Beranda blog Halaman 452

SAR Hidayatullah Papua Kembali Bagikan Masker di Mimika

0

MIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Untuk terus memberikan edukasi kepada masyarakat Kabupaten Mimika tentang pentingnya memakai masker, menjaga kesehatan serta imun tubuh, Search and Rescue (SAR) Hidayatullah Wilayah Papua kembali membagikan masker dan stiker berselogan ‘CELEKIT’ (Cegah Sebelum Sakit) pada Ahad (26/4/2020).

Diawali dengan pembagian Masker kepada mama-mama Papua yang berjualan di pinggir jalan, tukang ojek, penjual pinang, hingga ke warga yang melintas di perempatan SP.1-SP.4, Kampung Wonosari Jaya, Distrik Wania, Timika-Papua.

Selain pembagian masker, Tim Sar Hidayatullah Papua juga membagikan stiker kepada warga yang melintas di persimpangan SP.1-SP.4 sampai ke rumah-rumah warga yang bermukim BTN Kamoro Indah Timika.

Kegiatan yang merupakan kerja sama dengan Sahabat Peduli Indonesia, Dompet Peduli Kemanusiaan Media Group Indonesia tersebut dikomandoi langsung oleh Pimpinan Wilayah SAR Hidayatullah Papua, Abdul Syakir, S.Pd.I.

Abdul Syakir menyampaikan kegiatan tersebut merupakan kegiatan ulangan yang terus mereka lakukan untuk terus mengedukasi masyarakat tentang penting memakai masker, menjaga kesehatan serta membiasakan diri dengan mencuci tangan.

“Tak bosan-bosan kami terus turun ke jalan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat yang memang malas tau tentang bahaya yang sedang dihadapi kita semua”, terangnya.

Ia menambahkan, untuk tahap pertama, SAR Hidayatullah Papua mendapat amanah untuk  dibagikan kurang lebih 300 masker bercorak batik yang dibuat oleh  penjahit-penjahit lokal yang ada di Kabupaten Mimika, guna membantu perekonomian masyarakat Kabupaten Mimika yang terkena dampak pandemi Covid-19.

“Hal ini terus kita dorong untuk membatu para penjahit-penjahit di daerah, setidaknya dapat mengurangi sedikit dampak yang ditimbulkan dari masa pandemi ini,” jelasnya.

Sementara itu, hingga malam senin Jumlah komulatif kasus positif Covid-19 di Kabupaten Mimika, sudah mencapai 41 kasus positif, dengan 3 kasus kematian dan 5 sembuh.* Absir Budi Hamzah

PTH Tekankan GHN dan PMB Secara Daring Kepada Mahasiswa Disaat Pandemi

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua departemen ristek dikti  dewan pengurus pusat (DPP) Hidayatullah Drs. Nanang Nur Patria, M.Pd.I menjelaskan bahwa semua aktivitas perguruan tinggi Hidayatullah (PTH) mengikuti aturan pemerintah untuk meniadakan pertemuan langsung serta tetap melaksanakan proses pendidikan dengan melakukan proses mengajar belajar secara daring dengan jadwal sesuai ketentuan dari masing-masing kampus.

“tentunya karena PMB secara langsung ditiadakan, pembelajaran secara daring akan tetap dilakukan sesuai ketentuan kampus PTH jika belum adanya jadwal libur semester” jelas Nanang saat kami hubungi via daring ( 27/04/2020).

Hidayatullah sebagai lembaga yang menerapkan sistem kaderisasi, maka kontrol kekaderan akan tetap dipantau melalui Gerakan Nawafhil Hidayatullah secara daring dan akan dilihat perkembanganya setiap hari. GHN sendiri terdiri dari solat malam, membaca Al-qur’an, wirid pagi dan petang, solat wajib serta solat rawatib, infak atau bersedekah, dan terakhir dakwah fardhiyah. Melalui gerakan GNH ini diharapkan kekaderan para mahasiswa Hidayatullah tetap terjaga.

‘Untuk kondisi membuat kita tidak bisa bertatap langsung, tetapi sistem perkaderan Hidayatullah akan terus dijalankan. Salah satunya ialah sistem GNH yang dilakukan secara daring” jelas Nanang.

Sedangkan untuk mahasiswa tahap akhir yang sedang melakukan proses pengerjaan skripsi, diharapkan mereka tetap melanjutkan dan menyelesaikanya. Adapun Untuk mahasiswa yang ingin bimbingan atau berkonsultasi dengan dosen pembimbing dapat dilakukan secara daring melalui aplikasi yang pertemuan video.

“Bagi Mahasiswa PTH yang sedang melakukan pengerjaan tugas akhir/skripsi dapat melakukan bimbingan secara daring dengan dosen pembimbing sesuai kesepakatan masing-masing” ungkap beliau.

Untuk jadwal pengujian sidang skripsi sendiri, Nanang menjelaskan belum dapat dilakukan sesuai jadwal. Karena ujian Skripsi membutuhkan tatap langsung. Walaupun jadwal sidang belum dapat ditentukan, para mahasiswa tetap diminta mengerjakan skripsinya, sehingga tidak membuang-buang waktu.

“Untuk pengujian sidang skripsi belum dapat dilaksanakan, mengingat hal tersebut membutuhkan tatap langsung, meski begitu jika dalam proses pengerjaan skripsi tidak membutuhkan bepergian diharapkan para mahasiswa tetap mengerjakannya” Jelasnya *Amanjikefron

IMS Bantu Masyarakat Terdampak Covid-19.

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadhan 1441 H, Islamic Medical Service (IMS) menggelar berbagai agenda kegiatan amal  bertajuk “Ramadhan Sehat Bahagia”

Direktur IMS, Imron Faizin pada saat melaunching tema Ramadhan Kamis (23/04/2020), dalam sambutannya mengajak seluruh lapisan masyarakat Indonesia untuk menjalani Ramadhan dengan penuh kekhusyuan dan kesyukuran di tengah pandemi Covid-19.

“Seluruh kegiatan amal yang diangkat oleh IMS tahun ini bertujuan agar seluruh lapisan masyarakat agar mempersiapkan kesehatan yang prima dalam menjalankan ibadah Ramadhan.

Selain itu, sebagai seorang Muslim, meskipun pandemi Covid-19 tengah melanda, harus tetap menanamkan dan berbagi rasa bahagia untuk menumbuhkan optimisme agar Indonesia segera lepas dari jeratan Covid-19,” ujarnya.

Imron menambahkan sebagai wujud kesungguhan di bulan Ramadhan dalam kondisi ini, IMS total menggerakkan seluruh program untuk membantu masyarakat yang terdampak.

Termasuk kepada tim medis yang berada di rumah sakit dan puskesmas, penggali kubur di TPU Pondok Rangon dan TPU Tegal Alur, dan relawan penggiat kesehatan, yang merasakan dampak dari pandemi Covid-19.

“IMS memiliki program paket sembako, yang diperuntukkan bagi masyarakat binaan, tim medis, penggali kubur yang akan diberikan dua kali selama bulan Ramadhan,” jelasnya.

“Pada bulan suci Ramadhan ini pula IMS tetap menjalankan beberapa program yang telah dijalankan sejak Covid-19 ini hadir, yaitu sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), pemberian nutrisi bagi tim medis dan penggali kubur.

Selain itu IMS menggerakkan tim perawat ataupun bidan untuk berkontribusi dalam pembuatan hand sanitizer dan masker standar medis sebagai wujud kepedulian kepada masyarakat yang diberikan secara cuma-cuma.

“Launching tema sekaligus Tarhib Ramadhan ini sebagai ajakan untuk meningkatkan kepedulian sesama untuk selalu menjaga kesehatan jasmani dan rohani dan memberikan rasa bahagia bagi mereka yang terdampak Covid-19 dengan  memberikan donasi melalui IMS.

Ramadhan merupakan bulan terbaik bagi kita untuk mengharap pertolongan dari Allah. Dalam bulan ini pula mari kita bersama-sama mendoakan agar seluruh rakyat Indonesia diberikan rasa sehat dan bahagia agar kita semua disegerakan terlepas dari pandemi Covid-19,” pungkasnya.* (IMS)

CoVid-19, Ajang Pembuktian Jiwa Kepemimpinan

0

Oleh : Naspi Arsyad

Tidak dapat disangkal bahwa sebagian besar manusia sekarang, berada dalam kegalauan yang besar, kalau tidak dapat dikatakan berada dibawah teror ketakutan oleh fenomena wabah covid-19. Simpang siurnya berita obat atau penangkal virus ini yang menunjukkan belum pastinya informasi tersebut tidak menunjukkan ekuivalensi dengan fakta korban virus Corona yang seakan jumlahnya belum mau berhenti.

Setidaknya hingga saat tulisan ini dibuat, jumlah korban yang meninggal telah mencapai 196.931 jiwa diseluruh dunia dengan total pasien yang terpapar sebanyak 2.826.035 orang. Dan ironisnya, negara super power seperti Amerika Serikat justru yang memimpin dalam angka kasus korban Corona sebanyak 917.347 kasus, yang akhirnya ‘menurunkan’ rakyatnya ke jalan dalam aksi demo menentang kebijakan lockdown yang diterapkan sejumlah negara bagian AS bahkan memantik perseteruan presiden negeri Paman Sam, Donald Trump dengan beberapa Gubernur negara bagian mengenai pencabutan lockdown terkait pandemi virus ini.

Disisi lain, beberapa pemimpin negara lainnya yang seolah tidak menunjukkan leadership skill-nya dalam menyikapi not predicted phenomenon ini. Salah satu situs berita menuliskan deretan pernyataan serta kebijakan kontroversial pemimpin dunia tersebut diawal-awal menukiknya jumlah korban severe acute respiratory syndrome coronavirus (SARS-CoV-2) ini.

Ada yang tidak ingin membuka informasi ke publik karena tidak ingin membuat panik, ada yang bersikap acuh dengan menyamakannya seperti flu kecil biasa lalu beberapa kali ikut berkerumun ditengah para pendukungnya hingga melontarkan statemen kekanak-kanakan dengan berkata “Tidak ada virus di sini. Kalian tidak melihatnya beterbangan kan?”

Peran Pemimpin

Secara umum, tugas dan fungsi pemimpin bukanlah perkara yang mudah. Membutuhkan skill yang levelnya diatas rata-rata dengan karakter yang tidak mudah dijumpai dikalangan awam. Dalam Islam, seorang pemimpin memiliki kewajiban untuk mengelola alam ini (siyaasatud dun-ya) agar kemaslahatannya terwujud dalam skala maksimal bagi rakyatnya (ar-ra’iyyah).

Sebab, pemimpin adalah wakil umatnya dalam mewujudkan tujuan-tujuan syariat. Baik dalam bentuk rekayasa atau kebijakan yang mendatangkan kemaslahatan (Jalbu al-mashaalih) atau strategi yang menghindarkan rakyatnya dari kemudharatan (dar-u al mafaasid). Olehnya itu, Abu Al Hasan Ali bin Muhammad bin Habib Al Mawardi atau yang lebih dikenal dengan imam Al mawardi menjadikan kemampuan kognisi dan kecerdasan sikap sebagai salah satu kompetensi mutlak bagi seorang pemimpin agar mampu memberikan solusi efektif dalam menyikapi peristiwa, terutama kejadian yang tidak diprediksi sebelumnya.

Sehingga terhindar dari dampak yang tidak biasa. Sebab, tidak ada orang yang memiliki strategi atau perencanaan baku untuk mengatasi keadaan yang terjadi secara tiba-tiba apatah lagi dengan irama dan liukan yang tidak biasa seperti wabah virus corona ini.

Secara historis, Nabiyulah Yusuf Alaihi as-Salam serta khalifah Umar bin Khathab telah memperagakan syarat kemudian yang diajukan imam Al Mawardi tersebut. Dalam QS. Yusuf:43, Allah membuka panggung Nabi Yusuf dengan bunga tidur sang Raja, “Sungguh aku bermimpi melihat 7 ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh 7 ekor sapi betina yang kurus. Juga 7 tangkai (gandum) yang hijau serta (7 tangkai) lainnya yang kering…”.

Lalu Yusuf menjawab fit and proper test itu, “Dia (Yusuf) berkata, agar kamu bercocok tanam 7 tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa, kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan ditangkainya kecuali sedikit untuk kamu makan” (QS. Yusuf:47).

Dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir mengurai kapasitas Nabi Yusuf yang melebihi kemampuan para penasihat raja saat itu. Yusuf mampu ‘melihat’ apa yang akan terjadi dimasa datang dan memberikan langkah antisipatif, penangkal kemarau berkepanjangan yang akan terjadi.

Sebagai calon pemimpin, Nabi dengan wajah ‘serupa’ malaikat ini menunjukkan salah satu skill utamanya, tidak tersandera dengan fakta kekinian dan memiliki long term design yang dibutuhkan dalam mengelola sebuah negara.

Umar dan Krisis Pangan

Sekitar 15-16 abad kemudian, Umar Bin Khathab menjajal kemampuannya dalam konteks yang sama, menghadapi krisis pangan berkepanjangan. Dimasa pemerintahan beliau sebagai Amirul Mu’minin, tepatnya dibulan Dzulhijjah atau akhir tahun ke-18 Hijriah, umat Islam mulai tertimpa sulitnya pangan yang berlangsung sekitar 9 bulan. Kekeringan melanda bumi Hijaz dan kelaparan beranjak menghantui penduduknya.

Era yang disebut ‘Aam Ramadhah karena permukaan tanah mengering akibat curah hujan yang minim, merubah warnanya sama dengan warna debu. Hijaz mengalami kekeringan yang parah dan mengungsikan banyak penduduk pedesaan ke Madinah karena ketiadaan bahan makanan.

Keadaan miris ini direspon secara cepat dan tepat oleh sang suksesor Abu Bakar Ash-Shiddiq. Disamping memaksimalkan kas Baitul Mal untuk pengadaan bahan makanan, Umar juga menghabiskan stok bulognya untuk dibagikan ke masyarakat. Dia mengangkat 4 deputi berdasarkan arah angin agar bisa mendapatkan informasi yang cepat dan memenuhi tuntutan rakyat lebih dini.

Setiap saat Umar berkeliling mengontrol keadaan agar dapat memastikan tiada satu orangpun yang tidak mendapatkan makanan. Tanggung jawab yang besar ini merubah kondisi pisik beliau. Kulit beliau menjadi hitam dengan tubuh yang akhirnya kurus. Beliau tidak lagi memikirkan makanan untuk dirinya bahkan tidak berselera bila disajikan untuknya makanan yang layak. Seorang sahabatnya berkata “Andai kekeringan ini terjadi lebih lama, mungkin Umar akan meninggal dunia”.

Khatimah

Menjadi pemimpin memang bukan untuk meraih kesenangan. Bukan pula media menumpuk kekayaan dan menikmati fasilitas-fasilitas. Seorang pemimpin dipilih bukan untuk menciptakan gap yang menyakitkan dengan orang yang telah mempercayainya. Amanah kepemimpinan bukanlah warisan yang sekedar mengikuti arus nasab, juga bukan karena kekayaan dan hamburan janji serta hadiah.

Menjadi pemimpin adalah wujud kecintaan terhadap agama dan umat, juga kesiapan untuk berkorban dan itu memang bukanlah pilihan yang menyenangkan. Allahu a’lam.

*(Pengajar di Program Kuliah Da’i Mandiri-Balikpapan)

Bulan Suci Ramadhan: Momentum Upgrade Diri

0

Kehidupan tidak bisa stagnan. Hari-hari yang terlewatkan akan menjadi sejarah untuk kehidupan mendatang. Hari ini akan terlewat dan menjadi kemarin. Hari esok akan kita pijak dan menjadi hari ini. Hari-hari terus berlanjut dan tidak akan kembali. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan:


لن ترجع الأيّام التي مضت


“Tidak akan pernah kembali lagi hari-hari yang telah berlalu”


Maka penuhilah waktu dengan segala kebaikan. Bertemu bulan Ramadhan menjadi momen yang sangat baik untuk memperbaiki diri. Suksesnya diri bukan diukur pada harta, pangkat dan jabatan.

Ukuran sukses itu adalah takwa sebagaimana al-Qur’an yang berbunyi “Yā ayyuhallażīna āmanuttaqullāha waltanẓur nafsum mā qaddamat ligad, wattaqullāh, innallāha khabīrum bimā ta’malụn”

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Q.S Al-Hasyr [18]

Menurut tafsir al-Wajiz di awal ayat ini ada penekanan bertakwa dahulu kepada Allah, kemudian muhasabah diri lalu ditutup dengan takwa,”


Untuk itu takwa harus senantiasa menjadi bekal dan poros utama dalam memperbaiki diri. Tentunya ketakwaan bisa didapat dengan bersungguh-sungguh dalam mentaati perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.



Sebagaimana perang antara kaum muslimin dengan kaum kafir Quraisy yang berlangsung di pertengahan bulan Ramadhan, tepatnya 17 Ramadhan. Badar yang letaknya lebih kurang 145 km arah barat laut dari kota Madinah al-Munawwarah menjadi saksi di atas keimanan dan ketaqwaan para sahabat sehingga dengannya Allah mendatangkan bantuan-Nya kepada mereka.



Pepatah bijak mengatakan “history repeats itself” kita sudah memasuki bulan Ramadhan. Sudahkah kita benar-benar bersungguh-sungguh dalam memohon ampunan, beribadah, dzikir, berdoa, mengkaji keilmuan, memperbanyak membaca Al-Qur’an dan meminta keridhoan serta segala keberkahan?

Oleh sebab itulah kita harus tetap maksimal dan optimal dari hari pertama hingga hari selanjutnya. Bahasa kekiniannya “jangan kasih kendor,” dan bila perlu, terus meningkat sampai akhir. Bukan soal siapa yang paling pertama dan terakhir, tapi siapa yang tetap bertahan sampai akhir. Agar Allah juga mendatangkan segala Rahmat, kasih sayang dan ampunannya.


Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka dialah orang yang sukses. Namun bila hari ini masih sama dengan hari sebelumnya, maka dialah orang yang merugi. Jika hari ini lebih buruk dari hari sebelumnya maka dialah orang yang terlaknat.


Perbaiki niat dan perpanjanglah munajat. Terutama di sepertiga malam, di waktu sahur, di waktu berbuka dan di sepanjang waktu puasa. Jangan sampai kita lengah bahkan lalai dengan fasilitas android dan sebagainya. Apalagi dengan adanya social distancing di tengah pandemi Corona, hampir semua kegiatan hanya bisa dilakukan lewat online to online saja.

Terakhir mengutip satu ungkapan, jika engkau anggap bahwa Ramadhan tahun ini berbeda, maka ketahuilah sungguh engkau memang dituntut untuk berbeda dari tahun sebelumnya.

Antria Kumon. Dosen STIS Hidayatullah Balikpapan

Lawan Corona, Pesmadai Berikan Bantuan Kepada Masyarakat

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sejumlah warga yang berpenghasilan rendah, mengalami kesulitan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan logistik dalam menghadapi wabah corona. Seperti yang dikatakan Firdaus, seorang driver ojek online yang mendapatkan sembako gratis.

Oleh karena itu, aksi bagi-bagi sembako gratis terus dilakukan di berbagai daerah. Hal tersebut sebagai upaya solidaritas antar warga untuk meringankan kebutuhan bahan makanan selama pandemi Covid-19.

Sejalan dengan gerakan positif tersebut, Medco Foundation bekerja sama dengan Pesantren Mahasiswa Dai (PESMADAI) juga menggelar aksi bagi-bagi sembako gratis ke pengemudi ojol (ojek online) dan sejumlah warga di Jakarta, Depok, dan Ciputat (Tangerang Selatan).

Aksi ini merupakan gerakan #MedcoPeduliIndonesia dan #PesmadaiPeduliIndonesiaJilid3, setelah sebelumnya Pesmadai telah sukses dengan gerakan aksi bagi-bagi rempah dan masker gratis kepada masyarakat.

Gerakan tersebut mengkampanyekan masyarakat agar menjaga kesehatan dan meningkatkan daya imun tubuh, serta memberikan spirit optimisme kepada warga untuk melawan Covid-19.

“Saya sangat berterima kasih kepada Medco Foundation dan Pesmadai yang telah menggelar aksi bagi-bagi sembako gratis. Karena jujur saja, selama ada wabah corona saya menjadi sepi orderan dan pendapat menurun, sehingga kebutuhan pangan keluarga tidak terpenuhi,” tutur Firdaus.

Hal yang lebih miris dirasakan oleh Maya, seorang pemulung jalanan.

“Sebagai seorang pemulung saya bisa apa dalam menghadapi corona, bisa makan sehari saja sudah cukup, dapat sembako seperti ini sangat membantu saya, Mas,” katanya sambil terisak dan mengusap matanya yang keluar air mata.

Menurut penuturan Pak Andi, selaku Development Program di Medco Foundation, “Gerakan ini sebagai langkah ikhtiar kami untuk membantu meringankan kebutuhan pangan masyarakat selama menghadapi pandemi Covid-19. Semoga bermanfaat,” tuturnya kepada media di Jakarta, Rabu (22/04/2020).

Gerakan bagi-bagi sembako gratis yang dilakukan pada tanggal 23 dan 24 April 2020, juga memberikan momen haru kepada warga sekitar.

Gerakan Medco Foundation dan Pesmadai peduli ini juga meningkatkan jiwa sosial santri untuk turut andil membantu masyarakat dalam menghadapi bencana sosial. Sebagaimana yang dikatakan Ikmal, salah satu santri Pesmadai Ciputat.

“Sebagai santri, kami ingin memberikan kontribusi kepada masyarakat yang membutuhkan. Kami ingin mendorong orang lain menciptakan gerakan positif yang sama, agar tidak cemas dan saling menyalahkan dalam menghadapi virus corona. Jika punya kemampuan, buatlah gerakan baru dan saling menguatkan,” ujarnya.

Gerakan bagi-bagi sembako gratis diharapkan menjadi langkah optimisme masyarakat dalam menghadapi Novel Coronavirus.

Banyak masyarakat yang down secara psikis maupun ekonomi dalam menghadapi pandemi. Sehingga diharapkan gerakan-gerakan solidaritas terus bermunculan untuk meringankan kebutuhan pangan masyarakat ekonomi bawah.

Direktur Pesmadai, Ahmad Muzakky juga menuturkan bahwa sebagai masyarakat kita harus membuat gerakan-gerakan solidaritas sebagai upaya meringankan beban masyarakat.

“Kami melakukan apa yang bisa kami lakukan untuk membantu saudara-saudara kami yang kesulitan ekonomi. Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik kami menyalakan lilin harapan baru. Gerakan ini kecil tapi semoga bisa memancing kelompok lain untuk membuat gerakan solidaritas serupa,” tuturnya.

Semoga kegiatan-kegiatan positif senantiasa tersalurkan kepada masyarakat dalam menghadapi Novel Coronavirus. Kita berjuang sesuai dengan tupoksi masing-masing. Pemerintah dengan perannya, tenaga medis dengan perannya, dan kita sebagai masyarakat berperan sesuai dengan apa yang bisa kita lakukan.*Pesmadai

Pimpinan Umum Hidayatullah: “Jangan Pernah Berkurang Semangatnya”

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Jangan sampai pernah berkurang semangat apalagi menghadapi Ramadhan. Pesan ini mengawali taujih Ustadz Abdurrahman Muhammad, Pimpinan Umum Hidayatullah yang disiarkan secara nasional kepada seluruh umat Islam di Indonesia, baru-baru ini.

Pesan tersebut dimaksudkan untuk menyambut Ramadhan 1441 H yang hadir bertepatan dengan pemberitaaan massif dan menyeluruh tentang virus Covid-19 yang mewabah ke seluruh penjuru dunia.

Menurut ustadz Abdurrahman, umat Islam tidak boleh terkungkung dengan virus yang dipanggilnya dengan sebutan “Pak Corona”. Sebab masih terlalu banyak nikmat dan urusan lain yang menggembirakan. Namun, demikian itu harus dipancing atau direkayasa.

“Jadi, rasa takut terhadap realitas ini harus keluar (dari kungkungannya). Masuk ke dalam energi iman,” ucapnya penuh semangat.

Terkait dengan ibadah, ia berpesan agar tetap menghidupkan Ramadhan dengan menjaga ibadah dan memperbanyak amal shaleh lainnya. Sebab solusi dari semua persoalan manusia adalah iman dan takwa.

Sedang musibah adalah sunnatullah dalam kehidupan manusia dan telah banyak disebutkan dalam al-Qur’an. “Jadi yang pokok itu merealisasikan iman dan takwa dalam realitas sebagai solusi kehidupan,” terangnya.

Soal shalat Tarawih misalnya. Jika ada anjuran pemerintah tidak shalat Tarawih berjamaah di masjid, maka itu bukan penghalang untuk tidak melaksanakan secara sendiri-sendiri atau berjamaah di rumah.

“Itu awalnya di zaman khalifah Umar bin Khatthab, asalnya tidak dikerjakan secara berjamaah di masjid,” ucapnya sambil mengutip hadits Nabi Shallallahu alaihi wasallam tentang sejarah shalat Tarawih di zaman Rasulullah dan para sahabat.

Termasuk tadarrus al-Qur’an, menurut Ustadz Abdurrahman, seharusnya bacaan itu meningkat di masa pandemi global ini. Sebab manusia tidak lagi banyak beraktifitas di luar rumah selama bulan Ramadhan.

Dalam taujih Ramadhan yang diadakan secara daring (online) tersebut, Ustadz Abdurrahman juga menjelaskan fenomena mengapa manusia terkadang begitu ketakutan terhadap virus Covid-19.

Bahwa, tegasnya lagi, Corona hanyalah salah satu penyebab kematian manusia, tapi masih banyak penyebab kematian lainnya. “Jadi orang beriman tidak takut mati. Hanya saja takut mati kalau belum sampai khusyuk ibadahnya,” terangnya.

Hal itu dikarenakan seluruh nikmat yang diberikan berupa jabatan, ilmu, pangkat, atau harta itu hanya bersifat fasilitas yang bertujuan agar manusia sampai kepada kekhusyukan ibadah dan menyembah Allah.

“Kalau kita memiliki apa-apa ini dan belum sampai (derajat khusyuk) kepada Allah ya memang takut mati,” jelasnya.

Faktor kedua penyebab manusia takut mati adalah kalau orang itu merasa masih banyak dosa dan kesalahan. “Saya sendiri masih takut mati kalau ingat dosa. Banyak betul dosa kita ini,” sambungnya lagi.

Sebagai penutup, Pimpinan Umum Hidayatullah mengajak seluruh umat Islam agar tetap mematuhi imbauan dan maklumat pemerintah terkait wabah Covid-19. Sekaligus mensyukuri datangnya bulan Ramadhan dengan banyak mendekat kepada Allah melalui doa dan, dan amal shaleh lainnya.

Ustadz kharismatik ini juga mengingatkan agar tetap produktif selama berlangsungnya masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan tetap beramal shaleh.

“Ambil wudhu baca al-Qur’an. Ambil cangkul tanam apa saja yang bermanfaat. Cari keringat, bikin kegiatan produktif selalu,” tutupnya, masih dengan semangat yang sama.*/Masykur Suyuthi

Semangat Bahagia Jalani Ramadhan di Tengah Wabah Covid-19

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pimpinan Umum Hidayatullah, KH Abdurahman Muhammad, berpesan kepada kaum muslimin terutama segenap kader jamaah Hidayatullah dimanapun berada agar tidak menurunkan semangat dalam beribadah terlebih lagi dalam menyambut bulan suci Ramadan. Walaupun Covid-19 banyak menyerang manusia baik secara lahiriah maupun batin.

“Jangan sampai pernah kurang semangat apalagi menghadapi Ramadan,” kata Abdurahman Muhammad pada kajian online disiarkan melalui akun Youtube Dewan Pengurus Hidayatullah (DPP) Hidayatullah, Kamis malam (23/4/2020).

Dia mengatakan pemberitaan tentang Covid-19 atau virus corona sangat gencar dan begitu massif. Sehingga, beliau mengingatkan, jangan sampai kekhawatiran mati atas Corona melebihi ketakutan kita kepada Allah. Ia mengingatkan, jangan sampai karena Covid-19 membuat kita merasa sedih.

Beliau juga mengajak ditengah pandemik untuk lebih meningkatkan ibadah dari sebelum-sebelumnya apalagi aktifitas yang kita lakukan sangat banyak di rumah, sembari tetap mengikuti protokol dan protap yang telah ditetapkan.

“Tetap ikuti protap yang ada. Tingkatkan ibadah kita kepada Allah SWT,” katanya seraya menambkan jika biasanya di luar bulan Ramadan kita hanya bisa menyelesaikan bacaan 1 juz, maka kesempatan Ramadhan ini harus menarget lebih tinggi.

Meskipun dalam masa karantina mandiri di rumah, ia juga meminta untuk tetap melakukan aktivitas yang mengeluarkan keringat sebagai salah satu ikhtiar meningkatkan imunitas di dalam tubuh untuk melawan virus.

“Salah satu (ikhtiar) untuk mengimunkan (tubuh) adalah berkeringat. Alhamdulillah energi keringat ini luar biasa juga. Habis wirid di rumah, terus keluar. Keluarlah di halaman rumah. Ada kebun di situ, bersih bersihkan. Cangkul cangkul supaya keluar keringat” katanya sambil menekankan bahwa kesehatan, kesembuhan, dan perlindugan hanyalah kepada Allah.

Terakhir beliau berpesan untuk terus berikhtiar secara cerdas dengan mengikuti aturan yang ada sembari terus meningkatkan ibadah baik secara kualitas maupun kuantitas kepada Allah SWT. Sehingga masa karantina yang dilakukan tidak sia-sia selain mengurung diri saja

“Sampai hari ini masih diberitakan (korban corona) bertambah dan bertambah. Berarti kalau bertambah, tambah hari tambah gelap. Jangan sampai orang orang beriman juga gelap,” tutupnya

Sebuah Narasi Kemenangan

0

Alhamdulillah kini kita berada dalam karunia Allah, menghirup udara, berpuasa, pada 1 Ramadhan 1441 H. Nikmat luar biasa yang harus senantiasa menghadirkan kesyukuran besar kepada-Nya. Sekalipun dalam momentum ini, kita berpuasa tidak seperti biasanya, karena wabah Covid-19.

Tetapi, apakah dalam situasi wabah seperti sekarang narasi kemenangan harus ditenggelamkan atau ditinggalkan?

Demi Allah, justru dalam situasi manusia memandang jalan keluar masih panjang dan tidak menentu, umat Islam harus tampil dengan narasi kemenangan.

Bukankah, dalam situasi sulit kala menghadapi perang Khandaq, saat banyak umat Islam kelaparan, ada sahabat yang perutnya diganjal satu batu, lalu mengadu kepada Nabi ﷺ. Ya, Rasulullah, saya tidak makan beberapa hari dan ini perut saya ganjal dengan satu batu. Nabi ﷺ pun memperlihatkan perutnya, ternyata sudah diganjal tiga batu.

Tidak lama kemudian ada satu batu yang sulit dihancurkan untuk mencapai kedalaman parit. Nabi ﷺ turun dan memukulnya dengan alat ketika itu. Pada pukulan pertama, terdapat kilatan api yang diikuti oleh penjelasan beliau ﷺ bahwa umat Islam akan mampu menaklukkan Yordan. Kemudian pukulan kedua yang diikuti kilatan berikutnya Nabi ﷺ menjelaskan bahwa umat Islam akan bisa menaklukkan Suriah, yang dalam karya Martin Lings, Suriah dan dunia barat. Dan, pukulan ketiga dikabarkan umat Islam akan menguasai Persia dan dunia Timur.

Kisah itu sama-sama kita ketahui. Dan, tentu saja reaksi orang munafik sangat jelas, “Bagaimana ini, kondisi orang kelaparan, malah cerita kemenangan?”

Tetapi, inilah sebuah sejarah, dimana Nabi ﷺ mengajarkan secara langsung bahwa dalam situasi sulit jangan takut untuk bermimpi menang, berpikir menang, dan melakukan tindakan-tindakan yang memungkinkan kemenangan terjadi.

Prinsipnya secara empiris, mujahadah benar-benar diupayakan. Ketika masa menggali parit itu dari usai Shubuh hingga senja menjelang, tidak ada aktivitas sahabat kecuali menggali parit. Demikian seterusnya hingga akhirnya perang dimulai dan kemenangan Allah berikan kepada kaum Muslimin.

Realistiskah?

Ada dua kondisi paradoks yang kita hadapi kalau ingin menarasikan kemenangan di bulan Ramadhan ini. Pertama adalah wabah yang melanda. Kedua, kita hidup dimana Nabi ﷺ sudah tidak ada. Apakah realistis kita menjadikan fakta-fakta sejarah di zaman Nabi itu sebagai spirit menghadapi kenyataan?

Jawabannya sederhana. Pertama, wabah ini hakikatnya adalah musibah yang Allah izinkan terjadi. Dan, tidak sebuah musibah Allah datangkan melainkan agar manusia sadar akan kelemahan dirinya dan mengakui kekuasaan-Nya. Artinya, wabah ini tidak bisa diatasi oleh manusia, tetapi oleh Allah. Maka narasi kemenangan dalam hal ini adalah kita ajak sebanyak-banyak manusia ingat kepada Allah, dengan memperbanyak interaksi dengan Alquran, sedekah, dan lain sebagainya selama Ramadhan ini.

Penting diingat, bahwa sekalipun umat Islam telah total dalam menggali parit, pada akhirnya yang membuat pasukan koalisi orang-orang kafir itu kocar kacir adalah badai angin yang Allah kirimkan. Artinya, kita maksimalkan melakukan apa yang Allah perintahkan, insya Allah tinggal menunggu pertolongan-Nya.

Kedua, adalah benar sekarang Nabi ﷺ tidak bersama kita. Tetapi untuk apa sejarah itu hadir, dicatat, diulang-ulang, hingga terpelihara hingga masa kita sekarang jika bukan untuk diambil pelajaran dan dijadikan spirit menghadapi tantangan?

Dengan demikian, sejatinya umat Islam tidak perlu galau dengan pandemi ini. Justru hal yang penting terus ditanyakan dalam diri adalah adakah semangat, optimisme, dan narasi kemenangan dalam diri dan disebarkan kepada manusia lainnya?

Dan, kalau kembali pada spirit Ustadz Abdullah Said, situasi seperti ini seharusnya mengundang seluruh umat Islam untuk bangun malam, munajat, berdoa, dan memohon kemenangan dari Allah. Apakah mustahil Allah menolong kita, sedangkan kita memohon, merengek dan meminta penuh sungguh hanya kepada-Nya?

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

BMH Salurkan APD Untuk Lima Rumah Sakit

SURABAYA (Hidayatullah.o.id) — Dalam upaya ikut mendukung perjuangan tenaga medis di garda terdepan penangangan Covid-19, Laznas BMH (Baitul Maal Hidayatullah) kembali menyalurkan bantuan APD (Alat Pelindung Diri) ke lima rumah sakit rujukan.

Lima rumah sakit yang dimaksud adalah RS UNAIR, RS Haji, RS Islam Jemursari, RS Royal, dan Departemen Anestesi RS Dr. Soetomo Surabaya.

Bantuan APD dari Laznas BMH diterima langsung oleh Satgas (Satuan Tugas) dan Perwakilan masing-masing Rumah Sakit.

Kadiv (Kepala Divisi) Prodaya BMH Perwakilan Jawa Timur, Imam Muslim mengatakan, APD yang disalurkan merupakan amanah dari para donatur BMH yang peduli dan ingin terlibat membantu garda terdepan penanganan Covid-19 yakni para tenaga medis di rumah sakit.

“APD ini wujud kepedulian dan amanah dari para donatur yang mendukung program Peduli Covid-19 terutama tenaga medis yang ada digarda terdepan, semoga ini bisa membantu para tenaga medis,” ungkapnya.

Penyaluran ini mendapat sambutan baik dari pihak rumah sakit. Direktur RS Haji Surabaya, Sri Agustina Ariandani menyampaikan terima kasih kepada BMH.

“Terima kasih kepada BMH yang telah menyalurkan APD untuk mendukung tenaga medis RS Haji Surabaya, insyaAllah sangat bermanfaat,” ungkapnya.

Senada dengan Sri Agustina, Wakil Direktur Medis RS Islam Jemursari Surabaya Dyah Yuniati juga menyampaikan terima kasih kepada Laznas BMH atas support APD yang diberikan.

“Selain di Surabaya, Penyaluran APD juga dilakukan di beberapa daerah seperti Malang, Gresik, Sidoarjo, Kediri, Ponorogo, Tuban dan lainnya,” tutup Muslim.