Beranda blog Halaman 564

Teladan Empat Madzhab dalam Toleransi Perbedaan Pendapat

0

ULAMA empat madzhab adalah para figur ulama yang mengedepankan kesatuan pendapat, dan tidak egois dengan pendapatnya.

Meski memiliki pandapat sendiri dalam madzhab, namun masing-masing madzhab selalu melihat pendapat madzhab lain. Dan melakukan upaya agar untuk menghilangkan perbedaan, yang biasa disebut muru`atul khilaf, dimana masing-masing madzhab bersepakat bahwa keluar dari ranah khilaf merupakan perkara yang mustahab.

Demikian, beberapa contoh, upaya masing-masing madzhab untuk meminimalisir perbedaan dengan madzhab lain di beberapa masalah.

Madzhab Hanafi

Membaca surat Al Fatihah dalam madzhab Hanafi bukanlah bagian dari rukun yang harus dikerjakan, namun ulama madzhab Hanafi memotivasi agar pengikutnya membaca surat Al Fatihah saat shalat jenazah.

Tertulis dalam kitab fiqih Al Hanafi, Maraqi Al Falah, ”… dan boleh membaca Al Fatihah dengan tujuan memberikan pujian, demikian hal ini telah dinashkan bagi madzhab kita, dan di Al Bukhari dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, bahwa ia menshalatkan janazah lalu membaca Al Fatihah dan berkata, “Agar mereka mengetahui bahwa hal itu sunnah” Dan hadits itu dishahihkan oleh At Tirmidzi. Dan para imam kita berkata bahwa memperhatikan perkara khilaf mustahab, sedangkan hal itu (membaca Al Fatihah) fardhu menurut Asy Syafi’I Rahimahullah Ta’ala, maka tidak mengapa membacanya dengan tujuan membaca Al Qur`an untuk keluar dari khilaf.” (Maraqi Al Falah, hal. 227)

Dalam madzhab Hanafi tidak diwajibkan wudhu bagi siapa yang mengusung jenazah. Namun Imam Ahmad berpendapat wajib berwudhu bagi siapa yang telah mengusung jenazah, maka dalam hal ini Ath Thahthawi berkata, ”Maka disunnahkan wudhu, untuk keluar dari khilaf, juga untuk mengamalkan hadits.” (Hasyiyah ATh Thahthawi, 1/55)

Madzhab Maliki

Bagi madzhab Maliki, membaca basmalah sebelum Al Fatihah adalah perkara yang mubah, dan shalatnya sah, sedangkan bagi madzhab Asy Syafi’i, tidak sah shalat jika tidak membacanya, karena itu bagian dari Al Fatihah.

An Nafrawi pun berkata, ”Yang disepakati lebih baik daripada yang tidak disepakati, telah berkata Imam Al Qarrafi (Maliki), dan Ibnu Rusyd (Maliki) dan Al Ghazali bahwa bagian dari kehati-hatian keluar dari khilaf dengan membaca basmalah dalam shalat.” (Al Fawaqih Ad Dawani, hal. 409)

Madzhab Syafi’i

Dalam madzhab Syafi’i tidak diperlukan niat bagi siapa yang memandikan jenazah. Namun, mustahab untuk meniatkannya, dalam rangka keluar dari khilaf, dikarenakan Imam Malik mewajibkan niat bagi yang memandikan jenazah. (lihat, Tuhfah Al Habib, 2/516)

Meski dalam madzhab Asy Syafi’i dinyatakan sah shalat sendiri di belakang shaf, namun disunnahkan menarik seseorang dari shaf depan untuk shalat bersamanya di belakang. Hal itu dikarenakan Imam Ahmad menilai bahwa shalat sendirian di belakang shaf tidak sah (lihat Hasyiyah Al Bujairimi, 1/322)

Dalam madzhab Asy Syafi’i i’tikaf sah dilakukan di masjid meski bukan masjid jami’, namun Imam Asy Syriazi berkata, ”Dan lebih utama beri’tikaf di masjid jami’, karena Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah beri’tikaf kecuali di masjid jami’, juga karena di masjid jami’ lebih banyak jama’ah shalatnya, juga dalam rangka keluar dari khilaf, dimana Az Zuhri menyatakan tidak boleh i’tikaf kecuali di masjid jami’.” (Al Majmu’, 6/504)

Meskipun dalam madzab Asy Syafi’i sah melakukan i’tikaf kurang dari satu hari, namun Imam Asy Syafi’i berkata, ”Lebih utama, ia tidak kurang dari satu hari, karena tidak pernah dinukil dari Rasulullah Shallallahu Alihi Wasallam dan para sahabatnya bahwasannya mereka beri’tikaf kurang dari satu hari dan dalam rangka keluar dari khilaf Abu Hanifah dan lainnya yang mensyarakan i’tikaf satu hari atau lebih.” (Al Majmu’, 6/513)

Madzhab Hanbali

Takbir dalam shalat jenazah diriwayatkan dari Imam Ahmad beberapa riwayat, yang menunjukkan jumlah takbir lebih dari empat takbir, namun Ibnu Qudamah mengatakan, ”Lebih utama tidak lebih dari empat, karena hal itu keluar dari khilaf, dan mayoritas ahlul ilmi berpendapat bahwa takbir empat kali.” Diantara ulama yang berpendapat takbir empat kali adalah Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy Syafi’i (Asy Syarh Al Kabir, 2/352).

Apa yang disebutkan hanya merupakan beberapa contoh dari upaya keluar dari khilaf, dan masih ada ratusan masalah lainnya, yang tertulis dalam kitab-kitab fiqih empat madzhab.

Tentu hal ini menjadi bukti bahwa madzhab empat, meski berbeda pendapat namun tetap toleransi terhadap madzhab lain. Jika demikian, klaim bahwa adanya madzhab merupakan sumber perpecahan juga tidak benar. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam. (Thoriq)

Menerapkan Pancasila dalam Kehidupan Berorganisasi

0

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) – Anggota Dewan Muzakarah Hidayatullah Anshar Amiruddin mengatakan organisasi massa Islam Hidayatullah pada prinsipnya menjalankan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berorganisasi.

“Secara subtantif Hidayatullah sangat Pancasilais,” katanya pada acara silaturrahim konsolidasi ideologi, organisasi dan wawasan Hidayatullah di Samarinda, Kamis (26/10/17).

Anshar menjelaskan, terdapat beberapa entitas dalam tubuh Majelis Syura Hidayatullah yakni Pimpinan Umum, Dewan Penasehat Pimpinan Umum (DPPU), Dewan Muzakarah dan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah (DPP).

Kesemua entitas ini, jelas dia, berkumpul dalam suatu majelis yang dinamakan Majelis Syura untuk membahas suatu permasalahan dengan jalan musyawarah untuk mencapai mufakat.

Hal ini menurut Anshar sebagaimana yang diamanatkan dalam Pancasila, sehingga keputusan yang diambil dapat dipertanggung secara moral kepada Tuhan yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

“Dalam menetapkan suatu keputusan, Hidayatullah menempuh jalan istikharah dan istisyarah,” terang Anshar pada acara yang dihadiri puluhan Pengurus DPW dan DPD Hidayatullah Se-Kalimantan Timur ini.

Pada kesempatan itu Anshar menjelaskan juga fungsi Dewan Muzakarah. “Dewan Mudzakarah adalah mitra kerja DPP dalam menyusun konsep-konsep aplikatif,” terangnya.

Hal utama yang disosialisasikan pada kegiatan tersebut adalah tiga Surat Keputusasan Majelis Syura Hidayatullah Nomor 1 Tahun 2014 tentang Kehidupan Bernegara, SK Nomor 2 Tahun 2014 tentang Pandangan Hidayatullah tentang Demokrasi dan SK Nomor 3 Tahun 2014 tentang Kedudukan Khilafah.

Beliau menjelaskan, dalam kehidupan bernegara Hidayatullah memandang Indonesia sebagaimana dalam perspektif fuqaha adalah al-dar al-murakkabah sehingga tidak dapat disikapi sebagai dar al-kufr apalagi dar al-harb.

“Hidayatullah menjadikan Indonesia sebagai dar al-da’wah wa al-tarbiyah, sehingga Hidayatullah secara kelembagaan mensyukuri dan memanfaatkan segala potensi positif dengan sebaik-baiknya untuk mencapai visi membangun peradaban Islam,” katanya.

Mengenai demokrasi, lanjut beliau, Hidayatullah memandang Syura sebagai prinsip utama pengambilan keputusan dalam sistem kepemimpinan Islam serta memandang falsafah hukum Islam yang bertumpu pada kedaulatan syariat (siyadatu as-syar’i) berbeda dengan falsafah demokrasi yang bertumpu pada kedaulatan rakyat (syiadatu as-sya’bi).

“Atas dasar itu pula Hidayatullah berupaya menerapkan sistem syura dalam kepemimpinan dan proses pengambilan keputusan,” imbuhnya.

Selain itu, terangnya, Hidayatullah memandang bahwa kemerdekaan Indonesia wajib disyukuri dan diisi demi tampilnya Islam rahmatan lil ‘alamin. Serta, sejalan dengan itu memanfaatkan sistem demokrasi di Indonesia untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin sebagai mayoritas.

Terkait kedudukan Khilafah, Hidayatullah menegaskan diri sebagai jamaatun minal muslimin yang dalam pratiknya berusaha menerapkan sistem imamah menurut ahlussunnah wal jamaah ‘ala minhajin nubuwah.

Sehingga, lanjutnya, Hidayatullah memandang pihak lain yang berusaha membangun peradaban Islam secara benar sebagai sahabat. Selain itu Hidayatullah juga menganut prinsip moderat (Washatiyah) dan menolak sikap berlebihan (ghuluw) dalam beragama, termasuk takfir.

“Hidayatullah juga dengan tegas menolak setiap klaim khilafah secara sepihak tanpa melibatkan syura kaum muslimin yang diwakili ahlul halli wal ‘aqdi,” imbuhnya.

Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Timur, Muhammad Tang Supu, mengatakan bahwa kegiatan seperti ini sudah sering diadakan dan akan terus digalakkan oleh Hidayatullah dalam berbagai momen kelembagaan.

“Sudah sering diadakan, dan memang harus terus di sosialisasikan sehingga ummat dan yang utama kader Hidayatullah memahami wawasan seperti ini,” ucap Tang.

Selain sosialisasi Dewan Muzakarah yang dalam hal ini diwakili Anshar Amiruddin juga memberikan kesempatan kepada para peserta untuk memberikan usul dan saran serta laporan guna menyerap informasi sebanyak-banyaknya bagi kepentingan Hidayatullah ke depan.*/Shabirin Ibnu Hambali

معهد هداية الله يجري أسلمة المئات من قبائل وانا في شمال موروالي

0

حوالي 100 شخص من قبيلة وانا في شمال موروالي ، وسط سولاويسي ، تعهدوا بعقدين من العقيدة في قرية فاتو ماراندو ، مدينة شمال موروالي ، وسط سولاويسي ، يوم السبت (11/25/2017).

أقيم البرنامج في قاعة فاتوماراندو هاملت واستمر با لإستحمام في نهر بونغكا الذي كان يسترشد به فريق من جماعة الدعاة الإندونيسية (Posdai) ، وهي مؤسسة خاصة تتعامل مع الدعوة وتنمية موارد الدعاة.

هذا النشاط رحب به السيد نيودي ، وهو شخصية كبيرة ، وكان أول شخص دخل في الإسلام من هذه القرية.

هو مثَّل المجتمع المحلي لتقديم الشكر على المساعدة التي قدمها لهم ، بما في ذلك في موكب سكان قبيلة وانا لاعتناق الإسلام.

“نحن ممتنون جدا لتنفيذ هذا النشاط. “لا نعتقد أن أي شخص يريد أن يهتم بنا” ، قال له ، الثلاثاء 28 نوفمبر ، 2017.

وقد رحب المجتمع المحلي بهذا النشاط. كما شوهدت روح قبيلة وانا عندما خرجوا من الغابة واحداً تلو الآخر وهم يحملون أطفالهم لكي يحضروا الحدث.

ثم تم توزيع المتحولين الملابس المسلمة لمساعدة مختلف الأطراف في هذا النشاط. بعد أن تم التعهد في قاعة القرية ، تم توجيه المتحولين على الفور إلى نهر بونغكا للاستحمام.

على النهر ، تم تعليمهم وممارسة الوضوء قبل عملية الاستحمام الكبيرة. ساعد هذا الموكب عدد من المتطوعين. بعد ذلك توجهوا إلى المسجد لمزيد من التكوين الإسلامي.

وأوضح رئيس شعبة التمكين لشعب الإندونيسيا المركزي ، التي شرعت في النشاط التبشيري ، ساماني هارجو ، أن العرض تم بناء على طلب مجتمع القرية. وأكد أنه ليس بسبب الإكراه.

بعد الشهادة ، وفقا لساماني ، ورؤية الظروف المعيشية لقبيلة وانا في القرية ، لا يزال هناك الكثير من الأشياء التي تحتاج إلى معالجة من قبل مختلف الأطراف خارجها. كما تم دعم هذا الحدث من قبل فريق الخدمات الطبية الإسلامية (IMS) من جاكرتا.

# محمد إرشاد العباد

Halaqah Ibnu Mas’ud Infak 5 Juta untuk Gedung Dakwah

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Halaqah “Ibnu Mas’ud” Hidayatullah Depok menyalurkan infak anggotanya berupa uang tunai sebesar Rp.5.000.000 untuk mendukung pembangunan gedung Pusat Dakwah Hidayatullah yang berlokasi di Jln Cipinang Cempedak I/14 Polonia Otista Jakarta Timur.

Halaqah Ibnu Mas’ud adalah salah satu kelompok pengajian rutin harian jamaah Hidayatullah Depok beranggotakan sedikitnya 10 orang yang kegiatannya umumnya dilakukan selepas shalat shubuh atau Asar.

Melalui swadaya anggotanya, halaqah Ibnu Mas’ud berinisiatif menyalurkan dana yang telah terkumpul yang dihimpun selama beberapa bulan tersebut untuk mendukung pembangunan gedung Pusat Dakwah Hidayatullah.

Dukungan kelompok halaqah Ibnu Mas’ud meskipun dengan jumlah ala-kadarnya diharapkan turut memberi kontribusi positif terhadap agenda proyek pembangunan gedung Pusat Dakwah Hidayatullah guna menunjang langkah dakwah Islam.

“Nilainya tak seberapa mudah-mudahan berkah. Semoga ke depan bisa bertambah nilai infaknya. Insya Allah bertambah juga pahalanya buat anggota halaqah Ibnu Mas’ud, Aamiin,” kata Bendahara Halaqah Ibnu Mas’ud Abdurrahman Hakim.

Menunjang Dakwah

Dalam salah satu taushiahnya Pimpinan Umum Hidayatullah Ust Abdurrahman Muhammad menyebutkan pentingnya tradisi infak untuk menunjang gerakan dakwah.

Beliau mengatakan, segenap kader Hidayatullah di mana saja berada harus senantiasa berkomitmen membangun peradaban mulia. Peradaban mulia yakni kehidupan Islami yang di dalamnya terbangun solidaritas, berkasih sayang, saling mengasihi, konsisten di jalan dakwah, dan bervisi membangun umat dan bangsa.

Hal itu disampaikannya kala memberi taushiah di hadapan ratusan jamaah dalam acara Halal bi Halal di Masjid Ummul Quro Pesantren Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat, Ahad (25/08/2013).

Dalam pada itu, terang beliau, tegaknya peradaban mulia tersebut harus dimulai dari unsur utama penggeraknya yaitu tercerahkan manusia.

“Manusia yang berperadaban itu adalah manusia yang tercerahkan dengan nilai spirit Ilahiyah. Jadi kalau tidak beradab berarti belum tercerahkan,” kata beliau.

Beliau melanjutkan, tegaknya kehidupan yang mulia mengharuskan adanya perangkat-perangkat pendukung utama yakni adanya wilayah yang dimana di sana terdapat masjid sebagai pusat peradaban dan pembinaan umat, perpustakaan sebagai pusat ilmu, dan koperasi sebagai pusat perekonomian umat dengan prinsip Ta’awun.

“Termasuk mendesaknya dibangun Gedung Dakwah Hidayatullah. Keluarkan infaq terbaik kita untuk (pembangunan gedung, red) ini. Kultur berinfaq ini mesti dijaga,” pesannya. (ybh/hio)

Kader Hidayatullah Merespon Masalah dengan Dewasa

0

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) – Pergolakan akhir-akhir ini di berbagai belahan tempat yang terekspos dengan sangat massif bagi organisasi mesti semakin mendewasakan cara bersikap.

“Isu-isu besar keummatan inilah yang harus segera respon Hidayatullah sebagai ormas Islam berbasis kader. Kader-kader yang tersebar luas ini, harus mampu segera memberikan respon secara dewasa dengan bersikap dengan benar, tidak bias, dan tegas,” kata Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah Ust Suharsono saat menyampaikan taushiah dalam acara silaturrahim kader Hidayatullah di Semarang, Ahad (22/10/2017).

Berangkat dari hal diatas, Dewan Mudzakarah (DM) Hidayatullah sebagai majelis yang salah satu tugas dan fungsinya memberi pengarahan dan pencerahan kepada pengurus dan kader Hidayatullah ini menginisiasi program “Pencerahan, Sosialisasi & Serap Aspirasi Kader”.

“Program ini dimaksudkan agar kader-kader memiliki pemahaman yang setara atau minimal sevisi dengan gerakan yang dibangun dan terus diperjuangkan sampai kemenangan Islam ini menjadi nyata,” urai Suharsono

Kata beliau, kini saatnya para kader-kader melakukan reorientasi pemikiran dan Kkehidayatullahan. Kalau tidak, lanjut beliau, Hidayatullah khususnya di Jateng ini tidak akan tersebar cepat.

“Determinasi langkah percepatan mesti segera diambil, caranya bagaimana,” tanya beliau kepada para kader yang memenuhi Aula Al Burhan Hidayatullah Kota Semarang ini penuh selidik.

“Sebab, satu langkah yang dibuat perintis lebih baik dan berkesan, daripada 1000 langkah yang diteruskan pelanjut. Disitulah nilai sebuah perjuangan,” ujarnya memotivasi.

Suharsono mengumbuhkan, kapitalisasi isu pergerakan harus terus didengung-dengungkan dan disebarluaskan hingga akhirnya mampu mengkristal dalam setiap diri kader akan hakikat bergabung di Hidayatullah.

Dia menjelaskan, Hidayatullah generasi awal yang serba terbatas baik dari kualitas sumber daya insani serta sumber daya dukung umat, mampu menjelma menjadi ‘daya tarik’ tersendiri yang luar biasa. Hal itu harus menjadi cemeti bagi kader berikutnya.

Menurutnnya, ada 2 hal yang menjadi catatannya selama berkecimpung di Hidayatullah. Pertama, adalah pertumbuhan ekonomi umat yang baik ditandai dengan banyaknya fasilitas yang diamanahkan kepada Hidayatullah. Namun hal itu menurutnya belum mampu diimbangi dengan kesiapan menggenjot peningkatan rohani yang jauh lebih tinggi.

Kedua, terangnya, adalah determinasi dan akselerasi ‘ghirah’ perjuangan kader dalam kesiapan mengambil resiko-resiko yang menantang kurang dihadirkan.

“Semestinya, dengan pertumbuhan ekonomi kader semakin baik, langkah perjuangan semakin kencang. Faktanya, akselerasi di Hidayatullah tidak segencar di awal-awal. Ini harus segera kita retas. Caranya, tugaskan saja kader-kader muda ini di tempat-tempat yang belum ada Hidayatullah. Biarkan dia merintis, paling-paling kalau pun gagal, naik angkot balik lagi ke sini,” seloroh beliau.

“Berani mencoba, kalau pun gagal masih mending, ketimbang tidak sama sekali dicoba.” terang beliau.

Lebih lanjut, beliau berharap, determinasi dan akselerasi ghirah dalam berjuang kader ini akan selalu dihadapkan dengan tantangan-tantangan besar. Semakin hidup ghirah perjuangan, maka semakin dinamis langkah taktis mengelola ormas ini.

“Kita butuh langkah-langkah kongkrit yang ‘shorcut’ dalam menjawab segala tantangan besar dalam perjuangan ini,” imbuhnya.

“Seorang ideolog, adalah seorang yang selalu bersikap, berbicara dan beraksi nyata dalam sudut pandang holistik yang berbeda. Sudut pandang berbeda inilah yang mampu menempatkan orisinalitas seorang ideolog. Karena dengan ‘original’nya inilah seorang ideolog mampu mengubah peradaban,” pungkas beliau.

Acara ini diikuti seluruh kader Hidayatullah Jawa Tengah bagian Utara. Kegiatan ini dikemas dalam nuansa Mabit yang dimulai sejak Jum’at dan berakhir pada Sabtu (20-21/10).

Selain acara pencerahan, Bidang Ekonomi PW Hidayatullah Jateng juga menghadirkan Pakar Minimarket Syariah, Muhammad Ali, dari Surabaya dalam format talkshow ‘Bisnis Retail’.

Panitia acara Ust. Syaiful Anwar mengharapkan talkshow kewirausahaan ini mampu membuka wawasan tentang kemandirian umat.

“Semoga setelah talkshow ini mampu memberikan langkah nyata untuk dapat menghadirkan minimarket-minimarket syariah yang pada waktunya nanti mampi berdiri dikaki sendiri dalam memperjuangkan kemandirian umat.” tutup beliau.

Ketua DPW Hidayatullah Jateng Ust. Ahmad Suharno menyampaikan apresiasi dan terima kasih narasumber serta seluruh kader yang sudah meluangkan waktunya untuk hadir mengikuti serangkaian kegiatan Pencerahan, Sosialisasi dan Menyerap Aspirasi Kader tersebut.*/ Yusran Yauma

 

Tim Asesor DPP Hidayatullah Visitasi Dikdasmen ke Kaltim

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) – Dalam rangka meningkat mutu pendidikan, Tim Asesor Depertemen Pendidikan Dasar dan Menengah DPP Hidayatullah melakukan visitasi ke sekolah-sekolah binaannya.

Kali ini yang menjadi tujuan visitasi adalah SD, MTs dan SMK milik Kampus Utama Hidayatullah yang ada di Kalimantan Timur. Kali ini dilakukan di Kampus Hidayatullah Samarinda yang berlangsung pada Ahad (22/10/17).

Menurut Ketua Tim Asesor, Zainal Muttaqin, ada enam item yang akan di visitasi. Keenam item ini merupakan standar yang telah ditetapkan Depdikdasmen DPP Hidayatullah diantaranya; Standar Administrasi, Standar Proses, Standar Kurikulum Diniyah, Standar Pandu Hidayatullah, dan Standar Keilmuan (sains) dan Bahasa.

“Jadi kita lebih (melihat) pada “rasa” sebagai Sekolah Hidayatullah, plus apakah “rasa” itu ada bukti fisiknya berupa dokumentasinya,” ungkap Zainal membedakan visitasi yang dilakukannya dengan visitasi yang dilaksanakan pihak pemerintah.

Pada kesempatan itu Zainal memberikan apresiasi terhadap Pandu Hidayatullah di Samarinda.

“Kami menangkap ruhnya, bahwa ruhnya pendidikan (Hidayatullah) Samarinda itu luar biasa. Sekarang Pandu Hidayatullah kiblatnya ke Samarinda,” ujarnya di hadapan puluhan guru dan tenaga kependidikan.

Mewakili Ketua Yayasan Pesantren Hidayatullah Samarinda, Muhammad Arfan dalam sambutannya menyampaikan bahwa Visi Pendidikan Hidayatullah secara global adalah melahirkan generasi Abdullah dan Khalifatullah.

“Turunan dari visi global ini adalah visi membangun pradaban Islam, sehingga kegiatan pendidikan hendaknya juga bertujuan membangun pradaban islam” kata Arfan.

Arfan menjelaskan bahwa kegiatan pendidikan di Hidayatullah Samarinda ini telah menjadi pilot project pendidikan Hidayatullah se-Kalimantan Timur.

“Hidayatullah Samarinda saat ini telah menjadi pilot project pendidikan Hidayatullah se-Kalimantan Timur, kecuali Gunung Tembak, sebab dia adalah Kampus induk yang tentu standarnya lebih tinggi daripada kampus utama,” terang Arfan memungkasi.*/Shabirin Ibnu Hambali

 

Ponpes Hidayatullah Depok Gelar Peringatan Hari Santri Nasional 2017

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) – Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok menggelar upacara peringatan Hari Santri Nasional Tahun 2017 yang digelar di Lapangan Utama Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Depok. Kegiatan ini diikuti oleh murid SD, SMP, SMA, dan mahasiswa STIE Hidayatullah. Kami hanya memuat cuplikan-cuplikan acara karena keterbatasan ruang. Selamat menikmati.:

[youtube width=”100%” height=”300″ src=”VmubITefMi0?rel=0&autoplay=1″][/youtube]

Kapolda Kaltim Peletakan Batu Pertama Pesantren Qur’an Hidayatullah Kenyamukan

0

KUTAI TIMUR (Hidayatullah.or.id) – Kepala Polisi Daerah Kalimantan Timur (Kapolda) Irjen. Pol. Drs. Safaruddin, SH, melakukan peletakan batu pertama pembangunan Yayasan Pondok Pesantren Tahfizul Quran Hidayatullah Kenyamukan, Kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur pada Sabtu (21/10/17).

Pewakaf tanah sekaligus Pembina Yayasan Pesantren Hidayatullah Sangatta, KH Jamaluddin Ibrahim mengatakan lokasi yang dijadikan lahan pembangunan pesantren ini adalah wakaf dari ayahnya.

“Menjelang wafat ayah saya berwasiat agar membangun pesantren di atas tanah 180×250 meter ini. Namun dalam perjalanannya ada pihak yang mengganggu lancarnya pembangunan yang dicita-citakan,” kata Ustadz Jamal, demikian dia akrab disapa.

Menanggapi penuturan Ust Jamal, Kapolda Kaltim, Irjen. Pol. Drs. Safaruddin, S.H. menjamin pembangunan tersebut tidak akan diganggu oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Sudahlah. Jalan terus pembangunan ini, kalau ada yang mengganggu itu urusan saya,” kata orang nomor satu di kepolisian Kaltim tersebut dihadapan hadirin.

Safaruddin menjelaskan bahwa pendirian pesantren sangat penting dilakukan, sebab Allah tidak akan menurunkan azab-Nya selama masih ada orang yang berzikir.

Selain itu, tegas Kapolda, dia juga mengatakan bahwa harta kita yang sesungguhnya adalah apa yang telah diberikan di jalan Allah.

“Dalam Hadits ada tiga yang akan menyelamatkan kita di akhirat, ilmu yang bermanfaat, amal jariah dan doa dari anak yang sholeh dan sholehah,” lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kapolda meminta agar pembangunan masjid dan pesantren tidak berhenti sampai di peletakan batu pertama saja. Tapi terus berlanjut hingga selesai dan dipergunakan oleh masyarakat.

“Pesantren adalah milik ummat untuk menyampaikan dakwah. Tempat para generasi muda di Kutim menuntut ilmu agama. Begitu juga masjid yang akan dibangun di kawasan yang sama, akan menjadi tempat kegiatan keagamaan masyarakat sekitar. Kalau ada orang yang suka mengganggu, itu urusan saya. Karena saya yang meletakkan batu pertama menandai pembangunan tempat ibadah ini,” kata Safaruddin.

Maklum, sebelumnya, lahan di lokasi tersebut kerap diganggu orang untuk diklaim sebagai milik mereka. Yayasan Hidayatullah pun tak mau tinggal diam.

Turut hadir dalam acara yang merupakan simbol dimulainya pembangunan ini, Bupati Kutai Timur H Ismunandar, Ketua DPRD Kutai Timur Mahyunadi, Ketua DPW Hidayatullah Kaltim Muhammad Tang Supu, Ketua DPD Hidayatullah Sangatta Jafruddin, tokoh masyarakat Haji Hamsah serta tokoh dan alim ulama setempat.

Dalam sambutannya, Bupati Kutai Timur Ismunandar menyatakan mendukung apa yang dilakukan Pesantren Hidayatullah ini.

“Membangun masjid dan pesantren merupakab hal yang sangat bagus bagi generasi mendatang. Kami siap membantu proses pembangunan,” kata Bupati Ismunandar.

“Ini lokasi yang sangat strategis, tidak terlalu jauh dari pusat keramaian Kecamatan Sangatta Utara, dan mudah dijangkau. Jadi hadirnya masjid dan pesantren bisa menghidupkan suasana keagamaan di kawasan Kenyamukan,” ujar Ismunandar.

Selain itu, menurut Ismunandar, hadirnya pesantren tahfiz quran juga bisa menjadi wadah para generasi muda Kutim mendalami ilmu Al Quran. Sehingga muncul tahfiz – tahfiz muda asal Kutai Timur yang akan mengharumkan nama Kutim ke tingkat nasional maupun internasional.

“Pemerintah sangat mendukung pembangunan yang dilakukan Yayasan Hidayatullah. Lanjutkan saja pembangunan yang telah direncanakan,” ujar Ismunandar.*/Shabirin Ibnu Hambali

Ulama Perlakukan Benda Mati Seperti Makhluk Hidup

0

Syeikh Ali Al Khawwas menyatakan,”Termasuk syarat berakhlak dengan kasih sayang adalah memperlakukan benda-benda mati seperti makhluk hidup.”

Dengan demikian, Syeikh Ali Al Khawwas selalu meletakkan gerabah air pelan-pelan, sebagaimana ia memperlakukan makhluk hidup.

Selain itu, guru dari Imam Asy Sya’rani ini selalu memenuhi bejana minum anjing-anjing di kampungnya, dimana ia berkata: “Mereka makhluk-makhluk malang, tidak mampu mememenuhi air minum mereka sendiri dari sumur. Sedangkan ketika mereka haus, manusia pun menghalangi mereka masuk rumah dan masuk ke kandang ternak untuk minum air dari minuman ternak, karena takut terkena najis. (Lawaqih Al Anwar Al Qudsiyyah, hal. 401)

Dengan Ukhuwah Tingkatkan Peran Membangun Papua Barat

0

MANOKWARI (Hidayatullah.or.id) – Dewan Pengurus Wilayah Hidayatullah Papua Barat menggelar acara silaturrahim dengan Dewan Muzakarah Hidayatullah yang digelar di Aula Kampus Hidayatullah Manokwari, Jalan Trikora Arfai II Kelurahan Anday, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Rabu (18/10/2017).

Kegiatan silaturrahim yang mengusung tema “Mengokohkan Ukhuwah dan Komitmen Membangun Peradaban Islam” tersebut sekaligus dalam rangka menyerap spirit yang dibawakan oleh anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah, Drs H Nursyamsa Hadits.

Diantara benang merah taushiah yang dibawakan dalam kesempatan tersebut, Ust Nursyamsa Hadits menekankan pentingnya menjaga tradisi Islam yang selama ini diusung oleh Hidayatullah. Tradisi tersebut seperti kultur jamaah dan dakwah keteladanan yang seiring dengan itu terus mengokohkan setiap pribadi dai dengan kekuatan spiritual.

Mengokohkan ukhuwah, tegas beliau, merupakan teladan yang sama pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, lalu praktik mulia ini dilanjutkan oleh para sahabatnya dan orang-orang shaleh hingga kini.

Menurutnya, menjaga persaudaraan sesama muslim (ukhuwah Islamiyah) tentu penting, namun sejalan dengan itu persaudaraan sesama manusia (ukhuwah insaniyah) pun tak boleh diabaikan sebab Nabi pun telah memperagakan dengan indah betapa tinggi dan mulia akhlak beliau kepada sesama manusia.

Bahkan, lanjut dia, tak sedikit orang yang tak suka lalu masuk Islam tersebab melihat perilaku mulia yang diperagakan oleh Nabi Muhammad hingga beliau dijuluki Al Amiin (terpercaya). Karena itu, tegasnya, visi kehadiran Hidayatullah adalah dalam rangka menegakkan peradaban atau menegakkan akhlak Islam yang luhur.

Ust Nursyamsa berharap Hidayatullah secara institusi maupun pribadi setiap kader-kadernya terus meningkatkan peran bersama dengan elemen masyarkat lainnya dalam rangka membangun dan memajukan Provinsi Papua Barat melalui program mainstream Hidayatullah yakni dakwah dan tarbiyah.

Kunjungan DM tersebut sekaligus untuk menjalankan amanat organisasi yakni melakukan fungsi murabbi, menyerap aspirasi kader, mempertajam visi misi Hidayatullah serta memastikan apa yang diputuskan saat Munas 2016 berjalan dengan baik.

Ketua DPW Hidayatullah Papua Barat Muhammad Sulthan mengapresiasi kegiatan seperti ini. Pihaknya berharap setidaknya kedepannya tidak saja dilakukan sekali setahun tetapi harapannya beberapa kali.

“Agar kami yang di daerah bisa terus bekerja sesuai dengan target yang telah diamanahkan kepada kami,” kata Sulthan.

Senada itu, murabbi Wilayah Hidayatullah Papua Barat Ust Sudirman Ambal mengatakan silaturrahim ini diharapkan bisa menjadi stimulan dan penyemangat teman-teman di daerah.

“Karena kehadiran bapak-bapak pengurus pusat memberikan sesuatu yang spesial, apalagi ditambah dengan penyampaian dan penguatan visi misi Hidayatullah,” kata Sudirman.

Salah seorang peserta Ust. Asdar yang juga Ketua DPD Hidayatullah Kabupaten Kaimana mengatakan bahwa kegiatan seperti ini sangat bagus karena ada sesi curah pandangan yang langsung diserap oleh semua peserta.

“Acara ini bagus sebab petugas atau dai-dai yang bertugas bisa langsung menyampaikan permasalahan-permasalah yang ada di daerah dan diharapkan bisa dibantu memecahkan masalah-masalah yang ada,” tukas Asdar.

Acara ini dihadiri oleh segenap Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah se-Papua Barat seperti DPD Manokwari, DPD Fakfak, DP Kaimana, DPD Kota Sorong Selatan, DPD Kabupaten Sorong, DPD Kota Sorong, DPD Kaimana dan DPD Raja Ampat.*/Miftahuddin