Beranda blog Halaman 696

Sabar Lima Menit

Ditulis oleh Ustadz Abdul Ghofar Hadi (Ketua STIS Hidayatullah)
Rabu, 12 September 2012 10:00

ADA seorang wanita yang sudah memiliki anak 3 berkeluh kesah atau curhat masalah biduk rumah tangganya. Dia merasa menjadi wanita yang paling menderita di dunia karena beratnya penderitaan yang dialami.

Memilki suami tapi seperti hidup sendiri karena tidak pernah disentuh, ekonomi juga mencari sendiri, mengurus anak dari keseharian sampai biaya sekolah juga sendiri. Minta cerai, suami tidak mau, mau gugat cerai tapi tidak memiliki uang cukup. Tiga kali sudah mencoba untuk bunuh diri tapi tidak berhasil.

Setelah panjang lebar dia bercerita dan penulis sudah mencoba memberikan beberapa solusi. Tapi nasehat tersebut sepertinya belum sesuai dengan keinginan dan kemampuannya. Akhirnya penulis memberikan nasehat sabar.

Spontan dia marah, “Memangnya selama ini saya belum sabar, bertahun-tahun saya sudah bersabar dengan hidup ini dan sabar itu ada batasnya. Iya ustadz enak bilang sabar dan sabar, coba ustadz sendiri yang mengalami, pasti juga mau bunuh diri.”

Sabar adalah kata yang mudah dinasehatkan kepada orang yang lagi berkeluh kesah dengan masalahnya. Namun belum tentu mereka yang bermasalah bisa menerima dengan nasehat sabar. Karena mereka selama ini sudah merasa bersabar dan selalu bersabar.

Sabar memang hanya terdiri lima huruf, tapi sabar tidak hanya berakhir di huruf “r”. Sabar itu tidak ada batasnya. Sebab jika sabar ada batasnya maka bukan kesabaran namanya.

Uji kesabaran bukan hanya di awal saat musibah datang tapi di akhir ketika menyikapi musibah tersebut. Pertolongan Allah biasanya juga menunggu detik-detik akhir kesabaran seseorang.

Banyak sekali ayat al-Qur’an dan hadist Rasulullah tentang perintah dan keutamaan dari sabar. Ini tentu bukan basa-basi tapi sebagai indikasi dari pentingnya sabar dalam kehidupan orang-orang beriman karena dunia ini ada yang cocok dan tidak cocok dengan keinginan manusia.

Kehidupan di dunia ini sebagai kehidupan yang penuh ujian memerlukan dua hal yaitu syukur dan sabar. Kesyukuran relatif lebih mudah dilakukan meskipun terkadang tidak tepat cara bersyukurnya dan banyak juga manusia yang lalai untuk bersyukur saat mendapatkan nikmat dari Allah.

Contoh yang paling nyata adalah kehidupan para Nabi dan pejuang-pejuang kebenaran. Tidak ada satupun nabi yang pernah diutus oelh Allah di muka bumi ini yang mulus dalam menjalankan amanah kenabiannya. Kesulitan, rintangan, godaan dan halangan bertubi-tubi sehingga selalu Allah menyerukan untuk bersabar menghadapinya. Tanpa ada kesabaran maka mereka mungkin sudah lari dan inginnya pensiun saja menjadi nabi.

Beratnya risalah Allah ini jika tidak ditunjang dengan kesabaran maka mustahil risalah bisa sampai kepada umat dan tersebar keseluruh pelosok dunia. secara pribadi saja memerlukan sabar apalagi dalam mengurus umat dan masyarakat yang bermacam-macam karakter tentu permasalahan semakin komplek dan pelik.

Sabar lima menit sering kali disampaikan oleh ustadz di pesantren ini kepada santri yang guncang ingin pulang kampung. Lima menit bukan dalam arti 60 menit kali 5 tapi sebagai kiasan untuk bersabar sebentar.

Sebab, kepanikan dan ketidaktenangan jiwa membuat pikiran kalut sehingga berbuat nekat seolah sudah tidak ada jalan keluar selain pulang kampung. Sabar lima menit adalah bentuk usaha untuk menetralisisr perasaan yang terguncang untuk bisa lebih tenang dan lapang. Wallahu a’alam bish shawwab.

BERITA FOTO: Potret Kenangan Santri Hidayatullah Tempo Doeloe

0

Inilah potret beberapa kegiatan santri Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kelurahan Teritib, Balikpapan, Kalimantan Timur, tempo dulu. Saat itu sarana dan prasarana masih cukup terbatas.

Kegiatan sehari-hari santri pun tampak bersahaja; mengaji, sholat berjamaah, berkebun, kerja bakti, dan belajar secara formal meskipun tak maksimal karena keterbatasan tenaga dan guru-gurunya yang tak digaji. Berikut ini wajah-wajah mereka, diantaranya sudah ada yang telah meninggal.

 

Potret Kenangan Santri Hidayatullah Tempo Doeloe 1 Potret Kenangan Santri Hidayatullah Tempo Doeloe 2 Potret Kenangan Santri Hidayatullah Tempo Doeloe 3 Potret Kenangan Santri Hidayatullah Tempo Doeloe 4

 

Membangun Manusia Unggul

Ditulis oleh Ustadz Abdul Ghofar Hadi*   
Kamis, 06 September 2012 08:36

Hasan al-Bana pernah mengatakan bahwa, “Bina’ul rijal ahammu min bina’il-ahjar”. Artinya, membangun rijal (manusia) itu lebih utama dibandingkan membangun batu (gedung). Ini bukan ungkapan iseng tapi hasil dari pemikiran, perenungan dan pengalaman bertahun-tahun beliau dalam memimpin gerakan politik Ikhwanul Muslimin.

Membangun bangunan rumah atau gedung sebenarnya juga bukan perkara mudah. Ada ahlinya yang profesional yaitu arsitek yang bisa merancang design bangunan canggih, unik atau yang mewah.

Tingkat amatiran, para tukang juga melalui proses panjang untuk membangun sebuah rumah agar tahan lama, simetris dan indah. Dari merancang gambar, menghitung bahan dan finishingnya, itupun masih dibagi tukang batu dan tukang kayu yang berbeda keahliannya. Ini menunjukkan ketidaksederhananya menjadi seorang tukang bangunan.

Meskipun demikian, membangun sebuah bangunan itu bisa relatif lebih mudah karena pekerjaan kelihatan mata dan jelas proses serta hasilnya. Menata batu, pasir, semen ditambah air dan kapur diaduk kemudian ditempelkan, asalkan sesuai dengan ukuran dan posisinya. Semua bahan itu akan taat saja, artinya tidak pernah protes karena sebagai benda mati yang tidak memiliki pikiran dan perasaan.

Membangun manusia itu lebih sulit. Tentu yang dimaksud di sini bukan membangun secara biologis atau fisik semata. Sebab kalau sekedar membentuk otot-otot badan, mencetak fisik yang atletis itu bukan perkara sulit. Dimensinya tidak terlalu rumit, makan yang bergizi, olah raga teratur, latihan terus menerus, minum suplemen tambahan dan istirahat cukup. Instrukturnya juga relatif lebih mudah dan banyak di kota-kota besar. Sehingga ada lomba bina raga, tubuh indah, badan atletis, kaki indah dan ratu kecantikan.

Membangun manusia dalam dimensi jiwa dan akhlaqnya bukan pekara mudah dan singkat. Manusia adalah mahluk hidup yang memiliki pikiran, perasaan, keinginan, interest pribadi dan memiliki tabiat masing-masing. Jika dalam satu asrama ada 100 santri maka ada 100 karakter santri yang berbeda-beda.

Membangun manusia adalah mengembangkan karakter, akhlaq, moral dan integritas diri berdasarkan fitrah dan perintah Allah. Inilah yang berat dan membutuhkan kerja keras melalui pendidikan dan pelatihan. Hasilnya tidak langsung kelihatan dalam beberapa hari, bulan atau tahun, sebab prosesnya sangat panjang dan melelahkan.

Membangun manusia adalah visi dan misi dari Rasulullah diutus di muka bumi ini. Sebagaimana sabdanya, “Tidaklah aku diutus kecuali untuk meyempurnakan akhlaq”. Karakter dan jati diri manusia adalah pada akhlaqnya sebagai buah dari aqidah dan ibadah yang dilakukan. Wallahu a’lam bish shawwab.

*Penulis adalah Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah, Balikpapan

Hidup Adalah Perjuangan

0

abdul mannanHidup adalah perjuangan. Perjuangan memerlukan pengorbanan. Demikianlah pernyataan para instruktur training materi ideologi. Biasanya pernyataan tersebut disampaikan ketika masa orientasi perkaderan suatu organisasi. Masa orientasi itu adalah masa pendoktrinan suatu ideologi organisasi yang disampaikan pada peserta anyar. Peserta dicekoki dengan sekian banyak doktrin organisasi agar fanatik dan loyal kepada suatu kepemimpinan.  Bahkan para instruktur dalam memberikan materi trainingnya mengarah ke pemikiran yang menonjolkan organisasinya.

Setiap kelompok bangga terhadap organisasinya, demikian firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadi tidaklah heran jika setiap orang bangga dengan organisasinya. Namun, fakta perjalanan manusia dalam berorganisasi terjadi pasang surut dalam hal loyalitas. Loyalitas merupakan salah satu indikator kualitas kader.

Mengapa demikian? Sebab, kader merupakan generasi pelanjut kepemimpinan organisasi. Itulah sebabnya jika suatu organisasi tidak rajin mengadakan training perkaderan nisacaya usia organisasi itu hanya seumur pendirinya.

Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang nabi yang berdimensi negarawan. Sosialisasi ideologi dilakukan melalui rencana terukur. Analisis SWOT dilakukan secara seksama. Pengukuran konten SWOT didasarkan atas data riil kekuatan dan kelemahan internal dan eksternal, kemudian dipetakan seberapa besarnya peluang dan tantangannya. Hasil analisis SWOT dijadikan dasar untuk menyusun strategi membangun kekuatan yang dapat menumbangkan kekuatan lawan.

Tiga belas tahun Rasulullah SAW intensive mencetak kader yang output-nya adalah cerdas, militan, loyal, dan visioner. Darul al-Arqam adalah wadah training centre untuk membentuk mindset peserta didik. Paradigma jahiliah dirombak total menjadi paradigma islamiyah.

Paradigma yang diinjeksikan kepada peserta didik adalah masalah aqidah yang berdimensi imamah jamaah. Sebuah visi ideologis yang berdimenasi ukhrawi. Orientasi organisasi kufar hanya sebatas dunia, sementara orientasi organisasi Rasulullah SAW adalah lintas dunia bahkan akhirat.

Rasulullah SAW sebagai trainer handal. Belum ada duanya di dunia ini. Nilai aqidah sebagai dasar membangun pola pikir peradaban didoktrinkan tuntas kepada peserta didik. Karena itu, fanatisme terhadap ajaran Islam sebagai way of life tidak tergoyahkan. Gelombang ancaman, himpitan, bahkan siksaan dari kompetitor tidak menjadikan surutnya sebuah perjuangan ideologi.

Nah, di sinilah wujud atau bukti seia sekata seorang instruktur perkaderan melalui pernyataan “hidup adalah perjuangan dan perjuangan memerlukan pengorbanan.” Perjuangan yang gigih dan konsisten akan menyaksikan sebuah kemenangan yang dicitakan. Rasulullah SAW adalah pelaku sejarah kemenangan. Tetapi, kemenangan itu tidak diraih dengan hayalan tanpa upaya serius. Pengorbanan harta benda, bahkan nyawa diperuntukkan demi eksisnya sebuah ideologi. Beliau tauladan umat manusia dalam segala hal.

Saat ini, umat Islam dirundung malang dalam proses perjuangan penegakkan peradaban Islam. Kekuatan berada di pihak kompetitor ideologi sekuler. Islam, diharapkan sebagai solusi pasti untuk menyelamatkan hidup dan kehidupan umat manusia yang sedang sekarat.

Manejemen Keseimbangan

0

Mencapai visi hidup, sebagai organ dari suatu organisasi penegakkan peradaban Islam, tentu saja harus piawai dalam melihat lingkungan yang dinamis.  Dinamika lingkungan tak terdeteksi oleh siapapun, kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Manusia yang senantiasa mengandalkan kemampuan kognitif, ternyata banyak yang meleset asumsinya. Begitu pula manusia yang mengandalkan kepiawaian afektif saja, juga terbentur dengan realitas.

Dewasa ini para pakar psikologi mengandalkan kemampuan otak tengah sebagai mediator kognitif dan afektif.

Tapi, hasil rumusan otak tersebut belum memiliki akurasi yang benar jika nurani tidak diikutsertakan. Nurani berfungsi memberikan pertimbangan yang matang, agar memiliki daya dan tepat guna bagi pribadi dan masyarakat.

Olah nurani yang juga disebut olah rasa atau olah qalbu pada zaman serba materialisme ini, sangat kurang mendapat perhatian. Ghalibnya, orang modern lebih konsentrasi pada olah otak dengan segala perangkat motodologinya.

Bagi orang yang sudah keracunan pemikiran pragmatis, tentu saja tidak ingin repot dalam menikmati kehidupan. Tidak perlu lagi berpikir adanya suatu kekuatan di balik alam raya ini.

Mengingat manusia sudah terjebak dalam pragmatisme, maka tidak sedikit jumlah pejabat negara yang berposisi pengambil kebijakan strategis juga berpikir, berbicara dan beraksi pada tataran pragmatis. Kemudian, dalam kondisi umat manusia seperti ini apa yang harus dilakukan oleh pelaku peradaban Islam?

Jika Islam diturunkan untuk menciptakan keseimbangan hidup dunia dan akhirat, lantas apa konsep rethinking peradaban Islam sebagai solusi untuk mengakhiri dominasi pemikiran pragmatisme yang melupakan peran Tuhan?

Manusia, jika masih sadar dan menyadari dirinya yang memiliki segala keterbatasan dalam memandu hidupnya, pasti akan menengok ulang asal muasal dirinya. Dia akan menundukkan kepala menyadari diri bahwa hidup akan terus menurun seiring dengan menurunnya nilai materi yang dikejar setiap saat. Dia akan menemukan hakikat dirinya bahwa materi tidak dapat memberikan nilai kedamaian dalam diri yang abadi. Apalagi materi yang diraupnya melalui jalur manipulasi dan korupsi.

Setan, merasuk ke dalam benak manusia sejak Adam álaihisallam tergoda oleh setan dengan materi sebagai alat jeratnya. Setan gembira karena dapat menggoda Adam.

Bagaikan permainan sepak bola terjadi skor 1-0. Syukurnya, Adam sadar dan menyadari bahwa dia kalah tanding dengan setan. Yang paling pokok adalah dia menyadari bahwa Allah sebagai tempat mengadu untuk merehabilitasi diri melalui jalur taubat.

Adam meyakini bahwa jalur taubat itu akan mengembalikan status diri serta memulihkan potensi kekhalifahannya. Kita telah mengetahui dan menjadikan doa Adam  untuk meratap kepada Allah, yang mana kita sebagai anak turunannya juga tidak lepas dari jeratan setan yang menghinakan.

Di sini, terasa bahwa peran otak dalam mengatasi godaan setan tidak ada. Berarti, di balik kekuatan otak itu masih ada potensi yang melebihi potensi otak, yaitu potensi qalbu. Dalam qalbu inilah iman bersemayam sebagai stabilator hidup dan kehidupan, bahkan merupakan pandu kehidupan.

Nah, sudah dapat kita simpulkan bahwa manusia hidup tanpa panduan iman, niscaya akan menemukan jalan buntu. Kebuntuan jalan hidup itu merupakan kesesatan, dan kesesatan itu membawa kesengsaraan lahir dan batin.

Di sinilah letaknya keseimbangan hidup. Keseimbangan itu bukanlah wilayah otak, akan tetapi wilayah qalbu. Dari sinilah definisi menejemen adalah seni diturunkan.  Seni adalah wilayah rasa yang memproduksi nilai–nilai perikemanusiaan.

Jika perikemanusiaan itu tumbuh subur dalam jiwa manusia atas dasar iman, tentu saja keseimbangan hidup bermasyarakat dan bernegara akan stabil. ***

Menjadi Manusia ‘Profesional’ dan Hakikat Hidup di Dunia

SALAH satu misi peradaban Islam adalah merubah pola pikir manusia dalam hidup. Peradaban Islam yang tumbuh dari akar keimanan mendorong diri manusia selalu dinamis dan produktif.

Sifat dan karakter manusia yang negatif dapat berubah menjadi positif jika iman sudah mengakar dalam diri seseorang.

Islam datang menawarkan suatu peradaban yang sangat bertolak belakang dengan peradaban materi (kapitalis, komunis). Pijakan peradaban Islam adalah iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) sehingga peradaban Islam merupakan manifestasi iman dalam semua aspek kehidupan.

Dalam sudut pandang manejemen modern bahwa untuk mencapai kinerja organisasi para pakar manejemen banyak berinovasi untuk menemukan metode pengembangan diri manusia. Mereka berkeyakinan bahwa manusia adalah sumber daya, sehingga daya–daya yang ada dalam diri manusia harus digali dan dikembangkan.

Menejemen modern banyak menawarkan tentang metode pengembangan diri manusia melalui berbagai metode pelatihan dengan output perubahan karakter. Diantara program yang ditawarkan kepada  publik adalah training personal mastery (perubahan pribadi).

Apakah setelah mengikuti training terjadi perubahan signifikan? Jawabannya adalah tergantung kepada peserta training. Sebab, training hanyalah membantu seseorang untuk proses berubah.

Perubahan sikap mental negatif menjadi positif bisa jadi drastis atau gradual. Semuanya adalah berpulang kepada pelaku perubahan, yakni diri sendiri.

Allah SWT menegasan dalam firman-Nya: “…Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka sendiri yang merubahnya...(Ar-Ra’d [13]: 11).

Pertanyaannya, dengan apa manusia harus merubah karakter atau nasib?

Setiap orang bisa berubah, tapi mengapa hanya sedikit orang yang bisa menghasilkan perubahan yang berarti dalam hidupnya. Ternyata ada sekumpulan keyakinan dan strategi yang harus dipraktekkan sehingga menghasilkan perubahan secara drastis.

Islam menawarkan suatu perubahan yang drastis dan dramatis dalam diri manusia yaitu perubahan paradigma dalam hidup. Paradigma itu dimulai dari iman kepada Alah SWT sebagai basis segala tindakan dan harapan.

Oleh karena itu, harga dan kualitas orang beriman adalah berstandar kepada ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur`an dan as-Sunnah.

Keyakinan yang menghunjam dalam dada, akan melahirkan suatu strategi perubahan diri yang signifikan. Signifikansi perubahan pola pikir hidup mulia itu terlukis pada diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) dan para Sahabatnya. Bagaimana Bilal bin Rabbah dari strata budak menjadi merdeka berkat keimanannya.

Begitu pula Abdurahman bin Auf sebagai milyuner juga karena keimanannya. Dan, masih banyak deretan Sahabat serta tabiin dan tabiit-tabiin memiliki pribadi unggul yang patut diteladani oleh semua pihak.

Kita selaku seorang yang “profesional” selalu dituntut meningkatkan kualitas pribadi secara berkesinambungan.

Tentu peningkatan pribadi unggul tidak hanya knowledge dan skill saja, tetapi juga pada sikap dan sikap mental menghadapi permasalahan yang dihadapi sehari-hari di perusahaan, bisnis, keluarga dan sosial, lebih-lebih dalam perjuangan penegakkan peradaban Islam.

Kunci keberhasilan kualitas pribadi terletak pada kemampuan dan kemauan masing-masing pribadi. Jadi, ajaran Islam merupakan solusi pasti dalam mengantarkan setiap manusia menuju hidup sempurna di bawah naungan ridha Allah SWT. []

*) Dr. H. Abdul Mannan, penulis adalah Ketua Umum DPP Hidayatullah

Perubahan Pribadi

Salah satu misi peradaban Islam adalah merubah pola pikir manusia dalam hidup. Peradaban Islam yang tumbuh dari akar keimanan mendorong diri manusia selalu dinamis dan produktif. Sifat dan karakter manusia yang negatif dapat berubah menjadi positif jika iman sudah mengakar dalam diri seseorang.

Islam datang menawarkan suatu peradaban yang sangat bertolak belakang dengan peradaban materi (kapitalis, komunis). Pijakan peradaban Islam adalah iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) sehingga peradaban Islam merupakan manifestasi iman dalam semua aspek kehidupan.

Dalam sudut pandang menejemen modern bahwa untuk mencapai kinerja organisasi para pakar menejemen banyak berinovasi untuk menemukan metode pengembangan diri manusia. Mereka berkeyakinan bahwa manusia adalah sumber daya, sehingga daya–daya yang ada dalam diri manusia harus digali dan dikembangkan.

Menejemen modern banyak menawarkan tentang metode pengembangan diri manusia melalui berbagai metode pelatihan dengan out put perubahan karakter. Diantara program yang ditawarkan kepada  publik adalah training personal mastery (perubahan pribadi).

Apakah setelah mengikuti training terjadi perubahan signifikan? Jawabannya adalah tergantung kepada peserta training. Sebab, training hanyalah membantu seseorang untuk proses berubah. Perubahan sikap mental negatif menjadi positif bisa jadi drastis atau gradual. Semuanya adalah berpulang kepada pelaku perubahan, yakni diri sendiri. Allah SWT menegasan dalam firman-Nya: “…Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka sendiri yang merubahnya...(Ar-Ra’d [13]: 11). Pertanyaannya, dengan apa manusia harus merubah karakter atau nasib?

Setiap orang bisa berubah, tapi mengapa hanya sedikit orang yang bisa menghasilkan perubahan yang berarti dalam hidupnya. Ternyata ada sekumpulan keyakinan dan strategi yang harus dipraktekkan sehingga menghasilkan perubahan secara drastis.

Islam menawarkan suatu perubahan yang drastis dan dramatis dalam diri manusia yaitu perubahan paradigma dalam hidup. Paradigma itu dimulai dari iman kepada Alah SWT sebagai basis segala tindakan dan harapan. Oleh karena itu, harga dan kualitas orang beriman adalah berstandar kepada ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur`an dan as-Sunnah.

Keyakinan yang menghunjam dalam dada, akan melahirkan suatu strategi perubahan diri yang signifikan. Signifikansi perubahan pola pikir hidup mulia itu terlukis pada diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) dan para Sahabatnya. Bagaimana Bilal bin Rabbah dari strata budak menjadi merdeka berkat keimanannya. Begitu pula Abdurahman bin Auf sebagai milyuner juga karena keimanannya. Dan, masih banyak deretan Sahabat serta tabiin dan tabiit-tabiin memiliki pribadi unggul yang patut diteladani oleh semua pihak.

Kita selaku seorang yang “profesional” selalu dituntut meningkatkan kualitas pribadi secara berkesinambungan. Tentu peningkatan pribadi unggul tidak hanya knowledge dan skill saja, tetapi juga pada sikap dan sikap mental menghadapi permasalahan yang dihadapi sehari-hari di perusahaan, bisnis, keluarga dan sosial, lebih-lebih dalam perjuangan penegakkan peradaban Islam.

Kunci keberhasilan kualitas pribadi terletak pada kemampuan dan kemauan masing-masing pribadi. Jadi, ajaran Islam merupakan solusi pasti dalam mengantarkan setiap manusia menuju hidup sempurna di bawah naungan ridha Allah SWT. *

Membangun Manusia Seutuhnya

Oleh: Dr Abdul Mannan

Kita sering mendengar istilah “membangun manusia”. Kita kemudian bertanya, apanya yang dibangun? Manusia mana yang akan kita bangun? Bangunan manusia seperti apa?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut marilah kita jawab agar manusia yang dibangun betul-betul menjadi sempurna.

Harus diakui, pertanyaan-pertanyaan tadi sulit sekali dijawab. Sejak zaman Aristoteles hingga saat ini belum ada kata sepakat apa sesungguhnya manusia. Tak ada kesimpulan yang bisa dijadikan rujukan.

Salah satu kesimpulan tentang manusia adalah “hewan yang bisa berbicara”. Pertanyaannya, apakah benar bahwa manusia itu hewan?

Jika benar demikian, maka teori evolusi Darwin dianggap benar adanya. Padahal, itu tidak mungkin. Manusia jelas bukan binatang. Nasab manusia jelas berbeda dengan nasab binatang.

Lalu, apa yang membedakan manusia dengan binatang? Paling tidak, manusia memiliki akal, sedangkan binatang tidak. Dengan demikian, manusia dapat mengungguli segala kelebihan yang dimiliki oleh binatang.

Meski manusia memiliki otak, tidak berarti semua manusia sama. Pepatah mengatakan,  rambut manusia boleh sama hitam, tetapi isi kepalanya berbeda-beda.

Karena itu, tak heran jika ada manusia yang pada saat-saat tertentu berperilaku seperti binatang, bahkan lebih hina dari binatang.

Mengapa derajat manusia bisa naik dan turun? Mengapa manusia bisa menjadi lebih hina dari binatang? Apa standar manusia dikatakan mulia dan hina?

Para Nabi dan Rasul diutus Allah Ta’ala ke dunia dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas serta derajat manusia. Seperti sabda Nabiyullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bahwa, “Aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak manusia.”

Hadits ini simpel, namun mengandung makna sangat dalam. Kedalaman makna Hadits ini menjadi bahan diskusi di berbagai kalangan hingga saat ini.

Hal ini wajar. Sebab, sejak zaman Aristoteles manusia sudah membicarakan moral. Moral yang digagas Aristoteles tentu saja didasarkan atas akal manusia. Jelas diragukan kebenarannya. Sebab, andai pendapat itu benar, maka benar menurut siapa? Apa standar moral yang baik? Apa pula standar moral yang buruk?

Ada yang mengatakan, moral harus berdasarkan tradisi masyarakat yang berlaku saat itu. Ada pula yang mengatakan, standar moral harus sesuai dengan budaya nenek moyang pada masa lalu.

Yang mana yang benar? Para filosof bingung.  Kebingungan inilah yang menyebabkan Allah Ta’ala menjelaskan perkara moral ini sebagai perangkat manusia yang sempurna lewat Rasul utusan-Nya.

Tugas utama Nabiyullah Muhammad SAW di dunia ini adalah memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia. Jika sebelum turunnya risalah kenabian kondisi manusia dalam keadaan jahiliah, maka setelah itu manusia memiliki akhlak mulia. Begitulah standarnya.

Persoalan akhlak yang paling awal diperbaiki oleh Rasulullah SAW adalah akhlak terhadap al-Khaliq, Pencipta alam semesta

Berangkat dari sinilah manusia kemudian ditata menjadi utuh. Keutuhan ini bukan terletak pada gagahnya fisik, melimpahnya kekayaan, serta tingginya kekuasaan. Namun, keutuhan manusia terletak pada akhlaknya dalam berinteraksi secara vertikal dengan Allah Ta’ala dan horizontal dengan sesama makhluk. Manual bimbingan untuk manusia berakhlak adalah al-Qur`an dan as-Sunnah.

Bagi manusia beriman, tak ada pilihan lain yang mampu mengantarnya menjadi manusia berakhlak mulia selain risalah yang dibawa Nabiyullah Muhammad SAW. Tak mungkin umat Islam diselamatkan oleh Abu Jahal, Abu Lahab, Adam Smith, Karl Marx, Stalin, atau George W Bush, dari jebakan setan yang tidak ber-Qur`an.

Marilah kita menyadari bahwa hanya dengan memahami dan menerapkan al-Qur`an dan as-Sunnah manusia bisa menjadi utuh. *SAHID Mei 2010

Manajemen Hidup dan Kehidupan

Setiap manusia pasti mengalami hidup, mati, kehidupan, dan kematian. Kita juga diberi batasan dalam hidup ini dalam koridor kepercayaan dalam religi. Tapi apakah esensi kehidupan yang diberikan kepada kita oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Sudah pasti setiap orang akan mencapai tahapan pencarian tujuan hidupnya masing-masing. Lalu, memikirkan kematian dan kehidupan yang sudah dijalani merupakan sesuatu yang memberikan refleksi positif bagi setiap orang yang mau meluangkan sedikit waktu yang sudah dilalui.

Ada yang berkomentar bahwa hidup ini buat dijalani bukan buat dipikirkan. Memang ada benarnya juga jika hanya untuk menenangkan jiwa yang lagi gundah gulana. Jika seseorang dibentuk dan dibesarkan dari latar belakang sains, maka logika merupakan suatu parameter yang sangat menonjol di atas sense yang lain. Sebab pendapatnya bahwa manusia ini tidak lebih dari makhluk hidup lain. Hanya rentang waktu hidupnya saja yang lebih panjang, bila dibanding dengan semut, atau nyamuk.

Life expectancy manusia seperti bangsa Indonesia mungkin 65 tahun. Pada umur beranjak usia sekitar 18 tahun, mulai masa peralihan remaja menuju dewasa. Ia akan memasuki bangku kuliah yang mengandung makna bahwa pada masa kuliah ini akan dijejali dengan pemikiran logis.

Kesimpulan dari materi logika itu adalah tidak ada sesuatu yang benar dan dapat diterima oleh akal jika tidak logis. Sehingga terpatri dalam benaknya bahwa hidup ini serba logis. Segala sesuatu yang harus dilalui dalam hidup dan kehidupan harus logis.

Nah, apakah yang kita ingin capai dalam kehidupan ini? Setiap orang punya tujuan yang berbeda-beda. Perbedaan tujuan hidup itu juga tergantung dari pada visi hidup dan kehidupan seseorang.

Jika manusia hanya bertujuan untuk hidup, maka kehidupannya tak ubahnya binatang yaitu hidup untuk makan, kawin, kemudian mati. Kalau makan, kawin, mati merupakan orientasi hidup dan kehidupan maka visi hidupnya hanya terbatas pada dunia.

Oleh karena itu, segala akktivitas sepanjang hayatnya hanya untuk mencapai kesejahteraan dunia yaitu akumulasi asset yang tidak akan dibawa ke alam kubur. Adakah manusia hidup tanpa menuju alam kubur?

Bukankah dewasa ini telah disetting suatu model kuburan yang dapat membahagiakan para ahli kubur? Di tengah masyarakat Indonesia yang kental dengan ajaran religi telah dibuka kuburan elit yang dikhususkan bagi calon ahli kubur berduit. Kuburan itu bernama San Diego Hills yang berada di Karawang Barat, Jawa Barat.

Pemikiran tentang kuburan elit yang jika diyakini bisa menangkal siksa malaikat Munkar dan Nakir bagi penganut Islam tentu saja dapat merusak tatanan  aqidah. Pemikiran sekuler berpandangan bahwa kehidupan itu hanya terbatas di dunia dan setiap orang akan kembali kepada alam dunia. Mereka meyakini tidak ada lagi kehidupan setelah mati yang dinamakan kehidupan akhirat.

Disinilah letak perbedaan ekstrem pemahaman dan pemikiran antara orang yang beriman kepada Allah, yang meyakini ada suatu kehidupan abadi yaitu akhirat. Setiap manusia akan dihisab atas segala perbuatannya selama di dunia. Reward dan punishment akan diberikan kepadanya sebagai kompensasi dari Allah.

Disinilah makna peringatan Allah dalam Surah At-Takaatsur ayat 8: “Kemudian, kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikamtan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” Karena itu,  kita sebagai orang beriman hendaknya mampu memenej waktu kita dalam mengisi hidup dan kehidupan. *

Menang dalam Kompetisi

0

LINGKUNGAN masyarakat saat ini mengantarkan kita hidup pesimis dalam menggapai suatu tata kehidupan yang stabil. Umumnya stabilitas hidup diukur dengan mapannya suatu kesejahteraan ekonomi. Tolak ukur ekonomi adalah melimpahnya kekayaan yang dimiliki.

Sementara teori ekonomi konvensional yang diajarkan di perguruan tinggi mulai dari strata satu hingga pasca tidak mungkin dapat mengatasi problema ekonomi yang diderita oleh masyarakat. Persis bait nyanyian raja dangdut Rhoma Irama: yang kaya makin kaya, yang miskin makin  miskin…

Bait nyanyian tersebut memang ekspresi kesadaran terhadap realitas masyarakat yang hidup di lorong–lorong gang, di bantaran kali, di bawah jembatan, Ibu Kota Jakarta. Sungguh mengenaskan.

Sebenarnya solusi makro berada di tangan pemerintah. Menurut John Maynard Keynes bahwa fungsi pemerintah adalah mengatur agar negara dalam stabil.

Itulah sebabnya ia merumuskan sistem ekonomi dalam deret regresi ekonomi satu sektor hingga empat sektor. Lagi–lagi, teori adalah teori. Yang menjalankan teori kedalam praktek adalah manusia.

Terdapat sebuah joke di tengah masyarakat bahwa mencari sumber hidup yang haram saja susah, apalagi mencari sumber hidup yang halal. Joke ini merupakan refleksi betapa susahnya hidup zaman sekarang.

Akan tetapi tidak banyak orang yang berpikir untuk mencari tahu penyebab susahnya hidup. Susah hidup karena menganggur. Menganggur karena bertambah menyempitnya peluang kerja. Menyempitnya peluang kerja disebabkan sekian banyak faktor.

Faktor yang menonjol adalah pengusaha menerapkan padat modal. Padat modal berarti menerapakn sistem teknologi canggih dalam dunia industri sehingga menggeser tenaga kerja unskilled.

Menurut Keynes bahwa pengangguran adalah tanggung jawab penuh pemerintah. Bagaimana cara pemerintah untuk mengatasi pengangguran?

Setiap presiden di seluruh dunia jika mereka usai dilantik menjadi presiden secara resmi, mereka dapat dipastikan menyusun program 100 hari untuk mengatasi; inflasi, pengangguran dan menciptakan stabilitas. Namun kenyataannya tidak ada satu orang presiden pun di dunia yang dapat merealisasikan program 100 hari tersebut.

Terlepas dari kondisi ekonomi dunia yang mencekam atau konsep ekonomi konvensional yang tidak dapat menciptakan keseimbangan atau keadilan, serta program ekonomi 100 hari dari para presdiden, kita sebagai manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan tentu saja tidak tergantung sepenuhnya pada kondisi. Kondisi hidup dan kehidupan manusia bukanlah sebab, akan tetapi akibat.

Jika manusia memenej sumber daya  alam atas dasar needs niscaya sumber daya alam ini akan tetap lestari dan tidak mendatangkan bencana, baik bencana sosial ekonomi maupun bencana alam.

Akan tetapi manusia adalah menerapkan animal economic, maka kerakusan yang terjadi sehingga sumberdaya alam dipaksa untuk diperah demi memenuhi kebutuhan yang tidak terbatas. Fakta membuktikan bahwa dengan melimpahnya kekayaan hasil produksi, ternyata kepuasan hidup tak kunjung tiba.

Maka benarlah apa yang dikatakan Nabiullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bahwa jika manusia diberi kekayaan dua lembah emas, niscaya ia akan meminta lembah emas yang ketiga.

Jadi, manusia dengan rumus ekonomi konvensioanal bahwa kebutuhan manusia itu tidak terbatas persis seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullah tersebut. Berarti bahwa manusia tidak akan menang selamanya jika menuruti hawa nafsu untuk memenuhi kepuasannya dengan materi.

Disinilah perlunya ajaran Islam untuk mengatur hidup dan kehidupan manusia hingga ia menang secara hakiki sebagaimana hidup yang sudah dicontohkan oleh tokoh peradaban Islam yaitu Rasulullah SAW. *