Beranda blog Halaman 47

Hidayatullah Perkuat Pendidikan di Perbatasan, PPTQ di Watatu Donggala Diresmikan

0

DONGGALA (Hidayatullah.or.id) — Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Donggala, Dr. H. Haerolah Muh. Arief, S.Ag., M.H.I., meresmikan Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Hidayatullah Putri, Pendidikan Anak Usia Dini dan Kelompok Bermain (PAUD–KB) Hidayatullah, serta Mushalla Ar-Raudhah di Desa Watatu, Kecamatan Banawa Selatan, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah, baru baru ini dan ditulis pada Selasa, 10 Rajab 1447 (30/12/2025).

Haerolah mengatakan bahwa kehadiran PPTQ, PAUD–KB, dan Mushalla Ar-Raudhah merupakan kontribusi nyata dalam memperkuat pendidikan keagamaan di Kabupaten Donggala. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga, memakmurkan, dan mendukung keberlanjutan lembaga-lembaga tersebut.

“Kalau hendak cepat memanen maka tanamlah palawija, tetapi jika hendak panennya langgeng maka tanamlah kebaikan,” ujarnya berpantun sebagai pesan motivatif.

Kakan Kemenag Donggala mengatakan, peresmian ini sekaligus perkembangan dakwah dan pendidikan Islam di kawasan perbatasan Kabupaten Donggala dengan Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat.

Kehadiran lembaga pendidikan dan sarana ibadah ini menurutnya amat strategis dalam memperluas akses pembelajaran Al-Qur’an serta pembinaan karakter generasi muda di wilayah yang selama ini relatif terbatas dari pusat-pusat pendidikan formal keagamaan.

Dengan diresmikannya kawasan pendidikan integral ini, Haerolah berharap, Hidayatullah Watatu semakin berperan aktif dalam pembinaan umat, penguatan dakwah di wilayah perbatasan, serta penumbuhan kecintaan terhadap Al-Qur’an.

“Kehadiran lembaga ini menjadi bagian dari ikhtiar berkelanjutan dalam membangun generasi Qur’ani yang berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” katanya.

Profil Hidayatullah Putri Watatu

PPTQ Hidayatullah Putri Watatu berada di bawah kepemimpinan Abdul Hafidz Al-Mandary. Lembaga ini dirancang sebagai pusat pembinaan tahfizhul Qur’an dan pendidikan keislaman yang terintegrasi, sekaligus menjadi penggerak dakwah berbasis Al-Qur’an di tingkat lokal.

Bersamaan dengan itu, PAUD–KB Hidayatullah Yaa Bunayya diarahkan untuk menanamkan nilai-nilai keislaman, akhlak, dan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak usia dini.

Dewan Pembina PPTQ Hidayatullah Watatu, Taufik Abdul Muin, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses pendirian dan pengembangan lembaga tersebut. Ia menegaskan bahwa keberadaan PPTQ dan PAUD–KB diharapkan menjadi pusat pembinaan karakter Islami yang berkesinambungan, sejalan dengan kebutuhan masyarakat dalam menyiapkan generasi berakhlak dan berilmu.

Penguatan visi kelembagaan juga disampaikan oleh Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulawesi Tengah, Ustadz Ahmad Arsyad, S.Pd.I. Ia menekankan pentingnya pendidikan berbasis Al-Qur’an sebagai landasan pembangunan peradaban umat.

Menurut Arsyad, keberadaan PPTQ dan PAUD–KB menjadi sarana strategis untuk membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki keteguhan spiritual dan akhlak mulia.

Apresiasi Pemerintah

Ikhtiar pelayanan umat Hidayatullah Donggala ini juga mendapat apresiasi pemerintah daerah disampaikan oleh Alwin, S.Pd., yang mewakili Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Donggala.

Ia menyatakan bahwa pemerintah daerah menyambut baik pengembangan lembaga pendidikan, khususnya pendidikan anak usia dini, sebagai bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Peran Hidayatullah dalam menghadirkan pendidikan berbasis nilai keislaman dinilai sejalan dengan tujuan pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter,” katanya.

Acara peresmian dihadiri oleh unsur pemerintah dan keamanan setempat, antara lain perwakilan Kementerian Agama Kabupaten Donggala, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kepolisian Sektor Banawa Selatan, Komando Rayon Militer, pemerintah desa, serta unsur kecamatan, juga pengurus yayasan, Majelis Murabbiyah Wilayah, serta unsur Pemuda dan Muslimat Hidayatullah.

Layanan Sosial dan Pendidikan Hidayatullah sebagai Jawaban Kebutuhan Lintas Generasi

0

PONTIANAK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Muzakkir Usman, mengatakan bahwa Hidayatullah konsisten pada dua arus utama gerakan, yaitu dakwah dan tarbiyah, dengan pendekatan inklusif yang merangkul seluruh lapisan masyarakat.

“Hidayatullah terus bersinergi dengan seluruh elemen keummatan. Kami mendorong penguatan dakwah yang wasathiyyah agar menyentuh seluruh lapisan masyarakat,” ujar Muzakkir.

Hal itu disampaikan Muzakkir dalam sambutan pembukaan Musyawarah Wilayah (Musywil) VI Hidayatullah Kalimantan Barat di Kota Pontianak, Sabtu, 7 Rajab 1447 (27/12/2025)

Ia juga menguraikan konteks demografi Kalimantan Barat yang menuntut pendekatan adaptif. Data yang disampaikan menunjukkan dominasi generasi Z hingga sekitar 70 persen dari populasi, sementara kelompok lanjut usia mencapai kurang lebih 9 persen. Kondisi ini, menurutnya, menuntut penguatan layanan pendidikan dan sosial yang relevan dengan kebutuhan lintas generasi.

Pada sektor pendidikan, Muzakkir menekankan prinsip Pendidikan Bermutu untuk Semua. Ia menyatakan bahwa model Sekolah Rakyat yang kini digagas pemerintah sejatinya telah lama dipraktikkan oleh Hidayatullah melalui sistem pendidikan yang terbuka dan terjangkau, seraya terus meningkatkan mutu layanan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Pendekatan ini, jelas Muzakkir, diposisikan sebagai kontribusi nyata Hidayatullah dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang berkeadilan. Dia menegaskan, layanan sosial dan pendidikan Hidayatullah merupakan jawaban kebutuhan lintas generasi.

Di bidang sosial, Muzakkir menyoroti layanan panti asuhan yang menjadi salah satu keunggulan Hidayatullah termasuk di Kalimantan Barat dan diterima luas oleh masyarakat.

Ia menyampaikan bahwa pengelolaan panti asuhan berpotensi dikembangkan menjadi layanan pendidikan unggulan, mencontoh tata kelola madrasah di Turki, salah satunya Hamidie Wakfe.

Selain itu, transformasi panti asuhan lansia menjadi pusat dakwah husnul khatimah dinilai sebagai potensi strategis yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan peresmian gedung dakwah sekaligus Kantor DPW Hidayatullah di pusat Kota Pontianak oleh Muzakkir Usman bersama para tokoh senior dan pimpinan terpilih. Pada kesempatan itu turut hadir Ketua Majelis Penasehat Hidayatullah KH Abdul Latif Usman.

Muzakkir berharap kantor ini berfungsi melampaui peran administratif. “Kantor ini harus menjadi penghubung antara Hidayatullah dengan masyarakat luas serta menjadi pusat aktivitas keummatan yang inklusif,” pungkasnya.

Tim Siaga Bencana Hidayatullah Aceh Lanjutkan Recovery Pascabanjir, Keharuan Dirasakan Dzulfirman

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Upaya pemulihan pascabencana banjir di Kabupaten Aceh Tamiang terus dilakukan secara bertahap oleh relawan Tim Siaga Bencana Hidayatullah Aceh bersama Laznas BMH.

Pada Senin, 9 Rajab 1447 (29/12/2025), kegiatan difokuskan pada pembersihan rumah salah satu tokoh agama setempat, Dzulfirman Batubara, Imam Rawatib Masjid Syuhada di Desa Bundar, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. Dzulfirman dikenal sebagai penghafal Al-Qur’an 30 juz dan figur keagamaan yang aktif membina masyarakat.

Dalam keterangannya, Dzulfirman menuturkan pengalaman saat banjir besar melanda kawasan permukiman tempat tinggalnya. Ia bersama keluarga dan warga sekitar berusaha menyelamatkan diri dengan mengungsi ke sebuah rumah bertingkat dua di kompleks tersebut. Rumah itu satu satunya yang bisa dijangkau korban di kawasan ditengah gelombang banjir yang sangat cepat.

Di lantai dua berukuran sekitar 4 x 4 meter, ribuan warga bertahan selama tiga hari tiga malam. Kondisi darurat memaksa mereka mengonsumsi apa pun yang tersedia, termasuk sisa makanan, buah-buahan yang hanyut terbawa arus, serta air bercampur lumpur.

“Selama tiga hari itu, kami bertahan dengan apa yang ada. Nasi yang sudah tidak layak, pepaya dan kelapa yang hanyut, bahkan roti yang tidak diketahui asalnya ikut kami makan. Air yang diminum pun bercampur lumpur,” ungkap Dzulfirman saat ditemui relawan.

Ia melanjutkan, setelah air mulai surut meski masih setinggi pinggang orang dewasa, warga yang mengungsi perlahan turun untuk meninjau rumah masing-masing.

Pemandangan yang mereka temui meninggalkan guncangan psikologis mendalam. Rumah-rumah porak-poranda, dipenuhi lumpur tebal dan sisa material yang terbawa banjir bandang.

Kegiatan pembersihan rumah Dzulfirman dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Aceh, Harun Rasyid. Ia bersama para relawan bergotong royong mengeluarkan lumpur dan membersihkan bagian rumah yang terdampak paling parah.

Menurut Harun, kehadiran relawan merupakan bentuk tanggung jawab kemanusiaan yang berpijak pada nilai keislaman dan semangat kebersamaan masyarakat Indonesia.

“Insya Allah, tim masih terus bertahan membantu korban terdampak,” ujar Harun di sela kegiatan. Ia menegaskan bahwa bantuan tidak berhenti pada fase tanggap darurat, tetapi diarahkan pada proses pemulihan yang lebih berjangka.

Dzulfirman dengan rasa haru menyampaikan rasa syukur atas kehadiran relawan. Ia mengungkapkan bahwa membersihkan lumpur dari rumah pascabanjir umumnya membutuhkan biaya besar jika dilakukan dengan tenaga berbayar.

“Ada yang harus mengeluarkan jutaan rupiah hanya untuk membersihkan rumah. Dengan bantuan relawan Hidayatullah dan BMH, saya tidak mengeluarkan biaya apa pun, selain menyiapkan makan siang sederhana,” tuturnya.

Harun Rasyid menekankan bahwa program recovery diupayakan dapat berjalan secara berkelanjutan dengan menyesuaikan ketersediaan logistik serta dukungan dari masyarakat luas.

Berkah Muswil Kalimantan Barat Resmikan Gedung Dakwah, Pemprov Berikan Apresiasi

0
Asisten III Sekretariat Daerah, Drs. Alfian Salam, MM (Foto: ist/ hidayatullah.or.id)

PONTIANAK (Hidayatullah.or.id) — Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui Asisten III Sekretariat Daerah, Drs. Alfian Salam, MM, mengapresiasi kiprah organisasi Hidayatullah saat menghadiri pembukaan Musyawarah Wilayah (Musywil) VI Hidayatullah Kalimantan Barat di Kota Pontianak, Sabtu, 7 Rajab 1447 (27/12/2025).

Alfian menyoroti kontribusi nyata Hidayatullah melalui pengembangan model dakwah yang adaptif dan kontekstual, khususnya di kawasan pedalaman.

Menurutnya, pendekatan dakwah yang diterapkan tidak hanya berorientasi pada penyampaian pesan keagamaan, tetapi juga dirancang secara kreatif agar selaras dengan kebutuhan dan karakter masyarakat setempat.

Alfian secara khusus menyebut keberhasilan pelaksanaan gerakan dakwah di Kabupaten Kayong Utara sebagai contoh praktik yang dapat dijadikan rujukan. Program Subuh Keliling atau Suling dinilai sebagai bentuk dakwah yang inovatif karena mampu menghadirkan aktivitas keagamaan secara konsisten di tengah masyarakat, sekaligus membangun interaksi yang positif antara dai dan warga.

“Kami melihat langsung keberhasilan gerakan dakwah di pedalaman, seperti di Kabupaten Kayong Utara. Program Suling atau Subuh Keliling adalah contoh dakwah yang kreatif dan mencerahkan,” ungkapnya Alfian yang hadir mewakili Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan.

Ia menyampaikan bahwa program tersebut memberikan dampak pencerahan dan memperkuat kehidupan keagamaan di tingkat lokal. Pernyataan itu disampaikan Alfian sebelum secara resmi membuka Musyawarah Wilayah, sebagai bentuk pengakuan pemerintah daerah terhadap kontribusi Hidayatullah dalam penguatan dakwah dan pembinaan umat di Kalimantan Barat.

Penguatan Gerakan, Pengurus Baru, dan Peresmian Gedung Dakwah

Forum Muswil ini mengusung tema Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045 dan dihadiri jajaran pengurus Dewan Pimpinan Wilayah serta Dewan Pimpinan Daerah dari 12 kabupaten dan kota di seluruh Kalimantan Barat.

Dalam laporan pembuka yang disampaikan perwakilan Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Barat, Asep Samsul Fuad, mengatakan Musywil menjadi ruang konsolidasi strategis untuk memperkuat dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial dalam kerangka keislaman yang berakar pada nilai-nilai kebangsaan Indonesia.

Asep memaparkan capaian organisasi selama periode berjalan. Jaringan Hidayatullah kini telah hadir di sekitar 95 persen wilayah Kalimantan Barat. Penguatan infrastruktur pendidikan juga terus dilakukan melalui pengembangan Kampus Madya di dua titik utama, yakni Kampus Hidayatullah Pontianak dan Ketapang. Langkah ini diposisikan sebagai bagian dari upaya pemerataan akses pendidikan berbasis nilai Islam yang inklusif.

Musywil VI juga menjadi momentum regenerasi kepemimpinan wilayah dengan ditetapkannya Muhyiddin Nur Rabbani sebagai Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Barat dan Abdul Syukur sebagai Ketua Dewan Murobbi Wilayah. Penetapan ini memiliki makna khusus karena Musywil Kalimantan Barat menjadi penutup rangkaian Musywil Hidayatullah di 38 provinsi se-Indonesia.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan peresmian gedung dakwah yang sekaligus Kantor DPW Hidayatullah di pusat Kota Pontianak oleh Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Muzakkir Usman, bersama para tokoh senior dan pimpinan terpilih. Pada kesempatan itu turut hadir Ketua Majelis Penasehat Hidayatullah KH Abdul Latif Usman.

Muzakkir berharap kantor ini berfungsi melampaui peran administratif. “Kantor ini harus menjadi penghubung antara Hidayatullah dengan masyarakat luas serta menjadi pusat aktivitas keummatan yang inklusif,” pungkasnya.

Masjid sebagai Jantung Peradaban Islam dan Pusat Transformasi Umat

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Muzakkir Usman, menegaskan bahwa masjid sebagai jantung peradaban islam dan pusat transformasi umat. Masjid sejak awal kehadiran Islam bukan sekadar bangunan fisik, melainkan penanda identitas umat dan pusat kehidupan masyarakat Muslim.

Di mana ada komunitas Muslim, di situ selalu ada masjid. Ia menjadi simbol keberadaan, ruang perjumpaan, dan tempat umat meneguhkan hubungan dengan Allah sekaligus dengan sesama manusia. Karena itu, pembangunan masjid tidak dapat dilepaskan dari misi peradaban Islam itu sendiri.

“Dan itu telah menjadi salah satu fitur paling mendasar, revolusioner, dan indah dari agama kita,” kata Muzakkir dalam notes yang diterima media ini, Selasa, 10 Rajab 1447 (30/12/2025).

Dalam sejarah Islam, generasi awal tidak berlomba membangun masjid megah dengan struktur besar. Masjid dibangun sebagai bagian alami dari kehidupan, menyatu dengan ritme sosial umat. Fungsi utamanya memang sebagai tempat ibadah berjamaah, terutama shalat Jumat, namun sejatinya masjid memiliki tujuan yang jauh lebih dalam.

Tujuan tersebut baru ditegaskan secara eksplisit di akhir masa turunnya wahyu, ketika Allah menurunkan Surah At-Taubah ayat 18. Ayat ini menegaskan bahwa yang berhak memakmurkan masjid adalah mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut selain kepada Allah.

Kata kunci dalam ayat ini adalah “ya‘muru” atau memakmurkan. Makna kata ini, jelas Muzakkir, melampaui sekadar membangun atau merawat bangunan fisik. Dalam bahasa Arab, akar kata imarah bermakna menjaga agar sesuatu tetap hidup, tidak rusak, dan terus berfungsi sesuai tujuannya.

Karena itu, memakmurkan masjid bukan hanya soal karpet, pintu, atau kubah, tetapi menjaga ruh, fungsi, dan orientasi masjid agar tetap menjadi pusat pembinaan iman dan kehidupan umat.

“Masjid harus dipelihara tujuannya. Allah tidak hanya bicara tentang memelihara jendela, pintu, karpet, atau tempat wudu. Dia bicara tentang menjaga tujuan masjid itu sendiri,” katanya.

Masjid disebut sebagai “masajidallah”, rumah Allah. Konsep ini menegaskan bahwa masjid bukan milik individu, kelompok, atau kepentingan tertentu. Segala aktivitas di dalamnya harus tunduk pada nilai yang diridhai Allah. Di masjid, seluruh simbol status dunia ditanggalkan. Tidak ada perbedaan kelas, jabatan, atau kekayaan.

Semua berdiri sejajar dalam shaf yang sama, dengan dahi yang sama-sama menempel ke tanah. Inilah pendidikan kesetaraan yang paling mendasar, yang mengajarkan kerendahan hati dan membentuk karakter manusia yang tidak merasa lebih tinggi dari sesamanya.

Apa yang dipelajari di dalam masjid seharusnya memengaruhi cara hidup di luar masjid. Kesadaran bahwa manusia hanyalah hamba Allah akan melahirkan sikap sosial yang adil, rendah hati, dan penuh empati. Dengan demikian, masjid menjadi sekolah nilai yang membentuk perilaku individu dan masyarakat.

“Ketika datang ke sini (masjid), satu-satunya kerendahan hati yang tersisa adalah kepada Allah. Ini adalah cara Allah mengajar kita bahwa di sini bukan tentang kepribadian seseorang, kualifikasi, atau pangkat. Tidak ada yang lebih baik dari yang lain. Kita semua sama-sama rendah di hadapan Allah,” terangnya.

Fungsi pendidikan masjid mencapai puncaknya melalui transformasi Al-Qur’an. Sejarah mencatat bahwa Al-Qur’an diturunkan selama 23 tahun kepada masyarakat Arab yang telah memiliki sistem nilai, budaya, dan tradisi yang mengakar selama berabad-abad. Namun, dalam rentang waktu tersebut, Al-Qur’an berhasil mengubah hampir seluruh aspek kehidupan mereka. Bukan hanya struktur sosial atau politik yang berubah, tetapi cara berpikir, merasa, mencintai, membenci, dan memandang dunia.

Revolusi Hati

Muzakkir lebih jauh menjelaskan bahwa revolusi Al-Qur’an berbeda dari revolusi mana pun dalam sejarah. Ia bukan revolusi kekuasaan, melainkan revolusi hati. Al-Qur’an tidak pertama-tama mengubah sistem, tetapi mengubah apa yang diinginkan manusia. Ketika hati tunduk kepada Allah, seluruh orientasi hidup ikut berubah. Standar kesuksesan tidak lagi diukur dari kekuasaan, harta, atau popularitas, tetapi dari keridhaan Allah dan perjumpaan dengan-Nya.

Di sinilah masjid menjadi episentrum transformasi Qur’ani. Dari masjid, semangat belajar Al-Qur’an, mentadabburi makna, dan menghidupkan nilai-nilainya harus terus ditumbuhkan. Iman lahir dan berkembang ketika jiwa manusia senantiasa berinteraksi dengan wahyu. Tanpa fungsi ini, masjid akan kehilangan perannya sebagai pusat perubahan.

“Kampanye pertama dari revolusi ini adalah mentransformasi jiwa. Jiwa adalah pusat percakapan dalam Al-Qur’an, terutama pada periode awal. Semuanya dimulai ketika hati berpaling kepada Allah,” katanya.

Selain sebagai pusat pendidikan, masjid juga berfungsi sebagai pusat rekonstruksi sosial dan ekonomi. Hal ini ditegaskan melalui penyebutan zakat dalam Surah At-Taubah ayat 18. Zakat menunjukkan adanya relasi sosial antara mereka yang mampu dan mereka yang membutuhkan. Masjid menjadi tempat bertemunya potensi ekonomi, solidaritas sosial, dan kepedulian antarsesama. Di sana, hubungan personal terbangun, kerja sama lahir, dan kebutuhan umat dapat dikenali secara langsung.

Masjid juga berperan melahirkan kepemimpinan umat. Rasulullah menyebut masjid sebagai tempat yang paling dicintai Allah, menunjukkan kedudukannya yang sentral dalam kehidupan Islam. Dari masjid lahir pemimpin yang takut kepada Allah, berjiwa melayani, dan berkomitmen pada keadilan. Kepemimpinan seperti ini tidak dibangun dari ambisi, tetapi dari kedekatan dengan wahyu dan tanggung jawab moral.

Dalam pada itu, refleksi Muzakkir mengingatkan bahwa membangun masjid, sebesar apa pun, tidak otomatis menjamin hidayah. Allah menggunakan kata “mudah-mudahan” dalam ayat tersebut, sebagai peringatan agar manusia tidak terjebak pada kebanggaan atas amal masa lalu. Memakmurkan masjid adalah proses yang tidak pernah selesai. Tujuan, fungsi, dan ruhnya harus terus direkonstruksi agar tetap hidup dan relevan.

“Kita tidak mendapatkan sertifikat hidayah hanya karena melakukan satu amal besar. Anda harus terus mengejar hidayah karena “pembangunan” masjid tidak pernah selesai. Secara makna imarah, tujuannya harus terus direkonstruksi setiap saat,” jelasnya.

Dia menegaskan, masjid yang hidup adalah masjid yang terus meniupkan kehidupan ke dalam iman, ilmu, ekonomi, dan kepemimpinan umat. Dari sanalah peradaban Islam bertumbuh dan memberi cahaya bagi dunia, tandasnya.

Layanan Makanan Siap Saji Menjangkau 250 Penyintas Bencana di Aceh Tamiang

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Sebanyak 250 warga dan anak-anak penyintas bencana tercatat sebagai penerima manfaat dalam kegiatan layanan pangan yang berlangsung tertib di Semadam, Kabupaten Aceh Tamiang. Mereka berkumpul secara teratur di posko pelayanan untuk menerima makanan siap santap, sebuah kegiatan yang menjadi bagian dari respons kemanusiaan bagi masyarakat terdampak bencana di wilayah tersebut.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di posko Stasiun Pelayanan Penyintas Bencana (SPPB) yang diinisiasi oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dan didukung Tim Siaga Bencana Hidayatullah Aceh. Program ini dirancang sebagai dukungan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya pangan, di tengah situasi darurat yang masih membatasi aktivitas warga sehari-hari.

Pelaksanaan layanan pangan ini mendapat dukungan dari Bunda Aisah. Melalui kerja sama dengan BMH, amanah sedekah yang dititipkan disalurkan kepada warga terdampak bencana, dengan sasaran utama keluarga dan anak-anak yang berada di sekitar posko pengungsian. Penyaluran dilakukan secara terkoordinasi untuk memastikan ketertiban dan pemerataan manfaat.

Sejak pagi hari, warga telah berdatangan ke lokasi kegiatan. Anak-anak, orang tua, hingga lansia terlihat mengikuti arahan relawan dengan disiplin. Tidak terdapat antrean yang tidak teratur, karena pendataan penerima manfaat telah dilakukan sebelumnya. Situasi ini memungkinkan proses pembagian makanan berlangsung dengan lancar dan kondusif.

Bagi sebagian penyintas, makanan siap santap yang diterima memiliki makna lebih dari sekadar konsumsi harian. Dalam kondisi keterbatasan akses pangan dan kesehatan, bantuan tersebut menjadi penopang penting agar keluarga tetap dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka. Anak-anak menjadi kelompok yang paling terlihat merasakan dampaknya, karena sebagian besar dari mereka datang langsung untuk menerima makanan.

Salah satu penerima manfaat adalah Selfi, siswi kelas enam sekolah dasar. Ia menerima porsi makanan dengan raut wajah cerah. Dalam keterbatasan yang dihadapinya hari itu, bantuan pangan tersebut memastikan bahwa ia dan keluarganya tetap dapat makan. Kondisi kesehatan orang tua yang sedang terganggu membuat bantuan tersebut memiliki arti tersendiri bagi keluarganya.

Selain Selfi, terdapat pula Aldi, anak lain yang ikut dalam barisan penerima manfaat. Ia menerima makanan sambil menyampaikan ucapan terima kasih kepada donatur. Ekspresi polos anak-anak tersebut mencerminkan bagaimana bantuan sederhana dapat memberikan rasa aman dan ketenangan di tengah situasi pascabencana..

Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan BMH pusat. Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, turun langsung ke lokasi untuk memantau jalannya program. Menurut Imam, respons warga terhadap program ini sangat positif, terutama dari kalangan anak-anak.

Ia menyaksikan secara langsung bagaimana paket makanan yang sederhana mampu menghadirkan suasana berbeda di lingkungan pengungsian. Kegiatan ini tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga membantu menciptakan suasana yang lebih tenang dan bersahabat di tengah kondisi darurat.

Program layanan pangan melalui SPPB merupakan bagian dari rangkaian respons BMH dalam penanganan dampak bencana. Pendekatan yang digunakan menekankan pada ketepatan sasaran, ketertiban distribusi, serta penghormatan terhadap martabat penerima manfaat.

“Seluruh proses dilakukan dengan melibatkan relawan yang telah mendapatkan pembekalan dasar terkait pelayanan kebencanaan,” katanya.

Di tengah kondisi pascabencana yang masih menyisakan berbagai keterbatasan, layanan pangan tersebut menjadi salah satu upaya untuk menjaga stabilitas kehidupan warga terdampak.

HCR Planting Day Tumbuhkan Kesadaran Ekologis Santri demi Keberlanjutan Alam dan Bangsa

0

BANDUNG TIMUR (Hidayatullah.or.id) — Melalui sebuah kegiatan edukatif dan ekologis, diharapkan tumbuh kesadaran bersama bahwa kepedulian terhadap lingkungan hidup merupakan tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat termasuk para santri.

Santri adalah sebagai generasi penerus yang tidak hanya diharapkan unggul dalam penguasaan ilmu agama, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap keberlangsungan alam sebagai bagian dari amanah kebangsaan dan keagamaan.

Kesadaran tersebut menjadi landasan pelaksanaan kegiatan peduli lingkungan bertajuk HCR Planting Day yang digelar oleh para santri penghafal Al-Qur’an dari Pondok Pesantren Hidayatullah Cilengkrang, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 7 Rajab 1447 (27/12/2025), di kawasan Agroforestri Indonesia yang berada di lereng bawah Gunung Manglayang, sebuah wilayah yang dikenal memiliki fungsi ekologis penting bagi kawasan sekitarnya.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, para santri bersama unsur masyarakat dan mitra kegiatan melakukan penanaman 200 pohon. Aksi penanaman ini diproyeksikan sebagai langkah konkret dalam mendukung pelestarian lingkungan serta menjaga keseimbangan ekosistem. Penanaman pohon dipilih sebagai simbol sekaligus praktik nyata perawatan bumi yang berkelanjutan, sejalan dengan prinsip Islam yang memandang manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Koordinator kegiatan HCR Planting Day, Harry Firmansyah, mengatakan kawasan Agroforestri Indonesia dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki peran strategis dalam konservasi alam dan pendidikan lingkungan. Sistem agroforestri mengintegrasikan fungsi kehutanan dan pertanian, sehingga mampu menjaga produktivitas lahan sekaligus melestarikan sumber daya alam.

“Melalui keterlibatan santri dalam ruang ekologis seperti ini, pesantren mendorong pembelajaran kontekstual yang menghubungkan nilai keagamaan dengan realitas lingkungan hidup,” katanya dalam keterangannya.

Harry menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari proses pembinaan karakter santri. Menurutnya, pendidikan pesantren tidak hanya berorientasi pada penguatan spiritual dan intelektual, tetapi juga pembentukan kepedulian sosial dan ekologis. Lingkungan hidup dipandang sebagai bagian dari kehidupan umat yang harus dijaga secara kolektif.

Ia menekankan bahwa nilai-nilai Islam mengajarkan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Oleh karena itu, penanaman pohon tidak sekadar dimaknai sebagai aktivitas fisik, melainkan sebagai internalisasi nilai tanggung jawab dan amanah. Santri diajak memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan wujud pengamalan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari asatidz dan santri Hidayatullah Cilengkrang, alumni HCR, perwakilan dari Salman ITB, Karang Taruna Desa Cilengkrang, hingga tokoh masyarakat setempat.

Harry mengatakan, dengan keterlibatan beragam elemen semakin menguatkan terbangunnya sinergi lintas komunitas dalam isu lingkungan hidup. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi modal sosial penting dalam menjaga kelestarian alam secara berkelanjutan.

Santri Adaptif Terhadap Tantangan Zaman

Lebih jauh, Harry menjelaskan, partisipasi santri dalam kegiatan ini juga menegaskan peran pesantren sebagai institusi pendidikan yang adaptif terhadap tantangan zaman. Di tengah isu krisis iklim dan degradasi lingkungan, pesantren berupaya menempatkan santri sebagai subjek perubahan yang memiliki kesadaran ekologis.

“Nilai keindonesiaan yang menekankan gotong royong dan kepedulian terhadap ruang hidup bersama menjadi spirit yang menyertai pelaksanaan kegiatan ini,” katanya.

Selain aspek lingkungan, kegiatan ini memperkuat relasi sosial antara pesantren dan masyarakat sekitar. Interaksi langsung di lapangan membuka ruang dialog dan kerja sama yang saling menguatkan. Dengan demikian, pesantren tidak berdiri terpisah dari masyarakat, melainkan hadir sebagai bagian integral dari upaya pembangunan berkelanjutan berbasis nilai-nilai lokal dan religius.

Melalui HCR Planting Day, diharapkan terbentuk pemahaman kolektif bahwa merawat alam adalah tugas bersama. Santri sebagai generasi muda, jelas Harry, dipersiapkan untuk memiliki kesadaran ganda, yaitu kecakapan dalam ilmu keislaman dan tanggung jawab terhadap lingkungan hidup.

“Kesadaran ini menjadi bekal penting dalam membangun masa depan bangsa yang berlandaskan iman, ilmu, dan kepedulian terhadap keberlangsungan bumi sebagai rumah bersama,” katanya menandaskan.

Tiga Hari Tanpa Makan dan Minum, Imam Masjid Selamat dari Banjir Bandang Aceh Tamiang

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Ustadz Maimun, imam masjid di Desa Banai, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, harus bertahan selama tiga hari tiga malam tanpa makan dan minum di atas plafon rumahnya.

Ia menjebol plafon demi menyelamatkan diri setelah banjir bandang tiba-tiba merendam kawasan permukiman. Kisah tersebut menjadi gambaran nyata kerasnya dampak bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah timur Provinsi Aceh dan meninggalkan trauma mendalam bagi para penyintas.

Peristiwa itu terungkap dalam rangkaian kegiatan pemulihan pascabanjir bandang yang dilakukan secara kolaboratif oleh Tim Siaga Bencana Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Aceh bersama Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Aksi kemanusiaan tersebut dilaksanakan secara bertahap sebagai bagian dari upaya recovery sosial dan lingkungan di wilayah terdampak.

Pada Ahad, 8 Rajab 1447 (28/12/2025), tim gabungan melanjutkan kegiatan bersih-bersih lingkungan di Desa Banai setelah sebelumnya melakukan pembersihan fasilitas pendidikan.

Sejumlah rumah warga menjadi sasaran kerja bakti, termasuk rumah Maimun yang masih berdiri di tengah kerusakan parah rumah-rumah di sekitarnya. Lumpur tebal yang mengendap di lantai dan perabot menjadi penanda kuat terjangan banjir bandang yang melampaui kapasitas sungai.

Tanggung Jawab Kemanusiaan

Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Aceh, Harun Rasyid, memimpin langsung kegiatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa gerakan gotong royong ini merupakan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan untuk memulihkan kondisi masyarakat pascabencana banjir dan longsor yang terjadi di berbagai wilayah Sumatera, termasuk Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.

Berdasarkan data terkini geoportal data bencana di laman Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kabupaten Aceh Tamiang tercatat sebagai salah satu daerah dengan tingkat dampak paling berat, selain Aceh Utara yang berada pada kategori tertinggi. Kondisi geografis Aceh Tamiang yang dilalui sungai-sungai besar, seperti Sungai Tamiang, turut memengaruhi besarnya risiko banjir ketika curah hujan ekstrem terjadi secara beruntun.

Aceh Tamiang sendiri dikenal sebagai wilayah paling timur Provinsi Aceh yang berbatasan langsung dengan Sumatera Utara. Daerah ini memiliki potensi sumber daya alam berupa minyak, gas, dan perkebunan kelapa sawit, sekaligus menjadi jalur strategis yang sering disebut sebagai gerbang timur Aceh. Namun, potensi tersebut beriringan dengan kerentanan bencana hidrometeorologi akibat kondisi alamnya.

Dalam kegiatan pemulihan, tim relawan tidak hanya membersihkan rumah warga, tetapi juga memusatkan perhatian pada rumah ibadah. Lantai masjid dibersihkan dari endapan lumpur, sementara sajadah yang terendam banjir dicuci meski sebagian sudah tidak layak pakai. Langkah ini dilakukan agar masjid tetap dapat difungsikan sebagai pusat ibadah dan penguatan spiritual warga.

Rumah Warga Hanyut

Harun Rasyid menuturkan bahwa rumah Maimun masih berdiri utuh, namun rumah-rumah warga di sisi kiri dan kanan telah hancur rata dengan tanah dan hanyut terbawa arus, menyisakan pondasi bangunan.

Dalam situasi itulah Maimun bertahan di atas plafon selama berhari-hari, menunggu air surut dan pertolongan datang. Kisah tersebut menjadi simbol ketabahan dan ikhtiar bertahan hidup di tengah keterbatasan ekstrem.

Menurut Harun, kehadiran relawan di masa pemulihan tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan fisik masyarakat terdampak, tetapi juga memberikan penguatan moral. Spirit keislaman diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama, sementara nilai keindonesiaan tercermin dalam gotong royong lintas elemen masyarakat yang bahu-membahu membantu penyintas.

Ia menegaskan bahwa program recovery diupayakan dapat berjalan secara berkelanjutan, dengan menyesuaikan ketersediaan logistik dan dukungan dari masyarakat luas. Keberlanjutan tersebut sangat bergantung pada sinergi antara lembaga kemanusiaan, komunitas lokal, dan para donatur yang mempercayakan amanahnya.

Dukungan Laznas BMH

Dalam kesempatan itu, Harun juga menyampaikan apresiasi kepada Laznas BMH yang telah memberikan dukungan nyata dalam pelaksanaan program pemulihan. Dukungan tersebut dinilai memperkuat daya jangkau bantuan sekaligus memastikan proses recovery berjalan lebih terstruktur.

Di tengah situasi darurat yang masih menyisakan ketidakpastian, kehadiran relawan menjadi ruang empati bagi warga terdampak. Interaksi sederhana, kerja bersama membersihkan lumpur, dan perhatian terhadap rumah ibadah menghadirkan kembali rasa kebersamaan.

“Dari situ, harapan untuk bangkit perlahan tumbuh, seiring keyakinan bahwa ujian bencana dapat dihadapi dengan kesabaran, doa, dan solidaritas,” kata Harun dalam keterangannya.

Harun mengajak masyarakat untuk terus mendoakan agar ikhtiar kebaikan ini dapat berjalan konsisten selama masa pemulihan. Ia berharap, setiap langkah kecil yang dilakukan bersama dapat menjadi jalan keberkahan dan memperkuat ketahanan sosial masyarakat pascabencana.

Teladan Nabi sebagai Agen Peradaban yang Bangunkan Manusia dari Kelalaian

0

DALAM perjalanan panjang sejarah manusia, kisah para nabi dan rasul bukan sekadar rangkaian cerita masa lampau. Ia adalah cermin yang memantulkan satu pola besar bahwa setiap utusan Allah hadir membawa misi perubahan yang mendalam dan menyeluruh.

Bukan perubahan kecil yang bersifat tambal sulam, melainkan transformasi peradaban secara utuh. Inilah yang dalam tradisi keilmuan Islam dikenal sebagai tahawwul hadhori, perubahan mendasar dari tatanan kehidupan yang rusak menuju kehidupan yang berpijak pada tauhid, keadilan, dan akhlak mulia.

Jika ditelusuri lebih jauh, kerusakan masyarakat yang dihadapi para nabi tidak pernah bersifat tunggal. Ia selalu kompleks, merambah keyakinan, moral, struktur sosial, hukum, hingga budaya. Karena itu, solusi yang dibawa para nabi pun tidak parsial. Mereka tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga membenahi cara manusia berpikir, bersikap, dan mengatur kehidupan bersama.

Transformasi Aqidah

Transformasi pertama dan paling mendasar adalah transformasi aqidah. Para nabi diutus kepada masyarakat yang terjebak dalam kemusyrikan, penghambaan kepada makhluk, benda, kekuasaan, atau hawa nafsu.

Tauhid datang sebagai pembebasan. Ia membebaskan manusia dari ketergantungan palsu dan mengembalikan orientasi hidup hanya kepada Allah. Ketika tauhid tegak, manusia tidak lagi tunduk pada sesama manusia secara zalim, karena ia sadar bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan ditaati secara mutlak.

Namun aqidah yang lurus tidak berhenti di keyakinan batin. Ia menuntut pengejawantahan dalam sikap hidup. Di sinilah transformasi moral dan akhlak mengambil peran penting. Masyarakat yang dibenahi para nabi umumnya berada dalam situasi kebodohan moral dimana kejujuran dianggap lemah, amanah dipandang beban, dan kekerasan menjadi hal biasa.

Para nabi hadir untuk menumbuhkan nilai-nilai baru yang membawa nilai kejujuran yang menenteramkan, amanah yang menguatkan kepercayaan, serta kasih sayang yang memuliakan sesama. Akhlak bukan hiasan, melainkan fondasi kehidupan bersama.

Transformasi Sosial

Perubahan akhlak ini kemudian meluas ke ranah sosial. Banyak masyarakat yang dihadapi para nabi hidup dalam sistem penindasan. Yang kuat menekan yang lemah, yang kaya menghisap yang miskin, dan yang berkuasa merasa berhak menentukan nasib orang lain.

Transformasi sosial yang dibawa para nabi memutus mata rantai ketidakadilan tersebut. Mereka menegaskan persamaan derajat manusia, bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh status, harta, atau garis keturunan, melainkan oleh ketakwaan dan integritas moral.

Namun keadilan sosial tidak akan kokoh tanpa perubahan sistem hukum dan tata kehidupan. Inilah transformasi berikutnya. Hukum buatan manusia sering kali lahir dari kepentingan, sehingga tajam kepada yang lemah dan tumpul kepada yang kuat.

Para nabi membawa hukum Allah sebagai penyeimbang, hukum yang menempatkan keadilan sebagai tujuan utama. Hukum ilahi hadir untuk melindungi semua pihak, bukan untuk menguntungkan segelintir orang. Ia menegakkan prinsip bahwa tidak ada seorang pun yang kebal dari tanggung jawab moral dan hukum.

Transformasi Peradaban

Selain itu, para nabi juga melakukan transformasi budaya dan peradaban. Tradisi yang menyimpang tidak serta-merta dimusnahkan, tetapi diarahkan dan dimurnikan.

Budaya yang semula sarat dengan kesia-siaan, kekerasan, dan penghinaan terhadap martabat manusia, diubah menjadi budaya yang bernilai ibadah, bermakna, dan menjunjung tinggi kemanusiaan. Seni, tradisi, dan kebiasaan hidup diarahkan agar selaras dengan nilai tauhid dan etika.

Contoh paling nyata dari keseluruhan proses ini dapat dilihat pada perjalanan Rasulullah ﷺ. Beliau tidak hanya menyampaikan wahyu, tetapi membangun sebuah masyarakat baru.

Masyarakat yang sebelumnya terjerumus dalam kejahiliahan perlahan berubah menjadi komunitas yang bertauhid, berilmu, berakhlak mulia, dan berkeadilan. Perubahan itu tidak terjadi seketika, tetapi melalui proses panjang yang penuh kesabaran, keteladanan, dan pengorbanan.

Dari sini kita belajar bahwa para nabi dan rasul bukan sekadar penyampai ajaran di mimbar-mimbar spiritual. Mereka adalah agen perubahan peradaban. Mereka hadir untuk membangunkan manusia dari kelalaian, mengajak berpikir ulang tentang arah hidup, dan menuntun menuju tatanan yang lebih bermartabat.

Refleksi ini menjadi sangat relevan bagi kehidupan kita hari hari ini. Ketika kita menyaksikan krisis moral, ketimpangan sosial, dan ketidakadilan hukum, pesan para nabi seakan kembali mengetuk nurani.

Perubahan sejati tidak dimulai dari sistem semata, tetapi dari manusia yang bersedia membenahi akidah, akhlak, dan tanggung jawab sosialnya. Dari sanalah lahir peradaban yang tidak hanya maju secara materi, tetapi juga luhur secara nilai.[]

*) Ust. Drs. Khoirul Anam, penulis alumni Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, Jatim, Anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sumut, pengasuh kajian rutin Tafsir Al Qur’an di Rumah Qur’an Yahfin Siregar Tamora dan pengasuh Hidayatullah Al-Qur’an Learning Centre Medan

Bantuan Kemanusiaan Jangkau Penyintas Erupsi Semeru yang Kehilangan Hunian

0

LUMAJANG (Hidayatullah.or.id) — Hasil asesmen lapangan menunjukkan kebutuhan mendesak para penyintas erupsi Gunung Semeru yang kehilangan tempat tinggal setelah sedikitnya 16 rumah warga tertimbun material vulkanik. Kondisi tersebut memaksa sebagian besar penduduk meninggalkan hunian mereka dan bertahan di tenda-tenda darurat di kawasan perbukitan. Temuan inilah yang menjadi dasar utama penyaluran bantuan kemanusiaan oleh Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Jawa Timur kepada warga terdampak di Kabupaten Lumajang.

Bencana erupsi Gunung Semeru kembali menyisakan persoalan kemanusiaan yang kompleks, khususnya bagi warga di Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro. Sejak rumah-rumah mereka tertutup material vulkanik, warga terpaksa mengungsi demi keselamatan keluarga. Dalam situasi tersebut, kebutuhan pangan, layanan kesehatan, dan rasa aman menjadi aspek paling krusial bagi keberlangsungan hidup para penyintas.

Merespons kondisi itu, BMH Jawa Timur menyalurkan bantuan kemanusiaan belum lama ini pada Rabu, 4 Rajab 1447 (24/12/ 2025) dengan fokus pada pemenuhan hak dasar pengungsi. Sebanyak 170 paket sembako didistribusikan kepada keluarga terdampak, disertai layanan kesehatan gratis yang ditujukan untuk memastikan kondisi fisik para penyintas tetap terpantau di tengah keterbatasan sarana dan prasarana pengungsian.

Bantuan tersebut tidak dilepaskan dari kajian lapangan yang dilakukan relawan BMH. Asesmen mendalam mencatat bahwa tertimbunnya 16 rumah telah memutus akses warga terhadap sumber pangan dan fasilitas dasar. Lingkungan pengungsian yang sederhana, dengan sanitasi terbatas dan cuaca yang tidak menentu, meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu.

Dalam pada itu, penyaluran sembako menjadi instrumen penting untuk menjaga ketahanan pangan pengungsi. Paket bantuan dirancang agar dapat menopang kebutuhan harian keluarga dalam masa darurat. Sementara itu, layanan kesehatan dihadirkan sebagai langkah preventif dan responsif terhadap potensi penyakit yang sering muncul pascabencana, seperti infeksi saluran pernapasan, gangguan kulit, dan kelelahan fisik.

Program kemanusiaan tersebut menyasar 170 penerima manfaat yang telah terdata. Kehadiran tim relawan di lokasi tidak hanya membawa bantuan logistik, tetapi juga menghadirkan pendampingan sosial. Bagi warga yang kehilangan rumah dan harus memulai kembali dari titik nol, dukungan moral menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pemulihan.

Kepala Divisi Program dan Pendayagunaan BMH Jawa Timur, Imam Muslim, menyampaikan bahwa terlaksananya program ini merupakan hasil kepercayaan masyarakat yang menyalurkan kepeduliannya melalui BMH. Menurutnya, dukungan para donatur menjadi energi utama dalam memastikan bantuan dapat menjangkau warga yang benar-benar membutuhkan.

Ia menegaskan bahwa amanah yang dititipkan oleh masyarakat luas dijalankan dengan prinsip kehati-hatian dan ketepatan sasaran. Penyaluran bantuan didesain berdasarkan kebutuhan riil di lapangan agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh para penyintas. Dalam pandangannya, kolaborasi antara lembaga kemanusiaan dan masyarakat merupakan kekuatan penting dalam menghadapi situasi darurat.

Lebih jauh, kegiatan ini juga mencerminkan komitmen BMH untuk hadir secara konsisten dalam setiap fase kebencanaan. Tidak berhenti pada penyaluran awal, BMH menyiapkan langkah pendampingan lanjutan guna mengawal proses pemulihan pascabencana. Pendekatan berkelanjutan ini diharapkan dapat membantu warga bangkit secara bertahap, baik dari sisi fisik, sosial, maupun spiritual.

Di tengah keterbatasan yang dihadapi para penyintas, kehadiran bantuan kemanusiaan menjadi simbol bahwa nilai-nilai solidaritas tetap hidup. Bantuan kepada mereka yang tertimpa musibah bukan sekadar aktivitas karitatif, melainkan manifestasi tanggung jawab bersama untuk menjaga martabat kemanusiaan.

“Upaya kemanusiaan yang berlandaskan asesmen lapangan, amanah keislaman, dan semangat kebangsaan menjadi elemen penting dalam menjaga harapan warga terdampak menuju masa pemulihan yang lebih baik,” tandas Imam Muslim menambahkan.