Beranda blog Halaman 48

Pemerintah Daerah Apresiasi Peran Hidayatullah Kaltara dalam Penguatan Sumber Daya Manusia

0

MALINAU (Hidayatullah.or.id) — Staf Ahli Aparatur dan Pelayanan Publik Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara, Dr. Ir. Syahrullah Mursalin, M.P, yang mewakili Gubernur Kalimantan Utara Dr. H. Zainal A. Paliwang, S.H., M.Hum, menyampaikan apresiasi terhadap konsistensi Hidayatullah sebagai organisasi kemasyarakatan yang secara fokus dan berkelanjutan bergerak di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial.

Pernyataan tersebut disampaikannya saat membuka secara resmi Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Kalimantan Utara di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Malinau yang dibuka pada Sabtu, 19 Sya’ban 1447 (7/2/2026).

Dalam sambutannya, Syahrullah Mursalin menilai keberlanjutan program Hidayatullah menjadi nilai penting di tengah tantangan pembangunan daerah. Ia menyampaikan bahwa Provinsi Kalimantan Utara memiliki kondisi geografis yang beragam dan tantangan akses layanan di sejumlah wilayah.

Ia menyebut, sinergi antara pemerintah daerah dan organisasi kemasyarakatan relevan untuk memperkuat upaya pembangunan. Syahrullah menegaskan bahwa kehadiran Hidayatullah selaras dengan arah pembangunan daerah yang menempatkan penguatan sumber daya manusia sebagai salah satu prioritas.

Rakerwil Hidayatullah Kalimantan Utara juga dihadiri oleh Wakil Bupati Malinau, Jakariah, S.E., M.Si. Dalam kesempatan tersebut, Jakariah menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas kontribusi Hidayatullah dalam pembangunan sumber daya manusia di Kabupaten Malinau.

Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Malinau memiliki komitmen untuk memastikan tidak ada anak yang terputus dari akses pendidikan.

Menurut Jakariah, pemerintah daerah menanggung seluruh kebutuhan pendidikan anak-anak di Malinau, mulai dari biaya sekolah hingga perlengkapan belajar. Ia menyebutkan bahwa saat ini sekitar 20.000 anak memperoleh jaminan pendidikan dari pemerintah kabupaten. Selain itu, Pemkab Malinau juga menjalankan program desa sarjana, dengan pembiayaan penuh bagi ratusan mahasiswa setiap tahun.

“Investasi terbaik adalah investasi pada manusia. Jika kita berinvestasi pada fisik, suatu saat akan rusak. Namun investasi pada manusia akan memberikan manfaat sepanjang hayat,” ujar Jakariah dalam sambutannya.

Jakariah juga menyampaikan harapan agar Rakerwil Hidayatullah Kalimantan Utara dapat menghasilkan program kerja yang sejalan dengan visi pembangunan nasional dan daerah.

Ia menekankan pentingnya keselarasan tersebut dalam rangka berkontribusi terhadap pencapaian Indonesia Emas 2045. Dalam penyampaiannya, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga harmonisasi sosial, kebersamaan, serta sikap saling menghormati di tengah keberagaman masyarakat Kalimantan Utara.

Sementara itu, dalam kapasitasnya mewakili Gubernur Kalimantan Utara, Syahrullah Mursalin menyampaikan bahwa pemerintah provinsi membuka ruang kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk organisasi kemasyarakatan.

Syahrullah menyebutkan bahwa pembangunan di wilayah perbatasan memerlukan kerja sama lintas sektor agar tantangan geografis dan keterbatasan layanan dapat direspons secara efektif. Dalam konteks tersebut, peran organisasi yang memiliki jaringan akar rumput dinilai relevan.

Forum ini diharapkan Syahrullah dapat memperkuat peran organisasi dalam bidang pendidikan, dakwah, dan sosial, sekaligus memperluas kontribusinya dalam pembangunan masyarakat di Kalimantan Utara.

Kabid Pelayanan Umat Sebut Kehadiran Hidayatullah Wujud Syukur atas Nikmat Indonesia

0

MALINAU (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Pelayanan Umat, Shohibul Anwar, M.H.I, menegaskan bahwa kehadiran Hidayatullah merupakan wujud kepedulian sekaligus rasa syukur atas nikmat besar yang Allah SWT anugerahkan kepada Indonesia sebagai negeri yang luas, kaya, dan berpenduduk besar.

Pernyataan tersebut disampaikannya saat memberikan arahan dalam pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Kalimantan Utara di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Malinau yang dimulai pada Sabtu, 19 Sya’ban 1447 (7/2/2026).

Shohibul Anwar memaparkan gambaran umum kondisi Indonesia sebagai negara dengan bentang geografis yang sangat luas. Ia menyampaikan bahwa luas wilayah Indonesia dapat disejajarkan dengan jarak dari Turki hingga Kepulauan Inggris.

Selain itu, Indonesia memiliki keragaman yang sangat besar dengan ribuan bahasa daerah dan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 80 persen penduduk memeluk agama Islam.

Namun demikian, ia juga menyampaikan bahwa tantangan umat masih cukup besar, termasuk fakta bahwa mayoritas umat Islam di Indonesia belum mampu membaca Al-Qur’an.

Shohibul Anwar menjelaskan bahwa realitas tersebut menjadi dasar kehadiran dan peran Hidayatullah di tengah masyarakat. “Di sinilah Hidayatullah hadir sebagai gerakan pelayanan umat melalui pendidikan, dakwah, dan sosial yang berkelanjutan,” ujarnya di hadapan peserta Rakerwil.

Ia kemudian memaparkan kondisi dan capaian pelayanan Hidayatullah di wilayah Kalimantan Utara. Menurutnya, hingga saat ini Hidayatullah telah hadir di lima kabupaten dan kota di provinsi tersebut. Kehadiran itu diwujudkan melalui jaringan lembaga pendidikan yang lengkap, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga jenjang Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Ia menyampaikan bahwa sistem pendidikan yang dikembangkan tidak bersifat tunggal, melainkan menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Shohibul Anwar menjelaskan bahwa model pendidikan Hidayatullah mencakup sekolah berbayar, sekolah dengan biaya terjangkau, serta sekolah gratis. Skema tersebut diterapkan sebagai bentuk keberpihakan kepada masyarakat kurang mampu agar tetap memperoleh akses pendidikan.

Selain pendidikan formal, ia juga menyampaikan bahwa Hidayatullah mengembangkan Sekolah Dai sebagai pusat kaderisasi dakwah. Seluruh alumni perguruan tinggi Hidayatullah dipersiapkan melalui lembaga tersebut untuk menjadi pendakwah yang siap terjun langsung ke tengah masyarakat.

Di bidang sosial, Shohibul Anwar menyampaikan bahwa Hidayatullah telah menginisiasi program Sekolah Lansia. Program ini diselenggarakan baik dalam bentuk berasrama maupun non-berasrama. Ia menjelaskan bahwa Sekolah Lansia dirancang agar para lanjut usia dapat mengisi masa tua dengan aktivitas yang bermakna dan membahagiakan.

Selain itu, Hidayatullah juga memiliki unit Search and Rescue (SAR) yang aktif terlibat dalam penanganan kebencanaan di berbagai wilayah Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Shohibul Anwar menekankan pentingnya perumusan program kerja yang matang dan terukur. Ia menyampaikan bahwa setiap program yang dirancang harus berorientasi pada dampak nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Hidayatullah hadir bukan sekadar hadir. Semakin besar manfaat yang dirasakan masyarakat, maka semakin kuat kepercayaan dan pengaruh dakwah yang dibangun,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Shohibul Anwar juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara serta pemerintah kabupaten dan kota atas dukungan dan kerja sama yang telah terjalin selama ini.

Ia mengingatkan seluruh kader Hidayatullah untuk terus menjaga sinergi dengan pemerintah dan seluruh komponen masyarakat. Menurutnya, tugas dakwah merupakan tanggung jawab bersama seluruh umat Islam.

Menutup arahannya, Shohibul Anwar menyampaikan permohonan maaf kepada para kader di daerah atas keterbatasan yang dimiliki oleh pengurus pusat dalam memenuhi kebutuhan sumber daya insani dan layanan lainnya.

Hidayatullah Kaltara Teguhkan Peran Strategis Dakwah dan Pendidikan dalam Pembangunan Daerah

0

MALINAU (Hidayatullah.or.id) – Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Kalimantan Utara yang dimulai pada Sabtu, 19 Sya’ban 1447 (7/2/2026) menjadi momentum konsolidasi strategis dalam memperkuat peran dakwah, pendidikan, dan pelayanan umat sebagai bagian integral dari pembangunan daerah.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kalimantan Utara, Muh. Irsan Sulaiman, mengatakan kegiatan ini menegaskan pentingnya sinergi antara organisasi kemasyarakatan, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat dalam mewujudkan Kalimantan Utara yang maju, religius, dan berkeadaban.

Irsan Sulaiman dalam sambutannya menekankan bahwa visi dan misi pembangunan Kalimantan Utara tidak akan dapat diwujudkan secara optimal tanpa kolaborasi yang kuat dan berkelanjutan antara pemerintah provinsi, DPRD, serta organisasi kemasyarakatan.

Menurutnya, pembangunan tidak semata-mata soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut pembangunan manusia dan nilai-nilai spiritual masyarakat. Dalam konteks inilah, Hidayatullah mengambil peran aktif untuk mendukung visi besar Gubernur Kalimantan Utara, khususnya melalui penguatan sektor pendidikan dan dakwah.

“Rakerwil ini forum yang menuntut kerja keras dan kesungguhan. Program kerja yang dirumuskan harus memiliki dampak nyata dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Kalimantan Utara,” tegasnya dalam sambutannya.

Ia juga menekankan bahwa setiap program Hidayatullah ke depan harus kontekstual dengan kebutuhan lokal Kalimantan Utara, serta mampu menjawab tantangan sosial, pendidikan, dan keumatan yang dihadapi masyarakat di wilayah perbatasan dan daerah terpencil.

Rakerwil Papua Barat, Sekjend Nanang Noerpatria Dorong Mantapkan Kontribusi bagi Bangsa

0

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) –– Hidayatullah saat ini telah memasuki fase 50 tahun kedua perjalanan organisasi. Fase ini, kata Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. Nanang Noerpatria, M.Pd., merupakan periode strategis untuk memantapkan kontribusi nyata bagi umat dan bangsa, setelah melewati fase perintisan dan penguatan dasar.

“Hidayatullah sekarang berada pada fase peluang. Lima puluh tahun kedua ini adalah masa untuk menunjukkan kontribusi yang lebih terukur, lebih berdampak, dan lebih dirasakan oleh umat,” ujar Nanang.

Nanang menyampaikan itu saat membuka secara resmi Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Papua Barat Tahun 2026 yang digelar di Aula Amin Bahrun, Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari, Sabtu, 19 Sya’ban 1447 (7/2/2026).

Nanang menegaskan bahwa tema besar Rapat Kerja Hidayatullah periode ini, yakni Konsolidasi Jati Diri dan Transformasi Organisasi menuju Hidayatullah Mandiri dan Berpengaruh, adalah kerangka kerja yang harus diterjemahkan ke dalam program konkret di tingkat wilayah. Menurutnya, forum wilayah ini mesti menjadi medium yang menyatukan visi, memperkuat fondasi nilai, sekaligus mempercepat adaptasi organisasi.

“Forum ini ruang strategis untuk meneguhkan arah gerakan organisasi di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan global yang terus berlangsung,” katanya.

Nanang kemudian menguraikan pentingnya membaca komposisi usia kepemimpinan sebagai modal sosial organisasi. Ia menyebutkan bahwa rata-rata usia pengurus DPP berada di kisaran 44 tahun, sementara pengurus DPW secara nasional berada di kisaran usia 35 tahun. Rentang usia tersebut kerap disebut sebagai golden age atau usia emas kepemimpinan karena berada pada puncak produktivitas, kematangan berpikir, dan keberanian mengambil keputusan.

“Ini usia emas dalam organisasi. Karena itu, pengurus wilayah harus agile, lincah membaca perubahan, dan cepat mengeksekusi peluang,” tegasnya.

Dalam konteks kemandirian, Nanang menekankan bahwa makna mandiri tidak boleh dipersempit hanya pada aspek keuangan. Kemandirian, menurutnya, mencakup kemampuan organisasi mengelola sumber daya manusia, aset, data, serta potensi ekonomi lokal secara terintegrasi dan berkelanjutan.

Ia mendorong DPW Hidayatullah Papua Barat untuk lebih jeli membaca potensi wilayah, terutama di sektor ekonomi riil. Papua Barat dikenal memiliki sumber daya alam yang kuat, khususnya di bidang pertanian, perkebunan, dan peternakan. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Papua Barat, sekaligus menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

“Wilayah harus pandai membaca peluang. Pertanian, peternakan, dan ekonomi berbasis komunitas adalah pintu masuk kemandirian yang nyata,” kata Nanang.

Pada kesempatan itu, Nanang mengapresiasi program unggulan DPW Hidayatullah Papua Barat bertajuk Petani Milenial. Program ini dinilai sejalan dengan pendekatan pertanian terpadu atau integrated farming yang saat ini juga didorong oleh berbagai lembaga, termasuk Bank Indonesia, dalam rangka pengendalian inflasi pangan dan penguatan ekonomi daerah.

“Program Petani Milenial ini strategis. Pertanian terpadu bukan hanya soal produksi, tetapi juga soal kemandirian pangan dan ekonomi umat. Ini bahkan punya potensi untuk bersinergi dengan Bank Indonesia di wilayah,” ujarnya.

Nanang juga memberikan apresiasi khusus atas langkah DPW Papua Barat yang langsung mengimplementasikan sistem pendataan organisasi berbasis web, yakni Sistem Informasi Terpadu Hidayatullah atau SISTAHID. Sistem ini dihadirkan untuk mengelola data anggota, pengurus, dan komunitas Hidayatullah secara terpusat dan terverifikasi.

Menurut Nanang, penguatan data merupakan fondasi penting dalam transformasi organisasi modern. Tanpa data yang rapi dan tepercaya, perencanaan program, pengelolaan sumber daya, dan pengambilan kebijakan akan kehilangan pijakan yang kuat.

“SISTAHID ini adalah fondasi penting. Data kader harus solid, terpusat, dan bisa dipertanggungjawabkan. Dari data yang kuat, lahir kebijakan yang tepat,” tegasnya.

Menutup arahannya, Nanang menyampaikan harapan agar Rakerwil Papua Barat menjadi titik tolak penguatan jati diri, percepatan transformasi, dan peningkatan daya pengaruh organisasi di kawasan timur Indonesia.

“Semoga DPW Hidayatullah Papua Barat terus berkembang, semakin mandiri, dan semakin berpengaruh dalam melayani umat dan membangun bangsa,” pungkasnya.[]

Persatuan dan Silaturrahim Modal Sangat Berharga dalam Menghadapi Tantangan Zaman

0

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Sumatera Utara, KH Ali Hermawan, menegaskan bahwa di tengah dinamika zaman yang sarat tantangan, persatuan dan silaturahmi yang terus terjaga merupakan modal sosial yang sangat berharga bagi keberlangsungan organisasi.

“Persatuan dan silaturahmi yang masih kuat hingga hari ini adalah kekuatan utama untuk terus menggerakkan roda organisasi dan menjaga kesinambungan perjuangan,” ujar KH Ali Hermawan saat memberikan sambutan dalam Rapat Kerja (Raker) Hidayatullah Medan Tahun 2026 pada Jum’at, 18 Syaban 1447(6/2/2026).

Rapat kerja tersebut diikuti oleh jajaran pengurus, pimpinan unit amal usaha, serta perwakilan elemen struktural Hidayatullah Medan. Ali Hermawan mendorong segenap kader untuk terus memperkuat pemahaman nilai-nilai dasar perjuangan organisasi sekaligus menyatukan langkah dalam pengelolaan lembaga yang profesional, terukur, dan berkelanjutan.

Dalam sambutannya, KH Ali Hermawan juga menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada para perintis serta kader Hidayatullah yang tetap istiqamah menjalankan peran dakwah di tengah masyarakat.

Ia menyampaikan bahwa keberlanjutan organisasi tidak terlepas dari konsistensi para kader dalam menjaga persatuan dan hubungan silaturahmi.

“Di tengah dinamika zaman yang penuh tantangan, persatuan dan silaturahmi yang terus terjaga menjadi modal sosial yang sangat berharga bagi keberlangsungan organisasi,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Sumatera Utara, Syukron Khairi Nasution, M.Pd, melaporkan peran DPW Hidayatullah Sumatera Utara dalam proses pengkaderan dakwah.

Syukron menjelaskan bahwa hingga saat ini kader Hidayatullah telah mengisi kepengurusan Dewan Pimpinan Daerah di 22 kabupaten dan kota di Sumatera Utara.

“DPW Hidayatullah Sumatera Utara secara konsisten berperan aktif dalam mencetak kader-kader dakwah, dan saat ini kader telah mengisi kepengurusan DPD di 22 kabupaten dan kota,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, Ustadz Isa Abdul Barry, M.Ag, menyambut gembira arahan Dewan Murabbi dan menegaskan pentingnya internalisasi jati diri sebagai fondasi utama dalam menjaga konsistensi arah perjuangan Hidayatullah.

“Internalisasi jati diri merupakan fondasi utama dalam menjaga konsistensi arah perjuangan Hidayatullah agar tetap selaras dengan visi dan misi dakwah,” katanya.

Ia juga menyoroti kebutuhan akan standarisasi tata kelola organisasi di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan untuk meningkatkan efektivitas kerja, akuntabilitas lembaga, dan daya saing organisasi.

“Melalui rapat kerja ini, kita ingin memastikan seluruh lini organisasi bergerak dalam satu irama, memiliki standar kerja yang jelas, serta mampu melahirkan kemandirian kelembagaan yang berdampak luas bagi umat dan masyarakat,” ujarnya.

Analogi Bambu Moso Ajarkan Pentingnya Kesabaran bagi Keberlanjutan Dakwah

0

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Badan Pembina Pondok Pesantren Hidayatullah, Dr. Paryadi Abdul Ghofar Hadi, S.Sos.I., M.Si., menyampaikan analogi tentang penempaan tumbuhan bambu moso yang menurutnya memuat pesan pentingnya kesabaran bagi keberlanjutan dakwah.

“Bambu Moso membutuhkan waktu hingga lima tahun untuk membangun akar sebelum mampu tumbuh lebih dari 30 meter ke atas,” ujarnya di hadapan peserta Rapat Kerja (Raker) Hidayatullah Medan Tahun 2026 yang dilaksanakan pada Kamis, 17 Syaban 1447 (5/12/2026).

Ia menguraikan mengenai tahapan pertumbuhan yang tidak selalu tampak secara kasat mata pada periode awal. Dr. Paryadi menyampaikan ilustrasi mengenai proses pembangunan diri dan organisasi dengan merujuk pada karakteristik pertumbuhan bambu Moso.

Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Perkaderan ini menjelaskan bahwa bambu tersebut dikenal memerlukan waktu yang panjang pada fase awal pertumbuhannya sebelum menunjukkan perkembangan yang signifikan secara fisik.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa proses tersebut dapat menjadi gambaran tentang pentingnya kesabaran dalam membangun sesuatu, termasuk dalam konteks organisasi. Menurutnya, tahapan awal yang tidak terlihat hasilnya secara langsung tetap memiliki fungsi yang menentukan bagi keberlanjutan proses berikutnya.

Dia pun menegaskan perlunya kesabaran dalam menanamkan nilai-nilai, menegakkan disiplin tata kelola, serta memperkuat struktur organisasi. Ia menyampaikan bahwa langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari proses yang harus dijalani secara konsisten.

“Demikian pula Hidayatullah Medan, kita perlu bersabar dalam menanam nilai, menegakkan disiplin tata kelola, dan mengokohkan struktur organisasi. Dari akar yang kuat itulah, insyaAllah, akan lahir pertumbuhan yang tinggi dan memberi manfaat luas,” katanya.

Untuk Kemajuan Islam

Selain menyinggung aspek pembangunan organisasi, Dr. Paryadi juga menyampaikan penegasan mengenai orientasi kehadiran Hidayatullah. Ia menyatakan bahwa keberadaan Hidayatullah ditujukan untuk kemajuan Islam. Dalam kerangka tersebut, ia menjelaskan bahwa gerakan dakwah Hidayatullah senantiasa diarahkan pada pendekatan yang merangkul dan dilaksanakan dengan hikmah.

Ia juga menyampaikan bahwa berbagai lembaga yang berada dalam lingkup Hidayatullah, termasuk yayasan-yayasan yang ada, dibentuk sebagai bagian dari pengabdian kepada Allah. Oleh karena itu, menurutnya, aspek niat menjadi hal yang harus senantiasa dijaga dan diluruskan dalam setiap aktivitas kelembagaan.

Ia mengingatkan agar seluruh pihak yang terlibat dalam pengelolaan lembaga Hidayatullah memahami bahwa aktivitas tersebut berkaitan dengan pengurusan agama Allah. Ia menekankan pentingnya menjaga konsistensi niat agar tidak menyimpang dari tujuan tersebut dan senantiasa berada pada garis yang lurus.

Kegiatan Raker sendiri dilaksanakan sebagai agenda rutin untuk membahas program, penguatan struktur, serta penyelarasan langkah organisasi ke depan sesuai dengan nilai dan tujuan yang telah ditetapkan.

Buka Rakerwil Banten, Syaefullah Hamid Tekankan Kemandirian dan Kontribusi Sosial Bagi Masyarakat

0

TANGSEL (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Hukum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Syaefullah Hamid, S.H., M.H., menegaskan bahwa sebagai organisasi kemasyarakatan Islam, Hidayatullah dituntut untuk semakin mandiri dan siap memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Demikian hal itu disampaikan saat ia secara resmi membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Hidayatullah Provinsi Banten yang berlangsung di Yayasan Al-Firdaus, Kompleks Pondok Pesantren Hidayatullah, Tangerang Selatan, Banten, pada Sabtu, 19 Syaban 1447(7/2/2026).

Syaefullah menyampaikan bahwa Rakerwil merupakan momentum strategis untuk melakukan konsolidasi jati diri organisasi sekaligus mendorong transformasi yang terarah. Ia menekankan pentingnya penataan ulang orientasi organisasi agar Hidayatullah di wilayah Banten dapat tumbuh sebagai gerakan yang mandiri dan memiliki pengaruh yang lebih luas.

Syaefullah mengawali arahannya dengan menempatkan Rakerwil sebagai forum penting dalam merespons perubahan zaman. Menurutnya, dinamika sosial, pendidikan, dan kebangsaan berjalan dengan cepat, sehingga organisasi dituntut untuk memperkuat fondasi nilai serta menyiapkan langkah-langkah transformasi yang terukur dan berkelanjutan.

Ia juga mengingatkan bahwa Hidayatullah saat ini berada dalam fase penting sejarah organisasi, ditandai dengan semakin berkurangnya para pendiri dan perintis yang selama ini menjadi rujukan langsung dalam menjaga nilai dan arah perjuangan. Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut kesadaran bersama seluruh kader untuk memastikan kesinambungan nilai ideologis dan sistem organisasi.

Dalam konteks tersebut, Syaefullah menyinggung Musyawarah Nasional (Munas) Hidayatullah Tahun 2025 lalu sebagai penanda penting dalam perjalanan organisasi. Ia menjelaskan bahwa Munas tersebut menjadi forum nasional pertama yang tidak lagi dihadiri oleh para pendiri Hidayatullah.

“Pada Munas 2025, tidak ada lagi pendiri yang membersamai forum. Bahkan, bisa jadi pada 2030 nanti, itu merupakan Munas terakhir yang masih diikuti para senior yang pernah dididik langsung oleh almarhum Ustadz Abdullah Said,” katanya.

Dalam pada itu, ia menegaskan pentingnya penguatan sistem organisasi yang tidak bertumpu pada figur tertentu, melainkan pada nilai, struktur, dan mekanisme kaderisasi yang kokoh. Menurut Syaefullah, akselerasi organisasi menjadi kebutuhan agar Hidayatullah tetap mampu menjalankan peran sosial, pendidikan, dan kebangsaan secara berkelanjutan.

Sebagai organisasi kemasyarakatan Islam, Syaefullah menekankan bahwa kemandirian merupakan prasyarat utama untuk dapat berkontribusi secara nyata. Ia menyampaikan bahwa kemandirian organisasi harus diwujudkan dalam kapasitas riil, bukan sekadar konsep normatif.

“Untuk bisa berkontribusi, kita harus memiliki sesuatu yang bisa kita berikan. Karena, faqidusy sya’i laa yu’thihi, orang yang tidak memiliki apa-apa tidak mungkin memberi apa-apa kepada masyarakat, bangsa, dan negara,” tegasnya.

Dalam kerangka tersebut, Syaefullah mengaitkan kemandirian organisasi dengan visi besar Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam. Ia menyatakan bahwa visi tersebut menuntut kerja organisasi yang terstruktur, sistematis, dan konsisten, serta ditopang oleh desain besar nilai jati diri dan penguatan struktur di seluruh tingkatan organisasi.

Ia menekankan agar Rakerwil tidak berhenti pada penyusunan program kerja, tetapi menghasilkan langkah-langkah konkret dalam penguatan tata kelola organisasi. Menurutnya, konsolidasi nilai dan struktur merupakan fondasi utama dalam mewujudkan visi jangka panjang organisasi.

Dalam bidang pendidikan, Syaefullah menyampaikan evaluasi terhadap kondisi lembaga pendidikan Hidayatullah. Ia menyebutkan bahwa meskipun terdapat perkembangan positif di sejumlah lembaga, secara umum masih terdapat tantangan dalam aspek daya saing, baik di tingkat nasional maupun global.

Ia mengaitkan tantangan tersebut dengan sejumlah data yang menunjukkan bahwa capaian literasi, numerasi, dan sains pelajar Indonesia khususnya Hidayatullah masih berada di bawah rata-rata. Data tersebut, menurutnya, menjadi pengingat akan pentingnya penguatan mutu pendidikan secara serius dan sistemik tanpa menegasikan nilai nilai inti dari kultur pendidikan Hidayatullah sejak awal.

Pada saat yang sama, Syaefullah menekankan pentingnya implementasi Pendidikan Integral Berbasis Tauhid (PIBT) sebagai ciri khas pendidikan Hidayatullah.

“Kurikulum Pendidikan Integral Berbasis Tauhid diharapkan betul-betul diimplementasikan, sehingga mampu melahirkan pendidikan unggul di seluruh wilayah Indonesia,” katanya.

Menutup sambutannya, Syaefullah menegaskan bahwa Rakerwil Hidayatullah Provinsi Banten diharapkan menjadi ruang konsolidasi nilai, penguatan struktur organisasi, dan perumusan langkah strategis agar Hidayatullah mampu menjaga warisan pendiri sekaligus bertransformasi menjadi organisasi yang mandiri dan siap memberikan kontribusi nyata bagi umat dan bangsa.

Hidayatullah Riau Tegaskan Penguatan Kolaborasi untuk Dampak Program yang Nyata

0

PEKANBARU (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Riau, Suheri Abdullah, menegaskan bahwa pihaknya akan terus memperkuat jalinan kolaborasi dengan pemerintah dan berbagai lembaga strategis agar seluruh program Hidayatullah dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Suheri menyampaikan itu dalam rangkaian pelaksanaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Riau Tahun 2026 yang digelar sebagai forum konsolidasi dan perencanaan organisasi.

Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Riau menyelenggarakan Rakerwil Tahun 2026 dengan mengusung tema “Konsolidasi Jati Diri dan Transformasi Organisasi Menuju Hidayatullah Mandiri dan Berpengaruh” digelar di Kota Pekanbaru yang dibuka pada Sabtu, 19 Syaban 1447(7/2/2026).

Suheri menekankan, forum Rakerwil ini ruang strategis yang mempertemukan seluruh unsur kepengurusan wilayah dan daerah guna membahas arah kebijakan serta program kerja organisasi dalam satu tahun ke depan.

Suheri Abdullah menyampaikan bahwa Rakerwil memiliki fungsi penting dalam memperkuat arah gerak organisasi. Forum ini digunakan untuk menyusun program kerja secara terstruktur, dengan mempertimbangkan kondisi, tantangan, dan kebutuhan umat, khususnya yang berada di wilayah Provinsi Riau. Menurutnya, perumusan program dilakukan secara menyeluruh agar dapat menjawab kebutuhan riil yang dihadapi anggota, jamaah, dan masyarakat.

Suheri menjelaskan bahwa Rakerwil ini juga momentum strategis untuk melakukan konsolidasi jati diri organisasi sekaligus mendorong proses transformasi internal. Ia menyebutkan bahwa melalui forum ini, Hidayatullah Riau diarahkan menuju penguatan kemandirian dan peningkatan peran organisasi dalam ruang sosial yang lebih luas.

Salah satu isu utama yang menjadi perhatian dalam Rakerwil Tahun 2026 adalah penguatan kemandirian ekonomi anggota dan jamaah Hidayatullah.

“Selain itu, Rakerwil Riau juga membahas langkah-langkah konkret dalam membangun kerja sama yang lebih erat dengan pemerintah serta berbagai lembaga lain yang dinilai memiliki peran strategis dalam pembangunan masyarakat,” katanya.

Suheri menyampaikan bahwa fokus penguatan ekonomi anggota dan jamaah menjadi bagian penting dari pembahasan Rakerwil. Ia juga menekankan perlunya membangun kolaborasi lintas sektor agar program-program yang dijalankan Hidayatullah dapat memberikan kontribusi langsung dan terukur bagi masyarakat.

Menurutnya, kerja sama tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan dan efektivitas program organisasi. Lebih lanjut, Suheri berharap Rakerwil dapat menumbuhkan kesamaan semangat dan visi di seluruh elemen Hidayatullah Riau.

“Dengan keselarasan langkah, seluruh potensi internal dan eksternal organisasi, serta potensi masyarakat di lingkungan sekitar, diharapkan dapat terlibat aktif dalam berbagai bidang, termasuk pembangunan ekonomi, dakwah sosial, dan pendidikan,” katanya.

Rakerwil DPW Hidayatullah Riau Tahun 2026 turut dihadiri oleh utusan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah. Dalam kegiatan tersebut, DPP Hidayatullah diwakili oleh Ketua Departemen Koperasi dan Kewirausahaan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Saiful Anwar, SE, ME. Saiful hadir untuk membuka secara resmi pelaksanaan Rakerwil sekaligus menyampaikan arahan kepada peserta.

Dalam arahannya, Saiful Anwar menyampaikan pesan agar para dai Hidayatullah hendaknya senantiasa hadir di tengah masyarakat. Ia menekankan pentingnya peran dai dalam memberikan pencerahan dan menjalankan fungsi strategis sesuai dengan konteks sosial yang dihadapi.

Selain unsur internal organisasi, Rakerwil ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh dan perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam. Di antaranya berasal dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), DDI Al-Washliyah, Muhammadiyah, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dari internal Hidayatullah, hadir jajaran Dewan Murobbi Wilayah Riau, Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah, Pemuda Hidayatullah, serta seluruh Dewan Pimpinan Daerah Hidayatullah se-Provinsi Riau.

Kepemimpinan Islam Adalah sebagai Amanah Pengabdian bagi Kemaslahatan Umat

0

BATAM (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Organisasi, Dr. Dudung Amadung Abdullah, menegaskan bahwa kepemimpinan dalam Islam merupakan bentuk pengabdian untuk memajukan umat, bangsa, dan peradaban Islam, dengan tujuan menghadirkan kemaslahatan sebagaimana hakikat turunnya Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Penegasan tersebut disampaikan saat ia membuka Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Kepulauan Riau yang berlangsung di Aula Abdullah Said, Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Batam, pada Sabtu, 19 Syaban 1447(7/2/2026).

Dalam arahannya, Dr. Dudung Amadung Abdullah menekankan pentingnya pengelolaan kader yang terencana dan terstruktur. Ia menyampaikan bahwa terdapat sejumlah persoalan yang kerap muncul dalam organisasi, di antaranya pengambilan keputusan yang tidak konsisten serta praktik penugasan yang tidak melalui mekanisme yang semestinya. Menurutnya, kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian serius agar roda organisasi berjalan secara tertib dan efektif.

Dudung memaparkan tiga aspek utama yang perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan kader. Aspek pertama adalah mainstream organisasi, yaitu kemampuan mengelola arus utama gerak organisasi agar tetap berada pada tujuan yang jelas dan terarah. Ia menegaskan bahwa seluruh aktivitas organisasi harus berada dalam satu jalur strategis yang disepakati bersama, sehingga tidak terjadi fragmentasi arah maupun kebijakan.

Aspek kedua yang disampaikan adalah pemahaman terhadap sifat dan fungsi organisasi. Dr. Dudung menjelaskan bahwa organisasi perlu dipahami tidak hanya sebagai struktur formal, tetapi juga sebagai sistem yang memiliki peran sosial, dakwah, dan pendidikan dalam konteks yang lebih luas. Pemahaman ini dinilai penting agar setiap kader mampu menempatkan diri sesuai peran dan tanggung jawab yang diemban.

Aspek ketiga adalah pengenalan yang utuh terhadap Hidayatullah sebagai organisasi. Dalam hal ini, Dudung mengingatkan pentingnya merujuk pada sumber-sumber resmi organisasi, termasuk media internal seperti majalah Hidayatullah, untuk memahami visi, misi, serta garis perjuangan yang telah dirumuskan. Ia menegaskan bahwa pemahaman yang benar terhadap identitas organisasi akan menjadi landasan dalam menjalankan program dan aktivitas kader.

Selain itu, Dudung juga menyoroti kompetensi perilaku organisasi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kepemimpinan. Ia menekankan bahwa kemampuan mengelola organisasi tidak hanya berkaitan dengan administrasi, tetapi juga mencakup pengelolaan kader dan amal usaha secara simultan. Menurutnya, kepemimpinan menuntut kesiapan untuk mengelola sumber daya manusia dan institusi secara berimbang dalam kerangka organisasi.

Dalam penjelasannya, Dudung kembali menegaskan bahwa kepemimpinan dalam Islam harus dipahami sebagai amanah pengabdian. Amanah tersebut, menurutnya, diarahkan untuk memberikan kontribusi nyata bagi umat, bangsa, dan peradaban Islam, serta harus diwujudkan dalam kerja organisasi yang konsisten dan berkelanjutan.

Ia juga menyampaikan bahwa amanah kepemimpinan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, sehingga implementasinya harus tercermin dalam praktik organisasi sehari-hari. Penegasan tersebut disampaikan sebagai bagian dari penguatan nilai-nilai kepemimpinan Islam dalam struktur dan budaya kerja Hidayatullah.

Dia berharap, Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Kepulauan Riau ini menjadi sarana penguatan pemahaman organisasi dan kaderisasi serta menyelaraskan arah gerak, tata kelola, dan penguatan sumber daya kader dalam menjalankan amanah dakwah dan pendidikan.

Hidayatullah dan Pure Hands Indonesia Perkuat Kolaborasi Kiprah Kemanusiaan dan Pengembangan Masyarakat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah dan Pure Hands Indonesia memperkuat kolaborasi kemanusiaan dan pengembangan masyarakat melalui penandatangan kerjasama yang digelar di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah di bilangan Cipinang Cempedak, Otista Raya, Polonia, Jakarta.

Penandatanganan nota kesepahaman ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kolaborasi kemanusiaan lintas lembaga di tengah tantangan sosial global yang kian kompleks. Kesepakatan kerja sama tersebut ditandatangani pada Jum’at, 18 Syaban 1447(6/2/2026) dan menandai komitmen bersama kedua pihak dalam membangun sinergi berkelanjutan di bidang pengembangan masyarakat dan kesejahteraan sosial.

Nota kesepahaman ini ditandatangani oleh Rasfiuddin Sabaruddin, S.Sy., MIRK, selaku Ketua Departemen Hubungan Antarbangsa Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, dan Dr. Majid Ghaleb Abdullah selaku Chief Executive Officer Pure Hands Indonesia.

Penandatanganan ini menjadi dasar formal bagi kedua organisasi untuk mengembangkan kerangka kerja bersama dalam merespons kebutuhan kemanusiaan secara terencana dan terukur.

Pada kesempatan tersebut turut hadir Ketua Departemen Sumberdaya Insani DPP Hidayatullah Muhammad Sumariadi, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Laznas BMH Mustafainal Akhyar, dan perwakilan dari Baitul Wakaf Hidayatullah.

Rasfiuddin Sabaruddin dalam keterangannya kepada media ini mengatakan bahwa kerja sama ini bertujuan membangun kerangka umum kolaborasi dalam perencanaan, pengembangan, dan pelaksanaan berbagai proyek kemanusiaan. Fokus kerja sama mencakup bantuan kemanusiaan, pengembangan masyarakat, program kesejahteraan sosial, respons tanggap darurat bencana, serta peningkatan kapasitas dan kesadaran publik.

“Muatan kerjasama yang dilakukan tetap sejalan dengan mandat masing-masing lembaga serta peraturan perundang-undangan yang berlaku,” kata Rasfiudddin.

Rasfiuddin Sabaruddin menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari upaya memperluas jangkauan kontribusi Hidayatullah di bidang kemanusiaan internasional dan nasional.

“Nota kesepahaman ini menjadi pijakan penting untuk memperkuat kerja sama kemanusiaan yang berlandaskan profesionalisme, transparansi, dan prinsip-prinsip kemanusiaan universal,” ujar Rasfiuddin.

Ia menjelaskan bahwa tantangan sosial dan kemanusiaan saat ini menuntut kolaborasi lintas organisasi yang lebih sistematis. Menurutnya, sinergi antar-lembaga menjadi kunci dalam memastikan program-program kemanusiaan berjalan efektif, berkelanjutan, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat yang membutuhkan.

Sementara itu, Dr. Majid Ghaleb Abdullah menekankan pentingnya kemitraan strategis dalam menghadapi dinamika kemanusiaan global.

“Kerja sama ini mencerminkan komitmen kami untuk membangun inisiatif kemanusiaan yang terstruktur dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat,” kata Dr. Majid Ghaleb Abdullah.

Ia menambahkan bahwa Pure Hands Indonesia memandang kemitraan dengan Hidayatullah sebagai langkah penting untuk memperluas dampak program-program sosial berbasis nilai kemanusiaan.

Nota kesepahaman ini juga mengatur peran dan tanggung jawab masing-masing pihak dalam pelaksanaan proyek bersama. Setiap inisiatif kemanusiaan yang diusulkan akan melalui proses peninjauan dan persetujuan bersama, serta diselaraskan dengan kebutuhan lapangan dan prioritas strategis kedua organisasi.

Majid menekanlan pernyataan niat kerja sama ini menjadi fondasi penting bagi penguatan kolaborasi kemanusiaan yang berorientasi pada pembangunan masyarakat dan kesejahteraan sosial.

Melalui kesepakatan ini, Hidayatullah dan Pure Hands Indonesia menegaskan komitmen bersama untuk terus berkontribusi dalam menjawab tantangan kemanusiaan masa kini dengan pendekatan kolaboratif, terencana, dan berkelanjutan.