Beranda blog Halaman 38

Meneguhkan Sistem Kepemimpinan

0

SEBUAH pemerintahan, organisasi bahkan keluarga, akan tidak efektif peran dan fungsinya jika sistem kepemimpinan yang berlangsung tidak kokoh. Apa sistem kepemimpinan itu?

Sederhananya, sistem kepemimpinan adalah keselarasan antara pemimpin, pengikut, budaya, struktur, dan proses kerja. Kelima unsur itu harus bergerak serempak agar arah organisasi jelas dan tujuan bersama dapat dicapai.

Jadi, kalau relasi pemimpin dan pengikut berjalan baik tetapi struktur dan proses kerja tidak mendukung, maka budaya kerja yang sehat sulit tumbuh. Budaya bukan sekadar niat, tetapi lahir dari kebiasaan yang difasilitasi oleh sistem.

Dalam buku Leadership & Culture karya Edgar H. Schein bisa kita temukan satu penjelasan bahwa kepemimpinan bukan soal siapa memerintah siapa, tetapi bagaimana rasa bersama dibangun agar tindakan kolektif bisa mengalir. Itu artinya, kepemimpinan memerlukan sistem yang kuat dan berjalan dengan semestinya.

Lebih lanjut buku itu menjelaskan, bahwa kadang kala yang membuat sistem kepemimpinan tidak berjalan dengan baik adalah adanya keretakan sistem. Retak dalam hal ini bukan karena perintah kurang tegas, tetapi karena konteks emosional dan simbolik gagal dibangun.

Pemimpin dan bawahan, serta budaya tidak sinkron dalam menangkap peristiwa dengan pemaknaan yang standar. Akhirnya debat kusir lebih mudah tersaji daripada tukar pikiran yang bermutu dan menjawab persoalan.

Jika dalam organisasi diperlukan standar makna bersama, maka dalam konteks negara standar itu tentu lebih mendasar lagi. Di Indonesia, standar tersebut adalah Pancasila, UUD 1945, dan aspirasi rakyat.

Gaya Pembelajaran

Menjawab akan pentingnya siapapun menghadirkan sistem kepemimpinan kita perlu meningkatkan gaya pembelajaran. Ya, kita harus belajar, meski tidak lagi sekolah atau kuliah.

Pertanyaannya, bagaimana sistem kepemimpinan itu diperkuat? Salah satu jawabannya adalah melalui gaya pembelajaran pemimpin dan anggota organisasi.

David Kolb dalam karyanya yang monumental, Experiential Learning: Experience as the Source of Learning and Development , menyatakan bahwa empat gaya pembelajaran yang saling terkait diperlukan agar orang dewasa dapat belajar dan berubah.

Empat gaya pembelajaran itu adalah pengalaman konkret, pengamatan reflektif, konseptualisasi abstrak dan eksperimen aktif.

Jadi, orang dewasa umumnya menggunakan pengalaman sebagai basis untuk belajar. Artinya pemimpin perlu membaca laporan kinerja di lingkup tanggung jawabnya, baik itu keluarga, lembaga, maupun institusi yang lebih besar.

Seorang pemimpin juga mesti menjadwalkan waktu khusus untuk merenungkan pengalamannya, sehingga ia bisa mendapatkan makna darinya. Saat seorang pemimpin menyaring pengalamannya melalui struktur berpikir yang jelas, maka narasi baru yang segar akan berhasil ia ciptakan. Ia pun bisa memberi makna unik dari pengalaman tersebut. Alhasil ia tidak berkata, “Dulu tidak begini. Dulu itu begitu”.

Selanjutnya konseptualisasi abstrak, itu bermakna pemimpin harus bisa merefleksikan pengalaman masa lalu dari berbagai sudut pandang, mulai teori, prinsip atau konsep, sehingga muncul jenis situasi kepemimpinan tertenu yang menguat dan itu dibutuhkan.

Kemudian, eksperimen aktif. Pemimpin harus memutuskan untuk mendapat pelajaran baru dengan cara mempraktikkan serangkaian eksperimen perilaku. Dengan begitu pemimpin paham, mana dari bagian sistem yang sudah kuat, mana yang lemah dan bagaimana menguatkan yang masih lemah.

Teladan Ustadz Abdullah Said

Kalau kita cermati, teori tentang sistem kepemimpinan di atas bisa kita temukan teladannya dari Ust. Abdullah Said.

Berdasarkan berbagai kisah dan catatan sejarah, tampak bahwa beliau tidak hanya memberi perintah, tetapi membangun budaya, pola kaderisasi, dan distribusi tugas yang terstruktur. Di sinilah sistem kepemimpinan itu terlihat.

Ketika itu, semua kader dan santri masuk dalam satu budaya tersendiri. Awalnya mungkin semua kader dan santri menyangka bahwa mereka cukup berada di Gunung Tembak. Namun, ketika tiba masa untuk mengembangkan dakwah dengan pola yang kuat yang ada di Balikpapan yang telah berjalan dengan mendarah daging, kader dan santri awal itu pun mendapat tugas merintis pesantren.

Ketika tugas itu datang kepada mereka, ternyata sambutan kader dan santri sangat positif. Mereka berangkat dengan keimanan dan ketakwaan sebagai fondasi moral, yang kemudian diperkuat dengan manhaj, disiplin organisasi, dan eksperimen kepemimpinan di lapangan.

Alhasil mereka yang awalnya hanya santri, tumbuh dengan berbagai macam eksperimen kepemimpinan yang unik dan menarik.

Pertanyaannya sekarang, kalau dahulu Ust. Abdullah Said mampu membangun sistem kepemimpinan sedemikian rupa, maka apa yang membuat kita tidak efektif dalam sistem kepemimpinan ke depan. Ini adalah salah satu sudut pandang yang semoga semakin membuat seluruh komponen sistem dari Hidayatullah ini mampu berfungsi dan berperan secara sistemik dalam kepemimpinan yang eksis sekarang.

Karena pada akhirnya, sejarah menunjukkan bahwa kekuatan umat tidak lahir dari figur tunggal, tetapi dari sistem yang menyatukan visi, budaya, dan struktur dalam satu jamaah yang tertib. Dan, kesini kita harus melangkah, agar visi membangun peradaban Islam bisa kita tegakkan.[]

Mas Imam Nawawi

Hidayatullah Kaltim Tegaskan Komitmen Pelestarian Hutan dalam Silaturahmi Bersama Menteri Kehutanan

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kalimantan Timur, KH Hizbullah Abdullah Said, menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan hidup merupakan komitmen nasional Hidayatullah yang telah diwujudkan secara nyata di seluruh jaringan lembaganya di Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan KH Hizbullah dalam agenda silaturahmi DPW Hidayatullah Kalimantan Timur bersama Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, yang berlangsung di Hotel Platinum Balikpapan, Ahad, 11 Ramadhan 1447 (1/3/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Hizbullah menjelaskan bahwa perhatian terhadap kelestarian alam tidak berdiri sebagai program insidental, melainkan telah menjadi bagian dari sistem pendidikan dan pengelolaan kelembagaan Hidayatullah secara nasional. Ia menyampaikan bahwa pembangunan kampus dan pesantren Hidayatullah dirancang dengan pendekatan alamiah, ilmiah, dan Islamiah yang menempatkan keseimbangan ekosistem sebagai prinsip utama.

“Secara regional di Kalimantan Timur, kami memberi perhatian khusus terhadap kelestarian hutan demi menjaga status Kalimantan, khususnya Kaltim, agar tetap menjadi paru-paru dunia. Karena itu, menjaga kelestarian hutan telah menjadi bagian dari kurikulum pendidikan sejak usia dini di seluruh sekolah Hidayatullah Kaltim,” ujar KH. Hizbullah Abdullah Said.

Menurutnya, pendekatan pendidikan lingkungan tersebut diterapkan melalui pembiasaan sejak tingkat dasar hingga jenjang pendidikan lanjutan di lingkungan sekolah dan pesantren Hidayatullah. Upaya ini diarahkan agar kesadaran ekologis tumbuh bersamaan dengan pembentukan karakter peserta didik.

Dalam kesempatan yang sama, DPW Hidayatullah Kalimantan Timur juga menyampaikan kesiapan untuk memperkuat kerja sama dengan Kementerian Kehutanan serta berbagai pemangku kepentingan di tingkat pusat maupun daerah dalam program pelestarian hutan.

KH Hizbullah mengingatkan bahwa kontribusi Hidayatullah di bidang lingkungan telah berlangsung sejak lama, salah satunya ditandai dengan penghargaan Kalpataru yang diterima pada tahun 1984 dan diserahkan langsung oleh Presiden Soeharto sebagai bentuk pengakuan atas kepedulian terhadap lingkungan hidup.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyambut positif inisiatif tersebut dan menilai keterlibatan lembaga pendidikan keagamaan memiliki peran penting dalam menjaga kawasan hutan nasional. Ia menegaskan bahwa luas wilayah hutan Indonesia membutuhkan keterlibatan multipihak agar upaya pelestarian berjalan berkelanjutan.

“Kementerian Kehutanan selalu membuka ruang untuk berdiskusi dan bekerja sama. Langkah Hidayatullah Kaltim patut diapresiasi. Ke depan, peran ini bisa diperluas, tidak hanya di lingkungan pondok, tetapi juga menjangkau masyarakat luas, termasuk penanganan kawasan bekas tambang di Kaltim,” ujar Raja Juli Antoni.

Ia juga mempersilakan tindak lanjut kerja sama dilakukan melalui dinas teknis terkait agar program pelestarian hutan dapat diwujudkan dalam bentuk kegiatan konkret yang memberikan dampak luas bagi masyarakat dan lingkungan.

Pertemuan tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat Kementerian Kehutanan, antara lain Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan Dr. Mahfudz, Direktur Jenderal KSDAE Dr. Satyawan Pudyatmoko, Direktur Jenderal Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan Dyah Murtiningsih, serta Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Catur Endah Prasetiani.

Usai agenda silaturahmi, rombongan DPW Hidayatullah Kalimantan Timur bersama Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud melanjutkan kegiatan ke Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan. Kegiatan dilanjutkan dengan penanaman pohon secara simbolis, silaturahmi bersama warga pesantren, serta buka puasa bersama.

Silaturahmi ini dinilai sekaligus menegaskan ruang kerja sama terbuka antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan dalam menjaga fungsi ekologis hutan sebagai aset strategis nasional, khususnya di wilayah Kalimantan Timur yang memiliki peran penting dalam keseimbangan lingkungan global.[]

Safari Dakwah Ramadan Hidayatullah Maluku Utara Perkuat Pembinaan Umat di Daerah

0

HALMAHERA (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Halmahera Timur Abdul Latif Mole menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan program Safari Dakwah Ramadan yang diselenggarakan Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Maluku Utara bersama Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah Perwakilan Maluku Utara.

Abdul Latif Mole menilai kehadiran dai muda asal suku Togutil dalam kegiatan tersebut menjadi bukti nyata bahwa proses pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan mampu melahirkan generasi tangguh yang siap membimbing masyarakat di lingkungan asalnya.

Program Safari Dakwah Ramadan tersebut berlangsung di Kabupaten Halmahera Timur sejak Jumat hingga Senin, dengan menghadirkan Rahmat, dai muda dari komunitas Togutil, sebagai penceramah utama dalam rangkaian kegiatan dakwah Ramadan tahun 2026.

Kehadiran dai dari komunitas pedalaman menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan pembinaan keagamaan hingga wilayah yang selama ini memiliki keterbatasan akses pendidikan dan dakwah.

Pada malam ke-12 Ramadan, kegiatan dilaksanakan di Masjid Baiturahman Subaim, Kecamatan Wasile, Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara, setelah pelaksanaan salat Isya dan Tarawih.

Jamaah mengikuti rangkaian tausiyah dalam suasana khusyuk ketika Rahmat menyampaikan materi dakwah yang diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an secara tartil. Penyampaian materi keagamaan berlangsung dengan pendekatan yang komunikatif dan mendapat respons positif dari masyarakat yang hadir.

Sejumlah warga menyampaikan rasa bangga atas tampilnya seorang pemuda dari komunitas pedalaman di mimbar dakwah. Kehadiran Rahmat dipandang sebagai representasi keberhasilan proses pendidikan dan pembinaan yang menjangkau masyarakat adat di wilayah terpencil Halmahera Timur.

Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut pada hari berikutnya di Masjid An-Nur Buli. Antusiasme jamaah tetap terlihat tinggi dalam mengikuti ceramah yang disampaikan pada siang hari tersebut. Dalam materinya, Rahmat menekankan pentingnya penguatan iman, pendidikan berbasis Al-Qur’an, serta komitmen membangun generasi Qur’ani sebagai fondasi kehidupan masyarakat.

Abdul Latif Mole yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menilai materi ceramah yang disampaikan memiliki nilai pembinaan yang kuat bagi masyarakat.

“Ini menjadi bukti bahwa pendidikan dan pembinaan yang tepat dapat melahirkan dai yang kuat dan istiqamah. Harapannya, Rahmat dapat terus membimbing masyarakat di pedalaman Halmahera,” ujar Abdul Latif dalam keterangannya di sela kegiatan.

Menurutnya, kehadiran dai muda dari suku Togutil menunjukkan bahwa pembinaan umat tidak hanya menghasilkan kader dakwah di wilayah perkotaan, tetapi juga mampu melahirkan tokoh pembimbing dari komunitas lokal yang memahami kondisi sosial masyarakatnya secara langsung. Ia berharap program serupa dapat terus dilaksanakan sebagai bagian dari penguatan layanan keagamaan di daerah terpencil.

Abdul Latif juga menyampaikan harapan agar sinergi antara DPW Hidayatullah Maluku Utara dan Laznas BMH terus diperluas sehingga semakin banyak dai lokal yang lahir dari proses pembinaan masyarakat pedalaman. Program dakwah berbasis komunitas dinilai mampu memperkuat keberlanjutan pembinaan umat secara lebih merata.

Penyelenggara menyampaikan bahwa Safari Dakwah Ramadan ini merupakan bagian dari agenda tahunan untuk menghadirkan layanan dakwah hingga wilayah yang membutuhkan pendampingan keagamaan secara intensif. Selain ceramah Ramadan, kegiatan juga menjadi ruang silaturahmi antara dai dan masyarakat setempat.

Rangkaian Safari Dakwah dijadwalkan berlanjut menuju wilayah Maba dan Maba Utara dalam beberapa hari berikutnya. Penyelenggara berharap seluruh agenda dapat berjalan lancar serta memberikan kontribusi nyata bagi penguatan kehidupan keagamaan masyarakat di berbagai wilayah Halmahera Timur.[]

Menggabungkan Olahraga, Kebersamaan, dan Ibadah dalam Konsep Bukber Sporty

0

TERLEPAS dari berbagai komplain terhadap Gen Z, ada satu yang harus diacungi jempol dari mereka: Kegemaran olahraga.

Survey dalam dan luar negeri menunjukkan mereka gemar olahraga. Survey Sport Trend Analysis yang diadakan di dalam negeri menunjukkan 94% Gen Z dan Milenial rajin olahraga minimal sepekan sekali. Sementara survey yang diadakan di Inggris memberi angka 72% Gen Z rajin olahraga.

Kegemaran olahraga Gen Z akhirnya menular ke banyak generasi, terutama generasi senior. Selain itu, dalam satu kajian, kegemaran olahraga ini menggeser kegemaran untuk clubbing. Keren, kan? Subhanallah.

Di sisi lain, dalam bidang olahraga, ada yang namanya golden window. Ini sebuah istilah untuk menggambarkan pentingnya makan bergizi tinggi setelah olahraga. Batas maksimumnya sekitar 60 menit pasca olahraga. Artinya setelah olahraga hendaklah seseorang makan bergizi tinggi terutama protein. Agar tubuh memiliki asupan yang cukup untuk recovery. Tubuh sehat dan bugar lebih mudah diperoleh insya Allah.

Lalu apa hubungannya dengan Ramadhan? Mari merancang bukber sporty!

Agar olahraga didapatkan, kebersamaan oke, dan ibadah mantap.

Contoh gambaran kegiatannya sebagai berikut.

1,5 jam sebelum waktu buka puasa, seluruh peserta bukber sudah berkumpul di arena olahraga. Lalu peserta pemanasan, olahraga, dan pendinginan dalam waktu 45 menit. Berikutnya peserta meniriskan keringat dan mandi, waktunya 45 menit juga. Tepat waktu adzan, peserta buka puasa bersama.

Dikarenakan ini bukber sporty, maka protein diperbanyak. Misalkan pisang, susu, whey protein, telur, ikan, dan daging. Karbohidrat tetap ada. Jangan lupa kurma, sebagaimana sunnah. Gorengan? Boleh, tapi cukup 1 biji saja (hehehe).

Karena golden window tersisa 15 menit, maka peserta dikondisikan langsung makan berat namun tetap perlahan. Setelah selesai, peserta shalat Maghrib lanjut taushiyah sampai Isya’. Sehingga peserta tidak berpikir untuk pulang. Sering ditemui peserta bukber pulang sebelum Isya’. Sayang sekali, karena tarawih berpotensi absen seiring keinginan peserta untuk segera sampai rumah masing-masing.

Oke, setelah mendapatkan taushiyah, peserta menjalankan shalat Isya’ dan Tarawih jama’ah. Tarawihnya bisa panjang, jika disepakati. Akan tetapi karena sudah olahraga di sore harinya, sangat dianjurkan untuk Tarawih berintensitas ringan hingga sedang. Betul, tujuannya agar peserta segera rehat dan recovery tubuh.

Dengan rangkaian seperti itu semoga Gen Z yang gemar olahraga berkenan ikut bukber. Kesan bukber yang monoton alias lebih menonjol taushiyahya sedikit meredup. Gantinya imej bukber yang penuh semangat.

Tunggu, tunggu…

Apabila dari tadi Gen Z yang disebut, bukan berarti Generasi Milenial dan X tidak boleh ikut bukber sporty. Boleh sekali generasi senior ikut. Gen Alpa yang lebih yunior juga boleh gabung. Tinggal olahraganya diatur dan disepakati.

Mungkin olahraganya bersifat individual seperti jogging atau gym, mungkin juga tim seperti futsal. Apa saja jenis olahraganya dipersilakan, yang penting semua senang dan tuntas hingga akhir waktunya. Ya olahraganya, bukbernya, Tarawihnya, semuanya dilalui dengan lancar.

Semangat!

Wallah a’lam.

FU’AD FAHRUDDIN

Penguatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, IAI Hidayatullah Batam Laksanakan Bimtek PkM dan Publikasi

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Institut Agama Islam (IAI) Hidayatullah Batam menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Penyusunan Proposal Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), Artikel Jurnal PkM, Penulisan Buku, dan Sosialisasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kapasitas akademik sivitas kampus.

Kegiatan tersebut diikuti seluruh dosen dan tenaga kependidikan di lingkungan institusi sebagai bagian dari penguatan kompetensi pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang penelitian, pengabdian masyarakat, serta publikasi ilmiah.

Bimtek yang berlangsung di Aula Kampus I Batu Aji Hidayatullah Batam ini menghadirkan narasumber Frangky Silitonga, S.Pd., M.Si., yang memberikan pendampingan teknis terkait mekanisme penyusunan proposal pengabdian masyarakat sesuai standar nasional.

Agenda ini diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAI Hidayatullah Batam dan ditetapkan sebagai kegiatan wajib bagi seluruh dosen homebase.

Ketua LP2M, Muthma’innah, M.Pd menerangkan bahwa kegiatan tersebut upaya untuk memastikan kesiapan akademik dosen dalam merespons peluang pendanaan dan pengembangan riset berbasis pengabdian masyarakat.

Muthma’innah menyebutkan pelaksanaan bimtek diarahkan tidak hanya pada pemahaman konseptual, tetapi juga pada praktik teknis penyusunan dokumen akademik yang memenuhi standar kementerian.

Mengikuti Pedoman Teknis

Sementara itu, dalam pemaparannya, Frangky Silitonga menjelaskan bahwa pengajuan proposal kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui sistem Litapdimas Kementerian Agama harus mengikuti pedoman teknis yang telah ditetapkan secara sistematis. Ia menekankan pentingnya pemahaman terhadap petunjuk teknis sebelum proses pengajuan dilakukan.

“Mengutip dari portal Litapdimas, sebelum mengusulkan bantuan pastikan anda membaca dan memahami juknis terkait bantuan yang akan diusulkan. Jadilah pengusul yang cerdas dan bijaksana,” ujar Frangky dalam sesi penyampaian materi.

Ia juga mengarahkan peserta untuk memilih tema riset prioritas yang telah ditetapkan Kementerian Agama agar proposal yang diajukan memiliki relevansi kebijakan serta peluang keberterimaan yang lebih tinggi. Menurutnya, kesesuaian antara tema penelitian dan bidang keilmuan program studi menjadi faktor penting dalam proses seleksi proposal.

Selain penyusunan proposal, Frangky menekankan kewajiban akademik lanjutan berupa publikasi hasil pengabdian masyarakat dalam jurnal ilmiah berbasis Open Journal System (OJS). Ia menjelaskan bahwa proses penulisan artikel harus mengikuti template jurnal yang sesuai ruang lingkup keilmuan dan dapat ditelusuri melalui portal indeks nasional.

“Pastikan jurnal hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat telah disubmit melalui link OJS PkM dan penulisannya mengikuti template jurnal yang tersedia di portal SINTA,” jelasnya kepada peserta.

Rektor IAI Hidayatullah Batam, Dr. Muhammad Siddik, M.Pd.I., dalam arahannya menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan yang diinisiasi LP2M tersebut. Ia menegaskan bahwa penguatan kapasitas dosen dalam bidang penelitian dan pengabdian merupakan bagian dari tanggung jawab profesional akademisi perguruan tinggi.

Menurutnya, keterbatasan sumber daya institusi justru menuntut sivitas akademika untuk aktif memanfaatkan informasi dan peluang yang tersedia melalui sistem Litapdimas. Ia menilai kegiatan bimbingan teknis menjadi ruang awal untuk membangun budaya akademik yang produktif dan terukur.

“Pelaksanaan bimbingan teknis pengajuan proposal kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini juga bisa menjadi wadah untuk memulai menulis proposal yang baik dan terukur serta menjadi pemancing lahirnya karya-karya produktif lainnya dari seluruh dosen,” ujar Muhammad Siddik.

Kegiatan ini sekaligus memperkuat orientasi institusi dalam membangun ekosistem akademik yang tidak hanya berfokus pada pengajaran, tetapi juga menghasilkan kontribusi ilmiah yang berdampak bagi masyarakat. Melalui penguatan kemampuan penyusunan proposal, publikasi jurnal, penulisan buku, serta pemahaman HKI, dosen diharapkan mampu meningkatkan kualitas luaran akademik secara berkelanjutan.

“Bimtek ini bagian dari upaya institusional IAI Hidayatullah Batam dalam mendorong peningkatan mutu pendidikan tinggi berbasis riset dan pengabdian masyarakat, sekaligus memperkuat posisi perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan sosial,” pungkas Siddik.

Bimtek Penulisan Buku dan Sosialisasi HKI Perkuat Budaya Publikasi Ilmiah di IAI Hidayatullah

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Rektor Institut Agama Islam (IAI) Hidayatullah Batam, Dr. Muhammad Siddik, M.Pd.I, menegaskan bahwa pelaksanaan Bimbingan Teknis Penulisan Buku dan Sosialisasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) merupakan wadah awal bagi para dosen untuk memulai tradisi menulis sekaligus menjadi pemancing lahirnya karya-karya akademik produktif di lingkungan kampus. Pernyataan tersebut disampaikan Siddik saat membuka kegiatan yang berlangsung di Aula Kampus I Batu Aji IAI Hidayatullah Batam, Kepulauan Riau, Sabtu, 10 Ramadhan 1447 H (28/2/2026).

Siddik menyampaikan bahwa kegiatan tersebut berkaitan langsung dengan tanggung jawab profesional dosen sekaligus pengembangan jenjang karier akademik di masa mendatang. Ia menekankan bahwa reputasi perguruan tinggi pada era pendidikan tinggi modern sangat ditentukan oleh kualitas publikasi ilmiah yang dihasilkan sivitas akademika, termasuk karya berbentuk buku.

“Pelaksanaan bimbingan teknis penulisan buku ini menjadi wadah untuk memulai menulis dan bisa menjadi pemancing untuk lahir karya-karya produktif lainnya dari seluruh dosen,” ujar Dr. Muhammad Siddik.

Ia menambahkan bahwa dampak kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan workshop semata, melainkan berlanjut hingga proses penerbitan karya ilmiah secara nyata. Menurutnya, keberhasilan kegiatan diukur dari lahirnya produk akademik yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah serta memberikan kontribusi terhadap penguatan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Dampak dari kegiatan ini diharapkan bisa menjadi pemicu pada para dosen untuk meningkatkan Tri Dharma, sekaligus menjadi wajah dari kualitas karya ilmiah kampus,” lanjutnya.

Kegiatan Bimbingan Teknis Penulisan Buku dan Sosialisasi HKI tersebut diwajibkan bagi seluruh dosen homebase IAI Hidayatullah Batam sebagai bagian dari strategi institusi dalam membangun budaya akademik berbasis riset dan publikasi. Rektor menegaskan bahwa proses pembinaan akademik tidak berhenti pada pemahaman teoritis, tetapi harus menghasilkan capaian konkret berupa naskah buku yang siap dikembangkan.

Lebih lanjut, Siddik menjelaskan bahwa setelah mengikuti rangkaian bimbingan teknis, seluruh peserta diharapkan mampu menyusun draft outline buku sesuai bidang keilmuan masing-masing.

Dia menjelaskan, bimbingan teknis tersebut sekaligus menjadi bagian dari langkah institusional dalam memastikan bahwa pengembangan karier dosen berjalan seiring dengan peningkatan mutu akademik kampus, sehingga publikasi ilmiah yang dihasilkan dapat merepresentasikan kualitas riset dan keilmuan perguruan tinggi secara berkelanjutan.

Ia juga menyampaikan harapan agar buku-buku yang telah maupun yang akan ditulis oleh dosen dari setiap program studi dapat berkembang menjadi referensi ilmiah yang kredibel, baik bagi kalangan akademik maupun masyarakat luas. Menurutnya, keberadaan buku ajar dan karya ilmiah dosen memiliki fungsi strategis dalam memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.

Sebagai bagian dari penguatan kapasitas teknis, institusi menghadirkan Frangky Silitonga, S.Pd., M.S.I., sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, Frangky menyampaikan materi terkait penentuan topik, ruang lingkup pembahasan, serta strategi sistematis dalam penyusunan buku akademik. Materi tersebut diarahkan untuk membantu dosen memahami tahapan penulisan secara metodologis, mulai dari perencanaan hingga proses penerbitan.

Pada sesi akhir kegiatan, peserta mengikuti simulasi penyusunan draft buku ajar berdasarkan materi yang telah diberikan. Simulasi tersebut menjadi bagian praktik langsung agar peserta mampu menerjemahkan konsep penulisan ke dalam bentuk naskah yang siap dikembangkan menjadi buku terbitan.

Manifestasi Kalpataru, Hidayatullah Jalin Kerja Sama Strategis Penjagaan Lingkungan Nasional

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Hidayatullah terus meneguhkan upaya pelestarian lingkungan hidup di Indonesia. Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Muhammad Isnaeni, menyampaikan hal tersebut terkait peresmian kerja sama antara Hidayatullah dan Kementerian Kehutanan.

Isnaeni menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah konkret untuk mengukuhkan kembali peran Kalimantan Timur sebagai paru-paru dunia melalui aksi nyata di lapangan.

Menurut Isnaeni, pertemuan yang berlangsung di Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak tersebut merupakan sebuah simbolisme kuat atas keberlanjutan visi ekologis organisasi.

Isnaeni mengungkapkan bahwa keterlibatan Menteri Kehutanan secara langsung di Gunung Tembak memiliki makna historis dan filosofis yang mendalam bagi keluarga besar Hidayatullah.

“Kehadiran Pak Menteri di Gunung Tembak secara simbolik. Sesungguhnya ini menjadi penting terkhusus bagi Hidayatullah yang bukan hanya sekadar berkeinginan,” ujar Isnaeni, seraya menekankan pentingnya kehadiran negara dalam mendukung inisiatif lingkungan yang berbasis masyarakat.

Lebih lanjut, Isnaeni menjelaskan bahwa komitmen Hidayatullah terhadap lingkungan memiliki akar sejarah yang kuat. Hal ini merujuk pada rekam jejak pendiri Hidayatullah, KH Abdullah Said, yang telah meletakkan fondasi kesadaran lingkungan sejak puluhan tahun silam.

Keberhasilan Abdullah Said dalam mengubah wilayah yang dulunya gersang menjadi kawasan hutan yang rimbun di Gunung Tembak telah diakui secara nasional melalui penghargaan tertinggi di bidang lingkungan hidup.

“Dalam jajak rekamnya, pendiri Hidayatullah dalam hal ini KH Abdullah Said pada saat itu mendapatkan penghargaan Kalpataru atas dedikasi dan keseriusan beliau untuk menjadikan wilayah gersang menjadi hutan di Gunung Tembak,” kata Isnaeni dalam keterangannya di Balikpapan, Ahad, 11 Ramadhan 1447 (1/3/2026).

Menurutnya, semangat yang terpancar dari penghargaan Kalpataru tersebut tidak pernah padam, bahkan kini bertransformasi menjadi energi kolektif yang lebih besar seiring dengan semakin mendesaknya isu perubahan iklim di tingkat global.

Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Muhammad Isnaeni (Foto: Tadzkir Bilal/ Hidayatullah.or.id)
Komitmen Ekologis Hidayatullah

Isnaeni menggarisbawahi bahwa komitmen ekologis Hidayatullah saat ini justru semakin kuat. Di tengah sorotan dunia terhadap degradasi lingkungan, Hidayatullah merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mengambil peran terdepan.

“Dan itulah yang kemudian membuat beliau dalam hal ini menjadi tokoh inspiratif dan mendapatkan Kalpataru dan komitmen itu tidak redup bahkan semakin menyala. Terlebih-lebih dengan adanya isu lingkungan yang hari ini menjadi konsern Indonesia bahkan dunia,” imbuhnya.

Sebagai bentuk implementasi dari komitmen tersebut, kerja sama yang diresmikan dalam bentuk Perjanjian Kerja Sama (PKS) ini akan difokuskan pada program penanaman pohon produktif.

Isnaeni menyebutkan, program ini tidak hanya menyasar satu titik, melainkan diproyeksikan untuk menjangkau seluruh jaringan pondok pesantren Hidayatullah yang tersebar di berbagai pelosok nusantara. Langkah ini dipandang sebagai strategi cerdas yang menggabungkan fungsi ekologis dengan nilai manfaat ekonomi bagi masyarakat pesantren.

Isnaeni menjelaskan bahwa kesepakatan ini mencakup distribusi dan penanaman pohon produktif secara masif. “Perjanjian kerja sama untuk penanaman pohon produktif di seluruh pondok pesantren yang dimiliki oleh Hidayatullah di seluruh Indonesia, yang secara seremonial pertama dilakukan di Gunung Tembak,” tuturnya.

Isnaeni menyatakan bahwa Hidayatullah ingin melampaui batas-batas retorika dalam isu lingkungan. Baginya, tantangan lingkungan saat ini membutuhkan solusi praktis yang dapat dirasakan dampaknya secara langsung, terutama dalam menjaga integritas ekosistem di Kalimantan.

“Tentu kita tidak ingin hanya berhenti pada narasi. Kita ingin kemudian ada langkah-langkah nyata, aksi-aksi nyata yang betul-betul menunjukkan komitmen serius kita. Terlebih khususnya wilayah Kalimantan Timur dan secara umum Kalimantan adalah paru-paru dunia,” tegas Isnaeni.

Isnaeni menyampaikan bahwa agenda ini merupakan pesan kuat kepada dunia bahwa kolaborasi antara elemen keagamaan dan pemerintah dapat menjadi motor penggerak bagi pemulihan lingkungan.

“Dan, ini tentu menjadi langkah nyata, langkah konkret bagi kita untuk terus menggelorakan semangat terhadap proses penjagaan lingkungan. Inilah yang sebenarnya ingin menjadi pesan utama dari kehadiran Pak Menteri Kehutanan di Gunung Tembak untuk melangsungkan PKS atau kerja sama dengan Hidayatullah,” tukasnya.

Dengan kerja sama strategis ini, diharapkan dia upaya merawat Kalimantan Timur sebagai paru-paru dunia dapat terakselerasi, sekaligus memberikan inspirasi bagi institusi lain untuk turut serta dalam gerakan hijau yang berkelanjutan bagi masa depan Indonesia.

Puasa dan Keberanian Moral untuk Menjadi Pribadi yang Lebih Baik

Oleh Ust. H. MD. Karyadi*

RAMADHAN adalah momentum bagi setiap insan beriman untuk menata dan mengubah diri menjadi lebih baik, lebih bertakwa kepada Allah SWT. Oleh karena itu ukuran sukses tidaknya seseorang dalam mengisi Ramadhan bisa kita ukur dari sejauh mana perubahan itu terjadi.

Jika Ramadhan berlangsung hingga tengah bulan atau bahkan berlalu secara tuntas, kemudian tidak ada perubahan terjadi, maka sesungguhnya kita hanya berpindah waktu. Tak ada perubahan, tak juga ada pertumbuhan kesadaran. Padahal Ramadhan hadir membawa pesan besar: hidup harus menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, bukan pula sekedar mengubah jadwal makan dan minum, tetapi latihan perubahan diri. Allah seakan memberi ruang khusus selama sebulan penuh agar manusia berhenti dari rutinitas lama, menata ulang arah hidup, dan memperbaiki kualitas jiwa.

Sebagaimana hp atau aplikasi perlu di-update secara berkala, manusia juga memiliki sistem yang perlu dievaluasi dan butuh pembaruan. Jadi perlu ada masa kita duduk merenung untuk melakukan koreksi secara berkala dan simultan. Karena itu, Ramadhan adalah momentum evaluasi: siapa kita sebelum Ramadhan, dan ingin menjadi siapa setelahnya?

Mengapa Manusia Sulit Berubah?

Pada kenyataannya, perubahan selalu membutuhkan keberanian. Banyak orang sebenarnya tidak nyaman dengan hidupnya; hati gelisah, pikiran lelah, arah hidup tidak jelas, hidup dalam kekacauan, tetapi tetap bertahan dalam kondisi itu. Mengapa? Karena sebagian dari mereka takut melangkah, enggan atau bahkan tidak berani untuk berubah. Takut memiliki keinginan, takut gagal, takut dinilai orang lain, takut keluar dari zona yang sudah familiar, meskipun zona itu tidak membahagiakan.

Sebagian besar manusia terjebak dalam kebiasaan dan tradisi. Apa yang dilakukan sejak lama dianggap paling aman, walaupun belum tentu benar atau membawa kemajuan. Kebiasaan yang berulang dan tidak pernah kita evaluasi akan membuat kesadaran belajar berhenti. Akhirnya kita sendiri yang tanpa sadar membentuk penjara tak terlihat.

Padahal hidup bukan untuk sekadar mengulang masa lalu, melainkan untuk bertumbuh menuju kualitas yang lebih tinggi, yaitu pribadi yang bertaqwa. “Dan kesudahan (surga) itu bagi orang yang bertaqwa.” (QS. Al Ankabut: 83).

Latihan Tauhid dan Keberanian Moral

Puasa melatih pengendalian diri, mengurangi ketergantungan pada penilaian sosial, dan menumbuhkan kesadaran bahwa manusia lemah di hadapan Allah. Dalam kata lain, Ramadhan datang untuk memecahkan ketakutan itu.

Puasa mengajarkan bahwa semua manusia pada dasarnya sama: sama-sama lapar, sama-sama lemah, sama-sama bergantung kepada Allah. Jabatan, harta, dan status sosial seakan dilepaskan sementara. Kesadaran ini melahirkan kerendahan hati sekaligus keberanian, karena nilai manusia bukan ditentukan oleh dunia, tetapi oleh ketakwaannya.

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Di sinilah Ramadhan mengajarkan totalitas bertauhid. Ketika seseorang benar-benar bertauhid, ia menyadari bahwa hanya Allah yang layak ditakuti dan diharapkan. Ketakutan kepada penilaian manusia perlahan hilang. Orang yang bertauhid tidak lagi takut berubah menuju kebaikan, karena ia yakin hidupnya berada dalam bimbingan Allah yang menyayanginya.

Perubahan juga membutuhkan arah yang jelas. Setelah Ramadhan, kita harus tahu ingin menjadi pribadi seperti apa. Tanpa impian yang jelas, semangat Ramadhan akan menguap begitu saja. Impian memberi arah, sedangkan Ramadhan memberi energi spiritual untuk memulainya. Maka tanyakan pada diri: kebiasaan apa yang ingin dipertahankan? Akhlak apa yang ingin diperbaiki? Tujuan hidup apa yang ingin diwujudkan?

Selain itu, keberanian berubah menuntut kejujuran melihat ke dalam diri. Sering kali kegagalan yang manusia alami bukan karena dunia luar, bukan karena orang lain, melainkan cara berpikir buruk yang tidak disadari begitu mengakar dalam diri. Ramadhan mengajak kita melakukan muhasabah, menemukan penyebab kegagalan dalam diri yang menarik keadaan tidak enak.

{ وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ

“Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri dan (Allah) memaafkan banyak (kesalahanmu).” (QS. Ash-Syura: 30).

Ayat ini mengingatkan bahwa manusia perlu bercermin pada dirinya, meskipun tidak semua musibah dapat disederhanakan sebagai akibat langsung dari kesalahan pribadi. Tapi bagaimanapun secara pribadi kita harus terus sadar dan melangkah menuju kondisi yang lebih baik.

Akhirnya, Ramadhan adalah undangan Allah kepada hamba-Nya beriman untuk memulai kehidupan baru. Ia bukan rutinitas ibadah tahunan, tetapi titik awal perjalanan menjadi manusia yang lebih sadar, lebih berani, dan lebih bermanfaat untuk sesama. Jangan biarkan Ramadhan hanya menjadi kenangan spiritual sesaat. Jadikan ia momentum transformasi diri.

Karena Ramadhan sejatinya bukan tentang sebulan berpuasa, tetapi tentang keberanian menjadi versi terbaik diri kita setelahnya. Dan itu butuh kesadaran untuk benar-benar berubah menjadi lebih bertakwa. Kita tahu perubahan itu bukan spontan, tetapi hasil latihan spiritual yang sadar dan terarah. Ramadhan adalah momen terbaiknya bagi kita semua. Wallahu a’lam.

*) Ust. H. MD. Karyadi, penulis anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah

Konfirmasi sebagai Wujud Saling Peduli

0

“MAKA tatkala rasa takut hilang dari Ibrahim dan berita gembira telah datang kepadanya, diapun bersoal jawab dengan (malaikat-malaikat) Kami tentang kaum Luth. Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka bertaubat kepada Allah.” (Hud 74-75)

Dua ayat ini menceritakan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang kedatangan malaikat. Dua kabar didapatkannya. Salah satunya tentang pelaksanaan adzab kepada kaum Sodom.

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam langsung kaget. Sontak beliau menyampaikan keberatan kepada malaikat. “Ada Luth di sana,” ujar beliau.

Maksud beliau, jangan sampai Nabi Luth ‘alaihissalam terkena adzab. Bagaimanapun Nabi Luth ‘alaihissalam masih aktif berdakwah. Tidak layak seorang nabi, apalagi masih aktif berdakwah, disiksa bersama dengan kaumnya yang durhaka.

Malaikat menjawab, Nabi Luth akan diselamatkan dari siksa kolektif. Begitupun keluarga beliau. Hanya saja istri beliau telah ditetapkan sebagai orang yang akan menerima siksa. Karena sang istri mendukung kedurhakaan kaumnya.

Tergambar situasi batin Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Beliau cemas tentang Nabi Luth ‘alaihissalam. Ini wajar. Karena sesama orang beriman saling peduli.

Oleh karena itu Allah ta’ala menegaskan bahwa Nabi Ibrahim sosok yang penghiba dan suka bertaubat. Nabi Ibrahim bukanlah penggugat, dalam hal ini menggugat ketetapan-Nya. Keberatan yang disampaikannya lebih banyak atas motivasi kepedulian.

Dari sini ada satu pelajaran penting. Bahwa di balik perkataan yang terlihat negatif, bisa jadi ada motivasi mulia. Menelaah keduanya secara utuh diperlukan. Agar salah pengertian tidak terjadi. Apalagi kemudian salah penilaian muncul. Situasi bisa runyam.

Dalam hal ini konfirmasi (tabayyun) diperlukan. Wujud yang umum adalah bertanya kepada yang bersangkutan. Wujud lainnya, sebagaimana dalam kedua ayat tersebut, adalah mendapatkan informasi dari pihak otoritatif.

Perlu kiranya tidak terjebak pada perkiraan-perkiraan berbasis data masa lalu. Boleh saja data masa lalu, biasa dikenal dengan istilah rekam jejak, digunakan sebagai bagian dari konfirmasi. Akan tetapi bertanya langsung atau lewat pihak otoritatif hendaklah dilakukan juga. Agar bias tidak mengurangi kejernihan pikiran.

Memang bertanya tidak selalu mudah. Kadang energi emosi yang besar diperlukan. Dalam hal ini bertanya bisa ditunda beberapa saat sampai hati mantap. Jika kondusivitas hati telah terasakan, bolehlah bertanya dilakukan.

Dengan demikian semoga komunikasi antarpersonal menjadi dinamis. Satu sama lain berkenan bertanya. Di saat bersamaan ada keterbukaan untuk menjawab pertanyaan.

Berikutnya semoga keamanan dan kenyamanan mental terbangun. Sehingga seseorang tidak takut untuk selalu mengembangkan dan memperbarui diri. Ia yakin lingkungannya bebas dari vonis sosial. Tak ada ghibah, apalagi fitnah. Yang ada hanya saling sapa dan tanya sebagai wujud saling peduli dalam kebaikan.[]

Fu’ad Fahruddin

Saiful Anwar Tekankan Pentingnya Pemahaman Fiqih Muamalah bagi Kehidupan Umat

Ketua Departemen Koperasi dan Kewirausahaan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Saiful Anwar, M.E (Foto: Mercyvano Ihsan/ Hidayatullah.or.id)

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Koperasi dan Kewirausahaan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Saiful Anwar, M.E., mengatakan pendidikan sebagai ruang strategis dalam membangun kesadaran ekonomi syariah sejak dini dalam interaksi muamalah sehari hari. Pemahaman ini dinilai dia penting agar generasi muda tidak hanya memahami aspek ibadah ritual, tetapi juga mampu menjalankan aktivitas ekonomi secara etis dan sesuai prinsip Islam.

Saiful menegaskan bahwa literasi keuangan syariah merupakan bagian dari pembentukan karakter Muslim yang bertanggung jawab dalam mengelola harta, bermuamalah, serta menjaga keadilan sosial dalam kehidupan ekonomi. Dalam pada itu, menurutnya ini sekaligus menjadi ruang pembelajaran bahwa praktik ekonomi dalam Islam tidak berdiri terpisah dari nilai pendidikan, moralitas, dan tanggung jawab kemasyarakatan.

Mengawali materinya, Saiful Anwar menekankan bahwa proses belajar dalam Islam tidak sekadar aktivitas akademik, melainkan perjalanan kesadaran intelektual dan spiritual yang berangkat dari pengakuan atas keterbatasan diri. Ia mengajak peserta membangun tradisi keilmuan yang dilandasi niat ibadah.

“Ta’allama pada hakikatnya bukan sekadar belajar, tetapi kondisi ketika seseorang belum mengetahui sesuatu namun memiliki keinginan untuk memahaminya lebih dalam,” ujarnya dalam dalam Kajian Ramadhan yang berlangsung di Masjid Ummul Quraa Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Ahad, 11 Ramadhan 1447 (1 /3/2026).

Saiful kemudian mengarahkan pembahasan pada disiplin fiqih muamalah yang menurutnya sering dipersempit hanya pada persoalan riba, padahal cakupannya jauh lebih luas.

“Di sini kita akan mempelajari fiqih muamalah. Perkara ini sering dianggap remeh, padahal memiliki dampak besar dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering menyederhanakan bahwa yang haram dalam muamalah hanyalah riba, padahal masih banyak bentuk larangan lainnya,” kata lulusan Magister Ekonomi Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kudus ini.

Ia menegaskan bahwa hukum dasar aktivitas ekonomi dalam Islam pada prinsipnya bersifat terbuka dan memberi ruang kreativitas manusia, selama tidak melanggar batasan syariat. Karena itu, fokus utama kajian muamalah justru terletak pada memahami batasan-batasan yang tidak diperbolehkan.

“Pada dasarnya hukum muamalah adalah mubah atau diperbolehkan. Karena itu, yang dipelajari justru batasan-batasan yang dilarang atau diharamkan. Kaidah dasar berikutnya adalah harta orang lain pada asalnya haram bagi kita, kecuali diperoleh melalui transaksi yang dilakukan secara sukarela,” jelasnya.

Menurut Saiful, prinsip kerelaan menjadi elemen fundamental dalam sistem ekonomi Islam. Kepemilikan harta tidak dapat berpindah secara sah tanpa adanya mekanisme transaksi yang diakui syariat. Oleh karena itu, konsep akad menjadi instrumen utama dalam melegitimasi perpindahan hak kepemilikan.

“Agar harta orang lain menjadi halal, maka harus melalui akad. Dalam fiqih, akad terbagi menjadi dua,” ujarnya.

Ia kemudian menguraikan klasifikasi akad dalam fiqih muamalah yang menjadi dasar berbagai praktik ekonomi syariah modern.

“Pertama, akad tabarru’, yaitu akad yang diniatkan untuk kebaikan dan diperbolehkan, seperti wakaf, hibah, sedekah, dan infak. Kedua, akad tijarah, yaitu akad yang bersifat komersial seperti jual beli,” katanya.

Transaksi Sosial dan Transaksi Ekonomi

Lebih jauh Saiful menerangkan, Islam membedakan secara tegas antara transaksi sosial berbasis kebaikan dan transaksi ekonomi berbasis keuntungan. Keduanya memiliki konsekuensi hukum yang berbeda dalam praktiknya.

Selanjutnya, Saiful Anwar menguraikan sejumlah unsur yang menyebabkan suatu transaksi menjadi terlarang dalam Islam. Ia menempatkan kezaliman sebagai faktor utama yang merusak sistem ekonomi.

“Dalam muamalah terdapat beberapa hal yang diharamkan. Pertama adalah kezaliman, karena kerusakan bermula dari kedzaliman. Kedua adalah maysir atau judi, yang berbeda dengan undian, karena dalam judi terdapat taruhan dan pihak yang dirugikan,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa praktik ekonomi yang mengandung spekulasi berlebihan juga termasuk kategori yang dilarang. Konsep ini dikenal dalam fiqih sebagai gharar, yaitu ketidakjelasan dalam transaksi.

Saiful menjelaskan bahwa gharar muncul ketika objek transaksi, waktu pembayaran, maupun kepastian hasil tidak jelas sehingga berpotensi merugikan salah satu pihak.

Gharar dalam akad tabarru’ diperbolehkan, namun dilarang dalam transaksi yang berpotensi merugikan,” ujarnya.

Dalam bagian berikutnya, pembahasan diarahkan pada praktik riba yang menurutnya menjadi persoalan klasik dalam sejarah ekonomi manusia. Ia menilai riba sulit dihapus karena seringkali tampak menguntungkan secara kasat mata.

“Riba merupakan praktik lama yang sulit dihilangkan karena tampak menguntungkan kedua belah pihak. Riba tidak hanya terjadi dalam utang piutang, tetapi juga dapat muncul dalam jual beli,” katanya.

Saiful kemudian menjelaskan kaidah penting dalam memahami riba agar masyarakat tidak terjebak pada praktik yang tampak legal tetapi melanggar prinsip syariah.

“Kaidah riba adalah setiap transaksi yang memberikan manfaat bagi pihak pemberi pinjaman, namun tidak termasuk riba apabila manfaat tersebut tidak disyaratkan sejak awal akad,” jelasnya.

Dia menekankan bahwa inti fiqih muamalah bukan sekadar menghindari larangan, tetapi membangun sistem transaksi yang adil, transparan, dan saling menguntungkan tanpa eksploitasi.