Beranda blog Halaman 384

Kecelakaan Terbesar

0

SETIAP manusia yang hidup di dunia ini pasti menginginkan kehidupan yang bahagia. Dia akan berusaha sedaya upayanya untuk mencapai kebahagiaan itu.

Dalam usaha dan pencariannya untuk menuju kebahagiaan yang diimpikan itu, dia akan mengarunginya dengan mengejar berbagai kesenangan dan menghindari kecelakaan.

Ia mendapatkan kesenangan dengan bertambahnya kenikmatan hidup yang ia jalani. Kesenangan itu baik berupa materi fisik yang dapat terlihat secara kasat mata seperti kesehatan jasmani, simpanan uang, asset, keuntungan binis, dan sebagainya.

Juga berusaha mendulang kebahagiaan batin yang mampu membawa kesenangan hatinya seperti berekreasi bersama keluarga. Dan, yang lebih tinggi lagi, adalah rekreasi spiritual melalui rangkaian ibadah yang melahirkan ketenteraman yang mendalam dalam jiwanya, ala bidzikrillahi tathmainnul qulub.

Kemudian, agar kesenangan yang didapatkan bisa bertahan maka manusia secara naluriah juga akan berusaha maksimal untuk menghindari kecelakaan. Kecelakaan berasal dari akar kata “celaka” yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai (selalu) mendapat kesulitan, kemalangan, kesusahan, dan sebagainya; malang; sial.

Kecelakaan dalam bentuk materi membuat manusia merasa akan terkurangi kesenangannya. Seperti contoh, jika ia mengalami kecelakaan kerja, kecelakaan lalu lintas, kebakaran rumah dan sebagainya, maka dia akan mendapatkan resiko luka, lumpuh bahkan kematian.

Kecelakaan yang dialaminya tersebut akan berpengaruh terhadap ketidakmampuan dirinya untuk merasakan kesenangan maksimal yang selama ini sudah dia rasakan.

Di samping itu, resiko kehilangan kesenangannya dari kecelakaan ini juga akan menghantuinya berupa kerusakan dan kehilangan harta yang sudah dikumpulkan dengan susah payah.

Terlihat sangat menyeramkan. Tetapi, ternyata masih ada kecelakaan di atas kecelakaan fisik yang sudah diuraikan di atas. Ia adalah kecelakaan batiniyah yang terkadang tidak dapat terlihat oleh mata.

Kecelakaan batin ini tidak terdengar oleh telinga, tidak terfikirkan oleh otak, tapi hanya akan disadari oleh mata hati yang jernih.

Kata “kecelakaan” di dalam Al Qur’an disebutkan dengan lafadz “وَيْلٌ” (wailun). kata wailun sendiri di dalam Al Qur’an disebutkan sebanyak 40 kali dengan berbagai macam bentuk turunan.

Di antaranya, terdapat beberapa golongan yang disebutkan orang-orang yang celaka seperti orang Yahudi (2:79), orang kafir (19:37), orang yang berhati keras (39:22), orang Musyrik (41:6-7), pembohong (45:7), pendusta agama (52:11), orang yang mendustai kebenaran (Al Mursalat-77:15, 19,24,28,34,37,40,45,47,49), orang yang mengurangi timbangan (Al Muthaffifin-83:1), pengumpat dan pencela (Al Humazah-104 : 1) yang kesemuanya berbicara tentang kecelakaan yang disebabkan oleh persoalan bersifat batiniyah.

Dan tentu, yang paling familiar adalah kata wailun yang berada di ayat keempat dalam surah Al Ma’un (107:4) :

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ

“Maka celakalah orang yang shalat”

Menarik dari ayat ini adalah, jika ayat-ayat sebelumnya kata wailun (celaka) selalu disandingkan dengan sifat, sikap dan perbuatan keburukan, maka pada ayat ini kata wailun disandingkan dengan satu perbuatan/ kegiatan yang sangat mulia yaitu orang-orang yang mengerjakan shalat.

Dalam memaknai ayat ini, tentu tidak bisa dikaji secara terpisah dan terlepas dari kelanjutan ayatnya yaitu ayat 5-7 maupun ayat-ayat sebelumnya (1-3).

Di dalam Tafsir Ibnu Katsir diterangkan bahwa Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah orang-orang munafik yang mengerjakan shalatnya terang-terangan, sedangkan dalam kesendiriannya mereka tidak shalat. Yaitu orang yang sudah berkewajiban mengerjakan shalat dan menetapinya, kemudian mereka melalaikannya.

Masih dalam Tafsir Ibnu Katsir, Ata Ibnu Dinar mengatakan bahwa adakalanya pula karena tidak menunaikannya di awal waktunya secara terus-menerus atau sebagian besar kebiasaannya. Dan adakalnya karena saat mengerjakannya tidak khusyuk dan tidak merenungkan maknanya.

Maka, pengertian ayat mencakup itu semua. Tetapi orang yang menyandang sesuatu dari sifat-sifat tersebut berarti mendapat bagian dari apa yang diancamkan oleh ayat ini. Dan, barangsiapa yang menyandang semua sifat tersebut, berarti telah sempurnalah baginya bagiannya dan jadilah dia seorang munafik dalam amal perbuatannya.

Di dalam Kitab Shahihain telah disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “itu adalah shalatnya orang munafik, itu adalah shalatnya orang munafik, itu adalah shalatnya orang munafik. Dia duduk menunggu matahari: dan manakala matahari telah berada di antara kedua tanduk setan, maka bangkitlah ia (untuk shalat) dan mematuk (shalat dengan cepat) sebanyak empat kali, tanpa menyebut Allah di dalamnya melainkan hanya sedikit.

Kondisi shalat yang seperti ini tidak lain dikarenakan adanya pergeseran orientasi (niat) dari yang mengerjakannya. Jika bagi orang yang beriman dengan tulus melaksanakan perintah ini karena patuh dan cintanya kepada Allah SWT, tetapi bagi mereka yang melalaikan shalat ini tidak lain karena riya’ semata (107:6).

Dalam ayat yang lain diterangkan bahwa “Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, dan Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.

Sebagai mukmin sejati, maka kita berusaha dan berharap agar terhindar dari sifat-sifat tersebut yang membawa kita kepada kecelakaan yang hakiki, buruk akibatnya di akhirat bahkan di dunia juga.

Mereka yang shalat tapi melakukannya dalam keadaan lalali sebagaimana yang diuraikan sebelumnya tidak akan mendapatkan apa-apa karena pekerjaan itu hanya tampak pada fisiknya sedangkan makan shalat itu sendiri tidak mampu terinternalisasi dalam dirinya.

Tidak mampu membawa perubahan dalam dirinya apalagi harapan untuk membawa kebaikan kepada orang lain. Karena sesuangguhnya, orang yang benar shalatnya akan mengkristal nilai dan makna shalat dalam pesona kepribadiannya dan membawa kebaikan bagi alam sekitarnya.

“…Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (Ketahuilah) mengingat Allah itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain)…”. (Al-Ankabut-29:45). Wallahu’alam

*)Mazlis B. Mustafa, penulis adalah Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah

Gerakan Dakwah Hidayatullah di Pulau Terluar Indonesia

0

NATUNA (Hidayatullah.or.id) — Simpul sinergi lintas institusi amal dan badan usaha Hidayatullah Kepulauan Riau (Kepri) kembali bergerak melakukan pendampingan ke Dewan Pengurus Daerah (DPD) yang dilakukan pada Selasa, 18 Rabiul Akhir 1443 (23/11 2021).

Agenda tersebut diikuti ketua DPW Hidayatullah Kepri Ust Darmansyah dan kepala perwakilan BMH Kepri Abdul Aziz, yang mengunjungi DPD di pulau terluar Indonesia, Kabupaten Natuna.

Menurut ustadz Darmansyah, pendampingan sekaligus safari dakwah ke Kabupaten Natuna bagian dari penguatan jaringan organisasi dan juga pengembangan jaringan program kerja BMH Kepri.

“Dari segi jarak untuk menjangkau kabupaten Natuna memerlukan pengorbanan tersendiri, sebab secara geografis sudah berbatasan langsung dengan beberapa negara seperti Vietnam dan berhadapan dengan laut Cina Selatan,” kata ustadz muda yang selalu gembira ini.

Menurut Darmansyah, kehadiran Hidayatullah di Natuna untuk memperkuat jaringan dakwah dan membina umat dengan merangkul elemen umat lainnya dalam upaya fastabiqul khairat.

“Kita bukan mencari perbedaan tapi memperkuat persaudaraan, sebagaimana jati diri Hidayatullah yairu jamaatun minal muslimin,” katanya seraya menambahkan dukungan BMH akan menambah semangat akan eksisnya tarbiyah dan dakwah di pulau terluar Indonesia ini.

Para dai muda Hidayatullah yang mayoritas masih berstatus lajang menyambut kehadiran ketua DPW dan kepala perwakilan BMH dengan penuh haru bahagia.

Mereka seperti layaknya seorang santri yang sekian lama tak dikunjungi oleh orang tuanya. Kehadiran yang memicu semangat dan rasa percaya diri untuk terus bergerak mengeksiskan dakwah Hidayatullah di kabupaten yang terkenal sebagai penghasil minyak dan gas.

“Setelah lebih dari 6 tahun penantian kini harapan itu terwujud, sebetulnya kami tidak menuntut atau meminta yang macam-macam, satu saja permintaan kami tolong kami dikunjungi, berikan kami nasihat, kami masih labil dalam perjuangan ini. Kami butuh orangtua yang bisa menguatkan kami disaat kami futur,” ujar Rizal Dunan Simbolon, dai muda Hidayatullah di Natuna, dengan mata yang berkaca-kaca menahan haru.

Dai lainnya, Ust Tah Huwandilah, merupakan putra daerah asal desa Batubi Jaya, Natuna. Ketika ditugaskan oleh Hidayatullah untuk kembali ke kampung halamannya untuk membina umat, tekad dan semangatnya tidak pernah padam.

Di tengah kondisi yang sangat sulit Huwandilah pantang menyerah, layaknya batu karang pantai Natuna yang tetap kukuh meski diterjang ombak dari segala arah.

DPD Hidayatullah Natuna, telah menghadirkan sebuah rumah Quran yang menjadi tumpuan penduduk desa dalam mendidik anak-anak mereka belajar mengaji dan pendidikan agama lainnya.

Walaupun baru berjalan sekitar 4 bulan namun santrinya sudah mencapai puluhan. Sebuah indikator bahwa gerakan tarbiyah dan dakwah telah menyentuh hingga pulau terluar dan sangat dirindukan karena merupakan kebutuhan masyarakat yang paling esensil.

“Sejak saya lulus kuliah dan diberikan amanah oleh lembaga untuk kembali ke kampung halaman, satu yang membuat saya selalu khawatir yaitu jika sampai gagal dalam tugas ini,” tutur Ust Tan Huwandilah lirih.

Berbagai upaya untuk mendekatkan umat pada agamanya terus dilakukan sekuat tenaga bersama pengurus lain, walaupun dengan segala keterbatasan. Satu hal yang menjadi modal yaitu keyakinan bahwa dakwah ini suatu saat nanti akan berhasil.

“Mudah-mudahan agenda malam ini, merupakan tanda-tanda keberhasilan, sekian lama kami menantikan kehadiran DPW ke Natuna baru kali ini Allah SWT berkehendak,” tutur Tah Huwandilah dalam sambutannya yang penuh semangat.

DPW, BMH dan DPD kabupaten Natuna bertekad mewujudkan berdirinya sebuah kampus yang menjadi simbol gerakan tarbiyah dan dakwah di Kabupaten Natuna.

“Melalui sinergi program bersama insya Allah akan hadir program Sekolah Tapas Batas Hidayatullah kabupaten Natuna,” terang Abdul Aziz, optimis.*/Mujahid M. Salbu

Ketua DPD RI Apresiasi Kemandirian Pangan Ponpes Hidayatullah Sultra

KONAWE SELATAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) AA La Nyalla Mahmud Mattalitti mengapresiasi kemandirian pangan di Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah yang terletak di Konda, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Dalam menciptakan kemandirian pangan, Ponpes Hidayatullah berkolaborasi dengan Lembaga Zakat BMH Sulawesi Tenggara.

“Kemandirian yang dipraktikkan di Ponpes Hidayatullah tentu menjadi kekuatan pesantren di tingkat nasional. Saya mendukung dan mengapresiasi hal tersebut,” kata La Nyalla di sela-sela kunjungan kerjanya ke Sulawesi Tenggara, Sabtu, 15 Rabiul Akhir 1443 (20/11/2021).

Senator asal Jawa timur itu menilai, kemandirian pangan yang ditunjukkan Ponpes Hidayatullah ke depan dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi.

Dikatakannya, umumnya pesantren mengandalkan kemurahan hati para donatur. Namun, dengan pengelolaan yang baik, dana yang dititipkan donatur dapat dikembangkan menjadi kekuatan pangan dan kekuatan ekonomi pesantren.

“Model kemandirian ini perlu dikembangkan dan digaungkan agar menjadi kekuatan pesantren nasional. Lebih baik lagi jika gagasan seperti ini dikelola oleh Kementerian Agama di bawah Direktorat Pondok Pesantren agar kemandirian pangan menjadi kekuatan pesantren kita,” saran La Nyalla.

Ia berharap pemerintah memberikan stimulus untuk program kemandirian pesantren. Menurut dia, para santri yang tengah menjalani pendidikan di pesantren tentu memiliki potensi yang cukup besar untuk dapat digerakkan memajukan perekonomian di lingkungan mereka.

“Tak hanya di tingkat pesantren, kemandirian ekonomi yang nantinya terbangun di pesantren juga akan berdampak langsung bagi penguatan perekonomian di desa,” tegas La Nyalla.

Program ini juga secara tidak langsung melatih dan mengembangkan potensi yang dimiliki para santri.

Harapannya, ketika selesai menjalani pendidikan di pesantren, para santri tak hanya mahir dalam bidang agama, tetapi juga meresonansi pembangunan perekonomian di daerah asalnya.

“Sehingga, santri menjadi pribadi yang siap terjun ke lapangan mengaplikasikan disiplin ilmu yang dimilikinya selama menimba ilmu di pesantren. Santri tak hanya mahir di bidang agama, tetapi juga memiliki keahlian lainnya,” tutur La Nyalla. (*)

“Anak, Narkoba, dan Gawai” Ngeteh Bersama Ketua SAI Musliadi Raja

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pada program Ngobrol Edukatif tentang Hidayatullah (Ngeteh) kali ini membahas mengenai peran gadget membentuk prilaku dan mental seorang anak dalam kehidupanya yang dapat menjadi racun dan berbagai hal menarik lainnnya.

Perbincangan bersama Ketua Sahabat Anak Indonesia (SAI) yang juga Ketua Departemen Sosial Dewan Penngurus Pusat Hidayaullah, Musliadi Raja, ini juga menjelaskan kaitan antara kerja kerja sosial yang berdimensi spirtual. Apa itu? Simak selengkapnya. Klik di sini untuk menyaksikan.

Hanya karena Kebaikan Allah Semata

0

BILA dengan uang seribu rupiah Anda mendatangi showroom Mercedes Benz untuk membelinya, mungkinkah? Jika kemudian hanya dengan uang itu Anda bisa membawa pulang mobil mewah secara tunai, tanpa hutang atau kredit, apa sebenarnya yang terjadi?

Meski ada beberapa alternatif jawaban, tapi bila kita kesampingkan seluruh kemungkinan perbuatan kriminal, penipuan, dan ketidakwarasan, maka tersisa satu pilihan saja: “hanya karena kebaikan pemiliknya”.

Begitulah keadaan kita yang sebenarnya ketika berhadapan dengan Allah dan mengharap surga-Nya. Kita menghadap Allah dengan membawa amal yang cacat di sana-sini, namun memanggul segunung harapan akan pembalasan yang maha sempurna.

Mari meneliti shalat-shalat kita, kapankah yang khusyu’? Seberapa banyak kita sungguh-sungguh beristighfar memohon ampunan atas aneka kesalahan dan kelalaian? Setingkat apa kita bertahmid memuji keagungan Allah dan mensyukuri karunia-Nya? Seserius apa kita bertahlil mengesakan Allah dan membersihkan-Nya dari segala sekutu?

Sebenarnyalah, bahkan amal kita yang paling serius sekali pun, tidaklah sepadan dengan surga-Nya. Mengapa demikian? Sebab, untuk bisa beramal kita bergantung kepada sekian banyak karunia Allah yang lain.

Untuk mengucap hamdalah kita membutuhkan lisan, dan lisan adalah karunia-Nya. Untuk mengerjakan shalat kita harus bersuci dengan air, sedangkan air adalah karunia-Nya. Untuk menunaikan Zakat Maal kita tidak perlu menciptakan sendiri sapi, kambing atau unta; tapi sekedar menyalurkannya kepada hamba-hamba Allah yang lain.

Jika saja lisan kita dicabut, atau air dimusnahkan, atau hewan-hewan ternak dilenyapkan, atau semua karunia-Nya ditiadakan, dengan apa kita mematuhi-Nya?

Sungguh, bila ibadah-ibadah kita hanya bisa terlaksana berkat karunia-Nya juga, bukankah sangat mengagumkan jika Allah masih membalasnya dengan berlipat ganda?

Jika untuk mensyukuri salah satu kenikmatan dari Allah kita memerlukan kenikmatan lain yang juga Dia anugerahkan, bukankah sangat menakjubkan jika kita masih diberi ganjaran berlimpah? Bahkan, bukankah seluruh diri kita adalah pemberian-Nya?

Oleh karenanya, sangat tepat jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berusahalah untuk tepat dan mendekati (amal terbaik), dan bergembiralah! Sungguh, tidak seorang pun yang dibuat masuk surga oleh amalnya.” Para Sahabat bertanya, “Tidak juga Anda, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak juga saya, kecuali jika Allah melimpahi saya dengan rahmat-Nya. Beramallah kalian, karena sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinyu, meskipun hanya sedikit.” (Riwayat Muslim, dari ‘Aisyah).

Pada permulaan kitab ar-Risalah, Imam Syafi’i (w. 204 H) berkata, “Segala puji bagi Allah, (Dzat) yang tidak bisa ditunaikan kesyukuran atas salah satu nikmat-Nya melainkan dengan menggunakan nikmat-Nya yang lain, yang kemudian mengharuskan orang yang berbuat demikian itu untuk bersyukur lagi.”

Sariy as-Saqathi (w. 251 H) juga berkata, “Bersyukur itu nikmat (dari Allah), dan mensyukuri nikmat itu juga merupakan nikmat, demikianlah seterusnya syukur itu tidak akan pernah sampai ke dasarnya.” (Mukhtashar Syu’abul Iman, hal. 66)

Seorang penyair hikmah, Mahmud al-Warraq (w. 225 H) pernah menyenandungkan syair: “Jika syukurku atas satu nikmat Allah juga merupakan satu nikmat, maka dalam hal seperti ini seharusnya aku bersyukur pula. Mana mungkin syukur bisa dilakukan, kecuali dengan (menggunakan) karunia-Nya pula, meskipun masa dipanjangkan dan usia sambung-menyambung? Jika (seseorang) ditimpa dengan kegembiraan maka kegembiraannya meliputi segalanya; namun jika dia ditimpa kemalangan maka hal itu diiringi dengan pahala. Pada kedua keadaan itu, selalu ada karunia dari-Nya, sehingga seluruh angkasa, daratan, maupun lautan tidak akan mampu menampungnya.” (Mukhtashar Syu’abul Iman, hal. 67)

Bila direnungkan, sepertinya seluruh ibadah di sepanjang usia kita tidak akan sepadan ditukar dengan salah satu karunia-Nya, terlebih-lebih lagi bila masih ditambah dengan kenikmatan surga. Betapa mahalnya karunia pendengaran, penglihatan, dan akal sehat! Betapa berharganya nikmat kehidupan yang Dia anugerahkan! Betapa agungnya nilai iman yang Dia berikan!

Sekarang, kita baru mengerti mengapa Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34)

Terkait ayat ini, Ibnul Anbari mengatakan, “(Allah telah memberi kalian) segala sesuatu yang kalian minta maupun tidak. Sebab kalian tidak pernah meminta matahari, bulan, dan sebagian besar nikmat lainnya yang sudah Dia berikan kepada kalian sejak semula.” (Tafsir Zadul Masir, II/514)

Benar. Betapa untuk memastikan kita bisa hidup nyaman di dunia ini, Allah telah menyiapkan segala sesuatu tanpa kita memintanya, bahkan banyak diantaranya yang tidak kita sadari.

Perhatian Allah kepada manusia sungguh amat-sangat luar biasa, sehingga bila manusia beribadah tanpa dibalas surga pun sebetulnya Allah tidak zhalim. Bahkan, seluruh keseriusan ibadah mereka tidak akan setara dengan sebagian kecil dari karunia dan perhatian-Nya.

Hanya saja, semata-mata karena kebaikan-Nya pulalah Allah memerintahkan kita beribadah lalu Dia membalasnya dengan surga. Padahal, sebelum perintah-Nya datang segala karunia-Nya telah mengalir tak terhitung.

Kita berutang teramat banyak kepada Allah. Tapi, lagi-lagi karena kebaikan-Nya maka kita tidak ditagih dengan harga yang sepadan.

Allah tahu, kita tidak akan sanggup membayar-Nya. Jadi, jangan merasa surga itu diberikan karena amal kita, tapi semata-mata karena kebaikan-Nya. Wallahu a’lam.

Ust Alimin Mukhtar

Walikota Buka Diklat SAR Hidayatullah Kalimantan Utara

TARAKAN (Hidayatullah.or.id) — Walikota Tarakan, dr. H. Khairul, M.Kes., membuka kegiatan pendidikan dan pelatihan (Diklat) Search and Rescue (SAR) Hidayatullah yang dilaksanakan di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Karungan, Mamburungan Timur, pada Rabu, 12 Rabiul Akhir 1443 (17/11/2021).

Kegiatan diklat SAR ini diselenggarakan oleh SAR Hidayatullah Kalimantan Utara dengan tujuan untuk membentuk personil SAR Hidayatullah Kalimantan Utara yang profesional, berdedikasi tinggi, dan berkomitmen untuk untuk memberikan yang terbaik dalam pelayanan pertolongan kebencanaan.

Terselenggaranya kegiatan ini disambut baik oleh Walikota mengingat kegiatan ini sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat. Ia berharap agar pelatihan ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan dikembangkan dalam skala yang lebih luas lagi.

Tak lupa, ia berpesan kepada panitia dan semua pihak yang terlibat untuk terus menerapkan protokol kesehatan secara ketat baik selama kegiatan maupun di keseharian.

Bersinergi dengan Pemuda Hidayatullah, kegiatan diklat SAR yang rencananya berlangsung selama 10 hari ini digelar di beberapa titik diantaranya di Pantai Amal.

Salah satu Panitia Diklat SAR Hidayatullah Kaltara, Ahmad Munzhif, mengatakan tujuan diklat SAR ini diantaranya untuk memberikan bekal pengetahuan dan ketrampilan dasar SAR kepada Pemuda Hidayatullah dan segenap pengurus Hidayatullah yang memiliki potensi rescuer.

Diharapkan dari diklat ini, dapat membentuk tenaga rescuer yang memiliki pengetahuan, ketrampilan, sikap dan mental dibidang teknik pencarian dan pertolongan terhadap korban pada tingkat dasar.

Adapun beberapa sasaran dari pelatihan dasar SAR ini adalah memahami tentang operasi SAR di Indonesia, mampu melakukan teknik pertolongan pertama pada korban, mampu melakukan teknik evakuasi korban di medan vertikal, mampu melakukan pencarian dan pertolongan di gunung / hutan.

Selain itu, juga diharapkan membekali agar mampu melakukan teknik pertolongan di air tingkat dasar, memiliki pengetahuan dan keterampilan pendukung operasi SAR, mampu melakukan kegiatan rappeling dan water free jump, dan memiliki sikap mental yang layak sebagai tenaga rescue yang siap membantu siapapun dan dimanapun tanpa memandang suku, ras, dan agama. (ybh/hio)

Hidayatullah Bintan Bekali Anak Muda Skil Public Speaking

0

BINTAN (Hidayatullah.or.id) — Kemampuan berbicara di depan umum (public speaking) sangat dibutuhkan oleh praktisi di berbagai bidang khususnya bagi seorang aktivis dakwah dan tarbiyah. Karena itu DPD Hidayatullah Bintan menggelar pelatihan public speaking bagi masyarakat umum.

Kegiatan bertahuk Seminar Public Speaking ini dihelat di kampus Madya Hidayatullah Bintan dengan menghadirkan sejumlah narasumber yang telah berpengalaman dengan mengusung tema “The Power Of Public Speaking”, Ahad, 9 Rabiul Akhir 1443 (14/11 2021).

Menurut inisiator acara, ketua DPD Hidayatullah Bintan, Ust Sholehuddin, kemampuan public speaking harus dimiliki anak-anak muda sebab nantinya mereka akan menjadi pemimpin dan akan berinteraksi dengan orang banyak, seorang pemimpin harus bisa mempengaruhi orang lain dengan kemampuan komunikasi yang baik.

Materi melatih kemampuan berbicara di depan umum pada sesi pertama disampaikan oleh dai kondang di kabupaten Bintan yang juga ketua MUI Kecamatan Toapaya, Ustadz Meydi, S.Sos.I dan Fermansya Fatria Pratama, dai dan dosen public speaking.

Dalam paparannya, Meydi menyampaikan bahwa public speaking kelihatannya mudah tetapi kalau tidak sering dilatih akan mengalami jika berbicara di depan umum.

“Seorang pemimpin harus dapat mengkomunikasikan gagasannya kepada org lain,” terang Meydi.

Pada sesi berikutnya, Fermasyah Fatria Pratama, membagikan trik dan teknik bagaimana menjadi seorang pembicara yang handal, cara mengatasi grogi dan ketakutan lainnya, juga diajarkan tentang cara membaca karakter sesorang melalui mata, sikap tangan dan kakinya.

Acara seminar ini disambut antusia para peserta, sebagaimana dituturkan oleh salah seorang peserta, Rianto, yang mengaku sangat senang bisa mengikuti seminar ini.

Rianto berharap kegiatan seperti ini tidak hanya sekali diselenggarakan, ia berharap setiap bulan untuk mengasah kemampuannya berbicara di depan umum.

Demikian juga peserta dari Tanjung Pinang, Syamsul Alam, menuturkan bahwa banyak ilmu yang didapatkan dari pemateri dan berharap bisa juga diselenggarakan di Hidayatullah Tanjung Pinang.

Ketua panitia Arief Agustiawan dalam laporannya menyampaikan bahwa tujuan acara ini untuk meningkatkan skil public speaking pengurus dan anggota binaan DPD Hidayatullah Bintan dan sekitarnya dan mahasiswa serta masyarakata pada umumnya.*/Mujahid M. Salbu

Ketika Mahasiswa Jemput Prof Dr Hamid Fahmy Zarkasyi di Stasiun Pakai Motor

0

SAYA mengenal Gus Hamid alias Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi kala masih kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam (STAI) Lukman Al Hakim, Surabaya, Jawa Timur, di tahun 2005.

Pertama kali jumpa beliau di Aula Rahmat Rahman Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya dan berhasil diskusi dengan beliau bakda sholat Dhuhur. Saya memang kagum kepadanya.

Beberapa alasan bisa saya sampaikan di sini. Pertama beliau orangnya santun. Padahal cerdasnya luar biasa, apalagi kalau bicara filsafat. Tokoh-tokoh JIL ciut nyali kalau harus berhadapan dengan beliau.

Suatu waktu saya pernah di kantor Majalah Suara Hidayatullah menerima kunjungan seorang tokoh yang pernah liberal. Ketika diberi tahu bahwa di ruang rapat ada Gus Hamid, ia langsung menolak bertemu, “Beliau guru saya di Gontor,” katanya beralasan.

Saya sebut santun karena orang seperti saya pun beliau ladeni untuk diskusi dan bertanya-tanya tentang filsafat. Sudah jelas sebagai mahasiswa saya hanyalah anak kecil yang bisa dikatakan baru bisa megang “pistol-pistolan”.

Alasan berikutnya adalah beliau sangat menarik di dalam bertutur. Kalimat-kalimatnya tidak terlalu panjang dan langsung mengusik akal untuk bernalar.

Ketika itu saya ingat beliau mengatakan bahwa “Mahasiswa itu tidak seharusnya terus menekuni dunia aktivisme. Harus ada yang masuk ke ruang-ruang intelektual.”

Ungkapan itu mulai mengubah pandangan saya tentang mahasiswa yang doyan demonstrasi (bukan berarti saya anti demonstrasi) dan aksi-aksi keorganisasian yang dilakukan sebatas mau dicap sebagai mahasiswa dan aktivis sejati. Terlebih memang kala itu, semakin lama kuliah, sepertinya semakin sah dianggap mahasiswa yang aktivis.

Selanjutnya Gus Hamid bawaannya tenang. Walau sejatinya beliau keturunan bangsawan, tapi beliau tidak menolak saya jemput dengan motor matic di tahun 2007.

Bahkan kala pulang dari Kantor Majalah Suara Hidayatullah ke stasiun, beliau sempat mengajak saya lihat-lihat buku di Gramedia Surabaya di Jalan Kertajaya.

Buku HFZ Sore ini (12/11/2021) orderan buku saya tentang Gus Hamid, judulnya, “Hamid Fahmy Zarkasyi Biografi Intelektual, Pemikiran Pendidikan, dan Pengajaran Worldview Islam di Perguruan Tinggi” tiba di rumah.

Sembari leyehan, karena memang sepekan ini banyak mondar-mandir Jakarta-Bogor, saya perlahan membuka halaman demi halaman buku tersebut.

Sampai di halaman 80 saya putuskan jeda, nanti dilanjutkan lagi. Namun, yang sebenarnya terjadi dalam hati saya adalah hadirnya rasa cinta kepada Gus Hamid.

Bagaimana tidak, ternyata perjuangan beliau di dalam menuntut ilmu sampai saat ini lika-likunya bukan sekedar panjang namun penuh spirit dan pelajaran. Usia 5 tahun beliau sudah kehilangan sang ibu, Siti Partiyah.

“Setelah meninggalnya Siti Partiyah, Hamid memulai proses pendidikan sekolah dasar tanpa kehadiran seorang ibu,” demikian dituliskan dalam buku itu (halaman 38).

Sebagai manusia saya paling mudah tersentuh oleh kisah seperti itu. Seketika saya membayangkan, bagaimana anak-anak yang kecil dan tidak lagi memiliki seorang ibu.

Gus Hamid tentu mengalami guncangan batin tidak ringan kala itu. Namun, Alhamdulillah, beliau dianugerahi seorang ayah yang luar biasa, Kiai Imam Zarkasyi.

Perjalanan bersama sang ayah yang juga gurunya, Kiai Imam Zarkasyi, Gus Hamid juga mengalami satu kondisi yang luar biasa.

Pada April 1985 melalui sang kakak yang berada di Mesir, Amal Fathullah Zarkasyi mendapatkan kabar bahwa Pak Zar (sapaan akrab Kiai Imam Zarkasyi) sakit.

Kala itu, Ahmad Hidayatullah Zarkasyi yang juga sama Gus Hamid di Pakistan yang berangkat pulang ke Indonesia. Tetapi takdir seakan begitu cepat. Kabar pun sampai kepada Gus Hamid, “…Pak Zar telah meninggal dan mereka (anak-anaknya yang sedang kuliah di Pakistan dan Mesir) tidak perlu pulang.”

Subhanallah, di sini saya dapati sosok Gus Hamid yang ramah dan tenang ternyata sangat tangguh di dalam menghadapi kenyataan hidup yang tak mudah. Namun, semua sangat indah karena di dalam medan jihad, menuntut ilmu.

Mengenal Gus Hamid

Saya menuliskan kisah ini bukan semata karena kagum dan cinta kepada beliau, tetapi lebih jauh adalah karena memang sangat penting generasi muda Islam mengenal sosok alim dan sholeh ini.

Beliau adalah sosok Kiai, Rektor dan juga Guru Besar yang selalu hadir di dalam problematika mendasar umat. Terbaru dan viral beliau mengatakan bahwa kalau generasi milenial ini berada dalam sebuah tragedi, karena kecintaannya terhadap kesadaran membaca buku amatlah rendah.

Sekelas beliau, bisa saja itu tidak menjadi pilihannya untuk disampaikan. Tetapi, demi bangkitnya anak-anak muda Islam yang bisa dikatakan mulai abai terhadap ilmu dan buku, beliau sendiri langsung mengingatkan kita semua.

Gus Hamid juga sosok akademisi yang aktivis di bidang intelektual. Beliau menghimpun teman dan murid-muridnya untuk menerbitkan sebuah Jurnal Pemikiran yang luar biasa, Islamia sejak 2005.

Artinya, kaum muda Islam jangan pernah merasa puas di dalam hidup ini dengan profesi-profesi masing-masing. Ayo turun bersama, lihat problematika umat dan mari sadarkan dengan gerakan keilmuan.

Jadi, anak muda Islam, penting sekali mengenal sosok beliau, yang begitu gigih di dalam menuntut ilmu kemudian kembali ke Indonesia dan tak kenal lelah mengedukasi umat Islam tentang pentingnya ber-Islam secara kaffah. Bukan hanya syariatnya tetapi juga ber-Islam secara intelektual.*

*) IMAM NAWAWI, penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah

PLN Serahkan Bantuan Kebun Hidroponik, Langsung Panen Perdana

GUNUNG TEMBAK (Hidayatullah.or.id) – Pihak PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pengatur Distribusi Kalimantan Timur dan Utara (UP2D Kaltimra) melakukan silaturahim dan serah terima bantuan program tanggung jawab sosial budidaya pertanian hidroponik kepada Pondok Pesantren Hidayatullah Ummulqura Balikpapan.

Acara itu berlangsung di kantor YPPH Balikpapan, Gunung Tembak, Kalimantan Timur, Rabu, 11 Rabiul Akhir 1443H (17/11/2021).

Acara silaturahim itu dihadiri Himawan Sutanto selaku Senior Manager Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Kaltimra. Himawan hadir mewakili General Manager PLN UIW Kaltimra, Saleh Siswanto, yang sedianya hadir namun berhalangan karena sakit.

Hadir pula sejumlah Dewan Pengawas dan Pembina Hidayatullah Ummulqura, Ketua YPPH Balikpapan Ustadz Hamzah Akbar, jajaran pengurus YPPH, serta para guru MI-SMH Putra.

Ustadz Hamzah dalam sambutannya mengaku bersyukur atas apa yang diberikan kepada pesantren. “Alhamdulillah ya ada hidroponik ini, ini juga bisa menjadi pembelajaran,” tuturnya.

“Yang kita perkuat sekarang kepada adek-adek (santri dan mahasantri) adalah mengenai pengelolaan kebun hidroponik ini agar senantiasa terjaga kesehatannya,” tambahnya.

Ia menjelaskan, pengelola kebun hidroponik bantuan PLN itu adalah mahasiswa STIS Hidayatullah. “Kita harapkan ini juga nanti kita bisa meng-upgrade skill mahasiswa dan mampu mengembangkan (perkebunan) ini.”

Pihak yayasan juga menyampaikan terima kasih terutama kepada para dosen dan mahasiswa. “Nanti mereka yang akan mengelola langsung di lapangan. In syaa Allah dana yang diinfakkan nanti akan dimaksimalkan.”

Bantuan kebun hidroponik itu merupakan salah satu bentuk kerja sama antara Pesantren Hidayatullah Ummulqura dengan PT PLN. “Dalam hal ini merupakan bentuk kerja sama PLN dengan Ponpes Hidayatullah, Pak Ustadz,” tutur Himawan pada sambutannya.

Ia mengungkapkan, bantuan perkebunan hidroponik ini juga merupakan salah satu dari program kerja PLN. PLN menginginkan kehadirannya mampu memberikan kenikmatan dan kenyamanan terutama bagi para petani.

“Kita punya program membangun pertanian, dan satunya adalah hidroponik ini. Kami dari PLN berupaya untuk membantu pertanian. Apakah bisa? Bisa! Karena sekarang ini banyak perkebunan yang melibatkan ketenagaan listrik, satu di antaranya adalah perkebunan hidroponik,” jelasnya.

Kebun hidroponik dikelola oleh mahasiswa STIS Hidayatullah itu diharapkan Himawan bisa menjadi wadah pembelajaran bagi mereka dan menambah keilmuan bidang pertanian.

“Semoga hidroponik ini bisa bermanfaat untuk keilmuan terutama untuk pertanian. Ini bisa dimanfaatkan oleh adek-adek mahasiswa STIS Hidayatullah, ini bisa dikembangkan untuk keilmuan-keilmuan,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ustadz Hamzah Akbar, bahwa mahasiswa mampu meningkatkan keilmuan mengenai bidang pertanian. Apalagi kelak mereka akan berada di tengah-tengah masyarakat.

Sebagai informasi tambahan, Himawan mengungkapkan saat ini PLN memiliki dua program yang dapat diminati oleh masyarakat.

Pertama, mulai dari November hingga Desember 2021, ada program yang dinamakan ‘Nyaman Kompor Listrik’. Program ini tujuannya, kata dia, memberikan kenyamanan kepada masyarakat yang ingin menggunakan kompor listrik. Nantinya, apabila masyarakat membeli kompor listrik di toko yang telah bekerja sama dengan PLN, maka konsumen itu akan mendapat diskon tambah daya.

Kedua, PLN Mobile. Program ini dinilai bermanfaat untuk pelayanan masyarakat, mulai dari pembelian token, bayar listrik, pengaduan, dan lainnya.

“Kami mohon dari ustadz-ustadz semua, semoga kami bisa melayani masyarakat dengan baik, supaya kami dimudahkan dan menjalankan tugas dan diberikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala,” ungkapnya penuh harap di akhir sambutannya di depan hadirin.

Sayur Tanpa Pestisida

Setelah secara simbolis penyerahan bantuan tersebut di kantor YPPH, berlanjut ke agenda berikutnya yaitu pemotongan pita sebagai simbolisasi peresmian perkebunan hidroponik tersebut. Himawan melakukan pemotongan pita didampingi Ustadz Hamzah dan para tetamu VIP di lokasi perkebunan itu.

Lokasi kebunnya berada di Kampus Dakwah, tepatnya di sebelah barat Kampus Tarbiyah Hidayatullah Ummulqura. Kebun ini berada di pinggir jalan masuk ke wilayah Villa Madani, salah satu kompleks permukiman warga Hidayatullah Gunung Tembak.

Himawan Sutanto melakukan pemotongan pita kebun hidroponik.* [Foto: SKR/MCU]
Sebagai informasi, Kampus Tarbiyah merupakan istilah bagi kampus pesantren yang dikelilingi pagar dan kanal. Disebut Kampus Tarbiyah karena di dalam kampus ini berdiri berbagai tempat pendidikan formal para santri dan mahasantri, putra dan putri. Sedangkan di luar Kampus Tarbiyah, disebut Kampus Dakwah, yaitu area yang ditempati warga Hidayatullah Gunung Tembak.

Di kebun hidroponik tersebut, para tamu dari rombongan PLN dan sejumlah ustadz Hidayatullah melakukan panen resmi perdana. Sayur-sayur yang dipanen saat itu antara lain sawi, selada air, bayam merah, dan lain-lain sebagainya. Para tamu pun diberikan oleh-oleh sayur mayur tersebut yang mereka pilih sendiri. Sayur yang dipetik langsung dari kebun itu tampak segar, baik sayur hijau maupun sayur merah.

Kepala Biro Humas YPPH Ustadz Hidayat Jaya Miharja mengatakan bahwa sayur-sayur hidroponik itu sehat karena dibudidayakan tanpa pestisida. “Ini enda pakai pestisida,” ujarnya di sela-sela acara panen yang berlangsung penuh kegembiraan dan keceriaan itu.

Dalam wawancara yang dilakukan di perkebunan hidroponik, kepada Media Center Ummulqura (MCU) Hidayatullah dan pewarta lain, Himawan mengungkapkan alasan dipilihnya kebun hidroponik. Yaitu karena hidroponik merupakan perkebunan yang modern, praktis, dan sehat.

Ia juga berharap agar dengan adanya bantuan seperti ini dapat mengembangkan aspek-aspek ekonomi dan lingkungan masyarakat.

“Kita bertekad mengembangkan aspek-aspek, ekonomi-ekonomi, sosial, dan lingkungan. Kalau masyarakat ekonominya tumbuh. Maka listrik akan tumbuh. Itu bisa kita rasakan sebagaimana ketika masa seperti ini,” tuturnya.

Ia menyebutkan saat ini hubungan antara listrik, perkebunan, dan masyarakat ibarat ayam dan telur. Dua hal ini tidak bisa dipisahkan dan saling membutuhkan.* (Asrijal/SKR/MCU)

Sumber: ummulqurahidayatullah.id

Gubernur Sumut Hadiri Pernikahan Massal Santri Hidayatullah Deli Serdang

DELI SERDANG (Hidayatullah.or.id) – Gubernur Sumatera Utara H. Edy Rahmayadi hadiri pernikahan massal Mubarak 11 pasang dai dan guru Qur’an gelaran BMH bersama Pesantren Hidayatullah Sumatera Utara komplek Pesantren Hidayatullah Bandar Labuhan Tanjung Morawa Deli Serdang, Sabtu, 8 Rabiul Akhir 1443 (13/11/2021).

Para peserta nikah mubarak ini adalah santri yang sekian lama telah dibina, bahkan beberapa diantaranya telah bertugas dakwah merintis pesantren diberbagai daerah di wilayah Sumatera Utara. Setelah pernikahan ini mereka akan ditugaskan ke daerah untuk kuatkan barisan dakwah.

Pernikahan yang dihadiri sekitar 3000-an keluarga mempelai dan tamu undangan, juga di hadiri Wakil Bupati Deli Serdang H. M. Ali Yusuf Siregar.

Di depan para pengantin, Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi, cukup takjub dengan gelaran pernikahan tersebut. Betapa tidak, Baginya itulah pengalaman pertama menghadiri nikah Mubarak. Sesama mempelai tidak saling kenal. Khawatir tertukar, apalagi gunakan cadar dan masker yang sama sambil tertawa.

Pernikahan ini disamping untuk menggenapkan agamanya juga sebagai kado terindah para da’i dan guru Qur’an, yang dengannya mereka akan semakin kokoh berdakwah dan membina ummat.

Pernikahan Mubarak ini juga sebagai solusi cerdas yang dihadirkan Hidayatullah dalam melaksanakan pernikahan.

Hingga saat ini, betapa seseorang bila ingin menikah dihadapkan berbagai persiapan dan persyaratan yang berat, bahkan dengan hal itu terkadang menjadi penghalang seseorang untuk menikah.

Melalui pernikahan Mubarak ini, semua di proses dan dijalankan dengan mudah dan sederhana dengan tetap menegakan syariatnya dan ketentuan negara.

“Sebagaimana pengantin baru, kami para peserta juga deg degan saat ijab kabul karena disaksikan ratusan orang, terlebih saat menyerahkan mahar dan bertemu keluarga istri. Semua kami belum pernah kenal. Jangankan jumpa, kenal nama saja tidak,” ujar Fatih Muammal (19) sebagai peserta termuda dalam acara pernikahan Mubarak yang kali kedua di adakan di Sumatera Utara ini.

“Kepada para donatur kami ucapkan terimakasih kepada karena telah banyak membantu terlaksananya hajatan besar ini. Semoga Allah mengganti dengan pahala yang besar penuh berkah” pungkas Lukman BAMS, ketua BMH Sumut.*/Herim