Beranda blog Halaman 517

Ar-Rohmah Malang Tuan Rumah Jambore Putri Pandu Hidayatullah

MALANG (Hidayatullah.or.id) – Yayasan Pendidikan Islam Ar-Rohmah Putri Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Malang menjadi tuan rumah Jambore Putri Pandu Hidayatullah se-Jawa Timur, dibuka Rabu (17/10/2018).

Kegiatan yang digagas oleh Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah Hidayatullah Jawa Timur itu, dilaksanakan selama tiga hari di Bumi Perkemahan Coban Rondo Malang dengan tema “Bersama Pandu Hidayatullah, Wujudkan Muslimah Mandiri dan Berprestasi”.

Jambore itu dihadiri Ketua Pusat Pandu Hidayatullah, Kak Syarif Daryono. Dalam sambutannya Kak Syarif, panggilan akrab Syarif Daryono, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas terlaksananya kegiatan tersebut.

“Jambore Putri Pandu Hidayatullah ini yang pertama di Hidayatullah. Jawa Timur selalu menjadi pioner. Dari Malang inspirasi untuk Indonesia” ujarnya bangga.

Jambore tersebut diikuti 396 peserta yang berasal dari utusan sekolah-sekolah di bawah naungan Pesantren Hidayatullah se-Jawa Timur. Terdiri dari murid SD/MI kelas IV sampai kelas VI, murid SMP/MTs dan murid SMK/MA.

Selama di Coban Rondo seluruh peserta akan mengikuti berbagai kegiatan yang dirancang menarik, menantang dan menginspirasi. Antara lain ta’aruf dan fun game, lomba cerdas cermat, mencari jejak dan lomba jasadiyah, lomba tsaqofah (tahsin dan tahfizh), kreatifitas fi’ah dan lomba kemuslimahan.

Meskipun berada di tengah hutan pinus yang lebat, ibadah sholat lima waktu berjamaah tetap ditegakkan. Wirid dan sholat lail pun tidak ditinggalkan.*/Hery Purnama

IMS Recovery Kesehatan, BMH Bangun Huntrap di Lombok

LOMBOK (Hidayatullah.or.id) – Pada hari Selasa, 16 Oktober 2018, lembaga layanan kesehatan, Islamic Medical Service (IMS) telah mengadakan recovery kesehatan di Dusun Busur Barat Desa Rempek Darussalam Lombok Utara.

Pagi ini sampai dengan siang hari, Rabu (17/10/2018), tim IMS kembali mengadakan poskesling yang berlokasi di Dusun Lempajang Desa Persiapan Rempek Barat
.

“InsyaAllah nanti sore akan dilanjutkan poskesling ke wilayah yang terdampak lainnya. Jazakallahkhairan atas dukungan dan doanya,” kata relawan yang juga Humas IMS Pusat, Syahidin dalam obrolan dengan redaksi, Rabu.

Sementara itu, Baitul Maal Hidayatullah juga terus berpacu dalam memberikan bantuan dan penyaluran bantuan dari donatur untuk korban gempa Lombok. BMH saat ini telah membangun rumah transisi permanen (Huntrap) di beberapa lokasi yang terdampak paling parah pasca gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Huntrap diantaranya dibangun berlokasi di Desa Kertarahaja, Dusun Gelangga, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara. Desa ini menjadi salah satu titik proritas BMH dalam membangun Hutrap.

Pada tahap awal BMH telah mendirikan 20 Huntrap, yang nantinya rumah tersebut bisa dikembangkan menjadi rumah hunian tetap karena sudah beralaskan keramik permanen.

Pembangunan huntrap ini sangat mendesak karena kawasan NTB sudah mulai memasuki musim hujan yang menimbulkan berbagai macam penyakit jika masih menetap di tenda-tenda darurat.

Salah seorang warga penerima huntrap, Syukur Susiani, mengucapkan rasa syukur Alhamdulillah. Susiani telah menerima rumah hunian untuk keluarganya dalam menghadapi musim hujan ini.

“Kami sekeluarga mengucapkan banyak terima kasih kepada para donatur BMH yang telah memberikan kami tempat sekeluarga hunian yang mana sebelumnya kami tidak mempunyai tempat, karena rumah kami hancur luluh-lantah pasca gempa,” ungkap syukur Susiani sesaat menerima Huntrap untuk keluarganya.

Mari bersinergi, bantu korban gempa Lombok hadapi musim hujan untuk keluarga mereka. Kepedulian anda adalah energi bagi mereka. (ybh/hio)

Semarak Sambut Silatnas dan Berbunganya Ummahat

AKHIR-akhir ini, ada fenomena yang sama-sama kita amati dan nikmati, apalagi kalau bukan kehebohan para ummahat berburu bunga. Perkara bunga ini bukan hal yang sepele, pembicaraan tentangnya memenuhi hampir seluruh chat di grup-grup WhatsApp.

Mulai dari grup guru, grup halaqoh, grup pelapak, grup keluarga, sampai grup-grup alumni. Perkara bunga menjadi trending topic setelah dikeluarkannya himbauan kepada seluruh ibu-ibu warga untuk mempercantik tamannya dengan menanam bunga-bungaan, sebagai salah satu bentuk persiapan menyambut Silatnas Hidayatullah November nanti.

Tersisa waktu kurang lebih sebulan sebelum perhelatan akbar tersebut digelar, maka tidak heran ketika kemarin saya menemani Bunda tersayang berburu bunga, para penjual bunga yang berjejer di sekitaran Dome Balikpapan bertanya-tanya.

“Mau ada acara apa bu? Beberapa hari ini banyak itu ibu-ibu jilbab panjang cari bunga juga.” Atau,

“Dari Hidayatullah ya? Katanya disuruh tanam bunga semua ya?”
“Kemarin Ibu-ibu Hidayatullah borongnya yang jenis ini, potnya yg begini, tali gantungannya yang begitu.” Dan yang semacamnya.

Sekarang ini adalah saat-saat yang paling membahagiakan bagi para ummahat, tetapi masa yang mengenaskan bagi para suami. Apalagi yang suaminya diseret ikut ke toko bunga, sehabis memilih bermacam-macam jenis bunga si Istri kemudian meninggalkan Suami untuk berurusan dengan si penjual.

Trik jitu mengamankan isi dompet sendiri tapi mengeringkan isi dompet suami. Kapan lagi para ummahat ini meminta anggaran belanja bunga dengan dalih ketaatan terhadap aturan Kampus Hidayatullah Gunung Tembak sebagai tuan rumah Silatnas. Betul, tidak? 😉

Ummahat hari ini, jalan kemana saja yang dikeker bunga, yang diincar bunga, yg diminta bunga. Habis shalat subuh, saya terheran-heran menyaksikan bunda membaca tawajjuhat sambil berdiri dibalik gorden ruang tamu, ternyata oh ternyata, beliau baca wirid subuh sambil menengok keadaan bunga-bunga barunya, masih bernafas atau tidak.

Malam sebelum tidurpun begitu, di tengok dulu, setelah memastikan bunganya aman, damai dan sejahtera barulah beliau terlelap.

Lain lagi ceritanya ketika saya ke pasar beberapa hari lalu, maksud hati ingin membeli tali untuk menggantung pot, setelah basa-basi dengan penjualnya, ditanyalah untuk apa tali tersebut.
Begitu tahu tujuan saya membeli tali, si ibu penjual ini dengan semangat ’45 bercerita tentang koleksi bunganya, sampai-sampai diajak ke taman bunga di rumahnya yang berjarak beberapa meter dari tokonya.

Alhamdulillah, diijinkan jepret-jepret (padahal pengennya minta bibit bunganya, cuma malu), dan diajari tips and trik merawat bunga.

Ibu-ibu kalau sudah bicara bunga, beda sorot matanya. Bisa jadi berbinar-binar, bisa jadi berapi-api. Berbinar ketika suami tiba-tiba bawa bunga pulang ke rumah, berapi-api ketika melihat bunga kesayangan luluh lantak diterjang ayam tetangga, disenggol motor suami, atau digunduli buah hati.

Dulu, pernah ada quote viral; “Jangan sekali-kali menyenggol ibu-ibu yang sedang menggambar alis, kelar hidup lo!” Kalau untuk ummahat Gutem bukan alis, tapi, “Jangan sekali-kali menyenggol pot bunga ibu-ibu, bisa kena ceramah yang panjangnya ngalah-ngalahin khotbah Jum’at.”

Nah, biar kegiatan menanam bunga kita efektif, bernilai dan bermanfaat, yuk kita sama-sama mengilmui bagaimana sebenarnya menanam dan mengoleksi bunga dalam Islam.

Allah Ta’ala dalam firman-Nya menyebutkan tentang bunga secara implisit dalam surah Al-Hajj ayat 5;

وَتَرَى الْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ
“Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.”

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan makna ayat ini, yaitu apabila Allah telah menurunkan hujan ke bumi, maka اهتزت, yaitu dia bergerak pada tumbuh-tumbuhan serta menghidupkan dan mengembangkannya setelah kematian.

Kemudian menumbuhkan apa-apa yang dikandungnya berupa warna, berbagai jenis buah-buahan dan tanam-tanaman. Berkembanglah tumbuh-tumbuhan itu dengan berbagai ragam warna, rasa, bau, bentuk dan manfaatnya.

Untuk itu Allah Ta’ala berfirman: وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ (Dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah), yaitu indah dipandang dan harum baunya. Adapun yang sama-sama kita pahami, bahwa tumbuhan yang indah dan baunya harum ini salah satunya adalah bunga.

Rasulullah s.a.w bersabda:

“Tidak seorang muslim pun yang menanam tanaman atau menaburkan benih, kemudian dimakan oleh burung atau manusia, melainkan dia itu baginya merupakan sedekah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dan sabdanya pula yang artinya sebagai berikut:

“Tidak seorang muslim pun yang menanam tanaman, kecuali apa yang dimakan merupakan sedekah baginya, dan apa yang dicuri juga merupakan sedekah baginya dan tidak juga dikurangi oleh seseorang melainkan dia itu merupakan sedekah baginya sampai hari kiamat.” (Riwayat Muslim)

Penegasan hadis tersebut, bahwa pahalanya akan terus berlangsung selama tanaman atau benih yang ditaburkan itu dimakan atau dimanfaatkan, sekalipun yang menanam dan yang menaburkannya itu telah meninggal dunia; dan sekalipun tanaman-tanaman itu telah pindah ke tangan orang lain.

Para ulama berpendapat: “Dalam keleluasaan kemurahan Allah, bahwa Ia memberi pahala sesudah seseorang itu meninggal dunia sebagaimana waktu dia masih hidup, yaitu berlaku pada enam golongan: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, anak saleh yang mau mendoakan orang tuanya, tanaman, biji yang ditaburkan dan binatang (kendaraan) yang disediakan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh.” Bunga termasuk tanaman, meskipun tidak bisa dimakan, namun dinikmati dengan cara yang lain, yaitu melalui pandangan.

Menanam bunga bisa bernilai ibadah dengan syarat:

1. Luruskan niat.
Bahwa kita menanam bunga untuk mendapatkan keridhoan dari Allah Ta’ala, bukan untuk pujian apalagi untuk disombongkan. Sebab keindahan mempunyai dua sisi, kesenangan atau kesombongan. Hadits yang sering dijadikan dalil tentang keindahan adalah,

إن الله جميل يحب الجمال
“Allah Maha Indah dan menyukai keindahan” (HR. Muslim)

Sababul wurud-nya hadits ini berkenaan dengan kesombongan, sehingga baik Muslim maupun al-Tirmidzy memasukkan hadis tersebut dalam bab pembahasan tentang al-kibr (Muslim memasukkannya dalam bagian Iman sementara al-Tirmidhy memasukkannya dalam bagian al-Birr wa al-Shilah).

Ada baiknya kita mencermati pendapat Al-Qadi ‘Iyad yang memberikan pemaknaan bahwa kata الجمال yang terdapat dalam hadis ini dan semakna dengan الحسن (kebaikan), dan kata الجميل dengan الحسن من كل شيئ (kebaikan dalam segala hal).

Dari hadits di atas dapat diambil faidah bahwa menggunakan pakaian yang bagus dan indah, memperindah fisik dan lingkungan selama tidak disertai dengan kekaguman pada diri sendiri (‘ujub) dan kesombongan baik secara lahiriyah maupun batiniyyah, maka hal tersebut tidak tergolong dalam kategori al-kibr (mengingkari kebenaran dan merendahkan manusia)

Maka penting untuk memperbaiki niat sebelum menanam bunga-bunga ini, jangan sampai menjadi hal yang sia-sia, apalagi jika sampai menjadi penyebab dosa dan kemurkaan Allah, Na’udzu billah. Niatkan untuk memperindah lingkungan, menyenangkan hati yang memandangnya, sebagai sarana bersedekah kepada saudara, dan niat-niat baik lainnya.

2. Tidak berlebih-lebihan
Menanam atau mengoleksi bunga jangan sampai berlebihan. Dalam hal biaya dan waktu. Terkadang ada yang keranjingan atau kecanduan mengumpulkan bunga sehingga rela mendatangkan bunga dari luar daerah atau bahkan luar negeri, dengan biaya mahal.

Padahal, dengan biaya sebesar itu, jauh lebih bermanfaat jika kita sumbangkan untuk para pengungsi, atau pembangunan masjid, atau menyantuni fakir miskin dan yatim piatu.

Ada juga yang berlebihan dari segi waktu, akibat merawat bunga lalu menghabiskan sebagian besar waktunya, padahal mungkin jauh lebih bermanfaat kalau dipakai untuk mengaji, belajar, mendidik anak, mengurus rumah dan lain sebagainya. Menanam bunga dan merawatnya menjadi kesia-siaan jika berlebihan.

Dalam al-Qur’an, Allah dengan jelas menyebutkan:

وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ
“Dan janganlah kamu berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf 31, al-An’am 141)

Dari Ibnu Mas’ud ra, bahwa Nabi saw bersabda: “Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan”, tiga kali Rasulullah menyebutkan hadits ini, baik sebagai berita tentang kehancuran mereka ataupun sebagai do’a untuk kehancuran mereka. (Diriwayatkan oleh Muslim hadits nomor 2670).

Orang-orang yang berlebih-lebihan ini, seperti dikatakan oleh Imam Nawawi, ialah orang-orang yang ucapan dan perbuatan mereka terlalu dalam dan melampaui batas. (Syarhun Nawawi ‘ala Muslim, 5/525, terbitan Asy-Sa’b, Kairo).

Berkata Ibnu Jureij dari `Atho` bin Abi Rabaah : “Mereka dilarang dari sikap berlebih-lebihan dalam segala sesuatu”.

Tanamlah bunga sesuai fungsinya, untuk menghias rumah dan memperindah taman, jangan bablas jadi pameran bunga-bungaan atau kolektor bunga-bunga langka dengan harga selangit.

3. Tidak Memaksakan Diri
Himbauan untuk menanam bunga dari Kampus Hidayatullah Gunung Tembak ini sifatnya anjuran, bukan kewajiban yang jika ditinggalkan berdosa. Jadi, jangan memaksakan diri untuk pengadaan bunga sampai-sampai harus mengutang. Sesuaikan dengan keadaan keuangan.

Menanam bunga adalah kebutuhan tersier, jadi dahulukan kebutuhan yang sifatnya primer. Jangan sampai uang belanja bulanan dihabiskan untuk beli bunga, sementara beras di rumah habis. So, be wise, mak!

4. Memupuk Jiwa Seni
Dengan menanam bunga, secara tidak langsung memupuk jiwa seni para ummahat. Kesadaran mengenai keindahan adalah satu faktor yang amat penting dalam Islam. Sebab dalam jiwa setiap manusia memiliki keinginan dan rasa suka akan keindahan, inilah yang kemudian disebut seni.

Ajaran Islam berkaitan erat dengan unsur-unsur seni yaitu hakikat, keuletan, kesucian, dan kejujuran, yang mana semua ini menjadi karakter seorang muslim.

Al-Farabi menjelaskan bahwa seni sebagai ciptaan yang berbentuk keindahan. Imam Al-Ghazali pula menjelaskan seni dengan maksud kerja yang berkaitan dengan rasa jiwa manusia yang sesuai dengan fitrahnya.

Kerja dalam hal ini adalah menanam dan merawat bunga, yang berkaitan dengan nilai estetika atau kecintaan wanita terhadap keindahan.

Yang harus digarisbawahi adalah, bahwasanya konsep kesenian menurut perspektif Islam ialah membimbing manusia ke arah konsep tauhid dan pengabdian diri kepada Allah Ta’ala.

Fungsi seni kurang lebih sama dengan akal, yakni agar manusia menyadari keterkaitan antara alam dan pencipta-Nya, sehingga dengan seni tersebut ia menyadari keagungan Allah dan keunikan ciptaan-Nya.

Sampai disini, kira-kira jelas yaa..

Terakhir, saya ingin mengutip salah satu quote favorit saya;

“Minds are like flowers. If you let it sit there without soaking anything up, it will dry up.” —Ken Hill– (Pikiran seperti bunga. Jika kamu membiarkannya duduk di sana tanpa membasahi apa-apa, itu akan mengering).

Ummahat yang dirahmati Allah, jadikan kegiatan menanam bunga kita sesuatu yang lebih dari sekedar hobi atau kesenangan pribadi, atau jangan sampai hanya keterpaksaan karena himbauan dari lembaga, apalagi jika dijadikan ajang gaya-gayaan dan pamer. Tetapi, menanamlah dengan ilmu, sehingga kita dan tanaman sama-sama tumbuh dengan cerdas, menjadi indah luar dalam. Happy flowering!

_______
*) EMA NAHDHAH, penulis adalah seorang mahasiswi yang lahir di Kampus Hidayatullah Gunung Tembak.

Bupati Aceh Tengah Bangga Hidayatullah Bogor Lahirkan Hafidz Qur’an

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) – Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar, mengaku bangga dengan kiprah Rumah Qur’an Umar bin Khattab Pondok Pesantren Hidayatullah Bojong Hilir, Bogor, Jawa Barat, yang telah berhasil menelurkan hafidz-hafidzah.

Wisuda para hafidz-hafidzah ini digelar pada hari Ahad lalu dengan dirangkai acara tabligh akbar yang diisi oleh ulama kondang KH Abdul Shomad, MA.

Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar, pada kesempatan tersebut mewisuda 17 putra putri asal Aceh Tengah. Kehadiran Bupati Aceh Tengah bersama Kadis Syari’at Islam, Drs Alam Suhada; Kepala Baitul Mal Aceh Tengah, Drs Ridwan Qari; Asisten 2, Amir Hamzah; dan Kakemenag Aceh Tengah Amrun Saleh.

Kehadiran para tokoh dari Aceh Tengah ini atas undangan dari Pimpinan Pesantren Hidayatullah Bojong Hilir Bogor, Ustadz Hanafi.

“Semoga Pesantren Hidayatullah semakin maju dan istiqomah dalam mendidik anak anak bangsa agar menjadi generasi beriman, bertakwah dan bermanfaat untuk agama nusa dan bangsa,” katanya di sela acara.

Sementara itu, Kadis Syari’at Islam, Drs Alam Suhada mengatakan rasa syukurnya karena sejumlah santri dari wilayah Aceh berhasil menyelesaikan hafalan Al Qur’an mereka dengan baik.

“Alhamdulillah, ada 17 santri asal Takengon dan 8 oarang dari Bener Meriah yang diwisuda,” kata Alam Suhada.

Menurut Alam Suhada wisuda ini tergolong intimewa, pasalnya dua generasi Takengon mampu menghafal hanya dalam waktu sekitar 3 bulan. Mereka adalah Sarwan Gayo menghafal 30 juz Al-Qur’an selama 3 bulan 20 hari dan Yustika menghafal Qur’an selama 3 bulan 15 hari.

Selain dihadiri oleh para pejabat asal Aceh Tengah, kegiatan ini juga dihadiri oleh Mursyid; Ketua IKAT Aceh, H M Fadhil Rahmi dan kepala daerah di mana santri berasal.

Setelah acara wisuda 50 santri dari seluruh Indonesia, kegiatan ini dilanjutkan dengan ceramah keagamaan oleh da’i kondang, Ustadz Abdus Somad, Lc MA dan disiarkan langsung oleh TV One pada acara Damai Indonesiaku. (zr/hio)

Rumah Quran UBK Hidayatullah Bogor Gelar Tabligh Akbar

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) – Yayasan Rumah Qur’an Umar bin Khattab (UBK) Kampus Hidayatullah Bojong Hilir, Kota Bogor, menggelar acara wisuda santri hafidz & hafidzah dan sekaligus tabligh akbar yang menghadirkan ulama kondang KH Abdul Somad,MA, Ahad (15/10/2018).

Berikut ini rekaman videonya, selamat menyaksikan:

[youtube width=”100%” height=”300″ src=”GUYkyByLhtc”][/youtube]

Hidayatullah Mamuju Terus Majukan SDI Berstandar PIBT

0

MAMUJU (Hidayatullah.or.id) – Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Mamuju, Sulawesi Barat, berkomitmen untuk terus memajukan dan mengembangkan Sekolah Dasar Integral (SDI) Al Furqon yang dikelola saat ini agar berstandar nasional Pendidikan Islam Berbasis Tauhid (PIBT) dengan akreditasi dari Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Dewan Pimpinan Pusat Hidayatullah.

Dalam rangka upaya tersebut, Sekolah Dasar Integral Al-Furqan Hidayatullah Mamuju memberanikan diri untuk melakukan visitasi standarisasi Pendidikan Islam Berbasis Tauhid bersama asesor dari Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah Dewan Pimpinan Pusat Hidayatullah.

Mereka menghadirkan Asesor dari Dikdasmen DPP Hidayatullah yakni Drs. Aep Saepuddin dan Adi Purwanto, M.Pd.

Dalam sambutannya, Asesor menyatakan salut kepada pengelola sekolah SD Integral Al-Furqan yang mau mendahului kegiatan pendidikan dengan segala kekurangan yang dimiliki namun yakin akan perubahan dan membuktikannya dengan kerja keras.

Sadar akan kekurangan itulah kemudian ketua Yayasan Pendidikan Cerdas Mandiri, Herman DJ, S.Sos.I bersama kepala SD Integral Al-Furqan Abdul Majid, S.S. S.Pd.I berinisiatif untuk segera melakukan visitasi sekolah tersebut.

Herman menjelaskan, “Kami melakukan (visitasi sekolah) ini bukan karena ingin mendapatkan pengakuan dan predikat membanggakan, tapi karena ingin berjalan sesuai dengan pola dan sistem pendidikan yang ada di Dikdasmen”.

Meski secara administratif SD Integral Al-Furqan sudah mendapatkan Akreditasi B dari Dinas Pendidikan Kota Mamuju tiga tahun lalu, namun pengurus ingin terus melakukan perbaikan manajemen dan menguatkan kapasitas dalam peningkatan mutu pelayanan terhadap peserta didik.

Drs. Aep Saepuddin salah seorang asesor juga menyentil hal senada dengan ketua yayasan dan kepala sekolah sebelumnya.

“Saya tidak pernah mengatakan itu sebagai kekurangan justeru itulah yang menjadi kebanggakan kita karena telah melakukan kebaikan di saat yang lain belum berani karena terhantui dengan kelemahan,” kata Aep.

Menurut Aep, keberanian membuka sekolah adalah upaya memaksimalkan fungsi tugas sebagai khalifah yang harus berorientasi manfaat.
“Tunjukkanlah kalau kita ini punya ilmu dan dibutuhkan oleh orang lain untuk bisa menyelesaikan persoalan dan itu harus dibangun di atas keimanan dan sistem yang benar, makanya itu perlunya visitasi ini untuk menyegarkan niat,” katanya.

Acara yang dilaksanakan pada Sabtu, 13 Oktober ini akan dilanjutkan dengan Upgrading Guru Hidayatullah se-Sulawesi Barat keesokan harinya di tempat yang sama.

Juga aktif dalam tim asesor Adi Purwanto, M.Pd. memberikan materi dalam upgrading tersebut dan sebelumnya banyak memberikan masukan terkait proses pendidikan di SD Integral Al-Furqan.

“Pertama hanya ingin memastikan apakah sudah mendekati sistem selanjutnya kita benahi bersama dan kami siap melakukan konseling ke semua sekolah kita,” terangnya.

Memastikan proses pendidikan di sekolah tersebut apakah sesuai dengan standarisasi Pendidikan Berbasis Tauhid, tim asesor bersama tenaga kependidikan dan pengurus mengevaluasi setiap aplikasi sistem yang selama digunakan.*/Muhammad Bashori

Keluarga Besar SD Luqman Al Hakim Surabaya Donasi 42.039.000 untuk Gempa Sulteng

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) – Ibarat tubuh, jika satu anggota tubuh sakit maka seluruh tubuh akan merasakannya. Itulah makna sesungguhnya persaudaraan.

Penderitaan yang menimpa saudara kita, hakekatnya adalah penderitaan kita juga. Begitu pula musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Palu Sulawesi Tengah, peristiwa ini adalah musibah kita semua.

Islam mengajarkan umatnya untuk menterjemahkan persaudaraan dalam hidup keseharian. Agar ikut merasakan penderitaan saudaranya dan memberikan bantuan untuk meringankan bebannya.

Hal inilah yang melatarbelakangi keluarga SD Integral Luqman Al Hakim Kampus Hidayatullah Surabaya menggelar penggalangan dana bantuan bertema #prayforpalu.

Kegiatan ini dilakukan selama satu pekan oleh siswa-siswi SD Luqman Al Hakim Surabaya. Dan puncaknya pada kegiatan parenting Komite Sekolah pada Sabtu, 06 Oktober 2018.

Alhamdulillah, total jumlah donasi yang terkumpul dari keluarga besar SD Luqman Al Hakim Surabaya sebesar Rp 42.039.000,00. Donasi ini disalurkan melalui Tim Aksi Siaga Kemanusiaan (TASK) Hidayatullah.

TASK Hidayatullah sejak hari pertama pasca gempa dan tsunami di Palu telah terjun di lokasi bencana. TASK Hidayatullah terdiri dari beberapa unit penanganan bencana diantaranya SAR Nasional Hidayatullah, Islamic Medical Service (IMS) Hidayatullah, Baitul Maal Hidayatullah (BMH), dan beberapa unit lainnya.

Kegiatan ini merupakan wujud nyata kepedulian keluarga besar SD Luqman Al Hakim Surabaya, baik guru, karyawan, dan orang tua wali murid kepada saudara kita di Palu Sulawesi tengah dan sekitarnya.

Kepala sekolah SD Luqman Al Hakim Surabaya, Ust. Adi Purwanto, M.Pd menjelaskan bahwa kegiatan penggalangan dana ini merupakan bentuk kepedulian kepada korban bencana di Sulawesi Tengah.

“Kegiatan yang sangat mulia, bertujuan untuk membantu sesama yang tertimpa musibah. Dan juga menanamkan rasa empati siswa kepada saudara kita yang membutuhkan uluran tangan”, tegas beliau.

Melalui kegiatan kemanusiaan ini, diharapkan mampu membangkitkan semangat dan kesadaran akan pentingnya persaudaraan dan tolong-menolong antar sesama manusia.*/Integral.sch.id

Dewan Pertimbangan MUI Ungkap Lima Ancaman Bangsa

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) mengungkap lima ancaman yang saat ini sedang dihadapi Indonesia. Hal ini mengemuka dalam Rapat Pleno ke-31 Wantim MUI belum lama ini. Rapat tersebut dipimpin Ketua Wantum MUI Prof Dr Din Syamsuddin.

Rapat Pleno Bulanan Wantim MUI yang turut dihadiri Ketua DPP Hidayatullah yang juga anggota Wantim MUI KH Nashirul Haq, membacakan lima hal yang disebut dapat mengganggu dan menjadi ancaman bangsa. Ancaman pertama adalah terkait ideologi yang saat ini berkembang mulai radikalisme hingga komunisme.

“Diantara Ideologi-ideologi berbahaya tersebut adalah komunisme yang anti-Tuhan dan agama yang belakangan ini mengemuka secara leluasa dalam kehidupan bangsa,” kata Sekretaris Wantim MUI Prof Noor Achmad yang membacakan naskah keputusan pleno tersebut di Gedung MUI Pusat, Jakarta.

Guru Besar Universitas Wahid Hasyim Semarang ini menambahkan, ancaman nomor dua yaitu sikap pembiaran maupun pengabaian bahaya ideologi-ideologi tersebut.

Sikap permisif seperti ini, tuturnya, kerap ditunjukkan sebagian masyarakat serta anggota legislatif maupun eksekutif. “Adanya sikap pembiaran dan pengabaian terhadap isme-isme di atas baik yang ditampilkan warga masyarakat maupun oleh penyelenggara negara baik legislatif maupun eksekutif,” katanya.

Ancaman lainnya, lanjutnya, berupa nilai-nilai Pancasila hanya berhenti pada lisan, tidak mencakup perbuatan. Tidak ada tindakan untuk menjalankan nilai Pancasila secara menyeluruh dan simultan.

“Adanya deviasi, distorsi, dan disorientasi kehidupan nasional dari nilai-nilai dasar Pancasila dan UUD 1945. Sebab Pancasila hanya diucapkan namun tidak di implementasikan, ” lanjutnya.

Keempat, kata dia, ancaman pada eksistensi bangsa. Ancaman ini, tutur anggota DPR ini, juga merupakan ancaman eksistensi umat Islam. Untuk itu umat Islam diminta mengawal dan menjaga eksistensi bangsa ini.

Menurut dia, ancaman keempat ini tidak hanya ancaman bagi umat Islam tetapi juga ancaman bagi bangsa Indonesia. “Kepada umat lslam diserukan untuk menunjukkan tanggungjawab dalam mengawal dan menghadapi ancaman terhadap bangsa,” ucapnya.

Terakhir, imbuh dia, adalah ancaman persatuan dan kesatuan. Butuh persatuan dan kesatuan yang mengedepankan ukhuwah Islamiah, menahan diri, sehingga tidak menyebarkan kebencian. Terlebih lagi saat ini sudah memasuki musim pemilu.

“Jadikan pemilu sebagai sarana beradab untuk mengatasi ketidakadaban. Maka pilpres jangan terjebak kepada ketidakadaban,” kata dia.(ybh/hio)

Menata Kampus Hidayatullah Palu Usai Diterjang Tsunami

0

PALU (Hidayatullah.or.id) – Berjarak sekira 100 meter dari garis pantai teluk Palu, Pesantren Hidayatullah juga merasakan gempa dan tsunami pada tanggal 28 September bulan lalu.

Sudah dua pekan terjadi namun masih menyisakan trauma bagi kebanyakan penghuni Donggala, Palu dan kabupaten Sigi.

Sepanjang jalan-jalan di tiga tempat tersebut warga belum berani tinggal di rumahnya, sebagian menempati tenda-tenda pengungsian dan sebagian lain memilih kembali ke kampung halamannya.

Begitu juga para santri semuanya dijemput orangtuanya lalu diajak mengungsi ke tempat yang mereka anggap aman.

Lain lagi bagi 12 kepala keluarga penghuni Pondok Pesantren Hidayatullah Palu. Mereka tidak meninggalkan pondok, malah kampus dijadikan sebagai posko utama dalam aksi evakuasi dan distribusi bantuan korban bencana.

Di sisi bagian barat kampus Hidayatullah Palu atau posisi yang lebih dekat dengan pantai semua rumah warga berbahan kayu sehingga tersisa 4 bangunan adapun lainnya luluh lantak dihantam tsunami setelah gempa berskala 7.7 Skala Richter.

Kondisi rumah Ustadz Ahmad Arsyad, salaj satu pembina santri, tidak rubuh seluruhnya, bangunan yang sempat ditabrak perahu milik nelayan dan hancur setelah menghantam isi rumah.

“Alhamdulillah bangunan masjid, sekolah, kantor dan guest house utuh tidak terdampak bencana,” kata Dedi salah satu warga pondok.

Dedi menambahkan, tidak terdapat korban jiwa. Selain rumah warga yang hancur di bangunan masjid hanya terdapat retakan pada keramik lantainya.

Memasuki pekan kedua ini terlihat mulai ada upaya merapikan dan menata kembali kondisi kampus.

Pembagian tim evakuasi serta distribusi bantuan sebagian tim juga difokuskan untuk pembenahan pondok.

“Terima kasih untuk semua teman-teman yang membantu kami” ungkap Abdurrahman warga pondok yang haru atas kedatangan relawan dari berbagai daerah untuk tanggap darurat paska bencana Donggala dan Palu.*/Muhammad Bashori

Tingkatkan Mutu Relawan, SAR Hidayatullah Gelar Diklat MFR

MALANG (Hidayatullah) – Hidayatullah sebagai organisasi massa dituntut untuk selalu ambil bagian dalam setiap permasalahan umat dan termasuk selalu sigap dalam aksi kemanusiaan.

Untuk kapasitas tersebut dalam rangka meningkatkan kualitas dan mutu relawan, melalui badan/lembaga pendukung SAR Hidayatullah mengadakan Diklat lanjutan bersama tentang Medical First Responder (MFR) and Ambulance Crew yang berkolaborasi dengan Laznas BMH dan Islamic Medical Services (IMS),

“Diklat Lanjutan Medical First Responder (MFR) And Ambulance Crew ini diharapkan akan memberikan standar pemahaman yang memadai sebelum memberikan pertolongan kepada korban di lapangan nantinya,” kata Kepala Divisi Diklat SAR Hidayatullah Pusat, Irwan Harun.

Dalam kesempatan yang sama Instruktur SAR Hidayatullah Pusat, Krisdiansyah, yang juga trainer nasional MFR, mengatakan jangan sampai, niat baik kita untuk menolong korban, ternyata malah membuat korban tambah cedera dan lebih para lagi.

“Jangan sampai korban malah mendapat cacat atas ketidaktahuan kita dalam standar menolong korban terutama pada pertolongan pertama,” kata trainer yang karib disapa Bang Kris ini.

Lebih jauh, Bang Kris yang jug apemilik enam sertifikat tingkat nasional bidang kebencanaan ini menggugah para peserta diklat untuk terus fokus selama pelatihan yang berlangsung selama empat hari ini dengan seksama.

Sebab, kata dia, selain sudah meninggalkan keluarga, mengorbankan waktu dan dana sekalian, dan lebih penting kalian merupakan utusan yang mewakili lembaga masing-masing, ujarnya mewanti-wanti peserta pelatihan.

Sementara itu Amil Prodaya Laznas BMH Jawa Timur, Ruwiyanto, menambahkan program diklat lanjutan MFR and Ambulance Crew ini sebagai bekal amil BMH, khususnya yang sehari-hari berjibaku dengan ambulance.

“Semoga setelah pelatihan ini, maintenance ambulance jauh lebih baik dalam melayani umat,” harap Ruwiyanto.

Diklat MFR And Ambulance Crew ini dibuka oleh Kepala Divisi Diklat SAR Hidayatullah Pusat, Muhammad Irwan Harun dan akan berlangsung selama empat hari yang dimulai Senin dan berakhir pada hari Kamis, (8-11/10/18) yang berlangsung di Pusdiklat Hidayatullah, Kota Batu, Malang, Jawa Timur.

Arif Lukmanul Hakim, salah satu peserta pelatihan dari Pulau Kalimantan, tepatnya Kota Samarinda, ini merasa dengan mengikuti pelatihan MFR ini mampu memberikan wawasan baru yang lebih aplilakatif karena pelatihan ini melibatkan sisi praktek peserta lebih banyak selama pelatihan berlangsung.

Pelatihan ini diikuti 39 peserta dari seluruh Indonesia dan diisi oleh enam struktur yang ekspert dibidangnya masing-masing.*/Muhammad Yusran Yauma