Beranda blog Halaman 68

Hidayatullah Membaca Arah Baru Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045

0

INDONESIA sedang berada pada satu fase historis yang menentukan. Sejak satu dekade terakhir, istilah “Indonesia Emas 2045” kerap menjadi slogan pembangunan nasional, menjadi horizon kolektif yang membayangkan abad kemerdekaan sebagai titik puncak kemajuan bangsa.

Namun, slogan tidak serta merta menjadi kenyataan. Sejarah peradaban menunjukkan bahwa momentum emas hanya dapat dicapai ketika sebuah bangsa mempunyai arah, etos, dan fondasi moral yang kokoh.

Dalam konteks inilah, Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Hidayatullah Sulawesi Selatan membuka sebuah ruang refleksi strategis, bukan hanya untuk internal organisasi, tetapi juga bagi arah perjalanan bangsa.

Dialog Keummatan dan Kebangsaan bertajuk “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045” dalam rangkaian Muswil Sulsel pada Sabtu (06/12/2025), itu diawali dengan pemaparan KH. Dr. Abdul Aziz Qahhar, M.Si., yang tampil sebagai keynote speaker yang menuntun forum keumatan ini dalam lanskap sejarah yang harus dipahami.

Beliau menggugah ingatan kolektif umat tentang kontribusi ulama dalam merumuskan dasar negara. Pancasila dan Pembukaan UUD 1945, menurutnya, adalah kristalisasi maqashid syariah dan etika publik yang telah teruji oleh pergulatan panjang dalam sejarah Nusantara.

Dengan mengutip berbagai fase perjalanan bangsa, beliau mengingatkan bahwa negara ini didirikan untuk melindungi lima tujuan dasar kemanusiaan: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta benda. Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa warisan itu sedang menghadapi ancaman serius berupa dominasi oligarki, melemahnya integritas politik, dan lunturnya orientasi moral.

Dalam kerangka tersebut, beliau menegaskan bahwa masa depan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari keberanian ormas Islam untuk mengambil posisi strategis. Jika negara adalah warisan ulama, maka ormas Islam harus menjadi penopang utama yang menjaga arah peradaban bangsa. Seruan ini adalah panggilan historis bagi umat untuk kembali mengambil peran pada arus besar perjalanan bangsa ini.

Selanjutnya pemaparan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, KH. Naspi Arsyad, Lc., menjadi titik awal refleksi yang mencerahkan. Beliau mengingatkan bahwa kekuatan sebuah organisasi, terutama organisasi dakwah tidak pernah berdiri semata pada pilar struktural semata. Ada “roh” yang menghidupi lembaga, yaitu pilar kultural.

Beliau menegaskan bahwa struktur hanyalah kerangka, kehidupan sejatinya berdenyut melalui hubungan-hubungan personal, musyawarah, dan kemampuan merawat hati para kader.

Istilah beliau tentang “politik meja makan” sejatinya tidak sederhana. Dalam perspektif sosiologi organisasi, kultur seperti itu adalah modal sosial yang menjadi penentu kohesi dan stabilitas jangka panjang. Organisasi yang hanya bertumpu pada aturan akan mandul, sedangkan organisasi yang hanya bertumpu pada keakraban tanpa tertib akan rapuh. Pesan beliau menempatkan Hidayatullah di tengah keseimbangan itu yakni kuat dalam struktur, hangat dalam kultur.

Kesabaran dan musyawarah, dalam pandangan beliau, bukan sekadar teknik kepemimpinan. Itu adalah praktik spiritual sekaligus mekanisme sosial untuk menjaga harmoni. Ketika Rais ‘Aam Hidayatullah membutuhkan dua tahun untuk memastikan keputusan strategis dipahami dan diterima dengan lapang, itu bukan tanda lemahnya kepemimpinan, melainkan bukti bahwa struktur dan kultur berjalan seirama. Di sini, Hidayatullah menunjukkan karakter unik bahwa gerakan ini lahir dari basis nilai yang kuat, tumbuh melalui kesederhanaan, dan menguat melalui disiplin secara kolektif.

Refleksi-refleksi ini kemudian menemukan titik relevansi yang semakin kuat apabila ditempatkan dalam konteks pembangunan jangka panjang. Indonesia sedang memasuki puncak bonus demografi, sebuah fase yang secara teoritis dapat membawa negara naik kelas. Namun, literatur kependudukan dan pengalaman negara-negara lain menunjukkan bahwa bonus demografi dapat berubah menjadi bencana demografi apabila tidak dikelola dengan baik.

Untuk memaksimalkan bonus tersebut, dibutuhkan tiga sintesa besar: spiritualitas yang kuat, kecakapan intelektual yang memadai, dan kohesi sosial yang solid. Ketiganya merupakan fondasi fundamental untuk menjadi hamba dan khalifah dalam pengertian yang utuh. Jika salah satu saja melemah, maka Indonesia berpotensi kehilangan momentum dan terpaksa harus menunggu satu abad lagi untuk memperoleh peluang serupa.

Dengan jaringan lebih dari empat ratus kampus/pesantren, ratusan unit pendidikan formal, sekian banyak rumah Quran, serta lembaga sosial dan ekonomi yang tersebar dari pusat hingga pelosok, Hidayatullah adalah sebuah sistem sosial yang hidup. Ia bukan hanya organisasi dengan struktur rapi, tetapi juga gerakan dengan kultur yang mengakar.

Manhaj Nabawi yang menjadi fondasi gerakan ini telah melahirkan model pengembangan kader yang berlapis: tarbiyah (pembentukan spiritual-adab), ta’lim (pencerahan ilmu), dan ta’awun (soliditas sosial). Di banyak tempat, Hidayatullah telah membangun ekosistem pendidikan, dakwah, sosial, dan pemberdayaan ekonomi yang terintegrasi yang menjadi sebuah ciri khas sistem sosial yang kokoh.

Dalam banyak penelitian sosiologi khususnya sosiologi pembangunan, lembaga seperti ini disebut community-based social system, yaitu sistem masyarakat yang mampu menciptakan perubahan melalui pembinaan manusia, penguatan jaringan, dan keteladanan moral. Karena itu, kontribusi Hidayatullah terhadap perjalanan bangsa bukan retoris; ia empiris dan dapat diverifikasi.

Dalam konteks ketahanan pangan, misalnya, jaringan ekonomi umat yang dibangun melalui berbagai unit usaha dan kolaborasi dengan lembaga nasional menghadirkan ruang sinergi dengan program negara seperti MBG, koperasi, atau industrialisasi pertanian.

Dalam konteks pendidikan, kontribusi Hidayatullah terlihat melalui lembaga formal, pesantren, dan pusat pendidikan yang tersebar, yang melahirkan generasi yang berkarakter sekaligus kompeten. Dalam konteks sosial, langkah-langkah penguatan masyarakat melalui dakwah bil hal, santunan, dan pemberdayaan menunjukkan bahwa organisasi ini berjalan seiring dengan cita-cita pembangunan nasional.

Arah baru Indonesia membutuhkan sinergi antara negara dan masyarakat. SDGs sebagai agenda global dan Asta Cita sebagai roadmap nasional menuntut adanya aktor-aktor masyarakat yang mampu melaksanakan tujuan pembangunan dengan pendekatan nilai dan budaya lokal.

Dalam hal ini, Hidayatullah memiliki modal besar, yakni kapasitas jaringan, disiplin struktur, kekuatan kultur, dan visi peradaban. Organisasi ini memiliki “daya hidup” yang khas, yang membuatnya mampu masuk ke medan dakwah, medan pendidikan, medan sosial, hingga medan pemberdayaan ekonomi tanpa kehilangan jati diri.

Muswil VI Hidayatullah Sulsel menyajikan sebuah optimisme baru bahwa Hidayatullah memilih untuk tidak menjadi penonton dalam perjalanan bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Ada kesadaran mendalam bahwa dakwah bukan hanya seruan moral, tetapi merupakan kerja-kerja peradaban yang panjang dan sistematis.

Dengan merawat tujuh tertib organisasi, memperkuat tradisi GNH, mengokohkan kepemimpinan yang sabar dan bermusyawarah, serta memperluas kontribusi sosial, Hidayatullah telah menegaskan posisi sebagai penopang peradaban.

Tantangan ke depan memang besar. Namun bangsa yang siap dengan nilai-nilai yang kokoh, dengan sistem sosial yang terorganisasi, dan dengan visi peradaban yang jelas tidak akan kehilangan arah.

Hidayatullah telah menegaskan langkahnya bahwa gerakan ini tidak hanya hadir untuk diri sendiri, tetapi untuk umat, bangsa, dan masa depan Indonesia.

Dalam lanskap besar perjalanan menuju 2045, Hidayatullah memilih untuk berada di garis depan: menopang, memandu, dan menyalakan cahaya nilai bagi arah baru Indonesia. Wallahualam.

*) Dr. Irfan Yahya, penulis adalah sosiolog, akademisi, peneliti Puslit Opini Publik LPPM Universitas Hasanuddin (Unhas) serta moderator dalam acara Dialog Keummatan dan Kebangsaan bertajuk “Sinergi Anak Bangsa Menyongsong Indonesia Emas 2045” Muswil VI Hidayatullah Sulsel

Rejuvenasi Jalan Menjaga Arah Gerakan dan Terus Hidupkan Ruh Perjuangan

0

REJUVENASI dalam sebuah gerakan Islam tidak dapat dipahami sekadar sebagai upaya penyegaran organisasi atau perombakan struktural. Ia adalah proses yang jauh lebih mendasar, menyentuh wilayah paling inti dari sebuah perjuangan: ruh, orientasi, dan tujuan.

Dalam konteks gerakan dakwah seperti Hidayatullah, Rejuvenasi dimaknai sebagai usaha sadar untuk mengembalikan gerak organisasi kepada fondasi awal yang bersumber dari wahyu, tauhid, dan tarbiyah. Ia bukan inovasi yang memutus masa lalu, melainkan pemulihan jati diri agar langkah ke depan tidak kehilangan arah.

Dalam tradisi Islam, pembaharuan atau tajdid bukanlah penciptaan ajaran baru, melainkan pengembalian agama kepada kemurniannya. Sejarah menunjukkan bahwa setiap fase perjalanan umat selalu menuntut adanya upaya pembaruan agar ajaran dan gerakan tidak terjebak dalam rutinitas yang hampa makna.

Rejuvenasi hadir sebagai respons atas dinamika internal dan eksternal yang berpotensi menggerus kesadaran awal perjuangan. Ketika organisasi tumbuh, kompleksitas meningkat, dan tantangan berubah, risiko kehilangan ruh menjadi semakin besar. Di titik inilah Rejuvenasi menjadi kebutuhan strategis, bukan pilihan tambahan.

Dalam kerangka Hidayatullah, Rejuvenasi berangkat dari kesadaran akan pentingnya sistematika wahyu sebagai metodologi pembentukan manusia dan jamaah. Sistematika ini meneladani pola turunnya Al-Qur’an, khususnya pada fase awal Islam, yang menekankan penguatan tauhid, penyucian jiwa, dan pembentukan kesadaran kolektif.

Rejuvenasi berarti mengembalikan orientasi gerakan pada proses pembentukan pandangan hidup Islam yang utuh, menjadikan tauhid sebagai pusat seluruh aktivitas, serta meneguhkan kembali disiplin berjamaah. Tanpa fondasi ini, aktivitas dakwah berisiko berubah menjadi sekadar program, bukan proses transformasi.

Aspek penting lain dari Rejuvenasi adalah revitalisasi tarbiyah. Dalam gerakan Islam, tarbiyah bukan sekadar agenda pembinaan formal, melainkan jantung yang memompa energi ruhani, intelektual, dan amal. Tarbiyah melahirkan pribadi-pribadi yang matang secara spiritual dan siap berjuang di ruang sosial.

Ketika tarbiyah tereduksi menjadi kegiatan administratif atau seremonial, gerakan kehilangan daya hidupnya. Rejuvenasi menuntut agar tarbiyah kembali menjadi pusat gerak, tempat lahirnya kader yang berkarakter, berdisiplin, dan memiliki kepekaan dakwah.

Rejuvenasi juga berkaitan erat dengan penguatan shoff jamaah. Sejarah dakwah selalu membuktikan bahwa kekuatan utama sebuah gerakan bukanlah harta atau popularitas, melainkan barisan yang rapi, solid, dan terikat oleh tujuan bersama.

Perpecahan, konflik laten, atau komunikasi yang buruk adalah tanda melemahnya ruh jamaah. Karena itu, Rejuvenasi meniscayakan upaya serius untuk memperbaiki relasi internal, meneguhkan ukhuwah, serta menanamkan kembali kesadaran berjamaah sebagai fondasi keberhasilan dakwah.

Dalam dimensi kepemimpinan, Rejuvenasi menuntut pelurusan orientasi menuju kepemimpinan yang profetik. Kepemimpinan dalam gerakan Islam pada hakikatnya adalah amanah dan pelayanan, bukan ruang untuk kepentingan pribadi atau ambisi jangka pendek. Keteladanan, integritas, dan keterbukaan terhadap kritik menjadi ukuran utama. Tanpa kepemimpinan yang berorientasi pada dakwah dan tarbiyah, organisasi berisiko terjebak dalam birokratisasi yang kering nilai.

Aspek pengorbanan juga menjadi elemen penting dalam Rejuvenasi. Sejarah awal gerakan dakwah selalu ditopang oleh semangat pengorbanan, kesederhanaan, dan keikhlasan. Ketika semangat ini memudar, gerakan kehilangan daya dorong spiritualnya. Rejuvenasi berarti menyalakan kembali etos memberi, bekerja tanpa pamrih, dan mendahulukan kepentingan perjuangan di atas kenyamanan pribadi.

Selain itu, Rejuvenasi berfungsi sebagai peneguhan identitas gerakan. Di tengah arus modernisasi, digitalisasi, dan kompetisi internal, identitas dakwah mudah tergerus. Rutinitas program, distraksi teknologi, dan orientasi pragmatis dapat menjauhkan gerakan dari visi besarnya. Rejuvenasi menjadi mekanisme pertahanan untuk menjaga ruh kolektif, memperjelas kembali tujuan peradaban, dan memastikan bahwa setiap langkah tetap berada dalam koridor nilai.

Pada akhirnya, Rejuvenasi tidak dapat dilepaskan dari agenda pembentukan generasi pelanjut. Keberlanjutan gerakan dakwah bergantung pada lahirnya kader-kader yang tidak hanya mewarisi struktur organisasi, tetapi juga mewarisi visi, ruh, dan kesadaran perjuangan. Regenerasi yang sehat hanya mungkin lahir dari proses tarbiyah yang mendalam, bukan dari seleksi administratif semata.

Dengan demikian, Rejuvenasi merupakan keharusan strategis untuk menjaga kesinambungan gerakan dakwah. Ia adalah upaya menyadarkan kembali bahwa kekuatan sejati sebuah gerakan terletak pada kemurnian orientasi wahyu, kekokohan tarbiyah, soliditas jamaah, kepemimpinan yang amanah, semangat pengorbanan, kejelasan identitas, dan kesiapan generasi penerus.

Tanpa Rejuvenasi, gerakan mungkin tetap berjalan, tetapi kehilangan jiwa. Dengan Rejuvenasi, perjuangan memiliki peluang untuk terus hidup, relevan, dan berkontribusi bagi peradaban.[]

*) KH. Sholih Hasyim, penulis anggota Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah

Kiprah KH Abdullah Said dalam Dakwah Ekoteologi yang Menyatu dengan Indonesia

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Apresiasi terhadap kiprah dakwah dan pengabdian K.H. Abdullah Said di bidang pelestarian lingkungan menjadi salah satu pokok telaah dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Hidayatullah DKI Jakarta pada Jumat, 21 Jumadil Akhir 1447 (12/12/2025).

Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi DKI Jakarta, Dr. H. Adib, M.Ag, menegaskan bahwa kontribusi almarhum tidak hanya penting bagi internal umat Islam, tetapi juga relevan bagi agenda kebangsaan Indonesia yang menjunjung keseimbangan antara pembangunan manusia dan kelestarian alam.

Hal tersebut disampaikan Dr. H. Adib, M.Ag saat memberikan sambutan di hadapan dai Hidayatullah DKI Jakarta pada forum Musyawarah Wilayah yang digelar di Asrama Haji Embarkasi Pondok Gede, Jakarta. Dalam konteks keindonesiaan, ia menilai kiprah K.H. Abdullah Said sebagai cerminan dakwah yang berakar pada nilai-nilai Islam sekaligus selaras dengan kebutuhan bangsa dalam merawat lingkungan hidup.

Dr. Adib menguraikan bahwa Abdullah Said dikenal sebagai figur pendakwah yang mengintegrasikan pesan keagamaan dengan tindakan nyata. Dakwah tidak berhenti pada penyampaian lisan, tetapi diwujudkan dalam kerja konkret yang berdampak langsung bagi masyarakat dan alam sekitar. Salah satu warisan terpenting dari pengabdian tersebut adalah pengembangan gerakan ekoteologi yang menempatkan relasi manusia dan alam sebagai bagian dari tanggung jawab keimanan.

“Gerakan ekoteologi yang dilakukan oleh Kiai Abdullah Said patut mendapatkan apresiasi luas. Beliau membuktikan bahwa dakwah dapat menghadirkan perubahan nyata dengan mengubah kawasan hutan kritis menjadi lingkungan yang hijau, asri, dan produktif bagi masyarakat,” ujar Adib.

Transformasi kawasan Gunung Tembak di Balikpapan menjadi kawasan pesantren yang lestari disebut sebagai contoh konkret komitmen jangka panjang Abdullah Said dalam merawat bumi. Upaya tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai keislaman dapat berjalan seiring dengan prinsip pelestarian lingkungan, sebuah pendekatan yang semakin relevan di tengah tantangan kerusakan ekologis yang dihadapi Indonesia saat ini.

Dalam kesempatan tersebut, Adib juga menyinggung kedekatan historisnya dengan Hidayatullah. Ia mengaku mengenal gerakan ini sejak menjalankan tugas di Samarinda selama satu dekade, baik melalui interaksi langsung di Balikpapan maupun melalui Majalah Suara Hidayatullah. Pengalaman itu, menurutnya, memperkuat pemahaman tentang konsistensi gerakan dakwah Hidayatullah dalam bidang pendidikan, sosial, dan lingkungan.

Selain itu, Abdullah Said dinilai merepresentasikan karakter pemuda ideal dalam perjuangan umat. Keteladanan, semangat pantang menyerah, serta idealisme yang kuat menjadi nilai yang terus relevan bagi generasi muda Indonesia.

Pendidi Hidayatullah, Ustadz Abdullah Said, saat menerima anugerah Kalpataru dari pemerintah di Istana Negara tahun 1984

Kiprah Abdullah Said dipandang mampu menginspirasi lahirnya kesadaran bahwa pengabdian kepada agama dan bangsa dapat dilakukan melalui berbagai bidang, termasuk pelestarian alam.

Adib menegaskan bahwa inisiatif ekoteologi yang dirintis Abdullah Said perlu terus diperluas dan diperkenalkan kepada publik.

“Gerakan seperti ini harus kita amplifikasi agar menjadi kesadaran kolektif bangsa, terutama di tengah kondisi lingkungan yang semakin rentan,” katanya.

Pengakuan negara terhadap kontribusi tersebut tercermin dari penganugerahan Kalpataru kepada K.H. Abdullah Said pada tahun 1984.

Penghargaan tertinggi di bidang lingkungan hidup itu diberikan atas jasanya mengubah lahan kritis menjadi kawasan pesantren yang hijau dan produktif. Capaian tersebut menegaskan bahwa dakwah, kepedulian sosial, dan pelestarian lingkungan dapat berjalan seiring sebagai bagian dari pengabdian kepada umat dan bangsa.

Merefleksi Model Kaderisasi Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam

0

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu pemimpin bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata, ‘Dan (saya mohon juga) dari keturunanku.’ Allah berfirman, ‘Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim.” (Terjemah Q.S. Al-Baqarah: 124)

Ayat ini memiliki beberapa pelajaran. Pertama, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sosok yang lolos ujian. Kedua, Allah subhanahu wa ta’ala mengapresiasinya dengan mengangkatnya sebagai pemimpin manusia. Ketiga, ada kepedulian dalam dirinya agar keturunannya diangkat sebagai pemimpin juga.

Keempat, Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan bahwa anak keturunan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berkemungkinan menjadi pemimpin manusia juga terkecuali mereka bertabiat zhalim. Maka di lima ayat berikutnya terekam doa-doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, semoga anak keturunannya terus mendapatkan penjagaan dan bimbingan.

Kelima, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam memiliki kepekaan tinggi tentang kaderisasi. Kepekaan ini kemudian memandu keturunannya menjadi orang-orang terpilih, nabi dan juga rasul. Wajar jika gelar “abul anbiya (bapak para nabi)” diberikan kepadanya dengan sepenuh hormat.

Proses panjang melintasi waktu dan tempat, sekali lagi, diawali kepekaan oleh seorang perintis. Kepekaan ini melahirkan berbagai ikhtiar. Ada doa, penyiapan tempat, dan juga proses pembinaan.

Jika kemudian model kaderisasi Nabi Ibrahim ‘alaihissalam direfleksikan terhadap model kaderisasi Ustadz Abdullah Said rahimahullah, dapat ditemukan kemiripan pola. Ada kepekaan, doa, tempat, dan proses pembinaan. Hampir tidak ada perbedaan.

Kepekaan beliau diwujudkan dengan mengajak siapapun ke Hidayatullah. Beliau juga mendoakan para kadernya, terutama saat memberikan tugas. Tentang tempat, beliau menyediakan tempat pembinaan kaderisasi yang penuh dengan inspirasi.

Adapun dalam proses pembinaan, beliau mengenalkan Manhaj Sistematika Wahyu sebagai konten utama. Sebagai ikhtiar internalisasi manhaj, beliau memberikan pembinaan lewat ceramah-ceramah inspiratif, munajat yang intensif, penugasan, dan pendampingan. Sehingga para keyakinan para kader sedemikian kuat.

Ke depan mungkin akan ada perbedaan dalam teknis kaderisasi. Akan tetapi sendi-sendi kaderisasi tidak boleh berubah: Kepekaan, doa, tempat, dan kurikulum.

Tentang kepekaan, seorang murabbi (pengkader) perlu memiliki idealitas tinggi dan kesiapan mujahadah untuk mewujudkan idealitas tersebut. Mujahadahnya kemudian menjadi inspirasi orang lain. Sehingga orang lain tertarik untuk mengikuti langkahnya.

Berikutnya, sang murabbi mengajak orang lain untuk bergerak bersama menuju idealitas yang diharapkan. Dalam gerakan ini ada bimbingan dari murabbi kepada mutarabbi (orang yang dikader). Ada juga kerjasama (ta’awun) antara murabbi dengan mutarabbi dalam pelaksanaan aktivitasnya.

Tentang doa, ada satu pesan implisit yang penting: Penerimaan murabbi atas situasi mutarabbi.

Sebuah hadits yang masyhur riwayat Muslim, “Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan).”

Mendoakan orang lain tanpa sepengetahuannya membutuhkan penerimaan. Orang yang mendoakan menerima, peduli, bahkan menyayangi orang yang didoakan. Tanpa penerimaan, tentu sulit doa dipanjatkan.

Dalam hal ini murabbi perlu menerima kondisi mutarabbi. Mungkin ada yang kurang dari mutarabbi, hendaklah murabbi menerimanya dengan jiwa besar. Perihal ini dituntunkan Al-Qur’an surat Al-Kahfi ayat 28:

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini.”

Jika mungkin murabbi ikut mencarikan solusi atas kekurangan yang dihadapi mutarabbi. Salah satunya membangun sinergi dengan jejaring organisasi. Jika tidak, maka cukup murabbi mendukung mutarabbi dalam mencari solusi atas masalahnya.

Tentang tempat, murabbi perlu menyadari bahwa saat ini ada dua tempat bagi kebanyakan manusia: realitas dan virtual.

Fisik manusia itu menempati satu wilayah, tapi pikirannya mungkin berada di area virtual. Dalam hal ini murabbi perlu memiliki strategi yang hibrid. Secara kewilayahan, mungkin murabbi bisa melakukan kunjungan dan pertemuan fisik. Adapun secara virtual, sangat baik jika murabbi mengadakan pertemuan virtual sesekali. Selain itu murabbi bisa membuat konten yang inspiratif, sekaligus mendorong mutarabbi untuk membuat konten yang sama.

Terakhir, tentang kurikulum, murabbi dianjurkan untuk melakukan pengorganisasian ilmu. Awal dan fondasinya adalah ilmu tauhid. Selanjutnya ada ilmu tentang iman, syariah, dan adab. Perihal ini disebutkan dalam pengantar kitab Adabul ‘Alim Wal Muta’alim, “Barangsiapa tidak memiliki adab, maka ia tidak memiliki syariah, iman, dan tauhid.”

Murabbi perlu menguasai kesemua ilmu tersebut, walaupun tidak sampai mendalam. Minimal murabbi mengetahui karakteristik ilmu serta koneksi antarcabang ilmu. Sehingga murabbi memiliki konstruksi keilmuan yang benar.

Seiring era informasi, murabbi bisa mendorong mutarabbi untuk menyerap berbagai pengetahuan. Selanjutnya berbagai pengetahuan itu dibawa ke pertemuan. Mudzakarah (diskusi) dilakukan. Jika perlu, murabbi bisa melakukan koreksi.

Tanpa motivasi mencari pengetahuan dan mudzakarah, akan ada resiko yang dihadapi mutarabbi. Mutarabbi menggunakan gawainya untuk keburukan. Atau mutarabbi mengalami miskonsepsi dengan menonton berbagai konten yang ada.

Sebagai penutup, murabbi merupakan sosok pelanjut cita-cita nabawi. Oleh karena itu ia diharapkan untuk terus mengasah diri. Kepada Allah subhanahu wa ta’ala, ia terus mendekat. Kepada diri sendiri, ia senantiasa berbenah. Kepada orang lain, ia senantiasa peduli.

Dengan terus mengasah diri, semoga murabbi dikuatkan Allah subhanahu wa ta’ala untuk mampu mengantarkan dirinya dan orang lain ber-Islam kaffah. Lebih jauh ada jamaah yang terbangun. Sehingga jangkauan dakwah terus berkembang. Wallah a’lam.

*) Fu’ad Fahrudin, penulis Ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah

Wawali Kusmanto Apresiasi Kiprah Hidayatullah, Ajak Sinergi Bangun dan Jaga Jakarta

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Wakil Wali Kota (Wawali) Jakarta Timur, Kusmanto, menghadiri sekaligus membuka secara resmi Musyawarah Wilayah (Muswil) ke-6 Hidayatullah DKI Jakarta yang digelar di Asrama Haji Pondok Gede selama 3 hari yang dibuka pada Jumat, 21 Jumadil Akhir 1447 (12/12/2025).

Dalam sambutannya, Kusmanto memberi apresiasi atas kiprah Hidayatullah sebagai organisasi besar yang telah hadir sejak 1973 dan terus memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.

Kusmanto menyampaikan rasa bangga dapat hadir di tengah para tokoh dan kader Hidayatullah. Ia juga berbagi perjalanan kariernya di pemerintahan, dari staf kelurahan pada 1995 hingga akhirnya dipercaya menjadi Wakil Wali Kota Jakarta Timur.

“Perjalanan saya panjang, tidak pernah terbayang akan menjadi wakil wali kota. Dari staf kelurahan, lurah, sekretaris camat, hingga akhirnya diberi amanah ini tanpa biaya politik apa pun. Di Jakarta, pejabat tidak dipilih dengan ongkos politik kami diangkat langsung oleh Gubernur,” ujar Kusmanto, dalam sambutannya.

Kusmanto menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah tantangan bangsa. Ia menyinggung sejarah perjuangan Indonesia yang berhasil melewati berbagai ujian, dari masa penjajahan, pergantian kepemimpinan nasional, hingga krisis besar seperti pandemi Covid-19.

“Covid adalah ujian luar biasa untuk seluruh dunia. Pemerintah punya keterbatasan anggaran, tapi masyarakat bergerak bersama sehingga kita bisa bangkit kembali,” tegasnya.

Kusmanto juga menyoroti aksi-aksi anarkis yang terjadi belakangan ini, terutama melibatkan kelompok muda, yang dapat membahayakan stabilitas negara jika aparat keamanan kewalahan. Ia mengajak Hidayatullah untuk berperan dalam pembinaan karakter generasi muda.

Menurutnya, tantangan terbesar pemuda saat ini adalah arus globalisasi yang menghadirkan informasi tanpa filter, yang dapat menyesatkan dan mengubah karakter jika tidak dibimbing dengan baik.

“Saya titip agar Hidayatullah terus membimbing generasi muda, menciptakan kader-kader yang nanti siap mengambil peran dalam pemerintahan. Tahun 2045, kita mungkin sudah tidak di sini lagi. Masa depan bangsa ada di tangan mereka,” katanya.

Ia menegaskan bahwa Hidayatullah memiliki rekam jejak kuat dalam aksi sosial dan kemanusiaan. “Ormas ini bukan ormas kaleng-kaleng. Di berbagai bencana, Hidayatullah selalu cepat turun membantu,” tambahnya.

Tawuran, Bullying, dan Narkoba

Kusmanto juga mengingatkan sejumlah pekerjaan rumah yang masih dihadapi Jakarta Timur, terutama kasus tawuran remaja, bullying, dan penyalahgunaan narkoba.

“Jakarta Timur ini terkenal rawan tawuran. Ini tantangan kita bersama. Mari jaga kampung kita, jaga persatuan agar wilayah kita tetap aman,” ujarnya.

Ia mengapresiasi posisi strategis Jakarta Timur yang kini memiliki banyak objek vital seperti Kereta Cepat dan Bandara Halim Perdanakusuma, yang menurutnya membuka peluang besar untuk pengembangan kawasan.

Kusmanto mengajak seluruh pengurus Hidayatullah untuk terus berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Jakarta Timur dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.

“Pemerintah Kota sangat terbuka untuk bekerja sama. Mari berkolaborasi membangun Jakarta Timur. InsyaAllah kami siap mendukung program-program dakwah dan pemberdayaan,” katanya.

Usai pembukaan, acara dilanjutkan dengan penyerahan cenderamata kepada Wakil Wali Kota serta penyerahan berbagai kategori apresiasi program dakwah, pendidikan, literasi, dan sosial kepada para pengurus dan dai Hidayatullah dari berbagai wilayah Jakarta.

Acara juga diakhiri dengan penyerahan simbolis paket umrah bagi dua dai Hidayatullah yang sedang menjalankan ibadah di Tanah Suci, diterima oleh perwakilan DPW Hidayatullah DKI Jakarta.

Muswil VI Hidayatullah DKI Jakarta resmi dibuka dan diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat peran organisasi dalam pembinaan umat serta sinergi dengan pemerintah dalam membangun Jakarta Timur dan DKI Jakarta secara keseluruhan.

Hadir pula pada kesempatan itu sejumlah pimpinan ormas Islam di tingkat wilayah DKI Jakarta. Ketua Dewan Murabbi Pusat Muhammad Tasrif Amin, Ketua Bidang Pendidikan DPP Hidayatullah Muzakkir Usman, Ketua Bidang Ekonomi DPP Hidayatullah Wahyu Rahman, dan Bendahara Umum DPP Hidayatullah Suwito Fatah.

Tampak pula Ketua Pengurus BMH Firmanza, Ketua LPH Hidayatullah Muhammad Faisal Thamrin, Ketua SAR Hidayatullah Alfarabi Nurkarim Enta, Ketua Umum Muslimat Hidayatullah Hani Akbar, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah Rasfiuddin Sabarudin, dan tamu undangan lainnya. Adapun pendamping Muswil VI Hidayatullah DKI Jakarta yakni Syaefullah Hamid selaku Ketua DPP Hidayatullah.

Pertemuan Hangat Hidayatullah – Universiti Brunei Darussalam Perkuat Jembatan Persaudaraan Antarbangsa

AHAD pagi yang cerah, selalu jadi suasana yang menggembirakan buat warga Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan.

Usai shalat Shubuh berjamaah di Masjid ar-Riyadh, Gunung Tembak, selanjutnya ratusan warga dan santri serta mahasiswa itu kembali saling menyapa dan bercengkerama di sela kegiatan kerja bakti yang memang rutin diadakan setiap pekan.

Usai “ritual sosial” pekanan tersebut, pagi Ahad itu, 16 Jumadil Akhir 1447 (7/12/2025), Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak kembali mendapat sajian istimewa berupa kunjungan yang berlangsung hangat dari tamu-tamu pengurus masjid Universiti Brunei Darussalam.

Giat silaturrahim ini diawaki langsung oleh Tuan Haji Yahya AD Dan Tuan Haji Junaidi bin Haji Hussin selaku pimpinan rombongan. Mereka terdiri dari 12 pasang suami istri ditemani tiga orang anak.

Dari pihak tuan rumah tampak diwakili oleh Ustadz H. Hamzah Akbar (Ketua YPPH Balikpapan), Ustadz H. Amin Mahmud (Ketua Pembina Hidayatullah Balikpapan), Habib Lukman Hakim Alatas, serta para ustadz senior dan tokoh sesepuh Hidayatullah lainnya.

“Alhamdulillah, sambutan hangat yang luar biasa. Kami disambut seperti saudara yang lama tak jumpa. Tak sangka semeriah ini,” ucap Haji Yahya yang terlihat haru, mewakili rombongan tamu.

“Ahlan wa sahlan. Marhaban atas kunjungan semuanya. Hidayatullah adalah rumah bersama yang sejak awal didirikan memang diasaskan untuk maslahat seluruh umat Islam,” ungkap Ustadz Hamzah Akbar sambil menceritakan kisah awal perintisan Hidayatullah dan visi besar “Membangun Peradaban Islam” yang diusung oleh Ustadz Abdullah Said, sang pendiri bersama para sahabatnya dahulu.

Pantauan media ini, acara silaturahim berlangsung dengan penuh kehangatan.

Para tamu tak hanya menikmati Pondok Pesantren Hidayatullah dari pemaparan secara lisan, tetapi juga menjejak secara langsung dengan berkeliling di lingkungan Kampus Gunung Tembak seluas 138 hektar tersebut.

Beberapa tamu terpantau tampak asyik berfoto di pinggiran danau dengan latar kubah masjid ar-Riyadh yang terbilang ikonik selama ini.

Sebagian lain memilih tawaran funride ala santri atau menunggangi kuda dengan dituntun oleh para santri.

“Alhamdulillah sambutan yang luar biasa. Sekali lagi, terima kasih atas kehangatan ini,” ucap Haji Yahya, kembali mewakili rombongan.

Terakhir, para tamu asal negeri berjuluk “Petro Dollar” tersebut menikmati anjangsana ini dengan larut bersama ratusan warga dan santri dalam shaf-shaf yang berbaris rapi dalam shalat berjamaah Zhuhur di masjid ar-Riyadh.

Hidayatullah Tegaskan Komitmen Dakwah dan Sinergi Nasional di Muswil VI DKI Jakarta

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Syaefullah Hamid, mewakili Ketua Umum DPP Hidayatullah menyampaikan sambutan tertulis pada pembukaan Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Hidayatullah DKI Jakarta yang digelar di Asrama Haji Pondok Gede selama 3 hari yang dibuka pada Jumat, 21 Jumadil Akhir 1447 (12/12/2025).

Dalam forum yang dihadiri jajaran pengurus pusat, wilayah, hingga organisasi pendukung Hidayatullah tersebut, Syaefullah Hamid mengawali sambutan dengan menyampaikan apresiasi kepada seluruh tamu undangan, termasuk tuan rumah Ketua DPW Hidayatullah DKI Jakarta Muhammad Isnaeni.

Ketua Umum DPP Hidayatullah, Naspi Arsyad menekankan bahwa jalan dakwah merupakan pilihan yang tidak mudah, penuh konsekuensi teologis, sosial, kultural, bahkan finansial. Karena itu, menurut sambutan tersebut, orang-orang yang memilih terjun sepenuh hati dalam dakwah adalah hamba-hamba pilihan Allah yang harus dihormati dan dibahagiakan oleh para pemimpinnya.

“Pemimpin dalam dakwah harus mampu menyantuni, menggembirakan, dan menginspirasi. Sebab mereka sedang membimbing orang-orang pilihan Allah agar tetap teguh di jalan ini,” demikian amanat tertulis Ketua Umum yang dibacakan Syaefullah.

Sambutan itu juga menegaskan pentingnya dakwah yang berdampak, bukan sekadar retorika. Dakwah harus memiliki superioritas spiritual dan pengaruh transformatif, sebagaimana dakwah yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabat.

Dalam kilas balik sejarah, Hidayatullah disebut sejak awal berdiri bergerak dengan komitmen ibadah yang kuat terutama tahajud yang melahirkan keteguhan dan pengaruh meski dengan segala keterbatasan fasilitas dan kemampuan.

Memasuki usia 50 tahun kedua, Hidayatullah kini telah memiliki 38 Dewan Pengurus Wilayah yang tersebar di seluruh provinsi Indonesia. Capaian ini, menurut Ketua Umum, menunjukkan kontribusi Hidayatullah dalam memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Di sisi lain, Syaefullah juga menegaskan kembali komitmen Hidayatullah untuk terus bersinergi dengan pemerintah, sejalan dengan arah pembangunan nasional dan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, terutama dalam memperkuat harmoni sosial, toleransi antarumat beragama, serta pelestarian lingkungan dan budaya.

Sambutan itu juga memberi pesan khusus kepada para pengelola kampus Hidayatullah, agar membuka ruang selebar-lebarnya bagi masyarakat sekitar sebagai bagian dari gerakan dakwah. “Mereka adalah al-akrobin kita, orang-orang yang paling berhak merasakan pancaran iman dan manfaat gerakan Hidayatullah,” ujar Syaefullah.

Kepada Dewan Murabbi, Ketua Umum mengamanatkan agar konsistensi ritual seperti halakah dan Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) terus dijaga, agar aktivitas teknis tidak menggerus jiwa spiritual organisasi. Menutup sambutan, Syaefullah Hamid menyampaikan pesan agar Muswil VI berlangsung lancar, musyawarah yang mengedepankan kemaslahatan bersama .

“Hakikatnya kita semua memiliki tujuan yang sama: menegakkan peradaban Islam sebagaimana dicontohkan Nabi dan para sahabatnya,” ujarnya.

Muswil VI Hidayatullah DKI Jakarta diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat arah perjuangan dakwah di ibu kota serta memperteguh komitmen organisasi dalam berkarya bagi umat dan bangsa.

Pada kesempatan itu, Muswil dibuka oleh Wakil Walikota Jakarta Timur, Kusmanto. Hadir pula pada kesempatan itu sejumlah pimpinan ormas Islam di tingkat wilayah DKI Jakarta. Ketua Dewan Murabbi Pusat Muhammad Tasrif Amin, Ketua Bidang Pendidikan DPP Hidayatullah Muzakkir Usman, Ketua Bidang Ekonomi DPP Hidayatullah Wahyu Rahman, dan Bendahara Umum DPP Hidayatullah Suwito Fatah.

Tampak pula Ketua Pengurus BMH Firmanza, Ketua LPH Hidayatullah Muhammad Faisal Thamrin, Ketua SAR Hidayatullah Alfarabi Nurkarim Enta, Ketua Umum Muslimat Hidayatullah Hani Akbar, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah Rasfiuddin Sabarudin, dan tamu undangan lainnya. Adapun pendamping Muswil VI Hidayatullah DKI Jakarta yakni Syaefullah Hamid selaku Ketua DPP Hidayatullah.

Hidayatullah DKI Jakarta Tekankan Kolaborasi Ormas Islam dalam Program “Jaga Jakarta”

0

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah DKI Jakarta, Muhammad Isnaini, menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah dan organisasi masyarakat Islam dalam menjaga kondusifitas Ibukota melalui program “Jaga Jakarta”.

Hal tersebut ia disampaikan dalam sambutannya pada Musyawarah Wilayah (Muswil) VI DPW Hidayatullah DKI Jakarta yang digelar di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, dibuka pada Jumat, 21 Jumadil Akhir 1447 (12/12/2025).

Karena itu, kata Isnaeni semangat muswil kali ini mengangkat tema “Jaga Jakarta Wujud Sinergi Anak Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045”. Ia menjelaskan bahwa tema “Jaga Jakarta” memiliki tiga orientasi utama yang sejalan dengan visi kepemimpinan Gubernur Jakarta, Pramono Anung, untuk lima tahun ke depan.

Pertama, menjaga warga Jakarta. Ia menekankan bahwa ormas Islam harus hadir sebagai mitra strategis pemerintah dalam melindungi masyarakat dari potensi kejahatan dan radikalisme.

“Sinergi dengan berbagai ormas Islam seperti Majelis Ormas Islam (MOI) dan lembaga-lembaga pendukung lainnya, menjadi kunci dalam mewujudkan lingkungan sosial yang aman,”ujar Isnaeni.

Berikutnya, kata Isnaeni, menjaga lingkungan. Ia menegaskan pentingnya peran ormas dalam merespons isu-isu sosial, termasuk penanganan stunting.

Ia mengajak rumah-rumah Qur’an, TPA, dan lembaga pendidikan Islam untuk terlibat aktif dalam upaya perbaikan kesejahteraan masyarakat. “Setelah ngaji, kasih susu dong,” ujarnya memberi ilustrasi mengenai langkah konkrit pemberdayaan umat.

Ketiga, menjaga aturan. Menurutnya, iman harus terwujud dalam kepatuhan terhadap aturan sehari-hari, termasuk tertib berlalu lintas. Ia menyoroti fenomena penerobosan lampu merah sebagai cermin lemahnya disiplin sosial. “Seharusnya orang beriman itu taat aturan, dilihat atau tidak dilihat,” tegasnya.

Lebih lanjut, Isnaeni juga menyinggung pentingnya menjaga amanah, khususnya bagi para pemimpin formal maupun informal. Dalam konteks ini, ia berharap Hidayatullah dapat terus berperan konstruktif dan memperkuat kerja-kerja kolaboratif bersama eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Pada kesempatan itu, ia turut menyampaikan capaian organisasi, termasuk jaringan Hidayatullah yang saat ini telah tersebar di 38 provinsi, lebih dari 500 DPD, sekitar 700 pondok pesantren, serta ribuan rumah Qur’an dari Sabang sampai Merauke. Ia juga mengapresiasi kehadiran berbagai elemen organisasi pendukung dan relawan SAR Hidayatullah yang telah terjun membantu penanganan bencana di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh.

Menutup sambutannya, Isnaeni menyampaikan permohonan maaf atas kekurangan selama masa kepemimpinannya 2020- 2025. Ia mengonfirmasi bahwa dirinya tidak dapat melanjutkan ke periode berikutnya karena kini mengemban amanah sebagai Wakil Sekjen DPP Hidayatullah.

Ia berharap kepemimpinan DPW Hidayatullah Jakarta selanjutnya dapat lebih akseleratif, progresif, dan produktif. “Semoga Muswil kali ini menghadirkan kemaslahatan yang lebih besar bagi DKI Jakarta,” ujarnya.

Musyawarah Wilayah VI DPW Hidayatullah DKI Jakarta diharapkan menjadi momentum penguatan peran ormas Islam dalam pembangunan kota dan peningkatan pelayanan umat di berbagai lini.

Pada kesempatan itu, Muswil dibuka oleh Wakil Walikota Jakarta Timur, Kusmanto. Hadir pula sejumlah pimpinan ormas Islam di tingkat wilayah DKI Jakarta. Ketua Dewan Murabbi Pusat, Muhammad Tasrif Amin, Ketua Bidang Pendidikan DPP Hidayatullah, Muzakkir Usman. Ketua Bidang Ekonomi DPP Hidayatullah, Wahyu Rahman.

Bendahara Umum DPP Hidayatullah, Suwito Fatah, dan Ketua Pengurus BMH, Firmanza, Ketua LPH Hidayatullah, Muhammad Faisal Thamrin, Ketua SAR Hidayatullah, Al-Farabi, Ketua Umum Muslimat Hidayatullah, Hani Akbar, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah, Rasfiuddin Sabarudin, dan tamu undangan lainnya. Adapun pendamping Muswil VI Hidayatullah DKI Jakarta, Syaefullah Hamid selaku Ketua DPP Hidayatullah.

Sekolah Integral Hidayatullah Yogyakarta Salurkan Bantuan Peduli Bencana Sumatera

0

YOGYAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dalam tradisi keindonesiaan yang menjunjung gotong royong, kepedulian terhadap sesama senantiasa menjadi bagian penting dalam pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda. Semangat itu tampak dalam respons lingkungan Sekolah Integral Hidayatullah Yogyakarta terhadap rangkaian bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Kepala Sekolah MTs dan MA Hidayatullah Yogyakarta, Muhammad Rifki Saputra, menegaskan bahwa gerakan penggalangan dana yang dilakukan para santri menjadi elemen penting dari proses pendidikan karakter yang menjadi fondasi pembelajaran di lembaganya.

“Kegiatan galang dana peduli bencana merupakan bagian integral dari pembentukan karakter siswa. Pendidikan bukan hanya tentang angka-angka di rapor, tentang hafalan, tentang matematika, tetapi juga tentang membentuk manusia yang berkarakter dan berakhlak mulia,” ujarnya dalam penyerahan bantuan di halaman sekolah pada Jumat, 21 Jumadil Akhir 1447 (12/12/2025).

Rifki menambahkan bahwa keterlibatan siswa dalam aksi kemanusiaan memberi ruang bagi mereka untuk memahami realitas sosial bangsa secara langsung.

Menurutnya, proses internalisasi nilai-nilai kepedulian hanya dapat berlangsung efektif ketika siswa turut merasakan dan mengambil bagian dalam upaya membantu sesama.

“Kami ingin para siswa tumbuh sebagai individu yang senantiasa bersyukur, memiliki jiwa sosial yang tinggi, dan mampu membawa perubahan positif di masyarakat,” tutur Rifki.

Bencana yang melanda sebagian wilayah Sumatra tersebut menimbulkan dampak signifikan. Lebih dari 1.000 jiwa dilaporkan meninggal, ratusan orang masih dinyatakan hilang, dan ribuan warga kehilangan tempat tinggal.

Pemerintah memperpanjang masa darurat hingga akhir Desember 2025 untuk memastikan penanganan korban dapat dilakukan secara lebih komprehensif. Kondisi ini menggugah berbagai kalangan untuk memperkuat dukungan, termasuk dari lebih dari 350 santri Hidayatullah Yogyakarta yang tinggal di asrama bersama guru dan orang tua santri.

Pengumpulan donasi dilakukan secara kolektif oleh seluruh elemen sekolah, mencerminkan partisipasi aktif dalam upaya kemanusiaan lintas daerah. Bantuan yang terkumpul kemudian disalurkan melalui Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Perwakilan DIY, yang sejak awal bencana telah menurunkan tim ke berbagai lokasi terdampak.

Sekretaris BMH DIY, Syai’in Kodir, menjelaskan bahwa lembaganya bergerak cepat merespons situasi sejak hari pertama bencana. Ia menyampaikan bahwa BMH mengerahkan Tim SAR Hidayatullah dan relawan yang berada dekat lokasi terdampak untuk membantu proses evakuasi, pengadaan kebutuhan dasar, hingga pembukaan posko-posko darurat.

“Setelah terjadi bencana, BMH melalui Team Sar Hidayatullah dan teman-teman yang dekat dari lokasi sudah berada di lokasi untuk membantu mengevakuasi para korban, menyalurkan makanan dengan membangun dapur umum dan mendirikan posko di beberapa titik bencana di Aceh, Sumbar, dan Sumut,” jelasnya.

Selain memperkuat nilai gotong royong, terang Syai’in, aksi para santri juga menunjukkan bahwa institusi pendidikan memiliki peran strategis dalam menanamkan kepekaan kemanusiaan sejak dini.

Perkuat Basis Kaderisasi, Hidayatullah Siapkan Strategi Baru Cetak SDM Unggul dan Terukur

0

JAKARTA (hHidayatullah.or.id) –- Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah melalui Bidang Perkaderan terus bergerak dinamis untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Insani (SDI). Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar di ruang Dewan Mudzakarah, Jakarta, Rabu, 19 Jumadil Akhir 1447 (10/12/2025), disepakati sejumlah langkah strategis guna melahirkan kader-kader pemimpin yang kompeten dan relevan dengan perkembangan zaman.

Ketua Dewan Mudzakarah, Ust. Abu A’la Abdullah, MHI, menegaskan bahwa agenda utama ke depan adalah melakukan perancangan ulang (redesain) sistem perkaderan agar lebih modern dan tepat sasaran. Ia menekankan pentingnya standarisasi yang jelas dalam mengukur keberhasilan pembinaan.

“Kita tengah menyiapkan instrumen dan metode baru yang lebih segar. Ke depan, capaian perkaderan harus berbasis data yang terukur (measurable). Kita ingin memastikan bahwa peningkatan kualitas kader, anggota, hingga simpatisan dapat terlihat persentasenya secara nyata. Ini adalah komitmen kita untuk mencetak SDM yang benar-benar unggul,” ujar Ustadz Abu A’la penuh optimisme.

Menurutnya, langkah inovatif ini juga mencakup pendekatan kepada generasi muda, khususnya jenjang SMA, agar nilai-nilai ideologis dapat tersampaikan dengan cara yang inspiratif dan membangun semangat juang mereka.

Sinergi dan Ekspansi Dakwah

Senada dengan visi tersebut, Ust. Ghofar Hadi selaku Ketua Bidang Perkaderan DPP Hidayatullah menyoroti pentingnya penguatan struktur dan kolaborasi internal untuk menopang target-target besar tersebut. Ia menekankan bahwa sinergi antar-lembaga, khususnya dengan Departemen Materi dan Penataran (DMP), akan menjadi kunci akselerasi program.

“Kami fokus memperkuat sinergi sesuai dengan Pedoman Dasar Organisasi (PDO). Dengan pembagian peran yang jelas—di mana penyediaan materi dan instruktur menjadi fokus mitra kami, sementara legalitas dan eksekusi pembinaan ada di Perkaderan—kita yakin gerak organisasi akan semakin lincah dan efektif,” jelas Ustadz Ghofar.

Lebih jauh, Ust. Ghofar juga memaparkan ekspansi dakwah yang lebih luas. Bidang Perkaderan menargetkan munculnya tokoh-tokoh muda dan ideolog yang siap terjun ke berbagai sektor strategis, termasuk lingkungan kampus dan masyarakat luas.

“Kita optimis, dengan validasi data yang akurat dan penataan sistem yang rapi, Hidayatullah siap mengirimkan duta-duta terbaiknya untuk berkiprah lebih luas. Kaderisasi adalah jantung pergerakan, dan kita pastikan jantung ini berdetak kuat untuk melayani umat, bangsa dan negara,” pungkasnya.