Beranda blog Halaman 379

Kejari Kenalkan Hukum ke Santri Hidayatullah Tabalong

0

TABALONG (Hidayatullah.or.id) — Satu upaya untuk mengenalkan dan memberi edukasi terkait hukum dilakukan Kejaksaan Negeri (Kejari) Tabalong dengan mendatangi sekolah dan pondok pesantren.

Kegiatan safari edukasi hukum Kejari kali ini menyasar para santri dan pengajar Pondok Pesantren Hidayatullah, yang ada di Desa Maburai, Kecamatan Murung Pudak, Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).

Program yang sudah berjalan dengan menyambangi pelajar ke sekolahnya masing-masing ini dinamakan Jaksa Masuk Sekolah (JMS).

Kemudian bagian dari program JMS ini juga ada kegiatan Jaksa Masuk Pesantren yang khusus menyasar para santri dan juga pengajar di pondok pesantren.

Kajari Tabalong M Ridosan melalui Kasi Intel Kejari Tabalong, Amanda Adelina, mengatakan kegiatan Jaksa Masuk Pesantren ini untuk mengenalkan hukum ke para santri dan pengajarnya.

“Kegiatan Jaksa Masuk Pesantren diisi dengan materi pencegahan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak,” katanya seperti dimuat Banjarmasin Post.

“Ini sebagai bentuk kepedulian kejaksaan dalam mengedukasi dan mencegah terjadinya kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak,” ujarnya.

Dengan begitu maka diharapkan melalui kegiatan bisa mengenalkan hukum serta mengedukasi para santri dan pengajar di pondok pesantren tentang bentuk dan pencegahan kekerasan seksual.

“Kami berharap para santri dan pengajar di pondok pesantren dapat lebih mengenal hukum dan mengetahui bentuk kekerasan seksual serta bagaimana pencegahannya,” katanya.

BMH Kirimkan Bantuan Beras Santri Tahfidz ke Pulau Buru

0

BURU (Hidayatullah.or.id) — Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Maluku menggalakkan Program Beras Sembako untuk para santri tahfidz yatim piatu di Maluku. Proram kali ini dilakukan di Kabupaten Buru.

“BMH mengunjungi Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Savanajaya di Pulau Buru sekaligus menyalurkan beras untuk santri. Semoga dengan bantuan beras dan sembako ini para santri dapat semakin sehat sehingga kuat dalam belajar,” terang Kepala BMH Perwakilan Maluku, Supriyanto, dalam keterangannya beberapa waktu lalu, (20/2/2022) .

Pesantren yang berada di Pulau Buru itu berlokasi di Desa Savanajaya, Kecamatan Waeapo, Kabupaten Buru, Provinsi Maluku.

“Titik ini harus dijangkau dengan melalui laut sekitar 10 jam lebih dilanjutkan dengan perjalanan darat sekitar 45 menit. Dan masuk pelosok sekitar 1 kilometer dengan jalan yang penuh bebatuan tak beraspal,” jelas Supriyanto.

Di sana ada 58 santri yang tekun belajar Al-Quran. Sebagian besarnya berasrama.

“Mereka dibina secara gratis dan tidak dipungut biaya pendidikan. Pembiayaan mereka seutuhnya dari umat dan satu di antaranya melalui BMH,” imbuh Supri.

Ustadz Hidayatullah selaku pengasuh santri mengungkapkan rasa syukurnya atas beras dan sembako yang diterimanya untuk para santri.

“Syukur Alhamdulillah, kami ucapkan terimakasih atas program beras santri yang kami terima. Rezeki Beras ini cukup untuk makan santri. Semoga Allah berikan kesehatan, keberkahan rizki dan dijauhkan dari marabahaya kepada seluruh donatur muhsinin dan amil BMH,” ungkapnya penuh hikmat yang disambut seruan “Aamiin” oleh seluruh santri.

Program ini bergulir secara rutin dan intensif dalam setiap bulannya, sebagai wujud ikut serta mendorong hadirnya generasi bangsa yang sehat, cerdas dan religius.*/Herim

LOMBA MARS HIDAYATULLAH

0

Hidayatullah menjadi salah satu organisasi massa Islam yang secara formal memiliki legalitas dari pemerintah sebagai Badan Perkumpulan. Kemudian seyogyanya memiliki beberapa perangkat sebagai sebagai organisasi formal, diantaranya lagu mars.


Selama ini kita sudah mengenal lirik lagu Hidayatullah yang dianggap mars tapi masih lebih tepat dianggap sebagai nashid Hidayatullah. Yaitu
Hidayatullah wadah perjuangan
Lahirkan kader, ulama, mujahid
Membangun umat dalam kebersamaan
Menata hati, terangi bumi
Dst


Keberadaan mars Hidayatullah ini penting untuk eksistensi Hidayatullah dalam kegiatan-kegiatan formal dan sebagai transformasi nilai-nilai Hidayatullah dalam bentuk lagu serta bagian dari syiar dakwah Hidayatullah dalam bidang seni.


Sehingga DPP Hidayatullah dalam beberapa kali musyawarah menetapkan untuk mengadakan lomba pembuatan mars Hidayatullah.


Dalam hal ini kita mengajak kepada seluruh kader, anggota dan jamaah Hidayatullah untuk berkontribusi dalam menggagas mars Hidayatullah.
Waktunya selama bulan Maret dari tanggal 1 hingga 31 Maret.
Adapun syarat dan ketentuan bisa dibaca lebih detail dalam pengumuman ini.

Klik disini untuk informasi lomba

Utamakan Selamat, Jangan Pernah tak Terlindungi

0

“WAHAI para pemuda, barangsiapa diantara kalian yang sudah mampu memberi nafkah, maka hendaklah ia menikah. Karena sesungguhnya menikah itu lebih menahan pandangan dan memelihara kemaluan. Dan jika belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu sebagai obat (dari godaan syahwat) baginya.” (Muttafaq ‘Alaihi, dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu).

Islam mewarnai pemeluknya dengan semangat kehati-hatian dan perlindungan diri dalam segala hal. Syariatnya yang indah dirancang secara seksama dalam upaya meminimalisir kemungkinan celaka. Islam tidak membiarkan pemeluknya berada dalam suatu kondisi yang memiliki celah untuk tergelincir tanpa memberikan panduan disana.

Hadits di atas memuat kaidah “perlindungan diri” yang luar biasa, dimana seorang muslim tidak boleh membiarkan dirinya di tepi jurang kehancuran tanpa menyiapkan “tali-tali pengaman”.

Ketika seseorang sudah mampu memberi nafkah, dan ia sendiri sudah berhasrat kepada lawan jenisnya, maka Islam membimbingnya untuk menjaga diri dengan menikah. Menikah, menurut Rasulullah, akan lebih menahan pandangan mata dan membendung luapan syahwat. Dengan demikian ia terhindar dari bahaya perzinaan.

Namun, pada saat seorang muslim belum mampu menafkahi, sementara gejolak syahwatnya terus menggelora, ia diarahkan untuk menjaga diri dengan jalan berpuasa. Berpuasa, dalam konteks ini, akan melemahkan syahwat dan melumerkan dorongan kepada lawan jenis. Dengan demikian ia pun terjauh dari perzinaan.

Pada pokoknya, dalam kondisi yang manapun, seorang muslim tidak boleh dibiarkan tanpa perlindungan diri. Sepanjang hayat, di setiap saat, imannya harus senantiasa terjaga. Sebab, tidak seorangpun mengetahui kapan datangnya ajal. Sebab, Islam menghendaki agar pemeluknya berpulang ke haribaan Rabb-Nya tetap sebagai hamba-hamba shalih yang senantiasa menyerahkan diri kepada-Nya (QS al-Baqarah [02] : 132).

Taqwa = Perisai

Semangat “perlindungan diri” itu sepenuhnya terangkum dalam sikap taqwa, yang di dalamnya mengandung amalan-amalan praktis secara lebih terperinci. Misalnya, beriman kepada yang ghaib, menegakkan shalat, menafkahkan harta di jalan Allah, mengimani al-Qur’an dan kitab-kitab sebelumnya, serta meyakini adanya kehidupan akhirat (QS al-Baqarah [02] : 1-5). Allah sendiri menyatakan bahwa manusia yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertaqwa (QS al-Hujurat [49] : 13).

Dalam pengertian syar’i, taqwa diartikan “melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya”. Sebenarnya, pengertian ini adalah konsekuensi dari makna taqwa, bukan maknanya itu sendiri. Sebab, dalam bahasa Arab, akar kata taqwa berarti menjaga dan melindungi. Dalam bentuk lain, maknanya adalah perisai yang dipakai prajurit untuk melindungi dirinya dari serangan musuh.

Artinya, melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya merupakan refleksi langsung dari upaya seorang muslim untuk menjaga, merawat, dan melindungi dirinya sendiri. Ketaatan kepada Allah pada dasarnya bukan untuk kejayaan Allah, akan tetapi kembali kepada manusia itu sendiri. Kerajaan dan kekuasaan-Nya tidak akan bertambah jika seluruh makhluk-Nya taat, sebagaimana tidak juga berkurang jika mereka semuanya membangkang.

Maka, segala perintah Allah jika dipatuhi dan dilaksanakan sepenuh hati, pasti mendatangkan kemanfaatan yang dinikmati manusia itu sendiri. Sebaliknya, pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah hanya akan mengakibatkan kehancuran dan kesengsaraan bagi mereka.

Allah menegur para Sahabat yang demikian terpukul dan sedih menerima kekalahan mereka dalam perang Uhud.

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata, ‘Dari mana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah, ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri’.” (QS Ali Imran [03] : 165).

Permasalahan yang dikritik dalam ayat ini sudah sangat jelas, bahwa barisan mereka bisa dikalahkan dan porak-poranda oleh musuh karena ada yang tidak menaati perintah Rasulullah.

Utamakan selamat!

Umar bin Khaththab pernah bertanya kepada salah seorang Sahabat yang lain, “Apakah taqwa itu?” Dijawab, “Jika Anda melewati suatu jalan yang penuh dengan duri, maka seperti itulah taqwa.” Maksudnya, sangat berhati-hati dan waspada. Setiap langkah diperiksa sebelumnya dan di-muhasabah setelah itu. Tidak mungkin seorang muslim hidup sembarangan dan semau gue.

Semangat “perlindungan diri” ini mewarnai setiap sudut syari’at Islam. Tidak ada bagian yang dibiarkan terbuka bagi jalan masuk Iblis. Misalnya, Islam lebih menyukai menjatuhkan hukum qishash kepada pembunuh daripada membiarkan seluruh umat terjerumus dalam lingkaran syetan balas dendam dan saling bunuh.

Qishash akan memutus rantai perkara kepada dua pihak yang terlibat langsung, tidak lagi merembet kepada keluarga dan keturunannya. Namun, pada saat bersamaan, Islam juga menganjurkan keluarga korban untuk memberi maaf dan ridha menerima diyat. Kedua belah pihak diminta memilih perbuatan yang lebih utama, dengan landasan keadilan yang tetap ditegakkan sesuai haknya.

Di luar itu, Rasulullah menegaskan bahwa harta, jiwa, dan kehormatan setiap muslim adalah haram dilanggar, kecuali dengan hak-hak Islam.

Terhadap perzinaan, Islam lebih suka menjatuhkan hukum rajam atau cambuk kepada satu dua orang pelaku ketimbang membiarkan seluruh masyarakat melacurkan diri, baik secara terbuka maupun diam-diam. Namun, pada saat bersamaan, setiap muslim diminta untuk menjaga pergaulan antar lawan jenis, menutup aurat dengan sempurna, menundukkan pandangan, dan melarang hal-hal yang menjurus kepada zina.

Artinya, tidak mungkin memandang hukum rajam dan cambuk secara terpisah tanpa melibatkan sistem-sistem perlindungan yang secara integral telah digariskan oleh Islam. Menilai suatu bagian dari sistem secara mandiri sama halnya mengamati sebentuk sabuk pengaman (safety belt) tanpa mengaitkannya dengan mobil. Pada akhirnya, pengamat gagal memahami fungsinya secara utuh, dan bahkan terdorong untuk menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak berguna.

Dengan kata lain, bagian-bagian tertentu dalam Islam yang sering disalahfahami sebagian orang, jelas bukan karena sifat asasinya yang sia-sia. Namun, karena cara pandang para pengkritiknya yang sepihak dan tidak komprehensif.

Dalam ushul fiqh dikenal kaidah-kaidah “perlindungan diri” ini di berbagai tempat. Misalnya, menghindari kerusakan itu lebih diprioritaskan daripada menarik kemanfaatan (dar’ul mafaasidi muqaddamun ‘ala jalbil mashaalihi). Artinya, jika ada peluang untuk meraih kebaikan tertentu, namun pada saat bersamaan mengakibatkan timbulnya keburukan yang jauh lebih besar, maka lebih baik peluang itu diabaikan.

Misalnya, memakai pakaian ketat dan terbuka tidak boleh dinilai dari sudut pandang hak pribadi. Menjaga hak pribadi itu kebaikan, namun dalam kasus ini bisa mengakibatkan kerusakan yang lebih besar. Maka, kebaikan itu dikesampingkan demi menolak keburukan yang lebih besar. Dari sudut pandang tertentu, terhindar dari kerusakan besar adalah kebaikan besar.

Dalam masalah ini, dosa tidak timbul karena bawaan genetik. Ia lahir karena dorongan tertentu, entah internal atau eksternal. Maka, para wanita diminta menutup aurat secara sempurna, dan kaum pria harus tetap menjaga pandangan matanya.

Para lelaki juga harus menjaga aurat, karena kaum perempuan pun diminta menahan pandangannya. Demikianlah, semangat “utamakan selamat” ini berlaku untuk semuanya, tanpa kecuali. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

Ketum DPPH Apresiasi SAR Hidayatullah Terima Piagam Penghargaan dari Basarnas

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah (Ketum DPPH) Ust. Dr. H. Nasirul Haq mengapresiasi kiprah lembaga relawan kemanusiaan pencarian dan pertolongan/ Search and Rescue (SAR) Hidayatullah.

Atas konsistensi kiprahnya itu, SAR Hidayatullah mendapatkan penghargaan dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas) yang diserahkan langsung oleh Kepala Basarnas Marsekal Muda (Marsda) TNI Henri Alfiandi.

Penghargaan tersebut sebagaimaan terlampir dalam surat Basarnas dengan Nomor: B/868/BNP.02.01/II/BSN-2022 tertanggal 21 Februari 2022 tentang Daftar Potensi Pencarian dan Pertolongan Penerima Piagam Penghargaan Tahun 2022.

“Atas nama DPP Hidayatullah menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada SAR Hidayatullah atas prestasinya mendapatkan penghargaan dari Basarnas,” katanya saat menerima Pengurus Pusat SAR Hidayatullah di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Rabu, 22 Rajab 1443 (23/2/2022).

Pada kesempatan tersebut, Nashirul turut didampingi Kabid Dakwah dan Pelayanan Umat (Yanmat) Nursyamsa Hadis. Sementara dari SAR Hidayatullah hadir Ketua Umum SAR Hidayatullah Irwan Harun, Bendahara Usman Abdul Hamid, serta unsur Dewan Pembina Muhammad Musyafir dan Safaruddin Shahab.

Nashirul berharap, raihan penghargaan dari Basarnas tersebut semakin memotivasi, menguatkan, dan memantapkan kiprah SAR Hidayatullah dalam operasi bantuan dan pertolongan kepada masyarakat pra dan pasca bencana.

“Semoga kiprah SAR Hidayatullah semakin meningkat. Terus maju untuk agama, bangsa, negara Insya Allah,” pesannya.

Selain SAR Hidayatullah, ada 3 potensi penerima piagam penghargaan lainnya yakni SAR Astra Internasional, Sentra Komunikasi (Senkom) Mitra Polri, dan Badan Penanggulangan Bencana (Baguna).

Piagam penghargaan diberikan bertepatan dengan dengan gelaran Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Basarnas Tahun 2022 di Ruang Serbaguna Basarnas, Senin, 20 Rajab 1443 (21/2/2022).

Irwan Harun menyampaikan rasa syukur Alhamdulillah ke kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas penganugerahan piagam dari Basarnas ini.

“Piagam penghargaan untuk SAR Hidayatullah dari Basarnas, sebelumnya akan diserahkan langsung oleh Bapak Presiden, (namun) karena alasan PPKM, penyerahan dilakukan secara terbatas,” kata Irwan dalam keterangannya.

rwan menambahkan, apresiasi Basarnas ini semakin mendorong SAR Hidayatullah untuk terus meluaskan bakti kerelewanan dalam pencarian dan pertolongan di setiap bencana yang dapat dijangkau.

Selain itu, Irwan menekankan, kolaborasi dan sinergi dengan berbagai pihak akan semakin dikuatkan. Karena, terangnya, dengan kebersamaan dan kepemimpinan kolaboratif dibawah Basarnas akan semakin memantapkan operasi pencarian dan pertolongan/ search and rescue (SAR) dalam musibah bencana.*/Ain

Pusat Dakwah di Kawasan, Posdai Bantu Pembangunan Masjid Pedalaman Dompu

DOMPU (Hidayatullah.or.id) — Masjid adalah pusat kegiatan ibadah, pusat pengembangan ilmu, pusat kebudayaan Islam, pusat pengembangan karakter dan kepemimpinan umat. Maka wajar, masjid memiliki kedudukan tersendiri di sisi Allah SWT sebagaimana dalam firman-Nya.

Mengingat pentingnya masjid sebagai pusat dakwah pencerahan umat, Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) bergerak cepat melakukan penguatan masjid.

Kali ini Posdai menyalurkan amanah bantuan pembangunan masjid di Pesantren Hidayatullah yang berada di pedalaman Desa Bara, Kecamatan Woja, Domou, NTB pada 12 Februari 2022 lalu.

Pembangunan masjid tahap pertama ini disalurkan berkat bantuan para donatur yang terus mengambil bagian dalam menyukseskan berbagai program dakwah para dai.

Kepala Pemberdayaan Dai Posdai Ust Abdul Muin mengatakan pembangunan masjid ini adalah langkah untuk meneguhkan kiprah para dai di Dompu untuk menunjang dakwah pembinaan masyarakat di kawasan tersebut.

Muin juga menyebutkan pembangunan masjid ini masih tahap pertama. Untuk itu dirinya berharap agar pada pembangunan tahap kedua nanti mendapatkan banyak dukungan dari para dermawan.

Masjid diproyeksi menjadi pusat dakwah di kawasan ini sekaligus sebagai fasilitas yang terbuka untuk umat Islam.

“Pembangunan masjid ini masih panjang. untuk itu kami berharap semua pihak dan umat muslim agar terlibat dalam menyukseskan pembangunan ini,” kata Muin.

Pihaknya juga mengucapkan banyak terimakasih kepada para donatur, muhsinin, dan muhsinat yang telah turut andil dalam membangun Masjid Al-ikhsan ini.

“Saya mewakili Posdai dan para dai pedalaman NTB mengucapkan banyak terimakasi kepada sumua yg membantu pembangunan masjid ini,” katanya menukaskan.*/Zain Amier

Bincang dengan Ust H Hasyim HS: Kenang Sahabat dan Pesan untuk Kawula Muda

0

Bincang kembali hadir. Kali ini dipandu Ust Abdul Ghaffar Hadi yang berbincang dengan satu dari 5 pendiri Hidayatullah, Ust H Hasim HS. Bincang ini terbilang mendadak, karena hanya kurang beberapa jam sebelum beliau bertolak ke Balikpapan.

Alhamdulillah, kendati tak diawali janji, Ust Hasyim berkenan menerima Hidayatullah ID ditengah padatnya agenda beliau di Jakarta sekaligus bertakziah atas meninggalnya sahabat beliau, Ust Hasan Ibrahim.

Malam hari sebelum wawancara esoknya, ia sempat mengisi tausiah sebuah acara silaturrahim di Bogor hingga dini hari. Sebelum itu, siangnya, ia berada di Bandung juga untuk sebuah keperluan ziarah.

Pagi itu, usai menanti beliau mengaji yang sudah rutin dilakukannya, ia pun bersedia bincang bincang sebelum sarapan. Di wisma Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah. Menaiki lingkaran tangga hingga lantai 3 lalu kemudian menuju rooftop.

Tak tampak lelah padanya. Ia juga tetap disiplin menjaga protokol kesehatan. Maskernya tak dilepas.

“Alhamdulillah, beliau masih kuat. Ke masjid juga masih pakai motor,” kata Sekretaris Kampus Ummulqura Hidayatullah Balikpapan pada kami yang membersamai dalam perjalanan ini.

Simak perbincangan ini selengkapnya, klik di sini.

Ketidaktahuan Tujuan Hidup Awal Kesia-siaan

0

Dari al-Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiya-llahu ‘anhum: Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Diantara (pertanda) baiknya keislaman seseorang adalah bila dia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits riwayat Ahmad)

Bila seseorang sudah memutuskan untuk mendaki gunung yang tinggi dan terjal, apa yang akan disiapkannya? Jika ia seorang pendaki yang berpengalaman, ia akan lebih banyak menyiapkan peralatan dan bekal yang paling penting, paling ringan dibawa, dan tentunya tidak akan berlebihan.

Bila pun ia harus membawa peralatan masak misalnya, ia tidak akan mengangkut kompor gas lengkap dengan tabung elpijinya. Sangat berat dan merepotkan. Ia pasti lebih memilih kompor portabel dengan parafin secukupnya. Kalau membutuhkan hiburan, ia tidak akan mau menggendong televisi layar datar 21″, apalagi satu set home theatre. Ia pasti lebih memilih radio mini atau mp3 player seukuran gantungan kunci saja.

Mengapa demikian? Sebab, ia tahu persis tantangan yang akan dihadapinya. Medan yang bakal dia lalui sudah tergambar di depan matanya. Ia mungkin juga sudah membayangkan sudut-sudut kemiringan lereng gunung itu.

Di medan semacam ini, sudah selayaknya seseorang menghemat energi, salah satunya dengan membawa hanya perbekalan yang paling penting dan seringan mungkin. Dengan disiplin mental seperti ini, perjalanannya kemungkinan besar lebih menyenangkan dan berakhir sukses. Tentu saja, bekal-bekal lain berupa ketrampilan, pengetahuan dan kesiapan fisik juga tidak boleh diabaikan.

Mari kita tarik ilustrasi di atas ke dalam arena kehidupan sehari-hari. Kita akan mengkaji dan mencari jawaban atas pertanyaan ini: bagaimana kita bisa mengetahui sesuatu adalah sia-sia dan tidak penting? Apa yang menjadi standar dan rujukannya?

Sebagaimana ilustrasi di atas, kata kunci pertama adalah “tujuan”. Pengetahuan yang mantap dan pasti tentang tujuan dari suatu aktifitas adalah titik tolak pertama untuk memulai perjalanan.

Jika kita tidak menyadari arah dari apa yang sedang kita kerjakan, tidak lama lagi kita akan kehabisan energi dan semangat. Semua akan hampa dan kosong. Lebih celaka lagi, jika kita tidak mengerti harus mengerjakan apa. Maka, pada titik inilah akan muncul perilaku yang tanpa arah dan tidak memiliki relevansi dengan status dan tujuan kita yang sebenarnya.

Sebagai contoh, seorang mahasiswa yang duduk berjam-jam di depan layar game online adalah cermin ketidaksadaran terhadap status dan tujuannya. Ia telah melakukan sesuatu yang tidak relevan dan tidak penting. Tentu saja, yang relevan dan penting bagi seorang mahasiswa adalah belajar, bukan menghabiskan waktu dan sumberdayanya untuk bermain-main.

Kata kunci kedua adalah “pengetahuan yang memadai tentang hal-hal yang relevan dengan tujuan tersebut”. Seorang pendaki gunung tentu tidak akan menyiapkan dan membawa-bawa peralatan menyelam ketika berangkat ke medan yang ditujunya.

Alat menyelam memang penting, tetapi tidak relevan bagi aktifitas pendakian gunung. Ia tentu lebih membutuhkan tali temali atau sepatu yang kuat dan nyaman di kaki. Demikianlah, ketika pergi ke sekolah, seorang pelajar akan membawa buku-buku dan alat tulis, bukan golok atau bantal.

Sejauh ini, kita baru berbicara dalam skup kecil. Mari kita membahas skup yang lebih luas, yakni kehidupan. Bagaimana cara kita menyadari bahwa apa yang kita lakukan sekarang ini, dalam hari-hari kehidupan kita, adalah sia-sia atau berguna? Pertama, tentu saja adalah menyadari apa tujuan hidup kita.

Ketidaktahuan terhadap tujuan hidup adalah awal kesia-siaan. Dalam al-Qur’an, Allah menyatakan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia adalah agar mengabdi kepada-Nya semata. Maka, setiap aktifitas yang tidak memiliki nilai ibadah dan pengabdian kepada Allah adalah sia-sia dan tidak relevan.

Kita dapat menderetkan beragam kegiatan mubadzir disini, seperti menonton acara-acara gosip, membaca media cabul, mendengarkan musik perangsang syahwat, atau menghabiskan waktu untuk ngobrol tanpa ada jluntrung-nya.

Bagaimanapun juga, seseorang yang mengerti apa tujuan hidupnya, dia tahu apa yang baik ataupun tidak untuk dilakukannya. Hadits yang kita kutip di awal tulisan ini menegaskan ciri itu. Bahwa, seorang muslim yang baik akan meninggalkan segala sesuatu yang mubadzir, tidak produktif, sia-sia, tidak relevan, juga apa saja yang berbau maksiat. Sebab, ia tahu bahwa ia diciptakan bukan untuk itu.

Dengan kata lain, kesadaran terhadap tujuan hidup sangat menentukan terhadap apa yang harus kita kerjakan selama hidup. Karena kesadaran ini pulalah kita akan terdorong untuk mencari tahu bagaimana cara melakukan hal-hal yang relevan dengan tujuan itu.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shalla-llahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, maka dia akan dibuatnya faqih (paham betul) terhadap urusan agamanya.” Jika logika hadits ini kita balik, maka ia akan berbunyi begini: pemahaman yang baik terhadap urusan agama adalah awal karunia kebaikan bagi seseorang.

Dalam hadits itu, hanya disebut secara umum kata “kebaikan”, yang bisa bermakna kebaikan apa saja, baik di dunia maupun di akhirat. Hadits ini juga menegaskan bahwa – di mata Allah – kebaikan yang bakal diraih seseorang sangat tergantung kepada faktor pengatahuan dan pengamalan agama.

Tanpa kehadiran faktor agama, sebenarnya tidak ada sesuatu pun yang layak disebut sebagai kebaikan; entah itu kesibukan, karir, kekayaan, kecantikan, popularitas, kekuasaan, gelar akademik, rumah megah, kendaraan mewah, dan lain-lain. Tanpa kehadiran agama di samping segala yang sudah disebutkan itu, maka semuanya adalah sia-sia.

Standar dan ukuran sesuatu sia-sia atau berguna, penting atau mubadzir, adalah agama. Dan, seorang muslim yang baik pasti meninggalkan apa yang diketahuinya sebagai kesia-siaan dan kemubadziran.

Bagaimana cara meninggalkannya? Pahamilah agama ini sebaik-baiknya, agar kita mengerti harus “diapakan”, “dikemanakan” dan “dibagaimanakan” semua yang sekarang kita miliki. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

SAR Hidayatullah Terima Piagam Penghargaan sebagai Potensi Basarnas

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga relawan kemanusiaan pencarian dan pertolongan/ Search and Rescue (SAR) Hidayatullah menerima penghargaan sebagai bagian dari potensi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Nasional (Basarnas) yang diserahkan langsung oleh Kepala Basarnas Marsekal Muda (Marsda) TNI Henri Alfiandi di arena Rakernas Basarnas di Ruang Serbaguna Basarnas, Jakarta, Senin, 21 Februari 2022.

Penghargaan tersebut sebagaimaan terlampir dalam surat Basarnas dengan Nomor: B/868/BNP.02.01/II/BSN-2022 tertanggal 21 Februari 2022 tentang Daftar Potensi Pencarian dan Pertolongan Penerima Piagam Penghargaan Tahun 2022.

Selain SAR Hidayatullah, ada 3 potensi penerima piagam penghargaan lainnya yakni SAR Astra Internasional, Sentra Komunikasi (Senkom) Mitra Polri, dan Badan Penanggulangan Bencana (Baguna).

Piagam penghargaan diberikan bertepatan dengan dengan gelaran Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Basarnas Tahun 2022 di Ruang Serbaguna Basarnas, Senin, 20 Rajab 1443 (21/2/2022).

Ketua Umum Pengurus Pusat SAR Hidayatullah, Irwan Harun, menyampaikan rasa syukur Alhamdulillah ke kehadirat Tuhan yang Maha Esa atas penganugerahan piagam dari Basarnas ini.

“Piagam penghargaan untuk SAR Hidayatullah dari Basarnas, sebelumnya akan diserahkan langsung oleh Bapak Presiden, (namun) karena alasan PPKM, penyerahan dilakukan secara terbatas,” kata Irwan dalam keterangannya.

Irwan menambahkan, apresiasi Basarnas ini semakin mendorong SAR Hidayatullah untuk terus meluaskan bakti kerelewanan dalam pencarian dan pertolongan di setiap bencana yang dapat dijangkau.

Selain itu, Irwan menekankan, kolaborasi dan sinergi dengan berbagai pihak akan semakin dikuatkan. Karena, terangnya, dengan kebersamaan dan kepemimpinan kolaboratif dibawah Basarnas akan semakin memantapkan operasi pencarian dan pertolongan/ search and rescue (SAR) dalam musibah bencana.

Sebagaimana diwarta, Rakernas Basarnas Tahun 2022 yang digelar secara terbatas dan hibryd ini mengangkat tema “Cepat Tanggap untuk Indonesia Maju” yang dibuka oleh Presiden Joko Widodo secara virtual dari Istana Negara, Jakarta, Senin (21/02/2022) pagi.

Dalam sambutannya, Presiden menyampaikan bahwa dalam situasi apapun, pelayanan pencarian dan pertolongan (SAR) harus sigap dan cepat untuk menyelamatkan setiap jiwa manusia.

“Di manapun, dalam situasi apapun, setiap jiwa harus diselamatkan dari risiko bencana dan kedaruratan lainnya. Basarnas harus segera hadir secara cepat untuk memberikan pertolongan. Setiap detik sangatlah berarti bagi keselamatan jiwa,” kata Presiden.

Pada kesempatan tersebut, Presiden pun menekankan empat hal terkait perkuatan SAR nasional. Pertama, Basarnas harus memperbanyak inovasi dengan memanfaatkan teknologi.

Kedua, Basarnas harus terus meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM). Ketiga, Basarnas harus memperkuat sinergi dan kolaborasi.

Dan, Keempat, Basarnas harus memperkuat pencegahan, mitigasi, dan antisipasi. Presiden menekankan pentingnya melakukan edukasi serta pelatihan-pelatihan teknis SAR secara masif kepada masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Henri Alfiandi dalam sambutannya mengatakan kepada para pejabat tinggi madya dan pratama Basarnas serta para Kepala UPT Basarnas di seluruh Indonesia bahwa kinerjanya dinilai langsung, maka dari itu, tunjukkan prestasi.

Menurut Kabasarnas, penyelamatan bukanlah prestasi, tetapi itu adalah tugas Basarnas secara profesional. Prestasi hendaknya ditunjukkan diantaranya dengan manajemen yang bagus, penilaiain kinerja yang bagus, dan sebagainya.

Ia mengingatkan bahwa moto yang diangkatnya yakni Quick Response Search And Rescue. Dibalik moto tersebut, jelasnya, terkandung makna bahwa Basarnas selain harus cepat tanggap menangkap respon kondisi darurat, juga cepat tanggap terhadap kondisi yang ada, terutama di lingkungan kerja.

“Integritas sebagai Kepala Kantor SAR diuji, bagaimana memimpin dan mengarahkan anak buah di lingkungan anda memimpin,” ujar orang nomor satu di Basarnas tersebut seperti dinukil laman resmi Basarnas.

Kabasarnas juga menegaskan bahwa pimpinan harus mengetahui dan terjun langsung untuk menangani permasalahan. Kabasarnas berpesan walaupun saat ini terjadi efisiensi anggaran, Basarnas harus tetap meningkatkan kinerja.

Menurut Kabasarnas, Basarnas telah, sedang, dan akan melaksanakan perubahan menuju kinerja yang lebih baik.*/Ain

Gelar Workshop, LPPM STIS Hidayatullah Terus Giatkan Penelitian

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Setelah sukses melaksanakan workshop untuk Dosen STIS Hidayatullah Putri akhir tahun 2021 lalu, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIS Hidayatullah kini menggelar workshop penelitian bagi dosen STIS Hidayatullah putra.

Hadir sebagai pemateri dalam workshop ini adalah Ketua LPPM Herianto Muslim, M.HI dan Wakil Ketua II Muhammad Kuat, S.HI.

Dalam sambutannya pada pembukaan workshop itu, Ketua STIS Hidayatullah Zaim Azhar Hasyim, Lc, MA, menyampaikan terima kasih kepada para dosen yang telah melakukan menunaikan setiap amanah yang diberikan dengan sungguh-sungguh dan maksimal.

“Kita harus menyadari betapa pentingnya amanah yang kita geluti sebagai upaya mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Ini semua tentu yang tidak lepas dari Tri Dharma Pendidikan,” katanya.

“Alhamdulillah untuk pendidikan dan pembelajaran, dan pengabdian masyarakat, kita sudah laksanakan secara maksimal, Alhamdulillah,” terangnya di hadapan seluruh dosen yang mengikuti acara workshop di Aula Meeting Room STIS, Gunung Tembak, Balikpapan, Sabtu, 3 Rajab 1443 H (05/02/2022).

Meski sudah maksimal dalam pendidikan, namun ia mengakui bahwa kinerja para dosen dalam dunia penelitian perlu ditingkatkan lebih baik lagi.

“Untuk penelitian ini, itu juga termasuk amanah kita sebagai dosen dan tenaga pendidik ya. Kegiatan ini juga sebagai bentuk kebersamaan kita ya, bersama-sama untuk kita mengaktualisasikan dalam bentuk jurnal nantinya,” ucapnya sembari memotivasi.

Ia juga menambahkan bahwa dosen putri semenjak beberapa hari, setelah mengikuti workshop penelitian dan pengabdian masyarakat, menguatkan semangat untuk melakukan penelitian dan membuat jurnal.

“Di dosen putri kita sudah laksanakan pada 31 Desember tahun lalu, dan di pekan lalu kita sudah evaluasi. Tentunya ini memotivasi juga untuk kita ya, mengadakan penelitian untuk tulisan jurnal-jurnal yang telah dibuatkan oleh LPPM,” tuturnya memancing semangat para dosen.

Hal ini juga diungkapkan oleh Herianto Muslim. Ia mengatakan bahwa penelitian harus menjadi fokus seluruh dosen, mengingat tahun 2022 merupakan tahun akreditasi khususnya di lingkup institusi STIS Hidayatullah.

Herianto mengatakan, kegiatan penelitian ini adalah program yang serius sehingga dia mengajak semua bersama maksimalkan amanah ini dengan semaksimalnya.

“Mengingat tahun ini adalah tahun akreditasi bagi STIS Hidayatullah, makanya perlu kerja sama dari kita semua untuk mensukseskan ini semua,” tutup Herianto.* (Asrijal/STIS/MCU)