Beranda blog Halaman 49

Jejak Ayah dalam Jiwa Anak, Pelajaran Moral dari Kisah Nabi Yusuf

MARILAH kita mentadabburi pesan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sampaikan dalam Al Qur’an Surah Yusuf ayat 24, ketika Dia berfirman:

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهٖۙ وَهَمَّ بِهَاۚ لَوْلَآ اَنْ رَّاٰ بُرْهَانَ رَبِّهٖۗ كَذٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْۤءَ وَالْفَحْشَاۤءَۗ اِنَّهٗ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِيْنَ

“Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih.”

Dan marilah kita bayangkan keadaan Yusuf, seorang pemuda normal, digoda oleh seorang perempuan cantik, kaya lagi berkuasa. Perempuan itu berkehendak kepada Yusuf. Sekiranya Yusuf tidak melihat burhaana Robbih, tanda dari Tuhannya, niscaya akan terjadi kenistaan itu.

Lalu, apakah burhaana Robbih itu, yang membuat seorang pemuda mampu menolak diperbudak syahwatnya?

Ada banyak tafsir tentang makna burhaana Robbih. Akan tetapi penulis mengutip tafsir dari Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya yang menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan burhaana Robbih itu adalah bayangan dari Ayahanda tercinta, Nabi Ya’qub ‘alaihis salaam.

Ya Rohmaan! Yusuf berpisah dengan ayahnya semenjak kecil, tapi bayangan ayahnyalah yang menyelamatkan dia dari sebuah kemaksiyatan. Betapa luar biasanya Sang Ayah.

Masa yang singkat kebersamaan Yusuf dan ayahanda bukanlah masa ideal untuk sebuah pengajaran. Tapi sesingkat apapun kebersamaan, jika yang dinampakkan adalah sebuah keteladanan, maka ia akan menghunjam dan mengakar selamanya.

Bukankah sering kita mengeluhkan kenakalan anak kita dengan mengatakan “Saya tidak pernah mengajarkannya!”. Iya, memang kita tak mengajarkannya tapi tanpa sadar kita meneladankannya.

Jika kita menginginkan kebaikan-kebaikan pada anak kita, maka mulailah dengan menumbuhkan kebaikan itu pada ayahnya terlebih dahulu.

Itulah sebabnya intensitas dan kualitas kebersamaan ayah dan anak sangat menentukan karakternya di masa depan. Al Qur’an menyiratkannya dalam sebuah keadaan bahwa percakapan antara anak dan dan orang tua yang dikisahkan dalam ayat-ayat Al Qur’an didominasi percakapan antara ayah dan anak, bukan ibu dengan anak.

Padahal, jika mengamati faktanya, yang paling mungkin dan paling sering bercakap-cakap dengan seorang anak adalah ibunya. Sedikit tapi berkesan. Demikianlah mestinya peran seorang ayah. Dia memiliki quality time dengan anak-anaknya.

Quality time itu bukan (sekedar) berlibur di akhir pekan. Bukan menginap di hotel. Bukan makan di restoran. Bukan. Quality time itu adalah menanamkan keteladanan.

Quality time itu bercakap-cakap. Apa gunanya berlibur di tempat mahal, kalau masing-masing sibuk dengan berfoto dan mengambil video.

Sesekali, berilah anak-anak kita selembar kertas dan pena. Mintalah ia menulis kesan yang ia ingat dari ayahnya.

Jika matanya kosong menatap langit-langit. Tak ada sepatah kata di atas kertas itu. Bermuhasabahlah kita sebagai ayah. Jangan-jangan kita memang tak pernah hadir dalam hidupnya.[]

*) Ust. Samsul Arifin, penulis Ketua Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sulawesi Utara

Lingkar-lingkar Tugas Kader Organisasi Islam

0
ist – fuad fahrudin

KADER, sebagaimana dipahami dari berbagai sumber, memiliki definisi sebagai ‘seseorang yang disiapkan untuk menduduki peran penting atau menjalankan tugas khusus di satu organisasi dalam rangka menjaga keberlangsungan organisasi tersebut’.

Sementara itu peran penting dan tugas khusus yang dimaksud tentu berbeda antara satu organisasi dengan organisasi lainnya, tergantung pada basis nilainya. Berbeda basis nilai akan menghasilkan tugas khusus yang berbeda pula.

Adapun organisasi berbasis nilai keislamanan akan menyusun daftar peran serta tugas kadernya dalam bingkai ajaran Islam. Sementara itu bingkai ajaran Islam disusun dalam lingkar-lingkar kehidupan muslim. Paling penting adalah lingkar kehidupan individu dan keluarga, sebagaimana disampaikan Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6, “Wahai orang-orang beriman, jagalah diri dan keluarga kalian dari siksa api neraka.”

Berikutnya adalah lingkar kehidupan masyarakat. Di lingkar ini seorang muslim diharapkan berperan dalam berbagai aspek kehidupan. Minimal dua bidang digelutinya, yakni profesional dan sosial.

Seorang kader di organisasi Islam akan mendapatkan tugas dalam tiga lingkar tersebut. Dalam hal ini seorang kader perlu menyiapkan dirinya. Energi dan sumber daya yang dimilikinya mungkin akan terbagi, tidak hanya untuk diri sendiri dan keluarga. Masyarakat dan organisasi juga ikut menyedot energi dan sumber daya.

Meskipun demikian keikutsertaan kader di organisasi tidaklah rugi. Hal ini dikarenakan sejumlah manfaat telah disiapkan organisasi untuk kader, salah satunya desain pengembangan diri kader secara berkelanjutan dalam bingkai lingkar-lingkar tugas kader. Sekali lagi disampaikan, lingkar-lingkar tersebut didasarkan pada lingkar-lingkar kehidupan seorang muslim.

Lingkar-lingkar tugas kader ini penting, agar konflik intra dan antarpersonal bisa diminimalisir, sementara manfaat dimaksimalkan.

Lingkar kehidupan individu

Manusia memiliki sejumlah aspek diri dan kehidupan. Beberapa di antaranya adalah spiritual, intelektual, fisik, emosional, sosial, dan finansial. Lainnya yang juga penting adalah kepemimpinan.

Organisasi dan kadernya perlu memperhatikan keseimbangan bagi keseluruhan aspek tersebut. Peta pengembangan diri kader perlu dimiliki oleh keduanya. Agar arah pengembangan kader yang simultan bisa tercipta untuk dilalui oleh kader. Dampaknya bisa efektif bagi kader, juga organisasi.

Sebaliknya tanpa peta pengembangan diri kader, konflik intrapersonal diri kader berpotensi muncul. Dirinya bingung. Terjadilah gejala split personality.

Dalam hal ini ilmu tentang pemetaan potensi diri kader bersifat penting bagi organisasi. Pirantinya perlu dimiliki, direviu dan dikembangkan berkala. Di tahap awal organisasi memiliki opsi untuk menggunakan jasa pihak ketiga. Akan tetapi di tahap berikutnya kemandirian pengelolaan piranti mesti dikelola mandiri. Agar kemandirian pengelolaan sumber daya insani lebih sesuai dengan orientasi organisasi.

Berkaitan dengan tugas kader, organisasi merancang tugas-tugas individual kader yang berorientasi terhadap pengembangan diri kader. Tugas-tugas ini, sebagaimana telah disampaikan, bersifat menyebar ke seluruh aspek diri dan kehidupan kader.

Pemberian tugas-tugas ini perlu didampingi intensif. Mentoring dilakukan periodik. Pelaporan sistematis ditelaah dan ditindaklanjuti. Kader dituntun untuk lebih berkemajuan tiap waktu.

Lingkar kehidupan keluarga

Kader, terutama di negara-negara berkembang, sulit terpisah dari keluarga. Sementara dalam perspektif Islam, seorang kader sebagaimana muslim lainnya harus selalu terhubung dengan keluarga. Perannya yang penting adalah saling jaga dalam keluarga supaya senantiasa berada pada kebaikan.

Saling jaga antar anggota keluarga dilakukan kader dengan sabar serta sadar. Sabar bermakna kader tidak terburu-buru, menggunakan pentahapan. Sementara sadar bermakna menyadari posisi dirinya di keluarga, sehingga adab-adab diperhatikan.

Semakin baik adab ditegakkan, semakin besar kader mendapatkan dukungan dari keluarga untuk berbuat baik, terutama di organisasinya. Anggota keluarga lain melihat bahwa idealitas kader serta organisasinya tidak abstrak. Wujudnya bisa dilihat, didengar, dan dirasakan.

Selanjutnya anggota keluarga memiliki kepercayaan diri sebagai bagian keluarga besar organisasi. Mereka menjadi corong organisasi di masyarakat. Organisasi menjadi hidup di masyarakat, bahkan harum namanya.

Terkait dengan tugas organisasi yang diberikan kepada kader untuk dijalankan di keluarganya, organisasi mengantarkan kader menjadi katalisator kebaikan. Kesabaran dan kesadaran kader dikuatkan terus oleh organisasi. Bentuknya bermacam-macam, antara lain pemberian ilmu serta pendampingan. Selain itu, sebagai penguat edukasi organisasi terhadap keluarga, dilangsungkan pertemuan antarkeluarga kader. Semoga soliditas dan solidaritas keluarga besar organisasi semakin kuat.

Lingkar kehidupan masyarakat
Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 110 menyampaikan, “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.”

    Mufassir menafsirkan ayat ini dengan ‘Kalian, wahai umat Muhammad shallallah ‘alaih wa sallam, adalah sebaik-baik umat dengan manfaat yang luar biasa kepada sesama manusia. Kalian menyeru manusia kepada kebaikan, mencegah dari keburukan, serta kalian menjaga iman kepada Allah ta’ala.”

    Seorang muslim, apalagi kader terbina di organisasi Islam, diharapkan berkualitas. Selain itu, ia diharapkan berkontribusi kepada kehidupan insan sekitarnya. Kontribusinya tidak biasa tapi berkualitas, sehingga berdampak besar.

    Dalam hal ini hendaklah organisasi menyusun tugas-tugas terstruktur kepada kadernya untuk semakin berkualitas sesuai minat, bakat, dan profesinya. Setelah itu kader ditugaskan berkontribusi kepada masyarakat. Sebagai daya dukung lain, organisasi dirancang sebagai support system kader dalam berkontribusi. Struktur dan sistem organisasi dibangun supaya memungkinkan penyerapan aspirasi masyarakat secara cepat, untuk kemudian disusul dengan respon yang impactful.

    Organisasi dan kader itu satu kesatuan senyawa. Keduanya sinergis dan saling mempengaruhi. Pengembangan kualitas kader melalui berbagai penugasan diharapkan terus dilakukan. Dampaknya dirasakan oleh semua pihak, internal ataupun eksternal.

    Wallah a’lam.

    *) Fu’ad Fahrudin, penulis Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

    Tragedi Anak Bunuh Diri Peringatan Keras tentang Kemiskinan Ekstrem dan Akses Pendidikan

    0
    Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. Nanang Noerpatria, M.Pd (Foto: Bilal Tazkir/ Hidayatullah.or.id)

    JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. Nanang Noerpatria, M.Pd., menyampaikan keprihatinan mendalam atas peristiwa bunuh diri seorang siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga dipicu keterbatasan alat tulis belum lama ini.

    Peristiwa tersebut, menurutnya, harus menjadi bahan refleksi penting mengenai kegagalan kolektif dalam memastikan keadilan sosial dan perlindungan anak benar-benar hadir hingga lapisan masyarakat paling bawah.

    Nanang menegaskan bahwa ketika kemiskinan ekstrem sampai merampas harapan hidup seorang anak, hal itu menunjukkan bahwa sistem distribusi kesejahteraan belum sepenuhnya menyentuh akar rumput. Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai tragedi kemanusiaan yang sangat berat dan memerlukan refleksi nasional yang serius.

    “Negara dan seluruh elemen bangsa memikul tanggung jawab moral. Tidak boleh ada lagi anak bangsa yang merasa sendirian dalam kemiskinan hingga mengambil keputusan fatal hanya karena urusan buku dan pensil,” katanyat dalam keterangannya kepada media ini, Kamis, 17 Syaban 1447 (5/2/2026).

    Dia menyebutkan, data kemiskinan anak masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada 2024, Nusa Tenggara Timur termasuk provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi secara nasional, dengan persentase penduduk miskin berada di atas rata-rata nasional.

    Dalam laporan UNICEF Indonesia dan Bappenas sebelumnya juga disebutkan bahwa anak-anak di wilayah tertinggal dan pedalaman memiliki risiko lebih tinggi mengalami putus sekolah akibat keterbatasan akses ekonomi dan sarana pendidikan dasar.

    Nanang menilai bahwa tragedi ini harus menjadi momentum untuk memperbaiki pendekatan pembangunan manusia, khususnya pada sektor pendidikan dasar. Ia menekankan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada aspek akademik semata, tetapi harus menjadi ruang yang memanusiakan anak dan memberi mereka kekuatan menghadapi tekanan hidup.

    Dalam pada itu, Nanang menyampaikan tawaran solusi melalui pendekatan Pendidikan Integral Berbasis Tauhid (PIBT) yang dikembangkan Hidayatullah. Sistem ini dirancang untuk mengintegrasikan kecerdasan intelektual, pembentukan karakter, dan penguatan spiritual secara seimbang.

    Ia menjelaskan bahwa PIBT tidak menjadikan kemampuan finansial sebagai prasyarat utama bagi anak untuk mengakses pendidikan. Menurutnya, pendidikan yang berkeadilan harus memastikan bahwa biaya tidak menjadi penghalang bagi anak-anak dari keluarga miskin untuk belajar dan bertumbuh.

    Nanang menegaskan bahwa PIBT bertujuan membangun daya tahan mental dan spiritual anak, sehingga mereka memiliki sandaran nilai ketika menghadapi keterbatasan hidup. Pendidikan, dalam pandangannya, harus menjadi ruang penguatan martabat manusia, bukan sumber tekanan yang memperdalam rasa putus asa.

    Selain menawarkan pendekatan pendidikan, Nanang juga mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor. Ia menilai bahwa negara tidak mungkin bekerja sendiri dalam mengatasi kemiskinan ekstrem, terutama yang berdampak langsung pada anak-anak.

    “Kami juga mendorong Pemerintah, baik pusat maupun daerah, untuk lebih peka dan kolaboratif. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, peran lembaga penyantunan anak seperti LKSA harus diakui sebagai mitra strategis dalam mengentaskan kemiskinan ekstrem,” katanya.

    Nanang menjelaskan bahwa Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) di bawah naungan Hidayatullah telah lama bergerak di wilayah-wilayah rentan dan menyantuni anak-anak dari keluarga tidak mampu di berbagai pelosok Indonesia. Peran lembaga semacam ini, menurutnya, sering kali menjadi garda terdepan dalam mencegah anak putus sekolah dan mengalami keterlantaran.

    Ia menambahkan bahwa pemerintah perlu memberikan afirmasi kebijakan yang lebih kuat, termasuk kemudahan akses bantuan dan pengakuan kelembagaan bagi lembaga-lembaga sosial yang terbukti bekerja langsung di lapangan. Tanpa dukungan kebijakan yang memadai, terangnya, upaya penyelamatan anak akan berjalan lambat dan terfragmentasi.

    Demikian pula dalam aspek perlindungan sosial, Nanang menyoroti pentingnya memastikan bantuan negara benar-benar tepat sasaran. Ia mengingatkan agar program bantuan pendidikan dan pangan tidak berhenti pada tataran kebijakan, tetapi sampai ke anak-anak yang paling membutuhkan, khususnya di daerah terpencil.

    “Dan harus dipastikan bahwa bantuan pendidikan seperti KIP dan MBG benar-benar sampai kepada anak-anak di pedalaman yang paling membutuhkan, agar tidak ada lagi lubang dalam sistem jaring pengaman sosial,” katanya.

    Nanang meningatkan bahwa tragedi semacam ini tidak boleh terulang. Ia lagi lagi menyerukan agar negara, masyarakat, dan seluruh elemen bangsa memperkuat perlindungan anak dan memastikan tidak ada satu pun anak Indonesia yang kehilangan masa depan karena kemiskinan ekstrem.

    “Jangan sampai buku dan pena menjadi barang mewah yang harus dibayar dengan nyawa,” imbuhnya menandaskan.

    Hidayatullah Apresiasi Respons Cepat Pemkab Bojonegoro Tangani Dampak Puting Beliung

    0
    Tangkapan layar Pondok Pesantren Putri Hidayatullah Bojonegoro (Foto: JTV Bojonegoro/ Youtube)

    BOJONEGORO (Hidayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Nanang Noerpatria, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang sedalam-dalamnya kepada Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, khususnya kepada Wakil Bupati Nurul Azizah, atas respons cepat dan terkoordinasi dalam menangani dampak musibah angin puting beliung yang menimpa Kampus Pondok Pesantren Putri Hidayatullah Bojonegoro.

    Demikian disampaikan Nanang Noerpatria selaku pendamping wilayah Hidayatullah Jawa Timur, sebagai bentuk penghargaan atas langkah-langkah penanganan yang dilakukan oleh pemerintah daerah bersama jajaran terkait.

    “Kepemimpinan yang hadir di saat sulit adalah kepemimpinan yang melayani. Terima kasih Pemkab Bojonegoro atas dedikasinya menyelamatkan masa depan generasi penjaga Al-Qur’an,” ujarnya dalam keterangannya pada Kamis, 17 Syaban 1447 (5/2/2026).

    Musibah angin puting beliung yang terjadi di lingkungan kampus pesantren tersebut mengakibatkan kerusakan pada sejumlah fasilitas. Menanggapi kejadian itu, jajaran Pemerintah Kabupaten Bojonegoro hadir langsung di lokasi bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, aparat kepolisian, serta relawan. Kehadiran tersebut dipandang sebagai bagian dari upaya penanganan awal yang bersifat tanggap darurat terhadap dampak bencana.

    Nanang menyampaikan bahwa kehadiran jajaran pemerintah daerah di lokasi memberikan dorongan moral bagi para santriwati dan pengasuh Pondok Pesantren Putri Hidayatullah. Ia menyebut bahwa langkah tersebut menjadi bentuk perhatian pemerintah daerah terhadap keberlangsungan pendidikan keagamaan di wilayah Bojonegoro.

    Nanang menilai kehadiran Wakil Bupati Bojonegoro bersama tim BPBD, kepolisian, dan relawan sebagai wujud nyata kehadiran negara dalam situasi sulit yang dihadapi lembaga pendidikan keagamaan. Ia menyampaikan bahwa langkah cepat yang dilakukan melalui BPBD dan dinas terkait mencerminkan sinergi yang berjalan antara pemerintah daerah dan lembaga kemasyarakatan dalam menghadapi bencana.

    Nanang Noerpatria juga menegaskan kesiapan Hidayatullah untuk berkolaborasi dalam proses rehabilitasi bangunan yang terdampak. Ia menyampaikan bahwa kerja sama tersebut diarahkan agar kegiatan belajar mengajar para santriwati dapat kembali berlangsung secara normal dalam waktu yang secepatnya.

    Nanang menyatakan bahwa Hidayatullah akan terus memposisikan diri sebagai mitra strategis pemerintah termasuk Kabupaten Bojonegoro. Ia menegaskan bahwa kemitraan bersama membangun sumber daya manusia yang unggul dan berakhlakul karimah.

    Ia juga menyampaikan pesan kepada keluarga besar Hidayatullah Bojonegoro, khususnya para santriwati, agar tetap tegar menghadapi ujian yang terjadi.

    Nanang menyampaikan penguatan bahwa ujian yang dihadapi merupakan bagian dari ketentuan, serta menekankan bahwa dukungan yang datang dari pemerintah daerah dan masyarakat menjadi tanda adanya kebersamaan dalam menghadapi situasi sulit.

    Tiga Tema Pembicaraan Terbaik Menurut al-Qur`an

    0

    Al- Ikhlas Nirwana, 03 Januari 2026

    Ust. Muhammad Agung TJ, M.Si

    Khutbah I

    إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا..مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ 

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

    يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا 

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا 

    أَمَّا بَعْدُ . فَيَا عِبَادَ اللَّهِ ..   أُوصِيكُم وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُونَ

    Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā dengan sebenar-benar takwa, yaitu dengan menaati seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Salah satu wujud nyata dari ketakwaan itu adalah menjaga dan meningkatkan kualitas pembicaraan kita, karena setiap kata yang terucap akan dicatat dan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

    Di dalam al-Qur`an Surat an-Nisa ayat 114 Allah memberikan petunjuk tentang apa saja topik terbaik yang perlu dihadirkan dalam ruang percakapan kita sehari-hari. Allah berfirman:

    ۞ لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰىهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَاحٍۢ بَيْنَ النَّاسِۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا ١١٤

    Artinya : Tidak ada kebaikan pada banyak pembicaraan mereka, kecuali  orang yang menyuruh bersedekah, (berbuat) kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Siapa yang berbuat demikian karena mencari rida Allah kelak Kami anugerahkan kepadanya pahala yang sangat besar.

    Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, ayat yang mulia ini memberikan petunjuk kepada kita bahwa ada tiga tema pembicaraan atau obrolah terbaik yang diridhoi Allah dan mendatangkan pahala yang sangat besar, yaitu:

    Pertama, percakapan yang mengandung ajakan untuk bersedakah (   اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ   ). Satu ajakan sedekah dapat melahirkan banyak amal. Kebaikan yang awalnya kecil bisa berkembang luas dan terus mengalir pahalanya.  Mengajak pada sedekah bukan hanya menggerakkan tangan orang lain, tetapi juga membersihkan hati dari sifat kikir dan cinta dunia.  Mengajak sedekah dengan hikmah dan keteladanan adalah dakwah yang hidup, mudah diterima, dan berdampak langsung. Menganjurkan sedekah berarti membuka pintu pahala berlipat, meski kita belum mampu memberi banyak.

    Kedua, percakapan yang mengandung ajakan berbuiat kebaikan (   اَوْ مَعْرُوْفٍ   ).

    Saling mengajak kepada kebaikan menumbuhkan rasa saling peduli, cinta, dan tanggung jawab antar sesama muslim. Mengajak kepada kebaikan bukan mencela, tetapi menyelamatkan, dunia dan akhirat. Sebagaimana Rasul shallallahu alaihi wasallam bersabda:

    مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

     “Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR. Muslim).

    Ketiga, percakapan yang mendamaikan pertikaian ( اَوْ اِصْلَاحٍۢ بَيْنَ النَّاسِ ).

    Allah mencintai orang-orang yang berusaha memperbaiki hubungan dan menebarkan kedamaian di tengah umat. Dalam kondisi konflik, mendamaikan pihak yang berselisih lebih didahulukan daripada memperbanyak amalan sunnah yang bersifat individual. Sebaginama Rasul shallallahu alaihi wasallam bersabda:

    أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلاَةِ وَالصَّدَقَةِ قَالُوْا بَلَى قَالَ إِصْلاَحُ ذَاتِ الْبَيْنِ وَفَسَادُ ذَاتِ الْبَيْنِ الْحَالِقَةُ

    “Maukah kukabarkan kepada kalian perkara yang lebih afdal dibandingkan derajat puasa, shalat, dan sedekah?” Para sahabat menjawab, “Tentu saja.” Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Perbaikilah (hubungan) di antara sesama kalian. Dan rusaknya hubungan adalah pencukur (perusak agama).” (HR. Abu Daud).

    Hadirin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, siapa yang mengamalkan tiga hal yang dijelaskana tadi dengan ikhlas dan mengharapkan ridha Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā makka akan diberkan pahala yang sangat besar (  فَسَوْفَ نُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا  )

    Semoga kita semua jama’ah juma’at yang dimuliakan Allah mendapatkan pertolongan, hidayah dan taufiq untuk dapat mengamalkan tiga amalan tersebut.

    بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

    Khutbah II

    اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ .. أَمَّا بَعْدُ . فَيَا عِبَادَ اللَّهِ ..   أُوصِيكُم وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ المُتَّقُونَ

    اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

    إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا .. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

    اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِوَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

    اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

    عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

    Ketika Kebenaran Disampaikan Namun Tak Lagi Didengar

    0

    DALAM kehidupan sosial, ada satu ironi yang kerap berulang. Yaitu, ketika kebenaran disampaikan, namun justru ditolak, nasihat diucapkan, tetapi melahirkan jarak dan resistensi. Ironi ini sering kali tidak bersumber dari kesalahan isi, melainkan dari cara kebenaran itu dihadirkan. 

    Dalam ruang komunikasi manusia, kebenaran hampir tidak pernah berdiri telanjang. Ia selalu datang melalui bahasa. Dan, bahasa, memiliki kuasa untuk membuka atau justru menutup pintu hati.

    Tidak sedikit kebenaran yang gugur bukan karena lemah secara substansi, melainkan karena disampaikan dengan diksi yang kasar, tergesa, atau tanpa kepekaan.

    Di sinilah kita diingatkan bahwa niat baik, setulus apa pun, tidak otomatis menjelma menjadi kebaikan yang diterima. Ia menuntut tanggung jawab etis dalam bertutur. Bahasa bukan sekadar alat, tetapi cermin dari kedalaman akhlak dan keluasan hikmah seseorang.

    Islam sejak awal telah menempatkan bahasa pada posisi yang sangat sentral. Mukjizat terbesar Nabi Muhammad ﷺ bukanlah fenomena alam yang memukau mata, melainkan Al-Qur’an. Sebuah teks yang menantang akal, rasa, dan keindahan bahasa sekaligus. 

    Allah SWT menyebutnya sebagai ahsanal hadîts, perkataan terbaik yang pernah diturunkan kepada manusia (QS. Az-Zumar: 23). Ini memberi pesan kuat bahwa kebenaran ilahiah tidak disampaikan secara kasar atau serampangan, tetapi melalui struktur bahasa yang paling sempurna dan beradab.

    Para ulama klasik membaca pesan ini dengan kesadaran mendalam. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa lisan adalah pintu terbesar keselamatan sekaligus kebinasaan manusia. Menurutnya, banyak kebenaran kehilangan nilainya bukan karena salah, tetapi karena diucapkan tanpa hikmah. 

    Bahkan, ucapan yang benar, jika disampaikan dengan niat pamer, nada merendahkan, atau tanpa empati, dapat berubah menjadi sebab dosa. Dalam pandangan Al-Ghazali, menjaga adab bahasa adalah bagian dari tazkiyatun nafs—penyucian jiwa.

    Al-Qur’an sendiri memberi teladan etika bahasa yang sangat halus. Tidak ada keburukan yang disandarkan kepada Allah SWT dengan redaksi yang buruk. Bahkan ketika menjelaskan musibah, kesesatan, atau azab, Al-Qur’an menggunakan konstruksi bahasa yang penuh keagungan dan kehati-hatian. Ini bukan semata keindahan sastra, melainkan pendidikan moral bagi manusia: bahwa kebenaran yang agung harus dibungkus dengan adab yang agung pula.

    Prinsip ini ditegaskan dalam firman Allah SWT: 

    يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ

    “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar (qawlan sadîdâ)” (QS. Al-Ahzab: 70). 

    Menariknya, perintah berkata benar diletakkan berdampingan dengan perintah takwa. Seolah Allah ingin menegaskan bahwa kesalehan tidak hanya tercermin dari keyakinan batin, tetapi juga dari cara seseorang mengekspresikan kebenaran kepada orang lain.

    Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarijus-Salikin menjelaskan bahwa hikmah dalam berbicara adalah kemampuan menempatkan kata pada waktu, tempat, dan kondisi yang tepat. Menurutnya, banyak kebenaran gagal memberi hidayah bukan karena keliru, tetapi karena disampaikan pada saat yang salah atau dengan bahasa yang menutup pintu hati. 

    Bahasa yang tepat, dalam pandangan Ibn Qayyim, adalah bagian dari rahmat; sementara bahasa yang ceroboh dapat berubah menjadi alat pemaksaan.

    Hal ini semakin terang ketika kita membaca kisah pengutusan Nabi Musa AS kepada Firaun. Firaun adalah simbol kezaliman dan kesombongan, namun Allah SWT tetap memerintahkan Musa dan Harun untuk berbicara dengan qawlan layyinâ—kata-kata yang lembut (QS. Thaha: 44). 

    Perintah Tuhan kepada Musa ini menunjukkan bahwa kelembutan diksi bukanlah tanda kompromi terhadap kebenaran, melainkan strategi ilahiah agar kebenaran memiliki peluang untuk diterima. Jika kepada tiran saja bahasa lembut diperintahkan, maka sungguh janggal jika kebenaran di antara sesama manusia disampaikan dengan nada merendahkan dan melukai.

    Adab ini tercermin pula dalam sikap intelektual para ulama. Imam Asy-Syafi’i pernah berkata bahwa ia tidak pernah berdebat dengan seseorang kecuali berharap kebenaran tampak melalui lisan lawannya. 

    Ungkapan peletak dasar ilmu Ushul Fiqih tersebut mencerminkan kedewasaan berpikir dimana bagi beliau tujuan berbicara bukan memenangkan ego, melainkan menghadirkan kebenaran. Dan tujuan semacam ini hanya mungkin dicapai jika bahasa yang digunakan membuka ruang dialog, bukan mematikan percakapan.

    Di sinilah perintah pertama wahyu—Iqra’—menemukan relevansinya dalam konteks bahasa dan diksi. Membaca bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan proses pembentukan cara berpikir dan bertutur. Kemiskinan bacaan sering kali berbanding lurus dengan kemiskinan kosakata. Seseorang yang jarang membaca akan kesulitan menemukan kata yang tepat, sehingga mudah terjebak pada bahasa yang emosional, repetitif, atau tidak presisi.

    Membaca, dalam makna yang luas, melatih kepekaan terhadap realitas, data, dan konteks psikologis. Ia mengajarkan bahwa tidak semua kebenaran harus disampaikan dengan cara yang sama, dan tidak setiap situasi menuntut bahasa yang keras. Ibn ‘Athaillah As-Sakandari menyebut kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya sebagai tanda hikmah—dan hikmah inilah ruh dari komunikasi yang beradab.

    Pada akhirnya, kebenaran yang diniatkan dengan tulus, diperiksa melalui tabayyun, dan disampaikan dengan diksi yang tepat akan memiliki daya tembus yang jauh lebih kuat. Ia tidak hanya menyentuh akal, tetapi juga mengetuk hati. Al-Qur’an diturunkan sebagai pedoman hidup manusia, termasuk dalam cara bertutur. Maka menjaga adab bahasa bukanlah sekadar etika tambahan, melainkan bagian dari amanah risalah.

    Sebab sering kali, yang membuat kebenaran ditolak bukan karena ia salah, melainkan karena ia datang tanpa adab bahasa.[]

    *) Ahmad Sabil, S.Pd.I., S.H.I., penulis adalah Sekertaris Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Makassar

    Wakil Bupati Nurul Azizah Tinjau Ponpes Hidayatullah Bojonegoro Pasca Diterjang Angin Puting

    Tangkapan layar Pondok Pesantren Putri Hidayatullah Bojonegoro (Foto: JTV Bojonegoro/ Youtube)

    BOJONEGORO (Hidayatullah.or.id) — Hujan deras disertai angin kencang yang melanda wilayah Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, mengakibatkan atap Gedung Pondok Pesantren (Ponpes) Putri Hidayatullah roboh pada Selasa sore, 15 Sya’ban 1447 (03/02/2026). Insiden ini terjadi di Dusun Kalisari, Desa Banjarsari, sekitar pukul 16.30 WIB.

    Merespons kejadian tersebut, Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, turun langsung meninjau lokasi pada Rabu pagi untuk memastikan kondisi para santri dan penanganan pascabencana.

    Petugas gabungan dari BPBD, kepolisian, SAR dan BMH serta relawan Tagana terlihat bergotong royong membersihkan puing-puing bangunan yang berserakan.

    Dalam kunjungannya, Wabup Nurul Azizah menyampaikan keprihatinannya dan menginstruksikan pendataan untuk persiapan bantuan perbaikan fisik bangunan. Ia juga mengimbau masyarakat Bojonegoro untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan angin puting beliung yang masih mungkin terjadi.

    Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, meninjau Pondok Pesantren Putri Hidayatullah Bojonegoro (Foto: JTV Bojonegoro/ Youtube)

    Kapolsek Trucuk, AKP Mulyono, menjelaskan bahwa kerusakan parah terjadi pada bagian atap lantai dua yang terbuat dari galvalum dengan rangka besi, serta runtuhnya plafon ruang kelas dan asrama.

    Pelaksana Tugas (Plt) Kalaksa BPBD Bojonegoro, Heru Wicaksi, menambahkan bahwa atap yang roboh meliputi satu gedung kelas dan empat gedung asrama putri dengan dimensi kerusakan mencapai panjang 30 meter dan lebar 7 meter.

    Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam peristiwa ini. Sebelum kejadian, petugas keamanan pondok telah sigap mengimbau para santriwati untuk menjauh dari lokasi rawan menuju tempat yang lebih aman.

    Meski demikian, kerugian material akibat bencana ini ditaksir mencapai puluhan juta rupiah. Untuk keamanan, para santriwati yang sebelumnya menempati asrama lantai dua kini dipindahkan sementara ke gedung lantai satu dan masjid.

    Penguatan Mutu Pendidik, Hidayatullah dan Uhamka Bahas Kolaborasi Akademik

    JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Bidang Pendidikan, Muzakkir Usman, M.Pd., Ph.D., menerima kunjungan silaturrahim dari Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Rabu, 16 Sya’ban 1447 (4/2/2026).

    Pada pertemuan dalam rangka penguatan komunikasi antarlembaga dalam pengembangan pendidikan tinggi tersebut, Muzakkir Usman didampingi Ketua Departemen Pendidikan Tinggi dan Litbang DPP Hidayatullah, Muhammad Saddam, S.E., M.Ak.

    Dari pihak universitas, rombongan dipimpin oleh Ketua Program Studi Pendidikan Dasar UHAMKA, Dr. Yessy Yanita Sari, M.Pd., bersama Ketua Program Studi Pendidikan Matematika S2, Dr. Sigid Edy Purwanto, M.P., Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam S2, Dr. Tohirin, S.H.I., M.Pd.I., serta Staf Bidang Promosi & Administrasi Julius Irawan.

    Pertemuan diawali dengan perkenalan kelembagaan. Kedua pihak memaparkan visi, misi, serta fokus pengembangan pendidikan yang tengah dijalankan masing-masing institusi. Dialog kemudian berlanjut pada pembahasan isu-isu pendidikan terkini, khususnya tantangan peningkatan kualitas pendidik dan dosen di tengah tuntutan profesionalisme dan akreditasi akademik.

    Dalam suasana yang hangat, dilakukan penjajakan kerja sama antara Hidayatullah dan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka. Pembahasan difokuskan pada peluang pengembangan program Sarjana untuk mendukung linearitas kualifikasi guru-guru di lingkungan Hidayatullah, serta program Pascasarjana yang diarahkan pada peningkatan kapasitas dan kompetensi sumber daya dosen.

    Muzakkir Usman menegaskan pentingnya sinergi antarlembaga pendidikan dalam menjawab kebutuhan peningkatan mutu.

    “Kolaborasi akademik menjadi jalan strategis untuk memastikan peningkatan kualifikasi pendidik berjalan terarah dan berkelanjutan,” ujarnya. Ia menilai kerja sama lintas institusi merupakan langkah relevan untuk memperkuat ekosistem pendidikan nasional.

    Sementara itu Yessy Yanita menyampaikan keterbukaan terhadap inisiatif kolaboratif tersebut. Ia menilai pertemuan ini sebagai awal yang positif untuk membangun kerja sama yang saling menguatkan, khususnya dalam pengembangan program studi yang relevan dengan kebutuhan praktis dunia pendidikan.

    Silaturrahim ini diharapkan menjadi fondasi bagi kerja sama konkret di bidang pendidikan tinggi, sekaligus mempererat hubungan kelembagaan antara Hidayatullah dan Uhamka. Kedua pihak sepakat untuk menindaklanjuti hasil pertemuan melalui pembahasan teknis pada tahap berikutnya.[]

    SAR Hidayatullah dan Laznas BMH Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Pekalongan

    0

    PEKALONGAN (Hidayatullah.or.id) — Aksi siaga bencana kembali dilakukan oleh SAR Hidayatullah bersama Laznas BMH dengan menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat terdampak banjir di Desa Karangjompo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, pada Selasa, 16 Syaban 1447(4/2/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari respon darurat atas kondisi banjir berkepanjangan yang masih melanda wilayah tersebut.

    Sebanyak 100 paket bantuan sembako didistribusikan langsung kepada warga terdampak. Relawan SAR Hidayatullah turut terjun ke lapangan untuk memastikan bantuan diterima oleh masyarakat yang membutuhkan. Aksi ini diarahkan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga yang aktivitas kesehariannya terganggu akibat genangan air yang belum surut.

    Relawan SAR Hidayatullah, Johan Winarno, menyampaikan bahwa kehadiran tim kemanusiaan diharapkan dapat meringankan beban warga. “Kami berharap bantuan ini bisa sedikit membantu kebutuhan warga dan kondisi segera membaik agar masyarakat dapat kembali beraktivitas seperti semula,” ujarnya singkat di sela pendistribusian.

    Banjir di Kecamatan Tirto dilaporkan telah memasuki fase mengkhawatirkan. Selama kurang lebih dua pekan, empat desa yakni Jeruksari, Mulyorejo, Tegaldowo, dan Karangjompo terendam air. Banjir dipicu oleh kombinasi puncak musim hujan, fenomena rob, serta jebolnya tanggul sungai yang memperparah luapan air ke permukiman warga.

    Camat Tirto, Siswanto, melaporkan bahwa kondisi tersebut memaksa sedikitnya 1.600 jiwa meninggalkan rumah dan kini tersebar di 17 titik pengungsian. Di lapangan, kebutuhan medis mulai menipis, sementara fasilitas sanitasi di posko pengungsian dinilai tidak lagi memadai.

    Sejumlah kepala desa juga menyampaikan keterbatasan stok obat-obatan, terutama salep kulit untuk kutu air, obat diare, selimut, susu formula, serta pakaian dalam bagi warga pengungsi.

    Rakerwil Hidayatullah Jatim Catat Kontribusi BTH bagi Kemandirian Organisasi

    0

    BATU (Hidayatullah.or.id) — Direktur Baitut Tamwil Hidayatullah Jawa Timur, M Daud, menyampaikan bahwa Baitut Tamwil Hidayatullah Jawa Timur telah memberikan kontribusi kepada organisasi sebesar Rp 191 juta sepanjang tahun 2025. Kontribusi tersebut dilaporkan sebagai bagian dari pertanggungjawaban kinerja lembaga keuangan syariah tersebut dalam forum organisasi tingkat wilayah.

    Hal itu disampaikan M Daud dalam agenda Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Jawa Timur yang digelar di Kota Batu pada Jumat, 12 Syaban 1447 (31/1/2026).

    Dalam laporan kinerjanya, M Daud menjelaskan bahwa hingga akhir tahun 2025 total aset Baitut Tamwil Hidayatullah Jawa Timur telah mencapai Rp 40 miliar.

    Dengan capaian aset tersebut, BTH Jawa Timur mampu membagikan Sisa Hasil Usaha kepada para anggota sebesar Rp 990 juta. Pembagian SHU tersebut disampaikan sebagai bagian dari komitmen lembaga dalam memberikan manfaat langsung kepada anggota.

    “Alhamdulillah, dengan aset yang ada, BTH sudah bisa berbagi SHU kepada anggota sebesar Rp 990 juta. Selain itu, kami juga berkontribusi kepada organisasi sebesar Rp 191 juta sepanjang tahun 2025,” ujar M Daud saat menyampaikan laporan di hadapan peserta Rakerwil.

    Kontribusi sebesar Rp 191 juta yang disampaikan BTH Jawa Timur kemudian diserahkan secara simbolis kepada Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Jawa Timur, Amun Rowie. Penyerahan tersebut menjadi bagian dari rangkaian agenda Rakerwil untuk mendukung perjuangan dan kemandirian organisasi secara berkelanjutan.

    Ketua DPW Hidayatullah Jawa Timur, Amun Rowie, dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi atas capaian kinerja BTH Jawa Timur. Ia menilai BTH menunjukkan konsistensi pertumbuhan serta kebermanfaatan yang dirasakan baik oleh anggota maupun oleh organisasi. Apresiasi tersebut disampaikan sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi unit usaha dalam menopang aktivitas organisasi.

    “Pesan saya, terus semangat dan tetap istiqamah. Semoga ke depan BTH bisa memberikan kontribusi yang lebih besar lagi, tidak hanya untuk organisasi dan perjuangan, tetapi juga dalam mensejahterakan anggota dan kader,” kata Amun Rowie, dinukil dari laman resmi Hidayatullahjamtim.com.

    Amun Rowie juga menyampaikan harapannya agar capaian BTH Jawa Timur dapat menjadi contoh bagi unit-unit usaha lain di lingkungan Hidayatullah.

    Ia berharap unit-unit usaha tersebut dapat terus tumbuh secara profesional, mandiri, dan berorientasi pada kemaslahatan umat, sejalan dengan nilai dan tujuan organisasi.

    Amun mengapresiasi Laporan kinerja yang disampaikan BTH Jawa Timur yang menunjukkan keterpaduan antara pengelolaan usaha dan kontribusi organisasi. Pembagian SHU kepada anggota dan penyaluran kontribusi kepada organisasi menurutnya menjadi dua aspek yang saling melengkapi dalam penguatan ekonomi berbasis keumatan.

    Rakerwil Hidayatullah Jawa Timur sendiri menjadi forum strategis untuk menyelaraskan arah gerak organisasi dan amal usaha. Melalui forum ini, unit-unit usaha seperti BTH diberikan ruang untuk menyampaikan capaian dan komitmen kontribusinya secara terbuka di hadapan struktur organisasi.