Beranda blog Halaman 63

Jamuan Ikan Baupiapi Warga Tinigi dan Ruang Kebersamaan yang Mengikat Hati

0

TOLITOLI (Hidayatullah.or.id) — Kunjungan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., ke Desa Tinigi di Kecamatan Galang, Kabupaten Tolitoli, Provinsi Sulawesi Tengah, menghadirkan sebuah narasi sederhana namun sarat makna tentang akar perjuangan, keteladanan sosial, dan kesinambungan dakwah.

Desa Tinigi bukan sekadar titik geografis dalam peta organisasi, melainkan ruang kultural yang menyimpan memori panjang tentang lahirnya kader-kader Hidayatullah yang berkiprah di berbagai medan pengabdian.

Tinigi dikenal sebagai salah satu kampung yang banyak melahirkan generasi pejuang dakwah Hidayatullah. Karakter masyarakatnya yang egaliter, religius, dan kuat dalam ikatan kekeluargaan menjadi lahan subur bagi tumbuhnya nilai-nilai dakwah dan pengabdian.

Dalam konteks inilah, kehadiran Ketua Umum Naspi Arsyad tidak dimaknai sebagai agenda seremonial belaka, melainkan sebagai ikhtiar menyambung kembali tali batin antara pusat gerakan dan basis sosial yang melahirkannya.

Di desa tersebut, Ketua Umum meluangkan waktu untuk menyapa masyarakat, berdialog secara terbuka, serta mendengarkan cerita dan harapan warga. Interaksi berlangsung hangat dan tanpa sekat, memperlihatkan bahwa kepemimpinan dalam tradisi dakwah bukanlah soal jarak struktural, melainkan kedekatan moral.

Jamuan Makan Malam

Kunjungan itu juga diwarnai jamuan makan malam di rumah salah satu warga, Sudirman, yang menjadi ruang perjumpaan personal dengan masyarakat akar rumput.

Jamuan tersebut berlangsung di rumah orang tua Suaib, Ketua PW Pemuda Hidayatullah Sulawesi Tengah. Dalam suasana sederhana, dialog mengalir sembari menikmati hidangan khas Mandar berupa jepa dan baupiapi, dua sajian tradisional yang mencerminkan identitas kultural mayoritas warga Tinigi.

Makanan, dalam konteks ini, bukan sekadar suguhan cita rasa makanan laut yang aduhai nikmatnya, tetapi simbol penerimaan, penghormatan, dan persaudaraan. Kehangatan meja makan menjadi medium dakwah yang senyap namun kuat, mengikat rasa dan nilai dalam satu pengalaman bersama.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum juga bersua dengan Haji Sukiman Langgo Husain, tokoh kampung Tinigi yang dikenal luas oleh masyarakat setempat. Sukiman merupakan figur yang dihormati, tidak hanya karena peran sosialnya di kampung, tetapi juga karena jejak sejarah pemikirannya. Ia disebut sebagai salah seorang tokoh yang memiliki keterkaitan dengan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), sebuah irama simfoni yang menempatkan Tinigi dalam lintasan sejarah panjang perjuangan politik dan dakwah umat Islam di Indonesia.

Pertemuan dengan tokoh tokoh senior ini menjadi pengingat bahwa dakwah dan perjuangan tidak lahir dari ruang hampa. Ada mata rantai sejarah, ada nilai yang diwariskan lintas generasi, dan ada keteladanan yang terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Tinigi, dengan tokoh-tokohnya dan generasi mudanya, menjadi contoh bagaimana desa dapat memainkan peran strategis dalam menjaga kesinambungan nilai perjuangan.

Kunjungan ini juga memperlihatkan wajah lain dari kepemimpinan organisasi: kepemimpinan yang hadir, mendengar, dan merendah hati di hadapan masyarakat. Dalam pendekatan seperti ini, dakwah tidak tampil sebagai instruksi dari atas, tetapi sebagai dialog yang tumbuh dari bawah.

Kehadiran Ketua Umum di tengah masyarakat Tinigi menegaskan bahwa kekuatan gerakan terletak pada hubungan emosional yang terawat, bukan semata pada struktur dan program.

Pada akhirnya, beranjangsana ke Tinigi menjadi refleksi bahwa perjalanan dakwah adalah perjalanan pulang, kembali ke sumber-sumber nilai yang membentuk karakter gerakan.

Dari desa sederhana, lahir gagasan besar, pengorbanan panjang, dan komitmen yang terus diperbarui. Tinigi mengajarkan bahwa kesetiaan pada akar adalah syarat utama untuk melangkah jauh ke masa depan.

Tim Siaga Bencana Hidayatullah Aceh Gotong Royong Pulihkan Pendidikan Pascabanjir

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Upaya pemulihan pascabanjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang terus dilakukan melalui kerja kolaboratif antara Tim Siaga Bencana DPW Hidayatullah Aceh dan Baitul Maal Hidayatullah (BMH).

Pada Sabtu, 7 Rajab 1447 (27/12/2025), kedua unsur ini melaksanakan kegiatan pembersihan fasilitas umum dan rumah warga yang terdampak, sebagai bagian dari ikhtiar kemanusiaan untuk mempercepat pemulihan kehidupan sosial dan pendidikan masyarakat.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Aceh, Ustaz Harun Rasyid, menjelaskan bahwa salah satu fokus utama kegiatan diarahkan ke ruang kelas di SMP Negeri 1 Karang Baru. Hingga pelaksanaan aksi tersebut, ruang belajar itu belum tersentuh pembersihan menyeluruh pascabanjir. Menurutnya, kondisi tersebut berdampak langsung pada terhambatnya proses pendidikan.

“Kondisi ruang kelas sangat memprihatinkan, dengan endapan lumpur setinggi kurang lebih 50 sentimeter yang menggenangi ruang belajar. Akibatnya, proses pembelajaran belum dapat kembali berjalan normal hingga saat ini,” ungkap Harun.

Harun menegaskan bahwa pemulihan sektor pendidikan tidak dapat dilepaskan dari penanganan fisik sarana belajar yang rusak akibat bencana.

Tim relawan memulai kegiatan sejak pukul 07.30 WIB dari Posko Hidayatullah Aceh di Desa Payameta dan menyelesaikan pembersihan sekitar pukul 15.20 WIB. Aktivitas dilakukan secara bertahap, mulai dari pengangkatan lumpur, pembersihan lantai dan dinding, hingga penataan awal ruang kelas agar dapat segera difungsikan kembali.

Dalam keterangannya, Harun menyoroti kondisi para tenaga pendidik yang turut menjadi korban bencana. Ia menyampaikan bahwa sebagian besar guru di sekolah tersebut terdampak langsung, bahkan ada yang kehilangan tempat tinggal. Situasi ini, menurutnya, membuat pemulihan sekolah berjalan lambat apabila tidak ada dukungan dari pihak luar.

“Guru-guru pun sedang berjuang memulihkan keluarga mereka,” kata Harun, menekankan dimensi kemanusiaan di balik tantangan pemulihan pendidikan.

Kegiatan pembersihan melibatkan relawan personel Tim Siaga Bencana DPW Hidayatullah Aceh yang didampingi wali kelas 2C SMP Negeri 1 Karang Baru, Inawati, S.Pd. Kehadiran pihak sekolah dinilai penting untuk memastikan penanganan ruang kelas sesuai kebutuhan pembelajaran.

Inawati menjelaskan bahwa para siswa dijadwalkan kembali masuk sekolah pada 5 Januari 2026, bersamaan dengan dimulainya semester genap setelah libur semester dan bencana banjir. Namun, ia mengakui masih terdapat kendala signifikan.

Kondisi ruang kelas yang belum sepenuhnya layak, kerusakan seluruh mobiler, serta akses jalan menuju sekolah yang masih tertimbun lumpur dan genangan air menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan kegiatan belajar mengajar.

Berangkat dari realitas tersebut, Inawati berinisiatif menyiapkan ruang kelasnya agar dapat kembali digunakan. Upaya ini dilakukan dengan menggandeng bantuan dari Tim DPW Hidayatullah Aceh dan Baitul Maal Hidayatullah sebagai bentuk sinergi kemanusiaan yang berlandaskan nilai keislaman dan semangat gotong royong khas Indonesia.

Dampak banjir juga dirasakan berat oleh para guru. Dari sekitar 70 tenaga pendidik di SMP Negeri 1 Karang Baru, hanya tujuh orang yang rumahnya tidak terdampak langsung banjir bandang. Bahkan, beberapa di antaranya dilaporkan kehilangan tempat tinggal, sehingga membutuhkan dukungan berkelanjutan untuk pemulihan kehidupan sehari-hari.

Untuk agenda lanjutan pada Minggu, 28 Desember 2025, Tim DPW Hidayatullah Aceh dan Baitul Maal Hidayatullah dijadwalkan melaksanakan pembersihan rumah warga terdampak. Beberapa lokasi yang direncanakan antara lain rumah alumni Hidayatullah Tanjung Morawa serta rumah Ustadz Aswir, simpatisan Hidayatullah, yang turut mengalami dampak banjir bandang.

Naspi Arsyad Soroti Tanggung Jawab Orang Tua dalam Membangun Masyarakat

0

TOLITOLI (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Naspi Arsyad, Lc., menekankan peran sentral orang tua dalam membangun tatanan masyarakat. Hal itu disampaikan dalam acara Tabligh Akbar yang digelar Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Tengah sebagai bagian dari rangkaian Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Gabungan yang berlangsung di Masjid Agung Al Mubarok, Tolitoli, pada Jum’at, 6 Rajab 1447 (26/12/2025).

Naspi menyatakan bahwa tantangan terbesar di era digital adalah memastikan keterlibatan kedua orang tua secara utuh dan maksimal dalam proses pendidikan keluarga.

Naspi pun mengapresiasi kegiatan ini yang mengusung tema Urgensi Takwa Menjaga Keluarga di Era Digital. Menurutnya, upaya ini sebagai respons atas dinamika sosial yang dihadapi keluarga muslim Indonesia di tengah percepatan teknologi informasi.

“Kunci dari suatu tatanan masyarakat adalah peran orang tua yang dijalankan secara sempurna dan maksimal dalam menjalankan perannya masing-masing di dalam tatanan kehidupan, sehingga menjadi panutan bagi anak-anak di dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Naspi menegaskan bahwa peran tersebut akan membentuk anak-anak yang tangguh dan adaptif menghadapi perubahan zaman. Ia juga menyatakan dukungan terhadap berbagai program yang berorientasi pada pembinaan moral, perbaikan akhlak, serta pembangunan sumber daya manusia sebagai bagian dari ikhtiar kolektif membangun bangsa.

“Penguatan institusi keluarga sebagai fondasi utama pembentukan masyarakat yang berakhlak, berdaya, dan berketahanan moral. Upaya ini ini sekaligus memperkuat spirit keislaman dan keindonesiaan dalam menghadapi tantangan era digital yang kian kompleks,” katanya.

Ia menyampaikan bahwa Tolitoli merupakan wilayah yang relatif aman dan harmonis. Ia menilai tidak terdapat sekat sosial yang tajam antar kelompok masyarakat, sehingga nilai wasatiyah atau moderasi yang dianut Hidayatullah menemukan relevansinya. Menurutnya, kondisi sosial tersebut membuka peluang besar bagi Tolitoli untuk berkembang sebagai kota religius yang mampu menjaga harmoni di tengah tantangan digital.

Naspi juga menyinggung dampak negatif perkembangan digital terhadap anak-anak, antara lain menurunnya minat belajar dan melemahnya kedekatan dengan Al-Qur’an. Fenomena ini berimplikasi pada masih ditemukannya anak-anak yang belum mampu membaca Al-Qur’an.

Merespons kondisi tersebut, Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tengah, Sarmadani Karani, menargetkan program 500 Rumah Qur’an dalam lima tahun ke depan. Program ini, jelas dia, diarahkan sebagai pusat pengurangan buta aksara Al-Qur’an sekaligus wahana pembinaan masyarakat, baik pada ranah pendidikan formal maupun nonformal.

Apresiasi Pemerintah Tolitoli

Dukungan pemerintah daerah turut disampaikan melalui sambutan tertulis Bupati H. Amran H. Yahya yang dibacakan oleh Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Tolitoli, Mukti, S.T., yang sekaligus membuka kegiatan secara resmi.

Pemerintah daerah menyampaikan apresiasi atas inisiatif DPW Hidayatullah Sulawesi Tengah dalam menyelenggarakan kegiatan yang dinilai memberikan manfaat strategis bagi penguatan keluarga dan masyarakat.

“Melalui kegiatan ini semoga kita semua memperoleh ilmu dan hikmah dalam membimbing keluarga agar tetap berada pada jalan yang diridhai Allah SWT dan sekaligus mampu menyikapi perkembangan digital secara bijak, cerdas, dan bertanggung jawab,” demikian harapannya.

Kegiatan Tabligh Akbar ini dihadiri unsur Forkopimda Kabupaten Toli-Toli, anggota DPRD, perwakilan Kementerian Agama, para kepala perangkat daerah, pimpinan ormas serta pondok pesantren, serta panitia pelaksana.

Rakerda gabungan yang digelar di Tolitoli ini dihadiri oleh unsur pengurus Hidayatullah Kabupaten Donggala, Kabupaten Poso, Kabupaten Luwuk Banggai, Kabupaten Tolitoli, Kota Palu, Kabupaten Buol, Kabupaten Morowali, Kabupaten Banggai, Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Tojo Una-Una, Kabupaten Sigi, Kabupaten Banggai Laut, dan Kabupaten Morowali Utara.

Jaringan Luas Percepat Respons dan Bantuan Kemanusiaan Pascabanjir Aceh Tamiang

0

ACEH (Hidayatullah.or.id) — Pemulihan pascabanjir di Desa Semadam, Kabupaten Aceh Tamiang, menunjukkan wajah lain dari kerja kemanusiaan yang terstruktur dan berkelanjutan. Gedung Pendidikan Baitina yang sebelumnya dipenuhi lumpur kini kembali bersih dan berfungsi.

Pada Sabtu, 7 Rajab 1447 (27/12/2025), ruang ini menjadi titik pertemuan sekitar 250 warga yang hadir dalam rangka syukuran Milad ke-24 Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Momentum tersebut menjadi penanda bangkitnya harapan masyarakat setelah masa sulit akibat bencana.

Pemilihan lokasi kegiatan tidak terlepas dari nilai historis dan simboliknya. Gedung yang sempat lumpuh akibat banjir kini pulih dan kembali dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan warga.

Kehadiran masyarakat dari berbagai kelompok usia mencerminkan ikatan sosial yang kembali menguat, seiring upaya bersama untuk menata kehidupan pascabencana dalam semangat kebersamaan dan gotong royong, nilai yang lekat dengan keindonesiaan.

Dalam kegiatan tersebut, BMH menghadirkan dai lapangan, Ustaz Aswin Solin, yang memiliki pengalaman panjang dalam pengabdian dakwah di berbagai daerah. Ia mengajak warga memaknai musibah dengan sudut pandang keimanan.

Menurutnya, setiap peristiwa yang berat selalu menyimpan pelajaran bagi orang beriman. “Kita tidak tahu hari ini, tapi tidak mungkin ini tanpa hikmah,” ujarnya. Ia menegaskan pentingnya memperkuat persaudaraan dan kebersamaan agar masyarakat dapat bangkit dengan lebih kokoh dan taat.

Sementara itu, Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi. Ia menjelaskan bahwa kecepatan dan kesinambungan bantuan BMH tidak terlepas dari jaringan organisasi yang tersebar luas di berbagai wilayah, termasuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Jaringan tersebut memungkinkan respons kemanusiaan dilakukan secara cepat, tepat, dan berkelanjutan. “BMH memiliki dai dan relawan yang menetap di lokasi,” kata Imam. Keberadaan sumber daya lokal ini, lanjutnya, membuat distribusi bantuan lebih akurat sesuai kebutuhan penyintas.

Pendekatan tersebut menunjukkan model kerja filantropi Islam yang terintegrasi antara dakwah, pendidikan, dan pelayanan sosial. BMH menempatkan relawan dan dai sebagai bagian dari masyarakat setempat, sehingga proses pemulihan tidak bersifat sementara, melainkan berkesinambungan.

“Pola ini juga berupaya meneguhkan peran zakat dan sedekah sebagai instrumen penguatan solidaritas sosial dalam konteks kebangsaan,” katanya.

Dampak kegiatan paling terlihat pada anak-anak yang menjadi penyintas banjir. Salah satunya Aninita Khairin Niswa, remaja berusia 15 tahun, yang menerima paket perlengkapan sekolah dan kebutuhan lainnya. Selain itu, anak-anak diajak mengikuti aktivitas kreatif dan pembelajaran interaktif.

“Saya sangat senang karena bisa tetap bermain dengan teman-teman,” ujar Aninita. Kegiatan tersebut memberi ruang pemulihan psikososial bagi anak-anak melalui suasana belajar yang menyenangkan.

Sementara itu, warga dewasa memperoleh perhatian melalui penyediaan makan sore secara gratis. Sri, salah seorang warga, menyebut bantuan tersebut sederhana namun relevan dengan kebutuhan pascabencana.

Kegiatan Milad BMH ke-24 di Aceh Tamiang dinilai menjadi simbol kerja kemanusiaan berbasis nilai Islam yang berpadu dengan semangat kebangsaan, menghadirkan harapan baru bagi masyarakat yang tengah bangkit dari bencana.

Lawatan ke Tinigi, Naspi Arsyad Sampaikan Pesan Ramadhan dan Solidaritas Bangsa

0

TOLITOLI (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, Lc., melakukan kunjungan silaturrahim ke Desa Tinigi, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, Kamis, 5 Rajab 1447 (25/12/2025) sebagai bagian dari lawatan mempererat hubungan kultural kelembagaan antara pimpinan pusat, struktur wilayah, dan basis jamaah.

Pada kesempatan itu, KH Naspi Arsyad menyampaikan pengajian umum ba’da Magrib hingga Isya di Masjid Darul Hijrah Tinigi. Dalam tausiyahnya, ia menempatkan persiapan mental dan spiritual sebagai pokok utama dalam menyambut Ramadhan.

Menurutnya, bulan suci tidak cukup disambut dengan kesiapan lahiriah, tetapi menuntut kesiapan ruhiyah yang ditopang oleh keikhlasan niat dan penguatan iman.

“Ramadhan adalah momentum pembinaan diri. Karena itu, kesiapan hati, keikhlasan niat, dan keteguhan iman menjadi bekal utama agar ibadah memberi dampak nyata bagi kehidupan,” ujarnya.

Selain itu, Ketua Umum DPP Hidayatullah juga mengajak jamaah untuk menumbuhkan kepedulian sosial sebagai bagian dari spirit Ramadhan. Ia secara khusus mengingatkan pentingnya mendoakan dan membantu para korban bencana, terutama yang terjadi di wilayah Sumatera dan Aceh.

Dia menegaskan dimensi keislaman yang berpadu dengan tanggung jawab kebangsaan, di mana solidaritas kemanusiaan menjadi bagian tak terpisahkan dari pengamalan iman.

Desa Tinigi sendiri dikenal sebagai kampung kecil di pinggiran Kota Tolitoli yang memiliki karakter alam dan sosial yang khas. Hamparan sawah, kebun kelapa, serta ladang hijau yang dialiri sungai kecil membentuk lanskap pedesaan yang asri.

Jarak desa ini sekitar 25 kilometer dari pusat kota, dengan waktu tempuh kurang lebih 30 menit perjalanan darat, namun memiliki peran penting dalam sejarah kaderisasi Hidayatullah.

Sejak dekade 1980-an, Tinigi telah melahirkan banyak santri yang menempuh proses pendidikan di pesantren Hidayatullah. Pada masa kapal Pelni masih rutin melayani rute Tolitoli–Balikpapan, arus kader dari desa ini menjadi bagian dari perjalanan dakwah yang terus berlanjut hingga kini. Konsistensi tersebut menjadikan Tinigi dikenal sebagai salah satu basis penyumbang kader dakwah di kawasan Sulawesi Tengah.

Kunjungan silaturahmi ini dinilai menjadi penguat ikatan antara pusat dan daerah, sekaligus penegasan bahwa dari kampung-kampung sederhana di Nusantara, lahir generasi yang berproses, berkhidmat, dan menyebarkan nilai-nilai Islam dalam bingkai keindonesiaan.

“Dari Tinigi, spirit dakwah dan pengabdian terus dirawat untuk menjawab tantangan umat dan bangsa,” pesan Naspi, seraya menekankan kesinambungan dakwah Hidayatullah yang mengintegrasikan penguatan spiritual, konsolidasi organisasi, dan pembinaan umat secara berkelanjutan.

Dalam kunjungan tersebut, KH Naspi Arsyad didampingi Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulawesi Tengah, Sarmadani Karani, bersama jajaran pengurus wilayah. Kehadiran rombongan disambut jamaah setempat dengan suasana kekeluargaan yang hangat, yang merefleksi relasi panjang antara Hidayatullah dan masyarakat Tinigi yang telah terjalin sejak puluhan tahun lalu.

Agenda silaturahmi ini juga menjadi bagian dari persiapan menjelang pelaksanaan Tabligh Akbar yang dijadwalkan berlangsung di Masjid Agung Tolitoli pada Jumat, 26 Desember 2025.

Posisi Strategis Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak sebagai Cermin Jati Diri

0
Kabid Yanmat DPP Hidayatullah Shohibul Anwar dalam Rapat Pleno Laporan Akhir Kepengurusan YPPH Balikpapan periode 2021-2025, di Kantor YPPH Gedung WKP, Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Selasa (23/12/2025). [Foto: LPPH/@Uqreat/@Ummulqurahidayatullah]

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak di Kota Balikpapan kembali ditegaskan sebagai simpul utama yang merepresentasikan jati diri gerakan Hidayatullah. Penegasan tersebut disampaikan Ketua Bidang Pelayanan Umat (Kabid Yanmat) DPP Hidayatullah, Ust. Drs. Shohibul Anwar, M.Pd.I., dalam Rapat Pleno Laporan Akhir Kepengurusan YPPH Balikpapan periode 2021–2025 yang berlangsung di kawasan Gunung Tembak, Selasa, 3 Rajab 1447 (23/12/2025).

Dalam forum tersebut, Shohibul Anwar menempatkan Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak sebagai gambaran paling sederhana sekaligus paling utuh untuk memahami Hidayatullah. Menurutnya, siapa pun yang ingin mengetahui wajah Hidayatullah secara langsung tidak perlu menelusuri konsep yang rumit, melainkan cukup menyaksikan kehidupan yang berjalan di lingkungan pesantren tersebut.

“Seorang senior di Kampus Gunung Tembak pernah bercerita, ketika ada orang bertanya, ‘Apa itu Hidayatullah?’ maka jawabannya sederhana: Gunung Tembak,” ujar Shohibul Anwar dalam sambutannya yang mewakili Ketua Umum DPP Hidayatullah. Pernyataan ini, menurutnya, menggambarkan posisi strategis Gunung Tembak sebagai titik temu antara nilai, praktik, dan tradisi gerakan.

Ia menjelaskan bahwa identitas Hidayatullah memang dirumuskan secara konseptual dan sistematis. Namun, pemahaman yang lebih komprehensif justru diperoleh melalui pengalaman langsung menyaksikan dinamika kehidupan pesantren.

“Jati diri Hidayatullah memang disusun secara konseptual, namun akan jauh lebih mudah memahaminya jika datang langsung dan melihat kehidupan di Gunung Tembak,” katanya.

Shohibul Anwar juga membagikan pengalaman personalnya sejak pertama kali menjadi santri pada 1992. Pada masa itu, ia memiliki keinginan kuat untuk mengunjungi Kampus Hidayatullah di Gunung Tembak sebagai pusat gerakan.

“Saat itu yang saya cari adalah praktik Islam dalam kehidupan nyata. Alhamdulillah, hal tersebut saya temukan di Gunung Tembak. Sejak itu saya menetap dan bertahan di Hidayatullah,” tuturnya.

Pengalaman tersebut, menurutnya, menegaskan bahwa Gunung Tembak bukan semata lokasi fisik yang membentang, tetapi ruang aktualisasi nilai-nilai keislaman yang menyatu dengan konteks keindonesiaan. Kehidupan pesantren yang terbangun di dalamnya memperlihatkan praktik pendidikan, pengabdian umat, dan pembinaan karakter yang berjalan seiring dengan semangat peradaban Islam yang membumi.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa para Pembina, Pengawas, dan Pengurus YPPH Balikpapan, bersama seluruh warga Hidayatullah di Kampus Induk Gunung Tembak, merupakan representasi hidup dari nilai-nilai organisasi. Keberadaan mereka dipandang sebagai “alat peraga” yang memudahkan publik memahami arah, etos, dan tujuan perjuangan Hidayatullah secara konkret.

Rapat Pleno YPPH Balikpapan sendiri digelar selama tiga hari, Senin hingga Rabu, 22–24 Desember 2025, bertempat di Kantor YPPH Gedung WKP, kawasan Gunung Tembak, Balikpapan. Forum ini menjadi ruang evaluasi sekaligus refleksi atas perjalanan kepengurusan, serta penguatan komitmen untuk menjaga kesinambungan peran pesantren sebagai pusat kaderisasi dan pelayanan umat.

Membangun Umat Kerja Panjang yang Menuntut Keteguhan Niat dan Kesinambungan Amal

0

TOLITOLI (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, menyampaikan pesan agar para pengurus dan kader Hidayatulah tidak mudah merasa lelah dalam mengemban amanah dakwah. Menurutnya, membangun umat merupakan kerja panjang yang menuntut keteguhan niat, ketahanan spiritual, dan kesinambungan amal.

“Dinamika organisasi dan tanggung jawab kelembagaan tidak boleh melemahkan semangat pengabdian kepada umat. Membangun umat merupakan kerja panjang yang menuntut keteguhan niat, ketahanan spiritual, dan kesinambungan amal,” katanya.

Hal itu ia utarakan saat menyampaikan Taushiyah Kelembagaan kepada peserta Musyawarah Daerah Gabungan (Musdagab) DPD Hidayatullah se-Sulawesi Tengah yang dirangkaikan dengan Musyawarah Wilayah (Muswil) Muslimat Hidayatullah Sulawesi Tengah di Tolitoli, Kamis, 5 Rajab 1447 (25/12/2025).

Kehadiran Ketua Umum di Tolitoli juga bertepatan dengan agenda Tabligh Akbar yang dijadwalkan digelar di Masjid Agung Al-Mubarak Tolitoli. Rangkaian kegiatan ini menjadi ruang penguatan nilai, refleksi sejarah perjuangan, serta peneguhan orientasi dakwah Hidayatullah dalam bingkai keislaman dan keindonesiaan.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum juga membagikan kisah inspiratif perjalanan dakwah bersama almarhumah Ustadzah Syarifah Aida Chered, istri dari almarhum KH Abdullah Said, pendiri Hidayatullah. Ia menuturkan dialog yang pernah terjadi terkait perbedaan kondisi Hidayatullah pada masa awal perintisan dibandingkan dengan situasi organisasi saat ini yang relatif lebih mapan.

Menurut penuturan KH Naspi Arsyad, Ustadzah Syarifah Aida Chered pernah menyampaikan bahwa kader Hidayatullah patut banyak bersyukur. Meski usaha yang dilakukan terasa kecil, Allah SWT telah memberikan limpahan nikmat yang besar. Pesan tersebut, kata Ketua Umum, menjadi pengingat agar setiap kader tidak lalai dalam mensyukuri amanah dakwah yang diemban.

Ia menegaskan bahwa Ustadzah Syarifah Aida Chered merupakan salah satu srikandi awal perintisan Hidayatullah. Sosok tersebut dikenal dengan pengorbanan yang luar biasa, kerja yang nyaris tanpa mengenal lelah, waktu istirahat yang sangat terbatas, serta ketekunan ibadah yang panjang di tengah kondisi serba keterbatasan. Kisah ini, menurutnya, merupakan cerminan keteguhan iman dan ketulusan dalam berjuang.

Ketua Umum juga mengisahkan perjuangan srikandi lain pada masa awal Hidayatullah yang tetap menjalankan dakwah masyarakat meski dalam kondisi hamil dan hidup sangat sederhana. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan makan, mereka hanya mengonsumsi nasi dengan batang pisang bagian dalam, setelah bekerja sejak pagi hingga menjelang siang.

“Usaha para dai daiyah senior ini menunjukkan beratnya perjuangan generasi perintis dalam meletakkan dasar-dasar dakwah,'” katanya.

Melalui rangkaian kisah tersebut, KH Naspi Arsyad mengajak seluruh peserta Musdagab dan Muswil Muslimat untuk melakukan refleksi mendalam. Ia menegaskan bahwa apabila para perintis saja memandang pengorbanan mereka masih sedikit, maka generasi saat ini memiliki tanggung jawab moral untuk melanjutkan dakwah dengan kualitas yang lebih baik dan lebih terstruktur.

Lebih lanjut, ia berpesan agar kesibukan mengelola lembaga tidak dijadikan alasan untuk melemahkan kualitas ibadah. Ia secara khusus mengingatkan pentingnya menjaga shalat berjamaah dan shalat malam, serta memastikan khidmat kepada masyarakat tetap terjaga di mana pun berada.

“Jangan sampai karena alasan mengurus lembaga, kita meninggalkan shalat berjamaah atau tidak bangun shalat malam. Justru kekuatan lembaga itu lahir dari kuatnya ibadah para pengembannya,” tegasnya.

Naspi menegaskan bahwa kekuatan dakwah Hidayatullah tidak hanya terletak pada sistem dan struktur organisasi, tetapi juga pada kualitas spiritual para pengurus dan kader yang terus berkhidmat bagi umat dan Indonesia.

Hidayatullah Maluku Diharapkan Jadi Pelopor Kerukunan Menuju Indonesia Emas 2045

0

AMBON (Hidayatullah.or.id) — Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Hidayatullah Maluku Tahun 2025 resmi dibuka oleh Pemerintah Provinsi Maluku dalam sebuah forum yang sarat makna kebangsaan dan keumatan. Kegiatan tersebut berlangsung di Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, pada Senin, 2 Rajab 1447 (22/12/2025).

Pembukaan Muswil dilakukan oleh Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa yang diwakili Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, Achmad Jais Ely.

Dalam sambutan tertulis Gubernur yang dibacakan oleh Achmad Jais Ely, Pemerintah Provinsi Maluku menyampaikan apresiasi atas kontribusi Hidayatullah sebagai organisasi kemasyarakatan Islam yang konsisten menjalankan peran dakwah, pendidikan, serta kerja-kerja sosial kemasyarakatan di Maluku. Kiprah tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat Maluku yang majemuk dan menjunjung tinggi nilai kerukunan.

Gubernur menegaskan bahwa Muswil VI menjadi momentum strategis bagi Hidayatullah Maluku untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perjalanan organisasi, sekaligus menyusun program kerja yang terarah dan berkelanjutan. Forum musyawarah ini juga dipandang penting dalam proses regenerasi kepemimpinan agar organisasi mampu menjawab tantangan zaman secara adaptif dan konstruktif.

Dalam konteks sosial-keagamaan Maluku, Gubernur menyampaikan harapan agar Hidayatullah terus mengambil peran sebagai pelopor dalam menjaga dan merawat kerukunan antarumat beragama.

Harapan tersebut ditekankan mengingat Maluku memiliki sejarah panjang sebagai ruang hidup bersama berbagai komunitas dengan latar belakang agama dan budaya yang beragam.

“Saya berharap pengurus Hidayatullah Maluku, yang juga merupakan para dai dan pendidik, dapat menjadi pelopor harmoni serta mampu menjalankan fungsi organisasi dalam membangun umat yang kuat, solid, dan berakhlakul karimah,” demikian pernyataan Hendrik Lewerissa dalam sambutan resminya.

Lebih lanjut, Gubernur menyoroti pentingnya sinergi antara organisasi keagamaan dan pemerintah daerah. Ia menjelaskan bahwa salah satu prioritas Pemerintah Provinsi Maluku saat ini adalah mendorong terwujudnya masyarakat yang maju dan sejahtera, dengan pendidikan sebagai sektor kunci. Peningkatan kualitas guru dan mutu pendidikan diposisikan sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia menuju masa depan Maluku.

“Kolaborasi antara Hidayatullah dan Pemerintah Daerah sangatlah penting dalam proses kemajuan bangsa. Mari kita bersama-sama mewujudkan Transformasi Maluku yang Adil dan Sejahtera menyongsong Indonesia Emas 2045,” lanjutnya.

Muswil VI Hidayatullah Maluku dihadiri oleh perwakilan pengurus pusat, di antaranya Kepala Departemen Pendidikan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Dr Muzakkir Usman, Ketua DPW Hidayatullah Maluku Sulaiman Sandre dan jajaran, tokoh agama, serta tokoh masyarakat.

Kehadiran berbagai unsur tersebut dinilai memperkuat posisi Muswil sebagai forum musyawarah yang tidak hanya bersifat internal organisasi, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan kebangsaan.

Melalui Muswil ini, diharapkan lahir rumusan kebijakan dan rekomendasi strategis yang berorientasi pada kemaslahatan umat serta mendukung agenda pembangunan Provinsi Maluku.

Mengakhiri sambutannya, Gubernur Hendrik Lewerissa secara resmi menyatakan pembukaan Musyawarah Wilayah VI Hidayatullah Maluku Tahun 2025, dengan harapan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan menghasilkan keputusan yang memberi manfaat luas bagi masyarakat Maluku dan Indonesia.

Perjalanan Darat Tim Siaga Bencana Hidayatullah Hadirkan Refleksi Dakwah dan Kemanusiaan

0
ist – tim-siaga

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Derap perjalanan panjang akhirnya berhenti di kawasan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang. Pada Kamis, 5 Rajab 1447 (25/12/2025), Posko Utama Tanggap Darurat Bencana Hidayatullah bersama Laznas Baitul Maal Hidayatullah secara resmi menerima kedatangan tim transisi yang menempuh perjalanan darat dari Jakarta menuju Sumatera Utara. Rombongan ini dipersiapkan untuk memperkuat penanganan bencana banjir di Aceh Tamiang.

Kedatangan para relawan ditandai wajah-wajah letih yang menyimpan kepuasan. Mereka baru saja menyelesaikan lintasan panjang melintasi Pulau Sumatera, sebuah perjalanan yang tidak hanya menguji fisik, tetapi juga keteguhan mental dan ruhani. Misi utama perjalanan tersebut adalah memastikan kesinambungan kerja kemanusiaan tim dalam merespons bencana secara cepat dan terkoordinasi.

Perjalanan dimulai sejak Senin, 22 Desember 2025, dan berlangsung hingga Kamis. Rentang waktu itu dipenuhi tantangan durasi tempuh yang panjang, kondisi jalan yang beragam, serta tuntutan stamina yang tinggi.

Kepala Humas BMH Pusat, Imam Nawawi, yang memimpin langsung rombongan, menggambarkan perjalanan ini sebagai pengalaman lapangan yang sarat ujian.

“Bisa dibilang kami menempuh perjalanan tiga kali dua belas jam, mulai dari Palembang ke Jambi, Jambi ke Pekanbaru, dan Pekanbaru ke Medan. Hanya ruas Lampung–Palembang yang relatif bersahabat dengan waktu tempuh sekitar empat jam,” ujarnya.

Selebihnya, perjalanan menuntut konsentrasi dan daya tahan ekstra. Beberapa etape mengharuskan tim berada di jalan selama dua belas jam penuh, bahkan satu lintasan mencapai sekitar tujuh belas jam tanpa jeda panjang. Kondisi tersebut, menurut Imam, menjadi tantangan sekaligus pembelajaran penting.

“Di satu sisi ini jelas berat, tetapi di sisi lain menjadi pelajaran berharga bahwa mengantarkan kebaikan melalui jalur darat memang memerlukan stamina kuat dan semangat yang tidak boleh surut,” lanjutnya.

Di tengah kelelahan, perjalanan ini juga diwarnai momen penguatan ruhani. Tim menyempatkan diri bersilaturahmi ke basis-basis dakwah di sepanjang jalur Sumatera. Di Jambi, mereka disambut oleh dai setempat, sementara di Pekanbaru pertemuan serupa berlangsung di lingkungan pesantren jaringan Hidayatullah. Pertemuan singkat tersebut menjadi ruang berbagi doa dan penguat moral bagi para relawan sebelum melanjutkan perjalanan ke utara.

Bagi Imam Nawawi, perjalanan Jakarta–Medan ini memunculkan refleksi mendalam. Ia menilai, jika di era kendaraan modern perjalanan semacam ini saja terasa melelahkan, maka pengorbanan para perintis dakwah di masa lalu jauh lebih besar.

“Ada hikmah besar yang kami rasakan. Sekarang saja perjalanan ke Sumatera terasa panjang dan melelahkan, lalu bagaimana dengan para dai perintis dahulu?” tuturnya.

Ia membayangkan fase-fase awal pembangunan pesantren dan dakwah di berbagai titik Sumatera, ketika akses transportasi dan fasilitas masih sangat terbatas. “Sungguh, napas perjuangan mereka sangat luar biasa,” tambahnya.

Setelah menuntaskan perjalanan darat yang panjang, tim BMH kini memusatkan perhatian pada tugas utama, yakni menyalurkan amanah kemanusiaan bagi para penyintas banjir di Aceh Tamiang. Etape perjalanan telah usai, namun kerja nyata bagi kemanusiaan dan pengabdian untuk negeri baru saja dimulai.

Sebelumnya, Baitul Maal Hidayatullah bersama anggota Forum Zakat (FOZ) DKI Jakarta telah secara resmi melepas armada bantuan kemanusiaan menuju wilayah Sumatera. Prosesi pelepasan berlangsung khidmat di Halaman Kantor Gubernur DKI Jakarta pada Selasa, 23 Desember 2025.

Pengiriman bantuan tersebut merupakan langkah strategis dalam merespons dampak bencana yang meluas di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Dalam konteks itu, BMH tengah memasuki masa transisi dari fase tanggap darurat menuju fase recovery atau pemulihan jangka panjang.

Melalui kolaborasi lintas lembaga tersebut, berhasil dihimpun dana kemanusiaan sebesar Rp3 miliar yang seluruhnya dialokasikan untuk penyaluran bantuan, disertai dukungan logistik lebih dari 60 ton berupa bahan pangan, sembako, obat-obatan, serta perlengkapan darurat lainnya sebagai wujud kontribusi kemanusiaan bagi para penyintas.

Tasyrif Amin Ungkap Etos Kerja Positif sebagai Amanah Iman Setiap Muslim

0

TIMIKA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah Ust. Dr. H. Tasrif Amin, M.Pd, mengungkap pentingnya pengarusutamaan etos kerja positif dan produktif sebagai amanah iman setiap muslim. Hal itu disampaikan saat membuika Rapat Pleno Laporan Akhir Kepengurusan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kampus Utama Timika, Papua Tengah, Periode 2021-2025 pada Rabu, 4 Rajab 1447 (24/12/2025).

Tasrif Amin mengingatkan landasan filosofis yang sejak awal menjadi motor penggerak gerakan Hidayatullah, yakni spirit Surah At-Taubah ayat 105. Dia menjelaskan, ayat ini mengandung perintah bekerja secara aktif dan bertanggung jawab, dengan kesadaran etos kerja yang tinggi bahwa setiap amal akan disaksikan oleh Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman.

“Katakanlah, ‘bekerjalah!’ maka Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu,” kutipnya.

Taysrif menegaskan, kita hendaknya menjadikann kerja organisasi dalam bingkai ibadah yang menyatu dengan nilai keislaman dan tanggung jawab kebangsaan. Prinsip tersebut, menurutnya, menumbuhkan etos kerja positif sekaligus sikap mawas diri dalam menjalankan amanah.

“Kita bekerja bukan karena perintah atasan semata atau karena mengejar materi, melainkan karena Allah, Rasul, dan orang mukmin melihat kerja kita. Kelak, seluruh khidmat ini akan dipertanggungjawabkan di hadirat Allah Ta’ala,” katanya.

Rapat Pleno ini, lanjut Tasyrif, diharapkan semakin menguatkan kiprah strategis serta memperkuat peran Kampus Utama Yayasan Hidayatullah Timika, sehingga keberadaannya semakin memberi dampak nyata bagi masyarakat Papua Tengah, khususnya di wilayah Mimika, dalam kerangka pembangunan umat dan bangsa yang berkelanjutan.

“Rapat Pleno Akhir Kepengurusan ini sebagai ruang strategis bersama untuk melakukan evaluasi menyeluruh atas perjalanan organisasi selama satu periode kepengurusan,” pesan Ketua Dewan Pembina Yayasan Hidayatullah Timika ini.

Tasyrif menegaskan bahwa capaian organisasi tidak dapat dipahami semata sebagai hasil kerja administratif atau teknis. Dalam pada itu, dia menegaskan bahwa kerja organisasi adalah ikhtiar kolektif yang berkelindan dengan dimensi keimanan.

Menurutnya, keberlangsungan dan pencapaian yayasan selama lima tahun terakhir bertumpu pada spiritualitas yang terus dijaga melalui munajat, musyawarah, khidmat yang meluas dan universal, dan mujahadah yang konsisten.

“Apa yang kita hasilkan hari ini adalah hasil munajat, musyawarah, dan mujahadah kita selama lima tahun terakhir. Kita telah memberikan yang terbaik sesuai kemampuan, namun tentu saja di sana-sini masih banyak kekurangan yang perlu diperbaiki,” ujarnya.

Tasrif Amin juga menyampaikan rasa syukur atas keberlangsungan yayasan di tengah berbagai ujian dan tantangan. Ia menilai eksistensi organisasi dapat terjaga berkat soliditas jamaah, kompetensi sumber daya manusia, serta integritas para pengurus dalam menjalankan amanah.

Agenda ini dihadiri oleh jajaran Pembina, Pengawas, serta seluruh fungsionaris yayasan, dan diposisikan sebagai forum pertanggungjawaban kelembagaan sekaligus refleksi atas khidmat yang telah dijalankan.

Dalam rangkaian acara, Pelaksana Tugas Ketua Yayasan Hidayatullah Timika, Ustadz Akbar Ridloy, mengajak mendoakan para pendahulu dari unsur Pembina, Pengawas, dan Ketua Yayasan yang telah wafat.

“Kita berada di sini melanjutkan estafet perjuangan mereka. Semoga amal jariyah para pendahulu kita diterima di sisi Allah SWT dan kita mampu meneruskan cita-cita besar mereka untuk kemaslahatan masyarakat yang lebih luas,” tuturnya.