BANDUNG (Hidayatullah.or.id) — Agenda sosial bertajuk Khitanan Berkah Nusantara kembali digelar oleh Laznas Baitulmaal Hidayatullah (BMH) sebagai bagian dari program rutin akhir tahun.
Perwakilan Manajemen BMH Jawa Barat, Yosep Suhendar, mengatakan kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat kolaborasi kebaikan sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap anak-anak dai, guru ngaji, serta warga sekitar pesantren.
Pelaksanaan kegiatan berlangsung di Pondok Pesantren Hidayatullah Bandung yang berlokasi di wilayah Padasuka, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Selasa, 3 Rajab 1447 (23/12/2025).
Rangkaian acara diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh salah satu orang tua peserta khitan, yang juga berkhidmat sebagai guru pesantren. Suasana khidmat tersebut menjadi pengantar pembukaan kegiatan, dilanjutkan dengan sambutan dari berbagai pihak, mulai dari perwakilan BMH, pimpinan yayasan pesantren, tim medis, hingga unsur pemerintahan kelurahan setempat. Nuansa keislaman dan kebersamaan tampak kuat mewarnai seluruh rangkaian acara.
Yosep Suhendar dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur kepada Allah atas terselenggaranya program ini berkat dukungan para donatur dan sinergi berbagai pihak. Ia mengapresiasi kepercayaan orang tua peserta, pengurus yayasan, serta dukungan pemerintah kelurahan.
Menurutnya, BMH sebagai lembaga amil zakat nasional terus berupaya menghadirkan manfaat nyata bagi umat melalui jaringan cabang dan pesantren binaan yang tersebar di berbagai daerah.
Sebagai tuan rumah kegiatan, Ketua Yayasan Hayatan Thayyibah Pesantren Hidayatullah Bandung, Ustadz Abdul Wakit, menyambut pelaksanaan Khitanan Berkah Nusantara dengan penuh kegembiraan.
Ia mendoakan para amil BMH, donatur, dan seluruh peserta khitan agar senantiasa diberi kesehatan serta keberkahan. Ungkapan syukur tersebut mencerminkan semangat ukhuwah dan kepedulian sosial yang menjadi bagian dari nilai dakwah pesantren.
Pokok perhatian dalam kegiatan ini disampaikan oleh Lurah Padasuka, M. Fahlah Hudaya Mimbar, S.I.P., yang secara resmi membuka acara. Ia mengapresiasi langkah BMH sebagai wujud konkret kepedulian terhadap masyarakat.
Fahlah menyatakan ketertarikannya untuk melanjutkan kolaborasi kebaikan tersebut melalui rencana penandatanganan nota kesepahaman atau MOU bersama BMH di bidang kesehatan, pendidikan, dan sektor sosial lainnya.
“Kami ingin meneruskan kebaikan kolaborasi ini secara lebih terstruktur sebagai bentuk tanggung jawab kepada pimpinan dan masyarakat,” ujarnya. Pada kesempatan tersebut, ia juga memberikan dukungan langsung kepada peserta khitan berupa bantuan uang tunai.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan doa bersama dan sesi foto, sebelum memasuki proses khitan. Momentum ini menjadi pengalaman bermakna bagi para peserta dan keluarga.
Salah satu orang tua peserta, ayah dari Umar dan Hamzah, mengungkapkan rasa syukurnya dapat mengikuti program ini karena sangat membantu meringankan beban biaya, sekaligus memperoleh uang saku, bingkisan, dan layanan konsultasi medis gratis.
Program Khitanan Berkah Nusantara diikuti oleh 20 anak dari lingkungan sekitar pesantren dengan penanganan langsung tenaga medis profesional dari Klinik Amanah Padasuka. Selain layanan khitan tanpa biaya, peserta juga menerima bingkisan sebagai bentuk perhatian.
Melalui program ini, Yosep menambahkan, BMH berharap sinergi antara lembaga sosial, pemerintah, dan masyarakat terus terjaga demi kemaslahatan bersama dalam bingkai keislaman dan keindonesiaan.
JIKA tidak ada rekrutmen, maka dua puluh tahun ke depan tinggal nama. Demikian pesan itu berseliweran seperti palu yang diketukkan perlahan di meja sejarah, tidak memekakkan telinga, tetapi mengguncang kesadaran. Sebuah peringatan struktural tentang masa depan sebuah organisasi.
Kalimat tersebut menegaskan bahwa keberlanjutan tidak pernah bersifat otomatis; ia harus dirawat melalui kesadaran, perencanaan, dan tindakan yang konsisten.
Setiap organisasi hidup melalui manusia. Manusia adalah subjek yang menggerakkan nilai, menjalankan struktur, dan memikul amanah kolektif. Namun manusia juga tunduk pada hukum alam dan sunnatullah yang tidak dapat ditawar: menua, melemah, dan pada akhirnya wafat.
Karena itu, rekrutmen tidak dapat diposisikan sebagai aktivitas administratif belaka atau program kerja yang bisa ditunda. Rekrutmen adalah hukum keberlanjutan. Tanpanya, organisasi apa pun hanya menunggu waktu hingga kehilangan denyut kehidupannya.
Prinsip ini dipahami secara serius dalam pengelolaan negara modern. Setiap tahun, rekrutmen dibuka di sektor militer, kepolisian, dan birokrasi sipil karena selalu ada kekosongan akibat pensiun dan kematian.
Negara bahkan tidak cukup hanya menunggu pelamar, tetapi membangun sekolah-sekolah kedinasan untuk menyiapkan kader secara sistematis, berjenjang, dan disiplin. Masa depan, dalam perspektif negara, tidak boleh diserahkan pada kebetulan, melainkan harus dirancang melalui perencanaan jangka panjang.
Dunia usaha bergerak dengan logika yang serupa. Walaupun menggunakan bahasa yang lebih pragmatis, substansinya tetap sama, yakni regenerasi. Tanpa rekrutmen yang berkelanjutan, perusahaan hanya akan bertahan sebagai nama dagang dan arsip masa lalu. Prinsip ini bersifat universal, melintasi sektor, ideologi, dan latar budaya organisasi.
Perjuangan Nilai
Dalam konteks tersebut, Hidayatullah sejatinya telah memahami hukum keberlanjutan ini sejak awal kelahirannya sebagai pesantren dan kini sebagai ormas yang berkhidmat untuk khalayak luas. Dakwah tidak dimaknai semata sebagai ceramah, melainkan sebagai ajakan untuk bergabung dan hidup di dalam nilai.
Santri yang pulang ke kampung halaman tidak hanya membawa kerinduan, tetapi juga amanah sosial untuk mengajak keluarga, tetangga, dan lingkungan terdekat. Rekrutmen berlangsung secara alami, dari mulut ke mulut dan dari hati ke hati.
Sejarah mencatat bahwa pola ini pernah melahirkan peristiwa sosial yang penting. Dalam beberapa fase awal, rekrutmen bahkan terjadi secara kolektif, yang melibatkan keluarga besar atau komunitas dalam satu wilayah. Fenomena ini adalah fakta sejarah yang menunjukkan bahwa rekrutmen pernah menjadi gerakan sosial yang hidup, kolosal, organik, dan berakar di masyarakat.
Namun pengalaman panjang juga mengajarkan bahwa tidak semua rekrutmen menghasilkan dampak yang sama. Ada rekrutmen yang memiliki daya ungkit lebih besar dan berpengaruh dalam jangka panjang.
Rekrutmen di kalangan mahasiswa merupakan salah satu contoh paling menentukan. Kelompok ini membawa tradisi berpikir kritis, kapasitas intelektual, dan energi perubahan yang kuat. Tidak mengherankan jika struktur kepemimpinan organisasi pada masa kini banyak diisi oleh kader-kader yang dahulu direkrut pada fase ini.
Mereka tidak hadir secara instan, melainkan melalui proses panjang tarbiyah, pengabdian, dan pembelajaran organisasi. Pada masanya, mereka datang sebagai mahasiswa yang membawa semangat intelektual, lalu ditempa dalam medan dakwah dan kepemimpinan hingga matang secara visi dan karakter. Fakta ini menunjukkan bahwa investasi kaderisasi berbasis rekrutmen mahasiswa memiliki dampak struktural yang signifikan dalam menjaga kesinambungan organisasi.
Fenomena serupa terlihat pada cabang-cabang organisasi yang berkembang pesat. Cabang yang berada di kota-kota dengan ekosistem pendidikan tinggi umumnya menunjukkan dinamika pertumbuhan yang lebih kuat. Kesamaan mendasarnya terletak pada keberanian merekrut mahasiswa dan mempercayai mereka sebagai kader pelopor.
Walakin, kepercayaan ini bukan tanpa risiko, namun sejarah telah membuktikan bahwa keputusan tersebut melahirkan generasi pemimpin yang mampu menjaga arah dan identitas organisasi.
Beberapa dekade kemudian, kader-kader hasil rekrutmen strategis tersebut berdiri sebagai pelaku sejarah, bukan sekadar pengisi struktur. Mereka mampu menangkap, menerjemahkan, dan meneruskan cita-cita pendiri dan perintis, meskipun generasi awal telah banyak berpulang atau memasuki usia senja. Di titik inilah tampak bahwa eksistensi organisasi tidak ditopang oleh figur personal, melainkan oleh sistem rekrutmen dan kaderisasi yang visioner.
Dimensi Perguruan Tinggi
Kesadaran akan pentingnya kaderisasi ini mendorong lahirnya Perguruan Tinggi Hidayatullah pada pertengahan dekade 1990-an. Dalam bahasa organisasi, lembaga ini dapat dipahami sebagai sekolah kedinasan yang berfungsi sebagai pintu rekrutmen kader intelektual dan calon pemimpin masa depan.
Hingga kini, berbagai perguruan tinggi di bawah naungan organisasi telah berdiri dan meluluskan alumni yang mengisi posisi strategis di tingkat pusat, wilayah, dan daerah.
Data internal menunjukkan bahwa sebagian besar pengurus tingkat pusat, wilayah, dan satuan pendidikan berasal dari jalur perguruan tinggi ini. Namun capaian tersebut belum sepenuhnya memuaskan.
Daya dobraknya belum sebanding dengan rekrutmen mahasiswa pada fase awal, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Masih terdapat tantangan berupa ketidakkonsistenan pengabdian dan belum optimalnya pelaksanaan amanah oleh sebagian alumni.
Kemungkinan besar, ini adalah persoalan waktu dan proses. Kiprah alumni perguruan tinggi organisasi relatif masih muda dibanding generasi awal. Artinya, ruang harapan belum tertutup.
Regenerasi dan estafet kepemimpinan di semua level masih terbuka lebar, dengan satu prasyarat utama: peningkatan kompetensi yang berkelanjutan serta komitmen yang teguh pada jati diri organisasi.
Sejarah tidak pernah selesai. Ia hanya menunggu apakah sebuah organisasi memiliki keberanian untuk terus merekrut, membina, dan menyiapkan generasi penerusnya secara sadar dan terencana.
*) Dr Abdul Ghofar Hadi,penulis Ketua Bidang Perkaderan DPP Hidayatullah
SINTANG (Hidayatullah.or.id) — Kegiatan Survival Kids Camp 2025 yang diselenggarakan oleh Search and Rescue Unit (SRU) Hidayatullah Sintang bersama SAR Kids Hidayatullah Angkatan ke-IV berlangsung selama dua hari, 20–21 Desember 2025. Ketua SRU Hidayatullah Sintang, Kalimantan Barat, Arif Subagyo, mengatakan agenda rutin ini menjadi ruang edukasi kebencanaan berbasis pengalaman yang dirancang khusus bagi anak-anak, dengan pendekatan terstruktur, aman, dan edukatif.
Arif menjelaskan bahwa SAR Kids merupakan program pembinaan berkelanjutan yang berfokus pada penanaman keterampilan dasar penyelamatan, kemandirian, serta kepedulian terhadap situasi darurat sejak usia dini. Menurutnya, pembekalan tersebut penting sebagai bagian dari ikhtiar membangun generasi yang siap menghadapi risiko kebencanaan, khususnya di wilayah yang rawan bencana alam.
“Sejak awal, SAR Kids dirancang untuk mengenalkan keterampilan dasar SAR dan survival secara bertahap. Anak-anak belajar bukan untuk bersaing, tetapi memahami peran, tanggung jawab, dan kerja sama,” ujar Arif dalam keterangannya, Rabu, 4 Rajab 1447 (24/12/2025).
Ia menambahkan bahwa prinsip utama kegiatan ini adalah membentuk mental tangguh dan kepedulian sosial, sejalan dengan nilai keislaman yang menekankan kemaslahatan dan kesiapsiagaan.
Selama kegiatan, peserta menerima materi praktik yang relevan dengan kondisi lapangan. Di antaranya teknik mendirikan tenda, dasar tali-temali, mitigasi bencana banjir dan tanah longsor, cara menjernihkan air, pengenalan tanaman hutan yang aman dikonsumsi, hingga pembuatan bivak atau tenda darurat. Seluruh materi disampaikan dengan metode interaktif agar mudah dipahami anak-anak.
Peserta yang terlibat dalam Survival Kids Camp 2025 ini berasal dari Panti Asuhan Insan Jemelak, TPA Al-Qalam Hidayatullah Sintang, TK YAA Bunayya Sintang, serta anak-anak dari masyarakat umum. Rangkaian kegiatan ditutup dengan outbound yang meliputi rappeling, flying fox, dan berjalan di atas tali. Aktivitas tersebut dirancang untuk melatih keberanian, kepercayaan diri, serta kemampuan bekerja dalam tim.
Arif menjelaskan bahwa suasana kegiatan berlangsung penuh keceriaan. Anak-anak mengikuti seluruh sesi dengan semangat tinggi. “Bagi mereka, dua hari terasa singkat. Bahkan ada yang berharap kegiatan serupa dapat kembali digelar pada angkatan berikutnya,” katanya.
Antusiasme peserta juga tercermin dari kesaksian Syifa, salah satu peserta. Ia menyampaikan kegembiraannya saat mengikuti wahana tantangan. “Saya siap meluncur terbang pakai flying fox,” ujarnya dengan penuh percaya diri, mencerminkan keberanian yang tumbuh melalui proses pembinaan.
Dukungan orang tua turut memperkuat nilai kegiatan ini. Salah seorang wali peserta menyampaikan apresiasinya atas perubahan sikap anaknya yang semakin berani dan tidak mudah menyerah.
“Saya bangga melihat anak saya lebih percaya diri. Terima kasih atas bimbingan para pendamping. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kesehatan dan keberkahan,” tuturnya.
Kegiatan ini terselenggara melalui kolaborasi berbagai pihak, antara lain Yayasan Al Fath Hidayatullah Sintang, Panti Asuhan Insan Jemelak, TPA Al-Qalam Hidayatullah Sintang, TK YAA Bunayya Sintang, Basarnas Pos Sintang, SAR Nasional Hidayatullah, Nature Guide, Dinas Sosial Kabupaten Sintang, serta para simpatisan SAR Kids.
Melalui Survival Kids Camp 2025, Arif menambahkan, SRU Hidayatullah Sintang menegaskan komitmennya dalam menyiapkan generasi muda yang berdaya, peduli, dan siap berperan dalam situasi darurat. Pelaksanaan kegiatan berjalan lancar dan diikuti dengan antusias oleh seluruh peserta.
“Upaya ini sebagai bagian dari kontribusi keumatan dan kebangsaan dalam membangun masyarakat Indonesia yang tangguh menghadapi bencana,” katanya.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan tersebut, SRU Hidayatullah Sintang juga membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. Bagi sekolah, instansi, korporasi, maupun lembaga yang ingin menyelenggarakan pelatihan kebencanaan dan keterampilan dasar penyelamatan serupa, dapat menghubungi unit SIGAB kantor SAR Hidayatullah di kota terdekat atau mengakses informasi resmi melalui laman www.sarhidayatullah.com.
YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Umat Islam berduka atas berpulangnya seorang figur panutan yang selama ini menghidupkan denyut dakwah di tengah masyarakat. KH Muhammad Jazir ASP, sosok kharismatik yang dikenal luas sebagai Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan, wafat di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada Senin, 2 Rajab 1447 (22/12/2025) dini hari sekitar pukul 03.00 WIB.
Kabar duka ini menyebar cepat dan mengetuk kesadaran banyak hati, sebagaimana diumumkan melalui akun Instagram resmi masjid yang selama ini menjadi rumah pengabdian beliau.
Kepergian KH Muhammad Jazir ASP meninggalkan jejak keheningan yang dalam. Jenazah almarhum disemayamkan di Masjid Jogokariyan—tempat yang ia rawat bukan hanya sebagai bangunan ibadah, tetapi sebagai pusat pembinaan umat dan simpul persaudaraan.
Dari masjid inilah beliau akan dimandikan, dishalatkan, dan dilepas untuk peristirahatan terakhirnya usai salat Zuhur pada hari yang sama, diiringi doa dan isak yang menyatu.
Di mata jamaah dan masyarakat luas, sosok kharismatik ini adalah penggerak dakwah yang setia bekerja di akar rumput, merangkul yang lemah, menguatkan yang ragu, dan menyalakan harapan melalui kerja-kerja sunyi yang konsisten.
Kesederhanaan langkah dan keteguhan komitmennya menjadikan dakwah terasa dekat, membumi, dan menghidupkan. Kepergiannya menyisakan duka, namun juga warisan teladan—bahwa dakwah sejati tumbuh dari kedekatan dengan umat dan ketulusan melayani.
Wariskan Jejak Dakwah
Dalam sebuah catatan yang sampai ke meja redaksi, wartawan senior Dzikrullah W. Pramudya menuliskan kesaksiannya tentang seorang tokoh yang hidupnya menyatu dengan denyut umat: aktivis rakyat, da’i, pemikir, sarjana hukum, sarjana tarbiyah, pekerja sosial, pengembang masyarakat, sekaligus pemikir Pancasila yang bekerja dalam sunyi namun berdampak luas.
Jejak awal perkenalan Dzikrullah dengan Muhammad Jazir bermula pada pertengahan 1988, bukan lewat perjumpaan atau percakapan, melainkan dari sebuah album kecil berisi foto-foto dokumentasi dakwah.
Foto-foto hitam putih itu tampak sederhana—diambil dari film analog yang di-afdruk—namun menyimpan daya gugah yang kuat, memantulkan ketekunan, keberanian, dan ketulusan perjuangan di tengah keterbatasan.
Pada masa itu, Dzikrullah masih berstatus siswa kelas dua SMA Muhammadiyah 2 Pucang, Surabaya. Di waktu yang sama, ia juga menjadi santri di pesantren mahasiswa Hidayatullah di Jalan Gebang Lor No. 49, Sukolilo, tidak jauh dari kampus ITS. Sejak edisi ketiga Juli 1988, ia turut membantu Tim Redaksi Majalah Suara Hidayatullah—sebuah fase awal yang mempertemukannya dengan kisah-kisah besar para penggerak umat.
Dalam album tersebut, terlihat sosok pemuda bertubuh tinggi dan tegap—Muhammad Jazir—yang hampir selalu berdampingan dengan seorang pria paruh baya berkemeja batik, berkacamata tebal, dengan rambut dan janggut yang hampir memutih.
Pria itu adalah Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, yang dikenal luas sebagai Romo Mangun. Foto-foto itu diambil di berbagai desa di Gunung Kidul pada awal 1980-an, merekam kerja bakti bersama warga, dialog kemanusiaan, serta pendampingan sosial di tengah deraan kekeringan panjang.
Kala itu, Muhammad Jazir yang aktif di Angkatan Muda Masjid memilih mendampingi Romo Mangun dalam pembangunan sumur air bersih bagi warga. Pendampingan tersebut bukan sekadar kerja sosial, melainkan ikhtiar sadar untuk menjaga dan menguatkan akidah masyarakat Muslim di tengah masifnya gerakan Kristenisasi.
Setiap kali satu sumur selesai dibangun, para aktivis dakwah segera menginisiasi peletakan batu pertama musholla. Dana pembangunan dihimpun dari para donatur di Yogyakarta dan sejumlah kota lain, menandai sinergi iman, solidaritas, dan keberpihakan pada rakyat kecil.
Perjumpaan langsung pertama Dzikrullah dengan Jazir terjadi pada Desember 1988, di rumah Jazir di Jalan Jogokariyan, Yogyakarta. Saat itu, Dzikrullah tengah menjalankan tugas jurnalistik untuk mewawancarai sejumlah tokoh nasional, di antaranya KH AR Fachruddin, Dr. Jamaluddin Ancok, dan Dr. M. Amien Rais. Tanpa janji sebelumnya dan tanpa dukungan fasilitas komunikasi modern, Jazir menerima dan membimbing reporter remaja berusia 16 tahun yang masih nyambi SMA itu hingga seluruh tugasnya tuntas.
“Karena waktu itu belum ada telefon seluler, belum ada pesan pendahuluan, tapi Mas Jazir sama sekali tidak kelihatan kaget menerima kami. Setelah mendengar penjelasan tentang maksud kami ke Jogja pun beliau terlihat biasa saja. Hanya tersenyum. Setelah menyuruh mandi dan menyuguhi sarapan, Mas Jazir menjelaskan kendaraan umum menuju ke tiga tokoh tadi, tanpa bikin janji sebelumnya,” kenang Dzikrullah.
Peran strategis Muhammad Jazir kembali menonjol pada Musyawarah Nasional V BKPRMI tahun 1989 di Masjid Al-Falah, Surabaya. Ia tampil sebagai penggerak lahirnya Gerakan Nasional Pendirian Taman Pendidikan Al-Qur’an dan TK Al-Qur’an. Gerakan ini memperoleh dukungan Menteri Agama Prof. Munawir Syadzali dan Menteri Penerangan Harmoko, lalu berkembang pesat hingga menjangkau seluruh Indonesia, bahkan meluas ke Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand.
Ustadz Muhammad Jazir tercatat dalam sejarah sebagai aktivis dakwah, pemikir, pekerja sosial, dan motor penggerak pendidikan Al-Qur’an lintas generasi. Keteladanan sikap, keberanian mengambil peran, serta visi kebangsaannya menempatkan beliau sebagai salah satu figur penting dalam perjalanan dakwah dan pemberdayaan umat di Indonesia.
Kepergian Ustadz Muhammad Jazir meninggalkan jejak dan warisan dakwah masjid yang kokoh. Ia menjadi pengingat kolektif bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai ruang ibadah, melainkan pusat pembinaan iman, penguatan Al-Qur’an, dan fondasi peradaban Islam yang hidup dan membumi.
BABEL (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Abdul Ghofar Hadi, menegaskan bahwa amanah pengabdian dakwah dan pengembangan masyarakat melalui organisasi Hidayatullah merupakan tugas yang tidak ringan. Amanah tersebut, menurutnya, menuntut kesiapan spiritual dan intelektual agar dapat dijalankan secara bertanggung jawab.
Pesan itu disampaikan saat penutupan Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-III Hidayatullah Bangka Belitung yang berlangsung selama dua hari di Kota Pangkalpinang, Ahad hingga Senin, 1-2 Rajab 1447 (21–22/12/2025).
Ghofar menekankan bahwa iman menjadi fondasi utama dalam memikul amanah. Ia menjelaskan bahwa tanpa keyakinan yang kokoh kepada Allah dan ajaran tentang dosa dan pahala, surga dan neraka, amanah berisiko diselewengkan.
“Sulit untuk bisa amanah jika tidak memiliki iman atau tidak percaya dengan Allah, tidak percaya dengan dosa dan pahala, surga dan neraka. Jika tidak beriman maka cenderung mengkhianati amanah dengan menghalalkan segala cara,” kata Ghofar.
Selain iman, ia menegaskan pentingnya ilmu sebagai penopang profesionalitas dalam menjalankan tugas organisasi. Menurutnya, setiap amanah memerlukan kapasitas keilmuan yang sesuai dengan bidangnya. Jabatan apa pun, baik ketua, sekretaris, bendahara, maupun pengelola departemen, membutuhkan pengetahuan agar tanggung jawab dapat dilaksanakan secara tepat. Ia menyebut bahwa penguatan kompetensi merupakan bagian tak terpisahkan dari amanah kepemimpinan.
Dalam kerangka dinamika tersebut, Ghofar mengajak kader untuk meneladani Rasulullah SAW, atau setidak tidaknya kepada para tokoh pendiri dan pimpinan Hidayatullah. Ia mencontohkan pendiri Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said rahimahullah, yang dikenal memiliki kegemaran berefleksi dengan tekun membaca sejak usia muda.
“Beliau menggagas pesantren Hidayatullah sebagai buah dari belajar, membaca, dan menyelami buku-buku. Hobinya sejak kecil adalah membaca buku. Saat di PGA, uang beasiswanya habis untuk membeli buku. Buku tentang sejarah, manajemen, leadership, tafsir, dan berbagai macam buku dibaca habis,” ujarnya.
Ghofar juga menyebut Rais ‘Aam Hidayatullah, K.H. Abdurrahman Muhammad, sebagai figur yang memiliki tradisi keilmuan serupa. “Selain membaca beberapa juz Al-Qur’an setiap hari, beliau pembelajar dan pergi ke mana-mana selalu membawa dan membaca buku,” kata Ghofar.
Tradisi membaca ini, lanjutnya, selaras dengan manhaj Hidayatullah yang berlandaskan Sistematika Wahyu. Ia menegaskan bahwa perintah pertama dalam Al-Qur’an adalah membaca, iqra!, yang ia sebut sebagai perintah revolusioner dalam membangun peradaban.
Selain itu, Ghofar mendorong kader untuk terus belajar dan menekuni literatur yang relevan dengan amanah yang diemban. “Tugas pertama setelah mendapatkan amanah adalah mencari buku-buku tentang amanahnya dan berusaha melaksanakannya dengan baik. Maka, insya Allah, tugas apa pun bisa ditunaikan dengan profesional. Karena semua ada ilmunya dengan basic iman yang kuat,” katanya.
Ghofar pun mengajak menjadikab keseluruhan rangkaian Muswil ini sebagai cermin dalam meneguhkan amanah dakwah yang berpijak pada iman dan ilmu, sejalan dengan nilai keislaman dan keindonesiaan dalam membangun masyarakat secara berkelanjutan.
Sekilas Hidayatullah Bangka Belitung
Muswil ke-III ini juga menjadi momentum refleksi perjalanan Hidayatullah Bangka Belitung. Secara struktural, Dewan Pengurus Wilayah Bangka Belitung terbentuk pada 2015, meski perintisan dakwah telah dimulai sejak 2003 oleh Ustadz Nur Yahya Asa.
Perkembangan berlanjut pada 2012 ketika Ustadz Irwan Sambasong meneruskan perjuangan dengan berbagai tantangan dalam merintis pesantren, membuka sekolah, dan menghadirkan santri di Pondok Pesantren Hidayatullah Pangkalpinang.
Saat ini, Hidayatullah Bangka Belitung telah mengelola sejumlah kampus dan sekolah yang tersebar di empat kabupaten. Perkembangan tersebut menjadi bagian dari proses regenerasi organisasi. Irwan Sambasong kini mengemban amanah baru sebagai Ketua DPW Hidayatullah Sumatera Selatan periode 2025–2030.
Berdasarkan Surat Keputusan DPP Hidayatullah, Dewan Murabbi Wilayah Bangka Belitung diketuai Ustadz Djoko Mustofa, S.Sos.I, dengan anggota Ustadz H. Ahmad Junaidi, S.Pd.I. Kepengurusan DPW dipimpin Ketua Suardin Zalukhu, Sekretaris Taufik Hidayat, Bendahara Winanto, serta jajaran departemen terkait.
SORONG (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua Barat Daya, M. Sanusi, mengatakan Musyawarah Daerah (Musda) gabungan Hidayatullah Papua Barat Daya menjadi tonggak penting penguatan konsolidasi organisasi di wilayah timur Indonesia.
“Forum ini sebagai ruang peneguhan komitmen dakwah, pendidikan, dan pelayanan umat yang berkelanjutan, sejalan dengan spirit keislaman dan kebangsaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Sanusi dalam sambutannya pada Musda Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah se–Papua Barat Daya yang digelar di Kampus Hidayatullah Kota Sorong pada Selasa, 3 Rajab 1447 (23/12/2025).
Musda gabungan tersebut diikuti oleh unsur inti DPD dari Kabupaten Sorong, Kota Sorong, Kabupaten Sorong Selatan, dan Kabupaten Raja Ampat. Adapun Kabupaten Maybrat dan Kabupaten Tambrauw masih berada dalam tahap perintisan organisasi.
Kegiatan Musda turut dihadiri unsur Dewan Murabbi Wilayah (DMW) dan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua Barat Daya.
“Partisipasi kita semua pada Musda ini menunjukkan semangat kebersamaan serta keseriusan dalam menata arah gerak dakwah dan tarbiyah umat secara terstruktur,” kata Sanusi.
Salah satu agenda utama Musda adalah pelantikan empat Dewan Pengurus Daerah Hidayatullah di wilayah Papua Barat Daya. Pelantikan ini menandai dimulainya masa amanah baru bagi para pengurus daerah untuk menjalankan roda organisasi secara lebih sistematis dan profesional, sesuai dengan visi dan misi Hidayatullah dalam membina umat dan memperkuat kontribusi sosial-keagamaan di daerah.
Sanusi dalam sambutannya menempatkan amanah kepengurusan sebagai pokok pembahasan utama. Ia menegaskan bahwa kepercayaan yang diberikan kepada para pengurus bukan sekadar jabatan struktural, melainkan tanggung jawab moral dan spiritual yang harus dijalankan dengan keikhlasan, kesungguhan, dan rasa tanggung jawab.
Amanah tersebut, menurutnya, bertujuan menghadirkan kebaikan nyata bagi daerah melalui wasilah dakwah dan tarbiyah umat.
“Kesabaran adalah kunci dalam mengelola organisasi. Amanah yang tidak ringan ini merupakan ladang ibadah yang harus dijalani dengan penuh kesadaran dan keikhlasan,” ujar Sanusi. Ia juga menekankan pentingnya penguatan aspek ekonomi sebagai bagian dari ikhtiar membangun kemandirian organisasi dan umat, sehingga dakwah dapat berjalan lebih kokoh dan berdaya tahan.
Selain itu, Sanusi mengingatkan agar kepengurusan yang baru segera melengkapi aspek administrasi organisasi, khususnya yang berkaitan dengan legalitas pemerintahan. Ia menyoroti pentingnya pendaftaran dan pelaporan ke Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) sebagai bentuk tertib organisasi sekaligus wujud kepatuhan terhadap regulasi negara.
Sementara itu, Anggota Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah, Nasran, dalam arahannya menegaskan bahwa amanah kepengurusan merupakan sarana pembinaan diri bagi kader. Ia menekankan bahwa tanggung jawab organisasi seharusnya mendorong peningkatan kualitas iman, kepribadian, dan kesiapan dakwah di mana pun kader ditempatkan.
“Kita ditakdirkan sebagai khalifah di muka bumi. Di mana pun kita berada, di situlah tanggung jawab dakwah dan perbaikan umat harus dijalankan,” tegasnya.
Seluruh rangkaian Musda berlangsung tertib dan lancar. Kegiatan ditutup dengan doa bersama sebagai ungkapan syukur serta harapan agar seluruh pengurus diberikan kekuatan dan keistiqamahan dalam menjalankan amanah. Sesi foto bersama menandai soliditas dan kebersamaan organisasi dalam melangkah ke fase pengabdian berikutnya di Papua Barat Daya.
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Hidayatullah melakukan silaturahmi kelembagaan dengan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) di Jakarta pada Selasa, 3 Rajab 1447 (23/12/2025). Pertemuan berlangsung di kantor kementerian di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, sebagai bagian dari penguatan komunikasi dan penjajakan kolaborasi dalam agenda pelestarian lingkungan hidup dan kehutanan nasional.
Dalam pertemuan tersebut, Hidayatullah diwakili oleh Wakil Sekretaris Jenderal, Muhammad Isnaini, didampingi Rusdi Hidayat selaku Ketua Departemen Produksi dan Perdagangan DPP Hidayatullah. Kehadiran delegasi ini diterima langsung oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan yang juga menjabat Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perhutanan Sosial, Mahfuz, dengan didampingi Ishak Yassir selaku Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kehutanan.
Muhammad Isnaini menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan oleh jajaran Kementerian Kehutanan. Ia menegaskan bahwa silaturahmi ini dimaksudkan untuk membangun pemahaman bersama terkait program strategis kehutanan serta membuka ruang sinergi antara pemerintah dan elemen masyarakat sipil. “Kami menyampaikan terima kasih atas penerimaan yang hangat dalam silaturahmi ini,” ujarnya.
Agenda pertemuan membahas sejumlah program prioritas Kementerian Kehutanan dan arah kebijakan nasional pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, khususnya pada isu penghijauan dan pelestarian hutan.
Dalam konteks tersebut, perhatian diarahkan pada kondisi hutan di Kalimantan yang menghadapi tekanan akibat pembalakan hutan dan praktik penebangan ilegal. Isnaini menyinggung kawasan Bukit Suharto sebagai salah satu contoh kawasan yang secara historis memiliki nilai ekologis tinggi dan berfungsi sebagai habitat satwa serta penyangga ekosistem di sekitarnya.
Dalam paparannya, Isnaini juga mengingatkan rekam jejak Hidayatullah dalam upaya pemulihan lingkungan. Ia menyampaikan bahwa Hidayatullah pernah menerima anugerah Kalpataru dari Presiden Soeharto pada tahun 1984 atas kontribusi dalam menjaga dan memulihkan lingkungan yang mengalami kerusakan. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi modal sosial dan moral bagi Hidayatullah untuk terus berperan aktif dalam pelestarian alam.
“Hidayatullah siap berkolaborasi dan bersinergi dengan pemerintah, khususnya Kementerian Kehutanan, agar hutan dan lingkungan dapat kembali asri sebagaimana mestinya,” kata Isnaini. Ia menambahkan bahwa Hidayatullah memiliki jaringan kader dan lembaga yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, yang dapat menjadi kekuatan pendukung dalam pelaksanaan program penghijauan dan perhutanan sosial.
Isnaini menambahkan, Hidayatullah menempatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai amanah keagamaan sekaligus tanggung jawab kebangsaan, yang menuntut kerja sama lintas institusi demi keberlanjutan hutan Indonesia bagi generasi mendatang.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan menyampaikan apresiasi dan rasa haru atas komitmen serta kehadiran Hidayatullah di berbagai daerah, termasuk di Kalimantan Timur.
Ia menyinggung kontribusi Hidayatullah dalam merawat lingkungan di wilayah tersebut hingga memperoleh pengakuan nasional berupa Kalpataru. “Kami merasa gembira atas komitmen dan kiprah Hidayatullah yang konsisten dalam menjaga lingkungan,” ujarnya.
Pihak Kementerian Kehutanan menyatakan kesiapan untuk menjalin kolaborasi dan sinergi dengan Hidayatullah dalam program pemulihan dan pembangunan hutan di Indonesia. Salah satu kawasan yang disebut sebagai potensi kerja sama adalah Bukit Suharto, yang dinilai membutuhkan upaya bersama untuk mengembalikan fungsi ekologisnya.
Perkenalan pertama penulis dengan Ust. Muhammad Jazir, ASP terjadi di album foto, pertengahan tahun 1988. Foto-foto itu sederhana tapi kisah yang diantarkannya heroik dan tak terlupakan, setidaknya bagi remaja seperti penulis saat itu. Perkenalan berikutnya berjumpa langsung di rumahnya, Desember 1988.
Salah satu keasyikan bekerja sebagai anak bawang Tim Redaksi Majalah Suara Hidayatullah sejak edisi ketiga bulan Juli 1988 adalah memandangi satu demi satu, ratusan foto cetak yang merekam kegiatan dakwah berbagai gerakan Islam di masa-masa sebelumnya. Waktu itu belum ada foto digital, semua di-afdruk dari film dan dicetak.
Oh ya, disebut “anak bawang” karena waktu itu penulis masih duduk di bangku kelas 2 SMA Muhammadiyah 2, Pucang, Surabaya. Siang sepulang sekolah, lalu malam sampai pagi nyantri di pesantren mahasiswa Hidayatullah Jl. Gebang Lor No. 49, Sukolilo di dekat kampus ITS. Sebagai siswa-santri, penulis ditugaskan membantu para senior mengerjakan majalah, tata letak dan redaksinya.
Salah satu dokumentasi yang paling mengesankan ialah dua( album kecil berisi foto-foto seorang pemuda tinggi gagah, nampak selalu bersama seorang pria paruh baya. Rambut pria paruh baya itu lurus rapi hampir putih semua, berkumis dan berjenggot, hampir putih semua juga, berkacamata tebal. Pemuda gagah tinggi itu selalu terlihat menggunakan jaket warna hijau tua tentara, pria paruh baya itu selalu mengenakan kemeja batik lengan pendek.
Foto-foto itu diambil di beberapa desa, kadang mereka berdua saja, kadang bersama warga. Ada yang sedang duduk ngobrol, ada yang sedang kerja bakti bersama warga, ada yang sedang menyantap makanan atau minuman. Ada yang di dalam ruangan, di teras rumah warga, di amben, ada yang di antara hutan bambu atau kebun di tanah yang kering.
Tapi foto mereka tanpa senyum. Tidak ada satupun di foto itu menunjukkan pemuda dan pria paruh baya itu tersenyum. Baik sendiri maupun berdua. Mengapa?
Karena pemuda tinggi gagah itu bersama teman-temannya dari Angkatan Muda Masjid (AMM) sedang sengaja menempeli pria paruh baya yang tengah menjalankan misi Katoliknya. Keduanya kelak tertulis dalam sejarah Indonesia sebagai orang-orang terkenal karena karyanya.
Pemuda itu Muhammad Jazir, aktivis rakyat, da’i, pemikir, sarjana hukum, sarjana tarbiyah, pekerja sosial, pengembang masyarakat, dan seorang pemikir Pancasila. Sedangkan pria paruh baya itu adalah Yusuf Bilyarta Mangunwijaya yang di tahun-tahun itu dikenal sebagai Romo Mangun, aktivis rakyat, misionaris Katolik, sastrawan, pemikir, arsitek lulusan Jerman, kolumnis.
Anak zaman sekarang yang sempat menikmati film Ainun-Habibie pasti menyaksikan adegan Habibie dan Romo Mangun ngobrol di kursi sebuah gereja di Jerman. Ya, keduanya belajar di RWTH Aachen University (Rheinisch-Westfälische Technische Hochschule) di tahun-tahun yang sama.
“Jadi Romo Mangun membikinkan sumur-sumur air bersih untuk warga Gunung Kidul yang di awal tahun 1980-an itu mengalami kekeringan sangat panjang,” kenang Mas Jazir sambil menyuguhi teh nasgitel suatu kali di teras rumahnya. “Kami sebagai mahasiswa aktivis masjid merasa terpanggil ikut mendampingi, terutama untuk mengawal aqidah warga desa.”
Maklum di tahun-tahun itu, gerakan Kristenisasi yang memurtadkan warga Muslim di desa-desa dan kawasan miskin kota sedang sangat gencar.
Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) sampai menerbitkan buku berjudul “Fakta dan Data Kristenisasi di Indonesia” yang merupakan kumpulan laporan dan investigasi bulanan Majalah Media Dakwah.
Maka, tutur Jazir, selain para aktivis dakwah kampus juga mengangkut mobil-mobil tangki air minum ke desa-desa, setiap kali Romo Mangun selesai membangun sumur, “Begitu sumur itu diserahkan kepada warga, saat itu juga kita maju ke depan ikut memberi sambutan, ‘Bapak-bapak Ibu-Ibu warga desa sekalian, kita berterima kasih kepada Romo Mangun yang sudah berbaik hati. Kita lanjutkan syukur kita kepada Allah atas hadirnya sumur ini, dengan peletakan batu pertama pendirian musholla di tempat ini. Semua warga bebas mengambil air di sini, dan kita beribadah kepada Allah sebagai syukur kita.” Uang pembangunan musholla, kata Mas Jazir, dicarikan dari para donatur di Jogja dan berbagai kota.
Itulah perkenalan pertama kami dengan Mas Jazir, lewat foto-foto perjalanannya di Gunung Kidul bersama Romo Mangun. Belum ketemu langsung sudah bikin kagum.
Perjumpaan Pertama
Sebuah tugas jurnalistik mengantarkan perjumpaan pertama kami dengan Mas Jazir. Desember waktunya liburan semester. Tapi santri yang sedang dikader, waktu itu tidak ada istilah ‘liburan’ yang ada “tugas dakwah ke rumah orang tua”.
Sebelum ke rumah orang tua, penulis diberi tugas reportase. “Pergi ke Jogja, temui Ustadz Jazir di Jalan Jogokariyan, sampaikan salam dari saya. Bilang, bahwa kamu ditugaskan mewawancarai Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah KH AR Fachruddin, Dr. Jamaluddin Ancok, dan Dr. M. Amien Rais,” demikian perintah Ustadz Hamim Thohari, Redaktur Suara Hidayatullah waktu itu kepada reporter berusia 16 tahun, yang masih nyambi SMA.
Tiba dari Surabaya di Terminal Bus Umbulharjo, azan subuh baru berkumandang di langit Jogja. Setelah solat di musholla, dan bertanya entah kepada siapa dan naik apa menuju Jalan Jogokariyan, dengan izin Allah kami tiba di rumah Mas Jazir. Beliau kawan seperjuangan sesama aktivis dakwah kampus dengan para senior kami, Ustadz Hamim dan Ustadz Abdurrahman.
Karena waktu itu belum ada telefon seluler, belum ada pesan pendahuluan, tapi Mas Jazir sama sekali tidak kelihatan kaget menerima kami. Setelah mendengar penjelasan tentang maksud kami ke Jogja pun beliau terlihat biasa saja. Hanya tersenyum. Mungkin sesama aktivis sudah saling faham, begini lah cara mereka menggembleng para remaja. Kasih tugas yang susah, sampai berhasil. Setelah menyuruh mandi dan menyuguhi sarapan, Mas Jazir menjelaskan kendaraan umum menuju ke tiga tokoh tadi, tanpa bikin janji sebelumnya.
Alhamdulillah, entah bagaimana cara Allah, seharian itu sampai sore, ketiga tokoh terkenal itu berhasil kami wawancarai. Senyum Mas Jazir semakin lebar, ketika sore hari menyambut kami kembali di rumahnya. Tak tahu lah apa yang ada dalam pikirannya, tapi rasanya beliau senang juga.
Selepas Isya, ditemani putra sulungnya Shofwan Al Banna Choiruzzad (waktu itu baru berusia 5 tahun, sekarang sudah akan jadi guru besar ilmu Hubungan Internasional di Universitas Indonesia), Mas Jazir mengantarkan kami makan bakso di dekat stasiun Tugu, untuk kemudian melepas kami naik kereta melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Yang paling mengesankan, cara beliau memeluk kami. Sangat erat, dan agak diangkat setinggi tubuhnya, sampai kami terpaksa berjinjit.
Pelukan Erat di Kongres BKPRMI
Gaya pelukan yang sama kami terima di Masjid Al-Falah, Surabaya, sehari sebelum Musyawarah Nasional BKPRMI (Badan Kerjasama Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia) kelima tahun 1989.
Penulis meliput acara itu dan mencari-cari Mas Jazir di ruang para pimpinan Munas. Begitu bertemu, beliau menyambut seperti kawan lama. Cara beliau memeluk dan menyambut, membesarkan jiwa seorang reporter remaja yang masih bau kencur.
Mas Jazir kemudian memanggil tokoh-tokoh terpenting BKPRMI waktu itu Abdurrahman Tarjo, Fajri Gumay, Yamin Amna dan banyak yang lain, memperkenalkan penulis agar mereka mudah untuk diwawancarai. Alhamdulillah, Munas itu menjadi peristiwa bersejarah, dengan izin Allah, dan diantaranya karena atas perjuangan Mas Jazir, dicanangkan lah Gerakan Nasional Pendirian Taman Pendidikan Al-Quran dan TK Al-Quran ke seluruh Indonesia, didukung oleh Menteri Agama Prof. Munawir Syadzali dan Menteri Penerangan Harmoko.
Apa istimewanya gerakan ini? Sekarang TPQ dan Rumah Quran ada di mana-mana di seluruh Indonesia. Biasa saja.
Jangan salah. Sekarang memang sudah biasa. Tapi tahun 1989 dan sesudahnya adalah tahun-tahun berakhirnya penindasan atas gerakan dakwah yang selama paruh awal kekuasaan Presiden Soeharto dijalankan oleh penguasa-penguasa intelijen dan keamanan yang sangat memusuhi dakwah. Jilbab dilarang di sekolah dan kampus negeri. Pengajian dicurigai. Para ulama dan da’i diteror, ditekan. Partai politik berbasis massa Islam dilemahkan. Pembicaraan tentang pendirian bank Islam dan ekonomi syariah dicurigai, dihalangi. Nanti belakangan kita menyadari, bahwa yang ditindas waktu itu bukan cuma dakwah tapi semua yang kritis terhadap penguasa.
Maka apa yang dicanangkan di Munas kelima BKPRMI itu memang istimewa. Terutama karena Mas Jazir salah satu penggagasnya sejak beberapa tahun sebelumnya memang sudah mendampingi KH As’ad Humam, penulis buku IQRO’. Mas Jazir menggerakkan AMM dan BKPRMI di Daerah Istimewa Yogyakarta dan berbagai daerah lainnya meng-IQRO’-kan masyarakat. “Dengan gerakan Taman Pendidikan Al-Quran ini kita menyemai benih generasi baru Indonesia yang lebih berakal jernih dan berakhlaq mulia,” katanya waktu itu.
Gerakan itu bahkan menyeberang ke negeri tetangga, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand. Waktu itu, banyak pemuda-pemudi Indonesia pengajar Al-Quran dikirim dan bermukim di negeri-negeri itu sampai belasan bahkan puluhan tahun sesudahnya. Penulis menemui dan mewawancarai beberapa di antara mereka bertahun-tahun setelahnya di Bandar Seri Begawan, Kota Kinabalu dan di Pattani.
Jikalau Rasulullah ﷺ menjanjikan 10 pahala bagi setiap huruf Al-Quran, kira-kira berapa komisi pahala yang didapat oleh Allahyarham Mas Jazir dari gerakan nasional taman pendidikan Al-Quran yang beliau perjuangkan bersama teman-temannya? Semoga Allah terima dan ridho. (Bersambung, in syaa Allah)
*) Dzikrullah W. Pramudya, penulis wartawan senior, mantan contributing editor The Brunei Times dan pemimpin redaksi majalah Suara Hidayatullah, Ketua Departemen Hubungan Antarbangsa DPP Hidayatullah 2015-2025
Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokaryan, KH Muhammad Jazir ASP bersama KH Hamim Thohari saat menjadi narausmber dalam acara Silaturrahim & Halal Bihalal Syawal yang mengangkat tajuk “Manifesto Masjid Nabi: Memperkuat Arus Dakwah Perkotan Berbasis Pengembangan Masyarakat”, di Masjid Baitul Karim, Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Selasa, 23 April 2024 (Foto: Yacong B. Halike/ Hidayatullah.or.id)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., menyampaikan rasa duka dan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokaryan, KH Muhammad Jazir ASP.
Tokoh pejuang dakwah masjid itu meninggal dunia di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta pada Senin, 2 Rajab 1447 (22/12/2025) dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. Kepergian Almarhum meninggalkan duka luas di kalangan umat Islam, khususnya para pegiat masjid di seluruh Indonesia.
“Atas nama keluarga besar Hidayatullah, kami menyampaikan rasa belasungkawa sedalam dalamnya. Kita sangat kehilangan dengan kepergian beliau. Sosok yang menginspirasi kita dalam banyak hal,” kata Naspi.
Ia berharap, semangat perjuangan dan kiprah Almarhum dapat diteruskan sehingga masjid masjid tetap memiliki figur figur yang terus mengembangkan pemikiran besar Ustadz Jazir yang wafat pada usia genap 63 tahun tersebut.
Naspi Arsyad mengingatkan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan dalam beberapa riwayat yang saling menguatkan. Ia menyampaikan bahwa Rasulullah SAW memberikan penegasan tentang tanda keimanan seseorang yang terlihat dari kecintaannya kepada masjid.
Naspi menjelaskan bahwa Nabi SAW bersabda, barang siapa yang melazimkan atau membiasakan diri berada di masjid sebagai tanda kecintaannya kepada masjid, maka persaksikanlah bahwa di dalam hatinya terdapat keimanan. Pesan ini, menurut Naspi, memuat pesan moral dan menjadi ukuran spiritual yang dapat menjadi tolok ukur kualitas iman seseorang.
Bertolak dari hadits tersebut, Naspi kemudian memberikan persaksian atas sosok Ustadz Muhammad Jazir. Ia menilai bahwa kehidupan Almarhum sepenuhnya mencerminkan kecintaan mendalam terhadap masjid, bukan hanya dalam tataran wacana, tetapi dalam praktik nyata sepanjang hidupnya.
“Persaksian inilah yang kita bisa berikan kepada sosok Ustadz Muhammad Jazir dengan segala kecintaan beliau terhadap masjid,” kata Naspi, yang sempat membesuk Almarhum pada akhir November lalu di kediamannya.
Menurut Naspi, pengaruh Ustadz Jazir tidak terbatas pada satu masjid. Banyak masjid di berbagai daerah mengalami perubahan signifikan dalam tata kelola, kerapian administrasi, serta peningkatan peran sosial setelah menjadikan Masjid Jogokariyan sebagai rujukan.
Ia menuturkan bahwa hubungan antara Almarhum dan Masjid Jogokariyan begitu kuat hingga keduanya seakan tidak terpisahkan. “Bahkan, beliau identik dengan Masjid Jogokariyan dan Masjid Jogokaryan identik dengan Ustaz Jazir,” katanya.
Selain dikenal sebagai penggerak masjid, Naspi menekankan bahwa Ustadz Jazir adalah pejuang Al-Qur’an. Sepanjang hidupnya, Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Jogokariyan itu mendedikasikan tenaga dan pikirannya untuk mengajarkan serta menegakkan nilai-nilai Al-Qur’an melalui masjid sebagai pusat peradaban umat.
“Jalur Jogokariyan yang membuat kita patut bercemburu karena masjid adalah rumah Allah, rumah yang terbaik, rumah yang paling dicintai oleh seluruh umat Islam di dunia. Rumah yang paling disakralkan dan beliau salah satu orang yang secara praktik dan secara nyata mencintai dan mensakralkan masjid tersebut,” katanya.
Naspi menyampaikan doa agar kecintaan Almarhum kepada masjid menjadi sebab turunnya cinta Allah subhanahu wa ta’ala dan pengangkatan derajat di sisi-Nya.
“Kita mendoakan beliau secara ikhlas dengan penuh kesadaran bahwasanya Allah subhanahu wa ta’ala berkenan mengampuni beliau, mengangkat derajatnya, sebagaimana beliau meletakkan kecintaannya begitu besar kepada masjid Allah subhanahu wa ta’ala,” katanya.
SORONG (Hiayatullah.or.id) — Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. Nanang Noerpatria, M.Pd., yang hadir sebagai pendamping di forum Musyawarah Wilayah (Muswil) I Hidayatullah Papua Barat Daya, menempatkan isu sinergi sebagai pokok pikiran utama Muswil.
Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa membangun umat tidak dapat dilakukan secara eksklusif atau berjalan sendiri. Kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari organisasi kemasyarakatan, pemerintah, hingga tokoh masyarakat dan masyarakat akar rumput menjadi prasyarat strategis untuk mewujudkan visi besar Indonesia Emas 2045.
“Tema sinergi ini bukan sekadar slogan, tetapi tuntutan zaman. Hidayatullah harus hadir merangkul dan berkolaborasi, bukan berjalan sendiri,” ujar Nanang dalam keterangannya, Senin, 2 Rajab 1447 (22/12/2025).
Ia menekankan bahwa pendekatan inklusif merupakan keniscayaan dalam konteks kebangsaan Indonesia yang plural, sehingga dakwah dan kerja sosial dapat memberikan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan.
Nanang juga mengingatkan kembali nilai dasar perjuangan kader Hidayatullah, yakni prinsip sami’na wa atha’na atau mendengar dan taat. Nilai ini, menurutnya, menjadi fondasi disiplin organisasi sekaligus sumber kekuatan gerakan dalam menjaga konsistensi visi dan program.
Ia menambahkan bahwa kiprah Hidayatullah yang telah hadir di 38 provinsi di Indonesia merupakan cerminan komitmen jangka panjang organisasi dalam berkhidmat kepada umat dan bangsa.
Dengan berlangsungnya Muswil I secara lancar dan khidmat, Nanang berharap, Hidayatullah Papua Barat Daya mampu melahirkan kepemimpinan visioner dan program strategis yang berdampak nyata.
“Semangat sinergi yang ditegaskan dalam forum ini merupakan modal sosial untuk memperkuat peran umat dalam perjalanan kolektif menyongsong Indonesia Emas 2045,” tegasnya menukaskan.
Nanang menegaskan, Muswil I Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Papua Barat Daya ini menandai fase penting konsolidasi organisasi di kawasan timur Indonesia. Forum yang digelar di Hotel Aquarius Aimas pada Ahad, 21 Desember 2025, mengusung tema Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045.
“Tema ini mencerminkan orientasi strategis organisasi dalam merespons tantangan pembangunan umat dan bangsa menjelang satu abad kemerdekaan Indonesia,” katanya.
Lebih jauh Nanang menekankan bahwa Muswil juga sebagau momentum peneguhan arah perjuangan Hidayatullah di bidang dakwah, pendidikan, dan pelayanan umat pada level regional.
Forum ini juga dinilai Nanang menjadi ruang refleksi terhadap dinamika sosial yang kian kompleks, sekaligus penguatan komitmen organisasi untuk berkontribusi secara konstruktif dalam pembangunan nasional yang berlandaskan nilai keislaman dan keindonesiaan.
Perintisan sebagai Wilayah Pemekaran
Sementara itu, Pelaksana Tugas Ketua DPW Hidayatullah Papua Barat Daya, Ustadz M. Sanusi, S.Pd.I., menegaskan nilai historis Muswil I bagi wilayah tersebut. Setelah sekitar tiga tahun melalui fase perintisan sebagai wilayah pemekaran, Hidayatullah Papua Barat Daya kini memasuki tahap konsolidasi yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
“Muswil ini menjadi forum penentuan arah organisasi, pemilihan ketua, serta penyusunan kepengurusan DPW untuk masa bakti lima tahun ke depan,” jelasnya.
Menurut Sanusi, Muswil juga berfungsi sebagai sarana evaluasi menyeluruh dan perumusan strategi dakwah yang lebih kontekstual, adaptif, serta menyentuh kebutuhan masyarakat di tingkat akar rumput. Upaya tersebut dipandang Sanusi relevan dengan karakter sosial Papua Barat Daya yang beragam.
Pembukaan Muswil I turut dihadiri sejumlah tokoh umat dan pimpinan organisasi Islam, antara lain perwakilan Majelis Ulama Indonesia, Dewan Masjid Indonesia Papua Barat Daya, anggota DPD RI, pimpinan partai politik tingkat wilayah, Gabungan Organisasi Wanita Kabupaten Sorong, serta tokoh masyarakat dan pengurus majelis taklim.