Beranda blog Halaman 681

Hidayatullah Balikpapan Kerjasama ToraniFood Dukung Program KKP

0
Salah seorang peserta mendapatkan hadiah dari ToraniFood Balikpapan
Salah seorang peserta mendapatkan hadiah dari ToraniFood Balikpapan

HIDORID — Dalam rangka upaya Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kelautan dan Perikanan dalam meningkatkan kemampuan anggota masyarakat, khususnya pelaku utama kelautan dan perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meluncurkan program unggulan pembentukan dan pengembangan Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP).

Mendukung program kemandirian dari pemerintah tersebut, belum lama ini RM Torani menggandeng Pesantren Hidayatullah Balikpapan menggelar pelatihan pengelolaan tataboga ikan bandeng yang dilaksanakan secara paralel sebanyak 2 angkatan yaitu angkatan 5 dan 6 sejak tanggal 20 s.d 23 Agustus 2013 dengan jumlah peserta 20 orang masing-masing angkatan berjumlah 10 orang yang seluruhnya berasal dari Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat Balikpapan.

Pelatihan yang berlangsung selama 4 hari dirasakan sangat bermanfaat bagi peserta terlihat dari minat peserta yang cukup besar bahkan melebihi target dan harus diseleksi lagi agar sesuai dengan jumlah yang ditentukan.

Pelatihan pengolahan dan pemasaran ikan bandeng ini dilaksanakan di salah satu lokasi milik Torani Food Restoran yang juga sebagai lokasi P2MKP dan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta pelatihan terhadap pengolahan bandeng tanpa duri dan diversifikasi olahannya.

Materi-materi yang diberikan meliputi, membuat bandeng tanpa duri, membuat bakso bandeng, nugget bandeng dan bandeng crispy. Selain itu peserta juga dibekali dengan materi PMMT untuk mengetahui mutu ikan dan penanganannya, mengemas produk olahan bandeng, pemasaran hasil olahan bandeng dan kewirausahaan.

Salah seorang peserta dari Pesantren Hidayatullah, Ustadz Safar Maspul, mengatakan ternyata tidak gampang mencabut duri bandeng bila tidak tahu posisi durinya ada di mana dan berapa jumlah duri yang ada di badan ikan bandeng.

Pengelola P2MKP “Torani Food” Sundusing Madya dalam sambutannya saat menutup kegiatan pelatihan ini menyatakan terima kasih kepada KKP melalui Balai Diklat Perikanan karena sudah memberikan kesempatan kepada Torani Food untuk eksis ditengah masyarakat dengan bermitra untuk melaksanakan kegiatan mandiri dibidang pengolahan ikan khususnya bandeng, dan telah merealisasi permintaan untuk melatih para pelaku utama di Kota Tarakan yang selama ini menjadi pemasok Ikan Bandeng Tanpa Duri Ke Torani Food.

“Kebutuhan ikan bandeng untuk Torani Food Balikpapan saja setiap hari mencapai sampai 450 kilo gram, belum lagi untuk memenuhi permintaan ke Jakarta dan kota lainnya yang setiap bulan baru bisa dikirim 1,5 ton dari permintaan sebanyak 5 ton,” beber dia.

Seperti diketahui, Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) adalah lembaga pelatihan/permagangan di bidang kelautan dan perikanan yang dibentuk dan dikelola oleh pelaku utama maju di bidang kelautan dan perikanan baik perorangan maupun kelompok. P2MKP adalah wujud partisipasi dan keswadayaan masyarakat dalam pengembangan sumberdaya manusia melalui pelatihan dari, oleh, dan untuk masyarakat.

Saat ini Kelurahan Manggar, Kecamatan Balikpapan Timur menjadi kawasan sentra pengolahan hasil perikanan termasuk bandeng, dalam rangka menindaklanjuti kegiatan KKP untuk memasyarakatkan perikanan di lingkungan Pondok Pesantren sebagai pencetak generasi muda muslim yang terlatih. (ybh/hio/kkp)

Pesantren Hidayatullah Berkiprah untuk Umat di Tanah Madura

Salah satu kegiatan keummatan Hidayatullah Pamekasan
Salah satu kegiatan keummatan Hidayatullah Pamekasan

HIDORID — Meski terbilang baru, Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatullah, Desa Jalmak, Kecamatan Kota Pamekasan, Madura, Jawa Timur, relatif dikenal luas di masyarakat. Selain mengajarkan pelajaran kitab kuning dan menggelar pengajian, pesantren ini juga memiliki usaha sendiri yang melibatkan para santrinya.

Kegiatan di lembaga yang didirikan pada tahun 1997 ini tidak kalah dengan ponpes lainnya di Pamekasan. Kegiatan belajar mengajar, pengajian Al-Qur’an dan kajian kitab kuning menjadi rutinitas santri tiap hari.

Dari pagi, sore, hingga malam hari, aktivitas di pesantren yang dihuni puluhan santri ini terlihat sangat padat. Rutinitas kegiatan dimulai pukul 03.00 dini hari. Yakni, berupa salat tahajud yang memang menjadi keharusan di pondok.

“Biasanya setelah salat tahajud, kegiatan santri disambung dengan salat subuh berjamaah dan mengkaji kitab kuning,” ujar Ustad Fauzan, pengasuh Ponpes Hidayatullah.

Ustad asal Desa Batu Ampar, Kecamatan, Guluk-Guluk, Sumenep, ini lalu menjelaskan, menjelang pagi, kegiatan rutin santri lainnya berlanjut. Yakni, menempuh pendidikan formal di sekolah.

Namun, karena masih dalam tahap pembangunan, para santri ini menempuh pendidikan formalnya di lembaga lain. Mulai dari Madrasah Tsanawiyah atau SMP, Madrasah Aliyah atau SMA, termasuk SMK di sekitar Kota Pamekasan.

“Karena jaraknya sangat jauh ke beberapa sekolah, antara 1 sampai 7 kilometer dari pondok pesantren, sejumlah santri memilih naik sepeda ontel,” katanya.

Fauzan juga menjelaskan, Ponpes Hidayatullah tidak hanya menekankan pelajaran agama saja. Tapi, juga membentuk sikap kemandirian. Itu dipraktikkan dalam hal pengelolaan pesantren, mulai dari menyapu masjid hingga halaman pesantren, mencuci pakaian serta perlengkapan lainnya.

“Bahkan sebagian santri memilih berjualan koran sebelum berangkat ke sekolah. Hal-hal seperti ini memang kita tanamkan agar santri memiliki kemandirian. Sebab, itu akan menjadi bekal kalau sudah terjun ke masyarakat,” terang Fauzan.

Secara hirarkis, Ponpes Hidayatullah ini berada di bawah naungan ormas Hidayatullah. Selain mengelola ponpes, yayasan ini juga memiliki lembaga pendidikan yang dikelola secara mandiri. Seperti taman kanak-kanak (TK) dan kelompok bermain Ya-Bunayya. Lokasinya terletak di komplek perumahan Graha Kencana, Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan.

“TK Ya-Bunayya dirikan pada 2004 dengan jumlah siswa 40 anak. Hal ini murni swadaya masyarakat,” paparnya.

Lembaga lain yang dikelola adalah Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Lembaga ini didirikan hampir bersamaan dengan Pondok Pesantren Hidayatullah Jalmak, yakni pada 1997. Lembaga yang satu ini menjadi tulang punggung pembiayaan pendidikan di Yayasan Hidayatullah Jalmak.

“Mulai dari TK, SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, hingga biaya hidup para santri di pondok pesantren, memang banyak dibantu BMH. Maklum, saat ini BMH sudah mempunyai seribu satu donatur tetap dengan jumlah total sumbangan sekitar Rp 15 juta,” terang Fauzan.

Untuk mengelola BMH secara profesional sebagai lembaga sosial, kini telah ada belasan karyawan yang umumnya para santri yang telah belajar di Ponpes Hidayatullah Pamekasan. (ybh/hio/jp)

Santri Hidayatullah Kendari yang Keracunan Telah Pulih

0

santri keracunanHIDORID — Sebanyak 13 orang santri putri Pesantren Hidayatullah Kendari, Sulawesi Tenggara, yang sebelumnya dilaporkan media lokal keracunan makanan, saat ini keadaannya pulih serta sudah sehat dan telah meninggalkan rumah sakit kembali ke pesantren

Demikian disampaikan pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kendari Ustadz Ghiro Amrullah kepada media ini, Selasa.

“Alhamdulillah, sudah kembali semua dalam keadaan sehat. Ada beberapa santri yang masih perlu perawatan jalan,” kata Ghiro kepada Hidorid, Selasa (12/11/2013)

Sebagaimana dikabarkan Kendari Post (Jawa Pos Group) Pondok Pesantren Hidayatullah Putri Kendari mendadak riuh, Sabtu (9/11) pagi lalu. Pemicunya, puluhan santri di pondok itu mendadak lemas, sakit perut, mual dan muntah bahkan ada yang pingsan.

Mereka mengaku mengalami keracunan setelah menyantap makanan sumbangan yang diberikan seorang dermawan. 13 orang diantaranya bahkan terpaksa dilarikan ke UGD RSUD Abunawas Kendari untuk mendapatkan perawatan intensif.

“Santri di pondok kami sebanyak 86 orang. Semua makan, tapi hanya sebagian yang keracunan. Makanan itu, sumbangan dari luar secara pribadi bukan lembaga. Tapi tidak tahu siapa namanya. Penyumbang juga sudah pernah bawa makanan. Jadi kami pikir aman,” ungkap Ghro Nasrullah, Kepala SMA dan sekaligus pembimbing pesantren dikutip Kendari News, akhir pekan lalu (9/11).

Pihak RSUD Abunawas menjelaskan bahwa berdasarkan pemeriksaan awal, para santri keracunan karena makanan. Olehnya itu, pihaknya melakukan perawatan dengan memberikan obat penetralisir. Namun, dokter belum bisa memastikan jenis keracunan yang dialami.

“Guna mengetahui itu, makanya kami perlu mengambil setiap jenis makanan itu sebagai sampel untuk diperiksa di laboratorium. Apakah dalam makanan itu mengandung bakteri, basi atau ada zat beracun,” jelas dr. Yayang Aditya Dewi, dokter umum RSUD Abunawas yang menangani para pasien.

Polres Kendari telah mengetahui tentang kasus keracunan tersebut. “Kami masih melakukan penyelidikan siapa pelakunya. Termasuk apakah makanan itu, sengaja diberikan dalam kondisi basi atau beracun,” ungkap AKP Agung Basuki, Kasatreskrim Polres Kendari melalui Kanit Reskrim, Ipda Abdul Haris. (ybh/hio/kn)

Peringati Hari Pahlawan, Siswa Sekolah Hidayatullah Berbagi Kasih dengan Veteran Perang

veteran with ya bunayyaHIDORID — Penghargaan terhadap para pahlawan bangsa harus ditanamkan sejak dini. Memperingati Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November, para siswa KB TK Yaa Bunayya Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya diajak berbagi kasih dengan para veteran perang.

Sedikitnya 30 siswa KB TK Ya Bunayya, Kamis (07/11/2013) lalu, mendatangi Kantor Legiun Veteran Republik Indonesia di Jalan Rajawali Surabaya, Jawa Timur.

Mukari, salah satu pejuang veteran bercerita banyak hal saat berjuang memertahankan Kota Surabaya. Semangat heroisme itu begitu kentara melalui mimik wajahnya ketika bercerita.

Meski sudah sepuh dan mengalami keterbatasan fisik, para veteran itu tetap dengan penuh semangat menceritakan pengalaman mereka pada masa revolusi fisik dulu.

“Anak-anak harus meneruskan perjuangan di masa kemerdekaan ini. Merdeka.. Merdeka… Merdeka,“ teriak Mukari disambut teriakan merdeka dari para siswa Ya Bunayya.

Joan Muslim Firdaus, salah satu siswa KB TK Yaa Bunayya mengaku senang bisa mendengar cerita para pejuang veteran ini. Ia bercita-cita ingin meneruskan perjuangan para veteran lewat hal lain. “Aku ingin menjadi pahlawan insinyur,” katanya polos.

Kepala KB TK Ya Bunayya, Tutwuryandini menuturkan, kegiatan tersebut sebagai upaya mengenalkan sejarah di Indonesia kepada siswa. “Pengenalan ini didapatkan anak-anak lewat cerita dari para veteran,” jelasnya.

Tujuan lainnya, lanjut Tuti, untuk memberikan pembelajaran bahwa kemerdekaan yang dinikmati sekarang berasal dari perjuangan para veteran perang yang sekarang salah satunya berkumpul di Kantor Legiun Veteran di Surabaya.

Menurut Tuti, bersamaan dengan Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November sekaligus bertepatan dengan tahun baru Islam, siswa KB TK Yaa Bunayya ini memberikan bingkisan berupa sembako, sarung, serta santunan kepada para veteran.

“Ini sebagai wujud terima kasih siswa atas perjuangan para pejuang yang rela mengorbankan nyawa demi kemerdekaan yang kita nikmati bersama,” terangnya. (li/ybh/hio)

Komisi VIII DPR RI Kunjungi Pesantren Hidayatullah Manokwari

0
Saat berkunjung ke Ponpes Hidayatullah Manokwari
Saat berkunjung ke Ponpes Hidayatullah Manokwari

HIDORID — Dalam reses masa persidangan satu tahun sidang 2013–2014 Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPRI-RI) megirimkan 3 Tim Kunjungan Kerja Komisi VIII DPR RI ke 3 (tiga) Provinsi di Indonesia, salah satunya adalah Provinsi Papua Barat.

Pada kesempatan kunjungan ke Papua Barat belum lama ini, rombongan komisi DPR RI berkunjung juga ke Pondok Pesantren Pesantren Hidayatullah Manokwari.

Tim yang beranggotakan 15 orang yang terdiri dari anggota bidang Agama, Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Penanggulangan Bencana, dan Badan Amil Zakat Nasional serta Badan Wakaf Indonesia ini dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Hj. Ledia Hanifa Amaliah, S.Si, M.psi.T.

Kedatangan tim dengan pesawat Sriwijaya pada hari Senin pagi disambut secara sederhana oleh Pemda Provinsi Papua Barat didampingi oleh Kementerian Agama Provinsi Papua Barat, yang dilanjutkan Rapat Kerja Komisi VIII DPR RI dan Pemprov Papua Barat serta Stakeholder di Aston Niu Hotel Jl. Drs Esau Sesa Manokwari pada siang harinya.

Hari kedua kunjungan kerja Komisi VII DPR RI diawali ke Kampung Tanimbar Manokwari yang merupakan daerah langganan banjir, dilanjutkan ke Pulau Mansinam menggunakan speedboat untuk melihat pembangunan situs bersejarah masuknya injil di Manokwari dan Pondok Pesantren Hidayatullah yang terletak di Andai yang menjadi penutup kunjungan kerja Komisi VII DPR RI di Manokwari. (ybh/hio/sh)

 

Dinilai Gagal, Pendidikan Perlu Terapkan Pola Kristalisasi Al Qur’an

0

HIDORID — Kurikulum pendidikan yang ada saat ini tidak sepunuhnya dapat diharapkan memenuhi harapan lahirnya peserta didik yang bermoral dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa sebagaimana diamanatkan oleh undang-undang.

Untuk itu pendidikan harus menerapkam pola pendidikan karakter dengan upaya kristalisasi terhadap nilai-nilai Al Qur’an kepada peserta didik dan segenap civitas lembaga pendidikan.

Demikian disampaikan Kepala Biro Litbang PP Hidayatullah Dr. Abdullah, dalam acara seminar pendidikan bertajuk “Mewujudkan Karakter Siswa Sebagai Pewaris Pemimpin Bangsa Melalui Gerakan One Day One Ayat” di aula utama Pusdiklat Hidayatullah Abdullah Said, Kota Depok, Jawa Barat, Ahad lalu.

Menyoroti kondisi pendidikan di Indonesia sekarang ini, ditambah dengan data statistik hasil penelitian, dari mulai tawuran, seks bebas, serta narkoba. Abdullah memberikan solusi dengan mencontoh pola pembinaan karakter yang dilakukan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam terhadap para sahabat, yakni dengan melakukan kristalisasi Al-Quran secara kontinyu setiap hari.

“Program ini tentu perlu dukungan semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat,” kata Abdullah di hadapan ratusan peserta seminar.

Pada kesempatan tersebut, tampil sebagai pembicara lainnya Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok Ir. Herry Pansila, M.Sc

Ir. Herry Pansila, MSc dalam kesempatan itu menyampaikan pentingnya membangun karakter sebagai sebuah budaya. Herry banyak memberikan pengalaman sewaktu belajar di Negeri Belanda, bagaimana masyarakat di sana memiliki budaya yang positif padahal mereka kaum sekuler.

Acara yang dipandu oleh Ust. Lalu Mabrul, S.PdI, M.PdI dihadiri oleh ratusan guru dan praktisi pendidikan di wilayah Kota Depok dan sekitarnya. Seluruh peserta tampak antusias mengikuti rangkaian acara dari awal sampai akhir. Acara ini juga didukung oleh Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah. (ybh/hio)

Tabligh Akbar Muharram Sulbar, Naspi Asryad Ajak Teladani Figur Ibrahim

Ustadz Naspi Arsyad / IST
Ustadz Naspi Arsyad / IST

HIDORID — Ratusan undangan dan wali murid hadir dalam acara tablig akbar Muharram di Kampus Pesantren Hidayatullah Mamuju, Sulawesi Batat, Selasa. Tabligh Akbar yang menghadirkan pembicara Ketua Departemen Hubungan Luar Negeri PP Hidayatullah Naspi Arsyad, itu sekaligus dalam rangka lelang pembangunan masjid dan Gedung Dakwah Center Ar-Risalah Hidayatulllah Mamuju.

“Berkumpulnya kita di sini lebih dari sekedar lelang bangunan Masjid Ar-Risalah yang juga berfungsi dakwah senter ini,” kata H. Nasfi Arsyad, Lc, saat menyampaikan taushiahnya.

Menyinggung rencana panitia yang akan melelang pembangunan ke semua undangan yang hadir.
Dalam tausiahnya, alumni Madrasah Aliyah (MA) Raadhiyatan Mardhiyah, Gunung Tembak, Balikpapan, angkatan ke-2, ini menekankan kepada hadirin untuk bertbuat sesuatu semata-mata karena Allah Ta’ala.

“Semua yang kita lakukan hendaknya diniatkan karena Allah semata. Allah Subhanahu wa taala akan mengganti dengan pahala dan keuntungan yang jauh lebih besar ketimbang kita berbuat diniatkan selain karena-Nya,” tuturnya.

Nampak hadirin menikmati tausiah yang sesekali diselipi humor dari ustadz yang selalu riang ini. Bahkan beberapa murid TK dan SD yang tidak mendapatkan tempat duduk dalam tenda di halaman SD itu tetap sabar menunggui, “sambil nunggu penyerahan hadiah” harap Aqila pemenang lomba doa keseharian tingkat TK.

Bertempat di Pondok Pesantren Hidayatulah Mamuju di Jalan Abdul Syakur Nomor 2 Mamuju, dengan menggunakan tenda terowongan sebagian peserta membludak hingga menempati teras-teras sekolah dan masjid Nurul Ilmi.

Dalam rangka menyemarakkan tahun baru 1 Muharram 1435 Hijriyah, selama sepekan diadakan lomba hafalan hadits, hafalan doa keseharian, adzan, nasyid dan sholat berjamaah di kampus Hidayatullah Mamuju. Semua murid dari TK hingga SMP Integral Al-Furqon Hidayatullah Mamuju mengikuti materi lomba yang dikemas menyenangkan.

Ketua DPRD Propinsi Sulawesi Barat, Drs. H. Hamzah Hapati Hasan, M. Si yang akan hadir dalam acara tersebut mendadak batal karena harus ke Jakarta menghadap Kementerian Dalam Negeri. Hamzah Hapati dijadwalkan akan melakukan kunjungan ke lokasi pembangunan Masjid Ar-Risalah pada Jumat besok. Hal ini dikarenakan keinginan kuatnya untuk selalu terlibat di setiap kegiatan keagamaan di wilayahnya.

“Saya selalu terbuka untuk Hidayatullah apalagi kalau itu urusan ummat,” ungkap Hamzah Hapati Hasan saat melakukan kunjungan ke TK Nurul Huda Hidayatullah Taraillu beberapa waktu lalu.

Dai Harus Siap Menjadi Imam Shalat

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Naspi menekankan pentingngya seorang dai berbekal diri dengan kompetensi dasar. Kata dia, Wajib bagi semua dai, termasuk dai Hidayatullah, untuk siap menjadi imam di manapun saat shalat berjamaah. Sehingga baiknya kualitas bacaan serta amalan Al Quran seorang dai itu merupakan basis standar yang harus terpenuhi.

Dihadapan sedikitnya 500 jamaah yang hadir, Ustadz Naspi mengajak kaum Muslimin untuk meneladani perjalanan dakwah figur Nabi Ibrahim. Sosok petualang dakwah yang tak kenal lelah dengan kesabarannya menjadi senjata utamanya.

Momentum tahun baru Islam 1 Muharram, kata Naspi, harus menjadi hulu ledak perbaikan diri dan bangsa dalam rangka menyemai Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Aalamiin.

Dalam hal ini beliau merujuk pada Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam sebagai sosok dai sekaligus kepala rumah tanggaa yang sukses mendidik generasinya menjadi pelanjut risalah perjuangan mengemban amanah dakwah. Dengan ketajaman spiritualnya, Ibrahim mendapat kasih sayang dari Allah di setiap langkahnya.

“Kita ingin seperti Nabi Ibrahim yang mendapat pertolongan Allah yang mendinginkan api saat beliau dibakar oleh Namrudz, tapi sudahkah cara kita sama seperti cara meyakini kebenaran Nabi Ibrahim itu,” ujar Ustadz Naspi mengingatkan.

PW Hidayatullah Sulawsei Barat menggelar acara Tabligh Akbar Muharram 1435 Hijriyah di Kmapus Pondok Pesantren Hidayatullah Mamuju, Sulawesi Barat. Disela-sela safari dakwahnya ke Sulawesi, Naspi Arsyad diundang juga hadir di Mamuju untuk mengisi acara tersebut.

Bagi kebanyakan awam di daratan Sulawesi meyakini, pantang memulai pekerjaan pada awal Muharram karena akan mendatangkan keburukan pagi pelanggarnya. Meski tidak ada yang getol mentransformasi keyakinan ini secara intens, namun di masyarakat sudah terlanjur melembaga ke dalam kehidupan dan turun temurun menjadi budaya.

Melihat fenomena yang keliru dari sudut pandang aqidah Islam yang benar, pengurus Pesantren Hidayatullah Mamuju memanfaatkan momen tahun baru 1435 Hijriyah ini untuk melakukan pencerahan melalui Pekan Muharram.

 

Laporan wartawan Hidayatullah.or.Id di Sulawesi Barat, Muhammad Bashori

Hidayatullah Mamuju Bangun Gedung Dakwah Ar Risalah

Jalan menuju kampus Hidayatullah Tobadak Mamuju
Jalan menuju kampus Hidayatullah Tobadak Mamuju

HIDORID — Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Mamuju, Sulawesi Barat, mendirikan Gedung Dakwah Ar-Risalah sekaligus menyatu dengan masjid kampus. Masjid berdaya tampung jamaah sholat sedikitnya 500 orang berlantai 2 itu kini sedang dikebut pembangunanya di komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Mamuju..

Dalam rangkaian arsiteksinya areal Gedung Dakwah Ar Risalah Hidayatullah Mamuju ini akan terdapat fasilitas layanan ummat seperti perpustakaan, guest house, kantor konsultasi syariah dan parenting, Baitul Maal wa Tamwil (BMT), meeting room, dan ruang konvensional lainnya.

Masjid yang dibangun bergandengan dengan posisi Masjid Nurul Ilmi Pesantren Hidayatullah Mamuju itu menelan anggaran Rp. 1.247.000.000, pengerjaan pondasi dan tiang dimulai sejak sebulan lalu.

Ketua panitia pembangunan Drs. Abu Bakar Muis menjelaskan, pembangunan masjid dan gedung dakwah ini dilatari oleh selalu membludaknya jamaah sementara daya tampung masjid terbatas terutama pada hari Jumat.

Bahkan sebagian jamaah yang datang terlambat pada hari Jum’at terpaksa harus pulang mencari masjid lain. Biasanya, jika masjid kampus sudah penuh maka jamaah yang tidak tertampung segera menuju masjid lain yang ada di komplek pasar regional Mamuju yang berjarak sekitar 200 meter dari Pesantren Hidayatullah.

Kata Muis, selain ukurannya yang hanya 49 meter persegi, masjid Nurul Ilmi yang dimanfaatkan sekarang ini dibangun sejak tahun awal tahun 1994. Pada masa itu, terangnya, wilayah perintisan Hidayatullah Mamuju itu masih sangat sepi dari penduduk sehingga masjid pun terasa sangat luas.

Selain itu, ketidakcukupan kapasitas masjid karena membludaknya jamaah dipicu juga dengan meningkatnya jumlah penduduk di Jalan Abdul Syakur yang kini menjadi kawasan Pasar Regional Mamuju.

“Pembangunan masjid yang sekaligus sebagai Gedung Dakwah Ar-Risalah ini merupakan jawaban atas masalah keumatan di Mamuju. Diharapkan di masjid ini nantinya umat Islam bisa lebih nyaman beribadah dan menjadi wadah kajian keislaman,” terang Abu Bakar Muis.

Di sela-sela acara Tabligh Akbar pada Selasa (5/11) lalu, pihak panitia yang diwakili pembina Hidayatullah Mamuju H. Hajrul Malik, S.Ag. melelang pembangunan masjid dimulai dari pengadaan tiang beton, setiap tiangnya senilai Rp. 7.340.000.

Dari sekitar 500 jamaah tabligh akbar yang hadir terlelanglah enam buah tiang senilai Rp.44.040.000. Selain itu ada juga peserta dari wali murid TK dan SD Integral Al-Furqon yang bersedekah di luar perhitungan lelang dengan jumlah Rp. 3.000.000.

Kondisi masjid Nurul Ilmi, masjid lama yang masih digunakan untuk beraktifitas warga dan santri, saat ini semua sisi berandanya sudah dibongkar untuk pembuatan lubang pancang tiang. Sebanyak 20 lubang dengan kedalaman 2 meter lebih sudah menganga di sekitar masjid.

Akhirnya kondisi kampus yang luas kurang lebih 1.5 hektar nampak sesak dengan adanya pagar safety di lingkungan masjid Nurul Ilmi ini.

“Adanya pagar ini lebih menjamin keamanannya kepada murid-murid TK dan SD di pagi hari” imbuh Drs. Muhammad Naim ketua 1 pembangunan masjid.

Lebih jauh, Hajrul Malik yang juga anggota dewan di Kabupaten Mamuju ini memberikan harapan, kalau pihaknya dalam pengelolaan anggaran bantuan sarana ibadah akan ia prioritaskan hingga 100 juta rupiah.

Pembangunan masjid Ar-Risalah yang juga berfungsi sebagai Gedung Dakwah di Sulawesi Barat sebagaimana rencana panitia, diperkirakan selesai pengerjaannya di awal Muharram tahun depan mendatang.

Laporan wartawan Hidayatullah.or.Id di Sulawesi Barat, Muhammad Bashori

Fasilitas Sudah Tersedia, Santri Jangan Malas Menuntut Ilmu

0
Sejumlah ssiwa SD Hidayatullah Depok meramaikan ajang MEF 2013 berfoto bersama
Sejumlah ssiwa SD Hidayatullah Depok meramaikan ajang MEF 2013 berfoto bersama

HIDORID — Dengan ketersediaan fasilitas yang ada di setiap kampus, maka setiap siswa atau santri dituntut untuk belajar keras dan tidak ada alasan bagi mereka bermalas-malasan menuntut ilmu.

Demikian disampaikan anggota Dewan Syura Hidayatullah Drs Nusyamsa Hadits, dalam acara gebyar MEF sambut tahun baru Islam 1 Muharram 1435 Hijriyah di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat (02/11/2013).

Beliau menegaskan, dengan kemudahan mengakses berbagai penunjang kegiatan belajar dan alat peraga ilmu pengetahuan lainnya, output santri/siswa dari lembaga pendidilkan yang ada diharapkan akan lebih kompetitif, kapabel, serta memiliki kecakapan multidimensional dari aspek intelektual, skil fisikal, emosional, juga spiritual.

Melahirkan generasi kuat dan hebat dalam mengemban amanah dakwah dan kemaslahatan umat adalah tugas bersama-sama. Sehingga spirit Muharram ini harus dipahami sebagai momentum persatuan ke arah perbaikan yang terus menerus, kata Nursyamsa Hadits.

Bekas senator DPR RI yang sehari-hari tetap terlibat membina santri di Pesantren Hidayatullah Depok ini, mengatakan kesadaran berislam masyarakat dunia saat ini semakin menunjukkan angin segar. Termasuk keterlibatan parlemen di sejumlah negara yang telah mengakomodir hak-hak sipil warga Muslim.

“Ini menunjukkan bahwa Islam bukanlah ancaman bagi siapa pun, seperti kerap distigmatisasi media yang memang phobia terhadap ajaran Islam,” ujarnya seraya menyebut Turki yang telah mengesakan UU bolehnya anggota parlemen di negara itu mengenakan hijab.

Di hadapan ratusan siswa yang berasal dari berbagai sekolah di Kota Depok yang mengikuti helatan Muharram Education Fair (MEF) 2013, Nursyamsa menyerukan agar mereka tidak lekas berputus asa dalam meniti jalan meraih ilmu.

“Mumpung saudara-saudara masih muda, masih kuat, masih punya banyak waktu, semangatlah belajar. Tuntutlah ilmu yang bermanfaat yang akan membuat saudara berdaya guna untuk agama dan bangsa ini di masa mendatang,” pesan beliau mengakhiri sambutannya. (ybh/hio)

Gelar MEF 2013, Hidayatullah Depok Semarakkan Tahun Baru Islam

0
Pengasuh Pesantren Hidayatullah Depok Ustadz Nursyamsa Hadits bersama Walikota Depok Nur Mahmudi saat membuka MEF 2013
Pengasuh Pesantren Hidayatullah Depok Ustadz Nursyamsa Hadits bersama Walikota Depok Nur Mahmudi saat membuka MEF 2013

HIDORID — Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat, menggelar kegiatan Muharram Education Fair (MEF) 2013 yang diikuti sedikitnya 400 siswa dari berbagai sekolah tingkat SD dan SMP di kota Depok.

MEF 2013 yang memperlombakan sejumlah kategori daya pikir, seni, dan olahraga, itu digelar Hidayatullah Depok untuk menyemarakkan datangnya tahun baru Islam yaitu 1 Muharram 1435 Hijriyyah yang jatuh pada hari ini, Senin sore.

Sekjen PP Hidayatullah Ir Abu A’la Abdullah dalam taushiah singkatnya usai shalat shubuh di Masjid Ummul Quro, Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, mengatakan kegiatan-kegiatan semarak yang sarat dakwah untuk menyambut tahun baru Islam ini perlu digalakkan. Sebab, jelas dia, hari ini kalender hijriyah belum sepenuhnya menjadi mainstream.

“Kita berupaya untuk melawan mainstream hura-hura perayaan kalender masehi yang notabene merupakan bentuk hegemoni dan dominasi peradaban Barat terhadap peradaban Islam,” ujarnya.

Sehingga pada kesempatan itu beliau mengimbau kepada segenap masyarakat Muslim untuk mentradisikan menggunakan kalender hijriyah. Selain itu, ia mengajak kepada kaum Muslimin untuk menyambut tahun baru Islam dengan banyak-banyak memohom ampun kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Sementara itu, dalam kesempatan pembukaan acara MEF 2013, Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail, mengajak kepada semua siswa Muslim untuk selalu mempelajari dan emahami sejarah peradaban Islam lebih dalam.

Upaya tersebut, kata Walikota, mesti didukung sekolah dengan para pendidik yang kompeten di bidangnya.

Imbauan itu diutarakan oleh Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail di hadapan ratusan siswa dan hadirin dalam acara pembukaan kegiatan Muharram Education Fair (MEF) 2013 di Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu (02/11/2013).

Walikota mengatakan, tahun baru Islam Hijriyah harus dijadikan sebagai momentum kebangkitan dan pembaharuan diri. Dalam pada itu, pemahaman terhadap sejarah dakwah Islam diharapkan akan membentuk karakter siswa menjadi shalih dan kelak mendorong siswa untuk berkontribusi terhadap pembangunan.

“Jadi jangan sampai ada siswa yang tidak tahu atau tidak hafal nama-nama bulan hijriyah,” kata Nur Mahmudi di hadapan para siswa dari berbagai perwakilan sekolah di Kota Depok ini.

Nur Mahmudi menegaskan, pendidilan merupakan amanah agama dalam rangka membentuk karakter takwa dan kesantunan kepada umat. Pendidikan juga telah diakui senbagai salah satu hak kemanusian.

“Bahwa pendidikan harus diselenggarakan kepada seluruh umat manusia. Kita semua memiliki tanggung jawab bersama dalam hal ini bahkan kepada mereka yang memiliki keterbatasan kondisi fisik atau lemah dalam kapasitas berfikirnya,” ujar Nur.

Penyelenggaraan pendidikan, kata dia, tidak hanya dilakukan pemerintah. Tapi juga sangat mengharapkan partisasi masyarakat. Pemerintah jelas akan kewalahan dalam mengangani pendidikan nasional.

Oleh karena itu, lanjutnya, pihaknya mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara pendidikan khususnya di Kota Depok yang telah senantiasa meningkatkan kapasitas, kualitas, maupun jenis pendidikannya.

Muharram Education Fair (MEF) 2013 diselenggarakan dalam rangka menyambut tahun baru Islam dalam kalender Hijriyah yang jatuh para hari Selasa, 05 November 2013 masehi mendatang.
MEF 2013 diantaranya menggelar lomba tahfidzul Qur’an, cerdas cermat, pidato multi bahasa, nasyid, futsal, dan lain-lain. MEF 2013 tahun ini diikuti sedikitnya 400 peserta dari berbagai perwakilan sekolah di Depok.

“Jadikan MEF tahun ini sebagai momentum untuk mengeratkan silaturrahim. Serta sebagai ajang ekspresi untuk menumbuhkembangkan potensi putra putri kita dengan mengikuti aneka lomba,” tandas Nur Mahmudi.