Beranda blog Halaman 38

Mengapa Kaderisasi Diperlukan?

0

KATA ‘kader’, berdasarkan penjelasan KBBI, berarti orang yang disiapkan untuk tugas tertentu. Awalnya kata ‘kader’ digunakan di bidang militer. Akan tetapi seiring waktu, kata ‘kader’ digunakan pula untuk bidang lain semisal organisasi.

Dari kata ‘kader’, lahirlah kata ‘kaderisasi’. Maknanya proses mengantarkan seseorang menjadi kader sehingga siap mengemban satu tugas khusus. Proses yang dimaksud mencakup proses makro dan mikro. Proses makronya berkaitan dengan sistem, sementara mikronya berkaitan dengan kegiatan praktis.

Kaderisasi dinilai penting oleh banyak pihak. Karena kaderisasi merupakan jalan utama untuk menyediakan kader-kader masa depan. Sehingga organisasi bisa terus berlanjut.

Di sisi lain, jika diperdalam dengan berbagai perspektif, akan ditemukan berbagai keuntungan kaderisasi. Bahwa keberlanjutan organisasi hanya salah satu keuntungan. Berikut penjelasannya.

Perspektif Pengkader

Kaderisasi merupakan jalan mengantarkan seseorang menjadi kader. Dalam kaderisasi, sosok pengkader (murabbi, instruktur, coach, mentor) penting. Jasanya tidak bisa dianggap remeh.

Oleh karena itu wajar jika sosok pengkader diprioritaskan mendapatkan doa dari para kader, selaras dengan Al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat 10, “Wahai Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, serta janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.”

Pengkader yang mengerti perspektif ini akan berikhtiar sepenuh hati dalam melaksanakan aktivitas kaderisasi. Pengkader akan sungguh-sungguh mempersiapkan dan menjalankan aktivitas-aktivitas kaderisasi.

Pengkader juga bersedia mengembangkan diri agar kader terlayani kebutuhannya terutama ruhiyah dan aqliyahnya. Rasa sakit dan kecewa yang sesekali mencubit hatinya akan diadukan kepada Allah ta’ala agar diobati.

Dalam konteks mutakhir, pengkader terlihat beradaptasi dengan perkembangan era digital. Media sosial diorientasikan ke hal-hal positif. Kecepatan pengetahuan ditindaklanjuti dengan membangun mudzakarah (diskusi) sebagai bagian dari kaderisasi.

Intinya pengkader tidak berhenti agar kaderisasi terus bergerak. Apapun dilakukan. Harapan utamanya satu, agar doa-doa para kader senantiasa dilangitkan untuknya.

Perspektif Kader

Kaderisasi mengantarkan seseorang untuk memiliki mentalitas kekaderan tertentu. Dalam perjalanannya, yang kadang memerlukan waktu panjang, sang kader menjalani begitu banyak aktivitas. Tidak jarang aktivitas-aktivitas tersebut memberikan dampak positif yang luar biasa, di samping membangun mentalitas kekaderan sebagaimana telah dirancang sebelumnya.

Misalkan kader mengalami pengembangan pemikiran. Kader jadi lebih pintar dan taktis. Selain itu jaringan pertemanan kader juga berpotensi lebih luas. Dampak berikutnya terciptalah peluang ekonomi dan proteksi. Antarkader saling bekerja sama dalam aktivitas ekonomi.

Antarkader juga saling proteksi dalam permasalahan sosial dan musibah. Kunjungan ke kader ketika sakit atau gotong-royong membantu mengatasi musibah kader merupakan aktivitas yang biasa terjadi di suatu organisasi.

Dalam hal ini organisasi perlu memilah dan memilih aktivitas-aktivitas untuk para kader, aktivitas buruk dibuang sedangkan aktivitas baik disuburkan. Kondusivitas dijaga, rivalitas antarkader diminimalkan sedangkan sinergi ditumbuhsuburkan, sebagaimana doa yang diajarkan dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat 10, “…serta janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman.”

Perspektif Kehidupan Sosial

Pengkader yang ikhlas dan penuh semangat dan kader yang kapasitasnya terus tumbuh, keduanya membangun atmosfer progresif di masyarakat. Keduanya mempraktikkan perikehidupan Islami, bahkan menginspirasikannya kepada lingkungan sekitar. Semakin luas dampak keduanya, semakin aman serta nyaman situasi sosial. Berbagai patologis sosial berkurang.

Dari lingkungan seperti ini potensi-potensi terbaik bisa tumbuh dengan maksimal. Minat dan bakat mereka terasah. Cita-cita dan harapan dapat dicapai dengan relatif lebih mudah.
Berikutnya, potensi-potensi yang tumbuh ini memungkinkan untuk membangun kultur sosial budaya dan politik yang berkeadilan, sebagai landasan membangun kesejahteraan. Jiwa dan raga sehat. Lingkungan hidup terdampak, sehingga potensi kebencanaan jauh berkurang.

Dalam hal ini pengkader dan kader perlu saling dukung. Agar reaksi masyarakat dapat dihadapi dengan baik. Dalam sirah nabawiyah, ditemukan sepenggal kisah penolakan dakwah. Kejadiannya di Mekkah. Ditemukan juga sepenggal kisah penerimaan dakwah. Tempatnya di Madinah. Di dua tempat tersebut Rasulullah shallallah ‘alaih wa sallam dan para sahabat terus sinergi, ta’awun. Saat ditolak, dakwah terus bertahan. Saat diterima, dakwah bertumbuh pesat.

Perspektif Keilmuan

Setiap organisasi memiliki karakteristiknya masing-masing. Begitu pula corak bahkan struktur pemikirannya, satu organisasi dengan yang lainnya bisa sangat berbeda. Ada potensi konflik karena perbedaan ini, tapi juga potensi ilmiah.

Ambil misal ada lima organisasi, maka ada lima corak pemikiran. Bila kemudian kelima corak pemikiran ini dipadupandankan, akan dihasilkan banyak corak pemikiran baru. Maka kader generasi berikutnya memiliki peluang pengembangan ilmiah yang sangat kaya. Tinggal perspektif yang ditumbuhsuburkan oleh pengkader, apakah potensi konflik atau sebaliknya.

Bila melihat sejarah keilmuan Islam, didapatkan kisah menarik terkait madzhab Syafi’i. Bahwa sebelumnya ada dua corak pemikiran utama, atsari dan ra’yi. Kedua corak pemikiran ini dilebur oleh Imam Syafi’i rahimahullah. Alhasil hingga saat ini, bisa dikatakan sebaran madzhab Syafi’i paling luas dibanding lainnya.

Dalam hal ini organisasi-organisasi diharapkan berkenan menuliskan struktur pemikirannya. Selain itu hendaklah antarorganisasi tergerak saling kunjung dan belajar. Agar kader berikutnya berkesempatan mendulang khazanah pemikiran organisasi yang kaya. Dengan kekayaan khazanah ini, semoga kebijaksanaan kader berikutnya berkembang pesat.

Perspektif Sinergi Antarorganisasi

Satu organisasi memusatkan perhatiannya pada satu atau beberapa bidang gerak saja. Demikian pula organisasi lainnya. Sulit sekali menemukan satu organisasi yang melayani semua bidang. Bagaimanapun ada keterbatasan ruang gerak organisasi, tidak seperti negara yang memiliki otoritas berdasarkan konstitusi.

Dengan bidang yang berbeda-beda itu, sikap yang bisa ditampilkan adalah sinergi antarorganisasi. Dengan sinergi semoga layanan kepada masyarakat akan maksimal. Potensi masyarakat untuk mencintai organisasi-organisasi meningkat.

Memang tidak mudah menjalin sinergi antarorganisasi. Mungkin hanya satu dua organisasi yang bisa sinergi, itupun bersifat insidentil. Akan tetapi seperti demikian tidak masalah. Semoga peluang sinergi yang lebih besar bisa didapatkan dari sinergi yang relatif kecil tersebut.

Dalam hal ini kaderisasi perlu dirancang agar kader memiliki kapasitas di bidang gerak organisasi. Kapasitas ini mencakup soft-skill dan hard-skill. Sehingga organisasi memiliki kemampuan maksimal dalam menjalankan berbagai program di bidang geraknya. Alhasil kepercayaan publik kepada organisasi meningkat, positioning-nya menguat.

Kader yang cakap dan positioning organisasi yang kuat merupakan modal besar organisasi dalam sinergi setara. Tidak ada ada hubungan menang-kalah. Adanya menang-menang.
Hal ini penting sebagai implementasi Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 2, “Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa. Serta janganlah tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”

Sinergi dapat dilakukan saat kader belum cakap dan positioning organisasi masih lemah. Akan tetapi peluang sinergi setara kecil. Oleh karena itu, sebagaimana telah disampaikan, kaderisasi perlu diorientasikan pada pembangunan soft-skill dan hard-skill secara simultan. Kesenjangan antara kedua skil dapat berakibat lambatnya gerak organisasi. Jika pun melaju, gerak organisasi kurang berkualitas.

Semoga dengan lima perspektif yang telah diuraikan, pengkader dan kader sama-sama bersemangat dalam aktivitas kaderisasi. Manfaatnya luas. Pahalanya tidak terbatas. Apalagi akan senantiasa ada pertolongan Allah ta’ala dalam setiap mujahadah kebaikan, termasuk di dalamnya kaderisasi, sebagaimana Al-Qur’an surat Al-‘Ankabut ayat 69:

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari ridha Kami (Allah), benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”

Wallah a’lam.

*) Fu’ad Fahrudin, penulis Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah

Penguatan Organisasi Tak Terpisahkan dari Kepedulian Sosial dan Tanggung Jawab Kebangsaan

0

PEKANBARU (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Wilayah (Muswil) Hidayatullah VI Riau diselenggarakan di tengah suasana keprihatinan nasional akibat bencana di Pulau Sumatera. Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Drs. Wahyu Rahman, S.E., M.E., menyebut kondisi tersebut memberi konteks reflektif bahwa penguatan organisasi tidak dapat dipisahkan dari kepedulian sosial dan tanggung jawab kebangsaan.

“Dalam kerangka keislaman dan keindonesiaan, kita menjadikan musyawarah ini sebagai ikhtiar kolektif untuk menjaga keberlanjutan dakwah sekaligus berkontribusi bagi masyarakat,” kata Wahyu dalam keterangannya.

Muswil Hidayatullah Provinsi Riau telah dilaksanakan sebagai bagian dari agenda lima tahunan organisasi dalam rangka konsolidasi kepemimpinan dan penguatan arah gerakan.

Kegiatan ini berlangsung pada 20–21 Desember 2025 di Aula Serbaguna Kantor Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Riau, Pekanbaru, dengan melibatkan unsur Dewan Pengurus Pusat, Dewan Pengurus Wilayah, Dewan Musyawarah Wilayah, Dewan Pengurus Daerah, pengurus Kampus Madya, organisasi pendukung seperti Pemuda dan Muslimat, serta perwakilan amal usaha tingkat wilayah.

Arahan strategis disampaikan Wahyu Rahman sekaligus menutup Muswil VI secara resmi. Ia menegaskan bahwa musyawarah wilayah tidak semata-mata agenda penetapan struktur kepengurusan, melainkan momentum penguatan nilai kepemimpinan sebagai amanah.

“Kepemimpinan itu amanah. Jika kepemimpinan dijalankan atas dasar takwa, maka Allah akan terlibat dalam seluruh prosesnya,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya kesamaan visi di antara kader serta proses pemilihan kepemimpinan yang berlandaskan kapasitas dan komitme. Menurutnya, kemandirian organisasi menjadi prasyarat agar gerakan dapat berjalan lebih kuat dan berdaya dukung tinggi terhadap agenda dakwah dan sosial.

Muswil VI Hidayatullah Riau kemudian menetapkan kepengurusan baru DPW dan DMW untuk periode selanjutnya. Penetapan tersebut diharapkan menjadi titik awal penguatan kepemimpinan, kemandirian ekonomi, dan konsistensi dakwah yang selaras dengan nilai-nilai Islam serta semangat kebangsaan Indonesia menuju masa depan yang berkeadaban.

Ketua DPW Hidayatullah Riau periode 2025-2030 teramanahi, Suheri Abdullah, menyampaikan apresiasi atas antusiasme peserta selama forum ini berlangsung khususnya pada sesi gelar wicara kewirausahaan. Ia menegaskan bahwa kesejahteraan keluarga kader memiliki implikasi langsung terhadap efektivitas gerakan.

“Jika keluarga kader dan anggota berada dalam kondisi yang sejahtera, maka organisasi akan lebih ringan dalam menjalankan program-programnya,” ujarnya.

Menurutnya, talk show kewirausahaan dihadirkan untuk membuka wawasan, menumbuhkan keberanian berusaha, serta memperkuat ketahanan ekonomi agar aktivitas dakwah dapat berjalan secara berkesinambungan.

Suheri menekankan agar kepengurusan DPW Hidayatullah Riau ke depan memberi perhatian lebih pada kesejahteraan kader. Hal tersebut dapat ditempuh melalui pembukaan peluang usaha, baik bersifat personal maupun kolektif, sebagai upaya memperkokoh ekonomi keluarga dan organisasi.

‘Iqra Bismirabbik’ sebagai Fondasi Gerakan Literasi dan Dakwah

0

USTADZ Abdullah Said memang sosok yang tak biasa. Usia belia, terutama kala duduk di PGAN 6 Tahun Makassar, sebagian uang tunjangannya dimanfaatkan untuk membeli buku. Lokus favoritnya adalah toko buku. Wisatanya adalah ke toko buku. Ia pun tak main asal beli, ia melakukan riset lebih awal, sehingga benar-benar yakin ia perlu buku untuk dibeli. (Buku Mencetak Kader, hal: 13).

Manusia seluruh dunia memahami bahwa membaca adalah aktivitas penting. Terutama jika seseorang ingin secara efektif memperoleh ilmu dan pengetahuan. Jadi, kalau ada anak muda jauh dari aktivitas membaca, ia sama dengan sedang membuat eksistensinya menjadi kurang atau bahkan tidak penting.

Sebab membaca melibatkan proses berpikir untuk memahami konten yang tersaji dalam setiap teks bacaan, terutama buku. Lebih dari apapun, membaca adalah perintah Allah SWT yang pertama kepada Nabi Muhammad SAW dan tentu saja kepada kita.

Tapi membaca saja tidak cukup. Butuh landasan esensial. Abdullah Said pun bertemu dengan ayat Alquran: “Iqra’ Bismirabbik”.

Makna Iqra’ Bismirabbik

Sebagian pendapat kita dapat temukan dengan mudah, bahwa Iqra’ artinya menghimpun. Jadi membaca idealnya menghasilkan “himpunan” data yang bisa kita olah. Dengan adanya diksi “Bismirabbik” arahnya jelas, kita mesti membaca yang membuat hati yakin kepada Rabb (Allah SWT).

Apa yang kita himpun itu? Bisa bongkahan ilmu dari literatur, karena kita sudah dalam era modern. Bisa pula berupa bongkahan emas pemahaman, ilmu dan hikmah, dalam arti membaca alam, memperhatikan alam dan seluruh objek dalam hidup yang mungkin untuk kita baca.

Selain itu Iqra’ Bismirabbik tidak menetapkan objek tertentu, maka membaca dalam konteks ini bisa sangat luas sekali.

Syekh Ibnu ‘Asyur berpandangan bahwa ada dua alasan penting mengapa objeknya sengaja Allah “kosongkan” (Muhammad At-Thahir ‘Asyur, At-Tahrir wat Tanwir).

Pertama, meminjam bahasa anak Gen-Z supaya kita langsung nangkap bahwa ayat itu targetnya “kita punya vibe yang “Just Do It”.

Di sini, kata “Bacalah” itu berfungsi kayak action murni. Maksudnya, Allah cuma pengen bilang: “Wujudkanlah budaya membaca!”

Prinsipnya jelas, kita harus mulai baca, titik. Tidak harus pilih-pilih dulu, yang penting bangun dulu kebiasaan literasinya. Gemar membaca.

Kedua, dalam tinjauan semantik, penghapusan objek (maf’ul bih) pada kata “Iqra” dapat dipahami melalui pendekatan konteks situasi atau elipsis.

Alasan kedua yang dikemukakan oleh Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa objek dari perintah tersebut sebenarnya sudah bersifat implisit karena kejelasan konteksnya.

Hal ini dapat dianalogikan secara sederhana dalam komunikasi sehari-hari: ketika seseorang berada tepat di hadapan sebuah minuman dan diperintahkan untuk “Minum!”, maka secara logika bahasa, tidak perlu lagi ditegaskan bahwa objek yang harus diminum adalah minuman tersebut.

Dalam konteks turunnya wahyu, perintah ini mengandung pesan spesifik: “Bacalah apa yang akan Kami sampaikan kepadamu, yakni ayat-ayat Al-Qur’an.”

Dengan demikian, meskipun objeknya tidak disebutkan secara eksplisit dalam teks, maksud tujuannya sudah terdefinisi secara jelas oleh konteks kenabian.

Singkatnya lagi, kitab Syekh Musthafa Al-Maraghi menafsirkan Surat Al-‘Alaq ayat pertama dengan: “Jadilah orang yang mampu membaca dengan kekuasaan Allah yang menciptakanmu dan menghendaki setelah engkau tidak dapat melakukan itu.

Sesungguhnya Muhammad saw tidak dapat membaca dan menulis. Perintah ilahi datang supaya Muhammad dapat membaca, sekalipun tidak dapat menulis. Allah akan memberikan kitab kepadanya untuk ia bacakan, meskipun ia tak dapat menulisnya.” (Tafsir Al-Maraghi).

Penguatan Intuisi

Iqra’ Bismirabbik mengantar Abdullah Said pada satu pemahaman penting, bahwa semestinya umat Islam tidak mengabaikan karunia Allah yang begitu besar, yakni intuisi.

Selama ini dunia pendidikan terjebak pada dua area saja dalam tubuh manusia, otak dan otot semata. Intuisi tidak mendapat perhatian mendalam.

“Padahal ia nyata-nyata eksis, bahkan bila ditempa, kehebatannya sering mengherankan. Orang mengistilahkan dengan indera keenam, kesepuluh, dan sebagainya.” (Buku Mencetak Kader, hal: 183).

Pemahaman itulah yang kemudian menemukan metode bagaimana iman meneguhkan ilmu sekaligus melahirkan semangat beramal.

“Allah yang di Balikpapan sama dengan Allah yang di Papua.” Begitu kalimat yang menguatkan langkah kaki murid-murid Abdullah Said ketika mendapat tugas dakwah, membuka pesantren baru di berbagai daerah.

Saya sendiri pernah bertemu Ust. Asdar Hambal di Manokwari. Beliau bertutur, ketika mendapat tugas dan semua yang akan tugas disalami oleh Ust. Abdullah Said. Sembari memegang tangan Asdar, Ust. Abdullah Said berpesan, “Ajari saja orang di sana mengaji. Istilah beliau “Alif-alifan”.

Jadi, membaca satu ayat, Iqra’ Bismirabbik, membuat begitu banyak kader-kader Hidayatullah yang penuh keterbatasan, yakin kepada Allah. Tanpa modal uang, bahkan tanpa petunjuk alamat yang jelas, semua yang berangkat, akhirnya meraih capaian besar bagi umat. Kini Pesantren Hidayatullah eksis dari Aceh sampai Papua.

Namun, meski telah selesai satu periode setengah abad pertama, kita masih punya tugas untuk satu periode setengah abad kedua perjalanan Hidayatullah. Pertanyaannya sederhana, bagaimana Iqra’ Bismirabbik ini akan kita formulasikan sebagai gelombang dahsyat untuk memenangkan dakwah.

Inilah yang harus kita rumuskan, agar tak mudah lelah, tak gampang ciut dan tetap mengerucut, menggapai visi “Membangun Peradaban Islam”.

*) Mas Imam Nawawi, pegiat literasi Hidayatullah

Muslimpreneur Talk Muswil Hidayatullah Riau Dorong Penguatan Kemandirian Ekonomi

0

PEKANBARU (Hidayatullah.or.id) — Pembukaan Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Hidayatullah Provinsi Riau berlangsung semarak dengan agenda gelar wicara bertajuk Muslimpreneur Talk, Sabtu, 29 Jumadil Akhir 1447 (20/12/2025).

Talkshow ini mengangkat tema “Berani Berbisnis: Kuatkan Ekonomi Keluarga dan Organisasi, Mandiri Finansial Maksimal dalam Beramal”, sebagai bagian dari ikhtiar penguatan kemandirian ekonomi kader, lembaga, dan umat secara luas.

Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber dengan latar belakang keilmuan dan pengalaman berbeda. Pemateri pertama, Drs. Wahyu Rahman, S.E., M.E., Ketua Bidang Ekonomi Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, memaparkan perspektif konseptual tentang pentingnya jiwa kewirausahaan.

Narasumber kedua, Ashari, praktisi bisnis properti dan pengelola middle kost, menyampaikan pengalaman empirisnya sebagai pelaku usaha. Diskusi dipandu oleh Rizky Hidayat, S.Sos., M.Pd., yang mengarahkan dialog secara sistematis dan interaktif.

Dalam paparannya, Wahyu Rahman menekankan bahwa fondasi utama dalam berbisnis adalah pembentukan mindset yang tepat. Menurutnya, orientasi niat menjadi penentu lahirnya semangat dan ketekunan dalam dunia usaha.

“Hal yang paling mendasar dalam berbisnis adalah membangun jiwa bisnis yang benar. Ketika niatnya baik, maka energi untuk berusaha akan tumbuh dengan sendirinya,” ujarnya.

Ia mengaitkan hal tersebut dengan teladan Rasulullah SAW yang sejak usia muda telah menapaki dunia usaha hingga menjelang masa kerasulan, serta para sahabat yang dikenal memiliki kemandirian ekonomi.

Lebih lanjut, Wahyu Rahman menjelaskan bahwa lembaga yang dikelola dengan pendekatan manajemen bisnis berpeluang memberikan kontribusi berkelanjutan bagi organisasi. Ia menegaskan bahwa tidak semua orang harus menjadi pebisnis, namun setiap kader perlu memiliki karakter kewirausahaan.

“Jiwa pebisnis itu mencakup kemandirian, disiplin, kegigihan, inovasi, dan kepedulian. Nilai-nilai ini penting untuk menopang kerja organisasi,” katanya.

Pada sesi penutup, Wahyu Rahman menyoroti pentingnya ketahanan mental dalam berwirausaha. Ia menegaskan bahwa orientasi bisnis yang sehat adalah menghadirkan manfaat dan kebahagiaan bagi orang lain.

“Mental pebisnis itu senang melihat orang lain bahagia. Prinsip ini harus tercermin dalam cara kita berusaha dan berinteraksi,” tuturnya, seraya menambahkan bahwa keselarasan antara minat usaha dan penampilan profesional juga menjadi bagian dari etos kerja.

Sementara itu, Ashari menyampaikan pandangannya dari sudut praktisi. Ia mengawali dengan menegaskan bahwa dunia usaha sarat dengan ketidakpastian dan dinamika. “Bisnis adalah ruang yang penuh fluktuasi. Setiap keputusan membawa risiko, tetapi di situlah proses pembelajaran berlangsung,” ujarnya.

Pengalamannya membangun usaha properti, termasuk pengelolaan hunian kost eksekutif, menjadi gambaran konkret tentang tantangan dan peluang yang dihadapi pelaku usaha.

Ashari menekankan bahwa keberlanjutan organisasi memerlukan diversifikasi sumber pendanaan. Menurutnya, ketergantungan pada donasi semata perlu dilengkapi dengan unit usaha yang dikelola secara profesional.

“Sumber pemasukan organisasi idealnya tidak hanya bertumpu pada donasi. Basis usaha perlu diperkuat, dan manajemennya harus dipertajam agar berkelanjutan,” katanya, seraya menyebut bahwa langkah-langkah awal telah dilakukan dan memerlukan penguatan sistem.

Di akhir sesi, moderator Rizky merangkum diskusi dengan mengajak kader dan anggota Hidayatullah Riau untuk menumbuhkan semangat berwirausaha sebagai bagian dari sunnah Rasulullah SAW.

“Kemandirian finansial sebagai penopang peningkatan kualitas amal dan kontribusi sosial, sejalan dengan tujuan penguatan ekonomi keluarga dan organisasi dalam bingkai Muswil,” kata Ketua Departemen Dakwah dan Pelayanan Umat DPW Hidayatullah Riau periode 2025-2030 tersebut menutup forum temu wicara itu.

Silaturrahim Hidayatullah dan Pemerintah Daerah Tolitoli Menyongsong Agenda Regional

0

TOLITOLI (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kabupaten Tolitoli melaksanakan silaturahmi dan audiensi dengan Bupati serta Wakil Bupati Kabupaten Tolitoli pada Kamis, 27 Jumadil Akhir 1447 (18/12/2025).

Pertemuan yang berlangsung di rumah jabatan Bupati Tolitoli tersebut menjadi ruang komunikasi untuk menyampaikan agenda strategis organisasi sekaligus memperkuat hubungan kelembagaan antara Hidayatullah dan pemerintah daerah.

Dalam audiensi tersebut, Ketua DPD Hidayatullah Tolitoli, Kaspul Anwar, menyampaikan rencana pelaksanaan Rapat Kerja Daerah Gabungan Hidayatullah se-Sulawesi Tengah yang dijadwalkan berlangsung pada 26 Desember 2025. Kabupaten Tolitoli ditetapkan sebagai tuan rumah kegiatan regional tersebut.

Kaspul menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan dan menekankan pentingnya dukungan lintas sektor dalam menyukseskan agenda organisasi yang melibatkan peserta dari berbagai daerah di Sulawesi Tengah.

“Alhamdulillah, Tolitoli mendapat amanah sebagai tuan rumah Rakerda Gabungan. Untuk memastikan kegiatan ini berjalan dengan baik, tentu diperlukan sinergi dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah,” ujar Kaspul Anwar dalam pertemuan tersebut.

Pada kesempatan yang sama, DPD Hidayatullah Tolitoli secara resmi mengajukan permohonan kepada Bupati Tolitoli agar berkenan membuka langsung kegiatan Rakerda Gabungan. Permohonan tersebut disampaikan sebagai bentuk penghormatan kepada pemerintah daerah sekaligus penguatan kolaborasi antara organisasi kemasyarakatan dan pemangku kebijakan setempat.

Ustadz Kaspul Anwar juga menyampaikan latar belakangnya sebagai alumni Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, yang menegaskan keterikatannya dengan tradisi kaderisasi dan pengabdian sosial Hidayatullah.

Selain membahas Rakerda Gabungan, terang Kaspul, audiensi tersebut juga dimanfaatkan untuk menjajaki kerja sama lanjutan antara Hidayatullah dan Pemerintah Kabupaten Tolitoli. Di antaranya adalah rencana pelaksanaan Musyawarah Daerah dan Tabligh Akbar, serta berbagai kegiatan sosial dan keagamaan yang melibatkan masyarakat luas.

Menanggapi paparan tersebut, Bupati Tolitoli, H. Amran Hi. Yahya, mengatakan menyambut baik agenda tersebut. Ia menyampaikan sikap terbuka dan dukungan terhadap kegiatan masyarakat yang berorientasi pada kemaslahatan publik.

Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah pada prinsipnya memberikan ruang bagi kegiatan sosial dan keagamaan yang membawa dampak positif bagi kehidupan masyarakat.

“Pada prinsipnya, kami mendukung setiap kegiatan masyarakat selama itu membawa manfaat dan kemaslahatan bagi masyarakat Tolitoli,” ujar Bupati Tolitoli dalam audiensi tersebut.

Salah satu agenda utama dalam rangkaian Rakerda Gabungan adalah pelaksanaan Tabligh Akbar yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 26 Desember 2025, di Masjid Agung Al Mubarok Tolitoli. Kegiatan ini direncanakan menghadirkan KH. Naspi Arsyad selaku Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah.

Ketua Panitia Tabligh Akbar, Alif Fian, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang perjumpaan sosial dan spiritual masyarakat Tolitoli. “Tabligh Akbar ini diharapkan menjadi sarana untuk mempererat persaudaraan, menumbuhkan kebersamaan, dan menguatkan semangat keislaman di tengah masyarakat,” ujarnya.

Melalui komunikasi dan sinergi antara DPD Hidayatullah Tolitoli dan pemerintah daerah, sambung dia, seluruh rangkaian kegiatan Rakerda Gabungan Sulawesi Tengah dan Tabligh Akbar diharapkan dapat terlaksana secara tertib dan terkoordinasi.

“Upaya ini menjadi bagian dari penguatan peran organisasi kemasyarakatan dalam pembangunan sosial-keagamaan di tingkat daerah,” tandasnya.

Memulai Amanah Baru dengan Peneguhan Nilai Keilmuan dan Keindonesiaan

0

NABIRE (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Abdul Ghofar Hadi, menempatkan pesan pokok bahwa iman dan amanah tidak dapat berdiri sendiri tanpa landasan ilmu. Pesan ini menjadi garis besar refleksi penutup Musyawarah Wilayah (Muswil), sekaligus arah moral bagi kepengurusan baru di wilayah Papua Tengah.

Musyawarah Wilayah I Hidayatullah Papua Tengah yang berlangsung selama dua hari ini resmi ditutup dengan penegasan pentingnya integritas kepemimpinan kader.

Muswil I dilaksanakan melalui mekanisme syura yang khidmat dan terstruktur dalam empat sidang paripurna. Forum ini menghasilkan keputusan dengan terpilihnya Hairanzi sebagai Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Papua Tengah untuk masa amanah lima tahun ke depan. Prosesi pelantikan ketua terpilih beserta jajaran pengurus dilakukan langsung oleh Abdul Ghofar Hadi sebagai representasi Dewan Pengurus Pusat.

Dalam pidato perdananya setelah pelantikan, Hairanzi menyampaikan kesadaran penuh atas tanggung jawab besar yang diemban, terlebih Papua Tengah merupakan provinsi baru dengan tantangan dakwah dan pembangunan yang khas.

Ia menegaskan komitmen untuk mengoptimalkan seluruh potensi pengurus dan kader dengan menumbuhkan kultur berjamaah sebagai sumber kekuatan organisasi.

“Amanah yang diberikan kepada kami sangat berat, namun kami akan terus berusaha memaksimalkan seluruh potensi pengurus dan kader DPW Hidayatullah Papua Tengah. Dengan semangat kultur berjamaah, kita akan mendapatkan energi dan kekuatan untuk menyukseskan program mainstream organisasi, yaitu dakwah dan pendidikan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan harapan agar Dewan Pengurus Pusat terus memberikan arahan, nasihat, serta pendampingan, sehingga roda organisasi di wilayah dapat berjalan konsisten dan terarah dalam menjalankan program-program strategis.

Pesan penguatan juga disampaikan oleh Anggota Murobbi Papua Tengah, Ustadz Hasanuddin. Ia menekankan bahwa jabatan kepengurusan bukan sekadar struktur administratif, melainkan janji suci yang diikrarkan di hadapan Allah. Menurutnya, amanah tersebut mengandung tanggung jawab untuk menjadi pribadi yang tercerahkan sekaligus mencerahkan masyarakat melalui manhaj perjuangan Hidayatullah.

“Ini adalah amanah sesuai janji yang diucapkan dalam pelantikan di hadapan Allah. Kita semua harus tercerahkan dan mencerahkan masyarakat dengan Manhaj Hidayatullah,” tuturnya.

Pentingnya Menjaga Amanah

Dalam sambutan penutup, Abdul Ghofar Hadi menguatkan dimensi teologis dan etis kepemimpinan dengan mengutip hadis, “Laa iimaana liman laa amaanata lahu, wa laa diina liman laa ‘ahdalahu.”

Lafaz tersebut adalah sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang berarti “Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak bisa dipercaya (amanah), dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janjinya”.

Ia menjelaskan bahwa iman berkorelasi langsung dengan amanah karena keimanan melahirkan kesadaran akan pertanggung jawaban dunia dan akhirat.

“Kenapa iman dikaitkan dengan amanah? Karena dengan iman, seseorang percaya kepada Allah, akhirat, dan adanya dosa. Ia sadar bahwa amanah ini akan dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa lawan dari amanah adalah khianat yang menjadi ciri kemunafikan. Karena itu, ia berpesan agar iman dan amanah senantiasa dibarengi dengan ilmu sebagai penuntun dalam mengambil keputusan dan menjalankan program.

Pesan tersebut ditutup dengan ajakan untuk menghadirkan Hidayatullah di tengah masyarakat Papua Tengah sebagai Islam rahmatan lil ‘alamin melalui kerja nyata di bidang pendidikan, dakwah, sosial, dan ekonomi.

“Dengan berakhirnya Muswil I tahun 2025, DPW Hidayatullah Papua Tengah dinyatakan siap memulai langkah pengabdian baru di Bumi Gerbang Cendrawasih, membawa semangat penguatan iman, amanah, dan ilmu dalam konteks keindonesiaan dan pembangunan umat,” tutupnya.

Hidayatullah Sumatera Barat Perkuat Arah Dakwah dan Pelayanan Umat

0

PADANG (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Wilayah (Muswil) III Hidayatullah Sumatera Barat yang berlangsung pada 26–27 Jumadil Akhirah 1447 (17–18/12/2025) di Balai Diklat Kota Padang secara resmi menetapkan kepengurusan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sumatera Barat periode 2025–2030.

Forum musyawarah ini menjadi momentum konsolidasi organisasi dalam meneguhkan arah dakwah, pendidikan, dan pelayanan umat di tingkat regional.

Muswil III mengusung tema “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045”. Tema tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi seluruh elemen masyarakat dalam membangun fondasi peradaban yang berakar pada nilai-nilai Islam dan kebangsaan.

Kegiatan ini dihadiri oleh Iwan Abdullah, M.Si, selaku pendamping dari Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, yang memberikan arahan strategis serta penguatan visi organisasi.

Dalam arahannya, Iwan Abdullah menekankan bahwa gerakan Hidayatullah perlu terus memperluas sinergi dengan berbagai unsur masyarakat sebagai bagian dari ikhtiar membangun peradaban Islam yang inklusif dan berkelanjutan.

“Hidayatullah tidak berdiri untuk dirinya sendiri, tetapi hadir sebagai bagian dari umat dan bangsa. Karena itu, sinergi dengan seluruh elemen masyarakat merupakan kebutuhan strategis, bukan sekadar pilihan,” ujar Iwan Abdullah.

Ia menambahkan bahwa peradaban Islam hanya dapat tumbuh kuat apabila ditopang oleh kolaborasi, keteladanan, dan konsistensi kerja kolektif.

Ia juga menegaskan urgensi keselarasan visi antara struktur organisasi dan dinamika sosial. Menurutnya, kepemimpinan di daerah harus mampu membaca tantangan zaman sekaligus menjaga jati diri gerakan.

“Visi organisasi harus diterjemahkan dalam kerja nyata yang menyentuh kebutuhan umat, baik melalui dakwah, pendidikan, maupun pelayanan sosial. Di situlah peran kepengurusan wilayah menjadi sangat penting,” kata Iwan Abdullah.

Setelah rangkaian musyawarah dan sidang-sidang organisasi, tepat setelah ba’da Isya, formatur terpilih Nurdin Ismail Sutan Ma’ruf, M.Pd secara resmi mengumumkan dan menetapkan susunan personalia DPW Hidayatullah Sumatera Barat periode 2025–2030.

Struktur kepengurusan tersebut terdiri atas Ketua DPW Nurdin Ismail Sutan Ma’ruf, M.Pd., Muhammad Zaki Abdullah, S.Sos sebagai Sekretaris, dan Bendahara Prawira Dijaya Marpaung, S.E., S.Ag.

Adapun ketua-ketua departemen yang ditetapkan meliputi Departemen Pendidikan oleh Ledifal Bahrudin, S.E., Departemen Dakwah oleh Adisra Ahmad Malin Sati, S.Pd, Departemen Pengkaderan dan Pembinaan Anggota oleh Rifaul Mujahidin, S.Pd, Departemen Organisasi oleh Hasan Al Banna, S.Pd.I, Departemen Ekonomi oleh Muslimin, S.E., serta Departemen Sosial dan Kesehatan oleh Arif Hidayat, S.Ag. Susunan ini diharapkan memperkuat tata kelola organisasi dan efektivitas program kerja di berbagai bidang.

Pelaksanaan Muswil III juga mendapat dukungan dari berbagai unsur dan lembaga di lingkungan Hidayatullah, antara lain BMH Sumatera Barat, Yayasan Bina Muallaf Hidayatullah Kepulauan Mentawai, SAR Hidayatullah, pondok pesantren dan yayasan pendidikan Hidayatullah di berbagai kabupaten, serta unsur pemuda, mahasiswa, dan organisasi otonom lainnya.

Dengan terbentuknya kepengurusan baru ini, DPW Hidayatullah Sumatera Barat memasuki fase kerja organisasi lima tahunan yang diarahkan pada penguatan dakwah, pendidikan, dan pelayanan umat secara berkelanjutan.

“Seluruh agenda tersebut diposisikan sebagai kontribusi nyata Hidayatullah dalam menyiapkan sumber daya manusia dan ketahanan sosial menuju Indonesia Emas 2045, sejalan dengan visi kebangsaan dan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” kata Nurdin Ismail dalam keterangannya.

Agroyouth Innovation Forum Tekankan Sinergi Pemuda untuk Ketahanan Bangsa

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Muhammad Isnaini, menegaskan bahwa kolaborasi lintas lembaga dan sektor merupakan prasyarat utama bagi kemajuan bangsa di tengah tantangan global yang semakin kompleks.

Penegasan tersebut disampaikannya dalam Agroyouth Innovation Forum bertema “Mahasiswa Inovatif, Pangan Kuat, Indonesia Hebat” yang berlangsung di Aula Orny Loebis, Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta Timur, Jumat, 28 Jumadil Akhir 1447 (19/12/2025).

Menurut Isnaini, generasi muda tidak dapat bekerja secara terpisah, melainkan harus membangun sinergi yang kokoh untuk menjawab persoalan pangan dan pembangunan nasional.

Forum yang dihadiri sedikitnya 250 peserta dari unsur mahasiswa, aktivis pemuda, serta tamu undangan itu menjadi ruang diskusi dan pertukaran gagasan mengenai peran strategis generasi muda dalam memperkuat ketahanan pangan dan daya saing bangsa.

Isnaini menyebut forum ini sebagai sarana penguatan wawasan keindonesiaan, dengan menempatkan mahasiswa sebagai aktor penting dalam pembangunan berbasis inovasi dan kolaborasi.

Dalam sambutannya, Isnaini memaparkan pentingnya pemahaman sejarah dan peta dakwah Hidayatullah sebagai fondasi gerakan dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan umat. Ia menjelaskan bahwa Hidayatullah telah berkembang menjadi organisasi kemasyarakatan Islam dengan struktur kelembagaan yang solid dan jaringan yang tersebar di 38 wilayah di Indonesia. Menurutnya, posisi tersebut membawa tanggung jawab strategis, tidak hanya bagi umat, tetapi juga bagi bangsa dan peradaban secara keseluruhan.

“Hidayatullah bukan hanya organisasi dakwah, tetapi juga gerakan peradaban yang memiliki tanggung jawab besar terhadap umat dan bangsa. Karena itu, kita harus memahami sejarah, arah gerakan, dan peran strategis yang bisa dilakukan ke depan,” ujar Muhammad Isnaini.

Ia menekankan bahwa era saat ini menuntut kemampuan bekerja sama lintas batas institusi dan sektor. “Hari ini kita hidup di era kolaborasi, bukan kompetisi semata. Generasi muda harus mampu membangun jejaring, bersinergi lintas batas, dan bekerja sama dengan siapa pun yang memiliki komitmen membangun bangsa,” tegasnya.

Isnaini juga mengingatkan agar mahasiswa tidak bersikap eksklusif dan mampu beradaptasi dengan perubahan. Ia menilai kemampuan membaca situasi dan merespons dinamika zaman merupakan prasyarat lahirnya inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Dalam konteks jangka panjang, ia mengaitkan peran tersebut dengan agenda Indonesia Emas 2045 yang membutuhkan kesiapan sumber daya manusia sejak hari ini.

“Indonesia 2045 hanya akan menjadi kenyataan jika generasi mudanya serius mempersiapkan diri. Jangan berhenti belajar, terus asah kemampuan, tingkatkan kualitas diri, dan bangun karakter kepemimpinan. Masa depan bangsa ada di tangan kalian,” lanjutnya.

Kegiatan ini turut dihadiri Staf Ahli Bidang Ekonomi Maritim Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Dr. Ir. Sugeng Santoso, jajaran Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi se-Jabodetabek, serta tamu undangan lainnya.

Ketua PP GMH, Rizki Ulfahadi, menegaskan relevansi forum tersebut dengan tantangan kebangsaan saat ini. “Forum ini menjadi ruang strategis bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan, memperkuat jejaring, dan melahirkan gagasan konstruktif demi ketahanan pangan dan kemajuan Indonesia,” ujar Hasanuddin.

Melalui forum ini, jelas Rizki, Agroyouth Innovation Forum diharapkan dapat memperkuat peran generasi muda sebagai penggerak kolaborasi dan inovasi, sekaligus menegaskan kontribusi mahasiswa dalam pembangunan bangsa yang berdaulat dan berkeadilan.

Pemimpin Harus Menghadirkan Rahmat dalam Sikap dan Kebijakan

0

MANADO (Hidayatullah.or.id) –– Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Iwan Abdullah, mengatakan nilai kepemimpinan dalam Islam tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab moral dan sosial seorang pemimpin terhadap umat yang dipimpinnya. Hal ini dikemukakan Iwan dalam pendampingan menutup acara Musyawarah Wilayah (Musywil) Hidayatullah Sulawesi Utara di Kota Manado, Ahad, 23 Jumadil Akhir 1447 (14/12/2025).

Dalam forum tersebut, ia mengajak seluruh peserta untuk membaca dan merenungkan firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 159, sebagai rujukan fundamental dalam membangun kepemimpinan yang berorientasi pada kemaslahatan umat.

Iwan menjelaskan, ayat tersebut menegaskan bahwa kelembutan, musyawarah, dan tawakkal merupakan karakter utama kepemimpinan yang dicontohkan Rasulullah. Menurut Iwan Abdullah, pesan Al-Qur’an itu selain sebagai tuntunan spiritual, juga menjadi panduan praktis bagi para pemimpin dalam menjalankan amanah dakwah dan organisasi.

“Ayat ini memberikan arah yang sangat terang bagi para pemimpin dalam memandang dan mengelola umat,” kata Iwan.

Ia menekankan bahwa pemimpin pertama-tama harus menghadirkan rahmat dalam sikap dan kebijakan. Rahmat dimaknai sebagai cara pandang yang menempatkan umat sebagai subjek yang harus dirangkul, bukan dibebani. Seorang pemimpin, menurutnya, perlu memandang persoalan umat dengan empati dan kepedulian.

“Jika kepemimpinan kehilangan rahmat, umat akan menjauh. Kepemimpinan semacam itu tidak lagi menjadi solusi, tetapi justru melahirkan persoalan baru,” kata Iwan Abdullah.

Aspek berikutnya yang disorot Iwan adalah kebijaksanaan dan kelapangan dada. Dalam realitas kepemimpinan, tidak semua kerja keras selalu direspons dengan apresiasi. Kritik, bahkan yang disampaikan secara tajam, kerap menjadi bagian dari dinamika organisasi.

Iwan Abdullah menegaskan bahwa di sinilah kualitas kepemimpinan diuji. Pemimpin dituntut memiliki jiwa pemaaf, kebesaran hati, dan kesiapan menerima perbedaan pandangan sebagai bagian dari proses kolektif. Sikap tersebut dinilai penting untuk menjaga persatuan dan kesinambungan perjuangan.

Prinsip ketiga yang ditekankan adalah musyawarah. Dalam pandangan Iwan Abdullah, musyawarah bukan sekadar mekanisme organisasi, melainkan syariat yang memiliki dimensi keberkahan. Ia menjelaskan bahwa pemimpin yang membiasakan musyawarah akan memperoleh barakah dalam setiap keputusan.

Barakah, yang dimaknai Iwan sebagai thalab ziyadah al-khair atau bertambahnya kebaikan, menjadi indikator bahwa keputusan yang diambil membawa manfaat luas bagi umat dan organisasi. Musyawarah juga memperkuat rasa memiliki dan tanggung jawab bersama di antara kader.

Prinsip terakhir yang tidak kalah penting adalah tawakkal kepada Allah. Setelah ikhtiar dilakukan secara sungguh-sungguh melalui kerja, kebijaksanaan, dan musyawarah, pemimpin dituntut menyerahkan hasilnya kepada Allah.

“Tawakkal sebagai peneguh ruhani agar pemimpin tidak terjebak pada keangkuhan atau keputusasaan. Dalam konteks gerakan Hidayatullah, tawakkal menjadi fondasi untuk menjaga kemurnian niat dakwah di tengah kompleksitas tantangan zaman,” katanya.

Rangkaian nilai kepemimpinan yang disampaikan Iwan dalam Musywil tersebut merefleksikan semangat keberislaman yang berpijak pada Al-Qur’an dan sunnah, sekaligus selaras dengan konteks keindonesiaan yang menjunjung musyawarah, persatuan, dan kepedulian sosial.

Kepemimpinan yang berlandaskan rahmat, kebijaksanaan, musyawarah, dan tawakkal, terang Iwan menegaskan, menjadi bagian dari ikhtiar membangun umat dan bangsa secara berkelanjutan melalui jalur dakwah dan pendidikan kader.

PosDai Salurkan Bantuan dari Jamaah Ngaji Online Subuh untuk Korban Bencana Sumatera

0

TAPANULI (Hidayatullah.or.id) — Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) menyalurkan bantuan bagi korban bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera pada akhir November hingga pertengahan Desember 2025.

Program bantuan kali ini merupakan bagian dari respon kemanusiaan yang didukung oleh donasi publik, termasuk sumbangan jamaah pengajian Ngaji Online Subuh (Ngaos) yang dibina oleh PosDai sebesar Rp 42.550.000. Distribusi bantuan difokuskan di kawasan Tapanuli, salah satu daerah yang mengalami dampak signifikan dari peristiwa bencana yang melanda utara Sumatera tersebut.

Bencana hidrometeorologi yang dipicu oleh hujan deras telah menyebabkan kerusakan infrastruktur, pemukiman, dan fasilitas umum secara luas di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal akibat banjir dan tanah longsor telah mencapai lebih dari 1.000 jiwa, dengan ratusan lainnya masih dinyatakan hilang serta ribuan luka-luka.

Sekitar 7.000 orang dilaporkan mengalami cedera dan ratusan ribu warga masih mengungsi akibat rumah dan fasilitas umum yang rusak atau hancur. Jumlah rumah yang terdampak diperkirakan mencapai lebih dari 140.000 unit di tiga provinsi terdampak.

Dalam kondisi tanggap darurat yang terus berlanjut di puluhan kabupaten dan kota di Sumatera, berbagai elemen masyarakat dan organisasi kemanusiaan melakukan langkah respons terpadu.

PosDai mendistribusikan bantuan logistik dasar serta menyediakan layanan pendukung di posko pengungsian. Bantuan ini mencakup kebutuhan pangan, selimut, pakaian, serta dukungan untuk anak-anak dan keluarga yang kehilangan mata pencaharian akibat bencana.

Ketua PosDai Pusat, Ustadz Abdul Muin, menyatakan organisasi terus memperkuat upaya meringankan beban para korban, termasuk melalui layanan trauma healing yang difasilitasi oleh para dai di lokasi bencana.

Pendekatan ini dirancang untuk membantu pemulihan psikologis, terutama bagi mereka yang mengalami kehilangan langsung atau gangguan akibat bencana.

Aksi PosDai dan mitra relawan ini mencerminkan spirit kepedulian terhadap sesama sebagai bagian dari tanggung jawab sosial. Semangat ini juga memperkuat rasa kebersamaan sebagai bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan akibat bencana alam, menjaga martabat dan kesejahteraan warga terdampak melalui solidaritas dan kerja sama lintas komunitas.