Beranda blog Halaman 39

Baharudddin Majid Ajak Teguhkan Dakwah dan Pendidikan untuk Turut Membangun Sulawesi Utara

0

MANADO (Hidayatullah.or.id) — Baharuddin Majid resmi ditetapkan sebagai Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Utara dalam sebuah prosesi pelantikan yang menandai babak baru kepemimpinan organisasi dakwah tersebut di kawasan timur Indonesia di Kota Manado, Ahad, 23 Jumadil Akhir 1447 (14/12/2025).

Penetapan ini sekaligus menegaskan kesinambungan gerakan Hidayatullah dalam merawat misi keislaman yang berpijak pada nilai kebangsaan dan pengabdian sosial di tengah dinamika masyarakat Sulawesi Utara.

Dalam sambutan perdananya usai dilantik dalam forum Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Hidayatullah Sulut, Baharuddin Majid menyampaikan refleksi personal atas amanah yang kini diembannya. Ia mengungkapkan bahwa penetapan dirinya sebagai Ketua DPW merupakan sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan sebelumnya.

Meski memiliki jejak masa kecil di Manado ketika sempat tinggal bersama keluarganya, ia tidak pernah membayangkan akan kembali ke daerah tersebut dua dekade kemudian dalam posisi kepemimpinan organisasi. Bahar menggambarkan perjalanan hidup yang berkelindan dengan proses dakwah dan pengabdian yang terus berkembang seiring waktu.

“Saya tidak pernah membayangkan akhirnya pulang ke tempat masa kecil saya dengan amanah yang besar ini,” katanya haru.

Baharuddin menegaskan bahwa kepemimpinan dalam Hidayatullah bukanlah ruang untuk menonjolkan figur personal. Ia secara terbuka menyampaikan bahwa dirinya bukan sosok terbaik di antara para kader dan pengurus yang hadir.

Oleh karena itu, ia memohon doa, dukungan, serta bimbingan dari para sesepuh dan tokoh Hidayatullah di Manado dan Sulawesi Utara agar amanah organisasi dapat dijalankan secara kolektif dan berkesinambungan. Dia menegaskan tradisi kepemimpinan kolegial yang selama ini menjadi karakter Hidayatullah.

“Saya tidak mungkin mampu tanpa didukung bapak ibu sekalian. Semoga Allah Ta’ala memudahkan langkah kita,” katanya.

Kepada jajaran pengurus DPW yang baru dilantik, Baharuddin mengajak untuk membangun kerja bersama yang solid. Ia menekankan pentingnya kebersamaan dalam menjalankan tugas organisasi, seraya menegaskan bahwa kepemimpinan tidak bertumpu pada satu individu.

Menurutnya, keberhasilan dakwah hanya dapat dicapai melalui kerja tim yang terorganisasi, saling melengkapi, dan berorientasi pada tujuan bersama. Prinsip ini diletakkan sebagai fondasi kerja lima tahun ke depan.

Dalam konteks pengembangan wilayah, Baharuddin mengapresiasi capaian para perintis Hidayatullah yang telah membuka dan menguatkan aktivitas dakwah di sembilan kabupaten di Sulawesi Utara. Capaian tersebut dinilai dia sebagai modal penting bagi kepengurusan baru.

Namun, pada kesempatan yang sama, ia juga menyoroti masih adanya sejumlah kabupaten yang belum terjangkau secara optimal. Kondisi ini, menurutnya, menjadi tantangan strategis yang harus dijawab melalui perencanaan dakwah yang sistematis dan penguatan sumber daya kader di daerah.

Selain perluasan wilayah, Baharuddin menempatkan dakwah sebagai agenda prioritas. Ia menyampaikan bahwa Hidayatullah di Sulawesi Utara telah memiliki sejumlah lembaga pendidikan dan kampus, namun pengelolaan mutu pendidikan memerlukan perhatian yang lebih serius.

Penguatan kualitas sekolah dan lembaga pendidikan dipandang Baharuddin sebagai bagian dari kontribusi nyata Hidayatullah dalam mencetak sumber daya manusia yang berdaya saing, berakhlak, dan berakar pada nilai keislaman.

Ia juga menyinggung sektor ekonomi dan bidang-bidang penunjang lainnya sebagai bagian dari amanah besar yang melekat pada kepengurusan DPW. Seluruh tanggung jawab tersebut, menurut Baharuddin, menuntut kesabaran, keteguhan, dan konsistensi dalam melanjutkan perjuangan para pendahulu.

Dengan meneladani spirit keislaman yang berpadu dengan semangat keindonesiaan, Hidayatullah di Sulawesi Utara diharapkan terus hadir sebagai gerakan dakwah yang memberi manfaat luas bagi umat dan bangsa.

Pengurus Hidayatullah Gorontalo periode 2025–2030

Pada Muswil ini, struktur kepengurusan Hidayatullah Gorontalo periode 2025–2030 dikukuhkan. Formasi ini menempatkan Dewan Murabbi Wilayah sebagai penjaga arah tarbiyah dan nilai dasar perjuangan, sekaligus menguatkan Dewan Pengurus Wilayah sebagai pelaksana program strategis dakwah dan pengabdian umat.

Dalam susunan Dewan Murabbi Wilayah, Syamsul Arifin dipercaya mengemban amanah sebagai ketua. Ia didampingi oleh Baharuddin Bachmid sebagai anggota.

Dewan Murabbi berperan mengawal konsistensi manhaj, memperkuat pembinaan kader, serta memastikan nilai keislaman Hidayatullah tetap menjadi fondasi utama dalam setiap kebijakan dan aktivitas organisasi di Sulut.

Baharuddin Majid sebagai ketua dibantu oleh Yusuf Oela, S.Sos.I sebagai sekretaris, dan serta Fathan Haq Bahmid, S.E. sebagai bendahara. Ketiganya menjadi poros utama penggerak organisasi dalam menerjemahkan arah kebijakan menjadi kerja-kerja nyata di lapangan.

Menapaki Jalan Dakwah dengan Ibadah dan Keteguhan Persaudaraan

0

NABIRE (Hidayatullah.or.id) — Nilai ibadah dan persaudaraan menjadi fondasi utama dalam perjalanan dakwah Ustadz Hasanuddin. Menurutnya, dua nilai tersebut merupakan harga yang paling mahal bagi seorang muslim dalam menapaki jalan pengabdian ini.

Pandangan itu lahir dari pengalaman panjangnya menjalani proses kaderisasi dan penugasan lintas daerah, yang ia yakini tidak sekadar membentuk ketahanan fisik, tetapi juga mematangkan orientasi ruhiyah dan komitmen kebersamaan dalam dakwah.

Kisah perjalanan Hasanuddin bermula dari sebuah surat sederhana yang dikirimkan sahabatnya, Said Sameng, yang lebih dahulu menimba ilmu di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.

Dalam surat itu tertulis ajakan yang kemudian menjadi titik balik hidupnya, “Hasan, kalau kamu ingin merasakan nikmatnya Islam, saya tunggu di Hidayatullah Gunung Tembak.”

Hasanuddin dan Said Sameng merupakan sahabat sejak di kampung halaman mereka, Kelurahan Palattae, Kecamatan Kahu, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Keduanya aktif sebagai pengurus Rohani Islam (Rohis) di lingkungan setempat.

Ajakan tersebut mengantarkan Hasanuddin berangkat ke Gunung Tembak dan resmi menjadi santri Hidayatullah pada 1994. Seperti santri baru lainnya, ia mengikuti training center selama 40 hari dengan aktivitas kerja fisik seperti membersihkan lingkungan, mencangkul, dan merintis lahan. Latar belakang kehidupan kampung yang lekat dengan kerja keras membuatnya menjalani proses tersebut tanpa guncangan berarti.

Empat puluh hari setelah training center, Hasanuddin mendapat amanah membantu Kepala Kampus, Ustadz Sudiono, di bidang pertukangan. Penugasan ini dijalani selama beberapa tahun.

Pada 1997, ia terdaftar sebagai peserta pernikahan mubarakah 100 pasangan, sebuah peristiwa besar dalam sejarah Hidayatullah yang hingga kini masih dikenang sebagai pernikahan massal berskala nasional. Setelah pernikahan, sebagian besar peserta ditugaskan ke berbagai daerah, namun Hasanuddin tetap melanjutkan pengabdiannya di Gunung Tembak.

Momentum berikutnya datang pada tahun 2000, setelah Musyawarah Nasional I Hidayatullah. Saat itu dibuka pendaftaran dai untuk penugasan ke Irian Jaya. Hasanuddin didaftarkan oleh sahabatnya, Al Djufri Muhammad, yang telah lebih dahulu bertugas di Papua.

Sejak saat itu, ia menjalani perjalanan dakwah panjang di tanah Papua, mulai dari Timika, Nabire, Merauke, Jayapura, hingga kembali lagi ke Timika, tempat ia bertugas hingga saat ini.

Pengalaman lebih dari 25 tahun menjalani amanah tersebut meninggalkan kesan mendalam baginya. “Tugas itu hanya berat di awalnya saja, kalau sudah dijalani maka akan nikmat dan berat untuk meninggalkannya,” katanya.

Pengalaman lintas wilayah dan dinamika umat di Papua semakin menguatkan proses perkaderannya, hingga kini ia dipercaya mengemban amanah sebagai Anggota Murabbi Wilayah di Papua Tengah.

Dalam refleksinya, Hasanuddin menegaskan bahwa keberhasilan dakwah tidak dapat dipisahkan dari kualitas ibadah dan kuatnya ikatan persaudaraan. Ia juga menekankan peran keluarga, khususnya istri, sebagai penopang utama dakwah.

Baginya, pasangan yang tertarbiyah dan memiliki idealisme sejalan merupakan faktor penting dalam menjaga konsistensi pengabdian.

“Seorang kader seharusnya selesai urusan ibadahnya, dan bagi yang sudah selesai ibadahnya, hendaknya meningkatkan profesionalitas kerja dalam setiap amanah,” pesannya menutup perbincangan.

IMS Bersama Al Irsyad dan Indofest Global Hadirkan Layanan Kesehatan Darurat di Aceh Tamiang

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Setelah lebih dari satu bulan bergulat dengan dampak banjir dan longsor, warga Kampung Seumadam dan Kampung Pipa, Kabupaten Aceh Tamiang, mulai merasakan hadirnya kembali harapan.

Bencana yang melanda wilayah tersebut tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga mengganggu akses dasar masyarakat terhadap layanan kesehatan. Di tengah keterbatasan fasilitas medis dan hancurnya sejumlah apotek, layanan kesehatan darurat menjadi kebutuhan yang mendesak.

Pada Selasa, 25 Jumadil Akhir 1447 (16/12/2025), Hidayatullah melalui Islamic Medical Service (IMS) dengan dukungan Rabithah Alam Islami (Liga Muslim Dunia), serta berkolaborasi bersama PT Indofest Global Pratama dan PP Al Irsyad Al Islamiyyah, kembali melaksanakan aksi layanan kesehatan darurat bagi warga terdampak. Kegiatan ini difokuskan pada dua kampung yang mengalami dampak cukup berat akibat banjir dan longsor, sebagai bagian dari respons kemanusiaan awal pascabencana.

Dalam pelaksanaan tahap pertama, sebanyak 200 warga dari Kampung Seumadam dan Kampung Pipa mendapatkan layanan konsultasi medis serta obat-obatan sesuai dengan kebutuhan klinis masing-masing pasien. Kehadiran tim medis dinilai sangat penting mengingat kondisi sanitasi lingkungan yang belum pulih sepenuhnya serta keterbatasan masyarakat dalam memperoleh obat dasar.

Dokter Alif, selaku Penanggung Jawab Tim Medis IMS, menjelaskan bahwa jenis keluhan kesehatan yang ditemui relatif seragam dan berkaitan langsung dengan kondisi pascabencana.

“Kasus yang paling banyak kami tangani adalah pusing, diare, serta gangguan kulit seperti gatal-gatal. Kondisi ini berkaitan erat dengan sanitasi yang kurang memadai dan kelelahan fisik warga. Di saat yang sama, akses mereka terhadap obat-obatan sangat terbatas,” ujar Dokter Alif.

Bagi masyarakat setempat, layanan kesehatan ini menjadi bentuk kehadiran yang menenangkan. Boby, tokoh masyarakat Kampung Seumadam, menyampaikan apresiasi atas bantuan yang diterima warganya.

“Dalam kondisi seperti sekarang, obat sekecil apa pun sangat berarti. Kehadiran dokter dan tenaga medis membuat kami merasa tidak ditinggalkan,” ungkapnya.

IMS menegaskan bahwa layanan kesehatan darurat ini merupakan langkah awal dari rangkaian program pemulihan yang lebih luas. Ketua Tim Program IMS, Ridho Muhammad Fatihuddin, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari asesmen lapangan untuk memahami kebutuhan riil masyarakat terdampak.

“Kehadiran kami di Aceh Tamiang adalah langkah awal untuk proses pemulihan yang berkelanjutan. Kami melihat langsung kondisi masyarakat dan mendengar aspirasi mereka. Respons ini menguatkan komitmen kami untuk tidak berhenti pada layanan awal,” kata Ridho.

Ia menambahkan bahwa fase berikutnya akan difokuskan pada program-program lanjutan yang bersifat struktural dan berjangka menengah.

“Ke depan, IMS berencana melanjutkan dengan pengadaan sarana air bersih, dapur bencana yang melibatkan masyarakat, layanan pemulihan trauma, serta pengobatan gratis dalam skala yang lebih luas di wilayah terdampak,” jelasnya.

Selain Aceh Tamiang, IMS juga membuka peluang untuk memperluas jangkauan aksi kemanusiaan ke wilayah lain yang terdampak bencana di Sumatra, termasuk Tapanuli Tengah dan sebagian wilayah Sumatra Barat, sesuai dengan hasil pemetaan kebutuhan di lapangan.

IMS bersama para mitra mengajak berbagai pihak untuk turut berkontribusi dalam meringankan beban masyarakat terdampak, sebagai bagian dari ikhtiar kolektif memulihkan kehidupan pascabencana.

Ajakan Merawat Persatuan dan Menjaga Komitmen Dakwah di Tengah Tantangan Zaman

0

BONTANG (Hidayatullah.or.id) — Penutupan Musyawarah Daerah dan Musyawarah Yayasan Hidayatullah Kota Bontang menjadi momentum untuk menegaskan kembali fondasi perjuangan dakwah di tengah dinamika zaman yang terus berubah.

Ketua Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Kota Bontang, Ustadz Syaifuddin Anshari, menegaskan bahwa persatuan hati bukanlah hasil rekayasa manusia, melainkan karunia Allah SWT yang wajib dijaga melalui iman, keikhlasan, dan amal jama’i.

Menurutnya, persatuan inilah modal utama dalam memastikan keberlanjutan dakwah yang kokoh dan berakar di tengah masyarakat kita yang majemuk.

Agenda penutupan yang berlangsung khidmat selepas salat Subuh, Ahad, 23 Jumadil Akhir 1447 (14/12/2025), ini menandai berakhirnya rangkaian musyawarah organisasi sekaligus menjadi ruang konsolidasi nilai dan peneguhan arah gerak Hidayatullah Kota Bontang dalam menghadapi tantangan dakwah kontemporer yang semakin kompleks, baik di level sosial, budaya, maupun kebangsaan.

Dalam sambutannya, Ustadz Syaifuddin menjelaskan bahwa tantangan dakwah masa kini tidak selalu berbentuk tekanan fisik sebagaimana dialami generasi awal Islam. Ia menilai, ujian zaman modern justru hadir melalui tekanan yang bersifat halus, menguji ketulusan niat, ketahanan batin, serta konsistensi dalam memegang amanah. Kondisi tersebut menuntut kesiapan mental dan spiritual yang mendalam agar dakwah tetap berjalan di atas prinsip yang lurus.

Untuk memperkuat pesan tersebut, ia mengangkat keteladanan Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu sebagai simbol keteguhan iman. Bilal digambarkan tetap mengucapkan “Ahad… Ahad…” meski menghadapi siksaan berat. Keteguhan tersebut, menurut Syaifuddin, lahir dari tauhid yang murni dan keyakinan total kepada Allah SWT, bukan semata kekuatan fisik.

Ia menegaskan bahwa kisah Bilal tidak berhenti sebagai narasi sejarah yang heroik, melainkan cermin bagi kader masa kini. Tantangan yang dihadapi hari ini sering kali berupa benturan antara idealisme dan realitas, godaan kecil yang menguji amanah besar, serta kelelahan batin yang tidak selalu tampak. Dalam situasi tersebut, keteguhan prinsip menjadi indikator kualitas kader.

“Kader hari ini harus memiliki ‘Ahad… Ahad…’-nya sendiri,” ujar Ustadz Syaifuddin, seraya menegaskan pentingnya komitmen batin dalam menjaga niat suci untuk Allah Ta’ala, konsistensi dakwah, dan kesetiaan pada nilai perjuangan, apa pun bentuk tekanan yang dihadapi.

Pada bagian akhir, ia menekankan kembali urgensi persatuan hati dengan mengutip firman Allah SWT dalam surah Al-Qur’an Al-Anfal ayat 63 yang menegaskan bahwa persatuan merupakan anugerah Ilahi yang harus dirawat melalui iman, keikhlasan, dan kerja kolektif.

“Sekiranya engkau membelanjakan semua kekayaan yang ada di bumi, niscaya engkau tidak akan dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah-lah yang mempersatukan hati mereka,” kutipnya.

Sebagai penutup, Ustadz Syaifuddin mendorong penguatan sinergi internal dan eksternal antara DPD Hidayatullah Kota Bontang, Kampus Madya, Kampus Pratama, serta seluruh unsur institusi baik internal maupun eksternal.

Sinergi tersebut diharapkan dia mampu menggerakkan program keumatan secara terpadu dan berkelanjutan, sehingga Hidayatullah dapat terus berkontribusi nyata dalam membangun Kota Bontang yang tertib, agamis, mandiri, aman, nyaman, dan berperadaban berlandaskan nilai-nilai Islam.

Refleksi ‘Filosofi Ikan’ dari Amun Rowi Kuatkan Arah Rakernas BTH 2026 di Jawa Timur

0

MALANG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur, Drs. Amun Rowi, M.Pd, menghadiri Rapat Kerja Nasional Baitut Tamwil Hidayatullah (Rakernas BTH) 2026 dan menyampaikan sambutan dengan sebuah refleksi yang ia sebut sebagai “filosofi ikan”.

Refleksi tersebut disampaikan sebagai pengantar pemikiran dalam menghadapi dinamika kelembagaan dan tantangan ekonomi umat di Indonesia yang terus bergerak seiring perubahan zaman.

“Ikan yang sehat adalah ikan yang berenang melawan arus. Ketika ikan hanya mengikuti arus, itu menandakan ia lemah dan tidak memiliki daya juang,” ujar Amun Rowi dalam sambutannya.

Ia menegaskan bahwa hukum alam tersebut dapat menjadi cermin bagi perjalanan lembaga, termasuk institusi ekonomi umat, agar tidak terjebak pada kenyamanan semu yang justru melemahkan daya tahan organisasi.

Rakernas BTH 2026 digelar pada 23-24 Jumadil Akhir 1447 (14–16/12/2025) di Kampus Madya Ar-Rohmah Putri, Malang, Jawa Timur. Kegiatan nasional ini diikuti peserta perwakilan pimpinan Baitut Tamwil Hidayatullah dari berbagai wilayah di Indonesia.

Mengusung tema “Penguatan Tata Kelola dan Profesionalisme BTH untuk Akselerasi Pertumbuhan Nasional”, Rakernas ini diarahkan untuk memperkuat sistem kelembagaan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta menajamkan peran BTH sebagai lembaga keuangan umat yang adaptif dan berdaya saing.

Bagi Amun, Jawa Timur yang kembali dipercaya menjadi tuan rumah agenda strategis Hidayatullah, menegaskan peran daerah ini sebagai salah satu poros penguatan gerakan dakwah dan ekonomi umat.

Tema yang diangkat menurutnya merefleksilkan kesadaran akan pentingnya profesionalisme dalam menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung agenda kemandirian ekonomi nasional.

Dalam lanjutan refleksinya, Amun Rowi mencontohkan ikan salmon sebagai simbol ketangguhan dan konsistensi. “Salmon selalu berenang melawan arus untuk menjaga keberlangsungan hidup dan wilayahnya. Karena itu, ia dikenal sebagai ikan dengan nilai gizi tinggi dan manfaat yang besar,” tuturnya.

Dia memberikan dorongan moral bagi pengelola BTH agar berani menghadapi tekanan dan perubahan, tanpa kehilangan prinsip dasar pengabdian kepada umat dan bangsa.

Pertumbuhan Terukur dan Berkelanjutan

Rakernas BTH 2026 secara resmi dibuka oleh Kepala Bidang Ekonomi Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Drs. Wahyu Rahman. Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya konsolidasi nasional BTH agar memiliki standar tata kelola yang seragam, sistem kerja yang profesional, serta arah pertumbuhan yang terukur dan berkelanjutan.

Menurut Wahyu, penguatan kelembagaan menjadi kunci agar BTH mampu berkontribusi lebih luas dalam pembangunan ekonomi berbasis keumatan.

Pemilihan Jawa Timur sebagai lokasi Rakernas dinilai strategis mengingat besarnya potensi ekonomi umat di wilayah ini serta kuatnya jaringan kelembagaan Hidayatullah. Kampus Madya Ar-Rohmah Putri Malang dipandang representatif dalam mendukung suasana produktif dan kondusif bagi perumusan kebijakan nasional.

Melalui Rakernas ini, Baitut Tamwil Hidayatullah diharapkan dia semakin kokoh sebagai lembaga keuangan umat yang amanah, profesional, dan relevan dengan konteks keindonesiaan, sekaligus mampu mendorong kemandirian ekonomi jamaah dan masyarakat luas secara berkelanjutan.

Bedah Buku “Ketika Suami..” di Nabire Dorong Literasi Rumah Tangga Berbasis Nilai Islam

0

NABIRE (Hidayatullah.or.id) — Upaya membangun peradaban tidak pernah terpisah dari tradisi literasi. Kesadaran inilah yang mewarnai pelaksanaan pembukaan Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-1 Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua Tengah.

Di tengah agenda konsolidasi organisasi, DPW Hidayatullah Papua Tengah menghadirkan kegiatan yang bernuansa reflektif dan edukatif melalui bedah buku “Ketika Suami…” yang digelar di Kampus Madya Pondok Pesantren Hidayatullah Nabire, Selasa, 25 Jumadil Akhir 1447 (16/12/2025).

Kegiatan bedah buku ini dimaksudkan sebagai ikhtiar menumbuhkan budaya membaca dan berpikir kritis di kalangan guru, orang tua, serta santri. Literasi dipandang sebagai fondasi penting dalam membangun kualitas keluarga, pendidikan, dan masyarakat.

Dalam konteks kehidupan masa kini dengan beragam dinamikanya, literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan teknis membaca dan menulis, tetapi juga sebagai kesanggupan memahami persoalan hidup secara arif dan berlandaskan nilai keislaman.

Abdul Syakir, yang bertindak sebagai resensator, mengulas buku “Ketika Suami…” karya Ketua DPP Hidayatullah, Dr. Abdul Ghofar Hadi. Menurutnya, buku tersebut memiliki relevansi kuat dengan realitas sosial masyarakat saat ini, khususnya meningkatnya angka perceraian yang banyak dipicu oleh konflik berkepanjangan dalam rumah tangga.

“Banyak percekcokan suami istri berujung pada perceraian karena minimnya literasi dalam memahami peran dan kondisi pasangan. Ketika pengetahuan dan kedewasaan emosional rendah, masalah kecil mudah berubah menjadi konflik besar,” ujar Abdul Syakir dalam pemaparannya.

Ia menambahkan bahwa rendahnya literasi keluarga sering membuat pasangan, khususnya istri, mudah mengalami kelelahan emosional dan frustrasi. Buku ini, menurutnya, hadir sebagai jawaban atas banyaknya keluhan dan kegelisahan para istri dalam memahami dinamika suami dalam kehidupan rumah tangga.

Penulis buku, Dr. Abdul Ghofar Hadi, menjelaskan bahwa karya tersebut lahir dari pengamatannya terhadap kebingungan banyak istri dalam membaca karakter dan kondisi suami. Ia menegaskan bahwa suami adalah manusia biasa yang memiliki fase naik dan turun secara psikologis maupun emosional.

“Sengaja judulnya ‘Ketika Suami…‘ menggunakan titik-titik, karena ada banyak sisi misteri dalam diri suami dan cara menyikapinya. Ada fase marah, sakit, cemburu, berubah sikap, hingga menghadapi persoalan ekonomi atau keinginan tertentu dalam hidup,” jelas Ghofar.

Ia menekankan bahwa buku ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi, melainkan memberikan panduan berbasis ilmu dan pengalaman agar istri mampu menyikapi perubahan sikap suami dengan tenang, tidak terburu-buru berprasangka, serta mampu mencari solusi secara bijak. Menurutnya, literasi dalam kehidupan rumah tangga menjadi kunci untuk menjaga keharmonisan dan keutuhan keluarga.

Abdul Syakir menimpali bahwa buku tersebut membantu membuka sudut pandang baru dalam memahami relasi suami istri. “Buku ini menolong para istri agar tidak panik dan tidak salah paham ketika menghadapi kondisi suami yang sedang tidak stabil,” ujarnya.

Kegiatan bedah buku ini disambut antusias oleh peserta Muswil. Diskusi berlangsung hangat, dengan perhatian serius dari para peserta, baik laki-laki maupun perempuan. Sesi tanya jawab yang didominasi oleh para ibu berlangsung interaktif, menandai tingginya kebutuhan akan literasi keluarga yang berakar pada nilai Islam dan relevan dengan realitas masyarakat Indonesia.

Melalui kegiatan ini, DPW Hidayatullah Papua Tengah menegaskan bahwa literasi adalah bagian tak terpisahkan dari dakwah dan pembangunan manusia, dimulai dari keluarga sebagai pilar utama peradaban.

Muswil I Hidayatullah Papua Tengah Perkuat Sinergi Umat Menuju Indonesia Emas

0

NABIRE (Hidayatullah.or.id) — Keberadaan Hidayatullah di Papua Tengah harus berjalan searah dan konsisten dengan arus utama gerakan organisasi, yakni dakwah dan pendidikan. Penegasan tersebut disampaikan Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. Abdul Ghofar Hadi, S.Sos.I., M.Pd., saat memberikan arahan pada pembukaan Musyawarah Wilayah (Muswil) I Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Provinsi Papua Tengah.

Menurutnya, komitmen terhadap dua pilar tersebut merupakan fondasi strategis dalam menyiapkan sumber daya insani yang berkontribusi bagi masa depan Indonesia.

Muswil I DPW Hidayatullah Papua Tengah resmi digelar bertempat di Kampus Madya Pondok Pesantren Hidayatullah Nabire pada Selasa, 25 Jumadil Akhir 1447 (16/12/2025).

Perhelatan perdana tingkat wilayah ini mengusung tema Sinergi Anak Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045, yang merefleksikan semangat kolaborasi antar elemen umat dan kebangsaan dalam pembangunan nasional, khususnya di kawasan timur Indonesia.

Dalam sambutannya, Abdul Ghofar menekankan bahwa Hidayatullah hadir bukan sekadar sebagai organisasi, melainkan sebagai gerakan dakwah dan pendidikan yang menawarkan solusi konkret bagi umat dan bangsa.

“Hidayatullah hadir untuk memberikan solusi bagi umat melalui pendidikan integral dan dakwah yang mencerahkan. Dua pilar ini menjadi kunci utama dalam menyiapkan generasi unggul dan berkarakter dalam menyongsong Indonesia Emas 2045,” ujarnya di hadapan peserta Muswil dan tamu undangan.

Ia menambahkan, penguatan peran dakwah dan pendidikan di Papua Tengah harus berjalan selaras dengan nilai keindonesiaan, menjaga persatuan, serta menghormati keberagaman sosial dan kultural masyarakat setempat. Dengan demikian, kiprah Hidayatullah di Papua Tengah diharapkan mampu berkontribusi nyata dalam pembangunan manusia dan peradaban bangsa.

Ketua DPW Hidayatullah Papua Tengah, Ustadz Muhammad Hairanzi, S.Pd.I., dalam sambutannya menjelaskan bahwa Muswil I memiliki makna historis bagi perjalanan organisasi di wilayah tersebut. Setelah melalui masa perintisan selama kurang lebih tiga tahun sebagai wilayah pemekaran, Hidayatullah Papua Tengah memasuki fase konsolidasi organisasi yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.

“Setelah tiga tahun masa perintisan, Muswil ini menjadi forum untuk menetapkan arah organisasi, memilih ketua serta menyusun kepengurusan DPW Hidayatullah Papua Tengah untuk masa bakti lima tahun ke depan,” ujar Hairanzi. Ia menegaskan bahwa Muswil tidak hanya dimaknai sebagai agenda suksesi kepemimpinan, tetapi juga sebagai sarana evaluasi menyeluruh serta perumusan strategi dakwah yang lebih kontekstual dan menyentuh kebutuhan masyarakat akar rumput.

Pembukaan Muswil I juga diwarnai dengan kehadiran berbagai tokoh umat dan pimpinan organisasi Islam di Papua Tengah. Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Papua Tengah, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Papua Tengah, Sekretaris Umum Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Papua Tengah, Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Papua Tengah, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Papua Tengah, serta sejumlah tokoh masyarakat dan pimpinan lembaga Islam lainnya.

Hidayatullah, lanjut Haeranzi, menegaskan komitmennya untuk terus menjalin kerja sama dengan berbagai komponen umat dan pemangku kepentingan dalam membangun kehidupan keagamaan, sosial, dan kebangsaan di Papua Tengah.

Muswil I DPW Hidayatullah Papua Tengah dijadwalkan berlangsung selama dua hari. Agenda utama mencakup pembentukan struktur organisasi, penetapan kepemimpinan wilayah, serta perumusan program kerja strategis lima tahunan yang berfokus pada penguatan sinergi umat, dakwah pendidikan, dan pelayanan sosial bagi masyarakat Papua Tengah.

Jejak Dakwah Dua Murabbi dari Gunung Tembak ke Bumi Nyiur Melambai

0

MANADO (Hidayatullah.or.id) — Perjalanan dakwah di Indonesia tidak pernah terlepas dari keteladanan para pelaku sejarahnya. Dalam arena Musyawarah Wilayah VI Hidayatullah Sulawesi Utara yang digelar di Masjid An Nabawi Asrama Haji Kota Manado, dua sosok murabbi tampil menyampaikan kesaksian hidup yang merekam denyut panjang perjuangan dakwah.

Mereka adalah Ustadz Baharudin Bachmid dan Ustadz Heri Mulyono. Keduanya merepresentasikan generasi penggerak yang membangun dakwah dengan kesabaran, keteguhan, dan pengabdian lintas dekade.

Ustadz Baharudin Bachmid, Anggota Dewan Murobbi Hidayatullah Sulawesi Utara, menuturkan bahwa keterlibatannya di Hidayatullah dimulai sejak 1980.

Pada masa itu, ia menempuh perjalanan panjang dari Palopo, Sulawesi Selatan, menuju Balikpapan menggunakan kapal kayu, lalu melanjutkan perjalanan darat menuju Gunung Tembak. Pengalaman tersebut menjadi titik awal penggemblengan ruh dan orientasi hidupnya dalam dunia dakwah.

“Pada masa awal itu, kami dibimbing langsung oleh Ustadz Abdullah Said rahimahullah. Santri masih sangat terbatas, namun pembinaan berlangsung terus menerus, terutama melalui ibadah, kerja keras, dan keteladanan pimpinan,” ungkap Ustadz Baharudin dalam tausiahnya.

Ia menjelaskan bahwa proses tarbiyah yang dijalaninya lebih banyak berlangsung di masjid dan lapangan kehidupan. Shalat malam, kerja siang hari, serta penguatan ruhiyah menjadi fondasi yang mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan dunia.

Setelah tiga tahun ditempa di Gunung Tembak, ia ditugaskan ke Manado dengan sikap kepatuhan penuh, sebuah sikap yang menurutnya lahir dari kesadaran berjamaah.

Lebih dari empat dekade mengabdi di Sulawesi Utara, berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain hingga kini menetap di Kotamobagu, Ustadz Baharudin memaknai dakwah sebagai jalan kesabaran.

Kedekatannya dengan Al-Qur’an, yang ia baca secara rutin setiap hari, membentuk pandangan hidup yang menempatkan sabar sebagai kunci utama perjuangan. Ia mengutip firman Allah dalam Al Qur’an surah Az-Zumar ayat 10 tentang balasan tanpa batas bagi orang-orang yang bersabar, seraya berharap Allah meridhai lembaga dan barisan perjuangan ini.

Al Qur’an yang Menghadirkan Kedamaian

Sementara itu, Ustadz Heri Mulyono menyampaikan kisah hijrahnya ke Hidayatullah yang berawal dari lingkungan kerja. Ia mengenal Hidayatullah pada awal 1990-an ketika bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan kayu lapis di Kalimantan Timur.

Melalui pembinaan pengajian karyawan yang dilakukan para mubaligh Hidayatullah, ia mulai mengenal Islam secara lebih mendalam, khususnya melalui kajian tauhid.

“Ketika kami diajak berkunjung ke Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, saya merasakan ketenangan yang sulit dilukiskan. Suasana shalat berjamaah dan lantunan Al-Qur’an menghadirkan kedamaian yang menggerakkan hati,” tutur Ustadz Heri.

Pengalaman tersebut mendorongnya mengambil keputusan besar: meninggalkan karier dan berhijrah ke pesantren bersama beberapa rekan lainnya. Sejak 1997 hingga 2025, ia mengabdi di berbagai wilayah Sulawesi Utara yang berjuluk Bumi Nyiur Melambai ini, menjalani peran sebagai dai dengan kesadaran penuh bahwa dakwah adalah jalan para nabi.

Di hadapan para kader muda, Ustadz Heri menegaskan pentingnya mencintai perjuangan dakwah sebagai jalan kemuliaan. Ia mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada pencapaian materi, melainkan pada pengabdian di jalan Allah, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an tentang janji surga bagi mereka yang menyerahkan diri dan harta untuk perjuangan.

Kisah dua murabbi ini memperlihatkan wajah dakwah yang tumbuh dari kesabaran, keikhlasan, dan kesetiaan. Perjalanan mereka menegaskan bahwa dakwah adalah ikhtiar membangun manusia dan masyarakat dengan nilai tauhid, kebersamaan, dan pengabdian jangka panjang.

Pemuda Hidayatullah Galang Solidaritas Nasional untuk Korban Banjir Sumatera

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Musibah banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat masih menyisakan duka mendalam bagi masyarakat terdampak. Di tengah upaya pemulihan yang belum sepenuhnya tuntas, berbagai elemen masyarakat terus menunjukkan kepedulian sebagai wujud tanggung jawab sosial dan kebangsaan. Salah satu ikhtiar tersebut ditunjukkan oleh jaringan Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah yang bergerak secara terkoordinasi di berbagai daerah untuk menghimpun dukungan publik.

Ketua Departemen Organisasi Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah, Haniffudin Chaniago, menegaskan bahwa gerakan solidaritas tersebut dilaksanakan secara luas dan merata. Ia menyampaikan bahwa Pemuda Hidayatullah melakukan penggalangan dana di banyak titik, mulai dari Ternate, Ambon, Lombok, hingga kawasan Jabodebek.

Langkah ini terang Haniffudin dimaksudkan untuk menghimpun amanah masyarakat agar dapat disalurkan secara tepat sasaran kepada warga yang terdampak bencana.

“Kami dari keluarga besar PP Pemuda Hidayatullah menyampaikan amanah masyarakat dan kepercayaan umat, termasuk dari Palu, Sulawesi Tengah, kepada BMH untuk disalurkan dengan sebaik-baiknya guna membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah banjir dan tanah longsor,” ujar Haniffudin saat penyerahan bantuan di Kantor Laznas BMH, Jakarta Selatan, Selasa, 25 Jumadil Akhir 1447 (16/12/2025).

Ia menjelaskan bahwa gerakan tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari jejaring kebangsaan yang tumbuh dari kesadaran kolektif akan pentingnya solidaritas lintas daerah. Menurutnya, kepedulian terhadap korban bencana merupakan cerminan nilai keindonesiaan yang menempatkan kemanusiaan sebagai fondasi utama kehidupan berbangsa.

Penyaluran amanah bantuan tersebut diterima oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Dalam kesempatan itu, hadir Kepala Divisi Kemitraan BMH, Abdul Aziz Elhaqqy, didampingi oleh sekretarisnya, Ikhwanuddin. Keduanya menerima secara langsung amanah yang dihimpun dari jaringan Pemuda Hidayatullah di berbagai wilayah.

“Kami menerima amanah ini dengan penuh tanggung jawab. Kami menyampaikan terima kasih dan penghormatan kepada seluruh jaringan Pemuda Hidayatullah yang berada di garis depan kepedulian terhadap warga terdampak banjir di Aceh dan wilayah Sumatera lainnya,” tutur Abdul Aziz.

Aziz menambahkan, aksi kemanusiaan ini menegaskan bahwa kepedulian terhadap korban bencana tidak bersifat sesaat. Upaya yang terus dilakukan, jelasnya, menjadi penanda bahwa nilai persaudaraan dan kebersamaan tetap hidup di tengah masyarakat Indonesia, khususnya dalam merespons penderitaan saudara sebangsa yang terdampak bencana alam.

Musda Hidayatullah Kudus Tegaskan Ketahanan Gerakan di Tengah Perubahan Zaman

0

KUDUS (Hidayatullah.or.id) — Arahan Pengurus Harian DPW Hidayatullah Jawa Tengah, Widodo, S.Ag., M.Si., menjadi benang merah pembahasan Musyawarah Daerah (Musda) Hidayatullah Kabupaten Kudus.

Ia menegaskan bahwa ketahanan organisasi dan keberlanjutan gerakan hanya dapat dicapai oleh entitas yang mampu menjaga prinsip dasar perjuangan sekaligus menyesuaikan diri dengan dinamika zaman.

Kerangka tersebut, menurutnya, relevan bagi organisasi dakwah yang berkhidmat di tengah masyarakat Indonesia yang terus berubah secara sosial, budaya, dan struktural.

Musda Hidayatullah Kabupaten Kudus digelar di Aula Utama Hidayatullah Kudus pada Sabtu, 22 Jumadil Akhir 1447 (13/12/2025). Forum ini menjadi ruang konsolidasi strategis untuk menentukan arah kepemimpinan dan prioritas gerakan lima tahun ke depan.

Musda dihadiri Dewan Pengurus Daerah, unsur Dewan Pengurus Cabang, organisasi otonom, Pemuda, dan Mushida sebagai representasi struktur serta basis gerakan Hidayatullah di tingkat lokal.

Widodo hadir sebagai pendamping Musda gabungan pengurus cabang Hidayatullah Kudus. Dalam arahannya, ia mendorong penguatan khidmat sosial melalui dakwah dan tarbiyah yang berkesinambungan. Ia menekankan pentingnya konsistensi pelayanan umat sebagai wujud kontribusi nyata gerakan Islam dalam konteks keindonesiaan.

Widodo juga mengingatkan agar organisasi tidak terjebak pada stagnasi pemikiran, termasuk narasi yang dikenal sebagai teori kuda mati. Ia menilai pelabelan tersebut tidak tepat secara analitis karena menggambarkan organisasi yang kehilangan daya hidup dan berhenti melakukan pembaruan. Menurutnya, karakter tersebut tidak mencerminkan kondisi Hidayatullah.

“Hidayatullah justru menunjukkan fakta sebaliknya. Kaderisasi terus berlangsung, nilai inti terjaga, dan strategi dakwah mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitas,” ujar Widodo dalam forum tersebut.

Ia menambahkan, keberlanjutan organisasi ideologis tidak ditentukan oleh popularitas jangka pendek, melainkan oleh kesinambungan nilai, sistem kaderisasi, dan kemampuan membaca konteks zaman.

Dalam kerangka itu, Bendahara Wilayah Hidayatullah Jawa Tengah ini menegaskan bahwa Hidayatullah bergerak secara konsisten membangun manusia dan jejaring sosial sebagai fondasi dakwah jangka panjang.

Musda ini diikuti unsur pimpinan cabang dari Jati, Kaliwungu, Gebog, Bae, dan Jekulo. Cabang Jekulo ditunjuk untuk menyampaikan pandangan umum cabang, yang menyoroti pentingnya penguatan kaderisasi serta soliditas struktur di tingkat basis sebagai prasyarat keberlanjutan organisasi.

Selain pandangan cabang, forum juga mendengarkan pandangan umum dari satu unit dan satu Muslimat Hidayatullah (Mushida). Keduanya menegaskan urgensi sinergi lintas unit serta penguatan peran perempuan sebagai bagian integral dari keberlanjutan gerakan dakwah dan sosial Hidayatullah.

Secara kolektif, pandangan umum Musda menempatkan lima tahun ke depan sebagai fase krusial konsolidasi dan transformasi. Prioritas diarahkan pada penguatan tarbiyah dan kaderisasi, pembenahan tata kelola organisasi yang profesional dan transparan, penguatan kemandirian ekonomi umat, peningkatan mutu pendidikan dan literasi, serta penguatan peran sosial-kemanusiaan sebagai wujud kehadiran organisasi di tengah masyarakat.

Forum Musda juga menerima laporan pertanggungjawaban pengurus DPD Hidayatullah Kudus periode 2020–2025 dengan penilaian sangat baik. Secara aklamasi, Musda menetapkan Ustadz Achmad Machbub untuk melanjutkan kepemimpinan sebagai Ketua DPD Hidayatullah Kudus.

Dalam sambutan perdananya, Achmad menyatakan komitmen melanjutkan program keumatan yang telah berjalan, menyempurnakan agenda yang belum optimal, serta menjadikan kaderisasi dakwah sebagai poros utama gerak organisasi lima tahun ke depan.