Beranda blog Halaman 422

Mumpung Masih Muda Gunakan Waktu Berkhidmat untuk Islam

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — “Mumpung masih muda, ayo gunakan waktu yang ada ini untuk Islam, siapa tahu ada gunanya di masa depan”.

Kalimat itu bagian dari uraian mendalam yang dipaparkan oleh salah satu tokoh pendiri Hidayatullah, Ustadz Hasyim HS dalam Silaturrahim Syawal dengan ulasan Refleksi Ramadhan Tokoh Tokoh Senior Hidayatullah secara daring dari Kampus Induk Hidayatullah Balikpapan, Kalimatan Timur, Ahad (30/5/2021).

Hal itulah yang menjadikan Ustadz Hasyim HS serius, penuh mujahadah, terlibat dalam perjuangan mendirikan Pesantren Hidayatullah di Gunung Tembak, Balikpapan.

Lebih lanjut, alumni Pesantren Gontor itu mendorong bahwa dalam kehidupan ini kita harus memiliki kemampuan melihat dengan baik apa pun, termasuk cibiran yang melemahkan semangat.

Beliau menuturkan, bahkan kala orang mencibir apa yang kita lakukan, kala dipandang dengan baik dengan semangat mengambil pelajaran yang baik, maka cibiran itu bisa jadi pengingat.

Seperti ungkapan yang mengatakan bahwa Hidayatullah itu Abdullah Said. Jika Abdullah Said tiada maka tiadalah Hidayatullah. “Alhamdulillah tidak seperti itu,” tegas Ustadz Hasyim HS.

Dengan demikian, tegas dia, jangan menjadi manusia yang mudah lemah dan mudah goyah karena bebodoran yang disampaikan orang. Terlebih biasanya yang namanya ejekan selalu bukan bersumber dari akal pikiran, melainkan ketidakmengertian.

Akan tetapi, sebatas pikiran itu tidak menjamin apa-apa. Manusia butuh ibadah kepada Allah Ta’ala. Karena pada dasarnya yang namanya manusia itu rapuh. Solusinya adalah ibadah dengan sungguh-sungguh.

Mereka yang kini menjadi tokoh senior dahulunya adalah anak muda. Mereka yang kini menjadi tokoh senior dahulunya adalah anak muda

“Masing-masing kita memang memiliki keterbatasan dan kelemahan. Tetapi itu harus membuat kita semakin kuat memohon kepada Allah. Inilah kenapa ibadah itu bukan semata perlu, tetapi mutlak bagi kehidupan kita,” tegas beliau.

Lakukan terus ibadah yang Allah perintahkan bahkan yang sunnah. Nanti ibadah itu tidak akan sebatas mendatangkan pahala, tetapi juga meruyupkan kekuatan dan pertolongan dari Allah. Itulah andalan yang harus dikuatkan dan dihidupkan dalam keseharian kita.

Di sini dapat dengan mudah dipahami, mengapa Rasulullah SAW yang dijamin surga luar biasa sekali semangatnya dalam ibadah. Karena bukan sebatas keadaan pribadi beliau yang hendak diupayakan baik, tetapi juga umat manusia.

Melalui ibadah, pintu-pintu pertolongan Allah terbuka. Melalui ibadah diri terkontrol dalam kebaikan dan senantiasa dalam rahmat Allah. Dan, melalui ibadah keberkahan hidup akan Allah limpahkan.

Berdasarkan uraian tersebut, ibadah merupakan satu sarana yang terbaik untuk kita tidak sekedar bisa hidup dengan baik tetapi lebih jauh juga diberikan jalan dan pertolongan oleh Allah untuk menghadirkan kebaikan, kemanfaatan dan kemaslahatan.

Usia muda kita idealnya tidak dibangun hanya untuk meraih kesenangan pribadi, tetapi kemaslahatan bagi kehidupan. Itulah fungsi dari tugas manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi.

Dan, upaya itu akan jauh lebih mudah kita wujudkan jika kita bergabung dan semangat dalam jama’ah. Suatu gerakan yang memang akan Allah cintai dan berikan jaminan kebaikan.

Sebab dalam Islam, jangankan urusan menghadirkan kemaslahatan luas, sebatas urusan perjalanan pun, jika lebih dari dua dan minimal tiga orang, harus ada yang ditunjuk menjadi pemimpin. Artinya jelas, berjama’ah itu lebih kuat, bagus, dan tentu saja ini ajaran yang mulia. Allahu a’lam.*/Imam Nawawi

Menghadirkan Pondok Tahfidz Qur’an di Pulau Lemukutan

BENGKAYANG (Hidayatulllah.or.id) — Selain berikhtiar memberi manfaat kepada umat secara luas melalui gerakan sosial, ekonomi, pemberdayaan dan ketahanan, layanan umat melalui pendidikan dan dakwah menjadi arus utama gerakan Hidayatullah yang terus dikuatkan.

Dalam rangka tersebut, Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kalimantan Barat meluaskan kiprah dengan menghadirkan Pondok Tahfidz Qur’an di kabupaten/ kota hingga masuk ke pedalaman.

Didukung Laznas BMH, Hidayatullah Kalimantan Barat meluaskan layanan ini dalam rangka menguatkan kiprah berkhidmat kepada negeri terus meningkatkan layanan program pendidikan untuk generasi bangsa, agar ke depan lahir generasi yang cerdas, religius, dan beradab.

Alhamdulillah, langkah kecil turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa, dirikan Pondok Tahfidz Qur’an di Pulau Lemukutan, Kecamatan Sungai Raya, Kepulauan Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat dan telah diresmikan pada Rabu (26/05/21).

Ketua DPW Hidayatullah Kalbar Nur Kalam menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung program ini sebagai upaya untuk memberi palayanan terbaik secara gratis kepada masyarakat, terkhusus mereka yang ingin menghafal Al-Qur’an.

Pihaknya juga memminta doa agar dapat terus berkiprah memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat yang membutuhkan hingga ke pelosok Negeri.*/Herim

LBH Hidayatullah Terima Serikat Pekerja Nasional Jakarta

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hidayatullah menerima kunjungan silaturrahim rombongan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Serikat Pekerja Nasional (SPN) DKI Jakarta yang dipimpin Muhammad Andre Nasrullah di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak I/14, Otista, Jakarta, Rabu (26/5/2021).

Turut serta dalam silaturrahim tersebut Ketua DPC SPN Jakarta Utara Agus Rantau serta Ketua Serikat Pekerja-Serikat Pekerja Nasional (PSP-SPN) PT MWL, Abdurrahman. Rombongan diterima langsung oleh Direktur LBH Hidayatullah Dr Dudung A. Abdullah, SH, MH.

Selain bersilaturrahim yang bertepatan dengan momentum Syawal pasca Hari Raya Idul Fitri 1442, kedatangan Serikat Pekerja Nasional DKI Jakarta ini sekaligus untuk meminta bantuan dan perlindungan hukum atas kesewenang wenangan yang diduga dilakukan manajemen pabrik tempat mereka bekerja yakni PT MWL di Jakarta Utara.

Direktur LBH Hidayatullah Dr Dudung A. Abdullah, SH, MH, menyebutkan ada 421 orang karyawan MWL yang diputus hubungan kerja alias terkena PHK karena perusahaan tersebut berhenti beroperasi.

“Uang PHK dan tunjangan sebesar 47 miliar belum dibayarkan kepada karyawan yang ada,” kata Dudung dalam keterangannya kepada media ini.

Serikat pekerja disebut sudah mengajukan ke pengadilan hubungan industri. Kemudian dalam perjanjian bersama yang diketuai oleh ketua pengadilan disepakati perusahaan harus membayar kewajibannya tersebut.

“Tapi kemudian pihak perusahaan malah menggugat ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk meminta penangguhan selama satu tahun dan dicicil. Ini yang kemudian membuat pekerja gusar dan akhirnya meminta bantuan pendampingan hukum LBH Hidayatullah,” kata Dudung.

Kasus ini masih terus berlanjut. Dudung mengatakan, persidangan mediasi akan dilakukan pada Rabu, 2 Juni 2021 pekan depan.

“Kita berharap bisa mendampingi para pekerja sebagai bagian dari pendampingan umat untuk mereka mendapatkan keadilan,” pungkas Dudung yang juga pendiri Kantor Hukum DRDR ini.

Diketahui PT MWL yang bergerak di bidang jasa pembuatan aksesoris label untuk garmen ini akhirnya memutuskan untuk menutup operasional secara penuh sejak tanggal 01 September 2020 karena penurunan order sejak pandemi covid-19 yang membuat pemasukan perusahaan menurun drastis.

PT MWL menyatakan akan membayar hak-hak pekerja tersebut setelah penjualan aset perusahaan. Hal tersebut sebagaimana dituangkan dalam perjanjian bersama antara perusahaan dan serikat pekerja. (ybh/hio)

Momentum Silaturrahim Syawal Teguhkan Madrasah Ramadhan

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr H Nashirul Haq, dorong manfaatkan silaturrahim Syawal sebagai momentum meneguhkan tradisi ibadah sebagaimana telah dilakukan selama menjalani madrasah Ramadhan.

Dalam pada tersebut, beliau mengimbuhkan, Ramadhan juga diharapkan kian memantapkan diri untuk menguatkan kepemimpinan sebagai wasilah meluaskan kebaikan dalam hubungan dengan manusia dan sang pencipta.

“Hakekat kepemimpinan selalu disimbolkan dengan iqomatus sholah dan wa ’atuzzakah. Di sana ada hablum minallah dan hablum minannas dalam rangka hirastuddien dan siasatuddunya, menegakkan agama dan menghadirkan kesejahteraan,” katanya dalam acara Silaturrahim Syawal DPP Hidayatullah beberapa waktu lalu (20/5).

Dengan semangat kepolopran dalam kebaikan itu, Hidayatullah sebagai salah satu jamaah kaum muslimin hadir dengan memadukan spirit imamah, jamaah dan dengan manajemen modern yang memuat nilai kemanunggalan gerakan, harmoni, sinergi, interaksi, koneksi dan kohesi.

“Jangan ada ego sektoral yang masing-masing mengedapankan bidangnya masing-masing, sebab itu terus dikuatkan sinergitas antar lembaga. Tantangan yang kita hadapai saat ini, berbeda dengan pendahulu kita, sehingga diperlukan ijtihad untuk menghadapi masa saat ini,” imbuhnya.

Sebab itu, beliau melanjutkan, kepemimpinan itu adalah merupakan amanah dan tanggung jawab yang berat karena dia datang dari Allah. Karenanya, pesannya, menjalankan amanah kepemimpinan tentulah melibatkan pertolongan Allah Subhanahu wa ta’ala.

Al quwwah al imaniyah, al quwwah ar ruhiyah, sebagaimana pesan dari muassis bahwa saat kita mengandalkan kemampuan otak kita malah tidak jalan, akan tetapi jika menyandarkan pada Allah, semua berjalan dengan mulus,” ujarnya.

Lebih jauh, Ust Nashirul menukaskan, Baitul Maqdis Palestina yang digempur penjajah zionis Israel pada penghujung Ramadhan lalu menuntut kaum muslimin khususnya para kader dan jamaah Hidayatullah untuk terus membela negeri Para Nabi itu, setidak tidaknya dengan doa dan bantuan harta.

“Ramadhan mengajarkan tentang kualitas, sebagaimana lailatul qadr 1 malam setara dengan 1000 bulan. Hal ini bisa dilihat bagaimana kekuatan Palestina terutama Gaza tidak bisa dikalahkan oleh Israel yang secara persenjataan lengkap. Kata kuncinya setiap rumah punya penghafal al Qur’an dan dan ahli ibadah,” katanya.

Silaturrahim Syawal yang berlangsung di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah ini dihadiri oleh segenap pengurus dan staf dengan penerapan standar protokol kesehatan ketat. Sebagian peserta lainnya mengikuti secara virtual melalui saluran zoom meeting.*/Amanji Kefron

Jamaah di Masjid Hidayatullah Tarakan Salurkan Donasi untuk Baitul Maqdis Palestina

TARAKAN (Hidayatullah.or.id) — Kepedulian masyarakat terhadap kondisi masyarakat Palestina usai diserang secara militer oleh Israel terus mengalir. Kali ini dari Jama’ah Masjid Hidayatullah di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, yang mengamanahkan penyalurannya melalui BMH.

“Alhamdulillah, dukungan masyarakat Tanah Air terus mengalir untuk saudara kita di Palestina. Kali ini BMH menerima amanah berupa donasi kemanusiaan untuk masyarakat Palestina dari Jama’ah Masjid Hidayatullah Kota Tarakan. Dana yang didonasikan mencapai Rp. 27.575.000,” terang Kadiv Program dan Pemberdayaan BMH Kaltara, M. Nor Komara (26/5).

Menurut ketua DKM Masjid Hidayatullah Tarakan, Ustadz Joni Syafa’at ini adalah wujud kepedulian jama’ah dari infaq yang dikumpulkan.

“Donasi ini kami kumpulkan dari jama’ah yang ada di masjid. Ini adalah bukti bahwa kami selalu bersama saudara kami di Palestina. Bahkan dari jama’ah ada yang emnginfakkan hasil panen kebun dan tambak yang baru saja mereka tuai,” ucapnya.

Secara simbolis penyerahan dana kemanusiaan untuk Palestina itu dilakukan di Pesantren Hidayatullah Karungan, Kelurahan Mamburungan Timur, Tarakan Timur, Kota Tarakan.*/Herim

Membebaskan Baitul Maqdis Palestina Harus dengan Ilmu

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Tanah Suci Baitul Maqdis Palestina bukan saja sekadar Tanah Harapan, namun lebih dari itu, ia adalah pusat keberkahan, sumber harapan, kebahagiaan, keamanan, dan tempat inspirasi bagi kaum Muslimin.

Oleh, sebab itu, pembebasan baitul maqdis haruslah dimulai dari ilmu pengetahuan karena ini memainkan peranan sangat penting dalam pembebasan yang pertama dan kedua atas Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsha, sebagaimaan dilakukan Amirul Mukminin Umar bin Khattab.

Lihat video

Himbauan Shalat Gerhana Bulan DPP Hidayatullah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Fenomena gerhana bulan total peringe (Super Blood Moon) akan terjadi di wilayah Indonesia pada 26 Mei 2021. Sub Bidang Analisis Geofisika Potensial dan Tanda Waktu Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan, puncak gerhana dapat diamati dari hampir seluruh wilayah Indonesia kecuali sebagian kecil Riau, sebagian Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.

Menghadapi fenomena tersebut, Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menerbitkan himbauan shalat gerhana yang dapat diunduh berikut ini:

DOWNLOAD

Jalin Silaturrahim dengan ormas Keagamaan di Sulawesi Selatan

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Setelah sebelumnya melakukan safari ke berbagai lembaga dan tokoh selama bulan Ramadhan 1442 lalu, DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan kembali melanjutkan agenda silaturrahim dengan ormas keagamaan lainnya.

Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan Ust Nasri Bohari mengatakan agenda menjalin silaturrahim ini merupakan salah satu tradisi Hidayatullah sebagai perekat persaudaraan dengan berbagai elemen umat.

“Kita terus menggalakan silaturrahim ini, tentu dalam rangka membangun sinergi keumatan. Selain kerena juga ini menjadi amanah dari DPP untuk senantiasa aktif menginisiasi gerakan keumatan,” Nasri Bohari.

Pada kesempatan kunjungan silaturrahim syawal hari ini, Senin (24/05/2021) teragendakan DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan ke kantor Dewan Pimpinan Pusat Wahdah Islamiyah (DPP WI) di Makassar.

Rombongan DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan diterima langsung dengan hangat oleh Sekretaris Jendral DPP Wahdah Islamiyah Ust Syaibani Mujiono, S.Pd.I., S.Sy Hafizhahullah yang turut didampingi unsur Pimpinan Pusat WI lainnya.

Ust Syaibani Mujiono dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas kunjungan dan silaturahmi tersebut. Dia mengatakan silaturrahim antar umat ini terus dikuatkan karena amanah dakwah ini tak bisa dikerja sendiri, namun mesti dikerja dengan berjamaah.

“Sehebat apapun kekuatan yang kita punya jika tidak terhimpun, bukan tidak ada gunanya tapi semampu apa kita dapat bertahan,” kata beliau berpesan.

Ia mengingatkan bahwa secara internal kita umat Islam sudah punya problem yang cukup kompleks, belum lagi soal-soal keumatan dengan segala yang lebih luas, nasional dan internasional.

“Ini menunjukkan betapa pentingnya kita menyatu dan bersinergi sebab gerakan dakwah ini juga perlu strategi-strategi agar disambut oleh umat,” imbuhnya.

Dalam silaturrahim ini, rombongan DPW Hidayatullah Sulsel hadir dengan kompisisi yang cukup lengkap mulai dari Ketua, Sekretaris, Kadep Ekonomi serta Ketua dan Anggota DMW Sulsel serta Ketua DPD Hidayatullah Makassar.

Nasri mengimbuhkan, ke depan sinergi tidak hanya sebatas pada bidang tertentu juga pada bidang-bidang lainnya, misal gerakan ekonomi, itu juga perlu kita galakkan.

Nasri menambahkan, agenda seperti ini akan terus diteguhkan sehingga sinergitas ini semakin kuat dan terbangun.*/Sumariyadi

Pentingnya untuk Selalu Dekat kepada Ulama dan Orang Shalih

Ilustrasi kegiatan kajian/ dok

PARA ulama memberi nasihat agar kita tidak banyak bergaul kecuali dengan orang-orang mulia. Al Muhasibi berkata, ”Janganlah kalian bermajelis kecuali dengan cendekia yang bertakwa, dan janganlah bermajlis kecuali dengan ulama yang shalih.” (Risalah Al Mustarsyidin, hal. 59).

Imam Al Hasan Al Bashri pun berkata,”Dunia seluruhnya gelap, kecuali mejalis-mejalis para ulama.” (Jami’ Bayan Al Ilmi wa Fadhlihi, 1/51).

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah ﷺ pernah berkata;

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ ” أَيُّ جُلَسَائِنَا خَيْرٌ؟ قَالَ: «مَنْ ذَكَّرَكُمُ اللَّهَ رُؤْيَتُهُ، وَزَادَ فِي عِلْمِكُمْ مَنْطِقُهُ، وَذَكَّرَكُمْ بِالْآخِرَةِ عَمَلُهُ» ((رواه أبو يعلى)).

Dari Ibnu Abbas ia berkata,”Dikatakan kepada Rasulullah, ‘Karib seperti apa yang baik untuk kami?’ Rasulullah menjawab,’Yakni siapa yang mengingatkan kalian kepada Allah jika kalian memandangnya, dan menambah ilmu kalian perkataannya, dan mengingatkan kalian tentang akhirat amalannya.” (Riwayat Abu Ya’la dalam Al Musnad [2437], 4/326, Al Hafidz Al Bushiri berkata,”Di dalam periwayatannya ada dalam Majma` Az Zawaid, 10/226).

Berkumpul dengan Orang-orang Shalih

Sebab itulah, orang-orang shalih dan para ulama berusaha untuk berdekatan dengan orang-orang shalih, guna memperoleh manfaat, baik dari perkataannya, perbuatannya, atau hanya dari memandangnya saja.

Abu Bakar Al Muthawi’i selama dua belas tahun selalu aktif mengikuti majelis Imam Ahmad. Di majelis tersebut hadits tersebut Imam Ahmad membacakan Al Musnad kepada putra-putra beliau. Namun, selama mengikuti majelis tersebut, Al Muthawi’i tidak memiliki catatan, walau hanya satu hadits. Lalu, apa yang dilakukan Al Muthawi’i di majelis itu?

Beliau ternyata hanya ingin memandang Imam Ahmad. Ternyata, tidak hanya Al Muthawi’i saja yang datang ke majelis hadits hanya untuk memandang Imam Ahmad. Mayoritas mereka yang hadir dalam majelis tersebut memiliki tujuan yang sama dengan Al Mathawi’i.

Padahal, jumlah mereka yang hadir dalam majelis Imam Ahmad saat itu lebih dari 5000 orang, namun yang mencatat hadits kurang dari 500 orang. Demikian Ibnu Al Jauzi mengisahkan (dalam Manaqib Imam Ahmad, hal. 210).

Apa yang dilakukan Al Muthawi’i, bukanlah hal yang sia-sia. Karena, memandang orang shalih bisa memberikan hal yang positif bagi pelakunya. Memandang orang shalih, bisa membangkitkan semangat, untuk meningkatkan amalan kebaikan, tatkala keimanan seseorang sedang turun.

Sebagaimana dilakukan oleh Abu Ja’far bin Sulaiman, salah satu murid Hasan Al Bashri. Beliau pernah mengatakan,”Jika aku merasakan hatiku sedang dalam keadaan qaswah (keras), maka aku segera pergi untuk memandang wajah Muhammad bin Wasi’ Al Bishri. Maka hal itu mengingatkanku kepada kematian.” (Tarikh Al Islam, 5/109).

Imam Malik sendiri juga melakukan hal yang sama tatkala merasakan qaswah dalam hati. Beliau berkisah, ”Setiap aku merasakan adanya qaswah dalam hati, maka aku mendatangi Muhammad bin Al Munkadir dan memandangnya. Hal itu bisa memberikan peringatan kapadaku selama beberapa hari.” (Tartib Al Madarik, 2/51-52).

Imam Al Hasan Al Bashri sendiri dikenal sebagai ulama yang memandangnya, membuat pelakunya ingat kepada Allah, sebagaimana disebut oleh ulama semasa beliau, yakni Ibnu Sirin. Ulama lainnya, yang hidup semasa dengan beliau, Ats’ats bin Abdullah juga mengatakan,”Jika kami bergabung dengan majelis Al Hasan, maka setelah keluar, kami tidak ingat lagi terhadap dunia.” (Al Hilyah, 2/158).

Tak mengherankan jika Waqi’ bin Jarah menilai bahwa memandang wajah Abdullah bin Dawud adalah Ibadah. Abdullah sendiri adalah seorang ahli ibadah di Kufah saat itu. (Tahdzib At Tahdzi, 7/296).

Ibrahim bin Adham suatu saat hendak mengundang Sufyan Ats Tsauri saat berada di Baitul Maqdis. Ketika ada yang mempertanyakan maksud dari undangan itu, Ibrahim bin Adham pun berkata,”Aku ingin menyaksikan ketawadhu`annya.” (Manaqib Al Imam At Tsauri, hal. 38).

Maka tak heran, kalau Yahya bin Mu’adz Ar Razi merumuskan adanya lima obat hati, salah satunya adalah berkumpul dengan orang-orang shalih. (Shifat Ash Shafwah, 4/92).

Mengingatkan kepada Allah

Ada golongan dari para ulama terdahulu, jika seseorang memandang mereka, maka mereka akan ingat kepada Allah ta’ala. Di antara mereka adalah Amru bin Maimun, seorang tabi’in. Abu Isahaq As Sabi’i selaku muridnya berkata,”Jika ia dilihat, mengingatkan kepada Allah.” (Tahdzib At Tahdizb, 8/109).

Imam Ibnu Sirin pun demikian, Imam Ad Dzahabi mencatat, ”Tatkala ia berjalan di pasar, tidak ada seorang pun yang melihatnya kecuali ia ingat kepada Allah Ta’ala.” (Tarikh Al Islam, 4/193).

Sebagaimana juga beberapa ulama yang telah disebutkan sebelumnya, seperti Al Hasan Al Bashri dan lainnya.

Pengaruh Teman dalam Pergaulan

Kondisi teman, bisa berpengaruh banyak hal kapada kita, sehingga perlu bagi kita berhati-hati memilih teman. Setidaknya, itulah inti dari nasehat yang disebutkan oleh Imam Abu Laits.

Beliau mengingatkan;

“Seorang tidak akan melakukan 8 hal, kecuali Allah akan memberinya 8 hal pula. Kalau ia banyak bergaul dengan orang kaya, maka timbul dalam hatinya kesenangan terhadap harta. Kalau ia akrab dengan orang miskin, maka timbul dalam hatinya rasa syukur dan qana’ah. Kalau ia berteman dengan penguasa, maka timbul rasa sombong. Kalau ia berdekatan dengan anak-anak maka ia banyak bermain. Kalau ia dekat dengan para wanita, maka syahwatnya akan timbul. Kalau ia berkarib dengan orang-orang fasiq, maka datang keinginan untuk menunda-nunda taubat. Kalau ia dekat dengan ahli ilmu, maka ilmunya akan bertambah. Kalau ia dekat dengan ahli ibadah, maka akan termotivasi melakukant ibadah yang lebih banyak.” (Bughyah Al Mustarsyidin, 9).

Walhasil, mendekat kepada para ulama adalah kebutuhan. Karena dengannya kita memperoleh banyak kebaikan.

Sebaliknya, bergaul akrab dengan orang yang berperangai buruk juga memberikan pengaruh buruk pula. Wallahu a’lam bish shawab.*/Sholah Salim/ Hidcom

Ambil Peran Strategis Wujudkan Kemerdekaan bagi Palestina

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, MA menyampaikan bahwa dunia, terutama Indonesia harus mengambil peran strategis dan terdepan untuk mewujudkan kemerdekaan bagi Palestina.

“Isu Palestina ini bukan hanya isu agama, tapi isu kemanusiaan, penjajahan dan keadilan,” tegasnya dalam paparan yang disampaikan pada agenda Konferensi Pers yang digelar oleh Forum Zakat (FoZ) di Hotel Sofyan, Cut Mutia, Jakarta Pusat (21/5/2021).

Langkah itu menurut pria yang akrab disapa UNH ini sangatlah mungkin, sebab Indonesia adalah negara berdaulat dan konstitusinya mendorong penghapusan penjajahan di muka bumi.

“Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat harus berada di garda terdepan, bersama bangsa-bangsa lain, untuk menjadikan penjajahan ini sebagai musuh bersama dan menghentikannya dengan segala cara,” jelasnya.

Segala cara yang dimaksud adalah dengan menempuh segala jalur yang legal dan sah untuk ditempuh.

“Segala cara ialah secara diplomatik, secara ekonomi bahkan secara militer. Kita juga berharap agar Indonesia mengirimkan pasukan perdamaian ke Palestina,” imbuhnya.

Lebih jauh UNH mendorong FoZ menguatkan perannya dalam edukasi umat untuk membantu Palestina lewat zakat, infaq dan sedekah.

“FoZ bertanggungjawab mengedukasi umat dan menyalurkan bantuan kemanusiaan secara terkoordinir, seperti disampaikan tadi dengan Kementerian Luar Negeri, agar dana-dana sumbangan kemanusiaan ini tidak disalahpahami,” tutupnya.*/Ibn Suradi