Beranda blog Halaman 40

Seminar Literasi Halal Warnai Pembukaan Musyawarah Wilayah Hidayatullah Sulawesi Utara

0

MANADO (Hidayatullah.or.id) — Pembukaan Musyawarah Wilayah (Muswil) Hidayatullah Sulawesi Utara dirangkaikan dengan Seminar Literasi Halal yang digelar di Asrama Haji Kota Manado, Sabtu, 22 Jumadil Akhir 1447 (13/12/2025). Kegiatan ini dihadiri para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari berbagai wilayah di Kota Manado serta pemangku kepentingan strategis di bidang jaminan produk halal.

Seminar literasi halal tersebut menjadi bagian dari rangkaian pembukaan Muswil sebagai upaya penguatan kesadaran publik terhadap pentingnya prinsip halal dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Kehadiran para pelaku UMKM menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap isu kehalalan produk yang kini semakin relevan di tengah dinamika ekonomi nasional dan global.

Sejumlah lembaga dihadirkan sebagai pemateri dan tamu undangan, di antaranya Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Utara, Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Utara, serta Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Provinsi Sulawesi Utara. Acara ini juga turut dihadiri Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Utara 2020-2025 Ustadz Samsul Arifin.

Kolaborasi lintas institusi tersebut menegaskan bahwa literasi halal merupakan agenda bersama yang melibatkan unsur keagamaan, negara, dan pelaku ekonomi.

Dalam sambutannya, Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Iwan Abdullah, M.Si., menyampaikan apresiasi kepada panitia dan para pemateri. Ia menilai seminar literasi halal sebagai kebutuhan nyata masyarakat saat ini.

Ia juga menyampaikan pesan Ketua Umum DPP Hidayatullah agar seluruh kader dan pengelola kampus Hidayatullah membangun kedekatan dengan masyarakat sekitar. “Warga di sekitar kampus adalah al-aqrabiin kita, yang paling berhak merasakan pancaran iman dan gerak dakwah Hidayatullah,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya konsistensi spiritual dalam pengelolaan organisasi melalui penguatan halaqah dan Gerakan Nawafil Hidayatullah. Menurutnya, komitmen tersebut menjadi fondasi agar kerja-kerja organisasi tetap berpijak pada nilai keislaman dan keindonesiaan yang utuh.

Seminar Halal

Perwakilan Bank Indonesia Manado, Andi Fauzi Rifandi, menjelaskan bahwa konsep halal telah berkembang melampaui sekat-sekat keagamaan dan diterima secara luas di tingkat internasional.

“Halal hari ini telah menjadi gaya hidup global. Karena itu, pelaku usaha tidak perlu ragu menyampaikan kehalalan produknya, sebab konsep halal sudah diterima oleh banyak negara,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa literasi halal mencakup pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran masyarakat terhadap prinsip halal dan haram, mulai dari makanan dan minuman hingga kosmetik, obat-obatan, serta jasa.

Sementara itu, Ketua MUI Bidang Fatwa Provinsi Sulawesi Utara, KH Musyassar Arif, M.Pd., menegaskan bahwa penetapan kehalalan produk harus merujuk pada ketentuan syariat Islam yang diputuskan melalui mekanisme fatwa.

“Pandangan MUI tentang halal menempatkan fatwa sebagai dasar penetapan kehalalan produk, yang kemudian menjadi rujukan bagi BPJPH dalam penerbitan sertifikat halal,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa MUI tetap memegang otoritas keagamaan dalam penetapan halal melalui standar dan pedoman yang menjadi acuan pemerintah dan pelaku usaha.

Dari sisi pengawasan, Satgas Jaminan Produk Halal (JPH) Kota Manado, M. Rusdi Musanif, S.Ag., memaparkan peran satgas dalam memastikan implementasi regulasi halal di lapangan.

“Tugas kami meliputi pemantauan, pendampingan, dan edukasi, terutama pasca-pemberlakuan wajib halal, agar pelaku usaha terlindungi dan konsumen Muslim mendapatkan kepastian,” ujarnya. Pengawasan dilakukan pada berbagai sektor, termasuk rumah makan, pasar ritel, dan rumah potong hewan.

Pengurus Baru Dilantik, Pemerintah Apresiasi Kontribusi Hidayatullah Papua Barat bagi Daerah

0

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Pelaksanaan Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-6 Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua Barat mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Papua Barat.

Staf Ahli Gubernur Papua Barat Bidang Ekonomi, Marthen L. Kocu, S.H., M.H., yang hadir mewakili Penjabat Gubernur Papua Barat, menyampaikan penghargaan atas kontribusi nyata Hidayatullah dalam bidang pendidikan dan dakwah yang dinilai sejalan dengan visi pembangunan daerah.

Ia menegaskan bahwa peran organisasi kemasyarakatan berbasis keagamaan memiliki posisi strategis dalam memperkuat fondasi sumber daya manusia dan karakter kebangsaan di Papua Barat.

“Hidayatullah Papua Barat telah menunjukkan kontribusi konkret melalui pengelolaan lembaga pendidikan dan aktivitas dakwah yang berdampak langsung bagi masyarakat. Ini merupakan bagian penting dalam mendukung pembangunan daerah yang berorientasi pada peningkatan kualitas manusia Papua,” ujar Marthen dalam sambutannya saat membuka Muswil.

Muswil ke-6 DPW Hidayatullah Papua Barat berlangsung selama dua hari, 13–14 Desember 2025, bertempat di Ballroom Hotel Aston Niu Manokwari.

Forum musyawarah tertinggi organisasi di tingkat provinsi ini mengangkat tema penguatan peran strategis Hidayatullah dalam pembangunan umat dan daerah, dengan menempatkan sinergi antara nilai keislaman, keindonesiaan, dan pembangunan sebagai kerangka utama pembahasan.

Pembukaan Muswil dihadiri oleh sejumlah unsur penting, antara lain perwakilan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ketua KNPI Papua Barat, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Papua Barat, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Mewakili Ketua Umum DPP Hidayatullah, amanat organisasi disampaikan oleh Kepala Departemen Pendidikan dan Pengkaderan Organisasi DPP Hidayatullah, Dr. Arfan AU, M.Si. Dalam arahannya, ia menekankan bahwa dakwah merupakan jalan pengabdian yang menuntut kesiapan spiritual dan integritas moral. Menurutnya, kepemimpinan dalam gerakan dakwah harus mampu menghadirkan keteladanan, keteduhan, dan suasana yang menggembirakan bagi para dai.

Arfan juga menyoroti pentingnya menjaga dimensi spiritual dalam kerja-kerja organisasi agar tidak terjebak pada rutinitas teknis semata. Ia mengingatkan perlunya konsistensi ibadah, termasuk penguatan Gerakan Nawafil Hidayatullah, sebagai fondasi lahirnya ketangguhan dan dampak positif gerakan dakwah. Dari sisi kebangsaan, ia menegaskan bahwa keberadaan 37 DPW Hidayatullah di seluruh Indonesia merupakan bukti komitmen organisasi dalam merawat persatuan nasional dan bersinergi dengan pemerintah.

Agenda Muswil mencakup evaluasi program, perumusan arah kerja lima tahun ke depan, serta penetapan kepengurusan DPW Hidayatullah Papua Barat periode 2025–2030. Melalui musyawarah mufakat, ditetapkan Hasdar Ambal, S.Pd., sebagai Ketua Dewan Murobbi Wilayah; Muhammad Rusdan, M.Pd., sebagai Ketua DPW; Miftahuddin, S.H., M.Pd., sebagai Sekretaris Wilayah; dan Muhammad Sodri, S.Pd., sebagai Bendahara.

Ketua DPW terpilih, Muhammad Rusdan, menyampaikan komitmen untuk memperkuat konsolidasi internal organisasi, mendorong kemandirian umat, serta memprioritaskan penguatan lembaga pendidikan dan pesantren Hidayatullah di Papua Barat.

“Kami bertekad menjadikan Hidayatullah sebagai mitra strategis pemerintah daerah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun karakter masyarakat,” ujarnya.

Muswil ke-6 ditutup dengan penandatanganan berita acara penetapan kepengurusan dan pembacaan resolusi, sebagai penegasan kesiapan pengurus baru untuk menjalankan amanah organisasi dalam bingkai pengabdian kepada umat, bangsa, dan negara.

Dari Lampung Tengah, Hidayatullah Ajak Perkuat Peran Keislaman dan Kontribusi Kebangsaan

0

LAMPUNG (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Nanang Nur Patria, M.Pd., secara resmi membuka Musyawarah Wilayah VI Hidayatullah Lampung yang digelar di Kampus Hidayatullah Lampung Tengah, Sabtu, 22 Jumadil Akhir 1447 (13/12/2025).

Forum musyawarah ini menjadi agenda strategis organisasi di tingkat wilayah dalam merumuskan arah kepemimpinan serta penguatan peran Hidayatullah di tengah dinamika masyarakat dan bangsa.

Dalam sambutan pembukaannya, Dr. Nanang menegaskan bahwa satu dekade terakhir Hidayatullah telah menempatkan konsolidasi dan rejuvenasi sebagai fokus utama gerakan.

Namun, menurutnya, substansi terpenting dari proses tersebut adalah penguatan jati diri organisasi sebagai gerakan dakwah, pendidikan, dan sosial yang berakar pada nilai-nilai Islam.

“Konsolidasi yang paling mendasar adalah konsolidasi jati diri. Di situlah ruh perjuangan Hidayatullah harus terus dijaga,” ujar Nanang dalam forum Muswil.

Ia juga menekankan pentingnya transformasi organisasi berbasis digital sebagai keniscayaan di era perubahan yang cepat.

Menurut Nanang, adaptasi teknologi tidak boleh dipahami sekadar sebagai pembaruan sarana, melainkan sebagai instrumen strategis untuk memperluas jangkauan dakwah dan pelayanan umat secara lebih efektif dan terukur.

Transformasi tersebut, lanjutnya, tetap harus berjalan seiring dengan prinsip keislaman dan etika organisasi.

Nanang menyampaikan kesiapan Hidayatullah untuk berkolaborasi dengan pemerintah dalam mendukung program-program pembangunan nasional.

Ia menegaskan bahwa sinergi tersebut sejalan dengan komitmen Hidayatullah dalam merawat keindonesiaan dan berkontribusi positif bagi masyarakat luas.

“Hidayatullah siap berkolaborasi dengan pemerintah dalam mendukung agenda pembangunan nasional, termasuk Asta Cita Presiden Prabowo, sepanjang itu membawa kemaslahatan bagi umat dan bangsa,” katanya.

Lebih lanjut, Nanang menyoroti pentingnya peran Hidayatullah agar memiliki pengaruh nyata di berbagai sektor strategis.

Ia menyebutkan bahwa kontribusi di bidang pendidikan, sosial, dan dakwah harus terus diperkuat, sementara pada periode saat ini sektor ekonomi menjadi perhatian yang semakin krusial. Fokus pada penguatan ekonomi umat dinilai penting untuk menopang kemandirian dan keberlanjutan gerakan.

Musyawarah Wilayah VI Hidayatullah Lampung berlangsung selama dua hari, Sabtu hingga Ahad, 13–14 Desember 2025. Rangkaian kegiatan hari pertama diawali dengan kajian parenting yang menghadirkan Dr. Nanang Nur Patria sebagai narasumber, dengan tema Orang Tua dan Guru sebagai Penjaga Amanah. Kajian tersebut dipandu oleh moderator Sadar Wadi, M.Pd.

Kegiatan kajian parenting mendapat sambutan luas dari peserta, yang didominasi oleh kalangan ibu guru, anggota majelis taklim, serta peserta Muswil. Sejumlah tokoh masyarakat setempat juga turut hadir, termasuk para pewakaf tanah yang digunakan untuk pendirian Pondok Hidayatullah di Lampung Tengah.

Forum Muswil yang ditutup pada Ahad (15/12/2025) menetapkan KH. Nur Yahya Asa sebagai Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Lampung.

Penetapan tersebut menjadi penanda dimulainya kepemimpinan baru yang diharapkan mampu melanjutkan spirit keislaman, memperkuat kontribusi kebangsaan, serta menjawab tantangan zaman secara terarah dan berkesinambungan.

Delapan DPD Dilantik, Hidayatullah Banten Teguhkan Peran Organisasi di Daerah

0

SERPONG (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Daerah (Musda) Hidayatullah se-Banten digelar pada Sabtu, 22 Jumadil Akhir 1447 (13/12/2025), bertempat di Kampus Hidayatullah Serpong, yang beralamat di Kampung Jaletreng, Jalan Raya Serpong Nomor 03, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten.

Forum ini menjadi agenda konsolidasi organisasi yang melibatkan kader Hidayatullah se-Provinsi Banten, termasuk jajaran Dewan Murabbi Wilayah (DMW), Dewan Pengurus Wilayah (DPW), serta unsur pengurus terkait lainnya.

Musda tersebut diselenggarakan sebagai ruang musyawarah dan penguatan struktur kelembagaan Hidayatullah di tingkat daerah yang dihadiri para kader dari berbagai kabupaten dan kota yang membawa semangat kebersamaan dalam menjaga kesinambungan gerakan dakwah dan pendidikan yang berakar pada nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Salah satu agenda penting dalam Musda se-Banten ini adalah pelantikan delapan Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah. DPW Hidayatullah Banten secara resmi melantik DPD Kota Serang, DPD Kabupaten Serang, DPD Kota Cilegon, DPD Kabupaten Pandeglang, DPD Kabupaten Lebak, DPD Kota Tangerang Selatan, DPD Kota Tangerang, serta DPD Kabupaten Tangerang. Pelantikan tersebut menandai penguatan struktur organisasi Hidayatullah di seluruh wilayah administratif Banten.

Ketua DPW Hidayatullah Banten, Dadan Abdul Fattah, dalam arahannya menegaskan bahwa pembentukan dan penguatan DPD tidak dimaksudkan semata sebagai kelengkapan struktural organisasi.

Ia menyampaikan bahwa keberadaan DPD memiliki peran strategis dalam memastikan program-program organisasi dapat dijalankan secara efektif dan sesuai dengan kebutuhan lokal masing-masing daerah. Penataan struktur, menurutnya, menjadi fondasi agar kerja-kerja dakwah, pendidikan, dan sosial berjalan lebih terukur dan berkelanjutan.

Dadan juga menekankan bahwa Musda merupakan momentum strategis untuk mempertemukan semangat keislaman dengan tanggung jawab kebangsaan.

“Musda ini sekaligus menjadi ruang untuk menyatukan visi kader agar dakwah Hidayatullah tetap relevan dengan kebutuhan umat dan bangsa, tanpa kehilangan pijakan pada nilai Islam,” ujar Dadan.

Melalui forum ini, Dadan menambahkan, konsolidasi struktural dan penguatan program diharapkan dapat berjalan seiring dengan semangat keindonesiaan, yaitu membangun masyarakat yang berdaya, berakhlak, dan berkontribusi positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Murabbi Wilayah, Ustadz Nurdin Mustamin, menekankan pentingnya komitmen kader terhadap Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH).

Nurdin menyampaikan bahwa seluruh kader memiliki tanggung jawab moral dan organisatoris untuk menjalankan GNH secara konsisten, sehingga program yang telah dirancang tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi mampu melahirkan kader-kader yang memiliki kualitas keilmuan, spiritual, dan kepemimpinan.

Program Penanaman Perdana Petani Milenial Hidayatullah Papua Barat Resmi Dimulai

0

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Program Penanaman Perdana Petani Milenial Hidayatullah Papua Barat yang diposisikan sebagai bagian dari strategi pembangunan pertanian modern yang berorientasi pada manfaat ekonomi masyarakat resmi dimulai di Manokwari, Ahad, 23 Jumadil Akhir 1447 (14/12/2025).

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Manokwari, Sergion Rahawarin, S.P, yang mewakili Bupati Manokwari, saat meresmikan ini menyampaikan bahwa inisiatif ini sejalan dengan konsentrasi Pemerintah Daerah Manokwari dalam mendorong transformasi sektor pertanian menuju sistem yang lebih modern, adaptif terhadap teknologi, dan mampu menciptakan nilai tambah ekonomi.

Menurutnya, penguatan pertanian berbasis generasi muda menjadi elemen penting dalam pembangunan daerah yang berkelanjutan.

Peluncuran program tersebut dilaksanakan di Pesantren Agro Hidayatullah Manokwari, SP. 7, Distrik Masni, Kabupaten Manokwari. Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya keterlibatan aktif generasi milenial dalam pengembangan pertanian yang terintegrasi dengan pendekatan kewirausahaan.

Acara berlangsung dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan yang memiliki perhatian terhadap penguatan sektor pertanian dan ketahanan ekonomi daerah.

Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Perwakilan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Dr. Arfan AU, M.Si, Wakil Deputi Bank Indonesia Perwakilan Papua Barat Arif Rahadia, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Papua Barat M. Rusdan, M.Pd, unsur Balai Penyuluh Pertanian Kabupaten Manokwari, Kepala Distrik Masni, serta Kepala Kampung Sumber Boga. Kehadiran berbagai unsur ini mencerminkan sinergi lintas lembaga dalam mendukung pengembangan pertanian milenial di Papua Barat.

Koordinator Petani Milenial Hidayatullah Papua Barat, Ustadz Hasdar Ambal, S.Pd, dalam sambutannya menjelaskan bahwa program ini berangkat dari keprihatinan terhadap terbatasnya lapangan kerja bagi generasi milenial, khususnya di sektor kewirausahaan pertanian.

Ia menekankan bahwa pertanian masih menyimpan potensi besar apabila dikelola dengan pendekatan modern dan terencana.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia Perwakilan Papua Barat atas dukungan yang diberikan terhadap pelaksanaan program ini.

Ustadz Hasdar turut menyampaikan harapan agar Pemerintah Daerah Manokwari dapat terlibat lebih jauh, terutama dalam aspek pendampingan teknis serta penyediaan permodalan.

Menurutnya, dukungan alat pengolahan lahan seperti traktor dan sarana pertanian lainnya sangat dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja petani milenial. Harapan tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem pertanian yang berkelanjutan.

Wakil Deputi Bank Indonesia Perwakilan Papua Barat, Arif Rahadia, dalam sambutannya memberikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin dengan Hidayatullah Papua Barat dalam pengembangan program Tani Milenial.

Ia menyampaikan bahwa Bank Indonesia mendorong kampanye pertanian pada komoditas yang berpengaruh terhadap inflasi, sekaligus mengajak generasi muda untuk melihat sektor pertanian sebagai alternatif lapangan kerja yang memiliki prospek jangka panjang.

Ia menekankan pentingnya pergeseran orientasi ekonomi dari ketergantungan pada sektor energi menuju sektor produktif lainnya, termasuk pertanian.

Arif Rahadia juga menyampaikan harapan agar Pesantren Agro Hidayatullah Manokwari dapat mengembangkan konsep ekonomi pertanian berbasis syariah.

Menurutnya, penguatan hilirisasi pertanian perlu diiringi dengan lahirnya kewirausahaan syariah yang mampu mengelola hasil pertanian secara berkelanjutan dan berkeadilan. Pendekatan ini dinilai relevan dengan penguatan ekonomi umat dan stabilitas ekonomi daerah.

Mewakili Bupati Manokwari yang meresmkian program ini, Sergion Rahawarin menegaskan bahwa program Penanaman Perdana Petani Milenial Hidayatullah Papua Barat merupakan bukti nyata peran strategis generasi muda dalam peningkatan ekonomi daerah.

Ia menekankan bahwa Pemerintah Daerah Manokwari saat ini memfokuskan kebijakan pada pengembangan pertanian modern berbasis teknologi terkini, termasuk penerapan konsep hilirisasi dari tahap produksi hingga pemasaran hasil pertanian.

Sergion menjelaskan bahwa pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan infrastruktur pendukung pertanian, mulai dari pembangunan dan perbaikan irigasi, akses jalan pertanian, hingga penyediaan fasilitas penyimpanan hasil panen.

Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi kelompok masyarakat lainnya untuk meningkatkan produktivitas pertanian di Kabupaten Manokwari, dengan tujuan jangka panjang mencapai kemandirian pangan.

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Manokwari dan ditutup dengan penyerahan serta penanaman bibit jagung dan cabai secara simbolis oleh para tamu undangan.

Prosesi tersebut menandai dimulainya program Petani Milenial Hidayatullah Papua Barat di Pesantren Agro Hidayatullah Manokwari sebagai bagian dari upaya membangun pertanian modern berbasis generasi muda.

Hidayatullah Kawal Pemulihan Fisik dan Spiritual Korban Banjir Aceh Tamiang

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, menegaskan bahwa kunjungan langsung ke wilayah terdampak banjir bandang di Aceh Tamiang serta program yang dijalankan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) merupakan wujud tanggung jawab Hidayatullah yang bersifat menyeluruh, tidak hanya pada aspek pemulihan fisik, tetapi juga pendampingan spiritual masyarakat.

Menurutnya, pemulihan pascabencana harus menyentuh dimensi kemanusiaan dan keagamaan secara bersamaan agar kehidupan sosial dapat kembali berjalan dengan utuh.

KH Naspi Arsyad melakukan kunjungan ke Dusun Karya, Kampung Seumadam, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, pada Ahad siang, 23 Jumadil Akhir 1447 (14/12/2025). Kunjungan tersebut menjadi bagian dari implementasi komitmen Hidayatullah bersama BMH dalam mendukung pemulihan sektor pendidikan keagamaan yang terdampak bencana.

Salah satu fokus utama kunjungan ini adalah upaya penyelamatan proses belajar mengajar bagi 50 siswa TK dan Rumah Qur’an Al Baitina. Lembaga pendidikan tersebut sebelumnya mengalami kerusakan total akibat banjir bandang, yang mengakibatkan seluruh perlengkapan belajar, termasuk Al-Qur’an, buku Iqra, lemari sekolah, dan perabotan lainnya, hilang tersapu lumpur.

Tim gabungan relawan BMH, SAR Hidayatullah, IMS, dan PosDai yang lebih dahulu berada di lokasi mendapati kondisi sekolah dipenuhi lumpur tebal. TK dan Rumah Qur’an Al Baitina selama ini menjadi tumpuan pendidikan dasar keagamaan bagi anak-anak dari sekitar 100 kepala keluarga yang terdampak langsung bencana tersebut.

KH Naspi Arsyad tiba di lokasi yang telah dibersihkan bersama Direktur BMH, Supendi. Kedatangan mereka disambut oleh 50 anak-anak TK dan Rumah Qur’an Al Baitina. Dalam suasana hangat dan bersahaja, Ketua Umum DPP Hidayatullah tersebut berinteraksi langsung dengan anak-anak melalui permainan dan kuis ringan yang melibatkan hafalan dasar keislaman.

Kegiatan tersebut bertujuan membangun kembali semangat dan keceriaan anak-anak yang sebelumnya mengalami tekanan psikologis akibat bencana. Sebagai bentuk apresiasi dan motivasi, anak-anak yang berhasil menjawab kuis diberikan uang saku dan makanan ringan. Suasana ceria yang tercipta menjadi bagian dari upaya pemulihan psikososial yang menyertai bantuan fisik.

Ibu Baiti, guru sekaligus pengelola TK dan Rumah Qur’an Al Baitina, menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian dan respon cepat yang diberikan. Ia mengenang kondisi sekolah pascabanjir yang rusak parah, dengan bekas air masih terlihat jelas di dinding bangunan. Menurutnya, kekhawatiran utama adalah hilangnya semangat belajar dan mengaji anak-anak akibat bencana tersebut.

“Kami tidak ingin semangat mengaji anak-anak padam. Mereka adalah generasi penerus dan masa depan umat. Jangan sampai mereka kehilangan guru dan Al-Qur’an karena musibah ini,” ujar Baiti.

KH Naspi Arsyad menegaskan kembali bahwa kehadiran Hidayatullah dan BMH merupakan bentuk pengabdian kebangsaan yang berakar pada nilai keindonesiaan dan solidaritas sosial.

“Kita hadir bukan hanya untuk memulihkan luka fisik, tetapi juga memastikan keislaman dan keimanan saudara-saudara kita tetap terjaga dan didampingi oleh dakwah Hidayatullah,” ujar Naspi Arsyad.

Kakanwil Kemenag DKI Tegaskan Pentingnya Peran Ormas Keagamaan dalam Merawat Harmoni Keindonesiaan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DKI Jakarta, Dr. H. Adib, M.Ag, menegaskan bahwa dakwah pada konteks Indonesia, khususnya di wilayah perkotaan seperti Jakarta, harus melahirkan dampak sosial yang nyata. Dakwah tidak cukup berhenti pada penyampaian pesan keagamaan, tetapi perlu diwujudkan melalui penguatan kerukunan antarumat beragama, kepedulian terhadap lingkungan hidup, serta pemberdayaan ekonomi umat sebagai bagian dari kontribusi keindonesiaan.

Penegasan tersebut disampaikan dalam kegiatan Upgrading Dai Hidayatullah yang dirangkaikan dengan Musyawarah Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta, pada Jumat, 21 Jumadil Akhir 1447 (12/12/2025).

Dalam paparannya, Adib menempatkan organisasi kemasyarakatan keagamaan sebagai mitra strategis pemerintah dalam menjaga harmoni kehidupan beragama. Ia menilai keberlangsungan dakwah sangat ditentukan oleh keikhlasan para pendiri dan penggeraknya. Nilai keikhlasan tersebut menjadi fondasi moral yang memungkinkan ormas keagamaan tetap konsisten melayani umat dan berkontribusi bagi bangsa di tengah perubahan zaman.

Kementerian Agama, lanjut Adib, memandang ormas keagamaan sebagai bagian integral dari pembangunan nasional di bidang keagamaan. Ia menyatakan bahwa kemajuan ormas sejatinya berjalan seiring dengan kemajuan Kementerian Agama, mengingat banyak tugas negara yang dikerjakan bersama oleh ormas melalui aktivitas amar ma’ruf nahi munkar dan pelayanan sosial keagamaan. Sinergi ini menjadi kekuatan penting dalam menjaga stabilitas kehidupan beragama di Indonesia.

Adib juga menguraikan karakteristik tantangan dakwah di DKI Jakarta yang berbeda dengan daerah lain. Kompleksitas persoalan sosial, ketimpangan ekonomi yang tajam, serta pengaruh isu global seperti terorisme yang kerap mengatasnamakan agama, menuntut pendekatan dakwah yang lebih adaptif dan kontekstual. Dalam situasi tersebut, penguatan moderasi beragama menjadi kebutuhan strategis.

Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak dapat dipahami sebagai negara agama maupun negara sekuler. Negara hadir dengan menjamin kebebasan beragama sekaligus mengelola urusan keagamaan melalui berbagai institusi resmi, seperti penyelenggaraan ibadah haji, jaminan produk halal, pengelolaan wakaf, dan penguatan lembaga amil zakat. Kehadiran negara ini, menurutnya, meniscayakan penguatan dan perlindungan terhadap ormas keagamaan sebagai pilar masyarakat sipil.

Lebih lanjut, Adib menyoroti peran ormas seperti Hidayatullah dalam membangun semangat kebersamaan dan kerja kolektif untuk meraih keberkahan (al-barakat fi al-jama’ah). Ia menyebut Indonesia sebagai ruang dakwah yang terbuka luas, dengan capaian dakwah para pendahulu yang dapat dilihat dari meningkatnya kesadaran keislaman di ruang publik.

Namun demikian, ia mengingatkan bahaya ekstremisme yang sering muncul akibat pemahaman keagamaan yang sempit dan kaku. Moderasi beragama, tegasnya, bukan upaya mengurangi ajaran agama, melainkan menata cara memahami dan mengamalkannya secara proporsional.

Kepada jajaran DPW Hidayatullah DKI Jakarta, Adib mendorong penguatan dakwah berbasis teknologi digital serta pengembangan program dakwah yang berdampak langsung bagi masyarakat. Kerja sama strategis dengan Kementerian Agama, termasuk program kursus pranikah, dinilai sebagai langkah konkret dalam membangun ketahanan keluarga dan sosial.

Ia juga menekankan pentingnya optimalisasi wakaf, khususnya wakaf uang, yang memiliki potensi besar untuk menopang keberlanjutan umat. Pengelolaan wakaf secara profesional, sebagaimana dicontohkan oleh lembaga pendidikan Islam dunia, dinilai mampu menjadi pilar peradaban jangka panjang.

Naspi Arsyad Tinjau Lokasi Banjir Bandang di Pedalaman Aceh Tamiang, Tegaskan Solidaritas Umat

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Tragedi banjir bandang besar yang melanda sebagian wilayah Pulau Sumatera, khususnya Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar), yang terjadi sekitar 26 November lalu, menyisakan dampak kehancuran dan trauma.

Sebagai bentuk respons kemanusiaan dan penegasan solidaritas, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, meninjau langsung lokasi terdampak di Desa Pantaicempa, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang, Ahad, 23 Jumadil Akhir 1447 (14/12/2025).

Kunjungan yang dilakukan sekitar dua pekan lebih setelah bencana ini bertujuan melihat kondisi riil dan memastikan kinerja tim relawan.

Naspi didampingi oleh tim tanggap bencana gabungan yang telah turun sejak awal, yaitu Baitul Maal Hidayatullah (BMH), SAR Hidayatullah, dan PosDai yang telah beroperasi di garda terdepan sejak hari kedua pasca-bencana.

Naspi mendatangi Masjid Al-Hidayah, yang menjadi saksi bisu betapa ganasnya bencana ini.

Ia berdialog dengan Rusli, Kepala Takmir Masjid. Pak Rusli menceritakan kesaksian mencekam yang disebutnya sebagai bencana terparah yang ia alami sepanajang hidupnya.

“Batas air yang merendam masjid ini sampai di atas kubah, Pak, dan plafonnya ambruk,” ungkap Rusli.

Ia menyebutkan air naik begitu cepat, nyaris menyentuh puncak tiang listrik tertinggi. Ini memaksa ratusan warga lari menyelamatkan diri ke perbukitan di tengah malam yang gelap gulita.

“Malam itu mati lampu, hujan lebat, air naik, bayi nangis di sana sini, Pak. Orang menjerit sana, menjerit sini,” kenang Pak Rusli. Kerusakan total melanda harta benda, kebun sawit, pakaian, hingga seluruh karpet masjid dan perlengkapan ibadah.

“Kami cuma ambil baju-baju yang terdampar di pohon. Inilah kerja kami sebelum datang bapak-bapak ini,” ujarnya, menyoroti masa-masa sulit tanpa bantuan awal.

Melihat kondisi yang parah dan mendengar langsung cerita warga, Ustadz Naspi Arsyad menyampaikan apresiasi mendalam terhadap semangat kebersamaan di tengah kesulitan.

“Ini salah satu daerah yang terdampak cukup serius,” ujar Naspi.

Ia bersyukur bahwa tim SAR Hidayatullah dan BMH berada di garda terdepan penanganan bencana sejak hari kedua di Sumatera dan telah membawa bantuan logistik, makanan, dan perlengkapan di beberapa titik termasuk wilayah Sumut dan Sumbar.

Ustadz Naspi menekankan bahwa bantuan tersebut menjadi titik kegembiraan bagi warga. “Kita pun juga melihat satu semangat yang luar biasa dari warga di sini,” katanya.

Beliau menegaskan bahwa persaudaraan itu nyata, dibuktikan dengan kehadiran relawan dari berbagai daerah. “Persaudaraan itu nyata di tengah-tengah ummat Islam,” tegasnya.

Beliau berharap kehadiran Hidayatullah dirasakan ummat, tidak hanya untuk memulihkan luka fisik, tetapi juga untuk mendampingi keislaman dan keimanan saudara-saudara yang terdampak melalui dakwah Hidayatullah.

Menanggapi kebutuhan vital warga, Ustadz Naspi Arsyad menjanjikan komitmen lanjutan. Ia berjanji akan menyemarakkan kembali Masjid Al-Hidayah.

“Rumah Allah itu punya pemilik. Kalau kita bergembira dengan rumah-Nya Allah, Allah juga bergembira dengan kita.”

Ia menugaskan BMH untuk segera mengurus kebutuhan karpet dan perlengkapan masjid lainnya.

“Teman-teman BMH bukan hanya menyalurkan, tapi akan bersamai,” tutupnya, memastikan pendampingan jangka panjang.[]

Ingatkan Pentingnya Spiritualitas, Asdar Majhari Ungkap Sukses Dakwah Tak Diukur dari Capaian Simbolik

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah DKI Jakarta periode 2025–2030, KH Asdar Majhari Taewang, S.Ag., mengingatkan kader agar tidak terjebak pada capaian-capaian organisasi yang bersifat pragmatis dan simbolik. Menurutnya, ukuran keberhasilan dakwah tidak semata terletak pada pencapaian lahiriah, melainkan pada kesetiaan menjaga kultur perjuangan dan kekuatan hubungan spiritual dengan Allah SWT.

Pesan tersebut dia sampaikan usai dikukuhkan dalam rangkaian Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Hidayatullah DKI Jakarta yang berlangsung pada 12–14 Desember 2025.

Peringatan tersebut relevan dengan tantangan dakwah di Ibu Kota yang berhadapan langsung dengan dinamika sosial, politik, dan budaya modern. Hidayatullah, sebagai bagian dari gerakan dakwah nasional, dituntut tetap kokoh menjaga nilai-nilai ruhani di tengah perubahan zaman yang cepat dan sering kali menekankan hasil instan.

Muswil VI Hidayatullah DKI Jakarta secara resmi menetapkan KH Asdar Majhari Taewang sebagai Ketua DMW periode 2025–2030. Dia didampingi KH Mahmud Effendi dan KH Munawir Baddu sebagai anggota.

Dalam pidato perdananya, ia menekankan pentingnya sinergi organisasi, keteguhan spiritual, dan konsistensi dalam menjaga kultur dakwah sebagai fondasi gerakan Hidayatullah di Jakarta.

Asdar menuturkan perjalanan panjangnya bersama Hidayatullah yang dimulai sejak awal tahun 2000. Ia pernah mengemban amanah sebagai penggerak DPW Jabodebek pada periode 2015–2020, lalu melanjutkan peran sebagai anggota Dewan Murabbi Wilayah pada periode 2020–2025. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari proses pembelajaran dakwah yang penuh ujian.

“Saya sampaikan ini agar kawan-kawan memahami bahwa ada jalan panjang yang saya lalui dalam organisasi ini. Jalan yang memberi rasa lelah, sekaligus pemahaman bahwa amanah dakwah bukan soal siapa yang terbaik,” ujar Asdar di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Sabtu, 22 Jumadil Akhir 1447 (13/12/2025).

Ia juga menyampaikan kerendahan hatinya dengan mengakui bahwa dirinya bukan sosok paling layak di antara para kader. Bahkan, ia sempat mengusulkan nama lain yang dinilainya memiliki kapasitas kuat. Namun, amanah itu kembali dipercayakan kepadanya sebagai tanggung jawab kolektif yang harus dijalani dengan kesungguhan.

Dalam arahannya, Asdar menyoroti pentingnya membangun chemistry dan sinergi antarsayap organisasi, mulai dari Muslimat, Pemuda, hingga Sahabat Hidayatullah. Menurutnya, keberagaman struktur harus diarahkan dalam satu irama perjuangan agar dakwah berjalan efektif.

“Jika sinergi dan harmoni ini terbangun dengan baik, insya Allah lebih dari separuh langkah perjuangan akan terasa ringan,” tegasnya.

Asdar kembali mengingatkan agar keberhasilan tidak dimaknai sebatas pencapaian alegoris atau simbolik. Ia menegaskan bahwa kekuatan dakwah terletak pada kesetiaan menjaga kultur ruhani.

“Sehebat apa pun ikhtiar, tanpa kekuatan langit, ia seperti meludahi matahari, pada akhirnya akan kembali mengenai wajah kita sendiri,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa kesombongan sekecil apa pun dapat menjadi penghalang turunnya pertolongan Allah SWT. Dakwah, menurutnya, adalah ruang ketundukan, bukan ajang keangkuhan.

Menutup pidatonya, Asdar mengajak seluruh pengurus dan kader untuk mensyukuri amanah sebagai lembaran baru perjuangan. Ia menekankan pentingnya menjaga shalat malam, membersihkan pandangan dan lisan dengan Al-Qur’an, serta menata hati agar tetap lurus.

“Perjuangan ini tidak diukur dari seberapa sukses kita di mata manusia, tetapi seberapa baik kita menjaga kultur dakwah,” katanya.

Dia menambahkan seraya berdoa semoga Hidayatullah DKI Jakarta terus melangkah maju dengan kesadaran spiritual yang kokoh, sinergi yang kuat, dan komitmen istiqamah dalam mengabdi bagi umat dan bangsa.

Hidayatullah Tekankan Dakwah Menyeluruh agar Nikmat Islam Dirasakan di Setiap Tempat

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, mengatakan bahwa gerakan dakwah Islam tidak dapat dijalankan secara parsial, melainkan harus dirancang dan dilaksanakan secara menyeluruh agar setiap ruang kehidupan dapat merasakan nilai dan kenikmatan Islam.

Hal itu disampaikan KH. Naspi Arsyad saat memberikan kuliah umum di Institut Agama Islam (IAI) Hidayatullah Batam, Sabtu, 22 Jumadil Akhir 1447 (13/12/2025). Menurutnya, dakwah yang komprehensif merupakan kunci agar Islam hadir dan dirasakan manfaatnya di seluruh lapisan masyarakat, tanpa terkecuali.

KH. Naspi Arsyad mengawali pemaparannya dengan mengajak seluruh peserta mendoakan almarhum Ustaz H. Jamaluddin Nur, perintis Hidayatullah Batam yang menjadi bagian penting dari titik awal gerakan Hidayatullah di wilayah tersebut.

Ia kemudian menegaskan bahwa arus utama gerakan Hidayatullah bertumpu pada internalisasi nilai-nilai keislaman dalam diri setiap kader agar terbentuk pribadi muslim yang utuh dan menyeluruh serta mendorong pembumian dakwah yang menyeluruh.

Menurut Naspi, dakwah harus diawali dengan penguatan ilmu dan tarbiyah. Ia merujuk pada kaidah yang dikemukakan Imam Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari pada bab Al-‘Ilmu Qabla Al-Qaul wa Al-‘Amal, yang menegaskan bahwa ilmu harus mendahului ucapan dan perbuatan.

Dalam konteks itu, tegas Naspi, penempatan tarbiyah sebelum dakwah mengandung makna bahwa nilai-nilai Al-Qur’an harus tertanam kuat dalam diri sebelum disampaikan kepada orang lain.

“Gerakan dakwah harus bersifat komprehensif, agar setiap tempat, setiap ruang sosial, bisa menikmati dan merasakan keindahan Islam,” kata KH. Naspi Arsyad.

Ia menambahkan bahwa dakwah tidak harus selalu disampaikan dengan cara yang rumit, melainkan dapat menggunakan bahasa sederhana yang tepat sasaran, terutama dengan memanfaatkan media dan perkembangan teknologi. Menurutnya, ruang inilah yang dapat dimanfaatkan genarasi masa kini atau gen z untuk berkhidmat pada agama.

Ia menjelaskan bahwa dakwah Islam tidak menuntut pola hidup yang terasing dari realitas sosial. Ladang dakwah, menurutnya, masih terbentang luas di pasar-pasar, kampus, komunitas, hingga ruang-ruang sosial yang selama ini belum tergarap secara optimal. Bahkan, ia mencontohkan bahwa hidayah dapat hadir di tempat yang tidak terduga ketika nilai-nilai Islam disampaikan dengan hikmah.

Dalam pemaparannya, KH. Naspi Arsyad juga menyampaikan sejumlah prinsip strategis yang perlu dimiliki dalam membangun dakwah. Di antaranya adalah fondasi tauhid yang kuat, keluasan wawasan, kemampuan mengelola sumber daya, kekuatan jamaah, keterbukaan terhadap masukan, serta kedisiplinan dalam sistem dan aturan. Ia juga menekankan pentingnya keikhlasan dalam menyusun program, jaringan yang rapi, kemampuan komunikasi yang baik, hingga sikap responsif terhadap dinamika eksternal.

Prinsip-prinsip tersebut, lanjutnya, harus dilandasi visi ukhrawi yang kokoh, keberanian dalam menghadapi tantangan, strategi dakwah yang tepat, serta optimisme yang kuat. Seluruh nilai itu, menurut Naspi, relevan dengan konteks keindonesiaan yang majemuk dan menuntut dakwah Islam hadir sebagai kekuatan moral dan sosial yang menyejukkan.

Perjalanan Kampus IAI Hidayatullah Batam

Kuliah umum yang mengusung tema Strategi Kemenangan Dakwah Gen Z itu digelar di Aula Gedung Asia Raya Lantai Dua Kampus II Hidayatullah Batam. Kegiatan akademik tersebut dihadiri pimpinan dan sivitas akademika kampus, antara lain Rektor IAI Hidayatullah Batam Dr. M. Siddik, Wakil Rektor I Dr. Moh. Ramli, Wakil Rektor II Dr. Sumarno, para dekan fakultas, serta ketua dan pengelola program studi di lingkungan IAI Hidayatullah Batam.

Dalam sambutannya, Rektor IAI Hidayatullah Batam, Dr. M. Siddik, memaparkan perjalanan institusi tersebut sebagai perguruan tinggi di lingkungan Hidayatullah. Ia menjelaskan bahwa kampus ini merupakan hasil penggabungan dua institusi, yakni Sekolah Tinggi Ilmu Hidayatullah dan IAI Abdullah Said, yang resmi melakukan merger pada 2023 dan kemudian bertransformasi menjadi IAI Hidayatullah Batam.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran KH. Naspi Arsyad, yang menjadikan kampus Batam sebagai perguruan tinggi pertama yang dikunjungi dari total sebelas perguruan tinggi Hidayatullah di seluruh Indonesia.

“Kuliah umum ini diharapkan dapat memberikan perspektif baru kepada mahasiswa tentang pentingnya gerakan dakwah, baik di lingkungan kampus, masyarakat, maupun komunitas-komunitas yang terus berkembang,” ujar M. Siddik.

Sementara itu, Wakil Rektor I IAI Hidayatullah Batam, Dr. Moh. Ramli, yang bertindak sebagai moderator, menilai materi yang disampaikan sangat padat dan bernilai substansial. Ia menyampaikan bahwa kegiatan kuliah umum semacam ini akan terus digiatkan sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam penguatan wawasan keilmuan dan pengabdian kepada masyarakat.

Sebagai penutup rangkaian kegiatan, kuliah umum tersebut diakhiri dengan penyerahan apresiasi kepada tiga mahasiswa yang dinilai paling aktif selama seminar berlangsung. Momen tersebut sekaligus menegaskan komitmen IAI Hidayatullah Batam dalam menumbuhkan budaya akademik yang partisipatif, dialogis, dan berorientasi pada penguatan dakwah Islam yang relevan dengan tantangan keindonesiaan masa kini.