Beranda blog Halaman 45

PP GMH Luncurkan LBH, Website, dan Logo Baru sebagai Bagian Transformasi Organisasi

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (PP GMH) secara resmi meluncurkan Lembaga Bantuan Hukum (LBH), website resmi organisasi gmh.or.id, serta logo baru dalam sebuah agenda yang berlangsung dengan suasana khidmat dan penuh semangat pembaruan.

Peluncuran yang berlangsung di Kota Depok pada Sabtu, 27 Sya’ban 1447 (15/2/2026) ini menjadi bagian dari langkah organisasi dalam memperkuat peran advokasi hukum, meningkatkan kapasitas intelektual kader, serta memperluas jangkauan komunikasi organisasi melalui pemanfaatan teknologi digital.

Direktur LBH PP GMH, Syarif Hidayatullah, yang juga bertindak sebagai Ketua Penyelenggara kegiatan launching, menyampaikan bahwa pembentukan LBH merupakan bagian dari komitmen organisasi dalam menghadirkan layanan advokasi hukum yang sistematis dan terarah.

Ia menjelaskan bahwa lembaga tersebut didirikan dengan tujuan memberikan kontribusi nyata dalam bidang advokasi hukum sekaligus pengembangan kapasitas intelektual di bidang hukum.

Syarif menyatakan bahwa LBH Gerakan Mahasiswa Hidayatullah hadir sebagai pusat advokasi hukum dan pengembangan intelektual hukum yang progresif serta berpihak kepada masyarakat yang membutuhkan perlindungan hukum.

Syarif menjelaskan bahwa lembaga tersebut memiliki visi untuk menjadi pusat advokasi hukum dan pengembangan intelektual hukum yang progresif serta berpihak pada masyarakat tertindas.

Untuk mewujudkan visi tersebut, Syarif menyebutkan LBH PP GMH menetapkan sejumlah misi utama yang menjadi landasan operasional lembaga. Di antaranya adalah memberikan bantuan hukum secara konsisten kepada masyarakat yang membutuhkan, khususnya mereka yang tidak memiliki akses memadai terhadap layanan hukum.

Selain itu, LBH PP GMH juga menetapkan fokus pada advokasi hukum yang berorientasi pada perlindungan hak-hak masyarakat, termasuk perempuan dan anak. Lembaga ini juga berkomitmen menyelenggarakan edukasi dan pelatihan hukum sebagai bagian dari upaya mencetak kader intelektual yang memiliki kapasitas dalam advokasi masyarakat.

Kegiatan lain yang menjadi bagian dari misi LBH adalah melakukan kajian dan analisis hukum serta membangun jaringan kerja sama dengan berbagai organisasi masyarakat sipil.

Dalam kesempatan tersebut, turut diperkenalkan logo baru LBH PP GMH yang dirancang untuk merepresentasikan nilai keadilan. Logo tersebut mencerminkan prinsip equality before the law, yaitu prinsip yang menegaskan bahwa setiap individu memiliki kedudukan yang setara di hadapan hukum tanpa perbedaan.

Sebagai bagian dari implementasi program kerja, LBH PP GMH menetapkan dua program prioritas yang akan dijalankan secara berkelanjutan. Program tersebut adalah “Goes to Campus” dan “Bincang Hukum”. Kedua program ini dirancang untuk meningkatkan literasi hukum di kalangan mahasiswa dan masyarakat umum, sekaligus membangun kesadaran hukum yang lebih luas di lingkungan akademik dan masyarakat.

Transformasi Digital Organisasi

Ketua Umum PP GMH, Rizki Ulfahadi, dalam sambutannya menegaskan bahwa peluncuran LBH dan website organisasi merupakan bagian dari upaya memperkuat peran Gerakan Mahasiswa Hidayatullah dalam merespons kebutuhan zaman.

Rizki menjelaskan bahwa kehadiran website resmi GMH menjadi bagian dari transformasi digital organisasi yang bertujuan meningkatkan efektivitas komunikasi, koordinasi, dan penyebaran informasi organisasi.

Dalam kesempatan yang sama, Rizki juga memaparkan perkembangan organisasi selama satu tahun masa kepengurusan. Ia menyampaikan bahwa hingga saat ini enam pengurus daerah telah terbentuk dan dilantik secara resmi.

Selain itu, sejumlah wilayah lainnya tengah berada dalam proses pembentukan kepengurusan yang direncanakan akan dilantik secara serentak di seluruh Indonesia.

Rizki menegaskan bahwa Gerakan Mahasiswa Hidayatullah berkomitmen untuk menghadirkan program yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi mahasiswa dan masyarakat. Ia menyampaikan bahwa organisasi terus berupaya menjadi bagian dari solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi mahasiswa, sekaligus menghadirkan program yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Agenda launching tersebut turut dihadiri oleh Ketua Bidang Pengkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Abdul Ghaffar Hadi, yang menyampaikan apresiasi terhadap berbagai capaian organisasi.

Ia menyatakan bahwa aktivitas GMH menunjukkan tingkat produktivitas yang tinggi dan memberikan kontribusi nyata, seraya mendorong terus mendalami biografi dan pikiran pikiran sosok KH Abdullah Said agar gerakan GMH senantiasa setarikan nafas dengan cita cita pendiri Hidayatullah itu.

“Kami mengapresiasi produktivitas Gerakan Mahasiswa Hidayatullah. Berbagai program yang dilaksanakan menunjukkan komitmen dalam membangun kader yang berdaya dan berkontribusi bagi umat, bangsa, dan negara” katanya.

Ia mengapresiasi inisiatif tersebut yang menegaskan komitmen organisasi dalam menghadirkan kontribusi nyata melalui pendidikan hukum, advokasi masyarakat, serta penguatan kapasitas mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia.

Mahasiswa dan Daya Iqra’

0

ADA semacam magis yang terpancar dari sebuah jaket almamater dengan logo universitas meski tidak ternama. Sebuah simbol yang sering kali menjadi muara impian bagi mereka yang masih duduk di bangku sekolah.

Dalam strata akademik, status mahasiswa adalah kasta yang diidamkan, di mana gengsi dan ekspektasi berpadu dalam satu warna kain jaket.

Namun, di balik kebanggaan yang terpampang nyata itu, tersimpan tanggung jawab besar: apakah jaket tersebut hanya akan menjadi hiasan raga, ataukah menjadi zirah bagi pemikiran yang merdeka?

Tak banyak yang menyadari bahwa kursi di ruang kuliah adalah sebuah privilese yang mahal. Namun sayangnya, kemewahan itu sering kali diringkas menjadi sekadar perburuan indeks prestasi yang melangit untuk cumlaude. Mahasiswa-mahasiswa ini terjebak dalam obsesi angka, atau lebih parah lagi, terjebak dalam impian pragmatis tentang kenyamanan hidup setelah wisuda.

Perjalanan hidup sebagian mahasiswa hanya mengalir dalam garis lurus yang membosankan: dari kos ke kampus, mampir sejenak di perpustakaan, lalu berakhir di kantin. Sebuah perjalanan yang begitu mekanis, tanpa pernah benar-benar menyentuh debu jalanan atau keresahan rakyat di luar pagar kampus.

Mahasiswa sering kali lupa bahwa ijazah hanyalah artefak administratif, bukan jimat sakti untuk menaklukkan realitas. Hidup ini memiliki logikanya sendiri, sebuah teka-teki yang tak sanggup dijawab oleh indeks prestasi terbaik sekalipun.

Kewajiban belajar adalah komitmen seumur hidup, namun mereduksinya hanya sebatas duduk manis di balik meja kelas yang sempit adalah sebuah tragedi intelektual. Ruang kuliah ukuran enam kali delapan meter itu terlalu kecil untuk menampung luasnya samudera kehidupan yang sesungguhnya menanti untuk mahasiswa arungi.

Ada beban sejarah yang melekat pada pundak tiap mahasiswa, sebuah privilese yang tak sempat dicicipi oleh banyak anak bangsa. Namun, sering kali kemewahan ini disalahartikan sebagai tiket untuk sekadar bersantai dalam zona nyaman. Sebagian mahasiswa terjebak dalam ritus ‘kongkow’ yang repetitif, menghabiskan waktu dari kedai kopi satu ke kedai kopi lainnya seolah hidup tak memiliki urgensi. Di sana, kopi hanya menjadi kawan bicara yang hambar, diminum tanpa ada ide yang lahir, dan habis tanpa menyisakan jejak perubahan bagi bangsa yang sedang menanti di luar sana.

Eksistensi mahasiswa hari ini adalah determinan utama bagi wajah Indonesia dua dekade mendatang. Masa depan Indonesia emas tahun 2045 tidak akan dikonstruksi oleh kebetulan, melainkan oleh kualitas intelektual dan integritas mahasiswa yang diasah hari ini. Pertanyaannya bukan lagi kapan perubahan itu datang, melainkan kontribusi strategis apa yang telah disiapkan untuk mengisi ruang-ruang kepemimpinan di masa depan tersebut.

Padahal, mahasiswa memiliki peran yang strategis yaitu, pertama, sebagai agent of change yang memegang mandat sebagai katalisator perubahan sosial. Peran ini menuntut keberanian moral untuk melakukan intervensi inovatif yang mendisrupsi status quo.

Gerakan mahasiswa tidak dirancang untuk mengakomodasi zona nyaman, melainkan sebagai upaya sistematis untuk meruntuhkan stagnasi dan mengonstruksi tatanan masyarakat yang lebih berkeadilan.

Kedua, sebagai social control. Mahasiswa mengartikulasikan fungsi kontrol sosial melalui keberanian dalam mengonfrontasi kebijakan publik yang teralienasi dari kebutuhan rakyat. Sebagai pemegang otoritas moral (moral force), mahasiswa mentransformasikan keresahan kolektif menjadi narasi kritis yang cerdas—baik melalui orasi demonstrasi di ruang jalanan maupun diskursus digital melalui media sosial. Intervensi ini bukan sekadar oposisi, melainkan upaya intelektual untuk memastikan suara masyarakat marjinal tetap menjadi kompas utama dalam setiap pengambilan keputusan negara.

Ketiga, mahasiswa sebagai iron stock yang merupakan manifestasi dari regenerasi intelektual yang tidak boleh terputus. Efektivitas perkaderan dalam membentuk karakter pemimpin masa depan sangat bergantung pada dinamika kemahasiswaan; sebuah ruang dialektika yang tidak ditemukan di dalam ruang kelas formal.

Melalui aktivitas organisatoris, mahasiswa mengalami proses pengkristalan mental dan pematangan ideologi, yang menjadikannya kader bangsa yang kokoh, tangguh, dan tidak mudah terkooptasi oleh kepentingan sesaat

Masa kuliah adalah momentum emas yang tidak pernah berulang. Jangan sia-siakan predikat ‘maha’ yang tersemat di depan status. Kata itu bermakna agung karena adanya daya pikir yang kritis, kepekaan sosial yang tajam, dan keberanian untuk berdiri tegak di atas kebenaran. Tanpa peran-peran tersebut, mahasiswa hanyalah ‘siswa’ yang berpindah gedung; memiliki kartu mahasiswa namun kehilangan nyawa intelektualitasnya.

Segala bentuk perjuangan mahasiswa, pada hakikatnya, harus bermuara pada satu hulu: daya Iqra’. Ia adalah sebuah ziarah ganda; membaca teks yang tersurat di atas lembaran buku untuk menimba kebijakan masa lalu dan prediksi masa depan, sekaligus membaca konteks yang tersirat dalam peristiwa sosial untuk menangkap kegelisahan masa kini.

Tanpa kekuatan membaca yang paripurna ini, mahasiswa hanyalah raga yang hampa. Mereka akan gagap saat hendak menggerakkan perubahan, kehilangan kompas moral saat mencoba mengontrol kuasa, dan terlampau rapuh untuk memikul beban estafet kepemimpinan di pundak mereka.

Daya baca mahasiswa saat ini sebagian tergerus dengan gadget, game online bahkan ironis ada yang terseret kepada judi online dan pinjaman online. Maka rendahnya literasi menyebabkan peran mahasiswa tidak lagi memiliki daya dobrak untuk menyuarakan kritik sosial dan membawa arus perubahan.

Menjadi mahasiswa adalah tentang melampaui batas diri. Mahasiswa dituntut punya otak ‘Profesor’ yang mampu berpikir strategis, namun punya otot ‘Kuli’ yang tak kenal lelah bekerja di akar rumput.

Bagi mahasiswa Muslim, perjuangan ini disempurnakan dengan napas ibadah seorang ‘Kyai’. Inilah profil mahasiswa paripurna: nalar yang cerdas, raga yang tangguh, dan jiwa yang tunduk pada Sang Pencipta. Jika salah satunya hilang, integritas mahasiswa sebagai agen perubahan akan rapuh.[]

*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Ketua Bidang Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Distribusi Buku dan Al-Qur’an Perkuat Akses Ilmu dan Nilai Keislaman di Berbagai Daerah

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pegiat literasi nasional Maman Suherman, yang dikenal sebagai Kang Maman, menyampaikan bahwa menjelang bulan suci Ramadhan pihaknya kembali melaksanakan pengiriman buku dan Al-Qur’an ke berbagai wilayah di Indonesia.

Program ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperluas akses literasi sekaligus mendukung pembinaan nilai keilmuan dan keagamaan di tengah masyarakat.

Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui kerja sama antara Kang Maman, perusahaan logistik JNE, dan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) pada Sabtu, 27 Sya’ban 1447 (15/2/2026).

Kolaborasi ini difokuskan pada distribusi bahan bacaan berupa buku dan Al-Qur’an ke sejumlah daerah penerima manfaat. Inisiatif tersebut bertujuan menyediakan sumber pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, khususnya di wilayah yang membutuhkan dukungan akses literasi.

Sinergi antara pegiat literasi, sektor dunia usaha, dan lembaga filantropi ini menjadi bagian dari upaya bersama menghadirkan akses ilmu pengetahuan serta memperkuat nilai keagamaan melalui penyediaan Al-Qur’an dan buku bacaan. Selain itu, program ini dilaksanakan sebagai bagian dari komitmen bersama untuk mendukung penguatan literasi dan pendidikan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.

Dalam keterangannya di sela-sela proses pengiriman, Kang Maman menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program rutin yang dilaksanakan setiap menjelang Ramadhan.

Ia menyampaikan bahwa pengiriman kali ini mencakup sejumlah wilayah strategis serta institusi pendidikan yang membutuhkan tambahan koleksi bacaan.

“Seperti biasa, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, ketika menjelang Ramadhan, kami akan berkirim buku-buku dan Al-Qur’an ke berbagai tempat di Indonesia. Pengiriman kali ini kita akan ke Kalimantan dan Sulawesi, kemudian ratusan buku dan Al-Qur’an untuk perpustakaan Untirta, di Serang, Banten,” katanya.

Program distribusi literasi ini tidak hanya menjangkau wilayah tertentu seperti Kalimantan dan Sulawesi, tetapi juga menyasar berbagai daerah di Indonesia. Selain itu, dukungan terhadap perpustakaan perguruan tinggi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat akses bacaan bagi kalangan akademik dan masyarakat luas.

Kang Maman juga menyampaikan harapannya agar program distribusi literasi ini dapat terus berlangsung secara berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa kegiatan berbagi bahan bacaan merupakan bagian dari upaya memperluas akses ilmu pengetahuan bagi masyarakat.

“Semoga kegiatan ini terus berlanjut, kita berbagi bacaan, berbagi Iqra’, Read, Buku, ke saudara-saudara kita di seluruh Indonesia,” katanya, seraya menegaskan komitmen untuk terus menghadirkan dukungan literasi kepada masyarakat di berbagai wilayah.

Perluas Akses Literasi dan Pendidikan
Dari pihak Baitul Maal Hidayatullah, Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen memperluas akses literasi dan pendidikan.

Imam menyampaikan bahwa distribusi buku dan Al-Qur’an memiliki tujuan untuk memberikan dukungan pembelajaran bagi masyarakat penerima manfaat.

“Pengiriman buku dan Al-Qur’an bukan sekadar distribusi bantuan, tetapi ikhtiar membangun generasi yang berilmu dan berakhlak,” katanya.

Imam Nawawi juga menjelaskan bahwa kerja sama dengan Kang Maman dan JNE memberikan dukungan penting dalam memperluas jangkauan distribusi. Kolaborasi tersebut memungkinkan proses pengiriman menjangkau wilayah yang lebih luas dan memberikan manfaat kepada lebih banyak penerima.

Ia menegaskan bahwa literasi memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan masyarakat. “Kami meyakini bahwa literasi adalah pintu perubahan. Ketika buku dan Al-Qur’an sampai ke tangan para penerima manfaat, di situlah harapan baru mulai tumbuh,” tukasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kolaborasi ini tidak hanya berkaitan dengan distribusi fisik bahan bacaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat semangat belajar dan pengembangan nilai-nilai keilmuan di tengah masyarakat.

“Sinergi bersama Kang Maman dan JNE ini bukan hanya pengiriman, tetapi juga menghadirkan ilmu, menyalakan semangat belajar, dan memperkuat nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat,” imbuh dai muda ini.

Imam berharap dengan keterlibatan lintas sektor dalam mendukung penguatan pendidikan dan literasi ini masyarakat di berbagai wilayah memperoleh akses terhadap bahan bacaan yang dapat mendukung proses pembelajaran dan pengembangan pengetahuan.

Rakeryas Yayasan Al Firdaus Hidayatullah Tangsel Bahas Arah Kebijakan dan Penguatan Tata Kelola

0

TANGSEL (Hidayatullah.or.id) — Yayasan Al Firdaus Hidayatullah Tangerang Selatan (Tangsel) menyelenggarakan Rapat Kerja Yayasan (Rakeryas) sebagai forum perencanaan dan konsolidasi kelembagaan untuk tahun 2026. Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu, 27 Sya’ban 1447 (15/2/2026), dengan dihadiri unsur pembina, pengawas, pengurus yayasan, kepala unit kerja, serta jajaran yang terlibat dalam kegiatan pendidikan dan dakwah di lingkungan yayasan.

Ketua Yayasan Al Firdaus Hidayatullah Banten, Muhammad Irwan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Rakeryas merupakan forum strategis untuk merumuskan arah kebijakan dan langkah kerja lembaga dalam satu tahun ke depan.

Muhammad Irwan mengawali sambutannya dengan menyampaikan penghormatan kepada Ketua Pembina KH Achmad Mujahid, Ketua Pengawas Dr. KH Muhammad Naim, serta seluruh pengurus yayasan dan kepala unit kerja yang hadir. Ia juga menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya forum tersebut sebagai bagian dari proses perencanaan kelembagaan.

Dalam arahannya, Irwan menegaskan bahwa rapat kerja yayasan tidak hanya dipahami sebagai agenda rutin, melainkan sebagai momentum evaluasi dan penguatan organisasi. Ia menyampaikan bahwa forum tersebut merupakan kesempatan untuk melakukan refleksi sekaligus merumuskan langkah strategis ke depan.

Raker kali ini bukan sekadar rutinitas administratif. Ini adalah momentum bagi kita untuk berhenti sejenak, melihat ke dalam, dan melompat lebih jauh,” kata Irwan.

Ia kemudian menjelaskan tiga pilar utama yang menjadi fokus kebijakan yayasan ke depan, yaitu konsolidasi jati diri, penguatan tata kelola, dan transformasi kemandirian. Pada aspek konsolidasi jati diri, Irwan mengajak seluruh unsur yayasan untuk kembali meneguhkan visi, misi, dan nilai-nilai dasar Hidayatullah sebagai landasan dalam menjalankan amanah kelembagaan.

“Saya mengajak seluruh unsur yayasan untuk meneguhkan kembali visi, misi, dan nilai-nilai dasar Hidayatullah. Nilai ini bukan sekadar pajangan di dinding, melainkan kompas dalam setiap keputusan kita,” ujarnya.

Pada aspek penguatan tata kelola, Irwan menekankan pentingnya sistem manajemen yang profesional, transparan, dan akuntabel. Ia menyampaikan bahwa yayasan sedang bergerak menuju penyempurnaan sistem administrasi dan manajemen sebagai bagian dari penguatan kelembagaan.

“Niat baik saja tidak cukup; ia harus dikelola dengan cara yang baik. Saya ingin yayasan ini berjalan secara profesional, transparan, dan akuntabel,” kata Irwan.

Selain itu, Irwan juga menyoroti pentingnya transformasi menuju kemandirian yayasan. Ia menyampaikan bahwa kemandirian dimaksud mencakup aspek kelembagaan, program, dan keuangan. “Inilah saatnya kita bergerak menuju kemandirian yayasan. Mandiri secara kelembagaan, mandiri dalam program, dan mandiri secara finansial,” ujarnya.

Dalam penutup sambutannya, Irwan menyampaikan harapan agar forum Rakeryas menghasilkan gagasan yang konstruktif dan solutif bagi pengembangan yayasan. Ia juga mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan forum tersebut sebagai ruang evaluasi dan perencanaan bersama. “Saya berharap dalam Raker ini, setiap ide yang muncul adalah ide yang solutif. Jangan takut untuk mengevaluasi diri demi kebaikan institusi,” kata Irwan.

Muhammad Irwan kemudian secara resmi membuka kegiatan Rakeryas Yayasan Al Firdaus Hidayatullah Banten dengan pernyataan pembukaan sebagai tanda dimulainya rangkaian agenda kerja yayasan untuk periode selanjutnya.

Tarhib Ramadhan di Pesantren Hidayatullah, Kapolres Pohuwato Ingatkan Makna Puasa sebagai Pembinaan Diri

0

GORONTALO (Hidayatullah.or.id) — Kepala Kepolisian Resor Pohuwato AKBP Busroni, S.I.K., M.H., mengajak para santri untuk menyongsong bulan suci Ramadhan dengan kesiapan batin, memperkuat kualitas ibadah, serta menjadikan puasa sebagai sarana pembinaan diri yang berkelanjutan.

Ajakan tersebut disampaikan Kapolres saat memberikan ceramah dalam kegiatan Tarhib Ramadhan 1447 Hijriyah yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Hidayatullah Pohuwato pada Kamis, 24 Syaban 1447 (12/2/2026). Dalam kesempatan tersebut, Kapolres menekankan pentingnya membersihkan hati, meningkatkan ketakwaan, dan menjadikan momentum Ramadhan sebagai ruang pembentukan karakter spiritual yang lebih baik.

Kegiatan Tarhib Ramadhan tersebut dihadiri oleh berbagai unsur pimpinan pesantren dan lembaga pendidikan. Turut hadir Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah KH. Abdul Wahid Patangari, S.Pd.I., M.Si., Ketua Yayasan Hidayatullah Kamil Patingki, S.HI., M.Pd., Ketua Yayasan Darul Hijrah Ustadz Abror, serta sekitar 250 santri yang mengikuti kegiatan secara langsung. Kehadiran Kapolres Pohuwato dalam kegiatan tersebut tidak hanya sebagai tamu undangan, tetapi juga sebagai penceramah yang menyampaikan pesan-pesan keagamaan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan.

Dalam ceramahnya, AKBP Busroni menjelaskan bahwa ibadah puasa merupakan kewajiban bagi umat Islam sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Baqarah ayat 183. Ia menyampaikan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa serta memperkuat dimensi pengendalian diri dalam kehidupan sehari-hari.

“Puasa adalah kewajiban umat Islam yang bertujuan membentuk pribadi bertakwa serta melatih kesabaran, keikhlasan, dan pengendalian diri,” katanya, yang memberikan penguatan pemahaman kepada para santri tentang makna ibadah puasa dalam kehidupan seorang Muslim.

Kapolres juga menguraikan bahwa ibadah puasa tidak hanya berkaitan dengan menahan lapar dan haus, tetapi memiliki dimensi yang lebih luas, yaitu pembinaan karakter dan penguatan spiritual. Ia menekankan bahwa puasa menjadi sarana untuk melatih kesabaran dan meningkatkan kesadaran moral, serta membangun kedekatan yang lebih kuat dengan Allah SWT.

“Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih hati agar lebih sabar, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah SWT,” ujarnya.

Untuk memperjelas makna proses pembinaan melalui puasa, Kapolres menggunakan ilustrasi yang bersumber dari fenomena alam. Ia mencontohkan ayam yang tidak makan saat mengerami telur hingga menghasilkan kehidupan baru, serta ulat yang mengalami fase diam dalam kepompong sebelum berubah menjadi kupu-kupu.

Di hadapan jamaah dan ratusan santri, Kapoles memberi gambaran bahwa proses menahan diri memiliki peran penting dalam menghasilkan perubahan dan perkembangan.

Kapolres Pohuwato menegaskan bahwa Ramadhan merupakan momentum penting untuk memperbaiki diri, memperkuat hubungan dengan Allah SWT, serta membangun karakter yang lebih baik melalui latihan kesabaran dan pengendalian diri.

Upgrading Guru se-Papua, Sekjend DPP Hidayatullah Tekankan Integrasi Tauhid dan Pendidikan Era Digital

0

JAYAPURA (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Nanang Noerpatria, M.Pd, menekankan bahwa transformasi pendidikan di era revolusi industri 4.0 harus tetap berlandaskan tauhid sebagai fondasi pembentukan peradaban Islam. Menurutnya, kemajuan teknologi dan sistem pendidikan modern perlu diarahkan untuk melahirkan manusia yang memiliki integritas spiritual dan tanggung jawab peradaban.

“Tujuan pendidikan Hidayatulllah adalah melahirkan insan kamil rabbani. Pondasi ini harus semakin dikuatkan ditengah dunia sedang berada dalam masa transisi dari era Revolusi Industri 4.0 menuju era Revolusi Industri 5.0.,” ujar Nanang dalam acara Upgrading Guru Hidayatullah se-Provinsi Papua bertajuk “Education 4.0 but Make It Tauhid” di Kota Jayapura, Jumat, 25 Syaban 1447 (13/2/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Papua tersebut merupakan bagian dari rangkaian Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) di provinsi tersebut. Forum ini menghadirkan para pendidik dari berbagai lembaga pendidikan Hidayatullah di Papua dengan tujuan memperkuat kapasitas pedagogik, ideologis, dan kepemimpinan pendidikan di tengah perubahan global yang ditandai oleh digitalisasi, otomatisasi, dan integrasi teknologi dalam sistem pembelajaran.

Nanang menjelaskan, insan kamil rabbani adalah konsep manusia ideal dalam perspektif Islam yang mencapai kesempurnaan fungsi sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi. Istilah ini terdiri dari dua unsur utama. Insan kamil berarti manusia paripurna, yakni individu yang berkembang secara utuh dalam dimensi iman, ilmu, akhlak, dan amal. Rabbani merujuk pada sifat yang terhubung erat dengan Allah, menjadikan wahyu sebagai sumber orientasi hidup dan keputusan.

“Insan kamil rabbani ditandai oleh integrasi antara kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, dan tanggung jawab sosial. Ia tidak hanya memahami ilmu secara teoritis, tetapi mengamalkannya untuk kemaslahatan. Al-Qur’an menyebut karakter rabbani sebagai mereka yang mendidik dan membimbing manusia berdasarkan Kitab Allah serta terus mempelajarinya,” kata Nanang yang menukil surah Ali Imran ayat 79.

Nanang menjelaskan, tujuan membentuk insan kamil rabbani berarti melahirkan pribadi yang beriman kokoh, berakhlak mulia, kompeten secara profesional, dan mampu berkontribusi membangun peradaban yang adil, bermartabat, dan berlandaskan tauhid.

Kesadaran Berketuhanan

Masih dalam dalam pemaparannya, Nanang menegaskan bahwa visi pendidikan Hidayatullah tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi pada pembentukan manusia seutuhnya yang memiliki kesadaran ketuhanan.

Ia menyampaikan harapan agar lembaga pendidikan Hidayatullah di Papua mampu menerjemahkan visi tersebut secara konkret dalam praktik pendidikan.

“Diharapkan sekolah-sekolah Hidayatullah di Papua dapat mewujudkan sekolah dengan visi tersebut,” katanya.

Nanang juga menjelaskan bahwa tema “Education 4.0 but Make It Tauhid” mengandung makna integrasi antara kemajuan teknologi pendidikan dengan fondasi spiritual Islam. Education 4.0 merujuk pada sistem pendidikan yang memanfaatkan teknologi digital, kecerdasan buatan, pembelajaran berbasis data, dan konektivitas global. Namun, ia menegaskan bahwa seluruh perkembangan tersebut harus tetap berada dalam kerangka tauhid sebagai landasan epistemologis.

“Akar masalah problematika manusia karena putus hubungan dengan Allah,” ujarnya, menjelaskan bahwa pendidikan harus mengembalikan manusia pada kesadaran spiritual sebagai dasar peradaban.

Ia juga menekankan bahwa pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan peradaban modern, termasuk disrupsi teknologi dan perubahan sosial yang cepat. Menurutnya, pendidikan yang berlandaskan tauhid mampu memberikan arah bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi secara bertanggung jawab.

“Kehadiran pendidikan Hidayatullah diharapkan menjadi solusi dalam menyelesaikan problematika peradaban ini,” ungkapnya.

Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Dunia

Dalam pemaparannya, Nanang menjelaskan bahwa sistem pendidikan yang dikembangkan Hidayatullah tidak memisahkan antara ilmu agama dan ilmu dunia. Ia menegaskan bahwa seluruh disiplin ilmu harus diarahkan untuk membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai ketuhanan.

“Dibutuhkan pemimpin yang bisa mengusung visi pendidikan yang integral berbasis manhaj Hidayatullah, tidak mendikotomikan antara ilmu dunia dan ilmu agama yang diarahkan semuanya untuk memakmurkan bumi,” jelasnya.

Dalam konteks global, transformasi pendidikan berbasis teknologi menjadi bagian penting dari sistem pendidikan modern. Organisasi internasional seperti UNESCO menyebutkan bahwa Education 4.0 merupakan pendekatan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik menghadapi perubahan ekonomi digital, termasuk kecerdasan buatan, robotika, dan analisis data.

Namun, Nanang menegaskan bahwa integrasi teknologi harus tetap berada dalam kerangka nilai dan tujuan pendidikan yang jelas. “Teknologi adalah alat, bukan tujuan. Tauhid adalah fondasi yang menentukan arah penggunaan ilmu dan teknologi,” katanya dalam forum tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa peran guru menjadi semakin strategis dalam era transformasi digital. Guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi sebagai pembimbing yang mengarahkan peserta didik memahami makna ilmu dalam perspektif tauhid. Dalam kerangka ini, pendidikan dipandang dia sebagai proses pembentukan manusia yang mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan umat dan pembangunan peradaban.

Melalui kegiatan upgrading ini, Nanang berharap, hal ini akan semakin memperkuat kapasitas para guru dalam mengintegrasikan nilai-nilai tauhid dengan pendekatan pendidikan modern serta menjadi ruang konsolidasi untuk memperkuat visi pendidikan Hidayatullah di Papua sekaligus menyiapkan generasi pendidik yang mampu menjawab tantangan zaman dengan pendekatan yang berbasis nilai spiritual dan kemajuan ilmu pengetahuan.

Peran Lingkungan Sosial dalam Membentuk Karakter, Kinerja, dan Keberlanjutan Organisasi

0

“BARANGSIAPA membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa membawa amal yang jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya” (terjemah Q.S. Al-An’am: 160)

Ayat ini, sebagaimana ditafsirkan Syeikh As-Sa’di, menggambarkan keadilan paripurna Allah ta’ala dan juga kemurahan-Nya. Siapapun yang berbuat baik di dunia, perkataan atau tindakan, maka akan mendapat balasan minimal sepuluh kali lipat kelak di akhirat. Sementara keburukan dibalas setimpal saja.

Menambahkan keterangan Syeikh As-Sa’di, Syeikh Ash-Shabuny menyampaikan bahwa satu kebaikan berpotensi dibalas hingga 700 kali lipat atau bahkan lebih. Sementara keburukan dibalas dengan setimpal atau bahkan diampuni. Sehingga dosa terhapus.

Penafsiran yang sama dapat ditemukan di At-Tafsir Al-Muyassar, juga Tafsir Al-Jalalain. Bahkan di Tafsir Al-Jalalain tertulis bahwa kebaikan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah lafazh ‘laa ilaaha illallaah’. Siapapun yang memilikinya dianggap sudah berbuat baik, seringan apapun timbangan amal kebaikannya.

Satu inspirasi yang kemudian dapat dipetik dari ayat ini adalah pentingnya pendekatan lingkungan sosial yang suportif dalam menumbuhkan perbuatan baik. Siapapun yang berbuat baik akan mendapat balasan berlipat-lipat. Sementara keburukan dibalas setimpal saja, bahkan mungkin akan dimaafkan.

Dalam pemikiran dan redaksi yang lebih sederhana, kebaikan akan senantiasa diingat sementara keburukan diselesaikan secukupnya. Pelaku kebaikan didoakan kebaikannya sedemikian luar biasa. Sementara pelaku keburukan ditangani sesuai kadar proporsionalnya. Kata-kata cacian bahkan menjatuhkan mental benar-benar dijauhkan. Yang ada adalah kata-kata nasehat reflektif sebagai harapan agar kesalahan tidak diulangi kembali.

Mari lihat lingkungan sebaliknya. Saat orang berbuat baik, apresiasi dan doa tak terucap. Kebaikan dianggap wajar dan natural saja. Akan tetapi saat ia berbuat buruk, banyak hal buruk bakal menimpanya. Hukuman tidak cukup, cacian sedemikian banyak juga menghujani telinganya. Seketika mentalnya ambruk.

Harus diakui ada tipe manusia yang perlu pengulangan peringatan. Karena kesalahan yang sama diulang, lagi dan lagi. Dalam hal ini dibolehkan untuk adanya peningkatan peringatan, dari intonasi suara lembut ke lebih keras dan seterusnya. Akan tetapi tetap cacian yang menjatuhkan mentalnya hendaklah dihindarkan.

Menjaga kewarasan mental sangat penting dan masuk dalam penjagaan syariah. Karena kewarasan mental itu awal dari terjaganya akal. Sementara terjaganya akal merupakan salah satu tujuan syariat.

Dalam konteks kaderisasi dan organisasi, lingkungan sosial yang suportif sangat dibutuhkan. Ada tiga perspektif yang dihadirkan untuk menjelaskannya: Kader, organisasi, dan masyarakat.

Dari perspektif kader, organisasi yang suportif memiliki daya dukung untuk menstimulus kesehatan kader, lahir dan batinnya. Sehingga kader relatif betah dan kontributif. Dalam jangka panjang kader juga terstimulus untuk meningkatkan kapasitasnya, sesuai minat dan bakatnya.

Sebaliknya lingkungan yang tidak suportif berpeluang besar untuk membuat kader tidak betah di organisasi. Jika pun betah, kader cenderung tertekan jiwanya. Pada satu atau dua kasus, tekanan jiwa tidak disadari. Setelah ada asesmen psikologis, barulah diketahui betapa tekanan jiwa telah bercokol kuat.

Dari perspektif organisasi, akumulasi kader-kader sehat melahirkan kaderisasi kuat dan organisasi penuh manfaat. Orang di dalam dan luar organisasi merasakan kebaikan yang tumbuh dari organisasi. Bertambah waktu, kebaikannya semakin kokoh. Pengaruh organisasi terus mengakar di masyarakat.

Sebaliknya akumulasi kader-kader sakit melahirkan organisasi acak-acakan dan kaderisasi yang lemah. Akibatnya organisasi bisa dimanfaatkan untuk menyebarkan kezhaliman di masyarakat. Kebencian terhadap organisasi sangat mudah merebak di masyarakat.

Dari perspektif masyarakat, tentu masyarakat ingin organisasi yang penuh kebaikan terutama nilai-nilai yang diusungnya. Oleh karena itu organisasi diharapkan bisa melahirkan inspirasi demi inspirasi. Adapun prasyaratnya adalah kader-kader sehat ada dan berkontribusi di organisasi.

Sangat tepat jika secara periodik organisasi melakukan asesmen sistemiknya, mencakup formal dan kultural. Agar seluruh aktivitasnya mengantarkan kebaikan. Bahkan organisasi menjadi refleksi dari cara Allah ta’ala menyikapi tindakan insan, dengan keadilan paripurna dan kemurahan yang melimpah.

Wallah a’lam.

*) Fu’ad Fahrudin, penulis Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

KHUTBAH JUM’AT Kesungguhan Usaha sebagai Fondasi Keimanan dan Perubahan Sosial

0

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jama’ah hadirin sidang Shalat Jum’ah yang dimuliakan oleh Allah ﷻ,

Rasa syukur hanya tercurah kepada Allah, Sang Penguasa jagat raya. Rasa syukur atas segala karunia-Nya yang tetap tercurah meski Allah Maha Mampu untuk menghentikannya tanpa ada yang bisa mencegahnya.

Rasa Syukur atas semua kebaikan-Nya meski Allah Maha Perkasa untuk menurunkan hukuman-Nya tanpa ada yang bisa menghindarinya.

Shalawat serta salam terkirimkan secara tulus dan penuh cinta kepada Nabi Muhammad Saw, yang telah memberikan peragaan terbaik bagaimana cara menjalani hidup ini dengan tepat sehingga beliau –dengan izin Allah– bisa menunjukkan cara menggapai surga dengan tetap bahagia menjalani kehidupan dunia.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Sholat Jum’at yang dirahmati Allah Ta’ala,

Sebuah ungkapan berbunyi “Hasil tidak akan mengkhianati proses”. Kalimat yang sudah akrab ditelinga masyarakat ini mengandung makna sebab akibat yang saling terkait dan mempengaruhi. Proses atau usaha yang baik akan mempersembahkan hasil yang juga baik dan hasil yang baik hanya akan diraih dengan proses atau usaha yang sungguh-sungguh.

Meski kita meyakini bahwa hasil dari segala usaha berada ditangan Allah Ta’ala secara mutlak, namun berusaha sekuat tenaga juga merupakan tanda bahwa kita adalah makhluk berakal.

Usaha yang baik dapat menjadi alat ukur keimanan seseorang sebab iman yang benar pasti akan melahirkan usaha yang terbaik.

Logika sederhananya, berusaha dengan sungguh sungguh saja belum bisa memastikan bahwa hasilnya akan sesuai dengan harapan atau ekspektasi kita, apatah lagi jika usaha tersebut tidak dengan kesungguhan atau setengah hati.

Dalam al Qur’an, beberapa ayat menunjukkan bahwa Allah memerintahkan atau mengapresiasi usaha yang baik atau sungguh-sungguh;

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al Ankabut:69)

وَجَٰهِدُوا۟ فِى ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ


“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya” (QS. Al Hajj:78).

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Sholat Jum’at yang dirahmati Allah Ta’ala

Menindak lanjuti perintah Allah Ta’ala, Rasulullah Saw juga sangat menjunjung tinggi komitmen bekerja dengan sungguh-sunggu.

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

“Bersemangatlah melakukan hal yang bermanfaat dan minta tolonglah pada Allah, serta janganlah mudah untuk menyerah” (HR. Muslim).

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Sholat Jum’at yang dirahmati Allah Ta’ala

Jika dalam perkara keduniaan saja, Allah dan Rasul-Nya memuji dan menjanjikan balasan yang besar, apatah lagi jika komitmen dan usaha yang sungguh-sungguh ini turut kita wujudkan dalam perkara ibadah atau akhirat. Sementara perkara akhirat jauh lebih diapresiasi oleh Allah dan Rasul-Nya dibanding perkara keduniaan.

Maka wajar jika Ramadhannya Rasulullah Saw dinobatkan sebagai cara berpuasa yang terbaik, sebab kesungguhan beliau tercermin secara utuh dalam menjalankannya, baik dalam persiapan maupun saat beliau telah bersua dengan bulan Ramadhan.

Dalam riwayat oleh Imam Bukhari dan Muslim, secara lugas Aisyah binti Abu Bakar menuturkan bagaimana Nabi Muhammad menjadikan bulan Sya’ban sebagai puncak persiapan beliau dalam menyambut Ramadhan:

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa -sunnah- kecuali pada bulan Syaban.”

Olehnya itu, disisa waktu yang ada dari bulan Sya’ban ini, tidak ada pilihan bagi kita kecuali memaksimalkannya dengan persiapan-persiapan yang mampu meyakinkan Allah Ta’ala bahwa kita memang bergembira, bersemangat dan begitu menantikan perjumpaan tahunan kita dengan bulan suci Ramadhan.

Rangkaian ibadah yang akan kita massifkan di bulan Ramadhan, telah menemukan chemistry-nya sejak bulan Sya’ban.

Jangan menunggu 1 Ramadhan untuk kita memulainya sebab bagi siapa yang menantikan masuknya bulan Ramadhan untuk dia mulai membangun struktur ibadahnya maka sama saja dia merencanakan kegagalan Ramadhan. Na’udzu billahi min dzalik.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا

اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

اَللّٰهُمَّ انْصُرِ الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ ارْحَمِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ اكْشِفْ الغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ الْبَلَاءَ عَنْ غَزَّةَ وَأَهْلِهَا، وَأَنْ تَنْصُرَهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ، وَأَنْ تَرْحَمَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنْ عِبَادِكَ، وَأَنْ تَكْشِفَ الْغُمَّةَ عَنْ أُمَّتِنَا. اَللّٰهُمَّ عَافِنَا وَالْطُفْ بِنَا وَاحْفَظْنَا وَانْصُرْنَا وَفَرِِّجْ عَنَّا وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اكْفِنَا وَإِيَّاهُمْ جَمِيْعًا شَرَّ مَصَائِبِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

Keberhasilan Rakerwil Diukur Sejauh Mana Program Hidayatullah Mampu Menjawab Kebutuhan Umat

0

MALUKU TENGAH (Hidayatullah.or.id) — Bendahara Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Suwito Abdul Fatah, menegaskan bahwa keberhasilan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) diukur dari sejauh mana program Hidayatullah mampu menjawab kebutuhan umat secara berkelanjutan. Hal itu disampaikan Suwito saat membuka Rakerwil Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Maluku tahun 2026 yang berlangsung di di Kampus Madya Hidayatullah Liang, Maluku Tengah, pada Selasa-Rabu, 22-23 Syaban 1447 (10–11/2/2026).

Rakerwil tersebut dihadiri jajaran pengurus DPW dan perwakilan dari berbagai daerah di Maluku. Forum ini digelar untuk menyelaraskan visi organisasi selama satu tahun ke depan dengan mengusung tema “Konsolidasi Jati Diri dan Transformasi Organisasi Menuju Hidayatullah Mandiri dan Berpengaruh.”

Suwito Abdul Fatah menekankan pentingnya penguatan jati diri organisasi sebelum melakukan transformasi kelembagaan yang lebih luas. “Transformasi organisasi bukan sekadar perubahan struktur, melainkan perubahan pola pikir untuk menjadi lembaga yang mandiri secara ekonomi dan memiliki pengaruh nyata dalam mencerdaskan serta mensejahterakan umat, khususnya di wilayah Kepulauan Maluku,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Rakerwil tidak boleh berhenti pada tataran perumusan dokumen kerja, melainkan harus menjadi forum penyatuan arah dan penguatan orientasi pengabdian. “Keberhasilan rakerwil adalah sejauh mana program Hidayatullah mampu menjawab kebutuhan umat secara berkelanjutan,” tegasnya.

Dalam konteks tantangan organisasi di era saat ini, Suwito menyampaikan bahwa perubahan sosial, perkembangan teknologi informasi, serta dinamika ekonomi menuntut organisasi untuk adaptif tanpa meninggalkan nilai dasar perjuangan.

Salah satu tantangan yang perlu direspon positif saat ini adalah kemajuan teknologi informasi. Bahkan, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada 2023 lalu saja ingkat penetrasi internet di Indonesia telah melampaui 78 persen populasi. Kondisi tersebut mengubah pola komunikasi, manajemen, dan layanan sosial masyarakat, termasuk dalam aktivitas dakwah dan pendidikan. Oleh karena itu, ia mendorong agar transformasi organisasi juga mencakup penguatan tata kelola yang responsif terhadap perkembangan tersebut.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Maluku, Naharuddin, dalam sambutannya melaporkan bahwa selama dua hari pelaksanaan, Rakerwil memfokuskan pembahasan pada empat agenda utama. Pertama, konsolidasi ideologi untuk memperkuat nilai dasar perjuangan organisasi di kalangan kader.

Kedua, penguatan kemandirian ekonomi melalui optimalisasi unit usaha pesantren agar dapat menopang operasional dakwah secara swadaya. Ketiga, transformasi digital guna memodernisasi administrasi dan komunikasi organisasi agar lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Keempat, penguatan sektor pendidikan dan dakwah dengan memaksimalkan peran Kampus Madya Hidayatullah Liang sebagai pusat kaderisasi di Maluku.

“Rakerwil merupakan simbol semangat pertumbuhan. Dengan semangat ‘mandiri dan merpengaruh’, Hidayatullah berkomitmen untuk terus bersinergi dengan pemerintah daerah dan masyarakat dalam membangun Maluku yang lebih maju dan religius,” katanya.

Ia menambahkan bahwa forum ini diharapkan menghasilkan program kerja yang aplikatif, terukur, serta berdampak langsung pada solusi atas berbagai persoalan umat di wilayah Maluku. Penekanan pada kemandirian ekonomi sejalan dengan kebutuhan penguatan sumber daya internal organisasi agar mampu menopang program dakwah dan pendidikan secara berkelanjutan.

Hidayatullah sebagai organisasi kemasyarakatan Islam bergerak di bidang dakwah, pendidikan, sosial, dan ekonomi, dengan jaringan pesantren yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia, termasuk di Maluku. Rakerwil DPW Hidayatullah Maluku 2026 menjadi bagian dari mekanisme tahunan organisasi dalam mengevaluasi capaian, merumuskan strategi, dan memastikan kesinambungan program kerja sesuai kebutuhan masyarakat di daerah.

Belajar dari Halaqah Pertama Rasulullah

Ust. Abdul Ghofar Hadi (Foto: Olah digital/ hidayatullah.or.id)

KETIKA Nabi Muhammad ﷺ mendapatkan wahyu maka secara keimanan mendorongnya untuk mengajak (dakwah) orang-orang di sekitarnya yaitu keluarga, kerabat dan teman-teman dekatnya untuk bisa beriman. Kemudian mereka yang berhasil diajak untuk beriman maka perlu dilakukan pembinaan (tarbiyah) agar semakin teguh keimanannya. Mereka bukan hanya ditarbiyah tapi juga disiapkan untuk menjadi penerus risalah kenabian sehingga dibina secara intens (perkaderan).

Keimanan senantiasa mendorong untuk berdakwah agar risalah Islam dakwah tersebar, memerlukan pembinaan (tarbiyah) agar keimanan semakin kuat dan tidak mudah tergoda. Keimanan juga harus menyiapkan penerus (kaderisasi) karena risalah Islam ini bukan untuk satu generasi.

Di saat yang sama, kaum kafir Quraisy tidak hanya menentang dakwah Nabi Muhammad ﷺ namun mereka mencoba melakukan penyerangan untuk menghentikan dakwah Nabi ﷺ dengan berbagai cara. Secara umum ada dua metode besar yaitu metode menyerang secara psikologi/mental dan metode menyerang secara fisik. Keduanya dilakukan secara ekstrem sebagai pembunuhan karakter dan pembunuhan fisik.

Menghadapi penyerangan brutal kaum Quraisy, Nabi ﷺ mengambil langkah cerdas dan strategis yaitu berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Rasulullah ﷺ memilih rumah Arqam sebagai tempat berhalaqah untuk berkumpul, mengajar, dan membina para sahabat. Beliau memilih rumah al Arqam karena tiga alasan. Pertama, Arqam masih muda yang belum dikenal keislamannya sehingga Quraisy tidak menyangka rumah seorang pemuda menjadi pusat gerakan besar. Orang-orang kafir Quraisy menyangka markaz pertemuan di rumah salah satu pembesar shahābat.

Kedua, Arqam berasal dari Bani Makhzum, kabilah yang bersaing keras dengan Bani Hasyim sehingga Quraisy tidak pernah mengira Nabi Muhammad ﷺ menjadikan rumah anggota Makhzum sebagai markas dakwah. Padahal resikonya apabila ketahuan oleh kabilahnya (Bani Makhzum), maka dia bisa dibunuh oleh Abu Jahl, karena saat itu Abu Jahl adalah pembesarnya Bani Makzhum.

Ketiga, posisi rumah Arqam bin Arqam di dekat Jabal Shafa artinya dekat dengan Ka’bah sehingga tidak mencurigakan dijadikan tempat pertemuan Nabi ﷺ dan para sahabat beliau. Pintu masuknya dari belakang sehingga banyak orang tidak memperhatikan. Inilah yang membuat rumah tersebut tidak diketahui oleh orang-orang Quraisy.

Apa Kegiatan di Rumah Arqam bin Arqam?

Ibnu Hisyam meriwayatkan dalam Sirah -nya:

Rasulullah  mengajak para sahabat untuk berkumpul di rumah Al-Arqam bin Abi al-Arqam di bukit Shafa. Beliau membacakan Al-Qur’an kepada mereka dan mengajarkan agama kepada mereka.” (Sirah Ibnu Hisyam , jilid 1, hlm. 265).

Di rumah itulah Rasulullah ﷺ melaksanakan tasqif (pembinaan). Para sahabat yang baru masuk Islam belajar langsung tentang tauhid, ibadah, dan akhlak. Dalam pertemuan tersebut Rasulullah membacakan ayat-ayat Allah, mengajarkan kandungan Al-Qur’an, menguatkan iman mereka yang masih baru, memperkuat mental mereka menghadapi tekanan dari kaum musyrikin Qurasy dan memberikan motivasi gambaran masa depan kehidupan yang lebih baik, baik di dunia dan akherat.

Di rumah Arqam itulah Rasulullah dan para sahabat bisa leluasa beribadah, menerima penjelasan wahyu-wahyu yang turun meski belum banyak ayat al-Quran yang turun. Di antara mereka mengajak keluarga dan teman dekatnya untuk masuk Islam lalu dibawa ke rumah Arqam bin Arqam untuk masuk Islam tanpa harus diketahui oleh orang-orang kafir Qurasy yang mengintai dan mengancam dengan siksaan kejam.

Pelajaran yang bisa dipetik dari strategi Rasulullah dalam mengumpulkan para sahabat di rumah sederhana Arqam

Pertama, Rasulullah berfokus pada perkaderan dengan pembinaan intens. Orang-orang seperti Abu Bakar, Khadijah, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah dan lainnya sebagai assabiqunal awwalun. Mereka tumbuh dengan karakter menjadi pemimpin, panglima, dan teladan umat sepanjang zaman yang terbukti luar biasa jasanya untuk perjalanan Islam selanjutnya.

Kedua, pembinaan secara intens agar terjaga dan tumbuh iman dengan baik. Dalam kondisi apapun, apalagi di kondisi tenang tanpa ancaman maka seharusnya lebih leluasa dan intens dalam pembinaan. Melalui halaqah-halaqah, majelis-majelis taklim rutin, komunitas-komunitas. Tidak terburu-buru mengejar kuantitas dan popularitas tapi kualitas dari kader

Ketiga, pentingnya seorang murabbi, muallim, instruktur yang memiliki kompetensi dan komitmen untuk lahirnya kader-kader militan. Rasulullah adalah seorang murabbi, muallim dan sekaligus instruktur. Maka menghadirkan sosok murabbi itu penting agar menjadi magnet, episentrum yang bisa menarik dan menggerakkan orang-orang beriman agar terantar menjadi kader yang militan dan tangguh.

Keempat, pentingnya sebuah ikatan dan hubungan terus menerus antar sesama muslim untuk saling menguatkan dan nasehat menasehati dalam kebaikan. Pertemanan dan persahabatan dalam bingkai keimanan itu sangat urgen sebagaimana dikatakan Rasulullah, “Sesungguhnya seseorang itu tergantung pada agama temannya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Halaqah adalah circle paling efektif dan ideal untuk menjaga pertemanan dalam bingkai iman, mengontrol spritual, moral dan ukhwah.

Kelima, orientasi keselamatan jiwa. Dakwah dan tarbiyah harus mengutamakan keselamatan jiwa, tidak ceroboh dengan mengandalkan semangat tapi kurang strategi yang terkadang mengancam jiwa. Rasulullah dan orang-orang beriman bukan penakut tapi melihat kondisi sosial, sensitifitas masyarakat dan ada tujuan lebih strategis untuk kesinambungan dakwah ke depan dengan menghindari konfrotasi fisik di awal dakwah.[]

*) Dr Abdul Ghofar Hadi, penulis Ketua Bidang Perkaderan DPP Hidayatullah