Beranda blog Halaman 514

Khidmat Umat Islam Jadikan Indonesia sebagai Bangsa Besar

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Guru besar sosiologi agama yang juga Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin, Prof. DR. H. Mujiburrahman, MA, mengatakan dengan khidmat umat Islam menjadikan Indonesia sebagai bangsa besar bermartabat.

“Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia. Tidak saja besar, tapi juga relatif aman dan tentram. Meskipun ada ribut ribut tetapi kita bisa mengendalikan keributan itu,” kata Mujiburrahman ketika menyampaikan orasi ilmiah dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Angkatan XI & XII sekaligus penugasan sebanyak 102 alumni Sekolah Tiggi Ilmu Syariah Hidayatullah, Balikpapan, Kaltim, Sabtu (17/11/2018).

Mengutip catatan eksplorasi Indonesia dalam buku, “Indonesia Etc; Exploring The Improbable Nation”, ditulis Elizabeth Pisani, seorang peneliti Amerika yang juga wartawan, Mujiburrahman mengatakan Indonesia adalah bangsa besar yang semakin maju dan bergairah.

Elizabeth Pisani, kata Mujiburrahman, menggali khazanah Indonesia yang menurutnya adalah sebuah bangsa yang nyaris mustahil.

“Orang luar melihat Indonesia (Elizabeth Pisani) sebagai bangsa yang luar biasa. Menurut Pisani, Indonesia menjadi sebuah bangsa yang nyaris mustahil,” ujarnya.

Dia menyebutkan, luasnya Indonesia seperti dari Washington sampai Alaska. Sama dengan dari Teheran hingga London. Maka, kata dia, tak heran orang-orang luar melihat Indonesia ini sebagai suatu keajaiban, sebagai bangsa yang nyaris mustahil ada.

“Apa yang bisa membuat kita bisa bersatu dan kuat dalam perbedaan ini? Menurut saya karena umat Islam. Karena gerakan gerakan Islam yang ada di Indonesia adalah gerakan gerakan yang merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ungkapnya.

Dalam pada itu, lanjut Mujiburrahman, Hidayatullah sebagai salah satu ormas Islam yang sangat berpengaruh selain NU, Muhammadiyah, yang merupakan bagian kekuatan Islam di Indonesia yang terus berkhidmat untuk bangsa dan negara.

“Karena itu saya sangat senang bisa bersilaturahmi di sini,” imbuhnya seraya berpesan kepada sarjana STIS Hidaatullah yan ditugaskan ini jagan berhenti di sini setelah wisuda selesai. Teruslah belajar. Teruslah mengembangkan diri.

Koordinator KOPERTAIS Wilayah XI Kalimantan pula mendorong agar kampus-kampus yang ada memantapkan pembelajaran bahasa asing khusunya Arab dan Inggris sebab tantangan global kian menuntut tidak saja keahlian spesialis melainkan juga kemampuan adaptasi yang baik dengan penguasaan bahasa internasional.

“Saya mendukung sekali Program Ulama Zuama (PUZ) STIS Hidayatullah, program yang luar biasa dan semoga berjalan sukses. Saya turut bangga. Semoga kela bisa melahirkan sarjana yang menguasai bahasa Arab dan Inggris,” pungkasnya. (ybh/hio)

Sesepuh Hidayatullah Kendari KH Abdullah Umar Thafky Tutup Usia

0

KENDARI (Hidayatullah.or.id) – Sesepuh Hidayatullah yang juga Imam Masjid Raya Al Kautsar Kendari KH Abdullah Umar Thafky tutup usia, Jumat (16/11) pukul 00.30 Wita dalam usia 69 tahun di Kendari, akibat serangan jantung.

Almarhum yang lahir di Pinrang, 29 September 1949, Provinsi Sulawesi Selatan, meninggalkan tiga orang anak dan lima orang cucu.

Menurut istri almarhum Hj Maimunah, sebelumnya sempat dirawat selama dua hari di Rumah Sakit Kota Kendari.

“Keluarga mohon dimaafkan semua kesalahan pak kiai selama menjadi imam mesjid,” ungkap Hj Maimunah yang duduk di sisi jenazah kepada para pelayat yang datang memberikan doa dengan wajah sedih.

Sejak pagi para pelayat mulai berdatangan di rumah duka Jalan Balai Kota Kendari, utamanya dari kalangan jemaah mesjid terbesar di Sultra itu.

Turut melayat Plt Wali Kota Kendari Zulkarnain Kadir, Kabag Humas Provinsi Sultra Kusnadi dan beberapa pejabat penting di lingkup Kota Kendari dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara.

Almarhum yang akrab disapa Kiai Abdullah Umar, sejak kurun tahun 2013 sudah jarang memimpin salat di masjid Agung Al Kautsar akibat sakit stroke.

“Kurang lebih tujuh tahun tidak aktif di mesjid memimpin salat. Tapi beliau tetap menyempatkan menjadi imam saat bulan ramadhan tiba utamanya pada hari pertama ramadhan,” ungkap H Wahid salah seorang pengurus masjid Agung Al Kautsar.

Almarhum merupakan pensiunan Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Menjadi Imam Besar Masjid Agung Al Kautsar Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara selama 27 tahun sebelum sakit stroke mulai menggerogoti beberapa organ tubuh almarmum sehingga kadang tatkala memimpin salat almarhum duduk di kursi.

Almarhum yang merupakan anggota penasehat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sultra ini juga tercatat sebagai Hakim MTQ/STQ Nasional. Almarhum juga merupakan Ketua Tanfiziyah 2 Periode Pengurus Wilayah NU Provinsi Sultra. Semasa hidupnya pernah jadi santri dan mengajar di Pondok Pesantren Hidayatullah Kalimantan Timur Balikpapan dan Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari. (alp/rs)

Living Hadis yang Menjadi Spirit Pergerakan Ormas Hidayatullah

Oleh Kusnadi Abu Ulya*

SEBAGAIMANA kita ketahui, pergerakan atau organisasi keagamaan di Indonesia cukup beraneka ragam. Masing-masing ormas Islam tersebut memiliki ciri yang sangat khas dalam mewujudkan visi dan misinya.

Adapun yang menjadi landasan dasar bagi tiap-tiap organisasi tersebut adalah al-Qur’an dan Hadis. Diantara sekian banyak teks-teks al-Qur’an dan hadis, ada sekian teks yang paling diprioritaskan oleh masing-masing pergerakan, sehingga teks itu hidup dalam suatu organisasi.

Hidayatullah adalah sebuah gerakan organisasi keagamaan yang bergerak dalam bidang dawah dan pendidikan. Dan, yang menjadi spirit bagi Hidayatullah dalam mewujudkan visi dan misinya adalah al-Qur’an dan Hadis.

Salah satu hadis yang dijadikan spirit perjuangan Hidayatullah Oleh Ustadz Abdullah Said Rahimahullah, sebagimana yang dijelaskan oleh Ustaz Hasyim HS, adalah sabda Rasulullah yang bersumber dari Abdullah bin Salam yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan Ahmad:

أيها الناس ، أفشوا السلام ، وصلوا الأرحام ، وأطعموا الطعام ، وصلوا بالليل والناس نيام ، تدخلوا الجنة بسلام.

“Rasulullah SAW bersabda: “Wahai sekalian manusia sebarkanlah salam, berilah makanan, sambunglah tali silaturrahim, shalatlah diwaktu malam sedangkan manusia sedang tidur, kemudian masuklah Surga dengan selamat”

Hadis di atas menjadi spirit bagi Hidayatullah sejak awal berdirinya, dimana kandungan hadis tersebut terdiri dari empat perkara yang diimplementasikan oleh warga Hidayatullah yaitu: menyebarkan salam, memberi makan, menjalin hubungan silaturrahmi dan mengerjakan shalat malam.

1. Menyebarkan Salam

Menyebarkan salam merupakan cara yang efektif untuk menumbuhkan persaudaraan, persatuan dan dapat menumbuhkan rasa kasih sayang diantara sesama muslim.

Salam merupakan salah satu dari nama-nama Allah. Rasa saling mengasihi merupakan karunia dari Allah yang sangat besar yang dapat mendorong seseorang menjadi mukmin sejati.

Di Pesantren Hidayatullah penyebaran salam sudah menjadi tradisi sejak awal berdirinya pesantren. Setiap santri ketika berjumpa sesama temannya selalu diawali dengan ungkapan salam.

Ada seorang senior, Ust Ahmad Fitri, ketika awal masuk di pesantren ini, menurut dia yang paling terkesan baginya adalah ucapan salam. Karena setiap santri ketemu dengan temannya langsung mengucapkan salam. Tidak lama berjumpa lagi mengucapkan salam lagi, dan seterusnya seperti itu.

Sebagai tradisi lembaga, budaya salam ini harus selalu dijaga, jangan sampai lebur. Sebab terkadang didapati sebagian santri ketika berjumpa dengan teman atau gurunya, ucapan salam tidak menggema seperti dahulu kala.

Ketika budaya ini mulai luntur, muncul beberapa saran, baik dari pembimbing, pengurus, warga atau dari santri, agar budaya salam terus dijaga sebagaimana dahulu ketika pesantren ini berdiri.

2. Memberi Makan

Memberi makan termasuk salah satu perbuatan yang sangat terpuji. Memberi makan kepada orang lain merupakan salah satu upaya untuk menghilangkan sifat kikir yang selalu menggorogoti jiwa seseorang. Perbuatan ini dihitung sebagai sedakah yang menuai pahala berlipat ganda.

Kebiasaan warga yang ada di Pesantern Hidayatullah, ketika memasak, entah berupa kue, gorengan, dan makanan, ia tidak segan untuk memberikan makanannya kepada tetangga terdekatnya.

Ada yang menarik lagi. Ketika tamu berkunjung ke pesantren, sebagian warga langsung mengajak ke rumahnya. Ketika sampai, tamu disambut dengan berbagai aneka minuman; mulai dari air putih dan teh, bahkan kopi Radix. Menu makanannya ada yang terdiri dari gorengan, pisang sanggar, singkong goreng, dlsb.

3. Menjalin Hubungan Silaturrahim

Menjalin hubungan silaturrahim merupakan akhlak yang terbaik. Di Pondok Pesantren Hidayatullah budaya silaturrahim terus dijaga. Salah satu budaya siturahim yang eksis hingga saat ini adalah Silaturrahim Nasional (Silatnas), yang diadakan setidaknya satu kali dalam lima tahun.

Acara Silatnas bertempat di Pesantren pusat Hidayatullah Balikpapan. Peserta silaturrahim terdiri dari pengurus, simpatisan dan warga Hidayatullah yang ada di daerah-daerah dari Sabang sampai Merauke.

Diantara tujuan dari silaturrahim tersebut adalah mempertajam garis komando kepemimpinan, supaya kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan di pesantren pusat (di masa Abdullah Said, sekarang kebijakan DPP) terlaksana dengan baik, mulai dari tingkat pusat, wilayah dan pesantren yang ada di daerah-daerah.

4. Shalat Malam

Salah satu ciri dari kader-kader Hidayatullah adalah shalat lail (tahajjud). Shalat sunnah yang sangat diupayakan agar tidak tanggal. Perhatian kepada shalat ini menghampiri perhatian kepada shalat fardhu.

Abdullah Said selalu menekankan bahwa sebagai seorang pejuang yang dipunggungnya ada beban berat yang menekan, shalat lail ini sangat terasa urgensinya. Ibadah ini sangat potensial mengantar diri kita dekat kepada Allah SWT.

Sering dianalogikan oleh Ustadz Abdullah Said, sebagaimana diceramahkan oleh ustadz senior, bahwa kalau kita melakukan shalat lail dengan baik, sama dengan menghadap Allah SWT di “kantor-Nya”.

Artinya, kita diterima secara khusus oleh Allah SWT, kita dapat berdialog dengan enak, mengajukan dan mengadukan segala problem yang kita tengah hadapi. Karena seolah-olah cuma kita berdua dengan Allah. Apalagi kalau doa kita diiringi dengan cucuran air mata yang menandakan kesungguhan kita berdoa. Akan muncul keyakinan bahwa Tuhan akan mengijabah doa kita.

Ustadz Abdul Qadir Abdullah, salah seorang pembimbing mengatakan, bahwa di awal perjuangan Hidayatullah, semua santri (tingakat MA) dan warga mengikuti shalat lail secara berjamaah mulai jam 12 hingga jam 04. Mereka tidak mengenal lelah dan kantuk.

Karena, kalau tidak mengikuti shalat lail berjamaah, kata Ustadz Abdul Qadir Abdullah, rasanya malu, apalagi sampai ketahuan oleh Ustadz Abdullah Said. Jadi meskipun kantuk mereka paksa untuk datang ke Masjid shalat lail berjamaah yang dipandu langsung oleh beliau.

Dalam pertengahan shalat itu ada sebagian santri yang kantuk. Saking ngantuknya ada sebagian santri tersungkur ketika ruku. Ustadz Qadir Abdullah menjelaskan: “Saya sendiri pernah tersungkur ketika rakaat kedua”. Dan ada juga sebagian santri, ketika sujud tidak bangkit-bangkit lagi, kerena sudah tertidur lelap.[]

________
*) KUSNADI ABU ULYA, penulis adalah dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan

Peringati Hari Pahlawan, Santri di Towuti Ikuti Kemah Ubudiyah

0

LUWU TIMUR (Hidayatullah.or.id) – Santri Madrasah Ibtidaiyah Darul Ilmi Pondok Pesantren Hidayatullah Towuti memperingati Hari Pahlawan dengan menggelar perkemahan bertajuk “Kemah Ubudiyah” di Jalan Danau Tondano, Desa Asuli, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sabtu (10/11/2018).

Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari dari tanggal 10-11 November 2018 yang juga merupakan peringatan Hari Pahlawan Nasional 10 November.

Sebanyak 41 santri dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) semangat mengikuti kegiatan di pesantren Hidayatullah Towuti.

Ketua DPD Hidayatullah Luwu Timur, Najamuddin, mengatakan bahwa bahwa kegiatan ini diadakan karena ada beberapa target yang ingin dicapai selain melakukan refleksi kepahlawanan para pendiri bangsa dan salah satu target yang ingin dicapai yaitu pembelajaran ubudiyahnya.

“Sehingga kita sholat di alam terbuka dan juga kita akan bangun lebih awal besok paginya untuk memulai pagi dengan sholat lail,” ucap Najamuddin.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut akan mengadakan petualang melintasi pegunungan dan sungai serta beberapa rintangan lainnya di area Pesantren Hidayatullah.

Di kesempatan yang sama, Hasmira wali kelas tiga Madrasah Ibtidaiyah Darul Ilmi mengapresiasi adanya kegiatan perkemahan ini yang diinisiasi pihak ponpes Hidayatullah Towuti.

“Ini bagus melatih kekompakan dan semangat anak-anak untuk menghantarkan pada sikap yang mandiri penuh dedikasi dan empati,” tuturnya.

“Kegiatan ini sangat baik untuk bekal anak-anak agar dapat mandiri, jadi teringat waktu seumuran mereka dulu,” kata salah satu orang tua siswa dari ananda Siti Rahma Sari yang duduku di bangku kelas 3. */Andi Alfian Salassa

Gubernur Kaltim Sambut Baik Silatnas Hidayatullah 2018

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) – Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Isran Noor menyambut baik diadakannya Silaturahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah 2018. Gubernur Isran berharap Hidayatullah terus berkhidmat pada NKRI, sebagaimana tema besar Silatnas tersebut.

Hal itu ia sampaikan ketika menerima Ketua Panitia Pelaksana Silatnas 2018 Hamzah Akbar dan rombongan di kantor Gubernur Kaltim di Samarinda, Kamis (08/11/2018).

“Semoga Hidayatullah terus berkhidmat pada NKRI untuk menjadikan negara ini penuh martabat sehingga rakyatnya hidup dalam keberkahan,” ujar Isran -yang baru terpilih usai Pilkada 2018 lalu-penuh harap.

Dia pula menyampaikan ucapan selamat dan sukses Silaturrahim Nasional Hidayatullah 2018 serta harapan-harapannya terhadap kiprah Hidayatullah.

“Kami mengucapkan selamat Milad ke-45 tahun Hidayatullah, dan sekaligus selamat melaksanakan Silatnas Hidayatullah 2018. Diharapkan kegiatan ini dapat memberikan masukan positif bagi Hidayatullah dalam menciptakan sumber daya manuasi yang handal dan berkualitas sehingga memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan daerah maupun nasional,” kata Isran.

Hamzah Akbar ditemani Ketua DPW Hidayatullah Kaltim, Muhammad Tang dan jajarannya bertemu Gubernur untuk menyampaikan undangan dan mengharapkan Gubernur memberikan sambutan.

“Kita berharap Pak Gubernur mendukung penuh acara silaturahim ini,” ujar Hamzah.

Silatnas 2018 yang direncanakan dibuka oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla (Wapres JK) ini insya Allah akan dihadiri oleh dai dan daiyah dari seluruh Indonesia yang diperkirakan berjumlah sekitar 10 ribuan orang.

Silatnas akan digelar di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim pada 20-25 November 2018.

Hidayatullah adalah ormas yang lahir di kota Balikpapan 45 tahun lalu. Kini telah hadir dari Sabang sampai Merauke. Terdiri dari 34 DPW, 301 DPD, DPC 72 serta yayasan berjumlah 304 di seluruh Indonesia.*/Usamah Sudiono

43 Pasang Santri Nikah Mubarokah di Balikpapan

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Sebanyak 43 Pasang Santri mengikuti Pernikahan Mubarokah yang digelar Pondok Pesantren Hidayatullah di Gunung Tembak, Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Ahad (11/11/2018).

Acara bertempat di Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah Gunung Tembak, dimulai sejak sekitar pukul 08.00 WITA hingga menjelang zuhur.

Pantauan di lokasi acara, suasana sakral dan kegembiraan meliputi prosesi pernikahan tersebut. Pernikahan yang juga tercatat secara resmi di lembaga negara ini dipandu tiga penghulu agama dari KUA setempat.

Ribuan tamu undangan menghadiri acara di ruang utama masjid yang sedang dalam pembangunan tersebut. Hadir pula antara lain Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi, Wakil Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud, dai asal Sulawesi Selatan Ustadz Das’ad Latif, serta jajaran pimpinan dan pengurus Hidayatullah.

Sementara para pengantin putri ditempatkan terpisah di kampus putri berjarak sekitar 50 meter dari Masjid Ar-Riyadh.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan Hamzah Akbar mengatakan, peserta nikah tersebut merupakan hasil seleksi dari banyaknya calon peserta yang berminat mengikuti pernikahan itu.

“Dari 70 pendaftar, terseleksi jadi 43 pasang,” sebutnya dalam sambutannya.

Para pengantin berasal dari berbagai daerah se-Indonesia. Mulai dari Papua, Aceh, Bali, Sumatera, Sulawesi, hingga Kalimantan.

Sebelum menikah, mereka mengikuti pembekalan pra nikah selama sekitar 2 pekan di Gunung Tembak. Pembekalan yang diberikan mulai dari materi tentang pernikahan, keagamaan, terkait keorganisasian kebangsaan dan sebagainya termasuk kesehatan.

Menariknya, selama masa pembekalan mereka turut berpartisipasi dalam pembangunan kampus pesantren yang saat ini sedang bersiap menggelar Silaturahim Nasional (Silatnas) dai penghujung bulan ini. Mereka ikut bekerja bakti, bergotong royong sebagaimana warga pesantren lainnya.

Penetapan calon pasangan masing-masing santri itu pun dilakukan oleh panitia yang dibentuk khusus, yang selama ini memang sudah berpengalaman dalam pernikahan seperti itu.

“Proses nikah menjadi penguat baru mereka (pengantin),” ujar Hamzah.

Setelah menikah, para santri yang juga dai serta guru tersebut ditugaskan kembali ke daerah masing-masing.

“Harapan kita mereka kembali ke daerah dengan semangat baru, dengan gairah baru. Paling tidak ada teman berbagi,” ujarnya.

Wagub Kaltim mengapresiasi pernikahan mubarokah Hidayatullah. Ia pun mendoakan para pengantin agar mendapatkan keturunan yang shaleh/shalehah.

“Saya bangga dengan Hidayatullah,” akunya.

Wawali Kota Rahmad berpesan kepada para pengantin agar konsisten dalam mensyiarkan agama pasca status baru yang mereka.

“Syiarkan (Islam) di seluruh penjuru dunia,” demikian pesannya.

Ia berpesan kepada para dai, dalam dakwahnya agar mendengar aspirasi masyarakat. Jangan harap akan didengar masyarakat, kalau tidak mau mendengar masyarakat.

Tak lupa Wawali Rahmad turut menyampaikan doa atas terselenggaranya pernikahan itu. “Semoga mendapat ridha Allah,” harapnya.

 

Tradisi Lama Hidayatullah

Pernikahan mubarokah merupakan tradisi sekaligus syiar dakwah yang sudah lama berjalan bagi ormas yang berusia 45 tahun ini, dulu biasa disebut “Pernikahan Massal”.

Tradisi dalam pernikahan ini para calon pengantin tidak saling mengenal terlebih dahulu sebelumnya. Bahkan bukan hal aneh jika seorang calon mertua tidak tahu siapa pastinya calon menantunya hingga satu atau dua hari sebelum pernikahan.

Memang, penetapan calon pasangan masing-masing santri itu disampaikan panitia kepada masing-masing peserta biasanya pada H-1 sebelum aqad nikah.

Ahmad MS, misalnya. Dai yang bertugas di Sumatera Selatan ini belum tahu kepastian siapa jodoh untuk kedua putrinya -yang ikut pernikahan- hingga Jumat (09/11/2018) kemarin lusa.

“Belum tahu saya,” ujarnya saat bincang-bincang dengan hidayatullah.com.

Ia menyerahkan sepenuhnya calon menantunya kepada Allah lewat hasil musyawarah para panitia.

Wahyu, salah seorang peserta nikah itu, mengaku begitu bahagia mengikuti pernikahan ini. Pria asal Samarinda, Kaltim ini bahkan merasa “canggung”.

“Senang, tapi lebih banyak canggungnya,” ujarnya ditemui bakda zuhur sebelum penyerahan mahar kepada istrinya. Penyerahan mahar dilakukan secara terpisah di rumah masing-masing keluarga mempelai di Gunung Tembak.

Kenapa canggung?

Rupanya ia dijodohkan dengan putri dari salah seorang ustadz kondang di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak.

Terlebih lagi, ternyata istrinya adalah adik dari sahabatnya sendiri. Itu pun baru dia ketahui setelah diperlihatkan oleh panitia biodata sang putri sebelum pernikahan itu.

Biodata itu biasanya berisi foto calon istri/calon suami sekaligus formulir kesediaan masing-masing peserta untuk menerima calon pasangannya, untuk kemudian ditandatangani.

Wahyu, guru di sebuah Sekolah Alam di Manggar, Balikpapan, ini pun bersedia menerima putri sang ustadz itu sebagai calon istrinya meskipun dengan perasaan terkejut dan canggung.

“Betul-betul enda’ nyangka aku,” ungkapnya dengan raut wajah dan nada bicara serius.

Ia mengaku jauh sebelum pernikahan sudah menyerahkan persoalan jodohnya kepada Allah lewat ijtihad musyawarah panitia.*/Syakur

Pelatihan Dai dan Daiyah di Pedalaman Kalimantan Barat untuk Tingkatkan Dakwah

0

PONTIANAK (Hudayatullah.or.id) – Bertempat di ruang madrasah, Pesantren Tahfid Qur’an dhuafa, yang beralamat di Jl. Khatulistiwa Gg Flora, Batu Layang, Pontianak Utara, DPW Hidayatullah dan Muslimat Hidayatullah bekerjasama dengan Laznas BMH menggelar training dai dan daiyah pedalaman, beberapa waktu lalu.

Secara resmi acara dibuka oleh PLT Walikota Pontianak yang diwakili oleh Kabag Kesra Kota Pontianak, Bapak Kiswanta.

Dalam sambutanya beliau mengapresiasi serta menyampaikan agar para daii dan daiyah fokus mengikuti training tersebut agar benar-benar menjadi dai dan daiyah yang shahih serta shaleh dan shalihah.

Event ini dimaksudkan sebagai media silaturrahim dan memberikan bekal pemahaman yang lebih luas tentang berdakwah yang baik dan benar, guna mampu menjadikan dakwah sebagai perekat harmoni masyarakat.

Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari ini diikuti tidak kurang dari 30 dai dan daiyah pedalaman terpilih dari berbagai kabupaten se-Kalimantan Barat.

Selama acara berlangsung peserta mendapatkan bekal pelatihan memadai dari berbagai nara sumber yang hadir, seperti Ustadz Nasfi Arsyad, LC (dari Balikpapan), Ustadz Hanifullah (dari Surabaya), serta dua Ustadzah lainnya (dari Jakarta).

Salah seorang peserta Ustadz Budi Tamil dari Kabupaten Mempawah mengatakan, “Alhamdulillah dengan adanya kegiatan seperti ini semakin menambah Ilmu serta pengalaman kami, dan kami bersyukur juga dengan adanya kegiatan seperti ini kami merasa ada yang memperhatikan dan harapan kami kegiatan ini bisa terus berlanjut menjadi sebuah pembinaan yang berkelanjutan,” tuturnya.*/Baidai

Pemkab Harapkan Hidayatullah Hadir di Semua Kecamatan di Kutai Kartanegara

TENGGARONG (Hidayatullah.or.id) – Kiprah Hidayatullah dalam membangun daerah khususnya dalam bidang pengembangan sumber daya insani yang berintegritas, beriman dan bertakwa melalui mainstream gerakan dakwah dan pendidikan harus terus dijaga dan ditingkatkan.

Harapan tersebut disampaikan Plt Bupati Kutai Kartanegara Edi Damansyah saat menerima Ketua Panitia Silaturrahim Nasional (Silatnas) III Hidayatullah Hamzah Akbar beserta rombongan di kediamannya di Tenggarong, Rabu (7/11/2018).

“Ada delapan belas kecamatan di wilayah Kukar. Kami berharap di semua kecamatan Hidayatullah hadir di sana,” harap Edi Damansyah.

Edi menyampaikan terimakasih apresiasi atas peran Hidayatullah bersama pemerintah dalam pembangunan di kawasan ini. Ia pula mendorong Hidayatullah semakin eksis serta terus mengukuhkan sinergi dengan berbagai pihak khususnya dengan pemerintah.

“Mudah-mudahan apa yang telah dilakukan oleh Hidayatullah ini bisa bersinergi dalam bidang keagamaan yang telah menjadi prioritas rancangan kerja dengan Pemerintah Kutai Kartanegara,” harap Edi.

Dalam kesempatan tersebut, Hamzah Akbar menyambut antusias harapan dari Pemkab Kutai Kartanegara untuk semakin meneguhkan kiprah Hidayatullah di daerah yang dikenal juga sebagai Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura ini.

Hamzah Akbar selaku ketua panitia silatnas Hidayatullah 2018 sekaligus menyampaikan undangan seraya berharap Pemerintah Kukar dapat turut menjamu tamu silaturahim nasional yang rencananya akan dihadiri oleh ribuan dai dari seluruh Indonesia.

“Panitia berharap pak Edi bisa ikut menjamu para dai yang datang dari berbagai daerah,” harap Hamzah.

Silaturrahim ini Hamzah Akbar ditemani juga oleh Ketua Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Kaltim Muhammad Tang dan sejumlah jajarannya serta pengurus DPD Hidayatullah Kutai Kartanegara*/Usamah Sudiono

Silatnas Menggali Khazanah Kearifan Gunung Tembak

Oleh Abdurrohim Abu Hilman*

ADA SEBUAH pertanyaan menggelitik, yaitu mengapa perhelatan Silaturrahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah selalu diadakan di Gunung Tembak?. Jawaban yang sering kita dengar adalah karena Gunung Tembak adalah pusat sejarah, serta menjadi tempat Hidayatullah awal mula dirintis dan didirikan.

Allahuyarham Ustadz Abdullah Said, dalam pidatonya yang berapi-api pernah mengatakan bahwa Hidayatullah Gunung Tembak adalah pusat gerakan Hidayatullah, sebagaimana Syanggit di Benua Afrika, kota Qum di Iran, dan Nidzamuddin di Benua India (Markas besar Jamaah Tabligh).

Karenanya Hidayatullah Gunung Tembak punya kekhasan tersendiri, dan berbeda dengan cabang Hidayatullah di tempat lain. Tidak berlebihan kalau dikatakan Hidayatullah Gunung Tembak memiliki pandangan dunianya (worldview) sendiri.

Yang mengundang decak kagum adalah bahwa areal seluas 120 hektar itu telah menjelma menjadi perkampungan Muslim yang juga menjadi pusat alat peraga dakwah Hidayatullah (center of excellence). Dalam berbagai sisinya, perkampungan ini berusaha mentahbiskan diri sebagai komunitas yang menjunjung tinggi sistem kehidupan ala Rasulullah SAW di kota Madinah dengan jargon, alamiah, ilmiah dan Islamiah.

Secara kasat mata warga yang tinggal di dalamnya juga menampilkan performa kultur kehidupan Islami seperti batasan interaksi antar lawan jenis dengan standar hijab yang ketat, shalat berjamaah, dan saling sapa dengan mengucapkan salam.

Lingkungan ini juga berusaha memproteksi komunitas dari instrumen yang bisa menimbulkan polusi moral seperti televisi, maka wajar anak-anak yang tinggal di lingkungan ini benar-benar menikmati situasi alamiahnya, seperti berenang di danau, memanjat pohon, dan lain-lain.

Bagi yang pernah merasakan nyantri di Gunung Tembak era tahun 80-an hingga menjelang millinium baru tahun 2000-an, bisa dipastikan masih mengalami celupan (shibgah) pengkaderan dalam situasi alamiah yang khas. Pada masa ini santri masih identik cangkul dan arit, bahkan menjadi ”senjata wajib” yang harus dimiliki para santri ketika mendaftar. Suatu pola yang jauh berbeda dengan pesantren pada umumnya yang identik dengan pena, kitab kuning, dan Kiai Khos.

Belum lagi kolam TC (training centre) yang sangat melegenda di hati para santri, karena harus nyemplung di sana selama 40 hari sebagai wahana pengikisan ego (thaga dalam bahasa Allahuyarham Abdullah Said). Kolam ini bukan kolam biasa, karena juga berfungsi sebagai tempat pembuangan akhir sampah perut para santri.

Situasi alamiah yang khas ternyata menjadi “sekolah alam” untuk menempa kemandirian, lifeskill, dan kecakapan yang tidak biasa, seperti kemampuan bertukang, berkebun, bahkan pandai memasak. Situasi yang sulit dicari, di era komersialisasi pendidikan seperti sekarang ini.

Suasana kebersamaan, dan perasaan senasib sepenanggungan juga memenuhi ruang hati para santri kala itu, di samping intensitas pembelajaran di lapangan yang cukup padat, menu dapur umum yang lauk pauknya minimalis, para santri punya kegiatan khusus yang unik, yaitu bergubuk ria.

Menjadi santri gubuk adalah suatu kebanggan tersendiri kala itu. Gubuk yang didesain secara sederhana, tidak hanya menjadi spot menyenangkan para santri untuk melepas lelah, tapi juga menjadi titik kumpul yang indah. Biasanya di sana ada sumur galian buat MCK, lapangan kecil untuk main futsal dan sepak takraw, serta dihiasi deratan bedengan singkong, jagung, ubi jalar (kandora), gambas yang menggugah selera.

Kehadiran gubuk dengan segala tanaman para santri penghuni gubuk yang terdaftar, menjadi oase bagi “kampung tengah para santri” kala itu. Pada situasi bergubuk inilah, “singkong bakar” menjadi menu terfavorit, dan menjadi kudapan wajib sehari-hari “santri gubuk.”

Tidak jarang hasil perkebunan itu menjadi komoditas ekonomi yang penting, untuk memenuhi kebutuhan harian santri, dan di situ ada tempaan kemandirian. “Sekolah Gubuk” telah menciptakan karakteristik penting bagi santri Hidayatullah ketika ditugaskan merintis cabang.

Khazanah Kearifan dalam kehidupan keseharian para santri Gunung Tembak juga tercermin dalam diksi dan kosakata yang unik. Selain gubuk, singkong bakar, para santri punya istilah brijing untuk hunting buah-buahan di perkebunan buah pesantren; waro’ untuk yang jago makan, wali untuk yang rajin ibadah dan sholatnya lama; tuti bagi santri tukang tidur. Masih banyak istilah lain, dan menjadi diksi yang hanya muncul dalam kamus santri Gunung Tembak.

Di sisi lain, diksi tersebut menggambarkan suasana khas Gunung Tembak yang selalu dirindukan para alumni yang telah berkiprah di cabang-cabang Hidayatullah, dan Silatnas menjadi ajang romantisma dan repertoar untuk menghikmati masa-masa pengkaderan ala Gunung Tembak.

Allahuyarham Ust. Abdullah Said juga telah mewariskan khazanah kearifan tersendiri untuk para santri. Dalam ceramah-ceramah beliau yang sangat bertenaga, beliau mengidentifikasi santri yang mengalami inkonsistensi antara ucapan dan laku perbuatan dengan istilah “Kaburomaktan”; menyebut santri yang sombong dan angkuh dengan sebutan “Kada’bi”; dan sebutan bagi santri tidak tahan dengan istilah “goncang.” Yang juga selalu dikenang dari beliau oleh para santri kala itu adalah diksi “Fantasiruu” seusai melaksanakan sholat berjamaah di masjid.

Hal lain yang sangat berkesan dari Gunung Tembak, adalah mimbar masjid yang sangat sakral. Berbanding terbalik dengan pesantren lain yang menjadikan makam (maqbaroh) Kiai khosnya atau pendiri pondok sebagai area yang sakral.

Mimbar masjid Ar-Riyadh Gunung Tembak sangat melegenda, karena telah menjadi ajang latihan para santri untuk berpidato atau berceramah. Para santri yang tampil berusaha menampilkan performansi terbaiknya, karena disaksikan oleh seluruh asatidzah, guru, santri, dan warga masyarakat sekitar.

Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa mimbar legendaris tersebut, turut serta dalam mencetak kader dai Hidayatullah yang telah tersebar di seluruh Nusantara, dan menjadi dai kondang serta menjadi public speaker yang berpengaruh di tempat tugasnya.

Pengalaman unik lain ketika menjadi santri Gunung Tembak, adalah ketika di bulan Ramadhan mendapatkan tugas untuk menjemput dana zakat, infak, shadaqah dan wakaf simpatisan Hidayatullah atau warga kota Balikpapan secara umum.

Pengalaman sebagai mujahid ramadhan ini secara tidak langsung telah menjadi ajang latihan mental para santri dan langsung mempraktikkan kemampuan lobi, negosiasi, dan melakukan persuasi kepada masyarakat umum untuk menumbuhkan kesadaran filantropis.

Di sisi lain tugas ini dipandang sebagai tugas mulia, karena di jaman Rasulullah SAW menjadi amil zakat adalah tugas yang diemban oleh para Sahabat Rasulullah.

Tidak jarang kemampuan yang lahir dari “madrasah mujahid ramadhan” ini menjadi modal penting ketika para santri Hidayatullah ditugaskan untuk merintis cabang di daerah lain.

Ala Kulli Haal, Silatnas di Gunung Tembak tidak hanya berfungsi untuk menggali kembali khazanah kearifan Gunung Tembak, tapi juga menjadi ajang temu kangen para santri yang pernah mencicipi situasi pengkaderannya yang khas.

Silatnas merupakan ajang silaturrahim yang tidak hanya dihadiri oleh santri yang pernah belajar di Madrasah Ibtidaiyah (PDI), Tsanawiyah, Aliyah, dan KMM (Kulliyatul Mubalighin wal Muballighat), atau yang pernah diistilahkan dengan Kerja Mati-Matian. Tapi juga akan dihadiri oleh santri yang pernah lari karena mengalami ”kegoncangan diri,” atau bahkan menjadi ajang reuni para alumni pernikahan mubarakah, karena pernah mencicipi situasi pembekalan dan akhirnya bertemu jodoh di tempat ini.

Walhasil, Gunung Tembak yang punya kharisma memikat, juga akan membuat warga Hidayatullah di daerah lain di bumi Indonesia dan belum pernah melihat langsung Gunung Tembak akan sangat berhasrat untuk mendatangi tempat yang sangat menyejarah ini. Selamat Bersilatnas! Wallahu A’lamu Bishawwab

______
ABDURROHIM ABU HILMAN, penulis adalah Kepala Lembaga Penjaminan Mutu STIS Hidayatullah Balikpapan

Sarjana STIE Hidayatullah Berperan Seperti Tali Tasbih

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Di tengah masih rumitnya mendapatkan pekerjaan bagi sedikitnya 131,01 juta orang angkatan kerja masyarakat Indonesia, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIE Hidayatullah) terus melakukan terobosan dengan mencetak sarjana yang langsung bekerja pasca wisuda.

“Permintaan ada dua ratusan dari seluruh Indonesia tapi tidak bisa kita penuhi semua,” kata Kepala Bidang Organisasi DPP Hidayatullah, Ust Ir Khairil Baits, ketika memberikan sambutan dalam acara Penugasan Dai Sarjana STIE Hidayatullah di Kota Depok, Ahad (4/11/2018).

Ia mengatakan banyaknya permintaan tenaga dari daerah tidak semua dapat dipenuhi karena keterbatan kuota. Karena itu, saat ini sarjana yang sudah siap kerja ini baru dapat ditempatkan di daerah yang relatif mendesak terhadap ketersediaan sumber daya manusia.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia per Agustus 2018 mencapai 7 juta orang. Angka tersebut setara dengan 5,34 persen dari jumlah angkatan kerja di Indonesia yang tercatat sebesar 131,01 juta orang. Dengan demikian, mereka yang bekerja ada sebanyak 124,01 juta orang.

Dari jumlah orang yang bekerja itu, 88,43 juta orang di antaranya merupakan pekerja penuh, 27,37 juta orang tergolong pekerja paruh waktu, dan 8,21 juta orang lagi merupakan setengah pengangguran.

Khairil berpesan kepada dai sarjana STIE Hidayatullah yang ditugaskan ini agar selalu menejawantah nilai-nilai luhur Hidayatullah dalam mengemban amanah dakwah dan pengabdian ini.

“Saya pun masih siap ditugaskan kapan saja dan di mana saja. Saya selalu merindukan momen seperti ini,” imbuhnya.

Kampus STIE Hidayatullah melakukan pelepasan tugas bagi dai sarjana ke berbagai wilayah di Indonesia. Acara ini mengusung tema, “Menebar Dai Pembangunan sebagai Jalan Membangun Peradaban dan Mengokohkan NKRI”.

Ketua STIE Hidayatullah Dr Dudung A. Abdullah, mengatakan STIE Hidayatullah terus melakukan terobosan demi terobosan guna melahirkan mahasiswa yang memiliki kecakapan di bidangnya. STIE Hidayatullah saat ini memiliki dua program studi yakni Manajemen dan Akuntansi.

“Dengan berorientasi pada demand driven, STIE Hidayatullah berkomitmen melahirkan angkatan kerja yang matang dan siap bersaing di pasar kerja,” katanya.

Penerapan perkuliahan yang berorientasi pada kebutuhan (demand driven), kampus STIE Hidayatullah yang berada di bawah ormas Hidayatullah turut berperan dalam pembangunan peradaban bangsa dan mengokohkan NKRI.

Lebih lanjut Dudung mengatakan para dai sarjana ini ditugaskan ke berbagai daerah untuk sekaligus mengembangkan kapasitas dan keilmuannya. Dudung mengatakan setidaknya ada dua tujuan mereka mengabdi di masyarakat pasca kelulusan.

Pertama, kata Dudung, dai sarjana ini diharapkan menjadi penggerak pembangunan peradaban bangsa sesuai kapasitasnya masing masing. Kedua, sebagai dai yang berperan memperkokoh eksisistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menghindarkan dari berpecah belah.

“Para sarjana yang dikirim mengabdi bekerja ke berbagai daerah ini seperti tali tasbih. Sebagaimana tali tasbih, mereka harus mempersatukan dan merapatkan. Berbagai elemen yang berbeda harus bisa dihimpun oleh sarjana lulusan STIE Hidayatullah,” tandasnya.

Sebanyak 26 sarjana dai ini ditugaskan ke berbagai daerah seperti Sulawesi Tengah, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Kalimantan Barat, Riau dan lain-lain. Sebelum SK dibacakan, mereka tak tahu sama sekali sebelumnya akan bertugas dimana. (ybh/hio)