TANJUNG MORAWA (Hidayatullah.or.id) — Dai internasional berdarah Palestina Syaikh Ibrahim Ali Muhammad Al Hasani berbagi tips menghafal Al Qur’an dan menyampaikan kiat kiatnya agar Kalamullah ini bukan semata bacaan atau hafalan tetapi juga benar benar menjadi sesuatu yang amat membahagiakan dalam hidup lebih dari kegembiraan lainnya.
Syaikh Ibrahim Ali Muhammad Al Hasani menekankan bahwa hal pertama yang harus ditanamkan dalam diri bagi setiap penghafal Al Qur’an adalah niat yang lurus dan tulus semata mata melakukan tersebut karena Allah SWT. Inilah kunci utamanya, katanya.
1.Niat yang Ikhlas
“Niat yang ikhlas menghafal Al Qur’an karena Allah Subhanahu Wata’ala bukan karena mengharap pujian manusia karena mendapat gelar hafidz Qur’an,” kata Syaikh Ibrahim Ali Muhammad Al Hasani.
Hal itu disampaikan Syaikh Ibrahim usai shalat shubuh dalam acara Daurah Qur’an untuk guru dan dosen Ma’had Ali Hidayatullah Medan di Masjid Agung Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa, Senin, 8 Jumadil Akhir 1443 (10/1/2021).
2. Berdoa kepada Allah
Kiat selanjutnya, menurut Syaikh Ibrahim Ali Muhammad Al Hasani, adalah selalu berdoa kepada Allah agar kita diberi kemampuan selalu dekat dengan Al Qur’an.
“Senantiasa berdoa kepada Allah kiranya Allah SWT memberikan kekuatan untuk bisa menghafal Al Qur’an, utamanya pada waktu waktu terkabulnya doa, pada saat sujud di setiap shalat lima waktu, shalat tahajjud maupun sholat Sunnah lainnya,” katanya.
Dia mengatakan, doa adalah senjata orang mukmin dan hal ini telah disinyalir di banyak ayat Al Qur’an dan hadits Nabi Muhammad Shallallaahu Alaihi Wasallam. “Karena banyak hal yang mustahil dilaksanakan bisa selesai dengan terkabulnya doa,” kata ulama asal Palestina ini.
3. Taat kepada Guru
Taat kepada guru merupakan adab yang secara turun temurun telah dipraktikkan oleh para ulama dari dulu hingga kini. Ketaatan kepada guru niscaya melahirkan kebaikan, keberkahan, dan kemuliaan, yang kemudian melahirkan ulama yang faqih (ahli dalam agama).
“Sebagai penghafal Al Qur’an, untuk keberhasilan menghafal maka harus mengikuti tata tertib yang sudah dibuat oleh pemandu atau guru. Sami’na wa atho’na, menghargai guru, dan menghormati guru,” imbuhnya.
4. Mengulang dan Mengulang
Membaca Al Qur’an adalah ibadah, oleh sebab itu tentu Allah akan membalas ibadah tersebut dengan keberlimpahan kebaikan. Maka dari sini, tiada yang didapatkan dari terus mengulang ulang bacaan Al Qur’an selain kebaikan dan aliran pahala yang tidak terputus.
Menurut Syaikh Ibrahim Ali, ingatan atau memori manusia ada dua macam yaitu memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Memori jangka pendek, jelas dia, bisa menghafal dengan cepat tetapi juga cepat hilang.
Berbeda dengan memori jangka panjang, kata dia, memori jangka panjang proses menghafalnya lambat sehingga membutuhkan waktu lama untuk menghafal, tetapi memiliki kekuatan menyimpan yang lama.
“Oleh karena itu diperlukan pengulangan hafalan yang banyak. Setiap jalan Al Qur’an minimal diulang minimal 30 kali diulang. Semakin banyak semakin baik hasilnya,” katanya.
5. Mempraktikkan
Kiat yang terakhir menurut Syaikh Ibrahim Ali adalah mempraktikkan. Mempraktikkan di sini bukan hanya praktik bacaan hafalan ketika dalam shalat seperti sedang tahajjud, tetapi juga mendalami ilmunya, menyelami maknanya, meresapi pesan pesannya, dan mengamalkan segala muatan perintah kebaikan yang ada di dalamnya.*/Khoirul Anam
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Seleb internet yang juga politisi Ferdinand Hutahaean membuat pernyataan sensitif yang menyinggung perasaan umat Islam pada Selasa (4/1/2021). Pernyataan Ferdinand yang dicuitkan di akun twitternya tersebut meresahkan dan sangat berbahaya.
Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi mengatakan pernyataan Ferdinand ini tidak saja diduga memuat hasutan terhadap pemeluk agama tetapi juga dapat menyulut permusuhan dan perpecahan antar sesama anak bangsa.
“Selama ini dia selalu paling lantang berteriak toleransi tapi malah mempertontonkan intoleransi dan ini bukan sekali dua kali. Jangan jangan, toleransi yang beliau selalu gaungkan selama ini hanya basa basi, tidak otentik,” kata Imam Nawawi dikutip dari laman web Pemuda Hidayatullah, Rabu, 3 Jumadil Akhir 1443 (5/1/2021).
Menurut Imam, sebagai seorang figur publik dan orang yang sudah dewasa, Ferdinand mestinya lebih bijaksana, menghargai penganut agama, dan menjadikan dirinya sebagaimana profil yang selama ini dibangunnya sebagai orang toleran yang bisa menerima perbedaan.
“Kalau bertoleransi secara otentik, bukan sekedar teriakan basa basi, tentu tidak akan keluar ucapan sensitif dari dia apalagi yang bisa menciptakan keterbelahan yang semakin parah antar anak bangsa,” ujar Imam.
Imam meminta Ferdinand berhenti membuat gaduh dan berharap aparat berwenang dapat melakukan proses hukum karena apa yang dituliskannya dapat dijerat sebagai ujaran kebencian sebagaimana Pasal 28 ayat 2 UU ITE.
Sebelumnya, pada Selasa lalu Ferdinand Hutahaean menulis cuitan di Twitter miliknya: “Kasihan sekali Allahmu ternyata lemah, harus dibela. Kalau aku sih Allahku luar biasa, maha segalanya, Dialah pembelaku selalu dan Allahku tak perlu dibela”.
Meskipun dia telah menghapusnya, cuitan Ferdinand tersebut telah menyebar luas dan berpotensi memantik kemarahan umat karena secara sensitif memuat frasa berkenaan dengan keyakinan agama khususnya umat Islam. (ybh/hio)
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Tidak ada kata henti untuk berdakwah. Itulah prinsip yang dipegang betul oleh Ust H Abdurrahman Muhammad. Kini ia adalah Pemimpin Umum Hidayatullah.
Sebelum mengemban amanah tersebut, Ust Rahman, begitu ia karib disapa, ia juga seperti dai Hidayatullah pada umumnya yang mendapat tempaan dengan dikirim berdakwah ke berbagai daerah.
Jauh sebelumnya berdirinya Hidayatullah, Abdurrahman muda dan Abdullah Said muda sudah saling kenal dan kedunya merupakan sahabat dekat sejak masa remaja itu.
“Dia adalah teman saya dan guru saya. Saya katakan teman saya karena masih remaja datang ke rumah saya di Parepare dan saya waktu itu memboncengnya ke sana kemari,” kisah Ust Abdurrahman ketika menutup Munas V Hidayatullah di Depok, Jawa Barat, 31 Okt 2020 lalu.
Kedatangan Abdurrahman ke Gunung Tembak pun tak diketahui oleh Abdullah Said. Sebelumnya, dikala Abdurrahman menempuh studi di Yogyakarta, Abdullah Said memang pernah datang menemuinya untuk berdiskusi soal dakwah.
“Aku bukan diundang datang ke Gunung Tembak tetapi Allah menjalankan diri saya ke Gunung Tembak dan beliau (Abdullah Said) tidak tahu. Saya menyaksikan banyak peristiwa, kemudian almarhum membikin (kampus) Gunung Tembak karena perjalan peristiwa dan itu saya menyaksikan semuanya. Dan atas takdir Allah SWT, saya pun diberi tugas untuk memikul perjalanan Hidayatullah sampai hari ini,” kisahnya.
Ust Abdurrahman banyak menyerap spirit dakwah dan perjuangan dari sosok sahabatnya tersebut. Termasuk dalam setiap tugas dakwah dilakoninya yang tidak selalu mudah, bahkan terbilang penuh tantangan yang harus dihadapi.
“Kalau (masing-masing) menuruti perasaan, rasanya tidak ada pekerjaan yang bisa selesai. Sama halnya jika selalu mengedepankan rasa iba dan kasihan, mungkin tidak ada pekerjaan yang jadi. Sebab kita semua cenderung begitu. Senang kalau kumpul-kumpul terus dan bersama-sama selalu,” ia menukil pesan sahabatnya itu.
Ibarat buah yang baru saja dipetik, untaian nasihat emas ini masih segar dalam ingatan Ust H Abdurrahman Muhammad. Nasihat yang berasal dari Allahuyarham KH Abdullah Said, tokoh pendiri Hidayatullah tersebut diakuinya sering diulang-ulang sebagai pengingat diri, termasuk dalam memotivasi para santri, guru, atau dai yang hendak mengemban amanah dakwah.
“Jadi dua kali saya itu dipanggil menghadap, diajak cerita dan berdialog oleh Allahuyarham,” ceritanya mengenang. “Saya rencana ditugaskan ke Irian waktu itu,” lanjutnya sambil tersenyum mengingat-ingat kembali momen penugasan dirinya, puluhan tahun silam.
Sepenggal kisah nostalgia tersebut di atas disampaikan pada forum silaturahim dan Pra Raker 2022 Yayasan Tahfizh al-Qur’an Ahlus Shuffah, Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (04/01/2022). Turut hadir dalam acara tersebut Badan Pembina, Pengawas, serta Pengurus Yayasan Ahlus Shuffah.
Penugasan demikian itu, sambung beliau, pasti terasa berat, tapi inilah amanah dakwah. Sedih, karena memang akan terpisah dengan saudara dan teman. Padahal semua orang suka kondisi nyaman dan kumpul-kumpul.
“Memang tidak jadi kalau mengikuti perasaan atau rasa kasihan itu,” ucap ustadz yang bertempat lahir sama dengan Presiden RI ke-3, BJ. Habibie ini.
Koper dari Peti Kayu
Akhirnya, ia melanjutkan, kala itu semua sahabat seperjuangannya lalu ramai-ramai mengantar ke pelabuhan di Balikpapan. “Termasuk Ustadz Hasan Suraji, Ustadz Ahmad Hasan Ibrahim, dan beberapa kader senior Hidayatullah lainnya,” terangnya.
Karena perjalanan tugas ke medan dakwah itu jauh, akhirnya ia berinisiatif membawa sejumlah koleksi buku hingga mesin tik.
“Karena jaraknya jauh berarti bisa lama tugasnya ini. Jadi saya bawa semua barang-barang. Itu saya pikul pakai peti kayu dan bawa tentengan masuk kapal,” ucapnya tersenyum. “Itu semua buat sendiri, mau beli (koper) mahal, tidak punya uang,” lanjutnya.
Ia mengaku, peti kayu itu buatan tangannya sendiri dan masih disimpannya hingga sekarang sebagai kenang-kenangan. Saat ke Irian kala itu pun, anaknya baru tiga orang, masih kecil-kecil pula, ada yang sudah bisa jalan tapi masih harus dituntun.
Pernah pula waktu tugas ke Toli-Toli (Sulawesi Tengah), Ust Abdurrahman membungkus pakaiannya dengan sarung yang diikat lalu dipikul di bahu belakang.
Diketahui, selain Irian Jaya (sekarang bernama Papua dan Papua Barat), ustadz yang dikenal gemar membaca buku tersebut juga pernah ditugaskan berdakwah ke Manado (Sulawesi Utara) hingga ke Berau, Kalimantan Timur, dan sejumlah daerah lainnya.
Bahkan semasa kuliah dulu, Abdurrahman sudah dikenal giat berdakwah dan mencari ilmu, hingga keliling seantero Nusantara.
Pemimpin Umum Hidayatullah lantas berbagi tips kepada para guru dan pengurus Ma’had Tahfizh al-Qur’an Ahlus Shuffa agar bisa bertahan di jalan dakwah dan menjalankan amanah umat dengan optimal.
Menurutnya, semua amanah adalah berat untuk dijalankan. Untuk itu, mutlak diperlukan spirit al-Qur’an dan menjaga ibadah serta hubungan dengan Allah.
“Kalau Allah sudah berkenan menurunkan pertolongan-Nya, aman sudah itu. Jadi hindari was-was dan sangka buruk terhadap orang lain. Biasanya (was-was dan sangka buruk) itu hanya godaan nafsu atau perasaan serta bisikan dari setan saja,” jelas dai berdarah Bugis ini.
“Hadirkan selalu sikap militan dan pikiran yang terbuka. Sebab itu yang akan menguatkan cita-cita dakwah ini,” pungkasnya semangat.*/Masykur Suyuthi
TATKALA kemerosotan moral menggejala di tengah-tengah masyarakat, Allah menyediakan seperangkat piranti sosial yang dapat difungsikan untuk membalik keadaan dan memperbaikinya. Memang pilihan-pilihan yang diminta sangat tidak biasa, terkesan melawan arus. Al-Qur’an menamainya sebagai al-‘aqabah, jalan yang sukar lagi mendaki. Akan tetapi, di situlah sebenarnya kunci-kunci menuju kebangkitan dan kejayaan.
Ada satu surah Al-Qur’an yang secara khusus dinamai “negeri” (al-balad). Di dalamnya Allah menggambarkan kebangkrutan moral yang menimpa sebuah negeri, dalam hal ini Makkah di zaman jahiliyah. Negeri itu adalah tanah tumpah darah sang pembaharunya sendiri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Allah berfirman,
“Aku benar-benar bersumpah dengan negeri ini. Dan kamu (Muhammad) bertempat di negeri ini. Dan demi bapak dan anaknya.” (QS. Al Balad: 1-3).
Kebangkrutan moral itu sedemikian akut, karena telah diwarisi dari bapak ke anak, hingga beberapa lapis generasi. Angkatan baru yang terlahir pun tidak menyadari kesalahan yang ada sedikit pun, sebab mereka tumbuh di tengah-tengah zaman yang telah rusak.
Mereka tidak mengerti kekeliruan paganisme, perbudakan, perzinaan, minum khamer, perjudian, riba, dan lain-lain.
Mereka menyaksikan semua itu sebagai hal yang lumrah, dan bahkan tidak tersedia memori pembanding di benak mereka. Sungguh mereka belum pernah menyaksikan kebalikannya!
Dalam surah itu, Allah juga menggambarkan bahwa suasana yang kemudian dominan adalah kehidupan yang melelahkan di bawah kuasa materialisme, hedonisme, individualisme, pragmatisme.
Masyarakat pun telah kehilangan kepekaannya terhadap benar-salah atau baik-buruk; yang ada hanyalah kepentingan dan dorongan nafsu.
Tidak ada lagi hukum yang berwibawa. Jika pun ada kepatuhan kepada norma-norma sosial, sebenarnya hanya sebatas pencitraan, hiasan di bibir, atau didorong kepentingan tertentu.
Masyarakat juga semakin abai terhadap kehidupan akhirat. Alhasil, mata hati mereka pun tidak dapat lagi mengenali cahaya kebenaran ketika ia mulai berpendar di hadapannya.
Allah berfirman,
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorang pun yang berkuasa atasnya? Dan mengatakan: “Aku telah menghabiskan harta yang banyak”. Apakah dia menyangka bahwa tiada seorang pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata? Lidah dan dua buah bibir? Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan?” (QS. Al Balad: 4-10)
Surah al-Balad memang merupakan potret buram Makkah di masa silam, akan tetapi suasana yang menyelimutinya tetap relevan sampai kapan pun, di mana pun. Sebab, ketika Al-Qur’an membicarakan kerusakan sebuah negeri, maka yang pertama-tama disoroti bukanlah bumi dan sumberdaya alamnya, akan tetapi manusia-manusia yang hidup di dalamnya.
Demikian pula ketika Al-Qur’an membicarakan keshalihan serta keberkahannya. Tentu saja, selama sebuah negeri masih ditinggali manusia, pada kenyataannya watak dasar mereka tidaklah berubah; meski manifestasinya bisa saja berbeda-beda.
Lalu, apa resep yang ditawarkan Al-Qur’an untuk mengentaskan sebuah negeri yang telah dilanda kebangkrutan moral semacam itu? Allah menyebutnya dengan al-‘aqabah.
Secara harfiah, ‘aqabah berarti jalan di atas perbukitan yang jarang dilalui orang, mendaki, dan sangat sulit. Kata ini merupakan metafora dari tindakan-tindakan “ganjil” yang disarankan Al-Qur’an, sesuatu yang sangat tidak populer di tengah-tengah masyarakat dan pasti mengundang sejuta tanda tanya, bahkan cemoohan dan ejekan.
Allah berfirman,
“Tetapi dia tidak mau menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) membebaskan budak. Atau memberi makan pada masa-masa kelaparan. (Kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat. Atau kepada orang miskin yang sangat melarat.” (QS. Al Balad: 11-16)
Para budak adalah harta yang sangat tidak berharga di masa itu, sehingga membebaskan mereka sama saja dengan memiskinkan diri sendiri. Tidak masuk akal.
Makkah juga merupakan negeri yang sangat tandus, tidak ada satu pun tanaman pangan yang bisa tumbuh dan membuahkan hasil. Makanan langka, dan diperlukan upaya keras untuk mendapatkannya. Jelas saja anjuran memberi makan kepada orang lain di masa-masa kelaparan merupakan saran yang melawan arus.
Di titik ini, empati dan simpati pun melemah, sampai akhirnya lenyap samasekali. Manusia hanya memikirkan dirinya sendiri, dan pura-pura buta-tuli terhadap penderitaan sesamanya, meskipun memiliki hubungan kerabat atau dicekam kemelaratan yang sangat hebat.
Puncaknya adalah ketika mereka tidak lagi peduli pada nilai-nilai moral dan kebenaran. Iman, kesabaran, dan kasih sayang secara pasti telah menguap entah kemana.
Allah berfirman,
“Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.” (QS. Al Balad: 17)
Tentu saja, Allah tidak mengabadikan suasana Makkah dari masa itu sekedar untuk dokumentasi sejarah. Secara tersirat Allah hendak menunjukkan bahwa negeri-negeri mana pun bisa bernasib sama dengan Makkah, jika manusia-manusia di dalamnya tidak mau memperbaiki diri, yakni dengan menempuh jalan-jalan yang sukar lagi mendaki itu. Mereka harus berupaya keras memulihkan jiwa-jiwa warganya yang telah terendam apatisme dan tercekam keputusasaan, sebelum mereka disulut oleh anarkhi.
Di masa kini, kita mungkin mendapati anak-anak yang terlahir di bawah bayang-bayang dekadensi moral di segala bidang. Mereka tidak memiliki kenangan ketika norma-norma hidup beragama dan bermasyarakat begitu diindahkan serta dijunjung tinggi.
Anak-anak seperti ini sangat rawan untuk menganggap segala bentuk kesalahan dan penyimpangan sebagai kewajaran, sebab mereka tidak memiliki referensi sebaliknya.
Metropolitan semacam Jakarta dan Surabaya tampak melangkah menuju nasib serupa dengan Makkah pra-Kenabian. Beberapa kota lain, semisal Bandung dan Malang, juga menunjukkan tanda-tanda yang mengarah ke sana. Hanya saja, Allah menunjukkan bahwa jalan keselamatan itu masih tersedia, yakni dengan melawan arus deras kemerosotan tersebut; dengan memilih al-‘aqabah.
Harus ada upaya nyata untuk mengeliminir sistem perbudakan modern di dalamnya, yang bisa termanifestasikan dalam beragam bentuk. Sistem ketenagakerjaan yang tidak manusiawi dan human trafficking hanyalah contoh kecil.
Mesti ada usaha pula untuk membantu kaum miskin, anak yatim, kaum marjinal agar mendapatkan akses ekonomi dan pendidikan yang memadai serta terjamin. Selain itu, masyarakat harus terus-menerus diingatkan dengan bimbingan yang dilandasi keimanan, kesabaran, dan kasih sayang.
Sejarah menunjukkan bahwa revolusi sosial semacam itu tidak berlangsung mulus dan mudah. Terlebih-lebih lagi ketika kultur yang menyimpang bahkan telah terwariskan dalam beberapa generasi. Akan tetapi, tampaknya “negeri-negeri” kita belum separah Makkah.
Pertanyaannya: bersediakah kita menempuh al-‘aqabah di zaman ini dan menyelamatkan negeri-negeri kita dari kebinasaan, sebagaimana Rasulullah dulu berupaya menyelamatkan Makkah? Wallahu a’lam.
BATAM (Hidayatullah.or.id) -– Wakil Gubernur Kepulauan Riau Hj Marlin Agustina apresiasi Hidayatullah Batam yang terus gulirkan kegiatan pelatihan belajar dan mengajar Al Qur’an serta berharap ini bisa menjadi standar untuk sertifikasi guru Al Qur’an.
Hal itu disampaikan Wagub Marlin di Kampus Pondok Pesantren HIdayatullah Batuaji, Batam. Di Ponpes Hidayatullah tersebut, Wagub Marlin membuka Pelatihan dan sertifikasi Guru Al-Quran. Pada kesempatan itu, Wagub Marlin juga melakukan peletakan batu pertama pembangunan asrama.
“Profesi guru selain harus memiliki kompetensi juga harus mendapatkan pengakuan atas kompetensi tersebut berupa sertifikasi. Saat ini sertifikasi merupakan modal yang sangat penting dan wajib dimiliki oleh para guru sesuai dengan bidang ajarnya,” kata Wagub Marlin di Aula Yayasan Pesantren Hidayatullah Batuaji, Senin, 1 Jumadil Akhir 1443 (3/1/2022).
Dalam kesempatan itu Wagub Marlin berterima kasih kepada para guru Al Quran yang terus mendidik anak-anak Kepri.
“Mereka berperan dalam mencetak generasi bangsa, dengan pondasi agama yang kokoh. Dengan memperkuat karakter agar terhindari dari berbagai pengaruh negatif,” imbuhnya.
Ketua TP PKK Kota Batam ini mendukung pelatihan dan sertifikasi seperti ini. Karena, jelasnya, ini merupakan inovasi yang bagus bagi para guru dalam meningkatkan kompetensi profesional pendidik khususnya tenaga pendidik Al Quran. Sehingga bisa menumbuhkan dan meningkatkan minat mempelajari Al-Quran sedini mungkin.
“Kemajuan teknologi memberi dampak positif dan negatif. Juga masuknya budaya yang tak dapat kita larang. Tapi kita bersama-sama siapkan diri dan generasi kita dengan karakter yang kuat untuk membentengi hal-hal yang negatif,” imbuhnya.
Menurut Ketua GOW Kota Batam ini, pondasi agama menjadi benteng yang harus dibangun sedini mungkin agar tidak mudah goyah dan dihancurkan. Al Quran dan Hadits menjadi penuntun sepanjang masa yang tidak lekang oleh zaman, katanya.
Wagub Marlin pun menyampaikan, anak-anak Kepri harus mendapatkan banyak ilmu, dari para guru. Sehingga dari Kepri selalu lahir dengan karakter dan akhlak yang kuat.
Wagub Marlin pun dengan berbagai organisasi yang diamanahkan padanya terus melakukan aktivitas pembinaan akhlak mulia. Terutama yang diikuti sejumlah ibu rumah tangga.
“Karena itu, sehebat apapun kalau tidak punya akhlak tak ada gunanya,” kata perempuan kelahiran Karimun ini.*/Umair Safaruddin
MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Rapat Kerja Wilayah Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Barat yang kedua dalam periode kali ini akan dilaksanakan pada tanggal 8 dan 9 Januari 2022.
Rapat kerja ini direncanakan akan dilaksanakan di Hotel Multazam Pasangkayu yang akan diikuti unsur DPP sebagai pengarah, Pengurus Pleno DPW, Dewan Murobbi Wilayah, Unsur DPD (minimal pengurus harian DPD), Unsur Organisasi Pendukung tingkat wilayah, Amal Usaha dan Badan Usaha tingkat Wilayah.
“Adapun para ustadz senior atau perintis tetap akan diundang dalam momen pembukaan Rakerwil. Hal ini sebagai ajang silaturahmi dan interaksi kulutral kepada kader muda sebagai,” kata Ketua Panitia Rakerwil DPW Hidayatullah Sulbar, Gunawan, dalam keterangannya beberapa waktu lalu.
Diterangkan dia, momen Rakerwil ini merupakan salah satu parameter (ukuran) untuk melakukan evaluasi adalah dengan menentukan rasio (perbandingan) antara program yang telah dilakukan dengan program yang telah ditetapkan dalam rakerwil sebelumnya.
Menyadari hal tersebut, lanjut dia, panitia Rakerwil yang juga pengurus DPD Hidayatullah Pasangkayu mendesain acara seapik mungkin agar semua pembahasan program kerja berjalan kondusif.
Gunawan menyebutkan persiapan Rakerwil butuh banyak dukungan dana mengingat peserta berjumlah sekitar 50 orang.
“Kami memiliki semangat menyuksesnya acara ini, insya Allah kalau semua rencana berjalan dengan baik kami yakin sukses,” katanya.
Rapat panitia terus meretas persiapan persiapan agenda jalannya Rakerwil tersebut. Meneruskan progres panitia di Pasangkayu, pengurus DPW Hidayatullah Sulbar juga meretasnya selain rencana pra Rakerwil yang diaksanakan di Polman pada tanggal 1 dan 2 Januari.*/Bashori
DALAM mengamalkan beragama atau tepatnya mengamankan ajaran agama, memang tidak perlu ada paksaan apalagi dipaksa.
Allah secara tegas menyampaikan dalam surat al Baqarah:
“Tidak ada paksaan dalam agama. Sungguh telah nyata kebenaran dan kesesatan. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thagut dan beriman kepada Allah, sesunguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat yang tak akan putus. Allah Maha Mendengar dan Mengetahui”. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 256).”
Allah memang tidak perlu memaksa, karena Allah tidak punya kepentingan sedikitpun terhadap mahkluq. Justru semua makhluq yang berkepentingan dengan Allah. Semua bergantung kepada Allah
Seandainya semua makhluq taat beragama maka tidak menambah sedikitpun kemuliaan Allah. Sebaliknya jika semua makhluq tidak taat dalam beragama maka tidak mengurangi sedikitpun kemuliaan Allah. Sehingga tidak ada alasan bagi Allah untuk memaksa makhluq untuk taat bergama.
Kemudian, manusia tidak bisa memaksa kepada orang lain untuk beragama. Jangankan orang lain, kepada anak, saudara atau pasangan juga tidak ada daya untuk memaksa agamanya.
Mungkin bisa memaksa dengan ancaman atau intimidasi, tapi sifatnya sementara. Keterpaksaan biasanya menimbulkan kemunafikan atau kepura-puraan.
Namun meski tidak ada paksaan dalam beragama tapi ikhtiar harus tetap dilakukan untuk mengajak orang lain agar menjalankan agama. Ini bagian dari tugas para nabi dan pengikutnya untuk taat beragama
Seperti dakwah, tarbiyah, amar makruf nahi munkar, nasehat menjadi program untuk memberikan pencerahan dan kesadaran kepada masyarakat.
Ketika seseorang atau komunitas sebuah masyarakat memiliki keimanan yang memadai maka tidak perlu ada paksaan untuk menjalankan agama yang diimaninya. Karena iman itu mendorong untuk taat kepada agama, tanpa dipaksa dan disuruh dengan sendirinya akan taat beragama.
Bagi orang beriman sudah sangat jelas antara haq dan bathil, kebaikan dan keburukan, ketaatan dan kemaksiatan. Sehingga orang beriman auto taat dan tidak perlu dipaksa.
Sehingga iman menjadi kunci agar tidak tidak ada rasa terpaksa dalam mentaati agama. Menumbuhkan, memupuk dan meningkatkan keimanan adalah yang harus senantiasa menjaga program utama.
Dalam hal ini, sangat penting adanya komunitas atau jamaah yang memiliki satu pemahaman dan pandangan hidup yang dibingkai dengan kepemimpinan yang kuat.
Iman adalah hal yang mendasar dan besar, tidak bisa dilakukan secara pribadi atau mandiri. Memerlukan kolaborasi dan kerjasama.
Hidup berjamaah dalam kepemimpinan iman, menghindarkan rasa terpaksa. Ada nasehat dan kontrol sosial untuk senantiasa di jalan iman.
MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq Lc MA mengatakan Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) dengan 6 jatidirinya menjadi modal dasar untuk menghadapi berbagai tantangan dan merebut peluang di era distrupsi saat ini.
Hal itu disampaikan beliau dalam acara Stadium General Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Albayan Hidayatullah Makassar bertema “Peluang dan Tantangan Perguruan Tinggi Hidayatullah Membangun Peradaban Islam di Era Distrupsi” di kampus STAI Albayan, komplek Pesantren Hidayatullah Makassar, Jl Poros BTP, Selasa, 25 Jumadil Awal 1443 (29/12/2021).
Adapun enam jatidiri Hidayatullah itu adalah Sistematika Wahyu (SW) sebagai manhaj tarbiyah dan dakwah, Ahlus Sunnah wal Jamaah, Alharakah Al Jihadiyah Al Islamiyah, Imamah dan Jamaah, Jama’atun minal muslimin, dan Wasathiyah.
“Karena dengan modal pemahaman dan pengamalan jati diri Hidayatullah, mahasiswa PTH bukan saja akan menjadi sarjana, tapi juga menjadi kader sekaligus leader,” jelasnya.
Dalam pengertian umumnya, diterangkan, era disrupsi adalah sebuah masa terjadinya inovasi dan perubahan besar-besaran yang secara fundamental yang mengubah semua sistem, tatanan, dan landscape yang ada ke cara-cara baru. Akibatnya pemain yang masih menggunakan cara dan sistem lama kalah bersaing.
Dia menjelaskan, sistem pendidikan boarding yang dilaksanakan oleh PTH dipastikan pula menjadi keunggulan yang tak dimiliki oleh perguruan tinggi secara umum.
“Perguruan tinggi setidaknya hanya 25 jam tiap pekan kuliah sedangkan mahasiswa PTH 24 jam setiap hari,” ucapnya.
Sebelumnya, Ketua STAI Albayan Dr Irfan Yahya ST MSi dalam materi pengantarnya mengatakan bahwa perubahan dan perkembangan teknologi saat ini hanya lebih banyak mempengaruhi pada perangkat bukan pada substansi.
“Maka Hidayatullah sebagai suatu sistem sosial yang turut mengelola perguruan tinggi dan menjadikan Sistematika Wahyu sebagai manhaj akan terus eksis dan sanggup meraih dan menghadapi peluang dan tantangan di era distrupsi saat ini,” jelasnya.
Selain dihadiri mahasiswa dan mahasiswi STAI Albayan, stadium general tersebut turut diikuti para pimpinan Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah se-Sulsel disela acara Rakerwil Hidayatullah Sulsel.*/ Firmansyah
SUATU HARI, ketika berkumpul bersama sebagian sahabatnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh kalian akan mengikuti sunnah-sunnah kaum sebelum kalian jengkal demi jengkal, dan hasta demi hasta, sehingga andaikan saja mereka masuk ke liang biawak sekalipun, niscaya kalian akan turut juga masuk kesana!” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, (apakah yang Anda maksud adalah) kaum Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi?” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
Sungguh menarik, dalam hadits ini Rasulullah menyebut bahwa ada sunnah-sunnah yang lain di luar sunnah beliau. Padahal, biasanya kita hanya mengaitkan istilah sunnah ini dengan Rasulullah, bukan kepada selainnya. Lebih celaka lagi, sebagian orang justru menyempitkan makna sunnah pada bagian-bagian kecilnya saja, dan sepertinya lupa kepada makna sesungguhnya dari sunnah itu sendiri.
Ketika membicarakan sunnah Nabi, langsung saja ditunjuk hanya kepada jenggot atau celana setinggi betis, dan mengidentifikasi para pengikut sunnah hanya dari pertanda ini saja. Ini memang bagian dari sunnah, tetapi bukan seluruhnya.
Sunnah sesungguhnya bermakan jalan hidup, adat kebiasaan, manhaj, tradisi, entah itu terpuji atau bahkan tercela samasekali. Karena cakupan asal istilah ini yang luas maka ia secara khusus dikaitkan hanya dengan jalan hidup, adat kebiasaan, manhaj dan tradisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Mengapa demikian? Ya, agar hanya terbetik di benak kita untuk mengikuti apa yang berasal dari beliau, bukan selainnya. Bagaimanapun, di luar sana ada sangat banyak jalan hidup, adat kebiasaan, manhaj dan tradisi yang dengan satu atau beberapa alasan menjadi populer dan diikuti banyak orang.
Inilah yang ditunjuk oleh Rasulullah dalam sabdanya di atas, bahwa umat beliau sangat berpeluang untuk mengikuti seluruh adat kebiasaan, manhaj dan tradisi kaum Yahudi dan Nasrani. Sedemikian persis dan kuatnya penjiplakan itu, sampai beliau menyebutkan dengan “jengkal demi jengkal dan hasta demi hasta”.
Maksudnya, ada masanya dimana umat beliau akan berubah tidak ada bedanya sedikit pun dengan kaum Yahudi dan Nasrani, dalam seluruh aspek kehidupannya, sehingga jika pun diteliti serta diperiksa jengkal demi jengkal dan hasta demi hasta, kita akan temukan persamaan itu merata dimana-mana.
Hanya saja, persamaan ini dalam aspek kemaksiatan dan penentangan kepada syari’at, bukan dalam kekufurannya. Sungguh, bahkan Rasulullah menyebut, “andaikan saja mereka masuk ke liang biawak sekalipun, niscaya kalian akan turut juga masuk kesana”. Yakni, andai mereka melakukan sesuatu yang paling konyol dan tidak masuk akal sekalipun, niscaya akan ada dari kalangan umat beliau yang ikut-ikutan juga!
Karena sunnah bisa bermakna seluas itu, maka adalah sangat baik bagi kita untuk mengintrospeksi diri; melihat dengan lebih teliti bagaimana kita menjalani kehidupan kita setiap harinya. Ada baiknya kita sering bertanya pada diri sendiri, saat mulai melakukan sesuatu, besar maupun kecil, “Sunnah siapakan ini?”
Jika kita hendak berpakaian, dengan model dan cara tertentu, maka perhatikanlah! Sunnah siapakah ini? Jika kita mendapati yang ada di dalamnya adalah tuntunan Rasulullah, kita lanjutkan. Jika disana justru kita temukan tradisi dari selainnya, mari bertanya? Apakah Allah dan Rasul-Nya ridha? Apakah dengan pakaian seperti itu kita akan menampakkan diri sebagai umat Rasulullah, atau justru “jengkal demi jengkal” menjiplak kaum Yahudi?
Jika kita hendak menikah, dengan tahapan dan tradisi tertentu, mulai dari proses pemilihan dan penjajagan calon pasangan sampai resepsi walimah, sungguh layak bagi kita bertanya pada diri sendiri: sunnah siapakah ini? Jika kita yakin disana ada tradisi dan bimbingan Rasulullah, maka kita jalan terus. Jangan sampai justru “hasta demi hasta” kita malah menyerupai tradisi dan cara hidup kaum Nasrani.
Jika kita hendak memilih pemimpin, dengan tahapan dan proses tertentu, bukankah juga sangat tepat kita merenung: sunnah siapakah ini? Apakah seperti ini Rasulullah memberikan garis panduannya? Atau, justru segala kesibukan ini malah menjadikan kita sangat mirip dengan kaum Yahudi dan Nasrani, jengkal demi jengkal, hasta demi hasta? Perlahan-lahan, tanpa terasa dan sadar, sampai akhirnya kita mendapati telah berada di “lapangan” yang sama dengan mereka.
Sebab, fenomenanya bisa lebih parah lagi. Seperti dinyatakan Rasulullah sendiri, ada masanya sebagian dari umat beliau akan mengekor kaum Yahudi dan Nasrani dalam hal-hal yang sangat parah, konyol dan tidak masuk diakal.
Beliau memberikan perumpamaan dengan “masuk liang biawak”. Adakah yang lebih konyol atau tidak berakal dari tindakan ini? Dan, yang lebih konyol serta tidak berakal – tentu saja – adalah mereka yang mengikutinya! Wallahu a’lam.
KENDARI (Hidayatullah.or.id) — Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Tenggara (Sultra) meluncurkan Program Pengembangan Kemandirian Ekonomi Pesantren. Kali ini penerima manfaat adalah Pesantren Hidayatullah Kendari. Acara launching tersebut digelar di Kampus Putra Pesantren Hidayatullah Nanga-Nanga pada Selasa, 24 Jumadil Awal 1443 (28/12/2021).
BI Perwakilan Sultra menyerahkan 3 bangunan sekaligus; kandang kambing, rumah potong hewan (RPH), dan rumah produksi pupuk organik.
Kepala Perwakilan BI Sultra Bimo Epyanto menyampaikan dalam sambutannya, bantuan yang diberikan merupakan upaya dari BI untuk mengembangkan kemandirian ekonomi pesantren sebagai basis aktivitas ekonomi umat.
“Bank Indonesia Sulawesi Tenggara akan senantiasa bersinergi dengan pemerintah daerah dan stakeholder terkait dalam mengimplementasikan berbagai program pengembangan kemandirian ekonomi di Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari, termasuk penguatan kelembagaan, sertifikasi halal hingga pengembangan sumber daya manusia (SDM),” ujarnya.
Ia mengharapkan lebih jauh Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari tidak hanya bermanfaat bagi internal saja tapi meluas hingga jazirah Sulawesi Tenggara.
“Ke depannya pengembangan kemandirian ekonomi Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari diharapkan mampu menjadi local champion yang berdampak positif bukan hanya pada internal pondok pesantren tetapi juga masyarakat Sulawesi Tenggara,” sambungnya.
Plt. Kepala Kantor Kemenag Kota Kendari Marni, S.Ag., M.Pd. sangat mengapresiasi kinerja dari BI Sultra dalam pengembangan ekonomi umat ini.
“Apresiasi yang luar biasa kepada Bank Indonesia Sulawesi Tenggara yang telah bersinergi dalam mendorong pengembangan kemandirian ekonomi Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari, kegiatan ini dapat menjadi awal untuk membangun komitmen bersama dalam melajutkan pengembangan pesantren lainnya di Sulawesi Tenggara,” ujarnya.
Senada dengan hal itu, Pembina Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari Ust. Ahmad Syahroni, S.HI, S.Pd.I., juga mengapresiasi kegiatan yang dapat meningkatkan kecakapan hidup para santri, tidak hanya berkutat dalam belajar agama saja.
“Alhamdulillah… Bank Indonesia Sulawesi Tenggara bukan hanya hadir untuk memberikan fasilitas pengembangan ekonomi di Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari, tetapi juga melaksanakan program pengembangan ekonomi yang berkesinambungan,” kata Syahroni.
“Tentu saja komitmen Bank Indonesia Sulawesi Tenggara ini dapat mendukung pengembangan kapasitas santri sehingga bukan hanya mampu memiliki pemahaman agama, tetapi juga pengetahuan dan pengembangan kapasitas wirausaha.” harapnya memungkasi.* /Noer Akbar