Ketua Kwarcab Kota Ternate Hj. Marliza Marsaoly saat menyematkan ID Card kepada peserta yang akan mengikuti jambore nasional Hidayatullah (Foto: Dok. Ongky/ RRI)
TERNATE (Hidayatullah.or.id) – Di bawah langit pagi jelang siang yang teduh, lapangan Pondok Pesantren Hidayatullah Ternate pada Selasa, 18 Safar 1447 (12/8/2025) dipenuhi derap langkah dan senyum penuh harapan.
Seragam pramuka yang rapi berpadu dengan bendera berkibar, menandai momen bersejarah bagi 112 peserta yang akan mengemban misi membawa nama Maluku Utara di ajang Islamic Scout Camp of Hidayatullah (ISCH) ke-3 digelar di Bumi Perkemahan Gunung Tembak, Teritip, Kota Balikpapan.
Suasana hangat kekeluargaan berpadu dengan semangat perjuangan, menciptakan atmosfer pelepasan yang sarat makna.
Ibu Wali Kota Ternate yang juga menjabat Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kota Ternate, Kak Marliza Marsaoly, memimpin langsung prosesi pelepasan.
Hadir pula jajaran Kwarcab Kota Ternate, Mabicab Sako Kota Ternate, Pengurus Sakoda Pramuka Hidayatullah Maluku Utara, kepala sekolah, dewan guru Hidayatullah se-Kota Ternate, serta para peserta jambore. Momen puncak ditandai dengan penyerahan bendera kontingen oleh Kak Marliza kepada pimpinan kontingen.
Dalam sambutannya, Kak Marliza menyatakan kebanggaannya kepada peserta yang terpilih mewakili Maluku Utara, khususnya Kota Ternate. Ia berpesan agar mereka menjaga sikap, disiplin, dan mampu mengharumkan nama daerah di tingkat nasional.
“Kakak bangga dengan adanya Sako Pramuka Hidayatullah di Maluku Utara, khususnya Ternate, yang memiliki warna kabilah tersendiri. Gunakan ini untuk menambah wawasan, mempererat persaudaraan, pengalaman bermanfaat dan jaga kesehatan juga nama baik daerah,” pesannya.
Mengakhiri sambutannya, Marliza mengucapkan, “Bismillahirrahmanirahim, kakak melepas kontingen Sako Pramuka Hidayatullah untuk mengikuti kegiatan Jambore Nasional di Balikpapan. Iringan doa restu kami panjatkan untuk kontingen Maluku Utara.”
Pimpinan Kontingen Maluku Utara, Muhammad Nashirul Haq atau Kak Irul, menyampaikan bahwa daerahnya mengirimkan total 112 peserta, terdiri dari 92 peserta inti serta 20 panitia dan pendamping.
Dia menyebutklan, ISCH ke-3 akan berlangsung pada 21–24 Agustus 2025 dan bertujuan membentuk watak, meningkatkan kemandirian, keterampilan, serta menjadi sarana pertemuan besar anggota Sako Hidayatullah.
“Kegiatan ini memperkuat lima profil Sako Hidayatullah yaitu benar aqidahnya, berakhlak Qur’ani, tekun beribadah, berdakwah di jalan Allah, dan komitmen berjamaah,” jelas Kak Irul.
Kontingen jambore akan berangkat pada tanggal 15 Agustus menuju Makassar. Selanjutnya bergabung dengan kontingen Sulawesi Selatan menuju Balikpapan.
Kontingen regu Sako Pramuka Hidayatullah perwakilan Maluku Utara (Foto: Dok. Hidayatullah.or.id)
YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Menjelang pelaksanaan Islamic Scout Camp of Hidayatullah (ISCH) III yang akan digelar di Bumi Perkemahan Gunung Tembak, Teritip, Kota Balikpapan, Departemen Kepesantrenan Dewan Pengurus Pusat (Deptren DPP) Hidayatullah mengeluarkan arahan strategis kepada seluruh Pondok Pesantren Hidayatullah di seluruh Indonesia.
Ketua Deptren DPP Hidayatullah, KH Muhammad Syakir Syafi’i, menegaskan pentingnya langkah ini agar proses pengkaderan santri melalui kegiatan Jambore Nasional Sako Pramuka Hidayatullah dapat berjalan lancar, sukses, dan penuh berkah.
“Hal ini perlu disebarluaskan dan ditindaklanjuti agar pengkaderan santri berjalan dengan baik. Doa menjadi kekuatan ruhani yang menopang keberhasilan acara ini,” ujar KH Syakir dalam arahannya dikutip Rabu, 19 Safar 1447 (13/8/2025).
Instruksi Mujahadah Ruhiyyah Nasional
Dalam broadcast resmi, Deptren DPP mengimbau seluruh santri untuk serentak melakukan mujahadah ruhiyyah dengan memanjatkan doa bersama. Teknisnya, satu orang ustadz atau santri membacakan teks doa, sementara seluruh santri dan jamaah lainnya mengamini.
“Caranya, teks doa (Arab dan terjemahnya) dibaca oleh satu orang ustadz/santri, sedangkan santri dan jamaah lainnya mengamini,” jelas KH Syakir.
Tidak hanya memberikan instruksi, Deptren DPP juga melakukan pemantauan langsung ke berbagai daerah untuk memastikan pelaksanaan imbauan tersebut.
“Alhamdulillah pengaruhnya bagus dan positif. Selain tujuan utama doa untuk kesuksesan Jamnas, doa yang dibacakan itu juga menjadi narasi yang memberikan multi manfaat kepada santri,” ungkap KH Syakir usai memantau pelaksanaan di beberapa daerah.
Nilai Kebangsaan dan Peradaban
Menurut Pembina Kampus Madya Hidayatullah Yogyakarta tersebut, doa ini memiliki makna mendalam, yaitu menanamkan cinta kepada bangsa, memperkuat perhatian pada kepemimpinan, dan meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat, khususnya para pemuda.
“Doa ini dapat memupuk rasa memiliki dan menganggap penting eksistensi organisasi beserta sejumlah programnya. Ini juga niscaya bisa menumbuhkan cita-cita membangun peradaban Islam dan motivasi perjuangan untuk mewujudkannya,” tegasnya.
Adapun doa resmi yang diedarkan Deptren DPP Hidayatullah berbunyi:
“Ya Allah, jadikanlah Jambore Perkemahan Nasional Sako Pramuka Hidayatullah (ISCH) ke-3 ini acara yang penuh berkah, tempat turunnya rahmat, terbangunnya kesadaran, dan diperbaharuinya komitmen perjuangan
“Ya Allah, tambahkan keimanan kami, eratkan persaudaraan kami, tanamkan dalam diri kami kecintaan yang tulus terhadap negeri yang Engkau berkahi ini. Jadikan kami penjaga bangsa dengan ilmu dan amal, dengan tarbiyah dan dakwah”
Ya Allah, lindungilah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bimbinglah para pemimpin, masyarakat, dan pemudanya untuk membawa risalah, melayani agama dan tanah air tercinta
Ya Allah, mudahkanlah seluruh rangkaian acara ini, berkahilah seluruh panitia dan pesertanya, dan jadikan ia wasilah terbangunnya peradaban Islam.
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Acara pembacaan SK Penugasan 184 sarjana dai tangguh Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah di Aula Jabal Rahmah, Embarkasi Haji Balikpapan, Kalimantan Timur beberap waktu lalu menuai banjir dukungan dari berbagai pihak.
Kegiatan yang dirangkai dengan Sidang Senat Terbuka atau dikenal dengan wisuda alumni tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Kopertais XI Kalimantan Prof. Dr. H. Mujiburrahman, Wakil Wali Kota Balikpapan Dr. Ir. H. Bagus Susetyo, M.M serta sejumlah tamu undangan lainnya.
Untuk diketahui, di momen bersejarah itu lulusan dai sarjana STIS bukan hanya sekadar diwisuda dan mendapatkan pengukuhan gelar akademik sebagai Sarjana Hukum (S.H) semata, tapi juga sekaligus sebagai pelepasan resmi para alumni sebelum berangkat berdakwah ke seluruh penjuru nusantara.
Dukungan itu di antaranya datang dari Wawali Kota Balikpapan sendiri yang memberi apresiasi terhadap lulusan STIS Hidayatullah. Mahasiswa yang ditempa dengan program pengkaderan secara kuliah berasrama itu disebutnya memiliki peran penting dalam membangun kota Balikpapan.
“Bagi Kota Balikpapan, kompetensi ilmu syariah memiliki peranan penting dalam membangun peradaban. Baik dalam bidang agama, sosial, ekonomi, maupun bidang lainnya,” ucapnya Bapak Bagus Susetyo saat memberi sambutan dalam kegiatan wisuda, Sabtu, 15 Safar 1447 (9/8/2025).
Senada, Prof. Mujiburrahman turut menyampaikan rasa salut atas kekhasan yang dimiliki oleh para sarjana Hidayatullah. Ia menyebut alumni tersebut terbuka pada siapapun yang berbeda tanpa mesti menghilangkan identitas mereka yang khas.
“Tidak sedikit dari tokoh Hidayatullah ini yang kuliah di UIN Antasari, dan sebagian pernah kuliah dengan saya. Ini mungkin salah satu yang membuat mereka unik, yakni dapat menggabungkan disiplin dan pengkaderan ala pesantren yang ketat dengan keterbukaan akademik,” ucap Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Banjarmasin sekaligus Ketua Kopertais XI Kalimantan, yang dirilis melalui postingan di akun medsos pribadinya.
“Mengucapkan selamat dan sukses atas terselenggaranya wisuda ini,” pesan dukungan singkat ini juga datang dari Direktur Kantor Hukum Haji Nasrun Mukmin Lawfirm, Abdullah Khalid, S.H., M.H.
Pesan serupa turut mengalir dari Lembaga Pendampingan Perempuan dan Anak, Bina Aisyah Kalimantan Timur.
“Sudah tentu kami terus mendukung para lulusan menjadi orang berpengaruh dan memberi warna dan manfaat yang baik untuk masyarakat, sebagai mitra dan rekan belajar, untuk menimba ilmu hukum dunia dan akhirat,” ucap Muhammad Iqbal, S.H., M.H selaku direktur.
Dukungan serupa tak luput dari alumni senior hingga para pembimbing tokoh sesepuh Hidayatullah. Di antaranya.
“Alhamdulillah, sangat terasa manfaat kiprah dan manfaat para alumni di dunia pendidikan, baik bagi lembaga maupun masyarakat secara umum. Semoga ke depannya para alumni STIS tetap bisa memberikan banyak kontribusi, kebermanfaatan, dan warna baru bagi pendidikan, terutama untuk alumni STIS putri,” ucap Ustadzah najmatun Nahdhah, Kepala Sekolah Menengah Hidayatullah (SMH) RM Putri Balikpapan, yang juga lulusan STIS tahun 2014.
“Selamat dan Sukses wisuda ke-9. Selamat datang di alam realita bukan di alam cerita. Semangat!” ucap Kepala SMH RM Putra, Ustadz Sukman.
Dukunga dan penguatan untuk para sarjana STIS Hidayatullah tak kalah istimewanya hadir dari Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, Dr. Nashirul Haq.
“Ini adalah hari yang istimewa, hari bersejarah. Bukan hanya hari wisuda bagi sarjana STIS Hidayatullah, namun ini adalah momen persaksian lahirnya generasi pelanjut perjuangan, sarjana kader, pemimpin masa depan. Para wisudawan bukan sebatas sarjana, tetapi juga pejuang peradaban, penyebar dakwah, pendidik, dan pengajar ilmu yang akan menyinari negeri dengan cahaya Al-Qur’an dan sunah. Para alumni, jangan merasa sedih di mana pun berada. Anda adalah bagian dari jemaah dalam gerakan tarbiyah dan dakwah. Misi kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa menuju Indonesia yang berperadaban. Tugas ini tentu berat dan tidak ringan, tetapi sangat mulia. Maka teruslah belajar, terus melangkah, dan berjuang semaksimal kemampuan. Jadilah solusi bagi negeri ini, bagi persoalan-persoalan yang dihadapi umat dan bangsa. Selamat bertugas di medan juang. Semoga Allah Ta’ala memberikan keistiqamahan dan keimanan yang kuat dalam menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya,” tuturnya panjang melalui rekaman video yang beredar.
Terakhir, pesan menyentuh datang dari Ibunda Rosmala Dewi, istri dari pendiri Hidayatullah, almarhum Ustadz Muhammad Hasyim.
“Alhamdulillah, saya mewakili ibu-ibu pembimbing dengan bangga mengucapkan selamat kepada wisudawan STIS Hidayatullah Balikpapan. Semoga sukses selalu menyertai langkah-langkah kalian di masa depan. Kami para orang tua hanya mengiringi dengan doa, semoga kalian semua selamat dunia dan akhirat. Amin ya Rabbal alamin,” pungkasnya.
BALIKPAPAN (Hidyatullah.or.id) — Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, MA menyampaikan apresiasi dan kesyukuran mendalam atas terselenggaranya Sidang Terbuka Wisuda IX Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah yang digelar di Aula Jabal Rahmah, Embarkasi Haji Kota Balikpapan, Sabtu, 15 Safar 1447 (9/8/2025).
Hadir sebagai anggota Dewan Senat, Nashirul menyampaikan turut berbahagia atas pencapaian STIS yang dinilai terus tumbuh dan berkembang lebih baik.
“Alhamdulillah kami hadirkan STIS pada tahun 2004 di Gunung Tembak, ternyata lulusan alumninya sudah angkatan ke-19 sekarang, dan jumlah wisudawan setiap tahun alhamdulillah sangat menggembirakan,” ucapnya diselingi senyum bahagia sekaligus menyetir ayat “… wa amma bi nikmati rabbika fahaddits,”.
Lebih jauh, ustadz yang diamanahi sebagai perintis sekaligus ketua pertama Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) di Balikpapan tersebut mendorong agar STIS Hidayatullah terus berkembang lebih baik dan menyebar manfaat lebih luas kepada masyarakat.
Doktor yang menyelesaikan seluruh jenjang pendidikan tingginya di luar negeri itu juga mengapresiasi STIS Hidayatullah yang mampu menyelenggarakan Panca Dharma PT sekaligus.
“Jadi bukan hanya Tri Dharma perguruan tinggi, tetapi Panca Dharma sekaligus. Ini luar biasa,” ucapnya.
Di hadapan 184 alumni STIS yang diwisuda dan para tamu undangan lainnya, hal ini lalu diurai secara singkat oleh Ustadz Nashirul.
Menurutnya, selain tiga dharma yang sudah umum tentang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Maka PT Hidayatullah punya ciri khas tambahan, yakni dharma kepesantrenan dan pengkaderan.
Perkuliahan dengan sistem asrama 24 jam, lanjutnya adalah kekhasan sekaligus keunggulan lulusan STIS Hidayatullah dan PTH lainnya.
“Lulusan STIS yang berbasis pesantren 24 jam kualitasnya bisa tiga kali lipat dari alumni perguruan tinggi yang cuma belajar lima sampai delapan jam sehari. Khususnya dalam pendalaman ilmu-ilmu agama,” terangnya tentang keunggulan alumni PTH.
“Ketersediaan waktu di kampus dan kehadiran para dosennya, para murabbinya, mentornya itu semua berada di sekitar kampus, jadi sangat memungkinkan untuk itu,” ungkapnya optimis.
“Nah, yang kelima adalah dharma pengkaderan. Mahasiswa ini bukan hanya ditarbiyah dari sisi akademik tetapi lebih daripada itu disiapkan untuk menjadi agen perubahan. Menjadi dai, menjadi murabbi, jadi pemimpin sekaligus pelayan umat,” tutupnya.
Pantauan media secara langsung, acara sidang terbuka wisuda STIS Hidayatullah dihadiri oleh sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat seperti Prof. Dr. H. Mujiburrahman, MA (Ketua Kopertais XI Kalimantan), Dr. Bagus Dr. Ir. H. Bagus Susetyo, M.M (Wakil Walikota Balikpapan), dan Drs. H. Ahmad Fanani, M.H (Ketua Pengadilan Agama Balikpapan).
Hadir puka Pemimpin Umum Hidayatullah Ust. H. Abdurrahman Muhammad, Ketua Dewan Murabbi Wilayah Hidayatullah Kalimantan Timur Ust Muhammad Nurdin AR, Ketua YPPH Balikpapan Ust. H. Hamzah Akbar, Pembimbing Pesantren Hidayatullah dan para tamu undangan lainnya.*/
NGAWI (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka menyemarakkan Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah, Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Ngawi menyelenggarakan Ekspedisi Gunung Lawu pada 9–10 Agustus 2025.
Kegiatan ini diikuti oleh kader internal unit dan amal usaha organisasi, mengusung tujuan memperkuat ukhuwah, kebersamaan, dan syiar dakwah di alam terbuka.
Rombongan memulai perjalanan dari Jalur Cemoro Sewu, Magetan, pada Sabtu, 9 Agustus 2025, pukul 09.00 WIB. Cuaca cerah mengiringi langkah para peserta menapaki jalur pendakian yang dinilai menantang sekaligus indah.
Sepanjang perjalanan, peserta saling menguatkan, menjaga kekompakan, dan menebarkan semangat ukhuwah, diselingi lantunan doa dan canda tawa ringan.
Setelah menempuh perjalanan selama tujuh jam, tim tiba di camping area Sendang Derajat pukul 16.30 WIB.
Menjelang maghrib, peserta melaksanakan salat, makan malam, dan beristirahat untuk memulihkan tenaga sebelum melanjutkan pendakian ke puncak.
Suhu malam yang dingin menjadi tantangan tersendiri, menjadikan waktu istirahat sebagai momen penting bagi seluruh rombongan.
Pada Ahad, 10 Agustus 2025, setelah melaksanakan salat subuh, peserta memulai summit attack menuju puncak Gunung Lawu yang berada pada ketinggian 3.265 mdpl.
Setibanya di puncak, suasana haru dan rasa syukur menyelimuti seluruh rombongan. Kegiatan di puncak meliputi pengibaran bendera, doa bersama, dan dokumentasi untuk mengabadikan momen tersebut.
Sekretaris DPD Hidayatullah Ngawi sekaligus Ketua Tim Ekspedisi, Khairul Huda, menyampaikan bahwa pendakian ini memiliki nilai pembelajaran yang dalam.
“Pendakian ini mengajarkan tentang menjaga ego, sabar, saling membantu, dan selalu mengingat Allah di setiap langkah. Semoga semangat ini terbawa hingga pelaksanaan Munas VI nanti,” ujarnya.
Sementara itu, Imam Muslim, Kepala Divisi Program dan Pendayagunaan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Jawa Timur yang turut mendukung kegiatan ini, mengungkapkan apresiasinya.
“BMH sangat mendukung program-program yang mempererat ukhuwah, menumbuhkan semangat dakwah, dan membentuk karakter. Ekspedisi ini menjadi simbol keteguhan hati dalam perjuangan dakwah,” tuturnya.
Perjalanan turun dimulai pada pukul 12.15 WIB dan seluruh peserta tiba dengan selamat. Ekspedisi ini diakhiri dengan ungkapan rasa syukur atas kelancaran kegiatan.
Semangat yang terbangun di Gunung Lawu diharapkan menjadi bekal dalam melanjutkan dakwah dan pendidikan, sejalan dengan visi menyongsong Indonesia Emas 2045.
BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Prosesi sidang senat wisuda Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan tahun 2025 menjadi momentum penting bagi pengembangan ekonomi syariah di kota ini. Sebanyak 184 lulusan sarjana (S-1) angkatan ke-18 dan 19 resmi diwisuda dalam acara yang berlangsung di Aula Jabal Rahmah, Asrama Haji Balikpapan, Sabtu, 15 Safar 1447 (9/8/2025).
Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, hadir dan menyampaikan ajakan kepada para wisudawan untuk berperan aktif dalam penguatan ekonomi syariah Balikpapan, terutama pada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) syariah.
“Atas nama Pemerintah Kota Balikpapan, saya mengucapkan selamat kepada adik-adik mahasiswa STIS Hidayatullah yang hari ini wisuda. Semoga ilmu yang telah Anda dapat bermanfaat untuk kemaslahatan masyarakat,” ujar Bagus dalam sambutannya.
Menurut Bagus, ekonomi syariah menjadi kekuatan baru dalam perekonomian nasional dan global, berlandaskan prinsip keadilan, transparansi, dan kebermanfaatan. “Ini sejalan dengan arah pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan,” tambahnya.
Ia menegaskan, peran lulusan perguruan tinggi syariah sangat strategis dalam mendorong pertumbuhan UMKM berbasis halal. Selain itu, lulusan diharapkan mampu menghadirkan solusi bisnis yang sesuai syariat dan berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat.
Pemerintah Kota Balikpapan berkomitmen untuk meningkatkan literasi halal dan mendorong pengelolaan wakaf produktif. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem ekonomi syariah yang transparan dan berkeadilan di tingkat lokal hingga nasional.
Bagus optimistis, melalui kolaborasi dan inovasi, Balikpapan dapat menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia.
Acara wisuda ke-9 ini meluluskan 184 wisudawan dan wisudawati dari berbagai program studi ilmu syariah. Para lulusan diharapkan dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh untuk kemajuan di bidang agama, sosial, dan ekonomi.
Bagus menutup sambutannya dengan pesan bahwa lulusan perguruan tinggi STIS Hidayatullah memiliki tanggung jawab moral untuk membangun kota Balikpapan yang berlandaskan etika, keadilan, dan kebermanfaatan dalam bingkai madinatul iman.*/
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam rangka memperluas akses pendidikan tinggi bagi siswa berprestasi, Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah dan Sanabil Development Berhad (Malaysia) resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) kerja sama pendidikan pada Kamis, 13 Shafar 1447 (7/8/2025)
Kesepakatan ini difokuskan pada pemberian beasiswa penuh Program Kafa’at Asia bagi lulusan sekolah menengah Indonesia yang memiliki prestasi akademik dan akhlak terpuji.
MoU tersebut ditandatangani oleh Prof. Dr. Fuad Abdo Mohammed Al Soufi, Direktur Jenderal Sanabil Development Berhad, dan Dr. Muh Arfan AU, S.Si., M.Pd, Ketua Departemen Sumber Daya Manusia DPP Hidayatullah.
Berdasarkan dokumen kesepakatan, ruang lingkup kerja sama mencakup program beasiswa jenjang sarjana di Malaysia. Sanabil Development bertanggung jawab melakukan seleksi, menerima pendaftaran, dan menanggung seluruh biaya studi serta kebutuhan hidup mahasiswa selama masa pendidikan.
Selain itu, pihak Sanabil juga akan memantau perkembangan akademik dan pembinaan mahasiswa, serta menjalin komunikasi dengan pihak Hidayatullah apabila muncul kendala yang dihadapi mahasiswa di perantauan.
DPP Hidayatullah berkewajiban menyeleksi dan merekomendasikan calon penerima beasiswa dari kalangan lulusan SMA di Indonesia. Seleksi dilakukan berdasarkan kriteria akademik, perilaku, dan integritas moral sesuai standar Sanabil Development.
Pihak Hidayatullah juga memastikan kelengkapan dokumen dan keabsahan berkas setiap kandidat, termasuk verifikasi rekam jejak hukum. Para kandidat yang terpilih akan diberikan surat rekomendasi resmi sebagai bagian dari proses pengajuan beasiswa.
Secara hukum, MoU ini memiliki dua sifat yaitu sebagai komitmen moral yang dilandasi semangat kolaborasi pendidikan, sekaligus mengikat secara hukum pada pasal-pasal yang berkaitan dengan jaminan pembiayaan dan tanggung jawab masing-masing pihak.
Kerja sama ini diharapkan dapat menjadi jembatan strategis bagi peningkatan kapasitas generasi muda Indonesia untuk berkompetisi di tingkat internasional.
Melalui dukungan pendidikan yang terstruktur, para penerima beasiswa akan memperoleh pengalaman akademik dan kultural yang lebih luas, sekaligus menjadi duta positif bangsa di luar negeri.
Program ini juga memperkuat hubungan kelembagaan antara organisasi pendidikan Islam di Indonesia dan lembaga pengembangan masyarakat di Malaysia, membuka peluang kerja sama di bidang lain seperti penelitian, pelatihan, dan pertukaran budaya.
MoU antara DPP Hidayatullah dan Sanabil Development Berhad merupakan langkah mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui jalur pendidikan tinggi. Dengan adanya pembagian peran yang jelas, kerja sama ini diharapkan dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat langsung bagi para penerima beasiswa.
Agar keberlanjutan program terjaga, kedua pihak membentuk tim koordinasi bersama untuk memantau pelaksanaan beasiswa, mengantisipasi kendala di lapangan, dan memperluas cakupan kerja sama ke bidang pengembangan kapasitas lainnya.
MATARAM (Hidayatullah.or.id) — Persiapan menuju Hidayatullah Halal Festival (HHF) yang akan digelar pada September 2025 mendatang kian dimatangkan. Agenda berskala wilayah ini dirancang sebagai bagian dari penyemarak Musyawarah Nasional (Munas) VI Hidayatullah yang akan berlangsung pada Oktober 2025.
Rangkaian persiapan HHF kembali dibahas dalam Rapat Sinergi dan Koordinasi yang digelar pada Selasa, 11 Safar 1447 (5/8/2025) di Kota Mataram.
Pertemuan ini melibatkan tiga unsur kelembagaan halal Hidayatullah di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), yakni Lembaga Sembelih Halal (LSH), Lembaga Pemeriksa Halal (LPH), dan Lembaga Pendamping Proses Produk Halal (LP3H).
Hadir dalam forum tersebut antara lain Ketua DPW Hidayatullah NTB Muslihuddin Mustaqim, Ketua LPH Hidayatullah NTB Sibawaih, Ketua LSH Hidayatullah NTB Kholid Zuhri, dan Ketua LP3H Hidayatullah NTB Zainal Amilin.
Salah satu keputusan penting yang dihasilkan dalam rapat adalah pembentukan lembaga konsultan halal daerah yang diberi nama Sasambo Halal Center (SHC).
Kehadiran SHC diharapkan menjadi simpul penguatan ekosistem halal di NTB, khususnya dalam rangka mendukung edukasi, pendampingan, dan sertifikasi halal masyarakat dan pelaku usaha.
“Melalui HHF dan terbentuknya Sasambo Halal Center, kita berharap semakin banyak elemen masyarakat memahami pentingnya proses kehalalan produk. Festival ini bukan hanya pameran, tapi juga ruang edukasi publik,” ujar Ketua Panitia HHF, Sibawaih, dalam keterangannya, Kamis, 13 Shafar 1447 (7/8/2025).
Lebih lanjut, Sibawaih menyampaikan bahwa HHF akan dirancang dengan pendekatan partisipatif lintas sektor.
“Insya Allah kita libatkan banyak pelaku UMKM, dinas terkait, serta komunitas halal lifestyle agar gaungnya lebih luas dan substansial,” tambahnya.
Hidayatullah Halal Festival dijadwalkan berlangsung selama beberapa hari pada bulan September 2025 dengan agenda antara lain: seminar halal, workshop penyembelihan sesuai syariah, bazar UMKM halal, serta layanan sertifikasi halal gratis bagi pelaku usaha mikro.
Dengan sinergi antar-lembaga dan partisipasi publik yang terus dibangun, HHF diharapkan menjadi kontribusi nyata Hidayatullah dalam penguatan sistem jaminan produk halal nasional.
HHF NTB 2025 akan digelar di dua lokasi utama, yakni Poltekpar Lombok pada Minggu, 7 September 2025 dan Teras Udayana pada Sabtu–Minggu, 6–7 September 2025.
Agenda yang diusung meliputi seminar sertifikasi halal, lomba poster dan videografi, konsultasi halal gratis, serta puluhan stand kuliner halal. Panitia juga menargetkan penandatanganan lebih dari lima MoU dengan mitra lokal dalam kegiatan tersebut.
Melalui rangkaian kegiatan ini, Sibawaih menambahkan, Hidayatullah NTB berharap dapat mendorong peningkatan literasi halal dan memperluas jangkauan layanan sertifikasi di kalangan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kegiatan ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya, dengan informasi pendaftaran tersedia melalui tautan: bit.ly/Hidayatullahhalalfestival
Pada 3 Agustus 2025, lebih dari 3.000 pemukim ilegal zionis bersama dengan Menteri Keamanan Nasional Penjajah ‘Israel’, Itamar Ben-Gvir, menyerbu kompleks Masjidil Aqsa, Palestina dan melakukan sejumlah tindakan provokasi. Mereka melakukan hal tersebut di bawah perlindungan tentara penjajah ‘Israel’ (Foto: Supplied/Al Arabiya)
JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan seruan resmi atau tausiyah sebagai respons atas peristiwa penyerbuan Kompleks Masjid Al-Aqsa yang dilakukan oleh pemukim ilegal Zionis Israel baru baru ini.
Dokumen tersebut diterbitkan melalui Surat Nomor: Kep-89/DP-MUI/VIII/2025, dan ditandatangani langsung oleh Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar dan Sekretaris Jenderal Buya Amirsyah Tambunan.
Penyerbuan itu dipandang oleh MUI bukan sekadar pelanggaran terhadap situs suci umat Islam, tetapi juga sebagai aksi yang mengancam stabilitas global.
Dalam narasi enam poin yang tertuang dalam tausiyah tersebut, MUI menegaskan seruan yang ditujukan kepada umat Islam, negara-negara Arab, komunitas internasional, serta pemuka lintas agama di seluruh dunia.
Dikutip dari laman resmi mui.or.id, seruan pertama menegaskan posisi tegas terhadap aksi Israel. MUI menyatakan bahwa penyerbuan itu merupakan deklarasi perang, provokasi yang disengaja, serta penghinaan bagi seluruh umat Muslim.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa sesuai dengan Perjanjian 1967, umat Muslim memiliki kendali eksklusif terhadap kompleks Masjid Al-Aqsa, dan non-Muslim, termasuk Yahudi, dilarang beribadah di dalamnya. Oleh karena itu, tindakan pemukim Yahudi dinyatakan sebagai bentuk pelanggaran terhadap hak beribadah umat Muslim.
Pada poin kedua, MUI memperingatkan bahwa penyerbuan tersebut adalah tindakan kriminal yang mengancam perdamaian dunia.
MUI menilai bahwa tujuan utama Israel adalah memaksakan kendali penuh atas Masjid Al-Aqsa, mengikuti pola yang sebelumnya dilakukan terhadap Masjid Ibrahim di Hebron. Penekanan diberikan pada fakta bahwa langkah ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional.
Tausiyah kemudian berkembang menjadi seruan luas kepada dunia Islam. Pada poin ketiga, MUI menyatakan bahwa pelanggaran terang-terangan ini tidak akan terjadi seberani itu tanpa adanya kelemahan dan kelalaian dari dunia Arab dan Islam, meningkatnya gelombang normalisasi, serta kolusi sebagian rezim dan diamnya lembaga-lembaga keagamaan resmi.
Poin keempat ditujukan kepada komunitas internasional, yang didorong untuk segera campur tangan mengambil langkah konkret dalam melindungi rakyat Palestina dan situs-situs sucinya, khususnya dalam hal ini Kompleks Masjid Al-Aqsa.
Dalam seruan kelima, MUI mengarahkan umat Islam untuk merespons secara aktif. MUI menyerukan pada umat Islam untuk melakukan aksi dan edukasi terkait masalah ini.
Salah satu langkah nyata yang diminta adalah agar khutbah Jumat pada 8 Agustus 2025 secara khusus membahas keutamaan Masjid Al-Aqsa sebagai tanah suci ketiga umat Muslim, serta mewaspadai potensi serangan kembali dari 23 September hingga 14 Oktober 2025, yang diprediksi sebagai fase agresi paling berbahaya terhadap Al-Aqsa.
Penutup dari tausiyah tersebut menegaskan urgensi solidaritas lintas iman. MUI menyerukan kepada seluruh tokoh, pimpinan dan umat lintas agama di manapun untuk secara bersama, bersatu padu melakukan kecaman dan desakan kepada kekuatan dunia untuk menghentikan kejahatan Zionis yang telah merusak kedaulatan agama, wilayah, dan manusia.
Dengan enam poin seruan ini, MUI sebagai ruang berkhidmat lintas ormas Islam serta wadah para ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim untuk membimbing, membina, dan mengayomi umat Islam, menegaskan komitmennya terhadap perlindungan Masjid Al-Aqsa dan menyerukan respons kolektif lintas kawasan, agama, dan institusi demi menjaga kesucian situs dan hak-hak rakyat Palestina.
Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah Dr. Muhammad Shaleh Utsman S.S, M.I.Kom (Foto: Billy/ Hidayatullah.or.id)
DALAM Islam, kepemimpinan bukanlah sekadar jabatan, melainkan amanah besar yang diemban dengan tanggung jawab moral dan spiritual. Narasi ini dapat dikembangkan lebih dalam dengan bingkai komunikasi profetik, yaitu gaya komunikasi yang meneladani Rasulullah SAW.
Komunikasi profetik menempatkan kepemimpinan sebagai sarana untuk mendidik, menginspirasi, dan membawa perubahan positif, dengan mengutamakan tiga pilar utama: keteladanan (uswah), kejelasan (tabsyir), dan kebijaksanaan (hikmah).
Melihat Potensi dengan Mata Hati
Seorang pemimpin sejati adalah visioner, yang dalam Islam disebut ulul albab (orang yang berakal dan berpandangan jauh). Mereka tidak hanya melihat potensi fisik, tetapi juga potensi spiritual (fitrah) yang ada pada setiap individu.
Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam hal ini. Beliau mampu melihat Abu Bakar sebagai sahabat yang setia dan jujur, Umar bin Khattab sebagai pemimpin yang adil dan tegas, dan Khalid bin Walid sebagai panglima perang yang tak terkalahkan.
Beliau tidak pernah memandang remeh seseorang, bahkan orang yang dulunya menentang Islam, karena beliau meyakini setiap hati punya potensi untuk beriman.
Pemimpin dengan visi profetik akan selalu memandang positif dan memberikan husnuzan kepada orang lain. Sikap ini selaras dengan firman Allah SWT:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa…” (QS. Al-Hujurat: 12)
Pandangan positif ini tidak hanya mencegah dosa prasangka, tetapi juga membuka ruang untuk kepercayaan dan kolaborasi.
Dengan pandangan ini, pemimpin dapat melihat tantangan sebagai ladang amal dan peluang untuk meningkatkan kualitas diri, bukan sebagai penghalang.
Memetakan Tantangan dan Peluang
Kepemimpinan profetik tidak hanya mengandalkan intuisi, tetapi juga analisis mendalam yang didasarkan pada ilmu dan hikmah.
Rasulullah SAW selalu melibatkan para sahabatnya dalam musyawarah (syura) untuk memetakan tantangan dan peluang, seperti saat Perang Khandaq. Ide Salman Al-Farisi untuk menggali parit adalah hasil dari proses analisis dan musyawarah yang matang.
Pemimpin harus mampu merancang strategi yang efektif dan adaptif. Hal ini sejalan dengan hadits Rasulullah SAW berikut:
“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah merasa lemah.” (Riwayat Muslim)
Hadits ini mendorong pemimpin untuk bersikap proaktif, bersemangat, dan tidak mudah menyerah. Analisis yang kuat dan strategi yang matang adalah wujud dari sikap bersemangat terhadap apa yang bermanfaat dan tidak merasa lemah.
Bimbingan Ilahi
Puncak dari kepemimpinan profetik adalah kesadaran bahwa segala kekuatan dan keberhasilan datang dari bimbingan dan ridha Allah SWT.
Kepemimpinan yang sejati adalah kepemimpinan yang berlandaskan tauhid. Tanpa bimbingan Allah, setiap rencana dan strategi hanyalah sebuah upaya yang rapuh.
Seorang pemimpin yang meneladani Rasulullah SAW akan senantiasa menguatkan sisi spiritualnya melalui doa, dzikir, dan tawakal.
Ia memahami bahwa kekuasaannya adalah pinjaman dari Allah, dan pertanggungjawabannya bukan hanya kepada manusia, melainkan juga kepada-Nya. Sikap ini menciptakan pemimpin yang rendah hati, adil, dan amanah.
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap kegagalan atau tantangan adalah cerminan dari usaha manusia, sementara keberhasilan adalah karunia Ilahi.
Oleh karena itu, pemimpin sejati akan selalu berserah diri dan memohon petunjuk kepada-Nya, karena kekuatan spiritual inilah yang akan menjadi kompas dalam setiap langkah dan keputusan.
Kepemimpinan profetik adalah model kepemimpinan paripurna yang menggabungkan kecerdasan emosional, analitis, dan spiritual.
Seorang pemimpin profetik tidak hanya melihat potensi pada setiap individu dengan pandangan positif (husnuzan), tetapi juga mampu merumuskan strategi yang matang melalui musyawarah (syura) dan analisis.
Semua upaya ini dibangun di atas landasan spiritual yang kokoh, yaitu kesadaran penuh akan bimbingan Allah SWT.
Dengan demikian, kepemimpinan yang dijalankan bukan sekadar upaya manusia, melainkan ibadah yang bertujuan membawa kemaslahatan bagi umat, dunia, dan akhirat.[]
*) Dr. Muhammad Shaleh Utsman S.S, M.I.Kom., penulis adalah Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah