Beranda blog Halaman 702

Hidayatullah Tegaskan Miss World Bukan Budaya Bangsa

0

Kamis, 05 September 2013 13:37

Ketua Biro Humas PP Hidayatulllah Mahladi Murni, menegaskan bahwa perhelatan kontes Miss World 2013 yang rencanannya akan digelar di Indonesia bulan September ini bukanlah budaya bangsa sehingga harus ditolak. Hal itu ia tegaskan dalam pertemuan bersama pimpinan ormas-ormas Islam di kantor Kantor Pusat Hizbut Tahrir Indonesia: Crown Palace A25, Jl Prof. Soepomo No. 231, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Berikut pernyatannya:

[youtube width=”600″ height=”450″ src=”luItEg0D99s”][/youtube]

Piagam Gunung Tembak untuk Semua umat Islam

0

Ormas Hidayatullah telah mencetuskan konsensus bernama Piagam Gunung Tembak untuk menjadi perhatian seluruh kader dan jamaah. Isinya adalah seruan untuk menegakkan peradaban Islam dengan memakmurkan masjid, menuntut ilmu, bersilaturrahim, berjiwa sosial, mendirikan shalat berjamaah, tawadhu’, berdakwah, menjadi teladan yang baik di masyarakat.

Kendati dicetuskan pada momentum Silatnas Hidayatullah 2013 lalu di hadapan ribuan kader yang hadir, sejatinya piagam ini harus dipraktikkan juga oleh semua komponen umat Islam.

“Sebab inilah nilai-nilai yang dulu juga telah dibangun Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dalam membangun masyararak berperadaban mulia,” kata Ketua PP Hidayatullah Ustadz Tasyrif Amin kepada Hidayatullah.or.id, Rabu (04/09/2013).

Memakmurkan masjid dan menuntut ilmu adalah kewajiban umat Islam. Sholat berjamaah untuk laki-laki pun demikian. Inilah standar masyarakat yang telah dibangun oleh Nabi, ini harus ditegakkan dan dijaga.

Kata Ustadz Tasyrif, umat Islam dituntut untuk memahami dan mempraktikkan agamanya. Itulah mengapa pemimpin dan kader Hidayatullah wajib menjadi teladan di tengah umat, termasuk di dalamnya adalah kewajiban setiap muslim untuk meneladankan ajaran Islam sebagai agama yang penuh rahmat.

“Di dalam Islam, misalnya, perempuan harus memakai jilab. Ini juga harus diteladankan dengan baik oleh seluruh orang yang mengaku berislam, bukan hanya kader Hidayatullah,” ujarnya.

Ustadz Tasyrif menyatakan kesyukuran atas terus tersosialisasikannya piagam itu dalam rangka menegakkan nilai-nilai peradaban mulia. Piagam Gunung Tembak, kata dia, sejatinya untuk semua orang beriman agar bersama-sama berpadu menegakkan peradaban Islam di mana pun mereka berada.

“Sosialisasi Piagam Gunung Tembak harus terus digalakkan dan kemudian diimplementasi. Gerakan kembali ke masjid adalah sentral dari pesan piagam tersebut,” ujar beliau seraya menyebutkan akan ada penguatan secara formal pada acar Rapat Pleno Hidayatullah akhir November mendatang untuk seluruh pengurus.

Ustadz Tasyrif menjelaskan lahirnya piagam ini adalah dalam rangka mengkontekstualisasi apa yang telah dijalankan oleh Rasulullah di masa lalu yang gemilang membangun masyarakat beradab.

“Selanjutnya kepada seluruh dai dan muballigh tidak boleh istirahat untuk selalu mentrasformasikan nilai kebajikan tersebut demi lahirnya masyarakat Muslim yang beradabab dan berkasih sayang,” tandasnya.

Berikut ini isi lengkap Piagam Gunung Tembak yang diputuskan dan dibacakan pada momentum Silaturrahim Nasional Hidayatullah di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, akhir Juni lalu (24/06/2013):

 

Bismillaahirrahmanirrahiim

1. Bahwa membangun Peradaban Islam adalah jihad bagi setiap orang yang beriman.

2. Bahwa pusat Peradaban Islam adalah masjid. Oleh karena itu, setiap kader Hidayatullah wajib memakmurkan masjid sebagai pusat kegiatan ibadah, pusat pengembangan ilmu, pusat kebudayaan Islam, pusat pengembangan karakter dan kepemimpinan umat.

3. Bahwa setiap kader Hidayatullah wajib melaksanakan shalat berjamaah di masjid, melazimkan shalat nawafil, terutama qiyamul lail, membaca al-Qur’an dan melaksanakan amalan ibadah sesuai dengan ketentuan syari’ah.

4. Bahwa setiap kader Hidayatullah adalah generasi Rabbani yang wajib menghidupkan majelis ilmu, membangun tradisi keilmuan dan berdakwah menyebarkan Islam. Oleh karena itu kader Hidayatullah wajib berhalaqah sebagai sarana untuk melakukan transformasi ilmu, transformasi karakter dan transformasi sosial.

5. Bahwa kader Hidayatullah harus menjadi generasi yang berkarakter, peduli, suka menolong, gemar berkorban, tawadhu’, militan, qana’ah, wara’ dan mengutamakan kehidupan akhirat.

6. Bahwa setiap pemimpin dan kader Hidayatullah wajib menjadi teladan di tengah umat. Untuk itu setiap kader harus membangun soliditas jamaah dan ukhuwah Islamiyah.

 

Gunung Tembak, 24 Juni 2013

Miss World Secara Ide Kita Tolak, Apalagi Pelaksanaannya

0

Sekretaris Jenderal Muslimat Hidayatullah (Mushida), Ir. Amalia Husna Bahar, M.Pd.I, menegaskan bahwa dari sis ide penyelenggeraan Miss World 2013 yang akan digelar di Indonesia bulan September mendatang sudah tertolak, apalagi pelaksanaannya.

“Secara ide saja Miss World itu kita tolak, secara fisik atau pelaksanaannya pun kita tegas mengecam agar tidak digelar,” kata Amalia Husna kepada Hidayatullah.or.id kepada media ini, Rabu (04/09/2013).

Amalia bahkan menyebut penyelenggaraan Miss World tidak memberi manfaat sama sekali bagi keberlangsungan kehidupan bangsa selain hanya sebuah aksi ekploitasi manusia berkedok kontes dunia.

“Sama sekali tidak penting. Yang diuntungkan hanya segelintir pebisnis dan dalam waktu yang sama dampak buruknya meluas dan berkepanjangan,” tukas dia.

Lebih lanjut, Amalia menyeru memantapkan ketahanan keluarga setiap keluarga Muslim untuk membendung berbagai pengaruh buruk dari sistem kehidupan sosial yang ada saat ini.

“Ketahanan dalam melawan berbagai perang budaya hari ini berawal dari keluarga. Dari keluarga kepada jamaah atau komunitas, di sini peran penting muslimat. Peran itu dipelihara, dikoordinasi dalam sebuah kepimpinan yang bermuara pada ketaatan dan syariat,” tandasnya.

Barat Keliru Nilai Madrasah Sebagai Sarang Teroris

0

Selama ini, media internasional terkesan melihat madrasah sebagai institusi monolitik dan homogen. Media barat melihat madrasah sebagai breeding ground of Islamic radicalism. Padahal madrasah di dunia Islam mulai dari Maroko sampai Indonesia memiliki variasi yang luar biasa.

Hal ini disampaikan Plt. Kepala Badan dan Litbang Kementerian Agama Machasin kepada pers terkait penyelenggaraan The Second International Symposium Empowering Madrasa In The Global Context, Jakarta, Rabu (28/08).

Menurut Machasin, variasi madrasah di berbagai kawasan tersebut disebabkan oleh beragam faktor, seperti politik, ekonomi, sosial dan budaya di mana madrasah eksis dan berkembang.

“Madrasah di Indonesia justru merupakan antitesis terhadap upaya penyemaian radikalisme dan terorisme. Madrasah mengajarkan toleransi, demokrasi, civic education, sains dan teknologi, dan lain-lain,” tegas Machasin.

“Bahkan, madrasah adalah jawaban atas permasalahan krisis moral dan akhlak, karena kemunculannya memang memiliki karakter dan identitas keagamaan kuat,” tambah Machasin. The Second International Symposium Empowering Madrasa In The Global Context akan dilaksanakan selama 3 hari, 3 – 5 September 2013 di Bekasi, Jawa Barat.

Kegiatan ini diharapkan dapat memetakan dinamika perkembangan variasi madrasah di berbagai kawasan, yang menyangkut eksistensi kelembagaan, tinjauan dari faktor sosial, budaya, ekonomi, ideologis, politis, filosofis dan historis. Selain itu juga, menghimpun ide dan strategi pengembangan madrasah untuk merespon per¬kem¬bangan peradaban global ke depan.

Simposium yang akan diikuti oleh 130 peserta dari unsur peneliti, pakar, dan praktisi pendidikan ini recananya dibuka oleh Wakil Presiden Boediono yang jua akan menjadi pembicara kunci (keynote speech).

“Simposium ini juga akan menghadirkan narasumber dari Mesir, Florida, Turki, Thailand, dan beberapa guru besar Islam di Indonesia,” kata Machasin. (ybh/hio/men)

 

Alasan Hidayatullah Tolak Acara Miss World di Indonesia

0

maret2013_9Organisasi kemasyarakatan, Hidayatullah, menyayangkan pemerintah Indonesia tidak bersikap tegas dengan pelaksana ajang kecantikan Miss World 2013 yang akan berlangsung di Bali, September 2013. Hidayatullah menegaskan tidak setuju dan tidak mendukung acara tersebut.

Ada dua alasan penolakan Hidayatullah dengan Miss World 2013. Pertama, kontes-kontes seperti itu bertentangan dengan peradaban Islam dan tidak cocok dengan budaya bangsa. Kedua, sangat tidak pantas acara-acara seperti itu digelar di negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini.

“Kami ormas Islam Hidayatullah, akan terus mengedukasi masyarakat lewat dai-dai Hidayatullah dan media-media yang kami miliki tentang betapa besar bahaya ideologi dan moral dari acara-acara seperti itu. Kami berharap, Allah SWT akan menyadarkan para pemimpin di negeri ini akan bahaya tersebut,” demikian ditegaskan Ketua Biro Humas PP Hidayatullah Mahladi dalam siaran persnya diterima Hidayatullah.or.id. (ybh/hio)

Kader Hidayatullah Kehadirannya Memberi Manfaat

0

Anggota Dewan Syura Hidayatullah Ustadz Nursyamsa Hadits meningatkan kader muda Hidayatullah untuk selalu berpacu mengembangkan potensi diri, tidak mudah menyerah, selalu optimis, dan semaksimal mungkin menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungan sosialnya dan jamaah.

Beliau menegaskan bahwa orang yag paling baik adalah yang paling fungsional perannya dalam kehidupan. Sehingga ia menekankan pentingya kader Hidayatullah agar selalu mengevaluasi diri apakah benar-benar keberadaannya telah memberi manfaat atau justru membawa mudharat. Proses ini harus dilakukan, kata beliau, agar setiap person tak selalu merasa benar.

“Manusia yang terbaik adalah yang paling fungsional perannya. Kader Hidayatullah itu harus fungsional. Di mana pun berada selalu dirindukan, ide-idenya ditunggu, santun akhlaknya, dan menejawantah nilai fastabiqul khairaat,” kata Ustadz Nurysamsa Hadits dalam acara tasmiyah aqiqah salah satu warga Pesntren Hidayatullah di Kota Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Ia mengingatkan, usia muda adalah masa emas umur manusia. Jangan disia-siakan periodisasi yang pasti dilewati manusia ini. Ia menyeru kader agar mengerahkan semua potensi di usia ini untuk bekerja dan beramal baik sebanyak-banyaknya.

“Maka di masa tua nanti Anda akan rasakan manfaatnya, pasti itu. Sudah sunnatullah. Insya Allah. Kalaupun berumur pendek, kita akan dikenang dengan baik,” imbuhnya menegaskan.

Tak lupa beliau juga mengutarakan nasihat pentingnya mendidik keluarga menjadi rumah tangga yang sakiinah mawaddah warohmah. Mendidik anak di zaman dimana teknologi informasi kian massif saat ini, kata dia, tidak bisa lagi dengan cara-cara yang keras dan over protektif.

“Jadikan anak-anak kita sebagai teman, rangkul mereka, jadikan dia nyaman bersama kita. Jangan sampai anak-anak lebih mengidolakan warnet dan teknologi ketimbang figur orangtuanya,” kata ayah dari 7anak ini.

“Sesungguhnya harta, anak, dan istri adalah fitnah. Ia akan menjadi berkah bagi kita seberapa jauh kita dapat mengantar mereka menjadi orang yang shaleh,” tandasnya. (ybh/hio)

Hidayatullah Kian Eksis di Dunia Maya

0

Rabu, 28 Agustus 2013 11:55

Perkemangan teknologi informasi khususnya internet tak membuat Hidayatullah skeptik seperti katak dalam tempurung. Sebab, sudah diyakini bersama bahwa perubahan adalah sebuah keniscayaan dan keniscayaan tersebut bagaimanapun harus dihadapi.

Praktisi IT yang telah cukup lama berkecimpung di teknologi internet, Muhammad Syakirin, S.kom, mengatakan sebuah langka yang baik ketika Hidayatullah mulai mengambil peran dalam kancah ini.

“Ruang-ruang dakwah itu sangat luas, tak terkecuali di dunia maya. Saya kira Hidayatullah perlu terus mengambil peran dalam aspek ini. Jadi, sambil dakwah Islam terus bergulir secara offline atau di dunia nyata secara sekemuka, dakwah secara online atau virtual pun jalan,” ujar Syakirin yang cukup sukses dengan usaha e-ticketing ini.

Ormas Hidayatullah adalah organisasi dan pemilik majalah Islam yang pertama kali meluncurkan portal berita, bahkan sebelum era dotcom booming di Indonesia.  Portal berita itu, sebelum domain Hidayatullah.com yang ada sekarang, dioperasikan oleh simpatisan Majalah Hidayatullah yang kuliah di Amerika Serikat dengan subdomain Geocities milik raksasa Yahoo! pada tahun 1996.

Dalam pantauan Syakirin, mulai tahun 2011 lalu, mesin pencari Google telah memverifikasi Hidayatullah.com dalam sistem crawler (rayapan) mereka sebagai portal berita sejajar dengan Reuters, CNN, Antara, atau yang terkenal Detikcom. Capaian tersebut, kata dia, harus dipertahankan. Untuk itu Hidcom harus selalu mengoptimasi diri dalam penerapan skema SEO

Advokasi dan penetrasi opini yang dibangun portal berita ini menjadikan Hidayatullah.com kini telah menjadi portal umat Islam, bukan lagi menjadi saluran transmisi ormas Hidayatullah semata. Sehingga, menurut Syakirin, portal berita yang biasa disingkat Hidcom tersebut harus diposisikan benar-benar sebagai wadah perekat umat.

“Kendati begitu, ormas Hidayatullah harus tetap mendapat porsi yang cukup untuk ruang promosi dan pemberitaan. Tapi tentu saja harus tetap proporsional agar tidak muncul persepsi dibenak pembaca portal ini kok Hidayatullah doang isinya,” ujar Syakirin mengusulkan.

Lulusan BINUS ini mengapresiasi maraknya lalu lintas informasi seputar ormas dan Pesantren Hidayatullah di daerah. Sebagaimana pantauan media ini, sejumlah wilayah dan daerah Hidayatullah telah berdiri situs-situs profesional yang menjadi wadah silaturrahim dan informasi lembaga.

Diantara daerah dan wilayah yang telah memiliki portal informasi sendiri yaitu Hidayatullah Medan, Hidayatullah Yogyakarta, Hidayatullah Karimun, Papua Barat, Surabaya, Jawa Timur, Timika, Kediri, Batam, Depok, Sleman, dan Malang. Sejumlah lembaga pendidikan Hidayatullah juga telah memiliki portal yang terdaftar secara resmi dengan domain Indonesia (ID) di Pengelola Domain Indonesia (PANDI).

“Ini menunjukkan bahwa Hidayatullah terus eksis di dunia maya. Semoga saluran transmisi tersebut dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk berdakwah, mensosialisasikan spirit peradaban Islam, dan untuk membendung opini buruk terhadap Islam,” pungas Syakirin. (ybh/hio)

Seruan Infaq Nasional Bangun Gedung Dakwah Hidayatullah

0

Selasa, 27 Agustus 2013 10:47

Segenap kader Hidayatullah di mana saja berada harus senantiasa berkomitmen membangun peradaban mulia. Peradaban mulia yakni kehidupan Islami yang di dalamnya terbangun solidaritas, manusia-manusianya penuh kasih sayang, saling mengasihi, konsisten di jalan dakwah, dan bervisi membangun umat dan bangsa.

Demikian intisari taushiah Pimpinan Umum Hidayatullah Ustadz Abdurrahman Muhammad saat menyampaikan taushiah di hadapan ratusan jamaah dalam acara Halal bi Halal di Masjid Ummul Quro Pesantren Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat, Ahad (25/08/2013).

Dalam pada itu, terang beliau, tegaknya peradaban mulia tersebut harus dimulai dari unsur utama penggeraknya yaitu tercerahkan manusia.

“Manusia yang berperadaban itu adalah manusia yang tercerahkan dengan nilai spirit Ilahiyah. Jadi kalau tidak beradab berarti belum tercerahkan,” kata beliau.

Ia melanjutkan, tegaknya kehidupan yang mulia mengharuskan adanya perangkat-perangkat pendukung utama yakni adanya wilayah yang dimana di sana terdapat masjid sebagai pusat peradaban dan pembinaan umat, perpustakaan sebagai pusat ilmu, dan koperasi sebagai pusat perekonomian umat dengan prinsip Ta’awun.

“Termasuk mendesaknya dibangun Gedung Dakwah Hidayatullah di Depok ini. Keluarkan infaq terbaik kita untuk (pembangunan gedung, red) ini. Kultur berinfaq ini mesti dijaga,” pesan Ustadz Abdurrahman penuh semangat seraya menyatakan komitmen infaq pribadinya sebanyak 10 juta rupiah.

Alhamdulillah, pada acara tersebut penggalangan dana infaq untuk pembangunan Gedung Dakwah Hidayatullah di kampus Depok, terkumpul dana senilai Rp 462.000.000. Sejumlah simpatisan yang hadir pun begitu antusias menyatakan komitmennya dan tak sedikit yang langsung memberikan uang cash.  Alhamdulillah, semangat berinfaq terus terbangun.

Mari Menjaga Aqidah Islam Masyarakat Owu

0

Di Desa Owu, suatu malam. Kami tidak mendapati ada lampu pelita yang menyala. Bangunan masjid juga tampak sepi di gelap yang sudah tua itu. Tak ada riuh rendah masjid itu beraktifitas di awal pagi.

Kondisi masjid berukuran 10 x 10 meter yang terbuat dari kayu itu lengang. Hanya kami bertiga. Suasana ini seperti waktu-waktu shalat di lima waktu dalam seharinya. Nanti di hari Jumat barulah terlihat memenuhi shaf terdepannya, karena anak kecil berada di shaf ke dua itupun hanya berkisar 10 sampai 15 anak dengan pakaian sekedarnya.

Pagi yang sunyi di Desa Owu, suara kicauan burung lebih riuh dari yang saya gambarkan. Jam analog di ponsel menunjukkan jam 5.30 saat saya beranjak meninggalkan masjid bersama teman dari Mamuju Utara.

Salah satu desa di Kecamatan Riopakava, Kabupaten Donggala ini sebenarnya adalah lokasi transmigrasi yang dikhususkan bagi warga suku Kaili yang mendiami hutan di sini belasan tahun sebelum ada program transmigrasi pemerintah Sulawesi Tengah.

Berjarak sekitar 200 kilometer arah selatan kota Donggala, dengan medan tempuh belum beraspal sekitar 60 kilometer setelah lepas dari jalan poros Pasangkayu di provinsi yang berbeda, Sulawesi Barat. Itulah kecamatan Riopakava, lebih dekat jaraknya dengan Kabupaten Mamuju Utara meski beda propinsi dari pada Donggala yang menjadi ibu kota kabupatennya.

Dari pantauan kami, bahasa di sini sangat kental dialek Kaili daripada Pasangkayu meski sudah ada pembauran masyarakatnya.

Tercatat ada 51 rumah penduduk tertata rapi. Awalnya tidak terdapat fasilitas umum seperti sarana Mandi Cuci Kakus (MCK), sarana pendidikan maupun kesehatan. Mungkin karena tempatnya yang bersebelahan dengan unit pemukiman transmigrasi umum sehingga sekarang  terlihat beberapa fasilitas tadi sengaja dibangun di perbatasan dengan tujuan memudahkan jangkauan.

Yang menarik bagi saya adalah, suasana mesjid dan kegiatannya. Saya tidak melihat ada al-Quran maupun buku-buku pelajaran lain di mimbar masjid yang biasa dibuat sekaligus berfungsi sebagai rak buku khutbah dan al-Quran.

Kegiatan dakwah mulai terlihat ketika Ustadz Abdy Roziqin, dai utusan Asia Muslim Charity Foundation (AMCF) yang berdomisili di Desa Pantolobete, sekitar 20 kilometer dari desa itu mulai mengalihkan kegiatannya ke Desa Owu.

Beratnya medan serta tantangan cuaca yang membutuhkan niat dakwah kuat membuat Abdi Roziqin memilih untuk bertahan dengan beradaptasi semampunya. Terpeleset dan akhirnya jatuh dengan istri dan 4 anaknya saat naik motor di jalan yang terjal, mendorong sepeda motor karena ban bocor, tidak ada jaringan seluler, kebiasaan ini menjadikannya nikmat dengan pilihannya.

Saya sendiri saat dengan keluarga menuju ke tempat itu menggunakan sepeda motor di beberapa pendakian dan jalan rusak harus menurunkan semua penumpang dan barang.

Memang menarik bagi saya untuk lebih dekat dengan masayarakat di sini. Karena pola hidup yang sebelumnya cenderung nomaden itu sangat mempengaruhi gaya hidup dan pola pikir masyarakat Owu umumnya meski semuanya muslim.

Meski ada ruang pertemuan desa yang digunakan sebagai ruang belajar murid sekolah dasar di pagi hari, masih ada saja anak-anak yang berkeliaran, ada yang asyik bergerombol mencari ikan di pinggir sungai dan sebagian lain disibukkan dengan anak burung yang baru menetas di sarangnya yang sudah berhari-hari mereka intai.

“Malaska’ sekolah, apa ditumpuk (digabung-red) kita di satu ruangan,” kata Rijal menjelaskan alasannya dengan logatnya yang khas.

Memang saya melihat kondisi ruangan yang jauh di bawah standar pendidikan kita. Di ruangan 6 x 10 itu berjejal 20 murid dengan berbeda kelas di jenjang sekolah dasar, sesekali terlihat ibu guru menyeka keringat yang muncul di keningnya.

Tidak terdapat taman pendidikan qur’an atau rumah-rumah yang biasanya didatangi anak-anak di sore hari yang berbondong-bondong dengan Quran atau buku Iqra’ lusuhnya.

Tidak jua terlihat pula kerumunan ibu-ibu yang rutin di majelis taklim, bahkan melihat perempuan berjilbab mereka sedikit asing. “Tidak panaskah komiu (kamu) punya badan,” rupanya ada yang tertarik bertanya.

Di atas Mega Pro tua yang mengantarku pulang, sempat saya menghayal “Kalau saja kedatanganku bulan depan ada sesuatu yang bisa saya bawa untuk mereka, kotak kanan berisi jilbab dan kotak kiri berisi Qur’an lalu disambut senyum khas Owu yang bercampur air merah pinang disudut bibir”. Owu, jauh dari keramaian dan pikiran semua orang. (Laporan Muhammad Bashori, dai dan reporter Hidayatullah.or.id di  Mamuju Utara)

“Loyal Pada Agama, Maka Akan Baik Semua”

0

Peradaban Islam memiliki banyak fakta yang mutlak adanya. Di antaranya adalah loyalitas terhadap agama Islam ini. Kaum Muslimin pun seharusnya lebih loyal kepada agama daripada kelompok masing-masing.

Demikian seruan Pimpinan Umum Hidayatullah Ustadz Abdurrahman Muhammad dalam acara Silaturrahim Jamaah Hidayatullah di Masjid Ummul Quraa, Pesantren Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Ahad (25/8/2013) kemarin.

“Ada kepemimpinan yang loyal terhadap agama ini, terhadap syariat ini. Kalau tidak loyal tidak bisa,” ujarnya di depan 300-an hadirin yang datang dari wilayah Jabodebek.

Menurut beliau, selain pemimpin, yang dipimpin pun mesti loyal kepada Islam.

“(Jadi sejatinya, red) bukan loyalnya kepada organisasi, bukan loyalnya kepada administrasi. Tapi kalau orang sudah loyal kepada agama, itu otomatis (loyal kepada organisasi), karena itu embel-embel aja,” lanjutnya.

Salah satu bentuk loyalitas dimaksud, jelasnya, para pemimpin harus berani menyuruh jamaahnya shalat. Tanpa henti, tanpa bosan, dan tidak masa bodoh.

Fakta-fakta Peradaban Islam

Ustadz Abdurrahman juga menyampaikan, fakta-fakta peradaban Islam lainnya adalah infrastruktur. Hal ini meliputi adanya sebuah kawasan sebagai miniatur peradaban Islam.

“Untuk melaksanakan syariat harus ada keamanan (dalam kawasan). Bukan aman dari perampok saja, tapi aman dari sistem budaya,” ujarnya.

Sekarang ini, sambungnya, semua orang resah, merasa tidak aman dari gempuran budaya asing. Di pesantren pun, keresahan itu tetap ada.

Sehingga, dia mengimbau agar setiap kepala keluarga mengontrol rumah baik-baik. Terutama ibadah tiap anggota keluarga.

“(Penghuni) rumah-rumah harus dikontrol, baca al-Qur’an tidak. Jangan-jangan tidak pernah khatam sebulan. Kalau tidak, jebol, masuk infiltrasi budaya (asing),” pesannya.

Dikatakan pula, ukhuwah Islamiyah akan terbangun dengan tegaknya shalat berjamaah. Tanpanya, ukhuwah takkan terjalin.

Ustadz Abdurrahman pun menyayangkan adanya benturan sesama aktivis Islam selama ini. Benturan tersebut, menurutnya, disebabkan harta.

Sehingga, untuk menghindari itu, kultur berinfaq harus digiatkan. Orang yang berperadaban Islam, ujarnya, pasti gemar berinfaq. Dengannya, martabat orang tersebut akan meningkat.

“Jangan terpukau dengan kemewahan dunia. Jangan menghabiskan waktu dengan mengejar dunia ini, karena akan kecewa di akhirat,” tegasnya.

Dia juga menyampaikan, hal penting lain dalam membangun peradaban Islam adanya moralitas. Moral terbangun jika ada spiritualitas. Spiritual terlahir dari bimbingan wahyu-wahyu Allah.

Selain moral, ada pula idealisme yang terus ditajamkan. Dari kesemua itu, akan lahir karya-karya yang baik, terang Abdurrahman. [Skr aljihad]