Beranda blog Halaman 501

Dua Putri MI Darul Ilmi Hidayatullah Towuti Sabet Juara Taekwondo di Makassar

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) —Torehan Prestasi demi prestasi terus didapatkan dua  atlet dari siswi Madrasah Ibtidaiyah Darul Ilmi Kabupaten Luwu Timur di Tournament Taekwondo Smunel CUP VIII 2019 di Kantor Gubernur Sulsel, Sabtu-Minggu, 23-24 Februari 2019.

Kedua putri Darul Ilmi yang Juara di Tournament Taekwondo Smunel CUP VIII 2019 se-Indonesia Timur yakni Akifaf Zakiyyah Hangny yang duduk di bangku kelas 2 mendapatkan gelar  juara ke-2 kelas  Kyorugi bawa pulang medali perak. Sedangkan Nurul Istiqomah kelas 4 sabet juara 3 kelas Kyorugi dengan medali perunggu.

“Alhamdulillah, atas pertolongan Allah para siswa kami yang  turun ke tournament bisa membawa pulang medali, kata Najamuddin ketua Lembaga Pendidikan Integral Hidayatullah Towuti, Rabu (27/02/2019).

Najamuddin menambahkan, terima kasih atas perjuangan siswa santri Hidayatullah Towuti terlebih lagi kepada pelatih mampu menemukan bakat siswa-siswi kami sehingga serta mampu mengantarnya menjadi juara di Tournament Taekwondo Cup VIII tahun 2019 ini.

“Kami sangat mendukung dan support full kegiatan ini, sebagaimana dikatakan ketua Yayasan Hidayatullah Towuti, belum ada dana cash untuk dipakai perjalanan silahkan dicarikan pinjaman dulu nanti yayasan yang akan bayar dibelakang,’’ tuturnya.

Ini dia total 6 medali yang dibawah pulang dari Hidayatullah Taekwondo Club (HTC) di Tournament Taekwondo Cup VIII tahun 2019 yaitu:

-Peraih Emas: Ahmad Kelas 1 SMP Integral Darul Ilmi -Peraih Perak: Akifaf Zakiyyah Hangny Kelas 2 MI Darul Ilmi -Peraih Perunggu : Nurul Istiqomah Kelas 4 MI Darul Ilmi, Fikri Arifansyah Kelas 1 SMP Integral Darul Ilmi, Zakkir Kelas 2 SMP Integral Darul Ilmi, Khaerul Efendi  Kelas 1 SMA Integral Darul Ilmi.*/Andi Alfian Milyardo Salassa

DPD Hidayatullah Makassar Beri Kajian Zakat ke Kalangan Profesional

0

MAROS (Hidayatullah.or.id) — Sebagai salah satu rukun Islam, zakat mestinya menjadi prioritas bagi umat muslim baik dari sisi pemahaman maupun praktik. Demikian karena sebagaimana ibadah shalat yang merupakan kewajiban setiap muslim. Namun pada faktanya, pemahaman perkara zakat ini dinilai masih rendah.

Hal itulah yang mendorong Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Makassar untuk secara intensif menjadikan materi zakat sebagai program bahasan dakwah yang dilakukan berkelanjutan.

Kendati belum cukup popular, namun animo masyarakat terhadap punyuluhan masalah zakat dan hal-hal yan sekaitan dengannya ternyata cukup tinggi. Seperti beberapa waktu lalu, sekelompok kalangan profesional mengundang Ustadz Nasrullah bin Sapa Lc, MM, untuk menjadi pemateri membahas zakat profesi dan wakaf yang berlangsung di Hotel Grand Town Grand Mall Maros, Sabtu (23/02/2019).

Nasrullah Sapa dalam paparan materinya menjelaskan bahwa kita tak lama lagi berada di bulan yang dekat dengan Ramadhan, maka dari itu mengingatkan kembali dengan zakat. Ia juga mengulas berbagai pengertian dan definisi jenis zakat lainnya yang ditunaikan bukan saja di bulan Ramadhan seperti zakat harta (maal), zakat profesi, wakaf, fidyah, infaq dan sebagainya.

“Zakat fitrah sudah dikenal bersama, yang banyak belum kenal adalah, misalnya, zakat profesi. Kedudukannya wajib seperti zakat fitrah menurut sebagian ulama. Zakat profesi diqiyaskan dengan pertanian namun nisabnya diqiyaskan dengan zakat harta.Jika penghasilan tahunan sudah mencapai 85 gram emas wajib dizakati,” kata Ustadz Nasrullah Sapa yang merupakan alumni Universitas Al-Azhar Mesir.

Lanjut dia, wakaf adalah menahan harta untuk dimanfaatkan oleh kaum muslimin. Ada yang selamanya ada juga sesuai dengan kadar waktu perlu memproduktifkan wakaf.

Ia berharap, setelah mereka memahami tentang zakat profesi dan wakaf mereka melaksanakannya. Karena, kata dia, bisa jadi selama ini mereka tidak melakukan karena tidak mengerti.

Kegiatan ini disponsoru oleh BMH Sulawesi Selatan. Sekaligus kegiatan ini juga mengenalkan tentang pengelolaan zakat dan wakaf Baitul Maal Hidayatullah Sulawesi Selatan. Turut hadir pada kesempatan tersebut kelompok majelis taklim dan arisan, serta sejumlah dosen Universitas Hasanuddin Makassar.*/Andi Alfian Milyardo Salassa

MUI Pesan Pendukung Kedua Capres Tak Terlalu Ekstrem

0
Ketua Wantim MUI Pusat, Prof Din Syamsuddin/Antara Foto

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan kepada pendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden agar tetap bersikap proporsional serta tidak berlaku terlalu ekstrim. MUI juga menitipkan pesan agar masyarakat tetap menjaga suasana sejuk dalam kontestasi politik yang makin panas.

Hal itu disampaikan Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) Pusat, Prof Dr Din Syamsuddin, dalam acara Sidang Pleno ke -36 Wantim MUI di Kantor MUI Pusat, Jl. Proklamasi, Jakarta, Rabu (20/2).

Din mengajak masyarakat tetap rasional, proporsional, dan moderat. Artinya, dengan tidak saling menghujat pilihan masing-masing.

“Kami pesankan agar interaksi kelompok pendukung, terutama di media sosial itu jangan terlalu ekstrem. Tadi saya akhiri dengan sebuah ungkapan hikmah, cintailah kekasihmu, dalam kurung calon presidenmu, sedang-sedang saja. Karena boleh jadi sewaktu-waktu dia akan menjadi orang yang engkau benci. Dan bencilah lawanmu sedang-sedang saja karena sewaktu-waktu bisa jadi engkau mencintainya,” ujar Din.

Majelis Ulama Indonesia menggelar Rapat Pleno ke-36 Dewan Pertimbangan dalam rangka dialog dan silaturahmi dengan kedua pasang calon capres dan cawapres. Namun, kedua paslon yang berlaga di Pilpres 2019 tidak dapat memenuhi undangan rapat.

Din Syamsuddin, berharap dengan mengundang kedua calon presiden berharap dapat mendengar secara langsung penjelasan visi dan misi dari kedua paslon.

“Dan yang kedua kita ingin menyampaikan aspirasi-aspirasi langsung dari kelompok Islam, ormas-ormas Islam,” tutur Din.

Meski begitu dia tetap menyampaikan harapannya untuk kedua paslon. Dia ingin praktik demokrasi dalam pelaksanaan Pilpres dan Pileg berlangsung secara damai dan beradab.

Din ingin, siapa pun yang terpilih nanti dapat menjadi pemersatu bangsa. MUI tidak memiliki keberpihakan dalam politik kekuasaan.

“Penting bagi presiden dan wakil presiden republik ini berada di atas dan untuk semua golongan menjadi pengayom, pemersatu, dan dia tidak menjadi presiden bagi pemilihnya sendiri. Sementara melakukan zero sum game politics terhadap yang tidak memilih. Nah ini bukan negarawan,” pungkasnya.(ybh/hio)

Dakwah Kampus Hidayatullah Kutai Barat Majukan Pendidikan

0

SENDAWAR (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Kutai Barat yang berada di Kecamatan Melak Rampung, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, melaksanakan sesi peletakan batu pertama pembangunan Sekolah Dasar Integral Hidayatullah. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Wakil Bupati Kutai Barat, Ediyanto Arkan SE.

“Sumbangsih Hidayatullah di Kalimantan timur dan di Kutai Barat sejak tahun 2000 hingga sekarang, sangat membantu pemerintah dalam hal dakwah dan pendidikan. Atas nama pemerintah Kutai Barat, saya ucapkan terima kasih kepada Hidayatullah sebagai ormas berbasis pesantren,” ucap Wakil Bupati Kutai Barat dalam sambutannya, Sabtu (16/2).

Ketua DPD Hidayatullah Kutai Barat, Irsyad Istoyo menjelaskan, pembangunan sekolah dasar ini bersifat sangat dibutuhkan bahkan mendesak.

“Pesantren Hidayatullah Kutai Barat, sejatinya telah melayani masyarakat dengan pendidikan tingkat TK dan SMP. Untuk sekolah dasar belum ada, dan selama ini masyarakat mengeluhkan jauhnya lokasi sekolah terdekat,” kata Irsyad.

Iryad mengatakan, pihaknya sering ditanya oleh masyarakat, kapan pesantren mendirikan sekolah minimal Sekolah Dasar (SD). Pertanyaan tersebut sekaligus dorongan masyarakat setempat agar Hidayatullah menghadirkan sekolah di wilayah tersebut dalam rangka memajukan pendidikan.

“Mosok anak kami dari TK langsung SMP. Di sinilah kami berupaya menghadrikan SD untuk membantu pendidikan masyarakat,” jelasnya seraya menirukan dorongan kuat warga masyarakat.

Dengan diprogramkannya pembangunan SD Integral Hidayatullah Kutai Barat ini, masyarakat sangat bahagia.

“Alhamdulillah, akhirnya pesantren memperhatikan warga di sini, dengan cara membuka jenjang SD untuk anak-anak kami. Kami sangat berbahagia dan siap membantu pesantren untuk terbangunnya SD Integral ini,” ucap Syamsuriadi, warga sekitar pesantren.

Irsyad berharap dengan program ini upaya memberikan layanan pendidikan berkualitas bagi anak-anak SD di wilayah pedalaman dapat terus ditingkatkan.

Irsyad menyebutkan, Melak berjarak 500 kilometer dari Balikpapan. Upaya membersamai masyarakat pedalaman dan memberikan layanan pendidikan terbaik yang diampu pihaknya adalah komitmen dan kebahagiaan kader-kader Hidayatullah.

“Mohon doa, semoga pendidikan di sini semakin baik dan dapat melahirkan generasi bangsa unggul, cerdas dan berakhlakul karimah. Semua ini dapat kami lakukan berkat kerja sama dengan masyarakat, pemerintah, dan Laznas BMH Kalimantan TImur,” tutup Irsyad.(ybh/hio)

Bekerja Keras adalah Ibadah

0

ISLAM sebagai agama paripurna dan penyempurna dari ajaran para Nabi sebelumnya sangat menekankan pentingnya bekerja keras bagi para pemeluknya.

Bekerja keras dalam artian bersungguh-sungguh bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik yang dikenal dengan istilah pangan, papan maupun sandang.

Dalam sejarah, para Nabi pun selain mengemban tugas kenabian, mereka juga dikenal berprofesi sesuai dengan keahliannya masing-masing.

Nabi Idris ‘alaihissalam dikenal sebagai tukang jahit. Nabi Nuh ‘alaihissalam sebagai pembuat perahu. Nabi Musa ‘alaihissalam dikenal sebagai pengembala kambing dan pekerja. Nabi Zakariya ‘alaihissalam bekerja sebagai tukang kayu. Nabi Daud ‘alaihissalam sebagai tukang besi.

Tidak ketinggalan Nabi Muhammad SAW juga pernah mengembala kambing dan berdagang. Bahkan, dalam dunia dagang ketika itu, beliau tidak hanya sekedar berdagang saja, levelnya beliau sampai menjadi pedagang besar (agency).

Bagi seorang muslim, bekerja adalah ibadah. Tidak hanya kewajiban seperti sholat, puasa, haji dan lain sebagainya yang lebih dikenal dengan istilah ibadah mahdhoh. Apapun itu suatu amalan jika dilakukan dalam rangka mencari ridho Allah SWT dan tentunya sesuai dengan petunjuk ataupun sunnah Rasulullah maka itu menjadi ibadah.

Bekerja keras adalah ciri orang beriman. Allah SWT sangat menyukai hamba-Nya yang suka bekerja keras. Apalagi jika seseorang itu memiliki tanggung jawab memberi nafkah kepada keluarganya maka tentunya lebih ditekankan lagi untuk bekerja keras.

Banyak ayat dalam Al-Qur’an yang memerintahkan agar kita suka bekerja keras. Diantaranya Allah SWT berfirman:

فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Apabila sholat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kalian di muka bumi, carilah karunia Allah serta ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)

Syaikh Ali Al-Shabuniy, dalam Shafwat al-Tafaasiir, menyatakan, “Maksudnya, bertebaranlah kalian di muka bumi dan galilah apa yang ada di muka bumi, untuk diperdagangkan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kalian. Kemudian, carilah karunia Allah dan nikmat-nikmatNya. Sesungguhnya rejeki itu berada di tangan Allah SWT, dan Dialah Maha Pemberi Nikmat dan Karunia.”

Bekerja keras mencari rezeki yang halal bahkan menjadi sebuah kewajiban. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat, puasa, dll).” (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

Dalam hadits lain, dari Al-Miqdam, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِىَّ اللَّهِ دَاوُدَ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidak ada seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari makanan hasil kerja keras tangannya sendiri. Dan Nabi Daud ‘alaihis salam makan dari hasil kerja keras tangannya.” (HR. Al-Bukhari)

Ciri Kader Hidayatullah

Alhamdulillah, di Pesantren Hidayatullah kita juga diajarkan oleh Asatidz untuk selalu bekerja keras. Sehingga dulu ada istilah ‘kerja keras, ibadah keras, belajar keras, dan makan keras’. Semuanya serba keras menunjukkan agar selalu bersemangat untuk mengerjakan sesuatu.

Spirit kerja keras ini telah ditularkan oleh para guru dan asatidz Hidayatullah sehingga tertanam dan tertancap kuat dalam diri kader dan santri Hidayatullah. Makanya dulu sangat pantang jikalau ada santri yang bermalas-malasan kerja. Sehingga guru lebih marah jikalau ada santri malas bekerja ketimbang malas belajar.

Spirit kerja keras ini mencerminkan pribadi yang bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu. Sehingga di kampus/pesantren Hidayatullah hampir semua pembangunannya dikerjakan oleh warga dan santri saja. Selain menghemat biaya, menjadi pembelajaran bagi santri untuk suka bekerja keras.

Alhasil, tidak heran dimana-mana kampus/pesantren Hidayatullah terlihat cantik, rapi, dan tertata dengan baik.

______
*) UST HIDAYATULLAH, MH, penulis adalah Pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Ashabul Kahfi, Kampus Hidayatullah Bekasi dan Ketua Penulis Muda Indonesia (PENA) Jabodebek

Anggota Polri Sulut Bakti Sosial di Kampus Ponpes Hidayatullah

0

MANADO Hidayatullah.or.id) –– Aksi sosial ditunjukkan para anggota Kepolisian Republik Indonesia (Polri) berpangkat Brigadir Satu (Briptu) di Provinsi Sulawesi Utara. Para lulusan Diktukba angkatan 2013 ini melakukan bakti sosial dengan mengunjungi Pesantren Hidayatullah Tomohon, beberapa saat lalu.

Disela-sela kesibukannya, mereka yang bertugas terpisah pada fungsi masing-masing, masih menyempatkan diri berbagi dengan sesama.

“Kegiatan ini kita laksanakan sebagai ungkapan syukur di ulang tahun angkatan yang ke-5, sekaligus syukuran kenaikan pangkat seluruh anggota lulusan angkatan 2013,” ucap Ketua Angkatan, Briptu Michael T. Manua.

Menurutnya kegiatan seperti ini akan rutin dilaksanakan, dimana juga sebagai implementasi dari kebijakan Bapak Kapolri untuk selalu dekat dengan masyarakat.

“Mudah-mudahan sedikit bantuan dari kami, bisa bermanfaat bagi sesama, khususnya mereka yang membutuhkan,” tandasnya. (ybh/hio)

Pesan Ust Tazhir untuk Santri Tahfidz Ashabul Kahfi Bekasi

0

BEKASI (Hidayatullah.or.id) — Salah seorang anak pendiri Hidayatullah, Ustadz Muntazhirruzzaman, bersilaturrahim ke Pondok Pesantren Tahfidzul Quran Ashabul Kahfi, Kampus Hidayatullah Bekasi, siang bada dzuhur, Ahad (17/2/2019). Pada kesempatan tersebut, Ust Tazhir, sapaan akrabnya, berkesempatan memberikan wejangan kepada segenap santri.

Di masjid pesantren, para santri khusyuk mendengarkan taushiyahnya yang menekankan keutamaan menuntut ilmu di pondok pesantren.

“Kalian adalah anak-anak pilihan, karena kalian termasuk dari yang sedikit dari puluhan juta anak-anak Indonesia yang bisa belajar di pesantren,” ujar bapak yang sudah memiliki lima anak ini.

“Ketahuilah, untuk membalas budi orangtua bisa dengan menghafal Al-Qur’an. Karena dengan kalian menghafal Al-Qur’an maka orangtua akan mendapatkan mahkota di surga,” kata Tazhir yang pernah lama belajar di Kota Nabi, Madinah, ini.

Setelah memberi taushiyah kepada para santri, beliau bincang-bincang dengan pengurus pesantren seputar program dan kegiatan pesantren.

Ustadz Tazhir selain silaturahim dengan Pesantren Tahfizh Ashabul Kahfi juga menyempatkan diri silaturahim ke Pesantren Tahfizh Hidayatullah Putri Bekasi.

Perlu diketahui Pesantren Tahfizh Ashabul Kahfi dan Pesantren Tahfizh Hidayatullah Putri Bekasi adalah salah satu cabang Pesantren Hidayatullah di Bekasi.

Di dua pesantren ini dibina santri sebanyak 30-an santri putra dan 60-an santri putri. Pesantren binaan Ustadz Hidayatullah ini fokus dengan pembelajaran dan hafalan Qur’an. (ybh/hio)

Nasionalisme Santri dalam Menjaga Keutuhan Bangsa

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) –– Organ kepemudaan Pengurus Wilayah Syabab Hidayatullah Sulawesi Selatan bekerjasama dengan Pesantren Modern Ikatan Masjid Mushalla Indonesia Muthahidah (IMMIM) Makassar menggelar dialog nasionalisme santri dengan tema “Peran dan Konstribusi Santri dalam Menjaga Keutuhan Bangsa dan Negara” di Aula Pesantren Hidayatullah, Makassar, Sabtu (16/2/18/2019).

Beberapa pembicara yang hadir di antaranya Akademisi Politik Unismuh Dr Arqam Azikin, Direktur Ponpes IMMIM Dr Muhammad Taufan, Ketua PW Syabab Hidayatullah Sulsel Muhammad Robianto dan pembina Ponpes Hidayatullah Makassar Ustadz Abdul Madjid. Acara ini diikuti puluhan santri yang berasal dari Pesantren Modern Pendidikan Al-Qur’an IMMIM Putra Makassar dan Ponpes Hidayatullah Makassar.

Pengamat Politik Kebangsaam Arqam Azikin mengatakan, keberadaan santri harus menjadi penyelamat kedaulatan ummat dan negara. Santri harus mengambil posisi yang strategis dan aktif memberikan masukan positif terhadap bangsa ini.

“Ketika santri tidak mengambil peran maka kondisi negara kita akan kehilangan arah. Satu satunya cara ummat Islam harus bersatu mengurus politik negara. Umat Islam terkhusus alumni santri harus terlibat langsung maupun tidak langsung dalam mengurus kepemimpinan negara,” papar Arqam Azikin.

Kata Arqam, peran santri ketika selesai harus masuk ke dalam. Keberadaan pesantren IMMIM dan Hidayatullah, kata dia, menjadi bagian dari jangka panjang proses perkembangan negara kita kedepan. Kalangan santri harus punya andil supaya negara kita berdaulat, tegasnya.

Sementara itu, Muhammad Taufan menjelaskan, pesantren adalah miniatur bangsa, dengan menjadi santri sesunggugnya sudah menciptakan suasana negara yang damai.

“Sampai hari ini kondisi santri tetap kondusif, tidak ada sedikitpun ada konflik internal santri, harusnya admosfir ini menjadi rujukan ketika bernegara,” ungkap Muhammad Taufan.

“Menyinggung sedikit tentang pilpres kita tidak ingin adanya segelintir orang yang ingin memanfaatkan pesta demokrasi jelang pilpres dan melakukan politisasi umat,” tambah Muhammad Taufan.

Muhammad Taufan membeberkan, santri tidak boleh anti terhadap politik, sebab Islam juga mengajarkan politik.

Ketika kita bicara umat maka pasti kita bicara politik. Di dalam Islam ada namanya fiqih siyasah (fiqih Politik). Sebagai generasi Islam kita jangan alergi dengan politik, kalangan santri adalah benteng terakhir ummat Islam dan juga di kalangan santrilah yang berperan aktif dalam menjaga moralitas bangsa,” jelas Muhammad Taufan.

Sedangkan, Ustad Abdul Majid mempertegas. Santri adalah cikal bakal lahirnya pemimpin yang bermoral dan menjadi dapur lahirnya pemimpin masa depan. Sehingga eksistensi pesantren merupakan cikal bakal mengganti generasi yang rusak.

“Generasi yang berkualitas itu adalah generasi Qurani yang mampu mengimplementasikan nilai nilai Quran dan itu menjadi tugas dan tanggung jawab di kalangan santri,” kata Majid.

“Lembaga pendidikan pesantren akan melahirkan generasi intelektual yang cerdas dan sesunguhnya inilah yang diorbit untuk menjadi pemimpin yang berkualitas,” tutup Abdul Majid.

Sementara itu, Robiansyah dalam keterangannya, mengatakan Syabab Hidayatullah sebagai salah satu organ kepemudaan nasional, merupakan wadah berkecimpung bagi santri dalam rangka meningkatkan kualitas dan kompetensi diri khususnya di bidang pengembangan diri.

Robi menjelaskan Syabab Hidayatullah adalah organisasi kepemudaan nasional yang berfokus pada pembinaan dan pemberdayaan generasi muda dalam rangka menyiapkan kader bangsa dalam bingkai Islam yang berdedikasi serta memililiki loyalitas keindonesiaan.

Jiwa besar untuk turut mengambil peran dalam membangun Indonesia senantiasa terpatri di relung hati setiap kader Syabab Hidayatullah. Semangat tersebut, lanjut dia, bersesuaian dengan makna “syabab” itu sendiri yang berarti sosok muda yang matang secara fisik, semangat tinggi, dan pemuda yang dalam tubuhnya mengalir darah Merah Putih dan tarikan napas kehidupannya terpancar kalimat La ilaha Illallah. (ybh/hio)

Dinamika dan Solusi Dakwah di Metropolitan Menurut Ahkam

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Berdakwah di mana pun sebenarnya sama saja. Selalu ada suka dan dukanya. Baik dakwah dilakukan di kampung, di desa-desa, di pinggir-pinggir laut rumah nelayan. Aktifitas dakwah memiliki khas dinamikanya sendiri. Pun tak terkecuali berdakwah di kawasan metropolitan seperti Jakarta.

Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah, Ust Ahkam Sumadiana, belum lama ini hadir di Jakarta dalam rangka menghadiri undangan menjadi pembicara tentang terobosan dakwah kekinian. Dia mengatakan, meskipun dakwah dimanapun sama saja, namun dakwah tetap membutuhkan strategi.

Diterangkan dia, strategi adalah pendekatan-pendekatan yang kita gunakan kepada orang yang ada di Ibu kota. Pendekatan itu merupakan suatu rencana jangka panjang yang digunakan untuk ketentuan tertentu. Strategi itu juga membutuhkan taktik, taktik adalah tahapan-tahapan tertentu yang dipakai untuk melaksanakan strategi.

“Setelah itu kita harus memahami sosiologi perkotaan agar kita bisa menentukan strategi apa, pendekatan apa yang kita gunakan maka kita harus paham betul bagaimana sebenarnya masyarakat kota itu. Tentu saja berbeda masyarakat kota dan masyarakat desa,” kata Ahkam.

Diantara yang paling menonjol itu masyarakat kota, mungkin karena kesibukannya sehingga kehidupan individualistas itu sangat menonjol. Sedangkan masyarakat desa tidak begitu masih saling bergotong royong

“Secara sosiologis yang harus kita sadari adalah, hampir semua orang yang ada di Jakarta ini sudah terkooptasi yang berkutat pada nilai, semua orang ke kota ini pikirannya uang. Materi saja yang ada kepalanya,” imbuhnya.

Namun, dia menegaskan realitas ini tidak bisa kita nafikan. Tidak bisa kita hindari, karenanya kemudian Allah SWT menyuruh umat Islam untuk fastabuqul khairot (berlomba dalam kebaikan).

“Kata kuncinya kita hadir di sini (kota) berlomba berbuat kebaikan. Kita punya kiblat, cara pandang dan kita ingin itu sebuah perubahan, maka dimulai dari diri kita,” pesannya.

Ahkam Sumadiana kemudian menganalogikan bahwa sebuah imperium yang adidaya tidak tidur dalam menawarkan sistem hidup yang mereka yakini itu kepada dunia. Sedangkan Islam, mau menawarkan Islam tapi banyak tidur, ya wajar lebih sukses Amerika. Hasil itu sesuai dengan perjuangannya, imbuhnya.

“Maka kita juga harus punya strategi, tidak bisa sporadis, tidak bisa berdakwah ini spontanitas. Tidak bisa berdakwa ini ala kadarnya. Harus dipersiapkan sebaik mungkin,” katanya.

Dia menyebutkan, apa yang dibutuhkan agar kita bisa memenej dengan baik gerakan dakwah, agar strategi ini bisa berjalan dengan baik yang perlu kita perhatikan adalah, didalam surat Al Isra ayat 84 Allah berfirman yang artinya:

“(Katakanlah, “Tiap-tiap orang) di antara kami dan kalian (berbuat menurut keadaannya masing-masing) yakni menurut caranya sendiri-sendiri (Maka Rabb kalian lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya”) maka Dia akan memberi pahala kepada orang yang lebih benar jalannya”. 

“Tentu kita harus mempersiapkan itu agar dakwah di kota ini bisa dinamis. Juga kompetensi sebagaimana nilai spiritual dakwah itu bisa lari kencang. Tidak lupa keterampilan pendakwah juga diperhatikan seperti apa yang dibutuhkan apakah dai biasa saja, atau luar biasa. Butuh skill yang di atas rata-rata,” tukasnya.

Untuk itu, lanjutnya, maka pendakwah harus memiliki tingkat intelektual, spiritual, yang luarbiasa cerdas dan kokoh. Tidak akan berbuat lebih dari itu, kalau biasa-biasa saja pengetahuannya. Lebih dari itu, pendakwah harus memiliki kecakapan sosial khususnya dalam menjalin silaturrahim dan menguatkan ikatan ukhuwah dengan saudara saudara sesama gerakan dakwah lainnya.

“Ciri Hidayatullah itu adalah sebuah gerakan yang komunikatif. Hidayatullah bisa berkomunikasi dengan siapa saja. Maka harus pandai berkomunikasi dengan baik. Kita sepakat dengan perbedaan, cara kita berdakwah, itulah pentingnya komunikasi,” imbuh dai yang lama malang melintang melakukan pembinaan umat ini.

Tidak kalah penting sinergitas, sarana prasarana, asas manfaat, kalau kita bisa manfaatkan, ya dimanfaatkan, Semua orang bisa dimanfaatkan, bersinergi dengan siapa saja, dengan pemerintah, swasta dan lain sebagainya.

Ahkam pun menekankan untuk merangkul non muslim dalam mendakwahi mereka. Jangan memposisikan non-muslim sebagai lawan, melainkan sebagai objek dakwah yang mesti dikasihi.

“Padahal semua orang punya prasangka baik, semua kan orang ingin selamat. Tawarkan Islam itu kepada mereka,”  pesannya.

Lalu, terang dia, evaluasi strategi dakwah kita tentu menggunakan standar Al-Quran dan Sunnah. Tidak penting kita mempertahankan kesalahan, kalau memang salah. Apalagi berdebat, targetnya bukan itu.

Ahkam mengajak kader-kader dai di ibukota untuk mencontoh cara dakwah yang pernah diperagakan oleh Rasulullah Muhammad Shallallaahu Alaihi Wasallam di masanya. Dakwah Rasulullah itu, kata Ahkam, adalah menciptakan arus. Ketika Abu Jahal begitu dominan dan begitu kuat, tapi Nabi Muhammad membuat arus di rumahnya Al Arqom yaitu arus Al-Quran.

“Sepanjang arus itu tidak ada yang menggangu, tidak usah kita ganggu orang. Karena intinya kita mau bikin arus kebenaran, maka arus itu diperbesar, diperluas, diperbanyak, yaitu arus Alquranisasi,” pungkasnya.*/Azim Arrasyid Sofyan

Hidayatullah Micro Finance Bangun Ekonomi Umat

0

BATU (Hidayatullah.or.id) — Sebagai lembaga ekonomi mikro yang bersifat nasional, Hidayatullah Micro Finance dituntut untuk mampu memenuhi harapan umat, jamaah dan pengurus Hidayatullah yang sudah tersebar di seluruh nusantara dalam mengukuhkan kembali semangat wirausaha dan ekonomi keummatan.

Demikian diantara kesimpulan yang menjadi komitmen HMF dalam acara Rapat Pleno HMF di Villa Pusdiklat Hidayatullah Kota Batu, Jawa Timur, pagi Kamis hingga sore (14/02/2019).

HMF adalah lembaga ekonomi yang membawahi beberapa program ekonomi keummatan seperti Baitul Tamwil Hidayatullah (BTH), Baitut Takwin dan Baitul Ijaroh.

“Target pendirian BTH tahun ini sebanyak 5 BTH mulai dari Bandung, Lampung, Jambi, Bengkulu dan Bekasi,” ujar Direktur Hidayatullah Micro Finance Saiful Anwar, ME.

“Mohon doa kiranya HMF mampu memenuhi keinginan jamaah dan pengurus Hidayatullah untuk mendirikan BTH di daerah-daerah,” tambah alumnus STIE Hidayatullah Depok ini.

Terakhir, salah satu hasil Rapat HMF bahwasanya tahun 2019 ini akan mengadakan Diklat BTH secara nasional 2 kali dan Diklat BTH di 2 kampus Perguruan Tinggi Hidayatullah.*/Hidayatullah Abu Qori