Beranda blog Halaman 381

Delapan Kampus Pesantren Hidayatullah Raih Anugerah Terstandar Assesment

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak 8 kampus Hidayatullah menerima anugerah piagam penghargaan sebagai kampus yang telah terasesmen untuk standarisasi kualitas pesantren dan masjid yang diserahkan dalam acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah yang dibuka pada Kamis, 5 Jumadil Awal 1443 (9/12/2021).

Berita video selengkapnya, tonton klik di sini.

Tutup Rakernas Hidayatullah 2021, UNH Tekadkan 4 Kekuatan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ormas Hidayatullah 2021 resmi ditutup oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr. Nashirul Haq Lc MA di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Sabtu, 7 Jumadil Awal 1443 (11/12/2021). Rakernas tersebut digelar selama 3 hari yang dibuka sejak Kamis.

Dalam arahan pamungkasnya, pria yang akrab disapa UNH itu menekankan pentingnya empat kekuatan bagi para kader dai Hidayatullah.

“Untuk mencapai kebaikan, ketakwaan untuk kemajuan dakwah memang wajib ada yang namanya washilah,” tegasnya mengawali uraian.

Washilah itu, kata dia, berupa kekuatan-kekuatan penting di dalam diri seorang pemimpin.

Pertama, quwwah ruhiyah (kekuatan ruhiyah), ini meliputi kekuatan moral dan spiritual. “Makanya kekuatan ini ditempatkan pada urutan pertama,” ujarnya dalam rilis yang diterima Republika.co.id.

Kedua, quwwah aqliyah (kekuatan akal). Setelah ruhiyah terus dikuatkan berikutnya adalah akal. “Jadi, pastikan setiap kali kita mengeluarkan gagasan, itu tidak ada yang keluar dari bimbingan wahyu,” kata UNH.

Ketiga, quwwah maddiyah (kekuatan material). Kekuatan ini harus dikendalikan oleh jiwa dan pikiran yang suci. “Seperti Ibnu Mubarok, yang memilih jalan menjadi pebisnis namun itu dilakukan untuk menjaga izzah ulama,” tuturnya.

Keempat, quwwah idariyah (kekuatan manajerial). Setelah kekuatan material diperoleh maka selanjutnya perlu dihadirkan kekuatan manajerial, karena berbagai nikmat harta dan fasilitas akan melenakan jika tidak diatur dengan sebaik-baiknya. “Potensi yang ada bisa jadi kekuatan kalau dikonsolidasikan dalam bentuk quwwah idariyah,” urainya.

Terakhir, UNH berpesan kepada segenap kader untuk tidak pernah mengendurkan semangat dan dedikasi dalam dakwah.

“Jika dahulu, saat berada dalam kondisi terbatas kita bisa melahirkan banyak prestasi, maka saat ini kala ada fasilitas dan berbagai nikmat, prestasi kita tidak boleh menurun,” tutupnya.

Narsum Kuliah Peradaban, Sosiolog La Ode Ida: Kiprah Hidayatullah Merekat NKRI

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Cendikiawan yang juga sosiolog dari Universitas Indonesia, Dr. La Ode Ida, menilai kiprah Hidayatullah di jalur yang benar dalam perannya merekat dan mengikat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di pulau pulau dimana ia berada seperti di Papua.

“Orang Papua kalau ditanya pasti mau merdeka. Tetapi ada elemen elemen yang tetap setia di NKRI yang salah satu elemen itu adalah muslim di Papua termasuk Hidayatullah. Hidayatulah menurut saya menjadi pengikat NKRI,” kata La Ode Ida.

Hal itu disampaikan La Ode Ida ketika menjadi narasumber dalam acara Kuliah Peradaban mengangkat topik “Membangun Umat Berpengaruh dalam Pengambilan Kebijakan Negara”, di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, Kamis, 4 Jumadil Awal 1443 (9/12/2021).

Berbicara berkenaan dengan topik, La Ode Ida mengatakan umat terutama komunitas organisasi Islam mestinya dapat memberi pengaruh tdalam pengambilan kebijakan khususnya yang bersinggungan langsung dengan kehidupan.

Menurut La Ode Ida, pengembilan kebijakan (public policy) adalah aturan terlembaga dan atau sikap pejabat publik untuk menciptakan keteraturan sosial untuk memecahkan problem problem nyata duniawi.

Namun, betapapun, kebijakan publik tetap harus melihat individu dan gabungan individu sebagai bagian dari publik.

“Tidak semua kebijakan publik mewakili kepentingan publik, apalagi jika indvidunya banyak. Olehanya itu, syarat pengembilan kebijakan harus mengambarkan semua kepentingan yang ada, jika tidak begitu, maka ia adalah kebijakan segmental,” kata La Ode Ida.

Dia menjelaskan, produk kebijakan publik ada yang ideal, namun ada pula yang tidak ideal. “Yang menentukan itu adalah persepsi dan rasa, itulah public values,” tukas mantan Komisioner Ombudsman Republik Indonesia ini.

Sebagai orang yang pernah bergelut langsung di Lembaga Negara yang mempunyai kewenangan mengawasi Penyelenggaraan Pelayanan Publik, La Ode Ida menilai umat dan komunitas muslim perlu terlibat dalam pengambilan kebijakan publik.

Namun, ia juga melihat adanya problem krusial dalam komunitas Islam sendiri yang sukar bersatu dan duduk bersama menyelesaikan problem berkenaan dengan pengambilan kebijakan yang berhubungan dengan umat.

“Saya kira di Indonesia, lemahnya itu, koordinasi antar elemen umat Islam atau komunitas organisasi itu hanya simbolis. Tetapi di dalamnya sebetulnya pertarungan kepentingan juga. Dalam politik ujungnya adalah kompromi. Siapa yang menang ditentukan siapa yang berpengaruh. Karena kompromi simbolis, akhirnya kompromi substantifnya hilang,” imbuhnya.

Oleh karenana, La Ode Ida berharap Hidayatullah dapat mengambil ruang yang lebih luas lagi dalam ruang percakapan umat sehingga dapat mempengaruhi pengambilan kebijakan. Apalagi, kata dia, Hidayatullah memiliki modal untuk itu.

“Saya kira teman teman dari Hidayatullah tidak eksklusif dan bisa diterima semua pihak. Hidayatullah ada unsur tradisionalnya dan ada unsur lainnya sehingga bisa masuk ke mana mana,” imbuhnya.

Terakhir, La Ode juga menyoroti penguasaan sumber daya alam Indonesia yang menurutnya belum sepenuhnya dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk rakyat.

Dia berharap Hidayatullah tetap terlibat menjaga Indoensia dai penguasaan sumber daya alam Indonesia melalui lahirnya public policy yang pro pada kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Kuliah Peradaban mengangkat topik “Membangun Umat Berpengaruh dalam Pengambilan Kebijakan Negara”, di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta, ini dipandu oleh Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat (Yanmat) Drs. Nursyamsa Hadis.

Dalam pengantarnya, Nursyamsa yang juga kolega La Ode Ida saat menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI periode 2004-2009, mengatakan Hidayatullah ingin berkontribusi dalam peran peran keumatan dan kebangsaan yang lebih banyak lagi.

Hal itu kata dia senafas dengan gerakan Hidayatullah yang memiliki visi membangun peradaban Islam. Dia menjelaskan, peradaban Islam adalah manifestasi Islam dalam segala aspek kehidupan.

“Kita berusaha istiqamah membangun peradaban Islam melalui medium pendidikan dan dakwah sebagai buah kontribusi kita dalam membangun bangsa dan negara. Pancasila sendiri bagi Hidayatullah sudah selesai,” pungkasnya.

Acara rutin bulanan Kuliah Peradaban kali ini digelar yang dirangkaikan dengan agenda Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Hidayatullah tahun ini yang mengusung tema Konsolidasi Idiil, Konsolidasi Organisasi dan Wawasan Menuju Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik. (ybh/hio)

Pemimpin Umum Resmikan Wisma Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad menandatangani prasasti sebagai tanda peresmian Wisma Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Kamis, 5 Jumadil Awal 443 (9/12/2021). Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah, Ust Abdul Ghofar Hadi, mengatakan wisma ini memiliki kapasitas maksimum 300 orang dan dibangun atas sumbangsih serta swadaya jamaah. Lihat video selengkapnya, klik di sini.

Rakernas 2021, Hidayatullah Targetkan Kemajuan Dakwah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ormas Islam Hidayatullah menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2021 di Kantor Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta Timur, Kamis-Sabtu, 9-11 Desember 2021.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq dalam sambutannya mengatakan bahwa Rakernas 2021 ini bertujuan meningkatkan kualitas atau kemajuan gerakan dakwah di Indonesia untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Kita berharap dengan digelarnya Rakernas 2021 ini, kemampuan kader-kader dalam berdakwah lebih terkonsolidasi, terstandarisasi, terintegrasi dan sistemik, sehingga kemajuan gerakan dakwah dapat diwujudkan secara bersama-sama di seluruh Indonesia, untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa,” urainya pada pembukaan Rakernas Hidayatullah, Kamis, 5 Jumadil Awal 1443 (9/12/2021).

Nashirul lebih lanjut menegaskan bahwa beragam kemudahan fasilitas di era kekinian harus dipandang sebagai ujian dalam dakwah, sehingga tidak mengurangi kualitas diri dalam ibadah dan dakwah.

“Saat ini kita berada di masa di mana beragam kemudahan, fasilitas datang dan mengitari kehidupan umat manusia. Menghadapi itu semua, kita harus sadar, bahwa hakikat dari kemudahan, fasilitas dan beragam kenikmatan duniawi hakikatnya adalah ujian,” katanya.

“Dengan begitu kita harus mampu memandang ini semua dengan pandangan Nabi Sulaiman Alayhissalam, bahwa pada nikmat kemudahan, semuanya adalah fadhilah dari Allah Ta’ala yang harus mengantarkan jiwa-jiwa kita semua pada kesyukuran kepada-Nya,” ulasnya.

Dalam rangkaian Rakernas Hidayatullah 2021 juga diberikan penghargaan terhadap Pesantren Hidayatullah di berbagai wilayah yang terkategori sebagai kampus utama, mulai dari standar, penilaian dan penghargaan dalam pengelolaan lembaga pendidikan, termasuk manajemen masjid.

Pada saat yang sama, hari pertama Rakernas Hidayatullah 2021, Kamis (912) juga dirangkai dengan peresmian Wisma Hidayatullah yang berkapasitas 300 orang dan Rumah Dinas Hidayatullah yang berada di kompleks Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Polonia, Jakarta Timur.

Ketua STAI Al Bayan Raih Doktor Sosiologi di Unhas

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Bayan Hidayatullah Makassar Dr Irfan Yahya ST MSi meraih gelar Doktor Ilmu Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin (Unhas).

Gelar yang merupakan derajat tertinggi akademik itu diraih usai mempertahankan disertasi berjudul Konstruksi Sosial Miniatur Peradaban Islam Merujuk pada Pola Sistematika Wahyu Ormas Hidayatullah pada Ujian Promosi Doktoral di Aula Prof Syukur Abdullah Fisip Unhas, Makassar, Rabu, 4 Jumadil Awal 1443 (8/12/2021).

Tim penguji Prof Dr HM Tahir Kasnawi SU (promotor), Dr Suparman Abdullah MSi dan Drs Hasbi MSi PhD (Co Promotor), Dr Firdaus Muhammad MA (penguji eksternal), Dr Rahmat Muhammad MSi, Dr Mansyur Radjab MSi dan Dr Nuvida RAF SSos MA (penilai) mengganjar dengan predikat kelulusan Cumlaud (nilai 91,28) atas ujian disertasi yang mengupas Sistimatika Wahyu yang merupakan manhaj dakwah dan tarbiyah Hidayatullah tersebut.

Dalam uraiannya dalam sidang Promosi Doktor yang dipimpin Rektor Unhas diwakili Wakil Dekan I Fisip Unhas Dr Phil Sukri MSi itu, mantan Staf Ahli Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dari senator Sulsel tiga periode Dr Abd Aziz Qahhar Mudzakkar tersebut memastikan nilai-nilai agama dapat dijadikan filter dalam mengkonstruksi sebuah peradaban yang eksis dalam masyarakat.

“Dengan bukti-bukti dari pola interaksi dan prilaku jamaah Hidayatullah sebagai sistem sosial, Sistematika Wahyu yang merupakan manhaj gerakan telah menjadi metode dalam melakukan konstruksi sosial miniatur peradaban Islam dengan proses dialektik fundamental dari tiga momentum yaitu internalisasi, obyektivasi dan eksternalisasi,” urainya.

Dari ketiga proses dialektik fundamental tersebut, rincinya peran aktor dan lingkungan merupakan faktor penentu dominan.

“Sekaligus ini juga yang menjadikan Hidayatullah berbeda dengan ormas lain, menjadikan wahyu sebagai rujukan metode tapi secara parsial, sementara Hidayatullah menjadikan wahyu sebagai rujukan secara utuh, khususnya lima surah pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi washalla,” tegasnya.

Turut hadir secara langsung pada kesempatan tersebut Ketua Dewan Murabi Wilayah Hidayatullah Sulsel Ust Ir Abd Majid MA, Ketua Komisi A DPRD Sulsel Ir Selle Ks Dalle, Ketua Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar Ust Suwito Fatta MM dan jajaran, Dekan FTI UMI Dr Ir Zakir Sabara HW MT dan komunitas UPPM UMI.

Tampak pula politisi senior Sulsel Ir H Majid Tahir dan pengusaha Palua H. Ismail, Wakil Ketua Komisi Infokom MUI Sulsel H Firmansyah Lafiri ST. Serta didampingi pihak keluarga arsitek Ir Muaz Yahya, istri Dewi Yuliana dan putra-putri. Juga disaksikan secara virtual melalui Zoom.

Pada pemaparan ringkasan dari disertasi setebal 400an halaman itu, sosok pehobi Ikan Koi itu menguraikan hal yang menjadi alasan kenapa Hidayatullah terus berkembang dan meraih kepercayaan ummat dalam berbagai program dakwah dan tarbiyahnya hingga sekarang berusia 50 tahun.

Hal inilah membuat Prof Tahir Kasnawi dalam sambutan penutup sidang tersebut mengatakan nilai-nilai Islam perlu terus di ketengahkan di masyarakat, sebagaimana Hidayatullah telah menerapkan pada 600an pesantrennya sebagai miniatur peradaban Islam. (Rilis Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar)

Cerita Bus Massiara Terobos Banjir Menuju Rakernas

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) — Tidak selalu perjalanan ke suatu tujuan berjalan lancar. Kadangkala ada rintangan yang menghadang yang harus dilewati. Tidak saja soal transportasi, kos, dan lain sebagainya, juga hal tak terduga yang terjadi selama dalam perjalanan.

Namun, betapapun itu, perjalanan untuk urusan yang satu ini selalu menyenangkan. Setidaknya, itulah yang dirasakan Massiara. Ia adalah salah satu peserta inti helatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang digelar di Jakarta.

“Sudah lama kita nantikan ini, bertemu dengan sahabat sahabat dari berbagai daerah,” kata Massiara dalam obrolan dengan media ini, Rabu, 4 Jumadil Awal 1443 (8/12/2021).

Massiara bersama koleganya rombongan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Barat (Sulbar) telah bertolak dari Mamuju sejak kemarin.

Dari Bumi Manakarra itu, Massiara yang juga sekretaris DPW Hidayatullah Sulbar ini harus menempuh perjalanan darat selama 11 jam menuju Makassar.

Kendati terbilang singkat, perjalanan rupanya tidak selalu mulus, sebab bus yang ditumpangi harus berjibaku dengan medan jalan tak ringan karena rusak yang acapkali mengocok perut penumpang.

“Juga melalui beberapa titik macet sehingga harus mengikuti antrian lewat. Kerusakan badan jalan ini adalah bekas longsoran pasca gempa lalu,” kata Massiara.

Seperti diketahui, gempa bumi hebat memang melanda Sulawesi Barat berkekuatan 6,2 Mw yang melanda pesisir barat Pulau Sulawesi pada tanggal 15 Januari 2021.

Gempa yang berpusat di 7 km timur laut Majene, Sulawesi Barat, ini mengguncang hingga kedalaman 10 km yang mengakibatkan kerusakan parah termasuk infrastruktur jalan dan bangunan.

“Bekas longsoran umumnya masih di wilayah Mamuju, bahkan di Kecamatan Tapalang yang kita lewati diberlakukan buka tutup jalur yang hanya tiga kali sehari,” kata Massiara.

Tidak selesai di Mamuju. Rombongan juga melewati jalur yang cukup menantang di Kabupaten Pangkep. Diketahui, jalur trans Sulawesi di jalan Kemakmuran Poros Pangkep- Makassar terendam air setinggi paha orang dewasa baru baru ini.

Kendaraan yang melalui jalan tersebut berhenti total dan menciptakan kemacetan panjang, mulai dari Bungoro di jalan Kemakmuran hingga jalan Sultan Hasanuddin.

Jalan trans Sulawesi di jalur poros Pangkep yang menghubungkan beberapa kabupaten dan kota di Sulsel bagian utara serta kota provinsi di Sulbar, Sulteng dan Sulut mengalami kemacetan panjang hingga lima kilometer.

“Ketika kita lewat, banjir juga masih lumayan tinggi, tapi hari ini sepertinya sudah berangsur surut,” kata Massiara yang beberapa saat lalu baru tiba di Makassar.

“Insya Allah nanti malam jam 8 malam terbang ke Jakarta,” lanjutnya seraya menambahkan ia membawa beberapa barang titipan sejawatnya untuk sanak kerabatnya yang ada di Jakarta.

“Saya juga bawa oleh-oleh ini untuk kita, tunggu ya,” katanya.

Sudah menjadi kebiasaan di Hidayatullah, jika ada helatan nasional seperti Rakernas, peserta yang ikut pun mendadak jadi pusat “penitipan kilat” yang dititipi berbagai jenis oleh oleh. Selain praktis, mudah dan aman, yang paling utama: gratis!

Alhamdulillah, ini pertemuan yang selalu kita nanti nantikan, senang sekali tentunya bisa berjumpa dengan kawan-kawan dari daerah lain,” kata Massiara.

Kendatipun harus menempuh perjalanan yang tidak mudah, namun bagi Massiara, hal itu adalah biasa. Malahan, menurutnya, bisa jadi daerah lain menghadapi tantangan medan lebih dari itu.

“Ya, kita nikmati saja. Apalagi kan sudah sering menghadapi kondisi seperti ini, jadi, ya, biasa biasa saja,” katanya tertawa.

Massiara mendoakan Rakernas Hidayatullah yang kali ini mengangkat tema “Konsolidasi Idiil Organisasi dan Wawasan Menuju Standarisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik” berjalan aman, lancar, sukses, dan menurunkan keberlimpahan berkah dari Allah SWT.

“Semoga Allah juga selalu sehatkan kita semua dalam mengemban amanah dakwah untuk mengabdi kepada umat, bangsa, dan negara tercinta ini,” pungkasnya. (ybh/hio)

Pembukaan Rakernas Besok sekaligus Peresmian Wisma

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Wisma Hdayatullah yang berlokasi di komplek Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jln Cipinang Cempedak, Otista, Jakarta, telah selesai pembangunannya. Wisma ini menjadi penginapan bagi ratusan peserta Rapat Kerja Nasional (Rakrnas) Hidayatullah kali ini yang akan dibuka pada Kamis, 4 Jumadil Awal 1443 (9/12/2021).

“Wisma akan diresmikan bersamaan dengan hari pembukaan Rakernas, Insya Allah,” kata Wakil Sekretaris Jenderal II DPP Hidayatullah, Iwan Ruswanda, dalam obrolan dengan media ini beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan, perampungan proyek pembangunan sudah 100 persen yang melibatkan banyak pekerja, termasuk didatangkan dari kampus Hidayatullah lainnya di Depok dan Jakarta.

Dari pantuan media ini, sebagian ruangan penginapan wisma yang berlantai 3 ini sudah terisi peserta Rakernas unsur Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.

“Puncak kedatangan peserta tanggal 8 hari Rabu hingga malamnya,” tukas Iwan.

Rakernas akan dihadiri oleh seluruh pengurus harian DPP Hidayatullah, unsur inti DPW Hidayatullah se Indonesia, unsur inti pengurus harian Kampus Induk dan Kampus Utama, pengurus inti organisasi pendukung Muslimat Hidayatullah dan Pemuda Hidayatullah, serta dihadiri amal dan badan usaha Hidayatullah tingkat pusat.

Adapun tema Rakernas 2021 ini adalah Konsolidasi Idiil Organisasi dan Wawasan Menuju Standarisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik.

Sapuan Semeru Duka Semua

0

MANUSIA terkadang lupa bahwa ia hidup di alam yang seutuhnya ada di dalam genggaman Allah Ta’ala. Hidup sombong, suka menghina dan memandang remeh kemaksiatan, yang pada akhirnya kala ada bencana seperti sapuan Semeru kita baru sadar bahwa kita lemah dan karena itu kini duka melanda semua.

Bagaimana tidak berduka, musibah itu telah mengubah segalanya. Kehidupan yang tadinya baik, normal dan menjanjikan masa depan, tiba-tiba berubah seakan-akan tak pernah ada.

Dikabarkan bahwa sapuan Semeru di Lumajang itu telah merusak 2.970 rumah dan puluhan fasilitas umum yang terdiri dari jembatan, sekolah, sarana pnedidikan dan tempat ibadah.

Laporan dari lokasi menyebutkan bahwa 5.205 orang juga terdampak sapuan Semeru. Sebanyak 1.300 orang kini mengungsi dengan jumlah pengungsi terbesar berada di Kecamatan Pasirian.

Sapuan Semeru yang datangkan awan panas dan guguran itu telah jadi sebab meninggalnya 14 orang. Sementara itu 56 orang dikabarkan mengalami luka.

Gunung di dalam Alquran

“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka…” (QS. Al-Anbiya [21]: 31).

Ibn Katsir menerangkan bahwa Allah jadikan gunung agar bumi ini tenang dan manusia dapat hidup dengan aman dan tenang. Dengan begitu manusia dapat memerhatikan tanda-tanda kebesearan Allah, dimana gunung yang tampak di atas permukaan tanah menjulang seakan-akan sampai ke langit.

“Agar penghuninya (manusia) dapat menyaksikan langint serta tanda-tanda yang melimpah, hikmah-hikmah dan petunjuk yang terkandung di dalamnya,” tegas Ibn Katsir.

Berhenti Merusak

Musibah berupa letusan Gunung Semeru harus menjadi peringatan bahwa manusia sebagai makhluk yang dianugerahi kehidupan dan diperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah Ta’ala harus berhenti melakukan kerusakan demi kerusakan.

Sebuah musibah terjadi tidaklah bisa dilepaskan dari perilaku manusia itu sendiri yang cenderung menyimpang dan menjauh dari nilai-nilai kebaikan yang digariskan oleh Tuhan. Seperti jangan berbuat kerusakan, jangan serakah, dan jangan mementingkan diri sendiri adalah bagian dari syariat yang Tuhan tetapkan untuk manusia.

Ketika manusia zalim, maka sudah pasti ada akibat akan datang, cepat atau lambat. Dan, kini sudah tiba waktunya kita berdoa kepada Allah, memohon setulus hati, kiranya kita semua ditolong dan diselamatkan.

Doa ini bukan perkara ringan. Tidak akan berdoa kepada Allah orang-orang yang di dalam hatinya ada kesombongan.

“Berdoalah kepada-Ku, pasti akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mu’min [40]: 60).

Jadi, mari berdoa. Karena doa itu tanda diri kita hamba-Nya. Dan, doa itu pun bagian dari ibadah. “Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi).

Akan semakin lengkap jika kita bersegera saling menguatkan, membantu dan meringankan saudara kita yang tertimpa musibah ini. Semoga Allah pelihara kita semua, dunia dan akhirat.*

Imam Nawawi, penulis adalah Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah

Korban Banjir di Makassar Dievakuasi Pakai Rakit

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) – Sejumlah santri dari Pondok Pesantren Al Bayan Hidayatullah Makassar mengevakuasi korban banjir di wilayah Moncongloe, dekat dari daerah Bumi Tamalanrea Permai (BTP), Kota Makassar, dengan menggunakan rakit, Selasa siang, 3 Jumadil Awal 1443 (7/12/2021).

Menurut Ustaz Abdul Qadir Mahmud, salah seorang pengurus Hidayatullah Makassar yang turun bersama santri, ada sejumlah warga dari salah satu perumahan yang terpaksa dievakuasi karena volume air semakin meningkat.

“Terpaksa kita masuk evakuasi. Air sudah setinggi perut, dan cukup banyak permintaan evakuasi ini,” ujarnya.

Ustaz Qadir menyebutkan, rakit yang dirancang khusus pihak santri Pondok Pesantren Hidayatullah tersebut menggunakan beberapa batang pipa paralon yang diikat dengan beberapa batang bambu.

Tampak seorang ibu bersama anaknya dibawa menggunakan rakit ala anak santri itu. “Ini kita mau masuk lagi melakukan evakuasi,” tutur Ustaz Qadir.

Lokasi yang dituju Ustaz Qadir, yakni di Kelurahan Paccerakkang, Kecamatan Biringkanaya. Daerah itu merupakan salah satu titik langganan banjir di Kota Makassar, dan termasuk yang cukup parah.

Selain di sana, Kecamatan Manggala juga tergolong wilayah yang terdampak paling parah. Dikabarkan, sejumlah kepala keluarga yang menjadi korban banjir sudah mengungsi di masjid.

Hingga sore ini, meski hujan sudah berhenti mengguyur, namun awan hitam tebal masih tampak menggelayut, pertanda hujan diprakirakan masih akan turun. (viva)