Beranda blog Halaman 46

Sekjen DPP Hidayatullah Tinjau Program Petani Milenial di Manokwari untuk Dorong Kemandirian Pangan

0
Lahan pertanian Pesantren Agro Hidayatullah Manokwari berlokasi di Desa Sumber Boga SP. 7, Distrik Masni, Kabupaten Manokwari (Foto: Miftahuddin/ Hidayatullah.or.id)

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Nanang Noerpatria, M.Pd, meninjau langsung perkembangan program pertanian untuk pemberdayaan ekonomi berbasis agribisnis yang dikelola oleh Pesantren Agro Hidayatullah Manokwari, Papua Barat, Selasa, 22 Syaban 1447 (10/2/2026). Kunjungan tersebut difokuskan pada evaluasi dan penguatan program Petani Milenial yang tengah dikembangkan di lingkungan pesantren.

Pesantren Agro Hidayatullah Manokwari berlokasi di Desa Sumber Boga SP. 7, Distrik Masni, Kabupaten Manokwari. Saat ini, kawasan tersebut menjadi pusat pengembangan program Petani Milenial yang dirancang melalui kolaborasi antara Pesantren Hidayatullah Manokwari dan Bank Indonesia (BI). Program ini diarahkan untuk mendorong kemandirian pangan sekaligus menyiapkan generasi muda yang memiliki kompetensi di sektor agribisnis.

Nanang Noerpatria mengamati langsung aktivitas pengelolaan lahan produktif serta berdialog dengan pengelola dan peserta program. Ia menyampaikan apresiasi terhadap langkah pesantren dalam mengintegrasikan pendidikan keagamaan dengan penguatan sektor ekonomi berbasis potensi lokal.

“Kolaborasi dengan Bank Indonesia dalam program Petani Milenial ini adalah langkah konkret untuk membuktikan bahwa santri bisa menjadi pelopor kedaulatan pangan, khususnya di tanah Papua Barat,” ujar Nanang di sela-sela peninjauan lahan pertanian.

Program Petani Milenial yang dijalankan di pesantren ini mencakup beberapa komponen utama. Pertama, pemanfaatan teknologi pertanian modern untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Para santri dan pemuda sekitar diberikan edukasi mengenai teknik budidaya yang terukur dan sistematis.

Komponen Kedua, penguatan kemandirian ekonomi pesantren melalui optimalisasi hasil produksi yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan internal sekaligus menyuplai pasar lokal di wilayah Manokwari. Dan, Ketiga, dukungan teknis dan peralatan yang diperoleh melalui kemitraan dengan Bank Indonesia sebagai bagian dari penguatan kapasitas petani muda.

Nanang menyebutkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa bahwa sektor pertanian masih menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia. Dalam publikasi BPS 2023, sekitar 28–29 persen tenaga kerja nasional bekerja di sektor pertanian. Namun, struktur usia petani didominasi kelompok usia di atas 45 tahun, sementara minat generasi muda terhadap sektor ini relatif lebih rendah.

“Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional. Sehingga, kita berharap, program Petani Milenial di Pesantren Agro Hidayatullah Manokwari menghadirkan alternatif konkret bagi generasi muda agar melihat sektor pertanian sebagai bidang yang memiliki prospek dan nilai strategis,” katanya.

Dr. Nanang menegaskan bahwa penguatan ekonomi berbasis pertanian di pesantren merupakan bagian dari upaya membangun kemandirian umat secara terstruktur.

“Kita ingin santri tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga memiliki keterampilan yang aplikatif. Pertanian adalah sektor riil yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat,” katanya dalam sesi diskusi bersama pengelola program.

Ia juga menekankan bahwa kemandirian pesantren perlu diukur dari kemampuannya mengelola potensi ekonomi lokal secara produktif.

Menurutnya, pemberdayaan ekonomi berbasis lahan yang tersedia di Papua Barat merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan di tingkat lokal.

Kunjungan tersebut diakhiri dengan ramah tamah dan dialog terbuka bersama pengelola dan peserta program Petani Milenial di area perkebunan. Dalam forum tersebut dibahas sejumlah aspek teknis, termasuk penguatan kapasitas produksi dan strategi distribusi hasil panen ke pasar lokal.

Kehadiran Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah di lokasi program menjadi bagian dari pendampingan organisasi terhadap inisiatif ekonomi yang dikembangkan di daerah. Program ini diharapkan terus berjalan secara berkelanjutan dengan dukungan berbagai pihak yang telah terlibat dalam kolaborasi.

Kita Berdiri Tegak untuk Kemerdekaan Palestina!

0

ADAKALANYA dunia tidak membutuhkan pidato panjang. la hanya butuh satu sikap yang jujur. Ketika seseorang berkata bahwa keamanan harus dijamin, kita patut bertanya, keamanan siapa, dan dengan harga apa. Sebab dalam iman, keamanan tidak pernah berdiri sendiri. la selalu berjalan beriringan dengan keadilan.

Jika satu dijaga sementara yang lain dibiarkan mati perlahan, maka itu bukan ketertiban, melainkan ketimpangan yang dilegalkan.

Palestina jarang disebut dalam kalimat-kalimat resmi. Bukan karena tidak penting, tetapi karena luka selalu merepotkan. la membuat suasana rapat tidak nyaman. la mengganggu keharmonisan diplomasi. Maka luka itu disimpan jauh-jauh, sementara kata damai dipajang rapi di meja.

Padahal agama mengajarkan hal yang sederhana: Tuhan tidak berpihak pada yang kuat, melainkan pada yang benar. Dan, kebenaran tidak pernah butuh banyak alasan. la hanya butuh keberanian untuk tidak bersembunyi di balik kepentingan.

Indonesia pernah berdiri dengan dada terbuka menolak penjajahan. Doa-doa kemerdekaannya lahir dari keteguhan, bukan dari hitung-hitungan aman.

Maka, ketika hari ini kita terdengar terlalu hati-hati menyebut kezaliman, seolah takut kehilangan undangan dan posisi, yang sesungguhnya terancam
bukanlah hubungan internasional, melainkan harga diri sejarah.

Bergabung dengan forum-forum keamanan global bukanlah dosa. Duduk bersama para pemegang kuasa juga bukan kesalahan. Namun iman selalu memberi satu garis tegas: jangan pernah menukar nurani dengan rasa aman. Jangan pernah menyebut kebijaksanaan sesuatu yang lahir dari ketakutan.

Dalam kisah-kisah lama, banyak orang tidak jatuh karena berbuat jahat, tetapi karena memilih diam. Mereka tahu mana yang salah, namun memilih tidak mengganggu keadaan. Mereka menyebutnya realistis. Tuhan menyebutnya lalai.

Sejarah akan membaca sikap, bukan niat. la tidak mencatat seberapa pintar kita merangkai kalimat, tetapi seberapa berani kita tetap jujur ketika kejujuran berisiko. Dan, di hadapan Tuhan, tidak ada diplomasi yang cukup rapi untuk menutupi satu ketidakadilan yang disengaja.

Kita berdiri tegak untuk kemerdekaan Palestina!

*) Naser Muhammad, penulis dai Hidayatullah di Kalimantan Utara

BKPTQ Hidayatullah Diharapkan Jadi Gelombang Kebaikan Literasi Al-Qur’an

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) –– Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., menegaskan pentingnya pembinaan tilawatil Al-Qur’an sebagai fondasi penguatan kualitas sumber daya manusia dalam tubuh organisasi. Hal tersebut disampaikan saat memberikan sambutan dalam kegiatan Sosialisasi Program Pembinaan Tilawatil Qur’an yang diselenggarakan oleh Badan Koordinasi Pembinaan Tilawatil Qur’an (BKPTQ) Hidayatullah di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Selasa, 22 Sya’ban 1447 (10/2/2026).

Naspi mengatakan BKPTQ sebagai lembaga strategis yang masih berada pada fase awal pengembangan. Ia menjelaskan bahwa usia lembaga yang relatif baru menuntut kesungguhan kerja, kejelasan arah, serta kemampuan membaca peluang agar waktu yang berjalan tidak terbuang tanpa capaian berarti. Menurutnya, keberadaan BKPTQ langsung di bawah koordinasi Ketua Umum DPP merupakan peluang struktural yang harus dimanfaatkan secara optimal.

“BKPTQ adalah lembaga baru. Jadi butuh effort agar waktu yang bergulir dapat menjadi media kemajuan, sehingga pada periode kedua 2026–2031 BKPTQ bisa lebih baik. Peluang ini semakin besar karena langsung di bawah Ketua Umum DPP,” katanya.

Naspi menekankan bahwa kerja kelembagaan pada fase awal harus ditopang dengan manajemen yang efektif dan responsif. Ia mengingatkan agar pola kerja yang dibangun harus mampu bergerak cepat dan adaptif terhadap kebutuhan pembinaan Al-Qur’an di masyarakat termasuk dalam lingkungan internal Hidayatullah.

“Harus bisa lebih efektif dan lebih agile,” tegasnya.

Dalam implementasi program, Naspi menyampaikan bahwa langkah awal yang akan segera dijalankan adalah program tahsin Al-Qur’an bagi pengurus Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah. Ia menjelaskan bahwa pembinaan internal menjadi pintu masuk penting sebelum program diperluas ke tingkat wilayah dan daerah.

“Pekan depan diharapkan program tahsin pengurus DPP Hidayatullah akan running,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan program tidak dapat bergantung pada satu unit kerja semata. Oleh karena itu, Naspi mendorong seluruh unsur organisasi untuk bersikap proaktif, mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing, serta menyiapkan diri sejak dini sebelum program pembinaan Al-Qur’an digulirkan secara lebih luas.

“Semua pihak harus proaktif, sebelum program ini berlangsung lebih massif ke wilayah dan daerah,” katanya.

Lebih jauh, Naspi mengajak seluruh peserta untuk menempatkan Al-Qur’an sebagai pusat orientasi kehidupan dan gerakan. Menurutnya, Al-Qur’an bukan sekadar teks bacaan, melainkan petunjuk hidup yang menuntut keterlibatan emosional, intelektual, dan spiritual dari setiap Muslim. Oleh karena itu, semangat mempelajari dan membaca Al-Qur’an harus terus dipelihara.

“Al-Qur’an itu petunjuk, jadi harus antusias dan semangat,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa proses belajar membaca Al-Qur’an adalah perjalanan sepanjang hayat. Dalam proses tersebut, Naspi menekankan pentingnya menjaga fokus dan ketulusan niat, tanpa terganggu oleh pandangan atau sikap yang justru melemahkan semangat belajar.

“Kita harus terus belajar. Jangan terganggu oleh perspektif yang tidak relevan dalam belajar membaca Al-Qur’an,” katanya.

Naspi kemudian menguraikan harapannya agar program pembinaan tilawatil Al-Qur’an yang digagas BKPTQ tidak berhenti pada aspek teknis pembelajaran, tetapi mampu melahirkan dampak sosial yang lebih luas. Ia menilai bahwa ketika pembelajaran Al-Qur’an disajikan secara sistematis, ramah, dan berkelanjutan, maka akan tumbuh budaya membaca Al-Qur’an yang lebih kuat di tengah umat.

“Kita harap ini bisa menjadi gelombang kebaikan yang membuat umat semakin senang membaca Al-Qur’an, karena kita bisa memberikan bukti bahwa belajar Al-Qur’an itu kebutuhan mendasar kita semua,” ujar Naspi.

Pada kesempatan tersebut, rangkaian acara juga diisi dengan pembacaan Surat Keputusan pergantian pengurus BKPTQ Hidayatullah untuk periode 2026–2031 yang menandai dimulainya fase baru pengelolaan dan penguatan program pembinaan tilawatil Al-Qur’an di lingkungan Hidayatullah sebagai titik awal konsolidasi program, penguatan komitmen pengurus, serta perluasan gerakan pembelajaran Al-Qur’an yang terstruktur dan berkelanjutan.

Nanang Noerpatria Tegaskan Fondasi Peradaban di Tengah Disrupsi Digital dan Kemajuan Teknologi

0

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Nanang Noerpatria, M.Pd, mengajak umat Islam untuk meninjau ulang standar kemajuan sebuah peradaban yang selama ini kerap disalahpahami, khususnya di tengah pesatnya perkembangan teknologi modern seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan robotika.

Ajakan tersebut disampaikan Nanang dalam kegiatan Tausiyah Subuh di Masjid Ar-Riyadh, Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari, Papua Barat, Selasa, 22 Syaban 1447 (10/2/2026).

Nanang Noerpatria mengemukakan bahwa wacana tentang kemajuan peradaban sering kali direduksi menjadi ukuran-ukuran material dan teknologis. Ia menilai bahwa kemajuan teknologi yang hari ini berkembang sangat cepat mulai dari AI yang mampu mengambil keputusan kompleks hingga robotika yang menggantikan banyak peran manusia, perlu disikapi dengan kerangka nilai yang lebih mendasar agar tidak menimbulkan kekeliruan dalam memahami makna peradaban.

Ia mengulas pandangan akademis yang selama ini menempatkan puncak kejayaan Islam pada masa Dinasti Abbasiyah, terutama karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa tersebut. Menurutnya, narasi tersebut memang memiliki dasar historis, namun perlu dikaji secara lebih kritis agar tidak melahirkan pemahaman sempit tentang peradaban.

Dr. Nanang menyampaikan bahwa apabila kemajuan peradaban hanya diukur dari penguasaan teknologi, maka ukuran tersebut akan mengalami pergeseran makna di era modern. Saat ini, kata dia, penguasaan teknologi tertinggi justru berada di tangan negara-negara yang tidak berlandaskan nilai-nilai Islam bahkan cenderung tidak berperikemanusiaan.

“Saat ini teknologi tertinggi dipegang oleh negara-negara seperti Israel. Begitu juga dengan China yang mampu menciptakan ‘matahari buatan’. Jika iptek adalah satu-satunya tolok ukur, apakah lantas mereka disebut pemilik peradaban tertinggi,” kata Nanang.

Pertanyaan itu diutarakan Nanang untuk menunjukkan bahwa kemajuan teknologi termasuk kecerdasan buatan, otomasi, dan sistem robotik, tidak serta-merta mencerminkan tingginya kualitas peradaban. Nanang menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat, sementara peradaban ditentukan oleh nilai yang membimbing penggunaan alat tersebut.

“Tanpa fondasi nilai, teknologi justru berpotensi melahirkan krisis kemanusiaan, ketimpangan sosial, dan kerusakan moral,” tegas Nanang.

Dalam konteks itu, ia menegaskan bahwa peradaban terbesar dalam sejarah manusia justru lahir pada masa Rasulullah SAW. Menurutnya, meskipun pada masa tersebut tidak terdapat kemajuan teknologi sebagaimana hari ini, peradaban yang dibangun mampu melahirkan manusia-manusia unggul dengan kualitas kepemimpinan dan akhlak yang tinggi.

Ia menjelaskan bahwa peradaban pada masa Rasulullah SAW memiliki beberapa karakter utama. Pertama, lahirnya pemimpin-pemimpin dengan visi yang jelas dan semangat perjuangan yang kuat untuk memakmurkan bumi. Kedua, seluruh capaian berpijak pada landasan iman dan tauhid yang kokoh, bukan pada kecanggihan alat atau sistem.

Karakter utama Ketiga, lanjut Nanang, adalah kualitas manusia menjadi pusat peradaban, di mana iman membentuk individu yang mampu mengelola kehidupan secara adil, bermakna, dan sesuai dengan syariat.

Nanang juga menekankan kembali tujuan penciptaan manusia sebagaimana diajarkan dalam Islam, yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT. Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif ini, seluruh aktivitas kehidupan—baik yang bersifat spiritual maupun sosial—dapat bernilai ibadah apabila diniatkan karena Allah dan dijalankan sesuai tuntunan-Nya.

Ia kemudian menguraikan dua kategori ibadah. Pertama adalah ibadah mahdhah, yaitu ibadah ritual yang ketentuannya telah ditetapkan secara baku, seperti shalat dan puasa. Kedua adalah ibadah ghairu mahdhah, yaitu aktivitas duniawi dan sosial yang bernilai ibadah apabila diniatkan karena Allah dan dilakukan sesuai syariat.

“Jadi, di waktu yang sama, Islam tidak menegasikan realitas kebutuhan zaman. Dalam konteks kemajuan teknologi, penguasaan AI, sains, dan teknologi pun dapat bernilai ibadah apabila diarahkan untuk kemaslahatan umat,” terangnya menegaskan.

Menyapa para santri pada kesempatan tersebut, Nanang Noerpatria berharap para santri di Papua Barat dan generasi muda Islam pada umumnya tidak terjebak pada glorifikasi teknologi semata.

Ia menekankan bahwa kecerdasan intelektual harus berjalan seiring dengan penguatan iman dan akhlak, karena hanya dengan fondasi tersebut teknologi dapat diarahkan untuk membangun peradaban Islam yang bermartabat di tengah arus disrupsi digital global.

Gaung dari Papua Selatan, Kolaborasi Membangun Peradaban Berlandaskan Nilai Keislaman dan Keindonesiaan

0

PAPUA SELATAN (HIdayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Muzakkir Usman, M.Ed., menegaskan bahwa visi Hidayatullah adalah mewujudkan Indonesia yang berperadaban melalui kerja-kerja kolaboratif yang berlandaskan nilai keislaman dan keindonesiaan.

Penegasan tersebut disampaikan beliau saat mendampingi pelaksanaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) ke-2 Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Papua Selatan pasca-pemekaran Daerah Otonom Baru.

Rakerwil tersebut berlangsung selama dua hari, Selasa–Rabu, 10–11 Februari 2026, bertempat di Aula Masjid Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Merauke, Provinsi Papua Selatan. Forum ini menjadi agenda strategis pertama bagi DPW Hidayatullah Papua Selatan setelah terbentuk sebagai wilayah baru, sekaligus menjadi ruang konsolidasi organisasi dalam merumuskan arah kerja satu tahun ke depan.

Muzakkir Usman menyampaikan pandangan terkait posisi Hidayatullah di tengah realitas kebangsaan yang majemuk. Ia menegaskan bahwa kehadiran Hidayatullah bukanlah fenomena yang berdiri sendiri, melainkan kelanjutan dari perjuangan para pendiri. Menurutnya, organisasi keumatan memiliki tanggung jawab moral untuk melanjutkan cita-cita kebangsaan dalam bingkai yang konstruktif dan inklusif.

Ia menyampaikan bahwa Hidayatullah harus hadir dengan semangat wasathiyah dan membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya dengan berbagai elemen umat. “Hidayatullah tidak hadir di ruang kosong. Kita melanjutkan estafet perjuangan para founding fathers bangsa,” ujar Muzakkir Usman dalam arahannya kepada peserta Rakerwil.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sinergi lintas elemen dalam menghadapi tantangan masa depan bangsa. Menurutnya, fokus kerja organisasi ke depan adalah membangun kolaborasi strategis untuk menyongsong Indonesia Emas 2045. “Fokus kita adalah kolaborasi dalam rangka menyongsong Indonesia Emas 2045, atau dalam visi Hidayatullah yaitu mewujudkan Indonesia yang berperadaban,” katanya.

Dr. Muzakkir Usman juga menyampaikan bahwa Rakerwil ke-2 DPW Hidayatullah Papua Selatan diharapkan menjadi forum konsolidasi yang solid dan produktif. Ia menilai forum ini penting untuk merumuskan program-program kerja yang inovatif, kontekstual, dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat Papua Selatan, baik di bidang pendidikan, dakwah, maupun sosial kemasyarakatan.

Berperan dalam Pembangunan Daerah

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Papua Selatan, Zainal Abidin, S.Pd., dalam laporannya menegaskan komitmen organisasi untuk berperan aktif dalam pembangunan daerah. Ia menyampaikan bahwa kehadiran Hidayatullah di Papua Selatan tidak semata-mata bersifat kelembagaan, tetapi diarahkan untuk memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan daerah dan masyarakat.

“Kehadiran Hidayatullah di Papua Selatan adalah untuk mengambil peran aktif dalam membangun negeri dan memajukan agama,” ujar Zainal Abidin. Ia juga mengingatkan seluruh kader agar mampu menjadi teladan dan penyejuk di tengah masyarakat yang majemuk.

“Saya berpesan kepada seluruh kader, jadilah pelita di tengah masyarakat. Tidak peduli muslim atau non-muslim, kita harus menjadi penyejuk bagi semua,” katanya.

Dalam arahannya, Ustadz Zainal juga menekankan pentingnya membangun sinergi dengan berbagai pihak. “Bangun sinergi dengan aparat, tokoh agama, dan masyarakat melalui akhlakul karimah. Semua harus dirangkul untuk kemaslahatan bersama,” tegasnya di hadapan peserta Rakerwil.

Rakerwil ke-2 DPW Hidayatullah Papua Selatan ini turut dihadiri oleh berbagai unsur lintas organisasi dan instansi, mencerminkan semangat ukhuwah dan kebersamaan. Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan tokoh agama dari Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, LDII, dan Wahdah Islamiyah.

Selain itu, turut hadir Ibu Minarni, S.Ag., M.H., selaku Kepala Seksi Bimas Islam Kementerian Agama Merauke, Ustadz Sirajudin, M.Pd., Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Papua Selatan yang mewakili Ketua MUI, serta perwakilan dari Polres Merauke dan Kodim setempat.

Kegiatan ini juga dihadiri perwakilan Forum Kerukunan Umat Beragama, ibu-ibu Majelis Taklim se-Merauke, serta mitra perbankan dari Bank Syariah Indonesia. Kehadiran berbagai elemen tersebut dinilai memperkuat posisi Rakerwil sebagai forum konsolidasi yang terbuka dan berorientasi pada kemaslahatan bersama dalam membangun Papua Selatan dan Indonesia secara berkelanjutan.

LSH Hidayatullah Gelar Pelatihan Juru Sembelih Halal 14–15 Februari 2026, Daftar di Sini!

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah akan menyelenggarakan Pelatihan Juru Sembelih Halal (Juleha) selama dua hari, yakni pada Sabtu dan Ahad, 26-27 Sya’ban 1447 (14–15/2/2026). Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid, dengan sesi luring pada Sabtu, 14 Februari 2026, bertempat di Aula DPP Hidayatullah Jakarta, Jalan Cipinang Cempedak I Nomor 14, Polonia, Jakarta Timur, mulai pukul 08.00 WIB. Sementara itu, sesi Ahad, 15 Februari 2026, dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti peserta dari berbagai daerah.

Pelatihan ini diselenggarakan sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Nomor 147 Tahun 2022 tentang Penyembelihan Hewan Halal. Program ini dihadirkan sebagai upaya untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang penyembelihan halal, sekaligus menjawab tantangan jaminan halal yang semakin kompleks di tengah perkembangan industri pangan dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kehalalan produk.

Hari pertama pelatihan difokuskan pada sesi tatap muka yang mencakup pemaparan materi dasar dan praktik penyembelihan hewan halal. Peserta mendapatkan pembekalan mengenai prinsip syariat Islam dalam penyembelihan, tata cara penggunaan alat secara benar, serta pemahaman tentang kebersihan, keamanan pangan, dan kesejahteraan hewan. Seluruh materi disampaikan dengan mengacu pada ketentuan SKKNI dan regulasi halal yang berlaku di Indonesia.

Pada hari kedua, Ahad, 15 Februari 2026, pelatihan dilanjutkan secara daring melalui Zoom Meeting mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Sesi ini menitikberatkan pada penguatan pemahaman konseptual, diskusi interaktif, serta pendalaman regulasi dan standar penyembelihan halal.

Peserta juga memperoleh fasilitas e-modul pelatihan, dan e-sertifikat resmi sesuai SKKNI. Selain itu, disediakan opsi untuk mengikuti uji kompetensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) bagi peserta yang ingin memperoleh pengakuan kompetensi secara nasional.

Panitia pelaksana menyampaikan bahwa pelatihan ini terbuka bagi masyarakat luas, khususnya mereka yang memiliki kepedulian terhadap isu halal dan kesiapan untuk menjalani proses pembelajaran secara berkelanjutan. Melalui skema hybrid, kegiatan ini memungkinkan partisipasi yang lebih luas tanpa mengurangi kualitas materi dan interaksi pembelajaran.

Muhammad Syarif, selaku panitia kegiatan, menjelaskan bahwa pelatihan Juleha ini merupakan bagian dari gerakan percerdasan masyarakat tentang pentingnya jaminan halal sejak dari hulu.

“Jaminan halal tidak hanya ditentukan di tahap akhir produk. Proses penyembelihan adalah fondasi utama. Melalui pelatihan ini, kami ingin memastikan para juru sembelih memahami tanggung jawabnya secara syariat dan sesuai standar nasional, sehingga kehalalan benar-benar terjaga sejak awal,” katanya.

Menurutnya, tantangan jaminan halal masa kini menuntut adanya sumber daya manusia yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki kesadaran nilai dan tanggung jawab etik. Oleh karena itu, pendekatan edukatif melalui pelatihan terstandar menjadi kunci dalam membangun sistem halal yang kuat dan terpercaya.

Syarif menambahkan, pelatihan ini juga merupakan bagian dari komitmen LSH Hidayatullah dalam memperkuat ekosistem halal nasional melalui jalur pendidikan dan pelatihan. Dengan mengombinasikan metode luring dan daring, kegiatan ini diharapkan dia mampu menjangkau peserta lintas wilayah sekaligus menyesuaikan dengan kebutuhan zaman.

Dengan mengikuti pelatihan ini, terangnya, peserta diharapkan mampu berperan aktif dalam menjaga kehalalan pangan, meningkatkan kepercayaan publik terhadap proses penyembelihan, serta turut membangun sistem jaminan halal yang kuat dan berkelanjutan di Indonesia.

“Diharapkan, pelatihan ini melahirkan juru sembelih halal yang kompeten, berintegritas, dan siap berperan aktif dalam menjaga kehalalan pangan serta meningkatkan kepercayaan publik terhadap sistem jaminan halal di Indonesia,” pungkasnya.

Pelatihan Juleha ini terbuka untuk masyarakat umum yang memiliki kepedulian terhadap isu halal, siap belajar, dan bersedia berkomitmen mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Untuk sesi luring di Jakarta, biaya pelatihan ditetapkan sebesar Rp 1.500.000 per peserta.

Bagi peserta yang ingin mengikuti uji kompetensi BNSP, disediakan opsi tambahan dengan biaya Rp 1.500.000. Sementara itu, untuk sesi daring melalui Zoom Meeting, biaya pelatihan sebesar Rp 1.000.000.

Panitia mengajak masyarakat yang berminat untuk segera mendaftarkan diri dan memperoleh informasi lebih lanjut dengan menghubungi nomor 0813-1001-1598. Pendaftaran juga dapat dilakukan secara daring melalui laman resmi LSH Hidayatullah.

Di Balik Fenomena Kemiskinan Ekstrem, Hidayatullah Desak Kehadiran Negara bagi Warga Rentan

0

JAKARTA (HIdayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas tragedi kemanusiaan yang menimpa Najwa, seorang anak berusia 8 tahun di Kendari, Sulawesi Tenggara. Korban dilaporkan meninggal dunia akibat tertabrak alat berat jenis loader saat sedang berjualan tisu demi membantu ekonomi keluarganya.

Peristiwa memilukan yang terjadi pada Jum’at pekan lalu (6/2/2026) ini bukan sekadar kecelakaan lalu lintas semata, melainkan sebuah alarm keras bagi kondisi sosial-ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput.

Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Muhammad Isnaeni, menegaskan bahwa kejadian ini harus dilihat melalui kacamata sosiologis yang lebih luas, bukan sekadar kasuistik. Berdasarkan data faktual yang terhimpun di lapangan, diketahui bahwa motivasi utama korban turun ke jalan adalah ketiadaan bahan pangan pokok di rumahnya.

“Tragedi ini adalah tamparan keras bagi kita semua. Kami menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga Ibu Nurhana. Namun, air mata saja tidak cukup. Kematian Najwa yang sedang berjuang demi sesuap nasi adalah indikator nyata bahwa jaring pengaman sosial kita masih memiliki celah yang sangat besar,” ujar Isnaeni.

Fakta empiris dari kronologi kejadian menunjukkan adanya korelasi langsung antara kemiskinan ekstrem dengan risiko keselamatan anak. Sebagaimana dikonfirmasi oleh pihak keluarga, korban terpaksa keluar rumah di malam hari meski sempat dilarang ibunya karena hujan karena desakan kebutuhan dasar. Korban berjanji akan pulang membawa beras karena di rumah sudah tidak ada nasi untuk dimakan. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat kerentanan ekonomi keluarga berada pada titik nadir, di mana pemenuhan kebutuhan kalori harian pun menjadi tantangan yang mempertaruhkan nyawa.

Isnaeni menilai bahwa kasus ini berpotensi besar merupakan fenomena gunung es. Apa yang tampak di permukaan adalah satu kasus kematian tragis, namun di bawahnya tersimpan realitas ribuan keluarga lain yang mungkin sedang bertarung melawan kelaparan dalam sunyi.

“Ketidakmampuan warga negara untuk mengakses kebutuhan pangan dasar merupakan bentuk kegagalan kehadiran negara dalam menjamin hak konstitusional warganya, khususnya fakir miskin dan anak-anak telantar,” kata Isnaeni dalam keterangannya kepada media ini, Senin, 21 Syaban 1447 (9/2/2026).

Dia memandang, negara harus hadir secara nyata dalam mengentaskan masalah kemiskinan ekstrem yang masih terjadi di daerah seperti Kendari ini. Tidak boleh ada lagi anak-anak yang harus meregang nyawa di jalanan hanya karena ingin memastikan ada beras di dapur rumahnya.

Lebih lanjut, Isnaeni menyoroti aspek perlindungan anak yang terabaikan akibat himpitan ekonomi. Narasi bahwa korban sempat bertanya mengenai penampilannya dan berjanji membawa uang banyak sebelum kejadian, menunjukkan beban psikologis orang dewasa yang harus ditanggung oleh anak di bawah umur.

Dia menegaskan, kasus ini, yang kini telah ditangani oleh Satlantas Polresta Kendari dengan mengamankan operator alat berat, harus menjadi momentum evaluasi kebijakan pengentasan kemiskinan yang lebih substansial dan tepat sasaran.

Pihaknya pun mendesak pemerintah untuk tidak sekadar memberikan santunan pasca-kejadian, melainkan melakukan pemetaan ulang terhadap kantong-kantong kemiskinan ekstrem. Dia menyarankan, intervensi negara harus bersifat preventif dan sistemik, memastikan bahwa tidak ada lagi warga negara yang terpaksa menempatkan anak-anak mereka dalam situasi berbahaya demi keberlangsungan hidup biologis.

Isnaeni menambahkan, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka statistik pertumbuhan ekonomi, masih terdapat realitas pahit di mana nyawa seorang anak menjadi taruhan untuk sekilogram beras.

“Kami mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersinergi mengentaskan masalah ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk menegakkan keadilan dan menghadirkan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia sebagai amanat utama Undang-Undang Dasar 1945,” tandasnya.

Sekjen DPP Hidayatullah Tinjau Pengembangan Peternakan Ayam di Manokwari Selatan

0

MANSEL (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Nanang Noerpatria, M.Pd, meninjau secara langsung program peternakan ayam yang tengah dikembangkan oleh Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah Kabupaten Manokwari Selatan.

Peninjauan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya memastikan pelaksanaan program ekonomi organisasi berjalan sesuai dengan arah kebijakan dan tujuan pemberdayaan yang telah ditetapkan.

Kunjungan kerja tersebut dilaksanakan pada Senin, 21 Syaban 1447 (9/2/2026), di sela agenda Sekretaris Jenderal mendampingi Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Papua Barat.

Dalam kesempatan tersebut, Nanang Nurpatria menyempatkan diri berkunjung ke lokasi pengembangan peternakan ayam yang dikelola oleh pengurus DPD Hidayatullah Manokwari Selatan sebagai salah satu unit usaha berbasis ekonomi produktif.

Fokus utama kunjungan ini adalah melihat secara langsung progres dan kondisi lapangan program peternakan ayam yang menjadi bagian dari pilar ekonomi Hidayatullah. Program tersebut dalam rangka mendukung kemandirian operasional dakwah sekaligus mendorong pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah pengembangan. Peternakan ayam dipilih sebagai unit usaha yang dinilai relevan dengan potensi lahan dan kebutuhan pangan lokal di Papua Barat.

Dalam suasana dialog yang berlangsung, Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah berdiskusi langsung dengan pengelola peternakan, Ustadz Maghfuri, S.Pd. Dialog tersebut dilakukan di area kandang kayu yang berisi bibit-bibit ayam unggul yang sedang dikembangkan. Diskusi mencakup kondisi teknis peternakan, pola pengelolaan, serta rencana pengembangan ke depan.

Pada kesempatan tersebut, Nanang Nurpatria menekankan beberapa hal penting terkait keberlanjutan program. Menurutnya, unit usaha peternakan harus dirancang dengan perencanaan jangka panjang agar mampu bertahan dan berkembang secara konsisten. Ia juga menekankan bahwa kemandirian menjadi aspek utama yang harus diwujudkan melalui program ekonomi organisasi.

Selain itu, Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah menyoroti pentingnya menjadikan peternakan ayam sebagai model percontohan bagi masyarakat sekitar dalam mengelola ketahanan pangan secara mandiri. Ia menyampaikan bahwa keberadaan unit usaha ini diharapkan tidak hanya memberi manfaat internal organisasi, tetapi juga menjadi referensi praktis bagi warga dalam mengembangkan usaha produktif berbasis potensi lokal.

Dalam konteks penguatan sumber daya manusia, Dr. Nanang Nurpatria juga menekankan perlunya melibatkan kader-kader muda dalam pengelolaan teknis peternakan. Menurutnya, keterlibatan kader muda akan menjadi sarana pembelajaran langsung untuk mengasah jiwa kewirausahaan dan tanggung jawab dalam mengelola usaha ekonomi produktif.

“Program peternakan ini juga bagian dari dakwah bil hal, dakwah dengan perbuatan, untuk menunjukkan bahwa kemandirian adalah kunci tegaknya kemuliaan umat,” ujar Nanang Nurpatria di sela-sela peninjauan lokasi peternakan.

Ia juga menambahkan bahwa program ekonomi yang dijalankan oleh Hidayatullah harus mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung. Menurutnya, keberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari aspek lisan dan tulisan, tetapi juga dari kontribusi nyata dalam memperkuat kemandirian umat.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Hidayatullah Papua Barat, Muhammad Rusdan, M.Pd, yang turut membersamai kunjungan ini, mengatakan kehadiran pimpinan pusat di lokasi peternakan tersebut diharapkan dapat menjadi dorongan semangat bagi jajaran pengurus DPD Hidayatullah Manokwari Selatan untuk terus berinovasi.

“Dengan potensi lahan yang tersedia serta budaya gotong royong yang masih kuat di tengah masyarakat, program peternakan ayam ini diproyeksikan mampu memenuhi sebagian kebutuhan pasar lokal di wilayah Papua Barat,” kata Rusdan.

Rangkaian kunjungan kerja tersebut ditutup dengan sesi diskusi mengenai berbagai kendala teknis yang dihadapi di lapangan. Dalam diskusi tersebut, dibahas pula langkah-langkah strategis untuk pengembangan infrastruktur peternakan agar lebih modern, efisien, dan produktif, sehingga program dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi organisasi dan masyarakat sekitar.

Ketua Umum DPP Hidayatullah Tekankan Kesabaran sebagai Fondasi Karakter Da’i

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc, menegaskan bahwa kesabaran dan keteguhan dalam menjalani proses merupakan bagian penting dari pembentukan karakter seorang da’i. Menurutnya, tidak semua orang mampu bertahan dalam proses panjang pendidikan dan pembinaan, namun mereka yang istiqamah akan tumbuh menjadi pribadi yang kokoh dan siap menghadapi medan dakwah yang sesungguhnya.

KH Naspi Arsyad menyampaikan apresiasi kepada seluruh santri yang tetap bertahan dan bersabar menghadapi berbagai dinamika kehidupan di pondok. Ia menyebut bahwa proses pendidikan dan pembinaan tidak selalu mudah, namun justru di situlah karakter ditempa.

“Kesabaran dan keteguhan dalam menjalani proses adalah bagian dari pembentukan karakter,” katanya, seraya menekankan bahwa ketahanan dalam proses merupakan bekal utama dalam perjuangan dakwah.

Pesan pesan itu tersebut disampaikan KH Naspi Arsyad saat menjadi pembicara dalam kegiatan Kuliah Umum yang dirangkai dengan Tarhib Ramadhan Sekolah Da’i Hidayatullah di Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Ahad, 20 Sya’ban 1447 (8/2/2026). Kegiatan ini diikuti oleh para santri Sekolah Da’i sebagai bagian dari persiapan menyambut bulan suci Ramadhan.

Pada kesempatan tersebut, KH Naspi Arsyad juga mengingatkan bahwa Ramadhan bukan sekadar momentum ibadah rutin tahunan, melainkan bulan tarbiyah dan dakwah. Ramadhan, menurutnya, adalah masa pembinaan diri yang menyeluruh sekaligus penguatan orientasi perjuangan seorang da’i. Ia menekankan bahwa setiap muslim termasuk para santri kuliah dai perlu memaknai Ramadhan sebagai ruang pembentukan mental, ruhiyah, dan kedisiplinan.

Dalam arahannya, ia mengingatkan agar para santri tidak terpesona oleh gemerlap dunia yang kerap melalaikan manusia dari tujuan hidup. Ia menegaskan pentingnya keyakinan kepada ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, disertai dengan ikhtiar yang maksimal. Usaha terbaik harus dilakukan, sementara hasilnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah.

KH Naspi Arsyad menekankan bahwa Ramadhan perlu dijalani dengan kesungguhan dan totalitas. Setiap momen di dalamnya adalah kesempatan berharga yang tidak selalu dapat terulang. Ia mengingatkan bahwa Ramadhan merupakan bulan penggemblengan diri menuju ketakwaan, sehingga harus diisi dengan ibadah, amal saleh, dan peningkatan kualitas pribadi.

Kedekatan dengan Al-Qur’an menjadi salah satu penekanan utama dalam kuliah umum tersebut. Menurutnya, seorang da’i harus menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, bukan hanya dibaca dan dilantunkan, tetapi juga dipahami dan ditadabburi. Dakwah yang kuat, katanya, lahir dari hati yang dekat dengan wahyu.

Ia juga mengingatkan agar Ramadhan tidak dijadikan alasan untuk menurunkan produktivitas, terutama karena aktivitas ibadah malam. Justru, menurutnya, Ramadhan seharusnya melahirkan pribadi yang lebih disiplin dan mampu mengatur waktu serta menjaga stamina agar tetap optimal dalam menjalankan aktivitas keseharian.

Dalam salah satu penekanan pesannya, KH Naspi Arsyad menyampaikan peringatan kepada para santri tentang tanggung jawab yang menanti mereka. “Umat sudah menunggu kalian,” ujarnya.

Ia juga mendorong agar Ramadhan dijalani dengan target yang jelas, baik dalam tilawah Al-Qur’an, hafalan, perenungan, sedekah, qiyamul lail, maupun perbaikan akhlak. Menurutnya, tanpa target yang terukur, Ramadhan akan berlalu tanpa memberikan dampak yang signifikan.

Di akhir arahannya, KH Naspi Arsyad mengingatkan pentingnya adab dalam menyambut Ramadhan dengan rasa gembira dan penuh syukur.

“Semoga Ramadhan benar-benar menjadi momentum tarbiyah yang mengantarkan kita menuju ketakwaan dan menguatkan langkah kita dalam perjuangan dakwah,” pungkasnya.

Hidayatullah Harus Berperan sebagai Lokomotif Intelektual bagi Kemajuan Bangsa

0

LAMPUNG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Muzakkir Usman, M.Ed., menegaskan bahwa sebagai organisasi yang berbasis kader, Hidayatullah dituntut mampu berperan sebagai lokomotif intelektual bagi kemajuan bangsa. Menurutnya, posisi tersebut menempatkan Hidayatullah tidak hanya sebagai pelaku dakwah dan pendidikan, tetapi juga sebagai pusat gagasan yang berkontribusi dalam pembangunan nasional.

Penegasan tersebut disampaikan Dr. Muzakkir Usman saat membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Lampung yang berlangsung pada Sabtu dan Ahad, 19-20 Sya’ban 1447 (7–8/2/2026). Kegiatan ini dilaksanakan di Kampus 1 Pesantren Hidayatullah Menggala, Kabupaten Tulang Bawang, dan menjadi forum tahunan tingkat wilayah untuk melakukan konsolidasi organisasi secara menyeluruh.

Rakerwil Hidayatullah Lampung dihadiri secara langsung oleh jajaran pengurus DPW, Dewan Murobbi Wilayah, pimpinan Dewan Pengurus Daerah, serta pengelola unit amal usaha Hidayatullah dari seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Lampung. Selain kehadiran luring tersebut, Muzakkir Usman juga mengikuti rangkaian kegiatan secara daring untuk menyampaikan arahan strategis dari tingkat pusat.

Dalam pemaparannya, Dr. Muzakkir Usman menyampaikan pandangan mengenai peran strategis Hidayatullah dalam konteks kebangsaan. Ia menyatakan bahwa organisasi kader seperti Hidayatullah harus mengambil posisi aktif dalam membangun Indonesia dengan pendekatan intelektual yang selaras dengan nilai agama dan konstitusi negara.

“Hidayatullah harus menjadi pusat pemikiran dalam membangun Indonesia dalam bingkai agama dan konstitusi,” katan Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah bidang Pendidikan ini.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kontribusi tersebut harus diwujudkan melalui solusi yang relevan dan berdampak luas. Menurutnya, upaya pembangunan tidak cukup dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan pendekatan yang terencana dan adaptif.

“Kita harus turut menghadirkan solusi pencapaian yang efektif, efisien, adaptif, kolaboratif, dan berdampak luas untuk Indonesia yang berperadaban,” tegasnya.

Arahan tersebut mendapat tanggapan dari Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Lampung, KH Nur Yahya Asa. Dalam laporan dan sambutannya, ia menekankan bahwa kekuatan organisasi tidak semata-mata terletak pada struktur kelembagaan, melainkan pada kualitas hubungan spiritual dan kebersamaan antaranggota. Ia menyampaikan bahwa arah pengelolaan organisasi ke depan bertumpu pada dua pilar utama, yakni harmonisasi dan dinamisasi.

KH Nur Yahya Asa menegaskan pentingnya membangun soliditas tim melalui penguatan spiritualitas dan kebiasaan saling mendoakan.

“Maka, Dewan Pengurus Wilayah, Daerah, dan Amal Usaha Hidayatullah harus berusaha membangun soliditas tim dengan cara meningkatkan kualitas spiritual kita dan saling mendoakan ikhwah kita,” kata Nur Yahya.

Dalam suasana yang reflektif, pria kelahiran Cilacap ini juga menekankan peran doa dalam kehidupan berjamaah. Menurutnya, kebersamaan spiritual harus mencakup seluruh anggota, termasuk mereka yang jarang berinteraksi secara langsung.

Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Muzakkir Usman, M.Ed (Foto: Made from digital artificial intelligence/ Hidayatullah.or.id)

“Kita sebut nama saudara kita dalam doa-doa kita, bahkan saudara kita yang tidak dekat dengan kita harus lebih sering lagi kita sebut dalam doa kita,” katanya. Ia menambahkan bahwa dengan harmonisasi dan dinamisasi dalam berjamaah, pelaksanaan amanah organisasi dapat berjalan dengan lebih nyaman dan terarah.

“Dengan harmonisasi dan dinamisasi dalam kehidupan berjamaah, maka kita akan nyaman dalam bekerja dan menjalankan amanah ini menuju Hidayatullah yang mandiri dan berpengaruh,” ungkapnya.

Rakerwil Hidayatullah Lampung 2026 mengusung tema “Konsolidasi Jati Diri dan Transformasi Organisasi menuju Hidayatullah Mandiri dan Berpengaruh.”

Melalui forum ini, dirumuskan sejumlah keputusan strategis, antara lain penguatan sistem pendidikan terintegrasi, digitalisasi pengelolaan amal usaha, serta peningkatan peran kader dalam pemberdayaan ekonomi umat di seluruh wilayah Lampung.

Menutup rangkaian kegiatan, seluruh peserta Rakerwil menyatakan komitmen untuk membawa hasil musyawarah dan semangat harmonisasi ke wilayah masing-masing. Komitmen tersebut diarahkan agar setiap amanah organisasi dijalankan secara profesional dengan landasan ukhuwah Islamiyah yang kuat dan berkesinambungan.