SELAYAR (Hidayatullah.or.id) — Asisten Pemerintahan Setda Kepulauan Selayar Drs. Suardi meresmikan gedung Tahfizhulqur’an Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah di Kampung Bontokatimbang, Dusun Cinimabela, Desa Parak, Kecamatan Bontomanai, Sulawesi Selatan, Selasa (3/3/2020).
Pembangunan gedung tahap pertama ini telah dinyatakan selesai yang berakte notaris Yayasan Qaryatan Mubaraqah Kepulauan Selayar.
Selain meresmikan gedung tersebut, Asisten Pemerintahan sekaligus melakukan peletakan batu pertama pembangunan ruang kelas belajar (RKB) serta peresmian pondok ruang mengaji yang ditandai dengan pengguntingan pita.
Selain Bupati yang diwakili oleh Asisten Pemerintahan, hadir pula Camat Bontomanai Zulfikri, Ketua DPW Pesantren Hidayatullah Sulawesi Selatan Drs Mardhatillah, pimpinan pesantren Hidayatullah Selayar Drs. Massiara, Kapolsek, Babinsa dan donatur Pesantren Hidayatullah Kabupaten Kepulauan Selayar.
Dalam sambutannya, Asisten Pemerintahan mengatakan dalam sistem pendidikan nasional pesantren menempati posisi yang tidak kalah penting dibanding dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Oleh sebab itu di era otonomi, pendidikan sekarang ini menghendaki Pondok Pesantren memainkan perannya secara maksimal.
“Dengan demikian pesantren memiliki potensi besar dalam bidang pendidikan keagamaan dan sosial. Itu dapat ditingkatkan peran dan partisipasinya secara lebih aktif lagi. Sedangkan dalam rangka pemberdayaan masyarakat diantaranya peran Pondok Pesantren adalah sebagai agen perubahan sosial dan agen pembangunan,” kata Suardi.
Meski demikian lanjut Asisten Pemerintahan, di era otonomi seperti saat sekarang, pesantren tetap juga berfungsi sebagai lembaga tafaqquh fiddin atau sarana untuk melaksanakan perintah Allah, tetapi juga berfungsi sebagai lembaga kontrol sosial terhadap perubahan – perubahan nilai, budaya dan norma sosial yang terjadi di masyarakat.
Dari uraian tentang pesantren tersebut kata Suardi maka sejalan dengan visi Kabupaten Kepulauan Selayar yaitu terwujudnya masyarakat maritim yang dejahtera berbasis nilai agama dan budaya.
Sementara Ketua DPW Pesantren Hidayatullah Sulsel Drs Mardhatillah mengatakan, ada dua program utama pondok Pesantren Hidayatullah adalah pendidikan (tarbiyah) dan dakwah yang bisa berkaloborasi dan bersinergi dengan pemerintah.
Dengan semakin berkembang zaman, Pesantren Hidayatullah, kata Mardhatillah, hadir di Kabupaten Kepulauan Selayar ini dapat membantu para generasi muda kita atau membimbing meraka dari perilaku yang tidak baik menjadi labih barakhlak, “makanya Hidayatullah tampil membenahi generasi kita ini,” jelas Mardatillah. (ybh/hio)
USIANYA sangat muda, namun mimpinya tak biasa. Bukan pundi-pundi Rupiah yang ia bayangkan, melainkan kampung peradaban.
Sejak belia memang punya tekad, sehingga langkahnya tak pernah gontai apalagi lunglai. Ia menatap tajam, bergerak lincah, dan berbicara penuh optimisme.
Tanpa sosok itu, mungkin Indonesia belum bisa mengenal Hidayatullah, selain dari sebuah kata yang artinya “Hidayah Allah.” Sosok muda itu adalah Abdullah Said.
Amin Rais menyebutnya sebagai man action (manusia pekerja). Manusia yang dalam 24 jamnya berpikir bagaimana bergerak yang menghasilkan progresivitas dakwah dan tarbiyah, sehingga beliau dikenal sosok yang semenit pun dilalui dengan kebaikan-kebaikan. Oleh karena itu, dalam sejarahnya beliau selalu mampu menghadirkan spirit optimisme, bahkan dalam situasi sulit dan sengsara.
“Kesengsaraan bisa jadi akan melahirkan satu motivasi yang cukup tinggi yang pada akhirnya berubah bentuk menjadi energi,” tulis beliau dalam bukunya Kuliah Syahadat (lihat halaman 130-131).
Dalam kata lain, orang tidak akan mau berjuang, berkorban, apalagi sampai rela merasakan hidup sengsara jika tidak ada visi besar dalam hidupnya.
Kenapa sekarang istilah baper, sakit hati dan galau kerap hadir, karena memang manusia enggan untuk rela berkorban, apalagi sampai mau sengsara.
Padahal, kalau ada iman, diikuti visi dan komitmen mengisi kehidupan dengan kebaikan, sebuah kesengsaraan seperti beliau tegaskan adalah ruang untuk mendapatkan energi positif.
“Bila energi-energi itu dihimpun dalam suatu wadah, maka akan berubah menjadi sinergi. Dari sana akan lahir sebuah revolusi,” lanjut Ustadz Abdullah Said dalam buku Kuliah Syahadat.
Sejak kemarin (5/3/2020) salah seorang kader muda Hidayatullah yang didapuk menjadi Sekretaris Jenderal Pemuda Hidayatullah memulai tahap awal pengorbanan atas amanah besar itu.
Kutangkap betapa berat ia menjalankan semua ini. Tetapi iman, visi, kesadaran, jiwa kekaderan lebih ia kuatkan dibandingkan dengan kenyamanan kekinian.
“Nampaknya hidup sengsara ini sangat perlu pada awal-awal perlangkahan. Ada instrumen ruhaniyah kita yang dapat diaktifkan secara efektif hanya dengan melalui hidup yang serba tidak menyenangkan itu.”
Semua itu jika dibingkai oleh iman dan kesadaran akan menjadi asbab lahirnya etos kerja keras, militansi, dan daya juang.
“Inilah target sampingan yang hanya bisa diperoleh melalui hidup sengsara,”tegas Ustadz Abdullah Said.
Jika demikian, mengapa tidak kita rela melakukan semua ini dengan kesadaran. Toh, dalam bahasa manajemen kekinian, sengsara itu adalah investasi penting untuk menjadi manusia yang bahagia secara seutuhnya. Allahu a’lam.*
SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya akan menggelar final “Hidayatullah Mathematics and Science Olympiad (HiMSO)” ke-IV di Kampus Pendidikan Hidayatullah Surabaya, Jl. Kejawan Putih Tambak VI/1 Surabaya pada 08 Maret 2020.
Bertema “Gali Potensi, Raih Prestasi”, kegiatan ini akan dihadiri oleh sedikitnya 1.000 peserta yang lolos seleksi dari berbagai rayon seluruh Indonesia. Tercatat ada 56 rayon, mulai dari rayon Batam di ujung barat, hingga rayon Timika di ujung timur Indonesia.
Kompetisi tahunan berskala nasional ini melombakan dua mata pelajaran, yakni Matematika dan IPA tingkat SD/MI dan SMP/MTs. Babak penyisihan telah digelar serentak pada 19 Januari 2020.
Peserta yang lolos di babak penyisihan berhak mewakili rayon masing-masing di babak final. Peserta adalah pelajar tingkat SD/MI dan SMP/MTs, berasal dari sekolah negeri maupun swasta seluruh Indonesia.
Acara ini, didesain sebagai bagian dari usaha turut mewujudkan tujuan pendidikan nasional sebagaimana amanat pasal 3 Undang Undang Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003.
Intinya, agenda tahunan ini, adalah “salah satu instrumen yang memiliki peran untuk mengembangkan kualitas pendidikan dan potensi peserta didik melalui kompetisi,” tutur H. Syamsuddin, SE, MM – Ketua Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya.
Besar harapan, kegiatan ini bisa berperan mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter peserta dengan baik yang pada gilirannya dapat berkontribusi kepada terbangunnya peradaban bangsa yang bermartabat. Yakni, sebuah peradaban, yang diwarnai oleh manusia-manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta bertanggung jawab.
Sementara itu, menurut Adi Purwanto, M.Pd selaku Ketua Panitia HiMSO IV-, mengatakan acara bernuansa kompetisi dan silaturrahim ini, tidak hanya untuk peserta didik yang bernaung di bawah lembaga pendidikan Hidayatullah saja tetapi juga untuk siswa seluruh Indonesia.
“Kompetisi ini merupakan sarana pembinaan yang menitikberatkan pada pengembangan intelektual. Juga, melatih jiwa berkompetisi dan mengasah mental juara,” terang Adi Purwanto.
Beberapa kegiatan yang akan digelar untuk turut memeriahkan babak final ini, di antaranya adalah bazar pendidikan, education fair, pagelaran seni pendidikan mulai dari nasyid, science perform, dan sejumlah acara menarik lainnya.
“Cita-cita besar kami adalah ikut andil dalam melahirkan ilmuwan-ilmuwan yang mampu mengangkat harkat dan martabat Indonesia. Semoga langkah kecil ini, menggenapi gerak langkah dunia pendidikan Indonesia,” pungkas Adi Purwanto seraya meminta doa agar gelaran final ini berjalan sukses dan lancar. (cakrud/hio)
BOGOR (Hidayatullah.or.id) — Search and Rescue (SAR) Hidayatullah akan menggelar Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) di Pusat Dakwah Hidayatullah, Jl. Cipinang Cempedak 1/14 Otista Polonia, Jakarta.
Rapimnas III ini akan dirangkai dengan kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Lanjutan di kompleks Villa Qur’an Hidayaturrahman, Kaki Gunung Bunggalow, Ciawi, Bogor. Rangkaian kegiatan ini akan dilaksanakan pada 19-22 Maret 2020 mendatang.
Agenda tahunan ini bertema “Sinergi dan Konsolidasi Nasional untuk Mewujudkan Visi SAR Nasional Hidayatullah”, akan dihadiri oleh sedikitnya 150 peserta.
Selain Pengurus pusat SAR Hidayatullah, kegiatan ini akan diikuti oleh 18 Pengurus Wilayah (PW) SAR Hidayatullah seluruh Indonesia. Mulai dari PW SAR Hidayatullah Kepulauan Riau di ujung barat Indonesia, hingga Papua di ujung Timur Indonesia menyatakan kesiapan kehadirannya.
“Selain pengurus pusat dan wilayah, kegiatan ini akan diikuti oleh anggota SAR Hidayatullah yang telah mengikuti Diklat dasar dan pernah ditugaskan di medan bencana,” kata Ketua Komandan Pusat SAR Hidayatullah, Abbas Usman yang dalam keterangannya diterima media ini, Kamis (05/02/2020).
Abbas menjelaskan, tujuan kegiatan ini sebagai wadah koordinasi, konsolidasi, evaluasi, dan sosialisasi program strategis satu tahun ke depan. Khusus untuk kegiatan Diklat Lanjutan dimaksudkan untuk meng-up grade kemampuan seluruh anggota SAR Hidayatullah di bidang Navigasi Darat.
“Instrumen paling penting dan strategis untuk menjalankan fungsi Tim SAR adalah terus berlatih dan berlatih meningkatkan kemampuan dan kecakapan skill dalam penanganan misi kemanusiaan,” kata Abbas dalam keterangan tertulisnya.
SAR Hidayatullah merupakan badan pendukung ormas Hidayatullah yang concern dalam mengkoordinasi dan memobilisasi sumberdaya dalam tanggap darurat bencana, mitigasi, kewaspadaan dini dan rehabilitasi pasca bencana. Sehingga dituntut untuk selalu siap dan siaga menghadapi tantangan kebencanaan di level lokal, nasional, bahkan global.
Abbas juga menjelaskan, SAR Hidayatullah hadir dalam rangka ikut meningkatkan sumber daya manusia, mewujudkan masyarakat madani, melestarikan bumi, menopang masyarakat yang ber-Bhineka Tunggal Ika, kehidupan bermasyarakat yang rukun dan damai dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah SAR Hidayatullah Jawa Timur, Alim Puspianto, menambahkan, Rapimnas III ini adalah ajang silaturrahim sekaligus sarana edukatif untuk pengurus dan anggota SAR dari seluruh Indonesia.
“Rapimnas dan Diklat Lanjutan ini merupakan sarana pembinaan yang menitik beratkan pada sinergi program dan gerak langkah serta peningkatan skill diri peserta, baik sisi mental, fisik, intelektual, spiritual dan sosial anggota sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat,” kata Alim yang juga pengurus PW Pemuda Hidayatullah Jawa Timur ini.
Pengurus Wilayah SAR Hidayatullah Jawa Timur berencana memberangkatkan potensi relawan dari unsur kemahasiswaan dan anggota SRU wilayah yang menjadi mitra sinergi program SAR Hidayatullah di Jawa Timur.
Kegiatan Rapimnas III dan Diklat Lanjutan ini akan dihadiri berbagai unsur bidang kebencanaan. Diantaranya dari TNI, Polri, Badan SAR Nasional (Basarnas), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Tokoh Inspiratif Peduli Kemanusiaan, Departemen Sosial Pusat Hidayatullah, Baitul Maal Hidayatullah (BMH), Tim Aksi Sosial Kemanusiaan (TASK), dan Islamic Medical Service (IMS).*/cakrud
NGAWI (Hidayatullah.or.id) — Sebagai lembaga penyemaian generasi yang mencetuskan motto “Pendidikan Integral Berbasis Tauhid, maka sudahlah tentu menjadi komitmen Hidayatullah bersama segenap stakeholder untuk selalu meneguhkan penanaman nilai-nilai agung ajaran Islam dalam setiap aktifiti di lingkungan pendidikan.
Hal demikian diantaranya dilakukan oleh SD Integral Hidayatullah Ngawi, Jawa Timur, yang belum lama ini menyelenggarakan kegiatan Market Day bertajuk Aku Jujur Dalam Berdagang.
Ketua panitia kegiatan Market Day SD Luqman Al Hakim Ngawi, Ustadzah Nur Hasanah, mengatakan dengan kegiatan ini mengajarkan anak jujur sejak dini, mencontoh akhlak nabi yang jujur dalam berdagang. “In syaa Allah akan membentuk pembiasaan yang akan menjadi karakter anak,” kata Hasanah.
Menurut Hasanah, karakter jujur dan amanah saat ini mungkin telah menjadi sesuatu yang “mahal” dan langka. Sungguh miris menyaksikan rentetan kejahatan rente di negeri ini. Apalagi pelaku korup ini tidak saja oleh masyakarat kelas bahwa namun umumnya juga mereka yang bergelimang harta.
“Mungkin memang mental rakus yang mendasari berbuat keji, akibatnya sifat jujur dan amanah seolah menguap tak berbekas pada diri. Itu yang menjadi pertimbangan pentingnya penanaman adab penguatan karakter jujur dalam diri sejak dini,” imbuh Hasanah.
Kegiatan market day yang digelar cukup meriah di komplek sekolah Jalan Panjaitan No.20 B, Kamis (27/02) pagi ini berupa jual-beli antar siswa SD Luqman Al Hakim yang bertujuan untuk melatih anak bermuamalah, menumbuhkan jiwa wirausaha, mengajarkan anak nilai-nilai kebersamaan dan yang terpenting adalah menanamkan karakter jujur sejak dini.
Diterangkan Hasanah, dalam ajaran Islam, jujur merupakan sifat yang sangat terpuji. Suri tauladan terbaik umat Islam, Muhammad Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wassalam, sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul, telah menunjukan sifat terpuji itu.
“Maka di kalangan bangsa Quraish waktu itu, Nabi Muhammad diberi gelar al-amin, yang artinya orang yang dapat dipercaya,” ujarnya.
Dalam beberapa tulisan sejarah, Muhammad Rasulullah disebutkan saat usia 12 tahun Nabi SAW telah turut serta dalam perjalanan berniaga bersama pamannya, Abu Thalib. Kemudian pada saat usai remaja, disebutkan pada usia 17 tahun, Muhammad SAW telah memimpin sebuah ekspedisi perdagangan ke luar negeri.
Syaikh Shafiyyur-Rahman al-Mubarakfurry dalam buku Sirah Nabawiyah menyebutkan, dalam berdagang, nabi dikenal dengan setinggi-tingginya nilai amanah, nilai kejujuran, dan sikap menjaga kehormatan diri. Inilah karakter beliau di segenap sisi kehidupan, hingga diberi gelar al-amin.
Melihat sekilas sirah di atas, Muhammad juga menjalani fase berdagang saat usai 12 tahun hingga mendapat gelar al-Amin, tentu bukan sesuatu yang instan terjadi.
“Karakter harus dibentuk sejak dini. Apa lagi kita sebagai umatnya, sebagai manusia biasa maka wajib hukumnya membiasakan karakter jujur dan amanah sejak dini,” kata Hasanah.
Penanaman karakter jujur dan amanah sejak dini disadari Ustadzah Nur Hasanah sebagai hal penting dan mendasar dalam menyiapkan generasi Rabbani yang jujur dan amanah di masa mendatang.
“Sekolah Dasar adalah dasar pendidikan anak ke jenjang berikutnya. Kita mempersiapkan masa depan mereka dua puluh tahun yang akan datang,” tukas Hasanah.
Dia menambahkan, di SD Luqman Al Hakim Ngawi ini, sebagai sekolah berbasis tauhid, selain mengajar, guru juga berposisi sebagai pendiidk dan juru dakwah yang setiap materi yang diajarkan memuat pesan-pesan Al Qur’an dan Sunnag.
Guru Kelas SD Luqman Al Hakim Ngawi ini berharap melalui kegiatan ini diharapkan mampu membiasakan anak untuk bersikap jujur, amanah dan penyayang.
Terlihat pada saat kegiatan, dengan sabar para pedagang, yang merupakan murid kelas atas (kelas 4-6) SD Luqman Al Hakim Ngawi, melayani pembelinya dari adik kelas SD, adik-adik TK maupun wali murid yang datang dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.
Sikap jujur ditunjukkan oleh para pedagang maupun pembeli di kegiatan itu. Para pedagang cilik dengan jujur menyampaikan dagangan apa adanya. Tidak ditutup-tutupi, jika masakannya baru disampaikan baru, jika tidak maka disampaikan tidak. Para pembeli juga dengn jujur menghitung dan membayar apa yang dibelinya.
“Bukan semata jumlah keuntungan nominal yang dituju dari kegiatan ini. Tapi pembentukan mental karakter jujur inilah yang penting,” pungkas Hasanah.*/Galih Pratama Yoga
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Ragam program Baitul Maal Hidayatullah (BMH) terus digagas untuk melayani umat, Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan tuntutan paling mendasar bagi kemajuan bangsa dan negara ke depan. Oleh karena itu BMH perwakilan Kalimantan Timur (Kaltim) terus meningkatkan minat baca anak, salah satunya Program Rumah Baca, sebuah program yang hadir di tengah masyarakat dalam upaya mencerdaskan anak bangsa.
Dengan menyediakan fasilitas perpustakaan mini dengan kombinasi kegiatan rumah qur’an, bimbingan belajar dan keterampilan tangan, tentunya ini menjadi kegiatan yang positif dan bermanfaat bagi anak-anak, khususnya bagi anak-anak yang berada di perkampungan kurang mampu. Laznas BMH Perwakilan Kaltim terus melakukan inovasi program dimaksud dalam ragam pendekatan program, di antaranya melalui Program Rumah Baca.
“Ini adalah program yang BMH hadirkan di tengah masyarakat
dalam upaya mencerdaskan anak bangsa. Dengan menyediakan fasilitas perpustakaan
mini dengan kombinasi kegiatan rumah Quran, bimbingan belajar dan keterampilan
tangan, tentunya ini menjadi kegiatan yang positif dan bermanfaat bagi
anak-anak, khususnya bagi anak-anak yang berada di perkampungan kurang mampu,”
terang Kepala Divisi Program dan Pemberdayaan BMH Kaltim, Muhammad Rofiq (2/3).
Pendayagunaan dana infaq melalui program ini sangat terasa manfaatnya. Misalnya anak-anak yang berada di lingkungan Jl. Manunggal, Balikpapan. Tentunya aktifitas sehari tidak lepas dari bermain dan jualan koran di lampu merah. Kebiasaan itu kini berubah dengan adanya kegiatan rumah baca, anak-anak semakin aktif belajar dan beribadah juga berprestasi, saat ini hampir seluruh anak-anak yang berada di Jl. Manunggal tercatat kurang lebih 106 anak aktif dalam kegiatan tersebut, begitu juga dengan kegiatan yang dilakukan di wilayah lainnya.
Dalam program ini, BMH bekerjasama relawan dari Komunitas Mudah Mengajar. Ihsan, Ketua KMM ini bercerita, bahwa anak-anak semakin mudah diarahkan semenjak BMH mengadakan kegiatan rumah baca seperti ini.
“Alhamdulillah, anak-anak lingkungan sekitar semakin rajin
belajar, kreatif dan aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang kita lakukan,”
ucapnya.
Demikian juga salahsatu relawan Ibu Eliati, yang biasa
menemanin anak-anak di daerah kampung baru merasakan manfaatnya.
“Sebelumnya anak-anak disini agak sulit sekali untuk arahkan
dan diajak bergabung mengikuti kegiatan, anak-anak lebih memilih bermain dan
berenang di pesisir pantai dari pada ikut kegiatan namun. Dengan usaha dan
kesabaran Alhamdulillah anak-anak kini semakin aktif mengikuti kegiatan dan
semakin kreatif dalam membuat sebuah karya sederhana dari bahan daur ulang,
selain itu yang tadinya belum hafal juz amma, kini pelan-pelan mereka sudah
menghafalnya”, kata Eli.
SEORANG kawan bercerita, selama satu tahun ia berkendara ke mana-mana tanpa sedikit pun merasa khawatir. Ia menjelajahi jalanan di kota-kota yang dikunjunginya tanpa takut ditilang oleh polisi lalu lintas.
Sampai pada suatu hari, ia dicegat oleh polisi dan saat itu baru tahu jika SIM-nya sudah mati sejak setahun sebelumnya. Ia hanya diam termangu-mangu. Ternyata, selama ini ketenangannya tidak dibangun di atas pijakan yang valid. Ia memang tenang, tapi sebenarnya tertipu.
Bagaimana jika masalahnya lebih gawat dibanding urusan dokumen berlalu-lintas di jalan raya? Bukankah akan sangat mengerikan jika kita mengalami hal-hal semacam ini?
Misalnya, dalam urusan kehidupan beragama untuk perjalanan menuju akhirat. Sebab, ketertipuan jenis terakhir ini bisa jadi tidak disadari sekarang. Ia baru diketahui secara pasti tatkala berhadapan dengan Allah di Hari Perhitungan, pada saat penyesalan tidak lagi berguna dan segala alasan tidak bisa diterima begitu saja.
Allah menyinggung kisah orang-orang yang tertipu ini dalam Al-Qur’an. Perhatikan firman-Nya dalah surah al-Kahfi: 103-105:
“Katakanlah: “Maukah kalian Kami beritahu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan-Nya. Maka terhapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian pun bagi (amalan) mereka pada Hari Kiamat nanti.”
Betapa banyak orang yang hidupnya tulus dan penuh pengabdian, namun sebetulnya ia tidak mengabdi kepada Allah. Bisa jadi, ia justru mengarahkan pengabdiannya kepada perusahaan-perusahaan dan majikan-majikan duniawi. Dedikasinya luar biasa, pengorbanannya sangat besar, dan kesungguhannya telah menginspirasi banyak orang.
Bahkan ia rela menomerduakan keluarga, kerabat, kawan, dan tanah airnya. Sayangnya, sekali pun tidak terbetik nama Allah di hatinya, sehingga amalnya akan menguap bagaikan fatamorgana di gurun sahara.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Dan orang-orang kafir itu amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. An-Nuur: 39).
Lalu, apa sebenarnya yang membuat manusia-manusia seperti ini tertipu sedemikian rupa, sehingga tidak menyadari kesia-siaan amalnya kecuali setelah segala sesuatunya amat-sangat terlambat?
Menurut Al-Qur’an, penyebab pertamanya adalah tidak mau menuruti bimbingan Allah dan merasa cukup dengan kemampuannya sendiri. Pada saat itulah, setan akan menempel di hatinya dan menjadi penasehat utama dalam seluruh urusan hidupnya. Maka, sangat boleh jadi, pilihan-pilihannya terlihat hebat dan mengagumkan, namun sesungguhnya tidak bernilai sedikit pun di mata Allah.
Allah menjelaskannya dalam surah az-Zukhruf: 39-40,
“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (yakni, Al-Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkannya). Maka, setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu sungguh menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. Sehingga apabila orang-orang yang berpaling itu datang kepada Kami (di Hari Kiamat), dia pun berkata: “Aduhai, semoga (jarak) antara aku dan kamu (yakni, setan) seperti jarak antara timur dan barat.” Maka, setan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia). (Harapanmu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu di hari itu, karena kamu telah menganiaya (dirimu sendiri). Sesungguhnya kamu bersekutu dalam azab itu. Maka, apakah kamu dapat menjadikan orang yang pekak bisa mendengar atau (dapatkah) kamu memberi petunjuk kepada orang yang buta (hatinya), dan kepada orang yang tetap dalam kesesatan yang nyata?”
Keberpalingan dari bimbingan Allah seringkali tidak memberi efek langsung terhadap kehidupan duniawi seseorang. Bahkan, sangat boleh jadi seseorang yang kafir lagi durjana menikmati kehidupan yang sangat nyaman dan lapang. Wajahnya tetap rupawan, rumahnya terlihat megah, kendaraannya semakin mengkilat, uangnya pun bertambah banyak. Bahkan, ia menjadi idola dan dikerumuni banyak orang, atau memiliki massa melimpah dan dielu-elukan khalayak ramai di mana pun ia hadir.
Hanya saja, jangan tanya bagaimana nasibnya di akhirat nanti. Sebagaimana Allah katakan dalam surah al-Kahfi diatas, “Kami tidak mengadakan suatu penilaian pun bagi (amalan) mereka.”
Menurut al-Hafizh Ibnul Jauzi dalam Tafsir Zaadul Masir, maksud pernyataan ini adalah: mereka tidak dianggap samasekali, tidak memiliki nilai dan kedudukan sedikit pun di sisi Allah. Na’udzu billah!
Saat ini, ketika Allah masih memberi kesempatan dan waktu, ada baiknya kita menyelisik bagian-bagian hidup kita, satu demi satu.
Bertanyalah kepada diri sendiri, tentang pernikahan kita, anak-anak kita, pekerjaan kita, rumah kita, kendaraan kita, gelar-gelar pendidikan yang kita sandang, jabatan-jabatan yang kita emban, dan segala atribut maupun status yang kita miliki.
Untuk siapakah semua itu? Bila nama Allah tidak terbetik di sana, atau bahkan tidak layak disebut-sebut karena statusnya yang haram dan nista, segeralah berhenti.
Sangat boleh jadi segala ketenangan kita selama ini hanyalah tipuan-tipuan setan yang hendak melalaikan dari jalan yang lurus. Berbenahlah, sebab Allah sangat gembira melihat hamba-hamba-Nya yang mau memperbaiki diri. Wallahu a’lam.
KOTABARU (Hidayatullah.or.id) — Bupati Kabupaten Kotabaru H. Sayed Jafar Al-Idrus, S.H hadir membuka Rapat Kerja Daerah Gabungan (Rakerdagab) DPD Hidayatullah se-Kalimantan Selatan (Kalsel) sekaligus meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan Masjid Ar Riyadh, Jalan Trans Kalseltim RT.11/5, Liang Kalih, Desa Sungai Kupang, Kecamatan Kelumpang Hulu, Kabupaten Kotabaru, Kalsel, Sabtu (29/2/2020).
Bupati H. Sayed Jafar Al-Idrus dalam sambutannya menyampaikan apreiasi kepada Hidayatullah dengan banyak jaringan pesantren dan amal usahanya, dalam perannya membangun kawasan tersebut terutama dalam bidang dakwah dan pendidikan demi lahirnya sumber daya insani yang kuat dan berimtak.
“Hidayatullah harus terus maju ditandai dengan pengembangan inovasi dakwah. Demikian ujga dengan pembangunan fisik Pondok Pesantren Hidayatullah Kotabaru,” kata Bupati.
Bupati menambahkan, pihaknya berkomitmen untuk selalu mendukung setiap program yang dicanangkan oleh Hidayatullah dalam rangka menunjang pembangunan kawasan Kotabaru secara yang memiliki visi kemandirian menuju masyarakat yang berkualitas dan sejahtera.
Menurut Bupati, dengan penguatan dari aspek pendidikan, pembinaan spritual, moral, dan mental serta penguatan ketahanan keluarga diharapkan akan melahirkan masyarakat yang berkualitas dan sejahtera.
Dia pun berharap Hidayatullah turut menguatkan peran dalam bidang ekonomi dan sosial kemasyarakatan dalam rangka mewujudkan struktur ekonomi yang berdaya saing dengan konsep pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
“Pemerintah akan senantiasa mendukung penuh program pendidikan dan dakwah Hidayatullah Kotabaru ke depan,” ujar Bupati seraya mendoakan Rakerda Gabungan Hidayatullah se-Kalsel berjalan lancar dan melahirkan hasil yang memberi manfaat secata luas.
Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Ust. Mursalin Ukasya, S.Pd.I selaku ketua panitia dan pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Kotabaru yang menjadi tuan rumah Rakerda Hidayatullah se-Kalsel ini, menyampaikan progres dan tujuan Hidayatullah Kotabaru dihadirkan.
“Hidayatullah hadir di Kotabaru telah melakukan kerja nyata dalam bidang dakwah dan pendidikan sebagai manifestasi dari amanah dan tanggungjawab yang di bebankan di pundak kami,” kata Mursalin.
Selain itu, Mursalin melanjutkan, Pondok Pesantren Hidayatullah terlibat dan turut aktif meringankan beban pemerintah daerah dalam bidang pembangunan sumberdaya insani khusnya bidang pendidikan dan dakwah.
“Alhamdulillah, sudah lima tahun ini Hidayatullah berkhidamat untuk masyarakat Kotabaru,” ungkapnya dalam penutup sambutannya.
Kemudian dalam sambutan kedua yang disampaikan oleh ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Selatan Ust H. Mushaddiq, S.Pd.I menyampaikan apresiasi kepada ketua DPD Hidayatullah Kotabaru terhadap apa yang telah dicapai.
“Hidayatullah Kotabaru dalam 5 tahun berkhidmat ini merupakan cabang yang memiliki pertumbuhan yang pesat. Apalagi sudah hadir bangunan-bangunan seperti sekolah, rumah guru, dan musholla,” ujar Mushaddiq.
Mushaddiq mendorong kepada jajaran DPD Hidayatullah Kalimantan Selatan untuk terus menguatkan dakwah sebagai mainstream gerakan serta mengokohkan pendidikan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari gerakan dakwah Hidayatullah.
Pada kesempatan tersebut Bupati Kabupaten Kotabaru H. Sayed Jafar Al-Idrus sekaligus juga meresmikan penggunaan gedung TPA Daarul Qur’an Hidayatullah Kotabaru yang ditandai dengan penandatanganan prasasti. Kemudian rangkaian acara tersebut diakhiri ramah tamah.
Dalam perhelatan tersebut, turut hadir pula Asisten I Pemkab Kotabaru beserta rombongan eselon II dan III, Camat Kelumpang Hulu, Kepdes Sungai Kupang, Polsek dan Koramil Kelumpang Hulu dan peserta Rakerdagab Hidayatullah Se- Kalimantan Selatan. Hadir pula tokoh masyarakat, tokoh agama, pimpinan pimpinan perusahan dan undangan serta masyarakat sekitar kampus. (ybh/hio)
SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Pada mulanya Qorun, saudagar yang amat kaya di masa Nabi Musa AS, bersedia membayar zakat atas hartanya yang amat banyak. Apalagi ketika Nabi Musa AS memberitahu bahwa bagian dari harta yang akan diambil untuk zakat tersebut amat sedikit. Hanya seperseribu saja.
Namun, ketika dihitung berapa nilai seperseribu dari seluruh hartanya, Qorun terperangah. Ternyata banyak juga. Sikap kikirnya muncul. Ia tak bersedia membayarkan zakat meskipun telah diminta oleh Nabi Musa.
Rupanya Qorun tidak dididik untuk kaya. Dia tidak siap menjadi kaya. Dia enggan berbagi karena tak mau kehilangan hartanya. Fenomena seperti ini, ungkap Ust Dr Nashirul Haq, ketua umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, saat memberikan materi pada acara Usroh Akbar di Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur, 1 Maret 2020, bisa menghinggapi siapa saja.
Ketika penyakit kikir menghinggapi manusia, maka ia mulai berhitung-hitung untung dan rugi, bahkan untuk urusan akhirat sekalipun. Padahal, berniaga dengan Allah Ta’ala tak akan pernah merugikan manusia.
Karena itulah, kata Nashirul, manusia harus dilatih untuk mau berbagi. Jika tak dilatih dan tak dibiasakan, maka terjadilah apa yang menimpa Qorun. Meskipun cuma diminta seperseribu dari apa yang kita punya, tetap akan terasa berat. Padahal persentasinya amatlah kecil.
Berinfaq secara konsisten adalah cara paling efektif untuk membentuk karakter rela berbagi. “Meskipun jumlahnya tak banyak, tapi jika konsisten dilakukan setiap hari, insya Allah akan terbentuk karakter berbagi,” jelas Nashirul.
Program berinfak lewat Gerakan Nawafil Hidayatullah yang diharuskan kepada semua kader Hidayatullah adalah salah satu cara membangun karakter ini. Semua kader Hidayatullah harus terbiasa berinfaq, baik dalam keadaan susah atau pun lapang. Jika karakter ini sudah terbentuk, maka ringan sekali kita untuk berbagi.
Nashirul mencontohkan kisah seorang dai yang tinggal di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kalimantan Timur. Ia bukanlah orang kaya. Kerjanya hanya menanam pisang. Namun tiap hari ia selalu berinfaq. Jumlahnya pun tak sedikit. Dalam sebulan, ia bisa berinfak lebih dari Rp 300 ribu.
Suatu hari, cerita Nashirul, dai itu datang dan berkata kepadanya. “Ustad, saya berdoa supaya Allah memberikan saya rezeki supaya bisa membantu membangun kubah Masjid Ar Riyadh sendirian saja.” Masjid Ar Riyadh adalah masjid besar berkapasitas lebih dari 5 ribu jamaah yang berdiri di tengah Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak. Saat itu pembangunan kubah masjid belum selesai dan butuh biaya sangat banyak.
Inilah gambaran kesiapan berkorban seorang yang telah tumbuh karakter berbagi pada dirinya. Ia berdoa agar dikaruniai rezeki yang banyak, tapi bukan untuk dirinya sendiri. Ia amat berkebalikan dengan karakter Qorun yang kikir. */Mahladi
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) secara resmi telah menyampaikan laporan kinerja tahun 2019.
“Sehubungan dengan telah berakhirnya tahun kerja 2019 dan berdasarkan beberapa aturan baik dari pihak pemerintah maupun BAZNAS yang menjelaskan tentang kewajiban lembaga pengelola zakat wajib membuat dan menyampaikan laporan atas pengelolaan zakat, maka sebagai bentuk pertanggungjawaban BMH sebagai salah satu Laznas yang telah mendapatkan legalitas sesuai dengan regulasi yang berlaku, pada hari Jumat, 28 Februari 2020 menyampaikan laporan kinerja BMH tahun 2019 secara langsung ke kantor Baznas Pusat,” terang Wakil Direktur Utama BMH Pusat, Supendi
Pihak Baznas yang hadir dan menerima laporan BMH tersebut adalah Direktur Utama Baznas, M Arifin Purwakananta; dan Direktur Operasi, Wahyu TT Kuncahyo beserta staf jajarannya.
Dalam kesempatan itu, Baznas memberikan apresiasi kepada BMH atas penyampaian laporan secara rutin kepada Pemerintah melalui Baznas.
“Ini sebagai bagian dari kepatuhan terhadap regulasi dan amanah UU dalam hal pengelolaan zakat yang ada di negara kita,” ungkap Direktur Utama Baznas, Arifin Purwakananta.
Tidak lupa, Arifin memberikan apresiasi atas capaian-capaian kinerja BMH dan program-program keumatannya yang konkret di masyarakat dan terus berkelanjutan.
“Secara pribadi, saya telah menyaksikan sendiri program yang dilakukan BMH melalui jejaringnya di berbagai peloksok Nusantara. Salah satunya ketika saya berkunjung ke daerah Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah ada program BMH di sana, dan juga di berbagai peloksok daerah yang pernah saya kunjungi. Ke depannya, diharapkan semua Lembaga Amil Zakat yang ada memiliki spesialisasi program unggulan, walaupun seluruh bidang program tentunya tetap dilakukan. Hanya saja ada spesialisasi dan unggulan, dan BMH sudah melakukan hal tersebut, spesialisasi pada program dakwah di pelosok,” urainya.
Pada Tahun 2019 Penghimpunan Laznas BMH mencapai Rp 206,31 miliar, atau terdapat peningkatan sebesar 38,42 persen dari tahun 2018.
“Terima kasih kepada masyarakat, umat yang mempercayai BMH untuk ikut serta membangun bangsa dan negara melalui gerakan zakat. Terima kasih pula kepada Baznas, Kemenag dan pemerintah secara umum atas pengawasan dan bimbingan yang diberikan, sehingga BMH dapat terus menjalankan fungsi keumatan dengan baik,” tutup Supendi.