Beranda blog Halaman 404

Teladan Kesederhanaan Bunda Aida Chered

0

Wafatnya Ustadzah Hj. Aida Chered, istri dari Pendiri Hidayatullah KH Abdullah Said, pada hari Jumat, 10 Safar 1443 (17/09/2021) lalu masih menyisakan duka dan rasa kehilangan yang amat mendalam. Termasuk berbagai kenangan tak terlupakan tentang beliau. Almarhumah tidak saja dikenal dengan kesabaran dan keuletannya dalam setiap akifitas dakwah mendampingi sang suami. Ia juga diketahui hidup dengan sangat sederhana.

Saat meninggal, tak ada perhiasan yang melekat padanya kecuali pakaian sederhana yang menutupi tubuhnya. Begitu pulalah penampilan almarhumah sehari hari.

Bahkan, di tempat tinggalnya yang sederhana di bilangan Gunung Tembak pun tak terdapat furnitur yang terbilang mewah selain beberapa perabotan rumah dan kursi untuk menerima tamu.

“Kami pikir selama ini, baju ibu banyak. Setelah ibu pergi kami baru sadar kalau baju ibu tidak lebih dari hitungan jari. Sarung sarung shalat ibu ternyata sarung kwalitas Dinsos. Dan itu yang melekat sampai beliau menghembuskan nafas terakhirnya, tapi bersih, rapi, tidak berbau, selalu terlihat pada penampilan ibu,” kata Ulfiah Sa’adah, salah satu anak almarhumah.

“Tidak ada satupun perhiasan yang melekat pada tubuh ibu. Tidak ada sepatu dan sendal yang berjejer di rak sepatu. Ibu cuma punya sepatu satu yang dibeli beberapa tahun yang lalu yang belakangan sudah tidak nyaman untuk beliau pakai,” lanjutnya.

Tak hanya kesederhanaan beliau dalam hidup keseharian, bunda Aida Chered juga diketahui amat sederhana di dalam rumah. Perlengkapan yang ada di rumah seperti gelas, piring, seprei, ambal tak berlebihan yang semata digunakan untuk kenyamanan tamu tamu yang datang. Bahkan kursi pun ala kadarnya.

“Ada kursi kecil untuk terima tamu tetapi yang jika tamu datang lebih dari dua otomatis semua harus lesehan karena kursi hanya ada dua,” lanjut Ulfiah.

Ulfiah mengatakan, hal tersebut sematamata sebagai pengingat tentang kebersahajaan dan kesederhanaan almarhumah yang diharapkan anak cucu generasi selanjutnya dapat meneruskan perjuangannya.

Dalam buku Mencetak Kader yang ditulis oleh almarhum Ust Manshur Salbu yang juga merupakan sekretaris pribadi allahuyarham KH Abdullah Said, pendiri Hidayatullah ini pernah menyampaikan pesan seperti berikut:

“Saya nasihatkan kepada istri dan anak-anak saya serta jamaah sekalian, jaga dan peliharalah lembaga ini (Pondok Pesantren Hidayatullah-pen.), kembangkan dan besarkan sebagai karya kita semua dan tempat berkiprah kita yang mudah-mudahan akan mengantar menuju kesuksesan dunia-akhirat. Ini merupakan karya raksasa yang harus senantiasa dijaga dan dipelihara dari gangguan-gangguan, baik yang datangnya dari jalur internal ataupun eksternal. Kita akan berkembang berbarengan dengan perkembangan lembaga ini. Kita akan besar seirama dengan besarnya lembaga ini”.

Nasihat itu rupanya melekat betul dalam anggota keluarganya dan hingga kini menjadi warisan yang sangat berharga.

Ketika KH Abdullah Said wafat, banyak sekali orang yang menyumbang. Ibu Aida Chered lama memegang uang sumbangan itu di amplop. Jumlahnya tidak pernah dihitung, tapi pasti banyak karena amplopnya besar dan penuh. Uang itu diserahkan kepada pengurus Yayasan tanpa disisakan.

Pengurus menyampaikan bahwa uang itu sah milik Ibu Aida. Banyak pula yang berbisik-bisik, sebaiknya uang itu ditabung oleh Ibu Aida untuk kelak menjadi biaya anak-anaknya melanjutkan sekolah.

Namun, ternyata, beliau tetap tidak mau mengambilnya sedikitpun. Ada rasa takut menggunakan uang itu karena beliau merasa dilarang oleh Allahu yarham Abdullah Said.

Para pembimbing mendatanginya satu hari, untuk meminta pendapat bagaimana saran-saran Ibu Aida sehubungan dengan wafatnya Allahu Yarham.

“Saya ini seorang kader. Saya tidak perlu menuntut macam-macam sebagaimana yang sering dinasihatkan oleh Allahu Yarham, yang penting kita berupaya melanjutkan perjuangannya, ” ujarnya.

Demikian halnya para assabiqunal- awwalun. Walaupun ada yang keadaannya terseok-seok, namun tetap menjadi garda terdepan dari lembaga untuk menjaga keutuhan solidaritas dan soliditas. Mereka tidak ingin melihat lembaga yang telah diperjuangkan Abdullah Said itu gagal mencapai harapan dan cita-cita.(ybh/hio)

Menjadikan Teknologi Wasilah Menghadirkan Kemaslahatan

0

GAMBAR ILUSTRASI: Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Dr H Nashirul Haq (Foto: Ainuddin Chalik/ Hidayatullah.or.id)

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Tidak saja tata kelola organisasi sebagaimana amanah yang dipikulkan di pundaknya saat ini, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Dr H Nashirul Haq juga memiliki perhatian serius terhadap masalah teknologi informasi.

Dalam kesempatannya meluangkan waktu menyapa santri di Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Batu Aji, Muka Kuning, Batam, Kepri, UNH, begitu ia karib disapa, mendorong santri agar menguasai teknologi dan mengisi platform informasi digital dengan hal positif.

“Bayangkan kalau yang menguasai dan yang mengisi internet adalah orang beriman, semua untuk kebaikan. Kalau adik adik menjadi ahli nuklir, ahli IT, hadirkanlah kemaslahatan,” katanya di Masjid Agung Hidayatullah Batu Aji usai shalat shubuh, Kamis (23/9/2021).

Lulusan Universitas Islam Madinah (UIM) Arab Saudi yang menuntaskan gelar doktoral bidang syariah di International Islamic University Malaysia (IIUM) ini mengatakan saat ini adalah era dimana umat manusia terpapar dengan kemajuan teknologi.

Namun, dia mengimbuhkan, seiring dengan kemajuan dan kemudahan itu, ada yang justru memanfaatkannya untuk merusak seperti membuat nuklir untuk membunuh umat manusia.

Oleh karena itu, menurutnya, amat penting bagi orang orang muslim untuk menguasai teknologi agar ia menjadi wasilah untuk menghadirkan kemaslahatan.

Apalagi, lanjutnya, ditengah gempuran teknologi informasi seperti media sosial saat ini, kebenaran menjadi tidak lagi diukur berdasarkan nalar dan rasionalitas, melainkan ditentukan oleh emosi, perasaan serta seberapa kencang kekuatan degungan follower, likers dan subscriber.

“Teknologi itu ibarat pisau, kalau yang pakai pisau itu ibu di dapur, ia bisa untuk memasak. Namun jika yang menggunakan pisau tidak tahu, maka bisa hancur,” imbuhnya memberikan tamsil.

Lebih jauh ia menekankan, bahwa dalam berbagai hal harus dimulai dari penanaman adab (ta’dib), termasuk dalam hal penggunaan teknologi.

Karena itu, terangnya lebih lanjut, pendidikan harus diawali dengan basis Qur’an untuk melewati proses penyucian jiwa, penyucian niat, pikiran, dan penyucian perilaku dengan akhlak Qur’ani.

“Bukan hanya akhlak atau perilaku, tetapi juga pembentukan fiqrah. Sehingga ia mencari ilmu sematamata karena Allah untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan menghilangkan kebodohan orang lain,” katanya.

Dengan tertanamnya adab dan sucinya fiqrah, seorang muslim pada akhirnya menjadikan aktifitas menuntut ilmu sebagai kewajiban dan sebagai ibadah untuk mendapatkan ridha dan berkah dari Allah SWT.

“Memberikan ilmu kepada yang berhak menerimanya adalah shadaqah. Sebaik baik sedekah adalah mengajarkan ilmu dan mengajarkannya. Ilmu akan menjadi amal jariyah yang terus didapatkan pahalanya selama diamalkan ilmunya,” katanya.

Beliau menerangkan, profesi yang paling mulia di dunia ini adalah guru. Ia lantas mengisahkan sebuah kisah sebagaimana dinukil dari Sunan Ibnu Majah bahwa pada suatu ketika sahabat sedang berhalaqah, lalu datang Rasulullah SAW lantas berkata “innama bu’itstu mu’alliman”. Nabi menyampaikan bahwa “sesungguhnya aku diutus sebagai guru”.

“Bukan hanya makna guru biasa, tapi beliau sebagai guru umat yang memiliki keluhuran akhlak dan adab,” katanya.

Untuk itu, UNH kembali menekankan bahwa adab harus ditanamkan sebelum ilmu. Jika tidak, maka bisa saja ia menuntut ilmu karena dunia yang dapat menjadikannya menjadi congkak dan sombong.

“Belajar itu niatnya ibadah untuk menghilangkan kebodohan, mengangkat harkat martabat manusia dan untuk mengajarkan manusia,” ujarnya.

Ia mengingatkan, orang yang salah niat dalam menuntut ilmu, maka tidak akan mencium baunya surga. UNH menyampaikan hal tersebut seraya menukil hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah, Abu Daud dan Ahmad berbunyi: “Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk Allah, namun ia tidak menuntutnya kecuali untuk mencari dunia, maka pada hari kiamat ia tidak akan mendapatkan bau surga”.

“Sekarang banyak ilmu dan sains yang mendatangkan kemudharatan, ada yang membuat nuklir untuk membunuh manusia, ada yang ahli IT tapi mengunakannya untuk kejahatan kartu kredit (carding) untuk mencuri uang orang lain. Carilah ilmu karena Allah untuk menghadirkan kebaikan, tidak merusak harkat dan martabat diri sendiri dan orang lain,” pungkasnya.

Salah satu agenda Ust. Nashirul Haq ke Batam adalah dalam rangka memenuhi undangan PP Pemuda Hidayatullah untuk memberikan pencerahan dan pengarahan dalam Rapat Pleno Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah pada 23-25 September 2021 yang digelar di Kota Industri ini. (ybh/hidayatullah.or.id)

Air Bersih Terintegrasi Ponpes Tahfidz Ummul Qura Tompobulu

0

MAROS (Hidayatullah.or.id) — Yayasan Al Bayan meluncurkan program Penyediaan Air Bersih Terintegrasi di Pesantren Tahfizh Ummul Qura Hidayatullah Tompobulu, Maros, Senin, 13 Safar 1443 (20/9/2021).

Program tersebut melengkapi fasilitas dasar dari blok plan ponpes yang membina 100 santri penghafal Quran itu.

Blok plan ponpes Tahfizh putra Hidayatullah seluas 16 hektar itu oleh konsultan Ar Muaz Yahya didesain dengan pembagian kawasan pesantren, pemukiman, dan agrowisata.

“Penyediaan sarana air bersih ini tentunya untuk mendukung tekad kami melahirkan para penghafal dn berpemahaman quran yang berkualitas,” jelas Ketua Yayasan Al Bayan Ust Suwito Fatah MM.

Maksud kata “terintegrasi” dari program penyediaan air bersih itu, rincinya, karena pemanfaatan air bersih yang akan dihasilkan dari pengeboran sedalam 160 meter tersebut bukan saja untuk pesantren tapi juga untuk warga sekitar pesantren di Dusun Arra.

Pengeboran didukung sepenuhnya oleh donasi ummat melalui Baitul Mal Hidayatullah (BMH) Sulsel dan Kitabisa.com.

“Sejak pembebasan lahan, penyediaan rumah bagi pembina santri, BMH sudah terlibat dan hari ini untuk program penyedian air bersih,” jelas Kepala Perwakilan BMH Sulsel Kadir MM.

Hadir pada kesempatan itu wakil Pemkab Maros dan aparat setempat. Juga Ketua DPW Hidayatullah Sulsel Ust Drs Nasri Buhari MPd, Ketua Dewan Murabi Wilayah Hidayatullah Sulsel Ust Abd Majid MA. Serta Dewan Pembina Yayasan Al Bayan Ust Ahkam Sumadiyana MA.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar Ust Dr H Abd Aziz Qahhar Mudzakkar MSi berharap dengan program ini menjadi hal yang melengkapi infrastruktur pesantren tahfizh Ummul Qura dalam rencana menjadi bagian pengembangan wisata spiritual dn agrowisata di kawasan wisata Tompobulu.

“Semoga kedepannya ada sinergi terbangun bersama Pemkab Maros bagi pengembangan agro dan penghijauan,” ujar senator Sulsel tiga periode itu yang hadir bersama istri Ustazah Dr Hj Sabriati MPdi, meluncurkan program tersebut.*/Firman Lafiri

UNH Dorong Santri Dekat dengan Al-Qur’an

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH. Dr. Nashirul Haq, Lc.,MA hadir di depan jamaah shalat shubuh di Kampus Utama, Pesantren Hidayatullah Batam, Kamis, 16 Safar 1443 (23/9/2021).

Dalam kesempatan tersebut, pria yang dikenal dengan sapaan UNH memberikan dorongan kepada para santri untuk hidup dekat dengan Alquran.

“Hiduplah sehari-hari bersama Alquran, berupayalah untuk dekat dengan Alquran. Karena memang berbeda anak-anak yang dekat dengan Alquran dengan yang tidak. Mereka yang karakternya, cara berpikirnya diwarnai dengan Alquran dapat melakukan ibadah dengan lebih tekun, siap turun kerja di lapangan kapan saja, dan tentu saja sangat cinta kepada ilmu,” ungkapnya.

Usia muda para santri menurut UNH sangat potensial untuk mendorong mereka menjadi anak-anak yang hebat dan berprestasi.

“Seperti disampaikan oleh Prof. DR. Imam Suprayogo, para mahasiswa yang banyak hafalan Alqurannya sangat mudah berpresatasi di bidang akademik selama perkuliahan. Jadi, sangat banyak keuntungan dari anak muda, para santri, yang tekun menghafal Alquran,” sambungnya.

UNH sendiri hadir di Kampus Utama Hidayatullah Batam dalam rangka memberikan kuliah umum di Institut Agama Islam Abdullah Said yang digelar pada pagi hingga siang ini.*/IN

6 Adab Mencari Ilmu yang Perlu Diketahui

0
Anak-anak Afrika mencari ilmu dan sekolah Al-Quran dengan bahan dari papan kayu (DW)

PARA ulama selalu menekankan masalah adab dalam mencari ilmu. Karena yang menjadikan ilmu itu bermanfaat dan berkah adalah bila disertai dengan akhlak dari para penuntut ilmu. Saya ingin mengungkapkan kata-kata Al-Imam Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah, seorang ulama salaf terkemuka, seorang tabi ‘tabi’in yang hidup sebelum masa Imam Al-Syafi’i rahimahullah.

Beliau mengatakan bahwa ada enam tata krama mencari ilmu; Pertama: Ikhlas, Kedua: Mendengar dengan baik, Ketiga: Memahami, Keempat: Menulis, Kelima: Beramal dengan ilmu dan Keenam: Mengajarkan ilmu kepada orang lain.

Sulitnya Menjaga Ikhlas

Betapa banyak manusia saat ini yang menghadiri majelis ilmu, menuntut ilmu agama dalam keadaan tidak ikhlas. Entah itu hanya ingin mengisi waktu luang, atau ingin mencari-cari kesalahan dan kekurangan orang, atau mengincar imbalan tertentu, penghargaan tertentu, ingin dilihat dan dikagumi oleh sebagian manusia, dan sebagainya.

Tidak sedikit kita saksikan tokoh dai menyampaikan ilmu di mimbar, di kanal Youtube menyerang atau sekurang-kurang ada motif meremehkan lainya. Sesungguhnya materinya baik, namun disajikan dengan cara tidak baik, maka ilmu itu tidak sampai, kecuali hanya untuk gagah-gagahan, atau bahan debat dan berbantah-bantahan.

Allah SWT dan Rasulullah ﷺ memarahi ibadah tanpa disertai keikhlasan. Ikhlas adalah perintah Allah SWT.

Mempelajari ilmu agama adalah fardu ‘ain yang wajib bagi setiap individu muslim. Rasulullah ﷺ bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR: Ibnu Majah no. 224)

Ketika petunjuk ini datang dari Nabi ﷺ , maka mengerjakannya adalah ibadah, dan setiap ibadah harus dibangun di atas keikhlasan. Jika kita hanya mencari ilmu untuk mengisi waktu luang kita, kita tidak mendapatkan pahala apapun.

Menuntut ilmu adalah ibadah, dan setiap ibadah dibangun dengan ikhlas dan mengikuti Nabi ﷺ

Allah SWT berfirman

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

“Kamu tidak diperintahkan untuk beribadah kepada Allah kecuali dengan ikhlas.” (QS: Al-Bayyinah: 5)

Nabi ﷺ meriwayatkan tentang keikhlasan dalam sebuah hadits yang terkenal:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيِهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung niatnya, dan setiap manusia tergantung niatnya. Barang siapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka ia berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, barang siapa hijrah karena dunianya atau wanita yang ingin dinikahi, maka hijrahnya itulah yang dia niatkan.” (HR: Bukhari dan Muslim)

Imam Al-Syafi’i ketika melihat hadits ini berkata, “Hadits ini termasuk dalam 70 cabang cabang ilmu.”

Hadits ini cukup bermakna bagi yang paham tentang keikhlasan. Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini sebagai hadits pertama.

Imam Al-Nawawi dalam kitab Riyadhus Solihin menempatkan hadits ini sebagai hadits pertama. Dalam kitab Al-Azkaar beliau menempatkan hadits ini sebagai hadits pertama.

Dalam kitab Hadits 40, beliau menempatkan hadits ini sebagai hadits pertama. Hal ini menunjukkan bagaimana para ulama dulu ketika hendak menulis, mereka mengingatkan diri pada keikhlasan, niat.

Hal ini juga menunjukkan betapa niat yang tulus harus ada dalam setiap amalan ibadah yang akan dilakukan. Jadi kita perlu melihat niat dengan serius. Karena niat manusia mendapat pahala, karena niat manusia mendapat dosa.

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits yang menceritakan tentang tiga golongan manusia yang di dunia dimuliakan oleh masyarakat.

Kelompok pertama adalah orang yang jatuh di medan perang. Dia dipanggil dan ditunjukkan kepadanya nikmat yang telah dianugerahkan kepadanya, dan bertanya kepadanya apa yang telah dia lakukan dengan bantuan itu. Maka dia berkata, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku telah berjuang di jalan-Mu sampai aku jatuh di medan perang’. Kemudian Tuhan berkata, ‘Kamu telah berbohong. Sebaliknya Anda berjuang untuk dikatakan sebagai pria pemberani, dan Anda telah dikatakan demikian’. Maka ia diseret dengan mukanya, lalu dilemparkan ke dalam api Neraka.

Kelompok kedua adalah orang-orang yang mencari ilmu, mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an. Dia dipanggil, kemudian ditunjukkan kepadanya nikmat yang telah diberikan kepadanya, kemudian dia ditanya tentang hal itu. Dia berkata, ‘Sesungguhnya aku telah menuntut ilmu dan mengajarkannya untuk-Mu ya Allah, dan aku telah membacakan Al-Qur’an untuk-Mu ya Allah.’

Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Engkau bohong. Kamu menuntut ilmu agar kamu dikatakan orang yang shaleh, dan kamu membaca Al-Qur’an agar kamu dikatakan qari’, dan kamu telah dikatakan demikian oleh orang-orang.’ Maka dia diseret dengan mukanya. di tanah dan dilemparkan ke dalam api Neraka.

Kelompok ketiga adalah orang-orang yang telah dilimpahkan kepadanya oleh Allah dengan memberikan segala bentuk harta kepadanya. Mereka dipanggil dan ditunjukkan nikmat yang telah diberikan, dan ditanya apa yang telah dilakukan dengan nikmat itu.

Mereka menjawab, ‘Sungguh, tidak ada cara bagiku untuk menafkahkan karena-Mu, ya Allah, tetapi aku telah menafkahkan dengan cara itu.’ Allah berfirman, ‘Engkau berbohong. Engkau memiliki infaq hanya agar dikatakan oleh manusia sebagai orang yang dermawan, dan engkau telah dikatakan demikian oleh manusia.*/Fathul Bari Mat Jahya

Kemenag Kaltim Berkunjung ke Ponpes Hidayatullah Berau

0

BERAU (Hidayatullah.or.id) — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Provinsi Kalimanan Timur, Drs. H. Masrawan, didampingi Kepala Bidang Pendidikan Agama dan Keagamaan Drs. H. Abdul Khaliq, M.Pd melakukan kunjungan ke Kampus Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah Kabupaten Berau.

Dalam kunjungan tersebut, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Kalimantan Timur mengapresiasi keberadaan Pesantren Hidayatullah di Kabupaten Berau dalam kiprahnya membangun sumber daya manusia yang berilmu, bertaqwa, dan berakhlaqul karimah.

Pondok pesantren Hidayatullah pada saat ini memiliki santri yang dibina sehanyak 1000 orang dari semua tingkatan pendidikan dengan santri mukim sebanyak 350 orang santri dan santriwati.

Dalam proses pembelajaran, pihak pondok pesantren tetap memperhatikan protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah.

Pertemuan kali ini, dihadiri pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Berau Ust. Suardi bersama Ust. Adri Al Amin.

Tampak juga hadir dalam pertemuan tersebut, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Berau H. Sulaiman beserta Kepala Seksi Pendidikan Pesantren M. Nasir.

Kunjungan kali ini menurut H. Masrawan sebagai ajang silaturahim dengan berbagai jajaran yang ada di Kabupaten Berau baik di pondok pesantren, FKUB, maupun Madrasah serta KUA.

“Dan ini juga sebagai bentuk koordinasi yang harmonis dengan Kanwil Kemenag Provinsi Kaltim,” ujar H. Masrawan seperti dilansir laman Kemenag Kaltim. (ybh/hio)

BMH Salurkan Program Beras untuk Santri di Pamekasan

0

PAMEKASAN (Hidayatullah.or.id) — BMH Jawa Timur salurkan 4,5 ton beras untuk santri penghafal Qur’an di Pamekasan, Madura.

Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Jatim, Imam Muslim mengatakan penyaluran ini guna memberi dukungan pendidikan, karena para santri penghafal Qur’an harus terjamin kebutuhan hidup sehari-hari dengan standart baik nilai gizi dan lainnya.

“Dengan itu diharapkan para santri memiliki energi maksimal dalam menghafal Al-Qur’an dan menuntaskannya dengan baik,” kata Muslim.

Program beras untuk santri ini telah berjalan selama 1 tahun di Pesantren Tahfizh Darul Hijrah Kampus VI Pamekasan Madura Jatim.

“Kebutuhan santri disini dalam satu hari kurang lebih 12-13 Kg dengan jumlah santri 36 makan 3 kali,” rinci Muslim.

Program ini terlaksana berkat amanah dari para Donatur yang telah mendukung program santri penghafal Qur’an.

“Terimakasih kepada para donatur semoga menjadi jariyah sampai syurga,” ungkap Nasrul Mutaqin salah satu santri yang telah menghafal 20 Juz asal Jember.

Dengan adanya program ini para santri terjamin kebutuhan gizinya sehingga semakin mudah dalam menghafal Qur’an.*/Herim

Sebuah Memoar, Catatan Mengiringi Wafatnya Ibunda Para Kader Hidayatullah

0
Almarhumah Ustadzah Hj Aidah Chered dalam satu kesempatan memberikan ceramah di acara Muslimat Hidayatullah (Foto: Ainuddin Chalik/ Hidayatullah.or.id)

Oleh KH Muhammad Syakir Syafi’i

INI BERAWAL dari kesempatan al-Faqir (penulis) menyampaikan kajian kitab di kalangan para kader Hidayatullah di DPW Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah Bagian Selatan (DIY-Jateng Bagsel), yang kalau tidak salah ingat, merupakan momentum kegiatan i’tikaf Ramadhan 1435 H (bertepatan dengan bulan Juli 2014).

Dalam kajian selama 3 hari itu, dituntaskan kajian sebuah kitab ‘tipis’ berjudul “Mahabbah Alil Bayt”, ditulis oleh dosen Fakultas Syariah Universitas Ummul Qura, Makah al-Mukarramah, seorang syaikh yang konon memiliki leluhur yang berasal dari Minangkabau Sumatera Barat, Syaikh Dr. Abdullah bin Shalih al-Menkabo.

Dari momentum kajian kitab itu, Al-Faqir terdorong untuk membuka sejumlah situs yang memuat daftar nama-nama marga Ahlul Bait. Dari sanalah, kemudian al-Faqir menemukan adanya marga yang -menurut penulis- marga itu tidak begitu terkenal di Indonesia, tapi sangat akrab di benak aktivis Hidayatullah, yaitu “Khirrid” (sering ditulis dengan ejaan “Chered”).

Disebut akrab, karena nama marga ini ada di belakang nama istri Pendiri Hidayatullah, Allahuyarham Ustadz KH. Abdullah Said, yaitu Ibunda Aida Chered.

Habib Luqman al-Athas Hafizhahullah Ta’ala, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan, yang pada saat ada Kajian Iktikaf itu beliau sedang berada di Yogyakarta, beliau dimohon untuk memberikan testimoni seputar Ahlul Bait.

Habib Luqman al-Athas, yang beliau sendiri termasuk dari kalangan Ahlul Bait, menguatkan ‘temuan’ bahwa nama Chered yang ada di belakang nama Ibunda Aida, memang benar termasuk marga Ahlul Bait.

Namun, dalam rentang waktu perjalanan organisasi Hidayatullah yang sudah berusia 50 tahun ini, tidak banyak yang tahu dan menyadari bahwa Ibunda Aida yang baru saja wafat pada hari Jumat kemarin, 10 Shafar 1443 H, adalah seorang syarifah (salah-satu sebutan mulia bagi wanita keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam).

Kemudian, pada bulan Dzulhijjah 1434 H, sekitar 3 bulan setelah Kajian Iktikaf di Pesantren Hidayatullah Yogyakarta itu, al-Faqir berkesempatan untuk mengunjungi Kampus Pusat Hidayatullah Balikpapan guna menunaikan tugas sebagai salah-satu instruktur Diklat/Daurah Murabbi Pandu Putri di Kampus Pusat.

Di sela-sela kegiatan Daurah tersebut, al-Faqir diberi amanah untuk “naik mimbar” di Masjid Ar-Riyadh Gutem, suatu tradisi yang biasa dilakukan ketika ada kader, jamaah atau pun tamu umum yang berkunjung ke Kampus Pusat Hidayatullah.

Dalam kesempatan tersebut, al-Faqir terdorong utk menyampaikan ulasan singkat mengenai tema mahabbah (kecintaan) kepada dzurriyyah (keturunan) Rasulullah, sebagaimana kajian di atas.

Karena al-Faqir sendiri masih merasa “hangat” dengan materi tersebut, selain bahwa di Hidayatullah, tema itu masih relatif jarang dibahas, walaupun hampir di semua kitab-kitab yang membahas tentang Aqidah dan Manhaj Alus-Sunnah wal-Jamaah, dibahas juga tentang ajaran yang benar mengenai kewajiban mencintai dan menghormati Ahlul Bait, sebuah bentuk sikap wasathiyah (adil atau pertengahan) antara sikap berlebihan (ifrath) dan meremehkan (tafrith).

Nah, di mimbar Masjid Ar-Riyadh itu, al-Faqir menggaris-bawahi sebuah fakta tentang adanya pengaturan dan nikmat yang besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, terkhusus bagi para kader dan jamaah Hidayatullah, bahwa untuk merealisasikan visi gerakan “Membangun Peradaban Islam” secara sempurna, termasuk di dalamnya terkait dengan kewajiban memenuhi hak-hak Ahlul Bait, kita “tidak harus jauh-jauh” mencarinya, karena dalam keluarga pendiri Hidayatullah sendiri sudah terdapat Ahlul Bait, khususnya Ibunda Aida Chered.

Selain itu, di kalangan kader Hidayatullah lainnya, ada sejumlah kader yang berasal dari marga Ahlul Bait juga, seperti al-Atthas atau al-Idrus (al-Aydarus). Sehingga, pantaslah bila kita ucapkan ucapan sunnah yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam: Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmu ash-shalihat (“Segala puji bagi Allah, yang berkat nikmat-Nya ini kita dapat menyempurnakan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan”).

Setelah al-Faqir menunaikan amanah, lalu turun dari mimbar Masjid Ar-Riyadh itu, Pemimpin Umum Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad Hafizhahullah Ta’ala yang saat itu juga hadir di majelis tersebut, beliau langsung naik juga ke mimbar, memberikan respon dan penegasan tentang pentingnya tema pembahasan tersebut. Bahkan, beliau juga memberikan amanah khusus kepada al-Faqir.

Minimnya informasi tentang fakta status Ahlul Bayt bagi Ibunda Aida di kalangan kader dan jamaah Hidayatullah, serta tidak membudayanya panggilan syarifah bagi beliau dalam kultur Hidayatullah selama ini, tidaklah menunjukkan bahwa hal itu bukan sesuatu yang penting.

Yang lebih bisa dipahami dari hal ini, dan ini merupakan sisi keteladanan yang agung dari keluarga pendiri Hidayatullah adalah ketawadhuanya, di mana beliau tidak mau menonjolkan kedudukannya sebagai Ahlul Bayt yang memiliki banyak fadhilah (keutamaan) dan hak-hak sebagai keluarga dan keturunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam.

Semoga Allah mengampuni dan memaafkan kesalahan dan kelalaian-kelalaian kita di masa yang lalu, baik sebagai muslim maupun sebagai kader.

Dan untuk perjalanan kita kedepan, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan hidayah dan taufiq-Nya kepada kita, sehingga kehidupan kita berlimpah kebaikan dan barakah dari Allah SWT. Amin.

(Catatan al-Faqir ila Rahmati Rabbihi, KH Muhammad Syakir Syafi’i, Ketua Departemen Kepesantrenan DPP Hidayatullah)

============

Keterangan tambahan:

Hak-Hak Ahlul Bait (Dikutip dari Kitab “Mahabbah Alil Bayt”):

  1. Mencintai dan memberikan loyalitas atau kesetiaan kepada mereka. Dalam Hadis Muslim (nomor 2408) yang berisi kisah tentang peristiwa di Ghadir Khum, Rasulullah bersabda, “Aku peringatkan kalian tentang keluargaku.’ (ucapan ini beliau ulang 3 kali). Imam al-Qurthubi berkata, “Wasiat dan penegasan yang agung ini mengandung pengertian tentang wajibnya menghormati keluarga beliau, berbuat baik kepada mereka, memuliakan mereka, mencintai mereka, serta kewajiban-kewajiban lainnya yang tidak ada alasan bagi seorang pun untuk mengabaikannya.”
  2. Turut mendoakan mereka dalam bacaan shalawat yang diucapkan kepada Rasulullah, sebagaimana Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, “Ucapkanlah oleh kalian (shalawat): Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad, kamaa shallayta ‘alaa aali Ibraahim, innaka hamiidun majiid….” (HR. Bukhari Nomor 3370)
  3. Menjaga porsi khumus (seperlima bagian) dari harta rampasan perang (ghanimah atau fay’). Hal ini berdasarkan QS. Al-Hasyr: 7. Dalam harta ghanimah atau fay’ ada bagian yang diperuntukkan khusus untuk kerabat dekat Rasulullah, dan menurut Jumhur Ulama, ketentuan ini tetap berlaku setelah wafatnya Rasulullah.
  4. Dalam catatan kaki di Kitab Mahabbah Alil Bayt tersebut, disebutkan bahwa di antara kekhususan Ahlul Bait ialah keharaman shadaqah untuk mereka. Ketentuan ini sudah menjadi ijma’ ulama. Namun demikian, para ulama berbeda pendapat tentang batasan shadaqah yang diharamkan tersebut. Mayoritas ulama berpendapat bahwa yang diharamkan itu adalah shadaqah wajib (yang diistilahkan dengan zakat; shadaqah sunnah hukumnya boleh-penulis). Syaikhul Islam juga memilih pendapat ini. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa yang diharamkan ialah shadaqah secara mutlak, baik shadaqah wajib maupun sunnah. Ini merupakan salah-satu pendapat dari Imam Ahmad dan ini pendapat yang dipilih oleh Ibnu Hazm.

Meneladani Ibunda Aida Chered

Ketua Umum DPP Hidayatullah Nashirul Haq mencium tangan Ketua Majelis Penasihat Muslimat Hidayatullah,Ustadzah Aida Chered (kiri), Sabtu (26/12/2020) sore (Foto: Nisa/ Mushida.org)

“JIKA BUKAN pandemi, jamaah Hidayatullah akan datang berbondong – bondong takziyah wafatnya ibunda Aidah Chered di Gunung Tembak ini,” kata bapak Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad saat memberikan kalimat takziyah di pemakaman.

Subhanallah Allahu Akbar

Ini salah satu indikator dari kebaikan almarhumah. Persaksian kebaikan dari segenap kader, anggota dan jamaah Hidayatullah.

Kisah dan persaksiannya memberikan inspirasi dan motivasi bagi banyak kader, santri dan jamaah Hidayatullah.

Sebagaimana ada seorang ibu muda gelisah, setelah mendengar beberapa kalimat takziyah dari beberapa ustadz yang mempersaksikan ibunda Aida Chered.

“Bi, apa yg harus kita kerjakan di sini?”

“Memangnya umi kenapa?”

“Umi malu dengan almarhumah Ibunda Aida Chered. Tapi juga bingung, umi harus bagaimana?”

“Alhamdulillah, itu perasaan positif. Artinya umi ada keinginan untuk bisa lebih baik.
Sebab ada orang yang mendengar cerita itu biasa saja, tidak termotivasi untuk meneladani. Ada yang merasa sudah baik, bahkan ada yang lebih baik. Na ‘udzubilahi min dzalik,” jawab suaminya

” Iya, tapi umi harus bagaimana?,” tanyanya mendesak

“Tenang umi, tidak juga langsung bisa seperti almarhumah Ibunda Aida Chered. Bertahap lah dan pelan-pelan, perbaiki ibadah dulu, harus lebih aktif halaqah, semakin semangat infak, santun dan tidak mudah marah,” jawab suaminya

Satu sisi kita sedih kehilangan ibunda Aidah Chered. Kehilangan figur, teladan, mujahidah dan penasehat yang tulus ikhlas.

Satu sisi lain, ada rasa salut dan haru memiliki ibunda Hidayatullah yang luar biasa. Haru menjadi bagian dari santri atau kader Hidayatullah yang dikenal atau tidak oleh beliau.

Satu sisi lain lagi, ada pelajaran dan peringatan bagi kita.

Apakah bisa meneladani beliau dengan segala keterbatasan yang kita miliki?

Terlalu banyak jika kita urai tentang keteladanan yang beliau sampaikan dan tunjukkan selama hidup.

Apakah kita selama ini sudah memberikan perjuangan dan pengorbanan dalam Islam di Hidayatullah sebagaimana beliau?

Ini pertanyaan penting untuk evaluasi diri, sekaligus meningkatkan kualitas diri. Momentum seperti ini sangat bagus utk memompa semangat bisa lebih baik

Apakah kelak saat kita wafat juga bisa dipersaksikan oleh banyak orang?

Apa kira-kira yang dipersaksikan saudara, teman dan orang-orang terhadap kematian kita nanti?

Dua pertanyaan yang menggelitik dan auto kritik bagi diri kita sendiri. Ada rasa harap dan was-was dalam menghadapi kematian dengan segala persaksian.

Ibunda Aida Chered, wafatnya pun menjadi inspirasi bagi santri, kader dan jamaah Hidayatullah untuk termotivasi bisa berjuang dan berkorban lebih baik.

Beliau wafat dengan segala amal kebaikannya. Kita yang ditinggalkan tidak cukup hanya membanggakan beliau tapi harus meneruskan cita citanya dengan meneladani karakternya dan kerja kerasnya.

ABDUL GHOFAR HADI

STIS Hidayatullah Wisuda 187 Dai Sarjana Hukum

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) -– Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan melaksanakan prosesi Wisuda Sarjana Hukum ke-VII di Kampus Hidayatullah UmmulQura Balikpapan, Gunung Tembak, Kalimantan Timur.

Perhelatan tahunan yang harusnya dilaksanakan pada tahun 2020 itu tertunda karena pandemi Covid-19 yang sedang melanda dunia. Wisuda baru terlaksana pada Sabtu, 11 Shafar 1443H (18/09/2021).

Mengingat masih terjadi pandemi Covid-19, prosesi wisuda diikuti sebanyak 187 orang wisudawan dan wisudawati dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, sebagaimana anjuran pemerintah. Pelaksanaan wisuda pun dilakukan dengan dua cara yaitu offline dan online.

Acara wisuda ini dihadiri langsung oleh Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad, Ketua Umum DPP Hidayatullah Ustadz Nashirul Haq, Wakil Gubernur Kalimantan Timur Hadi Mulyadi, dan Prof Dr Mujiburrahman (Ketua Kopertais Wilayah XI Kalimantan/Rektor UIN Antasari Banjarmasin) yang sekaligus mengisi orasi ilmiah pada Acara wisuda itu.

Pada sambutannya, Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi memberikan lima pesan kepada para wisudawan dan wisudawati mengenai hal yang harus senantiasa mereka miliki meski sudah bertatus sarjana.

“Saya akan memberikan kalian lima pesan yang harus senantiasa kalian pegang,” ujarnya.

Pertama, kerja dengan tulus dan ikhlas. Jangan bayangkan dapat membuat karya besar tanpa ada ketulusan dan keikhlasan. Siapa pun yang bekerja dengan tulus dan ikhlas akan melahirkan karya besar.

Kedua, jangan berhenti belajar, jangan pernah merasa sudah S-1 lalu tidak lagi belajar.

Ketiga, miliki cita-cita jauh ke depan, ilmu dan latar belakang menjadikan seorang memiliki cita-cita jauh ke depan.

Keempat, bekerja sama. Tidak bisa bekerja dengan sendiri, tapi kita membutuhkan orang lain. Dan ingat tidak ada orang yang sukses tanpa keterlibatan orang lain.

Pesan kelima Wagub Hadi, yaitu bekerjalah dengan cinta. Bagi alumni yang diwisuda hari itu, “Modal utama yang harus dilakukan adalah ada kecintaan terhadap dakwah, cinta terhadap pekerjaan,” ujarnya.

Sementara itu, Ahmad Taufan, salah seorang alumni STIS Hidayatullah angkatan ke-15 yang mengikuti prosesi wisuda secara offline, merasa sangat terkesan. Sebab, wisuda yang harusnya dilaksanakan pada tahun lalu itu tertunda karena adanya pandemi Covid-19.

Hingga pada tahun 2021 ini dapat terwujud dan dapat melaksanakan wisuda tiga angkatan sekaligus.

“Saya menamai Gunung Tembak itu sebagai kampung halaman ideologis hingga saya secara pribadi merasa sangat terkesan apalagi dengan diadakannya wisuda tiga angkatan, ditambah lagi kami (angkatan 15) merupakan angkatan pertama HES (Hukum Ekonomi Syari’ah),” ujar Ahmad Taufan kepada Media Center UmmulQura (MCU) pada Sabtu (18/09/2021).

“Apalagi sebagaimana kita tahu bahwa para alumni itu bertugas di berbagai cabang Hidayatullah di seluruh Indonesia, sehingga perjuangan untuk hadir dalam prosesi wisuda ini begitu sangat-sangat terasa, seperti harus vaksin, PCR. Belum lagi harus berjuang di perjalanan melewati laut yang luas. Alhasil ketika kita hadir, Alhamdulillah, itu terbayar dengan megahnya acara wisuda pada tahun ini,” tambahnya.

Setelah diwisuda, dilakukan acara simbolis penugasan kepada para dai-daiyah muda tersebut dalam mengemban amanah dakwah di berbagai derah se-Indonesia.* (Asrijal/Media Center UmmulQura/STIS)