Beranda blog Halaman 64

LSH Hidayatullah Audiensi dengan BPJPH Bahas Percepatan Sertifikasi Juleha Nasional

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Lembaga Sembelih Halal (LSH) Hidayatullah melakukan silaturrahim sekaligus audiensi ke Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) yang berlangsung di ruang rapat Wakil Kepala BPJPH, Jakarta, pada Selasa, 2 Rabi’ul Awal 1447 (26/8/2025).

Pertemuan tersebut membahas sinergi dalam mendukung percepatan sertifikasi halal dan penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) Juru Sembelih Halal (Juleha).

Rombongan LSH Hidayatullah dipimpin Ketua LSH, Ustadz H. Nanang Hanani, S.Pd.I., M.A., didampingi Ustadz Muhammad Syarif (Bendahara), Ustadz Fahrur Rozi (Sekretaris), Ustadz Iwan Abdullah, M.Si. (Kepala Departemen Diklat), serta Ustadz Zainal Abidin (Bidang Kerjasama & Marketing).

Sementara itu, BPJPH diwakili oleh Wakil Kepala, Ir. Dr. Afriansyah Noor, beserta staf ahli, Ibu Gina dari Bidang Pengawasan, serta tim pengawasan dengan latar belakang kedokteran hewan dan peternakan.

Dalam paparannya, Afriansyah Noor menjelaskan strategi BPJPH dalam mempercepat sertifikasi halal melalui program self declare bagi warung makan serta penyusunan standar dan regulasi Juleha.

Ia menegaskan bahwa target nasional adalah menghadirkan dua Juleha tersertifikasi di setiap desa.

“Dengan sekitar 80.000 desa di Indonesia, berarti ada 160.000 Juleha yang harus dilatih dan disertifikasi. Untuk itu kami berharap LSH Hidayatullah ikut mendukung pencapaian target ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, Afriansyah menyoroti kebutuhan penguatan lembaga pendukung ekosistem halal.

Dia mengatakan, kita perlu memperbanyak Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) dan Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LP3H).

SDM layanan seperti Pendamping Proses Produk Halal (P3H), penyelia halal, auditor halal, serta juru sembelih halal harus ditingkatkan jumlah dan kompetensinya.

Ia juga membuka peluang pengiriman tenaga profesional Juleha ke luar negeri untuk memenuhi standar global.

Dari pihak LSH Hidayatullah, Ketua Nanang Hanani menyampaikan kesiapan lembaganya untuk bersinergi dengan BPJPH.

Ia menekankan pentingnya pengawasan di Rumah Potong Hewan (RPH) dan Rumah Potong Unggas (RPU) agar praktik penyembelihan sesuai syariat.

“Kami menemukan bahwa masih banyak standar penyembelihan yang belum dijalankan secara benar. LSH Hidayatullah siap terlibat dalam penyusunan standarisasi, pelatihan, hingga pengawasan lapangan,” jelasnya.

Nanang juga melaporkan bahwa LSH Hidayatullah saat ini telah berkembang menjadi lembaga berskala nasional dengan pengurus wilayah di 28 provinsi.

Lembaga ini telah menyelenggarakan pelatihan bersertifikat BNSP dan menargetkan pembangunan rumah potong unggas di seluruh pondok pesantren Hidayatullah.

“Harapannya, kami dapat melayani kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung industri halal nasional yang dimulai dari hulu, yaitu penyembelihan halal sesuai syariah,” tambahnya.

Menanggapi hal tersebut, BPJPH membuka ruang kolaborasi strategis. LSH Hidayatullah didorong untuk turut serta dalam penyusunan standar, pengawasan pelaksanaan, serta pelatihan bagi SDM Juleha.

Bahkan, ada usulan dari pihak LSH agar staf pengawasan BPJPH dengan latar belakang kedokteran hewan dan peternakan mengikuti pelatihan Juleha untuk memperkuat pemahaman teknis penyembelihan sesuai syariat.

Audiensi ini ditutup dengan kesepahaman bahwa percepatan sertifikasi halal dan pemenuhan target 160.000 Juleha nasional hanya dapat tercapai melalui sinergi pemerintah dan lembaga masyarakat.

BPJPH menegaskan kembali pentingnya integritas ekosistem halal, sementara LSH Hidayatullah menyatakan komitmennya untuk berperan aktif dalam pelatihan, standarisasi, dan pengawasan lapangan.

Sejarah Pertemuan Nasional Gen-Z di Balikpapan, Bersama Menuju Indonesia Emas 2045

0
Gelaran Jambore Nasional Pramuka Hidayatullah 2025 tidak hanya menjadi ajang perkemahan, tetapi juga ruang perjumpaan lintas generasi yang memperlihatkan bagaimana tradisi dapat diwariskan dengan penuh semangat kebersamaan. (Foto: Masykur Suyuthi/ Dok. ISCH)

BERBICARA Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak Teritip, Balikpapan, Kaltim, artinya mengingat sejarah. Salah satu riwayat yang terawat hingga hari ini adalah pertemuan nasional, utamanya Silaturrahim Nasional (Silatnas).

Namun sekarang ada yang benar-benar berbeda dari helatan nasional di lokasi Hidayatullah lahir dan berkembang itu. Yakni Jambore Nasional (Jamnas) Pramuka Hidayatullah.

Pesertanya jelas bukan generasi “kolonial” dan milenial, tapi Gen-Z. Generasi yang diharapkan ke depan dapat mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Tak heran, kalau Gubernur Kaltim hingga Menteri Pemuda dan Olahraga sangat bangga dan berbicara penuh antusias dalam sambutan pada rangkaian pembukaan Jamnas pada Kamis, 21 Agustus 2025.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Hidayatullah. Karena ini adalah jambore nasional yang ke-3, yang sudah berstatus Sako. Ini artinya komitmen dan juga kontribusi dari Hidayatullah dalam mendidik para muridnya, para santrinya dengan jiwa kepramukaan sudah tidak perlu kita pertanyakan lagi,” ujar Menpora RI Dito Ariotedjo di hadapan ribuan peserta dan tamu undangan.

Progresivitas Pendidikan Generasi Bangsa

Pernyataan Menpora mengandung pengakuan bahwa Hidayatullah telah membuktikan konsistensinya dalam mengembangkan pendidikan berbasis kepramukaan.

Status jambore yang sudah masuk kali ketiga dan resmi sebagai Satuan Komunitas Nasional (Sakonas) menjadi indikator nyata bahwa kiprah ini bukan sekadar seremonial, melainkan hasil dari komitmen panjang dan kontribusi berkelanjutan.

Secara rasional, hal ini menegaskan bahwa Hidayatullah memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai karakter, kemandirian, dan kepemimpinan melalui wadah kepramukaan.

Pesan beliau juga menggarisbawahi bahwa kualitas pembinaan santri sudah diakui, sehingga tidak perlu diragukan.

Dengan kacamata optimis, pernyataan ini bisa dimaknai sebagai dorongan agar Hidayatullah terus memperluas peran pendidikan dan pembinaan generasi muda, bukan hanya dalam lingkup internal pesantren, tetapi juga memberi warna dalam pendidikan nasional.

Sementara dari sudut pandang visioner, pengakuan Menpora tersebut dapat dibaca sebagai landasan legitimasi untuk melangkah lebih jauh bahwa Hidayatullah berpotensi menjadi pelopor dalam membentuk generasi emas 2045, melalui integrasi nilai agama, kebangsaan, dan kepramukaan yang solid.

Menpora RI Dito Ariotedjo menjadi Pembina Upacara saat pembukaan Jambore Nasional (Jamnas) Pramuka Hidayatullah 2025 (Foto: Masykur Suyuthi/ Dok. ISCH)
Kiprah dan Kiprah

Berdasarkan uraian itu maka ke depan, Hidayatullah, utamanya Gunung Tembak harus bisa menjadi sentral pembinaan generasi bangsa, salah satunya melalui Pramuka. Bahkan Gunung Tembak relevan jika menyiapkan diri menjadi bumi perkemahan yang representatif untuk regional Kalimantan bahkan nasional.

Mengapa demikian? Karena ke depan, kita harus menyiapkan generasi bangsa dan umat yang siap berkiprah. Menunjukkan kemampuannya, kecerdasannya, bahkan akhlaknya, sehingga anak-anak muda ke depan rindu ke Gunung Tembak. Bukan karena semata ada kisah heroik masa lalu, tapi juga karena terbentang medan untuk menyiapkan diri berkiprah lebih luas bagi bangsa bahkan dunia.

Wajah-wajah muda, peserta Jamnas III kali ini, akan mengukir masa depan Indonesia. Dan, saya sangat yakin, sebagian besar dari mereka, kelak, pada 2045 pasti rindu dan bangga datang kembali ke Gunung Tembak.

Bukan untuk bercerita bagaimana Jamnas 2025 sangat mengesankan. Tetapi ia menawarkan generasi berikutnya untuk Jamnas ke sekian pada tahun itu dengan deklarasi kebangsaan yang menggetarkan dunia.

Belum terbayang memang sekarang, tapi itu sangat mungkin menjadi kenyataan. Apalagi kalau meresapi arti dari lambang pramuka: Buah Nyiur. Yang pesannya sangat jelas bahwa tiap Pramuka merupakan inti bagi kelangsungan hidup bangsa Indonesia.

Saat itu terjadi 50 tahun kedua Hidayatullah, generasinya telah menemukan bukti baru untuk mendaki ke 100 tahun kedua Hidayatullah. Insya Allah. Kuncinya perkuat pendidikan dan dakwah melalui berbagai instrumen yang relevan, legal dan progresif.

*) Imam Nawawi, penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Pemuda Hidayatullah 2020-2023, Direktur Progressive Studies & Empowerment Center (Prospect)

Al-Qur’an Bukan Sekadar Bacaan, Tapi Rujukan Kehidupan

0
Foto: Al Qur’an Karim/ Dream Lab

AL QUR’AN bukan sekadar kitab suci yang dibacakan dalam shalat, dilantunkan dengan indah di majelis, atau dihormati dengan disimpan rapi di lemari kaca. Lebih dari itu, ia adalah rujukan utama, pedoman hidup, dan cahaya penerang bagi manusia dalam menapaki jalan kehidupan.

Allah ﷻ menurunkan Al-Qur’an untuk memberi arah, menetapkan hukum, dan menuntun manusia agar tidak tersesat di tengah gelombang zaman yang penuh ujian.

Sebagaimana dijelaskan Syaikh Dr. Aaidh ibn Abdullah al-Qarni dalam Tafsir Al-Muyassar:

أَنْزَلَ اللهُ -تَعَالَى- الْقُرْآنَ الْكَرِيمَ، وَجَعَلَهُ مَرْجِعًا لِلْخَلْقِ فِي مَعْرِفَةِ أَحْكَامِ الدِّينِ الْإِسْلَامِيِّ، وَقَدْ أَوْدَعَ اللهُ -تَعَالَى- فِيهِ الْأَحْكَامَ الشَّرْعِيَّةَ الَّتِي تُنَظِّمُ الْحَيَاةَ مِنْ بَيْعٍ، وَشِرَاءٍ، وَزَوَاجٍ، وَعِبَادَةٍ، وَأَخْلَاقٍ، وَمُعَامَلَاتٍ

“Allah ﷻ menurunkan Al-Qur’an Al-Karim, dan menjadikannya sebagai rujukan bagi manusia dalam mengetahui hukum-hukum agama Islam. Allah ﷻ telah menitipkan di dalamnya hukum-hukum syariat yang mengatur kehidupan, mulai dari jual beli, transaksi, pernikahan, ibadah, akhlak, hingga muamalah.”

Al-Qur’an adalah panduan yang lengkap. Ia tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga menyentuh urusan sosial, ekonomi, hingga akhlak sehari-hari. Karena itu Allah menegaskan:

مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ

“Kami tidak mengabaikan sesuatu pun di dalam Kitab ini” (QS. Al-An‘ām: 38)

Dan dalam ayat lain:

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا لِلنَّاسِ فِي هَذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ

“Dan sungguh, telah Kami jelaskan berulang kali kepada manusia dalam Al-Qur’an ini dengan segala macam perumpamaan.” (QS. Al-Isrā’: 89).

Al-Qur’an dan Kehidupan Sehari-hari

Seringkali kita menganggap Al-Qur’an hanya berhubungan dengan ibadah mahdhah seperti shalat, puasa, zakat, atau haji.

Padahal, ia juga mengatur soal muamalah tentang bagaimana kita bertransaksi dengan jujur, menikah dengan benar, menjaga amanah, serta bersikap adil kepada sesama.

Bayangkan bila manusia hidup tanpa rujukan. Maka arah hidup akan kabur, nilai kebaikan dan keburukan bisa tertukar, dan kebenaran menjadi relatif. Tetapi ketika Al-Qur’an dijadikan rujukan, maka ada fondasi yang kokoh dalam menimbang setiap langkah.

Pertanyaannya sekarang, sejauh mana kita menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam hidup? Apakah ia hanya menjadi bacaan di bulan Ramadan, atau benar-benar menjadi rujukan setiap keputusan?

Membaca Al-Qur’an itu mulia, tetapi memahami dan mengamalkannya jauh lebih utama. Membumikan Al-Qur’an dalam kehidupan berarti menghadirkan nilainya dalam cara kita bekerja, berkeluarga, bergaul, bahkan bermasyarakat.

Jika Al-Qur’an mengatakan “jangan mendekati riba”, maka dalam bisnis kita menjauhinya. Jika Al-Qur’an menyeru kepada keadilan, maka kita berusaha menegakkannya meski kepada orang terdekat. Jika Al-Qur’an mengajarkan akhlak, maka tutur kata dan sikap kita pun mencerminkan kelembutan itu.

Al-Qur’an sebagai Obat Hati

Hidup manusia tidak hanya butuh aturan, tetapi juga penghiburan. Al-Qur’an hadir sebagai syifa’ (obat) bagi hati yang gelisah, cahaya bagi jiwa yang kelam, dan peneguh bagi langkah yang goyah.

Ketika kita lelah, Al-Qur’an menenangkan. Ketika kita kehilangan arah, ia menunjukkan jalan. Dan ketika kita terjatuh dalam kesalahan, ia mengingatkan dengan penuh kasih bahwa pintu taubat selalu terbuka.

Maka mari kita jadikan Al-Qur’an bukan hanya bacaan yang disuarakan lisan belaka, melainkan pedoman nyata dalam kehidupan.

Membaca Al-Qur’an adalah awal, memahami maknanya adalah langkah lanjut, dan mengamalkannya adalah tujuan sejati.

Setiap kali kita membuka mushaf, sesungguhnya kita sedang membuka dialog dengan Allah ﷻ. Setiap ayat yang dibaca bukan hanya lantunan huruf, tetapi pesan cinta dan peringatan yang mengarahkan kita menuju jalan keselamatan.

Hidup ini singkat. Dunia terus berubah, nilai-nilai bergeser, dan manusia selalu tertawan yang sewaktu waktu bisa kehilangan arah. Tetapi Al-Qur’an tetap kokoh, tetap relevan, tetap menjadi cahaya di setiap zaman.

Marilah kita kembali menempatkan Al-Qur’an sebagai rujukan utama. Bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam cara kita bersikap, bekerja, berinteraksi, dan membangun peradaban.

Karena pada akhirnya, siapa yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an, tidak akan pernah tersesat jalan.

*) Ust. Drs. Khoirul Anam, penulis alumni Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, Jatim, Anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Hidayatullah Sumut, pengisi kajian rutin Tafsir Al Qur’an di Rumah Qur’an Yahfin Siregar Tamora dan pengasuh Hidayatullah Al-Qur’an Learning Centre Medan

Peluncuran Logo Baru Laznas BMH, Perubahan Strategis untuk Menebar Kebaikan

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (Laznas BMH) meluncurkan logo barunya dalam konferensi pers bertajuk “Menguatkan Citra, Memperluas Amal, Menebar Kebaikan” di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jakarta, pada Selasa, 2 Rabi’ul Awal 1447 (26/8/2025).

Direktur BMH, Supendi, menjelaskan bahwa pembaruan logo ini merefleksikan transformasi lembaga sekaligus mempertegas kontribusi zakat dalam pembangunan masyarakat.

“Perubahan adalah sebuah hal yang wajar, bahkan sesuatu pada titik tertentu harus melakukan perubahan. Ini menjadi harapan baru bagi BMH untuk lebih profesional dalam menjawab tantangan masa depan yang akan datang,” ungkapnya.

Logo terdiri dari tiga unsur utama, yakni ikon atau logogram, singkatan “bmh” dengan huruf kecil sebagai lettermark, serta tulisan lengkap Baitul Maal Hidayatullah sebagai logotype.

Di dalamnya, pola huruf “H” menjadi simbol kekuatan organisasi Hidayatullah yang kokoh dan konsisten dalam dakwah.

Sementara huruf “Z” melambangkan zakat, pilar utama BMH sebagai instrumen penguatan ekonomi umat yang dapat membawa manfaat nyata, serta menjadi fondasi untuk menciptakan kesejahteraan sosial yang lebih luas dan merata.

Selain itu, terdapat simbol dua tangan yang terhubung, merepresentasikan peran BMH sebagai perantara terpercaya antara donatur dan penerima manfaat. Simbol ceklis hadir sebagai tanda profesionalitas dan standar tinggi yang dijunjung lembaga.

Pilihan warna juga mengandung makna filosofis. Hijau menggambarkan pertumbuhan, kesejahteraan, serta pembangunan berkelanjutan.

Sedangkan oranye muda melukiskan semangat sinergi, integritas, serta kemampuan adaptasi di tengah perubahan zaman.

Menurut Supendi, pembaruan identitas ini merupakan langkah strategis yang sudah dipersiapkan sejak 2024.

“Perubahan logo ini tidak instan. Perubahan logo ini tertera dalam renstra BMH dimana perubahan ini menjadi sesuatu yang sangat strategis yang dimulai sejak awal tahun 2024,” jelasnya.

Ia menambahkan, peluncuran ini sekaligus menjadi tonggak awal sosialisasi secara nasional.

“Dengan launching logo baru BMH ini, maka perubahan logo branding BMH sudah mulai dilakukan secara nasional secara luas, termasuk kehadiran teman-teman wartawan pada kesempatan hari ini menjadi media ikhtiar kita untuk menyampaikan kabar kebaikan ini kepada masyarakat secara luas,” katanya.

Munas VI Hidayatullah Dimulai dengan Semangat Sehat melalui HijauRun

0

BOGOR (Hidayatullah.or.id) – Peserta dari berbagai kalangan memadati Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, Ahad, 30 Shafar 1447 (24/8/2025). Mereka mengikuti flag off gerakan nasional HijauRun bertema “Berlari dan Hijaukan Bumi.”

Acara ini menandai dimulainya kampanye hidup sehat dan peduli lingkungan yang diprakarsai Hidayatullah dalam rangka menyambut Musyawarah Nasional (Munas) VI pada Oktober mendatang.

Bagi Ketua Panitia Munas VI, Marwan Mujahidin, HijauRun adalah bentuk dakwah yang inovatif.

“Lebih dari sekadar olahraga, HijauRun menjadi sarana edukasi. Ia menghubungkan gaya hidup sehat dengan kepedulian terhadap bumi, sehingga dakwah bisa menjangkau kalangan yang lebih luas, termasuk generasi muda,” ujar Marwan.

Menurutnya, tantangan kesehatan masyarakat saat ini semakin kompleks. Data Kementerian Kesehatan menyebutkan prevalensi penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir. Pola hidup sedentari dan kurangnya aktivitas fisik menjadi faktor penyebab utama.

“Melalui HijauRun, kami ingin mengajak masyarakat membangun budaya sehat. Berlari adalah aktivitas sederhana, murah, dan bisa dilakukan semua orang. Jika disertai dengan kesadaran menjaga lingkungan, manfaatnya menjadi berlipat,” jelas Marwan.

Selain itu, olahraga memiliki dimensi sosial yang kuat. Kegiatan lari massal seperti HijauRun memperkuat solidaritas masyarakat sekaligus menumbuhkan semangat kebersamaan. Momentum ini, kata Marwan, selaras dengan semangat Munas VI yang ingin membangun kontribusi umat dalam menghadapi tantangan kebangsaan dan global.

Ketua Panitia Flag Off HijauRun, Ahmad Maghfur Gunawan, menambahkan bahwa acara di Pakansari dikemas secara inklusif.

“Kami berusaha melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari pelajar, mahasiswa, komunitas olahraga, hingga keluarga. Gerakan ini bukan hanya untuk atlet, tetapi untuk semua kalangan yang peduli kesehatan dan lingkungan,” ungkap Ahmad.

Acara HijauRun di Pakansari juga melibatkan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kabupaten Bogor, yang selama ini aktif mengampanyekan olahraga rekreasi sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Kehadiran Muslimat Hidayatullah (Mushida) turut memperkaya acara dengan aksi nyata penanaman pohon produktif di sekitar stadion.

Dengan demikian, terang Marwan, olahraga tidak hanya dipahami sebagai aktivitas kebugaran, tetapi juga kontribusi ekologis. Gerakan tanam pohon diintegrasikan sebagai simbol keseimbangan antara jasmani dan lingkungan.

Marwan menegaskan, dakwah lingkungan seperti HijauRun memiliki relevansi yang tinggi di tengah krisis global. Menurut catatan iklim, Mei 2025 menjadi salah satu bulan terpanas dalam sejarah, dengan suhu global naik 1,4°C di atas level pra-industri.

“Dengan semangat berlari, peserta juga belajar bahwa tubuh yang sehat adalah kunci untuk menghadapi tantangan zaman. Apalagi di tengah ancaman iklim dan kesehatan publik yang semakin serius,” katanya.

Kegiatan ini tidak berhenti di Bogor. HijauRun juga digelar serentak di berbagai daerah di Indonesia, menegaskan luasnya jaringan sosial Hidayatullah. Partisipasi masyarakat di daerah menjadi bukti bahwa olahraga bisa menjadi medium dakwah sekaligus sarana memperkuat kohesi sosial.

“Pesan utama yang ingin ditegakkan adalah kesehatan dan lingkungan adalah satu kesatuan. Tidak ada tubuh sehat tanpa bumi yang sehat, dan sebaliknya. Melalui HijauRun, masyarakat diajak bergerak bersama, menapaki jalan yang menyehatkan tubuh sekaligus melestarikan bumi,” katanya.

Kibaran Merah Putih Raksasa Warnai Perkemahan Nasional Sako Pramuka Hidayatullah

0

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Sejarah istimewa tercipta dalam Perkemahan Nasional Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Islam III Hidayatullah atau The 3rd National Islamic Scout Camp of Hidayatullah (ISCH III) yang berlangsung di bumi Kampus Induk Hidayatullah, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Dalam momentum rangkaian Jambore Nasional (Jamnas) Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Hidayatullah itu, bendera Merah Putih berukuran seribu meter persegi terbentang megah di lapangan Aglasra, Gunung Tembak Teritip.

Bendera raksasa tersebut diarak oleh ratusan santri pramuka Hidayatullah tingkat Penggalang. Prosesi berlangsung khidmat dengan iringan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” yang dinyanyikan bersama-sama.

Para peserta Jamnas mengibarkan bendera tersebut di tengah lapangan dengan disaksikan tamu undangan serta sejumlah pejabat pemerintah yang hadir. Suasana semakin semarak ketika teriakan “Allahu Akbar, Merdekaa!” menggema dari para santri.

Anggota Majelis Pembina Nasional (Mabinas) Sako Pramuka Hidayatullah, Kak Supriyadi, menyampaikan bahwa ISCH III merupakan momentum penting bagi generasi muda.

“Silaturahim akbar yang kita lakukan, semua seperti main-main. Tapi orang dewasa mengerjakan tidak dengan main-main,” ujarnya pada Kamis, 21 Agustus 2025.

Mantan Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka ini menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar perkemahan biasa, melainkan wujud nyata komitmen Hidayatullah kepada bangsa dan negara.

“Ini bukan hanya sekadar perkemahan. Tapi tahun 2045 pertaruhannya, merekalah yang akan memimpin bangsa Indonesia,” lanjutnya.

Lebih jauh, Kak Pri menjelaskan bahwa seluruh pemangku kepentingan Hidayatullah, termasuk pendiri dan pembina, telah menyepakati falsafah dasar serta landasan bangsa sebagai jati diri yang tak bisa ditawar.

“Tinggal bagaimana bersungguh-sungguh menyiapkan generasi emas yang akan mengisi kemerdekaan dan melanjutkan pembangunan bangsa tercinta ini,” ucapnya.

Ia juga mengingatkan sejarah penting yang telah ditorehkan sebelumnya oleh Satuan Tugas SAR Hidayatullah. Pada 21 Mei 2013, tim tersebut berhasil mengibarkan bendera Merah Putih berukuran seribu meter persegi di atas menara bambu setinggi 67 meter, yang dicatat sebagai rekor dunia “The Largest Flag Flown In A Flag Bamboo Pole”. Acara bersejarah itu turut dihadiri Gubernur Kalimantan Timur saat itu, Awang Faroek Ishak.

Menurut Kak Pri, pengibaran bendera raksasa di Jamnas kali ini melanjutkan tradisi kecintaan Hidayatullah terhadap Indonesia.

“Ini satu bentuk manifestasi, kibaran bendera atau berkibarnya bendera rekor dunia yang belum dapat digeser oleh siapapun dan akan kami pertahankan sebagai bentuk manifestasi kekuatan adik-adik menyongsong generasi emas Indonesia,” tegasnya.

Ia menambahkan, sejarah yang tercipta di Jamnas bukan hanya milik peserta, tetapi juga bagian dari perjalanan Sako Pramuka Hidayatullah.

“Belum ada pramuka di dunia yang mengalahkan. Rekor dunianya ada di Sako Pramuka Hidayatullah,” pungkasnya sebelum mengakhiri dengan pekikan takbir yang disambut serentak peserta perkemahan.

Momentum jambore nasional ini menjadi ajang silaturahmi dan pembinaan generasi muda yang berakar pada nilai kebangsaan, spiritualitas, dan semangat persatuan.

Hidayatullah Halal Festival Semarakkan Road to Musyawarah Nasional VI 2025

0

KUDUS (Hidayatullah.or.id) – Menyongsong Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah tahun 2025, Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah menyelenggarakan Hidayatullah Halal Festival di Yayasan Al-Aqsho Pondok Pesantren Hidayatullah, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Ahad, 30 Safar 1447 (24/8/2025).

Kegiatan yang berlangsung setengah hari ini diikuti sekitar 150 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Ketua panitia sekaligus Ketua LPH Hidayatullah Jawa Tengah, Muhammad Hamdan, menjelaskan bahwa festival ini merupakan bagian dari rangkaian menuju Munas VI Hidayatullah yang akan digelar Oktober 2025.

“Harapannya, melalui kegiatan ini bapak-ibu, para pelaku UMKM dapat memahami regulasi sertifikasi halal dan segera mengurusnya baik melalui program self-declare maupun reguler. Sehingga, nantinya produk halal bapak-ibu bisa menambah datangnya keberkahan,” ujarnya.

Ketua LPH Hidayatullah, Muhammad Faisal, menegaskan bahwa kehadiran lembaga ini merupakan wujud komitmen organisasi untuk memperkuat ekosistem halal di Indonesia.

Ia mengingatkan kembali keputusan Munas V tahun 2020 yang menempatkan Hidayatullah sebagai pelopor halal nasional.

“Pada Munas V Tahun 2020, salah satu kebijakan strategis organisasi Hidayatullah adalah jadi pelopor halal Indonesia dengan memberikan edukasi kepada masyarakat supaya lebih memperhatikan kehalalan pangan yang mereka konsumsi setiap hari,” katanya.

Gerakan Halal sebagai Gaya Hidup

Sementara itu, Sekretaris Satgas Halal Kanwil Kemenag Jawa Tengah, Ahmad Ridaurrahman, memberikan apresiasi atas terselenggaranya festival ini.

Menurutnya, gerakan halal kini sudah menjadi gaya hidup masyarakat, termasuk di kalangan UMKM.

“Kami siap kolaborasi dengan LPH dan LP3H Hidayatullah supaya UMKM Jawa Tengah segera naik kelas,” tegasnya.

Ridaurrahman juga menyampaikan bahwa pemerintah menyediakan satu juta kuota sertifikasi halal gratis melalui program SEHATI yang bisa dimanfaatkan pelaku usaha.

Ketua MUI Kabupaten Kudus, Kiai Ahmad Hamdani, turut menekankan pentingnya aspek kehalalan, bukan hanya dari produk akhir tetapi juga dari cara mendapatkannya.

Dalam kesempatan yang sama, Hidayatullah meresmikan Al-Aqsho Halal Center sebagai wadah layanan halal bagi masyarakat.

Acara ini mendapat dukungan dari berbagai sponsor, termasuk Mushida, BTH, Gotri Resto, Nahla, Deoja, Belicendol, Barizama, dan Zoya. Kolaborasi lintas sektor tersebut memperlihatkan komitmen bersama dalam memperkuat ekosistem halal nasional.

“Melalui Hidayatullah Halal Festival, LPH Hidayatullah berharap dapat terus memberikan kontribusi nyata bagi UMKM dan memperkuat visi menjadikan Indonesia pusat halal dunia,” tandas panpel.

Visitasi dan Pelatihan Grand MBA Tingkatkan Kualitas Dakwah di Kalimantan

0

SAMARINDA (Hidayatullah.or.id) — Gerakan Dakwah Nasional Membaca dan Belajar Al-Qur’an (GranD MBA) bersama Badan Koordinasi Pengembangan Tilawah al-Qur’an (BKPTQ) Pusat melaksanakan rangkaian visitasi dan pelatihan di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan pada pertengahan hingga akhir Agustus 2025.

Program ini juga melibatkan Ketua Departemen Komunikasi dan Penyiaran Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Drs. Shohibul Anwar, serta didukung oleh Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai).

Rangkaian kegiatan terbagi dalam tiga agenda utama. Pertama, visitasi dan pendampingan Majelis Quran Hidayatullah (MQH) dan Rumah Quran Hidayatullah (RQH) percontohan di Kalimantan Timur pada 17–20 Agustus 2025.

Kegiatan ini mencakup peninjauan enam titik, antara lain RQH di Bontang, Samarinda, Balikpapan, Penajam Paser Utara, Paser, serta MQH di Baru Kajang.

Kedua, visitasi dan pendampingan Sekolah Dai (SDH) DPW Hidayatullah Kalimantan Timur pada 19 Agustus 2025 yang berpusat di Samarinda.

Ketiga, pelatihan dai dan guru mengaji DPW Hidayatullah Kalimantan Selatan yang berlangsung pada 22–24 Agustus 2025 dengan peserta daerah GranD MBA se-Kalsel.

Koordinator GranD MBA Pusat, Ust. H. Muhdi Muhammad, menegaskan bahwa rangkaian kegiatan ini dirancang untuk memperkuat basis pendidikan Al-Qur’an sekaligus melahirkan dai dan guru mengaji yang kompeten.

“Program ini tidak hanya berupa asesmen, tetapi juga standardisasi dan peningkatan kualitas. MQH dan RQH percontohan di Kalimantan Timur kami dorong agar mampu menjadi model pembelajaran Al-Qur’an yang berkelanjutan dan berdaya guna,” ungkapnya.

Selain fokus pada MQH dan RQH, tim GranD MBA juga memberikan perhatian pada Sekolah Dai Hidayatullah di Samarinda. Asesmen dan standardisasi SDH dilakukan untuk memastikan kurikulum, metode pengajaran, dan kualitas sumber daya manusia berjalan sesuai standar nasional Hidayatullah.

“Kami ingin memastikan SDH Kalimantan Timur dapat menjadi pusat pengkaderan dai yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki keterampilan komunikasi dan kepemimpinan,” tambah Ust. Muhdi.

Sementara itu, di Kalimantan Selatan, kegiatan difokuskan pada sosialisasi serta pelatihan program GranD MBA. Para peserta yang berasal dari berbagai daerah mendapatkan pembekalan intensif mengenai strategi pembelajaran Al-Qur’an, teknik mengajar, serta pembinaan kader dakwah.

Ust. Muhdi menilai agenda ini krusial karena kualitas muallim dan muallimat menjadi fondasi utama keberhasilan dakwah di masyarakat.

“Peningkatan kualitas dai dan guru mengaji adalah investasi jangka panjang. Dari sinilah akan lahir generasi Qur’ani yang siap memimpin umat menuju peradaban mulia,” tegasnya.

Muhdi menyebutkan, kegiatan GranD MBA di Kalimantan ini memiliki enam tujuan utama, yaitu asesmen dan standardisasi MQH/RQH percontohan, asesmen dan standardisasi Sekolah Dai, sosialisasi program di Kalimantan Selatan, peningkatan kualitas MQH/RQH, peningkatan kualitas SDH, serta peningkatan kapasitas para muallim dan muallimat.

“Kegiatan juga sebagai upaya berkelanjutan dan komitmen Hidayatullah dalam menguatkan pendidikan berbasis Al-Qur’an di daerah,” katanya.

Kehadiran tim pusat bersama jaringan dai daerah diharapkan mempercepat proses standarisasi mutu sekaligus melahirkan pusat-pusat pembelajaran yang menjadi teladan.

Dalam rangkaian kegiatan ini hadir pengurus Badan Koordinasi Pengembangan Tilawah al-Qur’an dan turut dibersamai Ustadz Charles Joesoef selaku Ketua Sekolah Dai Kalimantan Timur.

“Tentu harapannya adalah agar visi mencetak generasi Qur’ani dan dai profesional dapat diwujudkan secara bertahap dan berkesinambungan,” tandas Muhdi

Hidayatullah Gaungkan Kampanye HijauRun untuk Hidup Sehat dam Pelestarian Bumi

0
Foto: Yacong B. Halike/ Hidayatullah.or.id)

BOGOR (Hidayatullah.or.id) – Kegiatan bertajuk “Berlari dan Hijaukan Bumi” diawali dengan acara flag off yang menandai peluncuran resmi kampanye nasional gerakan hidup sehat dan ramah lingkungan HijauRun yang diinisiasi oleh Hidayatullah di Stadion Pakansari, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahad, 30 Safar 1447 (24/8/2025).

Pelepasan bendera ini digelar serentak di berbagai daerah di Indonesia dalam bentuk virtual run dan dikaitkan dengan penyelenggaraan Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah yang akan berlangsung Oktober mendatang.

Ketua Panitia Munas VI, Marwan Mujahidin, menegaskan bahwa HijauRun merupakan bentuk dakwah yang meneguhkan peran Hidayatullah di bidang pendidikan dan lingkungan.

“Sebagai gerakan dakwah dan pendidikan yang telah menyebar ke seluruh Nusantara, Hidayatullah terus berikhtiar memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan umat. Melalui HijauRun, dakwah lingkungan diintegrasikan dengan gaya hidup sehat dan kreatif, sekaligus menjangkau generasi muda,” ujar Marwan.

Ia menambahkan, HijauRun tidak hanya menjadi kegiatan olahraga, melainkan juga sarana edukasi dan partisipasi publik. Dua isu krusial yang diangkat adalah kesadaran akan kesehatan tubuh dan kelestarian alam.

Menurut catatan iklim global, Mei 2025 mencatat suhu rata-rata dunia naik 1,4°C di atas level pra-industri, menjadikannya bulan terpanas kedua dalam sejarah. Di Indonesia, tren kenaikan suhu juga terus berlanjut.

“Dengan semangat berlari, peserta turut menanam kebaikan bagi bumi. Apalagi di tengah ancaman pemanasan global yang nyata, kegiatan seperti ini harus menjadi tradisi baru bangsa,” imbuh Marwan.

Foto: Yacong B. Halike/ Hidayatullah.or.id

Selain isu iklim, permasalahan lingkungan seperti deforestasi, pencemaran air, polusi udara, dan problem sampah juga menjadi latar penting dari kampanye HijauRun.

Marwan menekankan, Hidayatullah berkomitmen mengedepankan solusi berbasis komunitas dengan pendekatan Islam rahmatan lil alamin. Prinsip khalifah fil ardh dijadikan kerangka moral dalam menjaga keberlanjutan alam.

“Upaya kolektif ini akan memperkuat kohesi sosial sekaligus spiritualitas umat. Hanya dengan kolaborasi lintas sektor dan komitmen jangka panjang, Indonesia bisa menjadi lebih hijau dan tangguh menghadapi perubahan iklim,” tandasnya.

Acara di Stadion Pakansari juga menggandeng Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kabupaten Bogor serta Muslimat Hidayatullah (Mushida) yang melakukan penanaman pohon produktif di area sekitar stadion.

Ketua Panitia Flag Off, Ahmad Maghfur Gunawan, menambahkan bahwa kegiatan ini juga dirancang sebagai bentuk partisipasi publik dalam menyemarakkan Munas VI Hidayatullah.

“HijauRun menjadi ruang kolaborasi untuk membangun kesadaran kolektif, baik melalui olahraga maupun penghijauan. Ini adalah momentum menghubungkan dakwah dengan aktivitas sosial yang berdampak langsung,” kata Ahmad.

Ahmad menambahkan, HijauRun menjadi tonggak awal kampanye besar yang memadukan dakwah, kesehatan, dan ekologi.

“Dari Bogor, pesan tersebut digulirkan ke seluruh Nusantara menuju Indonesia Emas 2045,” tukasnya menandaskan.

Pelatihan Amil Leader Batch3 2025 Ditutup, Peserta Didorong Siap Berubah dari Hal Kecil

0
Foto: Yoga Agus Yulianto/ Hidayatullah.or.id

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Acara penutupan Pelatihan Kepemimpinan Amil Leader Baitul Maal Hidayatullah (BMH) 2025 Batch3 berlangsung khidmat di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, Jumat, 28 Safar 1447 (22/8/2025). Kegiatan ini ditutup secara resmi oleh Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Ust. Dr. Paryadi Abdul Ghofar Hadi, M.Pd.

Pelatihan yang digelar selama lima hari ini merupakan program strategis untuk membentuk karakter kepemimpinan para amil zakat. Tujuannya agar para peserta tidak hanya kompeten secara profesional, tetapi juga berkarakter kuat dalam membawa visi kelembagaan zakat berbasis dakwah.

Dalam sambutannya, Abdul Ghofar menyampaikan tiga pesan pokok sebagai bekal penting bagi peserta usai menjalani pelatihan intensif. Ia menegaskan bahwa perubahan diri merupakan langkah awal yang harus segera diwujudkan.

“Siap berubah, itu kuncinya. Jangan menunggu hal besar, mulailah dari yang kecil. Setelah lima hari belajar, saatnya meningkatkan diri untuk menjadi lebih baik,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa perubahan bukanlah sesuatu yang harus ditandai dengan langkah spektakuler, melainkan dapat dimulai dari pembiasaan sehari-hari. Menurutnya, langkah sederhana tetapi konsisten akan membawa dampak besar dalam perjalanan pribadi maupun organisasi.

Abdul Ghofarjuga mengingatkan agar setiap peserta mampu menyingkirkan berbagai alasan yang sering menghambat pencapaian tujuan.

“Jangan banyak alasan, karena semakin banyak alasan, semakin jauh kita dari kesuksesan dalam mewujudkan tujuan,” tegasnya seraya menekankan pentingnya setiap muslim untuk bersikap disiplin, tangguh, dan fokus dalam menjalankan amanah.

Selain itu, ia menambahkan bahwa hasil pelatihan tidak boleh berhenti hanya sebagai pengetahuan teoritis, tetapi harus diimplementasikan langsung dalam kehidupan nyata.

“Tunjukkan perubahan kepada keluarga. Apa yang kita dapatkan selama lima hari ini, terapkanlah terutama dalam rumah tangga. Karena keluarga adalah cermin pertama dari keberhasilan kita,” jelasnya.

Dengan menekankan peran keluarga, Abdul Ghofar ingin menegaskan bahwa kepemimpinan amil tidak semata-mata ditunjukkan di ranah publik, tetapi dimulai dari lingkaran paling kecil. Hal ini sekaligus menjadi dasar moral dan sosial bagi para peserta untuk menguatkan integritas sebelum berkiprah lebih luas di masyarakat.

Foto: Yoga Agus Yulianto/ Hidayatullah.or.id

Suasana penutupan pelatihan berlangsung penuh semangat, diwarnai apresiasi peserta atas materi yang telah disampaikan selama proses pelatihan. Para amil yang mengikuti kegiatan ini diharapkan dapat menjadi motor penggerak perubahan, baik di lingkungan keluarga, lembaga, maupun masyarakat luas.

Direktur BMH Pusat, Supendi, yang turut hadir dalam penutupan ini menambahkan bahwa pelatihan Kepemimpinan Amil Leader BMH 2025 Batch 3 menegaskan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kesiapan berubah, keberanian menghindari alasan, serta kemampuan menghadirkan dampak positif mulai dari lingkungan terdekat.

“Dengan bekal tersebut, para amil diharapkan semakin siap menjadi agen kebaikan yang membawa misi dakwah melalui pengelolaan zakat, infak, dan sedekah secara profesional dan berintegritas,” tandasnya.