Beranda blog Halaman 69

Polresta Balikpapan Dukung Ketahanan Pangan Jelang Jamnas ISCH III

0
Kapolresta Balikpapan, Kombespol Anton Firmanto, S.H., S.I.K., M.Si., melakukan penanaman jagung serentak di lahan Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Selasa siang (5/8/2025).* [Foto: @SKRsyakur/@Ummulqurahidayatullah]

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Menjelang pelaksanaan Jambore Nasional (Jamnas) ISCH III Sako Pramuka Hidayatullah, upaya ketahanan pangan terus digalakkan di lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Pada Selasa siang, 11 Safar 1447 (5/8/2025), Kapolresta Balikpapan, Kombespol Anton Firmanto, S.H., S.I.K., M.Si., memimpin kegiatan penanaman jagung secara serentak di area perkebunan milik pesantren.

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Kapolsek Balikpapan Timur, Kompol Sumarlik Akup, S.H., serta Bhabinkamtibmas Kelurahan Teritip, Bripka Muhammad Firmansyah.

Rombongan disambut oleh unsur pimpinan pesantren, antara lain Sekretaris Pembina Yayasan Ponpes Hidayatullah (YPPH), Ustadz Abdul Latief Usman, Bendahara Pesantren, H. Sujaib Saud, serta Ketua Bidang 2 YPPH Balikpapan, KH Habib Lukman Hakim Alaththas.

Turut menyambut pula jajaran panitia Jamnas III ISCH, seperti Sekretaris Panitia Kak Sukman, serta anggota panitia lainnya yaitu Ibrahim dan Abdus Syakur.

Penanaman bibit jagung dilakukan bersama Agus Salim, petani lokal yang juga merupakan warga pesantren.

Dalam keterangannya kepada Media Center @Ummulqurahidayatullah, Kombespol Anton Firmanto menjelaskan tujuan kegiatan tersebut.

“Hari ini kita melaksanakan kegiatan penanaman jagung di areal Pesantren Hidayatullah. Alhamdulillah kerja sama yang baik antara pihak kepolisian dengan Pesantren Hidayatullah sehingga memberikan sebagian lahannya untuk ditanami jagung yang Insya Allah nanti jagung pupuk ini bermanfaat bagi masyarakat, khususnya juga untuk pakan ternak,” ujar Kapolresta.

Lebih lanjut, mewakili Kapolda Kaltim Irjen Pol. Endar Priantoro, S.H., S.I.K., C.F.E., M.H., Kapolresta menyampaikan apresiasi atas dukungan Pesantren Hidayatullah terhadap program ketahanan pangan yang digalakkan oleh kepolisian. Ia menyebutkan bahwa upaya ini sejalan dengan komitmen swasembada pangan Presiden RI Prabowo Subianto.

Kapolresta Balikpapan, Kombespol Anton Firmanto, S.H., S.I.K., M.Si., melakukan penanaman jagung serentak di lahan Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Selasa siang (5/8/2025).* [Foto: @SKRsyakur/@Ummulqurahidayatullah]

Menanggapi hal tersebut, Ustadz Abdul Latief Usman menyampaikan apresiasi pihak pesantren dan memberikan doa khusus untuk jajaran kepolisian.

“Semoga Allah memberikan balasan kebaikan,” ujar Abdul Latief.

Ia juga berharap agar aparat kepolisian dapat menjadi penyelenggara pemerintahan yang beriman demi terwujudnya negara yang aman.

Doa bersama turut dipimpin oleh Habib Lukman Hakim setelah sesi penanaman selesai. Rangkaian kegiatan diakhiri dengan sesi foto bersama, sebelum rombongan kepolisian meninggalkan lokasi pada sekitar pukul 15.16 WIT.

Jamnas ISCH III

Jambore Nasional ISCH III Sako Pramuka Hidayatullah dijadwalkan akan dilaksanakan pada 21–24 Agustus 2025 di kawasan Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak. Kegiatan berskala nasional ini diperkirakan akan melibatkan sekitar 4.000 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia.

Sebagai bagian dari persiapan, panitia Jamnas telah melakukan audiensi dengan Wakapolda Kaltim, Brigjen Pol Dr. M. Sabilul Alif, S.H., S.I.K., M.Si., pada Selasa, 29 Juli 2025, di Mapolda Kaltim, Kota Balikpapan.

KHUTBAH JUMAT Hakikat Kemerdekaan dalam Perspektif Islam

الحمد لله الذي أعزّنا بالإسلام، وحرّرنا من ظلمات الجهل والضلال، وأكرمنا بنعمة الإيمان والتوحيد، وجعل في طاعته العزّة والكرامة، وفي معصيته الذلّ والهوان
نحمده سبحانه ونشكره، ونتوب إليه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضلّ له، ومن يضلل فلا هادي له
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين
أما بعد:فيا أيها الناس، أوصيكم ونفسي بتقوى الله عزّ وجل، فهي وصية الله للأولين والآخرين ﴿وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

Jama’ah Jumat yang dimuliakan Allah,

Kita sekarang berada di bulan Agustus, bulan yang begitu istimewa dan penuh makna bagi bangsa Indonesia. Setiap tanggal 17 Agustus, kita memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Ini adalah nikmat besar dari Allah yang patut kita syukuri, karena setelah sekian lama hidup dalam penjajahan, akhirnya negeri ini memperoleh kemerdekaan.

Namun, sebagai seorang muslim, kita perlu merenungkan kembali: apa sebenarnya makna kemerdekaan? Apakah kemerdekaan hanya berarti terbebas dari penjajahan fisik oleh bangsa lain?

Dalam pandangan Islam, kemerdekaan yang sejati bukan sekadar terbebas dari penjajahan fisik, tetapi ketika seseorang benar-benar lepas dari penghambaan kepada sesama makhluk, dan hanya tunduk serta taat kepada Allah SWT semata.

Rasulullah ﷺ diutus ke dunia bukan hanya untuk membebaskan bangsa Arab dari kekuasaan Romawi atau Persia, tetapi yang jauh lebih penting: untuk membebaskan manusia dari penyembahan kepada makhluk, menuju penghambaan yang tulus hanya kepada Sang Pencipta, Allah SWT.

Islam mengajarkan bahwa kemerdekaan sejati adalah kemerdekaan yang menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia; spiritual, intelektual, moral, dan sosial.

Kemerdekaan spiritual berarti hati yang hanya bergantung kepada Allah, bukan pada materi, jabatan, atau sesama manusia.

Seorang muslim yang merdeka secara spiritual tidak mudah goyah oleh tekanan dunia, karena hatinya kokoh berpegang pada tauhid.

Kemerdekaan intelektual berarti berpikir merdeka, tidak dibelenggu oleh kebodohan atau tunduk buta pada arus pemikiran yang menyesatkan.

Seorang muslim didorong untuk berpikir kritis, mencari ilmu, dan membedakan antara kebenaran dan kebatilan.

Kemerdekaan moral berarti memiliki integritas, bebas dari dorongan hawa nafsu yang menjerumuskan pada kemaksiatan.

Seorang muslim yang merdeka secara moral tidak hanya tahu mana yang benar, tapi juga berani menjalankannya meski di tengah tantangan.

Kemerdekaan sosial berarti terwujudnya keadilan, saling menghargai, serta terbebas dari penindasan dan kezaliman dalam kehidupan bermasyarakat.

Masyarakat yang merdeka adalah masyarakat yang saling menolong, membangun dengan nilai-nilai kebaikan, dan menjunjung tinggi hak serta martabat sesama.

Inilah kemerdekaan sejati menurut Islam, kemerdekaan yang membebaskan manusia, bukan hanya dari rantai penjajahan, tapi juga dari segala bentuk belenggu yang menghalangi manusia untuk menjadi hamba Allah yang sebenarnya.

Jama’ah yang dirahmati Allah,

Kemerdekaan yang hakiki adalah ketika seseorang bebas dari belenggu hawa nafsu, bebas dari perbudakan terhadap materi, serta terbebas dari jeratan kemaksiatan dan dosa.

Sudahkah kita merdeka dari belenggu hawa nafsu?

Di antara bentuk kemerdekaan paling mendasar adalah merdeka dari hawa nafsu.

Sebab, tak sedikit orang yang secara lahiriah tampak merdeka, bebas bergerak, berpendapat, dan hidup tanpa tekanan. Namun, di balik itu semua, mereka masih terjajah oleh nafsu mereka sendiri. Allah SWT berfirman:

أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَـٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍۢ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya” (QS. Al-Jatsiyah: 23)

Islam memandang bahwa tunduk pada hawa nafsu adalah salah satu bentuk perbudakan paling berbahaya. Ia tidak mengikat tubuh, tapi mengekang jiwa.

Diam-diam, hawa nafsu menggerogoti manusia dari dalam, membutakan nurani, melemahkan akal sehat, dan menjauhkan dari kebenaran.

Maka, merdeka sejati bukan sekadar soal kebebasan fisik. Ia adalah kebebasan batin, ketika hati mampu berkata “tidak” pada godaan, dan jiwa kuat untuk memilih jalan yang diridhai Allah.

Hawa nafsu adalah kecenderungan jiwa terhadap kesenangan duniawi yang sering kali bertentangan dengan akal sehat, tuntunan wahyu, dan bisikan hati nurani.

Jika tidak dikendalikan, nafsu dapat menjerumuskan seseorang ke dalam berbagai bentuk penyimpangan.

Nafsu bisa mendorong pada syahwat, kesenangan jasmani yang berlebihan, menumbuhkan ketamakan terhadap harta dan jabatan, menumbulkan rasa malas dalam beribadah, hingga menumbuhkan kecintaan pada dunia yang melalaikan akhirat.

Sedikit demi sedikit, hawa nafsu yang dibiarkan liar akan mengikis ketajaman iman dan menjauhkan seseorang dari jalan yang diridhai Allah.

Karena itulah, Islam menekankan pentingnya pengendalian diri sebagai bagian dari perjuangan menuju kemerdekaan sejati.

Jama’ah Jumat rahimakumullah,

Sudahkah kita merdeka dari kecintaan berlebihan terhadap dunia?

Merdeka dari kecintaan berlebihan terhadap dunia, maksudnya mampu melepaskan diri dari keterikatan yang berlebihan terhadap hal-hal duniawi seperti harta, jabatan, popularitas, atau kesenangan sesaat, yang sering kali membuat kita lupa pada tujuan hidup yang sejati: mendekat kepada Allah dan meraih kebahagiaan abadi di akhirat.

Kemerdekaan sejati bukan ketika seseorang punya segalanya, tetapi saat ia tidak diperbudak oleh apa pun. Bukan terpesona oleh gemerlap dunia, melainkan tetap sadar bahwa semuanya hanyalah titipan sementara.

Harta, jabatan, dan kemewahan bukanlah musuh, namun jika hati terlalu terpaut padanya, maka manusia mulai kehilangan arah. Hidup jadi sekadar perlombaan mengejar kepuasan lahiriah, bahkan sampai rela mengorbankan nilai, integritas, dan akhirat hanya demi dunia yang fana.

Allah SWT mengingatkan dengan firman-Nya:

ٱعْلَمُوٓا أَنَّمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌۭ وَلَهْوٌۭ وَزِينَةٌۭ وَتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌۭ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَـٰدِ

“Ketahuilah, bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan” (QS. Al-Hadid: 20)

Inilah bentuk perbudakan yang paling halus namun berbahaya: ketika manusia mengabdi pada dunia, bukan pada Tuhannya.

Namun, bebas dari perbudakan dunia bukan berarti kita harus meninggalkan dunia sepenuhnya. Islam tidak mengajarkan untuk lari dari kehidupan, tetapi mengatur bagaimana menempatkan dunia di tangan, bukan di hati.

Harta bisa jadi sumber kemaslahatan jika digunakan dengan bijak. Jabatan adalah amanah, bukan alat untuk menyombongkan diri.

Kesenangan dunia boleh dinikmati, selama tidak melalaikan kita dari akhirat. Inilah hakikat kemerdekaan batin: saat seseorang bisa menjalani kehidupan dunia dengan tenang.

Jama’ah Jumat rahimakumullah,

Sudahkah kita merdeka dari kemaksiatan dan dosa?

Merdeka sejati adalah terbebas dari belenggu maksiat dan dosa. Karena sebenarnya, dosa adalah bentuk perbudakan spiritual, hati jadi gelap, jiwa sempit, dan hidup terasa jauh dari keberkahan.

Orang yang terus-menerus terjebak dalam dosa akan kehilangan rasa peka terhadap kebenaran. Bahkan, hal yang salah bisa terasa biasa saja.

Padahal, setiap dosa adalah tembok penghalang antara kita dan Allah. Maka, saat kita berusaha menjauhi kemaksiatan, itu artinya kita sedang mengembalikan jiwa kita kepada fitrahnya, jiwa yang bersih, suci, dan rindu akan ketaatan.

Bebas dari dosa itu awal dari hidup yang tenang dan hati yang lapang. Ketika kita mampu menahan diri – menjaga pandangan, lisan, dan perbuatan – saat itulah kita sedang memerdekakan diri dari jeratan syahwat yang menipu.

Tentu, bukan berarti kita tak pernah salah, tapi kita terus berusaha kembali kepada Allah dengan taubat, dan memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Allah berfirman:

إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلًۭا صَـٰلِحًۭا فَأُو۟لَـٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمْ حَسَنَـٰتٍۢ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًۭا رَّحِيمًۭا . وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَـٰلِحًۭا فَإِنَّهُۥ يَتُوبُ إِلَى ٱللَّهِ مَتَابًۭا

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh, maka kejahatan-kejahatan mereka akan diganti Allah dengan kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan barang siapa bertaubat dan mengerjakan kebaikan, maka sungguh ia kembali kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al-Furqan: 70–71)

Inilah kemerdekaan ruhani yang paling mulia: saat hati bersih, amal diterima, dan hidup hanya ditujukan untuk mencari ridha-Nya. Karena, pada akhirnya, manusia yang paling merdeka adalah mereka yang paling taat kepada Allah.

Kalau kita masih terjebak dalam maksiat dan jauh dari kebaikan, berarti kita sebenarnya masih “terjajah”, hanya saja bentuknya berbeda.

Oleh karena itu, mari kita jadikan momentum kemerdekaan ini bukan sekadar seremonial, tapi sebagai titik balik untuk membangun diri dan bangsa yang bertakwa, berakhlak mulia, dan menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ

Do’a Penutup

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً. اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ

!!!عِبَادَاللهِ

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

(Untuk mengunduh naskah ini ke format PDF, klik icon “print” pada share button di bawah lalu pilih simpan file PDF)

HI-FESS Ramaikan Semarak Munas VI Hidayatullah, Ajang Kompetisi dan Kontribusi untuk Negeri

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menjelang Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah yang akan digelar pada akhir tahun ini, panitia pusat menghadirkan Hidayatullah Festival Spesial atau HI-FESS sebagai rangkaian kegiatan penyemarak.

Festival ini merupakan ajang terbuka bagi masyarakat, pelajar, dan mahasiswa untuk menunjukkan karya dan potensi terbaik mereka melalui kompetisi yang dikemas secara edukatif, inspiratif, dan bernilai dakwah.

Ketua Panitia HI-FESS, Ahmad Maghfur, menjelaskan bahwa festival ini adalah ruang sinergi antara kreativitas, dakwah, nilai-nilai Islam, dan semangat kebangsaan.

“Melalui lomba-lomba ini, kami berharap akan lahir gagasan-gagasan segar dan produktif dari generasi muda untuk kemajuan umat dan bangsa,” kata Ahmad dalam keterangannya, Selasa, 11 Safar 1447(5/8/2025).

Festival ini menghadirkan enam kategori lomba utama yang menggambarkan keberagaman ekspresi dan fokus dakwah Hidayatullah.

Lomba esai, yang diselenggarakan oleh Majalah Suara Hidayatullah, mengusung tema “Dakwah Ekologis Menyeru Manusia Menyelamatkan Alam.” Lomba ini mengajak peserta mengeksplorasi peran dakwah dalam isu lingkungan dan perubahan iklim.

Sementara itu, Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) Hidayatullah menggelar dua kategori lomba, yakni lomba video bertema “Halalin Gaya Hidupmu”, serta lomba desain maskot dengan tema “Maskot LPH Hidayatullah.” Keduanya ditujukan untuk menyampaikan pesan moral dan karakter lembaga melalui medium visual yang kreatif.

Persaudaraan Dai Indonesia (PosDai) turut mengadakan lomba video dengan tema “Apa Itu Hidayatullah”, sebuah tantangan terbuka untuk merangkum identitas, nilai, dan perjalanan gerakan Hidayatullah dalam format naratif audiovisual.

PT Digital Impact Nusantara (DIN) menyelenggarakan lomba design thinking bertema “Aku Generasi Hebat, Aku Pemimpin Masa Depan.” Lomba ini menantang peserta anak dan remaja untuk merancang solusi inovatif atas problem kepemimpinan dan pembangunan karakter.

Adapun Korps Mubaligh Hidayatullah (KMH) menghadirkan lomba teks khutbah dengan tema umum “Sistematika Wahyu dan Jatidiri Hidayatullah.” Lomba ini mengajak para peserta untuk mengasah kemampuan menyusun materi dakwah yang sistematis dan berakar pada nilai kenabian.

HI-FESS dibuka untuk tiga kategori peserta, yakni umum, mahasiswa, dan pelajar dari jenjang SD hingga SMA.

Masa pendaftaran dibuka sejak 24 Juli hingga 31 Agustus 2025, sementara karya peserta dapat dikumpulkan paling lambat 30 September.

Proses penilaian akan berlangsung pada 1–15 Oktober, dan para pemenang akan diumumkan pada 21 Oktober 2025.

Panitia menyiapkan berbagai apresiasi menarik, mulai dari trofi, piagam penghargaan, publikasi media, hingga hadiah uang tunai dengan total nilai puluhan juta rupiah.

“Dengan HI-FESS, kami ingin membangun ruang bersama untuk berkarya, berprestasi, dan berkontribusi nyata dalam perubahan masyarakat. Ini adalah bagian dari semangat dakwah yang mencerahkan,” pungkas Ahmad Maghfur.

Informasi dan pendaftaran resmi dapat diakses melalui laman munashidayatullah.id/hifess atau akun Instagram @munashidayatullah.

Titik ke-213 Program Penyediaan Air Bersih bagi Masyarakat di Pesantren Al Fatah

0

MOJOKERTO (Hidayatullah.or.id) — Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal Hidayatullah (BMH) kembali merealisasikan program penyediaan air bersih bagi masyarakat. Pada kesempatan ini, BMH meresmikan sumur bor ke-213 di Jawa Timur yang berlokasi di Pondok Pesantren Al Fatah, Dusun Magersari, Desa Temuireng, Kecamatan Dawar Blandong, Kabupaten Mojokerto.

Peresmian tersebut menjadi respons konkret terhadap kebutuhan dasar yang selama ini belum terpenuhi secara optimal di lingkungan pesantren tersebut, terutama saat musim kemarau.

Para santri yang menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Al Fatah selama ini harus menempuh jarak ke masjid kampung sebelah untuk sekadar mandi atau mencuci pakaian.

“Jika musim kemarau tiba, kami harus berjalan ke masjid kampung, bergantian untuk mandi dan mencuci. Kadang harus menunggu cukup lama,” ungkap Hafsah Nadhira Salma, salah satu santri yang kini dapat menikmati kemudahan akses air bersih di lingkungan sendiri.

Peresmian sumur tersebut disambut dengan rasa syukur dan haru oleh pengasuh pondok pesantren, Ustadz Kafabih. Ia menyampaikan apresiasi atas inisiatif BMH dan para donatur yang telah memungkinkan terwujudnya fasilitas vital ini.

“Sumur ini bukan hanya mengalirkan air, tapi juga harapan dan keberkahan bagi ratusan santri yang sedang menimba ilmu. Kami sangat berterima kasih kepada BMH dan para donatur atas perhatian dan bantuannya,” ujarnya, seperti dalam keterangan diterima media ini, Selasa, 11 Safar 1447(5/8/2025).

Sumur bor yang dibangun memiliki kedalaman dan debit air yang memadai untuk menunjang seluruh aktivitas harian para santri, termasuk mandi, mencuci, memasak, dan berwudhu. Fasilitas ini sekaligus mengakhiri ketergantungan mereka terhadap sumber air yang jauh dan tidak stabil.

Imam Muslim, Kepala Divisi Program dan Pendayagunaan BMH Jawa Timur, menjelaskan bahwa pembangunan sumur ini merupakan bagian dari komitmen BMH dalam menjawab krisis air bersih, terutama di pesantren-pesantren pelosok yang rentan kekeringan.

“Kami melihat langsung bagaimana air menjadi harapan hidup bagi para santri. Dengan hadirnya sumur ini, semoga proses belajar dan ibadah mereka semakin lancar dan penuh semangat,” jelas Imam Muslim.

Menurut Imam Muslim, pembangunan sumur bor ini juga menjadi cerminan dari semangat kolaborasi antara lembaga zakat, masyarakat, dan para donatur. Ia menegaskan bahwa program serupa akan terus digalakkan untuk memperluas akses air bersih ke berbagai wilayah yang membutuhkan.

“Sumur ini menjadi bukti nyata bahwa setiap aliran air merupakan hasil dari ikhtiar kolektif untuk mendukung kehidupan yang lebih layak bagi para penuntut ilmu,” tuturnya.

Dengan peresmian ini, Imam menambahkan, BMH mempertegas kehadirannya sebagai lembaga yang konsisten menjawab kebutuhan mendesak masyarakat melalui aksi nyata di lapangan.*/

Integrasi Profetik dan Profesional dalam Kepemimpinan Berbasis Nilai

0

BAGI seorang leader, kepemimpinan adalah panggilan hati yang dijalani dengan keyakinan kuat pada dua nilai utama yaitu profetik dan profesional.

Nilai profetik, yang bersumber dari konsep nubuwwah atau kenabian, menjadi fondasi moral dan spiritual dalam setiap langkah kepemimpinannya.

Seorang pemimpin sejati harus hadir tidak hanya sebagai pengatur, tetapi juga sebagai pembimbing dan pengayom.

Dalam keseharian, nilai ini tampak dalam cara ia memegang teguh kejujuran, keadilan, kesabaran, dan amanah. Kepemimpinan baginya bukan semata soal jabatan struktural, melainkan peran moral yang menuntut keteladanan.

Dalam konteks pendidikan misalnya, ketika menghadapi guru yang mengalami penurunan kinerja karena masalah pribadi, ia tidak mengambil langkah tegas yang kaku.

Sebaliknya, ia memilih pendekatan hati, membuka ruang dialog, mendengarkan dengan empati, dan mendampingi dengan kesabaran, mewujudkan nilai profetik dalam tindakan nyata.

Namun demikian, seorang leader juga menyadari bahwa nilai profetik saja tidak cukup dalam dunia kerja yang kompleks.

Maka, nilai profesional menjadi pendamping yang tak terpisahkan dalam kepemimpinannya. Ia membangun sistem kerja yang lebih tertib dan terukur, mulai dari penyusunan program kerja tahunan, pengelolaan rapat dengan agenda yang jelas, hingga penerapan disiplin kerja yang tetap manusiawi.

Profesionalisme, baginya, bukan sekadar soal kecakapan teknis, tetapi juga bentuk penghormatan atas waktu, tanggung jawab, dan potensi semua pihak di sekolah. Ia meyakini bahwa niat baik perlu diwujudkan dengan cara kerja yang baik, agar visi besar dapat diwujudkan secara konkret dan terukur.

Dalam menjalankan nilai-nilai ini, tokoh panutan yang selalu menjadi role model utamanya adalah Rasulullah SAW. Baginya, Rasulullah adalah figur yang luar biasa karena mampu memadukan kepemimpinan spiritual dan administratif secara seimbang.

Sisi profetik Nabi terlihat jelas dalam akhlaknya yang mulia, penuh kasih sayang, sabar, dan amanah. Sementara sisi profesional Nabi tercermin dalam kemampuannya menyusun strategi dakwah, mengelola pemerintahan, serta membangun tatanan masyarakat yang tertib dan adil.

Dua dimensi inilah yang terus ia teladani. Meskipun ia menyadari belum mampu meniru seluruh keteladanan Rasulullah secara utuh, ia yakin bahwa menjadikan beliau sebagai kompas dalam kepemimpinan adalah langkah yang kuat untuk menciptakan perubahan, bukan hanya dalam aspek teknis, tetapi juga dalam pembentukan karakter dan nilai kemanusiaan yang lebih dalam.

Ciri-ciri kepemimpinan profetik dan profesional yang dicontohkan Rasulullah SAW diantaranya tercermin dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 159 yang terjemahannya sebagai berikut:

“Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Ayat ini menjadi dasar bagi seorang leader, bahwa kepemimpinan Rasulullah SAW yang didasarkan pada sikap lemah lembut, saling memaafkan, memintakan ampun dan musyawarah, harus diteladani dalam mewujudkan masyarakat madani, yaitu masyarakat yang berbudaya, adil, makmur, sejahtera, dan damai.

Ya Allah kami mohon kepada-Mu jadikanlah negeri kami, negeri yang Engkau ridhai, negeri yang aman damai, negeri yang adil dan makmur, negeri yang memberikan kenyamanan kepada kami untuk beribadah kepada-Mu.

Ya Allah, jadikanlan pemimpin kami, pemimpin yang meneladani kepemimpinan kenabian, yang memiliki nilai profetik dan profesional secara utuh, sebagaimana yang dicontohkan panutan kami Rasulullah Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam. Aamiinn yaa Robb.

*) Mustabsyirah, penulis pendidik di Pondok Pesantren Hidayatullah Tangerang Selatan, Banten

Kemenangan Badar dan Mandat Kekuatan Berkelanjutan bagi Umat Islam

KEMENANGAN gemilang kaum Muslimin dalam Perang Badar, yang terjadi pada tahun kedua Hijriah, menjadi salah satu tonggak sejarah terpenting dalam Islam.

Dengan jumlah pasukan yang jauh lebih sedikit, kaum Muslimin berhasil mengalahkan pasukan kafir Quraisy berkat pertolongan Allah Ta’ala.

Namun, alih-alih merayakan kemenangan dengan berpuas diri, Allah Ta’ala justru menurunkan firman-Nya dalam Surah Al-Anfal ayat 60, yang berbunyi:

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Persiapkanlah untuk (menghadapi) mereka apa yang kamu mampu, berupa kekuatan (yang kamu miliki) dan pasukan berkuda. Dengannya (persiapan itu) kamu membuat gentar musuh Allah, musuh kamu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, (tetapi) Allah mengetahuinya. Apa pun yang kamu infakkan di jalan Allah, niscaya akan dibalas secara penuh kepadamu, sedangkan kamu tidak akan dizalimi.” (QS. Al-Anfal: 60)

Perintah yang turun pasca-kemenangan ini menimbulkan pertanyaan mendasar, mengapa Allah memerintahkan persiapan kekuatan setelah perang, bukan sebelumnya?

Kekuatan sebagai Mandat Berkesinambungan

Perintah untuk mempersiapkan kekuatan yang datang setelah kemenangan Perang Badar bukanlah suatu kebetulan. Hal ini merupakan pesan strategis yang bersifat universal dan abadi.

Ayat ini mengajarkan bahwa persiapan kekuatan bukanlah respons temporer terhadap ancaman yang sudah di depan mata, melainkan sebuah mandat berkesinambungan yang harus dijaga setiap saat.

Kata وَأَعِدُّوا (persiapkanlah) dan مَّا اسْتَطَعْتُم (apa yang kamu mampu) menunjukkan pentingnya kewaspadaan dan usaha maksimal yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Kemenangan yang diraih berkat pertolongan ilahi tidak lantas membuat umat Islam berdiam diri. Sebaliknya, hal itu menjadi momentum untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan, baik dalam keadaan damai maupun perang, guna mencegah potensi serangan musuh dalam bentuk apa pun.

Makna Multidimensi dari Quwwah

Kata قُوَّةٍ (kekuatan) dalam ayat ini disebutkan dalam bentuk nakirah (umum), yang menurut pandangan Syaikh Prof. Dr. Wahbah Zuhaily, memiliki makna yang luas. Ia tidak hanya merujuk pada kekuatan militer, tetapi juga mencakup kekuatan mental, fisik, dan finansial.

Namun, Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam memberikan penekanan spesifik dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir:

“Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam berkhutbah di atas mimbar. Tentang ayat ‘dan persiapkanlah bagi mereka al-quwwah (kekuatan) yang kalian mampu’ (QS. Al-Anfal: 60), Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ‘Ketahuilah bahwa al-quwwah itu adalah memanah (sampai 3 kali)’.” (HR. Muslim 1917)

Penjelasan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam tentang memanah (الرمي) perlu dipahami dalam konteks zamannya, di mana panah merupakan senjata dengan jangkauan dan kecepatan tertinggi.

Dalam konteks modern, makna ini dapat dianalogikan dengan persenjataan paling canggih saat ini, seperti rudal balistik, rudal jelajah, hingga teknologi pertahanan modern lainnya.

Selanjutnya, ayat tersebut menyebutkan:

وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ (dan pasukan berkuda)

Hal ini merupakan simbol kekuatan kavaleri pada masa itu. Pada era modern, pasukan berkuda ini dapat diinterpretasikan sebagai kekuatan angkatan udara dan teknologi nirawak (drone) yang memiliki kecepatan dan daya hancur signifikan.

Dengan demikian, ayat ini tidak hanya memerintahkan pengembangan teknologi militer, tetapi juga kesiapan armada tempur yang mumpuni.

Pilar-Pilar Kekuatan Umat

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama dari persiapan kekuatan adalah: تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ “…untuk membuat gentar musuh Allah dan musuh kalian.”

Ini adalah prinsip deterensi, di mana kekuatan yang dimiliki berfungsi untuk mencegah dan mengurungkan niat jahat pihak lain. Kekuatan ini juga harus dipersiapkan untuk menghadapi:

وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ

“…dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, (tetapi) Allah mengetahuinya.”

Sebuah pengingat bahwa ancaman dapat datang dari mana saja.

Maka, untuk membangun kekuatan yang kokoh, umat Islam harus berpegang pada tiga pilar utama:

1. Kekuatan Iman

Kekuatan iman adalah fondasi dari segala kekuatan. Seperti yang ditunjukkan oleh para sahabat di Perang Badar dan kaum Muslimin di Gaza saat ini, iman yang kuat menghilangkan rasa takut akan kematian dan menjadi motivasi terbesar untuk berkorban di jalan Allah.

2. Kekuatan Ekonomi

Menghadirkan pasukan berkuda yang tangguh atau persenjataan modern memerlukan biaya yang tidak sedikit. Ayat ini ditutup dengan kalimat:

وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

“Dan apa pun yang kamu infakkan di jalan Allah, niscaya akan dibalas secara penuh kepadamu, sedangkan kamu tidak akan dizalimi.”

Ayat ini menunjukkan bahwa kekuatan militer harus ditopang oleh kekuatan finansial. Pembangunan sistem ekonomi yang kokoh, seperti yang dirintis oleh Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dengan Baitul Maal, menjadi prasyarat untuk membiayai segala bentuk persiapan.

3. Kekuatan Pendidikan

Pendidikan adalah medium untuk menumbuhkan kekuatan iman, ekonomi, dan pertahanan. Pendidikan yang berlandaskan tauhid akan melahirkan individu-individu yang memiliki keyakinan kokoh dan tidak gentar.

Di sisi lain, pendidikan yang berpihak pada sains dan teknologi akan melahirkan entrepreneur untuk membangun kekuatan ekonomi, serta teknokrat dan ilmuwan untuk menciptakan inovasi pertahanan.

Contoh-contoh polymath Muslim pada masa keemasan Islam, seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, dan Abbas Ibnu Firnas, adalah bukti nyata bahwa kekuatan ilmu pengetahuan dapat disatukan dengan keimanan.

Penutup

Surah Al-Anfal ayat 60 adalah perintah yang melampaui konteks historis Perang Badar. Ia adalah sebuah petunjuk strategis yang menggarisbawahi pentingnya persiapan kekuatan secara komprehensif dan berkesinambungan.

Dengan membangun pilar-pilar kekuatan yang solid—iman yang kokoh, ekonomi yang mandiri, dan pendidikan yang maju—umat Islam dapat mewujudkan amanat ini.

Dengan demikian, umat Islam akan menjadi kekuatan yang disegani, bukan untuk melakukan agresi, melainkan untuk menjaga perdamaian, keadilan, dan stabilitas di muka bumi, serta sebagai wujud nyata dari ketaatan kepada Allah Ta’ala.

*) Disarikan dari Khutbah Jum’at di Masjid Ummul Qura, Depok, 1 Agustus 2025, yang dibawakan oleh Ust. Muzakkir Usman, M.Ed,. Ph.D

Webinar Parenting Mushida Soroti Krisis Aqil-Baligh dalam Pendidikan Modern

0

DEPOK (Hidayatullah.o.id) — Sekitar 600 peserta mengikuti webinar parenting nasional yang digelar oleh Mushida (Muslimah Hidayatullah) dan Komite Sekolah SD Integral Hidayatullah Depok, Jawa Barat, menghadirkan Ustadz Adriano Rusfi, S.Psi., M.Psi., seorang psikolog dan konsultan SDM serta pendidikan, sebagai narasumber utama.

Kegiatan ini menyoroti pentingnya kembali kepada pendekatan pendidikan Islam yang berbasis fitrah anak.

Dalam paparannya, Ust. Adriano menyampaikan bahwa pemahaman terhadap pertumbuhan anak perlu dikembalikan pada terminologi Islam, yaitu tahapan pra-tamyiz, tamyiz, dan aqil-baligh, dan bukan pada klasifikasi modern seperti “remaja”.

“Istilah ‘remaja’ adalah produk sosial pasca-Revolusi Industri di Inggris,” jelas Adriano Rusfi, seperti dalam keterangan diterima media ini, Senin, 10 Shafar 1447 H (4/8/2025).

Ia menambahkan bahwa kondisi ini muncul ketika jam kerja para orang tua, khususnya ayah, menjadi semakin panjang di luar rumah, sehingga keterlibatan langsung dalam mendidik anak mengalami penurunan drastis.

Menurut Adriano, fenomena tersebut menyebabkan munculnya generasi yang telah baligh secara fisik namun belum aqil secara akal.

“Dalam Islam, baligh dan aqil harus berjalan seiring sebagai tanda kesiapan menerima beban syariat dan tanggung jawab,” katanya menegaskan.

Lebih lanjut, Adriano menyebutkan bahwa krisis zaman ini berakar dari terpisahnya antara kedewasaan fisik dan akal. “Anak-anak bisa menyelesaikan soal akademik, tapi tidak siap menghadapi tekanan hidup,” tegasnya.

Indikator aqil dalam Islam, menurutnya, mencakup tanggung jawab pribadi dan sosial, kemampuan berpikir, kemandirian, serta kecakapan sosial.

Ia juga menyebut kesiapan menikah sebagai salah satu bukti kedewasaan akal karena kesiapan biologis (baligh) harus diimbangi dengan kesiapan mental dan spiritual (aqil).

Pendidikan aqil, lanjutnya, tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada sekolah atau ibu. Ia menekankan pentingnya peran ayah dalam pendidikan anak.

“Ayah sebagai penanam nilai dan ketegasan memiliki peran yang sangat krusial,” ungkapnya. Ia bahkan menyebut Indonesia sebagai fatherless country karena banyak anak tumbuh tanpa kehadiran atau keterlibatan aktif ayah dalam proses pendidikan.

Menurutnya, peran ibu yang persuasif perlu diseimbangkan dengan ayah yang tegas agar anak tumbuh kuat secara akidah dan tangguh dalam kepribadian.

Di akhir webinar, Adriano mengajak peserta untuk kembali mendidik anak sesuai fitrahnya, bukan membebani mereka dengan tuntutan akademik seperti calistung sejak dini.

“Anak perlu dilatih menghadapi kesulitan, bukan dijauhkan darinya. Sebab dari tantangan itulah tumbuh kecakapan hidup yang sejati,” ujarnya.

Ia mengutip QS. Al-Baqarah: 214 sebagai penegasan bahwa ujian adalah bagian dari proses pendidikan sejati. “Orang-orang beriman terdahulu pun diuji dengan kesempitan dan penderitaan yang mengguncang sebelum datang pertolongan Allah.”

Webinar ini ditutup dengan penekanan bahwa proses pendidikan anak harus diarahkan pada pembentukan akhlak, tanggung jawab, dan ketahanan diri untuk mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan dunia dan akhirat.

Menteri Kebudayaan Tegaskan Genosida Budaya Terjadi di Gaza

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menyatakan dukungan tegas atas perjuangan rakyat Palestina dalam aksi damai yang digelar oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARI-BP), Ahad, 9 Shafar 1447 (3/8/2025).

Dalam orasinya, Fadli menegaskan bahwa sikap pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tidak berubah, yakni mendukung penuh kemerdekaan Palestina sebagai negara yang berdaulat.

Ia menekankan bahwa dukungan ini merupakan perwujudan dari amanat konstitusi Indonesia yang menyatakan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.

“Kita tidak punya lagi kata-kata yang dapat mewakili betapa kejam dan brutalnya rezim zionis Israel melakukan pembantaian massal terhadap rakyat Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak yang tak berdosa,” ujar Fadli dalam keterangan tertulis.

Ia mengapresiasi peran aktif Menteri Luar Negeri Sugiono yang menurutnya konsisten dalam mengarahkan diplomasi Indonesia untuk mendukung penghentian kekerasan dan genosida di Gaza. Fadli menggarisbawahi bahwa kebijakan luar negeri Indonesia tetap sejalan dengan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan dan keadilan global.

Mengomentari eskalasi kekerasan di Gaza, Fadli menyatakan bahwa penghancuran fasilitas publik oleh Israel—termasuk sekolah, rumah sakit, dan tempat pengungsian—tidak dapat dipahami semata sebagai tindakan perang. Menurutnya, hal itu merupakan bentuk genosida di era modern.

“Serangan dan penghancuran yang sistematis terhadap budaya, situs bersejarah, monumen, dan pusat peradaban Palestina di Gaza bukan hanya menghancurkan fisik, tetapi juga merupakan upaya penghapusan identitas suatu bangsa dan peradaban. Ini adalah bentuk genosida budaya yang sangat kejam dan nyata di zaman modern,” kata Fadli.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa kekerasan tidak hanya menyasar struktur budaya fisik, tetapi juga ditujukan kepada individu-individu yang memelihara kebudayaan Palestina.

“Termasuk di dalamnya adalah serangan brutal terhadap para budayawan, seniman, dan intelektual Palestina yang menjadi penjaga dan pewaris nilai-nilai budaya bangsa,” sambung Fadli, yang juga dikenal sebagai mantan wartawan Majalah Suara Hidayatullah.

Dalam orasi yang sama, Fadli mengkritik negara-negara yang terus memberikan dukungan kepada rezim zionis. Ia menilai bahwa dukungan tersebut mencabut legitimasi moral mereka dalam berbicara mengenai demokrasi dan hak asasi manusia.

“Tindakan ini merupakan penghapusan ingatan sejarah sebuah bangsa dan merupakan tragedi kemanusiaan dan budaya yang sangat kejam,” tegasnya.

“Kita mempunyai amanah konstitusional untuk melawan penjajahan dan penindasan, bukan hanya terhadap rakyat Gaza yang terus dibantai, tetapi juga terhadap penghancuran budaya dan peradaban yang selama ini menjadi identitas bangsa Palestina.”

Ia menyampaikan keyakinannya bahwa perjuangan rakyat Palestina akan menjadi awal kebangkitan sebuah negara merdeka dan lahirnya kembali peradaban yang selama ini terancam. Fadli juga menyerukan tekanan global terhadap Israel dalam bentuk sanksi menyeluruh.

“Kita mendesak adanya sanksi internasional yang tegas dan menyeluruh terhadap Israel. Negara-negara di dunia harus solid dan bersatu memberikan tekanan melalui sanksi ekonomi, politik, dan diplomatik agar kekejaman ini segera dihentikan,” tuturnya.

“Semangat kita adalah semangat keadilan dan kemanusiaan. Mari kita terus bersatu membela kemerdekaan Palestina,” pungkasnya.

Ketua Umum Hidayatullah Serukan Tiga Panggilan Moral dalam Aksi Bela Palestina

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Dr. H. Nashirul Haq, M.A., menyampaikan pernyataan dalam aksi damai yang digelar oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARI-BP) di kawasan Monas, Jakarta, pada Ahad, 9 Shafar 1447 (3/8/2025). Aksi tersebut dihadiri oleh puluhan ribu masyarakat dari berbagai kalangan yang menyuarakan solidaritas untuk Palestina.

Menurut Dr. Nashirul, kehadiran umat Islam Indonesia dalam aksi ini bukan sekadar simbolik, melainkan bentuk nyata dari tiga panggilan moral yaitu panggilan keimanan, kemanusiaan, dan kebangsaan.

“Kita hadir dalam aksi akbar untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia selalu komitmen untuk mendukung sepenuhnya untuk kemerdekaan Palestina dan juga mengecam segala bentuk kejahatan kemanusiaan. Apalagi yang sedang saat ini melanda Gaza yaitu pelaparan massal dan sistematis yang mengancam nyawa sekitar 2 juta yang berada di wilayah Gaza,” ungkapnya di lokasi aksi.

Ia menegaskan, keterlibatan dalam aksi tersebut didasarkan pada panggilan keimanan yang menuntut empati mendalam terhadap penderitaan sesama umat manusia.

“Orang-orang beriman itu selalu peduli, selalu care, dengan apa yang sedang dialami oleh saudara-saudaranya di mana saja. Manakala ada satu yang menderita maka semua orang-orang beriman ikut merasakan pelaparan massal yang dihadapi saudara-saudara di Gaza,” jelasnya.

Lebih lanjut, Nashirul menyatakan bahwa keterlibatan tersebut juga bersumber dari panggilan kemanusiaan yang tidak dapat membiarkan penderitaan tanpa kepedulian. Ia menyebut bahwa setiap insan yang memiliki nurani akan terdorong untuk bertindak.

“Orang yang memiliki hati nurani pasti tidak akan rela melihat ada yang mengalami kelaparan, yang mengalami ketidakjelasan kapan mereka mendapatkan bantuan untuk dapat melanjutkan kehidupan mereka,” imbuhnya.

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, kata dia, semangat aksi ini juga mencerminkan panggilan kebangsaan meneguhkan amanat konstitusi yang menolak segala bentuk penjajahan.

“Konstitusi Indonesia sangat jelas menyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Dan penjajahan adalah bertentangan dengan kemanusiaan dan keadilan,” tegasnya.

Nashirul Haq mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus memperkuat posisi Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan Palestina.

“Semoga hal ini bisa menjadi kesadaran bagi masyarakat Indonesia agar terus terdepan dalam membela kemerdekaan Palestina dan juga mengecam segala bentuk tindakan kejahatan kemanusiaan sebagaimana dialami oleh bangsa Palestina saat ini,” pungkasnya.

Indonesia Tegaskan Dukungan Konstitusional untuk Palestina di Aksi Akbar Monas

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Pemerintah Indonesia kembali menegaskan sikap politik luar negerinya yang konsisten dalam mendukung kemerdekaan Palestina. Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Sugiono saat berorasi di hadapan puluhan ribu peserta Aksi Akbar Bela Palestina yang digelar di Lapangan Monas, Jakarta, Ahad, 9 Shafar 1447 (3/8/2025).

Dalam pernyataan resminya, Menlu Sugiono menyampaikan bahwa posisi Indonesia tidak berubah sejak awal, yakni menjadikan dukungan terhadap Palestina sebagai amanat konstitusional dan bagian dari agenda kebijakan luar negeri Indonesia.

“Sejak awal, Presiden Prabowo menegaskan bahwa kemerdekaan Palestina adalah bagian dari cita-cita perjuangan bangsa Indonesia. Ini bukan sekadar retorika, tetapi wujud nyata dari amanat UUD 1945. Indonesia akan terus menolak segala bentuk penjajahan,” ujar Sugiono dalam keterangan tertulis dari Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.

Pernyataan tersebut ditegaskan kembali dalam konteks komitmen pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang, menurut Sugiono, menjadikan isu Palestina sebagai perhatian utama dalam berbagai forum internasional dan kebijakan bilateral.

Sugiono menyampaikan bahwa bentuk dukungan Indonesia kepada rakyat Palestina tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga terwujud dalam bantuan konkret. Ia mengungkapkan bahwa Indonesia telah mengirimkan lebih dari 4.400 ton bantuan logistik ke Palestina sejak krisis kemanusiaan terbaru terjadi.

“Hingga kini, Indonesia telah mengirim lebih dari 4.400 ton bantuan logistik. Dalam waktu dekat, sebanyak 10.000 ton beras akan dikirimkan ke Palestina sebagai bentuk solidaritas kita,” ungkapnya di hadapan peserta aksi.

Selain bantuan kemanusiaan, Indonesia juga disebut aktif mendorong diplomasi untuk Palestina melalui berbagai forum internasional, antara lain ASEAN, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dan pertemuan-pertemuan multilateral lainnya.

“Presiden Prabowo selalu mengangkat isu Palestina di level global. Tugas saya sebagai Menteri Luar Negeri adalah meneruskan suara itu dengan langkah-langkah konkret,” tegas Sugiono.

Dalam kesempatan yang sama, Sugiono menyoroti praktik-praktik pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Palestina, termasuk penggunaan kelaparan sebagai senjata dan pengusiran paksa dari wilayah permukiman.

Menlu menilai tindakan-tindakan tersebut tidak hanya melanggar hukum internasional, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan universal.

Masih dalam kesempatan itu, Menlu Sugiono menyampaikan pesan solidaritas yang kuat kepada rakyat Palestina dan menekankan bahwa perjuangan untuk kemerdekaan Palestina adalah perjuangan bersama umat manusia.

“Kalian tidak sendirian. Rakyat Indonesia bersama kalian. Dengan harapan dan keteguhan hati, kita akan terus melangkah menuju tujuan bersama: hadirnya Negara Palestina yang merdeka, berdaulat, dan hidup damai,” ujarnya.

Orasi Menlu Sugiono diakhiri dengan seruan yang menggema di seluruh kawasan Monas:

“Merdeka! Merdeka!”

Aksi damai yang diprakarsai Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama Aliansi Rakyat Indonesia Bela Palestina (ARIBP) ini diikuti oleh berbagai elemen masyarakat dari seluruh penjuru tanah air dan berlangsung dengan tertib di bawah pengamanan aparat serta koordinasi dari berbagai organisasi sipil dan keagamaan.