BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Peran dan kiprah TASK Hidayatullah yang terdiri dari Laznas Baitul Maal Hidayatullah dan juga Islamic Medical Service (IMS) tentunya akan selalu meningkatkan pelayanan serta selalu siaga dalam program ikut serta mencegah penyebaran virus Covid-19. dengan pelayanan tersebut, masyarakat bahkan pemerintah memberi perhatian lebih.
“TASK Hidayatullah (BMH dan IMS) akan terus bergerak dengan program sinergis berupa layanan penyemprotan disinfektan, produksi dan penyaluran hand sanitizer, hingga yang kini mulai diminati pihak pemerintah adalah Penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS),” terang Direktur Program dan Pemberdayaan BMH Pusat, Zainal Abidin, Jumat (3/4).
PHBS tersebut dilaksanakan di Kelurahan Bantarsari, Kecamatan Rancabungur, Bogor, Jawa Barat.
“Dalam pelaksanaan PenyuluhanPHBSitu hadir sebagai peserta penyuluh kesehatan setempat, kader penggerak PKK, dan sebagian dari ASN. Total ada 60 peserta,” imbuh Zainal.
Kegiatan itu dimaksudkan agar penggerak penyuluh kesehatan di tingkat kelurahan dapat melakukan sosialisasi lebih lanjut kepada masyarakat. “Sehingga tingkat pemahaman dan kewaspadaan masyarakat terhadap penyebaran wabah Covid-19 semakin baik dan lebih siap mengisi hari-hari dengan pola hidup bersih dan sehat,” ujarnya.
Zainal menambahkan, kegiatan tersebut dapat dilangsungkan dengan baik karena atas undangan pemerintah setempat.
“Jadi acara ini atas undangan atau permintaan dari pemerintah setempat, mengingat Jawa Barat termasuk wilayah yang menempati urutan kedua paling banyak terjangkit Covid-19 setelah DKI Jakarta. Sebagai lembaga yang selama ini terlibat dalam beragam program pencegahan, pemerintah setempat melihat BMH dan IMS tepat untuk dijadikan mitra dalam program penyluhan hidup bersih dan sehat,” tutupnya.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Bidang Ekonomi DPP Hidayatullah Asih Subagyo mendorong upaya pemantapan ketahanan pangan nasional. Hal tersebut dapat dimulai dalam lingkup komunitas warga negara.
Asih mencontohkan, Hidayatullah terus menguatkan gerakan pemberdayaan untuk penguatan ketahanan pangan tersebut dengan mendorong setiap kampus Hidayatullah memanfaatkan lahan yang ada agar diproduktifkan.
“Mari kita manfaatkan setiap jengkal tanah yang ada dengan menanam. Terutama tanamam pangan. Minimal untuk dikonsumsi keluarga sendiri. Penting juga untuk membentuk komunitas yang membangun ketahan pangan,” kata Asih dalam konferensi video Majelis Reboan melalui TeamLink, Rabu (1/4/2020).
Asih menyebutkan, Hidayatullah telah mengeluarkan Protocol Crisis berupa panduan bagi seluruh kader dan jamaah Hidayatullah terkait menghadapi wabah COVID-19 yang diperkirakan berjangka lama dan dapat mengakibabtkan krisis pangan.
Asih menjelaskan salah satu himbauan yang menurutnya sangat penting dilaksanakan adalah membentuk ketahan pangan di komunitas/ lingkungan pesantren Hidayatullah.Dia mencontohkan salah satu caranya menanam jenis tanaman kebutuhan pokok seperti cabai, sayur-mayur, ubia-ubian melalui pemanfaatan lahan yang dimiliki lembaga.
“Kampus Pesantren Hidayatullah Depok bisa menjadi contoh yang baik dengan pengolahan hidroponiknya,” jelas Asih.
Asih menyebutkan, organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mendifenisikan ketahan pangan menjadi tiga bagian utama, yaitu ketersedian pangan, akses pangan dan pemanfaatan pangan. Komponen keempat, yaitu kestabilan pangan. Asih menjelaskan bahwa untuk Hidayatullah sendiri sedang dalam tahap memenuhi keempat komponen tersebut.
“Kita sedang memenuhi keempat komponen tersebut. Makanya kita sedang menyusun strategi kemandirian pangan dan akan mengacu kesana. Dan, ada satu tambahan yang penting, yaitu pangan yang kita sediakan adalah yang halalan thoyyiban,” tukasnya. */Amanji Kefron
MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Di tengah wabah Corona yang melanda seluruh dunia, hal yang penting adalah menjaga imunitas. Setelah kita bermujahadah maksimal untuk terhindar darinya, toh jika virus tersebut bisa masuk ke dalam tubuh kita, kita tetap punya pertahanan diri.
Menurut Ust Abdurrahman Muhammad, Pimpinan Umum Hidayatullah, kita perlu menjaga tiga imunitas dalam menghadapi wabah coronavirus deases (COVID-19) ini.
“Dalam menghadapi Corona ini, kita harus memiliki tiga imunitas. Imunitas Rohani, imunitas sosial dan imunitas fisik,” ungkap beliau, Jum’at (3/4/2020).
Ia menjelaskan, imunitas Rohani yakni dengan memanfaatkan lockdown ini dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah. “Perbanyak dzikir, mengaji, dan ibadah sunnah lainnya,” terangnya.
“Jika seorang hafidz Qur’an, maka gunakan waktunya untuk murojaah. Gunakan waktu berdiam di rumah dengan amalan ibadah,” tambahnya.
Kemudian, imunitas sosial, yakni dengan banyak bersedekah. “Jangan ada pribadi yang mencari keuntungan di tengah wabah Corona, menimbun barang, dan kiki,” tegasnya.
“Harus banyak berbagi. Kalau beli barang, jangan lupa bagi ke tetangga,” imbuhnya. Beliau menganjurkan kita untuk banyak berbagi.
Menurutnya, membangun imunitas sosial ini sangat penting di tengah krisis yang bakal melanda. Kita harus menumbuhkan peduli terhadap sesama, ujarnya lagi.
Adapun imunitas yang ketiga adalah imunitas fisik. Dia mengatakan, dengan memperbaiki dan menjaga imunitas dalam diri kita masing-masing akan menghindarkan dari potensi tertular wabah.
“Saya baca di koran, banyak makan vitamin E dan C dapat melawan virus Corona, ayo perbanyak makan sayur dan buah,” pungkas beliau.*/ Sarmadani Karani
Covid-19 dibahasakan media sebatas pada sisi yang biasa-biasa saja. Headline beragam media massa, terutama cetak lebih banyak update perihal racikan dapur istana yang umumnya bernarasi tentang apa yang akan dilakukan oleh pemerintah dibanding terobosan solutif yang diperlukan.
Artinya, kaum muda tidak cukup punya referensi yang dibutuhkan untuk melihat selangkah lebih maju, perihal apa yang diperlukan pasca Covid-19 jika hanya mengandalkan media massa. Diskursus ini penting mengingat wabah ini bagaimanapun ganasnya, pasti akan berlalu. Dan, siap atau tidak, kaum muda akan diperhadapkan dengan tantangan baru.
Setidaknya ada lima hal yang setelah Covid-19 akan menyapa negeri kita, terutama kaum muda.
Pertama, semakin berkembangnya dunia digitial. Sekarang, walau pun pemerintah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masyarakat tidak begitu bergejolak, karena dalam beberapa hal bisa dipenuhi melalui dunia digital, mulai dari belanja, kepedulisan sosial, hingga produktivitas dunia kerja.
Disadari atau tidak, Work From Home yang kini berlaku akibat wabah Covid-19 akan menjadi semacam rujukan banyak pihak ke depan, ternyata banyak sisi dalam dunia kerja yang bisa dilakukan secara online alias digital.
Hal ini berarti ke depan akan banyak hal yang ditangani secara digital, dimana bangsa Indonesia, termasuk organisasi kepemudaan harus siap dengan kondisi itu. Termasuk di dalamnya soal keberadaan kader dengan skill data scientist, security data, dan development program yang mumpuni menjadi sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi.
Kedua, kompetisi dan penerimaan dunia kerja ke depan serta tuntutan perkembangan sosial ekonomi terhadap person akan sangat mungkin tidak lagi didasarkan pada gelar akademik, tapi skill dan integritas.
Dengan kata lain, penanaman nilai-nilai iman, adab, akhlak, moral dan segenap kepribadian yang positif yang dicontohkan oleh Nabi akan menjadi penentu seseorang diterima lebih baik dibanding sekedar yang punya skill tapi tidak beradab.
Ketiga, benarkah poin kedua dibutuhkan. Jawabannya pasti, sebab yang dimaksud skill, terutama skill lunak meliputi karakter, mulai dari akhlak dalam pergaulan yang meliputi kemampuan komunikasi (lisan dan tulisan) empati, perhatian, kreativitas, kolaborasi dan kepemimpinan menjadi hal yang disiapkan dari sekarang.
Artinya, sikap menang sendiri, merasa paling pintar akan menjadi sebuah kelucuan di masa depan. Maka, kemampuan berpikir jernih, berakhlak mulia dan siap berkolaborasi (artinya mau mendengar dan siap kerjasama) menjadi kunci sukses pemuda di masa mendatang.
Keempat, optimalisasi dunia digital untuk peningkatan skill kaum muda. Organisasi kepemudaan akan terus eksis dan dibutuhkan jika mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Satu di antara kebutuhan ke depan adalah tersedianya aplikasi atau setidak-tidaknya program yang dapat mengupgrade skill kaum muda secara online.
Kita tidak bisa pungkiri bahwa dunia akan semakin terkoneksi, maka pemuda harus memiliki program terobosan, misalnya dengan menerapkan Massive Open Online Courses (MOOCs) sebagai sarana edukasi, upgrading, dan bahkan rekrutmen anggota untuk lebih berwarna di tengah-tengah masyarakat.
Kelima dan ini yang paling inti membangun budaya belajar. Budaya belajar harus menjadi nafas sehari-hari, sehingga dari sekarang kemampuan membaca secara tajam dengan analisis yang kaya argumen harus sudah dimulai.
Orang akan memiliki gagasan, analisa, dan ide yang kaya argumen hanya bila dia mengerti apa itu Iqra’ bismirabbik sampai pada tahap operasionalnya dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh konkret kekinian, secara empirik, implementasi budaya belajar yang hidup dapat kita lihat dari pemerintahan Korea Selatan dalam mengatasi wabah Covid-19, sehingga negeri ginseng itu mampu menjadi negara tercepat dan akurat dalam menekan penyebaran wabah.
Menurut Kim Chang-heom yang merupakan duta besar Republik Korea untuk Indonesia mengatakan, pemerintahnya melakukan tiga langkah nyata. Pertama, melakukan tindakan cepat, yakni dengan melakukan pengembangan reagen hingga penerapan pemeriksanaan secara “drive-thru” sehingga dalam sehari bisa melakukan 18.000 pemeriksaan.
Kedua, strategi tes, trace and trat (3T) yakni lacak, uji, dan obati. Langkah ini menggunakan data GPS di ponsel mereka yang terbukti positif, disana terlihat dengan siapa dia berinteraski, kemana saja, sehingga bisa langsung diberikan anjuran agar orang yang prenah berinteraksi dapat melakukan karantina mandiri.
Ketiga, edukasi masyarakat yang tinggi, sehingga terjadi partisipasi sukarela yang menggembirakan.
Apakah Indonesia mampu bertindak seperti itu? Jawabannya sangat bisa, karena tinggal kesadaran dan tindakan. Tetapi, mudahkah membangun kesadaran itu? Di sinilah letak pentingnya budaya belajar (membaca) dan bertindak.
Dan, Islam punya konsep iqra’ bismirabbik yang jauh lebih mendalam, komprehensif dan sudah barang tentu mendatangkan banyak maslahat. Soalnya, sudahkah ini dipahami dan dijalankan dan menjadi budaya keseharian?
BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Direktur LBH Hidayattulah DR Dudung Amadung Abdullah, SH ingatkan masyarakat untuk menjaga diri dan Jari ditengah wabah Corona. Dengan merebaknya wabah corona ini, menurut Dudung, sangat penting menjaga diri dan meningkatkan imunitas, serta meningngkatkan iman kepada Allah SWT.
“Meningkatkan imun tubuh dengan pola hidup sehat dan mengikuti aturan-aturan dari petugas medis serta meningkatkan iman kita dengan cara terus menerus mendekatkan diri kepada Allah,” kata Dudung, Minggu (29/03/20).
Dalam kesempatan itu, Dudung berpesan, agar masyarakat bersama-sama menjaga jari. Karena, kata dia dengan pemberitaan wabah corona yang banyak tersebar dimana-mana jangan sampai terjerat hukum.
“Jaga jari kita jangan sampai menyebar berita-berita hoax, berita-berita bohong karena kawan-kawan bisa terjerat UU ITE No 19 Tahun 2016 sebagai pengganti dari UU No 11 Tahun 2008 tentang UU ITE,” imbuhnya.
Maka dari itu, jaga jari kita jangan sampai menyebar berita hoax karena kawan-kawan juga bisa terjerat UU No 1 Tahun 46 tentang peraturan hukum pidana. Kalau umpama ada berita cek & ricek saring sebelum shering kemudian cek validitas berita tersebut sumbernya dari mana apakah valid atau otoritatif atau tidak,” sambungnya.
Selain itu, Ia juga mengingatkan masyarakat untuk membedakan antara mengkritik dan membuly. “Jaga jari kita, jangan sampai ditengah wabah corona ini menghujat orang lain, menghina orang lain dan membuly orang lain. Bedakan antara mengkritik dan membuly, antara memberi masukan dan menghujat.
Karena, kata dia, ketika kita sudah menghujat, menghina kemudian membuly orang lain dengan steatement- steatement kita di media sosial atau dimana pun. Maka kemudian ada UU ITE, ada UU No 40 Tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi, UU No 1 Tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana yang dapat menjerat kita,” paparnya.
Sekali lagi “jaga diri kita, jaga jari kita jangan sampai karena genit menggunakan jari kita berujung kriminalisasi,” tegas Dudung. *BidikNusantara
Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah pada 7 Sya’ban 1441 H atau 1 April 2020 mengeluarkan Protokol Krisis Hidayatullah untuk dipahami dan dijalankan seluruh kader dan jamaah Hidayatullah terkait penanganan wabah covid19.
Berikut isi protokol yang ditandatangani oleh Ketum Umum DPP Hidayatullah tersebut:
Bismillahirahmahirrahim
“Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 9).
“Tidaklah beriman seorang di antara kamu hingga ia mencintai saudaranya, seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Muttafaqun ‘Alaihi)
Latar Belakang
Saat ini kita dan seluruh umat manusia di dunia sedang menghadapi wabah virus corona (corona virus decease / Covid-19) yang oleh Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization) telah ditetapkan sebagai Pandemi (wabah dunia).
Institut Teknologi Bandung (ITB) memprediksi puncak covid-19 akan mengalami pergeseran menjadi April hingga Mei. Hal ini disampaikan setelah adanya simulasi dan pemodelan sederhana penyebaran virus corona (covid-19) di Indonesia yang dilakukan oleh Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi (P2MS) Institut Teknologi Bandung (ITB) dan dikonfirmasi setelah terjadi penambahan positif corona yang terjadi di Indonesia. Prediksi yang sama juga disampaikan oleh Departemen Matematika Universitas Indonesia dan Universitas Negeri Sebelas Maret.
Banyak pihak baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang memprediksikan Indonesia akan menjadi Epicentrum wabah seperti Wuhan China karena lalai dan abainya pemerintah Indonesia mengantisipasi wabah ini sejak awal sehingga setelah menyebar tak terkendali pemerintah dan masyrakat dalam kondisi tidak siap.
Dari dunia medis dilaporkan bahwa mulai banyak orang yang mengalami gangguan psikosomatik (orang yang merasa khawatir berlebihan, merasa dirinya sakit namun sebenarnya tubuhnya tidak sakit) dan dikhawatirkan terjadi gelombang Anxiety disorder (gangguan kecemasan).
Wabah Covid-19 ini turut memperparah kondisi ekonomi karena kondisi makro ekonomi dalam negeri saat ini, tanpa terjadinya wabah Covid-19, telah menunjukkan gejala terjadinya krisis. Ditandai dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang USD dan mata uang lainnya, anjloknya IHSG dan yang terakhir adalah menurunnya pertumbuhan ekonomi, yang menurut Menteri Keuangan, skenario terburuknya adalah hingga 0%.
Dari latar belakang tersebut, Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah memandang perlu untuk menerbitkan Protokol Krisis Hidayatullah, sebagai panduan bagi seluruh anggota, kader, jama’ah, amal usaha dan badan usaha dan struktur organisasi, dari DPP, DPW dan DPD, sebagai berikut :
Cara terbaik untuk menghentikan wabah Covid-19 ini adalah membangun imunitas setiap pribadi secara optimal. Imunitas adalah cara tubuh menghadang serangan dari luar termasuk virus.
Imunitas bisa dilakukan dengan upaya bersifat fisik seperti meningkatkan higienitas diri, mulai dari cuci tangan, semprotan lingkungan, cara bersin, cara batuk, cara karantina atau isolasi bahkan cara berinteraksi yang mengharuskan menjaga jarak (physical distancing) bahkan dianjurkan untuk tetap tinggal di rumah (stay at home).
Imunitas tubuh justru bisa dilesatkan melalui upaya non-fisik. Imunitas meningkat saat spiritualitas meningkat. Bagi kader Hidayatullah, spiritualitas terus dipupuk setiap waktu melalui Gerakan Nawafil Hidayatullah, halaqah diniyah, halaqah kader dan dakwah fardiyah serta dalam kondisi saat ini yang mengharuskan tinggal di rumah dan menjaga jarak merupakan kesempatan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitasnya. Spiritualitas yang meningkat akan membangun ketenangan dan menguatkan kesabaran. Seperti perkataan seorang Ilmuwan Muslim,
“Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan”
Secara psikologis, setiap manusia cenderung akan lebih sehat jika dalam kondisi tetap bekerja. Semua kader Hidayatullah harus tetap produktif menjalankan amanahnya. Di rumah bisa tetap bekerja (work from home) dan manfaatkan teknologi untuk tetap berinteraksi dengan rekan kerja baik melalui group WA maupun menggunakan teknologi videoconference seperti Zoom, TeamLink, dll. Bagi yang tidak memungkinkan untuk work from home, bisa tetap bekerja seperti biasa namun dengan sungguh-sungguh mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan.
Nabiullah Muhammad SAW telah mengajarkan cara meningkatkan imunitas sosial, yaitu dengan salah satu akhlak yang dicontohkan oleh beliau yaitu perilaku Itsar, mendahulukan kepentingan orang lain dibandingkan kepentingan diriya sendiri.
Berbagai penelitian membuktikan bahwa saat Altruisme (Itsar) dikedepankan dan egoisme ditekan seminimal mungkin (mendahulukan selain dirinya, menebarkan apa saja yang bermafaat dari dirinya, bersegera membantu siapa pun yang membutuhkan) akan berdampak meningkatnya kebahagiaan yang kemudian meningkatkan imunitas hingga optimal sehingga dapat mengalahkan serangan dari luar tubuh termasuk virus. Demikian sebaliknya saat egoisme dikedepankan, kegelisahan pribadi dan sosial akan makin mencekam dan berdampak pada imunitas yang menurun.
Oleh karena itu, dalam kondisi krisis seperti ini maka kita akan menjauhi sikap yang mementingkan diri sendiri apalagi sikap yang mencari keuntungan dari kondisi seperti ini. Meski ada anggota dan kader yang secara ekonomi memungkinkan untuk melakukan, kita tidak akan melakukan panic buying membeli, memborong apalagi menimbun segala sesuatu hanya karena khawatir kehabisan sembako, dll. Kita juga tidak akan memperkeruh suasana seperti sikap egois yang mengalihkan rupiah ke dollar, membeli emas atau tindakan-tindakan lainnya yang membuat orang lain menjadi panik atau ekonomi negara semakin terpuruk.
Kondisi seperti saat ini adalah momentum yang paling tepat menunjukkan diri bahwa kita, Hidayatullah, adalah sebuah Al Harakah Al Jihadiyah Al Islamiyah. Waktu yang tepat bagi kita untuk beramal kebajikan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan ummat, agama dan bangsa.
Bangun kepedulian dari lingkungan terdekat, kampus-kampus Hidayatullah yang berjumlah 580 kampus. Upayakan untuk terlibat dalam setiap kegiatan yang menunjukkan bahwa kita peduli, terhadap tetangga-tetangga di sekitar lingkungan kampus yang penghidupannya terdampak, orang-orang yang rentan (orang tua dan orang yang mempunyai permasalahan kesehatan), dll baik yang diinisiasi oleh BMH, IMS, SAR, Pos Da’I, Tim Aksi Siaga kemanusian (TASK), lembaga-lembaga sosial lainnya maupun berinisiatif secara pribadi mengajak orang lain untuk melakukan gerakan kepedulian.
Setiap kader Hidayatullah adalah Da’I, maka sapalah ummat lebih sering dan lebih akrab meski tidak harus bertatap muka langsung, kabarkanlah harapan, bangkitkan optimisme, sampaikan peluang kita menang menghadapi pandemi global dan krisis ini. Ajak ummat lebih rileks dan lebih tawakal agar terbangun ketahanan masyarakat terhadap stress menghadapi kondisi saat ini. Saat ini adalah momentum bagi setiap Da’I Hidayatullah untuk mempersaudarakan ummat (Muakhah) seperti halnya Rasulullah mempersaudarakan para Muhajirin dan Anshar.
Adapun arahan khusus dan bersifat instruksi bagi seluruh anggota, kader, jama’ah, amal usaha, badan usaha dan struktur organisasi, dari DPP, DPW dan DPD, sebagai berikut :
1.Untuk Anggota, kader dan Jama’ah
a. Berhemat dan melakukan pengeluaran atas yang penting dan mendesak
b. Menghindari pengeluaran yang tidak perlu
c. Mempersiapkan ketersediaan makanan (bukan menimbun), terutama makanan pokok untuk beberapa bulan kedepan
d. Dilarang melakukan panic buying (membeli dengan tujuan menimbun) dan rush money melakukan penarikan uang yang besar-besaran di bank
e. Memperbanyak infaq dan sedekah
f. Tidak dianjurkan untuk melakukan spekulasi dengan menukarkan dollar atau membeli emas, dengan tujuan untuk mencari keuntungan
g. Memanfaatkan lahan yang dimiliki sebesar apapun ditanami dengan tanaman-tanaman produktif sebagai bagian dari menjaga ketersediaan pangan, misal sayuran dan sejenisnya.
h. Belanja ke warung kecil terdekat
i. Selalu menyediakan uang cash secukupnya
2.Untuk Amal Usaha dan Badan Usaha
a. Melakukan penghematan dengan cara meninjau ulang pos-pos pengeluaran untuk menjaga cashflow.
b. Merevisi dan mengevaluasi ulang pos-pos penerimaan dan memastikan bahwa pemasukan terjaga dengan baik
c. Bagi amal usaha Pesantren, melakukan persiapan ketersediaan makanan di pesantrennya untuk beberapa waktu tertentu, bukan dalam rangka untuk menimbun
d. Memperbanyak kegiatan sosial yang bisa dilakukan : bazar makanan murah (dengan tetap memperhatikan physical distancing), jika perlu menyediakan makanan murah/gratis
e. Memanfaatkan tanah yang dimiliki oleh amal usaha/badan usaha dan ditanami dengan tanaman pangan.
f. Bekerjasama dengan berbagai pihak untuk membantu mempersiapkan ketersediaan pangan, misal : dengan menanam tanaman di lahan-lahan kosong.
g. Dilarang melakukan spekulasi dengan menukar rupiah dengan dollar (kecuali memang untuk pembayaran/keperluan usaha), dan juga membeli emas untuk tujuan mencari keuntungan
h. Dilarang melakukan ekspansi usaha terutama yang terkait dengan peminjaman dana dari pihak ke-3 (perbankan atau lembaga pembiayaan lainnya)
i. Melakukan negosisasi/restrukturisasi pinjaman bagi amal usaha/badan usaha yang memiliki pinjaman di lembaga keuangan
j. Selalu menyediakan uang cash secukupnya
k. Saling bekerjasama antara amal usaha dan badan usaha
3. Untuk Struktur Organisasi DPP, DPW dan DPD
a. Melakukan penghematan dengan cara meninjau ulang pos-pos pengeluaran untuk menjaga cashflow. Mata anggaran yang tidak penting, dipending atau dicoret dari anggaran
b. Merevisi dan mengevaluasi ulang pos-pos penerimaan dan memastikan bahwa pemasukan terjaga dengan baik di APBO (Anggaran Pendapatan dan Belanja Organisasi)
c. Mengalihkan penghematan dana dari pos-pos anggaran tersebut sebagai DanaCadangan Organisasi
d. Bekerjasama dengan berbagai pihak untuk melaksanakan kegiatan sosial seperti : bazar makanan murah (dengan tetap memperhatikan physical distancing), jika perlu menyediakan makanan murah/gratis
e. Dilarang melakukan spekulasi dengan menukar rupiah dengan dollar dan juga membeli emas untuk tujuan mencari keuntungan
f. Bendahara selalu menyediakan uang cash secukupnya, untuk kepentingan mendesak (dana taktis) dan selalu menyediakan saldo di rekening yang aman dan dijamin LPS
g. Bekerjasama dengan berbagai pihak untuk menyiapkan ketahanan pangan, dengan memproduktifkan lahan-lahan yang ada dengan skala yang masif.
Demikian Protokol Krisis Hidayatullah menghadapi kondisi wabah virus corona dan krisis ekonomi. Hal-hal yang perlu dibreakdown, dibuatkan Juknis dan Juklak akan disiapkan oleh bagian terkait. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
MEMUPUK amal shalih semestinya dilakukan sejak muda. Dengan begitu, perjalanan hidup kita akan sarat dengan amal kebaikan sebagai syarat mencapai khusnul khatimah, akhir kehidupan yang baik. Namun, kalau usia ditakdirkan sampai lanjut, lalu belum juga menyadari pentingnya memupuk amal baik, tentu ini suatu musibah dan perlu diingatkan.
Tidak sedikit orang yang mendapat petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika usia senja. Tapi karena dia mampu manfaatkan seluruh waktu sisanya untuk beramal baik, akhirnya bisa mendapatkan khusnul khatimah.
Orang tersebut sangat mensyukuri petunjuk yang diperoleh itu. Dia terima sebagai satu karunia besar sebagai bukti kasih sayang Allah kepadanya. Dia begitu ngeri membayangkan betapa celakanya seandainya masih berlarut-larut dalam kezhaliman sampai tiba ajalnya.
Kalau seseorang memperturutkan keinginan hawa nafsu, sampai kapanpun tidak akan berhenti. Tidak sedikit orang yang sampai tua tidak pernah berpikir untuk melakukan amal baik sebagai bekal paling berharga untuk hari esok yang abadi. Tidak memanfaatkan uangnya, misalnya, untuk membantu kesulitan orang lain dan kemaslahatan umat.
Kegembiraannya adalah bila harta bendanya terus bertambah. Dengan sejumlah harta yang dimiliki itu, alangkah indahnya kalau sebagian disalurkan kepada orang-orang miskin. Jelas, itu berarti membahagiakan sekian banyak orang sekaligus bakal mendatangkan ganjaran di sisi Allah.
Tentu saja tidak dilarang mencari dan meraup apa saja yang mampu diperoleh, asal dengan cara yang benar dan tidak bakhil. Orang bakhil diancam oleh Allah dengan neraka.
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-sekali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam huthamah (neraka).” (Al-Humazah: 1-4)
Sebenarnya, selain ancaman kecelakaan di akhirat yang sudah sangat pasti, di dunia inipun orang tersebut akan merasakannya. Sejumlah uang dan harta yang dikumpulkan akan mengganggu pikiran dan perasaannya dikala sudah renta. Sebab pada saat seperti itu, kebutuhan terhadap makanan yang enak-enak sudah menurun. Demikian pula keinginan untuk berjalan-jalan, misalnya, sudah terganggu oleh mata yang makin kabur. Pendengaran juga sudah tidak jelas. Lalu apa yang bisa dinikmati dan dibangga-banggakan?
Malah bisa jadi anak dan cucunya akan bergantian datang memperbodohnya agar dapat menguras seluruh harta kekayaannya!
Rakus dan Panjang Angan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan, “Anak cucu Adam akan menjadi tua renta, namun ada dua hal yang masih tetap bersamanya, yaitu rakus dan panjang angan-angan.” (Riwayat Muslim)
Oleh karena itu, kedua hal di atas tidak boleh dituruti. Itu adalah tantangan yang harus dilawan dengan keimanan dan keyakinan yang terpatri di dalam jiwa. Sebagai orangtua, siapapun harus berpikir positif. Kecenderungan untuk rakus terhadap dunia hendaknya dibendung dan diredam. Apalagi kalau kebiasaan menipu dan meraih kekayaan dengan manipulasi masih dipertahankan, na’udzu billahi min dzalik.
Angan-angan yang masih jauh beterbangan untuk membangun istana yang lebih indah daripada yang ada sekarang, hendaknya sudah diikat dan diarahkan kepada cita-cita untuk mendapatkan istana di surga. Untuk itu, memiliki harta di usia lanjut itu adalah karunia yang harus disalurkan ke jalan yang diridhai Allah. Hal lain yang tak kalah penting adalah memanfaatkan waktu untuk banyak berdzikir, merenung, dan istighfar.
Kehidupan Abu Dzar Al-Ghiffari, salah seorang sahabat Nabi, sangat patut dijadikan pelajaran. Pada usia tuanya, dia memilih tinggal di sebuah kemah yang jauh dari keramaian. Hari-harinya lebih banyak diisi dengan puasa, dzikir, membaca, dan berpikir.
Seorang sahabat mengunjunginya lalu bertanya, “Dimana kekayaan duniamu?”
Dia menjawab, “Aku tidak membutuhkan dunia di rumahku. Bukankah Rasulullah telah berpesan kepada kita bahwa, ‘Di depan nanti akan ada tantangan yang sangat berat dan hanya orang yang tidak dibebani dunia yang mampu melewatinya’?”
Syaikhul Islam Ibnu Thaimiyyah, di masa tuanya tidak punya rumah, kekayaan, pangkat, dan kedudukan. Tempat tinggalnya cuma sebuah kamar kecil yang menempel di Masjid Jami’ Bani Umayyah. Sehari hanya makan sepotong roti, pakaiannya hanya dua lembar, dan terkadang tidurnya di masjid. Tapi dia ceritakan tentang dirinya, “Surgaku ada di dalam dadaku, kematianku adalah syahid, penjara bagiku adalah tempat merenung, dan pengusiran diriku adalah sebuah perjalanan wisata.”
Mungkin kehidupan seperti itu sulit kita ikuti. Tapi, marilah menyadari betapa indahnya kehidupan orang yang tidak diperbudak oleh dunia. Demikianlah kondisi orang yang telah mampu mematri iman di dalam dadanya dan mengerti hakikat hidup yang sebenarnya. Yang demikian ini kebahagiaannya jauh melebihi orang-orang yang masih mudah tertarik gebyar dunia.
Sikap yang Tepat
Apa yang mesti diperbuat terhadap harta benda yang kita genggam di usia senja? Cara yang paling tepat adalah memanfaatkan itu semua untuk kepentingan hari akhirat. Sungguh menjadi hiburan yang paling membahagiakan manakala kita mampu menginfakkan harta dan uang kepada orang yang sangat membutuhkan. Tentu ia akan sangat senang menerimanya. Sama dengan orang yang mentransfer ilmunya lalu orang itu memanfaatkannya untuk kemaslahatan diri, rumah tangga, dan masyarakat.
Di usia senja, semestinya jadwal ibadah sudah tidak lepas dari ingatan. Tiada lagi hari tanpa shalat jamaah, tiada hari tanpa dzikir dan renungan, tiada hari tanpa membaca al-Qur`an, tiada hari tanpa diisi dengan shalat-shalat sunnat, tiada hari tanpa bersedekah dan menolong orang. Hari-harinya juga akan selalu digunakan untuk merekam dan merenungi kejadian di sekelilingnya tentang musibah, kecelakaan, kematian dan peristiwa-peristiwa lain.
Musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Nanggroe Aceh Darussalam baru-baru ini tentu sangat patut direnungi. Allah hanya perlu waktu 20 menit untuk menghilangkan ratusan ribu manusia dan menghancurkan bangunan-bangunan di Aceh. Untuk merehabnya, butuh waktu minimal lima tahun. Itupun hanya dari segi fisik. Sementara manusianya sudah kehilangan begitu banyak hal; kehilangan masa lalu karena tidak ada lagi arsip dan dokumen yang tertinggal, dan kehilangan masa depan karena tak ada lagi harta warisan yang tersisa.
Kontrol Amal dan Ibadah
Dalam beramal, hati harus dijaga agar tetap dalam koridor ketulusan dan keikhlasan. Suka dipuji dan disanjung-sanjung, senang pamer dan doyan publikasi, itu semua harus sudah ditinggalkan.
Pelaksanaan ibadah mahdhah juga harus selalu dikontrol. Sudah benarkah menurut tuntunan sunnah? Kalau ada orang yang menunjukkan paham yang lebih benar dengan landasan yang cukup kuat, mengapa tidak diterima dengan penuh kesadaran walaupun paham yang kita anut telah lama dipegang. Jangan malah orang yang mengingatkan itu dimarahi dan diomeli. Sesungguhnya orang tersebut ingin menyelamatkan kita dan untuk mendapatkan pahala dari Allah.
Alangkah indah kehidupan yang berujung dengan khusnul khatimah. Kepergiannya akan dikenang sepanjang masa. Namanya selalu disebut-sebut karena kebaikannya akan sulit terlupakan. Turunannya akan kecipratan kebaikan, dan itu merupakan tambahan nilai yang dapat memberatkan timbangan kebaikan.
Mari kita renungi sabda Nabi, “Orang beriman jika meninggal, dia beristirahat dari kepayahan dunia dan segala gangguannya menuju kepada rahmat Allah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Kematian, kata Nabi, adalah hadiah Allah kepada orang beriman. Demikian hadits yang diriwayatkan Dhailamiy.*/ Manshur Salbu/SAHID
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Direktur Persaudaraan Dai Indonesia (Posdai) Ust Ahmad Suhail menyampaikan pesan kerelawanan nasional dalam rangka menghadapi coronavirus disease (COVID-19) yang penyebarannya masih mengkhawatirkan.
Ahmad Suhail mengatakan serangan Covid-19 telah menimbulkan kesusahan hidup dan kematian di mana-mana. Dia menyebutkan, yang paling banyak menjadi korban tentu saja adalah orang-orang yang lemah: orang-orang tua yang imunitas tubuhnya telah menurun; orang-orang miskin yang harus bekerja hari ini untuk makan hari ini, esok entah bagaimana.
Apalagi untuk ongkos berobat; dan orang-orang yang memiliki penyakit dalam tubuhnya, yang akan makin parah hingga menyebabkan kematian bila terhinggapi virus.
Suhail pun menyampaikan pesan kerelawanan nasional yang menyerukan kesadaran kolektif untuk melakukan pencegahan wabah ini.
“Prinsip yang diajarkan Nabi saw dalam menghadapi wabah menular semacam covid-19 ini adalah masing-masing tidak beranjak dari tempatnya agar wabah tidak semakin meluas. Yang diluar tidak boleh masuk, yang di dalam tidak boleh keluar,” kata Suhail dikutip dari artikelnya “Halau Wabah dengan Cinta” di laman Persaudaraan Dai Indonesia, Rabu (1/4/2020).
Tentu saja akibat dari perintah tak beranjak tersebut memiliki dampak tak sederhana, orang tidak bisa kemana-mana. Namun, apakah dalam kondsisi terjepit itu berarti kita tidak dapat berbuat kebaikan?
“Justru di saat inilah amal-amal utama itu terlahir. Seringkali kepedulian itu muncul di tengah kekurangan. Peduli itu tanda cinta. Cinta itu teruji ditengah krisis,” imbuhnya seraya mengutip hadits Nabi ”Atasilah kesulitan rizkimu itu dengan memperbanyak shadaqah”.
“Sikap terbaik yang dapat diambil di tengah wabah ini adalah hendaknya setiap orang berlomba untuk ber-shadaqah,” tegasnya.
Suhail mengatakan, shadaqah itu tidak harus berwujud uang, namun bisa berbagai macam kebaikan. Dan jika tidak ada lagi kebaikan yang mampu dia lakukan, maka menahan diri dari perbuatan buruk itu termasuk shadaqah, sebagaimana terang Nabi saw dalam sabdanya.
Maka, terangnya, yang mampu hendaknya menolong yang tidak mampu: tenaga, pikiran, finansial, logistik, obat-obatan atau yang lainnya. Yang tidak mampu tidak perlu berkecil hati.
“Dengan berusaha menahan diri untuk tidak menjadi beban dan menambah runyam permasalahan itu sudah cukup membantu. Itu sudah shadaqah. Itu pemberian. Itulah yang akan melahirkan kebahagiaan, karena kebahagiaan sesungguhnya itu muncul pada saat memberi, bukan pada saat menerima,” kata Suhail.
Menurutnya, jika setiap orang dapat menjauhkan kekikiran dalam dirinya dan saling peduli, maka inilah yang akan mengundang kemenangan dan pertolongan dari Allah.
“Cinta selalu berbalas cinta. Itu sudah menjadi jaminan dari-Nya, sebagaimana yang disampaikan lewat lisan Rasul-Nya yang mulia shallallahu ‘alaihi wassalam, Allah akan senantiasa menolong seorang hamba, selama ia mau menolong saudaranya,” pungkas Suhail seraya menukil hadits Nabi diriwayatkan oleh Imam Muslim tersebut.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sebagaimana kita ketahui bersama, Yayasan Jayakarta Fathan Mubiina (JFM) yang selama ini konsisten melakukan pembinaan ruhani pengemudi ojek online (ojol), turut bergerak membantu mereka menghadapi masa-masa sulit di tengah kebijakan Sosial Distancing yang memengaruhi pendapatan mereka.
Pada Selasa (31/3) pagi, bertempat di markas Yayasan JFM, The Jayakarta House, kembali terlaksana penyaluran bantuan kepada mereka berupa paket kebutuhan pokok. Bantuan yang kali ini berasal dari Yayasan Baitul Mal (YBM) PLN ini berisi beras, mie instan, ikan sarden, minyak goreng dan gula pasir.
Demi memperluas manfaat, paket sembako yang berjumlah 50 paket ini turut dibagi kepada beberapa pengemudi baru yang belum terdata sebagai binaan Yayasan JFM.
“Alhamdulillah. Hari ini Yayasan JFM diamanahkan oleh YBM PLN untuk membagikan paket kebutuhan pokok kepada 50 driver ojol, yang kesemuanya insyaallah berkomitmen untuk taat beribadah, serta siap bersinergi dan ngaji bareng Yayasan JFM,” ujar ustadz Amin Insani, ketua Yayasan JFM, dalam keterangannya.
Selain itu, turut dibagikan pula sebotol Hand Sanitizer. “Biar saudara-saudara kita driver ojol tetap terjaga kebersihannya dan terhindar dari ancaman penyebaran virus Corona dalam melakukan aktifitas,” tambah ustadz Amin.
Rully Driver Gojek asal Bogor menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya kepada YBM PLN yang sudah memberi bantuan, dia berharap keberkahan dan sehatan terus menyertai para donatur.
“Terimakasih atas sumbangan sembako nya, Semoga Allah balas segala kebaikan para donatur di sehat kan selalu dan di beri keberkahan dalam hidup nya,” kata Rully. (ADR)
Akhir akhir ini kita di hebohkan dengan mewabahnya virus covid 19, hampir seluruh negara dibuat kalang kabut dengan satu makhluk Allah yang tidak nampak tapi begitu membahayakan ini. Menurut situs resmi Worldi Health Organization (WHO) virus corona atau covid-19 adalah penyakit menlar yang disebabkan oleh Coronavirus. Virus ini pertama kali ditemukan di Wuhan, China. Di Indonesia hingga hari ini, ada 1.414 kasus positif COVID-19 di Indonesia, tersebar di 31 provinsi. Total kasus meninggal dunia menjadi 122 orang. Total kasus positif yang sembuh ada 75 orang.
Gejalanya ditandai dengan batuk kering, sesak napas, yang kemudian dapat menimbulkan kematian. Virus ini menyerang imunitas tubuh. Seseorang yang terkena virus ini akan tetapi memiliki imunitas tubuh baik dapat sembuh dengan sendirinya, namun orang tua dan orang-orang yang punya riwayat penyakit akan sangat mudah terserang virus ini.
Salah satu cara meretas penyebaran covid 19 ini dengan Lockdown baik individu dan jama’ah, walaupun pemerintah daerah tidak memiliki wewenang serta menunggu intruksi pemerintah pusat mengenai keputusan lockdown, banyak daerah maupun komunitas lingkungan melakukan lockdown mandiri atau lockdown local. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya informasi mengenai keputusan lockdown local yang tersebar di berbagai media social. Walaupun pemerintah pusat belum mengeluarkan himbauan lockdown, himbauan untuk tidak mengadakan keramaian dalam bentuk apapun dicoba diterapkan pemerintah. tentunya hal ini demi kemaslahatan bersama.
Menjaga jarak intraksi antar satu dengan lainnya pun dijaga, jikalau sebelumnya kita terbiasa tegur sapa dan bersalaman saat bertemu ,kali ini dengan adanya wabah virus covid-19 hal ini harus dijaga. Tentu saja bukan bermaksud membatasi budaya ramah tamah yang baik, akan tetapi mencegah adanya sesuatu hal yang tidak diinginkan demi keselamatan dan kebaikan bersama. Bukan pula bermaksud saling mencurigai, tapi juga mengoreksi diri bisa saja diri kita sendirilah yang terjangkit virus covid-19.
Semoga virus segera berlalu dari kita semua, dan kita dijauhkan dari wabah covid 19 ini. Mari saling menjaga dan menguatkan. Mencegah bersama-sama penyebaran virus dengan berdiam diri di rumah, tidak keluar rumah kecuali keadaan mendesak, rajin mencuci tangan dengan sabun , tidak malas berganti pakaian, dan menjaga imunitas tubuh dengan mengkonsumsi makanan bergizi dan olahraga ringan. Lockdown dengan berdiam diri di rumah bersama keluarga tentunya dapat kita gunakan untuk lebih mempererat kehangatan hubungan antar anggota keluarga, mendampingi anak-anak bermain dan belajar serta terkhusus lagi mengajak dan mengajar keluarga ibada berjama’ah di rumah.
Najamuddin, M.Pd. Ketua DPD Hidayatullah Luwu Timur