LINGGA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kepulauan Riau (Kepri) kembali menguatkan sinergi dalam program pendampingan pengelolaan lembaga pendidikan di kampus Madya di kawasan Kepulauan Riau.
Seirama dengan semangat DPP Hidayatullah yang sedang gencar melakukan standarisasi untuk meningkatkan mutu lembaga pendidikan, DPW Hidayatullah Kepri bersinergi dengan Baitul Mall Hidayatullah (BMH) Kepri kali ini melakukan standarisasi-akreditasi di SD Islam Integral Luqman Al-Hakim Lingga, Kamis, 23 Safar 1443 (30/9/2021).
Ketua Yayasan Kampus Madya Hidayatullah Lingga, M Awwalin, dalam sambutannya menegaskan bahwa Standarisasi-Akreditasi Pendidikan Integral Berbasis Tauhid (PIBT) bertujuan mendukung program mainstream organisasi Hidayatullah, yaitu Tarbiyah dan dakwah.
“Agenda ini adalah salah satu metode untuk mengetahui sejauh mana konsep pendidikan Tauhid ini dapat diejawantahkan dan meresap dalam setiap proses pembelajaran yang diterapkan di sekolah,” ujar M Awwalin.
Di kesempatan yang sama, Farhan Siswanto, kepala Departemen Pendidikan DPW Hidayatullah Kepri sekaligus ketua Asesor PIBT menyampaikan bahwa yang paling mendasar dari Standarisasi-Akreditasi ini, memastikan bahwa 7 aspek yang menjadi keunggulan sekolah Hidayatullah dapat terwujud.
Aspek-aspek tersebut yaitu berjalannya konsep PIBT, pembelajaran al Quran & Kurikulum Diniyyah berbasis kitab Muqarror, kaderisasi gerakan Pandu Hidayatullah, pembelajaran Bahasa dan Sains, administrasi PIBT, pengelolaan santri dan akreditasi BAN-SM.
“Sehingga melalui kegiatan ini diharapkan sekolah dapat berjalan sesuai standar yang ditetapkan oleh Depdikdasmen Hidayatullah,” tegas Farhan.
Kegiatan ini juga, lanjut dia, untuk memastikan seluruh proses tarbiyah dan kaderisasi dapat mengantarkan para tenaga pendidik mampu mencetak seluruh siswa menjadi generasi yang memahami bahwa dirinya adalah pemimpin masa depan yang akan membawa perubahan dunia ini menuju Islam kaffah dan Rahmatan Lil Aalamiin.
“Harapannya agar setiap sekolah yang didirikan oleh Hidayatullah menjadi sekolah rujukan umat, yang dapat menyelesaikan problem kemerosotan moral yang banyak dialami oleh generasi saat ini,” imbuhnya.
Kegiatan pendampingan yang berlangsung selama dua hari dihadiri oleh seluruh Majelis Guru SD Islam Integral Luqman Al-Hakim Lingga, Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Lingga, dan Ketua Yayasan Nurul Qur’an Hidayatullah Lingga.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan mengharapkan keberkahan dan pertolongan Allah, munajat doa disampaikan oleh ustadz Badiul Hasani, ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lingga.*/Mujahid M. Salbu
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) telah diamanatkan oleh Undang – undang No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. BPJPH adalah salah satu unsur pendukung di Kementerian Agama Republik Indonesia yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Agama yang bertugas melaksanakan penyelenggaraan jaminan produk halal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Undang Undang tersebut mengamanatkan bahwasanya produk yang beredar di Indonesia terjamin kehalalan produknya oleh karena itu Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal mempunya tugas dan fungsi untuk menjamin kehalalan produk yang beredar dan dipasarkan di Tanah Air.
Senafas dengan hal tersebut, Hidayatullah melalui Ketetapan Munas V Hidayatullah, Nomor: 12/TAP/Munasv/2020 tentang Kebijakan Kebijakan Strategis Hidayatullah Tahun 2020-2025 pada bidang ekonomi dan keuangan, mengamanatkan menjadi pelopor halal food dengan mengedukasi masyarakat lebih memperhatikan soal kehalalan makanan yang dikonsumsi setiap hari.
Tidak sekedar edukasi, tapi Hidayatullah terjun langsung menangani bisnis makanan halal tersebut agar masyarakat muslim dapat menikmati keberkah dari Allah SWT.
Oleh karena itu pula, Hidayatullah juga telah mengajukan permohonan pendirian sebagai lembaga penjamin halal ke BPJPH pada Agustus 2019. Hal ini juga mengacu pada Undang Undang No. 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal pada Pasal 4 menegaskan bahwa produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di wilayah Indonesia wajib bersertifikat halal.
Sementara Undang Undang No. 33 Tahun 2014 Pasal 13 ayat (2) mengamanatkan bahwa dalam LPH sebagaimana dimaksud ayat (1) dididirkan oleh masyarakat, LPH harus diajukan oleh lembaga keagamaan Islam yang berbadan hukum.
Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal juga didukung oleh tugas dan fungsi sebagaimana yang telah diamanatkan oleh Undang – Undang No. 33 Tahun 2014 yaitu tentang Registrasi Halal, Sertifikasi Halal, Verifikasi Halal, Melakukan pembinaan serta melakukan pengawasan kehalalan produk, Kerjasama dengan seluruh stakeholder terkait, serta menetapkan standard kehalalan sebuah produk.*/
BONTANG (Hidayatullah.or.id) — Program BMH Kaltim mencerdaskan dan mengantarkan anak bangsa menjadi generasi sholeh dan sholehah terus dikembangkan melalui beragam program pendidikan. Di antaranya melalui Program Rumah Quran (RQ).
“Alhamdulillah atas dukungan kaum Muslimin, program pembangunan RQ di Kampung atas air Selangan, Pesisir kota Bontang. Bangunan itu mulai dikerjaan pada Agustus lalu, dan kini sudah memasuki tahap finishing,” terang Koordinator BMH Gerai Bontang, Hardi Rukmantara baru-baru ini.
Upaya membangun RQ ini terbilang tidak mudah, karena semua bahan yang diperlukan hanya bisa diangkut dengan perahu.
“Butuh usaha keras mewujudkannya, karena semua bahan material harus didatangkan dari kota dan membawanya pakai perahu. Demikian juga saat pembuatan pondasi karena berada di dalam air laut,” imbuhnya.
Oleh karena itu, pembangunan RQ ini disambut bahagia oleh Ketua RT dan warga kampung setempat. Bahkan salah seorang warga telah menghibahkan sepetak tanahnya untuk lokasi pembangunan.
Antusias warga mendukung program ini karena sejak lama masyarakat setempat ingin agar anak-anak di kawasan tersebut mendapat pendidikan agama dengan layak.
“Harapan orang tua anaknya bisa jadi anak sholeh, bisa lebih baik dari ayah ibunya. Maka saya sebagai Ketua RT sangat senang BMH bisa memfasilitasi pembangunan ini, demi generasi anak-anak kami ke depan,” ungkap Ketua RT setempat, Helmuddin.*
Seorang teman pernah bertanya kepada guru kami, tentang cara cepat belajar bahasa Arab dan membaca kitab kuning, atau disebut juga kitab gundul. Beliau tampaknya kurang berkenan dengan pertanyaan itu, namun alih-alih marah beliau justru menjawabnya dengan bergurau dan aksen yang lucu, “Iya kalau mulutmu itu karung, semua ilmu bisa langsung dimasukkan. Blus, blus, blus…!!” Setiap kali berkumpul dengan sesama alumni dan mengenang kembali peristiwa itu, kami semua tertawa.
Beliau benar, bahwa manusia membutuhkan proses untuk segala sesuatu. Mereka harus bersabar dan rela menempuh kesulitan-kesulitan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
Sebenarnyalah, tidak ada yang instan di dunia ini. Bila pun ada, maka kita harus membayar dengan mengorbankan kualitas atau menghadapi masalah-masalah lain di kemudian hari. Sebab, sudah menjadi sunnatullah bahwa manusia diciptakan untuk menjalani hidup dalam rangkaian kerja keras dan kelalahan-kelelahan.
Allah berfirman,
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. al-Balad: 4).
Ketika menafsirkan ayat ini, al-Hasan al-Bashri berkata, “Dia (manusia) harus berusaha keras untuk mensyukuri kesenangan-kesenangan dan bersabar atas kesulitan-kesulitan, sebab ia tidak akan bisa lepas dari salah satunya; berjuang menghadapi musibah-musibah dunia dan kesukaran-kesukaran akhirat”.
Menurut Ibnu Qutaibah, maknanya adalah: “Dia sangat didominasi oleh dan harus berjuang keras menghadapi urusan-urusan dunia dan akhirat.” (Tafsir Zaadul Masir, VI/160). Penafsiran ini juga yang dipilih oleh Imam Ibnu Jarir ath-Thabari.
Sejak masih berwujud sperma, satu sel yang kelak tumbuh menjadi janin harus berjuang mencapai sel telur, bersaing dengan ratusan juta sel sejenisnya. Kelahirannya pun tidak melalui proses dan jalan yang mudah.
Di saat bersamaan, ia pun tidak dilahirkan dalam keadaan mahir, namun harus belajar mengontrol anggota-anggota badannya satu demi satu, dan berupaya keras mensinkronkannya satu sama lain.
Ketika gigi pertamanya hendak tumbuh, gusinya terasa sangat gatal dan bahkan seluruh tubuhnya pun terserang demam. Demikianlah, kehidupannya terus berlanjut, dan satu demi satu tantangan harus ia retas sebelum berhasil meraih keinginan-keinginannya.
Namun, seringkali manusia tidak sesabar itu. Sudah menjadi sifatnya pula untuk terburu-buru, suka memaksakan sesuatu sebelum waktunya.
Allah berfiman,
“Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa.” (QS. al-Anbiya’: 37).
Juga firman-Nya yang lain,
“Dan manusia memohon untuk keburukan sebagaimana ia memohon untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. al-Isra’: 11).
Terkait ayat dalam surah al-Isra’ tersebut, Imam ath-Thabari berkata, “Manusia suka memohonkan keburukan atas dirinya, anaknya dan hartanya dengan berkata: ‘Ya Allah, hancurkan dan laknatlah dia!’ pada saat jengkel dan marah; sama dengan (ketika) ia meminta kebaikan, seperti ia memohon kepada Tuhannya agar dikaruniai kesehatan dan keselamatan pada dirinya, hartanya, dan anaknya. Allah berfirman: ‘seandainya permohonan keburukan atas dirinya, hartanya dan anaknya itu segera dikabulkan sebagaimana permohonannya atas kebaikan, pasti ia akan binasa. Akan tetapi, dengan karunia-Nya, Allah tidak mengabulkan permintaannya itu.”
Begitulah manusia. Dalam ketergesaan, akal sehatnya sering macet dan malah mengharapkan sesuatu yang sebenarnya sangat buruk. Tidak cukup sampai di situ, ia juga bersikeras agar harapannya itu terwujud segera. Lalu, tiba-tiba ia terkepung sejuta penyesalan ketika menyadari akibat-akibat buruk dari apa yang semula ia harapkan sendiri.
Sayangnya, sifat inilah yang mengemuka dewasa ini. Kita menyebutnya sebagai “budaya instan”. Semula, istilah ini identik dengan makanan atau minuman yang langsung bisa dinikmati tanpa perlu dimasak lama, terutama mie. Namun, kemudian dimutlakkan untuk segala hal yang bersifat kilat dan seolah tanpa proses wajar, karena tiba-tiba sudah berwujud sempurna tanpa diketahui tahap-tahap pertumbuhannya.
Contoh-contoh budaya instan sangat banyak dan beragam. Ibaratnya, ia meluap dan merendam banyak kawasan seperti Bengawan Solo di musim hujan. Ada orang yang menjadi kaya secara instan, menjadi sarjana secara instan, menjadi langsing secara instan, menjadi terkenal secara instan, dan seterusnya.
Akan tetapi, seperti halnya mie instan atau makanan cepat saji (fast food) yang jika terlalu banyak dikonsumsi akan membawa efek-efek serius terhadap kesehatan, maka budaya-budaya instan pun demikian.
Bagaimana pun, setiap ketergesaan pasti ditunggangi oleh setan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketenangan itu dari Allah dan ketergesa-gesaan itu dari setan.” (Riwayat at-Tirmidzi dari Sahl bin Sa’ad, dan al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dari Anas. Hadits hasan).
Misalnya, ketika seseorang tidak mau bersabar membangun jalan-jalan rezekinya secara bertahap dan ingin segera kaya-raya, ia pasti mengambil jalan pintas. Memang segenap perubahan penampilannya bisa membuat kita terperangah. Hanya saja, seluruhnya semu dan tidak bertahan lama. Beberapa waktu kemudian, ternyata ia dibelit efek-efek samping dari kekayaan instannya sendiri. Kita pun hanya bisa geleng-geleng kepala.
Bagaimana pun, kekayaan bukan masalah perbendaharaan material belaka, tetapi juga menyangkut sikap mental dan cara hidup. Ketika realitas fisik manusia berubah terlalu cepat sementara kondisi mentalnya tidak disiapkan dengan baik, hampir pasti ia akan mengalami keterkejutan dan terjerumus dalam aneka bencana.
Sekedar analogi, seorang atlet angkat berat mampu mengangkat barbel tanpa mengalami cedera karena telah melatih otot-ototnya tahap demi tahap. Namun, jika orang biasa yang tidak terlatih disuruh melakukan hal serupa, akibatnya sudah bisa ditebak.
Begitu pula, jika kondisi lahiriah hidup kita berubah secara instan tanpa landasan ruhiyah yang telah disiapkan baik-baik, maka bersiap-siaplah untuk mengalami aneka cedera mental yang tidak disangka-sangka. Na’udzu billah! Wallahu a’lam.
KEPULAUAN ARU (Hidayatullah.or.id) — Dai-dai Hidayatullah di Kepulauan Aru, Maluku, kini tak lagi sulit menjangkau beberapa pulau untuk menemui masyarakat Muslim yang tersebar di wilayah perairan tersebut. Pasalnya, pada Sabtu (25/9), sebuah kapal berukuran 11x 2 meter persegi telah mereka terima dari perwakilan mukhlisin yang peduli dengan dakwah pedalaman lewat PosDai Hidayatullah.
Kapal dengan berat 5 ton tersebut diterima oleh Ketua DPW Hidayatullah Maluku, Sulaiman Ismail, disaksikan sejumlah dai Hidayatullah di Dobo, Kepulauan Aru. Menurut Sulaiman, kendala dakwah di Kepulauan Aru selama ini memang transportasi.
“Di Aru ini banyak sekali pulau. Untuk menjangkau masyarakat di sana kami perlu kapal. Alhamdulillah sekarang sudah ada,” jelas Sulaiman usai menerima kapal tersebut.
Ia memberi contoh masyarakat Kampung Jerukin di Pulau Maikoor. Ada 30 KK Muslim di sana, sedang selebihnya, 30 KK lagi, non Muslim. Untuk menjangkau pulau ini diperlukan waktu 4 jam perjalanan dengan kapal kecil dari Dobo.
Beberapa tahun lalu, Sulaiman bertugas di kampung tersebut. Namun, ia dipindah ke Dobo. Sejak itu ia jarang sekali mengunjungi masyarakat binaannya karena ketiadaan kapal. Sementara bila ia menyewa kapal kecil, biayanya bisa besar sekali, yakni Rp 3 juta untuk satu kali perjalanan
Jumadil Akhir, dai muda Hidayatullah yang ditugaskan berdakwah di Kepulauan Aru, menjelaskan rencananya untuk mengunjungi beberapa kampung binaan di sejumlah pulau dengan kapal tersebut.
Selain berdakwah dan bersilaturahim, ia juga ingin mengajak sejumlah anak muda Muslim dari beberapa pulau untuk belajar mengaji di pesantren Hidayatullah, Dobo. Setelah mereka mampu membaca al-Quran dengan baik, mereka akan dikembalikan ke kampungnya untuk mengajar ngaji di sana.
Kabupaten Kepulauan Aru adalah salah satu kabupaten dari total 9 kabupaten ditambah 2 kota di Propinsi Maluku. Wilayahnya membentang sepanjang 185 kilometer dari utara ke selatan dan 90 km dari timur ke barat. Ukurannya hampir sama dengan 2 kali luas Pulau Bali. Luas wilayah perairan 7,6 kali wilayah daratan.
Ada 187 pulau di Kepulauan Aru. Lima pulau terbesar di antaranya adalah Kola, Wokam, Kobror, Maekor, dan Trangan. Kabupaten Kepulauan Aru juga terbagi atas 10 kecamatan, 2 kelurahan, dan 80 desa. (Mahladi)
MATARAM (Hidayatullah.or.id) — Departemen Sosial Dewan Pengurus Pusat (Depsos DPP) Hidayatullah bersama Depsos Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar pelatihan kepengasuhan santri dan anak asuh bagi pengasuh panti asuhan di bawah Pusat Pendidikan Anak Shaleh (PPAS) Hidayatullah se-NTB, Sabtu, 18 Safar 1443 (25/9/2021).
Ketua Depsos DPP Hidayatullah Musliadi Raja mengatakan acara yang digelar di Kampus Madya Al Iman Hidayatullah Mataram ini juga sekaligus dalam rangka penguatan pada Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) PPAS untuk pencapaian kinerja yang lebih terarah, terpadu, dan berkelanjutan.
“Peran kepengasuhan menjadi core capabilities untuk mencapai apa yang telah diamanatkan oleh negara sebagaimana UU Nomor 23 Tahun 2002, agar anak terpenuhi hak-haknya untuk hidup, tumbuh dan berkembang,” kata Musliadi dalam keterangannya kepada media ini, Senin, 20 Safar 1443 (27/9/2021).
Menurut Musliadi, peran kepengasuhan juga penting menjadi perhatian sebab selain ia menjadi ujung tombak dalam perlindungan dan pemenuhan hak anak dalam lingkungan yayasan, ia juga menjadi penentu dalam pembentukan karakter anak yang bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
“Oleh karena itu, kami di Depsos Hidayatullah menilai amat penting pelatihan ini yang sejalan dengan fungsi dan tujuan Pendidikan Nasional sebagaimana diamanatkan oleh negara,” katanya seraya menukil Pasal 3 Undang-undang No. 20 Tahun 2003.
Dalam sambutannya, Musliadi menekankan bahwa menjadi pengasuh merupakan amanah mulia. Namun dia mengingatkan, mengasuh tidaklah sesederhana membalik telapak tangan, karena itu, penyelenggaraan kepengasuhan membutuhkan ilmu dan kesiapan diri.
“Menjadi pengasuh dan murobbi santri yang egaliter serta mengedepankan dialog pada santri dalam menegakkan peraturan keasramaan,” imbuhnya.
Dia berpesan agar pengasuh selalu ditingkatkan kapasitasnya dalam menangani santri agar lahir santri yang disiplin dalam semua aspek, baik dalam hal ibadah maupun skil praktis keseharian. Dia mengatakan, pelatihan serupa terus berlanjut di kota kota lainnya.
Dalam pelatihan turut hadir Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Ustadz Ismuji, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah NTB Ustadz Muslihuddin Mustakim, Ketua Depsos DPW Hidayatullah NTB Muhammad Fahrurrozi.
Acara juga dihadiri secara virtual oleh Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat DPP Hidayatullah Ust Drs Nursyamsa Hadis yang sekaligus memberikan arahan strategis dalam acara yang dihadiri peserta perwakilan 10 DPD Hidayatullah se-NTB tersebut.
Di sela kegiatan yang berlangsung intensif sehari ini, Musliadi menyapa anak anak asuh Kampus Madya Al Iman Hidayatullah Mataram dan berfoto bersama. Direktur Sahabat Anak Indonesia (SAI) ini juga melakukan silaturrahim dengan Gubernur NTB Zulkiflimansyah. (ybh/hio)
TUBAN (Hidayatullah.or.id) — Pemuda Hidayatullah Jawa Timur, rayon Bojonegoro, menggelar acara ‘Leadership Training Center’ (LTC), untuk semua kader muda Hidayatullah, selama 3 hari yang ditutup Sabtu, 18 Safar 1443 (25/9/2021).
Kata Muhammad Thalib, ketua rayon Pemuda Hidayatullah Bojonegoro, diselenggarakanya acara ini, selain menjalankan amanah yang telah diberikan organisasi, juga dalam rangka pembinaan nilai-nilai ruhiah dan kepemimpinan para pemuda Hidayatullah.
Acara yang diselenggarakan di kampus Hidayatullah, Tuban ini, menyugukan beberapa materi kepemimpinan. Salah satunya bidang literasi.
Dalam penyampaiannya, Robinsah, selaku pemateri, mengingatkan para peserta untuk menumbuhkan aktivitas literasi. Hal ini dinilai penting, untuk mengasah jiwa kepemimpinan yang matang.
“Pemimpin yang cakap literasinya, akan mampu melahirkan gagasan-gagasan cemerlang, karena ia mampu membaca peluang-peluang, sekaligus tantangan kedepan yang akan dihadapi,” ulasnya.
Bertolak belaka dengan pemimpin yang literasinya lemah. Miskin ide. Gamang dalam bersikap. Bahkan sekedar menyampaikan gagasanpun belepotan.
“Jangan sampai pemimpin semisal nomor dua itu ada pada diri setiap pemuda muslim. Sebab hal yang demikian, sama sekali tidak mencerminkan identitas keislaman,” warning pemuda asal Lampung ini.
Sebab, sambungnya, kalau ditilik secara mendalam kaitannya dengan literasi, maka salah misi diturunkannya Islam, yaitu ingin melahirkan generasi ilmiah yang bertauhid.
“Generasi yang sukan membaca (iqra’) Apa saja selagi positif.. Dan dengan proses itu, ia semakin tunduk dan patuh kepada Tuhannya (fasjud waqtarib), karena menyadari akan Kemahabesaran Allah atas segala sesuatu,” terangnya. (ybh/hio)
MALANG (Hidayatullah.or.id) — Salah satu perguruan tinggi Hidayatullah (PTH) yakni Sekolah Tinggi Teknologi (STT) STIKMA Internasional menggelar Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana Tahun Akademik 2020/2021 yang digelar pada Sabtu, 18 Safar 1443 (25/9/2021).
Bertempat di Harris Hotel Riverside, Jl. A. Yani, Polowijen, Malang, Jawa Timur, acara wisuda menerapkan protokol kesehatan yang ketat, semua wisudawan dan peserta yang hadir wajib menggunakan masker dan menjaga jarak.
Suasana khidmat mengiringi prosesi wisuda mahasiswa STIKMA dari 3 Prodi tersebut, yakni S1 Teknik Infomatika & Arsitektur serta D3 Komputer multimedia.
Menurut Ketua STT STIKMA Internasional, Drs. Nanang Noerpatria, MPd, para wisudawan yang berjumlah 68 orang telah ahli di bidang informatika, komputer multimedia, dan arsitektur. Mereka telah meraih gelar sarjana (S-1) dan diploma serta siap terjun ke masyarakat.
Di antara para wisudawan tersebut, terdapat 12 orang sarjana yang disebut sebagai da’i Nusantara. Mereka langsung ditugaskan ke berbagai daerah di pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, hingga Papua. Ada yang bertugas di lembaga pendidikan Islam atau pesantren, lembaga bisnis, lembaga zakat, juga terjun dakwah di media massa.
STT STIKMA Internasional adalah perguruan tinggi yang dikelola oleh ormas Hidayatullah, tepatnya Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Timur. Lembaga ini telah memiliki jaringan luas di seluruh Indonesia. Itulah sebabnya, lulusannya tidak ada istilah menganggur.
Saat ini STT STIKMA Internasional menyelenggarakan perkuliahan jenjang S-1 Teknik Informatika, S-1 Arsitektur, dan D-3 Komputer Multimedia. Fasilitasnya lengkap, mulai dari laboratorium informatika, animasi dan grafis komputer, jaringan komputer, audio digital dan studio dubbing, studio editing video analog dan digital, tempat ibadah, dan sebagainya.
Dijelaskan oleh Drs. Miftahuddin MSi, Ketua Departemen Pendidikan Tinggi dan Litbang Dewan Pengurus Pusat (DPP), STT STIKMA Internasional selama ini telah berpengalaman dalam menyiapkan sumber daya insani yang terampil di bidang teknologi informasi. Banyak lulusannya yang telah berkiprah di berbagai daerah.
Acara wisuda STT STIKMA Internasional dihadiri oleh KH. Dr. Nashirul Haq, Lc, MA, Ketua Umum DPP Hidayatullah. Usai memberikan sambutan, cendekiawan Muslim ini mengalungkan surban kepada perwakilan da’i Nusantara.
Ada yang menarik dalam wisuda tersebut, bersamaan dengan wisuda, Manager Kelembagaan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Jawa Timur, Indokhul Makmun, SE menyerahkan bantuan paket beasiswa Super Prestasi senilai 252 juta yang meliputi biaya pendidikan, biaya asrama dan pengembangan bakat.
“Selama beberapa tahun ini, Laznas BMH terus aktif peduli dalam dunia pendidikan, salah satunya STIKMA ini untuk terus mencetak generasi yang siap menghadapi tantangan global”ungkap Makmun.
Ia juga menambahkan, “semoga dengan adanya bantuan pendidikan ini, semakin banyak generasi yang siap tampil di masyarakat dengan ketrampilan yang mumpuni dalam merespon problematika ummat di dunia global sekarang ini”.*/Puang Budi
PADANG (Hidayatullah.or.id) — Umam, itulah panggilan sehari-hari Khairul Umam. Ia menjadi korban kebakaran yang terjadi di rumah yang ia tinggali bersama keluarga, tepatnya di RT 003 RW 003 Kelurahan Tarantang, Kecamatan Lubukkilangan, Kota Padang.
Kamis dinihari, 16 Safar 1443 (23/9/2021) menjadi malam yang memilukan bagi Khairul Umam dan keluarga. Hal yang tak pernah terbayangkan itu terjadi. Si jago merah melahap tempat ia dan keluarga bernaung hingga tak bersisa.
Di rumah itu pula ia pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Kedekatan dan kecintaannya pada keluarga membuat ia nekat menerobos kobaran api.
Ia yang sebelumnya mampu menyelamatkan diri, memutuskan kembali masuk ke dalam rumah setelah menyadari sang ayah mertua terjebak di dalam rumah.
Nahas bagi dirinya, hingga kobaran api berhasil dipadamkan ia tak kunjung menampakkan diri. Malang baginya, ia tewas dalam peristiwa tersebut.
Sedangkan Taufik, sang ayah mertua berhasil selamat dari kobaran api dengan cara melompat keluar dari lantai dua rumah.
Pria asal Aceh ini dimakamkan di makam keluarga sang istri yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian.
Walaupun kematian adalah sesuatu yang pasti menimpa semua orang, raut kesedihan tidak dapat disembunyikan pihak keluarga yang berada di rumah duka.
Terlihat rumah duka yang tidak jauh dari lokasi kejadian ramai dikunjungi masyarakat sekitar untuk melayat.
Seorang keluarganya dengan mata sembab melepas kepergian Khairul Umam untuk selamanya.
“Umam kesayangan keluarga. Umam orang baik, Etek kenal betul dengan dia,” ujar Len, saudara dari istri almarhum, seperti dikutip dari Padang Ekspres (Grup Jawa Pos)
“Bahkan saat punya kesempatan menyelamatkan diri, tapi ia memilih untuk kembali karena teringat ayahnya. Jadi tidak benar jika ada yang memberitakan almarhum meninggal karena berusaha menyelamatkan harta benda,” ujar Len mengimbuhkan.
Ia juga mengungkapkan pihak keluarga telah mengikhlaskan kepergiannya dan meminta doa terbaik dari semua masyarakat agar Umam dimudahkan jalannya.
Semasa hidupnya, Khairul Umam yang merupakan alumni Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak Balikpapan angkatan ke 9 ini dikenal sebagai sosok yang senang bergaul.
“Almarhum gampang dekat dengan siapapun, murah senyum. Walaupun ajal tidak ada yang tau, tapi masih tidak menyangka. Sebagai tetangga kami tentu turut merasa kehilangan,” ujar Novi, tetangga almarhum yang rumahnya ikut terbakar dalam peristiwa tersebut.
Len juga mengungkapkan hal yang sama. “Umam termasuk orang yang gampang bersosialisasi. Terbukti dengan dia yang dari Aceh tapi mampu membaur dengan masyarakat disini. Selain bersama keluarga, Umam juga sering menghabiskan waktu untuk sekadar mengobrol dengan tetangga. Jadi bukan hanya baik ke keluarga, namun juga ke semua orang,” ungkapnya.
Sahabat karib almarhum semasa nyantri di Hidayatullah Gunung Tembak, Ust Abdul Majid, mengenang almarhum sebagai lelaki yang shaleh, orang yang baik serta memiliki kecerdasan yang menonjol.
“Ana bersaksi, beliau sahabat saya yang baik dan sabar, cerdas dan shaleh. Allahummagfirlahu warhamhu wa ‘afihi wa’fuanhu,” kata Abdul Majid yang kini bertugas di Batam.
Hal senada dikemukakan kolega almarhum lainnya. Seperti diutarakan Sarpani, sahabat almarhum yang pernah sama-sama menempuh kelas bahasa Arab di Kampus Hidayatullah Karang Bugis.
“Sempat ikut program bahasa Arab di Karang Bugis selama dua tahun sebelum akhirnya pas kelas tiga Aliyah lanjut di Aceh. Dulu satu kamar, almarhum termasuk orang yang sangat sabar,” kata Sarpani mengenang almarhum yang meninggalkan 3 orang yang masih kecil kecil ini.
Bagi Anda yang ingin membantu meringankan beban keluarga almarhum, dapat menghubungi DPW Hidayatullah Sumatera Barat Ust Muhammad Irsyad +62 852-5271-3274 atau transfer ke Bank Nagari 21000210585410 atas nama Yayasan Peduli Pendidikan Anak Yatim Dhuafa Kota Padang dan jangan lupa konfirmasi ke nomor kontak di atas.
LINGGA (Hidayatullah.or.id) — Gerakan kepedulian dan kebaikan di kawasan Kepulauan Riau semakin masif. Kali ini dalam bentuk simpul sinergi BMH dan mitra dalam pembinaan para muallaf di Selat Kongki, Kabupaten Lingga, Rabu, 15 Safar 1443 (22/09 2021).
Pada kesempatan tersebut BMH Kepri meresmikan fasilitas pembinaan yaitu mushallah yang representatif serta sebuah Rumah Quran.
Menurut Abdul Aziz, kepala perwakilan BMH Kepri, selat Kongki memang jauh, namun ikatan dalam satu aqidah Islam membuat jaraknya jadi begitu dekat.
Kata dia, ummat Islam yang menyumbangkan hartanya melalui BMH untuk program ini tinggal ratusan bahkan ribuan mil dari selat Kongki, namun mereka tetap terpanggil untuk ikut serta dalam gerakan kebaikan ini, karena adanya rasa sepenanggungan sesama ummat Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
“BMH sebagai perantara kebaikan ummat, menitipkan fasilitas ini untuk dimanfaatkan sebaik baiknya agar dari tempat yang terpencil ini kelak akan lahir generasi muslim yang tangguh, setangguh nelayan dalam menaklukkan lautan,” imbuh Abdul Azis.
Dalam peresmian 1 fasilitas pembinaan berupa mushallah dan 1 unit rumah Quran, hadir sejumlah pejabat tingkat Kabupaten Lingga dan tokoh masyarakat setempat.
Dalam sambutannya, Kepala Sub Bagian (Kasubag) Kemasyarakatan di Bagian Kesra Setretariat Daerah (Setda) Lingga, Hazni Hamka, menegaskan bahwa secara umum Hidayatullah tak diragukan lagi kiprahnya dalam memberikan perhatian untuk ummat.
“Dai-dai Hidayatullah tidak menyerah dengan beragam kesulitan dalam mengemban tugas dakwah,” kata Hamka.
Sehingga, lanjut Hamka, pihaknya dari pemerintah Kabupaten Lingga memberikan apresiasi kepada BMH Kepri dan DPW Hidayatullah Kepri yang telah memberikan perhatian yang besar untuk pembinaan ummat yang ada di Kabupaten Lingga.
Hamka berharap semoga dakwah Hidayatullah terus berkembang melalui gerakan zakat bersama BMH.
“Semoga masyarakat semakin menaruh kepercayaan kepada BMH dan mengamanatkan donasi zakatnya melalui BMH, karena programnya sudah sangat di rasakan langsung manfaat nya oleh ummat Islam,” tutup Hazni Hamka.
Selain tim BMH Kepri, sejumlah pengurus DPW Hidayatullah Kepri dan pengurus Hidayatullah Lingga juga turut membersamai ke selat Kongki.
“Gerakan dakwah dan tarbiyah sebagai mainstream gerakan Hidayatullah telah terbukti tidak hanya menyentuh kalangan perkotaan tetapi juga sampai ke titik yang terpencil seperti, kaum muslimin, para muallaf di selat Kongki ini,” tutur Darmansyah, ketua DPW Hidayatullah Kepri dalam sambutannya yang penuh semangat.
Tidak ketinggalan kepala Desa Penaah yang turut hadir, menyampaikan kesan atas apa yang telah dilakukan oleh BMH Kepri.
“Kami sangat bersyukur dan terharu dengan program ini, walaupun daerah kami sangat terpencil tetapi ternyata tetap mendapatkan perhatian yang begitu luar biasa, terima kasih buat BMH atas bantuan sarana pembinaan ini semoga masyarakat kami semakin tercerdaskan,” tutur Kades Pena’ah, Kabupaten Lingga.*/Mujahid M. Salbu