Beranda blog Halaman 454

LDK STAIL Bersama Pemuda Hidayatullah Gelar Aksi Kemanusian di Bengkulu

BENGKULU (Hidayatullah.or.id) — Menyikapi dampak serius dan kian luas dari wabah Covid-19, LDK Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim (STAIL) Surabaya, Rumah Quran Al-Fatih bersama corwdfunding pemuda.org serta Bunda Al-Fatih menggelar aksi kemanusiaan. Aksi kemanusiaan berupa pembagian paket sembako itu menyasar   warga terdampak Covid-19.

Aksi kemanusiaan itu dilaksanakan di Desa Padang Kedeper, Kecamatan MErigi, Kelindang, Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu, Kamis (16/4).

Ketua LDK STAIL Surabaya, Ahlun Nazir mengungkapkan bahwa program ini adalah bentuk tanggung jawab kaum muda yang masih menimba ilmu perihal kepekaan dan kepedulian terhadap sesama.

“Aksi yang LDK STAIL lakukan hari ini bersama Rumah Quran Al-Fatih, pemuda.org dan Bunda Al-Fatih adalah wujud tanggung jawab sosial guna mengasah kepekaan dan kepedulian kaum muda. Ternyata di lapangan kami mendengar langsung tangisan, keluhan, dan rasa syukur orang-orang yang menerima manfaat dari program ini. Ini adalah pembelajaran sangat berarti bagi kami anak-anak muda,” kata Ahlun Nazir.

Pada tahap awal ini,  20 paket bantuan ketahanan pangan telah disalurkan.  Para  penerima manfaat  adalah 14 orang dari kelompok lansia (14 orang),  orang anak yatim (empat orang),  orang sakit (satu orang)  dan  disabilitas (satu orang).

Aksi kemanusiaan ini mendapatkan tanggapan  positif Kepala Desa Padang Kedeper, Sudirjono. “Kami tak melihat berapa yang kalian berikan kepada warga kami, tapi kepedulian kalian ini adalah anugerah besar bagi kami. Semoga semakin banyak lahir pemuda-pemuda yang seperti kalian, peduli dan bertindak langsung menolong orang yang membutuhkan uluran tangan,” ucapnya.

Demikian pula para penerima manfaat.  Mereka tidak saja berterima kasih,  tetapi juga ada rasa haru dan bangga. Sebab,  yang datang mengantarkan bantuan adalah sekolompok anak-anak muda. 

Sementara itu, General Manager pemuda.org Ainuddin Chalik mengatakan, pihaknya memang selalu membuka diri dalam sinergi kemanusiaan khususnya di tengah wabah seperti sekarang.

“Pemuda.org adalah crowdfunding yang dikelola oleh Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah, senantiasa siap dan terbuka untuk sinergi program dan aksi kemanusiaan. Alhamdulillah, kami telah melakukan aksi kemanusiaan tersebut  di Depok, Lombok, sekarang Bengkulu dan akan disusul di beberapa daerah lainnya,” tutupnya.

Karena Ilmu, Manusia Biasa Bisa Berjaya

0

Pada tahun 97 H khalifah Sulaiman bin Abdul Malik berthowab di baitul Atiq. Usai berthowab, beliau menghampiri orang kepercayaannya dan bertanya, “Di manakah temanmu itu ?” Sambil menunjuk ke sudut barat Masjidil Haram dia menjawab, “Di sana, beliau sedang berdiri untuk salat.”

Dengan diiringi kedua putranya khalifah bertandang menuju laki-laki yang di maksud. Beliau dapatkan ia dalam keadaan shalat, hanyut dalam ruku’ dan sujudnya. Sementara orang-orang duduk di belakang, di kanan dan kirinya. Maka duduklah khalifah di penghabisan majlis itu begitu pula dengan kedua anaknya.

Kedua putra mahkota itu mengamati dengan seksama, seperti apa gerangan laki-laki yang dimaksud oleh amirul mukminin. Ternyata dia adalah seorang tua Habsyi berkulit hitam, keriting rambutnya dan pesek hidungnya.

Apabila duduk laksana burung gagak yang berwarna hitam. Usai shalat, khalifah Sulaiman segera mengucapkan salam dan orang tua itu pun membalasnya dengan yang serupa. Kemudian sang khalifah pun menghadap kepadanya dan bertanya tentang manasik haji, rukun demi rukunnya. Dan orang tua tersebut menjawab setiap pertanyaan dengan rinci dan ia sandarkan pendapatnya kepada hadits Rasulullah Saw.

Setelah cukup dengan pertanyaannya, sang khalifah pun beranjak menuju tempat sa’i. Di tengah perjalanan sa’i antara Shafa dan Marwah, kedua pemuda itu mendengar seruan para penyeru, “Wahai kaum muslimin, tiada yang berhak berfatwa di tempat ini kecuali Atha’ bin Rabbah. Jika tidak bertemu dengannya hendaknya menemui Abdullah bin Abi Najih.”

Seorang pemuda itu langsung menoleh kepada ayahnya sembari berkata, “Petugas amirul mukminin menyuruh manusia agar tidak meminta fatwa kepada seorangpun selain Atha’ bin Rabah dan temannya, namun mengapa kita tadi justru datang dan meminta fatwa kepada seorang laki-laki yang tidak memberikan prioritas kepada khalifah dan tidak pula memberi hak penghormatan khusus kepada khalifah.”

Sulaiman berkata kepada putranya, “Wahai anakku, pria yang kamu lihat dan engkau melihat kami berlaku hormat di hadapannya tadilah yang bernama Atha’ bin Rabah, orang yang berhak berfatwa di masjid al-Haram. Beliau mewarisi ilmu Abdullah bin Abbas dengan bagian yang banyak.”

Kemudian beliau melanjutkan, “Wahai anakku, carilah ilmu, karena dengan ilmu rakyat bawahan bisa menjadi terhormat, para budak bisa melampaui derajat para raja.” (Disadur dari kitab Shuwaru min Hayati at-Tabi’in karya Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya).

Ilmu, Pelita Kemuliaan

Sesungguhnya kemuliaan bukan hanya milik orang yang bertahta atau berharta. Bukan pula milik para rupawan dan memiliki popularitas. Tetapi, kemuliaan bisa diraih oleh setiap hamba. Ia bisa diraih oleh orang bawahan, rakyat jelata, bahkan oleh budak sekalipun.

Kisah di atas bukti nyata bahwa kemuliaan bisa diraih oleh siapa saja. Betapa uniknya seorang hamba bersahaja seperti Atha’ bin Rabah yang dalam status sosial dia termasuk orang rendahan bahkan pernah berstatus sebagai budak, tapi kemuliaannya menjulang tinggi. Apa sesungguhnya yang istimewa pada diri Atha’ bin Rabah?

Sementara di masa kecilnya, dia hanyalah seorang budak milik seorang wanita penduduk Mekkah. Dia juga bukan sosok yang rupawan.

Yang istimewa pada diri Atha’ adalah karena ilmu yang dimilikinya. Berkat ilmunya itu dia disegani dan dinanti fatwa-fatwanya. Dengan ilmunya itu dia berada pada puncak kemuliaan. Hal itu diakui oleh Abdullah bin Umar r.a.

Suatu ketika Abdullah bin Umar r.a. berkunjung ke Mekkah untuk umrah. Orang-orang mengerumuni beliau untuk menanyakan persoalan agama dan meminta fatwa kepada beliau, lalu beliau berkata : “Sungguh aku heran kepada kalian wahai penduduk Mekkah, mengapa kalian mengerumuni aku untuk bertanya tentang masalah-masalah tersebut padahal di tengah-tengah kalian ada Atha’ bin Rabbah.”

Itulah istimewanya ilmu. Dengannya orang biasa bisa berjaya. Rakyat bawahan menjadi bermartabat. Seseorang bekas budak menjadi terhormat melampaui derajad para raja. Dan apa yang diraih Atha’ bin Rabah merupakan bukti kebenaran janji Allah SWT dalam firman-Nya,

يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ

“……niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujaadilah : 11) *Hidcom

IMS Serahkan Bantuan APD dan Nutrisi Untuk Tenaga Medis

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Islamic Medical Service (IMS) yang tergabung dalam satuan tugas COVID-19 Hidayatullah menyalurkan bantuan yang terkumpul dan diwujudkan dalam bentuk pemenuhan alat pelindung diri (APD) dan Nutrisi berupa madu dan sari kurma yang di distribusikan ke beberapa rumah sakit dan puskesmas sekitar Jakarta dan Bogor.

IMS akan terus berupaya menjalin sinergitas dengan berbagai lembaga dan elemen masyarakat maupun perorangan untuk pengadaan APD dan Nutrisi Untuk Medis yang dinanti oleh teman-teman medis di beberapa rumah sakit dan puskesmas.

Tim IMS dan satgas COVID-19 Hidayatullah yang diterima oleh dr. Yudhaputra Trisnanto, M.Kes. direktur perencanaan, Organisasi dan umum RSUP Persahabatan di gedung Humas sekaligus menjadi pusat penerimaan donasi (13/04/20) menyampaikan terima kasih kepada para donatur IMS yang telah menyalurkan bantuan nutrisi untuk tim medis garda terdepan dalam penanganan COVID-19.

“Kebutuhan kami yang sangat mendesak dan jumlahnya terbatas berupa alat pelindung diri (APD) yaitu, sandal operasi, sarung tangan steril, baju hamzat, masker bedah” imbuhnya ditengah kesibukan menerima masyarakat dan lembaga yang memberikan donasi untuk tim medis garda terdepan dalam penanganan COVID-19 di RSUP Persahabatan Jakarta Timur.

dr. Hendrayati Ipango kepala Puskesmas Poned Tenjo Kabupaten Bogor Jawa Barat mengatakan “saat ini seluruh puskesmas harus diperhatikan dan jangan dianggap sepele, bagaimanapun puskesmas menjadi pintu masuk pasien untuk pelayanan kesehatan khusunya saat pandemi COVID-19”.

Beliau pun berharap agar kebutuhan APD dan nutrisi bagi Tim medis di puskesmas tenjo terpenuhi sehingga pelayanan kesehatan untuk masyarakat tidak terganggu, diruang kerjanya pada saat menerima kunjungan dan penyerahan bantuan APD dan nutrisi untuk medis (14/04/20).

Imron Faizin Direktur IMS sekaligus ketua satgas COVID-19 Hidayatullah mengatakan akan terus berupaya untuk pemenuhan APD dan nutrisi untuk medis ke Rumah Sakit dan Puskesmas yang saat ini sudah banyak menyandang status zona merah.

IMS dan satgas COVID-19 Hidayatullah mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk mewujudkan 1.000 paket APD dan 1.000 paket nutrisi untuk medis yang manfaatnya langsung dirasakan oleh tim medis garda terdepan dalam penanganan COVID-19 di berbagai rumah sakit dan Puskesmas yang ada di perkotaan dan pedesaan.

Pengadaan dan penyaluran APD dan Nutrisi Untuk Medis terlaksana atas kerjasama IMS dengan JT Clinik, Muslimat Hidayatullah, Baitul Maal Hidayatullah.

MQH Ajak Masyarakat Semakin Dekat Dengan Al-Qur’an

0
ILUSTRASI

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Majelis Quran Hidayatullah (MQH) mengajak masyarakat khususnya kaum Muslimin untuk bersama sama mengkhatamkan bacaan Al Qur’an sebelum memasuki Ramadhan 1441H/2020M. Ajakan MQH tersebut juga sebagai seruan gerakan pembersihan diri secara berjamaah dalam menghadapi pandemi virus corona jenis baru (Covid-19).

“Pada Dasarnya tujuan dari gerakan ini ialah mengajak kita semakin dekat dengan Allah. Sehingga boleh jadi menjadi asbab Semoga Allah kabulkan doa-doa kita sehingga wabah ini segerah berlalu” ujar Direktur MQH Suhardi Sukiman, Selasa (15/04/2020), Via Seluler.

MQH yang menginisiasi kegiatan ini merupakan bagian dari Gerakan Dakwah Nasional Mengajar-Belajar Al-Qur’an (Grand MBA) yang bertujuan mengakrabkan masyarakat dengan Al-Qur’an. Gerakan ini sendiri dimulai pada 15 Syaban 1441 H. Lewat gerakan ini masyarakat diantarkan untuk dapat membaca, menerjemahkan, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur’an dengan standar yang baik.

“Kita telah memulai kegiatan ini pada 15 Syabban, dan para peserta tidak dipaksa untuk melakukan khtam 30 juz. Namun, sesuai dengan kemampuan peserta yang sebelumnya telah mereka isi pada from pendaftaran” Jelas Suhardi.

Grand MBA ditawarkan kepada masyarakat semata-mata ingin memberikan dukungan dan menemani masyarakat belajar Al-Qur’an secara tuntas, sesuai dengan tahapan-tahapannya mulai dari terbata-bata tidak bisa sama sekali sampai pada tahapan tartil.

“Semoga khataman Al-Qur’an dengan niat tulus mengharapkan kasih sayang Allah Subhanahu Wata’ala, segera Allah hilangkan wabah Covid-19 di Indonesia dan rakyat Indonesia diberi keselamatan dan kemudahan dalam menghadapi ini,”

Rencananya program ini akan menjadi program yang berskala Nasional, namun untuk permulaan program ini sedang berjalan di daerah Jakarta dan sekitarnya

“Untu awal-awal gerakan kita akan mulai dari daerah Jakarta, dan akan terus diupayakan menjadi program yang bisa berskla Nasional” Jelas Suhardi

Selain itu, lanjut Suhardi, khataman Al-Qur’an ini diniatkan sebagai muhasabah, doa, dan mujahadah agar kaum Muslimin disampaikan kepada Ramdhan dan bisa menjalankan ibadah dengan aman dan lancar.

“Juga semoga para pemimpin Republik ini diberi kekuatan dan petunjuk oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam menjalankan tugasnya,” ujarnya.

COVID 19 dan IMUNITAS (bagian 2)

0

Ditulis oleh dr Mohamad Ridho, Staf Departemen Kesehatan Hidayatullah

Baca Bagian Pertama Dengan Klik Tautan

Walaupun ODP dan PDP belum tentu menderita COVID, atas dasar kepentingan memutus mata rantai penularan juga upaya pencegahan serta pen, maka kedua kategori ini perlu Isolasi atau karantina mandiri dirumah saja selama 14 hari. Mengapa 14 hari, 14 hari adalah periode terpanjang masa inkubasi Covid 19.

Lalu siapa saja yang disarankan karantinanya di RS? yaitu yang memiliki komorbid (penyakit dasar) seperti Diabetes Berat, Gagal Ginjal, Kanker dsb

Apa saja yang dilakukan saat isolasi mandiri di rumah masing-masing, tentu saja istirahat sambil berupaya meningkatkan daya tahan tubuh karena Imunitas adalah senjata utama melawan COVID 19 tentu saja atas Izin dan Kuasa Allah SWT.

Di tulisan kedua ini, alfakir penulis hendak menyampaikan pokok-pokok pikiran upaya meningkatkan imunitas diri yang semoga bermanfaat bagi ODP, PDP maupun kita semua yang tengah dilanda was-was akibat gancarnya pemberitaan media atas COVID 19 juga belum selesainya Pandemi COVID 19 ini :

  1. Do’a dan Dzikir adalah senjatanya orang beriman. Saatnya kita kembali kepada keyakinan ini. Di media sosial ataupun media massa umumnya jarang disinggung hal ini. Mungkin karena kita hidup dilingkungan alam fikir materialisme yang sering abai akan spiritual. Penelitian para pakar kesehatan mendukung bahwa optimisme percaya diri yakin akan pertolongan Tuhan adalah faktor dahsyat dalam kecepatan penyembuhan (Christy-Synderman ilmuan USA serta Dadang Hawari seorang Profesor Indonesia). Kita meyakini pula bukan bahwa Kesembuhan mutlak datang dari Allah SWT (faidza maridhtu fahuwa yasyfiin QS Asyuara 80)
  2. Tetap tenang, ceria gembira, bersyukur atas nikmat Allah tiada terhitung jenis dan jumlahnya. Dengan sikap ini akan memunculkan hormon endorfin (rasa bahagia) yang juga sangat penting bagi imunitas tubuh.
  3. Perkuat Imunitas badan dengan Penuhi gizi seimbang dan tambahkan rempah rempah sekitar kita untuk daya tahan tubuh (madu, habatussaudah, jahe, sereh, bawang merah, bawang putih, daun salam, dsb), perbanyak minum air putih hangat-juga saat batuk atau nyeri menelan tambahkan satu sendok cuka makan dalam segelas air minum hangat kita, sering cuci tangan pakai sabun, mandi dan gosok gigi teratur, jaga kebersihan lingkungan kita syukur bisa melakukan desinfeksi mandiri (penyemprotan desinfektan) rumah dan lingkungan kita, olahraga rutin dalam rumah tentu dengan gerakan pemanasan dulu dan rutin berjemur matahari pagi
  4. Patuhi anjuran pemerintah jangan mudik, pakai masker bila keluar rumah, juga pakai sarung tangan bila berkendara roda dua dsb, tentunya sebagai ikhtiar memutus mata rantai penularan bukan untuk saling mencurigai.
  5. Pastikan informasi tentang Covid bukan Hoax. Kewas-wasan kita juga dapat meningkat akibat terlalu sering mendapat berita hoax

Wallohu a’lam. Selesai

Taujih Menyambut Ramadan 1441 H Oleh Pimpinan Umum Hidayatullah

0

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang selalu rindu untuk dapat bertemu dengan tamu agung nan mulia, bulan Ramadhan yang penuh berkah, rahmat serta ampunan-Nya.

Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah saw yang telah memberi teladan yang indah dalam menyambut dan memanfaatkan bulan Ramadhan, baik di siang hari maupun malam harinya. Baik di awal, tengah, juga di akhirnya. Baik dalam bentuk ilmu, ibadah, akhlaq maupun amalan-amalan shalehnya.

Saudaraku jama’ah Hidayatullah dan kaum muslimin dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Kini kembali kita sudah berada di bulan Sya’ban, berarti beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadhan yang selalu dirindukan oleh setiap hati yang beriman kepada-Nya meski mungkin Sya’ban dan bahkan Ramahan kali ini, kita akan lebih dalam suasana penuh keprihatinan.

Saat ini kita semua sedang mendapatkan ujian dari Allah Subhana wata’ala berupa wabah virus corona (corona virus decease / Covid-19) yang oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) telah ditetapkan sebagai Pandemi (wabah dunia) dan telah merenggut banyak korban jiwa serta telah melumpuhkan sendi-sendi kehidupan.

Demikianlah kehidupan, orang-orang yang beriman tidak akan luput dari ujian dari Allah Subhana wata’ala. Terkadang Allah memberikan ujian dengan rasa takut, takut terhadap bencana atau wabah yang melanda atau diuji dengan rasa lapar karena krisis ekonomi dan sebagainya. Dalam menghadapi ujian seperti saat ini maka hendaknya kita

semakin mendekatkan diri kepada Allah meminta pertolongan dan perlindungan-Nya serta meningkatkan rasa kesabaran.

نيَرِِباصلاَّ رِشَِبوَ تاِرَمَّثلاَوَ سِفُْنلأاوَ لاِوَملأاْ نَمِ صٍقَْنوَ عوُِلْاوَ فِوَْلْا نَمِ ءٍيْشَِب مْكَُّنوَُلبَْنَلوَ

Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah [2] : 155).

Namun demikian, bulan suci Ramadhan tetap akan kita sambut dengan gembira karena Ramadhan adalah waktu terbaik bagi kita untuk bersama-sama meraih lebih banyak barakah, meningkatkan amal shalih, dan memberikan lebih banyak manfaat dan kahirnya mencapai derajat takwa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam semakin meningkatkan intensitas ibadahnya pada ketika Ramadhan sudah dekat. Tidak ada bulan dimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperbanyak puasa sunnah selain pada Bulan Sya’ban.

Saudaraku jama’ah Hidayatullah dan kaum muslimin yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala.

Kesempatan Ramadhan tentu merupakan kesempatan luar biasa bagi orang-orang yang mengharapkan kemuliaan dunia maupun akhirat yang dijanjikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karenanya sangat disayangkan bila kesempatan yang mahalini kita lewatkan begitu saja.

Saya berharap, pada Ramadhan kali ini kita dapat memasang tekad dengan menetapkan target yang maksimal, baik untuk peningkatan kualitas diri pribadi kita, keluarga kita, jama’ah kita maupun ummat Islam secara umum. Secara jama’i, Saya berharap kita bisa mencanangkan 3 target kesuksesan (TRI SUKSES); yaitu: sukses dalam Ibadah, sukses dalam tarbiyah dan sukses dalam pelayanan ummat.

SUKSES IBADAH

Sebagaimana disebutkan dalam banyak hadits Rasulullah salallahu alaihi wa sallam, bahwa Bulan Ramadhan merupakan bulan ibadah. Tidak ada bulan dimana beliaumeningkatkan ibadahnya selain pada bulan Ramadhan ini. Maka, mari kita isi hari-harinya dengan meningkatkan ibadah fardhu khususnya shalat berjama’ah. Hidup-hidupkan ibadah-ibadah sunnah (nawafil), seperti: salat tarawih (qiyamu Ramadhan) dan shalat-shalat sunnah yang lain, dzikrullah serta banyak membaca Al-Qur’an. Juga jangan

siasiakan kesempatan untuk banyak berdoa, untuk kemaslahatan diri maupun ummat Islam secara menyeluruh. Karena do’a-doa orang yang sedang berpuasa itu mustajabah.

موُِلْظمَْلا ُةوَعْدَوَ لُداِعَْلا ُمامَلاِوَ رَطِفُْي تَّحَ مُِئاصلاَّ مُُتُوَعْدَ دُّرَُت َلا ٌةَثَلَث

“Tiga golongan yang doanya tidak ditolak oleh Allah; yaitu orang yang berpuasa hingga ia berbuka, pemimpin yang bertindak adil dan doanya orang-orang yang teraniaya ….. ”(HR. Tirmidzi)

SUKSES TARBIYAH

Wahyu pertama diturunkan oleh Allah kepada Muhammad salallahu alaihi wa sallam pada Bulan Ramadhan. Didalamnya terdapat seruan Iqra’, yang mengajarkankepada kita untuk “membaca” dalam pengertian yang luas. Pada setiap Bulan Ramadhan itu pula, Ruhul Amin Jibril mendiktekan kembali Al-Qur’an beserta maknanya kepada Rasulullah salallahu alaihi wa sallam.

Maka sudah selayaknya apabila warga Hidayatullah memanfaatkan bulan ini untuk mempelajari kandungan Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain (ta’allamal qur’an wa ‘allamahu).

Oleh karenanya buatlah kegiatan untuk warga Hidayatullah dan masyarakat umum yang dapat mempertajam iman, meningkatkan kualitas ibadah, membaguskan akhlaqul karimah serta meningkatkan semangat dalam beramal shaleh. Dengan itu semua peradaban Islam akan terlihat keagungan dan keindahannya.

SUKSES DALAM PELAYANAN UMMAT

Shaum Ramadhan mengajarkan kepada kita untuk mencegah segala bentuk perbuatan jahat (syayyiat) dengan meningkatkan amal-amal kebajikan (hasanat).

Disamping kita berusaha melakukan kebajikan untuk diri kita sendiri juga dituntut untuk mengajak orang lain melakukan kebajikan dan memberi kemudahan kepada orang lain untuk melaksanakan kebajikan. Lebih-lebih dalam kapasitas kita sebagai pemimpin, da’i serta pejuang di jalan Allah. Bukankah Rasulullah salallahu alaihi wasallam mengingatkan kepada kita:

هِِب قُْفراَْف مِْبِ قََفرََف اًئيْشَ تَِّمَُّأرِمَْأ نْمِ لَِوَ نْمَوَ هِيَْلعَ قْقُشاَْف مْهِيَْلعَ قَّشََف اًئيْشَ تَِّمَُّأ رِمَْأ نْمِ لَِوَ نْمَ مَّهَُّللا

“Yaa Allah barangsiapa yang diberi amanah untuk mengurusi suatu persoalan ummat-Ku kemudian ia mempersulit mereka, maka sulitkanlah ia. Dan barangsiapa diberi amanah untuk mengurusi suatu persoalan ummat-Ku kemudian ia menyayangi mereka, maka sayangilah mereka”. (HR. Muslim)

Maka buatlah program yang dapat mengantarkan orang lain berbuat kebajikan, seperti: memberi layanan da’wah, penyebaran brosur, buku-buku, memasang spanduk pengingat dan sejenisnya. Demikian juga, berilah kemudahan kepada orang lain untuk dapat menunaikan kewajiban-kewajiban syari’at, seperti dalam pembayaran zakat dan yang lainnya. Kelolalah zakat, infaq serta shadaqah secara sungguh-sungguh dan tunaikanlah amanah ummat kepada yang berhak menerimanya sebagaimana ketentuan Al-Qur’an.

ليِِبسَ فِوَ ينَمِراَِغْلاوَ باَِقرلاِ فِوَ مُْبِوُُلُق ةِفََّلؤَمُْلاوَ اهَيَْلعَ ينَِلماِعَْلاوَ ينِِكاسَمَْلاوَ ءارَقَفُلِْل تاَُقدَصلااََّنَِّإ ميٌكِحَ مٌيِلعَ ُللّاوَ ِللّا نَمِ ًةضيَرَِف ليِِبسلاَّ نِْباوَ ِللّا

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS. At-taubah [9]: 60)

Kita berharap terlaksananya syari’at zakat, infaq serta shadaqah ini dapat membantu meringankan beban saudara-saudara yang kesusahan sekaligus membangun kembali keagungan dan kejayaan Islam.

1 Ramadhan dan 1 Syawal

Setiap tahun selalu saja kita dapati perbedaan sikap diantara kaum muslimin di Indonesia dalam menentukan 1 Ramadhan, 1 Syawal. Ini merupakan salah satu persoalan ummat yang belum dapat dituntaskan.

Sebagai bentuk komitmen Hidayatullah untuk membangun kesatuan ummat serta merajut ukhuwwah Islamiyah, maka Insya Allah kita akan mengikuti keputusan pemerintah yang akan melakukan ru’yat hilal bersama sama dengan MUI dan ormas Islam yang lain. Dengan kapasitas dan peralatan teknologi modern yang digunakan, insya-Allah validitas hasilnya lebih dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini juga sesuai dengan sabda Rasulullah salallahu alaihi wa sallam:

نَوْحُّضَُت مَوَْي ىحَضَْلأْاوَ نَوْرُطِفُْت مَوَْي رُْطفِْلاوَ نَوْمُوْصَُت مَوَْي مُوْصلاَّ

“Puasa kalian adalah pada hari kalian berpuasa, berbukanya kalian adalah ketika kalian berbuka dan hari ‘IedulAdha kalian adalah tatkala kalian menyembelih.”(HR. At-Tirmidzi dari Abu Hurairah)

Para ahlul ilmi menjelaskan maksud hadits ini adalah bahwa berpuasa dan berbuka itu dilakukan bersama jamaah dan kebanyakan manusia. Insya-Allah pendapat ini yang lebih sesuai.

Akhirnya, selamat menunaikan Ibadah Ramadhan dan mengisinya dengan amal-amal shaleh yang dapat meningkatkan kualitas kita sebagai orang-orang yang bertaqwa. Semoga Allah menerima semua amal shalih kita.

Balikpapan, 14 Sya’ban 1441  H

8 April 2020 M

KH. Abdurrahman Muhammad

Pimpinan Umum

Unduh File Deng Klik Tautan (File PDF)

Seruan Ramadan 1441 H Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

0

Alhamdulillah, dalam beberapa hari lagi insya Allah kita akan kembali berjumpa dengan bulan mulia, syahrun mubarak, Ramadhan 1441 H. Tanpa terasa waktu setahun telah kita jalani, semoga perjalanan setahun terakhir tersebut benar-benar meningkatkan kualitas hidup kita dalam segala bentuknya.

Ikhwah fillah,

Dalam suasana penuh keprihatinan, karena kita semua sedang diuji oleh Allah SWT dengan wabah virus corona yang telah merenggut banyak korban jiwa dan telah melumpuhkan sendi-sendi kehidupan, kita akan memasuki bulan suci Ramadhan dengan kondisi yang belum lepas dari ancaman wabah dan kehidupan belum pulih.

Namun demikian, hal tersebut bukan menjadi halangan bagi kita untuk memaksimalkan bulan suci Ramadhan agar kita secara bersama-sama dapat meraih lebih banyak barakah, meningkatkan amal shalih, dan memberikan lebih banyak manfaat.

Saat berada di bulan Sya’ban seperti saat ini, Nabiullah Muhammad SAW telah memberi contoh kepada kita untuk menyiapkan diri dan memperbanyak latihan dengan melakukan banyak ibadah seperti shalat tahajud, puasa, dan zikir. Meski ini bukan ibadah yang dikhususkan di bulan Sya’ban namun ini dilakukan agar saat masuk Ramadhan kita sudah dengan hati yang lebih bersih, niat yang lebih mantap serta fisik yang lebih siap.

Ramadhan memiliki banyak dimensi. Secara spiritual(ruhiyah), inilah saat bagi kita untuk merevitalisasi spirit, menghapus kesalahan-kesalahan, mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan meningkatkan semangat juang dalam rangka

membangun peradaban Islam. Secara fisik (jasmaniyah), Ramadhan adalah saat untuk berlatih dan membuktikan diri bahwa kita mampu menahan diri dari segala perbuatan yang sia-sia, apalagi yang menimbulkan dosa. Di bulan Ramadhan, kita memiliki kemerdekaan dan kedaulatan penuh untuk memutuskan sesuatu, karena pengaruh syaitan telah sangat dikurangi, dan karena itulah manusia dapat membuktikan bahwa dirinya bukanlah golongan syaitan yang suka melakukan kejahatan.

Pada sisi yang lain, Ramadhan juga memiliki dimensi materi (maliyah), di mana kaum muslimin biasa menunaikan kewajiban membersihkan hartanya dalam tahun berjalan. Realitasnya, jumlah harta zakat, infaq, maupun shadaqah yang dikeluarkan pada bulan Ramadhan lebih besar dibanding jumlah dana sejenis pada 11 bulan lainnya. Ummat Islam, khususnya di Indonesia, dapat memenuhi perintah agamanya untuk membuat kaum miskin bergembira, selama bulan Ramadhan dan seterusnya.

Dengan pertimbangan hal-hal tersebut di atas serta merujuk kepada Taujih Ramadhan Pimpinan Umum Hidayatullah Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah merasa perlu untuk kembali membuat seruan bagi seluruh anggota, kader dan jamaah Hidayatullah agar keistimewaan Ramadhan dapat tetap diraih meski dalam suasana penuh keprihatinan seperti saat ini. Seruan ini mencakup ketiga dimensi tersebut, yang sama-sama perlu dicermati dan dilaksanakan oleh seluruh jajaran Hidayatullah sesuai tingkatannya masing-masing:

1. Persiapkan diri, keluarga, dan organisasi untuk menyambut dan menghadapi Ramadhan sejak saat ini, agar :

a. Secara individu mampu mengoptimalkan bulan Ramadhan dengan berbagai bentuk ibadah dan amal shaleh, yang wajib maupun sunnah, dan yang mahdhah maupun sosial.

b. Pastikan seluruh keluarga mempunyai semangat dan motivasi yang tinggi untuk memperbanyak ibadah nawafil dan memanfaatkan kondisi saat ini yang mengharuskan banyak waktu tinggal di rumah (stay at home) dengan bercengkrama di rumah, lakukan halaqah bersama keluarga dan banyak berdo’a untuk keselamatan dan terhindar dari wabah virus corona.

c. Secara organisasi mampu memanfaatkan semua potensi internal maupun eksternal demi kesuksesan dakwah Islam dan layanan keummatan.

2. Upayakan pencapaian target Ramadhan, antara lain:

a. Target tarbiyah ruhiyah, yakni peningkatan kualitas spiritual dan keilmuan pengurus, simpatisan, anggota, dan masyarakat.

b. Target dakwah Islamiyah, yakni tersentuhnya seluruh lapisan masyarakat melalui masjid, mushallah maupun perkantoran oleh program dakwah Hidayatullah, baik dakwah jama’iyah melalui ceramah, ta’lim, kajian, dan diskusi maupun dakwah fardiyah melalui silaturrahim atau pertemuan-pertemuan informal. Dalam kondisi saat ini hal tersebut tetap bisa dilakukan dengan memanfaatkan media komunikasi baik dengan group WA maupun dengan vidio conference.

c. Target penyucian harta, yakni tertunaikannya kewajiban zakat bagi seluruh kader, anggota, jamaah dan simpatisan Hidayatullah

d. Target pendayagunaan dana Zakat, Infak, Shadaqah (ZIS) kaum muslimin untuk menyukseskan program keummatan (sosial, dakwah, pendidikan, ekonomi keummatan, dll) melalui jaringan Hidayatullah, baik melalui Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (LAZNAS BMH) maupun yayasan-yayasan sosial yang telah ada.

3. Program khusus Ramadan di tengah musibah pandemi covid-19 sebagai berikut:

a. Meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah nawafil dengan menambah target bacaan Al Qur’an di atas 1 juz setiap hari, shalat fardhu dan qiyamu ramadhan tetap ditunaikan secara berjamaah meskipun di rumah, wirid pagi, sore dan malam, infaq harian, dan dakwah fardiyah melalui WA atau aplikasi lainnya.

b. Meningkatkan intensitas doa di waktu-waktu mustajab, baik secara infiradi maupun jama’i melalui qunut nazilah atau qunut witir.

c. Meningkatkan tarbiyah ruhiyah (spiritual) dan tsaqafiyah (keilmuan) untuk keluarga melalui halaqah diniyah di rumah dengan program tahsin, terjemah, tadabbur dan baca tafsir.

d. Meningkatkan kepedulian sosial dengan sering berbagi rezki, khususnya kepada kaum dhu’afa.

Kesuksesan dalam meraih potensi Ramadhan adalah kepentingan kita bersama, oleh karena itu, Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah menghimbau kepada seluruh jajaran di Wilayah, Daerah, maupun Cabang untuk meningkatkan komunikasi, silaturrahim, dan

koordinasi dengan jajaran di atasnya maupun jajaran di bawahnya. Memastikan Ramadhan kali ini sebagai momentum terbaik untuk menebar kebaikan dan kasih sayang. Mari kita manfaatkan Ramadhan ini dengan sebaik baiknya agar kita memperoleh kekuatan spiritual yang dapat kita jadikan sebagai modal untuk berjuang di jalan-Nya.

Akhirnya, kepada Allah SWT jualah kita memohon, agar kiranya dimudahkan dalam segala upaya, dan diterima amal kita sebagai bagian dari perjuangan membangun peradaban Islam.

Wassalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Jakarta, 16 Sya’ban 1441 H/ 10 April 2020

Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah

Dr. H Nashirul Haq, Lc., MA

Ketua Umum

Unduh Dengan Mengklik Tautan (File PdF)

CoVid-19 Dan Imunitas (bagian 1)

0

Oleh dr Mohamad Ridho, Staf Departemen Kesehatan Hidayatullah

Pada prinsipnya manusia dapat terkena penyakit infeksi bila terjadi kondisi Kelemahan daya imunitas (daya kekebalan) tubuh, atau potensi agent penyebab infeksi kelewat kuat dan kelewat berbahaya, bahkan boleh jadi lingkungan menyebabkan kelemahan imunitas manusia atau lingkungan meningkatkan potensi bahaya agent penyebab infeksi.

Beberapa penyebab infeksi pada manusia adalah Virus, Bakteri, Amuba, Cacing, Jamur, maupun Mikroorganisme lainnya

Covid 19 (nama ilmiah resminya SARS-CoV-2) adalah kepanjangan dari Corona Virus Disease 2019. Dengan singkat sejak kemunculan pertama menjadi wabah di Kota Wuhan Desember 2019 tak lama kemudian oleh WHO dinyatakan menjadi wabah internasional (Pandemi), mengingat daya sebarnya yang cepat meluas sampai saat ini serta komplikasi kematiannya yang dianggap tinggi. Disebut Corona Virus karena Virus ini bentuknya seolah olah memakai Corona atau Crown (mahkota).

Benarkah Covid 19, belum ada obatnya?. Secara mudah kita bisa menjawab belum ada obatnya dan belum ada vaksinnya. Kita juga mengenal bahwa hampir semua penyakit virus pada prinsipnya adalah Self Limited disease (sembuh dengan sendirinya). Artinya manakala imunitas kita meningkat maka virus takkan berlama lama dalam tubuh kita. Namun repotnya bila imunitas kita belum kuat, sementara penyakit virus telah menimbulkan komplikasi serius.

Seperti halnya infeksi virus influenza, cacar air atau campak, covid pun berkomplikasi menimbulkan radang paru yang hebat yang disebut Pneumonia dengan gejala sesak nafas hebat. Hanya pada Covid 19 percepatan menjadi pneumoni demikian cepatnya jika tidak buru buru diberikan imunitas pada penderitanya, sampai sampai menimbulkan hipersekresi (penumpukan lendir disaluran nafas) mengental dan menyumbatnya, tak jarang sampai berujung kematian.

Sementara ada juga yang menjawab sudah diketemukan obatnya (tentu saja disebut alternatif obat karena bersifat simptom atau sudah berefek menghancurkan kuman hanya bukti penelitian empiris berdasarkan Evidence Base belum memadai). Pembaca dapat membaca lebih lanjut hal ini dalam link e-book Informatorium Obat Covid 19 dilansir resmi oleh Badan POM mengenai “Informatorium Obat CoVid-19 Di Indonesia”

Siapa sajakah yang dapat dipastikan menderita COVID 19? Kalau menduga lebih mudah tentu saja (maka ada istilah ODP/Orang dalam pengawasan, PDP/Pasien dalam pengawasan) tetapi memastikan perlu pemeriksaan lanjut bukan hanya swab tapi juga PCR yang hasilnya membutuhkan beberapa hari. ODP adalah seseorang yang belum bergejala apa apa tetapi sempat kontak dengan pasien covid atau pernah berkunjung ke daerah wabah covid dalam 14 hari terakhir.

PDP adalah seseorang yang telah memiliki gejala demam atau salah satu gejala lain seperti pilek, batuk, sesak nafas, sakit menalan dan dalam 14 hari terakhir sempat berkunjung ke daerah wabah Covid atau kontak dengan penderita Covid19.

Walaupun ODP dan PDP belum tentu menderita COVID, atas dasar awal tulisan diatas (syarat kondisi infeksi pada manusia) perlu Isolasi atau karantina mandiri dirumah saja selama 14 hari. Mengapa 14 hari, 14 hari adalah periode terpanjang masa inkubasi Covid 19.

Apa saja yang dilakukan saat Isolasi Mandiri di rumah masing masing, tentu saja istirahat sambil berupaya meningkatkan daya tahan tubuh karena Imunitas adalah senjata utama melawan COVID 19 tentu saja atas Izin dan Kuasa Allah SWT.

Bersambung ke bagian 2

Harus Siap Menghadapi Kemungkinan Terburuk CoVid-19

Oleh: Asih Subagyo

Pekan lalu 03/04/2020, Menteri BUMN, Erick Tohir dalam sebuah teleconference untuk dengar pendapat dengan anggota DPR, menyampaikan asumsi dan prediksi bahwa secara ekonomi, Indonesia ada  beberapa sekenario dari yangringan hingga yang terburuk selama dan pasca pandemi Covid-19.

Menurut dia, sekaligus mempertegas dan mengkonfirmasi pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani sebelumnya, bahwa sekenario berat mata uang Rupiah terhadap US Dolar sekitar Rp. 17.500,-. Sedangkan kondisi terburuk, sampai Rp.20.000,-. Demikian juga terkait pertumbuhan ekonomi, sekenario berat adalah 2,3%, sedangkan skkenario terburuk ada di minus 0,4 persen. Sedangkan tingkat inflasi dari 3,9% menjadi 5,1%.

Belum lagi jika ditambah dengan indikator lain misalnya: anjloknya IHSG, negatifnya reraca perdagangan, beberapa perusahaan mulai gulung tikar, daya beli rakyat yang mulai menurun, dan seterusnya.

Sebagaimana pada tulisan sebelumnya, dan juga prediksi beberapa pengamat, situasi seperti ini, akan tambah mempercepat dan membuat krisis multidimensi.

Tentu saja pernyataan itu bukan hanya keluar begitu saja. Tidak main-main. Bukan kaleng-kaleng. Pasti diikuti dengan kajian data dan analisa yang njlimet. Tidak mungkin seorang Menteri, dalam kondisi  seperti ini melakukan spekulasi dengan memberi pernyataan yang menakut-nakuti rakyatnya. Dan tidak memberikan rasa aman dan nyaman kepada rakyatnya. Kecuali mereka sudah gila beneran.

Apalagi Erik, juga memiliki background seorang pengusaha. Pasti hitung-hitungannya matang. Kalkulasinya presisi. Sebab, dia tahu konsekwensi dan risikonya. Dia tentunya sadar bahwa, setiap  pernyataan yang keluar dari lisannya (dan pejabat yang terkait dengan ekonomi), akan menjadi acuan bagi para koleganya, dan juga mempengaruhi pasar pada umumnya.

Pertanyaaannya kemudian adalah, jika semua indikator tersebut terjadi, sebenarnya apa yang dirasakan oleh rakyat. Jika rupiah turun hingga Rp. 20.000, sementara pada awal tahun ini di kisaran Rp.14.000, artinya melemah Rp.6.000,- atau melemah 30%. Sehingga akan berpengaruh terhadap hutang luar negeri dalam bentuk dollar, dan berpengaruh terhadap APBN.

Disamping itu, barang-barang impor yang biasanya dibayar juga dengan dollar, mengalami kenaikan. Sehingga akan berpengaruh baik secara langsung maupun tidak  terhadap produk dan jasa  lokal. Produk dan jasa itu akan menyesuailan pasar. Sehingga akan mengalami kenaikan harga, sebab terimbas dari melemahnya nilai rupiah tersebut. Ini yang akan langsung dirasakan rakyat, dan masih banyak lagi.

Sedangkan terkait dengan inflasi, meski “hanya” 5,1 persen, secara teori memang masih masih masuk dalam katagori inflasi ringan. Tetapi jika tidak bisa dikendalikan, bisa menjadi ke katagori sedang, bahkan berat. Ingat perubahan saat ini akan terjadi sangat cepat dan masif. Unpredictable , uncontrolabe. Nggak dapat diprediksi, dan nggak bias dikontrol. Ini sebuah alarm dan Early warning, bagi siapa saja. Sebab pada saat itu terjadi , maka beberapa dampak yang mengikutinya akan sistemik.

Melemahnya daya beli, ekspor yang menurun,barang dan jasa naik, nilai rupiah yang melemah, nilai gaji yang menjadi kecil (karena tidak naik), dan lain sebagainya. Intinya kita akan membayar lebih mahal pada produk dan jasa seelumnya. Sigkatnya nasi, sayur plus telor yang biasanya 10 ribu, bisa naik menjadi 12 ribu atau lebih.

Tentang pertumbuhan 2,3% atau bahkan pada sekenario terburuk di kisaran minus 0,4%, maknanya, selain ekonomi mengalami pelemahan dan kemunduran dari tahun sebelumnya, juga akan banyak tenaga kerja dan angkatan kerja yang menganggur.

Sebab, secara teori setiap kenaikkan pertumbuhan 1% sama artinya dengan menyerap tenaga kerja 300-400 ribu orang. Sedangkan saat ini angkatan kerja terus bertambah (lulusan sekolah dan perguruan tinggi) ditambah dengan pengangguran sebelumnya. Dus artinya akan banyak pengangguran.

Belum lagi ditambah tenaga kerja yang di PHK, akibat krisis ekonomi. Jika memang hal-hal itu terjadi, maka tidak menutup kemungkinan akan memicu kerawanan sosial, sekali lagi jika salah kelola.

Siapkah Kita?

Kondisi di atas, mesti kita antisipasi sejak dini. Bukan untuk menakut-nakuti. Tetapi justru saat inilah, waktunya yang tepat mempersiapkan diri menghadapi situasi terburuk itu. Mau tidak mau, suka tidak suka, pasti berdampak, bahkan menghantam kita juga.

Memang simpang siurnya berita yang tak terkendali, terutama di media sosial, menyebabkan secara psikologis publik tertekan. Sehingga, publik dalam kondisi yang paranoid. Kondisi ini tentu saja menjadi tidak sehat, ditengah himpitan ekonomi yang semakin berat. Namaun fakta-fakta di bawah ini bisa menjadi alat untuk memotret kondisi bangsa ini.

Untuk masyarakat kelas bawah, yang memang hidupnya tergantung dengan apa yang diusahakan hari ini, itulah yang dimakan hari ini, tentu ssangat berat. Merekalah yang sering dinamakan dengan pekerja informal. Dalam statistik sekitar 70% dari populasi penduduk.

Bagi mereka, untuk bisa survive di saat seperti ini, menjadi kemewahan yang luar biasa. Kita bisa dapatkan informasi yang viral misalnya: tukang ojol yang diusir dari kontrakan, pegawai rendahan yang dipecat menjual TV untuk di tukar dengan beras, ibu-ibu yang terpaksa mengemis (dijalan yang sepi) karena suami dan anak-anaknya jatuh sakit, dan banyak lagi kisah yang memilukan lainnya. Tetutama bagi mereka yang tinggal diperkotaan (urban).

Bagi masyarakat yang tinggal di desa-desa, yang basisnya pertanian, mungkin tidak merasakan suasana seperti ini. Sebab beberapa bahan makanan masih bisa didapatkan disekitar rumahnya. Inilah yang menyebabkan arus mudik, tidak bisa di bendung lagi.

Mereka tidak peduli physical distancing, harus dirumah saja, ataupun PSBB. Tidak peduli, terinfeksi COVID-19 atau tidak. Yang jelas, mereka ingin tetap hidup. Dan mudik itu, dalam kalkulasi mereka merupakan salah satu cara menjaga agar bisa tetap hidup.

Sebab di kampung mereka masih bisa mendapatkan kehidupan dari memanfaatkan tanah/pekarangan disekitarnya. Di kota mereka ngontrak, dan nggak ada tempat untuk bercocok tanam itu.

Bagi karyawan, meskipun mereka mendapatkan gaji bulanan, ternyata juga masih dihantui dengan berbagai hal, misalnya: pengurangan gaji, hilangnya bonus dan THR, rasionalisasi karyawan hingga PHK, dan seterusnya. Dan kini, sudah mulai berhitung, uang tabungan yang ada ,bisa untuk  bertahan hidup berapa bulan lagi.

Suasana kebatinan seperti ini, juga dialami oleh mereka yang selama ini disebut dengan kelas menengah (middle class). Saking takutnya mereka melakukan panic buying, menimbun makanan, untuk menyetok kebutuhan beberapa hari atau bulan. Justru perilaku seperti ini sesungguhnya yang menciptakan tambhan keruhnya suasana. Sehingga, sama-sama ingin survival, tetapi cara dan dampa yang ditimbulkan berbeda.

Kondisi yang serupa juga dirasakan bagi pengusaha. Baik yang UKM maupun usaha besar. Sama-sama mengalami tekanan. Produksi menurun. Karena berbagai sebab, baik dari bahan baku, produksi hingga pemasaran, semua bermasalah. Terkecuali mungkin pengusaha sembako,makanan dan alat-alat kesehatan, masih bisa survive.

Mereka yang bergerak di usaha jasa, jika tidak melakukan pengurangan gaji, pengurangan karyawan, maka sudah mulai gulung tikar. Meski ada stimulus dari pemerintah untuk UKM, yang nilainya sekitar 150 trilyun, juga kebijakan penangguhan pembayaran  pinjaman diperbankan, nampaknya belum bisa menolong bisnis mereka.

Sebab saat ini yang dibutuhkan adalah bagaimana sebuah iklim dan ekosistem yang menggerakkan semua sektor ekonomi, sehingga aspek demand dan supply bisa saling melengkapi. Ini PR yang berat, ditengah situasi yang sulit seperti ini.

Solidaritas Sosial

Tidak salah jika Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index 2018 , menempatkan Indonesia sebagai negara paling dermawan se-dunia, dengan skor 59 persen. Hal ini dibuktikan dalam suasana yang sulit seperti saat ini, kita masih menjumpai beberapa komunitas masyarakat, ORMAS, LSM, bergerak untuk meringankan beban dengan berbagi makanan dan sembako. Dimana-mana banyak kita temukan. Disaat negara tidak hadir, justru rakyatnya yang hadir.

Kita bisa saksikan Lembaga Amil Zakat (LAZ) dan lembaga non pemerintah lainya melakukan penyemprotan disinfektan ke rumah-rumah ibadah, pesantren, panti asuhan, bahkan ke beberapa perumahan. Meskipun kemudian oleh WHO, cara tersebut dinyatakan tidak sesuai dengan protocol kesehatan, bahkan dbilang sia-sia.

Namun point saya disini adalah bahwa, kepekaan dan kepedulian sosial itu tumbuh subur di negeri ini. Disamping itu, kegiatan donasi untuk pengadaan APD (alat pelindung diri) bagi dokter dan tenaga kesehatan, merupakan bentuk kegatan yang diapresiasi dn di dukung oleh publik.

Belum lagi, kita bisa saksikan dijalan-jalan, dapat kita temui banyak relawan yang berbagi makanan/nasi kotak ke driver ojol, ataupun rakyat lain yang membutuhkan. Demikian juga di beberapa masjid. Meski ada pembatasan untuk kegiatan keagamaan, namun dibeberapa Masjid melakukan pembagian amakanan gratis dan juga sembako kepada rakyat yang mebutuhkan, tentu tetap dengan tetap menjaga physical distancing.

Demikian juga pembagian masker, kepada bebepa masyarakat, menjadi sesuatu yang menarik. Serta masih banyak lagi aktifitas yang menunjukkan solidaritas dan kesetiakawanan sosial, atau dengan bahasa lain gotong-royong di negeri ini masih hidup.

Hal ini membuktikan kelas menengah dan atau mereka yang memiliki kelebihan masih berbagi dengan sesama. Dan dalam konteks ini, sesungguhnya negara justru diuntungkan oleh sikap dan perilaku rakyatnya yang dermawan itu.

Jangan Paranoid

Dengan melihat fakta di atas, dan saat ini terus berkembang, maka Kita pasti akan memeasuki masa-masa sulit itu. Namun kita juga optimis bahwa masa-masa sulit itu akan bisa kita lalui. Banyak kemungkinan memang yang terjadi. Kita akan larut, sedih, takut cemas dan tenggelam dalam masa sulit itu, sehingga kita tidak bisa lolos di situasi sulit ini.

Namun jika kita memiliki sikap mental petarung dan pemenang, sebagai mujahid , in syaa Allah kita akan lolos melewati dan memenangkan masa sulit itu, bahkan mendapatkan ibrah dan kebaikan sesudahnya. Kata kuncinya jangan paranoid. Jangan takut. Tetapi juga jangan gegabah dan sembrono.

Oleh karena itu, selain persiapan-persiapan manusiawi, yang bisa dikalkulasi secara manajemen, jangan lupa kita masih punya Allah SWT. Sebagai tempat bergantung dan memohon pertolongan. Yang bagi-Nya mudah saja untuk membolak-balikkan situasi dan keadaan ini, diluar dari prediksi yang manusia buat.

Sehingga cara transendental yang kita tempuh adalah, dengan mempertebal keimanan dan ketakwaan kepada-Nya. Langkah ini, akan menjadi pilihan utama ketika kita dalam memasuki masa-masa sulit itu. Dan terus berdo’a agar kita bisa lepas dari situasi sulit ini dengan tetap beriman dan dalam kondisi yang lebih baik lagi.

Tentu saja tetap dibarengi dengan ikhtiar secara manusiawi tersebut. Bila sikap mental kita demikian,  maka sebagai orang beriman kita punya panduan yang akan memandu kita. “Dan Jangan kamu berputus asa dari Rahmat Allah. Sesungguhnya tidaklah berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” QS Yusuf (12) : 87.

Sehingga, menghadapi situasi ini semboyan kita,siap nggak siap in syaa Allah siap !

,*Dosen STIE Hidayatullah Depok

Ketua Umum DPP Hidayatullah: Mari Sukseskan Ramadhan di Tengah Pandemi

Para Santri, Sedang Menonton Kajian Via Siaran Langsung

Ketua Umum DPP Hidayatullah Nashirul Haq mengajak umat Islam untuk memasang target sukses dalam menjalani ibadah Ramadhan, apalagi di tengah pandemi virus corona jenis baru saat ini. Ajakan itu disampaikan dalam acara Tarhib Nasional Ramadhan 1441H/2020 pada Ahad (12/04/2020) yang digelar secara online dari kompleks DPP Hidayatullah, Jakarta.

Nashirul menyampaikan sejumlah tips untuk dapat meraih sukses Ramadhan. Antara lain, pertama, sebut Nashirul, yaitu setiap Muslim memasang niat, tekad, azzam, dan optimisme untuk mensukseskan Ramadhan. Penting pula pesannya berprasangka baik kepada Allah agar harapan itu dapat tercapai.

Nashirul mengajak umat untuk menjalani ibadah sebagai suatu kebutuhan. Ia mengatakan, jika melakukan sesuatu karena kebutuhan, maka seseorang akan menghadapi tantangan apapun yang dihadapinya. “Pasti kita tetap bersemangat,” ujar Nashirul yang di saksikan jamaahnya dari berbagai daerah se-Indonesia melalui live streaming di Youtube Hidayatullah ID.

Ia mencontohkan, seorang pekerja yang melakukan suatu pekerjaan karena menganggap hal itu kebutuhan, maka pekerja itu akan bersemangat menghadapi segala tantangan. Seperti –mengambil contoh pada hari normal di luar lockdwon— rela berjam-jam naik KRL atau naik angkot saat pergi maupun pulang kerja. Meskipun bertahun-tahun melakukan aktivitas pergi-pulang kerja itu, tapi karena menyikapinya sebagai suatu kebutuhan, maka ia tidak lelah apalagi bosan menjalaninya.

“Begitu pula dalam ibadah semangatnya seperti itu,” seru Nashirul.

Kedua, tambah Nashirul, dalam rangka sukses Ramadhan, perlu bekal ilmu dan pemahaman terkait Ramadhan. Perlu diulang kembali fikih-fikih tentang berpuasa, sebab selain akan membuat tenang, juga kualitas ibadah seorang Muslim akan lebih tinggi.

“Dengan ilmu itu pula kita bisa senantiasa istikharah karena kita tahu hakikat ibadah-ibadah itu,” ujar Doktor jebolan International Islamic University Malaysia (IIUM) ini.

Ketiga, Nashirul juga menekankan perlunya persiapan secara fisik dan mental menyambut Ramadhan. Antara lain berolahraga, mengonsumsi suplemen, melakukan latihan tidak banyak konsumsi makanan yang tak perlu dan tak dibutuhkan tubuh.

“Persiapan dana juga (perlu),” pesannya.

Ironisnya, kata Nashirul, saat ini mayoritas Muslim yang dipikirkan adalah perayaan Hari Raya Idul Fitri. Padahal mestinya lebih fokus kepada ibadah Ramadhan termasuk terkait finansial, seperti menganggarkan dana khusus untuk infaq.

Ia mengatakan, dalam kondisi seperti ini, pendapatan ekonomi kebanyakan orang cenderung menurun. Namun, dalam kondisi begitu, saat seseorang tetap istiqamah berinfaq, maka nilainya semakin tinggi di mata Allah. Sebab, jelasnya, semakin tinggi tantangan dalam menjalankan suatu ibadah, maka nilainya smakin tinggi. Nashirul juga mengingatkan untuk melakukan persiapan terkait fisik, lingkungan, serta pakaian. Semua itu harus sudah dikondisikan sejak saat ini.

Sajadah yang jarang dicuci, misalnya, dicuci. Kemudian, persiapkan pakaian-pakaian andalan yang baik untuk dipakai bertaqarub kepada Allah.

Bahkan idealnya dalam kondisi stay at home pada masa-masa lockdown terkait pencegahan pandemi Covid-19 saat ini, Nashirul menyarankan setiap keluarga Muslim menyiapkan ruang khusus di rumahnya sebagai mushalla.

“Generasi salaf itu ada mushalla khusus di rumahnya,” sebut alumnus Universitas Islam Madinah ini.

Kalau ada mushalla di rumah, ia juga menyarankan agar setiap keluarga membuat program halaqah Qur’an keluarga. Ini juga kesempatan bagi orangtua untuk memberi perhatian dan kasih sayang lebih kepada anak-anak dalam bentuk berhalaqah Qur’an. Terkait situasi saat ini pula, menurut Nashirul, bagi Muslim yang tidak bisa ke masjid, agar menunaikan shalat di rumah saja, termasuk seperti tarawih dan tahajud.

Lebih jauh, Nashirul menekankan tiga sukses pada Ramadhan 1441H yang tiba sebentar lagi. Yaitu, jelasnya, Sukses Tarbiyah, Sukses Ibadah, serta Sukses Dakwah dan Layanan Umat.

Dalam hal ibadah, Nashirul menekankan secara khusus dalam hal qiyamul lail dan bacaan Qur’an. “Sinarilah rumah-rumah kalian dengan shalat dan bacaan Qur’an,” ujarnya mengutip sebuah riwayat.

Kunci Sukses

Nashirul menambahkan, untuk mencapai kesuksesan dalam ibadah Ramadhan, maka ada kunci-kuncinya. Antara lain, pertama, harus ada komitmen kuat kepada diri sendiri dan kepada Allah.

“Kebaikan yang diprogramkan kita wajibkan kepada diri kita,” ujarnya.

Misalnya, seorang Muslim mengazzamkan diri membaca Al-Qur’an minimal 3 juz setiap hari selama Ramadhan, maka jangan sampai kurang dari itu. Atau punya tekad beribadah qiyamul lail mulai jam 3 dinihari, maka sejak bulan Sya’ban sudah ada pengondisian.

Kunci sukses kedua, tambah Nashirul, harus ada mujahadah. Ia kembali mengulang bahwa semakin berat ujian dalam melakukan suatu ibadah, maka semakin tinggi nilainya oleh Allah. Dalam bermujahadah itu, Nashirul mengingatkan terutama para kader mudanya agar rajin dan bersemangat. Ia mengatakan, yang bikin seseorang malas, berat, dan mengantuk dalam beribadah adalah karena kebanyakan makan dan minum.

“Ketika berlebihan sahur, maka pasti paginya ngantuk,” ujarnya mencontohkan. Begitu pula kalau malam banyak makan, akan berpengaruh pada ibadah qiyamul lail. Jangan sampai, katanya, pada bulan suci Ramadhan, seseorang justru lebih banyak makan.

Kunci sukses berikutnya, harus ada kontrol. Tentu selain pasti ada kontrol dari Allah, Nashirul menyarakan setiap Muslim melakukan kontrol secara pribadi. Misalnya, dengan membuat daftar (list) terkait target-target ibadahnya selama Ramadhan. Hal ini katanya sebagai alat untuk muhasabah.

Kunci sukses Ramadhan berikutnya, tambah Nashirul, yaitu perlu adanya kafarat terutama bagi diri sendiri. Membayar kafarat untuk menghukum diri sendiri jika seseorang lalai melakukan suatu ibadah.

Ia mencontohkan apa yang telah dilakukan Sahabat Nabi, yaitu Umar bin Khattab. Suatu saat, Umar terlambat ashar karena sibuk mengurus kebunnya. Merasa dilalaikan, Umar pun menginfakkan kebunnya tersebut untuk umat.

Sesekali, ajak Nashirul, setiap Muslim mungkin perlu melakukan hal seperti itu. Misalnya, menginfakkan smartphone yang dimilikinya jika dirasa smartphone tersebut telah membuat lalai dalam ibadah.*