LEBONG (Hidayatullah.or.id) -– Gubernur Provinsi Bengkulu, Rohidin Mersyah, melakukan safari Ramadhan dengan mengunjungi Panti Asuhan Qurrota Ayun Pondok Pesantren Hidayatullah di Jalan Sultan Bagindo Desa Air Kopras, Pinang Belapis, Kabupaten Lebong, Kamis (23/5/2019).
Dalam kesempatan tersebut Gubernur sempat berkeliling sejenak meninjau Kampus Hidayatullah Rejang tersebut. Ia menemui anak-anak panti binaan Panti Asuhan Qurrota Ayun Pondok Pesantren Hidayatullah seraya menyerahkan bantuan.
“Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, semoga bantuan ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh Panti Asuhan Qurrota Ayun Hidayatullah Rejang,” kata Rohidin.
Lanjutnya, Rohidin juga mengatakan peran Panti Asuhan Qurrota Ayun Pondok Pesantren Hidayatullah dalam membangun sumber daya umat seperti ini sangat bermanfaat bagi masyarakat.
Peran tersebut, yakni upaya pembangunan sumber daya manusia tentang bagaimana memikirkan nasib anak-anak bangsa agar bisa mengenyam dunia pendidikan yang lebih baik dan pembinaan moral yang lebih bermartabat.
“Saya mengapresiasi peran Panti Asuhan Qurrota Ayun Pondok Pesantren Hidayatullah dalam memikirkan nasib anak-anak bangsa seperti untuk bisa mengenyam dunia pendidikan yang lebih baik dan pembinaan moral yang lebih bermartabat”, lanjut Rohidin.
Kemudian Gubernur Bengkulu menyerahkan bantuan kepada kepala Panti Asuhan Qurrota Ayun Pondok Pesantren Hidayatullah dan bersalaman dengan anak-anak panti asukan tersebut.
Muhammad Yudi selaku penanggung jawab Panti Asuhan Qurrota A’yun, Pondok Pesantren Hidayatullah, mengatakan pihak yayasan berterimaksih kepada Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah atas kesempatan kunjungannya.
“Kami sangat berterimakasih atas kunjungan dan bantuan yang di berikan bapak gubernur,” kata Muhamamad Yuni.
Kunjungan tersebut, menurut Muhammad Yudi adalah satu satunya Gubernur yang mengunjungi panti asuhannya tersebut.
“Ini adalah pertama sekali ada pihak Gubernur yang mengunjungi panti asuhan kami dan kami berharap bisa bersinergi dengan pemerintah baik itu tingkat provinsi maupun kabupaten tentu dalam hal pendidikan, sosial, dan pembangunan dan sebagainya,” lanjut Muhammad Yudi penanggung jawab panti asuhan Qurrota A’yun, Pondok Pesantren Hidayatullah.
Menjelang berbuka puasa, Gubernur melanjutkan perjalanan untuk buka bersama dengan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten Lebong di Rumah Dinas Bupati Lebong dan kemudian, dilanjutkan dengan shalat terawih di Masjid Jamik Al-Azhar Pasar Muamar Kecamatan Lebong utara. (gds/hio)
TARAKAN (Hidayatullah.or.id) -– Bulan suci Ramadhan 1440 Hijriyah tak menyurutkan semangat belajar memperdalam ilmu agama Islam bagi prajurit Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) XIII Komando Armada (Koarmada) II yang beragama Islam.
Hal itu dibuktikan dengan antusisme mereka mengikuti kegiatan pesantren kilat (Peskil) yang pelaksanaannya dimulai pada hari Jumat, Sabtu dan Ahad ini di Pondok Pesantren Hidayatullah Karungan, Kecamatan Mamburungan, Tarakan Timur, Provinsi Kalimantan Utara.
Dinas Penerangan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Dispen Lantamal) XIII Koarmada II dalam keterangannya mengatakan Kegiatan pesantren kilat ini merupakan bagian dari pembinaan mental prajurit TNI AL khususnya dibidang kerohanian.
Kegiatan ini dilaksanakan guna mendukung pelaksanaan tugas yang diemban oleh para prajurit khususnya Lantamal XIII Koarmada II Tarakan agar dapat lebih terarah, tidak mudah terombang-ambing oleh perubahan situasi, kondisi dan pengaruh negatif dan dapat menjalankan tugas dengan lancar dan ikhlas atas dasar beribadah kepada Allah SWT.
Pesantren kilat ini merupakan kegiatan yang digagas oleh Aspers Danlantamal XIII Letkol Laut (P) Mohammad Wirda atas persetujuan Komandan Lantamal XIII Laksamana Pertama TNI Judijanto M.Si., M.A.. Beliau berpesan supaya para prajurit yang mengikuti pesantren kilat tersebut agar mengikuti semua kegiatan dengan sungguh-sungguh, iklas, penuh tanggung jawab dan diikuti sampai dengan selesai.
Pelaksanaan pesantren kilat Lantamal XIII kali ini digelar di Pondok Pesantren Hidayatullah Kelurahan Karungan, Kecamatan Mamburungan, Tarakan Timur, Provinsi Kalimantan Utara yang diikuti oleh 10 orang prajurit Lantamal XIII Koarmada II dan Yonmarhanlan XIII yang dipimpin oleh Kadisfaslan Lantamal XIII Letkol Laut (T) Djoko Soekartono, S. T., MAP. (tnial/hio)
JAYAPURA (Hidayatullah.or.id) — Dit Reserse Narkoba Polda Papua menggelar acaea Buka Puasa Bersama (Bukber) dengan tnstansi terkait dan anak-anak santri Panti Asuhan Pondok Pesantren Hidayatullah bertempat di Hotel Yasmin Jayapura, Sabtu (18/05/19).
Turut hadir dalam acara tersebut, Direktur Reserse Narkoba Kombes Pol. I. B. K. Suardika, S.IK., Anggota Balai POM Jayapura, Badan Narkotika Nasional, Disperindag, Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Jayapura Ust Muallimin Amin serta anak Anak-anak Panti Asuhan Hidayatullah.
Dalam kesempatannya Dir Narkoba menyampaikan bahwa kegitan buka puasa bersama ini merupakan ajang bersilaturahmi.
“Tujuan utamanya adalah Untuk Mempererat jalinan kerjasama serta memupuk tali persaudaraan agar terciptanya rasa aman, nyaman dan kondusif pada bulan Ramadhan 1440 Hijriyah,” katanya.
Tak lupa, kata dia, kegiatan ini merupakan implementasi dari Peraturan Kepolisian Nomor 10 Tahun 2018 Tentang Binrohtal Personel Polri dalam rangka meningkatkan nilai-nilai ketakwaan terhadap Tuhan Yang yang Maha Esa khususnya personil Direktorat Reserse Narkoba Polda Papua.
“Dengan mengajak buka puasa bersama dengan mitra kerja dan berbagi sedikit rezeki kepada anak yatim, semoga dalam menjalankan tugasnya anggota Ditreskrimum Polda Papua selalu dilancarkan dan dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Esa,” kata Dir Narkoba.
Diharapkan dengan terlaksananya kegiatan ini dapat memberi semangat dalam pencapaian kinerja Polri khususnya Direktorat Narkoba Polda Papua yang semakin baik tiap waktunya.
Sementara itu, Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Jayapura Ust Muallimin Amin, S.Sos, dalam kesempatan itu mengucapkan terima kasih kepada Ditreskrimum Polda Papua yang telah peduli kepada anak yatim yang ada di panti asuhan Hidayatullah dengan mengajak Anak-anak berbuka puasa bersama.
Sebagai mitra kerja, Muallimin berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan bahkan di luar bulan suci Ramadhan. “Sehingga kemitraan semakin kuat terutama dalam menjaga harmoni dan silaturrahim,” imbuhnya.
Ia mengapresiasi Ditresnarkoba Polda Papua yang selama ini telah secara aktif bersama pihaknya mengkampanyekan bahaya narkoba dan mendorong pencegahan peredarannya agar generasi bangsa tidak terpapar pengaruh negatif zat penghancur masa depan tersebut.
Kegiatan diakhiri dengan pemberian tali asih Oleh Direktur Reserse Narkoba Polda Papua kepada anak-Anak dari Panti Asuhan Hidayatullah. (tbn/hio)
MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) — Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Andai, Kabupaten Manokwari, Ust Muhammad Al, mengisi taushiah dalam acara berbuka puasa Polda Papua Barat bersama rekan-rekan jurnalis di Manokwari, Jumat (17/5/2019).
Dalam ceramahnya, ia membahas tentang Ramadhan sebagai momentum perbaikan dan pengendalian diri dari perilaku tercela yang tidak saja bertentangan dengan ajaran Islam melainkan juga berlawanan dengan harkat dan martabat manusia.
“Dengan puasa Ramadhan, kita merasakan haus dan lapar. Maknanya adalah, kita perlu saling berbagi dengan orang tidak mampu yang fakir miskin,” katanya.
Di bulan Ramadhan juga kita harus bisa mengendalikan amarah. Karena marah yang lepas kontrol bisa membatalkan puasa. Pun demikian dengan hati. Hati yang penuh prasangka buruk harus dihilangkan, diganti dengan penyambutan dan persaudaran.
“Puasa mengajarkan untuk selalu berbuat baik. Apalagi kebaikan yang kita lakukan akan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda,” pungkasnya.
Ia pun mengapresiasi acara tersebut sebagai momentum silaturrahim yang akan semakin mengakrabkan kita sebagai sesama muslim juga sebagai sesama anak bangsa.
Sementara itu, Kepala Bagian Humas Polda Papua Barat AKBP. Mathias Krey mengatakan, sesuai dengan Atensi Kapolda, pihaknya terus membangun kemitraan dengan berbagai pihak terutama dengan jurnalis dan media di Manokwari secara harmonis.
“Pak Kapolda menyampaikan hal ini kepada saya, makanya kedepan kita terus membangun kemitraan yang harmonis dalam rangka membangun informasi yang Berimbang” Kata AKBP. Mathias Krey usai acara buka puasa bersama dengan Jurnalis dan Pimpinan media Jumat (17/5).
Dikatakan, pertemuan jurnalis dengan jajaran Humas Polda Papua Barat yang di bingkai dengan acara buka puasa bersama merupakan langkah awal sejak ia di tunjuk sebagai Kepala Bidang Humas Polda.
“Saya bersyukur dengan pertemuan di hari baik ini kedepan kita terus merajut kebersamaan, sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. Apalagi momen Ramadhan ini sekali dalam satu Tahun maka kesempatan ini kita manfaatkan dengan baik” ujarnya.
Selain itu kata Mathias Krey, dalam pertemuan tersebut kedua belah pihak saling memberikan masukan yang konstruktif agar kedepan dalam distribusi informasi kepada media sebagai mitra jangan ada kesan hanya media tertentu saja.
“Saya berharap teman-teman memberikan masukan kepada kami agar kedepan dalam distribusi informasi tidak ada kesan hanya media tertentu saja,” Kata Kabid Humas.
Sementara Gustafo Wanma salah satu Jurnalis Manokwari mengatakan, Humas Polda Papua Barat mesti dalam menyampaikan informasi jangan sampai hanya terpaut satu hal, sebab menurutnya banyak hal yang bernilai berita di Polda.
“Selama ini informasi hanya terkait masalah Narkoba, sementara kasus-kasus lain seperti korupsi dan pidana umum banyak yang alpa dari pemberitaan, ini menjadi catatan Kabid Humas untuk menyampaikan terutama kepada satker lain di Polda,” Jelas Gustafo Wanma.
kegiatan tersebut di hadiri Ketua PWI Papua Barat dan sejumlah Pimpinan Media dan redaksi di Manokwari. (bln/ybh)
Jaksa Ngotot
menuntut Terdakwa dengan Hukuman 5 tahun penjara serta denda Rp. 200.000.000,-
Sidang Perkara Pembangunan SMK Swasta yang berlokasi di Jln Mubarok Desa
Mandalajaya Kecamatan Betara Kabupaten Tanjung Jabung Barat – Jambi, memasuki babak
akhir. Pada sidang hari ini (Rabu, 15
Mei 2019) JPU dari Kejaksaan Negeri Tanjabar membacakan Replik, yang merupakan
tanggapan atas Pledoi Penasehat Hukum Terdakwa yang dibacakan sepekan
sebelumnya (Rabu, 08 Mei 2019).
Dalam Repliknya, Jaksa Penuntut Umum Hary Sutrisno, SH dari Kejaksaan
Negeri Tanjung Jabung Barat ngotot menuntut SM selaku Kepala Sekolah dengan
Pidana 5 tahun penjara, denda Rp. 200.000.000,- serta kewajiban mengembalikan
Uang sebesar Rp 388.725.350,- karena
dinilai melanggar Pasal 2 ayat (1) junto Pasal 18 ayat (1) huruf b Undang-Undang
No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah
dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang No.
31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi junto Pasal 55 ayat
(1) ke-1 KUHP.
Menanggapi Replik Jaksa Penuntut Umum, Penasehat Hukumnya dari Lembaga Bantuan Hukum Hidayatullah,
antara lain Advokat DR. Dudung Amadung
Abdullah, SH dan Advokat
Mohammad Arfah, SH, juga tetap pada pembelaannya seperti yang dibacakan
pada pekan sebelumnya. Tim Penasehan Hukum menilai bahwa kasus ini terlalu dipaksakan,
hal ini terungkap di persidangan bahwa kasus ini maju karena ada laporan dari oknum
yang mengatasnamakan kelompok masyarakat yang tidak senang. Selain itu, Tim
Penasehat Humum menilai bahwa kasus ini penuh rekayasa, karena dalam
persidangan terungkap bahwa data-data yang dihadirkan oleh Jaksa cenderung
direkayasa, dimana sejak penyidikan beberapa saksi mengungkapkan bahwa mereka
hanya diminta menandatangani data yang disodorkan oleh penyidik, dan itulah
data yang disajikan JPU dalam persidangan.
Padahal faktanya, bangunan berdiri kokoh dan dimanfaatkan sebagaimana
peruntukannya, hal tersebut diungkapkan oleh para saksi dipersidangan. Bahkan ada
beberapa kegiatan pembangunan tambahan yang tidak meminta tambahan dana, antara
lain; renovasi jembatan, pengurugan dan pembuatan jalan setapak sejauh 500
meter, keramik dan plaponisasi ruang praktek. Terkait pembelian perlengkapan
praktek yang dituduhkan jaksa, dimana ada anggaran 50 juta tidak diserahkan ke
sdr Reynod Halson, sebagai pihak pengadaan perlengkapan praktek, fakta
dipersidangan terungkap bahwa semua dana tersebut dibelikan oleh terdakwa
langsung untuk pembelian alat-alat praktek, dimana semuanya berguna untuk
proses pendidikan.
Dalam persidangan kali ini juga, Jaksa menunjukan berita acara titipan uang
sebesar Ro 40 juta dari pihak keluarga terdakwa. Hal tersebut merupakan respon
dari iungkapan Terdakwa yang mengomentari Tuntutan Jaksa pada sidang tiga pekan
sebelumnya. Dimana saat Jaksa membacakan tuntutan, tentang uang Rp.40 juta
tersebut tidak disinggung. Ungkapan terdakwa tersebut diulas oleh Tim Penasehat
Hukum dalam Pledoi pekan lalu, bahwa pihak keluarga pernah diminta sejumlah
uang dan kemudian menyerahkan dana sebesar Rp. 40 juta, yang oleh Tim Penasehat
Hukum dianggap sebagai dana titipan untuk pengembalian ke negara, jika memang
terdakwa terbukti bersalah.
Agenda berikutnya adalah putusan Majlis Hakim yang akan dibacakan pada
tanggal 27 Mei 2019, menanggapi hal tersebut DR. Dudung Amadung Abdullah, SH
selaku Kuasa Hukum terdakwa berharap Majlis Hakim memberikan putusan onslag
kepada terdakwa, sebagaimana yang dituangkan dalam pledoinya..#### (LBHHID)
TANJUNG MORAWA (Hidayatullah.or.id) — Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa, Deli Serdang, Medan, Sumatera Utara, pada bulan Ramadhan ini menggelar kajian rutin membahas Kitab Shahih Fiqh Sunnah karya Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim yang dibawakah oleh pimpinan pondok Ustadz Choirul Anam.
Pada awal Ramadhan ini pembahasan memasuki tema “Kitaabusshiyam”. Pengajian ini diselenggarakan setiap selepas shalat Ashar sambil menunggu waktu berbuka yang diikuti oleh santri dan pada waktu tertentu dijadwal juga di area santri putri.
Ust Choirul Anam mengatakan, tema ini sebetulnya rutin yang sudah sering dibahas. Namun, katanya, perlu selalu disegar-segarkan agar puasa berjalan sesuai kaidah dan sunnahnya.
“Mengilmui puasa agar puasa tidak biasa biasa saja,” katanya dalam percakapan dengan media ini, Sabtu.
Sekadar diketahui, Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, adalah ulama asal Mesir. Uniknya, dia adalah di antara ulama yang dahulunya adalah seorang muhandis atau insinyur (engineer). Beliau meninggalkan profesinya tersebut dan beralih menimba ilmu syar’i. Beliau sudah sangat ma’ruf dengan kitabnya yang terkenal yaitu kitab Shahih Fiqh Sunnah yang diterbitkan oleh Al Maktabah At Taufiqiyah.
Di antara guru beliau adalah Syaikh Musthofa Al ‘Adawi dan Syaikh Abu Malik di antara muridnya yang senior. Pengaruh gurun beliau sangat kuat sekali, yang hal ini bisa kita saksikan pada buku beliau, Shahih Fiqh Sunnah. Syaikh Abu Malik juga pernah belajar dari ulama-ulama di Kuwait dan ulama Saudi Arabia.
Di antara karya beliau yang terkenal adalah Shahih Fiqh Sunnah, Fiqh Sunnah lin Nisaa. Kitab lain yang beliau susun ialah Kitab fii Ahkamil Jum’ah, Kitab fii Akhthoin Nisaa’, Kitab Ta’zhim Qodrish Sholaah, dan Ta’liq ‘ala Syarh Al Baiquniyah. (ybh/hio)
“PUASA adalah separuh kesabaran”. Demikian sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, riwayat Tirmidzi, yang ditukil oleh Said Hawwa, dalam buku beliau; Tazkiyatu al-Nafs.
Pertanyaannya; bagaimana puasa bisa melatih kesabaran seseorang?
Oke. Perhatikanlah tuntunan dalam melaksanakan puasa. Ibadah puasa mengharuskan seseorang untuk menanggalkan segala jenis makanan. Tak terkecuali yang halal. Apalagi haram.
Dalam kurun waktu tertentu; yaitu mulai dari terbitnya fajar, hingga tenggelamnya matahari. Untuk yang sudah menikah, ada tambahan. Yaitu, tidak bersenggama di siang hari. Kalau malam boleh.
Sungguh meninggalkan sesuatu yang pada asalnya halal, bahkan ada bernilai ibadah (berhubungan suami-istri), bukan perkara ringan. Hanya orang yang bersabarlah yang bisa lulus ujian. Bagaimana ia tidak menjamah segala jenis makan di hadapnnya, karena belum tiba waktu berbuka. Ini butuh kesabaran.
Adakah mereka yang kandas. Oh, banyak. Bukan rahasia umum, khususnya di negeri ini, yang notabene berpenduduk mayoritas Muslim, masih banyak yang tidak berpuasa. Bahkan, beberapa tahun silam, berkembang isu agar; “Orang berpuasa menghormati hak mereka yang tidak berpuasa.”
Kenapa bisa terjadi demikian? Alasannya karena tidak sabar menahan diri dari lapar dan dahaga.
Dalam sejarah umat terdahulu, ada kaum yang diuji oleh Allah untuk tidak meminum air sungai yang mereka lewati, kecuali seteguk.
Nyatanya kebanyakan dari mereka juga gagal. Karena memilih memilih meminum air itu, bahkan ada yang mengambil untuk bekal. Itulah keadaan yang menimpa pasukan Tholut.
Pun demikian, bagaimana bisa menahan diri untuk tidak menggauli istri pada siang hari, ini juga butuh kesabaran. Kalau tidak, maka akan gagal.
Seperti kisah salah seorang Sahabat yang datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan melaporkan bahwa ia telah berkumpul dengan sang istri pada siang hari pada bulan Ramadhan.
Mencangkup Mental
Luar biasanya, ternyata pelatihan sabar melalui Ramadhan ini, ternyata tidak hanya mencakup ujian perut dengan di bawah perut semata. Sebagaimana diulas di atas. Namun juga mencangkup mental. Atau sikap dari kaum Muslimin.
Misal, bagaimana tuntunan Allah agar berperilaku jujur. Bicara yang baik-baik saja. Jangan pernah mengucapkan yang buruk. Diam itu lebih baik. Mereka yang tidak mengindahkan tuntunan ini, puasanya dianggap batal. Meskipun secara lahiriah masih puasa.
Upaya menahan lidah untuk tidak mudah berucap, ini adalah ujian kesabaran yang luar biasa. Tidak mudah. ‘Naluri-nya selalu ingin mengomentari apa saja yang disaksikan oleh mata. Persis dengan yang dialami oleh Nabi Musa, ketika belajar dengan Khidir. Syaratnya satu;
“Jangan engkau tanyakan sesuatu yang engkau lihat, sampai aku sendiri nanti akan menjelaskannya.”
Tapi nyatanya, beliau gagal. Tiga kali menyaksikan peristiwa, sebanyak itu pula beliau mengajukan pertanyaan. Tidak mudah, bukan!
Selanjutnya, dalam ibadah puasa ini, Allah menuntun kaum Muslimin jangan menjadi pribadi pemarah. Mudah terpancing emosinya. Tapi harus ditahan. Hatta sampai kalau ada yang berusaha mencari gara-gara, cukup beri respons dengan mengatakan;
“Aku tengah berpuasa”
Sungguh, bila ajaran kesabaran yang ada di bulan puasa ini benar-benar kita hayati, kemudian kita praktikkan. Rasa-rasanya bukan mustahil seusai Ramadhan, jiwa ini akan menduduki singgasana termulia; sabar. Seperti kata Sa’id Hawa dalam bukunya tersebut di atas;
“Apabila kesabaran termasuk kedudukan jiwa yang tertinggi, maka puasa merupakan pembiasaan jiwa untuk bersabar.”
Mulia dan Solutif
Buah dari kesabaran itu banyak. Dua di antaranya adalah kemuliaan dan solusi dari permasalahan. Untuk perkara yang pertama. Semua orang tentu mengharapkan kemulian hidup.
Maka sabar menjadi satu di antara kuncinya. Mari kita berkaca kepada Nabi Allah Ismail. Berkat kesabarannya menerima ujian dari Allah lah, yang menjadikannya mulia. Baik itu di hadapan makhluk, maupun Khalik.
Ketika datang kepadanya kabar dari Allah, melalui mimpi sang ayah, Nabi Ibrahim, bahwa ia akan disembelih. Jawabnya; “Lakukanlah wahai ayahanda. Insya Allah, kelak engkau akan mendapati nanda sebagai orang yang sabar.”
Allah pun memuliakan dua hamba shaleh ini. Jejak mereka dijadikan teladan segenap manusia setelahnya. Khususnya di Idul Adha, kisah mereka selalu dikenang.
Kemudian, sabar sebagai solusi dari pemasalahan. Mari dalam kasus ini kita belajar kepada Nabi Ya’qub, tatkala kehilangan keduan anak kesayangannya; Yusuf dan Bunyamin. Kata-kata yang keluar; “Fash-shabrun jamiil” (Maka kesabaran yang baik itulah -kesabaranku).
Dengan modal sabar ini, Nabi Ya’qub kemudian mampu memberikan solusi-solusi cerdas, sebagai ikhtiar untuk mengembalikan kedua anaknya yang telah hilang. Bagaimana hasilnya? Sukses. Keduanya kembali di pangkuan beliau.
Selagi ini masih awal-awal Ramadhan, mari kita maknai lebih dari praktik ibadah puasa yang tengah kita jalani. Jadikan ajang pengasah diri untuk menjadi pribadi penyabar. Wallahu ‘alam.*
KHAIRUL HIBRI,penulis adalah Sekretaris PW Syabab Hidayatullah Jawa Timur, pengasuh santri Ponpes Hidayatullah Surabaya dan Ketua komunitas PENA Jatim
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Di antara berkah Ramadhan ialah maraknya umat Islam meramaikan masjid-masjid yang ada. Di mana-mana, masjid-masjid tampak penuh dengan jamaah. Tak terkecuali Masjid Agung Ar-Riyadh Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Kelurahan Teritip, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.
Sejak awal berbagai program dicanangkan oleh pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Ar-Riyadh. Bahkan jauh hari, jamaah masjid menyepakati kepanitiaan Ramadhan dengan berbagai bidang dan tanggung jawabnya.
“Mohon doa dari semua jamaah. Ini amanah yang sangat berat. Sebab Ramadhan berarti perubahan yang lebih baik di semua aspek. Beratnya karena kemenangan itu harus dirasakan oleh seluruh jamaah tanpa kecuali. Bukan sendiri-sendiri,” ucap Fathun Qarib, ketua panitia Ramadhan dalam sambutan perdananya, beberapa waktu lalu.
Berjarak 33 km dari Kota Balikpapan, tepatnya di perbatasan Kelurahan Teritip Balikpapan dan Kelurahan Salok Api Darat, Kutai Kartanegara, masjid Ar-Riyadh tergolong ramai soal jumlah jamaah.
Menariknya, masjid yang sedang direnovasi tiga lantai itu dipadati bukan pada pelaksanaan Shalat Jumat saja, tapi juga di setiap waktu shalat wajib.
Tradisi positif di lingkungan masjid Ar-Riyadh, seluruh warga sekitar masjid wajib menghentikan seluruh kegiatan jika panggilan azan sudah berkumandang setiap waktu shalat, lima kali sehari semalam.
“Ini jadi aturan tak tertulis bagi warga yang bermukim di lingkuan sekitar masjid Ar-Riyadh. Sejak lingkungan ini didirikan oleh Ustadz Abdullah Said dulu,” jelas Fathun lebih jauh.
Khusus Ramadhan 1440 tahun ini, Panitia Ramadhan masjid Ar-Riyadh menyiapkan beberapa program Ramadhan. Mulai dari buka puasa bersama, kajian seputar Ramadhan, perbaikan bacaan al-Qur’an (tahsin tilawah), dan shalat tarawih dan tahajjud berjamaah. Khusus dua program terakhir, jamaah bisa menikmati kedua qiyam lail itu dengan bacaan imam satu juz al-Qur’an setiap malam.
“Masing-masing satu juz satu malam. Baik itu shalat tarawih dan tahajjud,” ucap Ust Muhammad Dinul Haq, Lc, panitia bidang ibadah Ramadhan.
Untuk keperluan itu, menurut Dinul, panitia menyiapkan tujub imam penghafal yang sudah menyelesaikan setoran hafalan 30 juz al-Qur’an secara tuntas. Mereka secara bergantian mengimami shalat tarawih dan shalat tahajjud selama bulan Ramadhan.
“Sebelum jadi imam, mereka wajib menyetorkan hafalan al-Qur’an yang dibacakan sesuai jadwal yang ditetapkan,” imbuhnya.
Dengan komitmen kemenangan Ramadhan untuk seluruh kalangan, panitia tak lupa memfasilitasi warga sekitar masjid dengan petugas khusus yang berkeliling membangunkan semuanya tanpa kecuali.
“Biasanya shalat dimulai jam 02.00 dinihari dan selesai pukul 04.00,” terang Dinul.
Khusus program al-Qur’an, selain mencanangkan khatam 3 juz selama puasa Ramadhan, jamaah masjid Ar-Riyadh juga dimanja dengan sajian perbaikan bacaan al-Qur’an (tahsin tilawah). Selanjutnya panitia menggunakan kitab Tuhfatul Atfal sebagai panduan teori dan praktik tahsin tersebut.
“Terbaru, kami juga menyiapkan beberapa ustadz yang ahli dalam bacaan dan mumpuni dalam hafalan bagi warga yang ingin praktik langsung memperbaiki bacaan dan hafalannya,” ucap Dinul. “Apapun kita usahakan untuk meraih berkah Ramadhan,” tutupnya semangat.*/Masykur Suyuthi
MANADO (Hidayatullah.or.id) — Kepolisian Resor (Polres) Tomohon melaksanakan buka puasa bersama dengan anak-anak Panti Asuhan Pondok Pesantren Hidayatullah, Masjid At Taqwa Kelurahan Kinilow, Kecamatan Tomohon Utara.
Kapolres Tomohon AKBP Raswin B Sirait, di Tomohon, Sabtu, mengatakan kegiatan ini sebagai wujud kebersamaan.
“Dimana Polres Tomohon adalah merupakan bagian dari masyarakat Kota Tomohon. Buka bersama anak yatim piatu ini sebagai sarana dengan berbagai rezeki dan kebahagian bersama orang yang membutuhkan kasih sayang,” jelasnya.
Ia mengemukakan dalam tugas dan tanggung jawab terutama yang berkaitan dengan tugas-tugas Kepolisian dalam pembinaan masyarakat, polisi harus dekat dan terus membangun komunikasi ataupun bersilaturahmi dengan masyarakat.
“Inti dari kegiatan ini yakni membangun komunikasi dan silaturahmi, harapannya biar anak-anak mendapat motivasi dan semangat baru.” ujarnya.
Kapolres pada saat itu juga memberikan bantuan berupa sembako, yang diterima oleh pimpinan pesantren Hidayatullah, Ust Nuryadi Majid.
Buka puasa ini juga dihadiri Waka Polres Tomohon Kompol Joyce MI Wowor, para Kabag dan pejabat utama Polres serta personel Polres beragama Muslim. (antara)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) yang telah berkiprah sejak tahun 2001 terus memperluas sepak terjangnya, tidak hanya dalam instrumen pemberdayaan melalui zakat, infaq, shadaqah (ZIS).
Tapi, laznas tersebut kini secara khusus mendukung pendirian Baitul Wakaf yang menangani wakaf sebagai sebuah harapan besar, agar mampu berkiprah lebih luas untuk mewujudkan kesejahteraan umat melalui wakaf.
Baitul Wakaf sebagai salah satu lembaga resmi yang konsen mengelola wakaf menggelar Seminar Wakaf bertajuk “Seminar Wakaf Era 4.0” di Hotel Sofyan Tebet Jakarta Selatan, Kamis (02/05/2019).
“Seminar ini sekaligus sebagai tanda di-launching-nya Baitul Wakaf sebagai lembaga pengelola wakaf yang legal menurut perundang-undangan yang berlaku,” terang Direktur Baitul Wakaf, Rama Wijaya.
Hadir sebagai narasumber, Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Dr Yuli Yasin, Pembina Baitul Wakaf Asih Subagyo, dan Chief Marketing & Philantrophy Officer Amanah Fintech Syariah Bambang Cahyono.
Disebutkan, Indonesia merupakan negara dengan aset tanah wakaf yang sangat besar. Menurut data yang dirilis oleh Kementerian Agama, tanah wakaf di Indonesia per Maret 2016 memiliki luas 4.359.443.170 m².
Sedangkan wakaf uang sendiri menurut Badan Wakaf Indonesia (BWI) potensinya menyentuh pada posisi Rp 180 triliun, namun realisasi pertahun 2018 baru mencapai Rp 400 miliar.
Maka, wakaf memiliki peluang sekaligus bagaimana meningkatkan pencapaiannya.
Sejumlah tantangan mesti dihadapi oleh nazhir/pengelola wakaf di Indonesia. Di antara problem terbesar saat ini adalah perlunya edukasi secara luas mengenai wakaf dan pengelolaan wakaf yang lebih modern dan produktif.
Sebab, harapannya, wakaf ke depan menjadi salah satu instrumen pendanaan yang mampu meningkatkan kesejahteraan umat dan mempererat solidaritas sosial masyarakat sangatlah tinggi.
Menurut Baitul Wakaf, dengan semakin besarnya potensi kelas menengah di Indonesia dan generasi millenial yang terus tumbuh dan mendominasi dalam berbagai sektor usaha, start up, dan beragam jenis usaha lainnya yang memiliki karakter fleksibilitas, juga merupakan segmen yang penting untuk ditumbuhkan kesadaran menunaikan wakaf.
Meski tak bisa dipungkiri, kelas menengah dan millenial yang telah bergeser perilaku dan preferensinya membuat pola pendekatan wakaf ke depan mesti berbeda. Karena, mereka lebih akrab dengan dunia digital dan banyak mengonsumsi pengalaman.*