Beranda blog Halaman 423

DPD Hidayatullah Way Kanan Menggelar Rapat Kerja

WAY KANAN (Hidayatullah.or.id) – Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Way kanan melaksanakan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) di Komplek Ponpes Hidayatullah Way Tuba pada 27 Februari 2021.

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Ketua DPW Hidayatullah Lampung Ust Rusdi Hidayat dan Ketua Dewan Murobbi Ust Munawir. Rapat Kerja Daerah tersebut berlangsung dalam rangka menyusun rencana kerja dan penguatan visi misi Hidayatullah sebagai lembaga tarbiyah dan dakwah.

Ketua DPD Hidayatullah Way Kanan Ust Muhammad Rusdi berharap melalui kegiatan tersebut berharap lahir program kerja yang produktif dan inovatif serta dapat bersinergi dengan semua pihak termasuk pemerintah daerah guna menyiapkan pelayanan pendidikan yang berkualitas dan memiliki spirit agama mumpuni.

Tokoh masyarakat setempat, Sufrianto SAN dalam sambutannya mengatakan sangat mengapresiasi kegiatan ini, karena keberadaan Hidayatullah Way Kanan sangat besar peranannya dalam pembinaan rohani masyarakat dan juga aktif dalam kegiatan sosial.

Sufrianto mengatakan hampir setiap tahun Hidayatullah Way Kanan melaksanakan penyembelihan hewan kurban yang dibagikan ke masyarakat serta berbagai kegiatan dakwah, pendidikan dan sosial lainnya.

“Kami selaku Masyarakat sangat mendukung dan mengapresiasi seluruh kegiatan yang telah berlangsung dan yang akan datang. Kami sangat merasakan dampak positif dari Pondok Pesantren Hidayatullah Way Tuba dalam kegiatan tohani dan sosial pada masyarakat,” ujar Sufrianto.

Selain itu, Hidayatullah Way Kanan menyelenggarakan kegiatan pendidikan mulai dari TPA, Paud, dan SD Integral. “Kami sangat senang karena anak anak kami terbina oleh ustadz ustadz yang baik,” pungkas Sufrianto. (kbs/hio)

Pemuda Hidayatullah Teguhkan Gerakan Cerdaskan Kehidupan Bangsa Melalui LTC dan LPQ

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pemuda Hidayatullah berkomitmen untuk terus meneguhkan gerakan mencerdaskan kehidupan bangsa melalui program Leadership Training Center (LTC) dan Lembaga Pendidikan Al Quran Bersanad (LPQ).

Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi menyebutkan, menurut data yang dikutip tahun 2019, buta aksara Al Qur’an berada di kisaran 65 persen, masih sangat besar dengan realitas umat Islam mayoritas di negeri ini.

“Maka melalui LPQ Pemuda Hidayatullah ingin menwujudkan apa yang menjadi cita cita dan warisan perjuangan pendiri bangsa yakni ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa dengan membawa umat Islam untuk melek aksara Al Quran untuk mereka mengerti dan mengenal ajaran Al Quran dengan baik sehingga ke depan angkat buta aksara tersebut dapat kita sama sama tanggulangi, kita kurangi bahkan kita basmi bersama sama,” kata Imam Nawawi.

Hal itu disampaikan Nawawi saat menyampaikan sambutan dalam acara penutupan secara resmi gelaran Training for Trainers Leadership Training Center (TOT LTC) & Lembaga Pendidikan Al Quran Bersanad (LPQ) ke-I Pemuda Hidayatullah di Balikpapan, Kamis (25/2/2021).

Yang kedua, lanjut Nawawi, aspek kempemimpinan kaum muda di Tanah Air membutuhkan daya dorong yang begitu besar agar ada rasa kepercayaan diri yang tinggi dalam mengemban amanah amanah kebaikan, melahirkan maslahat di tengah tengah umat, rakyat, bangsa, agama dan negara.

Oleh karena itu, terang dia, Leadership Training Center (LCT) yang telah dilakukan oleh pemuda Hidayatullah dalam rangka juga untuk menempa diri menjadi pemimpin yang memiliki karakter, memiliki jaditidiri dan memiliki visi sesuai dengan amanah daripada UUD 1945 dan juga Pancasila sebagai falsafah dan dasar negara.

“Oleh karena itu, kami di Pemuda Hidayatullah akan terus meneguhkan gerakan dakwah pencerahan Al-Quran dan kepemimpinan ini,” imbuhnya.

Dia menambahkan, pihaknya juga berkeinginan agar Pemuda Hidayatullah dapat bersama dengan pihak manapun juga mencerdaskan kehidupan bangsa melalui program kepemimpinan untuk menjadikan anak anak muda Tanah Air memiliki visi, tekad yang kuat dan memiliki semangat membangun miliu-miliu dengan hadirnya training serupa di seluruh daerah di Tanah Air.

“Pada akhirnya, Pemuda Hidayatullah dengan segala keterbatasannya siap untuk membuka diri melakukan sinergi program dalam upaya konkrit menjawab tantangan nyata yang dihadapi bangsa Indonesia. Nyata dalam konteks buta aksara Quran, kita hadirkan muallim muallim Quran bersanad. Dan mudah mudahan ke depan Indonesia menjadi negara dimana umat Islamnya tidak saja mayoritas dari sisi kuantitas tetapi juag dapat dibanggakan secara kualitas,” kata Nawawi.

Tidak lupa ia menyampaikan ucapan rasa terimkasih sebesar-besarnya kepada segenap dan seluruh ustadz, warga, santri yang ada di Kampus Ummul Quro Hidayatullah Gunung Tembak ini yang telah dengan suka rela menerima, memberikan pelayanan dan senyum terbaik.

“Ada perasaan rindu untuk kemudian kembali datang ke tempat ini dalam rangka terus menguatkan gerakan perkaderan, gerakan pendidikan dan gerakan dakwah Al Quran yang akan terus digulirkan oleh Pemuda Hidayatullah,” pungkasnya.

Penutupan acara Training for Trainers Leadership Training Center & Lembaga Pendidikan Al Quran Bersanad ke-I Pemuda Hidayatullah di Balikpapan ditutup oleh Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Komisaris Jenderal Polisi (Purn) Dr (HC) Syafruddin Kambo, M.Si. Dihadiri pula Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhamad dan Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr KH Nashirul Haq.

Selian itu hadir juga sesepuh dan pembina serta unsur pengurus Hidayatullah Ummul Quro Hidayatullah, pengurus Pusat Pendidikan Ulama Zuama (PUZ) STIS Hidayatullah, Ketua PW Hidayatullah Kaltim Shabirin Hambali dan Ketua PD Pemuda Hidayatullah Balikpapan Imam Muhamad Fathi Farhat beserta jajarannya. (ybh/hio)

Tutup TOT Nasional, Waketum DMI Komjen (Purn) Syafruddin Menitip Pesan untuk Pemuda

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Komisaris Jenderal Polisi (Purn) Dr (HC) Syafruddin Kambo, M.Si, menutup secara resmi gelaran Training for Trainers Leadership Training Center (TOT LTC) & Lembaga Pendidikan Al Quran Bersanad (LPQ) ke-I Pemuda Hidayatullah di Balikpapan, Kamis (25/2/2021).

Dalam kesempatan tersebut, Syafruddin berpesan kepada Pemuda Hidayatullah dan segenap alumni pelatihan angkatan pertama ini agar senantiasa menjadi agen perubahan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Bisa jadi 10 tahun yangh akan datang Ketua Umum Pemuda Hidayatullah menjadi salah satu pemimpin umat dan bangsa. Inilah tentu dorongan dan semangat bagi kita,” katanya yang hadir secara daring menutup rangkaian kegiatan yang telah berlangsung selama 11 hari tersebut.

Dia berpesan kepada segenap pemuda dan segenap warga Hidayatullah untuk tak kendor dalam berjuang. Perjuangan para santri Hidayatullah, terang dia, akan terus survive dan gigih untuk kemajuan agama dan bangsa.

“Saya berharap perjuangan terus dilakukan, bahu membahu, harus bersatu dan paralel dengan visi bangsa untuk mencerdaskan kehidupan,” imbuhnya.

Pada kesempatan tersebut, Syafruddin memberi tantangan besar kepada pemuda Hidayatullah untuk terus secara aktif terlibat dalam menguatkan gerakan mencerdaskan bangsa melalui pemberantasan buta aksara Al Qur’an.

Dia menyebutkan, setahun lalu dirinya membaca hasil riset dalam suatu penelitian bahwa dari sekitar 263 juta penduduk Indonesia, ada 220 juta yang beragama Islam. Artinya, sekitar 80,8 persen penduduk Indonesia beragama Islam.

“Namun sangat memprihatinkan menurut riset itu, yang memahami betul keislaman, dalam tanda kutip, tentang rukun iman rukun Islam serta menjalankan dengan sungguh sungguh, itu hanya 20 persen,” imbuhnya.

“Ini sangat memprihatinkan. Ada 20 persen dari 220 juta, berarti hanya 44,4 juta orang Islam yang memahami Islam. Sisanya masih buta aksara Islam,” ujarnya.

Dia mengatakan, data tersebut paralel dengan apa yang disampaikan Ketua Umum Pemuda Hidayatullah dalam sambutan sebelumnya bahwa beberapa tahun yang lalu buta aksara Al Qur’an 65 persen.

“Tapi tentu, dengan apa yang sudah dilakukan ormas Islam, wabil khusus ormas Hidayatullah yang fokus pada dakwah dan pendidikan dan pemahaman al Quran, tentu sudah dapat mengikis prosentase tadi,” ujarnya.

Di sisi lain, Syafruddin mengungkapkan kabar gembira mengenai perkembangan Islam secara global yang sangat pesat. Hal itu, lanjut dia, memberikan harapan besar bagi umat sehingga perkembangan itu diharapkan paralel dengan kemajuan Islam itu sendiri.

“Terakhir kita mendapatkan data bahwa di benua Eropa perkembangan Islam sangat maju. Sekarang diperkirakan datanya sudah 26 persen penduduk Eropa beragama Islam,” sebutnya.

Dia menguraikan, angka 26 persen itu tentu dengan prosentase masing masing negara. Tetapi setelah diakumulasikan, dia menyebutkan, diperkirakan 10 atau 15 tahun yang akan datang, Islam di Benua Eropa sudah mencapai 50 persen yang beragama Islam.

“Perkembangan Islam secara individu atau personel umat Islam di Eropa bagus secara kualitas. Sementara kita mayoritas beragama Islam tapi kualitas tidak. Inilah tantangan besar bagi pemuda, bahwa tahun 2030 ke atas atau 10 tahun kurang dari sekarang, penyebaran Islam di muka bumi ini semakin besar dan semakin luas dan diperkirakan umat Islam menjadi agama yang terbesar di dunia,” imbuhnya.

Realitas tersebut menurut Syafruddin merupakan kegembiraan bagi kita sekaligus tantangan khususnya bagi pemuda karena yang akan menggeluti kehidupan apa saja adalah oleh generasi muda sekarang.

“Kita harus terus paralel supaya kita tidak terus menjadi bangsa pengekor. Setiap kemajuan suatu bangsa, kita selalu mengekor. Ke depan, kita harus menjadi bangsa leader dan menjadi pemimpin di segala bidang,” ungkapnya.

Menurutnya, Indonesia memiliki peluang menjadi negara leader karena memiliki modal sebagai bangsa yang berpenduduk mayoritas Islam di dunia. Hal itu akan tercapai apabila pencerdasan kehidupan bangsa terus dilakukan, utamanya dalam pemberantasan buta aksara Al Qur’an.

Karenanya, Syafruddin mengapresiasi gelaran TOT nasional Pemuda Hidayatullah ini dalam rangka melahirkan guru-guru Al Qur’an dan instruktur kepemimpinan dalam mengembangkan kapasitas kaum muda Indonesia. Pihaknya pun membuka pintu sinergi seluas-luasnya.

“Mengapresiasi kehadiran majelis majelis Quran Hidayatullah. Kalau memang belum ada tempatnya, kita punya 800.000 lebih masjid di seluruh Indonesia. Hidayatullah bisa menggunakan seluruh masjid menjadi rumah Quran. Ini dorongan sekaligus semangat dari pengurus DMI,” imbuh Syafruddin.

Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri) Periode 2016-2018 ini meminta Hidayatullah untuk berkoordinasi dengan pengurus-pegurus DMI yang ada di pusat, provinsi, kota kota dan kabupaten untuk bersama-sama memasyarakatkan Al Qur’an.

Demikian pula ormas di bawah DMI, kata dia, dapat juga bersinergi dengan Pemuda Hidayatullah dan Hidayatullah secara umum untuk meluaskan layanan majelis Quran sebanyak banyaknya ke seluruh Indonesia.

Diharapkan dengan sinergi untuk mengentaskan buta aksara Al Qur’an, hal ini dapat mengikis buta aksara terhadap kitab suci ini yang diperkirakan masih berada di angka 50 persen. Sehingga, terang dia, penganut agama Islam yang jumlahnya 220 juta kualitas keislamannya bisa ditingkatkan.

Insya Allah mudah-mudahan niat dan perjuangan kita mendapat inayah dari Allah SWT, khususnya perjuangan Pemuda Hdayatullah, pemuda Islam bisa bangkit mengawal keberlangsungan kebangkitan Islam di seluruh muka bumi,” tandasnya.

Penutupan acara Training for Trainers Leadership Training Center & Lembaga Pendidikan Al Quran Bersanad ke-I Pemuda Hidayatullah di Balikpapan ini turut dihadiri Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhamad, sesepuh dan pembina serta unsur pengurus Hidayatullah Ummul Quro Hidayatullah.

Hadir pula unsur Pusat Pendidikan Ulama Zuama (PUZ) STIS Hidayatullah, Ketua Umum DPP Hidayatullah Dr KH Nashirul Haq, Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah Imam Nawawi, Ketua PW Hidayatullah Kaltim Shabirin Hambali dan Ketua PD Pemuda Hidayatullah Balikpapan Imam Muhamad Fathi Farhat beserta jajarannya. (ybh/hio)

UNH: Cerdaskan Umat dengan Gerakan Dakwah Al Quran

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Dr KH Nashirul Haq mendorong kader dan segenap warga Hidayatullah terus mencerdaskan umat dengan dakwah Al Qur’an. Ikhtiar tersebut sudah digalakkan Hidayatullah sejak awal perlangkahannya dan sekira 15 tahun lalu dikencangkan melalui Gerakan Dakwah Nasional Mengajar-Belajar Al-Qur’an (Grand MBA).

“Sejak lebih dari 15 tahun lalu HIdayatullah telah menggaungkan Grand MBA. Karena setiap muslim tidak lepas dari kewajiban belajar. Dan kalau sudah mempunyai kemampuan dan sudah menjalani pembelajaran, maka dia wajib untuk mengamalkan dan mengajarkan Al Quran,” kata Nashirul.

Demikian disampaikan Ustadz Nashirul Haq atau UNH dalam sambutan acara penutupan secara resmi gelaran Training for Trainers Leadership Training Center (TOT LTC) & Lembaga Pendidikan Al Quran Bersanad (LPQ) ke-I Pemuda Hidayatullah di Balikpapan, Kamis (25/2/2021).

Spirit penyebarluasan dan pengajaran Al Qur’an ini sebagaimana pula telah diserukan oleh Nabi SAW melalui haditsnya yang didiriwayatkan Imam Bukhari: Khoirukum man ta’allamal qur’aana wa’allamahu, bahwa sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.

Setalian dengan itu, UNH menjelaskan, panggilan untuk mencerdaskan umat dengan Al Qur’an juga ternukil dalam Surat Ali ‘Imran ayat 79, dimana Allah menyeru untuk mengajak umat menjadi orang orang Rabbani.

“Generasi Rabbani di akhir ayat ini disebut sebagai manusia yang senantiasa mengabdikan dirinya kepada Allah SWT serta mengajarkan dan mempelajari Al Qur’an,” katanya.

Dalam pada itu, beberapa waktu lalu Hidayatullah telah melaunching majelis pengajaran dan bimbingan bernama Rumah Quran Hidayatullah (RQH). Sekarang sudah ada 150 RQH yang tersebar se-seantero Jakarta.

Disebutkannya, ditargetkan pada beberapa tahun ini, RQ sudah bisa hadir di seluruh kabupaten kota, bahkan di seluruh kecamatan di Indonesia ini yang jumlahnya kurang lebih 7500.

“Dan Alhamdulillah, Pemuda Hidayatullah pada kesempatan ini telah melakukan TOT untuk menyiapkan muallim Al Quran bersanad dalam rangka standarisasi metode sehingga gerakan ini bisa dilakukan massif secara nasional,” katanya.

Dalam rangka menguatkan agenda keumatan mencerahkan umat ini, UNH mendorong untuk terus dijalin kerjasama dengan siapa saja bahkan dengan anggota masyarakat secara luas pun juga diberikan kesempatan terlibat dalam program ini.

Atas nama DPP Hidayatullah, UNH memberikan apresiasi kepada Pemuda Hidayatullah yang telah berinisiatif untuk melakukan acara ini yang mudah mudahan dapat berkelanjutan bahkan bisa massif di seluruh tingkat wilayah dan daerah sehingga guru Al Quran semakin banyak.

“Serta kita berharap bahkan menjadi kewajiban kita untuk menumbuhkan kepercayaan diri motivasi para warga Hidayatullah dan seluruh umat Islam agar mereka terpanggil dan bangga menjadi muallimul qur’an yang dimuliakan oleh Allah SWT dunia dan di akhirat,” imbuhnya.

Lebih jauh UNH menyebut pelatihan ini spesial karena pelatihan Al Quran bersanad, dan, seharusnya, tegas dia, Al Quran memang diajarkan secara talaqqi.

Dia lantas mengutip keterangan seorang sahabat tabi’iy bernama Abu Abdurrahman as-Sulami yang mengisahkan bahwa para sahabat Nabi yang mengajarkan Al Quran bahwa mereka menerima (belajar) Alquran dari Rasulullah Saw sepuluh-sepuluh ayat. Mereka belum akan menerima sepuluh berikutnya sampai mereka tahu apa saja yang mesti diketahui dan diamalkan dalam sepuluh ayat tadi.

“Dengan demikian mereka tahu secara keilmuan dan secara pengamalan sekaligus,” ujarnya.

Dia mengatakan program yang telah dicanangkan pemerintah maupun Dewan Masjid Indonesia sangat paralel dengan agenda Hidayatullah, sehingga berbagai rancangan tersebut dapat dijalankan secara sinergis.

“Alhamdulillah, Hidayatullah bersama pemerintah dan masyarakat terus bersinergi memberikan layanan keumatan di bidang pendidikan, dakwah dan sosial melalui berbagai program dan amal usaha,” katanya.

Sinergi dilakukan mulai dari bidang kepemudaan, kemuslimatan, pendidikan, di bidang sosial ada badan search and rescue, di bidang ekonomi umat ada Baituttamwil Hidayayatullah, ada Posdai di bidang dakwah, juga Sahabat Anak Indonesia yang melayani anak dhuafa yang membutuhkan perhatian dan berbagai bidang lainnya.

UNH mengatakan, pada usianya sekarang, Hidayatullah telah hadir di seluruh penjuru nusantara dan mancanegara dengan bekal keyakinan, ketaatan dan kesiapan untuk mengemban amanah risalah kenabian.

Dia menyebutkan, Hidayatullah di umur 48 tahun yang lahir di Balikpapan kemudian menjadi ormas pada tahun 2000, ini telah hadir di 34 provinsi, 374 di kabupaten kota, dan memiliki jaringan pondok pesantren 620 yang tersebar di seluruh nusantara.

UNH menukil pernyataan mantan Wakil Presiden HM Jusuf Kalla yang pernah menganalogikan kader Hidayatullah seperti TNI atau Polri yang hanya dibekali tiket ketika ditugaskan berdakwah.

“Kalau santri Hidayatullah lebih spesial lagi karena kadang kadang tidak dibekali tiket. Kalau anggota TNI dibekali paling tidak ransel, kemudian ada alamat yang dituju, ada tunjangan. Kalau santri Hidayatullah modalnya keyakinan saja,” selorohnya.

Dia melanjutkan, dengan bekal spirit dakwah sebagaimana di dalam Al Qur’an surah Muhammad Ayat 7: Yaaa ayyuhal laziina aamanuuu in tansurul laaha yansurkum wa yusabbit aqdaamakum (Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu), mereka hadir berkhidmat ke tengah umat.

“Dan spirit ini tetap dijaga dan dipelihara oleh santri santri Hidayatullah pada setiap kesempatan. Semuanya siap mengabdikan diri untuk menjadi dai Al Quran,” pungkasnya.

Penutupan acara Training for Trainers Leadership Training Center & Lembaga Pendidikan Al Quran Bersanad ke-I Pemuda Hidayatullah di Balikpapan ditutup oleh Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Komisaris Jenderal Polisi (Purn) Dr (HC) Syafruddin Kambo, M.Si. Dihadiri pula Pemimpin Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhamad dan pembina serta unsur pengurus Hidayatullah Ummul Quro Hidayatullah Balikpapan.

Turut hadir juga segenap instruktur LPQ dari Pusat Pendidikan Ulama Zuama (PUZ) STIS Hidayatullah, Ketua PW Hidayatullah Kaltim Shabirin Hambali dan Ketua PD Pemuda Hidayatullah Balikpapan Imam Muhamad Fathi Farhat beserta jajarannya. (ybh/hio)

Meluaskan Dakwah dengan Majelis Quran Berbagai Lapisan

JAKARTA (Hidayatullah) — Kurang lebih 15 tahun ini Hidayatullah melalui Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) telah menggalakkan layanan pendidikan dan bimbingan Al Qur’an melaui Majelis Quran Hidayatullah (MQH) sebagai salah satu derivasi program Gerakan Nasional Dakwah Mengajar dan Belajar Al Qur’an (Grand MBA).

Dalam upaya menguatkan pelayanan dakwah tersebut dengan menyasar ke semua lapisan masyarakat terutama yang masih buta aksara Al Qur’an, kini Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah meluncurkan Rumah Qur’an Hidayatullah (RQH).

Peresmian ini mengusung tema besar ‘Membangun Indonesia dengan Al-Qur’an’, serta diikuti oleh jamaah Hidayatullah di Indonesia baik offline atau online. Berpusat di aula gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, program itu diresmikan langsung oleh Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr H Nashirul Haq.

“Dengan memohon ridha dan kasih sayang Allah, mari kita bersama-sama meresmikan Rumah Qu’ran Hidayatullah dengan membaca Basmalah,” kata Nashirul Haq saat meresmikan RQH, Selasa (16/02/2021).

Dengan diresmikannya wadah pembinaan Al Qur’an tersebut, Nashirul berharap ada percepatan pengembangan dakwah keummatan di beberapa titik yang belum tersentuh.

Harapannya dengan adanya program majelis pembinaan Al Qur’an ini maka percepatan dan perkembangan jaringan dakwah akan sangat terbantu.

“Sekarang ini kita hadir secara struktural di 374 kabupaten/kota, dan pesantren kita hadir di 600 lebih titik,” sambungnya.

Selain itu, ia begitu yakin dengan target yang telah dicanangkan secara bersama seluruh komponen yang terlibat. “Dan InsyaAllah pada periode ini, komitmen kita akan hadir di seluruh kabupaten dan kota,” serunya dengan nada optimis.

Kepada para pengajar Al-Qur’an, Nashirul mengingatkan kembali bahwa pekerjaan mengajarkan Al-Qur’an merupakan karunia yang sangat besar, untuk itu harus bangga menjalani profesi ini.

“Karenanya, mari kita bersama-sama membangkitkan semangat dan motivasi umat, untuk merasa bangga sebagai mualimul Qur’an. Menjadi orang-orang yang rabbani. Dan inilah profesi yang sangat mulia di dunia,” bebernya.

Lebih jauh, Nashirul menekankan, bahwa jihad terbesar seorang Muslim yakni dengan dakwah Al-Qur’an.

“Jihad yang paling besar menurut Allah adalah jihad mendakwahkan Al-Qur’an,” ungkapnya sambil mengutip penggalan Al-Qur’an dalam Surat Al-Furqon ayat 52.

Terakhir, Nashirul menyampaikan perlunya saling memahami dalam bersinergi, sehingga memudahkan jalan terciptanya cita-cita bersama.

“Semoga institusi internal dan eksternal bisa bersatu padu dalam membangun sinergitas demi suksesnya gerakan Qur’anisasi,” tandasnya.

Di kesempatan yang sama, Anggota Dewan Pertimbangan Hidayatullah, Hamim Thohari mengatakan syarat sebuah kebangkitan itu harus melibatkan semua pihak.

“Sebuah gerakan kebangkitan itu hanya bisa terjadi jika melibatkan banyak kalangan. Kita harus libatkan sebanyak-banyaknya potensi umat,” ujarnya.

Hamim menyakini, salah satu syarat membangun kebangkitan Indonesia ya dengan Al-Qur’an. “Sebuah kebangkitan yang akan kita gerakkan dengan Al-Qur’an,” tegasnya.

Nashirul menyampaikan rasa haru atas kian tingginya perhatian pada gerakan memasyarakatkan Al Qur’an. Dia berharap, gerakan ini terus melejit dan memberi kebaikan kepada umat dan dunia secara luas.

“Saya merasa sangat terharu, saya katakan bahkan sangat emosional, karena saat ini perhatian kita pada gerakan ini sangat membuncah luar biasa,” katanya.

Dia menukaskan, Grand MBA adalah Gerakan Dakwah Nasional Mengajar-Belajar Al-Qur’an yang bertujuan mengakrabkan masyarakat dengan Al-Qur’an. Lewat gerakan ini masyarakat diantarkan untuk dapat membaca, menerjemahkan, menghafal dan mengamalkan al-Qur’an dengan standar yang baik.

Gerakan ini diproyeksikan menjangkau seluruh propinsi di Indonesia hingga ke pelosok-pelosoknya. Wujud dari gerakan ini adalah lahirnya MQH (Majelis Qur’an Hidayatullah) di setiap lapisan dan pelosok masyarakat.

Di MQH inilah masyarakat dapat belajar kepada muallim (pengajar) tentang hal-hal yang berkaitan dengan al-Qur’an.

“Dari upaya ini diharapkan terbentuk komunitas-komunitas masyarakat yang bersedia untuk hidup terbimbing dan terpimpin di bawah naungan al-Qur’an,” tandasnya. (ybh/hio)

Kuatkan Dakwah Pedalaman Provinsi Nusa Tenggara Timur

0

KUPANG (Hidayatullah.or.id) — Dakwah terus dikuatkan dalam pembinaan masyarakat muslim yang ada di pedalaman Nusa Tenggara Timut. Upaya optimalisasi tersebut ditandai dengan kesepakatan kerjasama antara DPW Hidayatullah dengan Laznas BMH yang dilakukan di Aula Utama Kampus Hidayatullah Batakte, Kupang, Selasa (23/2/2021).

Dalam acara penandatanganan kerjasama itu, sekaligus dilakukan penugasan dai ke sejumlah titik di NTT juga sosialisasi Dewan Murobbi Hidayatullah Wilayah NTT.

Laznas Baitulmaal Hidayatullah perwakilan NTT bersama DPW Hidayatullah NTT mengadakan kesepatakan bersama dalam program Dai Tangguh Pedalaman NTT berupa penyaluran kafalah dai selama satu tahun full.

“Program ini bertujuan untuk memberikan support kepada program dai tangguh, sebagai ujung tombak dalam mensyiarkan agama di pedalaman Nusa Tenggara Timur,” ungkap Kepala Perwakilan BMH NTT Muhammad Hasbullah.

Acara tersebut dihadiri oleh kader dai yang bertugas di wilayah Pulau Timor yang meliputi Kabupaten Kupang, Kupang dan Manggarai Barat.

“Insya Allah kami dari BMH akan mensupport empat orang dai tangguh salam satu tahun full. Semoga dari MoU ini mampu memberikan semangat juang dalam berdakwah,” imbuh Hasbullah.

Sementara itu, Ketua DPW Hidayatullah Ust Nurdin Potok, mengatakan pihaknya memberikan apresiasi kepada BMH yang terus memberikan dukungan dan support melalui program dakwah ini.

“Perkaderan terbaik itu adalah penugasan. Maka sudah menjadi keharusan kepada semua kader dai Hidayatullah untuk mampu memberikan semangat juangnya dalam berdakwah,” sambung beliau.

Dengan penempaan secara langsung di medan dakwah, dai dilatih tentang komitmen pengabdian keummatan dan kelembagaan dalam rangka memajukan dakwah Islam yang rahmatan lil ‘aalamiin.

“Sejauh mana komitmen kita mampu menahan hasutan hati kecil yang begitu bersebelahan dengan keinginan manusiawi kita, maka di situ kita berhasil menjadi kader yang paripurna karena perkaderan terbaik adalah penugasan,” tutup Potok.

Acara ini dihadiri oleh unsur DWM Hidayatullah NTT, DPW Hidayatullah NTT, dan beberapa Ketua DPD Hidayatullah NTT yang terdiri dari DPD Kota Kupang, DPD, Kabuparen Kupang, dan DPD Manggarai Barat.(ybh/hio)

Hidayatullah DKI Jakarta Kerahkan Relawan Tanggap Banjir

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah DKI Jakarta mengerahkan relawan dalam tanggap darurat bencana genangan air yang melanda sejumlah kawasan di Jakarta.

Genangan air kali ini cukup tinggi karena intensitas curah hujan eksrim lebih dari 24 jam sehingga menyebabkan beberapa tempat terendam banjir dan aliran sungai selokan yang meluap.

Ketua DPW Hidayatullah DKI Jakrta Muhammad Isnaini menginstruksikan kepada semua elemen yang tergabung di dalam Hidayatullah DKI Jakarta agar semua ikut turun membantu masyarakat yang terdampak banjir.

“Semua kita kerahkan. Terutama dengan dengan dukunagan maksimal dari tim SAR Hidayatullah dan BMH,” kata Isnaini, Ahad.

Lembaga di bawah Hidayatullah DKI Jakarta seperti SAR Hidayatullah, BMH, Islamic Medical Servis (IMS) Sejak Sabtu langsung berkoordinasi dan melakukan pembagian tugas dalam membantu evakuasi warga yang terkena Banjir.

“Keterlibatan Hidayatullah DKI Jakarta bersama semua elemen yang ada di dalamnya ini secara rutin dilakukan,” imbuh Isnaini.

Muhammad Isnaini yang ditemui di lokasi banjir mengatakan bahwa semua kita harus ikut mengambil peran dalam membantu saudara sauara kita di DKI yang terdampak banjir.

Apalagi Hidayatullah sebagai ormas Islam yang di dalamnya banyak lembaga-lembaga khusus yang membidani mitigasi bencana seperti SAR Hidayatullah serta BMH dan IMS.

“Tentu sudah menjadi tanggung jawab untuk kita harus terlibat langsung dalam setiap situasi yang membutuhkan bantuan,” lanjutnya.

Isnaini memimpin langsung dalam evakuasi warga yang terdampak banjir utamanya di wilayah Pejaten, Jakarta Selatan.(ybh/hio)

Muslimat Hidayatullah Papua Barat Terus Teguhkan Jatidiri

0

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Gabungan Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah se-Papua Barat menggelar acara Musyawarah Daerah (Musda) gabungan dibuka Rabu (17/2/2021).

Dalam sambutan pembukaan acara, Ketua Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Papua Barat, Ustz Nadrah AS, menekankan upaya Mushida untuk meneguhkan jatidiri Hidayatullah.

Dia menyebutkan jatidiri Hidayatullah secara berururan yaitu: (1) Sistematika Wahyu sebagai manhaj tarbiyah dan dakwah, (2) Ahlus Sunnah wal Jamaah, (3) Alharakah Al Jihadiyah Al Islamiyah, (4) Imamah dan Jamaah, (5) Jama’atun minal muslimin dan (6) Wasathiyah.

Nadrah menegaskan tentang pentingnya memahami dan mengimplementasikan enam jati diri Hidayatullah bagi seluruh komponen Muslimat Hidayatullah.

“Mari kita kuatkan jatidiri Hidayatullah dengan menginternalisasi keenam nilai tersebut dalam bentuk sikap, ucapan dan tindakan,” kata Nadrah.

Musda gabungan Mushida Papua Barat ini sebagai ajang konsolidasi juga sekaligus menetapkan dan melantik pengurus dan anggota daerah baru.

Musda digelar di komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Kabupaten Manokwari, Jln. Trikora Arfai 2, Kelurahan Anday, Kabupaten Manokwari Papua Barat.

Musda gabungan Mushida Papua Barat ini turut dihadiri oleh Murobbi Wilayah Hidayatullah, Ust Muhammad Sulton sekaligus membuka acara tersebut.

Hadir pula Ketua DPW Mushida Papua Barat beserta jajarannya, DPW Hidayatullah, Ketua PD Mushida Se-Papua Barat, pengelola amal usaha Mushida se-Papua Barat.

Dalam sambutannya, Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Papua Barat Ust Muhammad Sulton berpesan kepada para pengurus yang terpilih di tingkat wilayah daerah untuk terus menyegarkan kembali orientasi hidupnya dan dipertajam visi perjuangannya.

“Dikuatkan komitmennya agar berfikir lebih keras lagi dan melahirkan karya karya baru,” pesan Ust Sulton.

Harapannya, dalam kepengurusan Mushida lima tahun kedepan semakin meningkatkan kualitas pelayanan dan pembinaan ummat terutama di Papua Barat,*/Hadrianti Rahayu

Bercermin Pada Madrasah Ramadhan

ALHAMDULILLAH ‘ala kulli hal. Di era pandemi ini, atas izin dan pertolongan Allah SWT kita semua bergembira akan dihampiri tamu agung bulan Ramadhan.

Kita sudah memasuki bulan Rajab, disamping kita dipersegar ingatan kita tentang peristiwa isra dan mikraj yang menghasilkan kewajiban shalat, dua bulan lagi akan dipertemukan dengan bulan mulia tersebut.

Bulan yang dirindukan kehadirannya oleh orang-orang shalih. Kita tidak tahu, sudah berapa kali kita berpuasa sepanjang hayat kita? Apakah puasa demi puasa yang kita lakukan secara rutin hanya sebatas rutinitas belaka?. Inilah yang perlu kita jadikan bahan muhasabah?

Para ulama dahulu memandang bulan Rajab, Sya’ban bagaikan atletik yang mendekati garis finish, sehingga segala potensi yang dimilikinya dikerahkan/dimobilisir untuk mengungguli atletik yang lain. Sehingga menjadi pemenang. Ternyata, kemenangan itu diraih tidak secara gratis. Kemenangan itu harus dikejar dan diperjuangkan.

Pujangga Arab mengatakan :

بقَدر ما تتعَنّى تَناَلُ ما تَتَمَنَّى

Cita-cita, harapan itu akan terwujud berbanding lurus dengan kelelahan kalian dalam mengejarnya.

Allah SWT memberi nama Ramadhan, sesungguhnya menggambarkan hakikatnya. Arti kebahasaan Ramadhan adalah panas yang terik. Karena, bulan qamariyah yang kesembilan ini datang pada musim kemarau yang siangnya lebih lama dari waktu malamnya.

Nama ُرَمَضَان terdiri dari lima huruf hijaiyah. Masing-masing memiliki kepanjangannya. Huruf ra kepanjangan dari rahmat (diliputi kebaikan), mim kepanjangan dari maghfirah (ampunan), dhod kepanjangan dari dhi’fun (dilipat gandakan pahala amal shalih), alif : amina minan niiraan (aman dari jilatan api neraka), nun kependekan dari nur (bersinar).

Dengan kehadiran Ramadhan, kita berharap akan mendapatkan rahmat, maghfirah, dhi’fun, aman dari neraka, melahirkan pribadi yang bercahaya (terjadi peremajaan struktur pisik dan ruhani). Insya Allah..

Semoga momentum berkesan yang biasanya tidak datang berulang, kita diberi kemampuan oleh Allah SWT untuk mengisinya dengan jihad, ijtihad, dan mujahadatun nafs. Sehingga berefek pada penataan ulang (rekonstruksi) pola pikir dan sikap kita.

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

“Shalat lima waktu dan shalat Jum’at ke Jum’at berikutnya, dan Ramadlan ke Ramadlan berikutnya adalah penghapus untuk dosa antara keduanya apabila dia menjauhi dosa besar.” (HR. Muslim)..

Barangsiapa berpuasa ramadhan sedang ia mengetahui batasan-batasannya serta menjaga diri dari apa yang hendaknya ia jaga maka Allah akan menghapuskan dosanya yang telah lalu.” (HR. Ahmad)..

Setidaknya ada delapan pelajaran penting yang telah kita dapatkan: 

Pertama, kita sadar bahwa Allah selalu bersama kita. 

Di bulan Ramadhan, saat berpuasa, meski di tempat yang sangat sepi dan kita sendirian tak mungkin kita diam-diam minum air meski hanya seteguk. Bahkan air setetes pun kita jaga agar tidak sampai masuk ke dalam tenggorokan kita. Mengapa? Karena kita sadar bahwa Allah melihat kita. Meski kita sendirian tetap dilihat Allah.

Meski satu tetes juga tetap dilihat oleh Allah. Karena kita merasa bahwa Allah selalu bersama dengan kita dan kita selalu dilihatnya, maka meski subuh kurang satu menit kita pun sudah tak mau makan dan minum lagi, dan begitu juga meski maghrib kurang satu menit kita juga tak mau berbuka.

Sungguh luar biasa. Puasa telah menyadarkan kita akan pengawasan Allah atas diri kita hingga pada tingkat yang sekecil-kecilnya. Inilah derajat keimanan yang paling tinggi yaitu derajat ihsan.

أنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأنَّكَ تَرَاهُ فإنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فإنَّهُ يَرَاكَ

“Kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Dan bila kamu tidak melihat-Nya, maka kamu sadar bahwa Ia melihatmu.” (HR. Muslim).

Sudah barang tentu, kesadaran seperti ini bukan hanya dimaksudkan saat kita puasa di bulan Ramadhan saja. Tapi hendaknya kita wujudkan dalam kehidupan kita secara keseluruhan.

Di mana pun kita berada. Di kantor atau di pasar. Di rumah sendiri, atau di hotel saat tak ada istri/suami. Betapa indahnya apabila semua pejabat, pegawai negeri, para pengusaha, politisi, guru dll tak ada yang korupsi, karena sadar berapa pun uang diambil adalah dilihat oleh Allah.

Kita sadar dari lubuk hati sendiri, bahwa kita tak bisa bersembunyi dan tak ada yang bisa kita sembunyikan sama sekali.

Allah berfirman:

“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” ( QS. Al-Mulk : 13).

Kedua, kita sadar melakukan kewajiban baru setelah itu menerima hak. 

Banyak orang yang hanya pandai menuntut hak tapi tak pandai menunaikan kewajiban. Maka jadilah akhirnya hak itu tak pernah ia dapatkan. Karena tak logis seseorang mendapatkan hak padahal kewajiban tak ditunaikan.

Orang yang sukses adalah orang mau dengan baik melaksanakan kewajiban, baru setelah itu mendapatkan hak. Puasa benar-benar menyadarkan kita semua akan adanya hukum hak dan kewajiban ini.

Kita menjalankan puasa, lalu kita dapatkan hak untuk berbuka. Kita lakukan perintah-perintah Allah dan kita tinggalkan larangan-larangan-Nya selama kita berpuasa, dan kita diberikan hak untuk dikabulkannya doa.

Allah berfirman :

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah: 186).

Inilah jalan yang lurus, benar dan logis. Memenuhi panggilan Allah, beriman kepada-Nya lalu silakan untuk minta dan berdoa kepada-Nya. Banyak orang yang tak malu; minta masuk surga tapi shalat tak mau.

Banyak minta dan berdoa kepada Allah, tapi saat dipanggil Allah tidak datang. Saat senang lupa kepada Allah, tapi saat susah baru ingat dan berdoa kepada-Nya. Nabi bersabda:

تَعرَّفْ إِلَى اللهِ في الرَّخَاءِ يَعْرِفكَ في الشِّدَّةِ

“Ingatlah kepada Allah saat senang niscaya Allah ingat kepadamu saat susah.” (HR. Ahmad)..

Ketiga, kita sadar bahwa kebersamaan adalah indah dan penuh berkah. 

Puasa Ramadhan membuktikan bahwa kebersamaan (berjamaah) adalah penuh berkah dan menjadikan sesuatu yang berat menjadi sangat ringan. Bukankah berpuasa itu sebenarnya berat? Bukankah sebenarnya Shalat Tarawih itu berat?

Namun, karena kita lakukan berjamaah (bersama-sama) maka menjadi terasa sangat ringan dan indah sekali. Inilah ajaran berjamaah. Kita umat Islam ini adalah umat yang satu. Andaikan semangat dan spirit kebersamaan ini benar-benar kita wujudkan maka kita pasti menjadi umat yang paling baik, kuat dan hebat. Tak mungkin tertandingi.

Apa yang tak bisa dilakukan umat Islam ini andaikan bersatu padu?! Tapi sebaliknya, ketika kita tidak bersatu padu, bercerai berai, karena faktor beda suku, bahasa, organisasi, partai, mazhab, maka inilah musibah. Kita umat Islam meskipun sangat besar tapi nyaris tak memiliki kekuatan apa-apa.

Apa yang bisa kita lakukan saat saudara-saudara kita di Palestina dibantai oleh kaum Yahudi yang kecil itu? Kita hanya bisa kaget-kaget saja. Padahal kaum Yahudi sudah bertahun-tahun berbuat biadab seperti itu dan menguasai Masjidil Aqsha.

Termasuk di negeri tercinta kita sendiri. Jumlah kita sangat besar. Mayoritas mutlak. Tapi nyaris tak berdaya. Boleh dikatakan semua kekuatan lepas dari tangan kita. Bahkan untuk beraqidah dan bersyari’ah secara kaffah kita berada dalam ketakutan dan tuduhan-tuduhan yang menyudutkan. Hingga label-label radikal, fundamentalis, teroris dll selalu dialamatkan kepada kita kaum muslimin. Mengapa ? Karena kita tak bersatu padu.

Puasa Ramadhan hendaknya segera menyadarkan kita semua untuk berjamaah secara benar. Yaitu berjamaah atas dasar Islam. Bukan berjamaah atas dasar organisasi, partai, suku atau bangsa.

Kita boleh saja memiliki suku, bangsa, bahasa, organisasi, mazhab, partai yang berbeda-beda, tapi kita semua haruslah berjamaah dan bersatu padu di bawah ikatan Islam. Bukankah saat Ramadhan kita kompak berpuasa dan beribadah, meskipun kita memiliki suku yang berbeda, bangsa yang berbeda, organisasi yang berbeda, partai yang berbeda?

Marilah kita buang fanatisme sempit yang membuat umat Islam bercerai berai. Mari kita masuk dalam ikatan Islam yang utuh dan satu.

Nabi bersabda:

وَكُونُوا عِبَادَ الله إخْوَاناً

“Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (Hr. Muslim).

Perlu diingatkan, kalau kita masih juga suka bercerai berai, maka kita bisa terlibas oleh badai PKI atau komunis, kaum sekuler, liberal, LGBT dan penjajah serta antek-anteknya yang setiap saat bisa saja datang.

“Dan taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian saling berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)..

Keempat, kita sadar bahwa kesulitan membawa kemudahan. 

Perjuangan membawa kemenangan. Puasa mendatangkan kenikmatan berbuka dan menghadirkan hari raya. Inilah kaidah penting yang harus kita camkan. Siapa saja yang ingin sukses, tidaklah mungkin tidak menghadapi kesulitan. Tak ada orang yang sukses tanpa perjuangan.

Siapa yang hanya berpangku tangan, maka cukuplah udara hampa yang didapatkan. Puasa mengajarkan kita semua, tak mungkin bisa merasakan nikmatnya berbuka dan hari raya kecuali yang telah berpuasa dengan baik. Wahai anak-anak dan para pemuda. Yang yatim dan yang papa. Yang sedang sakit dan yang lemah. Jangan anggap kesulitan itu rintangan. Sesungguhnya kesulitan adalah tangga manis untuk mengantarkan kesuksesan.

Allah berfirman:

Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (QS. Al-Insyrah : 5-8)..

Kelima, kita sadar bahwa Allah sangat mencintai kita semua. Kepada hamba-hamba-Nya yang beriman ini. Umat Nabi Muhammad Saw.

Allah menganugerahkan Ramadhan yang penuh berkah. Allah telah membuka pintu-pintu Surga. Allah telah menutup semua pintu neraka. Syetan pun dibelenggu. Pahala dilipat gandakan dengan melimpah ruah. Lailatul qadar yang lebih baik daripada seribu bulan telah dianugerahkan. Inilah kecintaan Allah kepada kita umat Nabi Muhammad yang beriman.

Tinggal apakah kecintaan Allah ini kita balas dengan ketaatan atau kedurhakaan. Betapa buruknya bila kecintaan ini kita balas dengan kemaksiatan. Betapa buruknya bila panggilan-Nya yang penuh dengan kecintaan ini kita sambut dengan pura-pura tidak mendengar.

Betapa buruknya, bila hari raya yang penuh berkah (bergemuruh takbir, tahlil dan tahmid ini) lalu kita susul dengan pesta dosa. Betapa buruknya, bila kita kumpul bersuka cita sekarang di sini shalat Idul fitri, tapi besok pagi tak lagi kita mampu melangkahkan kaki ke masjid untuk shalat subuh dan shalat-shalat lainya. Betapa buruknya, bila di bulan Ramadhan masjid ramai, tapi setelah itu kembali sepi dan sunyi. Ya Allah ampuni kami.. ya Allah kami mohon cinta-Mu… bimbing kami.. anak-anak kami.. semua saudara-saudara kami ini Ya Allah..

Keenam, kita sadar bahwa dalam hidup ini hendaknya saling cinta mencintai. 

Puasa telah mengajarkan kita empati dan berbagi terhadap sesama. Kita berpuasa tapi ada makanan untuk berbuka. Kita berpuasa tapi hanya dalam hitungan beberapa jam saja. Ada di antara kita yang berpuasa tapi tak ada makanan untuk berbuka dan tanpa batas waktu karena memang tak ada.

Itulah maka di bulan Ramadhan kita gemar memberi. Dan, semuanya kita di akhir Ramadhan diwajibkan menunaikan zakat fitrah, untuk kaum fakir dan miskin. Jadi, puasa mengajarkan kita semua untuk saling berbagi dan cintai mencintai.

Nabi bersabda:

لاَ تَدْخُلُوا الجَنَّةَ حَتَّى تُؤمِنُوا ، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا ،. (رواه مسلم)

“Tidaklah kamu masuk Surga sehingga kamu beriman kepada Allah, dan tidaklah kamu beriman sehingga kamu saling cinta mencintai.” (HR. Muslim)

Ketujuh, kita sadar bahwa semua kenikmatan dunia hanyalah sementara.

Puasa menunjukkan bahwa lapar dan kenyang di dunia ini tidaklah lama. Makanan dan minuman terasa nikmat bila masih di atas tenggorokan. Tapi kalau sudah kita telan, maka tak terasa lagi.

Oleh karena itu yang kaya di dunia ini adalah sementara. Yang sehat juga sementara. Yang cantik, sementara. Yang muda, sementara. Pejabat, sementara. Dan semua itu menjadi sia-sia, bahkan menjadi sumber malapetaka, bila tidak dilandasi dengan Agama yang baik.

Betapa banyaknya yang kaya akhirnya menderita karena tak memegang teguh Agama. Betapa banyaknya pejabat tinggi yang akhirnya jatuh hina karena tidak istiqamah. Betapa banyak rumah tangga menjadi berantakan setelah ekonomi meningkat sementara iman menurun.

Inilah puasa menyadarkan kepada kita bahwa peningkatan materi duniawi yang tak diiringi dengan peningkatan keimanan dan ketaqwaan, hanyalah mempercepat penderitaan.

Peningkatan ekonomi, materi dan pembangunan fisik saja, tanpa dilandasi dan diiringi dengan ketaatan dalam beragama, maka itu tidak akan membuahkan kemakmuran, tapi justru mempercepat kehancuran.

Allah berfirman:

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Isra’ (17) : 16)..

Kedelapan, akhirnya dengan puasa kita benar-benar sadar bahwa hakikat diri kita adalah jiwa, bukan tubuh. 

Puasa menyadarkan kita bahwa tubuh ini hanyalah rangka atau rumah belaka. Hakekat manusia adalah jiwanya. Ruhnya. Bukan badannya ini. Cepat atau lambat tubuh ini pasti akan kita tinggalkan. Dan kalau sudah kita tinggalkan maka tak berarti dan tak bernilai sama sekali.

Maka betapa merugi orang yang hanya sibuk mengurusi kesehatan jasmaninya saja, sementara ruh dan jiwa tak pernah diberikan haknya. Betapa buruknya orang yang hanya sibuk makan dan minum hingga tak peduli halal dan haram, padahal jasmani  ini bakal dikubur dan dijadikan santapan cacing dan binatang yang ada dalam tanah.

Puasa menyadarkan kita, bahwa jiwa inilah yang terpenting. Ruh inilah yang tetap ada dan bakal mendapatkan balasan. Nabi bersabda:

إنَّ الله لا ينْظُرُ إِلى أجْسَامِكُمْ ، ولا إِلى صُوَرِكمْ ، وَلَكن ينْظُرُ إلى قُلُوبِكمْ وأعمالكم. (رواه مسلم)

“Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh-tubuh kamu dan juga tidak melihat kepada rupa-rupa kamu. Tetapi Allah melihat kepada hati kamu dan amal perbuatan kamu.” (Hr. Muslim)..

Kalau pada hari ini ada di antara kita yang sedang sakit, itu tak mengapa.. kalau ada yang hartanya berkurang, tak mengapa.. Kalau ada yang matanya mulai rabun, telinganya tuli, dan giginya mulai hilang, tak mengapa..

Tak perlu bersedih.. Karena pada dasarnya memang badan ini semuanya takkan bergerak sama sekali.. Saat itu tak perlu khawatir. Di mana pun kita meninggal dunia, maka tubuh ini pasti ada yang mengurusnya. Ada yang memandikannya, ada yang mengafaninya, ada yang menshalatinya dan ada yang menguburnya.

Itulah urusan dan nasib tubuh kita. Yang cantik, yang kaya, yang sehat sama. Akhirnya bercampur dengan tanah dan jadi makanan binatang-binatang di dalamnya.

Apakah urusan selesai? Tidak. Yang mati hanya tubuh kita. Tapi ruh kita, jiwa kita masih ada. Di situlah babak kehidupan yang sejati dimulai. Tak ada sandiwara dan tak ada basa basi. Yang dipanggil bukan lagi jasmani ini. Tapi jiwa yang berada di dalam tubuh ini. Yang baik mendapatkan kebaikannya dan yang buruk mendapatkan keburukannya. Semoga kita semua ini nanti dipanggil oleh Allah dengan panggilan:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al Fajr : 27-30)

USTADZ SHOLIH HASYIM

Santri Rumah Qur’an Jayakarta Hidayatullah DKI JAKARTA bersihkan Rumah Warga Terdampak Banjir

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ada yang luar biasa Hari ini anak-anak Santri Rumah Qur’an Jayakarta (RQJ) Hidayatullah DKI Jakrta yang berusia diatas kelas 8 ikut serta mengambil bagian menjadi relawan BMH bersama SAR Hidayatulllah dalam membantu warga bersih-bersih rumah yang berlokasi di Pejaten Pasar Minggu.

Hal ini dilakukan oleh RQJ Hidayatullah DKI Jakarta sebagai bentuk kepedulian serta bentuk pendidikan kepada anak-anak Santri Rumah Qur’an, agar mereka memiliki rasa empati kepada sesama utamanya mereka yang terdampak banjir.

“Banjir di DKI jakarta adalah persoalan yang sejak lama sudah terjadi, sehingga ini momentum untuk kita saling membantu bersama-sama dengan pemerintah DKI jakarta” jelas Suhardi.

Rencananya kegiatan RQJ ini akan dilakukan selama seminggu penuh, mengingat banyaknya warga DKI yang terkena dampak dari musibah banjir ini. Suhardi mengatakan santri RQJ telah berkomitmen siap untuk membantu para warga.

“Kegiatan santri RQJ berupa bersih-bersih Rumah Warga yang terdampak banjir rencananya akan berlangsung selama satu minggu ke depan, mengingat masih banyak rumah warga yang tergenang air belum surut, yang pasti bahwa Santri Rumah Qur’an Jayakarta Hidayatullah DKI JAKARTA akan selalu bersiap memberikan bantuan yang kami bisa” jelas Suhardi.

Untuk banjir daerah DKI sendiri, RQJ juga terkana dampaknya. Namun Ketua RQJ Suhardi mengatakan bahwa kondisi RQJ sudah berangsur-angsur pulih dan sudah bisa berkegiatan normal.

“Jumlah RQJ yang ada di Jakarta sebanyak 128 tersebar di seluruh Jakarta. Tentunya banjir kali ini juga berdampak pada RQJ. Namun, Alhamdulillah sudah berangsur pulih” ucap Suhardi.*AmanjiKefron