Beranda blog Halaman 61

Pemimpin Umum Hidayatullah: Pemimpin Adalah Penanggung Jawab Kemanusiaan dan Alam

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam suasana bangsa yang tengah menatap cita-cita Indonesia Emas 2045, isu kepemimpinan menjadi tema yang terus mengemuka. Di tengah arus globalisasi dan tantangan moral, nilai-nilai spiritual dan keadaban sering kali terpinggirkan.

Dalam kerangka dinamka itu, Pemimpin Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, mengingatkan kembali hakikat kepemimpinan dari perspektif Islam yang bersifat ilahiyah dan ruhaniyah.

“Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah amanah ilahiyah dan rohaniyah, warisan kenabian dan kerasulan,” ujar KH Abdurrahman dalam taujih Subuh di arena Musyawarah Nasional ke-6 Hidayatullah di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa, 29 Rabi’ul Akhir 1447 (21/10/2025).

Ia menegaskan bahwa kepemimpinan sejati bukan sekadar urusan organisasi atau kekuasaan duniawi, tetapi tanggung jawab spiritual yang menuntut keikhlasan dan pengabdian kepada Allah.

“Pemimpin adalah penanggung jawab bagi kemanusiaan dan alam semesta,” lanjutnya menegaskan.

Dalam taujihnya, KH Abdurrahman mengajak para kader Hidayatullah untuk memahami keindahan ayat-ayat Allah, baik yang bersifat kauniyah (fenomena alam) maupun qauliyah (wahyu). Ia mencontohkan, sebagaimana Rasulullah SAW memperdalam dzikir di malam hari sebagai bentuk penghayatan terhadap kebesaran Ilahi.

“Sesungguhnya puncak dari spiritual adalah cinta,” cetusnya.

“Zikir yang menunjukkan penghambaan sejati kepada Allah adalah mengujinya dengan ‘Alhamdulillah’. Begitu pula puncak moral adalah cinta, cinta yang melahirkan kesatuan hati dan keteguhan dalam jihad menuju Allah,” paparnya melanjutkan.

Menurut KH Abdurrahman, perlombaan menuju puncak spiritual dan moral adalah jalan para pemimpin sejati. Mereka harus meneladani para nabi yang memimpin dengan cinta, kesabaran, dan keikhlasan.

“Semoga kita menjadi orang-orang yang istiqamah dalam perlombaan menuju puncak spiritual dan puncak moral,” pesannya.

Dalam kesempatan itu, beliau juga menekankan pentingnya mujahadah dan kesabaran sebagai landasan perjalanan moral dan spiritual. Mengutip firman Allah, “Wabtaghu ilaihi al-wasilah, wajahidu fi sabilihi la’allakum tuflihun,” ia mengingatkan bahwa perjuangan mendekat kepada Allah adalah inti dari keberuntungan sejati.

Kiai Abdurrahman juga menguraikan bagaimana para nabi menjadi teladan kepemimpinan yang membimbing umat manusia dengan wahyu dan keteladanan.

“Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing roh para nabi dengan firman-firman-Nya,” ujarnya, mengutip ayat, “Wa kadzālika awḥainā ilaika rūḥan min amrinā.” Para nabi, katanya, hadir di tengah kegelapan zaman untuk membawa cahaya kebenaran.

“Ketika manusia sudah tidak mengenal Tuhannya, maka disitulah puncak kegelapan. Diperlukan hadirnya sosok pemimpin dan pencerah,” tegasnya.

Dalam penutup tausiyahnya, KH Abdurrahman menyinggung pelajaran dari pengalaman spiritual Nabi Muhammad di Gua Hira.

Perintah “Iqra’” (bacalah), menurutnya, bukan sekadar perintah intelektual, tetapi perintah peradaban untuk membaca fenomena alam, kemanusiaan, dan sejarah untuk melakukan perubahan.

“Ilmu yang dibangun dari wahyu bukanlah ilmu untuk ilmu, tapi ilmu untuk perubahan,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa setiap langkah kepemimpinan harus dimulai dengan “Bismillah”, karena hanya dengan nama Allah, seorang pemimpin mampu melihat dan menuntaskan persoalan umat dengan benar.

“Jangan menjadikan diri sebagai Tuhan,” pesannya. “Karena akal dan kekuasaan semata tidak akan mampu menyelesaikan persoalan ketuhanan dan kemanusiaan,” sambungnya menegaskan.

Menteri Agama Tekankan Dakwah di Era Post-Truth Butuh Seni dan Metodologi Khusus

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Nasional (Munas) ke-6 Hidayatullah resmi digelar sebagai ruang silaturahmi dan refleksi dakwah umat. Acara yang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, resmi dibuka oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., menilai forum tersebut mencerminkan semangat khaira ummah.

Dalam sambutannya, Menag Nasaruddin Umar menyampaikan apresiasinya terhadap dinamika Munas Hidayatullah yang dinilainya menggambarkan kematangan organisasi Islam dalam memadukan nilai keislaman dan keindonesiaan.

“Saya melihat Hidayatullah tumbuh begitu pesat dan kini mencakup hampir seluruh wilayah Indonesia dalam waktu yang relatif singkat. Ini menunjukkan semangat khaira ummah yang patut diapresiasi,” ujarnya dalam sambutannya membuka acara itu, Selasa, 29 Rabi’ul Akhir 1447 (21/10/2025).

Ia kemudian menyoroti tantangan besar dakwah di era post-truth, di mana kebenaran sering kali dipelintir oleh kepentingan politik dan persepsi sosial.

Menurutnya, jika dahulu masyarakat mudah menerima kebenaran berdasarkan ayat, hadis, dan undang-undang dengan sikap sami‘na wa atha‘na, kini ketiganya dapat direlatifkan oleh wacana publik.

“Dalam era post-truth seperti sekarang ini, kebenaran yang bersumber dari ayat, hadis, dan undang-undang ternyata bisa direlatifkan oleh politik,” tegasnya.

Menag menilai, kondisi ini menuntut para dai dan ormas Islam mengembangkan seni dalam berdakwah.

“Diperlukan bukan hanya penyampaian kebenaran itu sendiri, tapi juga metodologi yang lebih khusus lagi—diperlukan seni di dalam berdakwah,” jelas Imam Besar Masjid Istiqlal itu.

Dalam arahannya, Nasaruddin Umar juga menguraikan pentingnya membedakan antara konsep al-khair (kebajikan) dan al-ma‘ruf (prinsip kebajikan). Menurutnya, al-khair menuntut pendekatan induktif dari bawah ke atas sebagai wujud ajakan atau da‘wah yang menghargai pluralitas masyarakat.

Sedangkan al-ma‘ruf, sambungnya, menuntut pendekatan deduktif dari atas ke bawah yang menjadi landasan ketegasan prinsip dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran.

Lebih lanjut, Menag mengingatkan bahwa dakwah tidak bisa dilakukan dengan satu pendekatan seragam. Masyarakat Indonesia yang sangat majemuk menuntut strategi yang beragam, sensitif terhadap konteks sosial, budaya, dan tingkat pengetahuan umat.

“Ormas Islam perlu memahami secara mikro keragaman masyarakat Indonesia,” pesannya.

Pada bagian akhir pidatonya, Nasaruddin Umar menyinggung filosofi Ummah sebagai komunitas ideal yang berpijak pada cinta kasih sejati. Dari akar kata yang sama, lahir istilah seperti ummi (ibu, pencinta sejati), imam (pemimpin), dan makmum (pengikut santun)—semuanya menggambarkan keterikatan sosial yang dilandasi kasih dan kepemimpinan moral. “Komunitas yang diikat oleh kasih sayang mendalam, itulah Ummah,” ungkapnya.

Menutup arahannya, ia berpesan agar Hidayatullah terus meneguhkan jati dirinya sebagai pembawa petunjuk bagi umat. “Jadilah Irsyadul Ibad, jadilah Hidayatullah, dan jadilah pemimpin umat,” pungkas Menag.

Pembukaan Munas ke-6 Hidayatullah ditandai dengan pemukulan gong oleh Menteri Agama, disusul penyerahan plakat penghargaan dari Ketua Umum DPP Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, M.A., sebagai simbol persaudaraan dan komitmen bersama dalam menegakkan dakwah berkeadaban.

BMH dan Nano Bank Syariah Perkuat Peran Perempuan dalam Pembangunan Indonesia Emas

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam arus perubahan zaman yang cepat, peran perempuan dan ibu semakin strategis dalam menjaga keseimbangan moral dan sosial bangsa. Hal ini menjadi sorotan penting dalam Kajian Akbar bertema “Membangun Keluarga Berkah, Melahirkan Generasi Emas yang Amanah” yang diselenggarakan Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) di Aula Serbaguna 2 Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, pada Selasa, 29 Rabi’ul Akhir 1447 (21/10/2025), sebagai bagian dari rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) ke-6 Hidayatullah.

Kegiatan ini menjadi ruang reflektif bagi umat, khususnya kaum ibu dan perempuan, untuk meneguhkan kembali perannya sebagai pendidik utama generasi dan penjaga nilai keindonesiaan.

Ratusan jamaah dari berbagai daerah hadir, membawa semangat kebersamaan untuk memperkuat pondasi keluarga yang berkeadaban.

Muballigh nasional, Ustadz Munawir Ngacir, dalam ceramahnya menegaskan bahwa perempuan adalah pilar utama dalam membangun bangsa yang bermoral.

“Di balik setiap generasi yang kuat, selalu ada ibu yang sabar dan berjiwa besar. Dari tangan merekalah lahir insan-insan yang membawa cahaya bagi masyarakat,” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa pembangunan bangsa tidak dapat dilepaskan dari kekuatan moral yang tumbuh di rumah tangga. Menurutnya, seorang ibu bukan hanya pengasuh anak, tetapi juga pendidik akhlak dan penjaga nilai.

Keluarga yang harmonis dan berlandaskan iman, lanjutnya, akan melahirkan generasi amanah yang berjiwa nasionalis dan berkeadilan sosial.

Kisah inspiratif yang menggugah dalam acara ini datang dari Kayla Nur Syahwa Syakhila, seorang hafidzah muda, dan ibundanya. Mereka berbagi pengalaman menghafal Al-Qur’an di tengah keterbatasan ekonomi dan waktu. Dengan suara bergetar, sang ibu menuturkan perjuangan mereka.

“Kami hanya berpegang pada keyakinan bahwa Allah menolong siapa yang berusaha dengan sungguh-sungguh,” ujarnya haru.

Kisah tersebut menjadi cermin keikhlasan dan keteguhan seorang ibu dalam membimbing anaknya menapaki jalan kebaikan. Nilai spiritual yang tercermin dari perjuangan mereka sejalan dengan karakter bangsa Indonesia: religius, tangguh, dan penuh kasih.

Di tengah kemajuan teknologi, kisah seperti ini mengingatkan pentingnya peran ibu dalam menanamkan nilai moral dan cinta Tanah Air sejak dini.

Tak kalah menarik, akademisi dan pendiri Ausomethink, Maharani Dian Permanasari, S.Ds., M.Ds., M.Phil., Ph.D., turut berbagi pengalaman mendidik anak dengan kebutuhan khusus. Baginya, peran ibu adalah wujud nyata kasih Tuhan dalam kehidupan manusia.

“Seorang ibu adalah jantung keluarga. Ia tidak hanya memberi kehidupan secara biologis, tetapi juga spiritual,” ujarnya penuh makna.

Maharani menilai bahwa perempuan Indonesia memiliki kekuatan luar biasa untuk menjadi agen perubahan sosial. Dengan ketulusan dan kecerdasannya, perempuan mampu berkontribusi di berbagai bidang tanpa kehilangan nilai keibuan.

“Keluarga yang berdaya akan melahirkan masyarakat yang beradab. Dan perempuan adalah penentu arah peradaban itu sendiri,” tambahnya.

Kegiatan ini mendapat dukungan Nano Bank Syariah yang bersinergi bersama BMH untuk memperluas jangkauan dakwah dan pemberdayaan perempuan.

Kolaborasi ini menegaskan bahwa peran perempuan bukan hanya urusan domestik, melainkan bagian integral dari pembangunan bangsa.

Sinergi antara lembaga sosial, pendidikan, dan ekonomi syariah diharapkan dapat memperkuat peran keluarga dalam mempersiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.

Humas Laznas BMH Imam Nawawi menegaskan bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam visi dakwah lembaganya.

“Kami berkomitmen memperkuat peran ibu dan perempuan sebagai pendidik umat. Karena dari rahim merekalah lahir generasi yang membawa keberkahan bagi bangsa,” ungkapnya.

Kajian Akbar ini, terangnya, menjadi ruang penghormatan terhadap perempuan Indonesia sebagai penjaga moral dan penggerak kebangkitan bangsa.

“Dengan semangat Munas ke-6 Hidayatullah, kegiatan ini meneguhkan kembali bahwa keluarga berkah tidak hanya lahir dari cinta, tetapi juga dari kesungguhan perempuan dalam menjaga nilai keislaman dan keindonesiaan,” tandasnya.

Hidayatullah Dorong Penguatan Ekosistem Halal Lewat Dakwah dan Tarbiyah

0
Foto: Bilal Tadzkir/ Hidayatullah.or.id

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Komitmen untuk memperkuat ekosistem halal di Indonesia kian menjadi perhatian penting dalam membangun peradaban ekonomi yang berkeadaban. Di tengah dinamika gaya hidup modern dan arus globalisasi konsumsi, kesadaran umat Islam untuk memastikan kehalalan produk yang dikonsumsi dan digunakan menjadi bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual bangsa yang mayoritas Muslim.

Ketua Bidang Perekonomian Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Wahyu Rahman, menegaskan bahwa penguatan ekosistem halal tidak dapat dipisahkan dari proses edukasi berkelanjutan di tengah masyarakat.

“Kita harus terus melakukan edukasi di tengah umat Islam agar apa yang dikonsumsi, digunakan, dan dipakai benar-benar halal. Dari sanalah keberkahan hidup diharapkan hadir,” ujarnya dalam sambutan Seminar Nasional bertajuk “Pemuda Penggerak Ekosistem Halal dan Penjaga Persatuan Bangsa” di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Senin, 28 Rabi’ul Akhir 1447 (20/10/2025).

Seminar ini juga menjadi rangkaian pendahuluan bagi Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah yang akan dibuka esoknya.

Wahyu menyampaikan bahwa kesadaran halal bukan sekadar persoalan administratif atau legal-formal, tetapi menyangkut pembentukan karakter dan gaya hidup masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai syariat.

Ia menilai pentingnya peran dakwah ekonomi dalam menggerakkan kesadaran ini agar umat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga pelaku ekonomi yang memproduksi, mengelola, dan menyalurkan produk halal secara profesional.

Dalam kesempatan itu, Wahyu turut mengapresiasi kiprah Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah yang telah menunjukkan kemajuan pesat dalam waktu singkat.

“Meski baru berdiri sekitar tiga hingga empat tahun, LPH Hidayatullah berhasil menempati posisi empat besar nasional,” ungkapnya.

Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan komitmen tinggi dan profesionalisme auditor halal yang telah berkontribusi besar terhadap penerbitan ribuan sertifikat halal di Indonesia.

Ia menegaskan, gerakan halal yang dikembangkan Hidayatullah merupakan bagian integral dari dua arus utama organisasi tersebut, yakni tarbiyah dan dakwah.

Foto: Bilal Tadzkir/ Hidayatullah.or.id

“Gerakan halal sejalan dengan mainstream Hidayatullah yakni Tarbiyah dan Dakwah,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa dakwah tidak hanya berlangsung di mimbar, tetapi juga dalam praktik ekonomi dan gaya hidup sehari-hari.

Wahyu berharap semangat ini terus dikembangkan terutama di kalangan pemuda, agar mereka menjadi motor penggerak industri halal sekaligus penjaga nilai-nilai keislaman yang menyatukan bangsa.

Kolaborasi lintas lembaga, menurutnya, menjadi kunci keberhasilan untuk memastikan produk halal tidak hanya menjadi identitas keagamaan, tetapi juga menjadi standar kualitas dan etika kehidupan ekonomi nasional.

Dengan mengedepankan edukasi, pembiasaan, dan profesionalisme, terang Wahyu, Hidayatullah berupaya menjadikan gerakan halal sebagai bagian dari upaya membangun keberkahan ekonomi umat serta memperkuat fondasi moral bangsa.

Pemuda sebagai Penggerak Ekosistem Halal dan Penjaga Persatuan Bangsa

0
Foto: Bilal Tadzkir/ Hidayatullah.or.id

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka memperkuat peran lintas generasi dalam pengembangan ekosistem halal dan menjaga persatuan bangsa, Pemuda Hidayatullah bekerja sama dengan LPH Hidayatullah menyelenggarakan Seminar Halal Nasional dengan tema “Pemuda Penggerak Ekosistem Halal dan Penjaga Persatuan Bangsa”.

Acara yang digelar di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, pada Senin, 28 Rabi’ul Akhir 1447 (20/10/2025), mengundang 3 narasumber utama, yaitu Ketua Badan Penyelenggara  Jaminan Produk Halal (BPJPH) Ahmad Haikal Hasan, Anggota Komisi VIII DPR RI Erwin Aksa, dan Ketua LPH Hidayatullah Muhammad Faisal.

Seminar ini juga menjadi rangkaian pendahuluan bagi Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah yang akan dibuka esoknya.

Menurut Adam Sukiman, selaku Ketua Panitia, seminar ini tidak sekadar menjadi forum edukasi tentang halal, tetapi juga arena strategis untuk mengangkat peran pemuda sebagai penggerak utama dalam transformasi industri halal sekaligus penegak kerukunan dan persatuan antarpelaku usaha, komunitas dan tokoh bangsa.

“Generasi muda harus hadir bukan hanya sebagai konsumen atau pelaku ekonomi melainkan sebagai penggerak ekosistem halal yang memiliki kesadaran mendalam bahwa produk halal adalah bagian dari tanggung jawab sosial dan ke­bangsaan,” kata Adam dalam keterangannya.

Adam menjelaskan, peran penting tersebut setidaknya memiliki beberapa alasan. Pertama, dari perspektif ekonomi Islam dan industri halal, produk halal bukan hanya masalah syariat atau ritual keagamaan, melainkan juga bagian dari strategi pembangunan nasional.

“Indonesia sebagai negara dengan mayoritas Muslim memiliki peluang besar untuk menjadi hub produk halal global. Semakin kuat ekosistem halal mulai dari sertifikasi, produksi, distribusi, konsumsi hingga ekspor, maka semakin besar kontribusi pemuda dalam pengembangan ekonomi syariah dan inklusivitas sosial,” jelas Adam seraya menggarisbawahi bahwa pemuda “penggerak ekosistem halal” berarti aktif dari hulu hingga hilir.

Kedua, terangnya, dari perspektif sosial-kebangsaan, mengaitkan ekosistem halal dengan penjaga persatuan bangsa adalah langkah konseptual yang penting.

Foto: Mercyvano Ihsan/ Hidayatullah.or.id

Ekosistem halal yang inklusif, jelasnya, memerlukan kolaborasi antar-agama, antarpelaku usaha baik Muslim maupun non-Muslim, dan antarwilayah.

“Dengan menghadirkan pemuda sebagai penjaga persatuan bangsa, seminar ini menyiratkan bahwa penguatan halal tidak boleh disertai segregasi atau eksklusivitas identitas, melainkan harus menumbuhkan value kebersamaan nasional,” jelasnya.

Persatuan bangsa dalam konteks ini, terang Adam, berarti bahwa produk dan gaya hidup halal bisa menjadi jembatan sosial yang memperkuat kohesi masyarakat.

Ketiga, dari sudut kebijakan publik, pembicaraan tentang ekosistem halal memerlukan rujukan kelembagaan yang kuat. Dia menjelaskan, dalam kondisi global yang semakin terbuka dan persaingan halal antarnegara makin ketat, Indonesia perlu memperkuat lembaga seperti BPJPH dan LPH agar mampu menjamin keutuhan sertifikasi halal serta menumbuhkan kepercayaan pasar dan konsumen.

Adam Sukiman lebih lanjut menyebut bahwa pemuda yang menguasai pengetahuan halal dan memahami regulasi serta pasar global akan menjadi ujung tombak bangsa dalam meraih posisi strategis industri halal dunia.

Isu sertifikasi halal dan pengembangan ekosistem halal memang makin kerap muncul. Sebagai contoh, lembaga LPH Hidayatullah sendiri telah menyelenggarakan festival halal yang menekankan percepatan sertifikasi halal dan pemberdayaan UMKM.

“Seminar yang sekarang diadakan dapat dipandang sebagai bagian dari upaya lanjutan untuk memperkuat daya saing produk halal nasional dan memperluas partisipasi pemuda dalam agenda nasional tersebut,” imbuhnya.

Adam menekankan, dengan tema “Pemuda Penggerak Ekosistem Halal dan Penjaga Persatuan Bangsa”, seminar ini menempatkan pemuda sebagai aktor strategis yang memiliki dua pilar yaitu pengembangan ekonomi halal, dan, kedua, penguatan persatuan nasional.

“Kegiatan ini diharapkan menjadi stimulus bahwa generasi muda Indonesia semakin siap mengambil peran dalam ekosistem halal yang berkembang cepat dan dalam menjaga persatuan bangsa sebagai modal utama pembangunan nasional,” tukasnya menandaskan.

Warisan Ustadz Abdullah Said dan Tantangan Rejuvinasi Hidayatullah

0
Dr. Ir. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si

PADA Grand Design Hidayatullah yang dibuat pada 2023, dinyatakan bahwa dalam rentang waktu sepuluh tahun ke depan merupakan masa transisi yang sangat penting dan strategis, bahkan “kritis” bagi Hidayatullah.

Pandangan ini dibangun dengan asumsi bahwa para kader yang dididik langsung oleh pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said (UAS), akan berakhir perannya dalam durasi waktu ini: karena wafat, uzur syar’i, atau karena kurang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Dalam kaitan ini, sebagai seorang kader yang masih dididik langsung oleh UAS, melalui tulisan ini penulis ingin menyampaikan kesaksian dan pandangan tentang Hidayatullah, terutama terkait warisan UAS dan dinamika pemikiran serta kelembagaan sepeninggal beliau.

Alkisah, UAS meninggalkan Sulawesi menuju Balikpapan setelah memimpin pengganyangan judi Lotto di Makassar pada 1969. Menetap dan mulai berdakwah di Balikpapan, UAS merasa perlu menambah ilmu untuk bekal dakwah yang lebih baik.

Ketika itu, pengajian dan kajian-kajian Islam sudah mulai rutin dilakukan UAS di Balikpapan. Dengan berat hati, UAS pamit meninggalkan Balikpapan menuju Jakarta untuk selanjutnya belajar ke Timur Tengah.

Melalui Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), UAS dinyatakan diterima untuk belajar di Kuwait. Ia lalu mengurus berbagai kelengkapan surat administrasi untuk keberangkatan.

Namun rencana itu tiba-tiba batal karena UAS mengalami pergolakan batin setelah bertemu dengan seorang sepuh di Masjid DDII Jakarta. Sepotong kalimat yang mengguncangkan keluar dari lisan orang tua, yang ternyata tak pernah ia kenal identitasnya hingga akhir hayat.

Orang tua itu bertanya, “Apakah Al-Qur’an yang dipelajari di Kuwait berbeda dengan Al-Qur’an yang ada di Indonesia?” UAS sangat tergugah dengan kalimat tersebut.

Beberapa hari ia merenungkannya, lalu memutuskan batal berangkat ke Kuwait. Ia memilih kembali berdakwah ke Kalimantan Timur.

Sebelum ke Kaltim, UAS berangkat ke Yogyakarta. Ia ingin menemui sahabatnya dari Makassar, Ustadz Usman Palese, yang sedang kuliah di Akademi Tarjih Muhammadiyah. Di Yogya, ternyata UAS bertemu dengan beberapa mahasiswa Tarjih Muhammadiyah.

Beliau mengajak dan berusaha meyakinkan mereka untuk berdakwah serta berjuang di Kaltim. Ada empat orang mahasiswa Tarjih yang akhirnya siap berangkat ke Kaltim. Mereka adalah Ustadz Usman Palese, Ustadz Hasyim, Ustadz Hasan Ibrahim, dan Ustadz Nadzir. Bersama UAS, merekalah yang kemudian tercatat sebagai pendiri Hidayatullah, yang resmi berdiri pada 1973.

UAS adalah penggagas, pendiri, pemimpin, dan tokoh sentral Hidayatullah hingga akhir hayat beliau. Karena itu, untuk mengenal Hidayatullah maka mutlak harus memahami pemikiran UAS.

Tulisan ini mencoba memahami dan menjelaskan konsep atau pemikiran Islam UAS terkait keberadaan Hidayatullah.

Ada tiga tajdid pemikiran Islam UAS dalam mendirikan dan mengembangkan Hidayatullah: Manhaj Sistematika Wahyu, Kepemimpinan Imamah-Jama’ah, dan Harokah Islamiyah.

Selain itu, ada pula konsep dan praksis yaitu Kampus Pesantren sebagai miniatur peradaban Islam. Keempat hal inilah yang merupakan warisan konsep dan praksis dari UAS.

Sistematika Wahyu

Berdasarkan keterangan dari beberapa santri awal Hidayatullah, pada masa awal berdirinya pesantren pada 1973, manhaj Sistematika Wahyu (SW) belum dikenal.

Inspirasi lahirnya SW sebagai manhaj “ditemukan” UAS sekitar dua tahun kemudian, terutama setelah UAS membaca kitab tafsir Sinar karya Buya Abdul Malik Ahmad, mantan Ketua PP Muhammadiyah. Kitab tafsir ini disusun berdasarkan urutan surah turunnya wahyu, dimulai dari Surah Al-Alaq ayat 1–5, dan seterusnya.

Setelah menemukan manhaj SW, UAS semakin yakin dengan jalan perjuangan yang ia tempuh. Begitu yakinnya dengan manhaj SW, UAS bahkan kemudian membuat pernyataan, “Kalau bukan karena SW, Hidayatullah tidak perlu ada.”

Menurut kesaksian para santri awal, sebelum menemukan manhaj SW, UAS sangat terpesona mengkaji Al Qur’an surah Al-Jumu’ah [62] ayat 2:

هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ

“Dialah yang mengutus seorang rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Pada masa awal berdirinya pesantren, UAS sangat sering membahas dan menceramahkan ayat tersebut. Beliau sangat tertarik dengan sistematika istilah pada ayat ini.

Bagi UAS, ayat ini adalah metode pendidikan, atau cara dan tahapan untuk berislam. Tahapan pada ayat ini adalah tilawah, tazkiyah, ta’lim, dan hikmah. Yang paling beliau tekankan adalah penyebutan terma tazkiyah yang mendahului terma ta’lim.

Beliau kemudian menjadikan itu sebagai konsep atau metode pendidikan dan dibuatkan format praksis untuk training perkaderan bagi semua santri dan kader Hidayatullah.

Ketika belakangan hari UAS menemukan SW sebagai manhaj, pembahasan tentang ayat ini, terutama terkait tazkiyah, masih terus dilakukan, bahkan dianggap sangat relevan dengan manhaj SW, terutama Surah Al-Alaq.

Manhaj SW pada intinya menegaskan bahwa urutan turunnya wahyu Al-Qur’an, demikian pula turunnya secara bertahap, bukanlah hal yang kebetulan. Hal itu merupakan metode dari Allah untuk mengajarkan dan mengamalkan Al-Qur’an kepada Rasulullah dan para sahabat.

Jadi, manhaj SW pada dasarnya menyatakan bahwa kebenaran Al-Qur’an bukan hanya benar pada substansinya, tapi juga benar pada cara turunnya. Manhaj SW mengandung pelajaran yang menekankan bagaimana cara memahami, mengamalkan, dan memperjuangkan Islam.

Kepemimpinan Imamah-Jama’ah

Jatidiri kedua Hidayatullah adalah kepemimpinan yang oleh UAS disebut Imamah-Jama’ah, maksudnya berjamaah dan berimamah. Artinya, Hidayatullah adalah suatu organisasi yang menganut konsep berjamaah dan berkepemimpinan sesuai tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah.

Bagi UAS, konsep dan penerapan hidup berjamaah dan berkepemimpinan sangat erat kaitannya, bahkan tidak dapat dipisahkan dengan manhaj SW. Betapa tidak, manhaj SW pada dasarnya berusaha menirukan semua cara melaksanakan ajaran Islam pada masa Rasulullah. Salah satu konsep dan praktik ajaran Islam pada masa Rasulullah adalah menegakkan sistem kepemimpinan.

Secara khusus, UAS menyebutnya sebagai kepemimpinan dengan sistem komando. Struktur kepemimpinan sangat jelas dan tegas: taat kepada Allah, taat kepada Rasulullah, dan kepada ulil amri atau pemimpin.

Dalam pandangan UAS, model kepemimpinan ini tidak hanya diterapkan dalam kerangka konstitusional-organisatoris, tapi juga dipraktikkan dalam kehidupan keseharian. Konsep sam’an wa tha’atan harus terwujud dalam kehidupan berjamaah.

Sebagai seorang pemimpin tunggal dengan kharisma yang sangat kuat, kepemimpinan imamah-jama’ah di tangan UAS sungguh merupakan sumber energi yang sangat besar bagi eksistensi dan perkembangan Hidayatullah.

Para kader penuh semangat dan militansi, “menjual diri atau lebur total” dalam perjuangan Islam di Hidayatullah, selain karena dorongan kuat keyakinan pada ajaran Islam, juga karena pengaruh kuat kepemimpinan imamah-jama’ah di bawah UAS.

Para kader sangat mudah diatur, dikomando, atau dimutasi penugasannya ke mana pun dan kapan pun. Inilah yang menjadi kekuatan sehingga jaringan lembaga dan pesantren Hidayatullah bisa eksis di seluruh Nusantara.

Harokah Islamiyah

Hal ketiga yang menjadi prinsip dan jatidiri Hidayatullah adalah sebagai lembaga perjuangan Islam (harokah Islamiyah).

Dengan melihat latar belakang pendidikan, orientasi dakwah, dan pengalaman organisasi UAS, dapat diduga bahwa motivasi utama pendirian Hidayatullah adalah sebagai lembaga perjuangan Islam.

Setidaknya ada dua alasan yang menguatkan hal ini. Pertama, UAS tumbuh sebagai aktivis gerakan Islam di PII (Pelajar Islam Indonesia) dan Pemuda Muhammadiyah yang ketika itu sangat kental dengan perjuangan ideologi di bawah bayang-bayang perjuangan Partai Masyumi.

Di usia remaja dan pemuda, UAS hidup dalam suasana politik pertarungan ideologis yang sangat keras pada masa Orde Lama dan di awal Orde Baru.

Sepak terjang UAS terakhir dengan memimpin pengganyangan judi lotto di Makassar sebelum hijrah ke Balikpapan menunjukkan betapa besar gejolak perjuangan Islam pada diri beliau.

Kedua, Hidayatullah lahir dan eksis bukan karena adanya dorongan ajaran “identitas keagamaan” tertentu. Hal itu berbeda dengan lembaga atau ormas Islam lain yang hadir karena dorongan ajaran atau identitas yang diajarkan.

Sejak awal, Hidayatullah tidak mengalamatkan atau menegaskan diri dengan identitas ajaran ataupun mazhab tertentu sebagaimana lazimnya pendirian lembaga atau ormas Islam. Walaupun karena latar belakang UAS dan para pendiri Hidayatullah lainnya dari Muhammadiyah, maka fikih ibadah Hidayatullah sama atau mirip dengan Muhammadiyah.

Hal ini menunjukkan bahwa faktor utama yang mendorong lahirnya Hidayatullah sebagai lembaga atau ormas Islam bukanlah penegasan identitas ajaran, tetapi lebih menekankan kepada kepentingan perjuangan Islam (harokah Islamiyah).

Perjuangan Islam (harokah Islamiyah) dalam hal ini meliputi tarbiyah, dakwah, dan jihad. Tarbiyah dan taklim adalah syarat mutlak untuk berkembangnya pengetahuan dan pemahaman ajaran Islam.

Di sisi lain, Islam adalah agama dakwah. Artinya, sebagai agama yang diturunkan untuk semua manusia (kaffatan linnas) dan rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin), maka mutlak dilakukan gerakan dakwah.

Sedangkan jihad, atau bersungguh-sungguh dalam perjuangan Islam, merupakan keniscayaan untuk eksisnya tarbiyah dan dakwah. Perpaduan ketiga pilar inilah yang menjadi komitmen eksistensi Hidayatullah.

Kehadiran Hidayatullah dengan wujud utama sebagai pesantren menunjukkan betapa besarnya komitmen terhadap pendidikan atau tarbiyah untuk umat.

Namun demikian, karena Hidayatullah lahir bukan hanya untuk gerakan tarbiyah tetapi juga untuk dakwah, maka mendirikan dan mengembangkan pesantren tidak hanya fokus di tempat tertentu, melainkan dikembangkan di seluruh wilayah Nusantara.

Pengiriman kader dai militan untuk mendirikan dan mengasuh pesantren serta mengembangkan dakwah di berbagai pelosok negeri merupakan suatu ciri yang sangat menonjol dari Hidayatullah.

Militansi ini tumbuh karena sejak awal berdirinya Hidayatullah, UAS mendeklarasikan telah “menjual diri” di jalan Allah. Beliau mengambil spirit dari ayat Al-Qur’an, “Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka” (QS 9:111).

Hal itu beliau tunjukkan dengan “lebur total” dalam perjuangan Islam, di mana seluruh waktu, harta, dan jiwa telah ia wakafkan di jalan Allah. Sikap demikian kemudian juga diikuti oleh semua kader Hidayatullah didikan UAS.

Kampus Pesantren

Selain ketiga warisan pemikiran di atas, ada juga warisan UAS yang bersifat praksis. Salah satu hal mendasar dalam pemikiran UAS ialah bahwa ajaran Islam yang meliputi iman, ilmu, dan amal harus benar-benar terintegrasi. Berislam tidak boleh hanya sibuk dengan ilmu tanpa pengamalan.

Jangan sampai Islam hanya menjadi wacana dan kenikmatan intelektual, atau hanya diceramahkan tanpa peragaan. Karena itu, ketiga konsep pemikiran Islam UAS (SW, imamah-jama’ah, dan harokah Islamiyah) harus diperagakan dalam kehidupan keseharian. Wadah untuk memperagakannya adalah kampus pesantren.

Kampus pesantren merupakan miniatur peradaban Islam. Keberadaan kampus tidak hanya dimaksudkan untuk menyelenggarakan pendidikan Islam. Lebih dari itu, kampus harus memperagakan ajaran Islam dalam segala aspek kehidupan seoptimal mungkin.

Oleh karenanya, warga kampus bukan hanya terdiri atas santri dan pengasuh atau guru, tetapi juga disertai warga rumah tangga. Agar terasa sebagai suatu peradaban, kampus harus mewujud sebagai entitas masyarakat.

Itu sebabnya pada masa lalu kampus Hidayatullah kadang disebut “darul hijrah”. Bergabung ke Hidayatullah disebut hijrah. Namun, definisi tentang kampus tidak tunggal. Terkadang juga disebut markaz dakwah, dan biasa pula disebut markaz perkaderan.

Warisan Kader

Selain keempat warisan UAS di atas, sebenarnya ada satu “warisan” lagi yang sangat penting, yaitu kader. Selain sebagai warisan, kader sejatinya adalah pewaris.

UAS wafat tanpa mewariskan suatu konsep pemikiran tertulis secara utuh, misalnya tentang manhaj SW. Satu-satunya warisan pemikiran tentang manhaj SW yang utuh menjelaskan dari Al-‘Alaq sampai Al-Fatihah secara tertulis adalah transkrip ceramah UAS pada acara Training Muballigh yang diselenggarakan di PT Antam, Pomala, Kolaka.

Namun demikian, selain tulisan tersebut, ada banyak tulisan beliau dalam bentuk “serpihan pemikiran” tentang SW dengan tema tertentu.

Demikian pula dengan konsep kepemimpinan imamah-jama’ah. Tema ini cukup sering ditulis oleh UAS di Majalah Suara Hidayatullah (Sahid). Selama puluhan tahun, UAS adalah penulis tetap pada rubrik Kajian Utama, sajian paling favorit majalah Sahid.

Namun, nuansa tulisan-tulisan itu lebih menekankan pada pengamalan dan pengalaman dibandingkan pemikiran teoritis dalam kerangka keilmuan. Tidak ada tulisan secara utuh dan sistematis tentang konsep kepemimpinan imamah-jama’ah.

Begitu pula tentang harokah Islamiyah. Seperti halnya kedua jati diri di atas, tidak ada warisan tertulis yang menggambarkan secara memadai bagaimana peta jalan dan cetak biru perjuangan Hidayatullah sebagai harokah Islamiyah. Bahkan dapat dikatakan, dibandingkan dengan dua jati diri lainnya, tulisan UAS tentang konsep harokah Islamiyah jauh lebih sedikit.

Namun, satu hal yang sangat menguntungkan ialah bahwa dalam jangka waktu yang cukup lama, sejak berdirinya Hidayatullah pada 1973 hingga wafatnya UAS pada 1998, beliau sangat banyak berceramah di depan para kadernya.

Seperti telah disinggung sebelumnya, penekanan UAS dalam menghadirkan Hidayatullah bukan pada kekayaan literasi keilmuan, melainkan pada pemahaman dan pengamalan atau peragaan. Khazanah keilmuan dari ceramah-ceramah UAS yang demikian banyak terkait jati diri, dan sering disampaikan berulang kali, pada dasarnya telah menjadi “kekayaan intelektual” bagi kader.

Hal ini terutama karena adanya hubungan timbal balik yang sangat kuat antara kerangka dan landasan keilmuan yang disampaikan serta pengalaman lapangan. Inilah yang menjadi proses pencerahan bagi kader. Artinya, ketercerahan kader karena mereka ikut menjadi pelaku dari konsep yang sering disampaikan tersebut.

Mereka mengalami dan merasakan kesesuaian ataupun integrasi antara ilmu atau teori dan pengamalan lapangan. Walaupun harus diakui bahwa mayoritas kader lebih fasih memperagakan jati diri dibandingkan menarasikannya secara intelektual.

Dengan modal warisan kader yang tercerahkan, ketika UAS wafat, suksesi kepemimpinan berlangsung dengan baik tanpa gejolak. Kepemimpinan kemudian berjalan dengan baik dan perkembangan Hidayatullah semakin pesat.

Sebelumnya ada pihak dengan nada pesimis menyatakan bahwa Hidayatullah akan berakhir seiring wafatnya UAS, dengan asumsi tidak tampak kader yang memiliki kharisma dan potensi kepemimpinan untuk melanjutkan model kepemimpinan tunggal atau “one man show” seperti dilakonkan UAS.

Sebagai seorang kader yang tercerahkan, ketika Ustadz Abdurrahman Muhammad (UAM) terpilih sebagai pemimpin Hidayatullah menggantikan UAS, beliau memperkenalkan dan kemudian “mendeklarasikan” model kepemimpinan syura.

UAM berkali-kali menjelaskan bahwa “saya tidak bisa dan juga tidak mau melanjutkan atau menjalankan model kepemimpinan tunggal seperti dijalankan UAS.”

Pada masa kepemimpinan UAS sebenarnya sistem syura tetap berjalan, hanya saja tidak dilembagakan secara permanen. Tradisi musyawarah dijalankan sesuai konteks masalah yang berkembang. Jadi, siapa yang akan ikut sebagai peserta musyawarah tergantung pada siapa yang terkait atau berwenang terhadap masalah yang ada.

Sejak awal kepemimpinannya, UAM melembagakan sistem syura dan melakukan “pembagian kekuasaan” kepada berbagai lembaga. UAM sebagai Pemimpin Umum, kemudian ada Dewan Syura, Majelis Syariah, dan Dewan Eksekutif sebagai pimpinan pelaksana.

Dalam realitasnya, Dewan Eksekutif yang berkedudukan di Jakarta juga berfungsi sebagai “thinktank” lembaga. Dewan Eksekutif aktif melakukan kajian dan “brainstorming” terhadap semua persoalan kelembagaan. Kajian-kajian yang sudah “setengah matang” disampaikan dan didiskusikan lebih lanjut dengan Pemimpin Umum, kemudian dibawa ke forum Dewan Syura untuk pengambilan keputusan.

Berbagai kebijakan perubahan besar dilakukan pada tahun 2000, ketika kepemimpinan UAM baru berjalan dua tahun. Perubahan paling fundamental adalah format kelembagaan dari orsos ke ormas. Menyertai perubahan ini adalah perubahan sistem sosial ekonomi dan penegasan definisi kader.

Sebelum menjadi ormas, sistem ma’isyah kader adalah dengan natura. Setelah menjadi ormas, sistem ma’isyah dilakukan dengan penggajian.

Perbedaan antara keduanya ialah pada istilah natura, upah diberikan berdasarkan kebutuhan pokok setiap kader atau warga tanpa memperhatikan jabatan dan profesi yang diemban. Sementara dengan sistem gaji, seseorang diberikan upah sesuai jabatan dan profesinya, bukan berdasarkan kebutuhan hidupnya.

Pada masa orsos, kader hanya diberikan natura sesuai kebutuhan pokok setiap rumah tangga. Semua kebutuhan lainnya seperti biaya pendidikan, kesehatan, dan lain-lain ditanggung oleh lembaga. Dengan sistem penggajian di era ormas, hal-hal seperti itu menjadi tanggung jawab pribadi, tidak lagi ditanggung lembaga.

Dalam pada itu, juga dilakukan perubahan atau penegasan definisi kader. Pada masa orsos, yang dimaksud sebagai kader “seolah-olah” hanya mereka yang tinggal di kampus pesantren dan bekerja dalam lingkup tugas kepesantrenan. Mereka yang tinggal di luar kampus dan bekerja di tempat lain terkesan bukan kader.

Dikatakan “seolah-olah” di sini karena pengertian kader pada masa itu sesungguhnya tidak persis demikian. Sebagai contoh, di Gunung Tembak ketika itu ada puluhan kader senior yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) dan bekerja di berbagai instansi pemerintah.

Menyertai deklarasi ormas, kader didefinisikan dengan tegas sebagai “orang yang tertarbiyah dalam sistem perkaderan dan taat dalam sistem kepemimpinan Hidayatullah.” Dalam perkembangan selanjutnya, yang dimaksud sistem perkaderan ialah mengikuti training marhalah dan aktif dalam halaqah kader.

Perkembangan lain sesuai tuntutan dinamika kelembagaan dan kondisi eksternal adalah perumusan konsep jati diri Hidayatullah secara tertulis. Hal ini sangat penting dan mendasar untuk memperjelas serta mempertegas identitas dan “alamat” Hidayatullah.

Konsep pemikiran pada jati diri ini menjadi bahan utama materi tarbiyah dan perkaderan Hidayatullah. Setelah melalui diskusi dan kajian panjang, dirumuskan enam jati diri Hidayatullah: SW, Ahlussunnah wal Jama’ah, Imamah-Jama’ah, al-Harokah al-Jihadiyah al-Islamiyah, Jama’atun minal Muslimin, dan Wasathiyah.

Tiga dari enam jati diri merupakan “warisan langsung” dari UAS, sebagaimana telah disinggung di atas. Adapun tiga lainnya merupakan “tambahan” di era kepemimpinan UAM.

Dikatakan sebagai “tambahan” karena pada dasarnya UAS tidak pernah menjadikan ketiga tema tersebut sebagai bahan utama kajian dan wacana yang dibahas secara serius. Hal itu berbeda dengan tiga jati diri lainnya. Jika demikian, muncul pertanyaan: mengapa ketiga hal itu juga dijadikan jati diri Hidayatullah?

Jawabannya, diyakini bahwa ketiga hal tersebut (Ahlussunnah wal Jama’ah, Jama’atun minal Muslimin, dan Wasathiyah) sesungguhnya merupakan pemikiran keislaman yang dianut oleh UAS. Namun, UAS tidak menjadikannya sebagai tema kajian dan pencerahan karena tidak ada konteksnya ketika itu.

Misalnya, untuk Ahlussunnah wal Jama’ah. Pada masa itu tidak ada perdebatan dan klaim di tengah umat Islam Indonesia tentang Ahlussunnah wal Jama’ah dan siapa saja penganutnya.

Demikian pula tentang jati diri Jama’atun minal Muslimin. Dipahami bahwa UAS secara substantif menganut hal tersebut, walaupun jarang menyinggungnya. Hal yang sama juga berlaku untuk prinsip Wasathiyah.

Dari berbagai pandangan dan pemikiran UAS, jelas dapat dipahami sikap wasathiyah beliau dan Hidayatullah dalam berbagai persoalan keislaman dan keummatan.

Dari sedikit penjelasan di atas, kiranya dapat dipahami bagaimana dinamika pemikiran keislaman dan kelembagaan pasca kepemimpinan UAS.

Dinamika pemikiran tersebut juga berpengaruh terhadap struktur organisasi. Itu sebabnya, dari Munas pertama sampai Munas keenam yang segera berlangsung, terus terjadi perubahan yang diperlukan.

Perubahan-perubahan itu dilakukan dengan prinsip “memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik” (al-muhafadhatu ‘ala qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah).

Semangat perubahan tersebut senantiasa berpegang teguh pada kaidah mempertahankan hal-hal yang bersifat prinsipil (tsawabit) dan melakukan perubahan pada hal-hal yang bersifat fleksibel karena konteks situasi, waktu, atau tempat (mutaghayyirat).

Penutup

Itulah lima warisan UAS. Dari kelima warisan tersebut dapat disederhanakan menjadi dua hal mendasar: manhaj SW dan kader.

Dalam manhaj SW pada dasarnya melekat konsep kepemimpinan imamah-jama’ah dan harokah Islamiyah. Dengan perkataan lain, tidak ada manhaj SW tanpa tegaknya kepemimpinan imamah-jama’ah dan harokah Islamiyah.

Selain eksis dengan manhaj SW dan kepemimpinannya, keberhasilan lain yang sangat penting dari UAS adalah melahirkan atau mencetak kader pelanjut perjuangan berbasis manhaj.

Sepeninggal UAS, Hidayatullah semakin berkembang, baik dalam jangkauan teritorial dan jaringan maupun kuantitas kader.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, jika kader yang ditinggalkan UAS (yang ketika itu umumnya berusia kurang dari 50 tahun) sukses melanjutkan manhaj perjuangan, apakah generasi berikutnya telah siap memikul beban ini? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi kita harus optimistis.

Pada dasarnya, proses alih generasi dan rejuvenasi telah dan sedang berjalan. Sisa waktu dari peran generasi didikan UAS menjadi tantangan untuk menguatkan transformasi dan transmisi yang lebih kokoh bagi rejuvenasi. Wallahul musta’an.

Munas VI dan Transformasi Dakwah Hidayatullah di Usia Ke-50 Tahun Kedua

0

HIDAYATULLAH yang dirintis sebagai pesantren pada 5 Februari 1973 (1 Muharram 1393 H) oleh Ustadz Abdullah Said di Balikpapan telah melampaui setengah abad perjalanan dakwah dan pendidikan.

Dari sebuah pesantren kecil, gerakan ini bermetamorfosis menjadi organisasi masyarakat Islam dengan jaringan dakwah, pendidikan, sosial, dan ekonomi di seluruh Indonesia dan mancanegara.

Lima puluh tahun pertama telah meneguhkan fondasi manhaj, kelembagaan, dan kaderisasi; kini Hidayatullah memasuki fase baru, 50 tahun kedua, dengan tantangan zaman yang jauh lebih kompleks: digitalisasi, pluralitas pemikiran, krisis lingkungan, dan kebutuhan umat yang semakin beragam.

Munas VI Hidayatullah yang akan diselenggarakan pada 20–23 Oktober 2025 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, menjadi momentum strategis untuk meneguhkan arah transformasi dakwah di tengah arus perubahan global.

Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH Nashirul Haq, menegaskan bahwa Munas ini menjadi momentum konsolidasi gerakan dakwah berorientasi keumatan dan kebangsaan. Artinya, dakwah Hidayatullah harus semakin terhubung dengan realitas sosial bangsa, menjawab persoalan kemiskinan, krisis moral, dan tantangan peradaban digital dengan langkah-langkah yang konkret.

Dari perspektif sosiologi agama, dakwah selalu berhubungan erat dengan perubahan sosial. Ali Amran (2012) menulis bahwa dalam masyarakat yang berubah, dakwah Islamiyah harus mengikuti dinamika sosial, menyesuaikan metode, strategi, dan materinya agar efektif.

Ghozali dan M. Jamil (2019) menambahkan, “Dakwah dapat dipandang sebagai agen perubahan terencana dalam masyarakat.” Sementara itu, Ahmad Shofi Muhyiddin (2019) mengkaji bagaimana KH Abdurrahman Wahid mengubah orientasi dakwah dari ceramah ke tindakan sosial dan dialog budaya, yang mampu menjadi katalis transformasi masyarakat.

Dalam kerangka pemikiran para sosiolog seperti Max Weber, Émile Durkheim, dan Karl Marx, agama berperan penting dalam modernisasi dan legitimasi sistem sosial. Dari sini dapat disimpulkan bahwa dakwah sejati bukan hanya menyampaikan pesan keagamaan, tetapi menjadi kekuatan moral dan sosial yang menata ulang tatanan masyarakat.

Paradigma dakwah Hidayatullah, karenanya, perlu dimaknai secara lebih luas yang tidak hanya dakwah bil qawl (seruan lisan), tetapi juga dakwah bil hal (aksi nyata). Dakwah harus hadir dalam isu kesejahteraan, keadilan, kesehatan, pendidikan, dan kelestarian lingkungan.

Ustadz Abdullah Said pernah berpesan agar para dai menggunakan tutur kata yang santun, komunikatif, dan mendekatkan diri kepada umat. Pesan ini relevan untuk era kini, bahwa dakwah yang efektif adalah dakwah yang berakhlak, menyentuh hati, dan memberi manfaat nyata.

Kerangka Transformasi Dakwah

Menurut penulis, transformasi dakwah ke depan perlu bertumpu pada tiga dimensi: nilai, struktur, dan teknologi.

Pertama, dari sisi nilai, Hidayatullah harus terus meneguhkan manhaj nabawi, metodologi Rasulullah SAW dalam menyampaikan ajaran, membangun karakter, dan memperjuangkan keadilan.

Nilai akhlak, keseimbangan, dan kesederhanaan menjadi fondasi agar transformasi tidak kehilangan ruh spiritualnya.

Kedua, dari sisi struktur, organisasi dakwah perlu memperbarui sistem manajemen agar lebih profesional, transparan, dan partisipatif. Birokrasi yang sentralistik perlu bertransformasi menjadi tata kelola yang responsif terhadap aspirasi daerah.

Ketiga, dari sisi teknologi, dakwah harus menembus ruang digital. Platform e-learning tarbiyah, konten multimedia, dan sistem database kader perlu dikembangkan agar dakwah tak tertinggal oleh percepatan zaman.

Desentralisasi dan kontekstualisasi menjadi kunci. DPP perlu memberi ruang kreatif bagi DPW, DPD, dan DPC untuk merumuskan strategi dakwah sesuai karakter wilayah masing-masing, sembari menjaga kesatuan manhaj agar tidak terjadi fragmentasi nilai.

Sebagaimana ditegaskan dalam berbagai forum internal, kader di lapangan adalah ujung tombak dakwah; mereka harus menjadi teladan akhlak, berpikir kritis, menguasai literasi media, teknologi, dan advokasi sosial. Tanpa integrasi ilmu agama dengan ilmu dunia, dakwah akan kehilangan relevansinya.

Integrasi dan Dakwah Lintas Sektor

Salah satu yang menarik adalah tema lingkungan yang diangkat dalam Munas VI mencerminkan kesadaran ekologis Hidayatullah. Gerakan penghijauan yang dilakukan di Pesantren Gunung Tembak sejak 1980-an bahkan telah mengantarkan Hidayatullah memperoleh penghargaan Kalpataru pada 1984.

Kini, komitmen itu harus diperkuat menjadi dakwah ekologi: edukasi lingkungan, konservasi, dan advokasi kebijakan hijau.

Demikian pula, dakwah perlu merambah bidang kesehatan, pendidikan integral berbasis tauhid, ekonomi syariah, dan pemberdayaan masyarakat. Program koperasi pesantren, UMKM kader, serta integrasi dakwah-ekonomi menjadi instrumen memperkuat basis ekonomi umat.

Dakwah juga tak boleh tercerabut dari akar budaya lokal. Revitalisasi seni Islam, festival budaya pesantren, dan dialog antarbudaya dapat memperkokoh identitas keislaman sekaligus menumbuhkan nasionalisme religius.

Aksi kemanusiaan, tanggap bencana, dan advokasi sosial menjadi perwujudan nyata prinsip “rahmatan lil ‘alamin.” Semua ini menunjukkan bahwa dakwah tidak berhenti pada ceramah, melainkan mewujud dalam tindakan yang membebaskan dan menyejahterakan.

Roadmap Dakwah

Munas VI diharapkan tidak sekadar menghasilkan keputusan administratif, melainkan juga merumuskan roadmap dakwah jangka menengah 5–10 tahun ke depan. Roadmap itu harus memuat prioritas tema, target capaian, indikator kuantitatif dan kualitatif, serta mekanisme evaluasi.

Selain itu, penting membangun jejaring strategis dengan ormas lain, lembaga pemerintah, perguruan tinggi, dan komunitas lokal untuk memperluas jangkauan dakwah. Agar keputusan Munas inklusif, forum pra-Munas sebaiknya melibatkan kader lapangan dan pengurus daerah sebagai sumber ide dan kritik konstruktif.

Transformasi tentu tidak tanpa tantangan. Sebagian kader mungkin merasa nyaman dengan pola lama. Digitalisasi, transparansi, dan desentralisasi dapat menimbulkan gesekan internal. Kesenjangan kapasitas antarwilayah juga masih nyata; karena itu, pelatihan dan fasilitasi perlu diperkuat.

Di sisi lain, sorotan publik terhadap ormas Islam menuntut komunikasi yang moderat, terbuka, dan menjunjung citra Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Tantangan teknologi seperti hoaks, polarisasi media sosial, dan kecerdasan buatan juga menuntut kewaspadaan baru.

Yang paling mendasar, transformasi tidak boleh membuat Hidayatullah kehilangan identitas keislamannya. Jika perubahan terlalu pragmatis, ruh manhaj bisa terkikis.

Maka, setiap inovasi harus berpijak pada tauhid, akhlak, dan keadilan. Dakwah harus tetap menjadi energi moral yang membangun manusia dan masyarakat.

Transformasi dakwah Hidayatullah di usia ke-50 tahun kedua bukan sekadar pelestarian tradisi, tetapi lompatan kualitas menuju “organisasi peradaban.”

Munas VI harus menjadi momentum ideologis, struktural, dan praktis untuk mendefinisikan ulang arah dakwah agar tetap relevan dan efektif.

Dengan langkah strategis, kesiapan ide, dan keberanian berinovasi, saya yakin Hidayatullah dapat terus menjadi kekuatan inspiratif dalam lanskap dakwah Indonesia yang baru. Wallahu a‘lam.

*) Dr. Mashud, penulis adalah dosen Ilmu Dakwah, aktifis Hidayatullah dan Pengurus Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI) Orwil Jawa Timur (Jatim)

Pondok Pesantren Hidayatullah Bitung Jadi Salah Satu Pusat Hari Santri Nasional 2025

0

BITUNG (Hidayatullah.or.id) — Dalam semangat kebangsaan yang terus tumbuh di tengah masyarakat Indonesia, Hari Santri Nasional menjadi salah satu momentum penting untuk memperkuat jati diri keislaman yang rahmatan lil ‘alamin.

Kota Bitung, Sulawesi Utara, tahun ini mendapat kehormatan menjadi tuan rumah penyelenggaraan Hari Santri Nasional (HSN) 2025 yang akan berlangsung pada 20–22 Oktober mendatang. Acara ini diproyeksikan menghadirkan sekitar 4.000 peserta dari berbagai provinsi.

Ketua Panitia Hari Santri Nasional Kota Bitung, H. Ayub Ali, mengungkapkan bahwa Pondok Pesantren Hidayatullah akan menjadi salah satu pusat utama pelaksanaan kegiatan HSN di wilayah tersebut. Menurutnya, peran pesantren bukan sekadar sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga sebagai poros pembentukan karakter kebangsaan.

H. Ayub Ali menjelaskan, Bitung dipilih sebagai tuan rumah karena dinilai memiliki kesiapan fasilitas serta dukungan penuh dari pemerintah daerah.

“Kami melihat sinergi luar biasa antara pemerintah dan masyarakat. Ini menjadi contoh harmonisasi yang patut diteladani,” tambahnya.

Pusat kegiatan HSN 2025 akan tersebar di beberapa titik utama, yakni Pondok Pesantren Hidayatullah, GOR Duasudara, dan Lapangan Kantor Wali Kota Bitung.

Wali Kota Bitung, Hengky Honandar SE, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada daerahnya. Ia menilai kegiatan nasional ini bukan hanya memperkuat nilai religius dan kebangsaan, tetapi juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat.

“Kegiatan ini bukan hanya soal ritual keagamaan, tapi juga momentum ekonomi rakyat. Kami ingin masyarakat Bitung ikut merasakan manfaatnya,” tutur Hengky Honandar dalam pertemuan dengan panitia nasional di Kantor Wali Kota Bitung pada Selasa, 22 Rabi’ul Akhir 1447 (14/10/2025).

Selain kegiatan keagamaan dan kebudayaan, panitia juga memperkenalkan konsep “Santri Hijau” sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Program ini meliputi pengelolaan sampah, fasilitas daur ulang, dan pembatasan plastik sekali pakai di seluruh area kegiatan.

“Kami ingin setiap kegiatan besar di Bitung membawa pesan cinta lingkungan. Santri tidak hanya berakhlak mulia, tapi juga peduli bumi,” ujar Merianti Dumbela, penasihat kegiatan sekaligus Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bitung.

Rangkaian acara HSN 2025 mencakup Pekan Olahraga dan Seni Antar Pondok Pesantren (Pospeda), zikir dan doa bersama, serta lomba seni dan budaya Islami. Dengan dukungan penuh Pemerintah Kota, Forkopimda, dan masyarakat, Bitung optimis menyelenggarakan Hari Santri Nasional secara sukses dan berkesan.

Peringatan Hari Santri Nasional di Bitung diharapkan menjadi ruang kebersamaan yang mempererat persaudaraan lintas daerah, meneguhkan nilai religiusitas, serta menumbuhkan kesadaran bahwa peran santri tidak hanya di bilik pesantren, tetapi juga dalam menjaga keutuhan dan kemajuan bangsa Indonesia.

Nanang Nurpatria Soroti Lemahnya Tripusat dan Arah Filosofis Pendidikan di Indonesia

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Nanang Nurpatria, M.Pd.I, menyoroti fenomena viral yang terjadi di dunia pendidikan Indonesia. Ia menilai bahwa peristiwa yang semula tampak sederhana justru mengungkap kondisi serius tentang arah dan nilai pendidikan di Tanah Air.

Kasus yang menjadi perhatian publik beberapa hari belakangan tersebut bermula dari tindakan seorang kepala sekolah yang memberikan hukuman kepada muridnya setelah ketahuan merokok.

Peristiwa itu memicu gelombang reaksi di masyarakat hingga memunculkan perdebatan luas antara pihak yang mendukung tindakan disipliner dan mereka yang menentangnya.

“Fenomena tentang kepala sekolah yang disangsi karena menghukum muridnya setelah ketahuan merokok menjadi viral karena ada pro kontra yang mengiringinya,” ujar Nanang Nurpatria dalam keterangannya pada Jumat, 25 Rabi’ul Akhir 1447 (17/10/2025).

Ia menilai bahwa dinamika yang muncul dari peristiwa tersebut bukan hanya soal hukuman terhadap pelanggaran disiplin, melainkan juga memperlihatkan potret carut-marutnya sistem pendidikan nasional. Menurutnya, publikasi yang masif di media sosial dan respon emosional dari berbagai pihak menunjukkan bahwa dunia pendidikan kini berada dalam kondisi yang memprihatinkan.

“Secara umum dunia pendidikan tercoreng bahkan ‘terpasung’ setelah melihat kepsek yang dipermasalahkan dan ada ‘mogok belajar’ kolektif sebagai bentuk solidaritas teman, terlepas benar atau salah,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa kejadian tersebut mengindikasikan adanya krisis nilai dan disharmoni antara tiga pilar utama pendidikan di Indonesia. Program tripusat pendidikan, yakni sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat, yang selama ini diagungkan ternyata belum mampu diwujudkan secara nyata dalam praktik.

“Hal ini mengindikasikan lemah arah filosofis sistem pendidikan kita, yang mengusung program tripusat pendidikan; sinergi sekolah, keluarga, dan masyarakat,” ujar Nanang.

Menurutnya, semangat kolaborasi yang diharapkan dari tiga pihak itu justru sering berbalik menjadi sumber ketegangan. Di lapangan, sekolah kerap menghadapi tekanan dari masyarakat maupun orang tua murid ketika menerapkan tindakan disiplin. Akibatnya, lembaga pendidikan kehilangan wibawa dan kesulitan menjalankan fungsi pembinaan karakter sebagaimana mestinya.

“Di lapangan, yang terjadi justru sebaliknya antar pihak saling mengincar dan mengintimidasi, sehingga bukannya sinergi tapi silih berganti untuk mencari kesalahan terhadap proses pendidikan anak bangsa yang dilakukan di sekolah,” katanya.

Nanang menjelaskan bahwa dalam kasus pelanggaran seperti merokok di kalangan pelajar, penegakan disiplin memang penting, namun tidak boleh berhenti pada tindakan hukuman semata. Ia menegaskan bahwa pendekatan pendidikan seharusnya menyentuh akar persoalan perilaku siswa, bukan hanya gejalanya.

“Anak yang dihukum karena merokok dengan memberikan hukuman saja tidak cukup,” tegasnya.

Ia mencontohkan, jika hukuman diberikan tanpa memahami konteks dan penyebab perilaku menyimpang, maka upaya tersebut tidak akan membuahkan hasil jangka panjang. Pendekatan semacam itu hanya bersifat reaktif, bukan edukatif.

“Menghukum tanpa memahami akar masalahnya ibarat memangkas rumput liar tanpa mencabut akarnya. Ia akan tumbuh kembali, bahkan mungkin lebih kuat,” jelasnya.

Menurut Nanang, problem utama pendidikan di Indonesia saat ini terletak pada kurangnya perhatian terhadap pembangunan kesadaran anak didik. Sekolah cenderung fokus pada capaian akademik dan pengendalian perilaku, namun abai terhadap pembentukan kesadaran diri dan nilai-nilai moral.

“Ada problem utama yang belum tersentuh dalam dunia pendidikan saat ini, yaitu membangun kesadaran anak didik,” ujarnya.

Ia menyebutkan bahwa pendekatan deep learning dalam pendidikan sebenarnya sudah mengarah pada upaya membentuk kesadaran peserta didik. Namun, pendekatan tersebut kerap berhenti di tataran teknis dan belum menyentuh dimensi filosofis yang lebih mendalam.

“Dengan pendekatan deep learning, memang sudah ada salah satu poin penting untuk membangun kesadaran, semoga tidak sekedar di tataran permukaan,” tutur Nanang.

Dalam pandangan Nanang, kesadaran yang kokoh hanya bisa dibangun di atas landasan nilai dan keyakinan yang benar. Ia menegaskan bahwa pendidikan yang berorientasi pada nilai spiritual dan moral akan melahirkan anak didik yang memiliki integritas serta daya tahan terhadap pengaruh negatif lingkungan.

“Faktor utama dalam membangun kesadaran itu berangkat dari nilai-nilai dasar atau filosofi yang dianut, diistilahkan dengan kepercayaan atau keyakinan. Pendidikan Islam yang integral hadir untuk menjawab persoalan ini,” pungkasnya.

Nanang Nurpatria menegaskan pentingnya reposisi paradigma pendidikan di Indonesia. Ia menilai bahwa peran sekolah sebagai tempat pembentukan karakter harus didukung sepenuhnya oleh keluarga dan masyarakat, bukan justru dipersalahkan ketika menerapkan prinsip disiplin.

“Krisis pendidikan yang tampak di permukaan sesungguhnya berakar pada hilangnya nilai filosofis dan keimanan sebagai fondasi utama pendidikan bangsa,” tegasnya menandaskan.

Ribuan Kader – Anggota akan Ikuti Munas VI Hidayatullah, Peserta Mulai Berdatangan

0
Rombongan Kepri-Sumut menuju Munas VI Hidayatullah (Foto: Ist/ hidayatullah.or.id)

JAKARTA (Hiayatullah.or.id) — Dalam semangat keislaman yang merekatkan wilayah dari ujung timur hingga barat Nusantara, kader dan anggota Hidayatullah mulai berdatangan ke Jakarta untuk mengikuti Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah yang akan digelar pada 20–23 Oktober 2025 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.

Dr. Abdul Ghofar Hadi, Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, mengakan perhelatan lima tahunan ini menjadi momentum konsolidasi nasional kader dakwah dari seluruh penjuru negeri untuk memperkuat sinergi menuju cita-cita Indonesia Emas 2045.

“Musyawarah Nasional Hidayatullah ini akan diikuti oleh seribuan lebih kader dan anggota Hidayatullah dari Papua hingga ke Aceh,” ujar Abdul Ghofar di hadapan jamaah shalat shubuh Masjid Baitul Karim, Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, Jumat, 25 Rabi’ul Akhir 1447 (17/10/2025).

Menurutnya, kehadiran para kader dari berbagai daerah menunjukkan kuatnya semangat persaudaraan dan kesatuan misi dakwah Hidayatullah. “Ada yang tadi malam datang dari Kepulauan Riau, rombongan naik kapal,” tambahnya.

Pantauan Media Munas VI menunjukkan sejumlah peserta telah tiba lebih awal dan transit di kompleks Pusat Dakwah Hidayatullah, Jalan Cipinang Cempedak I, Polonia, Jakarta Timur. Sejak dini hari, mereka sudah mulai berkegiatan dengan penuh kekhidmatan, mengisi waktu dengan halaqah, tadarus Al-Qur’an, dan pembacaan Surat Al-Kahfi.

Suasana halaqah di Masjid Baitul Karim PDH sebagian peserta yang sudah tiba (Foto: Abdus Syakur/ Hidayatullah.or.id)

“Tiba jam dua dini hari tadi,” kata Ustadz Muhammad Fajar, salah seorang peserta dari Kepulauan Riau yang bersama rombongan datang menggunakan kapal laut KM Kelud.

Suasana hangat dan penuh persaudaraan menyelimuti kedatangan para peserta dari berbagai daerah. Dari wilayah timur seperti Papua dan Maluku, hingga barat seperti Aceh dan Sumatera, seluruh kader berbondong-bondong menuju Jakarta sebagai pusat kegiatan nasional Hidayatullah tahun ini.

Abdul Ghofar mengatakan, Munas VI Hidayatullah mengusung tema “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045”, sebuah ajakan untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dan daerah dalam membangun masa depan bangsa.

“Selama empat hari pelaksanaan, forum ini akan menjadi ruang strategis bagi penguatan arah gerakan dakwah, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan yang menjadi pilar peran Hidayatullah di tengah masyarakat Indonesia,” katanya.

Abdul Ghofar Hadir menyapa peserta yang sudah tiba di Pusat Pusat Dakwah Hidayatullah Jakarta (Foto: Abdus Syakur/ Hidayatullah.or.id)

Dengan dimulainya kedatangan para peserta sejak Jumat ini, Jakarta menjadi titik temu para kader yang membawa semangat daerah masing-masing.

Dia menambahkan, momentum Munas VI ini juga perwujudan nyata dari semangat keindonesiaan yang berakar pada nilai persatuan, pengabdian, dan tanggung jawab kolektif terhadap masa depan bangsa.