Beranda blog Halaman 62

GMH Desak Tindakan Tegas terhadap Tayangan yang Menyudutkan Pesantren

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH), Rizki Ulfahadi, menyampaikan kecaman terhadap stasiun televisi Trans7 menyusul penayangan program yang dinilai menyudutkan pesantren. Rizki mengungkapkan keprihatinan mendalam atas dampak siaran tersebut terhadap institusi pesantren dan figur kiai serta santrinya di tanah air.

Rizki menjelaskan bahwa pihaknya menilai tayangan itu melampaui batas etika penyiaran dan berpotensi mencederai kehormatan lembaga keagamaan.

“Mengecam keras penayangan program di Trans7 yang dianggap tidak beretika, menyudutkan pesantren, serta mencederai marwah kiai dan santri di seluruh Indonesia,” kata Rizki dalam keterangannya pada Rabu, 23 Rabi’ul Akhir 144 (15/10/2025).

Pernyataan tersebut menjadi inti dari sikap GMH yang menyebut tindakan itu sebagai serangan tidak hanya terhadap lembaga pesantren tertentu, tetapi terhadap citra lembaga pendidikan Islam secara kolektif.

Rizki menekankan bahwa pesantren selama ini ditempatkan sebagai poros moral dalam masyarakat, dan oleh karena itu penghinaan terhadapnya merupakan serangan terhadap nilai-nilai pendidikan keagamaan.

Lebih jauh, Rizki memaparkan posisi strategis pesantren dalam struktur moral dan pendidikan bangsa. “Pesantren adalah benteng moral dan peradaban bangsa menistakannya sama dengan meruntuhkan nilai luhur pendidikan umat,” katanya.

GMH melihat pesantren sebagai institusi yang memiliki fungsi krusial tidak sekadar dalam ranah keagamaan, tetapi juga sebagai unsur pembentuk karakter bangsa. Apabila penghinaan terhadap pesantren dibiarkan, maka akan bermakna retaknya nilai inti pendidikan keagamaan yang telah dijaga selama ini.

Tidak berhenti pada kritik moral, Rizki juga menuntut tindakan konkret dari lembaga penyiaran dan aparat penegak hukum. “Kami mendesak KPI dan aparat berwenang untuk menindak tegas sesuai dengan UU yang berlaku,” tekannya.

GMH menuntut agar kasus semacam itu tidak hanya diperingatkan secara moral atau publik, melainkan direspon melalui mekanisme regulasi penyiaran dan ranah hukum sesuai norma undang-undang yang berlaku. Dengan demikian, jelas Rizki, tidak ada unsur impunitas terhadap pelaku penyiaran yang dinilai melanggar nilai dan tatanan etika keagamaan.

Sikap GMH ini muncul di tengah polemik yang melibatkan Trans7 dan program “Xpose Uncensored”, di mana potongan tayangan yang dianggap menyinggung Pondok Pesantren Lirboyo dan figur kiai menjadi pemicu kritik luas dari berbagai pihak.

Media dan tokoh keagamaan telah ramai menyuarakan dukungan atas tuntutan agar KPI bertindak tegas. Kontroversi ini juga memicu desakan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang meminta agar KPI memberikan sanksi terhadap Trans7 karena dianggap telah menayangkan konten yang tidak seimbang dan tendensius.

Selain itu, sejumlah organisasi politik dan keagamaan bersiap melakukan aksi protes terhadap stasiun televisi tersebut. Dalam kerangka regulasi, Rizki menilai, tanggung jawab KPI sebagai lembaga pengawas penyiaran menjadi hal mendasar.

Rizki menggugah agar komisi tersebut tidak tinggal diam menghadapi penyiaran yang dianggap menyimpang dari standar etika. Ia sekaligus meminta agar aparat terkait melakukan penyelidikan bila ditemui unsur pelanggaran hukum dalam produksi maupun distribusi siaran.

Kejadian ini bermula dari tayangan program yang memuat potongan-potongan wawancara, narasi, atau unsur editorial yang dianggap tidak berimbang dan kurang sensitif terhadap tradisi pesantren.

Publik bereaksi terhadap kesan bahwa narasi itu sengaja dibuat agar tampil provokatif dan merendahkan institusi pesantren. Kritik pun melebar ke ranah etika jurnalistik, verifikasi, dan tanggung jawab media terhadap dampak sosial.

Menurut Rizki, kasus ini bukan semata persoalan media melainkan cerminan terhadap kondisi ruang publik dan penghormatan terhadap lembaga pendidikan keagamaan.

“Jika tidak ada langkah tegas dari lembaga terkait, maka kewenangan moral pesantren akan tergerus dan publik akan membiarkan lembaga pendidikan keagamaan menjadi bahan sensasi media,” tandas Rizki seraya mewanti-wanti.

PB IPSI Siap Sukseskan Munas VI Hidayatullah di Jakarta

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) siap turut mensukseskan Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah di Jakarta.

Hal ini terlihat dari pertemuan antara panitia Munas VI Hidayatullah dengan sejumlah pengurus dari PB IPSI di kantor IPSI, kompleks Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Kamis, 24 Rabi’ul Akhir 1447 (16/10/2025) siang.

Hadir dalam pertemuan tersebut Ketua Komisi Hukum PB IPSI Dr Dudung Amadung Abdullah, Tim Kepelatihan PB IPSI Mbak Eka (PSHT) dan Mbak Resti (Perisai Putih).

Hadir pula Ketua Bidang I Panitia Pelaksana Munas VI Hidayatullah Dr M Arfan AU dan panitia lainnya.

“Selamat Munas yang keenam untuk Hidayatullah,” ujar Dr. Dudung usai pertemuan tersebut.

Dalam pertemuan itu disepakati sejumlah persiapan dan keterlibatan IPSI dalam perhelatan Munas VI Hidayatullah. Antara lain penampilan para pendekar silat pada acara pembukaan Munas.

Menurut Dr. Dudung, Ketua Umum IPSI yang juga Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, diagendakan hadir membuka Munas VI Hidayatullah.

“IPSI akan tampil di depan Pak Prabowo,” ujarnya dalam pertemuan tersebut.

Ia juga mengatakan, para pendekar silat siap turut mengamankan Munas VI Hidayatullah.

Perhelatan lima tahunan itu kali ini Insya Allah digelar di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta selama empat hari, Senin-Kamis (20-23/10/2025).

Munas kali ini mengusung tema “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045”.

Touring Peradaban Mengayuh Ukhuwah, Semangat Dakwah Bikers Ride to Munas VI Hidayatullah

0

MAKASSAR (Hidayatullah.or.id) — Di negeri yang dikenal dengan keberagamannya ini, segala bentuk perjalanan yang meneguhkan nilai persaudaraan patut diapresiasi. Bukan hanya perjalanan spiritual di masjid atau ruang akademik, tapi juga perjalanan dakwah yang menembus jalan raya, menembus sekat geografis dan sosial.

Itulah yang sedang dilakukan oleh sekelompok pengendara motor Bikers Hidayatullah Indonesia (BHI) dari Sulawesi Selatan yang membawa semangat dakwah di atas roda—sebuah ekspresi cinta tanah air dengan cara yang khas dan beradab.

Ketua Bikers Hidayatullah Indonesia (BHI) Sulawesi Selatan, Ustaz Dr. Kahirun Misjaya, menegaskan bahwa Touring Peradaban ini bukan sekadar konvoi menuju acara besar, melainkan simbol kontribusi komunitas bikers Muslim terhadap dakwah dan persatuan bangsa.

“Kami ingin menunjukkan bahwa komunitas bikers pun punya cara beradab dalam berdakwah. Kami membawa semangat ukhuwah dan keteladanan santri di jalan raya. Mohon doa dari seluruh jamaah agar perjalanan ini lancar dan penuh keberkahan,” ujarnya saat pelepasan rombongan di Makassar, Selasa, 22 Rabiul Akhir 1447(14/10/2025).

Dengan mengusung tema Ride to Munas VI Hidayatullah, rombongan ini bertolak dari pelataran Masjid 99 Kubah Makassar, ikon keagungan Sulawesi Selatan.

Acara pelepasan berlangsung khidmat dan penuh kekeluargaan, dipimpin oleh Ketua Pembina BHI yang juga Ketua DPW Hidayatullah Sulsel, Ustaz Drs. Nasri Bukhari, M.Pd.

Dalam amanatnya, ia berpesan agar seluruh peserta touring menjaga adab dan akhlak selama perjalanan, baik di jalan raya maupun dalam interaksi sosial. “Touring ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan nilai. Ini adalah jihad peradaban menuju Munas Hidayatullah,” tuturnya.

Rombongan yang terdiri dari sembilan motor dan sebelas peserta itu dijadwalkan menempuh rute lintas Jawa sejauh lebih dari 780 kilometer. Setelah menyeberang dari Makassar ke Surabaya, mereka akan melintasi jalur utara Pulau Jawa dan berakhir di Masjid Istiqlal Jakarta pada Ahad malam (19/10/2025).

Dari sana, para peserta akan beristirahat di Wisma DPP Hidayatullah di Jatinegara sebelum menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, pada 20–23 Oktober 2025.

Misi Dakwah dan Silaturahmi

Tak sekadar berkendara, Touring Peradaban juga membawa misi dakwah dan silaturahmi. Di sepanjang rute, para bikers Muslim ini berencana singgah di kota-kota besar seperti Surabaya, Semarang, Pekalongan, dan Bandung untuk menjalin ukhuwah termasuk dengan jaringan Hidayatullah daerah serta komunitas bikers Muslim setempat. Mereka juga akan berkunjung ke masjid-masjid ikonik dan menggelar kegiatan dakwah jalanan di titik-titik tertentu.

Touring ini menjadi wujud nyata bagaimana dakwah bisa hadir dalam berbagai ruang kehidupan. Jika santri berdakwah dengan pena, guru dengan ilmunya, maka para bikers Muslim memilih jalan aspal sebagai media ukhuwah.

Acara pelepasan turut dihadiri oleh anggota BHI Sulsel yang tidak ikut serta dalam touring. Doa bersama menjadi penutup acara, menandai dimulainya perjalanan panjang penuh semangat dakwah dan persaudaraan.

Menurut Nasri, Touring Peradaban ini bukan sekadar perjalanan menuju Munas, tetapi sebuah simbol perjalanan nilai yang menyatukan semangat santri, bikers, dan bangsa dalam satu laju: menuju peradaban yang lebih beradab.

Bahagia dan Membahagiakan, Kader Hidayatullah Jabar Satukan Langkah Menuju Munas

0

BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Suasana malam di kaki Gunung Manglayang terasa berbeda pada Sabtu-Ahad pada awal Oktober ini. Ratusan kader Hidayatullah dari berbagai wilayah Jawa Barat berkumpul di Yayasan Quran Center Hidayatullah Bandung, Jalan Ciwaru, Desa Cilengkrang, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

Mereka datang bukan sekadar menghadiri acara, tetapi untuk meneguhkan ikatan ukhuwah dan memperbarui semangat perjuangan menuju perhelatan akbar Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah di Jakarta pada 20–23 Oktober 2025.

Acara bertajuk “Menguatkan Ukhuwah dan Meneguhkan Iman” itu dihadiri peserta terdiri dari pengurus DMW, DPW, DPD, pimpinan pondok, amil BMH, serta para kader dan jamaah Hidayatullah se-Jawa Barat. Momentum ini menjadi ajang konsolidasi spiritual dan emosional yang mengikat hati mereka dalam satu cita: berjuang di jalan dakwah dengan semangat kebersamaan.

Ketua Panitia, Ahmad Mistari, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan ini adalah upaya DPW Hidayatullah Jawa Barat untuk memperkuat ikatan persaudaraan Islam (ukhuwah islamiyah) di tengah dinamika zaman yang kian menantang.

“Kita ingin seluruh kader dan jamaah senantiasa istiqamah dalam berjuang. Dengan saling menguatkan, berlandaskan iman, kita akan menjadi pribadi yang bahagia dan mampu membahagiakan orang lain,” ujarnya penuh haru.

Suasana malam itu semakin hangat ketika Ketua dan anggota DMW Jawa Barat — Ustaz Abu Hamzah, Ustaz Nanang Hanani, dan Ustaz Anton Aljundi — menyampaikan motivasi dan arahan.

Dengan gaya bertutur yang ringan dan diselingi pantun jenaka, ketiganya menghadirkan kisah perjalanan iman dan pengalaman ruhani yang membuat para peserta larut dalam tawa dan renungan.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan konsepsi dan rumusan Munas oleh jajaran pengurus harian DPW Jawa Barat: Ahmad Andi Suhendar, Hasbi Alfaruq, dan Naufal. Mereka memaparkan berbagai masukan serta menyerap aspirasi dari kader di seluruh wilayah Jawa Barat untuk dibawa sebagai kontribusi gagasan ke Munas VI mendatang.

Usai Lailatul Ijtima, peserta melaksanakan shalat malam berjamaah. Dari situ, suasana beralih menjadi lebih dinamis ketika lomba futsal antar-rayon Hidayatullah se-Jawa Barat dimulai. Sorak sorai penonton, gelak tawa komentator, dan semangat sportivitas menyatukan semua dalam nuansa kebersamaan.

Dalam laga final yang seru dan penuh semangat juang, tim Pemuda Jawa Barat berhasil keluar sebagai juara pertama. Mereka menerima trofi bergilir dan uang pembinaan dari Ketua DPW Hidayatullah Jawa Barat. Sementara Rayon Barat menempati posisi juara kedua dan Rayon Timur menjadi juara ketiga.

Kebahagiaan peserta semakin lengkap berkat dukungan berbagai pihak yang menjadi sponsor utama kegiatan ini, di antaranya PT Banda Karya Persada (BKP), PT Kubah Nusantara, BMH Jawa Barat, KMH dan PosDai, Pemuda Hidayatullah, Yayasan Quran Center Bandung, serta PT Cipta Daya Engineering (CDE).

Dari Bandung, semangat itu berkobar menembus batas wilayah, menembus waktu dan membawa pesan bahwa ukhuwah yang kokoh dan iman yang teguh adalah kunci kejayaan dakwah dan persatuan umat.

Salah satu peserta, Hari, menyampaikan harapan sederhana namun sarat makna: “Semoga kegiatan seperti ini bisa dilaksanakan setiap tahun. Bukan hanya untuk berkompetisi, tetapi untuk menumbuhkan semangat berorganisasi dan memperkuat nilai-nilai persaudaraan,” katanya.

Gerakan Menanam dari Mushola hingga Hutan Mini, Kolaborasi Menumbuhkan Kebaikan

KUNINGAN (Hidayatullah.or.id) — Dalam denyut kehidupan masyarakat Indonesia, nilai gotong royong dan cinta alam kerap menjadi sumber energi sosial yang menumbuhkan harapan. Di tengah derasnya arus urbanisasi dan gaya hidup instan, masih ada banyak pihak yang berjuang mengembalikan makna kebaikan yang berakar pada bumi dan spiritualitas.

Salah satunya adalah langkah kecil namun bermakna yang dilakukan oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH) melalui gerakan “Mari Menanam” di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

H. Jaenal Mutaqin, S.Pd., M.Pd. — akrab disapa Kang Zeze — menerima secara simbolis bantuan bibit pohon dari BMH pada Selasa, 14 Oktober 2025. Ia merupakan pendiri Sekolah Alam Bratakasian yang berlokasi di Desa Pamijahan, Ciawigebang.

Bagi Kang Zeze, kolaborasi dengan BMH bukan hal baru. Ia menuturkan bahwa bantuan BMH pada tahun 2023 berupa Al-Qur’an untuk Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Hipapelnis telah membawa manfaat besar bagi masyarakat sekitar.

“Bantuan Al-Qur’an dari BMH itu sangat bermanfaat. Banyak masyarakat dan TBM mitra kami yang merasa terbantu. Dari amanah itulah tumbuh semangat baru hingga berdirinya tajug atau mushola yang kini menjadi tempat ibadah dan belajar mengaji di lingkungan kami,” ujar Kang Zeze dalam keterangannya, Rabu, 23 Rabiul Akhir 1447 (15/10/2025).

Sebagai Ketua Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Jawa Barat sekaligus Juara 1 Tingkat Nasional versi Perpustakaan Nasional, Kang Zeze melihat bahwa literasi, lingkungan, dan keimanan memiliki jalinan nilai yang tak terpisahkan. Program BMH yang menggabungkan penanaman pohon dan penguatan spiritual, menurutnya, mencerminkan pendidikan karakter yang menyentuh aspek ekologi dan moralitas.

Semarakkan Hari Santri Nasional

Kegiatan “Mari Menanam” menjadi bagian dari rangkaian menjelang Hari Santri Nasional akhir Oktober mendatang. Selain menyerahkan Al-Qur’an dan bibit pohon seperti alpukat, jambu biji, mahoni, sengon, ketapang kencana, dan tabebuya, BMH juga menyiapkan peluncuran program “Agen Kebaikan” yang menggandeng komunitas dan perguruan tinggi di Cirebon.

Salah satu peserta kegiatan, Nova — anak yatim binaan Sekolah Alam Bratakasian — mengaku senang bisa menanam bibit pohon. “Saya ingin pohon ini tumbuh besar seperti cita-cita saya menjadi guru,” ucapnya polos.

Dukungan juga datang dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimanuk–Citanduy yang menyumbangkan bibit buah dan pepohonan. Kolaborasi ini bertujuan menjaga kelestarian alam sekaligus meningkatkan ketahanan pangan di lingkungan pesantren dan sekolah.

Dari Al-Qur’an yang menginspirasi berdirinya mushola hingga pohon-pohon muda yang akan tumbuh di tanah Pamijahan, langkah BMH dan Sekolah Alam Bratakasian menjadi potret indah tentang Indonesia yang menanam, membaca, dan beribadah — serentak menumbuhkan kehidupan.

Asep Juhana, Koordinator BMH Cirebon, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menghadirkan kebaikan yang berkelanjutan. “Kami berharap kegiatan ini tak hanya menghijaukan bumi, tetapi juga menumbuhkan kesadaran spiritual dan kepedulian sosial di kalangan santri,” ujarnya.

Sidang Senat Wisuda XIII STIE Hidayatullah Tegaskan Urgensi Perlindungan Hukum Bisnis Digital

0

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Ketua Departemen Hukum dan Advokasi Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Adv. Dr. Dudung Amadung Abdullah, M.Ag., M.H., menegaskan pentingnya pembaruan regulasi untuk melindungi pelaku usaha daring di tengah pesatnya transformasi digital.

Hal itu disampaikan Dudung dalam Sidang Senat Terbuka dalam rangka Wisuda ke-XIII Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah di Hotel Bumi Wiyata, Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu, 19 Rabi’ul Akhir 1447 (11/10/2025).

Dalam orasi ilmiah berjudul “Perlindungan Hukum terhadap Perjanjian Kontrak Digital bagi Pelaku Usaha Daring dalam Bingkai Peraturan Perundang-undangan di Indonesia”, Dudung menekankan bahwa perkembangan ekonomi digital tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga menimbulkan tantangan hukum yang kompleks.

“Transformasi digital telah mengubah paradigma kegiatan pelaku usaha menjadi lebih sederhana, namun di balik kemudahan itu muncul problematika hukum yang kompleks, mulai dari keabsahan kontrak digital hingga penyelesaian sengketa,” ujarnya di hadapan wisudawan, dosen, dan tamu undangan.

Tantangan Hukum di Era Daring

Menurut Dudung, kontrak digital memiliki kekuatan hukum yang sama dengan kontrak konvensional, selama memenuhi syarat sahnya perjanjian sebagaimana diatur dalam Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Namun, persoalan yang sering muncul adalah sulitnya memverifikasi identitas para pihak dalam transaksi daring.

“Anonimitas para pihak dalam transaksi digital kerap menimbulkan hambatan dalam memastikan identitas dan tanggung jawab hukum,” jelasnya.

Ia juga mengutip data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang menunjukkan bahwa hingga 2024, sekitar 30 persen transaksi daring di Indonesia berisiko mengalami kebocoran data. Kondisi ini, kata dia, dapat menggerus kepercayaan publik terhadap sistem transaksi digital.

Dudung menyoroti masih rendahnya literasi hukum digital di berbagai daerah. Perbedaan tingkat pemahaman ini berpengaruh terhadap ketimpangan perlindungan hukum.

“Kesenjangan digital melemahkan perlindungan hukum di sekitar 40 persen wilayah Indonesia. Hal ini berpotensi meningkatkan risiko penipuan daring dan pelanggaran kontrak,” paparnya.

Ia menilai bahwa pelaku usaha daring dan konsumen membutuhkan instrumen hukum yang lebih adaptif. Negara, menurutnya, tidak boleh hanya menjadi pengamat, melainkan harus aktif menjamin keadilan di ruang digital.

Kolaborasi Lintas Sektor

Dalam paparannya, Dudung menguraikan tiga fokus utama yang perlu diperhatikan pemerintah: keabsahan kontrak digital, perlindungan data pribadi, dan penyelesaian sengketa elektronik.

“Perlindungan hukum terhadap kontrak digital merupakan prasyarat bagi keberlanjutan bisnis daring di Indonesia,” ujar pendiri Kantor Hukum DRDR ini.

Ia mendorong sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku usaha untuk membangun ekosistem digital yang aman dan inklusif. “Dengan pendekatan interdisipliner dan kolaborasi lintas sektor, Indonesia dapat menjadi pelopor keadilan digital di kawasan ASEAN,” lanjutnya.

Menurutnya, penyelesaian sengketa digital memerlukan model baru yang menggabungkan pendekatan hukum, teknologi, dan sosiologi. Hal ini penting agar penegakan hukum mampu mengikuti perkembangan kecerdasan buatan dan teknologi blockchain yang kian mempengaruhi pola transaksi masyarakat.

Akademisi Garda Depan Inovasi

Menutup orasi ilmiahnya, Dudung menekankan peran dunia akademik dalam memperkuat sistem hukum nasional.

Pemerintah, tegas dia, memiliki tanggung jawab moral dan hukum sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 40A UU ITE 2024 untuk menjamin ekosistem digital yang aman.

“Dunia akademik harus menjadi garda inovasi dalam penegakan hukum digital,” tegasnya menekankan.

Ia mengajak para lulusan STIE Hidayatullah untuk ikut berperan dalam mewujudkan keadilan ekonomi berbasis nilai-nilai etika dan hukum.

“Kita harus memastikan bahwa teknologi digunakan untuk memuliakan manusia, bukan menindasnya,” tutupnya.

Pentingnya Budaya Musyawarah dan Nasihat untuk Hindari Kekeliruan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam catatan hikmah singkatnya, Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah Ustadz Akib Junaid Kahar mengangkat tema hakikat kesalahan manusia, pentingnya taubat, serta budaya musyawarah dan saling menasihati dalam menjaga kesehatan suatu jamaah.

Ia membuka pesannya dengan mengutip sabda Nabi Muhammad SAW yang menegaskan bahwa kesalahan adalah bagian dari fitrah manusia.

“Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah. Dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat” (HR. Ibnu Majah).

Ustadz Akib menjelaskan bahwa sabda Nabi ini penegasan teologis tentang kemanusiaan. Tidak ada manusia yang sepenuhnya terhindar dari kesalahan, sekalipun memiliki kedudukan tinggi atau kehati-hatian luar biasa dalam menjaga diri.

“Sabda Rasulullah ini menegaskan bahwa kesalahan adalah bagian dari fitrah manusia. Siapa pun dia, apapun status dan kedudukannya, meskipun memiliki tekad kuat dan kehati-hatian luar biasa dalam menjaga diri, tetap akan ada saat di mana ia tergelincir dalam kekhilafan,” ujar Akib yang dikutip dalam notes-nya, pada Selasa, 22 Rabi’ul Akhir 1447 (14/10/2025).

Ia menambahkan bahwa bahkan para nabi dan rasul yang menjadi teladan umat pun tidak dikecualikan dari kemungkinan berbuat salah. Namun, kesalahan mereka selalu diikuti dengan teguran langsung dari Allah sebagai bentuk kasih sayang dan pendidikan bagi umat manusia.

“Para nabi dan rasul, manusia pilihan yang dimuliakan Allah, pun tidak luput dari kesalahan. Bahkan, dalam Al-Qur’an, Allah menampilkan beberapa kisah mereka yang diberi teguran langsung,” jelasnya.

Melalui penjelasan tersebut, Akib menekankan pentingnya sikap rendah hati dan kesadaran diri, terutama bagi mereka yang memegang amanah kepemimpinan atau tanggung jawab publik. Ia menilai bahwa klaim kebenaran mutlak atau merasa diri suci dari kesalahan merupakan bentuk keangkuhan yang harus dihindari.

“Maka, sungguh mengherankan bila ada manusia yang merasa diri selalu benar, apalagi bila ia adalah seorang pemangku amanah,” katanya.

Dalam pandangan Akib, salah satu cara efektif untuk mencegah kesalahan dan memperbaiki keputusan adalah melalui musyawarah. Prinsip ini bukan hanya tuntunan sosial, tetapi juga metode spiritual yang mengandung keberkahan bila dilakukan dengan niat yang tulus.

“Musyawarah adalah jalan penyelamat, yang dapat meminimalisir kesalahan. Meski tidak menjamin kebenaran mutlak, musyawarah membuka ruang bagi pendapat lain yang mungkin luput dari pandangan kita,” tuturnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa musyawarah yang kehilangan keikhlasan akan kehilangan fungsinya sebagai sarana koreksi bersama. Bila hanya dijadikan formalitas atau alat pembenaran bagi kepentingan tertentu, maka manfaatnya akan sirna.

“Namun, bila musyawarah hanya dijadikan formalitas, atau alat legitimasi niat tersembunyi, maka keberkahannya pun sirna,” lanjutnya.

Ustadz Akib kemudian mencontohkan bagaimana Allah memperlakukan para rasul yang melakukan kekeliruan. Dalam setiap peristiwa itu, terdapat pola pendidikan Ilahi yang menunjukkan pentingnya bimbingan dan koreksi agar kesalahan tidak berlarut.

“Para rasul yang menjadi teladan umat manusia tidak dibiarkan terjerumus terlalu jauh. Setiap kali mereka keliru, Allah langsung memberikan teguran atau koreksi, agar kesalahan tidak berlanjut,” ucapnya.

Dari peristiwa tersebut, ia menarik dua pelajaran penting yang dapat diterapkan dalam kehidupan individu maupun jamaah atau harakah. Pertama, manusia harus menyadari bahwa kesalahan merupakan keniscayaan. Kedua, setiap kesalahan harus disikapi dengan kelapangan hati untuk menerima teguran dan memperbaiki diri.

“Dari sini, setidaknya ada dua pelajaran penting. Pertama, kita harus sadar bahwa sebagai manusia biasa, pasti ada saatnya kita berbuat salah. Kedua, kita harus memiliki kelapangan hati untuk menerima teguran dengan jiwa besar,” terangnya.

Lebih lanjut, Ustadz Akib menegaskan bahwa suatu jamaah atau organisasi hanya dapat bertahan dalam kondisi sehat bila di dalamnya tumbuh budaya saling menasihati dengan kasih sayang. Prinsip saling mengingatkan, menurutnya, merupakan mekanisme sosial yang mencegah penyimpangan dan menumbuhkan solidaritas.

“Sebuah jamaah akan berjalan stabil dan sehat bila dalam tubuhnya tumbuh budaya saling menasihati dengan penuh kasih sayang. Bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk saling menjaga agar tidak ada yang larut dalam kesalahan,” jelasnya.

Namun, ia juga memberikan peringatan tegas tentang bahaya ketika budaya kritik dan nasihat mulai dianggap sebagai ancaman. Jika setiap bentuk teguran diartikan sebagai upaya menjatuhkan, maka organisasi atau jamaah tersebut sedang menuju keruntuhan moral dan struktural.

“Namun, sebaliknya, jika budaya saling mengingatkan dianggap sebagai gangguan dan semua bentuk kritik disimpulkan sebagai upaya menjatuhkan, maka kehancuran hanyalah soal waktu,” katanya.

Dalam bagian penutup pesannya, Ustadz Akib memperingatkan tentang fenomena yang lebih berbahaya, yakni munculnya kesepakatan diam di dalam kelompok. Ketika setiap anggota memilih untuk tidak saling menegur demi menjaga kenyamanan semu, maka kebenaran kehilangan tempatnya dan kesalahan menjadi hal yang biasa.

“Lebih mengerikan lagi bila dalam sebuah jamaah tumbuh kesepakatan tak tertulis untuk tidak saling ‘mengganggu’. Setiap orang bebas berkreasi sesuai minat dan kepentingannya, asal tidak menyentuh wilayah kepentingan kelompok lain. Ini adalah awal dari budaya diam yang mematikan, di mana kesalahan dibiarkan dan kebenaran menjadi sunyi,” tegasnya menutup pesan hikmah tersebut.

STIE Hidayatullah Gelar Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana XIII, Bersiap Menjadi Universitas

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah menggelar Sidang Senat Terbuka bertajuk “Sinergi Ekonomi Berkeadaban dalam Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas 2045” dalam rangka Wisuda Angkatan ke-XIII di Hotel Bumi Wiyata, Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu, 19 Rabi’ul Akhir 1447 (11/10/2025).

Ketua Yayasan Hidayatullah Depok, Ust. Lalu Mabrul, S.Pd., M.Pd., mengajak para wisudawan STIE Hidayatullah Depok untuk menjadi generasi emas yang berakhlak mulia, adaptif, dan berdaya saing global.

Dalam sambutannya Lalu Mabrul menegaskan bahwa momentum wisuda bukanlah akhir perjalanan belajar, tetapi awal dari perjuangan nyata di tengah masyarakat.

“Hari ini adalah titik awal, bukan titik akhir. Hari ini adalah puncak dari proses panjang, penuh perjuangan, kerja keras, air mata, dan doa yang tiada henti,” ungkapnya di hadapan para wisudawan, dosen, dan tamu undangan.

Mabrul menekankan, Indonesia tengah memasuki fase penting menuju tahun 2045 — satu abad kemerdekaan. Dalam periode ini, bangsa Indonesia menargetkan terwujudnya Indonesia Emas 2045, sebuah visi besar untuk menjadikan negara ini maju, adil, dan berdaya saing global.

“Namun pertanyaannya, siapa yang akan menjadi penggeraknya? Jawabannya adalah generasi muda saat ini. Merekalah yang hari ini kita wisuda, dan kelak akan memimpin di berbagai sektor ekonomi, pendidikan, pemerintahan, dan teknologi,” ujarnya.

Mabrul mengingatkan bahwa kecerdasan intelektual semata tidak cukup untuk membangun bangsa. Ia menegaskan pentingnya keseimbangan antara ilmu, akhlak, dan spiritualitas.

“Wisuda bukanlah akhir dari proses belajar. Ia adalah gerbang menuju dunia nyata, tempat Anda akan diuji bukan lagi oleh soal ujian, tetapi oleh realitas kehidupan,” katanya di hadapan ratusan wisudawan.

Mengutip hadis Rasulullah SAW, ia menegaskan bahwa ukuran keberhasilan sejati terletak pada kemanfaatan diri bagi sesama. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya,” ucapnya.

Mabrul berharap lulusan STIE Hidayatullah Depok menjadi pribadi yang berilmu, berkarakter, dan siap mengabdi di tengah masyarakat. “Jadilah insan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas spiritual, berkarakter, dan berakhlak mulia,” pesannya.

Dalam kesempatan itu, Mabrul juga mengumumkan bahwa Yayasan tengah berikhtiar meningkatkan status kampus STIE Hidayatullah menjadi universitas. “Insyaallah, sebentar lagi STIE Hidayatullah akan berubah status menjadi universitas. Mohon doanya agar proses ini dimudahkan Allah SWT,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa Yayasan bersama civitas akademika terus berkomitmen memperkuat mutu pendidikan, memperluas jaringan, serta memastikan para lulusan dapat bersaing di tingkat nasional dan global tanpa kehilangan jati diri keislaman.

Pihaknya juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh dosen, staf akademik, dan lembaga mitra yang telah mendukung proses pendidikan. Ia menyebut peran Baitul Maal Hidayatullah (BMH) dan para donatur yang terus memberikan dukungan terhadap mahasiswa boarding. “Semoga Allah membalas segala amal baik dengan pahala berlipat ganda,” ujarnya.

Tak lupa, ia memberikan ucapan selamat kepada para orang tua dan wali mahasiswa. “Anak-anak Anda telah menuntaskan satu fase penting dalam hidup mereka. Terima kasih telah mempercayakan pendidikan putra-putri Anda kepada kami,” katanya.

Menutup sambutannya, Mabrul berharap agar para lulusan menjadi insan yang jujur, amanah, dan membawa keberkahan di manapun berada.

“Semoga ilmu yang Anda miliki menjadi cahaya, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi umat dan bangsa ini,” tutupnya dengan pantun yang sarat makna.

Bunga mawar mekar di taman,
Harumnya semerbak di pagi hari,
Semoga wisuda hari ini membawa amanah dan kemenangan,
Untuk masa depan yang penuh inspirasi

Kerja Bakti Kolosal Hidayatullah, Merawat Tradisi Menyemai Kebersamaan

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Menjelang Musyawarah Nasional (Munas) ke-6 ormas Hidayatullah, aroma kebersamaan kembali mengudara dari Gunung Tembak, Balikpapan.

Di tengah hiruk-pikuk persiapan acara besar itu, warga pondok pesantren, santri, hingga dosen tak sibuk dengan rapat atau seremonial—melainkan dengan cangkul, serok, dan semangat gotong royong.

Pagi yang cerah di Ahad, 20 Rabi’ul Akhir 1447 (12/10/2025), menjadi saksi bagaimana kebersamaan khas Indonesia menemukan napasnya di pesantren.

Sekretaris Pembina Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah, Ustadz Abdul Latief Usman, menegaskan bahwa kerja bakti bukan sekadar rutinitas bersih-bersih.

“Kerja bakti ini adalah bentuk kebersamaan dan tradisi positif yang telah berlangsung turun-temurun di Gunung Tembak,” ujarnya di sela kegiatan.

Menurutnya, kegiatan semacam ini memperkuat ikatan sosial sekaligus menjadi cermin nilai yang diwariskan para pendiri pesantren.

Sejak pagi, seluruh lapisan warga pesantren berbaur tanpa sekat. Santri, mahasantri, guru, ustadz, hingga para pembimbing dan pengurus bahu-membahu membersihkan empang besar di area pesantren.

Mereka mencabut eceng gondok, memungut sampah, dan menata kembali keindahan danau yang menjadi pusat kehidupan kampus tersebut.

Di antara tawa dan keringat, semangat kolektif menyala. “Ayo angkat! Satu, dua, tiga. Allahu Akbar!” seruan itu menggema, disambut sorak para santri yang penuh antusias.

Pemandangan ini seakan meneguhkan makna gotong royong yang menjadi identitas bangsa Indonesia. Dalam bingkai keislaman, kerja bakti di Gunung Tembak tak ubahnya bentuk nyata dari ukhuwah dan kesalehan sosial. Di sinilah nilai luhur bangsa bertemu dengan nilai iman, melebur dalam tindakan sederhana namun bermakna: membersihkan lingkungan bersama-sama.

Salah seorang santri dengan nada riang menyebut kegiatan itu “seru dan asyik.” Ungkapan ringan nan tulus itu menggambarkan suasana penuh keakraban di tengah lumpur dan tumpukan eceng gondok. Tak ada rasa lelah yang tersisa, hanya kepuasan melihat danau kembali bersih, memantulkan langit biru Balikpapan.

Setelah kerja keras berjam-jam, kegiatan ditutup dengan makan bersama di tepi danau. Kue dan nasi bungkus hasil patungan warga dibagikan dan disantap bersama, menambah rasa kekeluargaan yang hangat. Tanpa seremoni, tanpa podium, hanya canda, tawa, dan rasa syukur yang mengalir di antara sendok nasi.

“Selamat Musyawarah Nasional VI Hidayatullah,” ucap Sekretaris YPPH Balikpapan, Ustadz Abul A’la Maududi, menutup kegiatan dengan nada penuh harap.

Kerja bakti hari itu bukan hanya persiapan menyambut Munas, demikian Maududi menyiratkan, tetapi juga pernyataan simbolik bahwa kekuatan sejati organisasi ini lahir dari kebersamaan, dari tubuh tubuh yang rela letih dan berpeluh demi kebaikan bersama.

Kolaborasi UPZ Bank DKI dan BMH Bangun Ekonomi-Spiritual Mualaf Baduy

0

LEBAK (Hidayatullah.or.id) — Di tengah semangat keindonesiaan yang menjiwai setiap pelosok negeri, kampung mualaf Baduy di Leuwidamar, Lebak, Banten, menjadi salah satu potret indah dari perjalanan kebangsaan yang terus belajar untuk saling menguatkan.

Di tempat di mana tradisi masih berdenyut kuat dan alam menjadi guru kehidupan, kolaborasi antara Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Bank DKI dan Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) menghadirkan harapan baru.

Program yang digelar pada Kamis, 17 Rabi’ul Akhir 1447 (9/10/2025) ini tak sekadar soal penyaluran dana zakat. Lebih dari itu, ia merupakan upaya konkret untuk menumbuhkan kemandirian ekonomi dan spiritual para mualaf Baduy. Dalam konteks bangsa yang majemuk, langkah ini menjadi wujud nyata semangat gotong royong dan kepedulian sosial yang tumbuh dari akar budaya Indonesia.

Pengurus UPZ Bank DKI, Ahmad Syaefullah, menegaskan pentingnya membangun kemandirian di tengah masyarakat adat. Ia menaruh harapan besar agar para mualaf mampu berdiri tegak secara ekonomi, namun tetap menjaga identitas dan keberadaan mereka di lingkungan Baduy.

“Tujuannya agar mereka semangat belajar mengaji dan memperdalam agama. Dengan demikian, kehidupan mereka akan menjadi lebih baik,” ujarnya dengan nada optimis.

Ahmad menambahkan bahwa penyaluran dana zakat ini memiliki dasar yang kuat dan tepat sasaran. “Kebetulan, dana zakat untuk asnaf mualaf belum tersalurkan. Karena itu, kami menggandeng BMH sebagai lembaga yang kami percayai untuk menyalurkan dana tersebut dengan profesional dan penuh tanggung jawab,” jelasnya.

Dari pihak BMH, Tim CSR Ikhwanuddin menegaskan bahwa kerja sama ini memiliki nilai strategis yang besar. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya membantu mualaf secara material, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan karakter dan kecerdasan bangsa.

“Program seperti ini sangat penting karena menjadi bagian dari membangun umat dan mencerdaskan bangsa. Zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dapat menjadi modal kuat dalam membangun manusia seutuhnya,” tuturnya.

Ikhwanuddin menilai, langkah UPZ Bank DKI untuk mempercayakan penyaluran zakat kepada BMH merupakan wajah zakat yang progresif yang tidak hanya mengentaskan kemiskinan, tetapi juga mengangkat martabat manusia.

Harapannya, tambah dia, program ini menjadi gerakan berkelanjutan yang menumbuhkan semangat kemandirian dan keimanan para mualaf Baduy tanpa memutus akar budaya mereka.

“Ini demi menciptakan kehidupan yang lebih mandiri dan bermartabat bagi para mualaf,” pungkas Ikhwanuddin.