kecantol. Beliau sudah menjadi sosok yang menarik dengan kemampuan retorikanya. Daya pikatnya dalam ceramah, membuat saya beberapa saat tidak kuliah untuk menyimak saat beliau ceramah.

Selama beliau di Yogyakarta, Ustadz Hasan selalu hadir dalam ceramahnya?

Iya. Kalau kata orang Jawa, saya itu keblinger. Kemana saja dia ceramah, saya ikuti. Dia ceramah di beberapa masjid, di kampus, termasuk juga pada beberapa kali diskusi yang diadakan di tempat kosan.

Selain Ustadz Hasan, apakah ada juga mahasiswa lain yang terpikat?

Iya, tidak hanya kami. Banyak juga anak-anak dari IAIN yang senang mendengar ceramahnya, dan itu jumlahnya semakin banyak. Semangat anak-anak muda untuk mendengarkan ceramah Ustadz Abdullah Said terus bertambah.

Kabarnya salah satu ceramahnya yang paling menginspirasi adalah soal Muammar Khadafi. Itu juga yang menarik bagi Ustadz Hasan?

Kalau Muammar Khadafi itu memang materi yang dibawakan. Tapi yang khas adalah cara beliau membawakan sehingga mampu memotivasi kami sebagai anak muda untuk bangkit. Beliau bawakan dengan berapi-api.

Saya ingat betul, bagaimana suara di dalam masjid itu betul-betul menggelegar. Padahal ketika itu ia tidak menggunakan pengeras suara. Orang-orang yang mendengarkan ceramahnya sangat antusias. Sampai-sampai ada orang di belakang yang berdiri. Waktu itu saya bilang, wah ini bisa jadi fenomena.

Setelah itu Ustadz Hasan intens komunikasi dengan KH Abdullah Said?

Iya, kebetulan kami satu asrama dengan beliau. Berulang-ulang kami diskusi dengan Ustadz Abdullah Said tentang perlunya mengembangkan Islam di daerah-daerah tertinggal keislamannya, seperti di Balikpapan (saat itu). Serta, menyelamatkan anak-anak muda dari cengkeraman agama-agama lain yang terus bergerak.

Selain Ustadz Hasan, siapa saja yang intens dalam pembicaraan tersebut?

Ada Usman Palese, Nazir Hasan, Kisman, dan Hasyim HS. Saya yang mengajak Ustadz Hasyim untuk bergabung.

Bagaimana cara Ustadz Hasan mengajak Ustadz Hasyim?

Beliau itu kakak kelas saya di Akademi Tarjih Muhammadiyah, jadi cukup akrab. Saya datang ke rumahnya di Magelang. Saya ceritakan soal sosok Ustadz Abdullah Said dan gaya berceramahnya. Alhamdulillah, Ustadz Hasyim tertarik untuk bertemu.

Saya cerita kepada Ustadz Abdullah Said. Beliau pun menyambut baik. Dan, ketika saya akan kembali bertemu Ustadz Hasyim, Ustadz Abdullah Said menitipkan selembar surat untuk Ustadz Hasyim. Saya lupa isinya.

Lalu, bagaimana Ustadz Hasyim merespons surat tersebut?

Subhanallah, setelah menerima surat itu, ia langsung menyiapkan baju untuk berjumpa dengan Ustadz Abdullah Said. Esoknya, kami sama-sama berangkat untuk bertemu.

Kabarnya ketika itu Ustadz Hasan tengah menyiapkan diri untuk berangkat kuliah ke Timur Tengah. Apa betul?

Iya, tapi saya sudah memutuskan untuk tidak berangkat. Teman saya yang sudah berangkat ke Madinah juga bertanya-tanya, kenapa tidak berangkat? Dia bilang, “Sayang betul itu tiketnya.”

Saya katakan kepada kawan tadi, “Kamu teruskan saja, biar saya konsentrasi di sini saja.”

Apa yang membuat Ustadz Hasan memutuskan untuk tidak berangkat?

Saya sudah berkomitmen untuk berjuang bersama Ustadz Abdullah Said untuk mengembangkan Islam di Balikpapan. Dan, komitmen itu saya sampaikan kepada beliau.

Apakah Ustadz Hasan juga menyampaikan hal tersebut kepada orangtua dan bagaimana responsnya?

Saya bilang ke orangtua, saya tidak jadi ke Arab Saudi. Mereka bertanya-tanya, “Apa masalahnya?”

Orangtua saya tuh orang kampung. Mereka berharap saya bisa berangkat kuliah. Mereka menyesalkan kenapa tidak jadi berangkat. Tapi apa boleh buat. Saya tidak jadi berangkat.

Organisasi Muhammadiyah Pekalongan saat itu juga merasa kehilangan, karena saya menjadi harapan bisa berangkat ke Madinah.

Kini, apakah Ustadz Hasan merasa menyesal dengan keputusan itu?

Saya justru merasa bangga, karena bisa ikut berjuang bersama Ustadz Abdullah Said.

Ketika akhirnya tiba di Balikpapan, apa yang Ustadz Hasan lakukan saat itu?

Ustadz Abdullah Said itu sibuk sekali. Kami berlima pun disibukkan dengan kegiatan sebagai mubaligh. Kami ceramah sambil membuka lahan dakwah baru. Ini memang kepandaian beliau.

Bagaimana penerimaan masyarakat terhadap kegiatan dakwah saat itu?

Alhamdulillah, kehadiran Hidayatullah ditunggu-tunggu masyarakat. Balikpapan itu tadinya sepi kegiatan keislaman. Bahkan, sejak kedatangan kami, baru terjadi namanya program qurban. Sejak itu kegiatan keislaman mulai tumbuh di masyarakat.

Ustadz Hasan dan yang lainnya langsung terjun dakwah ke masyarakat?

Ustadz Abdullah Said yang mengatur seluruh kegiatan dakwah untuk seluruh mubaligh. Kami semua dikenalkan dan diberi porsi tugas yang sama. Tidak dipilih-pilih. Tidak juga ada yang merasa paling populer, karena popularitasnya terpimpin.

Sejak itu juga kabarnya mulai banyak santri yang ingin menuntut ilmu?

Alhamdulillah, kami langsung bikin tempat pendidikan. Banyak santri yang mulai bergabung dan belajar bersama kami. Dan, dari situlah kemudian ini menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Hidayatullah.

Motivasi apa yang paling Ustadz Hasan kenang dalam perjalanan dakwah bersama Abdullah Said?

Yang paling berkesan dalam hidup saya ketika beliau memotivasi saat pertama kali menginjakkan kaki di Gunung Tembak bersama kawan-kawan. Ketika itu daerah tersebut masih berupa hutan belukar.

Beliau seringkali mengatakan, “Tempat ini jangan dilihat sekarang yang masih hutan belukar dan penuh tunggul kayu ulin yang sepertinya tidak ada tanda-tanda kehidupan. Tapi yakinlah beberapa tahun yang akan datang tempat ini akan berubah menjadi tempat yang menarik dan ramai dikunjungi orang. Dari sinilah kita akan bertolak untuk merambah ke seluruh Kaltim. Dan, Anda-Andalah yang akan menggurat sejarah yang patut dicatat dengan tinta emas.”

Dan, hari ini motivasi itu betul-betul terwujud?

Alhamdulillah, setelah satu demi satu apa yang pernah dibahasakan itu terwujud. Itu yang membuat saya menjadi lebih yakin.

Kalau dalam proses pengkaderan, seperti apa yang pernah Ustadz Hasan rasakan?

Suatu hari saya mendapatkan tugas lembaga untuk menyelesaikan urusan di Jakarta. Setiba di Jakarta, ustadz menyurati agar saya sekalian mampir ke rumah di Pekalongan. Ternyata, sampai di rumah, ayah saya sudah lama meninggal dunia.

Begitulah ustadz menahan kadernya. Dan, saya pun merasa inilah bentuk pengkaderan ekstrim yang saya alami. Tapi setelah itu, saya kembali lagi ke Gunung Tembak untuk melanjutkan tugas dakwah.

Menurut Ustadz Hasan, apa yang menjadi rahasia sukses sosok KH Abdullah Said selama memimpin lembaga ini?

Selain kedekatannya kepada Allah Subhanahu Wata’ala, yang juga beliau jaga adalah adalah memelihara kerukunan pengurus. Beliau sosok yang sangat dekat dengan semua orang. Semoga ini bisa tetap dipertahankan.*

Sumber: Hidayatullah.com